<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>menghargai Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/menghargai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/menghargai/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Nov 2022 16:38:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>menghargai Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/menghargai/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ya Udah Sana Pergi</title>
		<link>https://whathefan.com/olahraga/ya-udah-sana-pergi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/olahraga/ya-udah-sana-pergi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2022 16:36:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Cristiano Ronaldo]]></category>
		<category><![CDATA[hormat]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[sepak bola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6176</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi penggemar Manchester United (MU), Senin minggu ini terasa sangat tidak mengenakkan. Pasalnya, Cristiano Ronaldo baru saja menjalani sebuah wawancara eksklusif dengan salah satu jurnalis ternama Inggris, Piers Morgan, dan isinya sama sekali tidak menyenangkan. Dalam wawancara tersebut, ada beberapa poin utama yang menjadi sorotan. Salah satunya adalah bagaimana ia mengganggap MU telah mengkhianatinya. Secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/ya-udah-sana-pergi/">Ya Udah Sana Pergi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bagi penggemar <a href="https://whathefan.com/olahraga/ini-mah-setting-an-uefa/">Manchester United</a> (MU), Senin minggu ini terasa sangat tidak mengenakkan. Pasalnya, <strong>Cristiano Ronaldo</strong> baru saja menjalani sebuah wawancara eksklusif dengan salah satu jurnalis ternama Inggris, <strong>Piers Morgan</strong>, dan isinya sama sekali tidak menyenangkan.</p>



<p>Dalam wawancara tersebut, ada beberapa poin utama yang menjadi sorotan. Salah satunya adalah bagaimana ia mengganggap MU telah mengkhianatinya. Secara khusus, ia menunjuk sang pelatih <strong>Erik ten Hag</strong> yang juga dianggapnya tidak menghormati dirinya.</p>



<p>&#8220;Saya tidak menghormati dia karena dia tidak menghormati saya,&#8221; kata Ronaldo, &#8220;Beberapa orang, mereka tidak menginginkan saya di sini. Tidak hanya pelatih, tetapi dua atau tiga orang lainnya. Bukan hanya tahun ini, tapi tahun lalu juga.&#8221;</p>





<p>Pada tulisan kali ini, Penulis akan mengungkapkan kekecewaannya kepada Ronaldo atas apa yang ia ungkapkan pada wawancara tersebut, dengan segala hormat atas kontribusinya untuk tim selama ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Si Paling Gila Hormat</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6178" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Erik ten Hag dan Ronaldo (<a href="https://news.sky.com/story/cristiano-ronaldo-says-he-feels-betrayed-by-manchester-united-and-has-no-respect-for-erik-ten-hag-12747115">Sky News</a>)</figcaption></figure>



<p>Bagi penggemar MU, jelas ucapan sang megabintang di atas sangat menyakitkan, apalagi jika mengingat bagaimana ia di awal musim menolak untuk ikut pramusim dan tampak ngotot untuk pindah tim karena ingin bermain <a href="https://whathefan.com/olahraga/liga-malam-jumat-rasa-liga-champion/">Liga Champion</a>.</p>



<p>Tidak hanya itu, ia juga sempat bertindak secara tidak profesional dengan meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir ketika MU berhadapan dengan Tottenham Hotspurs. Akibatnya, ia diberi hukuman selama satu minggu.</p>



<p>Pihak klub, ten Hag, dan suporter pun merasa kalau masalah tersebut telah usai, karena pada pertandingan selanjutnya ketika berhadapan dengan West Han. Ia bahkan ditunjuk untuk menjadi kapten ketika melawan Aston Villa. </p>



<p>Sayangnya, tampaknya Ronaldo masih merasa sakit hati atas semua perlakuan yang ia terima dari klub akhir-akhir ini. Serangannya secara langsung ke ten Hag ketika statusnya masih aktif sebagai pemain klub jelas menjadi bukti nyatanya.</p>



<p>Sebagai seorang pelatih, ten Hag maupun pelatih lainnya pasti akan berusaha untuk <em>fair </em>dan tidak memiliki &#8220;anak emas&#8221; yang selalu diistimewakan. Semua harus mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama tanpa ada diskriminasi tertentu.</p>



<p>Ronaldo pun jadi terlihat sebagai sosok yang gila hormat karena menganggap ten Hag dan beberapa orang lain tidak menghargainya. Penulis sendiri tidak bisa membayangkan hormat seperti apa yang ia harapkan. </p>



<p>Apakah pelatih <a href="https://whathefan.com/olahraga/inilah-alasan-kenapa-maguire-sebaiknya-di-bangku-cadangan-saja/">harus memainkannya di setiap pertandingan</a> walaupun performanya kacau, baru bisa dianggap menghargainya? Jika iya, tampaknya Ronaldo akan kesulitan menemukan orang yang bisa menghargainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Si Paling Paham Tim</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6179" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Garnacho dan Ronaldo (<a href="https://edition.cnn.com/2022/11/04/football/manchester-united-alejandro-garnacho-cristiano-ronaldo-spt-intl/index.html">CNN</a>)</figcaption></figure>



<p>Serangan Ronaldo tidak berakhir sampai di sana. Ia menyebutkan bahwa <strong>kemajuan dari klub semenjak <a href="https://whathefan.com/olahraga/merindukan-sentuhan-sir-alex/">kepergian Sir Alex Ferguson</a> adalah nol</strong>. Selain itu, menurutnya banyak fasilitas di MU yang seharusnya ada justru tidak ada, seperti kolam renang, <em>jacuzzi</em>, dan <em>gym</em>.</p>



<p>Hal ini memang ada benarnya, karena prestasi MU cenderung stagnan dan mengalami penurunan yang drastis. Untuk masalah fasilitas klub, Penulis belum pernah ke markas MU sehingga tidak bisa mengonfirmasinya</p>



<p>Namun, seharusnya jika ia menyadari hal tersebut, jika ia memang peduli dengan klub, ia akan melakukan sesuatu untuk membantu klub, apapun perannya. Ketika performa di dalam lapangan buruk, mungkin ia masih bisa membantu di luar lapangan.</p>



<p>Dengan segudang prestasi yang telah diraih, Ronaldo bisa menjadi mentor dan contoh yang baik untuk pemain-pemain muda MU seperti Alejandro Garnacho. Sayangnya, ia terlihat sama sekali tidak tertarik dengan peran tersebut. </p>



<p>Ronaldo masih bernafsu untuk menjadi pusat permainan, memecahkan berbagai rekor, dan memenangkan sesuatu. Jika ingin berpikiran buruk, ia memang terkesan hanya peduli kepada dirinya sendiri. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Si Paling Antikritik</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6180" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/ya-udah-sana-pergi-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Rooney dan Ronaldo (<a href="https://talksport.com/football/1243085/wayne-rooney-cristiano-ronaldo-interview-man-united-erik-ten-hag/">talkSPORT</a>)</figcaption></figure>



<p>Siapa lagi yang kena &#8220;semprot&#8221; Ronaldo? Ternyata <strong>Wayne Rooney</strong>, mantan rekannya di klub belasan tahun yang lalu. Kedua pemain memang pernah berseteru di masa mudanya, dan tampaknya hingga saat ini hal tersebut masih membekas.</p>



<p>Sebelumnya, Rooney sempat memberikan kritik kepada Ronaldo akan sikapnya yang tidak bisa diterima ketika MU melawan Tottenham dan menganggapnya sebagai &#8220;gangguan&#8221; yang tidak diinginkan klub.</p>



<p>Selain gila hormat, ternyata Ronaldo juga antikritik. Bahkan, ia membalas kritikan tersebut dengan merendahkan Rooney, sebuah sikap yang kekanak-kanakan dan tidak menghormati Rooney sebagai seorang pemain. </p>



<p>&#8220;Saya tidak tahu mengapa dia mengkritik saya dengan sangat buruk, mungkin karena dia (telah) mengakhiri karirnya dan saya bermain di level tinggi. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku terlihat lebih baik darinya, itu benar,&#8221; ungkap Ronaldo.</p>



<p>Ironi memang, ketika seorang yang berharap dihargai tidak menghargai orang lain. Mungkin Ronaldo butuh belajar interopeksi diri, menerima kenyataan, dan bisa menghargai orang lain lebih baik lagi. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Di media sosial, sedang ramai perang antara penggemar Ronaldo melawan <a href="https://whathefan.com/olahraga/jadi-pendukung-manchester-united-itu-harus-ekstra-sabar/">penggemar MU</a>. Penggemar MU menyerang kalau tim tidak bisa menghargai Ronaldo, sedangkan penggemar MU menyerang kalau Ronaldo sama sekali tidak profesional.</p>



<p>Sesungguhnya Penulis bersimpati kepadanya, bagaimana <a href="https://whathefan.com/olahraga/drama-ala-cristiano-ronaldo/">Ronaldo</a> di penghujung karirnya harus mengalami hal seperti ini. Sebagai seorang legenda hidup, Penulis berharap kalau ia mendapatkan perlakuan yang lebih baik lagi.</p>



<p>Hanya saja, Ronaldonya sendiri terlihat tidak bisa menerima kenyataan kalau <a href="https://whathefan.com/olahraga/mungkin-ronaldo-benar-benar-sudah-habis/">performanya memang sedang jelek</a>. Setiap melihat ia bermain, Penulis benar-benar melihat penurunan kualitas.</p>



<p>Dengan wawancara ini, tampaknya Ronaldo telah membulatkan tekad untuk pindah pada bulan Januari nanti. Penulis sendiri sudah tidak peduli, buat apa berharap ke pemain yang lebih mementingkan egonya sendiri. Tidak ada pemain yang lebih besar dari klub.</p>



<p>Terima kasih Ronaldo, jasamu tidak akan kami lupakan. Namun, mungkin saat ini memang waktumu untuk pergi dari klub. Semoga sukses dengan klub barumu nanti, kalau memang masih ada yang mau menerimamu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 14 November 2022, terinspirasi setelah membaca tentang wawancara Cristiano Ronaldo bersama Piers Morgan</p>



<p>Foto: <a href="https://youtu.be/B4G3drehG4k">YouTube</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-11423813/Cristiano-Ronaldo-lashes-Erik-Ten-Hag-explosive-interview.html">Daily Mail</a></li></ul>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/ya-udah-sana-pergi/">Ya Udah Sana Pergi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/olahraga/ya-udah-sana-pergi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2022 23:28:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5779</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dead people receive more flowers than living ones, because regret is stronger than gratitude Anonymous Coba luangkan waktu sejenak untuk berdiam diri dari segala kesibukan dan hiruk pikuk yang ada di pikiran. Cari posisi duduk yang paling membuat kita merasa nyaman. Lalu, pusatkan perhatian pada aktivitas bernapas, hingga kita merasa benar-benar hadir di saat ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/">Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Dead people receive more flowers than living ones, because regret is stronger than gratitude</p><cite>Anonymous</cite></blockquote>



<hr class="wp-block-separator alignfull is-style-wide"/>



<p>Coba luangkan waktu sejenak untuk berdiam diri dari segala kesibukan dan hiruk pikuk yang ada di pikiran. Cari posisi duduk yang paling membuat kita merasa nyaman. Lalu, pusatkan perhatian pada aktivitas bernapas, hingga kita merasa benar-benar hadir di saat ini.</p>



<p>Setelah itu, coba renungkan kehadiran orang-orang yang ada di sekitar kita. Keluarga, pasangan, teman, kolega kerja, tetangga. Di antara mereka semua, siapa saja yang sudah memberikan perhatian dan kepedulian ke kita?</p>



<p>Jika sudah mendapatkan daftar namanya, coba tanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">menghargai mereka dengan baik</a>? Sudahkah kita bersyukur atas kehadiran mereka? Atau ternyata selama ini kita cenderung acuh terhadap mereka dan kurang menghargai mereka?</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dari sebuah <em>quote </em>yang Penulis temukan di Pinterest, ada sebuah kiasan yang menarik di mana orang yang telah mati biasanya mendapatkan bunga lebih banyak dari mereka yang masih hidup. Alasannya, penyesalan selalu lebih besar dari rasa syukur.</p>



<p>Ketika merenungkan <em>quote </em>tersebut, Penulis pun jadi merasa kalau dirinya selama ini belum bisa menghargai secara pantas orang-orang yang sudah peduli kepadanya. Jangankan membalas kepedulian tersebut, menghargai saja belum.</p>



<p>Itu bisa ke orang tua, ke teman, ke nenek Penulis, <em>and the list goes on</em>. Padahal sudah banyak cerita, di mana orang merasa menyesal karena belum bisa membalas kebaikan dan kepedulian orang lain karena yang bersangkutan sudah meninggalkan dunia ini mendahului kita.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Salah satu bentuk penyesalan Penulis yang terkadang masih terngiang-ngiang sampai sekarang adalah ketika salah satu sahabat, kakak, mentor Penulis di Jakarta meninggal dunia pada awal tahun ini karena sakit yang sudah lama dideritanya.</p>



<p>Sewaktu masih di <a href="https://whathefan.com/sajak/jakarta/">Jakarta</a>, Penulis kerap bertukar pikiran dengannya dan mendapatkan banyak sekali ilmu darinya. Sayangnya sewaktu sakitnya semakin parah, Penulis merasa kurang peduli, kurang memberikan perhatian dan bantuan. </p>



<p>Sampai akhirnya, tiba-tiba Penulis mendapatkan kabar duka tersebut dari teman Penulis dan merasa cukup terpukul. Perasaan menyesal pun datang karena belum bisa membalas kepeduliannya ke Penulis. Al-Fatihah untuk beliau&#8230;</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Belajar dari pengalaman tersebut, Penulis lebih berusaha untuk menghargai orang-orang yang telah mengalokasikan waktunya untuk peduli kepada Penulis. Keberadaan mereka harus benar-benar Penulis syukuri agar tidak merasa menyesal ketika mereka sudah pergi.</p>



<p>Terkadang, kita terlalu sibuk dengan keseharian dan pikiran sendiri, sehingga mengabaikan hal-hal semacam ini. Kesibukan ini kita jadikan dalih untuk menunda-nunda apa yang seharusnya bisa kita lakukan untuk mereka yang sudah peduli dengan kita.</p>



<p>Oleh karena itu, coba <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/">berhenti sejenak</a> dari segala aktivitas kita. Tidak perlu lama-lama, cukup beberapa menit. Lalu, coba ekpresikan rasa syukur dan terima kasih kita kepada mereka yang sudah peduli dengan kita, sebelum terlambat.</p>



<p></p>



<p>NB: <em>Quote </em>di awal tulisan kerap ditulis sebagai perkataan dari seorang penulis buku harian dan korban <em>holocaust</em>, Anne Frank. Namun setelah ditelusuri, tidak ada bukti kalau<em> quote </em>tersebut berasal darinya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 28 Juni 2022, terinspirasi setelah merasa dirinya belum bisa menghargai orang-orang yang peduli dengannya</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@minan1398/">Min An on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/">Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2022 03:07:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5570</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Cukup ucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah berbaik hati mau menolong kita. Bisa secara langsung, bisa melalui pesan singkat dari ponsel. Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Cukup berusaha menerima kebaikan yang ingin ia berikan kepada kita tanpa merasa sungkan berlebihan. Jika tidak merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup ucapkan terima kasih</strong> kepada mereka yang sudah berbaik hati mau menolong kita. Bisa secara langsung, bisa melalui pesan singkat dari ponsel.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup berusaha menerima kebaikan</strong> yang ingin ia berikan kepada kita tanpa merasa sungkan berlebihan. Jika tidak merasa butuh atau cocok dengan bantuan tersebut, coba katakan terus terang tanpa perlu menyakiti.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup tidak mencela kebaikan </strong>yang mereka lakukan kepada kita. Mereka sudah mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk berbuat baik kepada kita, jangan menuntut lebih dari itu.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup dengan bersikap</strong> baik kepadanya dan berusaha untuk tidak menyakiti perasaannya. Jika ia membutuhkan bantuan kita, cobalah bantu semampu kita.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Jika mampu, <strong>coba kita balas kebaikan </strong>tersebut sesuai dengan kemampuan kita. Coba cari cara, bagaimana cara membalasnya yang tidak terlalu memberatkan kita, tapi bermanfaat untuk orang tersebut.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>





<p>Kita semua tentu ingin dikelilingi oleh orang-orang baik yang tak segan untuk menolong di saat kita membutuhkannya. Bahkan, terkadang ada saja orang yang memiliki inisiatif untuk menolong kita tanpa diminta.</p>



<p>Sebagai pihak yang menerima kebaikan orang lain, sudah seharusnya kita menghargai kebaikan tersebut. Entah dengan mengucapkan terima kasih atau berusaha membalas kebaikannya di masa depan.</p>



<p>Meskipun idealnya seperti itu, ada saja orang-orang yang tidak (atau belum) bisa menghargai kebaikan orang lain. Mereka merasa<strong> kebaikan yang diberikan oleh orang lain adalah hal yang biasa</strong> sehingga tidak perlu diapresiasi.</p>



<p>Tentu itu hal yang kurang elok dan tidak sepantasnya dilakukan. Di dunia yang kesannya orang jahat makin banyak, kita harus percaya kalau masih banyak orang-orang baik yang tersisa. Mereka seolah menjadi pelita yang menghangatkan.</p>



<p>Oleh karena itu, yuk kita belajar untuk bisa lebih <strong>menghargai kebaikan orang lain</strong> yang mereka lakukan untuk kita. Ada banyak cara untuk mengapresiasi bentuk kebaikan tersebut, tergantung kemampuan kita masing-masing mampu melakukan yang mana.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 20 Februari 2022, terinspirasi setelah menyadari ada orang-orang yang terlihat susah untuk menghargai kebaikan orang lain</p>



<p>Foto:&nbsp;<strong><a href="https://www.pexels.com/@gabby-k?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Monstera</a></strong>&nbsp;from&nbsp;<strong><a href="https://www.pexels.com/photo/crop-black-man-with-gift-box-5876621/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Menghargai Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2021 12:07:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[self-love]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5215</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang menelusuri linimasa Instagram, tanpa sengaja Penulis menemukan sebuah pos dari akun @komikin_ajah. Ada yang berbeda dengan pos tersebut sehingga menarik minat Penulis. Biasanya, akun ini akan mengunggah komik bergenre komedi. Akan tetapi, di pos ini mereka mengunggah gambar berjudul Beberapa Cara Berpikir yang Membuatmu Sulit Menghargai Dirimu Sendiri. Ketika di-swipe ke kiri, poin-poin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/">Cara Menghargai Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang menelusuri linimasa Instagram, tanpa sengaja Penulis menemukan sebuah pos dari akun <a href="https://www.instagram.com/komikin_ajah/">@komikin_ajah</a>. Ada yang berbeda dengan pos tersebut sehingga menarik minat Penulis.</p>



<p>Biasanya, akun ini akan mengunggah komik bergenre komedi. Akan tetapi, di pos ini mereka mengunggah gambar berjudul <em>Beberapa Cara Berpikir yang Membuatmu Sulit Menghargai Dirimu Sendiri.</em></p>



<p>Ketika di-<em>swipe </em>ke kiri, poin-poin yang disampaikan oleh komik karya <a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a> ini sangat <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Pembaca bisa membacanya melalui <em>embed link </em>berikut ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-instagram wp-block-embed-instagram"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CSWqwt7pZl3/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="13" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CSWqwt7pZl3/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/CSWqwt7pZl3/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank">A post shared by KOMIK KESEHATAN MENTAL🔎 (@petualanganmenujusesuatu)</a></p></div></blockquote><script async src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>
</div></figure>



<p>Karena merasa <em>related</em>, Penulis pun berpikir untuk menjabarkan poin-poin yang disampaikan berdasarkan pengalaman dan pemikiran Penulis. Harapannya, tulisan ini bisa menjadi motivasi untuk kita semua yang kesulitan untuk menghargai diri kita sendiri.</p>





<h2 class="wp-block-heading">1. <em>Negative Self-Labeling</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1.jpg" alt="" class="wp-image-5220" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Negative Self-Labeling (<a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal pertama yang membuat kita susah untuk menghargai diri kita sendiri adalah adanya <em><strong>negative self-labeling</strong></em><strong> </strong>alias mengecap diri kita dengan hal-hal negatif.</p>



<p>Semua sudah mengetahui kalau manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sialnya, kita terkadang terlalu fokus dengan kekurangan diri hingga lupa dengan kelebihan yang dimiliki.</p>



<p>Mungkin kita merasa diri ini emosian, <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">mudah <em>baper</em></a>, kurang percaya diri, ceroboh, malas, peragu, egois, <em><a href="https://whathefan.com/karakter/apakah-saya-toxic/">toxic</a></em>, dan lain sebagainya. Akibatnya, kita merasa kalau diri kita hanya terdiri dari sifat-sifat negatif tersebut.</p>



<p>Padahal, mungkin kita orang yang suka menolong orang lain, punya empati, tulus, pekerja keras, memiliki etos kerja yang baik, ramah, tidak sombong, dan lainnya. Sikap-sikap positif tersebut seolah tertutup dengan label negatif yang kita sematkan ke diri sendiri.</p>



<p>Jika kita kesulitan untuk menemukan apa kelebihan diri sendiri, tidak ada salahnya minta tolong kepada orang lain untuk menunjukkan apa kelebihan kita. Dengan mengetahui apa kelebihan diri, kita pun bisa menghindari untuk melabeli diri secara negatif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. <em>Disqualifying the Positives</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2.jpg" alt="" class="wp-image-5219" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Disqualifying the Positives (<a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu penyebab mengapa kita dengan mudahnya melabeli diri sendiri secara negatif adalah kita yang kerap melakukan <em><strong>disqualifying the positive</strong></em> atau mengerdilkan hal positif yang terjadi.</p>



<p>Entah mengapa ketika kita meraih <em>achievement </em>atau suatu keberhasilan, ada saja bisikan-bisikan negatif yang seolah melakukan <em>denial </em>kalau kita berhasil meraih atau mendapatkan sesuatu.</p>



<p>Jika tidak begitu, kita akan mencari alasan eksternal yang menyebabkan kita berhasil, seperti berkat bantuan orang lain, keberuntungan, dan lain-lain. Sebenarnya tidak salah, tapi kalau sampai membuat tidak menghargai diri sendiri ya jangan.</p>



<p>Terkadang, kita juga berpikir seperti ini gara-gara omongan dan <em>nyinyiran</em> orang lain. Kita yang cenderung susah untuk mengabaikan perkataan orang pun jadi terpengaruh dan memercayai kata mereka.</p>



<p>Bisa dibilang, poin kedua ini adalah poin yang paling tidak <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Setidaknya, Penulis masih mengapresiasi dirinya ketika berhasil melakukan sesuatu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. <em>Personalisation &amp; Blaming</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3.jpg" alt="" class="wp-image-5218" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Personalisation &amp; Blaming ( <a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Di antara empat poin yang ada di artikel ini, bisa dibilang <em><strong>personalisation &amp; blaming</strong> </em>adalah yang paling sering Penulis lakukan. Setiap ada sesuatu, dikit-dikit akan menyalahkan dirinya sendiri.</p>



<p>Parahnya, kita menyalahkan diri terhadap <a href="https://whathefan.com/karakter/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan</a>. Teman balas singkat, merasa kita merusak <em>mood</em>-nya. Bertengkar sama pasangan, kita terus <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">merasa bersalah</a> sudah membuat dia marah.</p>



<p>Kita perlu menyadari bahwa ada banyak sekali yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk orang lain. Yang benar-benar bisa kita kendalikan hanya diri kita sendiri, pikiran kita sendiri, perasaan kita sendiri.</p>



<p>Bisa dibilang, hanya menyalahkan diri sendiri tidak akan memberikan manfaat apa-apa bagi kita. Ia hanya akan merusak diri dan membuat kita melabeli diri secara negatif yang ujung-ujungnya susah untuk menghargai diri sendiri.</p>



<p>Merasa bersalah itu normal, tapi lebih baik kita gunakan untuk interopeksi dan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi. Percuma saja jika merasa bersalah, tapi tidak ada aksi untuk memperbaiki kesalahan tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">4. <em>Jumping to Conclusion</em>s</h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4.jpg" alt="" class="wp-image-5217" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Jumping to Conclusion (<a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Poin-poin yang ada artikel ini memiliki sumber yang sama: <em>overthinking</em>. Kita ini kadang terlalu banyak berpikir sehingga hal-hal yang sederhana dibuat rumit, hingga susah untuk mengapresiasi diri sendiri.</p>



<p><em><strong>Jumping to conclusion</strong> </em>atau kerap membuat kesimpulan terlalu dini adalah buah dari <em>overthinking</em>. Poin di nomor 3 bisa terjadi karena kita langsung loncat ke kesimpulan yang kita buat sendiri.</p>



<p>Parahnya, kesimpulan yang kita buat kerap bernada negatif ke arah diri sendiri. Padahal, tidak ada yang bukti konkrit yang mendukung kesimpulan tersebut. Semua hanya pikiran kita sendiri yang belum tentu benar dan seringnya tidak pernah benar.</p>



<p>Ketika menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan, seperti <em>mood </em>teman yang tiba-tiba berubah, berusahalah untuk mendiamkan otak dan tidak berpikir yang macam-macam. Alihkan perhatian ke hal lain agar kita tidak membuat kesimpulan sembarangan.</p>



<p>Cobalah untuk <a href="https://whathefan.com/karakter/berhenti-berpikir/">berhenti berpikir</a>. Tidak semua terjadi karena salah kita. Tidak perlu menyimpulkan sesuatu di dalam otak kita. Biarkan semua mengalir saja, tidak perlu disimpulkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sudah lama Penulis menyadari bahwa dirinya kerap melakukan empat poin di atas. Oleh karena itu, Penulis coba mempelajari Stoik melalui beberapa buku seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a> </em>yang intinya mengajari bahwa banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. </p>



<p>Hanya saja, untuk bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari memang tidak mudah. Bagi kaum pemikir seperti Penulis, berhenti <em>overthinking </em>itu sama susahnya dengan berhentinya orang yang kecanduan opium.</p>



<p>Sifat <em>overthinking </em>tersebut memicu kita untuk susah menghargai diri sendiri. Belum lagi adanya faktor lain seperti lingkungan yang <em>toxic</em>, trauma, ataupun situasi lain yang membuat kita susah untuk melakukannya.</p>



<p><strong>Hanya saja, kitalah yang paling mampu untuk menghargai diri sendiri. Kalau kita saja tidak menghargai diri sendiri, gimana orang lain bisa menghargai kita?</strong></p>



<p>Semoga saja setelah membuat tulisan ini, Penulis dan para Pembaca yang merasa <em>related </em> bisa  lebih menghargai diri sendiri. Memang susah, tapi bisa. Ayo kita sama-sama belajar dan mendukung satu sama lain.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 11 Agustus 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah pos dari <a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a></p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@giulia_bertelli">Giulia Bertelli</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/">Cara Menghargai Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Secangkir Toleransi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2020 14:55:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[toleran]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4206</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa tahun terakhir, bisa dibilang kata yang paling sering diributkan adalah toleransi. Seringnya, keributan terjadi di akhir tahun. Pemicunya? Apalagi kalau bukan hukum umat muslim mengucapkan selamat natal ke umat nasrani. Penulis juga merasa heran, kenapa permasalahan ini muncul terus. Apa enggak capek bertengkar untuk hal yang sama setiap tahun? Tapi kali ini Penulis tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/">Secangkir Toleransi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa tahun terakhir, bisa dibilang kata yang paling sering diributkan adalah<strong> toleransi</strong>. Seringnya, keributan terjadi di akhir tahun. Pemicunya? Apalagi kalau bukan hukum umat muslim <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">mengucapkan selamat natal</a> ke umat nasrani.</p>





<p>Penulis juga merasa heran, kenapa permasalahan ini muncul terus. Apa enggak capek bertengkar untuk hal yang sama setiap tahun?</p>
<p>Tapi kali ini Penulis tidak akan membahas tentang hukum mengucapkan selamat natal. Penulis ingin berfokus pada kata toleransi.</p>





<h3>Makna Toleransi</h3>



<p>Apa itu toleransi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi memiliki makna <strong>sifat atau sikap toleran</strong>. Lantas, makna dari kata toleran adalah:</p>
<blockquote>
<p><em>bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri</em></p>
</blockquote>
<p>Atau dalam bahasa sederhananya adalah dapat <strong>menghargai perbedaan</strong>, apapun bentuknya. Kita tidak menghakimi perbedaan yang diyakini atau dilakukan oleh orang lain.</p>
<p>Dalam konteks mengucapkan selamat natal, menurut Penulis toleransi bukan berarti semua umat muslim harus mengucapkannya. Toleransi lebih dari sekadar ucapan selamat.</p>
<p>Tidak perlu jauh-jauh, kita tilik dari sesama umat muslim terlebih dahulu. Ada ulama yang mengatakan tidak boleh mengucapkan selamat natal, ada yang membolehkan. Masing-masing memiliki dalilnya masing-masing.</p>
<p>Jika kita memang memiliki sikap toleran, kita akan saling menghargai pendapat masing-masing. Yang membolehkan tidak menghina yang melarang, begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Yang sering meributkan masalah ini sebenarnya umat muslim sendiri. <em>Mong</em> orang nasraninya sebenarnya pada <em>woles </em>mau dikasih selamat atau tidak.</p>



<h3>Analogi Secangkir Minuman</h3>



<p>Analogi toleransi yang paling mudah adalah pilihan minuman di sebuah kafe. Penulis menyukai secangkir teh, sedangkan teman Penulis menyukai secangkir kopi. Penulis tidak menyukai pahitnya kopi, sedangkan teman Penulis masih bisa menikmati hangatnya teh.</p>





<p>Toleransi itu, teman Penulis bisa menghargai Penulis yang hanya bisa minum teh. Teman Penulis tidak akan memaksa Penulis untuk meminum kopi yang bisa membuat Penulis sakit perut.</p>



<p>Sebaliknya pun seperti itu. Meskipun Penulis tidak menyukai kopi, Penulis tidak akan menghina-hina kopi sebagai minuman yang tidak enak. Penulis akan menghargai teman Penulis yang bisa menikmati kopi.</p>
<p>Bahkan sesama penikmat teh pun harus bisa saling menghargai pilihannya masing-masing. Yang suka <em>Earl Grey Tea </em>harus bisa menghargai orang yang suka <em>English Breakfast Tea</em>.</p>



<p>Begitu lah toleransi, <strong>bisa menghargai pilihan masing-masing tanpa berusaha menjatuhkan dan memaksakan pilihan kita ke orang lain</strong>.</p>
<p>Toleransi itu bukan mencampuradukkan teh dan kopi dan satu gelas. Rasanya tentu akan jadi tidak karuan, apalagi kalau mencampurnya dengan sembarangan.</p>



<h3>Penutup</h3>



<p>Entah sampai kapan polemik toleransi ini akan terus dipermasalahkan. Penulis berharap kita akan segera memiliki kesadaran kalau kita tidak bisa seperti ini terus.</p>
<p>

</p>
<p>Jika kita bisa hidup dengan saling menghargai pilihan masing-masing, toh kehidupan bernegara pun akan menjadi lebih damai dan tenang, kan?</p>
<p>Toleransi memang memiliki batasan-batasan tertentu, bisa berupa undang-undang, hukum agama, maupun adat istiadat.</p>
<p>Jika tiba-tiba ada agama baru yang tiba-tiba menjadikan idol Korea sebagai Tuhannya, tentu kita tidak bisa tinggal diam melihat kesesatan tersebut. Justru jika tidak mengingatkan kesalahan tersebut, kita bisa dianggap salah karena membiarkan sesuatu yang buruk terjadi.</p>
<p>Sebenarnya, negara kita ini sudah lama hidup berdampingan penuh toleransi, walau diakui masih banyak kasus-kasus yang tidak mencerminkan hal tersebut.</p>
<p>Entah mengapa akhir-akhir ini berubah menjadi seperti ini&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 28 Desember 2020, terinspirasi karena kata toleransi kerap ramai dibicarakan menjelang akhir tahun</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@nate_dumlao">Nathan Dumlao</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/">Secangkir Toleransi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyelamatkan Selera Musik</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyelamatkan-selera-musik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2020 14:43:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Indie]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[menyelamatkan]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[penyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[selera]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3585</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, Penulis melihat story Instagram teman yang isinya cukup menggelitik. Ceritanya, teman Penulis ini sedang memberi tahu 3 daftar penyanyi atau grup musik terbaik versinya. Pada daftar tersebut, teman Penulis meletakkan seorang penyanyi Indie yang namanya dirahasiakan di urutan nomor dua. Ternyata, urutan tersebut menimbulkan protes dari salah seorang follower-nya. Ia mengeluarkan beberapa argumen yang intinya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyelamatkan-selera-musik/">Menyelamatkan Selera Musik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, Penulis melihat <em>story </em>Instagram teman yang isinya cukup menggelitik. Ceritanya, teman Penulis ini sedang memberi tahu 3 daftar penyanyi atau grup musik terbaik versinya.</p>
<p>Pada daftar tersebut, teman Penulis meletakkan seorang penyanyi Indie yang namanya dirahasiakan di urutan nomor dua. Ternyata, urutan tersebut menimbulkan protes dari salah seorang <em>follower</em>-nya.</p>
<p>Ia mengeluarkan beberapa argumen yang intinya mengharuskan penyanyi Indie tersebut berada di nomor satu. Teman Penulis berusaha membalasnya dengan santai.</p>
<p>Ujung-ujungnya, <em>follower </em>tersebut mengatakan bahwa dirinya hanya ingin <strong>menyelamatkan selera musik</strong> teman Penulis. Lah, sejak kapan selera musik kita bisa diatur oleh orang lain? Hal ini menimbulkan kesan tersendiri bagi Penulis.</p>
<p>Penulis kira kejadian tersebut adalah kejadian langka yang jarang terjadi. Penulis yakin kalau penikmat musik Indie tidak banyak yang seperti itu.</p>
<p>Tapi kemarin, di postingan Instagram Si Juki, sang <em>author </em>juga membuat <a href="https://www.instagram.com/p/B9JdsIbHXQQ/">sketsa komik dengan tema yang serupa</a>! Bahkan kalimatnya sama: <strong>menyelamatkan selera musik!</strong></p>
<p><div id="attachment_3596" style="width: 755px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3596" class="size-full wp-image-3596" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/menyelamatkan-selera-musik-2.jpg" alt="" width="745" height="744" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/menyelamatkan-selera-musik-2.jpg 745w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/menyelamatkan-selera-musik-2-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/menyelamatkan-selera-musik-2-150x150.jpg 150w" sizes="(max-width: 745px) 100vw, 745px" /><p id="caption-attachment-3596" class="wp-caption-text">Komik Si Juki (<a href="https://www.instagram.com/p/B9JdsIbHXQQ/">@jukihoki</a>)</p></div></p>
<p>Penulis jadi teringat sebuah <em>tweet </em>yang sudah agak lama, di mana ada warga Twitter yang &#8220;menyombongkan&#8221; penyanyi Indie favorit mereka sembari merendahkan orang-orang yang enggan mendengarkannya.</p>
<p>Kalau sudah seperti ini, berarti memang ada sesuatu yang salah.</p>
<h3>Selera Musik Hak Setiap Individu</h3>
<p>Sepengertian Penulis, yang namanya selera itu tergantung dari masing individu. Bisa karena pengaruh lingkungan, mendapatkan &#8220;hidayah&#8221;, bahkan kerap tanpa alasan yang pasti.</p>
<p>Begitu pun dengan musik. Apalagi, musik memiliki diversitas genre yang banyak sekali. Ada musik rock, pop, dangdut, keroncong, <em>reggae</em>, jazz, <em>classic</em>, K-Pop, EDM, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis sendiri termasuk orang yang mendengarkan berbagai jenis musik. Di iTunes Penulis, ada Linkin Park, Girls&#8217; Generation, Chrisye, Michael Buble, Eminem, Queen, Steve Aoki, Justin Bieber, Mozart, sampai <em>soundtrack</em> anime.</p>
<p><div id="attachment_3592" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3592" class="size-large wp-image-3592" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/menyelamatkan-selera-musik-1-1024x557.jpg" alt="" width="800" height="435" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/menyelamatkan-selera-musik-1-1024x557.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/menyelamatkan-selera-musik-1-300x163.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/menyelamatkan-selera-musik-1-768x417.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/menyelamatkan-selera-musik-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3592" class="wp-caption-text">iTunes Penulis</p></div></p>
<p>Penulis tidak pernah mempermasalahkan pilihan musik orang, walaupun dulu masih suka nge-<em>judge </em>beberapa penyanyi atau grup band yang tidak disukai. Selera adalah hak dari setiap individu.</p>
<p>Nah, oleh karena itu Penulis merasa heran kalau ada orang-orang yang sampai menganggap selera musiknya paling tinggi sembari merendahkan orang lain.</p>
<p>Tak cukup di situ, tak jarang mereka juga memaksakan selera mereka ke orang lain dengan membeberkan sederet alasan mengapa kita harus mendengarkan lagu mereka.</p>
<p>Manusia itu kan diciptakan berbeda-beda. Kembar identik aja pasti memiliki perbedaan. Selera musik pun pasti akan berbeda tiap individunya, kenapa harus dipermasalahkan?</p>
<p>Jujur saja, kita yang bukan penggemar musik Indie ini tidak merasa sedang butuh diselamatkan. Kita merasa <em>enjoy-enjoy </em>aja dengan selera musik yang kita dengarkan.</p>
<p>Kalau pun mereka menganggap selera musik kita sampah, ya biar saja. Toh, kita mendengarkan dengan telinga kita sendiri, bukan telinga mereka. Kenapa harus pusing mikirin hidup orang lain, <em>sih</em>?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Untuk saat ini, Penulis memang belum bisa menjadi penggemar musik Indie karena pada dasarnya menyukai musik yang keras. Apalagi, Penulis tipe orang yang menikmati dentuman musiknya, bukan syahdu liriknya.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis memiliki banyak teman yang menjadi penikmat musik Indie. Terkadang, Penulis juga mendengarkan musik-musik yang mereka mainkan melalui <em>speaker </em>dan bisa ikut menikmatinya.</p>
<p>Teman-teman Penulis tersebut juga tidak pernah merasa selera musik mereka adalah yang terbaik, sehingga Penulis yakin hanya oknum-oknum tertentu yang terlalu berlebihan dalam menyukai musik Indie.</p>
<p><a href="https://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">Menghargai perbedaan itu dimulai yang terkecil</a>. Kalau kita tidak bisa menghargai selera musik orang lain, bagaimana bisa berharap kita akan menghargai untuk sesuatu yang lebih besar?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 2 Maret 2020, terinspirasi dari anak Indie yang merasa selera musik mereka adalah yang terbaik</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@spencerimbrockphoto?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Spencer Imbrock</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyelamatkan-selera-musik/">Menyelamatkan Selera Musik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2019 16:51:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[beda]]></category>
		<category><![CDATA[korea]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[selera]]></category>
		<category><![CDATA[tontonan]]></category>
		<category><![CDATA[unik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2116</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam sebuah rapat, atasan penulis bercerita bahwa dirinya harus menggunakan aplikasi lain agar bisa mendengarkan musik dangdut. Alasannya, banyak yang menertawakan jika ia mendengarkan lagu dangdut menggunakan aplikasi Spotify. Sama halnya dengan penulis yang selera musiknya bisa dibilang berbeda dari orang-orang kebanyakan. Penulis menyukai berbagai genre, mulai lagu rock yang keras seperti Linkin Park hingga musik instrumental yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah rapat, atasan penulis bercerita bahwa dirinya harus menggunakan aplikasi lain agar bisa mendengarkan musik dangdut. Alasannya, banyak yang menertawakan jika ia mendengarkan lagu dangdut menggunakan aplikasi Spotify.</p>
<p>Sama halnya dengan penulis yang selera musiknya bisa dibilang berbeda dari orang-orang kebanyakan. Penulis menyukai berbagai genre, mulai lagu <em>rock </em>yang keras seperti <a href="http://whathefan.com/musikfilm/saya-dan-linkin-park-tentang-kematian-chester-dan-perjumpaan-saya-dengan-linkin-park/">Linkin Park</a> hingga musik instrumental yang berasal dari <em>soundtrack </em>anime.</p>
<p><div id="attachment_2126" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2126" class="size-large wp-image-2126" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/chester-bennington-linkin-park-Spur-Magazine-1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/chester-bennington-linkin-park-Spur-Magazine-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/chester-bennington-linkin-park-Spur-Magazine-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/chester-bennington-linkin-park-Spur-Magazine-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/chester-bennington-linkin-park-Spur-Magazine.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2126" class="wp-caption-text">Vokalis Linkin Park (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjz-dmFwqLgAhXaEHIKHWPKC3wQjB16BAgBEAQ&amp;url=https%3A%2F%2Fspur.innovware.net%2Fnews%2Fchester-bennington-linkin-park-lead-singer-dead%2F&amp;psig=AOvVaw3YvNr8e55cebZpcBS8_nNj&amp;ust=1549384704003408" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjz-dmFwqLgAhXaEHIKHWPKC3wQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Spur Magazine &#8211; Innovware</span></a>)</p></div></p>
<p>Dengan perbedaan ini, penulis merasa lagu yang penulis dengarkan tidak akan bisa dinikmati oleh kebanyakan orang. Apalagi, kalau kebetulan penulis mendengarkan lagu yang kata kolega seperti &#8220;suara cewek kejepit&#8221;.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis lebih sering mendengarkan sendiri lagu-lagu penulis dan tidak menyetelnya melalui <em>speaker </em>bersama. Tidak masalah, yang minoritas harus mendahulukan kepentingan mayoritas.</p>
<p>Begitu pula dengan selera tontonan. Ada sebuah <em>stereotype</em> bahwa anime adalah serial untuk anak-anak. Padahal, anime juga memiliki <em>genre</em> dan segmen sendiri-sendiri, sama seperti drama Korea maupun serial yang ada di Netflix.</p>
<p>Setiap individu memiliki selera masing-masing, dan sudah seharusnya dari hal sekecil itu kita bisa belajar tentang menghargai perbedaan.</p>
<h3>Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil</h3>
<p>Mengetahui fakta ini, penulis hanya bisa tersenyum, mungkin dengan sedikit prihatin. Mengapa? Karena merasa bahwa untuk menghargai perbedaan sekecil selera musik saja tidak bisa, bagaimana menghargai perbedaan yang lebih besar?</p>
<p>Penulis tidak heran jika masyarakat kita sangat mudah sekali tersulut untuk bertikai hanya karena perbedaan pendapat. Jangankan memilih presiden, bahkan bisa jadi untuk tingkat ketua RW saja bisa ribut.</p>
<p>Vokalis dari band <strong>Nirvana, Kurt Cobain<em>, </em></strong>mempunyai sebuah <em>quote </em>yang mungkin cocok dengan topik tulisan kali ini:</p>
<blockquote><p>They laugh at me because I&#8217;m different; I laugh at them because they&#8217;re all the same</p></blockquote>
<p>Menurut penulis, seharusnya kita tidak perlu saling menertawakan seperti yang dikatakan oleh Cobain. Yang suka dengan hal yang sedang populer, ya tak usah menertawakan yang ingin berbeda. Yang ingin berbeda, juga tak perlu merasa lebih tinggi derajatnya dari orang kebanyakan.</p>
<p>Yang namanya <a href="http://whathefan.com/karakter/budaya-menghargai-di-indonesia/">menghargai</a>, bagi penulis artinya berusaha memahami perbedaan orang lain. Selama tidak melanggar norma dan agama, tidak ada yang salahnya menyukai sesuatu atau memiliki selera yang unik. Tidak ada yang salah menjadi berbeda dari orang kebanyakan, dengan syarat yang telah disebutkan di atas.</p>
<p><div id="attachment_2125" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2125" class="size-large wp-image-2125" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/friends-lying-at-home-and-listening-music-together_v1gbucb1u__F0000-1024x576.png" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/friends-lying-at-home-and-listening-music-together_v1gbucb1u__F0000-1024x576.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/friends-lying-at-home-and-listening-music-together_v1gbucb1u__F0000-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/friends-lying-at-home-and-listening-music-together_v1gbucb1u__F0000-768x432.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/friends-lying-at-home-and-listening-music-together_v1gbucb1u__F0000.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2125" class="wp-caption-text">Menghargai Perbedaan Selera (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.videoblocks.com/video/friends-lying-at-home-and-listening-music-together-qms1cqz" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiO5Zvgw6LgAhUCWX0KHYn7DIQQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Video Blocks</span></a>)</p></div></p>
<p>Dengan menanamkan sikap saling menghargai terhadap sesama, penulis yakin hidup kita akan lebih tenang karena tak perlu repot-repot <em>julid </em>ke orang lain. Cara menanam sikap tersebut ya dimulai dari hal terkecil, seperti selera musik dan tontonan.</p>
<p>Penulis bisa bilang seperti ini karena pernah <em>julid </em>di masa lalu. Dulu bilang &#8220;<a href="http://whathefan.com/musikfilm/%EB%A6%AC%EC%8C%8D-%ED%9E%99%ED%95%A9-%EB%93%80%EC%98%A4-%EC%BD%94%EB%A6%AC%EC%95%84/">Korea</a> apa bagusnya sih?&#8221;, eh ternyata pernah suka sama SNSD dan Super Junior. Dulu <em>nyinyir </em>&#8220;<a href="http://whathefan.com/category/animekomik/">anime</a> apa bagusnya sih?&#8221;, eh sekarang punya koleksi puluhan anime di laptopnya.</p>
<p>Oleh karena dua pengalaman itu, penulis menjadi sadar bahwa sudah seharusnya kita menghargai selera orang lain tanpa perlu memberikan justifikasi yang tidak bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 4 Februari 2019, terinspirasi dari sebuah rapat siang yang membahas <em>partnership </em>dengan salah satu pengembang aplikasi musik</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.fanpop.com/clubs/anime-music/images/37535480/title/k-on-just-joined-here-photo" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwit6J27xKLgAhXaTn0KHXJ1DEoQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Fanpop</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merasa Lebih Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2018 11:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[perdebatan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1741</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika penulis membuat analisa kecil-kecilan tentang akar berbagai permasalahan yang tengah menyerbu bangsa ini, ada satu hal yang paling menonjol. Mungkin dari judul pembaca sudah bisa menebak, salah satu penyebab terjadinya masalah adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Penulis ambil sebuah contoh tentang masalah hijrah, karena perdebatan antara yang memilih untuk berhijrah dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">Merasa Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika penulis membuat analisa kecil-kecilan tentang akar berbagai permasalahan yang tengah menyerbu bangsa ini, ada satu hal yang paling menonjol. Mungkin dari judul pembaca sudah bisa menebak, salah satu penyebab terjadinya masalah adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain.</p>
<p>Penulis ambil sebuah contoh tentang masalah hijrah, karena perdebatan antara yang memilih untuk berhijrah dan yang memilih untuk bertahan di jalannya kerap terjadi di media sosial.</p>
<p>Yang berhijrah sering mengampanyekan diri agar bagi mereka yang ingin berhijrah ikut bersama mereka. Yang belum berhijrah sering menyoroti poin-poin yang dikampanyekan yang sudah berhijrah.</p>
<p>Tentu ada orang-orang dari kedua kelompok tersebut yang tidak memaksakan keyakinan mereka dan menghargai pilihan masing-masing individu. Tapi ada pula yang terlihat <em>ngotot </em>memaksakan keyakinan mereka kepada orang lain.</p>
<p>Ambil contoh, pernikahan di usia dini. Tentu yang berhijrah mengajak para kawula muda untuk menyegerakan pernikahan demi menghindari perzinaan. Yang belum berhijrah, memberikan argumentasi tentang resiko-resiko dari pernikahan muda.</p>
<p>Nah, yang berbahaya adalah jika timbul rasa <strong>merasa lebih baik </strong>dari orang lain setelah mengambil pilihan tersebut.</p>
<p>Yang telah berhijrah merasa dirinya lebih tinggi derajatnya daripada yang belum. Yang belum berhijrah juga merasa dirinya lebih baik sambil tertawa sinis melihat tingkah pola orang-orang yang mengaku telah berhijrah yang dirasa berlebihan.</p>
<p>Seharusnya, kita harus bisa berbuat kebaikan tanpa perlu <a href="http://whathefan.com/karakter/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/">merasa diri lebih baik dari orang lain</a>. Yang memilih telah berhijrah, <em>alhamdulillah</em>. Jangan sampai merasa lebih hebat dari yang belum, sembari mengajak secara halus kawan-kawannya untuk ikut berhijrah.</p>
<p>Untuk yang belum, ya minimal jangan <em>nyinyirin </em>mereka. Apa yang mereka sampaikan di berbagai wadah merupakan perintah agama, walaupun mungkin ada yang cara penyampiannya kurang elok. Cobalah mulai mendalami agama agar pikiran kita tidak terlalu sekuler.</p>
<p>Dengan mengurangi rasa tinggi hati yang ada di dalam diri dan tidak merasa diri paling benar, niscaya kita bisa lebih saling menghargai sebuah perbedaan, sehingga kehidupan kita bisa menjadi lebih tenang dan nyaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 November 2018, terinspirasi dari berbagai perbincangan antara yang sudah berhijrah dan yang belum</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/RMMWgYdtaEc?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Alex Mihai</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/angry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">Merasa Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Enaknya Diremehkan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/enaknya-diremehkan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/enaknya-diremehkan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2018 11:00:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[diremehkan]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[remeh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1531</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagaimana bisa enak? Bukankah menyakitkan jika kita dipandang sebelah mata seolah? Bukankah menyedihkan apabila posisi kita dianggap lebih rendah daripada orang yang meremehkan? Tenang, semua bisa dijelaskan baik-baik. Di dalam KBBI, kata remeh memiliki makna: tidak penting; tidak berharga; kecil: Artinya, kita dianggap tidak penting, tidak berharga, atau dianggap kecil oleh orang maupun kelompok. Tentu dianggap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/enaknya-diremehkan/">Enaknya Diremehkan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana bisa enak? Bukankah menyakitkan jika kita dipandang sebelah mata seolah? Bukankah menyedihkan apabila posisi kita dianggap lebih rendah daripada orang yang meremehkan?</p>
<p>Tenang, semua bisa dijelaskan baik-baik. Di dalam KBBI, kata remeh memiliki makna:</p>
<blockquote><p>tidak penting; tidak berharga; kecil:</p></blockquote>
<p>Artinya, kita dianggap tidak penting, tidak berharga, atau dianggap kecil oleh orang maupun kelompok. Tentu dianggap seperti itu melukai perasaan siapapun, walaupun seringkali hal tersebut tidak diungkapkan secara eksplisit.</p>
<p>Daripada sibuk dengan perasaaan, lebih baik kita ubah hal tersebut menjadi hal yang lebih positif. Caranya, dengan mengubah peremehan tersebut menjadi <strong>motivasi untuk bisa lebih sukses dari mereka</strong>.</p>
<p>Bukankah itu dendam? Jika kita niatkan untuk menunjukkan bahwa kita lebih baik dari mereka, iya, dan itu buruk. Apalagi menikmati ekspresi kekagetan mereka sewaktu kita berhasil melampaui mereka.</p>
<p>Cukup niatkan bahwa kita tidak seperti yang mereka pikirkan. Tunjukkan bahwa kita sederajat, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah.</p>
<p>Salah satu penyebab orang lain meremehkan kita adalah <strong>ketidakmampuannya untuk menghargai orang lain</strong>. Kita jadi bisa belajar untuk lebih menghargai orang lain karena tahu bagaimana tidak enaknya diremehkan.</p>
<p>Nikmati setiap pandangan skeptis orang lain terhadap kita. Jangan dimasukkan ke dalam hati dan tersinggung, karena hal tersebut hanya akan membuat kita merasa lelah.</p>
<p>Lagipula, bisa jadi hal tersebut bisa jadi hanya perasaan kita semata. Orang yang kita tuduh sedang menganggap sepele eksistensi kita sebenarnya tidak berpikiran seperti itu.</p>
<p>Jika ada yang meremehkan kita, sudah abaikan saja. Kita ambil <strong>enaknya</strong> saja seperti yang telah penulis sebutkan di atas, selebihnya tutup telinga dan berusaha terus untuk mencapai apa yang kita inginkan, baik dalam dunia pendidikan maupun lingkungan kerja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 23 Oktober 2018, terinspirasi dari salah satu <em>tweet</em> lama dari seseorang di Twitter</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/5BrFcOXtgrE?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">J&#8217;Waye Covington</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/people-sad?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/enaknya-diremehkan/">Enaknya Diremehkan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/enaknya-diremehkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Budaya Menghargai di Indonesia</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2018 08:15:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[Asian Games]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1164</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika masih aktif di pers mahasiswa (bernama Kavling 10) di Universitas Brawijaya, ada satu momen yang tidak terlupakan di memori penulis. Tidak ada kaitannya dengan kegiatan jurnalistik, tapi sangat melekat karena berkaitan dengan budaya menghargai di Indonesia. Salah satu anggota Kavling 10 bercerita bahwa dirinya baru saja menemani bule di Indonesia. Penulis lupa, dalam rangka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/">Budaya Menghargai di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika masih aktif di pers mahasiswa (bernama Kavling 10) di Universitas Brawijaya, ada satu momen yang tidak terlupakan di memori penulis. Tidak ada kaitannya dengan kegiatan jurnalistik, tapi sangat melekat karena berkaitan dengan budaya menghargai di Indonesia.</p>
<p>Salah satu anggota Kavling 10 bercerita bahwa dirinya baru saja menemani bule di Indonesia. Penulis lupa, dalam rangka apa anggota tersebut menemani sang tamu asing dan bagaimana dia bisa menjadi semacam <em>tour guide</em>.</p>
<p>Kericuhan terjadi ketika anggota tersebut berkata <em>hold on </em>dengan aksen yang Indonesia banget. Teman-teman lain yang sedang mendengarkan langsung <em>nyolot </em>dengan tujuan mengoreksi pengucapan yang benar, tentu konteksnya bercanda.</p>
<p>Nah, di sinilah anggota tersebut merasa heran, kenapa orang Indonesia itu tidak bisa menghargai orangnya sendiri. Bulenya saja memaklumi pengucapan kita, kok ini sama-sama orang Indonesia malah protes.</p>
<p>Hehehe, ketika itu penulis hanya mengamati dalam diam sembari mencatatnya di salah satu sudut otak penulis karena merasa adegan ini akan terjadi pada diri penulis sendiri. Hal itu sudah terbukti sekarang ketika penulis menjadi sukarelawan di Asian Games 2018.</p>
<p><strong>Berbincang dengan Wartawan Asing</strong></p>
<p>Penulis mendapatkan pengalaman berbincang dengan beberapa wartawan dari luar negeri, sebut saja dari Taiwan, Qatar, hingga Bangladesh, meskipun dengan bahasa yang tertatih-tatih. Lama tidak berbicara dalam bahasa Inggris selepas dari Pare, Kediri, ternyata lumayan membuat lidak penulis kaku.</p>
<p>Yang paling berkesan adalah ketika berbincang dengan wartawan dari Taiwan, yang memuji kemampuan <em>speaking </em>penulis. Bukan karena jago, melainkan karena di negaranya, tidak semua anak bisa berbahasa Inggris. Penulis berasumsi, alasan di balik hal tersebut sama dengan anak-anak di Jepang maupun Prancis: Mereka bangga dengan bahasa mereka sendiri.</p>
<p><div id="attachment_1165" style="width: 631px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1165" class="size-full wp-image-1165" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39.jpg" alt="" width="621" height="723" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39.jpg 621w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39-258x300.jpg 258w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39-219x255.jpg 219w" sizes="(max-width: 621px) 100vw, 621px" /><p id="caption-attachment-1165" class="wp-caption-text">Dengan Wartawan Taiwan</p></div></p>
<p>Dengan wartawan lain pun, penulis merasa sangat dihargai. Mereka seolah memaklumi keterbatasan kata penulis, karena memang bahasa Inggris bukan bahasa utama kami. Mereka tidak marah jika kita tidak mengerti maksud mereka.</p>
<p>Hal yang sebaliknya terjadi pada wartawan dari negara kita sendiri.</p>
<p><b>Protes dari Bangsa Sendiri</b></p>
<p>Berawal dari keengganan dua rekan penulis untuk menjadi <em>tranlator, </em>penulis memutuskan untuk bersedia menerima tanggungjawab besar tersebut. Dua rekan tersebut merasa tertekan dengan perlakuan wartawan yang gencar melakukan protes ketika terjadi kesalahan penerjemahan.</p>
<p><em>Translator </em>sendiri merupakan salah satu <em>jobdesk</em> untuk para sukarelawan Asian Games yang bertugas melakukan penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia (ataupun sebaliknya) ketika <em>press conference </em>berlangsung.</p>
<p>Ketika mencoba menjadi <em>translator</em>, penulis menyadari betapa sulitnya mendengarkan apa kata pelatih maupun pemain yang sedang berbicara. Selain terdapat aksen yang sangat susah untuk dicerna, penempatan <em>translator </em>yang berdiri di belakang <em>speaker</em> juga mempersulit.</p>
<p><div id="attachment_1166" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1166" class="size-large wp-image-1166" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1166" class="wp-caption-text">Suasana Konferensi Pers</p></div></p>
<p>Penulis mengalami sendiri bagaimana wartawan melakukan protes ketika terjemahan yang diucapkan oleh rekan penulis dianggap salah. Pun ketika rekan penulis salah menerjemahkan pertanyaan dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.</p>
<p>Memang, menjadi penerjemah adalah salah satu tugas kami, sehingga wajar jika wartawan mengharapkan kami tampil dengan sempurna. Tapi kami bukan penerjemah profesional. Bagi kami, ini adalah pengalaman pertama kali menjadi penerjemah, sehingga wajar jika kami melakukan kesalahan-kesalahan.</p>
<p>Alangkah baiknya jika wartawan-wartawan lokal justru membantu kami jika ada kesalahan-kesalahan, misal memberitahu kepada rekan wartawan yang lain bahwa maksud dari pernyataan pelatih adalah bla bla bla tanpa perlu menghardik para <em>translator</em>.</p>
<p>Tentu hanya beberapa wartawan yang berlaku seperti itu. Ada juga beberapa wartawan yang justru memberi kami tips-tips bagaimana menerjemahkan dengan baik. Seandainya semua seperti itu dan bisa memaklumi kekurangan kami, tentu akan lebih membantu kami daripada sekedar protes.</p>
<p><strong>Budaya Menghargai Kurang Mengakar</strong></p>
<p>Dari kacamata penulis (penulis memang memakai kacamata), penulis melihat perbedaan ini terjadi karena budaya menghargai yang kurang mengakar. Contoh beda perlakukan dari wartawan tadi hanya satu contoh kecil yang terjadi di negara ini.</p>
<p>Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya pendidikan karakter di Indonesia, sehingga masyarakatnya tidak terbiasa memberikan apresiasi kepada bangsanya sendiri.</p>
<p>Menghargai adalah salah satu karakter yang seharusnya wajib dimiliki oleh setiap individu. Bayangkan seandainya semua orang bisa menghargai masing-masing pasangan capres-cawapres, tentu media sosial tidak akan ricuh seperti sekarang.</p>
<p>Lantas, bagaimana caranya menghargai orang lain? Ya gampangnya, ketika orang tersebut melakukan sesuatu yang baik, pujilah sewajarnya. Ketika orang lain berbuat kesalahan, kita maklumi dan kita koreksi dengan sehalus mungkin.</p>
<p>Semoga saja di masa depan, pendidikan karakter akan masuk ke dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Tentu peran dari orang tua dan lingkungan juga dibutuhkan untuk mengasah kemampuan kita agar dapat menghargai orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropolitan Mal, 21 Agustus 2018, terinspirasi dari cerita rekan penulis yang bertugas menjadi <em>translator </em>dan dari pengalaman pribadi</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/saJkxOZXPsk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Tiago Felipe Ferreira</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/respect?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/">Budaya Menghargai di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
