Connect with us

Pengembangan Diri

Hidupku Hancur! Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia!

Published

on

Entah bagaimana dengan pembaca, tapi penulis masih sering menemui orang yang membuat status dengan tema “Hancur Hidupku” atau “Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia”.

Biasanya, status tersebut muncul ke permukaan karena suatu hal. Masalahnya, terkadang hal yang dipermasalahkan tersebut sebenarnya remeh sekali, kita saja yang memberinya bumbu tambahan.

Penulis sendiri pernah merasa seperti itu (atau sampai sekarang?). Apalagi, penulis merasa dirinya terkadang suka mendramatisir sesuatu.  Untungnya, penulis sudah mengurangi hal-hal yang semacam itu, mungkin karena faktor usia.

Membesar-besarkan Masalah

Sering berkutat dengan remaja membuat penulis banyak memperhatikan mereka. Kecenderungannya, alasan yang mendasari mereka melakukan itu adalah mencari perhatian. Setidaknya, sewaktu remaja penulis seperti itu.

Malah yang sebenarnya benar-benar bermasalah cenderung tidak memperlihatkan masalah mereka kepada orang lain. Mereka sering terlihat ceria (bahkan terlalu ceria) seolah tak memiliki masalah.

Memang, tidak bisa digeneralisir seperti itu. Ada yang merasa hidupnya hancur karena benar-benar hancur, ada orang ceria yang memang pada dasarnya sudah ceria. Maka dari itu, penulis menggunakan kata “cenderung” alias kebanyakan seperti itu.

Inti dari tulisan ini adalah ingin mengajak kepada kita semua agar berpikir ulang ketika sedang menghadapi masalah, benarkah benar-benar membuat hidup kita hancur dan menjadikan kita orang paling menderita di dunia?

Menengok Penderitaan Orang Lain

Kalau sedang ingin mengeluh, biasanya penulis berusaha mencari orang yang lebih kurang beruntung. Contohnya, capek bekerja. Penulis akan menjadi bersyukur ketika tahu masih banyak orang yang belum mendapatkan pekerjaan dan gaji layak.

Ketika pikiran-pikiran negatif seperti “hidupku hancur” atau “aku ini orang paling menderita”, coba gunakan cara yang sama seperti di atas, menengok penderitaan orang lain.

Benarkah hidup kita yang berharga ini bisa hancur dengan mudahnya hanya karena masalah yang sebenarnya tidak terlalu berat? Penulis menyangsikannya. Banyak orang dengan masalah yang lebih besar mampu bangkit dan melangkah lebih jauh.

Benarkah kita adalah orang yang paling menderita di dunia ini? Tidak, masih banyak orang lain yang lebih menderita dari kita. Contohnya?

Orang yang sering mengeluhkan masalah orang tuanya, seharusnya lebih beruntung dari pada mereka yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan orang tuanya.

Orang yang sering mengeluhkan masalah cinta, belum tahu betapa beratnya masalah keluarga yang terjadi antara suami dan istri, atau bahkan dengan pihak keluarga besar.

Orang yang sering mengeluhkan menumpuknya tugas sekolah tidak pernah melihat banyaknya anak putus sekolah yang hanya bisa berangan-angan untuk duduk di bangku sekolah.

Orang yang sering mengeluhkan tidak bisa membeli ini itu lupa bahwa masih banyak orang di dunia ini yang belum bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.

Dengan mengingat bahwa kita masih jauh lebih beruntung dari orang lain akan membuat kita tidak akan berpikiran hidup telah hancur ataupun merasa menjadi orang paling menderita di dunia.

Mengeluh dan Bersyukur

Pada akhirnya tulisan ini pun mengarah ke arah mengeluh dan bersyukur. Semua pikiran-pikiran buruk yang menjadi status kita berawal dari keluhan. Cara melawannya? Ada banyak cara, salah satunya dengan memperbanyak bersyukur.

Tidak hanya itu, berbanyak berbagi pun bisa menjadi obat yang mujarab. Tidak hanya memberi sedekah, berbagi cerita dan ilmu juga bisa memberikan efek yang positif bagi diri kita.

Daripada berfokus pada apa yang tidak kita dapatkan, lebih baik kita melihat apa saja yang kita miliki. Terkadang, kita tidak sadar berapa banyak yang kita miliki di dunia ini. Tidak hanya dari materi, melainkan keluarga, teman, kekasih, apapun itu.

Penulis masih sering mengeluh sampai sekarang, walaupun tidak sampai mengatakan apa yang tertera di bagian judul.

 

 

Kebayoran Lama, 25 Agustus 2019, terinspirasi setelah melihat status-status yang ada di media sosial

Foto: jens holm

Produktivitas

Productivity Hacks #2: Don’t Break the Chain

Published

on

By

Bisa menjadi manusia yang produktif adalah impian banyak orang. Kalau bisa, waktu kita di dunia yang sebentar ini digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.

Tapi yang namanya manusia, terkadang (atau sering?) ada rasa malas. Tak jarang kita memutuskan untuk menunda pekerjaan, hingga ada “pepatah” mengatakan kalau bisa dikerjakan besok kenapa sekarang?

Penulis berusaha mendorong dirinya untuk bisa menjadi manusia yang produktif. Salah satu caranya adalah dengan memiliki rutinitas harian, yang pernah Penulis bahas beberapa waktu lalu.

Bisa dibilang, praktiknya susah luar biasa. Apalagi jika sudah berhenti lama melakukan kebiasaan baik, untuk memulainya lagi sangatlah sulit.

Akhir-akhir ini karena situasi hatinya yang sedang buruk, Penulis sedang gencar memulai hidup produktif lagi. Berbagai cara Penulis lakukan agar bisa seperti dulu lagi, ketika mampu konsisten melakukan rutinitas pagi.

Dari pengalamannya, Penulis menemukan satu kunci untuk bisa konsiten melakukan kebiasaan baik: don’t break the chain. Jangan putuskan rantainya.

Berhenti Menulis To-Do List

Susah Melawan Rasa Malas (Cathryn Lavery)

Penulis kebetulan adalah tipe orang yang suka dengan rutinitas. Penulis tidak menyukai sesuatu yang sifatnya spontan dan mendadak. Kalau bisa, semua tertata rapi dan terorganisir dengan baik.

Oleh karena itu, salah satu metode untuk produktif yang cocok untuk Penulis adalah memiliki to-do list harian. Penulis rutin melakukannya mulai awal tahun ini, namun tersendat di bulan Juli karena berbagai macam alasan.

Salah satu hal yang membuat Penulis merasa malas menulis to-do list belakangan ini adalah karena merasa tidak banyak yang harus dikerjakan selain pekerjaan kantor dan menulis artikel blog. Akhirnya, buku to-do list Penulis pun terbengkalai beberapa minggu.

Penulis pun memutuskan untuk mengubah format buku to-do list miliknya. Anggap saja to-do list harian versi 2. Mungkin Penulis akan membuat artikel terpisah tentangnya karena Penulis sangat menyukai format baru ini.

Pada buku to-do list v2 ini, Penulis akan mencatat morning routine dan evening routine di sini. Setiap Penulis berhasil melakukan rutinitas atau kebiasaan ini, Penulis akan memberi tanda merah di kotaknya.

Ketika melihat daftar rutinitas yang berhasil dikerjakan hari ini, Penulis jadi terpacu untuk bisa melakukannya lagi keesokan harinya. Akhirnya, terbentuk semacam “rantai” kebiasaan yang membuat Penulis berusaha agar jangan sampai rantai itu putus.

Nah, inilah salah satu kunci keberhasilan untuk bisa konsisten melakukan kebiasaan dan menjadi lebih produktif.

Rantai yang Tampak Mata

Harus Kelihatan Mata (Daria Nepriakhina)

Sebelumnya, Penulis sering mencatat kebiasaan-kebiasaan melalui aplikasi Loop Habit Tracker di smartphone-nya. Ada banyak kebiasaan yang Penulis tuliskan di sana, termasuk kewajiban sholat lima waktu.

Hanya saja karena tidak tampak fisik, Penulis menjadi tidak bersemangat untuk mengerjakan semuanya. Penulis seolah merasa tidak punya motivasi untuk mengerjakan daftar kebiasaan yang seharusnya dilakukan.

Setelah menonton beberapa video di YouTube, ternyata memang sebaiknya catatan kebiasaan itu ditulis dalam buku fisik yang selalu kelihatan mata. Kalau di smarpthone, kita harus buka aplikasinya terlebih dahulu.

Selain itu, kita pun jadi menuliskan daftar kebiasaan secara fisik setiap hari. Hal tersebut mampu memberikan sugesti kepada diri agar melakukan hal-hal yang sudah dicatat.

Maka dari itu, Penulis memutuskan untuk menuliskannya di buku catatan dan meletakkannya di atas meja sepanjang hari, berhubung Penulis menghabiskan sebagian besar waktunya di depan meja kerja.

Sebagai orang yang perfeksionis, Penulis akan merasa gatal apabila ada kotak-kotak yang masih kosong. Penulis pun jadi terdorong untuk segera melakukan kegiatan yang kotaknya masih kosong tersebut.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Penulis jadi meyakini kalau rantai kebiasaan yang ingin kita lakukan haruslah tampak mata. Salah satu caranya adalah dengan menuliskannya secara fisik dan meletakannya di tempat yang selalu terlihat.

Kenapa Mempertahankan Rantai Itu Penting

Bagi orang yang ingin hidup produktif, memiliki rutinitas harian bisa menjadi salah satu hal yang sangat membantu. Namun, perlu dicatat bahwa yang susah adalah mempertahankan konsistensi.

Sekali rantai kebiasaan tersebut putus, dorongan untuk meninggalkan kebiasaan tersebut sangat besar. Rasanya begitu berat untuk memulai lagi dari awal. Ada juga perasaan kecewa karena rantai tersebut harus terputus.

Untuk menghindari hal tersebut, coba saja dimulai sedikit demi sedikit saja. Mungkin dari satu kebiasaan dulu. Jika sudah berhasil konsisten, tambah lagi kebiasaan baru dan begitu seterusnya.

Penulis sendiri sekarang sedang merutinkan delapan rutinitas, empat di pagi hari dan empat di malam hari. Walaupun terdengar banyak, sebenarnya kebiasaan yang Penulis catatkan tidak membutuhkan waktu panjang.

Ada beragam cara untuk mempertahankan rantai tersebut untuk tetap tersambung. Cara yang sedang Penulis terapkan adalah salah satunya.

Berhubung baru jalan tiga hari, Penulis belum bisa menyimpulkan kalau metode ini berhasil. Walaupun begitu, caranya layak untuk dicoba agar hidup ini menjadi lebih produktif.


Lawang, 19 Agustus 2021, terinspirasi dari usahanya sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih produktif

Foto: JJ Ying

Continue Reading

Pengembangan Diri

Cara Menghargai Diri Sendiri

Published

on

By

Ketika sedang menelusuri linimasa Instagram, tanpa sengaja Penulis menemukan sebuah pos dari akun @komikin_ajah. Ada yang berbeda dengan pos tersebut sehingga menarik minat Penulis.

Biasanya, akun ini akan mengunggah komik bergenre komedi. Akan tetapi, di pos ini mereka mengunggah gambar berjudul Beberapa Cara Berpikir yang Membuatmu Sulit Menghargai Dirimu Sendiri.

Ketika di-swipe ke kiri, poin-poin yang disampaikan oleh komik karya @petualanganmenujusatu ini sangat related dengan kehidupan Penulis. Pembaca bisa membacanya melalui embed link berikut ini:

Karena merasa related, Penulis pun berpikir untuk menjabarkan poin-poin yang disampaikan berdasarkan pengalaman dan pemikiran Penulis. Harapannya, tulisan ini bisa menjadi motivasi untuk kita semua yang kesulitan untuk menghargai diri kita sendiri.

1. Negative Self-Labeling

Negative Self-Labeling (@petualanganmenujusatu)

Hal pertama yang membuat kita susah untuk menghargai diri kita sendiri adalah adanya negative self-labeling alias mengecap diri kita dengan hal-hal negatif.

Semua sudah mengetahui kalau manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sialnya, kita terkadang terlalu fokus dengan kekurangan diri hingga lupa dengan kelebihan yang dimiliki.

Mungkin kita merasa diri ini emosian, mudah baper, kurang percaya diri, ceroboh, malas, peragu, egois, toxic, dan lain sebagainya. Akibatnya, kita merasa kalau diri kita hanya terdiri dari sifat-sifat negatif tersebut.

Padahal, mungkin kita orang yang suka menolong orang lain, punya empati, tulus, pekerja keras, memiliki etos kerja yang baik, ramah, tidak sombong, dan lainnya. Sikap-sikap positif tersebut seolah tertutup dengan label negatif yang kita sematkan ke diri sendiri.

Jika kita kesulitan untuk menemukan apa kelebihan diri sendiri, tidak ada salahnya minta tolong kepada orang lain untuk menunjukkan apa kelebihan kita. Dengan mengetahui apa kelebihan diri, kita pun bisa menghindari untuk melabeli diri secara negatif.

2. Disqualifying the Positives

Disqualifying the Positives (@petualanganmenujusatu)

Salah satu penyebab mengapa kita dengan mudahnya melabeli diri sendiri secara negatif adalah kita yang kerap melakukan disqualifying the positive atau mengerdilkan hal positif yang terjadi.

Entah mengapa ketika kita meraih achievement atau suatu keberhasilan, ada saja bisikan-bisikan negatif yang seolah melakukan denial kalau kita berhasil meraih atau mendapatkan sesuatu.

Jika tidak begitu, kita akan mencari alasan eksternal yang menyebabkan kita berhasil, seperti berkat bantuan orang lain, keberuntungan, dan lain-lain. Sebenarnya tidak salah, tapi kalau sampai membuat tidak menghargai diri sendiri ya jangan.

Terkadang, kita juga berpikir seperti ini gara-gara omongan dan nyinyiran orang lain. Kita yang cenderung susah untuk mengabaikan perkataan orang pun jadi terpengaruh dan memercayai kata mereka.

Bisa dibilang, poin kedua ini adalah poin yang paling tidak related dengan kehidupan Penulis. Setidaknya, Penulis masih mengapresiasi dirinya ketika berhasil melakukan sesuatu.

3. Personalisation & Blaming

Personalisation & Blaming ( @petualanganmenujusatu)

Di antara empat poin yang ada di artikel ini, bisa dibilang personalisation & blaming adalah yang paling sering Penulis lakukan. Setiap ada sesuatu, dikit-dikit akan menyalahkan dirinya sendiri.

Parahnya, kita menyalahkan diri terhadap sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Teman balas singkat, merasa kita merusak mood-nya. Bertengkar sama pasangan, kita terus merasa bersalah sudah membuat dia marah.

Kita perlu menyadari bahwa ada banyak sekali yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk orang lain. Yang benar-benar bisa kita kendalikan hanya diri kita sendiri, pikiran kita sendiri, perasaan kita sendiri.

Bisa dibilang, hanya menyalahkan diri sendiri tidak akan memberikan manfaat apa-apa bagi kita. Ia hanya akan merusak diri dan membuat kita melabeli diri secara negatif yang ujung-ujungnya susah untuk menghargai diri sendiri.

Merasa bersalah itu normal, tapi lebih baik kita gunakan untuk interopeksi dan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi. Percuma saja jika merasa bersalah, tapi tidak ada aksi untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

4. Jumping to Conclusions

Jumping to Conclusion (@petualanganmenujusatu)

Poin-poin yang ada artikel ini memiliki sumber yang sama: overthinking. Kita ini kadang terlalu banyak berpikir sehingga hal-hal yang sederhana dibuat rumit, hingga susah untuk mengapresiasi diri sendiri.

Jumping to conclusion atau kerap membuat kesimpulan terlalu dini adalah buah dari overthinking. Poin di nomor 3 bisa terjadi karena kita langsung loncat ke kesimpulan yang kita buat sendiri.

Parahnya, kesimpulan yang kita buat kerap bernada negatif ke arah diri sendiri. Padahal, tidak ada yang bukti konkrit yang mendukung kesimpulan tersebut. Semua hanya pikiran kita sendiri yang belum tentu benar dan seringnya tidak pernah benar.

Ketika menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan, seperti mood teman yang tiba-tiba berubah, berusahalah untuk mendiamkan otak dan tidak berpikir yang macam-macam. Alihkan perhatian ke hal lain agar kita tidak membuat kesimpulan sembarangan.

Cobalah untuk berhenti berpikir. Tidak semua terjadi karena salah kita. Tidak perlu menyimpulkan sesuatu di dalam otak kita. Biarkan semua mengalir saja, tidak perlu disimpulkan.

Penutup

Sudah lama Penulis menyadari bahwa dirinya kerap melakukan empat poin di atas. Oleh karena itu, Penulis coba mempelajari Stoik melalui beberapa buku seperti Filosofi Teras yang intinya mengajari bahwa banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Hanya saja, untuk bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari memang tidak mudah. Bagi kaum pemikir seperti Penulis, berhenti overthinking itu sama susahnya dengan berhentinya orang yang kecanduan opium.

Sifat overthinking tersebut memicu kita untuk susah menghargai diri sendiri. Belum lagi adanya faktor lain seperti lingkungan yang toxic, trauma, ataupun situasi lain yang membuat kita susah untuk melakukannya.

Hanya saja, kitalah yang paling mampu untuk menghargai diri sendiri. Kalau kita saja tidak menghargai diri sendiri, gimana orang lain bisa menghargai kita?

Semoga saja setelah membuat tulisan ini, Penulis dan para Pembaca yang merasa related bisa lebih menghargai diri sendiri. Memang susah, tapi bisa. Ayo kita sama-sama belajar dan mendukung satu sama lain.


Lawang, 11 Agustus 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah pos dari @petualanganmenujusatu

Foto: Giulia Bertelli

Continue Reading

Pengembangan Diri

Semakin Tinggi Harapannya, Semakin Sakit Jatuhnya

Published

on

By

Bung Karno pernah membuat quote yang berbunyi, “bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Sayangnya realita berbicara lain, setidaknya menurut Penulis. Ketika kita memiliki harapan yang tinggi, jatuhnya juga akan tinggi. Kalau jatuhnya tinggi, rasa sakit yang diterima pun akan begitu terasa.

Hal ini bisa berlaku di mana pun, entah itu masa depan, cita-cita, karir, percintaan, dan lain sebagainya. Semua hal yang bisa membuat kita berharap dapat membuat kita merasa sakit juga.

Bersiap untuk Merasa Kecewa

Tulisan ini terinspirasi dari salah satu video dari Jerome Polin ketika ia membuat video ulang tahunnya. Pembaca bisa menonton videonya di bawah ini:

Ada satu quote darinya yang sangat cocok untuk tema tulisan kali ini, yakni:

“Gak ada salahnya berekspetasi, tapi juga harus mempersiapkan hati untuk menerima fakta yang tidak menyenangkan.”

Jerome Polin

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berharap, toh itu salah satu sifat dasar manusia. Hanya saja, kita juga harus mempersiapkan hati apabila yang diharapkan tidak terjadi.

Contohnya adalah kisah Jerome yang berharap akan diberikan kejutan oleh teman-temannya ketika jam 12 tepat. Ternyata tidak ada yang datang, walau akhirnya jam 1 lewat sedikit ada beberapa orang yang memberi kejutan.

Ketika kita berharap pada sesuatu, maka kita harus mempersiapkan diri apabila harapan tersebut tidak terjadi. Jangan hanya membayangkan senangnya saja, kecewanya pun harus dipersiapkan.

Penulis akan mengambil contoh harapan tentang hubungan kita dengan seseorang. Anggaplah kita menyayangi seseorang dan berharap bisa menjadi pasangannya. Sayangnya, harapan kita tidak terkabul karena cinta kita bertepuk sebelah tangan.

Salah seorang “adik” Penulis pernah berkata bahwa ketika ia sudah memutuskan untuk menyayangi seseorang, ia telah sadar perasaan tersebut sudah sepaket dengan perasaan kecewa.

Dalam contoh ini, berharap orang memberikan rasa sayang yang sebesar kita berikan bisa menimbulkan kekecewaan jika tidak terealisasi. Maka dari itu, ketika memutuskan untuk menyayangi seseorang, kita harus bersiap menelan pil terpahitnya.

Agar Jatuhnya Tidak Sakit

Secara garis besar, ada dua cara yang bisa kita lakukan agar kita tidak terlalu merasa sakit ketika terjatuh: ekspetasinya yang diturunkan atau kitanya yang harus menguatkan diri.

Cara pertama, kita harus bisa mengukur seberapa ekspetasi yang dikeluarkan. Jangan sampai ekspetasi tersebut tidak realistis sehingga kemungkinan tidak jatuhnya kecil.

Mengelola harapan jelas bukan perkara mudah. Untuk masalah ini, kita harus menyadari bahwa ada kalanya kita tidak berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan dan percaya akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Cara kedua, ibaratnya seperti lagu Terlatih Patah Hati karya The Rain feat Endank Soekamti. Kita harus menempa diri hingga menjadi sosok yang tangguh dan seringnya hal ini bisa terjadi karena telah terbiasa.

Kalau kitanya bisa bertahan dari rasa sakit dan kecewa apapun, mau jatuh setinggi apapun kita akan tetap merasa kuat dan hanya merasa sedikit terluka. Dengan kepala tegak kita bisa kembali melanjutkan hidup.

Penutup

Mengulang perkataan Jerome, tidak ada yang salah dari berekspetasi. Hanya saja, kita juga harus mempersiapkan diri jika hal yang diinginkan tidak terjadi.

Semakin tinggi harapan, semakin tinggi pula jatuhnya jika tidak kesampaian. Oleh karena itu, kita yang harus pintar-pintar mengelola harapan atau melatih diri menjadi sosok yang bisa menahan sakitnya terjatuh.


Lawang, 31 Juli 2021, terinspirasi setelah menonton video dari Jerome Polin

Foto: Anime Girl Falling From The Sky Base – Novocom.top

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan