<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hubungan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/hubungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/hubungan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Aug 2022 16:10:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>hubungan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/hubungan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2022 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[ekspektasi]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5899</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika ditanya tentang siapa yang paling diprioritaskan, siapa yang muncul pertama kali muncul di benak Pembaca? Mungkin jawabannya akan bervariasi, mulai orang tua, keluarga, saudara, pacar, sahabat, atasan, bahkan diri sendiri. Setiap orang berhak untuk menentukan siapa yang ingin diprioritaskan dalam hidupnya. Pasti ada yang mendasari mengapa kita memilih orang tersebut untuk diprioritaskan. Mau sesibuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/">Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika ditanya tentang siapa yang paling diprioritaskan, siapa yang muncul pertama kali muncul di benak Pembaca? Mungkin jawabannya akan bervariasi, mulai orang tua, keluarga, saudara, pacar, sahabat, atasan, bahkan diri sendiri.</p>



<p>Setiap orang berhak untuk menentukan siapa yang ingin diprioritaskan dalam hidupnya. Pasti ada yang mendasari mengapa kita memilih orang tersebut untuk diprioritaskan. Mau sesibuk apapun kita, pasti akan menyempatkan waktu untuk mereka.</p>



<p>Masalahnya, bagaimana jika kita <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/sibuk-atau-tidak-diprioritaskan/">tidak menjadi prioritas</a> bagi orang yang kita prioritaskan? Nah, Penulis menemukan kalau hal ini cukup menyesakkan bagi sebagian orang, termasuk Penulis sendiri. Untuk itu, Penulis ingin sedikit membahasnya di tulisan kali ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Kita Tidak Punya Hak untuk Diprioritaskan Orang Lain</h2>



<p>Terkadang, kita merasa berhak untuk diprioritaskan jika kita memprioritaskan orang tersebut. Jika kita menyempatkan waktu ketika mereka butuh kita, kita merasa kalau mereka juga harus menyempatkan waktu ketika kita butuh.</p>



<p>Penulis sempat (atau sampai sekarang?) memiliki pola pikir seperti ini, sehingga hubungan seolah terasa sebagai sesuatu yang bersifat transaksional. <em>I give you this, so I will ask you for that</em>.</p>



<p>Namun, ketika direnungkan lagi, sejatinya <strong>kita tidak memiliki hak untuk diprioritaskan orang lain</strong>. Kita memiliki hak untuk memilih siapa yang akan kita prioritaskan, begitu juga dengan orang lain.</p>



<p>Patut dicatat, hanya karena kita memprioritaskan mereka, hal tersebut tidak serta merta membuat mereka memiliki semacam kewajiban untuk memprioritaskan kita. Itu bukan berarti mereka tidak tahu balas budi, melainkan benar-benar hanya pilihan mereka.</p>



<p>Berharap atau bahkan menuntut <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">prioritas dari orang lain</a> hanya akan menimbulkan sakit hati, yang sejujurnya pernah (atau sering?) Penulis rasakan. Untuk itu, Penulis merasa harus melawannya dengan satu kata: <strong>Ikhlas</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kalau Sudah Tidak Jadi Prioritas, ya Harus Ikhlas</h2>



<p>Penulis yang sudah berusia 28 tahun mulai merasakan bagaimana orang-orang yang dulu dekat dengan dirinya mulai memiliki kesibukan dan dunianya masing-masing. Orang yang dulu <em>chat </em>setiap hari, sekarang muncul kalau butuh saja.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, sempat ada perasaan sakit hati karena Penulis merasa selalu memprioritaskan mereka. Ketika merasa dirinya sudah tidak jadi prioritas mereka, perasaan kecewa pun menyeruak dari dalam tubuh.</p>



<p>Biasanya, ketika mengalami gejolak perasaan seperti ini, Penulis akan memutuskan untuk berhenti sejenak dan merenung. Hasilnya, Penulis pun menyadari kalau <strong>siapa prioritas orang lain bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan</strong>.</p>



<p>Ini membantu Penulis untuk bisa merasa ikhlas jika merasa dirinya sudah tidak jadi prioritas bagi orang lain, termasuk orang-orang yang Penulis anggap dekat dan berharga dalam hidupnya. Tidak apa-apa, Penulis berusaha menghargai pilihan tersebut.</p>



<p>Lantas, apakah kita juga perlu berhenti memprioritaskan orang tersebut? Itu Penulis kembalikan ke masing-masing individu. Kalau mau tetap memprioritaskan, boleh saja asal tidak berharap apa-apa. Kalau mau berhenti juga tidak masalah sama sekali.</p>



<p>Bagaimana kalau sejak awal sebenarnya kita tidak pernah diprioritaskan, dan perasaan merasa diprioritaskan itu hanya dari diri sendiri? Bagaimana jika mereka hanya seolah-olah memprioritaskan kita dan sebenarnya karena mereka lagi butuh saja?</p>



<p>Itulah pentingnya tahu diri dan tidak berekspektasi apa-apa ke orang lain. Penulis sekarang pun menyadari, berharap diprioritaskan orang lain hanya membuat capek saja. Cukup lakukan yang terbaik dalam hidup, tanpa perlu berharap ke manusia.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ingin diprioritaskan oleh orang lain, terutama orang yang kita anggap spesial, adalah hal yang sangat manusiawi dan lumrah. Siapa yang tidak suka jika menjadi prioritas dan selalu ada setiap kita membutuhkan mereka?</p>



<p>Namun, perlu diingat kalau daftar <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/alasan-dan-prioritas/">prioritas</a> orang lain tidak bisa kita kendalikan. Mengharapkan hal tersebut pada akhirnya hanya akan menimbulkan perasaan sakit hati dan kecewa yang akan memicu perasaan-perasaan negatif lainnya.</p>



<p>Untuk itu, kita harus bisa belajar ikhlas jika memang sudah tidak menjadi prioritas orang lain. Memang terkesan menyedihkan, tetapi harus kita biasakan dalam hidup. Yang penting, tetap berusaha menjadi orang baik, meskipun ke orang yang sudah tidak memprioritaskan kita.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 24 Agustus 2022, terinspirasi setelah seorang teman mengirim sebuah <em>quote </em>di grup yang menjadi topik utama dari tulisan ini</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/es/@noahsilliman?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Noah Silliman</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/alone?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/">Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Saya Manipulatif?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-manipulatif/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-manipulatif/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2022 03:35:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[manipulasi]]></category>
		<category><![CDATA[manipulatif]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5643</guid>

					<description><![CDATA[<p>ma·nip·u·la·tive/məˈnipyəˌlādiv/ adjective: characterized by unscrupulous control of a situation or person. Dari seorang kawan, Penulis baru menyadari kalau dirinya (bisa jadi) memiliki beberapa ciri-ciri sifat manipulatif. Ketika melakukan kontemplasi, memang rasanya ada dan Penulis bertekad untuk mengubah sifat buruk itu. Sama seperti artikel Apakah Saya Toxic?, tulisan ini mengajak Penulis (dan Pembaca) untuk melihat ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-manipulatif/">Apakah Saya Manipulatif?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>ma·nip·u·la·tive/məˈnipyəˌlādiv/</p><p><span style="font-size: 1.9rem; letter-spacing: -0.02em;"></span></p><cite><em>adjective</em>: characterized by unscrupulous control of a situation or person.<br></cite></blockquote>



<p>Dari seorang kawan, Penulis baru menyadari kalau dirinya (bisa jadi) memiliki beberapa ciri-ciri sifat manipulatif. Ketika melakukan kontemplasi, memang rasanya ada dan Penulis bertekad untuk mengubah sifat buruk itu.</p>



<p>Sama seperti artikel<em> <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">Apakah Saya Toxic?</a></em>, tulisan ini mengajak Penulis (dan Pembaca) untuk melihat ke dalam, apakah benar kita memiliki sifat manipulatif dengan mempelajari pengertian dan apa saja ciri-cirinya.</p>



<p>Harapannya dengan membuat tulisan seperti ini, Penulis jadi bisa mengubah sifat-sifat buruknya yang memiliki keterkaitan dengan sifat manipulatif dan tidak merugikan orang lain lagi.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Sifat Manipulatif?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5657" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Ingin Mengendalikan Orang Lain (<a href="https://money.com/marketing-politicians-manipulation-psychology/">Money</a>)</figcaption></figure>



<p>Sesuai dengan namanya, manipulatif memiliki makna bagaimana kita <strong>memanipulasi orang lain agar ia atau mereka bertindak sesuai keinginan kita</strong>. Ini menjadi salah satu teknik psikologis yang sering digunakan oleh orang untuk berbagai kepentingan.</p>



<p>Orang dengan sifat manipulatif akan <strong>menyerang sisi emosional dan mental orang yang ingin mereka manipulasi</strong>. Membuat orang lain merasa bersalah, merasa takut, membuat orang lain tidak bisa membedakan benar salah, hanyalah beberapa caranya.</p>



<p>Seringnya, sifat ini digunakan untuk <strong>mendapatkan keuntungan tertentu atau minimal sesuatu yang ia inginkan</strong>. Ini bisa dimulai dari yang sepele seperti mendapatkan perhatian hingga meraup keuntungan berupa harta.</p>



<p>Bisa jadi, kita tak sadar kalau pernah bersikap manipulatif kepada orang lain. Banyak yang mengira (termasuk Penulis) menganggap itu adalah hal yang biasa dalam sebuah hubungan. Untuk itu, penting untuk mengetahui apa saja ciri-ciri dari sifat manipulatif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Ciri-Ciri Sifat Manipulatif?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5658" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Gemar Menanamkan Rasa Bersalah ke Orang Lain (<a href="https://thesecondangle.com/society-blame-women-end-relationship/">The Second Angle</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis membaca beberapa sumber (bisa dibaca di bawah) untuk mengetahui apa saja ciri yang dimiliki oleh seseorang dengan sifat manipulatif. Berikut adalah beberapa rangkumannya:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Membuat orang lain merasa bersalah</strong>, dengan berbagai cara. Bisa dibilang ini adalah ciri yang paling sering dilakukan oleh seorang manipiulator untuk menghindari tanggung jawab. Mengacak-acak perasaan kita akan dilakukan oleh mereka. Bahkan, tak jarang mereka menuntut maaf.</li><li><strong>Berbuat baik (secara tidak ikhlas) dan sering mengungkitnya</strong>, di mana kita akan dibuat untuk terus mengingat-ingat kebaikannya. Akibatnya, kita dilanda perasaan bersalah karena tidak mampu menghargai kebaikan yang telah mereka lakukan kepada kita.</li><li><strong>Membuat kita merasa bingung</strong>, karena dengan begitu kita akan menjadi sulit untuk membuat keputusan. Situasi ini akan disukai oleh para manipulator, karena dengan begitu <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">urusan mengendalikan kita akan menjadi lebih mudah</a>.</li><li><strong>Dramatis</strong>, di mana ciri ini terlihat dari perkataan yang ia lontarkan terdengar berlebihan. Hal ini bisa menimbulkan perasaan bersalah bagi korban, apalagi jika menggunakan senjata berupa tangisan.</li><li><strong>Membuat kita bergantung pada mereka</strong>, karena dengan mereka bergantung pada mereka, mereka seolah memiliki kontrol kepada kita. Untuk tingkat yang parah, si manipulatif akan membuat suasana yang menekan si korban agar bergantung padanya. </li><li><strong>Membuat kita merasa tidak berguna</strong>, sekali lagi agar kita menjadi bergantung pada mereka. Mereka seolah-olah dengan sengaja ingin kita percaya kalau kita ini lemah dan butuh mereka. Ada penanaman doktrin kalau kita tidak bisa apa-apa tanpa mereka.</li><li><strong>Menuntut pembuktian rasa sayang</strong>, di mana ini bisa menimbulkan perasaan bersalah jika tidak bisa membuktikannya dengan cara yang mereka inginkan.</li><li><strong>Mengontrol keputusan</strong>, seolah-olah kita tidak boleh mandiri menentukan hal-hal yang sebenarnya bisa diputuskan sendiri. Bahkan, tak jarang kita dibuat merasa tidak enak jika keputusan yang diambil tidak sesuai dengan yang mereka inginkan.</li><li><strong>Memanfaatkan kelemahan kita</strong>, sehingga orang terdekat kita pun bisa jadi seorang manipulator yang handal. Misal mereka tahu kita mudah merasa bersalah, mereka akan semakin gencar untuk membuat kita merasa bersalah.</li><li><strong>Pandai memutarbalikkan fakta</strong>, bahkan tak ragu untuk menggunakan kebohongan asal tujuan mereka tercapai. Cara untuk membalikkan keadaan dan membuat kita merasa bersalah adalah hal yang mudah untuk mereka.</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Saya Memiliki Sifat Manipulatif?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5659" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Bertanya Kepada Diri Sendiri, Apakah Saya Manipulatif? (<a href="https://economictimes.indiatimes.com/magazines/panache/failure-goals-and-hopes-the-everyday-things-that-people-regret/articleshow/64385681.cms">The Economic Times</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis tidak pernah merasa kalau dirinya memiliki sifat manipulatif dalam dirinya. Hanya saja, setelah membaca beberapa sumber, Penulis jadi menyadari ada beberapa ciri seorang manipulatif yang dimilikinya. </p>



<p><strong>Bahkan, mungkin hampir semuanya.</strong></p>



<p>Setidaknya yang Penulis tahu pasti, ada orang-orang dekat Penulis yang merasa kalau dirinya sering merasa bersalah dan itu diakibatkan dari tindakan yang Penulis lakukan kepada mereka. Penulis tidak menyadari telah melakukan hal ini dan benar-benar merasa menyesal.</p>



<p>Terkadang jika sedang emosi, Penulis akan mengungkit kebaikan yang sudah dilakukan. Walau menyesal setelah emosi mereda, tetap saja Penulis telah melakukannya. Penulis juga terkadang bereaksi berlebihan dan dramatis jika sedang bertengkar dengan seseorang.</p>



<p>Penulis suka jika ada orang yang meminta bantuan ke Penulis, tapi bukan berarti Penulis berharap mereka akan selalu bergantung kepada Penulis. Kadang Penulis juga terlalu ikut campur jika ada orang lain yang ingin membuat keputusan, tapi tidak pernah memaksanya.</p>



<p>Untuk masalah menuntut pembuktian perasaan sayang, mungkin Penulis tidak pernah memintanya secara gamblang. Hanya saja, Penulis merasa selama ini dirinya kerap meminta untuk mendapatkan perhatian, kepedulian, ada ketika butuh, dan lain sebagainya.</p>



<p>Selain itu, ciri-ciri lain sepertinya tidak Penulis miliki. Penulis tidak pernah berniat jahat ingin membuat orang merasa dirinya tidak berguna atau memanfaatkan kelemahan mereka.</p>



<p>Penulis bisa berkata kalau dirinya tidak melakukan semua hal di atas secara sengaja. Penulis hanya tidak menyadari kalau sikapnya (terutama ke orang-orang dekat) begitu buruk, sehingga wajar jika ada yang berpendapat kalau Penulis memiliki sifat manipulatif.</p>



<p>Penulis jadi banyak belajar dari hal ini, dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak melakukannya lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Cara menghadapi seorang manipulator adalah dengan menyadari berbagai teknik manipulasinya. Kita harus bisa memosisikan diri secara objektif tanpa terpengaruh mereka agar bisa berpikir secara jernih.</p>



<p>Jika kita merasa ada manipulator di sekitar kita dan merasa tidak mampu mengalahkan mereka, ada baiknya kita menghindari orang tersebut. Rasanya, tidak ada yang mau dekat-dekat dengan seorang manipulator.</p>



<p>Dengan mengetahui ciri-cirinya di atas, kita pun bisa menghindari jebakan-jebakan yang mereka buat. Lantas, kita pun dapat menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa terbebani rasa bersalah yang mereka ciptakan.</p>



<p>Kalau Pembaca merasa memiliki beberapa ciri seorang manipulator di atas, coba lakukan refleksi diri seperti yang Penulis lakukan. Rasanya tidak ada orang yang suka dirinya dimanipulasi, bahkan orang terdekat sekalipun.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 15 April 2022, terinspirasi setelah mendapatkan masukan dari seorang kawan</p>



<p>Foto: <a href="https://voi.id/en/lifestyle/89911/dont-be-lulled-by-appeal-know-the-5-characteristics-of-manipulative-people">VOI.id</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://satupersen.net/blog/arti-manipulatif">Memahami Arti Manipulatif dalam Toxic Relationship di Layangan Putus (satupersen.net)</a></li><li><a href="https://www.liputan6.com/health/read/4690702/kenali-apa-itu-manipulatif-dan-ciri-cirinya">Kenali Apa Itu Manipulatif dan Ciri-Cirinya &#8211; Health Liputan6.com</a></li><li><a href="https://www.momsmoney.id/news/kenali-ciri-ciri-orang-yang-manipulatif-patut-diwaspadai">Kenali Ciri-Ciri Orang yang Manipulatif, Patut Diwaspadai! (momsmoney.id)</a></li><li><a href="https://www.qubisa.com/article/ciri-orang-manipulatif#showContent">Ciri Orang Manipulatif | QuBisa</a></li><li><a href="https://lifestyle.kontan.co.id/news/ada-di-layangan-putus-apa-itu-manipulatif-inilah-ciri-cirinya?page=all">Ada di Layangan Putus, Apa Itu Manipulatif? Inilah Ciri-cirinya (kontan.co.id)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-manipulatif/">Apakah Saya Manipulatif?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-manipulatif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Prioritas Orang Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2021 14:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5511</guid>

					<description><![CDATA[<p>pri.o.ri.tas n&#160;yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain: Jika direnungkan, hidup ini sebenarnya tentang apa yang kita prioritaskan. Semua pilihan dan tindakan yang kita ambil kemungkinan besar dipengaruhi dari daftar prioritas yang kita miliki. Misal, kita memilih untuk seharian rebahan dan tidak produktif sama sekali. Artinya, kita memilih untuk memprioritaskan rasa malas kita dibandingkan melakukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">Menghargai Prioritas Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading">pri.o.ri.tas</h2>



<ul class="wp-block-list"><li><em>n&nbsp;</em>yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain:</li></ul>



<p>Jika direnungkan, hidup ini sebenarnya tentang <strong>apa yang kita prioritaskan</strong>. Semua pilihan dan tindakan yang kita ambil kemungkinan besar dipengaruhi dari daftar prioritas yang kita miliki.</p>



<p>Misal, kita memilih untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">seharian rebahan</a> dan tidak produktif sama sekali. Artinya, kita memilih untuk memprioritaskan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">rasa malas</a> kita dibandingkan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita.</p>



<p>Kita memilih untuk menonton film dengan pacar dibandingkan dengan sahabat, artinya kita lebih memprioritaskan pacar daripada sahabat. Mau menggunakan alasan apapun, intinya kita lebih mengutamakan salah satu pihak.</p>



<p>Ketika diberikan pilihan antara menyelesaikan pekerjaan dan bermain gim, kita memilih untuk bermain gim. Kita memprioritaskan aktivitas tersebut (mungkin) dikarenakan kita merasa butuh <em>refreshing</em> dari penatnya pekerjaan.</p>





<p>Semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing, karena hanya kita sendirilah yang tahu mana yang lebih berhak untuk diprioritaskan. Seharusnya, orang lain tidak boleh ikut campur masalah ini.</p>



<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika kita harus menghargai prioritas orang lain. Hanya saja, dalam praktiknya terkadang susah untuk dilakukan karena satu hal: <strong>Kita ingin diprioritaskan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Kita Ingin Diprioritaskan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5514" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Merasa Tidak Diprioritaskan (<a href="https://www.pexels.com/@budgeron-bach">Budgeron Bach</a>)</figcaption></figure>



<p>Masalah seputar prioritas biasanya terjadi dalam sebuah hubungan. Entah apa alasannya, rasanya seolah kita harus menjadi prioritasnya. Contoh gampangnya adalah dalam sebuah hubungan pacaran, izin bermain dengan teman terasa agak susah.</p>



<p>Alasan yang paling umum adalah karena pihak yang melarang ingin menghabiskan waktunya dengan sang kekasih. Dirinya ingin kekasihnya lebih memprioritaskan dirinya dibandingkan teman-temannya, yang mungkin hanya punya kesempatan bertemu satu bulan sekali.</p>



<p>Sekilas, ini menjadi salah satu tanda sebuah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a>. Harusnya,<strong> kita tidak boleh memaksakan diri untuk masuk ke dalam prioritas orang</strong>, walau kepada orang terdekat sekalipun.</p>



<p>Untuk menghindari hal ini, kita harus belajar untuk <strong>menghargai prioritas orang lain</strong>. Kita harus tahu, orang lain juga memiliki dunianya sendiri, memiliki lingkar pertemanannya sendiri, memiliki kesibukannya sendiri, dan lain sebagainya.</p>



<p><em>We&#8217;re not the center of the universe</em>. Jangan merasa kalau perhatian dari orang sekitar hanya boleh ditujukan kepada kita. Jangan merasa kalau hanya kita yang layak untuk diprioritaskan. Ini hanya akan menjadi sebuah racun dalam hubungan, apapun bentuknya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kewajiban yang (Memang) Harus Diprioritaskan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5515" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Wajib Diprioritaskan (<a href="https://unsplash.com/@under_afiq">afiq fatah</a>)</figcaption></figure>



<p>Memang ada kasus-kasus di mana <strong>kita harus memprioritaskan sesuatu karena menjadi sebuah kewajiban</strong>. Misal, sebagai seorang umat muslim, kita harus memprioritaskan sholat dibandingkan aktivitas duniawi.</p>



<p>Contoh lain, sebagai seorang anak, sudah selayaknya kita memprioritaskan orang tua kita di atas segalanya (selain Tuhan, tentunya). Seorang suami memprioritaskan kebutuhan keluarganya dibandingkan membeli mainan favoritnya.</p>



<p>Sebagai seorang karyawan, sudah sewajarnya kita memprioritaskan selesainya pekerjaan dibandingkan menamatkan sebuah <em>game</em>. Seorang pemuda memprioritaskan menyimpan uangnya dibandingkan secangkir Starbucks.</p>



<p>Dalam kasus-kasus seperti ini, kita yang harus memiliki kesadaran untuk menempatkan kewajiban-kewajiban kita sebagai prioritas. Setelah menyadari hal ini, kita pun bisa menyusun daftar prioritas kita dengan baik dan benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Masalah prioritas ini memang sedang sering Penulis renungkan akhir-akhir ini. Ada banyak penyebabnya, salah satunya adalah melihat ke dalam diri sendiri apakah daftar prioritas yang dibuat sudah benar atau belum.</p>



<p>Ketika merasa tidak diprioritaskan oleh orang yang Penulis prioritaskan, Penulis segera menegur diri kalau memang tidak ada kewajiban baginya untuk memprioritaskan Penulis.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><strong>Hanya karena kita memprioritaskan orang lain, bukan berarti ia juga wajib memprioritaskan kita</strong>.</p></blockquote>



<p>Sekali lagi, semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing. Yang bisa kita lakukan dan kita kendalikan adalah menghargai prioritas orang lain tersebut. Berharap agar kita diprioritaskan hanya akan menimbulkan rasa kecewa.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 22 Desember 2021, terinspirasi setelah merenungkan masalah prioritas</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@polina-zimmerman">Polina Zimmerman</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">Menghargai Prioritas Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kalau Mau Stay ya Stay, Kalau Mau Leave ya Leave, Bebas</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Sep 2021 13:29:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[leave]]></category>
		<category><![CDATA[Pergi]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[relasi]]></category>
		<category><![CDATA[stay]]></category>
		<category><![CDATA[tinggal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5281</guid>

					<description><![CDATA[<p>People come and go atau people come, people go. Istilah ini sering kita dengar untuk menggambarkan bahwa orang-orang yang kita kenal dalam hidup akan datang dan pergi pada waktunya. Kalau kita menengok ke belakang, ada banyak sekali orang-orang yang datang ke kehidupan kita. Keluarga, tetangga, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman les, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/">Kalau Mau Stay ya Stay, Kalau Mau Leave ya Leave, Bebas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em>People come and go</em> atau <em>people come, people go</em>. Istilah ini sering kita dengar untuk menggambarkan bahwa orang-orang yang kita kenal dalam hidup akan datang dan pergi pada waktunya.</p>



<p>Kalau kita menengok ke belakang, ada banyak sekali orang-orang yang datang ke kehidupan kita. Keluarga, tetangga, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman les, teman kerja, teman pengajian, dan lain sebagainya.</p>



<p>Dari banyaknya orang yang kita kenal, mungkin hanya beberapa yang tetap <em>keep in touch </em>dengan kita hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, <em>circle </em>kita semakin mengecil dan mengerucut.</p>



<p>Ada beberapa yang memilih untuk <em>stay </em>dengan kita, entah karena kecocokan, merasa satu frekuensi, asyik diajak nongkrong, dan lainnya. Hanya saja, tak jarang ada yang memutuskan untuk <em>leave </em>dengan beragam alasan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Memaksa Orang untuk <em>Stay</em></h2>



<p>Baik <em>stay </em>maupun <em>leave</em>, masing-masing memiliki alasannya masing-masing. Kadang kita bisa tahu alasannya, kadang kita dibuat penasaran setengah mati hingga jadi menebak-nebak alasannya.</p>



<p>Penulis sendiri tipikal orang yang berusaha menahan orang-orang yang penting baginya untuk <em>stay </em>selama mungkin di kehidupan Penulis. Kalau bisa terus disambung, kenapa harus diputus hubungannya?</p>



<p>Memang terkadang ada saja pertikaian atau perselisihan. Ada yang sepele, tapi tak jarang ada masalah besar hingga membuat hubungan renggang. Namun, hal tersebut bisa dibenahi bersama jika masing-masing punya kesadaran akan kesalahannya.</p>



<p>Akan tetapi, sekarang Penulis menyadari bahwa <strong>menahan orang untuk <em>stay </em>di saat yang bersangkutan tidak ingin hanya akan membuat kita merasa sakit hati.</strong></p>



<p>Terlepas dari apapun alasannya hingga mereka ingin pergi dari kehidupan kita, kita sebenarnya tidak punya hak untuk memengaruhi pilihannya tersebut. Berusaha membujuk boleh saja, tapi jangan sampai berlebihan, apalagi sampai mengemis-ngemis.</p>



<p>Mulai sekarang, Penulis tidak akan memaksa orang lain untuk <em>stay </em>di kehidupan Penulis apapun alasannya. Kalau mau <em>leave </em>ya <em>monggo </em>saja, Penulis akan berusaha ikhlas menerima kenyataan tersebut. Kalaupun Penulis merasa sakit hati, ya sudah mau diapa juga.</p>



<p>Yang bisa Penulis lakukan hanyalah mendoakan yang terbaik untuknya. Semoga mereka yang <em>leave </em>dari kehidupan Penulis bisa menemukan kehidupan yang lebih baik lagi untuk mereka.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menghargai Orang yang <em>Stay</em></h2>



<p>Daripada menghabiskan waktu dan tenaga demi menahan orang untuk <em>stay</em>, lebih baik kita mengalokasikannya kepada orang yang mau <em>stay </em>di kehidupan kita. Kita harus bisa lebih berusaha menghargai mereka.</p>



<p>Kita juga harus bersyukur kepada orang-orang yang sudah berkenan untuk <em>stay </em>di kehidupan kita. Apalagi Penulis merasa dirinya sebagai pribadi yang agak &#8220;sulit&#8221;, sehingga Penulis sangat menghargai orang-orang yang mau <em>stay</em>.</p>



<p>Daripada memusingkan dan menangisi orang-orang yang <em>leave</em>, <strong>lebih baik Penulis mencurahkan perhatian dan kepedulian kepada orang-orang yang <em>stay</em></strong>. </p>



<p>Penulis merasa senang mereka mau <em>stay</em>, sehingga merasa kalau dirinya butuh melakukan sesuatu sebagai gantinya. Penulis akan berusaha untuk menjadi &#8220;orang yang baik&#8221; untuk mereka dan siap kapanpun dimintai bantuan.</p>



<p>Orang-orang yang mau <em>stay </em>di kehidupan Penulis sangat berarti untuk Penulis, sehingga Penulis akan berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan mereka. Potensi konflik sebisa mungkin diminimalisir.</p>



<p>Seandainya orang-orang yang <em>stay </em>tersebut akhirnya memutuskan untuk <em>leave</em>, Penulis akan berterima kasih kepada mereka karena pernah hadir di kehidupan Penulis. Sedih pasti, tapi yang namanya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">pertemuan memang pasti memiliki perpisahan.</a></p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Saat ini, Penulis tengah berusaha menerapkan prinsip hidup, <strong>&#8220;Kalau mau <em>stay </em>ya <em>stay</em>, kalau mau <em>leave </em>ya <em>leave</em>, bebas.&#8221;</strong></p>



<p>Penulis menyadari bahwa meskipun kita kerap berjalan beriringan dengan orang lain, akan datang masanya kita akan berpisah jalan. Seperti yang sudah disinggung di atas, penyebabnya ada bermacam-macam.</p>



<p>Kita tidak bisa mengendalikan apakah orang akan <em>stay </em>atau <em>leave </em>dari kehidupan kita. Satu-satunya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">yang bisa kita kendalikan</a> adalah respon kita terhadap keputusan mereka tersebut.</p>



<p>Daripada sakit hati karena merasa ditinggalkan, lebih baik kita berusaha untuk menerima kenyataan tersebut dengan ikhlas. Daripada menyumpahi hal buruk kepada mereka, lebih baik kita bersyukur dan berterima kasih atas semua kenangan yang telah diberikan.</p>



<p>Pada akhirnya, <em>people come and go</em>. Kita tidak bisa menahan orang lain untuk tetap <em>stay </em>bersama kita selamanya, sekalipun kita sangat menginginkannya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 16 September 2021, terinspirasi dari pengalaman pribadi</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@d-ng-nhan-324384">Dương Nhân · Photography (pexels.com)</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/">Kalau Mau Stay ya Stay, Kalau Mau Leave ya Leave, Bebas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sayang ya, Akhir Kisah Kita Kurang Baik&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2021 14:57:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[akhir]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5222</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hubungan antar manusia, apapun bentuknya, pasti memiliki akhirnya masing-masing. Mau hubungan keluarga, pertemanan, percintaan, semua akan berakhir dengan berbagai alasan. Ada yang karena kematian, berbeda pandangan, ada yang pisah baik-baik karena merasa itu yang terbaik untuk kedua belah pihak, pertengkaran hebat, renggang tanpa sebab, macam-macam alasannya. Karena perpisahan pasti akan terjadi, tentu kebanyakan manusia akan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik/">Sayang ya, Akhir Kisah Kita Kurang Baik&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hubungan antar manusia, apapun bentuknya, pasti memiliki akhirnya masing-masing. Mau hubungan keluarga, pertemanan, percintaan, semua akan berakhir dengan berbagai alasan.</p>



<p>Ada yang karena kematian, berbeda pandangan, ada yang pisah baik-baik karena merasa itu yang terbaik untuk kedua belah pihak, pertengkaran hebat, renggang tanpa sebab, macam-macam alasannya. </p>



<p>Karena perpisahan pasti akan terjadi, tentu kebanyakan manusia akan memilih untuk memiliki akhir yang baik. Sayangnya, kadang realita bisa menjadi sangat kejam.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>





<p>Bayangkan kita memiliki seorang sahabat yang begitu dekat. Hampir setiap hari kita menghabiskan waktu bersama dengan mereka dengan menyenangkan.</p>



<p>Lantas, seiring dengan bertambahnya usia, kita mulai memiliki kesibukan masing-masing hingga intensitas pertemuan menjadi jauh berkurang. Kadang masih sering bertukar kabar, sekadar ingin tahu sedang apa sekarang.</p>



<p>Pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya, menikahi pujaan hati. Kita pun menjadi senang sekaligus sedih dalam waktu bersamaan. Senang karena mereka akan punya bahagia, sedih karena menyadari kalau mereka akan punya prioritas lain.</p>



<p>Walaupun begitu, perasaan senangnya pasti akan lebih mendominasi daripada perasaan sedihnya. Melihat orang yang kita sayangi bahagia, tentu akan membuat kita merasa bahagia juga.</p>



<p>Perpisahan atau akhir seperti itu, menurut Penulis adalah akhir yang baik. Kita hanya berpisah jalan karena telah menemukan jalan hidupnya masing-masing. Walau tak bisa lagi bersama seperti dulu, kita bisa merelakannya dengan senyum karena ikut bahagia.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Penulis pernah mendengar cerita dari seorang teman. Katanya, hubungannya dengan sahabat dekatnya harus merenggang karena ia memacari mantan pacar sahabatnya. Mereka mencintai, atau setidaknya pernah mencintai orang yang sama.</p>



<p>Ada juga cerita di mana sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun harus berpisah dengan berbagai alasan. Lamanya waktu kenal bukan menjadi alasan untuk bertahan.</p>



<p>Kisah yang tak kalah pahit adalah bagaimana hubungan harus tiba-tiba berakhir tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba semuanya berubah dan kita merasa tidak siap dengan hal tersebut.</p>



<p>Penulis yakin ada banyak contoh bagaimana sebuah hubungan manusia harus berakhir dengan kurang baik. Tiga contoh di atas hanya sebagian kecil. Masih banyak perpisahan yang lebih pahit dari cerita-cerita tersebut.</p>



<p>Penulis akan menyayangkan apabila harus mengalami akhir hubungan atau perpisahan dengan buruk. Rasanya benar-benar tidak enak, seolah tidak rela untuk memutuskan hubungan yang selama ini sudah terjalin dengan baik.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Biasanya, akhir yang kurang baik dialami oleh dua insan yang menjalin hubungan dengan status pacaran. Alasannya, jika berakhir dengan baik maka mereka akan melenggang ke pelaminan.</p>



<p>Pacaran kerap digunakan sebagai sarana perkenalan dan mengenal satu sama lain secara dekat. Ada yang butuh bertahun-tahun untuk merasa yakin, ada yang hanya hitungan bulan.</p>



<p>Penulis sendiri tidak terlalu berpengalaman dalam hal pacaran, sehingga kurang bisa memberikan contoh. Namun, dari cerita-cerita yang Penulis dengar, banyak sekali akhir hubungan yang berakhir dengan menyedihkan, jika tidak tragis.</p>



<p>Ada yang diselingkuhi, ada yang capek dengan sifat buruk pasangannya, ada yang tiba-tiba kehilangan keyakinan, ada yang dihalangi perbedaan keyakinan, macam-macam alasan untuk berpisah.</p>



<p>Walaupun begitu, bukan berarti akhir yang buruk tidak dialami oleh bentuk hubungan lain. Bahkan keluarga yang terikat darah pun bisa mengalami akhir yang kurang baik.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagaimana dengan perpisahan karena kematian? Hal tersebut memang menyedihkan karena kita akan berpisah dengan orang yang berharga bagi kita untuk selamanya. Terpisah secara jiwa dan raga pasti menyakitkan.</p>



<p>Hanya saja, bagi Penulis kematian adalah bentuk perpisahan yang tidak bisa dihindari karena sudah ditakdirkan. Mau melawan seperti apapun, kita tidak akan bisa mengubah kenyataan tersebut.</p>



<p>Bahkan, kita perlu menanamkan pikiran bahwa orang yang dipisahkan dari kita akan segera melanjutkan kehidupannya di alam lain. Yang bisa kita lakukan adalah menerimanya dan mendoakan agar segala amalnya diterima dan dosanya diampuni.</p>



<p>Selain itu, kematian juga bisa menjadi pengingat kita yang masih hidup di dunia. Ketika waktunya kita sudah tiba, sebisa mungkin kita ingin memberikan akhir yang seindah mungkin untuk yang akan kita tinggalkan.</p>



<p>Berbeda dengan perpisahan yang terjadi karena sebab-sebab yang buruk seperti pertengkaran, pengkhianatan, perselisihan, dan hal-hal buruk lainnya. Bisa jadi, luka yang ditinggalkan lebih mengiris daripada perpisahan karena kematian.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Perpisahan yang pahit pasti rasanya tidak menyenangkan. Perasaan kecewa, marah, sedih, merasa ditinggalkan, frustasi, menyalahkan diri sendiri, semua seolah bercampur aduk menjadi satu.</p>



<p>Oleh karena itu, sebisa mungkin Penulis menghindari bentuk perpisahan yang seperti itu. Penulis sadar setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Hanya saja, kalau bisa berpisahnya secara baik-baik atau terjadi secara alami karena waktu.</p>



<p>Jika harus mengalami akhir yang buruk, terkadang kita berharap untuk memiliki <em>alternative ending </em>yang lebih baik. Andai saja waktu bisa diputar kembali, pasti kita ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan kita agar memiliki akhir yang lebih baik.</p>



<p>Sayang, kenyataan memang kadang tak seindah angan-angan. Yang sudah terjadi, biasanya susah untuk diulang kembali dan kita dituntut untuk menerimanya (kalau bisa) secara ikhlas.</p>



<p>Waktu memang akan memisahkan kita. Pasti. Sampai waktu itu datang, Penulis ingin terus membuat kenangan-kenangan indah bersama orang-orang yang Penulis sayangi.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 18 Agustus 2021, terinspirasi dari pengalamannya sendiri</p>



<p>Foto: <a href="https://edit.sundayriley.com/breakup-apps/">Sunday Edit</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik/">Sayang ya, Akhir Kisah Kita Kurang Baik&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2021 05:10:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[keikhlasan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5149</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak yang mengatakan kalau rasa sayang itu tentang keikhlasan. Menurut Penulis, istilah ini begitu ambigu dan bisa disalahartikan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Contoh kasih sayang yang ikhlas itu mudah, seperti kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. Hanya memberi, tak harap kembali. Bahkan, ada peribahasanya khusus: &#8220;Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Banyak yang mengatakan kalau rasa sayang itu tentang keikhlasan. Menurut Penulis, istilah ini begitu ambigu dan bisa disalahartikan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.</p>



<p>Contoh kasih sayang yang ikhlas itu mudah, seperti kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. <em>Hanya memberi, tak harap kembali</em>. Bahkan, ada peribahasanya khusus:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak Sepanjang Galah&#8221;</p></blockquote>



<p>Nah, bagaimana dengan rasa sayang kepada pasangan. Apakah bisa sepenuhnya ikhlas?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Menyayangi dengan Ikhlas</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5154" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sayang dengan Ikhlas (<a href="https://unsplash.com/@ozgomz">Oziel Gómez</a>)</figcaption></figure>



<p>Menurut KBBI, kata ikhlas memiliki arti <em><strong>bersih hati</strong> </em>atau<em> <strong>tulus hati</strong></em>. Jika diartikan secara bebas, ikhlas memiliki keterkaitan yang erat dengan kerelaan kita melakukan sesuatu tanpa berharap apapun sebagai timbal baliknya.</p>



<p>Menyayangi seseorang dengan ikhlas artinya kita <strong>menyayangi tanpa berharap yang disayangi melakukan hal yang sama kepada kita</strong>. Kita hanya berusaha menunjukkan perasaan sayang kita tanpa menginginkan apapun.</p>



<p>Pertanyaannya, apakah benar kita bisa seperti itu? Benarkah kita bisa menyayangi pasangan atau siapapun dengan ikhlas?</p>



<p>Pada kenyataannya, sangat jarang ada manusia yang bisa menyayangi seseorang dengan ikhlas. Di dalam hati kita, pasti ada keinginan agar perasaan kita berbalas, sekecil apapun itu.</p>



<p>Ketika kita menyayangi teman-teman kita, pasti kita juga berharap kalau mereka akan menyayangi kita. Ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, kita akan berharap ia mau menerima perasaan kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tingkat Sayang Tertinggi Itu Keikhlasan, tapi&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5153" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tingkat Sayang Tertinggi? (<a href="https://unsplash.com/@estherann">Esther Ann</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau kita bisa menyayangi seseorang dengan ikhlas, berarti tingkat sayangnya sudah berada di level yang berbeda seperti yang sudah dilakukan oleh orangtua kita. Jika Pembaca ada yang seperti itu, Penulis berikan apresiasi yang setinggi-tingginya.</p>



<p>Ada juga yang bilang kalau <strong>tingkat sayang tertinggi itu ketika kita ikut bahagia dengan kebahagiaannya</strong>, walaupun hal tersebut harus <a href="https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/">mengorbankan kebahagiaan diri sendiri</a>.</p>



<p>Akan tetapi, tingkat sayang tertinggi itu akan membuat kita tidak akan merasa berkorban, seperti kata Sujiwo Tejo yang sering Penulis kutip di dalam blog ini.</p>



<p>Penulis setuju jika tingkat tertinggi dari perasaan sayang itu tentang keikhlasan, seperti yang sudah dibuktikan oleh orangtua Penulis. </p>



<p>Hanya saja, terkadang usaha kita untuk ikhlas ini justru menjadi bumerang bagi kita. Ada saja orang-orang yang memanfaatkan usaha kita untuk ikhlas menyayangi demi kepetingannya sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Keikhlasan Dituntut</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5152" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dituntut Membuktikan Keikhlasan (<a href="https://unsplash.com/@belart84">Artem Beliaikin</a>)</figcaption></figure>



<p>&#8220;<em>Kalau kamu enggak mau nuruti mauku, berarti kamu gak ikhlas sayang sama aku!</em>&#8220;</p>



<p>Pernah mendengarkan kalimat seperti di atas? Menurut Penulis, itulah contoh ketika keikhlasan rasa sayang kita diuji sekaligus dituntut oleh orang lain demi kepentingannya sendiri.</p>



<p>Terkadang, ada orang-orang yang<strong> menuntut kita untuk menunjukkan keikhlasan</strong> kita. Padahal, keikhlasan itu bukan sesuatu yang dapat ditunjukkan kepada orang lain. Yang bisa mengukur hanya diri sendiri dan Tuhan.</p>



<p>Menurut Penulis, orang yang menuntut kita seperti itu patut dipertanyakan karena artinya mereka tidak percaya kalau kita sayang mereka dengan ikhlas. Selain itu, kenapa hanya kita yang dituntut memberikan bukti?</p>



<p>Jika Pembaca pernah menghadapi situasi seperti, coba direnungkan kembali hubungan kalian. Bisa jadi, tanpa disadari selama ini kalian sedang menjalani <a href="https://whathefan.com/karakter/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a><em> </em>di mana satu pihak (atau dua-duanya) kerap menjadi seorang yang sangat penuntut. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Ikhlas Ketika Diperlakukan Buruk, Bisa, kah?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5151" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Bisa Tetap Ikhlas? (<a href="https://unsplash.com/@julienlphoto">Julien L</a>)</figcaption></figure>



<p>Keikhlasan juga bisa <strong>menjadi &#8220;senjata&#8221; ketika</strong> <strong>kita mendapatkan perlakuan buruk</strong> dari seseorang. Dijahati, dilukai, diselingkuhi, dihina, disakiti oleh orang yang kita sayangi, semua harus bisa kita hadapi dengan ikhlas.</p>



<p>Kalau memang beneran sayang, beneran ikhlas, seharusnya kita bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Petik saja hikmahnya, kan katanya <em>every cloud has a silver lining</em>. </p>



<p>Kalau levelnya sudah seperti nabi mungkin bisa menghadapi semuanya dengan senyuman. Lah, Penulis kan (dan mungkin para Pembaca juga) masih jadi manusia biasa yang penuh dengan kekurangan.</p>



<p>Mungkin bisa menerima semua perlakukan buruk itu dengan ikhlas, seringnya butuh waktu yang cukup lama. Pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut.</p>



<p>Hanya saja, jangan sampai dibodohi seperti itu. Jangan sampai rasa sayang kita kepada seseorang justru menyiksa kita. Ini bukan tentang keikhlasan, melainkan melindungi diri dari orang yang tidak bisa menghargai perasaan kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sayang itu katanya tentang keikhlasan. Memang ada benarnya, tapi jangan diterjemahkan secara mentah begitu saja. Kita juga punya perasaan yang harus kita jaga.</p>



<p>Menyayangi seseorang dengan ikhlas itu berat, setidaknya Penulis merasa begitu. Ada sisi manusiawi yang masih mengharapkan timbal balik, apalagi kalau kita merasa sudah memberikan begitu banyak.</p>



<p>Untuk sekarang, Penulis masih berada di tahap mencari cara menyayangi yang membuat Penulis dan orang yang disayang sama-sama merasa nyaman, tanpa perlu merasa terpaksa dan dipaksa, sehingga tidak ada yang menuntut untuk membuktikan keikhlasan rasa sayangnya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 1 Agustus 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@evertonvila">Everton Vila</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Saya Toxic?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2021 11:37:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[toxic]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5093</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu terakhir ini, Penulis sering melakukan kompletasi. Tujuannya, untuk melihat ke dalam diri sendiri apa yang perlu dibenahi demi menjadi manusia yang lebih baik lagi. Salah satu yang menjadi concern Penulis adalah mengenai toxic yang cukup populer di kalangan generasi muda. Penulis bertanya ke dirinya sendiri, apakah saya ini termasuk orang yang toxic? Untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">Apakah Saya Toxic?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu terakhir ini, Penulis sering <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">melakukan kompletasi</a>. Tujuannya, untuk melihat ke dalam diri sendiri apa yang perlu dibenahi demi menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<p>Salah satu yang menjadi <em>concern </em>Penulis adalah mengenai <em>toxic </em>yang cukup populer di kalangan generasi muda. Penulis bertanya ke dirinya sendiri, apakah saya ini termasuk orang yang <em>toxic</em>?</p>



<p>Untuk membantu menjawab pertanyaan ini, Penulis pun menonton beberapa video di YouTube yang membahas mengenai sifat <em>toxic</em>.</p>



<p>Hasil perenungan dan pengamatan tersebut akan coba Penulis rangkum melalui tulisan ini sebagai bahan interopeksi bersama dengan bahasa yang sesederhana mungkin.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5097" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Racun (Photo by <strong><a href="https://www.pexels.com/@davideibiza?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Davide Baraldi</a></strong> from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/glass-bottles-on-shelf-1771809/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong>)</figcaption></figure>



<p>Dari berbagai sumber, kata <em>toxic </em>yang kita kenal sekarang sesuai dengan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia: racun. Racun itu sifatnya berbahaya dan merugikan kita.</p>



<p>Jika konteksnya adalah karakter, <em>toxic </em>artinya kita<strong> memiliki sifat atau karakter yang berbahaya dan merugikan orang lain</strong>, baik disadari maupun tidak.</p>



<p>Sikap <em>toxic </em>bisa dilakukan oleh siapa saja, baik kita, keluarga, teman, pasangan, hingga netizen. Semua bisa menjadi sosok yang <em>toxic</em> bagi sekitarnya maupun diri sendiri.</p>



<p>Memiliki sikap <em>toxic </em>jelas hal yang buruk dan harus kita hilangkan jika memilikinya. Selain merugikan orang lain, sikap <em>toxic </em>juga akan memberikan banyak dampak negatif ke pelakunya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Ciri-Ciri Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5099" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Orang Toxic (Photo by <a href="https://unsplash.com/@enginakyurt?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">engin akyurt</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/angry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau berbicara ciri-ciri, jelas ada banyak sekali yang bisa disebutkan. Kalau bagi Penulis sendiri, sikap apapun yang menyusahkan orang lain secara berlebihan bisa dibilang <em>toxic</em>.</p>



<p>Biasanya, yang menonjol dari orang <em>toxic </em>adalah sifatnya yang <strong>lebih mementingkan diri sendiri</strong> alias egois. Persetan dengan orang lain, yang penting dirinya untung.</p>



<p>Karena tingginya ego yang dimiliki, mereka pun tak segan untuk <strong>menjatuhkan orang lain demi kepentingannya</strong> sendiri. Bagi mereka, tidak ada yang namanya simpati atau empati.</p>



<p>Selain itu, tingginya ego membuat mereka <strong>segan untuk meminta maaf</strong> dan <strong>tidak mau</strong> <strong>mengakui kesalahan yang diperbuat</strong>. Bagi mereka, kesalahan selalu berada di tangan orang lain.</p>



<p>Demi melancarkan kepentingannya tersebut, si <em>toxic </em>kerap melakukan <strong>manipulasi dan mengendalikan orang lain secara berlebihan</strong>. Sialnya, terkadang kita yang menjadi &#8220;korban&#8221; tidak sadar sedang dimanipulasi.</p>



<p>Terkadang orang <em>toxic </em>juga memiliki sifat narsis yang membuat mereka kerap <strong>merasa diri paling paling hebat/benar</strong> dan <strong>merendahkan orang lain</strong>. Hal tersebut juga dilakukan demi menjatuhkan orang-orang yang mengganggu kepentingannya.</p>



<p>Tentu masih banyak ciri-ciri orang <em>toxic </em>lain yang belum disebutkan. Hanya saja, bagi Penulis ciri-ciri di atas sudah cukup menggambarkan bagaimana orang <em>toxic</em>.</p>



<p>Seumur hidup Penulis, untungnya Penulis baru bertemu satu orang yang rasanya benar-benar <em>toxic </em>waktu di tempat kerja. Ia pun menjadi <em>public enemy </em>karenanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Saya Memiliki Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5098" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tanya Kepada Diri Sendiri (Photo by <a href="https://unsplash.com/@dollargill?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Dollar Gill</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/think?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a>)</figcaption></figure>



<p>Melihat ciri-ciri yang sudah disebutkan di atas, apakah Penulis termasuk orang yang <em>toxic</em>? Tentu Penulis tidak bisa menilai dirinya sendiri, tapi Penulis akan coba mengurainya satu per satu.</p>



<p>Terkadang, Penulis merasa dirinya ini <strong>memiliki ego yang tinggi</strong>. Rasanya, semua keinginannya harus dituruti oleh orang lain. Mungkin, kesannya jadi seperti memaksakan kehendaknya.</p>



<p>Hanya saja, rasanya Penulis tidak pernah sampai menjatuhkan orang lain demi keinginannya. Penulis merasa dirinya masih punya simpati dan empati kepada orang lain, apalagi kepada orang-orang yang berharga di kehidupannya.</p>



<p>Penulis juga kadang merasa memiliki sifat <strong>gila kontrol ala Steve Jobs</strong> karena sifat perfeksionis yang dimiliki. Oleh karena itu, Penulis berusaha untuk mengurangi kekurangan ini secara perlahan.</p>



<p>Untuk urusan minta maaf dan mengakui kesalahan, mungkin Penulis justru terlalu sering melakukannya. Apalagi, Penulis ada tipe orang yang lebih suka <em>self-blaming</em>.</p>



<p>Merasa diri paling hebat? Justru Penulis adalah <a href="https://whathefan.com/karakter/bukan-sombong-tapi-minder/"><strong>tipe orang yang suka minder</strong></a> dan<strong> kurang percaya diri</strong>. Rasanya, orang lain selalu terlihat lebih hebat dari diri sendiri. Ini salah, makanya Penulis berusaha untuk bisa lebih percaya diri lagi.</p>



<p>Mungkin sifat lain yang perlu Penulis benahi adalah <em>overthinking</em>-nya dan emosinya yang kadang mudah tersulut. Bisa saja kedua hal tersebut membuat orang lain menganggap Penulis <em>toxic</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Rasanya tidak ada orang yang ingin berurusan dengan orang <em>toxic</em>. Sebisa mungkin, kita ingin menjalin hubungan dengan orang-orang yang bisa saling mendukung satu sama lain.</p>



<p>Penulis akan terus berusaha agar tidak menjadi orang <em>toxic</em>. Kalaupun ada yang menganggap Penulis seperti itu, anggap saja sebagai peringatan agar kita kembali berbenah diri.</p>



<p>Untuk tulisan selanjutnya, Penulis akan mencoba membahas tentang hubungan yang <em>toxic</em>. <em>Stay tuned</em>!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 25 Juli 2021, terinspirasi setelah seseorang menganggap saya <em>toxic</em></p>



<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/@darklabsindia?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Darklabs India</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/toxic?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/ciri-ciri-toxic-people/">Toxic People, Ciri Orang Negatif yang Harus Anda Jauhi (hellosehat.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">Apakah Saya Toxic?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menepi Sejenak</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2021 09:28:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berpisah]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[menepi]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4501</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku menyukai hubungan kita. Terasa dekat dan saling mengisi. Saling berbagi cerita dan melempar canda. Namun, kisah perjalanan kita berdua tidak semulus dongeng yang selalu berakhir dengan happily ever after. Kadang kita berselisih paham, kadang kita hanya mengedepankan ego masing-masing, kadang kita (tanpa sengaja) saling menyakiti. Kadang karena hal yang sepele, kadang karena hal yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">Menepi Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku menyukai hubungan kita. <strong>Terasa dekat dan saling mengisi</strong>. Saling berbagi cerita dan melempar canda.</p>
<p>Namun, kisah perjalanan kita berdua tidak semulus dongeng yang selalu berakhir dengan <em>happily ever after</em>.</p>
<p>Kadang kita berselisih paham, kadang kita hanya mengedepankan ego masing-masing, <strong>kadang kita (tanpa sengaja) saling menyakiti</strong>.</p>
<p>Kadang karena hal yang sepele, kadang karena hal yang serius, lebih sering hanya karena kesalahpahaman.</p>
<p>Percikan pertengkaran mewarnai hidup kita dan kadang <strong>membuat kita berpikir untuk pergi</strong>. Berpisah.</p>
<p>Tapi di dalam lubuk hati yang terdalam, kita sama-sama merasa bukan itu yang benar-benar kita inginkan.</p>
<p>Kita hanya bertikai untuk satu waktu. Kenapa itu harus membuat kita <strong>melupakan semua kenangan yang pernah kita ukir bersama?</strong></p>
<p><strong>Kita hanya butuh jeda</strong>, butuh waktu untuk sendiri. Memilih untuk menepi sejenak dan menenangkan diri.</p>
<p>Nikmati waktu kesendirian, merenungkan bagaimana kita bisa memulai pertengkaran.</p>
<p>Tak perlu mencari siapa yang salah, coba kita lihat ke dalam diri sendiri. <strong>Melakukan interopeksi diri</strong>.</p>
<p>Saat kita berpisah untuk sementara, coba rasakan betapa bedanya kehidupan yang kita lalui.</p>
<p>Jika dirasa cukup, kita akan kembali menjalani hari bersama seperti sedia kala.</p>
<p>Karena pada dasarnya, <strong>kita tidak ingin kehilangan satu sama lain</strong>.</p>
<h1 style="text-align: center;">***</h1>
<p>Dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya, pasti ada momen di mana kita bertikai dan membuat hubungan merenggang.</p>
<p>Bagi Penulis, hal ini sangat wajar. <strong>Semakin dekat dan erat hubungan kita dengan seseorang, semakin besar potensi munculnya konflik.</strong></p>
<p>Yang penting adalah bagaimana kita berusaha menyelesaikan konflik tersebut. Terkadang, kita butuh untuk<a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/berhenti-sejenak/"><strong> menepi sejenak</strong></a> agar bisa berpikir lebih jernih.</p>
<p>Ketika menepi, dalam artian menjaga jarak dengan orang tersebut untuk jangka waktu tertentu, sebaiknya kita melakukan interopeksi diri</p>
<p>Tanyakan pada diri <strong>kenapa pertikaian tersebut bisa terjadi</strong>. Jangan fokus pada siapa yang salah, tapi pada<strong> bagaimana hal tersebut jangan sampai terulang</strong>.</p>
<p>Jika perasaan sudah kembali tenang, coba bicarakan hal tersebut baik-baik dengannya. Curahkan isi hati agar tidak ada yang mengganjal dan menjadi benalu diri.</p>
<h1 style="text-align: center;">***</h1>
<p><a href="https://whathefan.com/renungan/pada-akhirnya-kita-semua-akan-dipisahkan-oleh-waktu/"><strong>Perpisahan memang menjadi hal yang tak terelakkan</strong></a> dalam sebuah hubungan. <em>Inevitable</em> kalau kata Thanos.</p>
<p>Ada yang karena perbedaan visi, ada yang karena sakit hati, ada yang karena kematian, banyak penyebab hubungan harus berakhir.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis tidak ingin hubungan dengan orang-orang terdekatnya putus karena hal yang kurang baik.</p>
<p>Jika memang harus berpisah, terlepas apapun alasannya, setidaknya kita bisa <strong>berpisah secara baik-baik</strong>.</p>
<p>Memang menyedihkan, kadang menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada harus berpisah secara buruk dengan perasaan saling membenci.</p>
<h1 style="text-align: center;">***</h1>
<p>Jika memungkinkan, Penulis ingin terus menjalin hubungan baik dengan semua orang yang dikenalnya dalam hidup.</p>
<p>Entah keluarga, teman mulai kecil, teman kuliah, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">teman kantor di Jakarta</a>, <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">anak-anak Karang Taruna</a>, semuanya.</p>
<p>Sayangnya, Penulis hidup di dunia nyata yang tidak semulus jalan cerita drama Korea. Pasti ada banyak lika-liku yang akan membuat Penulis memutuskan untuk menepi sejenak.</p>
<p>Ketika menepi, <strong>pikiran Penulis akan terasa begitu riuh dengan pemikirannya sendiri</strong>. Penulis bukan tipe orang yang bisa masa bodo dengan kejadian yang sedang dialami.</p>
<p>Memang jika waktunya telah tiba, Penulis akan berpisah satu per satu dengan mereka semua. Kesedihan, merasa kehilangan, semua perasaan itu akan Penulis rasakan.</p>
<p>Hanya saja, sampai waktunya tiba, Penulis ingin <strong>menikmati momen-momen bersama mereka</strong> selama mungkin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 8 Maret 2021, terinspirasi dari pertikaian kecil yang baru terjadi dengan seseorang</p>
<p>Foto: <a href="https://redwoodfamilytherapy.com/services/sad-boy-alone-in-a-bare-room/">Redwood Family Therapy</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">Menepi Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 2)</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jan 2020 03:57:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[#banggafilmindonesia]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[NKCTHi]]></category>
		<category><![CDATA[saudara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3300</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tulisan ini melanjutkan tulisan sebelumnya terkait film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Jika sebuah film sampai membutuhkan dua tulisan di Whathefan, tandanya Penulis sangat menikmati film tersebut. Pada bagian dua ini, Penulis akan menjelaskan tentang apakah film ini dapat related di dalam kehidupan kita dan bagaimana kesan Penulis setelah menonton film ini. Related? Kata teman-teman, film [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2/">Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini melanjutkan tulisan sebelumnya terkait film <strong><em>Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI)</em></strong>. Jika sebuah film sampai membutuhkan dua tulisan di <em>Whathefan</em>, tandanya Penulis sangat menikmati film tersebut.</p>
<p>Pada bagian dua ini, Penulis akan menjelaskan tentang apakah film ini dapat <em>related </em>di dalam kehidupan kita dan bagaimana kesan Penulis setelah menonton film ini.</p>
<h3><em>Related?</em></h3>
<p>Kata teman-teman, film ini tidak akan <em>related</em> dengan kehidupan kita karena bercerita tentang keluarga kaya, berbeda dengan film <em>Keluarga Cemara</em> misalnya (walaupun di film tersebut awalnya mereka juga keluarga kaya).</p>
<p>Setelah menonton film ini, ternyata konflik yang ada di dalamnya tidak ada urusan dengan harta. Permasalahan yang terjadi di dalamnya bisa terjadi di keluarga mana pun.</p>
<p>Dari sudut pandang ayah misalnya. Setelah pernah kehilangan satu anaknya, ia menjadi sangat menjaga anaknya yang berhasil selamat, Awan.</p>
<p><div id="attachment_3313" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3313" class="size-full wp-image-3313" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-1.jpg" alt="" width="1000" height="592" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-1.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-1-768x455.jpg 768w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-3313" class="wp-caption-text">Angkasa dan Adik-Adiknya (<a href="https://www.imdb.com/title/tt10773114/mediaindex?page=1&amp;ref_=ttmi_mi_sm">IMDb</a>)</p></div></p>
<p>Ia memutuskan untuk menutupi kebenaran agar anak-anaknya yang belum mengerti tak perlu merasakan kehilangan, walaupun ia harus membuat anak pertamanya, Angkasa, memanggul beban berat sejak kecil.</p>
<p><em>(Sedikit trivia, Penulis juga memiliki seorang adik perempuan kelahiran 1996 yang juga meninggal setelah dilahirkan)</em></p>
<p>Dari sudut pandang Aurora, merasa tidak dianggap di dalam keluarga lumrah terjadi. Ayahnya dan Angkasa terlihat terlalu memberi perhatian kepada adiknya, membuatnya merasa dikucilkan.</p>
<p>Tidak hanya anak tengah, kasus ini bisa terjadi pada siapapun dan tidak memandang urutan kelahiran. Misal, anak tunggal yang tiba-tiba memiliki adik, biasanya akan merasa seperti ini.</p>
<p><div id="attachment_3316" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3316" class="size-full wp-image-3316" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-2.jpg" alt="" width="1000" height="592" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-2.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-2-768x455.jpg 768w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-3316" class="wp-caption-text">Memaafkan Ayah (<a href="https://www.imdb.com/title/tt10773114/mediaindex?page=1&amp;ref_=ttmi_mi_sm">IMDb</a>)</p></div></p>
<p>Hidup dengan kontrol orang tua hingga merasa tak pernah punya pilihan dirasakan oleh si bungsu, Awan. Trauma yang dimiliki oleh ayahnya membuatnya harus menerima pengekangan, bahkan setelah ia sudah bekerja.</p>
<p>Jika ditarik kesimpulan, semua permasalahan yang terjadi diakibatkan oleh sebuah rahasia besar yang berusaha untuk ditutupi selama bertahun-tahun.</p>
<p>Seperti kata orang, <strong>serapi-rapinya </strong><strong>kebohongan pada akhirnya akan terbongkar juga</strong>. Inilah pesan moral utama yang Penulis tangkap dari film ini.</p>
<h3>Kesan Setelah Menonton <em>NKCTHI</em></h3>
<p>Sebelum nonton, Penulis sama sekali tidak tahu akan seperti apa cerita dari film ini. Nonton <em>trailer</em>-nya di YouTube saja belum pernah dan tak pernah terbesit di pikiran untuk melakukannya.</p>
<p>Apa yang Penulis tahu adalah film ini diangkat dari sebuah buku berjudul sama karya <strong>Marchella FP</strong>. Masalahnya, Penulis sama sekali tidak pernah minat untuk membeli bukunya karena isinya yang relatif sedikit (satu kalimat bisa memakan satu halaman berwarna-warni).</p>
<p><div id="attachment_3315" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3315" class="size-large wp-image-3315" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-3-768x456.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-3.jpg 1153w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3315" class="wp-caption-text">Buku NKCTHI (<a class="o5rIVb a-no-hover-decoration irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.blibli.com/friends/blog/5-quotes-sore-nkcthi/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjHurXK4I7nAhUnIbcAHVTBB5kQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Blibli.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Karena itu, Penulis sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana sebuah buku seperti itu akan diangkat menjadi sebuah film. Ternyata, hasilnya di atas ekspetasi.</p>
<p>Bagi Penulis, dosis drama yang ada di dalam film ini terasa pas. Tidak kekurangan, tidak juga berlebihan. Adegan-adegannya terasa natural dan tidak terasa <em>lebay</em> seperti sinetron.</p>
<p>Sepanjang film, Penulis berusaha menemukan <em>plot holes</em> dan gagal melakukannya. Adegan tiap adegannya terasa runtut dan semua kejadian memiliki alasan mengapa harus terjadi.</p>
<p><div id="attachment_3314" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3314" class="size-full wp-image-3314" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-4.jpg" alt="" width="1000" height="592" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-4.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-4-768x455.jpg 768w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-3314" class="wp-caption-text">Ayah dan Ibu Ketika Muda (<a href="https://www.imdb.com/title/tt10773114/mediaindex?page=1&amp;ref_=ttmi_mi_sm">IMDb</a>)</p></div></p>
<p>Film ini bergerak maju mundur, di mana ayah dan ibu versi muda diperankan oleh <strong>Oka Antara</strong> dan <strong>Niken Anjani</strong>. Setiap ada sebuah kejadian di masa kini, akan terlihat <em>flash back</em> sekilas yang seolah menjelaskan mengapa itu bisa terjadi.</p>
<p>Eksekusi yang bagus dan akting para pemerannya menjadi nilai tambah dari film ini. Pesan moral yang dimiliki juga dapat banget, setidaknya untuk Penulis.</p>
<p>Yang jelas, film ini membuat Penulis menjadi semakin bersemangat untuk menonton film-film Indonesia di bioskop. Yah, kecuali film yang bergenre horor.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 19 Januari 2020, terinspirasi setelah menonton film <em>Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.imdb.com/title/tt10773114/mediaindex?page=1&amp;ref_=ttmi_mi_sm">IMDb</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2/">Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jan 2020 03:10:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[#banggafilmindonesia]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[NKCTHi]]></category>
		<category><![CDATA[saudara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3290</guid>

					<description><![CDATA[<p>Awalnya, Penulis sama sekali tidak ada niatan untuk menonton film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) walaupun ulasan dari penonton relatif positif. Lantas, seorang teman kuliah mengajak Penulis untuk menonton. Pilihannya ada dua, IP Man 4 atai NKCTHI. Karena tidak pernah menonton IP Man, Penulis pun lebih memilih NKCTHI. Apalagi, ada Niken Anjani dan Sheila Dara yang Penulis idolakan. Hasilnya, Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1/">Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya, Penulis sama sekali tidak ada niatan untuk menonton film <strong><em>Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini </em>(NKCTHI)</strong> walaupun ulasan dari penonton relatif positif.</p>
<p>Lantas, seorang teman kuliah mengajak Penulis untuk menonton. Pilihannya ada dua, <em>IP Man 4 </em>atai <em>NKCTHI</em>. Karena tidak pernah menonton IP Man, Penulis pun lebih memilih <em>NKCTHI. </em>Apalagi, ada Niken Anjani dan Sheila Dara yang Penulis idolakan.</p>
<p>Hasilnya, Penulis merasa puas dengan film ini dan sangat bersemangat untuk menulis kesan setelah menonton film ini. <strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<h3>Jalan Cerita <em>NKCTHI</em></h3>
<p>Film ini berpusat kepada satu keluarga yang terdiri dari <strong>Ayah</strong> (Donny Damara), <strong>Ibu</strong> (Susan Bachtiar), <strong>Angkasa</strong> (Rio Dewanto), <strong>Aurora</strong> (Sheila Dara), dan <strong>Awan</strong> (Rachel Amanda).</p>
<p>Angkasa merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga ini sekaligus berperan sebagai kakak tertua. Aurora merupakan anak kedua yang paling berbakat di antara saudara-saudara lainnya.</p>
<p>Si bungsu, Awan, merupakan lulusan arsitek yang sedang menapak karir. Keluarga ini relatif harmonis dan hidup bahagia. Mereka semua terlihat memprioritaskan keluarga dalam hidup.</p>
<p><div id="attachment_3306" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3306" class="size-full wp-image-3306" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-1.jpg" alt="" width="1000" height="593" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-1.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-1-768x455.jpg 768w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-3306" class="wp-caption-text">Awan dan Pekerjaannya (<a href="https://www.imdb.com/title/tt10773114/mediaindex?ref_=tt_mv_sm">IMDb</a>)</p></div></p>
<p>Karena sikapnya, Awan harus menerima pemecatan dari kantor tempatnya bekerja. Padahal, tempat tersebut merupakan impiannya selama ini. Hal ini pun membuatnya hancur.</p>
<p>Hal ini harus diperparah dengan kecelakaan yang menimpanya, kecelakaan yang membuatnya ayahnya yang over protektif semakin ketat dalam mengekang dirinya.</p>
<p>Di saat seperti itu, ia bertemu dengan <strong>Kale</strong> (Ardhito Pramono). Pertemuan tersebut membawa perubahan di dalam hidup Awan, bahkan berdampak ke keluarga kecilnya.</p>
<p><div id="attachment_3305" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3305" class="size-large wp-image-3305" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3305" class="wp-caption-text">Awan dan Kale (<a href="https://www.imdb.com/title/tt10773114/mediaindex?ref_=tt_mv_sm">IMDb</a>)</p></div></p>
<p><em>(Di bawah ini merupakan </em><strong>major spoiler</strong><em>, kalau berencana nonton jangan lanjut!)</em></p>
<p>Singkat cerita, saat pameran tunggal pertama Aurora sedang berlangsung, Awan bertengkar dengan ayahnya karena ia terlambat datang. Hal ini membuat Aurora, yang selama ini merasa tidak dianggap, menyuruh keluarganya untuk pergi dari pameran.</p>
<p>Saat di rumah, sang ayah mengumpulkan mereka semua untuk memberikan sekelumit nasehat. Ia memarahi Awan, lantas menyalahkan Angkasa karena telah membuat Awan berkenalan dengan Kale.</p>
<p>Sang ayah juga berkata bahwa semua yang ia lakukan adalah karena dirinya tidak ingin kehilangan anak-anaknya. Di situlah Aurora berdiri dan mengatakan bahwa mereka semua telah lama kehilangan dirinya.</p>
<p><div id="attachment_3304" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3304" class="size-large wp-image-3304" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3304" class="wp-caption-text">Aurora yang Tak Dianggap (<a href="https://www.imdb.com/title/tt10773114/mediaindex?ref_=tt_mv_sm">IMDb</a>)</p></div></p>
<p>Awan berusaha menenangkan Aurora dengan mengatakan ini semua salahnya, namun Angkasa berdiri dan mengatakan semua ini adalah salah ayahnya. Bahkan ia meminta tolong ibunya yang dari tadi diam untuk memberitahukan kebenarannya.</p>
<p>Akhirnya terungkap bahwa keluarga tersebut memiliki sejarah kelam yang selama ini telah ditutupi: ketika Awan lahir, ia memiliki saudara kembar yang tidak berhasil selamat.</p>
<p>Hal ini dirahasiakan dari Aurora dan Awan karena menurut ayah mereka tak perlu mengetahui trauma dan kesedihan ini. Ia ingin keluarganya hanya merasakan bahagia, walaupun itu membuat Angkasa harus menanggung beban selama 21 tahun.</p>
<p><div id="attachment_3303" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3303" class="size-full wp-image-3303" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-4.jpg" alt="" width="1000" height="593" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-4.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1-4-768x455.jpg 768w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-3303" class="wp-caption-text">Beban Angkasa (<a href="https://www.imdb.com/title/tt10773114/mediaindex?ref_=tt_mv_sm">IMDb</a>)</p></div></p>
<p>Setelah fakta ini terkuak, Angkasa dan Awan sama-sama keluar dari rumah. Sang ibu lah yang berusaha untuk menyatukan mereka kembali dan meminta mereka semua untuk memaafkan ayah mereka yang sudah menyadari kesalahannya.</p>
<p>Ketiga anaknya pun meneruskan hidupnya masing-masing. Angkasa tinggal di apartemennya sendiri, Aurora melanjutkan studi di luar negeri dengan uang pensiun ayahnya karena beasiswanya ditolak, dan Awan mulai merintis kembali karirnya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Katanya, film ini susah untuk <em>related </em>dengan kehidupan kita karena keluarga yang ada di dalamnya merupakan keluarga menengah ke atas. Benarkah seperti itu? Penulis akan membahasnya pada bagian kedua dari tulisan ini. <em>Stay tuned!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 19 Januari 2020, terinspirasi setelah menonton film <em>Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.imdb.com/title/tt10773114/mediaindex?ref_=tt_mv_sm">IMDb</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1/">Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
