<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>murid Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/murid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/murid/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 May 2024 15:06:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>murid Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/murid/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 May 2024 15:06:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7238</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan ulasan novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya, Penulis sudah menyebutkan kalau dirinya membeli buku tersebut karena tertarik membaca novel-novel karya penulis Jepang setelah membaca seri Funiculi Funicula. Sebenarnya sebelum membaca buku tersebut, Penulis sudah membaca novel Jepang lain berjudul Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata karya Sakae Tsuboi. Hanya saja, novel tersebut kurang berkesan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/">[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tulisan ulasan novel <a href="https://whathefan.com/olahraga/biasakan-nonton-mu-sampai-habis-lol/"><em>Keajaiban Toko Kelontong Namiya</em>, </a> Penulis sudah menyebutkan kalau dirinya membeli buku tersebut karena tertarik membaca novel-novel karya penulis Jepang setelah membaca seri <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">Funiculi Funicula</a></em>.</p>



<p>Sebenarnya sebelum membaca buku tersebut, Penulis sudah membaca novel Jepang lain berjudul <strong><em>Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</em> </strong>karya <strong>Sakae Tsuboi</strong>. Hanya saja, novel tersebut kurang berkesan, sehingga Penulis jadi malas membuat ulasannya.</p>



<p> Namun, karena sesuai jadwal harusnya novel ini dibuat ulasannya dan kemalasan menuliskannya membuat tulisan yang lain jadi ikut tertunda, Penulis pun meniatkan diri untuk menyelesaikan artikel ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</li>



<li>Penulis: Sakae Tsuboi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keduabelas</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2023</li>



<li>Tebal: 248 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020651729</li>



<li>Harga: Rp70.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</h2>



<p><em>Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</h2>



<p>Berhubung novelnya tipis (hanya sekitar 200 halaman), sebenarnya cerita yang disajikan sederhana saja. Apa yang tertuang di bagian sinopsis sudah menjelaskan garis besar cerita novel ini, sehingga rasanya Penulis tidak perlu menceritakan lagi apa isi buku ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</h2>



<p>Ketika melihat novel ini di toko buku, Penulis tertarik dengan latar pendidikan yang diangkat di antara dua era Perang Dunia ini. Dengan jumlah murid yang sedikit di tempat terpencil, Penulis juga jadi berharap kalau isinya akan mirip dengan <em>Laskar Pelangi</em>.</p>



<p>Sayangnya, harapan tersebut pupus begitu saja ketika Penulis sudah mulai membaca novel yang tergolong klasik ini. Penulis sama sekali kesulitan untuk bisa menikmati gaya bahasanya dan alur ceritanya. </p>



<p>Bahkan, Penulis tidak bisa banyak ingat apa saja kisah yang ada di dalamnya. Ceritanya berkutat di antara bagaimana bu guru yang bergaya modern harus beradaptasi dengan lingkungan desa judgemental<em> </em>dan berbagai konflik yang dihadapi oleh para muridnya.</p>



<p>Selain itu, berbeda dengan <em>Laskar Pelangi</em>, Penulis sangat kesulitan untuk membedakan murid-muridnya. Apalagi, novel ini juga tidak memiliki satu figur tokoh utama yang bisa membantu kita menavigasi arah cerita.</p>



<p>Sudah namanya sulit-sulit, masing-masing pun rasanya tidak terlalu memiliki ciri khas yang menonjol untuk diingat. Alhasil, sepanjang cerita, Penulis kesulitan untuk membayang tiap adegan yang terpampang karena merasa kesulitan untuk mengasosiasikan ini siapa itu siapa.  </p>



<p>Saat mengecek di Goodreads, sebenarnya ada banyak pembaca novel ini yang jatuh cinta dan menganggap ceritanya yang <em>bittersweet</em> menyentuh hati. Sayangnya, Penulis bukan salah satunya karena sungguh tidak bisa menikmatinya.</p>



<p>Bahkan ketika habis membacanya, sama sekali tidak muncul perasaan haru. Yang ada justru rasa syukur karena akhirnya bisa menyelesaikan novel ini yang walaupun pendek, rasanya sangat berat untuk menamatkannya.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga bersyukur karena akhirnya bisa mengurangi &#8220;tanggungannya&#8221; dengan menuliskan ulasan singkat tentang novel ini. Setidaknya satu beban tulisan telah selesai.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Rating: 3/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 12 Mei 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Dua Belas Pasang Mata </em>karya Sakae Tsuboi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/">[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 May 2021 14:42:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Assassination Classroom]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[manga]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4989</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertama kali Penulis mendengar tentang manga Assassination Classroom adalah ketika ada semacam acara &#8220;lomba presentasi&#8221; di Karang Taruna. Salah satu anggota menceritakan tentangnya. Ketika mendengar penjelasannya, Penulis langsung merasa tertarik dengan premisnya. Ada seorang guru berbentuk gurita kuning yang miliki kekuatan super dan kecepatan hingga 20 Mach. Dengan kemampuannya, ia justru memilih untuk menjadi seorang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/">Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pertama kali Penulis mendengar tentang manga <em><strong>Assassination Classroom</strong> </em>adalah ketika ada semacam acara &#8220;lomba presentasi&#8221; di Karang Taruna. Salah satu anggota menceritakan tentangnya.</p>



<p>Ketika mendengar penjelasannya, Penulis langsung merasa tertarik dengan premisnya. Ada seorang guru berbentuk gurita kuning yang miliki kekuatan super dan kecepatan hingga 20 Mach. Dengan kemampuannya, ia justru memilih untuk menjadi seorang guru di kelas bermasalah.</p>



<p>Anehnya, Penulis justru tertarik untuk membaca manganya daripada menonton animenya. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli semua serinya, dari volume 1 sampai 21.</p>



<p>Beberapa hari yang lalu, Penulis tiba-tiba tergerak untuk membaca ulang semua volumenya. Oleh karena itu, Penulis ingin menulis artikel tentang <em>Assassination Classroom</em>.</p>



<p>Karena ini merupakan manga lama (rilis perdana pada tahun 2012), rasanya Penulis tidak perlu menulis panjang lebar tentang alur ceritanya. Penulis ingin berfokus pada sesuatu yang unik tentang manga ini, yakni tentang sistem pendidikannya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Sistem Sekolah SMP Kunugigaoka</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5010" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>SMP Kunugigaoka (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://ansatsukyoshitsu.fandom.com/wiki/Kunugigaoka_Magic_Academy">Assassination Classroom Wiki &#8211; Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal unik yang ingin Penulis bahas di tulisan ini adalah tentang sistem pendidikan yang diterapkan di <strong>SMP Kunugigaoka</strong>. Setiap tingkat memiliki lima kelas, di mana kelas E menjadi tempat murid bermasalah dan kurang berprestasi.</p>



<p>Hal ini dilakukan oleh sang kepala sekolah,<strong> Gakuho Asano</strong>, untuk menciptakan ekosistem pendidikan dengan daya saing yang tinggi. Para murid didoktrin agar jangan sampai mereka masuk ke kelas E yang dianggap singkatan dari <em>End </em>tersebut.</p>



<p>Waktu Penulis SMP, yang ada justru kebalikannya. Kelas A menjadi kelas unggulan yang berisikan murid-murid yang berhasil mendapatkan peringkat teratas ketika ujian masuk. Sebaliknya, kelas paling bawah (kelas G) menjadi kelas yang peringkatnya paling bawah.</p>



<p>Sistem seperti ini Penulis jalani selama 2 tahun, karena ketika kelas 9 semua kelas diacak agar sama rata. Tidak ada lagi kelas unggulan, tidak ada lagi kelas yang dibuat berdasarkan urutan nilai murid.</p>



<p>Bagi Penulis, kelas dengan sistem diskriminasi yang diterapkan oleh Asano di sekolahnya jelas tidak ideal. Impiannya untuk membuat 95% muridnya menjadi lebih superior dibandingkan yang 5% murid di kelas E jelas merusak mental.</p>



<p>Selain itu, bukan tidak mungkin para murid akan saling senggol karena yang ada di pikiran mereka hanyalah menyelamatkan diri sendiri agar tidak sampai masuk ke kelas E.</p>



<p>Jika saja Koro sensei tidak masuk ke kelas tersebut, bisa saja murid-murid kelas E akan merasa tidak berguna sepanjang hidupnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengembangkan Bakat dan Minat Murid</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5009" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Setiap Murid Berbeda (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://ansatsukyoshitsu.fandom.com/wiki/Class_3-E">Assassination Classroom Wiki &#8211; Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p>Nah, salah satu nilai jual dari manga ini adalah hubungan unik antara guru dan muridnya. Di dunia ini, tidak ada satupun murid yang diperintahkan untuk menghabisi gurunya. Bahkan tidak ada sekolah yang diajar oleh makhluk berbentuk gurita berwarna kuning.</p>



<p>Anehnya, hubungan unik ini justru berhasil <strong>mengeluarkan potensi setiap murid</strong> yang ada di sana. Karena memiliki misi menyelamatkan dunia, perasaan tidak berguna perlahan-lahan hilang dari diri mereka.</p>



<p>Kelas ini awalnya memiliki 26 murid, sebelum akhirnya bertambah 2 murid tambahan yang bertujuan untuk membunuh Koro sensei. Mereka semua ternyata memiliki bakat masing-masing dan Koro sensei membantu mereka mengasah bakat tersebut.</p>



<p>Pendekatan yang dilakukan oleh Koro sensei inilah yang kurang dari pendidikan kita. <strong>Semua murid diperlakukan sama tanpa mempedulikan apa bakat dan minat mereka</strong>. </p>



<p>Jika dianalogikan sebagai hewan, semua murid diperintah untuk terbang, tidak peduli kita ikan, kucing, dan hewan lain yang memang tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Semua menggunakan standar penilaian yang sama.</p>



<p>Ideologi yang dianut oleh Koro sensei jelas berbeda dengan yang dianut oleh kepala sekolah. Hal inilah yang membuat mereka kerap berseberangan dalam menentukan sikap bagaimana membina murid.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Guru yang Serba Bisa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5008" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Guru Idaman (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://wallpaperaccess.com/koro-sensei">WallpaperAccess</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai seorang guru, Koro sensei memiliki pengetahuan yang begitu luas. Ia menguasai semua mata pelajaran sehingga dapat <strong>menyampaikan ilmunya dengan baik</strong> ke murid-muridnya.</p>



<p>Tidak hanya itu, ia juga bisa menentukan<strong> metode mana yang paling cocok untuk tiap murid</strong> sehingga mereka bisa mencerna pelajaran secara efektif. Latar belakangnya sebagai pembunuh nomor satu membuatnya menguasai banyak hal.</p>



<p>Jika menengok ke sistem pendidikan kita, rata-rata guru di SMP dan SMA hanya menguasai satu mata pelajaran. Kalaupun bisa lebih dari satu, biasanya masih berkaitan dengan mata pelajaran utama yang ia kuasai.</p>



<p>Hal ini sebenarnya tidak masalah. Guru-guru kita pun ketika kuliah memang hanya mengambil satu konsentrasi untuk bisa menjadi <em>expert </em>di mata pelajaran tersebut.</p>



<p>Hanya saja, metode yang digunakan terkadang kurang efektif. Memang banyak guru kreatif yang menemukan banyak cara agar mata pelajarannya menarik, tapi kebanyakan menggunakan cara konservatif yang kuno dan membosankan.</p>



<p>Di sisi lain, murid pun rata-rata kurang proaktif sehingga belajar di kelas terasa kurang interaktif dan tidak menyenangkan. Belajar di kelas menjadi rutinitas yang membosankan. Ilmu yang didapatkan pun menjadi tidak efektif. </p>



<p>Tidak hanya itu, guru seolah lepas tangan untuk masalah masa depan murid mereka. Pekerjaan yang berkaitan dengan pengembangan murid setelah lulus seolah dibebankan ke guru BK, itu pun jarang dimaksimalkan oleh murid.</p>



<p>Memang hal ini tidak bisa digeneralisir seperti itu, tapi pada umumnya yang terjadi di lapangan seperti itu.</p>



<p>Seandainya kita memiliki guru sehebat Koro sensei, mungkin kita semua bisa mengenali potensi yang ada di dalam diri. Bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembimbing murid-muridnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Meskipun secara ide cerita manga ini sangat khayal dan tidak realistis, nyatanya ada nilai-nilai yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan kita, terutama untuk dunia pendidikan. Tiga poin yang Penulis sampaikan di atas adalah contohnya.</p>



<p>Ada banyak celah di dunia pendidikan kita yang butuh ditingkatkan lagi agar murid tidak hanya mendapatkan ilmu, tapi juga mampu mengembangkan dirinya menjadi versi terbaiknya. Mungkin, kita bisa belajar hal tersebut melalui manga ini.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Maret 2021, terinspirasi setelah membaca ulang manga <em>Assassination Classroom</em></p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.netflix.com/bd/title/80045948">Netflix</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/">Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2020 11:28:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Haidar Bagir]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3609</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang suka memperhatikan dunia pendidikan, Penulis suka membeli buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan topik tersebut. Terakhir, Penulis membeli buku berjudul Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia yang ditulis oleh Haidar Bagir. Penulis membelinya bersamaan dengan novel Guru Aini dan mendapatkan potongan harga. Apa Isi Buku Ini? Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, yakni Falsafah Pendidikan, Konsep dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/">Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang suka memperhatikan dunia pendidikan, Penulis suka membeli buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan topik tersebut.</p>
<p>Terakhir, Penulis membeli buku berjudul <strong><em>Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia </em></strong>yang ditulis oleh <strong>Haidar Bagir</strong>. Penulis membelinya bersamaan dengan novel <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-guru-aini/"><em>Guru Aini</em></a> dan mendapatkan potongan harga.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, yakni <em><strong>Falsafah Pendidikan</strong>, <strong>Konsep dan Metode Pendidikan</strong>, </em>dan <em><strong>Falsafah Pendidikan Islam</strong>. </em>Masing-masing bagian terdiri dari beberapa esai yang satu lingkup.</p>
<p>Bagian pertama membahas seputar konsep dasar pendidikan. Pada beberapa kesempatan, penulis buku ini menyisipkan kritik terhadap sistem pendidikan yang kita anut.</p>
<p>Yang paling utama adalah tujuan dari pendidikan itu sendiri. Apa tujuan dari para murid harus belajar di sekolah? Mencetak generasi penerus yang berakhlak dan penuh imajinasi atau sekadar mencetak calon karyawan top?</p>
<p>Pendidikan seharusnya mampu melihat potensi masing-masing muridnya, apapun bentuknya. Tidak semua murid memiliki bakat di bidang akademis, ada yang memiliki bakat di bidang seni, olahraga, dan lain sebagainya.</p>
<p>Ironisnya, pendidikan kita sekarang cenderung menyamaratakan muridnya. Contoh, murid dianggap pintar jika mendapatkan nilai 100 pada mata pelajaran matematika. Nilai di atas kertas seolah menjadi satu-satunya tolak ukur siswa.</p>
<p>Selain itu, Haidar juga membahas bagaimana posisi manusia menghadapi saingan terbesarnya di masa depan: <em>Artificial Intelligence </em>(AI). Ada juga bab yang membahas pentingnya menyeimbangkan IQ, EQ, dan SQ pada murid.</p>
<p>Pada bagian kedua, Haidar lebih membahas mengenai sistem pendidikan yang ada di Indonesia termasuk kurikulumnya. Apakah kurikulum yang kita gunakan sekarang sudah tepat ataukah terasa berlebihan?</p>
<p>Ada satu bab khusus yang membandingkan pendidikan Indonesia dengan negara lain yang lebih maju seperti Finlandia dan China. Kita diajak untuk mencari metode pembelajaran yang terbaik, termasuk mempertanyakan kehadiran <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">Ujian Nasional</a>.</p>
<p>Bagian terakhir membahas mengenai dasar-dasar pendidikan Islam di sekolah, termasuk pendidikan akhlak. Di bandingkan dua bagian sebelumnya, bagian ini mendapatkan porsi yang lebih sedikit.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</h3>
<p>Buku ini berukuran kecil dan harganya cukup murah (30 ribuan), namun isinya sangat berbobot. Penulis tidak bisa memahami buku ini secara keseluruhan karena bahasanya cukup berat dan banyak istilah yang tidak dipahami.</p>
<p>Walaupun begitu, buku ini akan menambahkan banyak wawasan kita seputar dunia pendidikan. Meskipun tidak bisa menangkap semuanya, poin-poin utamanya mampu disampaikan dengan baik.</p>
<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, buku ini memiliki banyak sekali kritik terhadap sistem pendidikan kita. Mulai dari kurikulum yang terlalu padat hingga penilaian yang hanya berdasarkan rata-rata nilai, adalah sekelumit permasalahan pendidikan kita.</p>
<p>Apalagi, ada halaman-halaman yang berisikan kalimat kunci dari masing-masing esai untuk memudahkan kita mencari inti dari tulisan. Buku ini Penulis rekomendasikan untuk semua kalangan yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Maret 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia </em>karya Haidar Bagir.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/">Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 2)</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jan 2020 16:35:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Finlandia]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3222</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini Penulis ingin sedikit berimajinasi bagaimana seandainya Indonesia menerapkan sistem pendidikan yang sama dengan negara-negara maju. Oleh karena itu, mohon maaf apabila ada yang tak sependapat dengan bayangan Penulis yang ada di bawah ini. Seandainya Mata Pelajaran Berkurang Imajinasi ini akan dimulai dengan berkurangnya mata pelajaran dan jam belajar di sekolah. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-2/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Melanjutkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">tulisan sebelumnya</a>, kali ini Penulis ingin sedikit berimajinasi bagaimana seandainya Indonesia menerapkan sistem pendidikan yang sama dengan negara-negara maju.</p>
<p>Oleh karena itu, mohon maaf apabila ada yang tak sependapat dengan bayangan Penulis yang ada di bawah ini.</p>
<h3>Seandainya Mata Pelajaran Berkurang</h3>
<p><div id="attachment_3266" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3266" class="size-large wp-image-3266" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3266" class="wp-caption-text">Jam Belajar Dikurangi? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwjBz_6Fvf7mAhWLfH0KHTf7DXQQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.expatica.com%2Fuk%2Feducation%2Fchildren-education%2Fschool-holidays-in-the-uk-214859%2F&amp;psig=AOvVaw3HfkerVRCkhPolBE7Xi5xq&amp;ust=1578932764725974" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjBz_6Fvf7mAhWLfH0KHTf7DXQQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Expatica</span></a>)</p></div></p>
<p>Imajinasi ini akan dimulai dengan berkurangnya mata pelajaran dan jam belajar di sekolah. Kira-kira, apa yang dilakukan oleh siswa Indonesia?</p>
<p>Yang jelas, para siswa bisa fokus untuk memilih pelajaran yang sekiranya akan dibutuhkan ketika sudah lulus nanti, entah untuk melanjutkan studi di universitas ataupun bekerja.</p>
<p>Dengan banyaknya waktu luang, mungkin ada yang memanfaatkannya untuk mengikuti kegiatan ekskul secara lebih maksimal. Mereka merasa memiliki bakat di bidang di luar akademik, sehingga mereka ingin mengasahnya mumpung jam belajarnya lebih sedikit.</p>
<p>Mungkin ada yang memanfaatkannya untuk rebahan di rumah saja. Kalau yang satu ini tentu akan merugikan diri sendiri karena menghambur-hamburkan waktu yang dimiliki.</p>
<p>Pasti tak sedikit yang memanfaatkannya untuk (<em>ehem</em>) memadu kasih dengan pacar tercinta. Selama ini waktu untuk <em>ngedate </em>sangat terbatas, sehingga berkurangnya mata pelajaran bisa menambah waktu untuk melakukan hal tersebut.</p>
<p>Pertanyaannya, mana yang akan lebih dominan? Yang memanfaatkan waktunya untuk hal produktif atau yang hanya bermalasan sambil sesekali main game? Jawabannya Penulis serahkan kepada pembaca.</p>
<h3>Seandainya Mengutamakan Pendidikan Karakter</h3>
<p><div id="attachment_3267" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3267" class="size-large wp-image-3267" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3267" class="wp-caption-text">Pendidikan Karakter (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.todayonline.com/voices/reinforce-cleaning-habit-consistently-so-it-becomes-norm-students" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwic8bPLvf7mAhVE6nMBHdqzBWEQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">todayonline.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Salah satu kelemahan dari sistem pendidikan kita adalah membuat para murid berfokus pada nilai, bukan ilmu yang akan didapatnya. Tidak hanya itu, pendidikan karakter pun dirasa sangat kurang.</p>
<p>Penulis akan melakukan perbandingan dengan Jepang. Meskipun negara maju, Jepang tidak mengutamakan ilmu pengetahuan. Mereka lebih mengutamakan pendidikan etika dan moral.</p>
<p>Contoh kecilnya adalah bagaimana para siswa diajarkan untuk membersihkan ruang kelasnya sendiri. Zaman penulis sekolah dulu, masih ada yang namanya daftar piket. Entah bagaimana dengan sekarang.</p>
<p>Selain itu, mereka juga sangat dilatih untuk disiplin dan mencintai negara dan budayanya sendiri. Selain itu, para murid juga didorong untuk <a href="https://whathefan.com/animekomik/klub-sekolah-ala-anime/">mengikuti berbagai klub</a> untuk mengembangkan bakat mereka.</p>
<p><div id="attachment_3268" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3268" class="size-large wp-image-3268" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3268" class="wp-caption-text">Festival Sekolah (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://darrellinjapan.wordpress.com/2008/11/01/274/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj2ptCYvf7mAhUWdCsKHaO9DTgQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Darrell in Japan &#8211; WordPress.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Ada satu poin yang menarik perhatian Penulis <a href="https://whathefan.com/pengalaman/udah-tua-kok-masih-nonton-anime/">ketika menonton anime</a>. Hampir di semua anime yang bertemakan sekolah, selalu ada yang namanya festival sekolah.</p>
<p>Pada ajang ini, tiap kelas bisa membuat apapun mulai dari kafe hingga rumah hantu. Kalau kebijakan ini diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia, kira-kira para siswa akan membuat apa ya?</p>
<p>Berbagai kombinasi tersebut membuat orang-orang Jepang terkenal disiplin, pekerja keras, hormat kepada orang yang lebih tua, walaupun menjadi sedikit kaku.</p>
<p>Pendidikan moral itu terkesan sepele, tapi penting. Penulis sering mengelus dada ketika melihat ada murid yang berani berbuat kurang ajar kepada gurunya. Parahnya, pihak orangtua pun membela anaknya yang jelas-jelas salah.</p>
<p>Bukan berarti di Jepang tidak ada murid bandel. Penulis yakin di Jepang pun masih banyak anak-anak nakal yang suka berbuat onar. Walaupun begitu, rasanya jumlahnya masih kalah dari murid-murid yang bermoral.</p>
<p>Dampaknya negatifnya pun ada, di mana tingkat stres yang sampai memicu bunuh diri di Jepang cukup tinggi. Tapi, kalau terlalu <em>santuy </em>rasanya juga kurang baik.</p>
<h3>Penghapusan Ujian Nasional, Tepat Kah?</h3>
<p><div id="attachment_3270" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3270" class="size-large wp-image-3270" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3270" class="wp-caption-text">UN Dihapus (<a class="o5rIVb a-no-hover-decoration irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://dnk.id/artikel/aprilia-kumala/surat-perpisahan-untuk-ujian-nasional-dan-sejarahnya" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjxrartvv7mAhV0xzgGHSnvBscQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">DNK.id</span></a>)</p></div></p>
<p>Salah satu hal yang tak perlu lagi berandai-andai lagi adalah penghapusan Ujian Nasional (UN). Kebijakan ini telah ditetapkan dan akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.</p>
<p>Negara yang tidak menggunakan UN adalah Finlandia. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada pihak guru dan sekolah untuk melakukan evaluasi kepada muridnya. Di Indonesia, kita masih melihat bagaimana hasilnya nanti.</p>
<p>Ketika Penulis masih sekolah, banyak pendapat yang mengatakan rasanya tidak adil jika tiga tahun sekolah hanya ditentukan dalam tiga hari. Akan tetapi, itu membuat para muridnya termotivasi untuk belajar.</p>
<p>Banyak yang mengkhawatirkan penghapusan (atau pergantian) UN akan membuat siswa menjadi terlalu santai. Ibaratnya, mereka jadi kehilangan target yang selama ini membuat mereka belajar mati-matian hingga harus kursus sepulang sekolah.</p>
<p>Pernyataan ini telah dibantah oleh bapak menteri karena menurutnya UN tidak akan dihapus, melain hanya akan diganti dengan <strong>Asesmen Kompetensi</strong> <strong>Minimum</strong>. Artinya, para siswa akan tetap harus melakukan serangkaian ujian agar bisa lulus sekolah.</p>
<p>Kalau pendapat pribadi, Penulis termasuk yang mendukung hal ini. Apalagi, UN tidak benar-benar dihilangkan, melainkan hanya diganti konsep dan cara penilaiannya. Kelulusan sudah seharusnya bukan menjadi hal yang menakutkan untuk siswa.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Memang rasanya kurang adil jika membandingkan sistem pendidikan kita dengan negara-negara maju. Mereka sudah mampu memeratakan pendidikan di negaranya, sehingga siswa bisa mendapatkan kesempatan yang sama.</p>
<p>Di Indonesia, pemerataan pendidikan masih sangat sulit untuk direalisasikan meskipun upaya-upayanya terus dilakukan. Belum lagi kondisi ekonomi keluarga yang juga turut berperan penting bagi kondisi siswa.</p>
<p>Dengan kata lain, peran semua pihak untuk memajukan sistem pendidikan kita mutlak dibutuhkan. Pemerintah harus mampu menyediakan fasilitas dan kurikulum berkualitas untuk para muridnya secara merata.</p>
<p>Masyarakat pun harus mampu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Peran para aktivis pendidikan ataupun orang-orang yang memiliki <em>privilege </em>juga dibutuhkan agar pendidikan bisa dirasakan oleh semua kalangan.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis menyambut positif gebrakan untuk <del>menghapus</del> mengganti Ujian Nasional dari sang menteri. Semoga saja keputusan ini mampu menghasilkan manusia-manusia yang lebih berkualitas dan mampu ikut membangun bangsa ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 12 Januari 2020, terinspirasi setelah munculnya berita terkait penghapusan Ujian Nasional</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjh1NH1uf7mAhVryzgGHaw-CAIQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fgogonihon.com%2Fen%2Fblog%2Flearn-about-the-japanese-education-system%2F&amp;psig=AOvVaw2TcPnmYfK3mHwLZpQOjTJX&amp;ust=1578931884135821">Gogonihon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-2/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Dec 2019 12:13:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Finlandia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Selandia Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3196</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menteri pendidikan kita yang baru, Nadiem Makarim, membuat gebrakan yang cukup membuat gempar masyarakat. Bagaimana tidak, ia memutuskan untuk menghapus Ujian Nasional yang selama ini menjadi momok bagi siswa. Sebagai gantinya, ia menerapkan Asesmen Kompetensi Minimum yang berfokus pada kemampuan nalar murid dalam bidang literasi dan numerik. Siswa yang duduk di kelas 4, 8, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menteri pendidikan kita yang baru, <strong>Nadiem Makarim</strong>, membuat gebrakan yang cukup membuat gempar masyarakat. Bagaimana tidak, ia memutuskan untuk menghapus <strong>Ujian Nasional</strong> yang selama ini menjadi momok bagi siswa.</p>
<p>Sebagai gantinya, ia menerapkan <strong>Asesmen Kompetensi Minimum</strong> yang berfokus pada kemampuan nalar murid dalam bidang literasi dan numerik. Siswa yang duduk di kelas 4, 8, dan 11 yang akan menghadapi ujian jenis ini.</p>
<p>Apakah ini merupakan langkah yang tepat? Bagaimana sistem pendidikan kita jika dibandingkan dengan negara lain? Apakah Indonesia memang tidak membutuhkan Ujian Nasional?</p>
<h3>Pendidikan di Negara Lain</h3>
<p><div id="attachment_3197" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3197" class="size-large wp-image-3197" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3197" class="wp-caption-text">Pendidikan di Finlandia (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.weforum.org/agenda/2019/02/how-does-finland-s-top-ranking-education-system-work" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi5wZfJl87mAhULSX0KHSJwAg8QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">World Economic Forum</span></a>)</p></div></p>
<p>Semenjak berkutat dengan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/">Karang Taruna</a>, pendidikan menjadi salah satu isu yang penulis perhatikan. Alasannya jelas, banyak anggota yang masih duduk di bangku sekolah sehingga penulis mengetahui gambaran kasar pendidikan sekarang.</p>
<p>Tidak hanya itu, penulis membaca beberapa buku yang membahas sedikit tentang pendidikan di negara lain. Buku yang sudah penulis baca adalah <strong><em>Strawberry Generation</em></strong> karya Rhenald Khasali dan <em><strong>Teach Like Finland</strong></em> karya Timothy Dale Walker.</p>
<p>Dari buku <em>Strawberry Generation, </em>penulis bisa mengintip bagaimana pendidikan di Selandia Baru<em>. </em>Penulis juga mengetahui sedikit bagaimana Finlandia bisa menjadi negara dengan edukasi nomor satu di dunia.</p>
<p>Setelah membaca kedua buku tersebut, penulis bisa menarik kesimpulan bahwa sistem pendidikan di negara maju sangat berbeda dengan negara berkembang seperti kita.</p>
<p>Menariknya, mata pelajaran yang diajarkan di kedua negara tersebut jauh lebih sedikit dari negara kita. Hanya ada beberapa pelajaran wajib yang harus diambil oleh siswa. Sisanya disesuaikan dengan kebutuhan.</p>
<p>Dengan sedikitnya pelajaran yang diambil, otomatis jam belajar di sekolah pun tidak sepanjang di Indonesia. Artinya, mereka punya banyak waktu untuk mengembangkan diri mereka di luar jalur akademik.</p>
<p>Murid juga dibiasakan untuk berkolaborasi, bukannya saling berkompetisi. Kompetisi tetap ada, tapi pihak sekolah berupaya untuk mendorong agar para muridnya bisa bekerja sama dengan baik.</p>
<p>Selain itu, mereka tidak hanya mengedepankan nilai di atas kertas semata. Kepribadian dan karakter siswa telah dipupuk sejak di bangku dasar. Kalau tidak salah, hal ini juga berlaku di Jepang dan beberapa negara lainnya.</p>
<p>(<em>Catatan Tambahan: Penulis gemar menonton anime yang berlatar belakang sekolah juga agar bisa mengintip bagaimana pendidikan di Jepang)</em></p>
<h3>Sementara Itu di Indonesia&#8230;</h3>
<p><div id="attachment_3198" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3198" class="size-large wp-image-3198" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3198" class="wp-caption-text">Pendidikan di Indonesia (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/debate/education-indonesia" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiHgpXdl87mAhWHWX0KHeJzBWMQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Lowy Institute</span></a>)</p></div></p>
<p>Satu masalah utama yang penulis lihat dari sistem pendidikan kita adalah banyaknya mata pelajaran yang harus kita pahami. Entah itu nanti akan berguna atau tidak setelah lulus, tidak masalah.</p>
<p>Zaman penulis masih sekolah dulu, Ujian Nasional mengharuskan kita mengerjakan enam mata pelajaran yang berbeda. Kalau sekarang, murid SMA hanya mengerjakan empat mata pelajaran.</p>
<p>Jam belajar di sekolah pun terlihat sangat padat. Mulai pagi hingga menjelang sore, pulang sekolah masih kursus (apakah cuma di Indonesia yang ada kursus pelajaran?), pulang kursus masih harus mengerjakan tugas dan belajar untuk ulangan.</p>
<p>Kalau seperti itu, murid pun tidak akan punya waktu untuk melakukan aktivitas lain. Mau ikut kegiatan ekskul juga susah cari waktunya, <em>quality time </em>dengan keluarga dan teman juga sulit.</p>
<p>Penulis bisa menulis seperti ini karena melihat sendiri bagaimana adik bungsu penulis harus pulang malam-malam. Memang dia juga menjabat sebagai ketua OSIS sehingga pulangnya pun lebih sering telat.</p>
<p>Selain itu, pemerataan hak pendidikan juga belum terlalu merata. Hal ini bisa dimaklumi mengingat negara kita sangat besar dan terdiri dari negara kepulauan.</p>
<p>Finlandia dan Selandia Baru relatif lebih kecil dari Indonesia, sehingga secara logika lebih mudah bagi pemerintahan sana untuk memeratakan pendidikannya.</p>
<p>Pemerataan identik dengan kompetensi guru dan tersedianya fasilitas di sekolah. Pemerintah berusaha mengatasinya dengan menerapkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/">sistem zonasi</a> yang cukup kontroversial. Akan tetapi, PR-nya masih jauh dari kata usai.</p>
<p>Masih banyak masalah lain, seperti rendahnya tingkat literasi, kesadaran yang rendah di masyarakat mengenai pentingnya pendidikan, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Bagaimana Jika Sistem Pendidikan Indonesia Seperti Negara Lain?</h3>
<p>Penulis sering berandai-andai, bagaimana seandainya Indonesia menerapkan sistem pendidikan seperti negara-negara maju. Apakah hasilnya akan lebih bagus atau malah lebih buruk?</p>
<p>Lantas, apakah dengan mengganti Ujian Nasional menjadi Asesmen Kompetensi Minimum merupakan pilihan yang tepat untuk mengejar ketertinggalan kita dengan negara lain?</p>
<p>Karena tulisan yang satu ini sudah cukup panjang, penulis akan membahasnya di bagian kedua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Desember 2019, terinspirasi setelah Menteri Pendidikan memutuskan untuk mengganti Ujian Nasional</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjx0YaGoc7mAhXDX30KHfJFCIIQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fmediaindonesia.com%2Fread%2Fdetail%2F277406-dpr-ke-nadiem-kebijakan-belum-matang-jangan-buru-buru-diumumkan.html&amp;psig=AOvVaw3XWIAFaod5BS6uvbT-y_on&amp;ust=1577273339024590"><span class="irc_ho" dir="ltr">Media Indonesia</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jul 2019 01:12:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[prestasi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[zona]]></category>
		<category><![CDATA[zonasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu (selalu beberapa waktu lalu, penulis minta maaf karena membahas topik yang sudah tidak trending) sempat heboh akan penerapan sistem zonasi sekolah. Banyak anak-anak berprestasi yang ingin sekolah di sekolah favorit mereka terhalang oleh jarak. Mereka kalah dengan siswa yang (maaf) biasa-biasa saja namun rumahnya lebih dekat dengan sekolah. Tentu hal ini menjadi polemik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/">Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu (selalu beberapa waktu lalu, penulis minta maaf karena membahas topik yang sudah tidak <em>trending</em>) sempat heboh akan penerapan sistem zonasi sekolah.</p>
<p>Banyak anak-anak berprestasi yang ingin sekolah di sekolah favorit mereka terhalang oleh jarak. Mereka kalah dengan siswa yang (maaf) biasa-biasa saja namun rumahnya lebih dekat dengan sekolah.</p>
<p>Tentu hal ini menjadi polemik dan mengandung pro dan kontra tersendiri baik di kalangan orangtua, murid, pengamat pendidikan, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Kenapa Sistem Zonasi Diterapkan?</h3>
<p><div id="attachment_2522" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2522" class="size-large wp-image-2522" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2522" class="wp-caption-text">Menteri Pendidikan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://vibizmedia.com/2016/07/27/wajah-menteri-kabinet-kerja-baru/menteri-pendidikan-dan-kebudayaan-dr/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi3wPaE47rjAhUFVysKHVMkDKIQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Vibizmedia.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Tujuan dari sistem ini sebenarnya bagus, ingin memeratakan pendidikan. Pemerintah ingin menghapuskan yang namanya sekolah favorit. Semua sekolah memiliki derajat yang sama.</p>
<p>Beberapa orang berpendapat bahwa sekolah menjadi favorit karena memang diisi oleh murid-murid yang pintar, buat karena kualitas sekolah yang luar biasa.</p>
<p>Jika sudah diisi oleh murid yang dasarnya sudah cerdas, tentu para guru tidak perlu bersusah payah mentransferkan ilmu yang mereka miliki.</p>
<p>Ketika penulis membaca beberapa <em>tweet</em>, sekolah yang baik adalah yang mampu mengubah nilai muridnya dari 5 menjadi 9. Kalau dari awal mereka sudah biasa mendapatkan nilai 9, maka apa istimewanya?</p>
<p>Akibat lainnya dengan adanya sekolah favorit ini adalah sekolah-sekolah lain yang bukan favorit hanya menerima &#8220;ampas&#8221;  dari murid-murid yang tidak diterima di sekolah favorit.</p>
<p>Selain itu, pemerintah mungkin juga ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak yang kemampuan akademisnya standar agar bisa merasakan sekolah di tempat dengan fasilitas yang baik.</p>
<p>Pendidikan adalah hak semua anak yang hidup di Indonesia, mungkin menjadi dasar mengapa pemerintah menerapkan sistem ini.</p>
<h3>Kenapa Sistem Zonasi Tidak Cocok Diterapkan Sekarang?</h3>
<p><div id="attachment_2521" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2521" class="size-large wp-image-2521" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2521" class="wp-caption-text">Murid Jadi Stress (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.medibank.com.au/livebetter/health-brief/lifestyle/coping-with-stress-as-a-student/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiyg_zL4rrjAhVSeysKHS7JDfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Medibank</span></a>)</p></div></p>
<p>Hanya saja, masalahnya tidak semua sekolah memiliki kualitas yang sama. Ada yang bagus banget, ada yang di bawah standar. Tentu hal ini terasa sedikit tidak adil bagi siswa berprestasi tapi rumahnya dekat dengan sekolah yang kurang baik.</p>
<p>Jepang juga menerapkan zonasi seperti ini. Bedanya, sekolah-sekolah di Jepang memiliki kualitas yang setara sehingga para murid dan orangtua bisa menerimanya.</p>
<p>Mungkin salah satu harapan pemerintah menerapkan zona ini adalah agar yang kurang pandai dan bermasalah bisa tertular mereka yang pintar dan rajin.</p>
<p>Masalahnya, bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Bagaimana jika anak yang sebenarnya pintar jadi ikut terpengaruh lingkungan buruk sehingga jalan hidupnya menjadi belok? Tentu hal tersebut bisa menjadi masalah baru bagi perkembangan generasi muda.</p>
<p>Beberapa kali muncul di berita anak berprestasi menjadi frustasi karena segala <em>achievement</em>-nya selama ini tidak bisa menolongnya untuk bisa bersekolah di tempat yang ia inginkan. Ini adalah peristiwa yang cukup membuat pilu.</p>
<p>Juga muncul kekhawatiran dari pihak orangtua bahwa anak mereka dijadikan &#8220;kelinci percobaan&#8221; untuk menerapkan sistem ini. Pasti akan menimbulkan masalah apabila tahun depan ternyata pemerintah membatalkan aturan sistem zonasi ini.</p>
<p>Kalau kata ayah penulis, sistem yang seperti ini akan membuat kita sedikit susah mendapatkan teman baru. Bagaimana tidak, ketemu temannya itu lagi itu lagi. Kesempatan untuk mendapatkan relasi baru jadi sedikit terhambat.</p>
<p>Penulis merasakan betul hal tersebut karena bersekolah di TK, SD, SMP, dan SMA yang berada di satu kelurahan yang sama. Penulis memiliki satu teman yang selalu satu sekolah hingga satu jurusan kuliah. Bahkan, sekarang kerja di Jakarta pun kantornya berdekatan.</p>
<p>Yah, walaupun sebenarnya ada banyak jalan agar bisa mendapatkan relasi yang lebih luas, tapi sekolah adalah tempat yang paling mudah untuk mendapatkannya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis setuju dengan tujuan utama dari penerapan sistem zonasi ini, yakni ingin memeratakan pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, penulis merasa pemerintah terlalu <em>grusa-grusu </em>sehingga terjadi <em>syok </em>massal, baik dari pihak murid maupun orangtua.</p>
<p>Seharusnya, sistem zonasi ini bisa dilakukan secara bertahap entah bagaimana caranya, sehingga publik bisa menerima hal ini tanpa emosi.</p>
<p>Sebenarnya, murid berprestasi juga masih bisa bersekolah di tempat yang jauh dari rumahnya lewat jalur prestasi, walaupun kuotanya hanya 5%. Setidaknya, masih ada jalan meskipun mungkin akan sedikit berdarah-darah.</p>
<p>Penulis berharap besar dengan adanya sistem zonasi ini, pihak sekolah akan benar-benar melakukan pembenahan diri agar kualitasnya benar-benar setara dengan sekolah lain yang lebih bagus, baik dari sisi tenaga pengajar maupun fasilitas yang dimiliki.</p>
<p>Pemerintah juga harus &#8220;bertanggung jawab&#8221; atas keputusan yang telah diambil dengan cara menggelontorkan dana untuk bisa memeratakan kualitas sekolah, terutama sekolah-sekolah di daerah.</p>
<p>Para murid yang mendapatkan keuntungan dengan zona ini pun diharapkan bisa memanfaatkan hal ini dengan baik. Mereka sudah diberikan <em>privilage</em>, sehingga akan terasa seperti pengkhianatan apabila mereka justru bermalas-malasan di sekolah nantinya.</p>
<p>Untuk para murid yang terbentur jarak sehingga tidak bisa bersekolah di tempat idaman, jangan berkecil hati. Sekolah bukan satu-satunya parameter kesuksesan, jadi tetap semangat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber Artikel:</p>
<ul>
<li class="title style-scope ytd-video-primary-info-renderer">Video <a href="https://youtu.be/FeRjh4JSaRs">OPINIKU MENGENAI SISTEM ZONASI SEKOLAH (ft. Seno Bagaskoro)</a> dari Nihonggo Mantappu</li>
<li class="title style-scope ytd-video-primary-info-renderer"><a href="https://twitter.com/Strategi_Bisnis/status/1141907218821812224"><em>Tweet </em>akun Stretegi + Bisnis</a></li>
<li><a href="https://zeniuseducation.com/polemik-sistem-zonasi-ppdb/">Zenius Education</a></li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Juli 2019, terinspirasi dengan penerapan sistem zonasi yang membuat publik heboh</p>
<p>Sumber: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@jordymeow">Jordy Meow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/">Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Sekolah?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-sekolah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jul 2019 17:25:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2510</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk apa sekolah? Pertanyaan ini penulis lontarkan ke grup Karang Taruna setelah membaca buku Why the Rich are Getting Richer karya Robert T. Kiyosaki. Alasannya, bagian pendahuluan buku tersebut menjelaskan bahwa sistem sekolah yang ada selama ini hanya mencetak orang untuk menjadi pekerja andal. Jarang sekali ada sekolah yang bertujuan ingin mendidik siswanya agar mampu mengelola uang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-sekolah/">Untuk Apa Sekolah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Untuk apa sekolah? </strong>Pertanyaan ini penulis lontarkan ke grup Karang Taruna setelah membaca buku <em>Why the Rich are Getting Richer </em>karya Robert T. Kiyosaki.</p>
<p>Alasannya, bagian pendahuluan buku tersebut menjelaskan bahwa sistem sekolah yang ada selama ini hanya mencetak orang untuk menjadi pekerja andal.</p>
<p>Jarang sekali ada sekolah yang bertujuan ingin mendidik siswanya agar mampu mengelola uang yang dimiliki dengan baik sehingga bisa meraih <em>financial freedom</em>.</p>
<p>Karena penuturan tersebut, langsung terngiang satu pertanyaan di benak penulis, yang pada akhirnya menjadi judul tulisan ini.</p>
<h3>Jawaban Karang Taruna</h3>
<p>Ketika melontarkan pertanyaan tersebut ke anak-anak Karang Taruna, untunglah jawabannya tidak sedangkal &#8220;biar gampang dapat pekerjaan&#8221;. Jawabannya penulis rangkum di bawah ini:</p>
<ul>
<li>Untuk mencari teman dan relasi</li>
<li>Untuk mendapatkan ilmu</li>
<li>Untuk membantu menggapai impian atau cita-cita</li>
<li>Untuk melatih kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan yang bermanfaat ketika telah terjun di dunia kerja</li>
<li>Untuk mengetahui apa itu persaingan (yang satu ini memang cukup mengejutkan penulis)</li>
<li>Untuk meningkatkan kemampuan yang dimiliki</li>
<li>Untuk menemukan hal-hal baru</li>
<li>Untuk mengetahui betapa buruknya sistem pendidikan di Indonesia (ini akan penulis ulas lebih dalam di tulisan berikutnya)</li>
<li><strong>KEWAJIBAN</strong></li>
</ul>
<p>Penulis tidak bermaksud merendahkan jawaban &#8220;biar gampang dapat pekerjaan&#8221;. Sekolah sangat penting (bahkan vital) agar kita bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga kehidupan pun lebih terjamin.</p>
<p>Penulis ingin menekankan bahwa fungsi dari sekolah itu lebih luas dari itu, yang jawabannya telah dikeluarkan oleh teman-teman Karang Taruna yang memang rata-rata berada di usia sekolah.</p>
<p><em>Dan itu sangat melegakan</em>.</p>
<h3>Untuk Apa Sekolah?</h3>
<p>Mungkin tidak terlalu muluk seperti harapan Kiyosaki dalam bukunya tersebut. Cukup mengetahui manfaat bersekolah dalam lingkup yang luas saja sudah membuat penulis tersenyum kecil.</p>
<p>Ketika sekolah, penulis tidak sempat kepikiran untuk apa sekolah. Bagi penulis waktu itu, sekolah merupakan kewajiban kita sebagai seorang anak yang hidup di negara beradab seperti Indonesia.</p>
<p>Kita harus belajar rajin agar nilai kita bagus, mungkin ikut berbagai organisasi untuk melatih kemampuan bersosialisasi dan menambah pengalaman, lantas lulus dan melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi seperti kebanyakan orang.</p>
<p>Padahal, sekolah adalah elemen penting dalam pembentukan karakter kita sebagai manusia. Rata-rata siswa berada di sekolah kurang lebih selama 8 jam. Itu sama dengan 1/3 waktu mereka dalam satu hari.</p>
<p>Besarnya porsi tersebut mengharuskan sekolah harus dapat menjadi elemen penting dalam hidup kita, terutama yang berkesempatan untuk menjalaninya.</p>
<p>Selain dari pihak pemerintah maupun swasta yang menyediakan fasilitas belajar, memilih lingkungan pergaulan pun tidak kalah penting dalam sekolah. Justru, dari teman-teman di masa sekolah inilah terkadang karakter kita lebih dibentuk.</p>
<p>Kita harus bisa memanfaatkan 1/3 waktu dalam satu hari tersebut untuk hal yang memberikan dampak baik untuk diri sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika selama sekolah kita hanya bermalas-malasan, main, hingga pacaran, maka nilai yang sebenarnya bisa didapatkan dari sekolah akan hilang.</p>
<p>Banyak aktivitas positif yang bisa dilakukan di sekolah selain belajar, misal aktif di berbagai organisasi ataupun kegiatan ekstrakulikuler seperti klub seni ataupun olahraga. Bukannya tidak boleh main, hanya saja porsinya jangan terlalu besar.</p>
<p>Sekolah bisa dijadikan sebagai wadah bagi kita untuk mendapatkan manfaat-manfaat yang telah dijabarkan oleh anak-anak Karang Taruna di atas.</p>
<p>Semua kembali ke diri kita masing-masing, ingin memanfaatkan masa sekolah kita dengan baik atau menyia-nyiakannya dan menyesalinya kemudian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Penulis termasuk ke dalam kategori yang <strong>menyesal kemudian</strong>. Ikut berbagai organisasi tapi lebih sering tidak aktif karena lebih menurut kepada kemalasannya. Tulisan ini penulis susun agar kesalahan tersebut tidak terulang di kalian, terutama yang masih sekolah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Juli 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Why the Rich are Getting Richer </em>karya Robert T. Kiyosaki</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@flpschi">Feliphe Schiarolli</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-sekolah/">Untuk Apa Sekolah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
