Connect with us

Buku

Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa

Published

on

Salah satu novel yang menurut penulis sangat bagus adalah Aroma Karsa karya penulis terkenal Dee Lestari. Novel tersebut disusun dengan sangat rinci dan detail yang menakjubkan.

Sebagai orang yang juga hobi menulis novel, tentu penulis penasaran bagaimana Dee bisa membuat karya seperti itu. Pertanyaan yang menggantung di benak tersebut langsung tunai terjawab ketika buku Di Balik Tirai Aroma Karsa rilis.

Apa Isi Buku Ini?

Sebagai informasi, buku ini merupakan buku non-fiksi pertama dari Dee. Sesuai dengan judul, buku ini berisikan tips sekaligus proses bagaimana Dee menyusun novel Aroma Karsa.

Dee menjelaskan prosesnya dengan gaya narasi yang menyenangkan, sehingga penulis bisa menghabiskannya dengan waktu yang cukup cepat, terutama di bab-bab awalnya.

Ketika membaca novel Aroma Karsa, penulis sangat mengagumi kedetailan yang dimiliki oleh novel tersebut, terutama yang berkaitan dengan parfum.

Ternyata, Dee melakukan riset secara serius hingga mengikuti kursus membuat parfum! Sampai sedalam itu riset yang dilakukan oleh penulis profesional hingga membuat penulis malu yang sering kali melakukan riset hanya berdasarkan hasil pencarian internet.

Tidak cukup di situ, Dee juga mengunjungi banyak tempat untuk mendapatkan gambaran yang jelas, bukan sekadar di awang-awang. TPU Bantar Gebang dan kaki Gunung Lawu adalah salah satu contoh kecilnya.

Selain mengamati melalui matanya sendiri, Dee juga mendengarkan kisah-kisah dari orang lain yang dijadikan sebagai narasumber. Ia bertanya kepada peracik parfum, ahli anggrek, penjaga gunung Lawu, dan lain-lainnya.

Itu semua dijelaskan baru di bab dua. Di bab-bab selanjutnya, masih ada ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang gemar menulis, seperti menyusun jalan cerita dan pembentukan karakter.

Dee tidak sekadar menuliskan proses yang baik-baik saja. Ia dengan apa adanya juga berbagi cerita tentang kesusahan-kesusahan yang ia alami selama pembuatan novel seperti tekanan yang membuat pusing kepala hingga tidak tercapainya deadline.

Di bab-bab terakhir buku ini, ada beberapa tulisan dari orang-orang yang membantu Dee menyelesaikan naskahnya. Menarik, karena kita bisa mengetahui proses pembuatan novel dari berbagai sudut pandang.

Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?

Jelas buku ini membawa banyak sekali inspirasi untuk penulis yang memang gemar menulis sejak kecil. Dengan gaya bahasanya khas, Dee seolah sedang memberikan kelas menulis secara langsung kepada penulis.

Selain sebagai buku yang memberikan tips-tips menulis, Di Balik Tirai Aroma Karsa terasa seperti buku di mana Dee berbagai suka dukanya ketika menulis sebuah novel. Belajar dari pengalaman orang lain memang salah satu kegiatan favorit penulis.

Beberapa bagian mungkin akan terasa menjemukan, terutama ketika membaca kisah orang-orang yang membantu Dee. Mungkin karena bahasanya yang berubah begitu saja.

Yang jelas, buku ini sangat cocok untuk para pembaca yang hobi atau sudah memiliki niatan untuk menulis novel. Akan tetapi, penulis sarankan untuk membaca novel Aroma Karsa terlebih dahulu sebelum membaca buku yang satu ini.

 

Nilainya: 4.3/5.0

 

 

Lawang, 17 Agustus 2019, terinspirasi setelah menamatkan buku Di Balik Tirai Aroma Karsa karya Dee Lestari

Non-Fiksi

Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana

Published

on

By

Tahun depan Penulis sudah akan menginjak kepala tiga. Namun, Penulis merasa ada bagian dirinya yang masih sangat perlu dibenahi. Salah satunya adalah memahami apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak.

Stoikisme atau stoik adalah salah satu cabang filsafat dari Yunani Kuno yang Penulis anggap mampu menjadi antidote untuk mengatasi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, Penulis jadi lebih banyak membaca buku-buku seputar filosofi tersebut.

Suatu hari ketika sedang jalan-jalan di toko buku, Penulis menemukan sebuah buku berjudul Stoik: Apa dan Bagaimana karya Massimo Pigliucci. Merasa buku ini akan menjabarkan stoik lebih dalam dari Filosofi Teras, Penulis pun memutuskan untuk membelinya.

Detail Buku Stoik: Apa dan Bagaimana

  • Judul: Stoik: Apa dan Bagaimana
  • Penulis: Massimo Pigiucci
  • Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ketiga
  • Tanggal Terbit: April 2023
  • Tebal: 277 halaman
  • ISBN: 978-602-06-5868-1

Sinopsis Buku Stoik: Apa dan Bagaimana

Bagaimana ajaran kuno Stoik bisa membantu kita bertumbuh pada masa modern?

Setiap kali merasa khawatir tentang apa yang akan kita makan, bagaimana kita bisa mencintai seseorang, atau bagaimana cara mencapai kebahagiaan, sebenarnya kita sedang memikirkan cara menjalani hidup yang baik.

Stoikisme bisa jadi adalah jawabannya, karena membuat kita memusatkan perhatian pada apa yang mungkin dan memberikan perspektif tentang apa yang tidak penting.

Dengan memahami Stoikisme, kita bisa belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seperti: Perlukah kita tetap mempertahankan hubungan atau berpisah? Bagaimana sebaiknya kita mengelola uang di dunia yang nyaris hancur karena krisis keuangan? Bagaimana kita bisa bertahan setelah mengalami tragedi pribadi?

Stoikisme mengajari kita pentingnya karakter, integritas, dan belas kasih dalam diri seseorang. Buku ini, yang merupakan panduan penting untuk memahaminya, dilengkapi dengan tips praktis dan latihan serta meditasi dan kesadaran akan saat ini dan di sini, memberi gambaran tentang betapa relevannya Stoikisme dalam setiap segi kehidupan kita saat ini.

Isi Buku Stoik: Apa dan Bagaimana

Buku Stoik: Apa dan Bagaimana diawali dengan dua bagian pembukaan yang menjabarkan secara umum mengenai apa itu stoik. Setelah itu, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni:

  1. “Disiplin dalam Hal Hasrat: Apa yang Patut Diinginkan atau Tidak Patut Diinginkan”
  2. “Disiplin dalam Tindakan: Bagaimana Berperilaku di Dunia”
  3. “Disiplin dalam Niat: Bagaimana Menanggapi Situasi”

Sebagai informasi, ketiga bagian tersebut merupakan prinsip “Tiga Disiplin Stoa”, mengenai desire (keinginan), action (tindakan), dan assent (persetujuan). Masing-masing bagian tersebut akan dipecah lagi menjadi beberapa bab.

Buku ini juga mengeksplorasi “Empat Kebajikan Stoa”, yakni wisdom (kebijaksanaan), courage (keberanian), justice (keadilan), temperance (toleransi). Di setiap pembahasannya, sang penulis buku ini menarasikannya dengan gaya dialog dengan salah satu toko stoik, Epictetus.

Sebagai buku yang mengangkat tema stoik, tentu saja banyak penjelasan yang menekankan tentang dikotomi kendali, alias mengetahui mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak.

Seperti yang dijelaskan di buku stoik lain, pada akhirnya yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Hasil ataupun perasaan orang lain itu ada di luar kendali kita, yang bisa kita kendalikan adalah respons atas hal tersebut.

Di bagian akhir buku, penulis buku memberikan Latihan-Latihan Praktis Spiritual untuk membantu kita menerapkan filsafat stoik dalam kehidupan sehari-hari. Total ada 12 poin, yakni:

  1. Memeriksa kesan yang dirasakan
  2. Mengingatkan diri bahwa sesuatu tidak permanen
  3. Klausul cadangan
  4. Bagaimana saya dapat menggunakan kebajikan di sini dan saat ini?
  5. Berhenti sejenak untuk menarik napas dalam
  6. Membayangkan berada di posisi orang lain
  7. Bicara sedikit tapi bagus
  8. Memilih teman Anda dengan baik
  9. Menanggapi penghinaan dengan humor
  10. Jangan bicara terlalu banyak tentang diri sendiri
  11. Bicara tanpa menghakimi
  12. Merenungkan pengalaman Anda hari ini

Setelah Membaca Buku Stoik: Apa dan Bagaimana

Meskipun dari luar terlihat berat untuk dicerna, sebenarnya buku Stoik: Apa dan Bagaimana relatif mudah untuk dicerna bahkan oleh orang yang belum pernah bersentuhan dengan filsafat stoik sekalipun.

Secara garis besar, buku ini merupakan a great overview untuk Pembaca yang ingin belajar filsafat stoik. Memang tidak semua bagian yang bisa dipahami dengan sekali baca, tapi mayoritas isinya mudah dipahami.

Di sisi lain, buku ini juga tetap menarik bagi yang sudah pernah membaca buku stoik seperti Filsafat Teras. Tetap ada insight-insight baru yang akan menambah wawasan mengenai filsafat stoik.

Salah satu hal yang membuat buku ini mudah dipahami adalah karena Pigliucci sebagai penulis menyisipkan banyak kisah pribadinya atau pihak lain agar mudah kita bayangkan. Ini membuat apa yang ia tuturkan di dalam buku cukup aplikatif.

Sisi negatifnya, hal tersebut membuat buku ini agak terasa sebagai perjalanan Pigliucci sebelum dan sesudah mengenal filsafat stoik. Oleh karena itu, buku ini mungkin akan terasa dangkal dan kurang dalam untuk Pembaca yang sudah mengetahui tentang dunia filsafat.

Selain itu, kekurangan lain dari buku ini adalah narasi dialog dengan Epictetus yang terkadang terkesan kurang natural dan agak dipaksakan. Penulis bahkan sempat merasa bingung kenapa tiba-tiba ada adegan dialog dengan Epictetus.

Terlepas dari kekurangannya, buku ini layak untuk dibaca bagi yang sedang mencari kedamaian hidup. Stoik mungkin bukan cabang filsafat yang terbaik, tapi Penulis merasa kalau stoik sangat cocok untuk diterapkan ke kehidupan Penulis.

SKOR: 8/10


Lawang, 7 November 2023, terinspirasi setelah membaca buku Stoik: Apa dan Bagaimana karya Massimo Pigliucci

Continue Reading

Non-Fiksi

Setelah Membaca Menikmati Kepergianmu

Published

on

By

Melepaskan seseorang dari kehidupan kita bisa menjadi hal yang berat, entah karena kematian, pertengkaran, jarak, dan alasan lainnya. Keterikatan, banyaknya momen yang tercipta, adanya kebutuhan, menjadi beberapa alasan mengapa melepaskan menjadi berat

Penulis pun merasakannya, sehingga secara iseng mencoba membeli buku karya Alfiaghazi berjudul Menikmati Kepergianmu yang satu ini. Padahal, biasanya tipe-tipe buku seperti ini adalah yang paling jarang dibeli.

Namun, dengan tujuan “riset” dan merasa topik yang dibahas selaras dengan stoik (kepergian orang lain berada di luar kendali kita), maka Penulis mencoba untuk membacanya dengan harapan lebih bisa mengendalikan dirinya ketika ada yang meninggalkan dirinya.

Detail Buku Menikmati Kepergianmu

  • Judul: Menikmati Kepergianmu
  • Penulis: Alfiaghazi
  • Penerbit: Penerbit Sahima
  • Cetakan: Ketiga
  • Tanggal Terbit: 2022
  • Tebal: 194 halaman
  • ISBN: 978-602-6744-57-9

Sinopsis Menikmati Kepergianmu

Aku pernah takut menghadapi kepergian sebab cintaku sudah menancap terlalu dalam.

Namun sebanyak apa pun aku berkorban, sekuat apa pun aku mencoba bertahan, kepergian tetap tak pernah bisa terhindarkan.

Maka, bila sudah begitu, apalagi yang bisa aku lakukan selain menikmatinya? Sederas-derasnya hujan, kelak pasti akan reda juga.

Kepergianmu memang menyisakan luka, tapi yang membawaku kepada kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sebab bagi orang yang terlalu mencintai sepertiku, patah hati adalah anugerah.

Darinya, aku mengerti ternyata sesakit itu berharap kepada sesuatu yang semu; manusia.

Yang terbaik, pilihan Allah.

Isi Buku Menikmati Kepergianmu

Menikmati Kepergianmu berisikan tentang tulisan-tulisan pendek yang menurut Penulis tidak terlalu memiliki kesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Artinya, Pembaca bisa membuka halaman secara acak tanpa perlu membaca halaman-halaman sebelumnya.

Topik yang dihadirkan pun seputar permasalahan percintaan, terutama tentang kegalauan penulis buku ini tentang melepaskan seseorang yang sangat dicintai. Kita akan dibuat merasakan betapa beratnya melakukan hal tersebut.

Tak jarang isi buku ini juga terasa seperti curahan hati sang penulis buku dengan menyelipkan kisah-kisah yang terasa benar-benar terjadi di kehidupannya. Yang jelas, Penulis merasa kalau buku ini lebih banyak menimbulkan perasaan pedih daripada motivasi untuk bangkit.

Di antara tulisan-tulisan pendek, ada banyak quote yang bisa jadi akan related dengan apa yang sedang dialami oleh pembacanya. Ada satu quote yang paling Penulis sukai dari buku ini, yakni:

“Tidak ada cara pergi yang baik, semua selalu menyakitkan.”

Mengingat jumlah halamannya yang sedikit dan terkadang tulisannya ada yang tidak sampai satu halaman, maka buku ini bisa diselesaikan dengan cepat. Apalagi, bahasa yang digunakan bukan bahasa puitis yang ambigu dan susah untuk dipahami.

Setelah Membaca Menikmati Kepergianmu

Meskipun akan terasa related bagi sebagian pembacanya, Penulis justru merasakan kalau esensi yang ditawarkan pada bagian sinopsis tidak terlalu ditonjolkan, yakni tentang bagaimana kita seharusnya hanya berharap kepada Tuhan.

Penulis juga berharap kalau buku ini akan bisa membuat Penulis bisa menikmati kepergian orang-orang penting dalam hidupnya. Seperti yang sudah disinggung di atas, Penulis tidak bisa mengendalikan siapa-siapa yang mau stay di kehidupan Penulis.

Alih-alih, buku ini lebih terasa kepada curhatan penulis buku yang ingin “mengomersialkan” kisahnya. Meskipun di belakang buku tertulis genre buku ini “Motivasi”, kenyataannya tidak banyak motivasi yang Penulis dapatkan.

Jika menengok kebiasaan manusia yang justru akan mendengarkan musik galau ketika sedang galau, maka buku galau ini pun bisa menjadi teman yang pas untuk bergalau ria. Namun, jika niat membaca ingin uplifting, jangan berharap terlalu banyak dari buku ini.

Jadi, jika Pembaca sedang galau dan memang sedang mencari bacaan galau, mungkin buku ini akan menjadi pilihan yang menarik. Apalagi, ada banyak quote yang bisa dijadikan sebagai aesthetic story.

Skor: 5/10


Lawang, 24 Oktober 2023, terinspirasi setelah membaca Menikmati Kepergianmu karya Alfiaghazi

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat

Published

on

By

Salah satu novel yang Penulis baca di awal-awal mengoleksi buku adalah Dunia Sophie karya Jostein Gaarder. Novel ini, menurut Rocky Gerung, dianggap sebagai bacaan wajib anak SMA yang ingin masuk ke dunia filsafat karena Gaarder berhasil merangkumnya dalam satu buku.

Karena sudah cukup lama membacanya, Penulis pun tidak seberapa ingat apa saja isi bukunya. Untungnya, melalui akun Instagram Penerbit Mizan, Penulis jadi mengetahui kalau novel tersebut akan dibukukan dalam bentuk novel grafis alias komik.

Setelah itu, Penulis pun menantikan buku tersebut rilis dan pada akhirnya Penulis langsung membelinya setelah mengetahui sudah ada di rak buku. Lantas, apakah buku ini berhasil mengingatkan Penulis apa isi buku Dunia Sophie?

Detail Buku

  • Judul: Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat
  • Penulis: Jostein Gaarder; Vincent Zabus
  • Art: Nicoby
  • Penerbit: Penerbit Mizan
  • Cetakan: Pertama
  • Tanggal Terbit: Februari 2023
  • Tebal: 264 halaman
  • ISBN: 978-602-441-310-1

Apa Isi Buku Ini?

Sesuai dengan judulnya, buku ini adalah versi komik dari novel Dunia Sophie yang menceritakan petualangan “aneh” seorang remaja bernama Sophie Amundsend untuk mempelajari filsafat dari awal.

Untuk buku pertamanya ini, kita akan diajak membahas filsafat mulai dari zaman Socrates hingga Galileo Galilei. Untuk buku keduanya (sekaligus terakhir) nanti, yang akan dibahas adalah filsafat dari zaman Rene Descartes hingga Sigmund Freud.

Ada 11 bab yang dimiliki oleh buku ini, mulai dari bab pertama yang bertajuk “Siapa Aku?” hingga bab sebelas yang bertajuk “Zaman Barok”. Sophie mempelajari satu per satu ilmu filsafat tersebut dengan bimbingan seseorang, yang lantas akan diketahui bernama Albedo.

Ada bab yang berisi tentang filsafat dari beberapa tokoh sekaligus, tapi ada juga bab yang memang fokus hanya membahas satu tokoh. Ada tiga tokoh yang menjadi bab tersendiri, yakni Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Dalam petualangannya, Sophie seolah-olah bisa bertemu langsung dengan tokoh-tokoh filsafat yang sedang diterangkan oleh Albedo. Sebagai seorang gadis remaja, pelajaran filsafat tersebut berhasil membuatnya merenungkan banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan.

Ada beberapa penyesuaian yang seingat Penulis tidak dibahas di novelnya, seperti concern Sophie terhadap isu lingkungan hingga kesalnya Sophie terhadap Aristoteles yang migonistik alias merendahkan kaum perempuan. Mohon koreksinya jika itu ternyata ada di novelnya.

Menjelang akhir buku, Sophie menyadari kalau dirinya hanyalah tokoh komik, atau bahasa filmnya adalah breaking the 4th wall. Bahkan Albedo yang menjadi “gurunya” pun tidak menyadari hal tersebut. Ini sangat akurat dengan versi novel.

Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat

Sesuai dengan tujuan awalnya membeli buku ini, Penulis berhasil teringat apa isi novel Dunia Sophie meskipun baru setengah awalnya saja. Mengingat novel Dunia Sophie cukup tebal, tentu isi buku grafis ini adalah versi pendeknya saja.

Sebagaimana novel-novel yang ditulis oleh Jostein Gaarder, kesan dongeng dan fantasi pun cukup kental di novel Dunia Sophie. Nah, adanya versi komik seperti ini semakin membuat unsur dongen dan fantasinya semakin terasa.

Dengan ilustrasi yang enak untuk dipandang, Penulis begitu menikmati membaca buku ini hingga bisa tandas dalam waktu yang cepat. Mungkin itu juga karena Penulis terbiasa membaca komik Barat seperti Tintin dan Lucky Luke.

Adanya ilustrasi membuat Penulis bisa memahami dengan lebih mudah filsafat-filsafat yang sedang dijelaskan. Penulis juga jadi bisa membayangkan bagaimana rupa para filsuf lintas zaman, meksipun di novel aslinya juga ada ilustrasi filsuf yang sedang dibahas.

Karena sedang mendalami stoik, ada satu quote yang sangat Penulis sukai dari buku ini (Penulis lupa apakah quote tersebut ada di novel aslinya), yakni:

“Berilah aku keberanian untuk mengubah yang bisa diubah, ketenangan untuk menerima yang tak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.”

Sebagai komik, tentu ada unsur joke yang disisipkan sebagai bumbu cerita agar tidak monoton dan kaku. Yang jelas, komik filsafat ini lebih mudah dipahami dibandingkan set novel filsafat yang pernah Penulis dulu dan hingga sekarang tidak pernah ditamatkan.

Jika ada remaja yang tertarik untuk masuk ke dunia filsafat, rasanya Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat bisa menjadi pengantar yang lebih baik dibandingkan novel aslinya yang sangat tebal. Penjelasannya mudah dipahami dan diilustrasikan dengan menarik.


Lawang, 29 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca buku Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat karya Jostein Gaarder

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan