<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mengeluh Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/mengeluh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/mengeluh/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Oct 2022 15:29:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>mengeluh Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/mengeluh/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2022 15:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantar Gebang]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[pemulung]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tempat sampah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5997</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin siang ketika selesai makan siang, tanpa sengaja Penulis mendengarkan sebuah video YouTube dari TV yang sedang ditonton oleh ibu. Hanya sepintas, tapi entah mengapa langsung tertangkap oleh telinga Penulis. Video tersebut merupakan sebuah video dari Asumsi yang sedang mewawancarai orang-orang di Bantar Gebang, sebuah tempat di Bekasi yang terkenal sebagai tempat pembuangan sampah akhir. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/">Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kemarin siang ketika selesai makan siang, tanpa sengaja Penulis mendengarkan sebuah video YouTube dari TV yang sedang ditonton oleh ibu. Hanya sepintas, tapi entah mengapa langsung tertangkap oleh telinga Penulis.</p>



<p>Video tersebut merupakan sebuah video dari Asumsi yang sedang mewawancarai orang-orang di <strong>Bantar Gebang</strong>, sebuah tempat di Bekasi yang terkenal sebagai tempat pembuangan sampah akhir. Istilah kerennya, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).</p>



<p>Salah satu narasumber di video tersebut mengatakan kalau ternyata penghasilan pemulung di sana lumayan mencukupi. Bahkan, ada yang berhasil membangun rumah hingga membeli mobil.</p>





<p>Karena merasa penasaran, malamnya Penulis pun memutuskan untuk menonton video lengkapnya. Dari sana, ternyata Penulis merasa mendapatkan banyak hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dalam hidup ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bantar Gebang, Tempat Sampah dengan Tumpukan Makna</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Distrik: Bantar Gebang dan Kemampuan Adaptasi Manusia" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/jgc8O10lhQw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis mengetahui nama Bantar Gebang pertama kali melalui novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/">Aroma Karsa</a> </em>karya Dee Lestari. Tokoh utama di novel tersebut digambarkan tinggal di sana dan dianugerahi dengan indra penciuman yang tajam.</p>



<p>Selain itu, Dee Lestari juga membahas mengenai tempat tersebut lebih detail melalui bukunya yang lain berjudul <em><a href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Di Balik Tirai Aroma Karsa</a></em>. Di buku ini, Dee menceritakan perjalanan risetnya ke Bantar Gebang untuk lebih mendalami penceritaannya.</p>



<p>Berbekal kedua buku tersebut, Penulis pun berasumsi kalau Bantar Gebang adalah tempat pembuangan sampah raksasa. Sudah, hanya sebatas itu. Tidak ada yang menarik dari sebuah tempat sampah.</p>



<p>Pendapat tersebut ternyata berubah setelah Penulis menonton video dari Asumsi yang melakukan dokumentasi ke sana. Ada beberapa poin yang Penulis catat sebagai pelajaran untuk dirinya sendiri, dan semoga juga bisa menginspirasi para Pembaca sekalian.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bagi Kita Sampah, Bagi Mereka Harta Karun</h3>



<p>Dalam salah satu komik <em>Doraemon</em>, ada alat yang membuat semacam lubang dimensi. Nobita dengan otak bisnisnya pun membuka jasa bagi orang-orang yang ingin membuang sampahnya. Apesnya, Doraemon tersedot masuk dan terbawa ke masa lampau.</p>



<p>Barang-barang yang dianggap sebagai sampah orang modern ternyata bermanfaat untuk orang zaman dulu, bahkan sampai menjadi &#8220;inspirasi&#8221; untuk cerita rakyat. Setelah berhasil kembali ke zaman sekarang, Doraemon pun menjadi selektif dalam membuang sampah.</p>



<p>Nah, itulah yang benar-benar terjadi bagi orang-orang yang tinggal di Bantar Gebang. Barang yang sudah kita anggap sebagai<strong> sampah ternyata bisa menjadi semacam harta karun</strong> untuk mereka. Bagi kita bukit sampah, bagi mereka bukit emas.</p>



<p>Para pemulung bisa menemukan barang-barang bagus yang bisa dijual ke penadah dan mendapatkan pemasukan dari sana. Tak jarang, mereka menemukan makanan dan minuman sisa yang sudah dibuang untuk dikonsumsi!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kemampuan Adaptasi Manusia yang Luar Biasa</h3>



<p>Orang gila yang makan dari sampah mungkin sudah biasa, tapi bagaimana dengan orang waras yang melakukan itu? Penulis baru menyadari kalau ternyata ada banyak yang melakukan hal tersebut. Pemulung di Bantar Gebang melakukan hal-hal tersebut.</p>



<p>Mungkin, itu adalah salah satu upaya <em>survive </em>mereka dari kerasnya kehidupan di sana. Meskipun katanya mereka bisa membangun rumah dengan memulung, mungkin mereka sudah terbiasa makan dari sampah demi mengirit pengeluaran.</p>



<p>Penulis merasa heran atas kemampuan adaptasi tubuh orang-orang di Bantar Gebang. Secara logika, makanan yang sudah menjadi sampah tentu penuh dengan kuman dan penyakit, tapi mengapa mereka terlihat sehat-sehat saja dan jarang sakit?</p>



<p>Tak salah lagi, keadaan telah memaksa tubuh mereka <strong>melakukan adaptasi yang luar biasa</strong>. Demi bisa bertahan hidup, tubuh pun harus menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai potensi bahaya yang masuk dari makanan-makanan sisa tersebut.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Terlihat Hina, Padahal Berkecukupan</h3>



<p>Penulis benar-benar kaget ketika mendengar pengakuan narasumber di video tersebut (seorang penadah) yang mengatakan kalau anak buahnya yang pemulung ternyata bisa membangun rumah di kampungnya, yang dianggapnya lebih bagus dari rumahnya sendiri. </p>



<p>Tidak cukup sampai di situ, ada banyak pemulung yang berhasil mencicil motor hingga mobil. Jujur, logika Penulis tidak sampai ke sana bagaimana mereka bisa mengelola uangnya dengan begitu baik.</p>



<p>Bagi orang di luar Bantar Gebang, mungkin pekerjaan sebagai pemulung adalah pekerjaan yang hina dan kotor. Namun, nyatanya <strong>mereka bisa hidup bahagia dan mampu memiliki berbagai aset</strong>. </p>



<p>Ini berkebalikan dengan beberapa orang di kota besar, di mana dari luar keliatan <em>borjuis </em>dan bergaya hidup mewah, padahal barangnya banyak yang kredit, bahkan ada yang hanya pinjaman. Semua demi menjaga gengsi semata. Pertanyaannya, mana yang lebih hina?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Mereka Belajar Finance dari Mana?</h3>



<p>Si penadah yang sudah Penulis sebutkan di atas ternyata menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk beternak kambing. Katanya, seandainya ada hal buruk terjadi seperti pandemi kemarin, setidaknya ia punya sesuatu untuk dijual demi menyambung hidup.</p>



<p>Selain itu, ada juga seorang penjaja warung di Bantar Gebang. Ia memiliki semacam lapak di atas tumpukan sampah. Menurut pengakuannya, ia bisa mendapatkan penghasilan dalam sehari antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam sehari.</p>



<p>Ia mengatakan kalau separuh dari pemasukan tersebut ia tabung. Hasilnya, ia pun sudah bisa punya rumah sendiri. Kenyataan ini benar-benar menampar Penulis: Mereka tidak pernah belajar tentang <em>finance</em>, tapi <strong>pengelolaan uangnya sangat baik</strong>!</p>



<p>Penulis merasa dirinya cukup banyak membaca posting atau menonton video seputar <em>finance</em>, tapi belum bisa di level mereka. Memang ada banyak faktor lain yang memengaruhi ini seperti gaya hidup, tapi Penulis ingin fokus dengan kehebatan mereka dalam mengelola uang.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Nikmat Mana Lagi yang Aku Dustakan?</h3>



<p>&#8220;Tidak ada orang yang susah, adanya orang yang malas,&#8221; tutur penjaja warung di video tersebut. Satu kalimat sederhana yang keluar dari orang biasa, tetapi mampu membuat Penulis merasa malu.</p>



<p>Dibandingkan mereka, Penulis tentu merasa memiliki banyak <em>privilege</em> dalam hidupnya. Penulis jadi <strong>merasa bertanggung jawab untuk bisa memanfaatkan <em>privilege</em></strong><em> </em>tersebut untuk bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dan bisa bermanfaat untuk orang banyak.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga sadar kalau selama ini dirinya selama ini <strong>terlalu banyak mengeluh</strong>. Iya memang kemampuan orang dalam menghadapi masalah beda-beda, tetapi Penulis tidak ingin menjadikan hal tersebut sebagai pembenaran untuk mengeluh.</p>



<p>Penulis jadi <strong>banyak-banyak bersyukur</strong> karena tidak perlu menjalani kehidupan berat seperti mereka yang setiap hari harus bekerja dengan risiko tinggi. Di TPST seperti itu, terlindas buldoser atau terpapar cairan kimia berbahaya bisa terjadi.</p>



<p>Penulis juga jadi lebih mensyukuri setiap makanan yang disantapnya, bersyukur bisa bekerja di tempat yang nyaman, dan lain sebagainya. Sesungguhnya Penulis jadi sadar, <strong>betapa banyak nikmat yang telah Penulis dustakan selama ini</strong>. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ketika membaca kolom komentar, mayoritas memuji Asumsi karena &#8220;berani&#8221; dan totalitas dalam menyusun video tersebut. Bagaimana tidak, sang <em>host </em>sampai nekat untuk memakan makanan bekas!</p>



<p>Bagi Penulis, melihat sisi kehidupan lain yang selama ini tak terpikirkan memang menarik. Penulis jadi mengetahui ada kehidupan seperti di Bantar Gebang yang begitu unik dan berwarna. <strong>Kondisi yang memaksa memunculkan celah untuk bertahan hidup</strong>.</p>



<p>Mungkin ke depannya Penulis akan lebih sering menonton video-video dokumenter seperti ini agar Penulis bisa mengerti bagaimana kehidupan di luar sana dan membantu Penulis untuk bisa menjadi manusia yang lebih bersyukur.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 11 Oktober 2022, terinspirasi setelah menonton video Asumsi mengenai Bantar Gebang di YouTube</p>



<p>Foto: <a href="https://news.detik.com/berita/d-5731837/kontrak-tpst-bantargebang-dengan-bekasi-berakhir-oktober-ini-kata-wagub-dki">Detik</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/">Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2020 04:26:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[beban]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[judgemental]]></category>
		<category><![CDATA[keluh]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3742</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika sedang ada masalah, apa yang biasa kita lakukan? Selain berusaha mencari solusi terbaiknya, kita juga kerap mencari teman curhat yang mau mendengarkan keluh kesah kita. Entah mengapa dengan bercerita, perasaan kita terasa lebih plong, seolah beban yang menggantung di pundak rasanya lumayan berkurang. Hanya saja, tidak mudah menemukan teman bercerita yang pas. Penulis sendiri merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/">&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika sedang ada masalah, apa yang biasa kita lakukan? Selain berusaha mencari solusi terbaiknya, kita juga kerap mencari teman curhat yang mau mendengarkan keluh kesah kita.</p>
<p>Entah mengapa dengan bercerita, perasaan kita terasa lebih <em>plong</em>, seolah beban yang menggantung di pundak rasanya lumayan berkurang.</p>
<p>Hanya saja, tidak mudah menemukan teman bercerita yang pas. Penulis sendiri merasa dirinya adalah <a href="https://whathefan.com/karakter/teman-cerita-yang-buruk/">teman bercerita yang buruk</a> karena beberapa hal.</p>
<p>Tapi Penulis meyakini satu hal. Teman bercerita yang baik adalah yang mau mendengarkan kita tanpa nge-<em>judge, </em>yang tidak pernah membandingkan masalah kita dengan masalahnya sendiri.</p>
<h3>Menghakimi Masalah Orang Lain</h3>
<p>Kita hidup di era di mana orang dengan mudahnya <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">menghakimi orang lain</a> hanya berdasarkan satu pos di media sosial tanpa benar-benar tahu latar di belakangnya.</p>
<p>Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu kehidupan orang lain. Mereka punya sifat yang berbeda-beda, lingkungan yang beda, ketahanan mental yang beda, dan lain sebagainya.</p>
<p><div id="attachment_3743" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3743" class="size-large wp-image-3743" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gitu-doang-besaran-masalah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3743" class="wp-caption-text">Mendengar Masalah Orang Lain (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwi_26-jj_HoAhVNXSsKHTevAHoQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fnews.yahoo.com%2Fnews%2Fchris-matthews-kamala-harris-062616087.html&amp;psig=AOvVaw1ZYQtoJWdMoBQd5gSre3hj&amp;ust=1587269894826191" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi_26-jj_HoAhVNXSsKHTevAHoQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Yahoo News</span></a>)</p></div></p>
<p>Begitupun ketika ada orang lain yang menceritakan masalahnya ke kita. Jangan sampai kita terlihat <strong>menyepelekan atau menggampangkan masalahnya</strong>, sesederhana apapun masalahnya.</p>
<p>Batas kemampuan orang untuk menghadapi masalah berbeda-beda. Ada yang sangat tangguh, ada yang lemah. Banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut.</p>
<p>Selain itu, jangan diperparah dengan <strong>membandingkan masalah orang lain dengan masalah sendiri</strong> yang kita anggap jauh lebih berat. Contoh:</p>
<p><strong>A</strong>: <em>Gue stres berat nih sama kerjaan kantor, numpuk banget. Mana cicilan kredit belum bayar lagi.</em></p>
<p><strong>B</strong>: <em>Halah lebay lu, gitu doang ngeluh. Gue kemarin pulang kantor jam 2 pagi gara-gara disemprot sama si bos. Mana pacar gue lagi ngambek lagi.</em></p>
<p>Jika dihadapkan pada situasi seperti itu, jelas mental A yang sedang terpuruk akan semakin <em>down</em>. Ia pun akan malas untuk bercerita lagi dan memilih untuk memendam bebannya.</p>
<p>Bandingkan dengan contoh yang ada di bawah ini:</p>
<p><strong>A</strong>: <em>Gue stres berat nih sama kerjaan kantor, numpuk banget. Mana cicilan kredit belum bayar lagi.</em></p>
<p><strong>B</strong>: <em>Iya, kantor memang emang lagi berat nih. Kalau ada yang bisa gue bantu kabarin aja ya, asal gak pas gue repot pasti gue bantu kok!</em></p>
<p>Beda, bukan? Pada contoh kedua, terasa empati dari si pendengar tanpa perlu membandingkan masalahnya.</p>
<p>Bahkan, si pendengar menawarkan bantuan walau mungkin hanya sekadar basa-basi. Setidaknya, yang bersangkutan akan merasa dihargai.</p>
<p>Ilmu ini Penulis dapatkan melalui buku-buku seputar <em>mental health </em>yang akhir-akhir ini sering dibaca. Di Twitter juga sering muncul <em>tweet </em>yang senada.</p>
<p>Jangan sampai kita jadi orang yang terlalu over kompetitif hingga permasalahan hidup pun ingin lebih unggul.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setiap orang pasti akan menghadapi masalahnya masing-masing dan terkadang harus mengeluhkan permasalahannya tersebut. Beda <em>privilege</em>, beda level permasalahannya.</p>
<p>Contoh, Jennie Blackpink mengeluh konsernya batal, sedangkan ojek online mengeluh karena pendapatannya berkurang drastis. Keduanya disebabkan oleh hal yang sama, virus Corona.</p>
<p>Oleh karena itu, jangan mudah menghakimi permasalahan orang lain dan menganggap masalah kita jauh lebih berat karena kita tidak pernah benar-benar mengetahui kondisi yang dialami oleh orang lain.</p>
<p>Kalau kita diminta menjadi pendengar, kita dengarkan ceritanya. Kalau diminta memberi saran, beri sesuai dengan kapasitas kita. Sesederhana itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>NB</strong>: Mengapa contoh menggunakan <em>gue lo</em>? Karena artikel berikutnya Penulis ingin membahas hal ini. <em>Stay tuned!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 April 2020, terinspirasi karena merasa dirinya terkadang masih seperti itu</p>
<p>Foto: <a href="https://menwit.com/things-girls-hate-about-guys">Men Wit</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gitu-doang-besaran-masalah-gue/">&#8220;Gitu Doang? Besaran Masalah Gue!&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Ini Tukang Sambat</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Oct 2019 15:36:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[milik]]></category>
		<category><![CDATA[sambat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2947</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin dari luar, penulis tidak terlihat sebagai orang yang gemar mengeluh. Apalagi, penulis sering menuliskan artikel-artikel yang berbau motivasi positif. Padahal, penulis ini adalah seorang tukang sambat yang luar biasa, walau lebih sering didengungkan di dalam hati. Kenapa ini begitu, kenapa ini begitu, dan lain sebagainya. Munculnya pikiran-pikiran negatif menjelang tidur bisa berawal dari keluhan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/">Saya Ini Tukang Sambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin dari luar, penulis tidak terlihat sebagai orang yang gemar mengeluh. Apalagi, penulis sering menuliskan artikel-artikel yang berbau motivasi positif.</p>
<p>Padahal, penulis ini adalah seorang tukang sambat yang luar biasa, walau lebih sering didengungkan di dalam hati. Kenapa ini begitu, kenapa ini begitu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Munculnya pikiran-pikiran negatif menjelang tidur bisa berawal dari keluhan. Contoh:</p>
<p><em>&#8220;Duh kok kangen sama rumah, ya?&#8221; </em>menjadi <em>&#8220;Apa </em>resign <em>dari sini terus cari kerja di dekat rumah aja, ya?&#8221; </em>berkembang menjadi <em>&#8220;Tapi nanti pasti gajinya turun, enggak sebesar sekarang!&#8221;</em></p>
<p>Lamunan tersebut masih berlanjut menjadi <em>&#8220;Lagipula di sana industri kreatif masih dikit.&#8221; </em>menjadi <em>&#8220;Apalagi skill-ku cuma nulis, dasar aku enggak bodoh dan enggak guna!&#8221; </em>dan terakhir menjadi <em>&#8220;Aku </em>insecure<em> sama masa depanku!!!&#8221;</em></p>
<p>Cuma contoh, kok. Cuma contoh. Contoh bagaimana penulis sering <em>overthinked</em>.</p>
<h3>Manusia dan Sambatnya</h3>
<p>Manusia dan sambat memang susah untuk berpisah. Ada saja kejadian yang akan memicu munculnya sambat dari bibir atau minimal <em>nggerundel </em>di hati.</p>
<p>Sambat itu sangat manusiawi karena keterbatasan yang kita miliki. Mengeluh itu wajar karena kita bukan nabi yang sempurna dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/motivasi-itu-omong-kosong/">bisa menerima segala hal dengan positif</a>.</p>
<p>Apalagi, sambat juga bisa dilakukan secara bersama-sama. Biasanya, kita akan mencari teman yang senasib dan saling menumpahkan sambat satu sama lain.</p>
<p>Hanya saja, terlalu sering sambat juga tidak baik untuk kita. Hidup kita akan tidak pernah tenang dan gelisah selalu menemani hari-hari kita.</p>
<p>Terlalu banyak sambat juga menandakan kita kurang bersyukur dengan apa yang dimiliki. Seolah kita lupa memiliki Tuhan yang sudah menganugerahkan banyak hal ke kita.</p>
<h3>Hanya Melihat yang Lebih Baik</h3>
<p><div id="attachment_2949" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2949" class="size-large wp-image-2949" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2949" class="wp-caption-text">Stephen Hawking (<a href="https://www.telegraph.co.uk/science/2018/03/19/wrong-theory-stephen-hawking-may-have-suffering-polio/">Telegraph</a>)</p></div></p>
<p>Sambat sering kali datang dari sikap kita yang selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kita membandingkan diri dengan mereka yang sudah bergaji puluhan juta rupiah, yang sudah momong anak, yang sudah ke luar negeri, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dengan membandingkan diri seperti itu, kita pun akan merasa kurang, kurang, dan kurang. Apalagi, kita hidup di era materialisme yang semuanya ditakar dengan benda fisik.</p>
<p>Kita melupakan apa yang telah kita miliki karena terlalu berfokus dengan apa yang belum dimiliki. Karena selalu &#8220;mendongak ke atas&#8221;, kita cenderung melupakan orang lain yang tidak seberuntung kita.</p>
<p>Penulis terinspirasi menulis topik ini karena salah satu teman penulis yang (maaf) fisiknya kurang sempurna meninggalkan komentar di Instagram <em>Whathefan</em>.</p>
<p>Inti dari komentarnya adalah membandingkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/">depresi yang dialami Sulli</a> sebenarnya tidak sebanding dengan tokoh-tokoh lain yang memiliki banyak kekurangan fisik seperti Beethoven, Helen Keller, hingga <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking</a>.</p>
<p>Lanjutnya, seharusnya Sulli dengan kesempurnaan fisik yang dimilikinya bisa lebih bersyukur dan mengingat apa yang ia miliki di dunia ini. Pembaca boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat ini.</p>
<p>Hal tersebut membuat penulis berpikir, apa yang sering penulis keluhkan selama ini jelas bukan apa-apa jika dibandingkan dengan permasalahan teman-teman yang mengalami disabilitas.</p>
<p>Penulis merasa bahwa selama ini sering lupa dengan apa yang sudah dimiliki. Penulis sering lupa untuk merasa bersyukur telah diberikan banyak sekali oleh Yang Maha Kuasa. Untunglah, Tuhan memiliki cara-Nya sendiri untuk mengingatkan penulis.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sesekali sambat itu boleh saja. Toh, terkadang setelah sambat kita merasa lebih baik. Yang tidak boleh itu sambat berlebihan hingga melupakan apa saja yang telah kita miliki.</p>
<p>Jika merasa kita mulai sambat berlebihan, coba tutup mata dan bayangkan apa saja yang kita miliki. Keluarga, cinta, persahabatan, tabungan, kerja yang nyaman, apapun yang terlintas di kepala kita.</p>
<p>Hidup dengan penuh syukur itu dijamin lebih enak dibandingkan dengan hidup penuh sambat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 27 Oktober 2019, terinspirasi dari sebuah komentar sederhana dari salah satu teman hebat penulis.</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@icons8">Icons8 team</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/">Saya Ini Tukang Sambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hidupku Hancur! Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia!</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidupku-hancur-aku-adalah-orang-paling-menderita-di-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Aug 2019 14:05:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[hancur]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[menderita]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[status]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2640</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah bagaimana dengan pembaca, tapi penulis masih sering menemui orang yang membuat status dengan tema &#8220;Hancur Hidupku&#8221; atau &#8220;Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia&#8221;. Biasanya, status tersebut muncul ke permukaan karena suatu hal. Masalahnya, terkadang hal yang dipermasalahkan tersebut sebenarnya remeh sekali, kita saja yang memberinya bumbu tambahan. Penulis sendiri pernah merasa seperti itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidupku-hancur-aku-adalah-orang-paling-menderita-di-dunia/">Hidupku Hancur! Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Entah bagaimana dengan pembaca, tapi penulis masih sering menemui orang yang membuat status dengan tema &#8220;Hancur Hidupku&#8221; atau &#8220;Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia&#8221;.</p>
<p>Biasanya, status tersebut muncul ke permukaan karena suatu hal. Masalahnya, terkadang hal yang dipermasalahkan tersebut sebenarnya remeh sekali, kita saja yang memberinya bumbu tambahan.</p>
<p>Penulis sendiri pernah merasa seperti itu (atau sampai sekarang?). Apalagi, penulis merasa dirinya terkadang suka mendramatisir sesuatu.  Untungnya, penulis sudah mengurangi hal-hal yang semacam itu, mungkin karena faktor usia.</p>
<h3>Membesar-besarkan Masalah</h3>
<p>Sering berkutat dengan remaja membuat penulis banyak memperhatikan mereka. Kecenderungannya, alasan yang mendasari mereka melakukan itu adalah mencari perhatian. Setidaknya, sewaktu remaja penulis seperti itu.</p>
<p>Malah yang sebenarnya benar-benar bermasalah cenderung tidak memperlihatkan masalah mereka kepada orang lain. Mereka sering terlihat ceria (bahkan terlalu ceria) seolah tak memiliki masalah.</p>
<p>Memang, tidak bisa digeneralisir seperti itu. Ada yang merasa hidupnya hancur karena benar-benar hancur, ada orang ceria yang memang pada dasarnya sudah ceria. Maka dari itu, penulis menggunakan kata &#8220;cenderung&#8221; alias kebanyakan seperti itu.</p>
<p>Inti dari tulisan ini adalah ingin mengajak kepada kita semua agar berpikir ulang ketika sedang menghadapi masalah, benarkah benar-benar membuat hidup kita hancur dan menjadikan kita orang paling menderita di dunia?</p>
<h3>Menengok Penderitaan Orang Lain</h3>
<p>Kalau sedang ingin mengeluh, biasanya penulis berusaha mencari orang yang lebih kurang beruntung. Contohnya, capek bekerja. Penulis akan menjadi bersyukur ketika tahu masih banyak orang yang belum mendapatkan pekerjaan dan gaji layak.</p>
<p>Ketika pikiran-pikiran negatif seperti &#8220;hidupku hancur&#8221; atau &#8220;aku ini orang paling menderita&#8221;, coba gunakan cara yang sama seperti di atas, menengok penderitaan orang lain.</p>
<p>Benarkah hidup kita yang berharga ini bisa hancur dengan mudahnya hanya karena masalah yang sebenarnya tidak terlalu berat? Penulis menyangsikannya. Banyak orang dengan masalah yang lebih besar mampu bangkit dan melangkah lebih jauh.</p>
<p>Benarkah kita adalah orang yang paling menderita di dunia ini? Tidak, masih banyak orang lain yang lebih menderita dari kita. Contohnya?</p>
<p>Orang yang sering mengeluhkan masalah orang tuanya, seharusnya lebih beruntung dari pada mereka yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan orang tuanya.</p>
<p>Orang yang sering mengeluhkan masalah cinta, belum tahu betapa beratnya masalah keluarga yang terjadi antara suami dan istri, atau bahkan dengan pihak keluarga besar.</p>
<p>Orang yang sering mengeluhkan menumpuknya tugas sekolah tidak pernah melihat banyaknya anak putus sekolah yang hanya bisa berangan-angan untuk duduk di bangku sekolah.</p>
<p>Orang yang sering mengeluhkan tidak bisa membeli ini itu lupa bahwa masih banyak orang di dunia ini yang belum bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.</p>
<p>Dengan mengingat bahwa kita masih jauh lebih beruntung dari orang lain akan membuat kita tidak akan berpikiran hidup telah hancur ataupun merasa menjadi orang paling menderita di dunia.</p>
<h3>Mengeluh dan Bersyukur</h3>
<p>Pada akhirnya tulisan ini pun mengarah ke arah <strong>mengeluh dan bersyukur</strong>. Semua pikiran-pikiran buruk yang menjadi status kita berawal dari keluhan. Cara melawannya? Ada banyak cara, salah satunya dengan memperbanyak bersyukur.</p>
<p>Tidak hanya itu, berbanyak berbagi pun bisa menjadi obat yang mujarab. Tidak hanya memberi sedekah, berbagi cerita dan ilmu juga bisa memberikan efek yang positif bagi diri kita.</p>
<p>Daripada berfokus pada apa yang tidak kita dapatkan, lebih baik kita melihat apa saja yang kita miliki. Terkadang, kita tidak sadar berapa banyak yang kita miliki di dunia ini. Tidak hanya dari materi, melainkan keluarga, teman, kekasih, apapun itu.</p>
<p>Penulis masih sering mengeluh sampai sekarang, walaupun tidak sampai mengatakan apa yang tertera di bagian judul.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Agustus 2019, terinspirasi setelah melihat status-status yang ada di media sosial</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@jensholm">jens holm</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hidupku-hancur-aku-adalah-orang-paling-menderita-di-dunia/">Hidupku Hancur! Aku adalah Orang Paling Menderita di Dunia!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2018 08:25:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[copas]]></category>
		<category><![CDATA[etos kerja]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lemah]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1117</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menurut pembaca, bagaimana etos kerja yang dimiliki oleh generasi sekarang? Cenderung lebih kuat dari generasi sebelumnya atau justru semakin melemah? Menurut penulis, jika melihat fenomena yang terjadi di sekeliling, penulis cenderung meyakini opsi yang kedua. Definisi Generasi Milenial Bagi Penulis Sebelumya, istilah generasi milenial sendiri memiliki beberapa tafsir pengertian. Ada yang menganggapnya generasi yang lahir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut pembaca, bagaimana etos kerja yang dimiliki oleh generasi sekarang? Cenderung lebih kuat dari generasi sebelumnya atau justru semakin melemah? Menurut penulis, jika melihat fenomena yang terjadi di sekeliling, penulis cenderung meyakini opsi yang kedua.</p>
<p><strong>Definisi Generasi Milenial Bagi Penulis</strong></p>
<p>Sebelumya, istilah generasi milenial sendiri memiliki beberapa tafsir pengertian. Ada yang menganggapnya generasi yang lahir di atas tahun 90an, ada yang mengatakan generasi ini lahir setelah pergantian abad, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis memilih definisi yang kedua, generasi milenial adalah generasi yang lahir di atas 2000an, karena terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara mereka dengan generasi yang sepantaran dengan penulis.</p>
<p>Pada tulisan-tulisan berikutnya, penulis akan tetap menggunakan definisi tersebut.</p>
<p><strong>Tukang Ngeluh</strong></p>
<p>Dalam etos kerja, ada dua hal yang menjadi pertimbangan penulis mengganggap generasi milenial kurang memiliki etos kerja. Yang pertama adalah mudah mengeluh, yang kedua adalah kebiasaan <em>copas </em>dalam menyelesaikan pekerjaan.</p>
<p>Pada tulisan kali ini, penulis hanya mengambil contoh bagaimana generasi milenial menghadapi tugas-tugas mereka di sekolah.</p>
<p><div id="attachment_1127" style="width: 660px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1127" class="wp-image-1127 size-full" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger.jpg" alt="" width="650" height="473" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger.jpg 650w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger-300x218.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger-350x255.jpg 350w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" /><p id="caption-attachment-1127" class="wp-caption-text">Hobi Mengeluh (https://www.mid-day.com/articles/what-makes-teenagers-so-angry-and-aggressive/15600172)</p></div></p>
<p>Darimana penulis tahu mereka suka mengeluh? Ya dari postingan mereka sendiri. Ada pekerjaan rumah banyak, bikin status, curhat. Besok ulangan, bikin status lagi. Setiap ada pekerjaan yang dirasa berat, mereka akan membagi apa yang mereka rasakan di media sosial.</p>
<p>Padahal yang mereka hadapi baru <em>pekerjaan sekolah</em>, belum <em>ujian hidup</em>. Semoga saja dengan semakin bertambahnya kedewasaan mereka, mereka akan menyadari bahwa tugas-tugas yang mereka kerjakan itu bukanlah sesuatu yang patut untuk dikeluhkan.</p>
<p><strong>Asal Copas</strong></p>
<p>Parameter yang kedua adalah kemudahan mengakses informasi yang disalahgunakan. Ini penulis ketahui dari narasumbernya langsung, yang mengeluh karena temannya dalam kerja kelompok hanya asal <em>copas </em>dalam mengerjakan bagian tugasnya.</p>
<p>Ketika penulis masih sekolah, bertahun-tahun yang lalu, internet sudah ada, meskipun untuk mengaksesnya kita harus ke warnet terdekat. Penulis juga mengumpulkan data-data untuk tugas dari sana.</p>
<p>Bedanya, penulis membaca data tersebut, memahami, lalu membuat ringkasannya. Bukannya mau menyombongkan diri, tapi penulis merasa bahwa itu seharusnya menjadi hal yang biasa dilakukan oleh para pelajar di Indonesia.</p>
<p><div id="attachment_1126" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1126" class="size-large wp-image-1126" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-1024x727.jpeg" alt="" width="1024" height="727" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-1024x727.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-300x213.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-768x545.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-356x253.jpeg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg.jpeg 2000w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1126" class="wp-caption-text">Copas (https://medium.com/digital-identity/copy-paste-inc-d9a99f4a4b6a)</p></div></p>
<p>Jika hanya asal <em>copas</em>, lantas ilmu apa yang akan kita peroleh? Jangankan memahami, membaca saja tidak. Hanya mencari kata kunci yang pas, dibaca judul dan beberapa paragraf awal, lantas di-<em>copas </em>jika dirasa sesuai dengan pertanyaan.</p>
<p>Itulah yang terjadi jika sistem pendidikan lebih mementingkan nilai daripada ilmu pengetahuan.</p>
<p><strong>Kenapa Bisa Begitu?</strong></p>
<p>Menurut analisa sederhana penulis sebagai pengamat generasi milenial, banyak sekali faktor yang mempengaruhi fenomena ini. Kemajuan teknologi sudah tidak perlu dibahas secara rinci karena sudah terlalu sering dibahas.</p>
<p>Kalau menurut penulis, salah satu yang vital namun jarang disadari adalah, kita terbuai oleh media sosial, apapun bentuknya, mulai YouTube, Instagram, hingga Tik Tok. Kita tanpa sadar diperbudak oleh aplikasi-aplikasi tersebut hingga betah berada di depan layer ponsel berjam-jam.</p>
<p><div id="attachment_1129" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1129" class="size-full wp-image-1129" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600.png" alt="" width="800" height="429" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600.png 800w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600-300x161.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600-768x412.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600-356x191.png 356w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-1129" class="wp-caption-text">Membuai Kita (https://www.adlibbing.org/2018/02/12/4-lessons-from-top-social-media-publishers/)</p></div></p>
<p>Di mana korelasinya dengan lemahnya etos kerja? Coba bayangkan, berapa banyak jam dalam satu hari yang kita habiskan untuk berselancar melihat berbagai macam hal yang mungkin kurang penting.</p>
<p>Karena menikmati berbagai fasilitas tersebut, akhirnya kita jadi menunda-nunda dalam mengerjakan tugas. Tugas yang menumpuk inilah yang pada akhirnya membuat kita menjadi mengeluh dan asal <em>copas</em>. Siklus ini terjadi berulang-ulang sehingga secara tidak sadar menjadi sebuah kebiasaan.</p>
<p>Faktor keluarga dan sistem pendidikan juga bisa menjadi faktor yang berpengaruh, namun pada tulisan kali ini penulis tidak akan membahasnya lebih dalam. Ada juga faktor membudayanya <em>mager</em> yang telah penulis bahas pada tulisan lainnya (Baca Juga: <a href="http://whathefan.com/2018/07/06/bahaya-mager-dan-apatis/">Bahaya Mager dan Apatis</a>).</p>
<p><strong>Lantas, Apa Solusinya?</strong></p>
<p>Mau bagaimana pun, semua tidak akan berhasil jika tidak diawali dari diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa kita harus memiliki etos kerja yang tinggi agar dapat <em>survive </em>dari persaingan hidup yang nantinya akan semakin keras ini.</p>
<p>Jika semenjak usia sekolah kita menjadi generasi yang mudah mengeluh dan asal-asalan dalam mengerjakan tugas, bagaimana kita akan selamat dari ketatnya dunia kerja?</p>
<p>Ahmad Rifa’i Rifan pernah menulis buku “Jangan Mau Jadi Orang Rata-Rata”. Penulis belum pernah membaca buku tersebut, akan tetapi dari buku lainnya penulis bisa sedikit banyak memahami pesan apa yang ingin disampaikan.</p>
<p>Intinya, jangan sampai kita menjadi orang-orang pada umumnya, kita harus bisa menjadi orang yang special dengan caranya masing-masing. Jangan sampai keberadaan kita di dunia tidak ada artinya.</p>
<p><div id="attachment_1130" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1130" class="size-large wp-image-1130" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash.jpg 1440w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1130" class="wp-caption-text">Lakukan Lebih (https://unsplash.com/photos/KE0nC8-58MQ)</p></div></p>
<p>Sebagai contoh, jika etos kerja orang rata-rata, katakanlah, di <em>grade</em> 6, maka minimal kita harus memiliki etos kerja di <em>grade </em>7, lebih bagus kalau bisa lebih tinggi. Jika orang rata-rata hanya mengerjakan apa yang diperintahkan, kita harus bisa berinisiatif melakukan apalagi yang bisa dilakukan.</p>
<p>Mungkin jika dilihat dari sudut material, apa yang kita kerjakan sama dengan apa yang orang rata-rata kerjakan. Tapi percayalah, masih banyak sudut-sudut yang lebih berharga dari itu. Minimal, Tuhan melihat kita berusaha lebih keras dari orang rata-rata.</p>
<p>Penulis percaya tidak semua generasi milenial seperti itu. Bukan hobi penulis untuk melakukan generalisasi. Bagi generasi milenial yang tidak melakukan dua hal yang penulis katakan di atas, kalian luar biasa!</p>
<p>Oleh karena itu, pesan penulis untuk generasi milenial dan generasi-generasi yang lebih tua terutama diri penulis sendiri, tingkatkanlah etos kerja yang kita miliki. Milikilah semangat juang yang tinggi dalam mengarungi lautan kehidupan, jangan pantang menyerah menghadapi badai cobaan yang menghadang. Semoga tulisan ini membawa kebaikan untuk kita semua, dan jangan lupa bahagia hari ini 😊!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Bersambung ke tulisan berikutnya, Pengaruh Karakter dalam Etos Kerja Generasi Milenial)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kayuringin, Bekasi, 11 Agustus 2018, terinspirasi oleh berbagai status dan keluhan generasi milenial.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.teenlife.com/blogs/how-to-encourage-a-lazy-teen">https://www.teenlife.com/blogs/how-to-encourage-a-lazy-teen</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
