<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>masa depan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/masa-depan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/masa-depan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Mar 2024 08:21:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>masa depan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/masa-depan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2024 08:17:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Dona Dona]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7093</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah membaca dua buku Funiculi Funicula yang sudah pernah Penulis ulas sebelumnya, tak pernah terbesit di pikiran kalau buku ini akan memiliki buku ketiganya. Maka dari itu, ketika pertama kali melihat buku berjudul Dona Dona di rak toko buku, Penulis benar-benar terkejut. Awalnya, Penulis tak mengira kalau buku ini merupakan sekuel dari Funiculi Funicula karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/">[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah membaca dua buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Funiculi Funicula</a> </em>yang sudah pernah Penulis ulas sebelumnya, tak pernah terbesit di pikiran kalau buku ini akan memiliki buku ketiganya. Maka dari itu, ketika pertama kali melihat buku berjudul<strong> <em>Dona Dona </em></strong>di rak toko buku, Penulis benar-benar terkejut.</p>



<p>Awalnya, Penulis tak mengira kalau buku ini merupakan sekuel dari <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">Funiculi Funicula</a> </em>karena judulnya yang benar-benar berbeda. Yang membuat Penulis sadar kalau buku ini merupakan buku ketiga dari seri tersebut adalah desain <em>cover</em>-nya, yang masih &#8220;gaya&#8221; yang sama dengan dua buku sebelumnya.</p>



<p>Ternyata, siapa sangka, kalau kafe Funiculi Funicula di Tokyo memiliki cabang di Hokaido, dengan keluarga pemilik yang sama pula. Kafe ini pun sama ajaibnya, karena mampu membawa pengunjungnya untuk pergi ke masa lalu maupun masa depan, dengan segudang peraturan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Dona Dona</em></li>



<li>Penulis: Toshikazu Kawaguchi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2023</li>



<li>Tebal: 264 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020671710</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Dona Dona</h2>



<p><em>Di sebuah lereng indah tak bernama di Hakodate, Hokkaido, berdiri Kafe Dona Dona yang menawarkan layanan istimewa kepada pengunjungnya: perjalananan melintasi waktu. Seperti di Funiculi Funicula yang ada di Tokyo, hal tersebut hanya dapat dilakukan jika berbagai peraturan yang merepotkan dipenuhi dan dengan secangkir kopi yang dituangkan oleh perempuan di keluarga Tokita. </em></p>



<p><em>Mereka yang ingin memutar waktu adalah seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian, seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya, seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya, dan seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya. </em></p>



<p><em>Mungkin perjalanan mereka hanya akan menyisakan kenangan. Namun, kehangatannya akan membekas dan barangkali, pada akhirnya, menumbuhkan tekad baru untuk menjalani hidup…</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Dona Dona</h2>



<p><strong>Nagare Tokita</strong>, pemilik kafe Funiculi Funicula, harus pergi ke Hakodate, Hokaido, untuk menjaga kafe Dona Dona yang selama ini dikelola oleh ibunya, <strong>Yukita</strong>. Alasannya, Yukita tiba-tiba pergi ke Amerika untuk menolong seseorang.</p>



<p>Untuk sementara waktu, Funiculi Funicula di-<em>handle </em>oleh anak Nagare, Miki, karena<strong> Kazu Tokita</strong> juga ikut ke Hokaido. Menariknya, kita akan berkenalan dengan <strong>Sachi</strong>, anak dari Kazu yang secara resmi menjadi penuang kopi yang akan membawa peminumnya pergi ke masa lalu atau masa depan.</p>



<p>Karakter Sachi bisa dibilang sebagai pencuri perhatian terbesar di buku ini. Kemampuannya membaca buku-buku berat (mulai karya Shakespears hingga fisika kuantum) di usianya yang baru 7 tahun menandakan kecerdasan ibunya menurun padanya. </p>



<p>Di antara banyaknya buku yang ia baca, <em><strong>Seratus Pertanyaan: Bagaimana Jika Hari Esok Kiamat</strong></em> menjadi fokus utama dari buku ini karena hampir selalu disebutkan di masing-masing bab, dan releven untuk masing-masing kisah yang diceritakan.</p>



<p>Tidak hanya Yukita (yang belum terlihat sosoknya) dan Sachi, ada beberapa karakter baru yang dihadirkan oleh novel ini, seperti <strong>Reiji </strong>(pekerja paruh waktu di Dona Dona), <strong>Nanako </strong>(teman masa kecil Reiji), hingga <strong>Saki </strong>(pengunjung tetap Dona Dona, seorang psikiater).</p>



<p>Sama seperti dua pendahulunya, buku ini juga memiliki empat cerita dengan keunikannya masing-masing. Keempat cerita tersebut adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Kisah Anak Perempuan yang Tidak Bisa Mengatakan &#8220;Dasar Menyebalkan&#8221;</strong>: Tentang seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian</li>



<li><strong>Kisah Komedian yang Tidak Bisa Bertanya &#8220;Apa Kau Bahagia?&#8221;</strong>: Tentang seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya</li>



<li><strong>Kisah Seorang Adik yang Tidak Bisa Mengatakan &#8220;Maaf&#8221;</strong>: Tentang seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya</li>



<li><strong>Kisah Pemuda yang Tidak Bisa Mengatakan &#8220;Aku Suka Padamu&#8221;</strong>: Tentang seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya</li>
</ol>



<p>Tidak hanya lokasi kafe yang berubah, sosok hantu yang menduduki kursi ajaib di kafe Dona Dona juga berbeda. Jika di Funiculi Funicula sosoknya adalah ibu Kazu, maka di Dona Dona ada sosok pria tua yang masih misterius.</p>



<p>Meskipun hanya sekilas, buku ini juga menjadi penjelas mengapa ketika Rei Nagare melakukan <em>time traveling </em>di buku pertama, Nagare dan Kazu justru berada di Hokaido. Untungnya, Miki masih ada di Tokyo dan akhirnya bisa bertemu dengan ibu kandungnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Dona Dona</h2>



<p>Secara formula, sebenarnya <em>Dona Dona </em>memiliki formula yang mirip-mirip dengan <em>Funiculi Funicula</em>, di mana pengunjung yang memiliki &#8220;masalah&#8221; di masa lalu (maupun masa depan) ingin melakukan perjalanan waktu.</p>



<p>Walaupun menggunakan formula yang sama, Penulis sama sekali tidak mempermasalahkannya karena menganggap hal tersebut sebagai konsistensi. Apalagi, cerita-cerita yang disajikan juga sangat <em>heartwarming </em>dan menyentuh hati.</p>



<p>Dengan lokasinya yang berpindah ke Hokaido juga berhasil memberikan efek penyegaran, yang ditambah dengan adanya beberapa karakter baru (yang tentu juga membutuhkan waktu untuk mengingatnya, mengingat betapa sulitnya nama-nama Jepang).</p>



<p>Jika dibandingkan dengan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/">dua buku sebelumnya</a>, <em>Dona Dona </em>lebih sering membahas tema tentang kematian dan perasaan kehilangan. Bahkan, ada cerita yang di mana tokohnya ingin <em>stay </em>di masa lalu (untuk mati), seperti yang pernah terjadi di buku pertama.</p>



<p>Menurut Penulis (dan rasanya akan ada banyak pembaca buku ini yang setuju), salah satu <em>quote </em>kunci dari buku ini adalah ucapan dari Yukita di akhir buku yang berbunyi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Menurutku, kematian tidak seharusnya menjadi alasan seseorang untuk tidak bahagia. Sebab, tak ada orang yang tak akan mati. Jika kematian adalah penyebab ketidakbahagiaan, berarti semua orang dilahirkan untuk tidak bahagia. Hal itu tidak benar. Setiap orang tentu dilahirkan demi kebahagiaan.&#8221;</p>
<cite>Hal. 263</cite></blockquote>



<p>Salah satu alasan unik yang membuat buku ini akan membuat penasaran para pembacanya adalah adanya halaman yang berwarna hitam pekat. Ternyata, alasan halaman tersebut dibuat berwarna hitam adalah karena mati lampu! Tentu alasan lainnya adalah menimbulkan efek dramatisir yang menarik.</p>



<p>Meskipun ada banyak karakter baru, Kazu tetap menjadi karakter favorit Penulis di sini berkat pembawaannya yang dewasa dan tenang. Kemampuan analisis dan kecerdikannya juga cukup terlihat di sini, walau mungkin ada yang berpendapat hal tersebut kalah jika dibandingkan buku keduanya.</p>



<p>Masih banyak misteri yang belum terungkap di buku ketiga ini, seperti sosok Yukita yang masih keluar negeri maupun cerita di balik sosok pria tua yang menjadi hantu penunggu kursi di Dona Dona.</p>



<p>Setelah melakukan riset kecil-kecilan, ternyata buku ini juga akan memiliki buku keempat dan kelimanya, sehingga tinggal menunggu waktu saja untuk membeli buku-buku tersebut ketika sudah dirilis di Indonesia untuk menjawab misteri yang tersisa.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 17 Maret 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Dona Dona</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/">[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 May 2023 13:34:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6539</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah dua tulisan membahas tentang Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold, saatnya melanjutkan ke novel berikutnya, yaitu Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap karya Toshikazu Kawaguchi. Meskipun efeknya tidak &#8220;sedahsyat&#8221; buku pertamanya, cerita-cerita yang terdapat di novel ini masih cukup menarik untuk diikuti sampai habis. Hal menarik yang didapatkan dari buku ini adalah terjawabnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah dua tulisan membahas tentang <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a></em>, saatnya melanjutkan ke novel berikutnya, yaitu <em><strong>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</strong></em> karya <strong>Toshikazu Kawaguchi</strong>.</p>



<p>Meskipun efeknya tidak &#8220;sedahsyat&#8221; buku pertamanya, cerita-cerita yang terdapat di novel ini masih cukup menarik untuk diikuti sampai habis. Hal menarik yang didapatkan dari buku ini adalah terjawabnya pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab di buku pertama.</p>



<p>Bisa jadi, itulah alasan mengapa judul yang dipih adalah &#8220;Kisah-Kisah yang Baru Terungkap&#8221;, karena memang baru di buku inilah hal tersebut terungkap. Lantas, siapa yang kini pergi ke masa lalu (atau masa depan) di kedai Funiculi Funicula? <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner.jpg 1280w " alt="Siapa yang Akhirnya Menang?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/siapa-yang-akhirnya-menang/">Siapa yang Akhirnya Menang?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</em></li>



<li>Penulis: Toshikazu Kawaguchi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keempat</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 200 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020663852</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Sama seperti buku pertama, <em>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap </em>juga terbagi menjadi empat bagian, yakni &#8220;Sahabat&#8221;, &#8220;Ibu dan Putra&#8221;, &#8220;<a href="https://whathefan.com/sajak/kerinduan-seorang-kekasih/">Kekasih</a>&#8220;, dan &#8220;Suami dan Istrinya&#8221;. Bisa dilihat jika konsep dan formulanya masih tetap sama.</p>



<p>Buku ini mengambil latar waktu beberapa tahun setelah Kei Tokita meninggal dunia ketika melahirkan <strong>Miki</strong>. Kehidupan kedai Funiculi Funicula pun berjalan seperti biasa, di mana Miki sudah mulai bisa membantu sedikit-sedikit di kedai.</p>



<p>Mungkin karena di sini banyak karakter baru yang muncul, maka si penulis buku ini membuat semacam diagram hubungan antara karakternya untuk memudahkan para pembacanya. Penulis jujur saja tidak bisa menghafal mereka semua.</p>



<p>Yang jelas, ada beberapa karakter lama yang kembali, seperti <strong>Kazu Tokita</strong> sang pembuat kopi, <strong>Nagare Tokita</strong> si pemiliki kedai, hingga <strong>Fumiko Kiyokawa</strong> yang pernah pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan kekasihnya.</p>



<p>Cerita-cerita yang diangkat di sini ada seorang pria yang pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan sahabatnya yang telah meninggal, di mana ia mengasuh putrinya selama bertahun-tahun tanpa pernah mengungkapkan hal sebenarnya kepadanya.</p>



<p>Lalu ada seorang anak yang ingin pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan ibunya yang telah meninggal, di mana ia tidak bisa datang ke pemakamannya karena terlilit masalah ekonomi demi mengejar ambisi sebagai pengrajin tembikar.</p>



<p>Cerita ketiga bercerita tentang seorang pria yang telah didiagnosis tidak berumur lama. Ia ingin pergi ke masa depan, tepatnya dua tahun kemudian, untuk mengetahui kalau kekasihnya yang ia tinggalkan bahagia</p>



<p>Penutup cerita ini adalah seorang detektif yang ingin pergi ke masa lalu untuk memberikan hadiah istrinya yang telah meninggal karena perampokan. Hadiah tersebut akan menjadi yang pertama sekaligus terakhir dalam pernikahan mereka yang singkat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</h2>



<p>Apa yang Penulis suka dari novel ini adalah terungkapnya banyak fakta seputar <strong>Kazu Tokita</strong>. Ternyata, wanita bergaun putih yang menjadi hantu di kedai tersebut adalah ibunya! Ia menjadi hantu karena telat (atau menolak untuk) kembali ke masa kini.</p>



<p>Selain itu, diketahui kalau Kazu di cerita ini merasa bahwa dirinya tidak berhak untuk bahagia, karena ia adalah orang yang membuatkan kopi agar ibunya bisa pergi ke masa lalu. Sejak hari naas tersebut, Kazu menjadi sosok yang terus dihinggapi rasa bersalah.</p>



<p>Ini menjawab misteri mengenai mengapa Kazu terlihat menjadi sosok yang dingin dan sangat pendiam. Untungnya, di akhir novel ini, pada akhirnya Kazu mau belajar untuk memaafkan dirinya sendiri.</p>



<p>Hal menari kalinnya seputar Kazu adalah ia telah mengandung seorang anak. Ternyata, hal ini membuatnya kehilangan kekuatan untuk membuat kopi &#8220;super&#8221; tersebut, karena kekuatannya langsung menurun ke anak dalam kandungan tersebut.</p>



<p>Untungnya, Miki Tokita sudah berusia tujuh tahun di buku ini, sehingga ia telah memiliki kemampuan tersebut dan kedai pun tetap dapat berjalan kembali. Sebagai tambahan, peran Miki sebagai &#8220;pengundang tawa&#8221; di novel ini cukup terasa kental.</p>



<p>Jika cerita-cerita di novel pertama terasa berkesinambungan, maka cerita-cerita di novel ini lebih terasa berdiri sendiri. Tokoh-tokoh yang muncul untuk pergi ke masa lalu/masa depan tidak terlalu berkaitan satu sama lain.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis sebutkan di atas, cerita-cerita yang ada di novel ini masih terasa menarik, tapi dampak emosionalnya kurang <em>nendang</em>. Dibandingkan kisah orang-orang yang melakukan perjalanan waktu, Penulis lebih tertarik dengan kisah yang dimiliki oleh Kazu.</p>



<p>Meskipun begitu, buku ini tetap menyenangkan untuk dibaca. Dengan segala aturan yang tetap sama, kita akan menyaksikan orang-orang pergi ke masa lalu, meskipun tahu apa yang mereka lakukan tidak akan mengubah masa kini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Mei 2023, terinspirasi setelah membaca <em>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</em> karya Toshikazu Kawaguchi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold (Spoiler Version)</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 May 2023 13:55:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6500</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelumnya, Penulis sudah membuat artikel review tentang novel Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold. Nah, Penulis merasa kalau artikel tersebut belum terlalu menggambarkan bagaimana pendapat Penulis karena takut memberikan spoiler. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya Penulis pun membuat review kedua dari novel tersebut, di mana Penulis bisa menuliskan semua yang dirasakan selama membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold (Spoiler Version)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebelumnya, Penulis sudah membuat artikel <em>review </em>tentang novel <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/"><em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</em></a>. Nah, Penulis merasa kalau artikel tersebut belum terlalu menggambarkan bagaimana pendapat Penulis karena takut memberikan <em>spoiler</em>.</p>



<p>Oleh karena itu, untuk pertama kalinya Penulis pun membuat <em>review </em>kedua dari novel tersebut, di mana Penulis bisa menuliskan semua yang dirasakan selama membaca cerita-cerita sederhana yang getir dalam novel ini.</p>



<p>Kalau Pembaca berniat untuk membaca novel ini, Penulis sarankan jangan melanjutkan membaca karena artikel ini akan <em>full spoiler</em>. Kalau tidak keberatan, <em>monggo </em>dibaca sampai habis.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Cerita-Cerita Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</h2>



<p>Total ada empat cerita di dalam novel ini, di mana judul-judulnya terdengar sederhana saja. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, terdapat cerita yang cukup menyayat hati. Penulis yang hampir tidak pernah merasa terharu ketika membaca novel pun jadi merasakannya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">1. Kekasih</h3>



<p>Cerita yang pertama berfungsi sebagai perkenalan kepada pembaca bagaimana konsep <em>time travel </em>dalam novel ini berjalan. Untuk itu, kasus yang dibawa pun tidak terlalu berat dan tergolong ringan saja.</p>



<p>Karakter utama di sini adalah <strong>Fumiko Kiyokawa</strong>, seorang wanita karir yang harus menerima kenyataan kalau kekasihnya harus pergi ke luar negeri untuk mengejar impiannya. Sosoknya yang <em>tsundere </em>membuatnya tak bisa mengatakan apa yang ia ingin dikatakan saat berpisah.</p>



<p>Karena menyesal, Fumiko pun datang ke kafe Funiculi Funicula dengan harapan bisa menemui kekasihnya dan mengatakan hal yang sebenarnya. Untungnya, mereka berdua memang berpisah di kafe kecil tersebut.</p>



<p>Ketika bertemu di masa lalu, Fumiko pun baru menyadari kalau kekasihnya sebenarnya merasa minder dan khawatir kalau Fumiko akan tertarik dengan pria lain. Fumiko pun jadi tahu kalau yang ia perlu lakukan hanyalah menanti kekasihnya tersebut pulang.</p>



<p>Dengan ceritanya yang ringan, detail-detail seperti persyaratan pergi ke masa lalu pun bisa disajikan dengan lengkap di sini. Oleh karena itu, meskipun ceritanya biasa saja, fungsinya sebagai perkenalan mampu berjalan dengan baik.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2. Suami-Istri</h3>



<p><strong>Kotaro Fusagi</strong> menjadi sosok berikutnya yang memutuskan untuk pergi ke masa lalu di kafe Funiculi Funicula. Ia merupakan seorang perawat yang suaminya terkena Alzeimer, sehingga ia lupa kalau punya Kotaro sebagai istrinya.</p>



<p>Meskipun suaminya melupakannya, Kotaro tetap dengan sabar mampu merawatnya. Namun, ia penasaran dengan sebuah surat yang pernah ditulis oleh suaminya, tetapi belum pernah diberikan kepadanya. Itulah alasannya untuk pergi ke masa lalu ketika suaminya belum sakit.</p>



<p>Ternyata, sang suami telah menyadari penyakitnya dan mengkhawatirkan hal tersebut. Untuk itu, ia membuat surat yang mengharukan kepada Kotaro, di mana ia mengungkapkan semua perasaan cintanya, bahkan mempersilakan Kotaro pergi jika penyakit lupanya makin parah.</p>



<p>Baru di cerita kedua, <em>damage</em>-nya sudah cukup terasa. Penulis benar-benar merasa terhanyut dalam ceritanya dan merasakan simpati kepada sosok suami-istri ini. Penulis begitu terharu bagaimana hebatnya kesetiaan Kotaro kepada suaminya tersebut.</p>



<p>Sebelumnya, Kotaro memilih untuk dipanggil dengan nama depannya untuk tidak membingungkan suaminya. Setelah kembali dari masa lalu, ia dengan mantap ingin dipanggil dengan Fusagi juga, agar suaminya yakin kalau mereka memang sepasang suami-istri.</p>



<h3 class="wp-block-heading">3. Kakak-Adik</h3>



<p>Satu hal yang menarik dari novel ini adalah adanya semacam <em>clue </em>siapa yang akan pergi ke masa lalu selanjutnya di judul berikutnya. <strong>Yaeko Hirai</strong>, pemilik bar di depak kafe ini, telah diperlihatkan sejak cerita kedua ketika ia menghindari adiknya, Kumi.</p>



<p>Alasan Yaeko menghindari adiknya sendiri adalah karena dirinya tidak ingin pulang ke kampung halamannya dan melanjutkan usaha keluarga. Ia ingin hidup bebas, sehingga usaha keluarga tersebut diurus oleh adiknya.</p>



<p>Namun, saat Kumi hendak pulang setelah gagal menemui kakaknya, ia mengalami kecelakaan dan membuatnya tewas. Yaeko, meskipun terkesan cuek, ternyata menyimpan perasaan bersalah yang mendalam sehingga ingin pergi ke masa lalu dan menemui adiknya tersebut.</p>



<p>Dalam pertemuan tersebut, ia menyadari betapa adiknya menyayanginya, bahkan sempat terbesit pikiran untuk tidak kembali ke masa kini. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan melanjutkan kerja adiknya selama ini dalam melanjutkan usaha keluarga.</p>



<p>Dibandingkan dua cerita sebelumnya, cerita ketiga cukup terasa kelam karena baru ini pelanggan kafe pergi ke masa lalu untuk menemui orang yang telah meninggal. Jika tidak diingatkan, mungkin Yaeko akan terjebak di masa lalu selamanya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">4. Ibu dan Anak</h3>



<p>Sudah ada tiga pengunjung yang pergi ke masa lalu, tapi bagaimana jika yang pergi adalah pemilik kafenya sendiri? Kafe Funiculi Funicula dimiliki oleh Nagare Tokita, yang memiliki istri bernama <strong>Kei Tokita</strong>. Nah, Kei menjadi tokoh utama di cerita keempat ini.</p>



<p>Kei yang periang dan ceria sedang mengandung anak dari pernikannya dengan Nagare. Namun, muncul kekhawatiran kalau Kei yang secara fisik memang lemah mampu melahirkan anak tersebut tanpa kehilangan nyawanya.</p>



<p>Merasa dirinya tidak akan pernah berkesempatan untuk bertemu dengan anak yang dikandungnya, ia pun memutuskan untuk pergi ke masa depan untuk melihat anaknya setidaknya satu kali seumur hidup. Iya, kafe ini bisa membawa kita ke masa depan juga.</p>



<p>Sayangnya, terdapat kesalahan dalam prosesnya, sehingga Kei datang bukan di waktu yang telah ditentukan. Untungnya, ia tetap bertemu dengan anak perempuannya yang bernama <strong>Miki</strong>, yang awalnya terlihat canggung ketika bertemu dengan ibunya yang telah meninggal.</p>



<p>Sebelumnya, sosok Miki telah di-<em>tease </em>di cerita ketiga, di mana ia datang dari masa depan untuk bisa bertemu dan berfoto dengan ibunya. Nah, di cerita keempat ini kita kembali melihat Miki yang telah berusia belasan tahun.</p>



<p>Bisa dibayangkan betapa menyedihkannya cerita seorang ibu yang tahu dirinya akan meninggal bertemu dengan anaknya yang sudah beranjak remaja. Miki pun harus menerima kenyataan kalau wanita yang di depannya adalah orang yang melahirkannya di dunia.</p>



<p>Sebagai penutup, cerita ini benar-benar mampu memberikan akhir yang sangat mengharukan. Perasaan Penulis terasa diaduk-aduk dan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh karakter-karakter yang ada di dalam novel ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika membaca ringkasan cerita di atas, memang kisah-kisahnya terkesan sederhana. Namun, penulis buku ini, Toshikazu Kawaguchi, mampu memberikan dialog-dialog yang <em>ngena </em>dan mampu menghadirkan suasana dramatis yang kuat.</p>



<p>Tidak hanya itu, isi pikiran orang-orang yang pergi ke masa lalu pun berhasil digambarkan dengan baik. Kita jadi bisa merasakan berbagai macam dilema yang muncul ketika mereka berada di situasi yang pelik.</p>



<p>Selain itu, karakter Kazu Tokita, pembuat kopi yang mampu membawa peminumnya pergi ke masa lalu atau masa depan, juga masih terkesan misterius di novel ini. Di buku keduanya, <em><strong>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</strong></em>, barulah kisah Kazu terungkap.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Maret 2023, terinspirasi karena ingin menulis lebih banyak lagi tentang novel <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold (Spoiler Version)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Apr 2023 13:26:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6438</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pepatah memang menyebutkan don&#8217;t judge a book by its cover alias jangan menilai buku hanya dari sampulnya. Namun, sejujurnya Penulis beberapa kali membeli buku karena terpikat dengan sampulnya. Contoh terbarunya adalah novel Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold karya Toshikazu Kawaguchi yang akan Penulis bahas pada tulisan kali ini. Begitu melihatnya, langsung ada perasaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pepatah memang menyebutkan <em>don&#8217;t judge a book by its cover</em> alias jangan menilai buku hanya dari sampulnya. Namun, sejujurnya Penulis beberapa kali membeli buku karena terpikat dengan sampulnya.</p>



<p>Contoh terbarunya adalah novel <em><strong>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</strong></em> karya <strong>Toshikazu Kawaguchi</strong> yang akan Penulis bahas pada tulisan kali ini. Begitu melihatnya, langsung ada perasaan kalau Penulis harus membelinya.</p>



<p>Apa yang membuat Penulis menyukai sampul ini adalah gaya anime realis yang dimilikinya, salah satu <em>artstyle </em>yang Penulis sukai. Bahkan tak hanya satu, Penulis langsung membeli buku keduanya juga yang akan Penulis bahas di tulisan selanjutnya.</p>





<p>Tentu Penulis menyempatkan diri untuk membaca sinopsis singkat yang ada di bagian belakang buku. Ternyata, ada unsur supernatural dalam buku ini karena menceritakan sebuah kafe yang mampu membawa pengunjungnya pergi ke masa lalu.</p>



<p>Biasanya, Penulis menghindari genre-genre fantasi seperti ini. Namun, entah mengapa Penulis tetap terpikat dengannya. Intuisi Penulis benar, ini adalah salah satu novel dengan cerita paling bagus sekaligus paling menyayat hati!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</em></li>



<li>Penulis: Toshikazu Kawaguchi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keenam Belas</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 223 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020651927</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung sedikit di atas, novel ini berkisah tentang sebuah kafe tua nan kecil bernama Funiculi Funicula yang terletak di sebuah gang kecil di Tokyo. Kita bisa melihat ilustrasi kafe ini pada bagian sampul buku.</p>



<p>Yang istimewa dari kafe ini bukan dari kopi ataupun sajiannya, melainkan karena mampu membawa pengunjungnya pergi ke masa lalu, bahkan masa depan. Hanya saja, ada banyak syarat yang harus mampu dipenuhi oleh pelanggan.</p>



<p>Beberapa di antaranya adalah kita hanya bisa bertemu dengan seseorang di masa lalu/depan jika orang tersebut pernah mengunjungi kafe tersebut. Lalu, kita harus duduk di kursi tertentu dan tidak boleh berpindah tempat sekalipun, atau kita akan langsung diseret ke masa kini.</p>



<p>Masalahnya, kursi spesial tersebut kerap diduduki oleh roh hantu perempuan yang membaca novel. Katanya, itu terjadi karena pernah ada seseorang yang pergi ke masa lalu dan melebihi batas waktu yang telah ditentukan.</p>



<p>Seberapa lama waktu yang bisa kita gunakan untuk menjelajahi waktu? Ternyata tergantung dari kopi yang akan mengirimkan kita ke masa lalu tersebut. Kita harus &#8220;pulang&#8221; sebelum kopinya menjadi dingin, seperti yang tertera di judul buku ini.</p>



<p>Selain itu, kita juga harus memahami bahwa apapun yang kita lakukan di masa lalu tidak akan mengubah kenyataan yang akan terjadi hari ini. Konsepnya mirip dengan konsep <em>time travel </em>di film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-1-adegan-favorit/">Avengers: Endgame</a></em>.</p>



<p>Ribet? Jelas, apalagi yang akan kita lakukan di masa lalu tidak akan mengubah apapun.. Setelah mengetahui ada begitu banyak peraturan yang ada, banyak yang mengurungkan niatnya untuk pergi ke masa lalu. </p>



<p>Namun, tetap saja ada segelintir orang yang tetap yakin ingin melakukannya. Ada seorang perempuan yang ingin berbaikan dengan kekasihnya, ada seorang perawat yang ingin membaca surat yang dibuat oleh suaminya yang sakit.</p>



<p>Ada seorang kakak yang menemui adiknya untuk terakhir kalinya, dan ada seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak yang mungkin tidak akan pernah dijumpainya seumur hidup. Penulis tidak akan membocorkan detail kisah perjalanan mereka di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</h2>



<p>Awalnya Penulis mengira kalau buku ini merupakan sebuah kumpulan cerpen di mana kisah dari masing-masing babnya tidak memiliki keterkaitan. Ternyata, walau terkesan tidak memiliki kesinambungan, ada benang merah yang menyambungkannya.</p>



<p>Itu adalah salah satu poin plus dari novel ini, sehingga menghadirkan sedikit <em>plot twist </em>yang walaupun tidak terlalu mengejutkan, tetap memberikan <em>damage</em>. Apalagi, kisah-kisah yang terkandung di dalamnya terasa nyata dan bisa saja terjadi pada kehidupan kita.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Konsep Time Travel yang Disederhanakan</h3>



<p>Ketika membaca cerita pertama tentang seorang perempuan yang ingin berbaikan dengan kekasihnya, Penulis masih merasa biasa saja. &#8220;Oh, begini konsep <em>time travel</em>-nya,&#8221; begitu pikir Penulis. </p>



<p>Namun, begitu masuk ke cerita kedua, emosi Penulis langsung dibuat naik turun tak karuan. Seumur hidup, rasanya baru kali ini Penulis berhasil dibuat terharu oleh sebuah novel. Masalahnya, cerita ketiga dan keempat <em>damage</em>-nya lebih besar lagi.</p>



<p>Meskipun memiliki konsep <em>time travel</em>, sama sekali tidak ada penjelasan ilmiah mengapa hal tersebut bisa terjadi. Tidak dijelaskan juga bagaimana kopi buatan kafe tersebut bisa mengirimkan orang pergi ke masa lalu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kisah-Kisah yang Sederhana, tapi Bermakna</h3>



<p>Menurut Penulis, menyederhanakan konsep <em>time travel</em> adalah upaya sang penulis buku ini untuk menyederhanakan cerita. Tanpa perlu tahu pun, kita masih bisa menikmati ceritanya. Memang tidak masuk akal, tapi bukan rasionalitas yang menjadi kekuatan utama buku ini.</p>



<p>Buku ini justru ingin memberi tahu kita tentang hal-hal sepele yang mungkin selama ini kita abaikan, dan baru merasa menyadari hal tersebut ternyata penting setelah kita kehilangannya. Tiga cerita di awal berpusat pada konsep tersebut.</p>



<p>Lalu, bagaimana dengan yang terakhir? Cerita terakhir bisa dibilang mengandung bawang yang paling banyak. Karena takut terlalu membocorkan kisahnya, Penulis hanya bisa bilang kalau cerita keempat menjadi satu-satunya yang pergi ke masa depan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Apakah Ada Kekurangannya? </h3>



<p>Jika disuruh mencari kekurangan dari buku ini, mungkin Penulis akan menyebutkan kalau nama-nama karakter yang ada di dalamnya membutuhkan waktu agar Penulis bisa menghafalnya. </p>



<p>Bahkan, ada beberapa karakter yang awalnya Penulis kira laki-laki, ternyata perempuan. Namun, itu hanya kekurangan minor yang terjadi karena ketidakmampuan Penulis dalam menghafal karakternya dengan cepat.</p>



<p>Jika disuruh memilih, Penulis paling menyukai karakter Kazu Tokita yang misterius dan senantiasa tidak menunjukkan emosinya. Sedikit <em>spoiler</em>, ia adalah pramusaji di kafe tersebut yang bertugas membuat kopi bagi pelanggan yang ingin pergi ke masa lalu.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Sejujurnya masih ada banyak hal yang ingin Penulis sampaikan terkait novel ini. Namun, Penulis khawatir jika akan memberikan <em>spoiler </em>terlalu banyak. Mungkin saja, Penulis akan memberikan versi <em>full spoiler </em>pada tulisan selanjutnya jika ingin menulisnya.</p>



<p>Untuk saat ini, rasanya sudah cukup ulasan yang Penulis berikan untuk novel ini. Sudah lama Penulis tidak menemukan kepuasan setelah menamatkan novel seperti ini. Jelas, <em>Funiculi Funicula </em>akan menjadi salah satu novel terbaik versi Penulis.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 12 April 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold </em>karya Toshikazu Kawaguchi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kecemasan Itu Respons Alami dari Tubuh, kok</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2022 13:20:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[kecemasan]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5845</guid>

					<description><![CDATA[<p>Coba cari posisi membaca yang paling nyaman, karena Penulis ingin mengajak Pembaca sekalian mengingat-ingat masa lalunya. Cari tempat yang tenang dan minim distraksi. Tak perlu terburu-buru, santai saja. Silakan, Penulis akan menunggu dengan sabar. Sudah? Kalau sudah, mari kita sama-sama bersiap diri untuk melakukan perjalanan lintas waktu, ketika masalah rasanya belum sesulit saat ini. Kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/">Kecemasan Itu Respons Alami dari Tubuh, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Coba cari posisi membaca yang paling nyaman, karena Penulis ingin mengajak Pembaca sekalian mengingat-ingat masa lalunya. Cari tempat yang tenang dan minim distraksi. Tak perlu terburu-buru, santai saja. Silakan, Penulis akan menunggu dengan sabar.</p>



<p>Sudah? Kalau sudah, mari kita sama-sama bersiap diri untuk melakukan perjalanan lintas waktu, ketika masalah rasanya belum sesulit saat ini. Kita kembali ke saat-saat di mana kecemasan yang kita rasakan belum seberat saat ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Menengok Kecemasan di Masa Lalu</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5852" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Masih Jarang Merasa Cemas (<a href="https://unsplash.com/@robbie36">Robert Collins</a>)</figcaption></figure>



<p>Coba ingat ketika kita masih duduk di bangku sekolah. Apa  yang sering kita cemaskan sebagai seorang siswa ketika duduk di bangku SD? Mungkin tidak mengerjakan tugas, takut dimarahi guru karena nakal, dan masalah anak-anak lainnya. </p>



<p>Beranjak ke SMP, masalah akan semakin bertambah. Harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, benih-benih cinta mulai muncul, tawuran antar sekolah, adalah beberapa masalah yang bisa saja menjadi sumber kecemasan.</p>



<p>Bagaimana ketika sudah duduk di bangku SMA? Di fase ini, biasanya kita sudah mulai merasa dewasa dan mulai menemukan jati diri. Seringnya, sumber kecemasan paling besar akan menjelang kelulusan.</p>



<p>Alasannya, setelah lulus kita akan langsung dihadapkan banyak pilihan: Mau lanjut kuliah atau kerja? Kalau kuliah, kuliah apa dan di mana? Kalau kerja, mau kerja apa? Keputusan di momen ini seolah akan menjadi penentu masa depan kita untuk sukses atau tidak.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="h3IIOK6ooa"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja di Mana?</a></blockquote><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Dulu Kerja di Mana?&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/embed/#?secret=h3IIOK6ooa" data-secret="h3IIOK6ooa" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Di fase-fase usia 20-an, kecemasan yang timbul pun semakin bervariasi. Masalah di kerja, percintaan, bagaimana masyarakat yang cenderung kompetitif, adanya standar masyarakat yang seolah harus dipenuhi, dan masih banyak lagi.</p>



<p>Ketika sudah menikah, kecemasan yang muncul pun akan semakin bertambah. Mencemaskan masa-masa pensiun nanti, gaji yang terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kekhawatiran anaknya akan salah pergaulan, dan seabrek masalah lainnya.</p>



<p>Nah, saat memasuki usia senja, biasanya kita sudah mulai bijak dalam menyikapi kehidupan. Banyaknya pengalaman hidup yang telah dilalui membuat kita bisa menanggapi kecemasan dengan lebih baik lagi. Kecemasan masih ada, tapi kita bisa mengendalikannya lebih baik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Semakin Bertambah Usia, Semakin Bertambah Kecemasan yang Dirasakan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5853" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tingkat Kecemasan yang Dimiliki Semakin Kompleks (<a href="https://unsplash.com/@elisa_ventur">Elisa Ventur</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari ilustrasi di atas, kita bisa menyimpulkan kalau <strong>semakin bertambah usia, semakin berat masalah yang akan kita hadapi</strong>. Sekarang bukan hanya memikirkan PR yang belum dikerjakan, melainkan bagaimana cara mencari uang untuk membayar tagihan bulanan.</p>



<p>Dulu kita tidak perlu pusing mencari uang untuk membeli cilok karena dikasih uang jajan oleh orang tua. Sekarang, kita sudah tidak bisa bergantung lagi ke orang tua. Tuntutan untuk punya <em>skill </em>dan relasi agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak menjadi sebuah kewajiban.</p>



<p>Kita juga bisa menyimpulkan, kalau<strong> </strong>kecemasan (atau <em>anxiety</em>) adalah hal yang sering kita alami dalam semua fase kehidupan kita. <strong>Semakin bertambah usia, semakin banyak pula kecemasan yang akan datang menghampiri kita</strong>.</p>



<p>Biasanya, hal ini akan dipicu oleh ketidakpastian yang membuat kita merasa tidak tahu apa yang akan terjadi. Penulis akan berusaha untuk memberikan contoh dari pengalaman pribadinya selama ini.</p>



<p>Ketika lulus dari bangku kuliah, Penulis belum ada bayangan akan kerja sebagai apa karena merasa <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">salah jurusan sampai lulus</a>. Butuh satu tahun lebih sampai Penulis mendapatkan pekerjaan formal, setelah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">berkali-kali gagal mendapatkan beasiswa</a> S2 di luar negeri.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="1gtRIY0yxt"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">Pengalaman Mengejar Beasiswa (dan Gagal Empat Kali)</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Pengalaman Mengejar Beasiswa (dan Gagal Empat Kali)&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/embed/#?secret=1gtRIY0yxt" data-secret="1gtRIY0yxt" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis merasa<strong> tidak tahu harus berbuat apa</strong>. Entah berapa lama Penulis terjebak dalam ketidakpastian, takut dengan kenyataan dan masa depan yang harus dihadapi. Penulis merasa gagal dalam hidupnya dan hanya menjadi beban dalam keluarga.</p>



<p>Lantas, Penulis memutuskan harus berbuat sesuatu untuk menghalau kecemasan-kecemasan dan segala pikiran negatif tersebut. Setelah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">ditolak NET TV</a>, Penulis memutuskan untuk membantu di tempat kerja ayah. </p>



<p>Dari sana, ternyata ada titik-titik yang terhubung hingga membawa Penulis di titik yang sekarang. Seolah semuanya ternyata <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">memiliki benang merah</a>. Padahal, awalnya hal-hal yang Penulis alami rasanya tidak memiliki keterkaitan sama sekali.</p>



<p>Penulis pun sampai sekarang masih sering merasa cemas. Cemas akan prospek karir di masa depan, cemas karena belum bisa memberikan apa-apa ke orang tua, cemas ditinggal orang-orang yang disayangi, cemas akan hidup sendirian tanpa pasangan, dan lain-lainnya.</p>



<p>Apalagi, Penulis adalah tipe <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">orang yang mudah <em>overthinking</em></a>, terutama menjelang tidur. Ada saja pikiran-pikiran yang lewat dan menghalau kantuk datang. Ada saja hal-hal yang akan membuat Penulis merasa cemas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kecemasan Itu Bentuk Respons Alami dari Tubuh</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5856" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Merasa Cemas Itu Wajar Kok (<a href="https://unsplash.com/@armedshutter">Ayo Ogunseinde</a>)</figcaption></figure>



<p>Apakah wajar jika kita merasa cemas? Sangat wajar, karena pada dasarnya <strong>kecemasan adalah bentuk respons alami dari tubuh</strong> <strong>yang berfungsi sebagai pengingat</strong>. Kalau kita tidak pernah merasa cemas, justru bahaya.</p>



<p>Mungkin ketika kita masih SD, kecemasan karena tidak mengerjakan tugas tidak begitu parah. &#8220;<em>Halah, paling nanti dimarahi sama guru.</em>&#8221; Ketika diputuskan oleh pacar, kita bisa mengatasi kecemasan dengan berkata, &#8220;<em>Halah, bisa cari pacar baru lagi</em>.&#8221;</p>



<p>Ketika beranjak dewasa, kecemasan sudah tidak bisa diabaikan begitu saja. Contoh, kita merasa cemas akan masa depan setelah lulus sekolah. Kalau kecemasan seperti ini diabaikan, yang ada kita akan jadi bermalas-malasan dan menganggap enteng semua masalah. </p>



<p>&#8220;<em>Buat apa kuliah/kerja, toh masih bisa hidup enak dari uang pemberian orang tua. Lebih baik hidup bebas dengan melakukan hal yang kita suka, seperti <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">rebahan dan main </a></em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">game</a><em>. Cari duitnya nanti aja.</em>&#8220;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="rDHYlvPyC6"><a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">Menjadi Dewasa Itu&#8230;</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Menjadi Dewasa Itu&#8230;&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/embed/#?secret=rDHYlvPyC6" data-secret="rDHYlvPyC6" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Saat kita beranjak dewasa, kecemasan sudah harus ditindaklanjuti <strong>dengan melakukan sesuatu untuk mengatasi kecemasan tersebut</strong>. Dengan merasa cemas, kita pun memiliki semacam dorongan untuk berbuat sesuatu karena tubuh telah memberi sinyal: </p>



<p>&#8220;<em>Hei, <a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">kamu itu sudah dewasa</a>, harus mulai hidup mandiri dan bisa cari uang sendiri. Makanya cari kerja sana, belajar </em>skill<em> baru, mau sampai kapan jadi beban orang tua!</em>&#8220;</p>



<p>Tanpa adanya kecemasan, mungkin kita tidak akan pernah bisa berkembang dan menjadi lebih baik. Untuk itu, memiliki kecemasan sebenarnya adalah hal yang positif karena ia hadir sebagai pengingat kita untuk berbuat sesuatu.</p>



<p>Kecemasan akan menjadi buruk kalau kita tidak berbuat apa-apa untuk mengatasinya. Merasa cemas, tapi <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/bahaya-mager-dan-apatis/">mager</a> </em>untuk melakukan sesuatu yang bisa menghilangkan kecemasan tersebut. Kecemasan akan jadi hal buruk jika kita hanya larut terus dalam pemikiran kita sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis saat ini merasa cemas karena dirinya belakangan ini mudah sakit. Kecemasan ini akan sia-sia jika Penulis merasa tidak mengubah gaya hidupnya. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membiasakan diri <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ritual-untuk-bangun-pagi/">bangun pagi</a> dan lebih rutin berolahraga.</p>



<p>Contoh yang lain, Penulis merasa cemas dengan prospek masa depan karirnya. Bagaimana nanti kalau begini-begini saja tanpa ada perkembangan? Rasa cemas tersebut mendorong Penulis untuk belajar <em>skill-skill </em>baru yang akan bermanfaat di dunia kerja.</p>



<p>Terakhir, Penulis cemas tidak akan menikah karena terlalu lama sendiri. Penulis cemas tidak akan ada yang mau dengan Penulis. Cara mengatasinya, ya berusaha memantaskan diri untuk dia yang akan datang di waktu yang tepat.</p>



<p>Dengan adanya kecemasan-kecemasan tersebut, Penulis terdorong untuk melakukan sesuatu yang akan berdampak baik bagi Penulis. Tanpa adanya kecemasan, mungkin hidup Penulis akan begitu-begitu saja tanpa ada perubahan yang signifikan.</p>



<p>Kita sudah semakin dewasa, dengan masalah yang semakin kompleks. Dunia ini memang keras dan tidak adil, sehingga kecemasan dari berbagai penjuru akan selalu datang menghampiri kita. </p>



<p>Pertanyaannya, mau kita apakan rasa cemas tersebut? Berbuat sesuatu untuk menghilangkan kecemasan tersebut, atau memilih untuk diam dan terus dihantui oleh kecemasan tersebut? Kita sendiri yang memutuskan.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 4 Agustus 2022, terinspirasi dari dirinya sendiri yang masih sering merasa cemas akan ketidakpastian</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@keaneyefoto">Hailey Kean</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/">Kecemasan Itu Respons Alami dari Tubuh, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Doraemon dan Prediksi Kerusakan Planet</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2020 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Doraemon]]></category>
		<category><![CDATA[Fujiko F. Fujio]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[prediksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4162</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak seperti orang lain yang marathon drama Korea ataupun anime, Penulis sedang marathon komik Doraemon. Tidak ada alasan khusus, lagi ingin saja sekalian nostalgia. Bukan serial yang merupakan kumpulan cerita-cerita pendek, melainkan versi Petualangan yang totalnya ada 24 volume. Kebetulan, adik punya koleksi lengkap komik Doraemon. Ada satu hal yang menggelitik sanubari Penulis ketika membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet/">Doraemon dan Prediksi Kerusakan Planet</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tidak seperti orang lain yang marathon drama Korea ataupun anime, Penulis sedang <strong>marathon komik Doraemon</strong>. Tidak ada alasan khusus, lagi ingin saja sekalian nostalgia.</p>



<p>Bukan serial yang merupakan kumpulan cerita-cerita pendek, melainkan versi Petualangan yang totalnya ada 24 volume. Kebetulan, adik punya koleksi lengkap komik Doraemon.</p>



<p>Ada satu hal yang menggelitik sanubari Penulis ketika membaca komik-komik Doraemon. Sang author,<strong> Fujiko F. Fujio</strong>, kerap menyisipkan pesan mengenai <strong>potensi kerusakan planet</strong> kita tercinta.</p>



<h3>Masa Depan yang Mengkhawatirkan</h3>



<p>Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Doraemon merupakan robot kucing dari abad 22. Ia pergi ke masa lalu untuk menolong Nobita yang, yah sudah tahu sendiri lah. Karena bertemu dengan Doraemon, Nobita kerap melakukan petualangan lintas galaksi dan lintas waktu.</p>



<p>Nah, ada beberapa judul yang menggambarkan kerusakan sebuah planet karena kesalahan manusia ataupun kekhawatiran &#8220;penduduk lain&#8221; akan kerusakan planet yang semakin berbahaya.</p>
<div id="attachment_4164" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4164" class="size-large wp-image-4164" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4164" class="wp-caption-text">Doraemon dan Planet Binatang (<a href="https://www.themoviedb.org/movie/161707-doraemon-nobita-to-animaru-puranetto/images/backdrops">The Movie Database</a>)</p></div>



<p>Contohnya adalah Doraemon Petualangan Vol. 10 yang berjudul <strong>Nobita dan Planet Binatang</strong>. Di sini diceritakan Nobita tanpa sengaja berpergian ke sebuah planet yang dihuni oleh binatang.</p>
<p>Semua binatang yang hidup di sana ternyata telah berevolusi sehingga dapat berbicara. Singkat cerita, planet ini tiba-tiba diserang oleh makhluk planet lain yang disebut Nimuge.</p>
<p>Ternyata, pasukan Nimuge berwujud manusia yang iri dengan planet binatang yang indah karena planetnya sendiri hancur dan menjadi tandus karena kecerobohan para pendahulunya.</p>
<div id="attachment_4165" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4165" class="size-large wp-image-4165" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4165" class="wp-caption-text">Nobita dan Kerajaan Awan (<a href="https://movieo.me/movies/doraemon-nobita-and-the-kingdom-of-clouds-hgbjcy">Movieo</a>)</p></div>
<p>Di komik Doraemon Petualangan Vol. 12 yang berjudul <strong>Nobita dan Kerajaan Awan</strong>, diceritakan Nobita dan kawan-kawan menemukan kerajaan awan.</p>
<p>Tak disangka para penduduk kerajaan awan memiliki Rencana Noa yang akan menurunkan air bah ke Bumi agar tidak terus dirusak dan dikotori oleh manusia.</p>
<p>Para penduduk awan menganggap Bumi telah mengalami krisis dengan pemborosan sumber daya alam, mengepulkan polusi, merusak ozon, mencemari lautan, pembuatan senjata nuklir, dan lain sebagainya.</p>
<div id="attachment_4166" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4166" class="size-large wp-image-4166" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4166" class="wp-caption-text">Nobita di Dunia Mainan (<a href="https://movieo.me/movies/doraemon-nobita-and-the-spiral-city-jcdbbk">Movieo</a>)</p></div>
<p>Selain itu, di komik Doraemon Petualangan Vol. 17 yang berjudul <strong>Nobita di Dunia Mainan</strong>, Nobita tanpa sengaja mendarat di sebuah planet kosong yang akhirnya menjadi tempat tinggal para mainan yang dihidupkan dengan alat milik Doraemon.</p>
<p>Ketika Nobita jatuh ke dalam tebing, ia bertemu dengan &#8220;pencipta&#8221; planet tersebut. Di sana, ia mengatakan bahwa dirinya yang membawa &#8220;benih kehidupan&#8221; ke Bumi dan berhasil, tidak seperti planet Mars yang gagal.</p>
<p>Walaupun begitu, ia berkata bahwa manusia Bumi mulai bertingkah laku seenaknya. Penghancuran lingkungan karena perang dan pencemaran dianggap berpotensi merusak planet yang telah ia buat.</p>
<div id="attachment_4167" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4167" class="size-large wp-image-4167" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4167" class="wp-caption-text">Petualangan Nobita di Luar Angkasa (<a href="https://www.flixwatch.co/movies/doraemon-the-movie-nobita-drifts-in-the-universe/">Flixwatch</a>)</p></div>
<p>Ada juga cerita di komik Doraemon Petualangan Vol. 19 yang berjudul <strong>Petualangan Nobita di Luar Angkasa</strong>. Nobita bertemu dengan penduduk planet Laguna yang menjadi pengembara antariksa.</p>
<p>Alasannya, 300 tahun yang lalu semua penduduk meninggalkan planet karena tidak dapat dihuni lagi. Peradaban yang terlalu maju membuat perubahan pada lingkungan sehingga tumbuhan pn menjadi layu.</p>
<p>Akibatnya, para penduduk planet tidak bisa berjalan ke luar tanpa alat bantu pernapasan. Manusia yang tersisa memutuskan untuk membangun kapal induk yang besar dan mencari planet baru yang dapat dihuni.</p>



<h3>Jika Sekarang Perang?</h3>



<p>Selain membaca komik Doraemon, Penulis juga sedang membaca buku <strong><em>Perang Eropa Jilid I</em></strong> karya <strong>P. K. Ojong</strong>. Buku tersebut mengulas Perang Dunia II di benua Eropa dengan cukup mendetail.</p>
<div id="attachment_4168" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4168" class="size-large wp-image-4168" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4168" class="wp-caption-text">Tank Canggih Jepang (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=q6MSZEvwm-4">YouTube</a>)</p></div>



<p>Melalui buku tebal itu, Penulis jadi tahu kalau senjata dan armada yang digunakan pada tahun 40an sudah sangat canggih. Setelah 80 tahun berselang, Penulis pun membayangkan sudah secanggih apa senjata sekarang?</p>



<p>Jika dihubungkan dengan komik Doraemon, bisa saja senjata yang ada sekarang sudah melampaui senapan angin ataupun alat kamuflase yang canggih. Kecanggihan senjata sekarang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Fujiko.</p>



<p>Teman Penulis mengatakan bahwa perang senjata sudah tidak dibutuhkan di era digital seperti sekarang. Media sosial sudah cukup untuk menjadi alat propaganda dan memengaruhi massa dalam jumlah yang masif.</p>



<p>Walaupun begitu, ancaman senjata bukannya tidak mungkin terjadi. Senjata nuklir, drone tanpa awak, bom kimiawi yang mematikan, entah ada apa lagi yang bisa saja mengancam kita sewaktu-waktu.</p>
<h3>Penutup</h3>



<p><em>Fyi</em>, komik-komik tersebut kebanyakan dirilis pada tahun 80 hingga 90-an. Anehnya, masih banyak hal yang relevan hingga saat ini, termasuk potensi kerusakan planet yang semakin mengkhawatirkan.</p>
<p>Fujiko F. Fujio patut dipuji karena sosoknya yang visioner.  Jika perang benar-benar terjadi lagi, bukan tidak mungkin kerusakan planet yang diceritakan di komik-komik Doraemon akan terjadi sungguhan.</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>Lawang, 30 November 2020, terinspirasi setelah membaca komik-komik Doraemon Petualangan</p>



<p>Foto: <a href="https://screenrant.com/doraemon-best-manga-series/">Screenrant</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet/">Doraemon dan Prediksi Kerusakan Planet</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/doraemon-dan-prediksi-kerusakan-planet/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hidup untuk Hari Ini</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2020 13:10:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[beban]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kini]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[saat ini]]></category>
		<category><![CDATA[trauma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4134</guid>

					<description><![CDATA[<p>Terkadang dalam hidup ini, kita terlalu fokus pada dua hal: Masa lalu Masa depan Tak jarang masa lalu membebani kita di masa kini. Kejadian yang sudah berlalu ternyata bisa memengaruhi aktivitas kita sehari-hari. Beberapa contohnya antara lain: &#8220;Duh, aku dulu sering di-bully sama teman-teman sekolah, makanya sekarang jadi takut mau kenalan sama orang baru.&#8221; &#8220;Duh, aku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/">Hidup untuk Hari Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Terkadang dalam hidup ini, kita terlalu fokus pada dua hal:</p>
<ol>
<li>Masa lalu</li>
<li>Masa depan</li>
</ol>
<p>Tak jarang masa lalu membebani kita di masa kini. Kejadian yang sudah berlalu ternyata bisa memengaruhi aktivitas kita sehari-hari. Beberapa contohnya antara lain:</p>
<ul>
<li>&#8220;Duh, aku dulu sering di-<em>bully </em>sama teman-teman sekolah, makanya sekarang jadi takut mau kenalan sama orang baru.&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, aku dulu sering dipukul sama orangtua, makanya takut mau nikah karena takut anakku mengalami hal yang sama.&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, aku trauma karena dulu pernah diperkosa sama paman sendiri, makanya aku takut sama laki-laki.&#8221;</li>
</ul>
<p>Sebaliknya, masa depan kerap membuat kita merasa cemas. Seringkali, secara berlebihan. Kita taku akan sesuatu yang belum tentu akan terjadi di masa mendatang. Contohnya:</p>
<ul>
<li>&#8220;Duh, kalo aku sakit terus mati gimana, ya?&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, negara kok gini-gini amat ya, gimana caranya hidup ya?&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, kalo besok hasil tesku jelek gimana, ya?&#8221;</li>
</ul>
<p>Memikirkan dua hal ini sangat manusiawi. Penulis sampai detik ini juga masih sering melakukannya. Hanya saja, kalau terlalu berlebihan efeknya bisa berbahaya.</p>
<p><strong>Kita jadi lupa untuk menjalani hidup saat ini.</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Beban-beban di masa lalu (kerap bersifat traumatis) memang susah untuk diobati. Bahkan, seringkali membutuhkan uluran tangan profesional.</p>
<p>Hanya saja, sebisa mungkin jangan sampai kejadian-kejadian di masa lalu <strong>menghambat langkah kita untuk maju</strong>.</p>
<p>Jangan karena pernah diselingkuhi berkali-kali, kita jadi takut untuk jatuh cinta karena tidak mau tersakiti lagi.</p>
<p>Di sisi lain, mencemaskan masa depan sebenarnya bagus sebagai peringatan di sendiri agar diri kita lebih siap menghadapi situasi terburuk.</p>
<p>Hanya saja, <strong>kecemasan itu akan menjadi percuma</strong> kita kitanya malah rebahan sepanjang hari di saat sekarang.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Untuk itu, cobalah untuk <strong>menikmati hari ini</strong>, saat ini, detik ini. Rasakan bergulirnya waktu secara konsisten, menyadari bahwa kehadiran kita adalah sesuatu yang nyata.</p>
<p>Coba lupakan sejenak beban masa lalu dan kecemasan yang kerap menggantung di pikiran. Coba renungkan, apa yang bisa kita lakukan sekaran agar hari ini menjadi bermakna.</p>
<p>Coba tingkatkan kesadaran diri (<em>self-awareness</em>), selami batin demi lebih mengenal diri sendiri. Coba syukuri apapun yang selama ini terlewat dan terabaikan.</p>
<p>Coba lakukan itu semua, karena beban masa lalu dan kecemasan masa depan akan menjadi percuma, <strong>jika kita tidak hadir untuk saat ini.</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kita semua berbeda. Ada yang hidupnya gitu-gitu aja, ada yang naik turun sekali, ada yang kerap mengalami kejadian luar biasa, ada yang sering merasa jenuh, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kemampuan kita untuk menghadapi masalah pun berbeda-beda. Ada yang tangguh bagaikan karang di pantai, ada juga yang kurang bisa menghadapi masalah.</p>
<p>Yang manapun kita, tidak ada salahnya untuk menikmati hari ini, sepahit apapun. Pasti ada sisi positif dari suatu kejadian yang pernah, sedang, atau akan menimpa kita.</p>
<p>Berat? Pasti. Tapi bisa kok. Yuk, jalani hidup hari ini dengan semangat dan <a href="https://whathefan.com/karakter/jangan-lupa-bahagia/">jangan lupa bahagia</a>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang,  17 November 2020, terinspirasi setelah membaca Bab 4 buku filsafat ringan yang judulnya panjang sekali itu.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@seteph">Allef Vinicius</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/">Hidup untuk Hari Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menengok ke Belakang karena 10-Year Challenge</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menengok-ke-belakang-karena-10-year-challenge/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menengok-ke-belakang-karena-10-year-challenge/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2019 16:05:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[10yearchallenge]]></category>
		<category><![CDATA[challenge]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2078</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, media sosial riuh dengan sebuah tantangan baru berjudul #10yearchallenge. Inti dari tantangan tersebut adalah kita harus mengunggah foto kita 10 tahun yang lalu dan membandingkannya dengan foto kita di masa kini. Penulis tidak ikut mengunggah foto demi tantangan tersebut. Bukan karena ingin dibilang tidak latah, hanya saja penulis terlalu malas untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menengok-ke-belakang-karena-10-year-challenge/">Menengok ke Belakang karena 10-Year Challenge</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, media sosial riuh dengan sebuah tantangan baru berjudul <strong>#10yearchallenge</strong>. Inti dari tantangan tersebut adalah kita harus mengunggah foto kita 10 tahun yang lalu dan membandingkannya dengan foto kita di masa kini.</p>
<p>Penulis tidak ikut mengunggah foto demi tantangan tersebut. Bukan karena ingin dibilang tidak latah, hanya saja penulis terlalu malas untuk mencari foto-foto lawas. Apalagi, penulis bukan tipe orang yang suka difoto.</p>
<h3>Manfaat 10-Year Challenge</h3>
<p>Walaupun tidak ikut berpartisipasi, penulis tetap mengamati hal ini. Penulis pernah menulis panjang lebar tentang kurang bermanfaatnya <em>challenge-challenge </em>tersebut pada tulisan <a href="http://whathefan.com/karakter/untuk-apa-viral/">Untuk Apa Viral</a>.</p>
<p><div id="attachment_2081" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2081" class="size-large wp-image-2081" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck-1024x700.jpg" alt="" width="800" height="547" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck-1024x700.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck-768x525.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck-130x90.jpg 130w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Zuck-vs-Zuck.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2081" class="wp-caption-text">#10yearchallenge (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.wired.com/story/facebook-10-year-meme-challenge/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiWzO3Mnf_fAhWKrI8KHTcFBDsQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wired</span></a>)</p></div></p>
<p>Akan tetapi, penulis bisa melihat sisi positif dari tantangan yang satu ini, tidak seperti tantangan jatuh dari mobil yang hingga kini tidak bisa penulis temukan manfaatnya, selain pamer mobil mewah yang dimiliki oleh peserta tantangan.</p>
<p>Dengan melihat foto lama kita dan menyebarkannya di media sosial, mau tidak mau kita akan menjadi teringat masa-masa lalu itu. Nostalgia sejenak mungkin akan membantu kita melepaskan ketegangan dari penatnya rutinitas.</p>
<p>Akan tetapi, manfaat terbesar dari tantangan ini, jika kita sadar, adalah membuat kita merenungi apa saja yang telah kita lakukan selama sepuluh tahun terakhir ini. Lebih banyak hal bermanfaatnya atau malah lebih banyak <em>mudharat-</em>nya<em>.</em></p>
<h3>Penulis, 10 Tahun yang Lalu</h3>
<p>10 tahun yang lalu, penulis masih duduk di bangku SMP yang akan masuk ke SMA. Selain menjalani kegiatan sekolah seperti siswa pada umumnya, penulis juga ikut beberapa organisasi seperti OSIS <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/alasan-dan-prioritas/">meskipun tidak terlalu aktif</a>.</p>
<p>Setelah lulus SMA, penulis melanjutkan kuliah jurusan Informatika di Universitas Brawijaya. Sama seperti ketika sekolah, penulis juga mengikuti beberapa organisasi mulai dari Pers Kampus hingga Kelompok Riset Mahasiswa.</p>
<p>Lantas, penulis menjalani kehidupan yang sebenarnya, seperti yang sudah penulis ceritakan pada tulisan <a href="http://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja Di Mana</a>. Dan pada akhirnya, di sinilah penulis berdiri sekarang.</p>
<h3>Hasil Menengok ke Belakang</h3>
<p>Satu hal yang paling penulis sesali dari 10 tahun tersebut adalah ketika teringat betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia. Penulis kerap menonton acara <em>Runningman </em>ataupun bermain game PES 2013 selama berjam-jam.</p>
<p>Hal tersebut sangatlah tidak produktif. Penulis kerap berandai-andai, seandainya saja waktu itu penulis bisa memanfaatkan waktu lebih baik, mungkin saja kehidupan penulis sekarang bisa lebih baik. Bisa jadi penulis sudah berada di Reading untuk melanjutkan studi.</p>
<p><div id="attachment_2080" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2080" class="size-large wp-image-2080" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1435575709442-063fe08e935f-1024x501.jpg" alt="" width="800" height="391" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1435575709442-063fe08e935f-1024x501.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1435575709442-063fe08e935f-300x147.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1435575709442-063fe08e935f-768x375.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1435575709442-063fe08e935f.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2080" class="wp-caption-text">Penyesalan (<a href="https://unsplash.com/@verneho">Verne Ho</a>)</p></div></p>
<p>Akan tetapi, penulis juga sadar, tidak ada gunanya merutuk masa lalu. Yang bisa kita ubah adalah masa depan, dan masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan di masa kini.</p>
<p>Memang terkadang masa lalu bisa ikut campur bahkan merusak apa yang tengah kita lakukan. Akan tetapi penulis selalu meyakini bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha yang sudah kita keluarkan.</p>
<p>Kalaupun <em>output </em>yang kita harapkan tidak terjadi, percayalah bahwa itu pertanda akan ada keberhasilan dalam bentuk lain yang seringkali tidak kita sangka. Yang lebih tahu mengenai apa yang terbaik untuk kita adalah Tuhan, maka berbaiksangkalah kepada-Nya.</p>
<p>Penulis menyadari kesalahan membuang-buang waktu di masa lalu, maka penulis harus bisa memanfaatkan waktu yang dimiliki sekarang sebaik mungkin. Mengulang kesalahan yang sama akan membuat penulis termasuk orang yang merugi.</p>
<p>Dengan menengok ke belakang, kita bisa melakukan interopeksi diri. Kita bisa belajar dari pengalaman di masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. <em>Every cloud has a silver lining</em>. Semua selalu ada hikmahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Januari 2019, terinspirasi dari #10yearchallenge</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/P6tBU2aqdW8?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Hannah Busing</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menengok-ke-belakang-karena-10-year-challenge/">Menengok ke Belakang karena 10-Year Challenge</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menengok-ke-belakang-karena-10-year-challenge/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Transformasi Budaya Microsoft Pada Hit Refresh</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/transformasi-budaya-microsoft-pada-hit-refresh/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/transformasi-budaya-microsoft-pada-hit-refresh/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2018 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Satya Nadella]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1491</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelum melihat buku ini di Togamas Parahyangan, Bandung, penulis tidak tahu bahwa Steve Ballmer selaku CEO dari Microsoft telah diganti oleh orang India bernama Satya Nadella. Karena penasaran dengan Micosoft dan perkembangannya akhir-akhir ini, penulis memutuskan untuk membeli buku ini. Apa Isi Buku Ini? Secara garis besar, buku ini menerangkan tentang transformasi budaya Microsoft sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/transformasi-budaya-microsoft-pada-hit-refresh/">Transformasi Budaya Microsoft Pada Hit Refresh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum melihat buku ini di Togamas Parahyangan, Bandung, penulis tidak tahu bahwa Steve Ballmer selaku CEO dari Microsoft telah diganti oleh orang India bernama Satya Nadella. Karena penasaran dengan Micosoft dan perkembangannya akhir-akhir ini, penulis memutuskan untuk membeli buku ini.</p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Secara garis besar, buku ini menerangkan tentang transformasi budaya Microsoft sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia. Bagaimana sang CEO berusaha memadukan antara teknologi dan misi kemanusiaan untuk mengubah dunia.</p>
<p>Salah satu hal yang membuat penulis memutuskan untuk membeli buku ini adalah rasa penasaran bagaimana Microsoft, yang menjadi raksasa karena Windowsnya, menghadapi era <em>post-computer </em>di mana masyarakat dunia lebih cenderung menggunakan <em>smartphone </em>dibandingkan komputer. Penulis berharap menemukan jawabannya pada buku ini.</p>
<p>Buku ini dibagi menjadi sembilan bab. Dua bab pertama menceritakan seorang Satya Nadella dari kecil hingga bisa bergabung dengan Microsoft. Sebelum diangkat menjadi CEO, Nadella memimpin tim untuk mengembangkan sistem <em>cloud </em>yang dimiliki oleh Microsoft.</p>
<p>Pada bab ketiga dan keempat, Nadella ingin menjabarkan keinginannya untuk mengubah budaya perusahaan. Salah satunya adalah antar departemen yang sering terlihat seolah bekerja sendiri-sendiri.</p>
<p>Bab kelima menjelaskan tentang hubungan Microsoft dengan perusahaan-perusahaan teknologi lainnya, seperti Apple, Google, hingga Amazon. Empat bab selanjutnya menjelaskan tentang masa depan Microsoft dan dunia teknologi pada umumnya.</p>
<p>Perkembangan teknologi yang terjadi sangat cepat dilihat oleh Nadella sebagai potensi untuk membantu lebih banyak orang. Bahkan, bisa membantu perekonomian sebuah negara seperti yang ia tuturkan pada bab terakhir.</p>
<p>Lantas, apakah pertanyaan penulis yang terdapat pada paragraf pertama terjawab? Jawabannya, iya. Di bawah kepemimpinan Nadella, Microsoft mulai fokus pada beberapa teknologi kunci seperti <em>artificial intelligence</em> dan <em>cloud computing</em>.</p>
<p>Sang CEO mengubah arah perusahaan sehingga tidak lagi berpusat pada <em>Personal Computer</em> atau PC.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Bagi penggemar dunia teknologi, terutama tentang orang-orang yang berada di belakangnya, buku ini tentu akan menjadi literatur yang menarik untuk dibaca. Banyak istilah teknis yang tidak dipahami oleh orang awam (seperti <em>quantum computing)</em>, namun Nadella berupaya menjelaskannya dengan sederhana.</p>
<p>Buku ini ditulis dengan gaya autobiografi, walaupun Nadella lebih banyak menjelaskan tentang hal-hal teknis. Yang penulis senangi dari buku ini adalah bagaimana Nadella mengajak kita memandang masa depan teknologi bukan hanya sebagai alat, namun sebagai solusi dari segala permasalahan yang ada di dunia ini.</p>
<p>Kekurangan buku ini menurut penulis adalah tidak adanya sub-bab pada tiap babnya. Hal tersebut membuat penulis terkadang bingung karena beberapa tulisan terlalu melebar ke mana-mana, sehingga kita perlu membaca ulang untuk paham. Terkadang, pesan yang ingin disampaikan juga ditulis dengan agak <em>njelimet </em>sehingga membuat kita bingung.</p>
<p>Yang jelas, buku ini akan memperluas cakrawala pikiran kita dalam memandang masa depan dunia teknologi.</p>
<p>Nilainya <strong>3.8/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 15 Oktober 2018, terinspirasi setelah menambatkan buku Hit Refresh tulisan Satya Nadella</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/transformasi-budaya-microsoft-pada-hit-refresh/">Transformasi Budaya Microsoft Pada Hit Refresh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/transformasi-budaya-microsoft-pada-hit-refresh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2018 15:29:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kini]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=349</guid>

					<description><![CDATA[<p>Secara harfiah, memang sebaiknya kita melakukan hal tersebut. Jika kita berjalan menunduk, kita bisa menabrak apa yang ada di hadapan kita. Jika kita berjalan mendongak, kita bisa tersandung batu di jalanan. Namun, kalimat ini juga bisa kita jadikan bahan renungan dalam keseharian kita dengan menganalogikannya sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan. Jalan menatap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/">Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Secara harfiah, memang sebaiknya kita melakukan hal tersebut. Jika kita berjalan menunduk, kita bisa menabrak apa yang ada di hadapan kita. Jika kita berjalan mendongak, kita bisa tersandung batu di jalanan. Namun, kalimat ini juga bisa kita jadikan bahan renungan dalam keseharian kita dengan menganalogikannya sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan.</p>
<p>Jalan menatap lurus ke depan sama dengan masa kini, jalan mendongak sama dengan masa depan, dan jalan menunduk sama dengan masa lalu. Lalu bagaimana kita bisa mengambil sekelumit hikmah dari penganalogian ini?</p>
<p>Jalan menunduk, artinya terjebak masa lalu, selalu terbayang-bayang kesalahan yang pernah diperbuat di masa lampau. Takut untuk melangkah maju karena takut melakukan hal yang sama, melakukan penyesalan-penyesalan yang percuma. Akibatnya, kita akan terlampau sering “menabrak” kenyataan hidup yang sedang dijalani dan membuat hidup tertatih-tatih.</p>
<p>Jalan mendongak, artinya memikirkan masa depan. Bukankah bagus menjadi seseorang yang visioner? Iya, namun akan buruk akibatnya jika kita hanya fokus untuk masa depan sehingga mengabaikan hidup di masa kini. Termasuk di dalam golongan ini adalah orang yang berangan-angan “besok aku akan menjadi orang yang lebih baik” bukan “sekarang aku akan menjadi orang yang lebih baik”. Akibatnya, ia akan tersandung oleh kerikil kehidupan yang akan membuatnya jatuh tersungkur dan membuatnya berhenti berjalan.</p>
<p>Jalan itu menatap lurus ke depan. Ketika kita berjalan seperti itu, kita tidak hanya melihat apa yang ada di depan kita, melainkan juga apa yang ada di bawah dan atas kita. Fokus dengan yang dikerjakan hari ini (depanmu), namun mengambil pelajaran yang telah kita alami di masa lalu (bawahmu) dan menyiapkan diri untuk menyongsong masa depan (atasmu). Itulah hakikat yang bisa diambil dari sebuah aktivitas kita sehari-hari, berjalan.</p>
<p>Berjalan itu menatap lurus ke depan, bukan menunduk bukan mendongak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Februari 2018, setelah membuat konten Instagram untuk WTF</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.flickriver.com">www.flickriver.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/">Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
