<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bersyukur Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bersyukur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bersyukur/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Oct 2022 15:29:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>bersyukur Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bersyukur/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2022 15:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantar Gebang]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[pemulung]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tempat sampah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5997</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin siang ketika selesai makan siang, tanpa sengaja Penulis mendengarkan sebuah video YouTube dari TV yang sedang ditonton oleh ibu. Hanya sepintas, tapi entah mengapa langsung tertangkap oleh telinga Penulis. Video tersebut merupakan sebuah video dari Asumsi yang sedang mewawancarai orang-orang di Bantar Gebang, sebuah tempat di Bekasi yang terkenal sebagai tempat pembuangan sampah akhir. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/">Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kemarin siang ketika selesai makan siang, tanpa sengaja Penulis mendengarkan sebuah video YouTube dari TV yang sedang ditonton oleh ibu. Hanya sepintas, tapi entah mengapa langsung tertangkap oleh telinga Penulis.</p>



<p>Video tersebut merupakan sebuah video dari Asumsi yang sedang mewawancarai orang-orang di <strong>Bantar Gebang</strong>, sebuah tempat di Bekasi yang terkenal sebagai tempat pembuangan sampah akhir. Istilah kerennya, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).</p>



<p>Salah satu narasumber di video tersebut mengatakan kalau ternyata penghasilan pemulung di sana lumayan mencukupi. Bahkan, ada yang berhasil membangun rumah hingga membeli mobil.</p>





<p>Karena merasa penasaran, malamnya Penulis pun memutuskan untuk menonton video lengkapnya. Dari sana, ternyata Penulis merasa mendapatkan banyak hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dalam hidup ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bantar Gebang, Tempat Sampah dengan Tumpukan Makna</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Distrik: Bantar Gebang dan Kemampuan Adaptasi Manusia" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/jgc8O10lhQw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis mengetahui nama Bantar Gebang pertama kali melalui novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/">Aroma Karsa</a> </em>karya Dee Lestari. Tokoh utama di novel tersebut digambarkan tinggal di sana dan dianugerahi dengan indra penciuman yang tajam.</p>



<p>Selain itu, Dee Lestari juga membahas mengenai tempat tersebut lebih detail melalui bukunya yang lain berjudul <em><a href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Di Balik Tirai Aroma Karsa</a></em>. Di buku ini, Dee menceritakan perjalanan risetnya ke Bantar Gebang untuk lebih mendalami penceritaannya.</p>



<p>Berbekal kedua buku tersebut, Penulis pun berasumsi kalau Bantar Gebang adalah tempat pembuangan sampah raksasa. Sudah, hanya sebatas itu. Tidak ada yang menarik dari sebuah tempat sampah.</p>



<p>Pendapat tersebut ternyata berubah setelah Penulis menonton video dari Asumsi yang melakukan dokumentasi ke sana. Ada beberapa poin yang Penulis catat sebagai pelajaran untuk dirinya sendiri, dan semoga juga bisa menginspirasi para Pembaca sekalian.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bagi Kita Sampah, Bagi Mereka Harta Karun</h3>



<p>Dalam salah satu komik <em>Doraemon</em>, ada alat yang membuat semacam lubang dimensi. Nobita dengan otak bisnisnya pun membuka jasa bagi orang-orang yang ingin membuang sampahnya. Apesnya, Doraemon tersedot masuk dan terbawa ke masa lampau.</p>



<p>Barang-barang yang dianggap sebagai sampah orang modern ternyata bermanfaat untuk orang zaman dulu, bahkan sampai menjadi &#8220;inspirasi&#8221; untuk cerita rakyat. Setelah berhasil kembali ke zaman sekarang, Doraemon pun menjadi selektif dalam membuang sampah.</p>



<p>Nah, itulah yang benar-benar terjadi bagi orang-orang yang tinggal di Bantar Gebang. Barang yang sudah kita anggap sebagai<strong> sampah ternyata bisa menjadi semacam harta karun</strong> untuk mereka. Bagi kita bukit sampah, bagi mereka bukit emas.</p>



<p>Para pemulung bisa menemukan barang-barang bagus yang bisa dijual ke penadah dan mendapatkan pemasukan dari sana. Tak jarang, mereka menemukan makanan dan minuman sisa yang sudah dibuang untuk dikonsumsi!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kemampuan Adaptasi Manusia yang Luar Biasa</h3>



<p>Orang gila yang makan dari sampah mungkin sudah biasa, tapi bagaimana dengan orang waras yang melakukan itu? Penulis baru menyadari kalau ternyata ada banyak yang melakukan hal tersebut. Pemulung di Bantar Gebang melakukan hal-hal tersebut.</p>



<p>Mungkin, itu adalah salah satu upaya <em>survive </em>mereka dari kerasnya kehidupan di sana. Meskipun katanya mereka bisa membangun rumah dengan memulung, mungkin mereka sudah terbiasa makan dari sampah demi mengirit pengeluaran.</p>



<p>Penulis merasa heran atas kemampuan adaptasi tubuh orang-orang di Bantar Gebang. Secara logika, makanan yang sudah menjadi sampah tentu penuh dengan kuman dan penyakit, tapi mengapa mereka terlihat sehat-sehat saja dan jarang sakit?</p>



<p>Tak salah lagi, keadaan telah memaksa tubuh mereka <strong>melakukan adaptasi yang luar biasa</strong>. Demi bisa bertahan hidup, tubuh pun harus menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai potensi bahaya yang masuk dari makanan-makanan sisa tersebut.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Terlihat Hina, Padahal Berkecukupan</h3>



<p>Penulis benar-benar kaget ketika mendengar pengakuan narasumber di video tersebut (seorang penadah) yang mengatakan kalau anak buahnya yang pemulung ternyata bisa membangun rumah di kampungnya, yang dianggapnya lebih bagus dari rumahnya sendiri. </p>



<p>Tidak cukup sampai di situ, ada banyak pemulung yang berhasil mencicil motor hingga mobil. Jujur, logika Penulis tidak sampai ke sana bagaimana mereka bisa mengelola uangnya dengan begitu baik.</p>



<p>Bagi orang di luar Bantar Gebang, mungkin pekerjaan sebagai pemulung adalah pekerjaan yang hina dan kotor. Namun, nyatanya <strong>mereka bisa hidup bahagia dan mampu memiliki berbagai aset</strong>. </p>



<p>Ini berkebalikan dengan beberapa orang di kota besar, di mana dari luar keliatan <em>borjuis </em>dan bergaya hidup mewah, padahal barangnya banyak yang kredit, bahkan ada yang hanya pinjaman. Semua demi menjaga gengsi semata. Pertanyaannya, mana yang lebih hina?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Mereka Belajar Finance dari Mana?</h3>



<p>Si penadah yang sudah Penulis sebutkan di atas ternyata menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk beternak kambing. Katanya, seandainya ada hal buruk terjadi seperti pandemi kemarin, setidaknya ia punya sesuatu untuk dijual demi menyambung hidup.</p>



<p>Selain itu, ada juga seorang penjaja warung di Bantar Gebang. Ia memiliki semacam lapak di atas tumpukan sampah. Menurut pengakuannya, ia bisa mendapatkan penghasilan dalam sehari antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam sehari.</p>



<p>Ia mengatakan kalau separuh dari pemasukan tersebut ia tabung. Hasilnya, ia pun sudah bisa punya rumah sendiri. Kenyataan ini benar-benar menampar Penulis: Mereka tidak pernah belajar tentang <em>finance</em>, tapi <strong>pengelolaan uangnya sangat baik</strong>!</p>



<p>Penulis merasa dirinya cukup banyak membaca posting atau menonton video seputar <em>finance</em>, tapi belum bisa di level mereka. Memang ada banyak faktor lain yang memengaruhi ini seperti gaya hidup, tapi Penulis ingin fokus dengan kehebatan mereka dalam mengelola uang.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Nikmat Mana Lagi yang Aku Dustakan?</h3>



<p>&#8220;Tidak ada orang yang susah, adanya orang yang malas,&#8221; tutur penjaja warung di video tersebut. Satu kalimat sederhana yang keluar dari orang biasa, tetapi mampu membuat Penulis merasa malu.</p>



<p>Dibandingkan mereka, Penulis tentu merasa memiliki banyak <em>privilege</em> dalam hidupnya. Penulis jadi <strong>merasa bertanggung jawab untuk bisa memanfaatkan <em>privilege</em></strong><em> </em>tersebut untuk bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dan bisa bermanfaat untuk orang banyak.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga sadar kalau selama ini dirinya selama ini <strong>terlalu banyak mengeluh</strong>. Iya memang kemampuan orang dalam menghadapi masalah beda-beda, tetapi Penulis tidak ingin menjadikan hal tersebut sebagai pembenaran untuk mengeluh.</p>



<p>Penulis jadi <strong>banyak-banyak bersyukur</strong> karena tidak perlu menjalani kehidupan berat seperti mereka yang setiap hari harus bekerja dengan risiko tinggi. Di TPST seperti itu, terlindas buldoser atau terpapar cairan kimia berbahaya bisa terjadi.</p>



<p>Penulis juga jadi lebih mensyukuri setiap makanan yang disantapnya, bersyukur bisa bekerja di tempat yang nyaman, dan lain sebagainya. Sesungguhnya Penulis jadi sadar, <strong>betapa banyak nikmat yang telah Penulis dustakan selama ini</strong>. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ketika membaca kolom komentar, mayoritas memuji Asumsi karena &#8220;berani&#8221; dan totalitas dalam menyusun video tersebut. Bagaimana tidak, sang <em>host </em>sampai nekat untuk memakan makanan bekas!</p>



<p>Bagi Penulis, melihat sisi kehidupan lain yang selama ini tak terpikirkan memang menarik. Penulis jadi mengetahui ada kehidupan seperti di Bantar Gebang yang begitu unik dan berwarna. <strong>Kondisi yang memaksa memunculkan celah untuk bertahan hidup</strong>.</p>



<p>Mungkin ke depannya Penulis akan lebih sering menonton video-video dokumenter seperti ini agar Penulis bisa mengerti bagaimana kehidupan di luar sana dan membantu Penulis untuk bisa menjadi manusia yang lebih bersyukur.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 11 Oktober 2022, terinspirasi setelah menonton video Asumsi mengenai Bantar Gebang di YouTube</p>



<p>Foto: <a href="https://news.detik.com/berita/d-5731837/kontrak-tpst-bantargebang-dengan-bekasi-berakhir-oktober-ini-kata-wagub-dki">Detik</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/">Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Ini Tukang Sambat</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Oct 2019 15:36:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[milik]]></category>
		<category><![CDATA[sambat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2947</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin dari luar, penulis tidak terlihat sebagai orang yang gemar mengeluh. Apalagi, penulis sering menuliskan artikel-artikel yang berbau motivasi positif. Padahal, penulis ini adalah seorang tukang sambat yang luar biasa, walau lebih sering didengungkan di dalam hati. Kenapa ini begitu, kenapa ini begitu, dan lain sebagainya. Munculnya pikiran-pikiran negatif menjelang tidur bisa berawal dari keluhan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/">Saya Ini Tukang Sambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin dari luar, penulis tidak terlihat sebagai orang yang gemar mengeluh. Apalagi, penulis sering menuliskan artikel-artikel yang berbau motivasi positif.</p>
<p>Padahal, penulis ini adalah seorang tukang sambat yang luar biasa, walau lebih sering didengungkan di dalam hati. Kenapa ini begitu, kenapa ini begitu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Munculnya pikiran-pikiran negatif menjelang tidur bisa berawal dari keluhan. Contoh:</p>
<p><em>&#8220;Duh kok kangen sama rumah, ya?&#8221; </em>menjadi <em>&#8220;Apa </em>resign <em>dari sini terus cari kerja di dekat rumah aja, ya?&#8221; </em>berkembang menjadi <em>&#8220;Tapi nanti pasti gajinya turun, enggak sebesar sekarang!&#8221;</em></p>
<p>Lamunan tersebut masih berlanjut menjadi <em>&#8220;Lagipula di sana industri kreatif masih dikit.&#8221; </em>menjadi <em>&#8220;Apalagi skill-ku cuma nulis, dasar aku enggak bodoh dan enggak guna!&#8221; </em>dan terakhir menjadi <em>&#8220;Aku </em>insecure<em> sama masa depanku!!!&#8221;</em></p>
<p>Cuma contoh, kok. Cuma contoh. Contoh bagaimana penulis sering <em>overthinked</em>.</p>
<h3>Manusia dan Sambatnya</h3>
<p>Manusia dan sambat memang susah untuk berpisah. Ada saja kejadian yang akan memicu munculnya sambat dari bibir atau minimal <em>nggerundel </em>di hati.</p>
<p>Sambat itu sangat manusiawi karena keterbatasan yang kita miliki. Mengeluh itu wajar karena kita bukan nabi yang sempurna dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/motivasi-itu-omong-kosong/">bisa menerima segala hal dengan positif</a>.</p>
<p>Apalagi, sambat juga bisa dilakukan secara bersama-sama. Biasanya, kita akan mencari teman yang senasib dan saling menumpahkan sambat satu sama lain.</p>
<p>Hanya saja, terlalu sering sambat juga tidak baik untuk kita. Hidup kita akan tidak pernah tenang dan gelisah selalu menemani hari-hari kita.</p>
<p>Terlalu banyak sambat juga menandakan kita kurang bersyukur dengan apa yang dimiliki. Seolah kita lupa memiliki Tuhan yang sudah menganugerahkan banyak hal ke kita.</p>
<h3>Hanya Melihat yang Lebih Baik</h3>
<p><div id="attachment_2949" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2949" class="size-large wp-image-2949" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2949" class="wp-caption-text">Stephen Hawking (<a href="https://www.telegraph.co.uk/science/2018/03/19/wrong-theory-stephen-hawking-may-have-suffering-polio/">Telegraph</a>)</p></div></p>
<p>Sambat sering kali datang dari sikap kita yang selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kita membandingkan diri dengan mereka yang sudah bergaji puluhan juta rupiah, yang sudah momong anak, yang sudah ke luar negeri, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dengan membandingkan diri seperti itu, kita pun akan merasa kurang, kurang, dan kurang. Apalagi, kita hidup di era materialisme yang semuanya ditakar dengan benda fisik.</p>
<p>Kita melupakan apa yang telah kita miliki karena terlalu berfokus dengan apa yang belum dimiliki. Karena selalu &#8220;mendongak ke atas&#8221;, kita cenderung melupakan orang lain yang tidak seberuntung kita.</p>
<p>Penulis terinspirasi menulis topik ini karena salah satu teman penulis yang (maaf) fisiknya kurang sempurna meninggalkan komentar di Instagram <em>Whathefan</em>.</p>
<p>Inti dari komentarnya adalah membandingkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/">depresi yang dialami Sulli</a> sebenarnya tidak sebanding dengan tokoh-tokoh lain yang memiliki banyak kekurangan fisik seperti Beethoven, Helen Keller, hingga <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking</a>.</p>
<p>Lanjutnya, seharusnya Sulli dengan kesempurnaan fisik yang dimilikinya bisa lebih bersyukur dan mengingat apa yang ia miliki di dunia ini. Pembaca boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat ini.</p>
<p>Hal tersebut membuat penulis berpikir, apa yang sering penulis keluhkan selama ini jelas bukan apa-apa jika dibandingkan dengan permasalahan teman-teman yang mengalami disabilitas.</p>
<p>Penulis merasa bahwa selama ini sering lupa dengan apa yang sudah dimiliki. Penulis sering lupa untuk merasa bersyukur telah diberikan banyak sekali oleh Yang Maha Kuasa. Untunglah, Tuhan memiliki cara-Nya sendiri untuk mengingatkan penulis.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sesekali sambat itu boleh saja. Toh, terkadang setelah sambat kita merasa lebih baik. Yang tidak boleh itu sambat berlebihan hingga melupakan apa saja yang telah kita miliki.</p>
<p>Jika merasa kita mulai sambat berlebihan, coba tutup mata dan bayangkan apa saja yang kita miliki. Keluarga, cinta, persahabatan, tabungan, kerja yang nyaman, apapun yang terlintas di kepala kita.</p>
<p>Hidup dengan penuh syukur itu dijamin lebih enak dibandingkan dengan hidup penuh sambat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 27 Oktober 2019, terinspirasi dari sebuah komentar sederhana dari salah satu teman hebat penulis.</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@icons8">Icons8 team</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/">Saya Ini Tukang Sambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Lupa Bahagia</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Oct 2019 14:10:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[INFJ]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[MBTI]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2833</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis kerap mengatakan kalimat jangan lupa bahagia kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream. Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni Chelsea Islan dan Anji. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu Happy Birthday. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, selalu bahagia. Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan Lupa Bahagia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis kerap mengatakan kalimat <strong>jangan lupa bahagia </strong>kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream.</p>
<p>Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni <strong>Chelsea Islan </strong>dan <strong>Anji</strong>. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu <em>Happy Birthday</em>. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, <em>selalu bahagia</em>.</p>
<p>Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya selalu menutup video dengan kalimat <em>jangan lupa senyum hari ini</em>. Dari sanalah penulis melakukan <em>fusion </em>dan menjadi jangan lupa bahagia.</p>
<p>Akan tetapi setelah direnungkan kembali, penulis menggunakan kalimat ini ke orang lain dan tak pernah mengucapkannya untuk diri sendiri!</p>
<h3>Terlalu Fokus dengan Kebahagiaan Orang Lain</h3>
<p>Boleh percaya atau tidak, penulis adalah tipe orang yang bahagia jika melihat orang lain bahagia. Oleh karena itu, penulis akan melakukan sesuatu semampunya agar bisa membuat orang lain bahagia.</p>
<p>Hal itu bisa diwujudkan dengan memberikan perhatian, membelikan hadiah, menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar yang baik</a>, dan lain sebagainya. Apapun yang bisa penulis berikan, akan penulis berikan.</p>
<p><em>Masalahnya, penulis terlalu memfokuskan diri untuk membahagiakan orang lain hingga lupa dan mengabaikan kebahagiaan dirinya sendiri. </em></p>
<p>Ketika mengambil tes MBTI beberapa waktu lalu, penulis mendapatkan hasil <strong>INFJ</strong> (<i>Introversion</i>, <i>Intuition</i>, <i>Feeling</i>, <i>Judgement</i>) atau <strong>Advokat</strong>. Padahal, dulu ketika melakukan tes yang sama, penulis merupakan tipe <strong>ENFJ</strong> atau <strong>Protagonis</strong>.</p>
<p>Orang-orang dengan kepribadian ini biasanya sangat peduli dengan orang lain, namun jarang memedulikan diri sendiri. Mereka juga terkadang tidak bisa memahami diri mereka sendiri.</p>
<p>Lebih lanjut seperti yang penulis lansir dari <a href="https://www.16personalities.com/id/kepribadian-infj"><em>16personalities.com</em></a><em>, </em>orang INFJ cenderung menganggap membantu orang lain adalah tujuan hidupnya. Bahkan, terkadang memberikan pertolongan tanpa diminta atau melebihi dari yang diminta.</p>
<p>Mereka juga peduli dengan perasaan orang lain dan menyimpan harapan orang lain juga akan berlaku sama kepada dirinya. Mungkin karena karakteristik inilah, penulis sering mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.</p>
<h3>Sering Merasa Tidak Bahagia?</h3>
<p>Waktu sekolah dulu, penulis sering memasang wajah muram dan serius, seolah tidak pernah bahagia. Hal ini berdampak kepada pemborosan muka melebihi usianya. Ketika kuliah, penulis sudah mengurang kemuraman tersebut.</p>
<p>Jika dipikir-pikir kembali, penulis memang jarang memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Mungkin, lebih tepatnya adalah penulis sering merasa tidak bahagia.</p>
<p>Selalu ada saja celah yang bisa penulis manfaatkan untuk merasa tidak bahagia. Ada saja bagian-bagian kecil dari kehidupan yang penulis jadikan sebagai alasan ketidakbahagiaan.</p>
<p>Saat merenung, penulis sadar bahwa sebenarnya kunci kebahagiaan itu hanya satu: <strong>bersyukur</strong>.</p>
<p>Harusnya, penulis merasa bahagia karena memiliki keluarga yang relatif harmoni, bahagia memiliki banyak teman-teman yang peduli, bahagia karena memiliki pekerjaan enak dengan gaji lumayan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Jika saja penulis lebih sering berfokus kepada hal-hal yang telah dimiliki, niscaya penulis bisa merasa lebih bahagia lagi. Bagaimana penulis bisa membahagiakan orang lain jika dirinya sendiri tidak bahagia?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Yang masih harus penulis asah adalah bagaimana cara membahagiakan orang lain secara tulus. Selama ini, penulis masih menyimpan pamrih karena berharap orang yang dibahagiakan akan memberikan timbal balik sebanding.</p>
<p>Karena itulah, terkadang penulis <a href="https://whathefan.com/karakter/mengukur-keikhlasan/">mengalami kekecewaan</a> ketika yang diharapkan tidak terjadi. <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">Berbuat sesuatu secara ikhlas</a> memang susah luar biasa.</p>
<p>Apalagi, terkadang niat baik kita untuk membahagiakan atau menolong orang lain juga tidak ditangkap dengan baik. Akibatnya, terjadi salah paham yang membuat hubungan jadi memburuk.</p>
<p><a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">Kontemplasi</a> yang sering penulis lakukan akhir-akhir ini menjelang tidur membukakan mata penulis untuk lebih peduli dengan kebahagiaannya sendiri. Caranya, perbanyak syukur dengan apa yang telah dimiliki.</p>
<p>Dengan demikian, penulis juga bisa lebih membahagiakan orang-orang di sekitar penulis sesuai dengan batasan kemampuannya. Yang pasti, penulis akan makin sering berkata jangan lupa bahagia, baik untuk dirinya sendiri maupu orang lain.</p>
<p>Sekali lagi, <strong>JANGAN LUPA BAHAGIA!!!</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Oktober 2019, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya jarang merasa bahagia.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.kincir.com/tag/merry-riana-mimpi-sejuta-dolar">Kincir</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan Lupa Bahagia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hidupku Hancur! Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia!</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidupku-hancur-aku-adalah-orang-paling-menderita-di-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Aug 2019 14:05:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[hancur]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[menderita]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[status]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2640</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah bagaimana dengan pembaca, tapi penulis masih sering menemui orang yang membuat status dengan tema &#8220;Hancur Hidupku&#8221; atau &#8220;Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia&#8221;. Biasanya, status tersebut muncul ke permukaan karena suatu hal. Masalahnya, terkadang hal yang dipermasalahkan tersebut sebenarnya remeh sekali, kita saja yang memberinya bumbu tambahan. Penulis sendiri pernah merasa seperti itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidupku-hancur-aku-adalah-orang-paling-menderita-di-dunia/">Hidupku Hancur! Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Entah bagaimana dengan pembaca, tapi penulis masih sering menemui orang yang membuat status dengan tema &#8220;Hancur Hidupku&#8221; atau &#8220;Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia&#8221;.</p>
<p>Biasanya, status tersebut muncul ke permukaan karena suatu hal. Masalahnya, terkadang hal yang dipermasalahkan tersebut sebenarnya remeh sekali, kita saja yang memberinya bumbu tambahan.</p>
<p>Penulis sendiri pernah merasa seperti itu (atau sampai sekarang?). Apalagi, penulis merasa dirinya terkadang suka mendramatisir sesuatu.  Untungnya, penulis sudah mengurangi hal-hal yang semacam itu, mungkin karena faktor usia.</p>
<h3>Membesar-besarkan Masalah</h3>
<p>Sering berkutat dengan remaja membuat penulis banyak memperhatikan mereka. Kecenderungannya, alasan yang mendasari mereka melakukan itu adalah mencari perhatian. Setidaknya, sewaktu remaja penulis seperti itu.</p>
<p>Malah yang sebenarnya benar-benar bermasalah cenderung tidak memperlihatkan masalah mereka kepada orang lain. Mereka sering terlihat ceria (bahkan terlalu ceria) seolah tak memiliki masalah.</p>
<p>Memang, tidak bisa digeneralisir seperti itu. Ada yang merasa hidupnya hancur karena benar-benar hancur, ada orang ceria yang memang pada dasarnya sudah ceria. Maka dari itu, penulis menggunakan kata &#8220;cenderung&#8221; alias kebanyakan seperti itu.</p>
<p>Inti dari tulisan ini adalah ingin mengajak kepada kita semua agar berpikir ulang ketika sedang menghadapi masalah, benarkah benar-benar membuat hidup kita hancur dan menjadikan kita orang paling menderita di dunia?</p>
<h3>Menengok Penderitaan Orang Lain</h3>
<p>Kalau sedang ingin mengeluh, biasanya penulis berusaha mencari orang yang lebih kurang beruntung. Contohnya, capek bekerja. Penulis akan menjadi bersyukur ketika tahu masih banyak orang yang belum mendapatkan pekerjaan dan gaji layak.</p>
<p>Ketika pikiran-pikiran negatif seperti &#8220;hidupku hancur&#8221; atau &#8220;aku ini orang paling menderita&#8221;, coba gunakan cara yang sama seperti di atas, menengok penderitaan orang lain.</p>
<p>Benarkah hidup kita yang berharga ini bisa hancur dengan mudahnya hanya karena masalah yang sebenarnya tidak terlalu berat? Penulis menyangsikannya. Banyak orang dengan masalah yang lebih besar mampu bangkit dan melangkah lebih jauh.</p>
<p>Benarkah kita adalah orang yang paling menderita di dunia ini? Tidak, masih banyak orang lain yang lebih menderita dari kita. Contohnya?</p>
<p>Orang yang sering mengeluhkan masalah orang tuanya, seharusnya lebih beruntung dari pada mereka yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan orang tuanya.</p>
<p>Orang yang sering mengeluhkan masalah cinta, belum tahu betapa beratnya masalah keluarga yang terjadi antara suami dan istri, atau bahkan dengan pihak keluarga besar.</p>
<p>Orang yang sering mengeluhkan menumpuknya tugas sekolah tidak pernah melihat banyaknya anak putus sekolah yang hanya bisa berangan-angan untuk duduk di bangku sekolah.</p>
<p>Orang yang sering mengeluhkan tidak bisa membeli ini itu lupa bahwa masih banyak orang di dunia ini yang belum bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.</p>
<p>Dengan mengingat bahwa kita masih jauh lebih beruntung dari orang lain akan membuat kita tidak akan berpikiran hidup telah hancur ataupun merasa menjadi orang paling menderita di dunia.</p>
<h3>Mengeluh dan Bersyukur</h3>
<p>Pada akhirnya tulisan ini pun mengarah ke arah <strong>mengeluh dan bersyukur</strong>. Semua pikiran-pikiran buruk yang menjadi status kita berawal dari keluhan. Cara melawannya? Ada banyak cara, salah satunya dengan memperbanyak bersyukur.</p>
<p>Tidak hanya itu, berbanyak berbagi pun bisa menjadi obat yang mujarab. Tidak hanya memberi sedekah, berbagi cerita dan ilmu juga bisa memberikan efek yang positif bagi diri kita.</p>
<p>Daripada berfokus pada apa yang tidak kita dapatkan, lebih baik kita melihat apa saja yang kita miliki. Terkadang, kita tidak sadar berapa banyak yang kita miliki di dunia ini. Tidak hanya dari materi, melainkan keluarga, teman, kekasih, apapun itu.</p>
<p>Penulis masih sering mengeluh sampai sekarang, walaupun tidak sampai mengatakan apa yang tertera di bagian judul.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Agustus 2019, terinspirasi setelah melihat status-status yang ada di media sosial</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@jensholm">jens holm</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidupku-hancur-aku-adalah-orang-paling-menderita-di-dunia/">Hidupku Hancur! Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
