<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>peduli Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/peduli/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/peduli/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:29:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>peduli Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/peduli/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Peduli dan Bodo Amat ke Orang Lain Itu Harus Seimbang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dan-bodo-amat-ke-orang-lain-itu-harus-seimbang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dan-bodo-amat-ke-orang-lain-itu-harus-seimbang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2022 14:31:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bodo amat]]></category>
		<category><![CDATA[kepedulian]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[seimbang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5861</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan di blog ini, Penulis pernah mengatakan kalau dirinya dulu terkenal sebagai pribadi yang acuh, cuek dengan sekitarnya. Penulis tidak terlalu peduli dengan masalah yang dihadapi orang lain, lebih sering hanya memikirikan diri sendiri. Beranjak dewasa, terutama setelah terlibat dalam pembentukan Karang Taruna, Penulis mulai memiliki kepedulian terhadap sekitarnya. Penulis jadi merasa lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dan-bodo-amat-ke-orang-lain-itu-harus-seimbang/">Peduli dan Bodo Amat ke Orang Lain Itu Harus Seimbang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tulisan di blog ini, Penulis pernah mengatakan kalau dirinya dulu terkenal sebagai pribadi yang acuh, cuek dengan sekitarnya. Penulis tidak terlalu peduli dengan masalah yang dihadapi orang lain, lebih sering hanya memikirikan diri sendiri.</p>



<p>Beranjak dewasa, terutama setelah terlibat dalam <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/gen-x-swi-awards/">pembentukan Karang Taruna</a>, Penulis mulai memiliki kepedulian terhadap sekitarnya. Penulis jadi merasa lebih <em>aware </em>terhadap permasalahan orang lain dan berupaya untuk membantu sesuai dengan kapabilitasnya.</p>



<p>Namun, saat ini Penulis merasa bahwa tingkat kepedulian Penulis terlalu berlebihan hingga menimbulkan dampak negatif, baik bagi yang dipedulikan maupun dirinya sendiri. Penulis pun tersadarkan, kalau peduli dan bodo amat ke orang lain itu ternyata harus seimbang.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Peduli Bisa Berdampak Negatif ke Orang Lain</h2>



<p>Penulis merasa dirinya yang sekarang tidak bisa membiarkan orang lain yang terlihat kesusahan. Tanpa diminta, Penulis akan berusaha mencari cara agar bisa membantunya dengan cara yang bisa Penulis lakukan.</p>



<p>Hanya saja, <strong>ternyata tidak semua orang butuh dibantu</strong>. Kadang, mereka ingin menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak luar. Ada banyak alasannya, seperti ini mandiri atau memang tidak ingin ada orang lain yang ikut campur.</p>



<p>Penulis sebenarnya menyadari, terkadang permasalahan yang sedang dihadapi orang lain bisa membuat mereka menjadi lebih kuat. Hanya saja, kembali lagi ke sifat Penulis yang tidak bisa diam saja melihat orang yang &#8220;terlihat&#8221; butuh dibantu.</p>



<p>Nah, itu adalah kesalahan Penulis lainnya. Dari perspektif Penulis, orang tersebut memang butuh dibantu. Padahal, dari perspektif orang tersebut belum tentu ingin dibantu orang lain. Penulis saja yang terlalu percaya diri kalau bantuannya dibutuhkan.</p>



<p>Selain itu, orang lain bisa saja merasa kalau kita terlalu ikut campur dalam masalahnya. Mungkin sekadar memberikan empati atau dukungan masih sah-sah saja, tapi kalau sudah memaksakan saran yang diberikan juga jelas salah.</p>



<p>Apa yang kita anggap baik, belum tentu akan dianggap baik orang lain. Apa yang kita anggap sebagai upaya untuk menunjukkan kepedulian kita, bisa saja dianggap sebagai <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">upaya untuk ikut campur permasalahan orang lain</a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Menyeimbangkan Peduli dan Bodo Amat ke Orang Lain</h2>



<p>Penulis pernah berada di dua sumbu yang berseberangan ini: Pernah terlalu bodo amat, pernah terlalu peduli. Oleh karena itu, Penulis menyimpulkan kalau <strong>keduanya ternyata butuh diseimbangkan</strong> demi kebaikan diri sendiri dan orang lain.</p>



<p>Sebagai contoh, ada <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">anak Karang Taruna</a> yang tidak diterima SBMPTN. Biasanya, Penulis akan ikut kepikiran dan jadi berusaha memberikan masukan tentang informasi kampus lain. Tak jarang Penulis melakukan riset dan perbandingan secara mendalam.</p>



<p>Itu sebenarnya tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kita menjadi berlebihan, seperti dengan setiap hari memberikan masukan ini itu. Padahal, si anak Karang Tarunanya bisa saja sedang dalam keadaan suntuk dan ingin menenangkan diri terlebih dahulu.</p>



<p>Agar peduli dan bodo amatnya seimbang, seharusnya Penulis memberikan dukungan dan masukan secukupnya. Setelah itu, biarkan mereka mengambil keputusan sendiri. Toh, kalau butuh masukan, mereka pasti akan menghubungi kita.</p>



<p>Contoh lain ketika ada teman sakit. Menanyakan keadaan dan memberikan makanan adalah hal yang lumrah. Namun, jika kita menanyai keadaannya terlalu sering atau memberikan makanan terlalu banyak, mereka jelas akan menjadi terganggu.</p>



<p>Kata kuncinya adalah <strong>secukupnya</strong>. Peduli dan berempati hal yang baik dan menurut Penulis harus kita miliki di tengah dunia yang makin egosentris. Hanya saja, jangan melakukannya secara berlebihan juga hingga membuat orang lain merasa risih. Secukupnya saja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Terlalu memaksakan diri untuk masuk ke permasalahan orang lain jelas hal yang salah, dan selama ini Penulis merasa kerap melakukannya, terutama ke orang-orang terdekatnya. Niat baik yang dimiliki malah terkesan menjadi hal yang buruk dan merugikan.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Terlalu peduli</a> atau terlalu berempati sebenarnya juga merugikan Penulis, karena tentu waktu, tenaga, dan pikirannya tersita oleh hal ini. Sudah menyita banyak hal, belum tentu yang dipedulikan membutuhkannya.</p>



<p>Jika bantuan atau empati kita ternyata ditolak, tentu akan muncul perasaan sakit hati karena merasa kurang dihargai. Untuk itu, Penulis pun sedang berusaha dirinya bisa menyeimbangkan dua hal ini agar bisa memiliki <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomor-2-hidup-tenang/">hidup yang lebih tenang</a>. </p>



<p>Tentu ini bukan PR yang mudah untuk Penulis. Menyeimbangkan dua hal yang bertolak belakang jelas sulit untuk dilakukan. Namun, Penulis yakin pada akhirnya akan memiliki kemampuan untuk menakar, seberapa besar kepedulian yang harus diberikan ke orang lain.</p>



<p>Kita tentu tidak bisa <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/">mengendalikan bagaimana respons orang lain</a> terhadap kepedulian yang kita berikan untuk mereka. Namun, kita bisa mengendalikan seberapa besar takaran kepedulian yang akan kita berikan untuk mereka. Ingat, jangan berlebihan!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 12 Agustus 2022, terinspirasi setelah menyadari bahwa sifat terlalu peduli ke orang lain yang dimiliki bisa memiliki dampak yang negatif bagi kedua belah pihak</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-berjalan-di-pagar-1548769/">Sebastian Voortman</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dan-bodo-amat-ke-orang-lain-itu-harus-seimbang/">Peduli dan Bodo Amat ke Orang Lain Itu Harus Seimbang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dan-bodo-amat-ke-orang-lain-itu-harus-seimbang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2022 23:28:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5779</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dead people receive more flowers than living ones, because regret is stronger than gratitude Anonymous Coba luangkan waktu sejenak untuk berdiam diri dari segala kesibukan dan hiruk pikuk yang ada di pikiran. Cari posisi duduk yang paling membuat kita merasa nyaman. Lalu, pusatkan perhatian pada aktivitas bernapas, hingga kita merasa benar-benar hadir di saat ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/">Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Dead people receive more flowers than living ones, because regret is stronger than gratitude</p><cite>Anonymous</cite></blockquote>



<hr class="wp-block-separator alignfull is-style-wide"/>



<p>Coba luangkan waktu sejenak untuk berdiam diri dari segala kesibukan dan hiruk pikuk yang ada di pikiran. Cari posisi duduk yang paling membuat kita merasa nyaman. Lalu, pusatkan perhatian pada aktivitas bernapas, hingga kita merasa benar-benar hadir di saat ini.</p>



<p>Setelah itu, coba renungkan kehadiran orang-orang yang ada di sekitar kita. Keluarga, pasangan, teman, kolega kerja, tetangga. Di antara mereka semua, siapa saja yang sudah memberikan perhatian dan kepedulian ke kita?</p>



<p>Jika sudah mendapatkan daftar namanya, coba tanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">menghargai mereka dengan baik</a>? Sudahkah kita bersyukur atas kehadiran mereka? Atau ternyata selama ini kita cenderung acuh terhadap mereka dan kurang menghargai mereka?</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dari sebuah <em>quote </em>yang Penulis temukan di Pinterest, ada sebuah kiasan yang menarik di mana orang yang telah mati biasanya mendapatkan bunga lebih banyak dari mereka yang masih hidup. Alasannya, penyesalan selalu lebih besar dari rasa syukur.</p>



<p>Ketika merenungkan <em>quote </em>tersebut, Penulis pun jadi merasa kalau dirinya selama ini belum bisa menghargai secara pantas orang-orang yang sudah peduli kepadanya. Jangankan membalas kepedulian tersebut, menghargai saja belum.</p>



<p>Itu bisa ke orang tua, ke teman, ke nenek Penulis, <em>and the list goes on</em>. Padahal sudah banyak cerita, di mana orang merasa menyesal karena belum bisa membalas kebaikan dan kepedulian orang lain karena yang bersangkutan sudah meninggalkan dunia ini mendahului kita.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Salah satu bentuk penyesalan Penulis yang terkadang masih terngiang-ngiang sampai sekarang adalah ketika salah satu sahabat, kakak, mentor Penulis di Jakarta meninggal dunia pada awal tahun ini karena sakit yang sudah lama dideritanya.</p>



<p>Sewaktu masih di <a href="https://whathefan.com/sajak/jakarta/">Jakarta</a>, Penulis kerap bertukar pikiran dengannya dan mendapatkan banyak sekali ilmu darinya. Sayangnya sewaktu sakitnya semakin parah, Penulis merasa kurang peduli, kurang memberikan perhatian dan bantuan. </p>



<p>Sampai akhirnya, tiba-tiba Penulis mendapatkan kabar duka tersebut dari teman Penulis dan merasa cukup terpukul. Perasaan menyesal pun datang karena belum bisa membalas kepeduliannya ke Penulis. Al-Fatihah untuk beliau&#8230;</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Belajar dari pengalaman tersebut, Penulis lebih berusaha untuk menghargai orang-orang yang telah mengalokasikan waktunya untuk peduli kepada Penulis. Keberadaan mereka harus benar-benar Penulis syukuri agar tidak merasa menyesal ketika mereka sudah pergi.</p>



<p>Terkadang, kita terlalu sibuk dengan keseharian dan pikiran sendiri, sehingga mengabaikan hal-hal semacam ini. Kesibukan ini kita jadikan dalih untuk menunda-nunda apa yang seharusnya bisa kita lakukan untuk mereka yang sudah peduli dengan kita.</p>



<p>Oleh karena itu, coba <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/">berhenti sejenak</a> dari segala aktivitas kita. Tidak perlu lama-lama, cukup beberapa menit. Lalu, coba ekpresikan rasa syukur dan terima kasih kita kepada mereka yang sudah peduli dengan kita, sebelum terlambat.</p>



<p></p>



<p>NB: <em>Quote </em>di awal tulisan kerap ditulis sebagai perkataan dari seorang penulis buku harian dan korban <em>holocaust</em>, Anne Frank. Namun setelah ditelusuri, tidak ada bukti kalau<em> quote </em>tersebut berasal darinya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 28 Juni 2022, terinspirasi setelah merasa dirinya belum bisa menghargai orang-orang yang peduli dengannya</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@minan1398/">Min An on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/">Menghargai Orang yang Peduli ke Kita, Sebelum Terlambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/menghargai-orang-yang-peduli-ke-kita-sebelum-terlambat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2022 10:50:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[acuh]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[ditinggalkan]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna. Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. Perasaan ditinggalkan pun menyeruak dari dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/">Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna.</p>



<p>Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. <a href="https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/">Perasaan ditinggalkan</a> pun menyeruak dari dalam diri dengan begitu menyakitkan.</p>



<p><em>People come and go</em>. Tak perlu heran ataupun sedih berlebihan jika itu sampai terjadi. Kita cuma perlu menyadari satu hal, kalau satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan dalam situasi ini adalah respon kita.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Menyebabkan Dia Berhenti Peduli?</h2>



<p>Secara naluriah, respon pertama kita ketika melihat ada yang berubah dari orang lain adalah menanyakan apa penyebabnya. Termasuk jika dia berhenti peduli, apa yang menyebabkan ketidakpeduliannya tersebut?</p>



<p>Jawabannya mungkin akan bermacam-macam. Ada yang karena jengah melihat kesalahan kita, ada yang karena punya teman atau pasangan baru, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">ada yang punya prioritas lain</a>, ada yang karena tiba-tiba berubah saja tanpa alasan yang pasti, dan lain sebagainya.</p>



<p>Jika beruntung, kita akan mendapatkan penjelasan. Kita bisa memilih untuk menerima atau berusaha untuk meng-<em>counter </em>penjelasan tersebut. Biasanya, orang yang masih ingin dipedulikan oleh orang tersebut akan melakukan cara yang kedua.</p>



<p>Hanya saja, perlu diingat kalau <strong>orang lain memang tidak memiliki kewajiban untuk peduli dan perhatian ke kita</strong>. Kalau mereka melakukannya, itu hak mereka, tapi tidak akan pernah menjadi kewajiban.</p>



<p>Terkadang karena tidak menyadari hal inilah kita menjadi kecewa terhadap ekspektasi kita sendiri akan kepedulian dan perhatian orang lain. Artinya, ada yang harus kita ubah dari diri kita sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengelola Respon Terhadap Dia yang Berhenti Peduli</h2>



<p>Berkali-kali Penulis mengingatkan dirinya sendiri kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">manusia tidak akan bisa mengendalikan apa yang ada di luar kita</a>. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri sendiri, atau respon kita terhadap sebuah kejadian apapun bentuknya.</p>



<p>Jika ada orang yang dulu begitu peduli dan perhatian kepada kita, lantas berhenti melakukannya, <strong>fokus pada respon yang akan kita berikan</strong> terhadap perubahan tersebut. Tak perlu capek-capek berusaha mengubahnya untuk kembali peduli kepada kita.</p>



<p>Bertanya mengapa ia berubah masih dalam koridor yang bisa kita kendalikan, tapi jawaban yang akan ia berikan tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah respon terhadap jawaban tersebut.</p>



<p>Seandainya sikapnya sudah sangat batu dan tak bisa diubah, ya sudah, kita dituntut untuk menerima kondisi tersebut tanpa syarat. Kita harus bisa menerima keputusannya tersebut dengan ikhlas dan legawa.</p>



<p>Terkait apakah kita harus ikut berhenti peduli kepadanya, Penulis serahkan ke Pembaca. Menurut Penulis, tidak ada yang salah. Mau tetap peduli walau makan hati terus silakan, mau ikut berhenti peduli juga silakan. Bebas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Berhenti dipedulikan dan diperhatikan oleh keluarga, teman, kekasih, memang terasa pedih dan menyakitkan. Bagi orang yang memiliki <em>inferior complex</em>, pasti akan cenderung menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.</p>



<p>Hanya saja, menyalahkan diri sendiri juga tidak akan membuat dia kembali peduli ke kita. Tidak ada gunanya. Lebih baik, curahkan energi kita untuk memberi respon terhadap kondisi tersebut sebaik dan sepositif mungkin. </p>



<p>Pilih respon yang sekiranya membuat diri kita bisa merasa lebih baik lagi. Kalau nyamannya berhenti berhubungan secara total, silakan saja, walau dalam keyakinan Penulis sebenarnya tidak diperbolehkan memutus tali silaturahmi dengan siapapun.</p>



<p>Jika alasan berhentinya kepeduliannya karena hubungan yang memburuk, coba cari cara bersama-sama untuk memperbaiki kesalahan masing-masing. Tak perlu berharap dia akan kembali peduli, cukupkan untuk kembali memiliki hubungan yang baik.</p>



<p>Yang paling penting, kita perlu ingat kalau respon yang kita berikan adalah satu-satunya hal yang bisa kendalikan atas dia yang berhenti peduli. Kita tidak akan pernah bisa memaksa orang lain untuk peduli ke kita. Tidak akan pernah.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 7 Februari 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@entersge">Vladislav Muslakov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/">Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 10:37:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[ekspetasi]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pamrih]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4966</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap. Penulis pun berusaha untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator terbentuknya Karang Taruna di tempat Penulis tinggal. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap.</p>



<p>Penulis pun berusaha untuk <strong>lebih peduli</strong> dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">terbentuknya Karang Taruna</a> di tempat Penulis tinggal.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga berusaha untuk memberikan perhatian kepada orang-orang dekatnya sebagai bentuk kepedulian. Penulis berusaha untuk selalu ada ketika mereka butuh sesuatu.</p>



<p>Akan tetapi, akhir-akhir ini Penulis kerap merasa risau tentang hal ini. Di balik segala bentuk kepedulian dan perhatian yang Penulis perhatikan, <strong>tersimpan pamrih yang masih menyimpan harapan untuk mendapatkan balasan.</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kata Kuncinya Satu: Ikhlas</h2>



<p>Penulis tidak bisa membagikannya di sini karena termasuk privasi, tapi ada satu kejadian yang menyadarkan Penulis akan permasalahan ini. </p>



<p>Setelah direnungkan, Penulis sadar kalau kuncinya hanya ada di satu kata: <strong>Ikhlas</strong>.</p>



<p>Berharap diperlakukan sama artinya Penulis belum bisa ikhlas ketika menunjukkan kepedulian dan perhatiannya ke orang lain. Karena telah berharap, akan timbul rasa kecewa karena yang apa yang terjadi <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">tidak sesuai dengan ekspetasi</a>.</p>



<p>Ini salah. Meskipun terdengar manusiawi, Penulis menganggap hal ini salah. Seharusnya, Penulis bisa berbuat baik tanpa berharap apapun dari orang lain. Kalau mau berbuat baik, ya sudah berbuat baik saja tanpa berekspetasi apa-apa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</h2>



<p>Karena merisaukan masalah keikhlasan, Penulis sampai membeli buku berjudul <em><strong>Tuhan, Kenapa Aku Belum Ikhlas?</strong> </em>karya A.K. Ada satu bagian yang seolah bisa menjawab kerisauan Penulis, yakni <em>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</em>.</p>



<p>Apa maksudnya? Artinya, kita sebagai manusia memang harus peduli dengan orang lain, terutama yang ada di sekitar mereka. Kita harus menumbuhkan empati yang tinggi sebagai makhluk sosial. Sebisa mungkin kita harus membantu orang lain yang butuh pertolongan kita.</p>



<p>Hanya saja, ada banyak hal yang harus tidak kita pedulikan ketika sedang peduli dengan orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa respon orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa balasan dari orang lain. Kita tidak perlu peduli jika orang lain tidak menghargai perbuatan baik yang kita lakukan.</p>



<p>Jangan sampai niat berbuat baik kita mencari tercoreng karena berharap hal-hal seperti itu. Memang terdengar utopis dan susah untuk diterapkan, tapi Penulis yakin hal tersebut bisa dilakukan dengan keyakinan yang kuat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Meluruskan Niat</h2>



<p>Salah satu caranya adalah meluruskan niat. Apa tujuan kita peduli dengan orang lain? Apakah kita berharap pujian dan orang tersebut akan balik peduli dengan kita?</p>



<p>Jika niat kita masih seperti itu, mungkin secara bertahap bisa kita ubah dengan hanya mengharap ridha Tuhan. Penulis yakin hal ini amat berat untuk direalisasikan, tapi setidaknya kita harus berusaha melakukannya.</p>



<p>Dengan hanya berharap ridha Tuhan yang Maha Pengasih, perasaan kita pun akan menjadi lebih ringan karena sudah tidak berharap apa-apa lagi dari manusia. Kita bisa berfokus berbuat baik tanpa takut kecewa atas perbuatan orang lain.</p>



<p>Penulis pun sampai saat ini masih jauh dari tahapan tersebut. Dibutuhkan upaya yang benar-benar tulus dari hati. Akan tetapi, Penulis yakin jika dirinya berhasil meluruskan niat, menjadi orang yang peduli sekaligus tidak peduli akan menjadi hal yang bisa dilakukan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah dirinya merenungi banyak hal seputar keikhlasan</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jontyson">Jon Tyson</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Milenial Peduli Sekitar (MILITAR)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/milenial-peduli-sekitar-militar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2020 22:21:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[donasi]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[Militar]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[sumbangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3788</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dampak dari Pandemi Corona ternyata sangat hebat. Selain jumlah korban yang selalu bertambah, ekonomi dunia pun terguncang dengan hebatnya. Indonesia menjadi salah satunya. Kita, yang awalnya terkesan meremehkan, ternyata jadi kelimpungan setengah mati. Semua kalangan terkena dampaknya, mulai dari pekerja harian hingga pengusaha. Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa melakukan apapun sesuai dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/milenial-peduli-sekitar-militar/">Milenial Peduli Sekitar (MILITAR)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dampak dari Pandemi Corona ternyata sangat hebat. Selain jumlah korban yang selalu bertambah, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">ekonomi dunia pun terguncang</a> dengan hebatnya. Indonesia menjadi salah satunya.</p>
<p>Kita, yang awalnya terkesan meremehkan, ternyata jadi kelimpungan setengah mati. Semua kalangan terkena dampaknya, mulai dari pekerja harian hingga pengusaha.</p>
<p>Lantas, apa yang bisa kita lakukan? <strong>Kita bisa melakukan apapun sesuai dengan kapasitas kita</strong>. Yang punya rezeki berlebih bisa menyumbang, yang bekerja di bidang medis menjadi garda terdepan, yang bisanya cuma rebahan ya enggak apa-apa walau agak keterlaluan.</p>
<p>Contohnya adalah <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Karang Taruna di tempat Penulis</a>. Mereka memiliki inisiatif untuk membentuk gerakan pengumpulan donasi yang nantinya disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan.</p>
<h3>Awal Mula Gerakan</h3>
<p>Ide ini datang dari salah satu anggota senior Karang Taruna. Usul ini disanggupi dan mereka sangat antusias untuk merealisasikannya. Maka, dibentuklah kepanitiaan kecil dengan seksi-seksinya yang dibutuhkan.</p>
<p>Penulis sendiri sekarang berposisi sebagai penasihat, sehingga hanya bisa memberikan masukan-masukan dari jauh. Yang jelas, Penulis merasa kalau niat baik ini harus didukung.</p>
<p>Omong-omong soal niat, gerakan ini tidak hanya sekadar mengumpulkan donasi dan menyalurkannya kepada yang membutuhkan.</p>
<p>Gerakan ini juga memiliki tujuan <strong>menggerakkan milenial lain untuk melakukan sesuatu </strong>di tengah pandemi ini, bukan sekadar mengeluh bosan di rumah karena tidak bisa ke mana-mana.</p>
<p>Bukan berarti kami sok merasa paling hebat dan merendahkan milenial lain. Tidak seperti itu. Penulis yakin masih banyak milenial lain yang memiliki gerakan serupa, bahkan lebih hebat lagi.</p>
<p>Kami hanya berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membantu sesama di tengah pandemi ini.</p>
<h3>Eksekusi</h3>
<p><div id="attachment_3792" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3792" class="wp-image-3792 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/milenial-peduli-sekitar-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/milenial-peduli-sekitar-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/milenial-peduli-sekitar-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/milenial-peduli-sekitar-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/milenial-peduli-sekitar-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3792" class="wp-caption-text">Survei Langsung (<a href="https://www.instagram.com/phill_tc/">Phillip TC</a>)</p></div></p>
<p>Setelah kepanitiaan terbentuk, mulailah mereka membuat susunan acara agar bisa segera dilaksanakan. Rapat dilakukan secara virtual (menggunakan Google Meet karena isu negatif yang didapat Zoom) untuk mengurangi kontak fisik.</p>
<p>Nama gerakan atau kegiatannya sendiri adalah <strong>Milenial Peduli Sekitar </strong>atau disingkat <strong>MILITAR</strong>. Nama ini Penulis sarankan dan diterima oleh peserta rapat.</p>
<p>Pengumpulan donasi sendiri dimulai pada tanggal <strong>25 April hingga 2 Mei</strong>. Rencananya, donasi (berupa uang) akan dibelikan beras dan minyak dan diberikan pada tanggal <strong>3 Mei</strong>.</p>
<p>Untuk menyebarkan informasi seputar acara ini, mereka memanfaatkan media sosial dengan membuat poster. Selain itu, warga di perumahan juga diberi edaran.</p>
<p>Kepada siapa bantuan akan diberikan? Kepada <strong>golongan-golongan kurang mampu di sekitar lingkungan</strong> yang selama ini menggantungkan diri ke penghasilan harian.</p>
<p>Mereka juga mulai melakukan survei untuk mengetahui siapa-siapa saja yang berhak mendapatkan bantuan. Penulis merasa tersentuh dengan usaha yang sudah mereka lakukan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ketika menjadi ketua Karang Taruna, Penulis sempat mencanangkan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/laporan-pertanggungjawaban-karang-taruna/">program kerja Bakti Sosial</a>. Sampai masa jabatannya berakhir, program kerja tersebut tidak pernah terlaksana dengan berbagai alasan.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis merasa sangat senang pada akhirnya program kerja ini bisa terlaksana. Momen Corona dimanfaatkan untuk mengetuk rasa kemanusiaan generasi milenial yang kerap dianggap apatis.</p>
<p>Semoga ke depannya makin banyak generasi milenial yang peduli dengan lingkungan sekitarnya, bukan hanya kepada dirinya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>NB</strong>: Bagi pembaca yang ingin mengirimkan donasi, bisa melalui rekening BCA dengan nomor <strong>3160077793</strong> an <strong>Hersandi Hamdan</strong> atau menghubungi <em>contact person </em>di <strong>0819 1680 8916</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 April 2020, terinspirasi dari gerakan kemanusiaan yang sedang dilakukan oleh Karang Taruna</p>
<p>Foto: <a href="https://www.instagram.com/phill_tc/">Phillip TC</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/milenial-peduli-sekitar-militar/">Milenial Peduli Sekitar (MILITAR)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peduli dengan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2020 10:59:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3644</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu, Penulis sering dianggap sebagai pribadi yang cuek. Entah bagaimana definisinya bagi orang pada waktu itu, bisa jadi karena Penulis terlihat sering tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Ketika beranjak dewasa, Penulis menyadari bahwa sikap ini harus sedikit diperbaiki. Penulis harus mampu menumbuhkan sikap peduli terhadap sekitarnya. Secara perlahan, Penulis mampu sedikit berubah. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">Peduli dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, Penulis sering dianggap sebagai pribadi yang cuek. Entah bagaimana definisinya bagi orang pada waktu itu, bisa jadi karena Penulis terlihat sering tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, Penulis menyadari bahwa sikap ini harus sedikit diperbaiki. Penulis harus mampu menumbuhkan sikap peduli terhadap sekitarnya.</p>
<p>Secara perlahan, Penulis mampu sedikit berubah. Contoh paling mudah adalah aktif di berbagai kegiatan di lingkungan tempat tinggal, mulai dari berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti hingga <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">merintis Karang Taruna</a>.</p>
<p>Memberikan perhatian kepada orang lain juga merupakan bentuk kepedulian. Menanyakan bagaimana kabar, memberi semangat ketika orang lain <em>down</em>, merupakan contoh kecil lainnya.</p>
<p>Hanya saja, jangan sampai kita terlalu peduli dengan orang lain hingga mengabaikan diri sendiri.</p>
<h3>Peduli dengan Diri Sendiri</h3>
<p>Bagi sebagian besar orang, yang paling mampu peduli kepada dirinya adalah dirinya sendiri. Kita tidak bisa bergantung kepada kepedulian orang-orang yang ada di sekitar kita.</p>
<p>Artinya, jika kita tidak peduli dengan diri sendiri, siapa yang akan peduli? Berharap orang lain akan peduli? Mungkin ada yang mendapatkan <em>privilege </em>seperti itu, tapi tidak semua orang bisa mendapatkannya.</p>
<p>Penulis sudah merasakan sendiri bagaimana muncul rasa kecewa karena berharap kepada manusia. Berharap orang lain akan peduli menjadi salah satunya.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis sedang belajar untuk memedulikan diri sendiri terlebih dahulu sebelum memedulikan orang lain. Bagaimana caranya?</p>
<h3>Cara Peduli dengan Diri Sendiri</h3>
<p>Ada banyak cara untuk bisa peduli kepada diri sendiri. Hidup sehat, makan-makanan bergizi, pola tidur teratur, olahraga rutin, menjadi contoh-contoh mudahnya walaupun Penulis sendiri belum bisa melakukannya.</p>
<p>Cara yang lebih detail adalah <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a>. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, kita wajib mencintai diri kita sendiri. Hal ini mungkin susah untuk orang yang sering merasa <em>insecure</em>, tapi bisa dilakukan.</p>
<p>Selain itu, buat kita bahagia sesering mungkin. Kalau kata Chelsea Islan, <a href="https://whathefan.com/karakter/jangan-lupa-bahagia/">jangan lupa bahagia</a>. Memang ada kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan kita untuk bahagia, tapi jangan sampai lupa kalau kita butuh kebahagiaan.</p>
<p>Bahagia juga sebaiknya harus bergantung kepada diri sendiri, bukan dari orang lain. Kita terkadang butuh faktor eksternal untuk bisa merasa bahagia (membeli barang, bertemu orang tersayang, dll), tapi sebaiknya kebahagiaan itu berawal dari diri sendiri.</p>
<p>Memanfaatkan waktu sebaik mungkin juga harus dilakukan. Jangan sampai waktu kita banyak dihabiskan dengan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/"><em>scrolling </em>media sosial</a> atau <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">main game</a> hingga lupa waktu.</p>
<p>Untuk menumbuhkan kepedulian kepada diri sendiri, akhir-akhir ini Penulis sering membaca buku dengan tema <em>self-care </em>ataupun buku-buku bertemakan kebahagiaan.</p>
<p>Seorang teman secara bercanda mengatakan bahwa Penulis melakukan itu karena tidak ada yang perhatian, sehingga harus diri sendiri yang melakukannya.</p>
<p>Intinya, ada banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepada diri sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Peduli dengan orang lain itu sama sekali tidak ada salahnya. Kalau bisa malah <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">peduli dengan ikhlas</a>, peduli tanpa mengharapkan timbal balik apapun. Memang berat, tapi bisa dilatih agar terbiasa.</p>
<p>Walaupun begitu, jangan sampai kita terlalu memedulikan orang lain hingga mengabaikan diri sendiri. Jiwa dan raga kita membutuhkan perhatian dari tuannya karena kalau bukan dari diri kita sendiri, dari siapa lagi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 14 Maret 2020, terinspirasi dari apa hayo?</p>
<p>Foto: <a href="https://analytichealer.com/your-needs-matter/">Analytic Healer</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">Peduli dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Lupa Bahagia</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Oct 2019 14:10:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[INFJ]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[MBTI]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2833</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis kerap mengatakan kalimat jangan lupa bahagia kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream. Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni Chelsea Islan dan Anji. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu Happy Birthday. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, selalu bahagia. Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan Lupa Bahagia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis kerap mengatakan kalimat <strong>jangan lupa bahagia </strong>kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream.</p>
<p>Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni <strong>Chelsea Islan </strong>dan <strong>Anji</strong>. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu <em>Happy Birthday</em>. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, <em>selalu bahagia</em>.</p>
<p>Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya selalu menutup video dengan kalimat <em>jangan lupa senyum hari ini</em>. Dari sanalah penulis melakukan <em>fusion </em>dan menjadi jangan lupa bahagia.</p>
<p>Akan tetapi setelah direnungkan kembali, penulis menggunakan kalimat ini ke orang lain dan tak pernah mengucapkannya untuk diri sendiri!</p>
<h3>Terlalu Fokus dengan Kebahagiaan Orang Lain</h3>
<p>Boleh percaya atau tidak, penulis adalah tipe orang yang bahagia jika melihat orang lain bahagia. Oleh karena itu, penulis akan melakukan sesuatu semampunya agar bisa membuat orang lain bahagia.</p>
<p>Hal itu bisa diwujudkan dengan memberikan perhatian, membelikan hadiah, menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar yang baik</a>, dan lain sebagainya. Apapun yang bisa penulis berikan, akan penulis berikan.</p>
<p><em>Masalahnya, penulis terlalu memfokuskan diri untuk membahagiakan orang lain hingga lupa dan mengabaikan kebahagiaan dirinya sendiri. </em></p>
<p>Ketika mengambil tes MBTI beberapa waktu lalu, penulis mendapatkan hasil <strong>INFJ</strong> (<i>Introversion</i>, <i>Intuition</i>, <i>Feeling</i>, <i>Judgement</i>) atau <strong>Advokat</strong>. Padahal, dulu ketika melakukan tes yang sama, penulis merupakan tipe <strong>ENFJ</strong> atau <strong>Protagonis</strong>.</p>
<p>Orang-orang dengan kepribadian ini biasanya sangat peduli dengan orang lain, namun jarang memedulikan diri sendiri. Mereka juga terkadang tidak bisa memahami diri mereka sendiri.</p>
<p>Lebih lanjut seperti yang penulis lansir dari <a href="https://www.16personalities.com/id/kepribadian-infj"><em>16personalities.com</em></a><em>, </em>orang INFJ cenderung menganggap membantu orang lain adalah tujuan hidupnya. Bahkan, terkadang memberikan pertolongan tanpa diminta atau melebihi dari yang diminta.</p>
<p>Mereka juga peduli dengan perasaan orang lain dan menyimpan harapan orang lain juga akan berlaku sama kepada dirinya. Mungkin karena karakteristik inilah, penulis sering mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.</p>
<h3>Sering Merasa Tidak Bahagia?</h3>
<p>Waktu sekolah dulu, penulis sering memasang wajah muram dan serius, seolah tidak pernah bahagia. Hal ini berdampak kepada pemborosan muka melebihi usianya. Ketika kuliah, penulis sudah mengurang kemuraman tersebut.</p>
<p>Jika dipikir-pikir kembali, penulis memang jarang memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Mungkin, lebih tepatnya adalah penulis sering merasa tidak bahagia.</p>
<p>Selalu ada saja celah yang bisa penulis manfaatkan untuk merasa tidak bahagia. Ada saja bagian-bagian kecil dari kehidupan yang penulis jadikan sebagai alasan ketidakbahagiaan.</p>
<p>Saat merenung, penulis sadar bahwa sebenarnya kunci kebahagiaan itu hanya satu: <strong>bersyukur</strong>.</p>
<p>Harusnya, penulis merasa bahagia karena memiliki keluarga yang relatif harmoni, bahagia memiliki banyak teman-teman yang peduli, bahagia karena memiliki pekerjaan enak dengan gaji lumayan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Jika saja penulis lebih sering berfokus kepada hal-hal yang telah dimiliki, niscaya penulis bisa merasa lebih bahagia lagi. Bagaimana penulis bisa membahagiakan orang lain jika dirinya sendiri tidak bahagia?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Yang masih harus penulis asah adalah bagaimana cara membahagiakan orang lain secara tulus. Selama ini, penulis masih menyimpan pamrih karena berharap orang yang dibahagiakan akan memberikan timbal balik sebanding.</p>
<p>Karena itulah, terkadang penulis <a href="https://whathefan.com/karakter/mengukur-keikhlasan/">mengalami kekecewaan</a> ketika yang diharapkan tidak terjadi. <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">Berbuat sesuatu secara ikhlas</a> memang susah luar biasa.</p>
<p>Apalagi, terkadang niat baik kita untuk membahagiakan atau menolong orang lain juga tidak ditangkap dengan baik. Akibatnya, terjadi salah paham yang membuat hubungan jadi memburuk.</p>
<p><a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">Kontemplasi</a> yang sering penulis lakukan akhir-akhir ini menjelang tidur membukakan mata penulis untuk lebih peduli dengan kebahagiaannya sendiri. Caranya, perbanyak syukur dengan apa yang telah dimiliki.</p>
<p>Dengan demikian, penulis juga bisa lebih membahagiakan orang-orang di sekitar penulis sesuai dengan batasan kemampuannya. Yang pasti, penulis akan makin sering berkata jangan lupa bahagia, baik untuk dirinya sendiri maupu orang lain.</p>
<p>Sekali lagi, <strong>JANGAN LUPA BAHAGIA!!!</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Oktober 2019, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya jarang merasa bahagia.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.kincir.com/tag/merry-riana-mimpi-sejuta-dolar">Kincir</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan Lupa Bahagia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peduli dengan Ikhlas Itu Berat</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jul 2019 02:39:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[cuek]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kepedulian]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit hati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2556</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu, penulis merupakan orang yang egois dan cenderung acuh dengan lingkungan sekitar. Penulis hanya memikirkan diri sendiri tanpa berusaha memahami perasaan orang lain. Untunglah, setelah usia semakin tua ditambah dengan kegemaran membaca buku-buku self-improvement, sifat tersebut berangsur-angsur hilang. Penulis merasa diri yang sekarang menjadi orang yang lumayan peduli. Entah bagaimana persepsi orang lain. Hanya saja ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">Peduli dengan Ikhlas Itu Berat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, penulis merupakan orang yang egois dan cenderung acuh dengan lingkungan sekitar. Penulis hanya memikirkan diri sendiri tanpa berusaha memahami perasaan orang lain.</p>
<p>Untunglah, setelah usia semakin tua ditambah dengan kegemaran membaca buku-buku <em>self-improvement</em>, sifat tersebut berangsur-angsur hilang. Penulis merasa diri yang sekarang menjadi orang yang lumayan peduli. Entah bagaimana persepsi orang lain.</p>
<p>Hanya saja ketika mencoba untuk menjadi orang yang peduli, tantangannya cukup berat. Keikhlasan kita untuk benar-benar peduli terkadang diuji dengan respon yang diberikan kepada yang dipedulikan.</p>
<h3>Peduli dan Ikhlas</h3>
<p>Yang namanya ikhlas, tentu tidak mengharapkan timbal balik dalam berupa apapun, bukan? Masalahnya, penulis belum bisa seperti itu sepenuhnya.</p>
<p>Nah, ketika orang yang penulis pedulikan tidak memberikan respon sebagaimana yang diharapkan, penulis akan merasa kecewa karena merasa tidak dihargai. Penulis akan merasa <em>down </em>karena niat baiknya tidak dihiraukan.</p>
<p>Tentu hal tersebut menyakitkan, dan hal ini sudah terjadi beberapa kali. Jika sudah seperti itu, penulis biasanya akan menjadi murung dan mencari tahu kira-kira hal salah apa yang telah penulis lakukan.</p>
<p>Belum lagi jika yang berusaha dipedulikan menunjukkan sikap &#8220;aku enggak butuh dipeduliin sama kamu&#8221;. Wah, bisa berlipat ganda perasaan tersakitinya.</p>
<p>Akan tetapi, penulis menyadari bahwa yang namanya peduli harusnya diiringi dengan keikhlasan. Ditanggapi ya syukur <em>alhamdulillah</em>, kalau enggak ya sudah <em>legowo </em>saja.</p>
<p>Bahkan, salah seorang teman menyuruh penulis untuk sedikit cuek. Hal tersebut ada benarnya, mengingat tidak ada yang baik dengan yang namanya berlebihan, bahkan jika hal tersebut adalah tingkat kepedulian.</p>
<h3>Bijak Di Kala Kritis</h3>
<p>Memang berkata-kata lebih mudah dari praktiknya. Kalau kata Dee Lestari, tidak mudah menjadi bijak di kala kritis. Semua konsep <em>positive thinking </em>yang sudah penulis pelajari mendadak lenyap begitu saja ketika sedang mendapat tanggapan yang kurang baik.</p>
<p>Penulis menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sangat manusiawi. Penulis hanyalah manusia biasa yang sedang belajar untuk selalu berusaha lebih baik dari hari kemarin. Dalam proses belajar, wajar jika kita menemukan kesulitan.</p>
<p>Akan tetapi, penulis selalu percaya dengan idiom <em>every cloud has a silver lining</em>. Semua peristiwa pasti memiliki hikmah kejadiannya masing-masing.</p>
<p>Dengan pernah menjadi orang cuek, penulis jadi terdorong untuk belajar peduli kepada orang lain. Dengan berusaha peduli dengan orang lain, penulis <a href="https://whathefan.com/karakter/mengukur-keikhlasan/">belajar tentang keikhlasan</a>.</p>
<p>Ketika sedang <em>down </em>karena masalah-masalah di atas, penulis berusaha mencari orang yang mau mendengar keluh kesah tersebut sehingga beban yang ada di kepala penulis bisa sedikit terangkat.</p>
<p>Selain itu, penulis juga berusaha menuliskan apapun yang mengganggu di pikiran. Salah satunya melalui blog kesayangan yang satu ini. Efeknya bisa terasa secara instan, mungkin bisa dicoba oleh para pembaca sekalian.</p>
<p>Bijak di kala kritis memang tidak mudah. Akan tetapi, penulis akan berusaha untuk sebisa mungkin tetap tenang ketika ada masalah dan tidak terlalu memikirkan apabila usahanya untuk peduli tidak diterima dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Juli 2019, terinspirasi dari&#8230; ya begitulah, pengalaman pribadi</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@matheusferrero">Matheus Ferrero</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">Peduli dengan Ikhlas Itu Berat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Hari untuk Pikiran Negatif</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Sep 2018 08:00:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir positif]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[keluhan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1355</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selalu usahakan untuk berpikir positif, apapun yang terjadi karena semua peristiwa memilih hikmah di baliknya. Tak peduli badai setinggi apa, tak peduli masalah seberat apa, kita harus tetap maju dengan optimisme tinggi. Ya, kurang lebih seperti itulah yang sering dikatakan para motivator, pun yang tertulis di buku-buku self-improvement yang sering penulis baca. Apakah salah memiliki pola pikir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/">Satu Hari untuk Pikiran Negatif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selalu usahakan untuk berpikir positif, apapun yang terjadi karena semua peristiwa memilih hikmah di baliknya. Tak peduli badai setinggi apa, tak peduli masalah seberat apa, kita harus tetap maju dengan optimisme tinggi.</p>
<p>Ya, kurang lebih seperti itulah yang sering dikatakan para motivator, pun yang tertulis di buku-buku <em>self-improvement </em>yang sering penulis baca. Apakah salah memiliki pola pikir selalu positif seperti itu? Entahlah, penulis sendiri belum bisa berada di posisi seperti itu.</p>
<p>Penulis tentu berusaha untuk mengaplikasikan pola hidup selalu berpikir positif. Malu dong jika buku bacaannya macam Awaken the Giant Within-nya Anthony Robbins tapi suka berpikir negatif tentang dirinya sendiri. Hanya saja, penulis membutuhkan satu hari untuk membuang pikiran-pikiran yang menumpuk di sudut kepala penulis.</p>
<p>Realistis saja, penulis tentu masih sering berpikir negatif, seperti &#8220;duh kok gak dapet-dapet kerja ya&#8221; atau &#8220;kok hidup gini banget ya&#8221;. Nah, dengan menerapkan hidup positif, ketika pikiran tersebut muncul, otak kita akan segera meminggirkannya ke pinggir-pinggir. Persis ketika kita sedang menyapu rumah.</p>
<p>Apa yang akan kita lakukan jika kotoran sudah menumpuk? Tentu membuangnya ke tempat sampah. Lantas, di mana kita bisa membuang pikiran-pikiran negatif yang sudah menumpuk tersebut?</p>
<p>Jika levelnya sudah level ahli ibadah, ia akan &#8220;menumpahkan&#8221; semuanya ke Tuhan. Lewat alunan doa ia curhat kepada Sang Pemilik Hidup. Setelah mencurahkan segala macam yang membebaninya, ia akan merasa lebih segar dan siap untuk menjalani hidup lebih baik.</p>
<p><div id="attachment_1372" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1372" class="size-full wp-image-1372" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash.jpg" alt="" width="1000" height="669" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash-300x201.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash-768x514.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash-356x238.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1372" class="wp-caption-text">Curhat ke Tuhan (Photo by Aliko Sunawang on Unsplash)</p></div></p>
<p>Bagaimana jika belum? Kalau penulis, belum bisa seratus persen seperti contoh di atas. Penulis masih membutuhkan orang-orang yang penulis percayai untuk mendengarkan segala keluh kesah yang penulis rasakan. Penulis masih membutuhkan orang-orang yang bisa mendengarkan dengan penuh empati dan berusaha untuk membangkitkan kembali semangat penulis. Penulis masih membutuhkan orang-orang yang peduli dan berusaha memberi motivasi untuk penulis.</p>
<p>Penulis akan merasa <em>plong </em>setelah membuang segala pikiran negatif yang telah tertumpuk tersebut. Penulis akan merasa lebih baik dan kembali semangat menjalani hidup. Penulis juga merasa, penulis tidak boleh mengecewakan orang-orang yang telah mendukung kita dengan sepenuh hati.</p>
<p>Kapankah satu hari tersebut? Tergantung. Penulis melakukannya kapan saja selama pikirannya sudah terasa penuh hingga penulis bingung mau melakukan apa. Asal jangan terlalu sering juga, misal dua hari sekali. Semakin lama jangka waktunya, penulis rasa semakin bagus.</p>
<p>Jika pembaca termasuk orang yang sudah bisa menerapkan konsep berpikir positif secara menyeluruh, kalian luar biasa. Untuk yang belum, mungkin saja cara penulis bisa ditiru, walaupun cara tersebut belum teruji secara klinis dan tidak pernah melewati serangkaian uji labotarium.</p>
<p>Mengalokasikan satu hari untuk membuang segala pikiran negatif murni berdasarkan pengalaman penulis pribadi, hasil perenungan bukan penelitian. Semoga saja dengan menuliskan hal ini bisa membawa kebaikan untuk pembaca sekalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 22 September 2018, terinspirasi setelah awal bulan ini menggunakan satu hari untuk mengeluarkan segala keluh kesah kepada seorang kawan</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/akT1bnnuMMk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Eric Ward</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/sad?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/">Satu Hari untuk Pikiran Negatif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
