<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hidup Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/hidup/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Apr 2025 11:40:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>hidup Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/hidup/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2025 16:21:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[self-reminder]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8239</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat produktivitas menulis blog ini terasa mandek, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis. Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat <strong>produktivitas menulis blog ini terasa mandek</strong>, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis.</p>



<p>Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang tayang. Februari ada satu tulisan, yang mirisnya merupakan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-2025/">tulisan pertama di tahun 2025</a>. Di Maret setidaknya ada empat tulisan.</p>



<p>Blog ini, yang harusnya menjadi tempat menyalurkan hobi,<strong> justru belakangan terasa menjadi beban</strong>. Ada puluhan ide artikel yang tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Ada belasan buku yang menanti untuk diulas, hingga lupa apa yang harus diulas.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-banner.jpg 1200w " alt="Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Berhenti Menulis karena Rasa Malas?</h2>



<p>Setiap merasa harus memutus lingkaran ini dan mulai kembali rutin menulis, keinginan tersebut terputus hanya setelah maksimal dua tulisan. Setelah itu kembali menghilang hingga waktu yang tidak ditentukan.</p>



<p>Apakah permasalahan yang Penulis sebutkan di atas hanya merupakan alibi untuk menutupi alasan sebenarnya dari berhentinya Penulis menulis, yaitu <strong>rasa malas</strong>? Bisa jadi. Namun, rasa malas bisa muncul dengan sebab, seperti kepala yang rasanya penuh sekali.</p>



<p>Ketika pikiran suntuk dan dengan &#8220;liarnya&#8221; mengembara ke sana kemari, itu sangat memengaruhi <em>mood</em>. Sekali lagi, menulis yang harusnya jadi aktivitas menyenangkan justru menjadi momok yang menakutkan.</p>



<p>Apakah rasa malas ini muncul karena di tempat kerja Penulis juga menulis? Bisa jadi, karena tentu itu memunculkan rasa jenuh. Mau sebagus apapun idenya, butuh tekad yang kuat untuk bisa mengeksekusinya, dan tekad itu bisa luntur karena rasa jenuh.</p>



<p>Apakah rasa malas ini muncul karena Penulis kesulitan mengatur waktunya? Bisa jadi, karena waktu yang dimiliki dalam 24 jam digunakan untuk aktivitas lainnya. Jujur, kebanyakan bukan aktivitas produktif sebagai pelarian dari masalah yang ada di kepala.</p>



<p>Lantas, apakah rasa malas ini bisa jadi pembenaran untuk berhentinya produksi blog ini? Entahlah, Penulis merasa dirinya terbagi menjadi dua. Satu menjustifikasi rasa malas tersebut karena memang sedang banyak pikiran, yang satu merutuk diri karena kontrol diri yang lemah.</p>



<p>Apakah produksi artikel di blog ini bisa kembali normal jika masalah-masalah yang ada di pikiran itu terselesaikan? Sekali lagi, entahlah. Bisa jadi berhentinya produksi artikel tersebut memang murni karena rasa malas saja, lalu mencari-cari justifikasi yang paling terlihat elegan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menyadari Kita Harus Tetap Berjalan</h2>



<p>Saat menulis artikel ini, justru masalah-masalah di kepala tengah berada di klimaksnya. Tentu aneh, mengapa ketika berada di puncak permasalahannya Penulis justru akhirnya memutuskan untuk menulis lagi setelah sekian lama.</p>



<p>Mungkin, karena sudah berada di klimaksnya, <strong>Penulis menyadari bahwa setelah ini jalannya akan melandai, menurun</strong>. Permasalahan, apapun bentuknya, pasti akan selesai. Semua itu hanya sementara, tidak akan terjadi selamanya.</p>



<p>Mungkin, karena <strong>pada akhirnya Penulis menyadari bahwa hidup harus tetap berjalan</strong>. Yang namanya berjalan, tentu tak pernah selalu mulus. Pasti beberapa kali kita akan menemukan jalan yang rusak, <em>gronjalan</em>, kubangan lumpur, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Namun, pada akhirnya kita tetap melanjutkan perjalanan. Memang kita jadi kotor, mungkin ada luka juga, tapi itu adalah &#8220;harga&#8221; yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Demi tujuan itulah kita terus berjalan.</p>



<p>Lantas, apa tujuan yang sedang Penulis tuju sekarang? Penulis tidak akan menuliskannya di sini, tapi yang jelas, untuk mencapai tujuan tersebut, <strong>bisa mendisiplinkan diri untuk konsisten menulis artikel di blog ini adalah salah satu jalan yang harus Penulis tempuh</strong>.</p>



<p>Untuk itulah, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis artikel ini, yang mungkin secara bobot tidak ada bobotnya, lebih sekadar gerutuan karena insomnia datang menyerang. Setidaknya, ini adalah upaya nyata Penulis untuk kembali ke jalan yang benar.</p>



<p>Entah cara apa yang akan Penulis lakukan agar aktivitas menulis blog ini menjadi kembali menyenangkan dan membuat Penulis bersemangat, bahkan ketika isi pikirannya penuh dengan masalah. Sambil berjalan, Penulis akan berusaha menemukan jawabannya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 April 2025, terinspirasi karena insomnia karena berbagai masalah yang ada di pikirannya</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@pripicart/">Tobi via Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca The Art of the Good Life</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2023 15:54:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Rolf Dobelli]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6194</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama Dibacain, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton. Nah, di seri Dibacain yang ke-14, buku yang ia ulas adalah The Art of the Good Life karya Robert Dobelli. Buku ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama <em>Dibacain</em>, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton.</p>



<p>Nah, di seri <em>Dibacain </em>yang ke-14, buku yang ia ulas adalah <em><strong>The Art of the Good Life</strong></em> karya <strong>Robert Dobelli</strong>. Buku ini banyak membahas mengenai bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa perlu memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.</p>



<p>Karena tertarik, Penulis pun jadi ingin membeli buku ini dan menyelami lebih dalam tentang apa yang sebenarnya butuh diraih dalam mencapai hidup tenteram, seperti yang dijabarkan oleh buku ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>The Art of the Good Life: Filosofi Hidup Klasik untuk Abad Ke-21</em></li><li>Penulis: Robert Dobelli</li><li>Penerbit: KPG</li><li>Cetakan: Keempat</li><li>Tanggal Terbit: Desember 2021</li><li>Tebal: 319 halaman</li><li>ISBN: 9781473667488</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam kehidupan yang makin kompleks dan penuh dengan hiruk pikuk, baik di dunia nyata maupun dunia maya, menjalani hidup dengan tenang dan tentram telah menjadi banyak tujuan manusia modern.</p>



<p>Berlandaskan hal tersebut, banyak orang yang kembali menoleh ke filosofi <em>stoicism </em>atau stoik dari Yunani Kuno. Sudah banyak buku yang membahas mengenai hal ini, seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em> dan buku <em>The Art of the Good Life </em>ini.</p>



<p>Buku ini memilki 52 bab yang masing-masing memiliki topiknya masing-masing, tetapi masih dalam lingkup &#8220;kunci hidup tenteram&#8221;. Setiap babnya pendek saja, sekitar lima halaman. Pembaca buku ini bisa memilih mau membacanya secara berurutan maupun lompat-lompat.</p>



<p>Sebagai buku yang menggunakan stoik sebagai landasannya, banyak bab di buku ini yang mengajak kita untuk berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan, atau istilahnya adalah dikotomi kendali.</p>



<p>Hal ini memang masuk akal, apalagi bagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">orang yang kerap <em>overthinking</em></a><em> </em>seperti Penulis. Dengan menyadari ada banyak hal yang tidak bisa kendalikan dalam hidup, niscaya kehidupan pun akan terasa lebih tenang.</p>



<p>Selain itu, setiap bab juga memiliki judul yang jika dibaca sekilas tidak terlihat dengan jelas topik atau argumen apa yang akan dibawakan. Untungnya, ada keterangan di bawah judul bab sehingga kita akan selalu memiliki gambaran tentang bab tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Art of the Good Life</h2>



<p>Sebagai orang yang menyukai buku bertema stoik, Penulis cukup menikmati buku <em>The Art of the Good Life </em>ini. Dengan panjang babnya yang cuma berkisar lima halaman, buku ini cocok dibaca sebagai selingan dari rutinitas hariannya.</p>



<p>Hanya saja, entah mengapa Penulis merasa tidak banyak isi buku ini yang <em>nyantol </em>di kepalanya. Karena sudah menamatkannya beberapa bulan lalu, Penulis sudah tidak terlalu ingat dengan isinya. Artinya, isinya memang tidak terlalu mengesankan.</p>



<p>Mungkin itu juga terjadi karena Penulis sudah membaca beberapa buku yang juga bermuara dari konsep stoik. Setidaknya, buku ini hadir sebagai pengingat atas ilmu-ilmu stoik yang mungkin sudah Penulis lupakan.</p>



<p>Sebenarnya bahasa yang digunakan oleh Rolf Dobelli tidak terlalu berat. Hanya saja, memang ada bagian-bagian yang tidak cukup untuk dibaca sekali agar benar-benar memahami pesan apa yang ingin disampaikan.</p>



<p>Penulis menyarankan kepada Pembaca untuk menonton video dari Fellexandro Ruby yang telah disinggu di awal untuk bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang buku ini. Jika setelah menonton video tersebut jadi yakin, Penulis merekomendasikan buku ini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 3 Januari 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The Art of the Good Life </em>karya Rolf Dobelli</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>1/365</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/1-365/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/1-365/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2023 15:23:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[2022]]></category>
		<category><![CDATA[2023]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6263</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2023 telah tiba. Setelah melalui 365 hari, kita berjumpa kembali dengan tanggal 1 Januari. Hari pertama dari tahun yang baru, bagi kebanyakan orang, akan memberikan semangat baru dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Yang berbeda dari pergantian tahun ini bagi Penulis adalah, selama bulan Desember 2022 kemarin, Penulis (yang sejujurnya sedang banyak pikiran) kerap beberapa kali [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/1-365/">1/365</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tahun 2023 telah tiba. Setelah melalui 365 hari, kita berjumpa kembali dengan tanggal 1 Januari. Hari pertama dari tahun yang baru, bagi kebanyakan orang, akan memberikan semangat baru dalam mengarungi kerasnya kehidupan.</p>



<p>Yang berbeda dari pergantian tahun ini bagi Penulis adalah, selama bulan Desember 2022 kemarin, Penulis (yang sejujurnya sedang banyak pikiran) kerap beberapa kali melakukan refleksi diri atas apa yang telah terjadi di sepanjang tahun 2022.</p>



<p>Pada tulisan pertama di tahun ini, Penulis ingin sedikit berbagi mengenai apa saja yang telah dipelajari dalam hidupnya selama tahun 2022 kemarin. Selain itu, Penulis juga ingin menyampaikan harapannya di tahun 2023 ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Dipelajari di Tahun 2022</h2>



<p>Penulis merasa di tahun 2022, ada banyak sekali pelajaran kehidupan yang didapatkan. Penulis merasa itu semua menjadi &#8220;modal&#8221; bagi dirinya untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik di tahun-tahun berikutnya, diawali di tahun 2023 ini.</p>



<p>Salah satu yang baru berusaha Penulis pahami adalah tentang bagaimana tentang <strong><a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">berbuat baik dengan ikhlas</a></strong> tanpa berharap timbal balik apapun. Ternyata, tanpa disadari, Penulis beberapa kali masih berharap adanya <em>feedback </em>dari orang yang telah dibantunya.</p>



<p>Sebagai contoh, ketika Penulis ada ketika seseorang membutuhkannya, Penulis juga berharap kalau orang tersebut ada <em>ketika Penulis yang membutuhkannya</em>. Walaupun terdengar manusiawi, Penulis ingin ke depannya tidak mengharapkan hal tersebut lagi.</p>



<p>Penulis juga belajar banyak mengenai <strong><a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">menjadi dewasa</a></strong>. Ternyata ada beberapa hal kekanakan di diri Penulis yang belum hilang, seperti kontrol emosi yang (terkadang) masih buruk dan egonya yang (terkadang) masih tinggi. </p>



<p>Apalagi, menjelang usianya yang akan segera mencapai kepala tiga, Penulis masih harus terus belajar mengenai bagaimana menjadi orang yang dewasa yang <em>proper</em>. Tidak perlu muluk-muluk menjadi panutan orang lain, cukup menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya.</p>



<p>Sebagai orang yang kerap <em>overthinking</em>, Penulis mulai belajar mengenai <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menerima-keadaan-dari-peter-parker/">berusaha menerima keadaan</a> </strong>dalam hidupnya tanpa perlu memikirkannya secara berlebihan. Menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kontrol benar-benar membantu Penulis.</p>



<p>Sebelumnya, Penulis kerap berusaha mengendalikan banyak hal, termasuk bagaimana sikap dan respons orang lain ke kita, bahkan meminta untuk diprioritaskan. Selain hanya menimbulkan pertengkaran, hal tersebut juga membebani orang lain dengan ekspekstasi kita.</p>



<p>Selain poin-poin di atas, tentu masih ada banyak pelajaran kehidupan lain yang Penulsi dapatkan di tahun 2022. Namun, Penulis merasa bahwa ketiga hal tersebut adalah yang paling esensial dan banyak membantu Penulis untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Diharapkan di Tahun 2023</h2>



<p>Dengan semangat pergantian tahun, tentu ada beberapa hal yang diharapkan akan bisa dilakukan di tahun 2023 ini. Anggap saja ada <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/">beberapa resolusi yang ingin dicapai tahun ini</a>, terlepas dari adanya beberapa resolusi yang gagal dicapai di tahun lalu.</p>



<p>Penulis merasa agak &#8220;berantakan&#8221; di tahun 2022 kemarin karena rutinitas mencatat jurnal harian dan keuangannya tidak teratur dan banyak bolongnya. Penulis berharap di tahun 2023 ini, Penulis bisa lebih <strong>konsisten melakukan rutinitas</strong> yang telah dilakukan sejak kuliah itu.</p>



<p>Berbicara tentang rutinitas, Penulis juga ingin bisa kembali <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutin olahraga pagi</a></strong> yang sudah lama ditinggalkannya. Ini jelas butuh niat dan motivasi yang sangat kuat, apalagi jika tidak ada orang lain yang mendorong kita untuk melakukannya.</p>



<p>Penulis juga ingin lebih <strong>rutin menulis blog</strong>, karena tahun 2022 kemarin menjadi rekor penulisan paling sedikit, yaitu <strong>91 artikel</strong>. Ini adalah pertama kalinya sejak blog ini tayang, jumlah artikel yang diproduksi dalam setahun kurang dari 100 artikel.</p>



<p>Besok, tanggal 2 Januari 2023, adalah ulang tahun yang ke-5 dari blog ini. Penulis harapkan ke depannya bisa lebih rutin dalam menulis di <a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-adalah-investasi-saya/">blog yang sudah berperan besar dalam kehidupan Penulis</a> ini.</p>



<p>Untuk bisa mencapai hal tersebut, tentu Penulis harus bisa <strong>lebih baik lagi dalam mengatur manajemen waktunya</strong>. Selama 2022 kemarin, Penulis merasa sering membuang-buang waktunya untuk hal yang kurang berfaedah. Semoga saja itu bisa berubah di tahun 2023.</p>



<p>Tentunya di atas itu semua, Penulis berharap bisa menjadi <strong>manusia yang lebih baik lagi</strong>, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Penulis akan terus berusaha menebar kebaikan dan menjadi manfaat bagi sekitarnya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Semoga saja di tahun 2023 ini, Penulis bisa benar-benar memperbaiki kekurangannya berdasarkan apa yang dirinya pelajari di 2022, serta bisa melakukan hal-hal apa yang telah ditargetkan, dimulai dari hari pertama dari 365 hari yang akan dilalui di tahun 2023.</p>



<p></p>



<p>NB: Gambar Jihyo di <em>banner </em>hanya sebagai ilustrasi optimisme dalam menyambut tahun 2023</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 1 Januari 2023, terinspirasi setelah belakangan ini kerap melakukan refleksi diri menjelang pergantian tahun</p>



<p>Foto: <a href="https://id.pinterest.com/pin/51158145758127469/">Pinterest</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/1-365/">1/365</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/1-365/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2022 14:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedewasaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[umur]]></category>
		<category><![CDATA[usia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5562</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika masih duduk di bangku sekolah, Penulis memiliki kenalan dekat yang usianya beberapa tahun di atas Penulis. Kami sering mengobrolkan banyak hal, tetapi ada satu quote darinya yang Penulis ingat hingga sekarang: &#8220;Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan&#8221; Waktu itu, Penulis belum terlalu memahami apa makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Batin Penulis, itu hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika masih duduk di bangku sekolah, Penulis memiliki kenalan dekat yang usianya beberapa tahun di atas Penulis. Kami sering mengobrolkan banyak hal, tetapi ada satu <em>quote </em>darinya yang Penulis ingat hingga sekarang:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan&#8221;</p></blockquote>



<p>Waktu itu, Penulis belum terlalu memahami apa makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Batin Penulis, itu hanya sebuah kutipan keren yang ia temukan dan mungkin ingin dibagikan ke orang lain.</p>



<p>Setelah Penulis berada di usia yang cukup untuk disebut dewasa, barulah Penulis menyadari kalau <em>quote </em>tersebut memiliki makna yang mendalam.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berbicara tentang Umur</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5564" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Umur Itu Pasti (<a href="https://unsplash.com/@jonathanborba">Jonathan Borba</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika memasuki <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/">babak pertama dalam kehidupan</a> (Baca: Lahir), kita mulai dari angka 0. Setelah itu, setiap tahun angka tersebut akan bertambah secara berurutan hingga ajal menjemput.</p>



<p>Umur hanyalah deretan angka-angka tersebut yang bersifat mutlak dan tidak bisa dihindari maupun dimanipulasi. Misal, kita ingin tahun depan usia kita justru berkurang biar awet muda, ya tidak bisa seperti itu. </p>



<p>Umur terikat oleh waktu, sehingga tak akan pernah punya kesempatan untuk diulang. Mau pakai kosmetik atau <em>make up </em>apapun untuk menyamarkan bentuk wajah atau fisik kita, umur kita akan tetap dan tidak akan bisa berubah.</p>



<p>Umur akan selalu melekat pada kita, tak peduli seberapa kita senang maupun takut dengannya. Ada yang tak sabar ingin segera berusia 17 tahun, karena katanya itu merupakan angka transisi dari remaja ke dewasa. Ada yang takut masuk ke usia ke-30, karena merasa dirinya masih ingin senang-senang.</p>



<p>Umur hanyalah sebuah angka, yang mungkin bisa menjadi parameter muda-tua. Akan tetapi, umur tidak bisa menjadi sebuah parameter lain, seperti tingkat kedewasaan seseorang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berbicara tentang Dewasa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5565" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dewasa Itu Pilihan (<a href="https://unsplash.com/@jeshoots">JESHOOTS.COM</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa itu dewasa? Apa ciri-ciri orang bisa dianggap dewasa? Tentu ada banyak pendapat mengenai hal ini. Masing-masing memiliki argumennya sendiri. Bagi Penulis sendiri, dewasa tidak bisa terikat dengan satu makna karena ia sangat luas.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti bisa menempatkan diri di segala situasi dengan baik. Dewasa mungkin bisa mengendalikan diri dan emosinya dengan baik. Dewasa mungkin ketika telah merasa dirinya telah memiliki tanggung jawab, setidaknya untuk dirinya sendiri.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti menjadi bijaksana ketika sedang dirundung masalah. Dewasa mungkin bisa mengetahui mana yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri mana yang bisa dibagi ke orang lain. Dewasa mungkin ketika kita bisa memilah mana yang seharusnya menjadi prioritas.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti mengemban amanah baik dari skala kecil seperti keluarga maupun skala yang lebih besar. Dewasa mungkin bisa mengerjakan banyak hal yang anak-anak maupun remaja tidak bisa melakukannya. Dewasa mungkin ketika kita mampu meredam ego pribadi.</p>



<p>Segala definisi di atas tersebut bisa dialami semua, sebagian, atau bahkan tidak sama sekali oleh kita. Nah, beberapa ciri-ciri di atas bisa dialami oleh siapa saja tanpa memandang umurnya, karena kedewasaan sesungguhnya tidak terlalu berkorelasi dengan umur.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Keterkaitan Umur dan Kedewasaan</h2>



<p>Memang, umur kerap dikaitkan dengan dewasa. Patokannya berbeda-beda, tapi banyak yang menyebutkan kalau mulai usia 20-an lah manusia memasuki umur dewasanya. Hanya saja, setiap orang tentu berbeda.</p>



<p>Mungkin ada yang dewasa lebih cepat karena tekanan lingkungannya. Ada yang sudah mencapai kepala tiga, tetapi tidak dewasa sama sekali dan kerap bersikap kekanakan. Semua ini sangat mungkin terjadi.</p>



<p>Orang yang hidupnya selalu enak dan serba terpenuhi mungkin akan lebih tidak dewasa dibandingkan orang yang hidupnya susah dan sangat <em>struggle</em>. Anak yang biasa dimanja orang tua mungkin akan lama dewasanya dibandingkan anak yang memiliki orang tua keras.</p>



<p><strong>Dewasa dan kedewasaan itu berbeda</strong>. Berada di usia dewasa tidak otomatis menjadikan kita memiliki sikap kedewasaan. Sebaliknya, di usia muda pun bukan tidak mungkin memiliki kedewasaan yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang lebih tua.</p>



<p>Semakin bertambahnya umur, semakin pelik pula masalah yang akan dihadapi. Mental kita akan benar-benar diasah dengan setiap konflik yang ditemui. Itulah mengapa orang yang sudah berumur kerap dituntut untuk dewasa karena memang sudah seharusnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Lantas, apakah perlu memiliki kedewasaan? Bagi Penulis, tentu perlu karena itu akan menunjukkan tingkat kematangan kita dalam menjalani hidup. Kalau merasa belum dewasa ketika seharusnya sudah, ya belajar bagaimana caranya menjadi dewasa.</p>



<p>Bagaimana caranya? Penulis sendiri tidak tahu karena merasa dirinya juga tidak dewasa-dewasa amat. Hanya saja, kita bisa memulainya dengan menengok ke dalam diri sendiri dan mencari mana kekurangan diri yang perlu dibenahi. Mulai saja dulu dari sana.</p>



<p>Memang banyak faktor yang menentukan kedewasaan, tapi kita punya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">kontrol penuh</a> untuk memilih menjadi seorang dewasa. Sekarang, coba ambil jeda sejenak dan renungkan dalam diri, apakah kita sudah cukup dewasa untuk umur kita?</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Desember 2022, terinspirasi setelah dirinya diingatkan oleh seseorang untuk bersikap sesuai umurnya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@gzzhouming1">David Zhou</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pernah Terpikir untuk Bunuh Diri?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2021 01:21:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5122</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam hidup, manusia akan selalu menjumpai yang namanya masalah. Kok manusia, kucing aja pun punya masalah seperti di mana mencari makan atau buang pup. Masalah pun bermacam-macam. Ada yang ringan, ada yang berat. Ada yang karena pekerjaan, percintaan, hubungan sosial, global warming, konspirasi elit politik, dan lain sebagainya. Terkadang, kita pernah tertimpa masalah hingga membuat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/">Pernah Terpikir untuk Bunuh Diri?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam hidup, manusia akan selalu menjumpai yang namanya masalah. Kok manusia, kucing aja pun punya masalah seperti di mana mencari makan atau buang pup.</p>



<p>Masalah pun bermacam-macam. Ada yang ringan, ada yang berat. Ada yang karena pekerjaan, percintaan, hubungan sosial, <em>global warming</em>, konspirasi elit politik, dan lain sebagainya.</p>



<p>Terkadang, kita pernah tertimpa masalah hingga membuat kita goyah untuk bertahan hidup. Akhirnya, terbesit pikiran untuk mengakhirinya. Bunuh diri.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berawal dari Chester</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5124" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Chester Bennington (<a href="http://globalradio.co.id/news/detail/2444/semarang-masuk-dalam-video-tribute-to-chester-bennington">Global Radio</a>)</figcaption></figure>



<p>Pertama kali Penulis memiliki <em>concern </em>terhadap isu bunuh diri adalah setelah kematian vokalis Linkin Park, <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/"><strong>Chester Bennington</strong></a>, yang memilih untuk menggantung dirinya.</p>



<p>Hingga kini, tidak bisa dipastikan apa yang menjadi penyebab Chester melakukan hal tersebut dan membuat para fansnya menangisi kematiannya. </p>



<p>Apalagi, banyak lagu yang ia nyanyikan mampu menyelamatkan banyak nyawa. Ketika membaca kolom komentar di YouTube, banyak yang mengaku mendapatkan semangat hidup dari lagu-lagu Linkin Park.</p>



<p>Penulis pun berpikir, apa masalah yang menimpanya hingga membuatnya berpikir kematian adalah satu-satunya jalan keluar? Apakah hidup sebegitu mengerikannya sehingga ia merasa putus asa?</p>



<p>Sebagai <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>, Penulis pun merenungkan hal ini. Merenungkan mengapa ada manusia yang berpikir kematian lebih baik dari pada kehidupan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Terpikir untuk Bunuh Diri?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5126" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Depresi Memicu Bunuh Diri (<a href="https://unsplash.com/@elevantarts">christopher lemercier</a>)</figcaption></figure>



<p>Yang namanya manusia, mungkin pernah berada di keadaan yang membuatnya terjepit sehingga merasa kematian setidaknya akan membuatnya lepas dari masalah. Ada beberapa alasan mengapa orang memiliki pikiran untuk bunuh diri.</p>



<p>Di zaman sekarang, istilah <em>insecure </em>begitu populer. <a href="https://whathefan.com/karakter/dikit-dikit-insecure/">Dikit-dikit <em>inscure</em></a>, dikit-dikit <em>insecure</em>. Ada hal apapun yang lewat di linimasa media sosial bisa menimbulkan rasa <em>insecure</em>.</p>



<p>Perasaan <em>insecure </em>ini bisa mendorong kita untuk <strong>takut hidup</strong>. Kok, rasanya hidup ini enggak punya masa depan. Perasaan takut hidup ini bisa membuat kita merasa terjepit, sehingga mungkin merasa mati akan lebih baik.</p>



<p>Di kalangan remaja, biasanya mereka akan dengan mudah dimabuk asmara. Rasanya seolah cinta mati kepada pasangan dan seolah tidak bisa hidup tanpanya.</p>



<p>Ketika dilanda masalah, mereka menjadi begitu <strong>patah hati</strong> dan merasa tidak bisa hidup tanpanya. Tak jarang, ada yang menggunakan ancaman bunuh diri ketika sedang bertengkar, seolah nyawa adalah benda yang diobral.</p>



<p><strong>Masalah ekonomi</strong> seperti dikejar hutang dan tidak tahu cara membayarnya juga bisa menjadi salah satu pemicu bunuh diri. Penulis ingat ada salah satu artis yang terbesit untuk bunuh diri karena tidak mampu membayar hutang dalam jumlah milyaran rupiah.</p>



<p><strong>Perasaan depresi</strong>, <strong>tertekan oleh standar masyarakat</strong>, <strong>merasa jadi beban keluarga hingga merasa tidak pantas berada di dunia</strong>, <strong>tidak punya tujuan hidup</strong>, hingga <strong>kesepian </strong>menjadi beberapa alasan lainnya.</p>



<p>Ada banyak sekali alasan orang terpikir untuk bunuh diri. Intinya, mereka merasa tidak mampu untuk menghadapi ujian-ujian yang diberikan oleh Tuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ujian dari Tuhan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5125" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Yakin Kuat Menahan Panasnya Api Neraka? (<a href="https://www.pexels.com/@freeimages9">icon0.com</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai orang yang percaya dengan agama, Penulis meyakini bahwa mengakhiri hidup sendiri adalah perbuatan dosa dan melawan takdir. Dalam keyakinan yang Penulis anut, orang yang bunuh diri akan berakhir di neraka dan kekal di sana.</p>



<p>Sepahit-pahitnya kenyataan hidup di dunia, Penulis meyakini bahwa api neraka akan jauh lebih menyiksa kita. Sakit yang kita rasakan di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan sakitnya di neraka.</p>



<p>Penulis juga meyakini bahwa <strong>Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya</strong>. Jika ada orang yang dihadapkan pada situasi sulit, artinya ia memiliki kemampuan untuk melewatinya.</p>



<p>Kalau kita merasa tidak mampu melewati sebuah ujian dari Tuhan, artinya kita meremehkan Tuhan. Kita mengganggap Tuhan melakukan kesalahan dengan memberikan ujian yang terlalu berat untuk dirinya.</p>



<p>Memang, manusia itu penuh keterbatasan. Ada banyak manusia yang benar-benar berada di situasi sulit yang mungkin bagi kebanyakan orang mustahil untuk dilalui.</p>



<p>Akan tetapi, kembali lagi ke keyakinan Penulis bahwa Tuhan tidak mungkin memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya. Dengan keyakinan seperti itu, Penulis bisa &#8220;<em>ngerem</em>&#8221; dirinya ketika berada di situasi sulit.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Saya Pernah Terbesit Pikiran untuk Bunuh Diri?</h2>



<p>Jika ditanya seperti judul pada artikel ini, jawabannya adalah <strong>pernah</strong>. Namun, bukan karena ada masalah, melainkan karena penasaran siapa saja yang akan sedih dan menangisi kematian Penulis.</p>



<p>Penulis tidak tahu kenapa pernah berpikir seperti itu. Rasanya <em>random </em>saja, tiba-tiba terpikirkan tanpa direncanakan. Jika mulai berpikir yang buruk seperti itu, Penulis berusaha untuk istighfar.</p>



<p>Kadang, bayangan bunuh diri malah jadi ide untuk cerita <a href="https://whathefan.com/category/cerpen/">cerpen</a> atau <a href="https://whathefan.com/category/leonkenji/">novelnya</a>. Seandainya ditemukan orang gantung diri begini, nanti reaksi orang-orang akan begitu. Dalam waktu dekat, Penulis akan membuat cerpen yang berasal dari imajinasi liarnya ini.</p>



<p>Untungnya, pikiran-pikiran tersebut tetap bertahan di pikiran saja. Kok gantung diri atau mengiris nadi, kepalanya <em>kebentuk </em>atau kelingking menabrak kaki meja saja sakitnya bukan main kok.</p>



<p>Untungnya, Penulis bukan tipe orang yang betah sakit. Kok <em>self-harm</em>, luka ditetesin Betadine saja perihnya tidak tahan. Kok menyakiti diri sendiri, <em>mong </em>pakai Insto saja susah untuk tetap <em>melek</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bunuh diri tidak akan menjadi penyelesaian suatu masalah, sampai kapan pun. Mau sepahit apapun kenyataan hidup, kematian karena bunuh diri akan jauh lebih menyiksa untuk selamanya.</p>



<p>Jangan meremehkan diri sendiri. Kita semua pasti mampu melewati semua ujian yang diberikan oleh Tuhan. Pasti ada hikmah di balik masalah yang kita hadapi. Percayalah itu.</p>



<p>Jika Pembaca ada yang pernah terbesit pikiran untuk bunuh diri, silakan hubungi Penulis ataupun orang lain yang dipercaya bisa memberikan rasa nyaman.</p>



<p>Pembaca juga bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes di nomor <strong>021-500-454</strong> ataupun lembaga-lembaga lain yang dapat membantu mencegah kita untuk bunuh diri.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 27 Juli 2021, terinspirasi dari mudahnya kita berpikir untuk bunuh diri ketika sedang tertimpa masalah</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@evablue">Eva Blue</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/">Pernah Terpikir untuk Bunuh Diri?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2020 06:28:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[stoa]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4117</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Kamu kok berubah sih?&#8221; Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya. Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Kamu kok berubah sih</em>?&#8221;</p>
<p>Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya.</p>
<p>Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya berpisah jalan.</p>
<p>Perubahan sikap orang lain seperti ini menjadi contoh mengenai <strong>apa yang tidak bisa kita kendalikan</strong>.</p>
<h3>Dikotomi Kendali</h3>
<p>Penulis pernah menuliskan artikel terkait dikotomi kendali yang terinspirasi dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><em>Filosofi Teras</em></a> karya Henry Manampiring. Intinya, di dunia ini<strong> ada yang bisa kita kendalikan </strong>dan<strong> ada yang tidak</strong>.</p>
<p>Selain perubahan sikap orang lain, apa yang tidak bisa kita kendalikan? Sebagai seorang individu, di antaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Cuaca</li>
<li>Bencana alam</li>
<li>Terbitnya matahari dari Timur</li>
<li>Kucing boker sembarangan</li>
<li>Pacar yang selingkuh</li>
<li>Orangtua yang toxic</li>
<li>Perekonomian negara secara global</li>
<li>Tuntutan bos yang tidak masuk akal</li>
<li>Menyebarnya video tidak senonoh</li>
<li>Perdebatan netizen</li>
<li><em>Nyinyiran</em> tetangga</li>
<li>Dan masih banyak (banget) lainnya</li>
</ul>
<p>Lantas, apa yang bisa kita kendalikan? Cuma satu.</p>
<p><strong>Diri kita.</strong></p>
<p>Pola pikir kita, prinsip kita, pandangan kita, respon kita terhadap sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, itu semua adalah hal-hal yang bisa kita kendalikan. Semuanya ada di dalam diri kita.</p>
<p>Ambil contoh perubahan sikap orang lain yang tiba-tiba tanpa alasan. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk kembali seperti dulu lagi atau bahkan sekadar meminta penjelasan apa yang telah terjadi.</p>
<p>Yang bisa kita kendalikan adalah <strong>memberikan respon terhadap perubahan</strong> tersebut. Mau <em>legowo</em>, mau terus <em>ngeyel </em>meminta penjelasan, mau bodo amat, itu semua bisa kita pilih.</p>
<p>Terkadang kita, termasuk Penulis, terlalu fokus dengan hal yang tidak bisa kita kendalikan sehingga<strong> lupa</strong> dengan apa saja yang bisa dikendalikan.</p>
<h3>Apa yang Bisa Kita Kendalikan</h3>
<p>Penulis sedang membaca buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans. <em>Ndilalah</em>, bab awal dari buku ini membahas Seni Menjaga Kendali yang dicetuskan oleh seorang filsuf bernama Epictetus.</p>
<p>Di sini, ada poin menarik yang mengusik Penulis. Menurut Epictetus, ada dua kesalahan kita yang menimbulkan penderitaan.</p>
<ol>
<li>Kita berusaha mengendalikan sesuatu yang di luar kendali kita</li>
<li>Kita tidak bertanggung jawab atas hal-hal yang <em>seharusnya </em>bisa kita kendalikan</li>
</ol>
<p>Contohnya, kita punya cita-cita mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.  Ambisi kita yang besar akan menjadi percuma jika usahanya tidak sebanding. Bukannya belajar dan mempersiapkan diri, kita justru banyak <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">menghabiskan waktu di depan layar ponsel</a>.</p>
<p>Keputusan untuk diterima atau tidaknya itu di luar kendali kita, tapi usaha untuk meraih itu sepenuhnya kendali kita. Apa yang bisa kita kendalikan itulah tanggung jawab kita.</p>
<p>Jika kita bisa memisahkan apa yang bisa kita kendalikan dan tidak, <em>insyaAllah </em>hidup kita akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah merasa cemas, stres, depresi, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Tidak dipungkiri kalau ada saja faktor eksternal yang akan memengaruhi kehidupan kita. <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Faktor </a><em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">privilege</a> </em>juga sangat memberikan dampak yang tidak kecil terhadap kehidupan kita.</p>
<p>Hanya saja, perlu diingat kalau kita punya kuasa penuh atas diri kita sendiri. Penulis meyakini kalau sebenarnya <strong>semua kejadian itu netral</strong>, persepsi manusia yang menentukan kejadian tersebut termasuk baik atau buruk.</p>
<p>Penulis kurang lebih sudah 2 tahun mempelajari mengenai filosofi yang disebut stoikatau stoisme ini. Hasilnya? Susahnya bukan main menerapkan segala teori di atas dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Walau begitu, Penulis yakin jika kita terus berusaha dan berlatih, pada akhirnya kita akan bisa menjalani hidup yang lebih baik dan lebih tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 12 November 2020, terinspirasi setelah membaca bab kedua buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@rohanmakhecha">Rohan Makhecha</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2020 13:25:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[tenang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4052</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, ada kejadian yang menghebohkan di mana Syekh Ali Jaber mengalami penusukan ketika sedang menghadiri sebuah acara di Lampung. Untungnya, beliau tidak mengalami cedera yang serius dan bisa beraktivitas seperti biasa. Lantas, beliau diundang ke kanal YouTube milik Deddy Corbuzier untuk membicarakan tentang kejadian tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa Penulis ambil dari podcast tersebut. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/">Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, ada kejadian yang menghebohkan di mana <strong>Syekh Ali Jaber </strong>mengalami penusukan ketika sedang menghadiri sebuah acara di Lampung. Untungnya, beliau tidak mengalami cedera yang serius dan bisa beraktivitas seperti biasa.</p>
<p>Lantas, beliau diundang ke kanal YouTube milik Deddy Corbuzier untuk membicarakan tentang kejadian tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa Penulis ambil dari podcast tersebut.</p>
<p>Salah satunya adalah tentang <strong>hidup tenang</strong>, yang Penulis anggap sebagai definisi sukses nomor 2.</p>
<h3>Tenang Menghadapi Masalah</h3>
<p>Di dalam kehidupannya, manusia pasti akan menjumpai yang namanya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia yang tak pernah bertemu dengan masalah.</p>
<p>Jika begitu, lantas bagaimana kita bisa hidup dengan tenang? Kuncinya adalah <strong>bagaimana cara kita menyikapi masalah tersebut</strong>.</p>
<p><div id="attachment_4054" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4054" class="size-large wp-image-4054" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4054" class="wp-caption-text">Tenang Menghadapi Masalah (<a href="https://unsplash.com/@officestock">Sebastian Herrmann</a>)</p></div></p>
<p>Misalkan kita mengalami musibah diberhentikan dari tempat kerja karena pandemi. Jelas kejadian tersebut akan membuat kita merasa <em>down </em>seolah bingung harus bagaimana melanjutkan hidup.</p>
<p>Merasa seperti itu sangat manusiawi. Depresi, frustasi, khawatir, hingga perasaan takut bisa terjadi pada siapapun. Hanya saja, jangan terlalu berlarut-larut hingga membuat kita terpuruk.</p>
<p>Bayangkan jika kita bisa tenang ketika menghadapi masalah tersebut. Mungkin kita akan segera mencari cara bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan lain atau mungkin ingin <em>upgrade </em>skill yang dimiliki.</p>
<p>Bahkan Syekh Ali Jaber menyarankan kita untuk mengucapkan <em>alhamdulillah </em>ketika ditimpa musibah. Mengucap syukur di saat senang itu mudahnya bukan main, tapi mengucapkan ketika susah?</p>
<h3>Tenang Menghadapi Orang Lain</h3>
<p>Sebagai makhluk yang kerap berinteraksi dengan sesamanya, pasti ada saja percikan konflik yang dapat terjadi antar manusia. Apalagi di zaman sekarang, banyak orang asing yang kerap berkomentar tidak penting tentang orang lain yang sebenarnya tidak ia kenal.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-4055" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /></p>
<p>Merasa marah, kecewa, terkhianati, tersakiti oleh orang lain adalah hal yang lumrah. Semuanya pasti pernah mengalaminya, termasuk sebaliknya ketika kita yang berbuat salah ke orang lain.</p>
<p>Kalau mau hidup tenang, seharusnya kita bisa <strong>mengendalikan diri untuk tidak bereaksi berlebihan</strong> jika ada orang lain yang berbuat kurang baik.  Bahkan kalau bisa, berdoa agar orang yang berbuat salah diampuni oleh Tuhan.</p>
<p>Tidak hanya perlakuan yang buruk, perlakuan yang baik dari orang lain pun sebaiknya tidak membuat kita terlalu terlena. Disyukuri dan jadikan untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi untuk sesamanya.</p>
<p>Orang-orang yang ada di sekeliling kita juga banyak berpengaruh atas ketenangan dalam hidup. Sebisa mungkin, buatlah diri ini dikelilingi oleh orang-orang yang membawa energi positif untuk kehidupan kita.</p>
<h3>Bagaimana Cara Hidup Tenang?</h3>
<p>Sama seperti kebanyakan tulisan yang berbau motivasi di blog ini, Penulis menulis artikel ini sebenarnya lebih karena ingin mengingatkan dirinya sendiri. Penulis merasa jarang bisa menjalani hidup tenang tanpa beban pikiran yang berat.</p>
<p>Penulis bukan orang yang terlalu religius, namun Penulis meyakini dengan <strong>mendekatkan diri ke Tuhan</strong> kita bisa merasa hidup tenang ketika menghadapi poin-poin yang sudah dipaparkan di atas.</p>
<p>Melakukan <strong>evaluasi diri</strong> juga bisa menjadi salah satu cara agar kita menyadari mana saja dari bagian diri ini yang butuh dibenahi. Misal kita merasa dirinya <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saya-ini-pemalas/">seorang pemalas</a>, kita harus bisa memperbaiki sifat tersebut secara bertahap.</p>
<p>Jika ada kenangan atau peristiwa di masa lalu yang banyak menganggu kita di masa sekarang, cobalah perlahan berdamai dengannya. Kalau kata Noah, <em>masa lalu takkan melemahkanmu</em>.</p>
<p>Selain itu, sibukkan diri dengan <strong>melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">Terlalu banyak bermain media sosial</a> berpotensi membuat hidup kita tidak tenang karena akan banyak melihat kehidupan orang lain.</p>
<p>Ada banyak sekali hal yang bisa disyukuri dari hidup ini. Jika kita bisa <strong>memperbanyak syukur dan mengurangi keluh</strong>, <em>insyaAllah </em>hidup kita bisa meraih definisi kesuksesan nomor 2 versi Penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Definisi sukses nomor satu bagi Penulis adalah <strong><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/">Bermanfaat Bagi Orang Lain</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 20 September 2020, terinspirasi setelah menonton podcast Deddy Corbuzier ketika mengundang Syekh Ali Jaber</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@fuuj?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Fuu J</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/happy?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=6OTBeW-SIh8">YouTube</a>, <a href="https://cantik.tempo.co/read/1128658/ingin-hidup-tenang-dan-bahagia-ikuti-7-tips-berikut/full&amp;view=ok">Tempo</a>, <a href="https://id.wikihow.com/Hidup-dengan-Pikiran-yang-Tenang">WikiHow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/">Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Makan Siang Gratis</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/tidak-ada-makan-siang-gratis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/tidak-ada-makan-siang-gratis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2020 11:17:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[harga]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[idiom]]></category>
		<category><![CDATA[konsekuensi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3963</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gaji besar tapi sering stres atau gaji secukupnya tapi hidup tenang? Kalau disodori pertanyaan seperti di atas, kemungkinan besar kita akan menjawab gaji besar dan hidup tenang. Siapapun tentu ingin merasakan seperti itu. Analogi di atas Penulis gunakan sebagai contoh bahwa semua pilihan yang kita ambil selalu memiliki harga yang harus dibayar. Melepaskan Demi Mendapatkan Tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/tidak-ada-makan-siang-gratis/">Tidak Ada Makan Siang Gratis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Gaji besar tapi sering stres atau gaji secukupnya tapi hidup tenang?</em></p>
<p>Kalau disodori pertanyaan seperti di atas, kemungkinan besar kita akan menjawab gaji besar dan hidup tenang. Siapapun tentu ingin merasakan seperti itu.</p>
<p>Analogi di atas Penulis gunakan sebagai contoh bahwa <strong>semua pilihan yang kita ambil selalu memiliki harga yang harus dibayar</strong>.</p>
<h3>Melepaskan Demi Mendapatkan</h3>
<p>Tidak semua orang bisa menikmati gaji besar dan bisa hidup bahagia dengannya. Beberapa dari kita memiliki pilihan yang amat terbatas, dan kerap kali pilihan tersebut menimbulkan dilema.</p>
<p>Sebuah idiom dalam Bahasa Inggris berbunyi:</p>
<blockquote><p><em>There ain&#8217;t no such thing as a free lunch</em></p></blockquote>
<p>Yang jika diterjemah secara bebas <em><strong>tidak ada makan siang gratis</strong>.</em> Idiom ini digunakan untuk menggambarkan bahwa di dunia tidak ada yang bisa didapatkan secara cuma-cuma.</p>
<p>Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, tidak jarang <strong>kita harus melepaskan sesuatu untuk mendapatkannya</strong>.</p>
<p>Misal kita ingin mendapatkan sebuah barang yang diinginkan, minimal kita akan melepaskan uang yang ada di dompet untuk mendapatkannya.</p>
<p><em>Kalau maling kan bisa dapat barang secara gratis? </em>Secara materiil iya, tapi secara tidak sadar mereka membuang moral mereka demi mendapatkan sesuatu secara haram.</p>
<p>Mungkin ada beberapa pengecualian, seperti udara dan sinar matahari yang bisa kita nikmati secara gratis tanpa melakukan usaha apapun. Selain itu, nampaknya tidak ada lagi sesuatu yang gratis di dunia ini.</p>
<h3>Semua Pilihan Memiliki Konsekuensi</h3>
<p>Idiom di atas juga bisa diterjemahkan menjadi <strong><em>semua pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing</em></strong>.</p>
<p>Dengan mengabaikan faktor <em>privilege</em>, Penulis akan memberi contoh bagaimana seorang murid ingin pintar dan menjadi juara kelas.</p>
<p>Agar bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, konsekuensinya adalah ia harus mengeluarkan tenaga untuk belajar dan mengorbankan waktu bermainnya.</p>
<p>Mungkin ia juga akan susah mendapatkan teman karena terlalu banyak belajar, namun itu adalah pilihan yang telah ia ambil.</p>
<p>Penulis akan memberi contoh lain dari pengalamannya sendiri. Penulis memilih untuk <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">merantau ke Jakarta</a> untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik lagi.</p>
<p>Apa konsekuensinya? <strong>Kehilangan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya</strong>. Entah sudah berapa momen yang Penulis lewatkan karena terpisah oleh jarak.</p>
<p>Penulis benar-benar seperti membuka lembaran hidup baru ketika pertama kali menjejakkan kaki di ibukota. Bertemu dengan orang-orang baru, lingkungan yang berbeda, dan lain sebagainya.</p>
<p>Apa timbal balik yang didapatkan? Mendapatkan banyak kenalan baru, segudang pengalaman yang tidak akan Penulis temukan di Malang, mengasah <em>hard skill </em>yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.</p>
<p>Begitupun sebaliknya. Jika Penulis ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya, Penulis harus melepaskan karirnya di Jakarta dan kembali ke Malang.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Makna utama dari idiom <em><strong>there ain&#8217;t no such thing as a free lunch</strong> </em>adalah bagaimana kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain.</p>
<p>Penulis meyakini kalau sebenarnya masih ada yang bisa kita dapatkan secara cuma-cuma, namun Penulis kesulitan untuk menemukan contohnya.</p>
<p>Yang jelas, dengan mengetahui kenyataan ini, Penulis berharap bisa lebih menghargai semua pilihan yang dibuat dan tidak menyia-nyiakan apa yang telah dikorbankan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 28 Juni 2020, terinspirasi dari sebuah idiom Bahasa Inggris yang sangat terkenal</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@pixabay">Pixabay</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/tidak-ada-makan-siang-gratis/">Tidak Ada Makan Siang Gratis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/tidak-ada-makan-siang-gratis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ya Udah Sih&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 11:30:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3951</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya sudah lama Penulis menjadi seorang pemikir. Mungkin, dari kecil. Ada saja pikiran yang melintas di kepala, mulai yang realistis hingga yang imajinatif. Mungkin karena inilah Penulis menjadi orang yang overthinking hingga sekarang. Semakin bertambah usia, ada saja yang bisa dijadikan bahan pemikiran. Penulis menyadari bahwa sifat ini tidak baik untuk dirinya sendiri, apalagi jika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/">Ya Udah Sih&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya sudah lama Penulis menjadi seorang pemikir. Mungkin, dari kecil. Ada saja pikiran yang melintas di kepala, mulai yang realistis hingga yang imajinatif.</p>
<p>Mungkin karena inilah Penulis menjadi orang yang <em>overthinking</em> hingga sekarang. Semakin bertambah usia, ada saja yang bisa dijadikan bahan pemikiran.</p>
<p>Penulis menyadari bahwa sifat ini tidak baik untuk dirinya sendiri, apalagi jika kerap dilakukan secara berlebihan. Efeknya bermacam-macam, mulai insomnia sampai merasa <em>insecure</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis berusaha mencari berbagai cara untuk mengurangi sifat ini. Salah satunya, dengan sebuah mantra sederhana: <strong><em>Ya udah sih..</em>.</strong></p>
<h3>Hidup untuk Hari Ini</h3>
<blockquote><p><em>Daripada terus dihantui ketakutan akan kehilangan, mengapa tidak kita fokuskan diri untuk bersyukur atas semua kenangan yang telah terjadi?</em></p></blockquote>
<p>Kita ini kadang terlalu memikirkan masa depan dan menyesali masa lalu, hingga lupa kalau kita hidup di masa kini. Perasaan cemas, gelisah, khawatir, takut, seolah mendominasi diri hingga menjadi tak berdaya.</p>
<p>Padahal,<strong> kebanyakan apa yang kita khawatirkan tak pernah benar-benar terjadi</strong>. Seperti yang Penulis pernah tulis, <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">85% kekhawatiran tidak pernah benar-benar terjadi</a>.</p>
<p>Itu semua adalah apa yang sering Penulis pikirkan secara berlebihan. Ada saja yang dicemaskan atau disesali, terutama ketika hendak beranjak tidur.</p>
<p>Hal ini membuat Penulis terkadang lupa kalau dirinya hidup untuk saat ini, bukan di masa lalu. Kita memang perlu memikirkan masa depan, tapi jangan sampai kita terbelenggu karenanya.</p>
<p>Oleh karena itu, terutama beberapa hari terakhir, Penulis berusaha memberikan sugesti kepada dirinya sendiri dengan berkata: <strong><em>Ya udah sih&#8230; </em></strong>ketika mulai<em> overthinking.</em></p>
<h3>Mengendalikan Kehidupan</h3>
<p>Di dunia ini, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sikap orang ke kita, perasaan orang lain, hanya menjadi beberapa contohnya.</p>
<p>Daripada memusingkan hal tersebut, <em>mengapa tidak kita fokuskan untuk mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan?</em></p>
<p>Apa itu? Diri kita sendiri, perasaan sendiri, emosi sendiri. Dengan demikian, kita bisa menikmati hidup hari ini tanpa perlu merasa takut akan masa depan ataupun menyesali masa lalu.</p>
<p>Penulis mempelajari hal ini dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><em>Filosofi Teras</em></a>. Istilahnya adalah <em>dikotomi kendali</em>. <strong>Dunia terbagi menjadi apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak</strong>.</p>
<p>Mantra <strong><em>Ya udah sih&#8230; </em></strong>biasa Penulis lontarkan di dalam hati untuk menyadarkan dirinya kalau tidak semua bisa kita kendalikan.</p>
<p>Pekerjaan kantor bisa kita kendalikan, namun sikap atasan ke kita tidak bisa dikendalikan. Sikap orang yang tiba-tiba berubah tidak bisa kita kendalikan, namun bagaimana kita menyikapi hal tersebut dapat dikendalikan.</p>
<p>Seharusnya jika Penulis bisa secara bertahap menerapkan hal ini dalam kehidupannya, niscaya sifat mudah <em>overthinking </em>yang dimiliki bisa dikurangi.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Selain berusaha mendisiplinkan diri menggunakan mantra tersebut, Penulis juga sedang belajar meditasi agar bisa hidup yang lebih <em>santuy. </em>Percayalah, capek jadi orang yang apa-apa dipikir!</p>
<p>Penulis memang seorang pemikir, bahkan kadang merasa bangga karenanya. Namun apapun yang berlebihan tidak pernah baik.</p>
<p>Semoga saja dengan mantra sederhana ini, Penulis bisa mengurangi sifat <em>overthinking</em>-nya yang kerap membuat orang lain risih ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Juni 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang memang kerap <em>overthinking</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@katlovessteve">Kat Jayne on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/">Ya Udah Sih&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manusia Dalam Tiga Babak</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2020 03:39:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[babak]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[lahir]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3909</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sekarang sedang membaca buku berjudul Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia karya Dr. P. A. Van der Weij. Belinya sudah lama, tapi beberapa bulan terletak begitu saja di rak. Meskipun tidak bisa memahami semua isinya, buku tersebut mendorong Penulis untuk lebih merenungi tentang kehidupan kita sebagai manusia. Salah satunya adalah tiga babak yang dialami oleh semua manusia: Lahir, Hidup, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/">Manusia Dalam Tiga Babak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis sekarang sedang membaca buku berjudul <em>Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia </em>karya Dr. P. A. Van der Weij. Belinya sudah lama, tapi beberapa bulan terletak begitu saja di rak.</p>
<p>Meskipun tidak bisa memahami semua isinya, buku tersebut mendorong Penulis untuk lebih merenungi tentang kehidupan kita sebagai manusia.</p>
<p>Salah satunya adalah tiga babak yang dialami oleh semua manusia: <strong>Lahir, Hidup, Mati</strong>.</p>
<h3>Babak 1: Lahir</h3>
<p><div id="attachment_3910" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3910" class="size-large wp-image-3910" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3910" class="wp-caption-text">Lahir (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.todaysparent.com/pregnancy/giving-birth/why-vaginal-seeding-wont-help-caesarean-born-babies/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCLC-pKHX3-kCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Today's Parent"><span class="pM4Snf">Today&#8217;s Parent</span></a>)</p></div></p>
<p>Kita tak pernah ingat ketika dilahirkan ke dunia. Tahu-tahu, kita sudah berada di suatu lingkungan keluarga atau lainnya. Itupun dibatasi oleh kemampuan daya ingat kita.</p>
<p>Kita dilahirkan ke dunia adalah suratan takdir yang tak bisa kita tolak. Kita berasal dari sesuatu yang hina (air mani), lantas ditiupkan roh ke dalam jasad kita.</p>
<p>Kita tak bisa memilih ingin dilahirkan dari rahim siapa. Ada yang terlahir dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">banjiran <em>privilege</em></a>, ada yang terlahir kurang sempurna, macam-macam.</p>
<p>Seandainya diberi pilihan antara dilahirkan atau tidak pernah dilahirkan sama sekali, mana yang akan kita pilih?</p>
<h3>Babak 2: Hidup</h3>
<p><div id="attachment_3911" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3911" class="size-large wp-image-3911" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3911" class="wp-caption-text">Hidup (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://thesayingquotes.com/quotes-about-life/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCIiky53X3-kCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit The Saying Quotes"><span class="pM4Snf">The Saying Quotes</span></a>)</p></div></p>
<p>Di antara tiga babak kehidupan manusia, hanya hidup yang bisa kita kendalikan. Itupun mendapat banyak pengaruh dari internal maupun eksternal.</p>
<p>Kehidupan yang dijalani oleh masing-masing manusia pasti berbeda. Ada yang hanya berusia beberapa menit, ada yang harus menjalani hidup panjang hingga ratusan tahun.</p>
<p>Terlepas dari itu, secara umum kehidupan manusia selalu berada di tahapan bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan akhirnya menjadi tua.</p>
<p>Ketika masih bayi, segala kebutuhan kita dipenuhi oleh orangtua atau orang yang merawat kita. Ketergantungan kita terhadap orang lain masih sangat besar.</p>
<p>Memasuki usia anak-anak, kita mulai belajar banyak hal dan mengenal orang lain di luar lingkungan kita tinggal. Masa remaja adalah masa peralihan sebelum menjajaki usia dewasa.</p>
<p>Setelah menjadi dewasa, kita mulai mengendalikan kehidupan kita sendiri, mengemudikan bahtera diri di gelombang laut kehidupan yang penuh gejolak, sembari menanti masa tua datang.</p>
<p>Masing-masing manusia akan menjalani kehidupan yang berbeda-beda dengan warnanya sendiri. Semua dijalani hingga ajal akhirnya menjemput.</p>
<h3>Babak 3: Mati</h3>
<p><div id="attachment_3912" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3912" class="size-large wp-image-3912" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3912" class="wp-caption-text">Mati (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.ethos3.com/2013/11/dont-leave-your-ideas-in-the-graveyard/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCOCsj8TX3-kCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Ethos3"><span class="pM4Snf">Ethos3</span></a>)</p></div></p>
<p>Kematian kerap dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan dan menyedihkan. Perpisahan dengan orang tercinta tentu akan menggoreskan luka yang dalam.</p>
<p>Bagi sebagian orang, kematian hanyalah awal dari sebuah kehidupan lain yang telah menanti di akhirat. Yang lain berpendapat setelah mati ya mati, tidak ada kehidupan lain.</p>
<p>Berbeda dengan kelahiran yang hampir pasti berasal dari rahim seorang wanita, kematian bisa bervariasi bentuknya. Ada yang tenang, ada yang tragis, dan lain sebagainya.</p>
<p>Mati adalah bagian terakhir dari tiga babak manusia. Mati adalah pengingat, kalau hidup yang kita jalani pasti akan memiliki garis akhir yang telah menanti di ujung sana.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sebenarnya istilah tiga babak ini sudah Penulis ketahui sejak lama melalui video klip grup band 30 Second to Mars yang berjudul <em>Hurricane. </em>Di sana, tertulis kalau manusia memiliki tiga babak yang sudah Penulis bahas di atas.</p>
<p>Biasanya, Penulis merenungi hal semacam ini menjelang tidur. Oleh karena itu, jangan heran kalau Penulis sering menderita insomnia yang cukup parah.</p>
<p>Jika ditarik kesimpulan, kita hanya bisa mengendalikan babak kedua, yakni hidup. Itupun ada banyak faktor internal maupun eksternal yang akan memengaruhi.</p>
<p>Artinya, selama kita masih hidup, sebisa mungkin kita memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik. Jangan sampai waktu kita habis untuk hal yang kurang ada maknanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 Juni 2020, terinspirasi setelah membaca buku filsafat dan menonton video di YouTube</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@youngprodigy3">Mike Szczepanski</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/">Manusia Dalam Tiga Babak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
