<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sifat Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sifat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sifat/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Feb 2022 03:07:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sifat Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sifat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2022 03:07:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5570</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Cukup ucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah berbaik hati mau menolong kita. Bisa secara langsung, bisa melalui pesan singkat dari ponsel. Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Cukup berusaha menerima kebaikan yang ingin ia berikan kepada kita tanpa merasa sungkan berlebihan. Jika tidak merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup ucapkan terima kasih</strong> kepada mereka yang sudah berbaik hati mau menolong kita. Bisa secara langsung, bisa melalui pesan singkat dari ponsel.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup berusaha menerima kebaikan</strong> yang ingin ia berikan kepada kita tanpa merasa sungkan berlebihan. Jika tidak merasa butuh atau cocok dengan bantuan tersebut, coba katakan terus terang tanpa perlu menyakiti.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup tidak mencela kebaikan </strong>yang mereka lakukan kepada kita. Mereka sudah mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk berbuat baik kepada kita, jangan menuntut lebih dari itu.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup dengan bersikap</strong> baik kepadanya dan berusaha untuk tidak menyakiti perasaannya. Jika ia membutuhkan bantuan kita, cobalah bantu semampu kita.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Jika mampu, <strong>coba kita balas kebaikan </strong>tersebut sesuai dengan kemampuan kita. Coba cari cara, bagaimana cara membalasnya yang tidak terlalu memberatkan kita, tapi bermanfaat untuk orang tersebut.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>





<p>Kita semua tentu ingin dikelilingi oleh orang-orang baik yang tak segan untuk menolong di saat kita membutuhkannya. Bahkan, terkadang ada saja orang yang memiliki inisiatif untuk menolong kita tanpa diminta.</p>



<p>Sebagai pihak yang menerima kebaikan orang lain, sudah seharusnya kita menghargai kebaikan tersebut. Entah dengan mengucapkan terima kasih atau berusaha membalas kebaikannya di masa depan.</p>



<p>Meskipun idealnya seperti itu, ada saja orang-orang yang tidak (atau belum) bisa menghargai kebaikan orang lain. Mereka merasa<strong> kebaikan yang diberikan oleh orang lain adalah hal yang biasa</strong> sehingga tidak perlu diapresiasi.</p>



<p>Tentu itu hal yang kurang elok dan tidak sepantasnya dilakukan. Di dunia yang kesannya orang jahat makin banyak, kita harus percaya kalau masih banyak orang-orang baik yang tersisa. Mereka seolah menjadi pelita yang menghangatkan.</p>



<p>Oleh karena itu, yuk kita belajar untuk bisa lebih <strong>menghargai kebaikan orang lain</strong> yang mereka lakukan untuk kita. Ada banyak cara untuk mengapresiasi bentuk kebaikan tersebut, tergantung kemampuan kita masing-masing mampu melakukan yang mana.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 20 Februari 2022, terinspirasi setelah menyadari ada orang-orang yang terlihat susah untuk menghargai kebaikan orang lain</p>



<p>Foto:&nbsp;<strong><a href="https://www.pexels.com/@gabby-k?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Monstera</a></strong>&nbsp;from&nbsp;<strong><a href="https://www.pexels.com/photo/crop-black-man-with-gift-box-5876621/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yang Penting Jadilah Orang Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/yang-penting-jadilah-orang-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/yang-penting-jadilah-orang-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Jan 2022 01:33:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[keikhlasan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[orang baik]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5567</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, Penulis memiliki inisiatif untuk melakukan kebaikan untuk seseorang. Ternyata, kebaikan tersebut diabaikan olehnya, bahkan ucapan terima kasih saja tidak ada. Mau berusaha ikhlas seperti apapun, tentu ada perasaan jengkel pada diri Penulis. Apakah memang mengucapkan terima kasih seberat itu? Penulis merasa kebaikan yang dilakukan tidak dihargai sama sekali. Lantas, Penulis membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/yang-penting-jadilah-orang-baik/">Yang Penting Jadilah Orang Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa hari yang lalu, Penulis memiliki inisiatif untuk melakukan kebaikan untuk seseorang. Ternyata, kebaikan tersebut diabaikan olehnya, bahkan ucapan terima kasih saja tidak ada.</p>



<p>Mau berusaha ikhlas seperti apapun, tentu ada perasaan jengkel pada diri Penulis. Apakah memang mengucapkan terima kasih seberat itu? Penulis merasa kebaikan yang dilakukan tidak dihargai sama sekali.</p>



<p>Lantas, Penulis membaca sebuah buku <em>Menjadi Manusia Menjadi Hamba </em>karya Fahruddin Faiz, yang mungkin lebih terkenal melalui kanal YouTube-nya, Ngaji Filsafat. Ada satu kalimat yang rasanya begitu menampar Penulis:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Yang penting jadilah orang baik, tidak perlu berpikir apakah orang akan melihat Anda baik.</p></blockquote>





<p>Ingin terlihat baik di mata orang lain rasanya manusiawi saja. Siapa juga ingin dicap buruk? Hanya saja, kalau sampai ingin terlihat baik menjadi tujuan utama hingga <a href="https://whathefan.com/politik-negara/perlukah-pencitraan/">melakukan berbagai pencitraan</a> dan melupakan esensi berbuat baik, tentu salah.</p>



<p>Esensinya adalah perbuatan baik yang kita lakukan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">harus diiringi dengan rasa ikhlas</a>. Jika kita ingin menolong seseorang, ya sudah niatkan saja untuk menolongnya. Bagaimana responnya ke kita bukan urusan kita.</p>



<p>Kalau kita merasa kesal karena responnya, ya sudah jangan ditolong lagi. Namun, itu menunjukkan kurangnya kadar keikhlasan kita dalam menolong. Sebisa mungkin abaikan saja respon orang tersebut dan tetap menolongnya ketika ia membutuhkan kita.</p>



<p>Ketika menyingkirkan sampah di jalan atau menumpuk piring kotor setelah makan di restoran, lakukan karena ingin berbuat baik saja. Jangan melakukan kebaikan-kebaikan tersebut hanya ketika ada orang lain yang melihat agar kita dicap baik.</p>



<p>Di era media sosial seperti sekarang, ada saja yang memamerkan kebaikan yang mereka lakukan. Ada yang berargumen bahwa itu dilakukan untuk memotivasi orang lain agar berbuat hal yang sama. </p>



<p>Misal, menyumbang ke korban bencana alam dengan jumlah fantastis agar orang lain termotivasi untuk menyumbang dengan jumlah besar. Kalau seperti itu ya tidak apa-apa, yang tahu niat aslinya hanya yang bersangkutan.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Yang lebih berbahaya adalah ketika aslinya berbuat jelek, tapi melakukan pencitraan agar terlihat baik. Misal, koruptor, biar terlihat baik ia membuat yayasan dan naik haji. Padahal, uang yang digunakan adalah uang hasil korupsi. Ini harus benar-benar dihindari.</p>



<p>Biasanya para politisi yang butuh suara rakyat melakukan kesalahan ini. Mereka berbuat baik karena dua alasan utama, yakni agar terlihat baik dan mendapatkan suara rakyat, tanpa benar-benar ingin berbuat baik. </p>



<p>Ketika sudah terpilih, biasanya mereka baru menunjukkan topeng asli mereka, melupakan janji manisnya, dan memuaskan libido kekuasaannya. Bahkan, ada yang terus melakukan pencitraan agar terpilih lagi di periode berikutnya, tapi biasanya baru dilakukan menjelang masa jabatannya akan berakhir.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Cukuplah jadi orang baik saja, tanpa perlu berusaha terlihat baik di mata orang lain. Hidup ini singkat dan terbatas, jadi sebisa mungkin kita harus bisa hidup yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>خير الناس أنفعهم للناس</p><p><em>Sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat untuk orang lain.</em></p></blockquote>



<p>Penulis menyadari bahwa dirinya terkadang (atau sering?) masih belum bisa ikhlas berbuat baik. Minimal, Penulis masih berharap kebaikannya tersebut dihargai oleh orang lain, walau menghargai kebaikan orang memang sudah seharusnya dilakukan.  Hanya saja dari sisi yang melakukan kebaikan, ya sudah tidak perlu berharap apa-apa. </p>



<p>Sebar manfaat sebanyak mungkin selama masih ada waktu. Berat? Iya. Akan tetapi, kita bisa melatih keikhlasan ini tersebut. Kalau cara Penulis, Penulis akan terus nge-<em>push</em> dirinya sendiri untuk berbuat baik sebanyak mungkin, asal tidak sampai membuat orang lain merasa risih.</p>



<p>Mampu berbuat baik tanpa ingin terlihat baik juga menjadi <a href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">salah satu ciri kedewasaan</a> seseorang menurut Penulis. Ketika melihat orang-orang yang mampu melakukan hal ini, Penulis begitu mengagumi mereka dan berharap bisa seperti mereka.</p>



<p>Hanya diri kita sendiri yang tahu apakah perbuatan baik yang dilakukan murni karena ingin berbuat baik atau memiliki pamrih agar dilihat oleh orang lain. Maka dari itu, coba tanyakan ke dalam diri, apakah perbuatan baik yang kita lakukan sudah ikhlas?</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 13 Januari 2022, terinspirasi dari cerita yang sudah Penulis bagikan di awal tulisan</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@kelli_mcclintock">Kelli McClintock</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/yang-penting-jadilah-orang-baik/">Yang Penting Jadilah Orang Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/yang-penting-jadilah-orang-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Saya Toxic?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2021 11:37:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[toxic]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5093</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu terakhir ini, Penulis sering melakukan kompletasi. Tujuannya, untuk melihat ke dalam diri sendiri apa yang perlu dibenahi demi menjadi manusia yang lebih baik lagi. Salah satu yang menjadi concern Penulis adalah mengenai toxic yang cukup populer di kalangan generasi muda. Penulis bertanya ke dirinya sendiri, apakah saya ini termasuk orang yang toxic? Untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">Apakah Saya Toxic?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu terakhir ini, Penulis sering <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">melakukan kompletasi</a>. Tujuannya, untuk melihat ke dalam diri sendiri apa yang perlu dibenahi demi menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<p>Salah satu yang menjadi <em>concern </em>Penulis adalah mengenai <em>toxic </em>yang cukup populer di kalangan generasi muda. Penulis bertanya ke dirinya sendiri, apakah saya ini termasuk orang yang <em>toxic</em>?</p>



<p>Untuk membantu menjawab pertanyaan ini, Penulis pun menonton beberapa video di YouTube yang membahas mengenai sifat <em>toxic</em>.</p>



<p>Hasil perenungan dan pengamatan tersebut akan coba Penulis rangkum melalui tulisan ini sebagai bahan interopeksi bersama dengan bahasa yang sesederhana mungkin.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5097" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Racun (Photo by <strong><a href="https://www.pexels.com/@davideibiza?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Davide Baraldi</a></strong> from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/glass-bottles-on-shelf-1771809/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong>)</figcaption></figure>



<p>Dari berbagai sumber, kata <em>toxic </em>yang kita kenal sekarang sesuai dengan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia: racun. Racun itu sifatnya berbahaya dan merugikan kita.</p>



<p>Jika konteksnya adalah karakter, <em>toxic </em>artinya kita<strong> memiliki sifat atau karakter yang berbahaya dan merugikan orang lain</strong>, baik disadari maupun tidak.</p>



<p>Sikap <em>toxic </em>bisa dilakukan oleh siapa saja, baik kita, keluarga, teman, pasangan, hingga netizen. Semua bisa menjadi sosok yang <em>toxic</em> bagi sekitarnya maupun diri sendiri.</p>



<p>Memiliki sikap <em>toxic </em>jelas hal yang buruk dan harus kita hilangkan jika memilikinya. Selain merugikan orang lain, sikap <em>toxic </em>juga akan memberikan banyak dampak negatif ke pelakunya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Ciri-Ciri Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5099" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Orang Toxic (Photo by <a href="https://unsplash.com/@enginakyurt?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">engin akyurt</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/angry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau berbicara ciri-ciri, jelas ada banyak sekali yang bisa disebutkan. Kalau bagi Penulis sendiri, sikap apapun yang menyusahkan orang lain secara berlebihan bisa dibilang <em>toxic</em>.</p>



<p>Biasanya, yang menonjol dari orang <em>toxic </em>adalah sifatnya yang <strong>lebih mementingkan diri sendiri</strong> alias egois. Persetan dengan orang lain, yang penting dirinya untung.</p>



<p>Karena tingginya ego yang dimiliki, mereka pun tak segan untuk <strong>menjatuhkan orang lain demi kepentingannya</strong> sendiri. Bagi mereka, tidak ada yang namanya simpati atau empati.</p>



<p>Selain itu, tingginya ego membuat mereka <strong>segan untuk meminta maaf</strong> dan <strong>tidak mau</strong> <strong>mengakui kesalahan yang diperbuat</strong>. Bagi mereka, kesalahan selalu berada di tangan orang lain.</p>



<p>Demi melancarkan kepentingannya tersebut, si <em>toxic </em>kerap melakukan <strong>manipulasi dan mengendalikan orang lain secara berlebihan</strong>. Sialnya, terkadang kita yang menjadi &#8220;korban&#8221; tidak sadar sedang dimanipulasi.</p>



<p>Terkadang orang <em>toxic </em>juga memiliki sifat narsis yang membuat mereka kerap <strong>merasa diri paling paling hebat/benar</strong> dan <strong>merendahkan orang lain</strong>. Hal tersebut juga dilakukan demi menjatuhkan orang-orang yang mengganggu kepentingannya.</p>



<p>Tentu masih banyak ciri-ciri orang <em>toxic </em>lain yang belum disebutkan. Hanya saja, bagi Penulis ciri-ciri di atas sudah cukup menggambarkan bagaimana orang <em>toxic</em>.</p>



<p>Seumur hidup Penulis, untungnya Penulis baru bertemu satu orang yang rasanya benar-benar <em>toxic </em>waktu di tempat kerja. Ia pun menjadi <em>public enemy </em>karenanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Saya Memiliki Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5098" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tanya Kepada Diri Sendiri (Photo by <a href="https://unsplash.com/@dollargill?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Dollar Gill</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/think?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a>)</figcaption></figure>



<p>Melihat ciri-ciri yang sudah disebutkan di atas, apakah Penulis termasuk orang yang <em>toxic</em>? Tentu Penulis tidak bisa menilai dirinya sendiri, tapi Penulis akan coba mengurainya satu per satu.</p>



<p>Terkadang, Penulis merasa dirinya ini <strong>memiliki ego yang tinggi</strong>. Rasanya, semua keinginannya harus dituruti oleh orang lain. Mungkin, kesannya jadi seperti memaksakan kehendaknya.</p>



<p>Hanya saja, rasanya Penulis tidak pernah sampai menjatuhkan orang lain demi keinginannya. Penulis merasa dirinya masih punya simpati dan empati kepada orang lain, apalagi kepada orang-orang yang berharga di kehidupannya.</p>



<p>Penulis juga kadang merasa memiliki sifat <strong>gila kontrol ala Steve Jobs</strong> karena sifat perfeksionis yang dimiliki. Oleh karena itu, Penulis berusaha untuk mengurangi kekurangan ini secara perlahan.</p>



<p>Untuk urusan minta maaf dan mengakui kesalahan, mungkin Penulis justru terlalu sering melakukannya. Apalagi, Penulis ada tipe orang yang lebih suka <em>self-blaming</em>.</p>



<p>Merasa diri paling hebat? Justru Penulis adalah <a href="https://whathefan.com/karakter/bukan-sombong-tapi-minder/"><strong>tipe orang yang suka minder</strong></a> dan<strong> kurang percaya diri</strong>. Rasanya, orang lain selalu terlihat lebih hebat dari diri sendiri. Ini salah, makanya Penulis berusaha untuk bisa lebih percaya diri lagi.</p>



<p>Mungkin sifat lain yang perlu Penulis benahi adalah <em>overthinking</em>-nya dan emosinya yang kadang mudah tersulut. Bisa saja kedua hal tersebut membuat orang lain menganggap Penulis <em>toxic</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Rasanya tidak ada orang yang ingin berurusan dengan orang <em>toxic</em>. Sebisa mungkin, kita ingin menjalin hubungan dengan orang-orang yang bisa saling mendukung satu sama lain.</p>



<p>Penulis akan terus berusaha agar tidak menjadi orang <em>toxic</em>. Kalaupun ada yang menganggap Penulis seperti itu, anggap saja sebagai peringatan agar kita kembali berbenah diri.</p>



<p>Untuk tulisan selanjutnya, Penulis akan mencoba membahas tentang hubungan yang <em>toxic</em>. <em>Stay tuned</em>!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 25 Juli 2021, terinspirasi setelah seseorang menganggap saya <em>toxic</em></p>



<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/@darklabsindia?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Darklabs India</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/toxic?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/ciri-ciri-toxic-people/">Toxic People, Ciri Orang Negatif yang Harus Anda Jauhi (hellosehat.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">Apakah Saya Toxic?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lelah dengan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2021 13:50:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[capek]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[lelah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5047</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lelah ada dua jenis: lelah fisik dan lelah mental. Kalau lelah fisik kita tinggal beristirahat untuk memulihkan stamina, gimana kalau lelah mental? Cara yang dibutuhkan jelas lebih kompleks. Lelah mental pun ada banyak macamnya, entah karena lingkungan yang menekan, baru mengalami kejadian yang traumatis, hubungan yang toxic, dan lain sebagainya. Salah satu lelah yang paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/">Lelah dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lelah ada dua jenis: lelah fisik dan lelah mental. Kalau lelah fisik kita tinggal beristirahat untuk memulihkan stamina, gimana kalau lelah mental? Cara yang dibutuhkan jelas lebih kompleks.</p>



<p>Lelah mental pun ada banyak macamnya, entah karena lingkungan yang menekan, baru mengalami kejadian yang traumatis, hubungan yang <em>toxic</em>, dan lain sebagainya.</p>



<p>Salah satu lelah yang paling berbahaya menurut Penulis adalah <strong>lelah dengan diri sendiri</strong>.</p>





<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Apa itu lelah dengan diri sendiri? Tentu ada banyak versi, tergantung dari individu masing-masing. Namun bagi Penulis, lelah dengan diri sendiri <strong>memiliki keterkaitan yang erat dengan depresi dan frustasi</strong>.</p>



<p>Ciri-cirinya ada beberapa, seperti menjadi sensitif dan mudah emosi, suasana hati berubah-ubah, merasa malas dan kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu, tidak ingin bertemu orang, pikiran terasa penat, dan lain-lain.</p>



<p>Penyebabnya juga banyak. Misal, kadang kita menyadari kalau diri ini punya berbagai kekurangan. Hanya saja, rasanya sangat susah untuk menghilangkan atau mengurangi sifat buruk tersebut yang akibatnya membuat kita merasa lelah.</p>



<p>Penulis misalnya, merasa lelah dengan sifat <em>overthinking </em>yang dimilikinya. Mau berusaha diam berpikir seperti apapun, otak ini rasanya tidak mau berhenti berpikir. Akibatnya, Penulis pun <em>overthinking </em>terhadap <em>overthinking</em>-nya.</p>



<p>Sering merasa gagal juga bisa menimbulkan perasaan tersebut. Rasanya, diri ini begitu tidak berguna sehingga hal sepele saja tidak bisa dilakukan. Pikiran negatif pun datang dan menguasai diri.</p>



<p>Kadang kita juga merasa tidak memahami diri sendiri. Penulis jadi teringat dengan perkataan Frigga kepada anaknya, Loki, di film <em>Thor: The Dark World</em>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>&#8220;Always so perceptive about everyone but yourself.&#8221;</em></p><cite>Frigga , Queen of Asgard</cite></blockquote>



<p>Terjemahannya adalah: Selalu bisa memahami orang lain, tapi tidak kepada diri sendiri. Rasanya kita bisa dengan mudah memahami orang lain, tapi justru tidak memahami dirinya sendiri.</p>



<p>Pikiran-pikiran negatif juga membuat kita merasa lelah dengan diri sendiri. Merasa tidak berguna, <em>insecure </em>dengan masa depan, ada sesuatu yang mengganjal, selalu menyalahkan diri sendiri, ada banyak yang menyebabkan kita merasa lelah dengan diri sendiri.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Lelah terhadap diri sendiri adalah sebuah<strong> kondisi mental yang butuh diobati</strong>. Banyak yang menyarankan untuk mendekatkan diri ke Tuhan, menjadi produktif, liburan, melakukan hal yang menyenangkan, berdamai dengan keadaan, dan lain-lain.</p>



<p>Kadang kita hanya butuh waktu untuk sendirian dan menenangkan pikiran. Rasanya ingin <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">menepi sejenak</a> agar otak bisa menjadi jernih kembali dan hati merasa tenang. Semoga setelah itu, kita bisa menjadi lebih positif dalam menatap hidup.</p>



<p>Jika kita merasa tidak bisa mengatasinya sendirian, mungkin sudah saatnya untuk meminta bantuan kepada orang lain. </p>



<p>Coba temukan orang-orang yang bisa memberi rasa nyaman, yang tidak akan menghakimi kita apapun cerita kita, yang bisa memberikan ketenangan, yang bisa menguatkan kita. Tidak ada salahnya untuk mencoba ke psikiater.</p>



<p>Jangan sepelekan perasaan lelah terhadap diri sendiri. Kondisi ini bisa berpengaruh kepada kesehatan mental dan fisik kita. Untuk itu, segeralah temukan cara mengatasinya yang paling sesuai denganmu. </p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 22 Juni 2021, terinspirasi dari pengalaman sendiri</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@anniespratt">Annie Spratt</a></p>



<p>Sumber Artikel:<br>&#8211; <a href="https://www.sehatq.com/forum/lelah-dengan-sifat-pada-diri-sendiri-q10914">Lelah dengan sifat pada diri sendiri. Mohon bantuan dok. | Tanya Dokter (sehatq.com)</a><br>&#8211; <a href="https://www.idntimes.com/life/career/astrimeita185atgmailcom/5-tanda-kalau-dirimu-mulai-lelah-c1c2/1">5 Tanda Kalau Dirimu Mulai Lelah dan Butuh Waktu untuk Diri Sendiri (idntimes.com)</a><br>&#8211; <a href="https://www.popmama.com/life/health/jemima/tanda-lelah-hati-yang-berdampak-pada-kesehatan-mental/5">5 Tanda Lelah Hati yang Berdampak pada Kesehatan Mental | Popmama.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/">Lelah dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/lelah-dengan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 10:37:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[ekspetasi]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pamrih]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4966</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap. Penulis pun berusaha untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator terbentuknya Karang Taruna di tempat Penulis tinggal. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap.</p>



<p>Penulis pun berusaha untuk <strong>lebih peduli</strong> dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">terbentuknya Karang Taruna</a> di tempat Penulis tinggal.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga berusaha untuk memberikan perhatian kepada orang-orang dekatnya sebagai bentuk kepedulian. Penulis berusaha untuk selalu ada ketika mereka butuh sesuatu.</p>



<p>Akan tetapi, akhir-akhir ini Penulis kerap merasa risau tentang hal ini. Di balik segala bentuk kepedulian dan perhatian yang Penulis perhatikan, <strong>tersimpan pamrih yang masih menyimpan harapan untuk mendapatkan balasan.</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kata Kuncinya Satu: Ikhlas</h2>



<p>Penulis tidak bisa membagikannya di sini karena termasuk privasi, tapi ada satu kejadian yang menyadarkan Penulis akan permasalahan ini. </p>



<p>Setelah direnungkan, Penulis sadar kalau kuncinya hanya ada di satu kata: <strong>Ikhlas</strong>.</p>



<p>Berharap diperlakukan sama artinya Penulis belum bisa ikhlas ketika menunjukkan kepedulian dan perhatiannya ke orang lain. Karena telah berharap, akan timbul rasa kecewa karena yang apa yang terjadi <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">tidak sesuai dengan ekspetasi</a>.</p>



<p>Ini salah. Meskipun terdengar manusiawi, Penulis menganggap hal ini salah. Seharusnya, Penulis bisa berbuat baik tanpa berharap apapun dari orang lain. Kalau mau berbuat baik, ya sudah berbuat baik saja tanpa berekspetasi apa-apa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</h2>



<p>Karena merisaukan masalah keikhlasan, Penulis sampai membeli buku berjudul <em><strong>Tuhan, Kenapa Aku Belum Ikhlas?</strong> </em>karya A.K. Ada satu bagian yang seolah bisa menjawab kerisauan Penulis, yakni <em>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</em>.</p>



<p>Apa maksudnya? Artinya, kita sebagai manusia memang harus peduli dengan orang lain, terutama yang ada di sekitar mereka. Kita harus menumbuhkan empati yang tinggi sebagai makhluk sosial. Sebisa mungkin kita harus membantu orang lain yang butuh pertolongan kita.</p>



<p>Hanya saja, ada banyak hal yang harus tidak kita pedulikan ketika sedang peduli dengan orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa respon orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa balasan dari orang lain. Kita tidak perlu peduli jika orang lain tidak menghargai perbuatan baik yang kita lakukan.</p>



<p>Jangan sampai niat berbuat baik kita mencari tercoreng karena berharap hal-hal seperti itu. Memang terdengar utopis dan susah untuk diterapkan, tapi Penulis yakin hal tersebut bisa dilakukan dengan keyakinan yang kuat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Meluruskan Niat</h2>



<p>Salah satu caranya adalah meluruskan niat. Apa tujuan kita peduli dengan orang lain? Apakah kita berharap pujian dan orang tersebut akan balik peduli dengan kita?</p>



<p>Jika niat kita masih seperti itu, mungkin secara bertahap bisa kita ubah dengan hanya mengharap ridha Tuhan. Penulis yakin hal ini amat berat untuk direalisasikan, tapi setidaknya kita harus berusaha melakukannya.</p>



<p>Dengan hanya berharap ridha Tuhan yang Maha Pengasih, perasaan kita pun akan menjadi lebih ringan karena sudah tidak berharap apa-apa lagi dari manusia. Kita bisa berfokus berbuat baik tanpa takut kecewa atas perbuatan orang lain.</p>



<p>Penulis pun sampai saat ini masih jauh dari tahapan tersebut. Dibutuhkan upaya yang benar-benar tulus dari hati. Akan tetapi, Penulis yakin jika dirinya berhasil meluruskan niat, menjadi orang yang peduli sekaligus tidak peduli akan menjadi hal yang bisa dilakukan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah dirinya merenungi banyak hal seputar keikhlasan</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jontyson">Jon Tyson</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berhenti Berpikir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-berpikir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-berpikir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2021 10:59:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mencoba]]></category>
		<category><![CDATA[mulai]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[pemikir]]></category>
		<category><![CDATA[peragu]]></category>
		<category><![CDATA[ragu]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4389</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam banyak kesempatan, Penulis kerap bercerita kalau dirinya termasuk orang yang pemikir. Segala sesuatu, termasuk yang tidak penting, dipikir sampai jadi overthinking. Penulis menyadari bahwa sifat pemikir itu bermata dua: di satu sisi membuat kita berhati-hati dalam membuat keputusan, di satu sisi membuat kita menjadi seorang peragu. Sifat pemikir yang dimiliki Penulis cenderung membawa dirinya ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-berpikir/">Berhenti Berpikir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam banyak kesempatan, Penulis kerap bercerita kalau dirinya termasuk <a href="https://whathefan.com/karakter/suka-duka-seorang-pemikir/">orang yang pemikir</a>. Segala sesuatu, termasuk yang tidak penting, dipikir sampai jadi <em>overthinking</em>.</p>
<p>Penulis menyadari bahwa sifat pemikir itu bermata dua: di satu sisi membuat kita berhati-hati dalam membuat keputusan, di satu sisi membuat kita menjadi seorang peragu.</p>
<p>Sifat pemikir yang dimiliki Penulis cenderung membawa dirinya ke poin yang kedua. Oleh karena itu, terkadang Penulis memiliki keinginan untuk <strong>berhenti berpikir</strong>.</p>
<h3><em>Akhirnya Tidak Melakukan Apa-Apa&#8230;</em></h3>
<p><div id="attachment_4391" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4391" class="wp-image-4391 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4391" class="wp-caption-text">Jadi Peragu (<a href="https://unsplash.com/@krakenimages">krakenimages</a>)</p></div></p>
<h3><span style="font-size: 16px;">Karena sifat pemikir yang dimiliki, Penulis cenderung </span><strong style="font-size: 16px;">lama ketika akan membuat sebuah keputusan</strong><span style="font-size: 16px;">. </span><span style="font-size: 16px;">Harus ada variabel sebanyak mungkin agar bisa merasa yakin.</span></h3>
<p>Tidak hanya itu, Penulis juga kerap membayang <strong><em>worst cases </em>apa saja yang bisa terjadi</strong>. Harapannya, jika sampai kejadian Penulis sudah siap untuk melakukan antisipasi.</p>
<p>Hanya saja, terkadang <strong>apa yang akan dilakukan tidak jadi dilakukan</strong> karena terlalu banyak berpikir. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu, dan seterusnya.</p>
<p>Kita mendadak ragu karena membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi dan kita tidak bisa mengatasinya dengan baik.</p>
<p>Segala keraguan tersebut sering menggema di dalam pikiran yang akhirnya menimbulkan<strong> rasa takut sebelum mencoba</strong>. Dengan kata lain, menyerah sebelum berperang.</p>
<p>Padahal, kebanyakan <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/"><strong>kekhawatiran yang kita pikiran tidak pernah terjadi</strong></a>. Semua hanya ada di dalam imajinasi kita tanpa ada realisasinya.</p>
<h3><em>Gimana Nanti Kalau&#8230;</em></h3>
<p><div id="attachment_4392" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4392" class="size-large wp-image-4392" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/berhenti-berpikir-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4392" class="wp-caption-text">Bising di Dalam Pikiran (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@usmanyousaf">Usman Yousaf</a>)</p></div></p>
<p>Sifat terlalu banyak berpikir ini bisa menghambat perkembangan kita sebagai manusia. Ketika hendak memulai hal baru, pikiran-pikiran negatif begitu mendominasi diri.</p>
<p>Contohnya adalah ketika Penulis mencoba untuk menjadi seorang <strong><em>freelancer</em></strong>. Sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia tersebut, ada banyak pertanyaan yang muncul di dalam diri.</p>
<p><em>Gimana nanti kalau aku enggak bisa menyelesaikan proyek yang diberikan oleh klien?</em></p>
<p><em>Gimana nanti kalau aku udah ngejarin proyek tapi klien malah kabur dan enggak bayar kewajibannya?</em></p>
<p><em>Gimana nanti kalau udah buat aku ternyata enggak ada klien yang tertarik?</em></p>
<p><em>Gimana nanti kalau udah buat terus aku malah enggak bisa mengatur waktu dan baik sehingga proyek akan lewat </em>deadline<em>?</em></p>
<p><em>Gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau&#8230;</em></p>
<blockquote><p>OH PLEASE STOP!!! STOP THINKING!!! JUST DO IT!!! JUST TRY IT!!!</p></blockquote>
<p>Inilah yang kerap terjadi pada diri Penulis, terus membayangkan sesuatu yang buruk hingga akhirnya tidak jadi melangkah maju ataupun mencoba sesuatu yang baru.</p>
<p>Terkadang, kita perlu berhenti berpikir. <strong>Lakukan saja sebisanya</strong> dengan usaha semaksimal mungkin. Itu saja sudah cukup.</p>
<p><strong>Yang penting mulai saja dulu dan berhenti berpikir yang tidak penting!!! Hasil dipikir belakangan saja!!!</strong></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Tidak semua hal bisa dilakukan tanpa berpikir terlebih dahulu. Banyak hal dalam kehidupan yang membutuhkan pertimbangan matang-matang. Pernikahan, memulai bisnis, <em>resign</em>, dan lainnya.</p>
<p>Ketika memiliki niatan untuk berbuat buruk, mencuri misanya, sebaiknya justru dipikir-pikir terlebih dulu apa saja konsekuensinya agar tidak jadi melakukannya.</p>
<p>Hanya saja, jangan sampai karakter terlalu pemikir ini menghambat langkah kita untuk maju. Coba saja dulu,  mulai saja dulu. Kalau memang ternyata tidak bisa, ya sudah berhenti.</p>
<p>Jangan mau dikuasai oleh kekhawatiran yang belum tentu akan terjadi. Jangan mau kalah dengan ketakutan akan terjadinya kemungkinan-kemungkinan terburuk.</p>
<p>Dalam hidup, terkadang kita perlu berhenti berpikir dan lakukan saja apa yang ingin dilakukan. Berhenti jadi seorang peragu dan tukang khawatir, yang penting mulai saja dulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 9 Februari 2021, terinspirasi dari dirinya sendiri yang memiliki sifat pemikir berlebihan</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@chalis007">胡 卓亨</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-berpikir/">Berhenti Berpikir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-berpikir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ya Udah Sih&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 11:30:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3951</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya sudah lama Penulis menjadi seorang pemikir. Mungkin, dari kecil. Ada saja pikiran yang melintas di kepala, mulai yang realistis hingga yang imajinatif. Mungkin karena inilah Penulis menjadi orang yang overthinking hingga sekarang. Semakin bertambah usia, ada saja yang bisa dijadikan bahan pemikiran. Penulis menyadari bahwa sifat ini tidak baik untuk dirinya sendiri, apalagi jika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/">Ya Udah Sih&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya sudah lama Penulis menjadi seorang pemikir. Mungkin, dari kecil. Ada saja pikiran yang melintas di kepala, mulai yang realistis hingga yang imajinatif.</p>
<p>Mungkin karena inilah Penulis menjadi orang yang <em>overthinking</em> hingga sekarang. Semakin bertambah usia, ada saja yang bisa dijadikan bahan pemikiran.</p>
<p>Penulis menyadari bahwa sifat ini tidak baik untuk dirinya sendiri, apalagi jika kerap dilakukan secara berlebihan. Efeknya bermacam-macam, mulai insomnia sampai merasa <em>insecure</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis berusaha mencari berbagai cara untuk mengurangi sifat ini. Salah satunya, dengan sebuah mantra sederhana: <strong><em>Ya udah sih..</em>.</strong></p>
<h3>Hidup untuk Hari Ini</h3>
<blockquote><p><em>Daripada terus dihantui ketakutan akan kehilangan, mengapa tidak kita fokuskan diri untuk bersyukur atas semua kenangan yang telah terjadi?</em></p></blockquote>
<p>Kita ini kadang terlalu memikirkan masa depan dan menyesali masa lalu, hingga lupa kalau kita hidup di masa kini. Perasaan cemas, gelisah, khawatir, takut, seolah mendominasi diri hingga menjadi tak berdaya.</p>
<p>Padahal,<strong> kebanyakan apa yang kita khawatirkan tak pernah benar-benar terjadi</strong>. Seperti yang Penulis pernah tulis, <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">85% kekhawatiran tidak pernah benar-benar terjadi</a>.</p>
<p>Itu semua adalah apa yang sering Penulis pikirkan secara berlebihan. Ada saja yang dicemaskan atau disesali, terutama ketika hendak beranjak tidur.</p>
<p>Hal ini membuat Penulis terkadang lupa kalau dirinya hidup untuk saat ini, bukan di masa lalu. Kita memang perlu memikirkan masa depan, tapi jangan sampai kita terbelenggu karenanya.</p>
<p>Oleh karena itu, terutama beberapa hari terakhir, Penulis berusaha memberikan sugesti kepada dirinya sendiri dengan berkata: <strong><em>Ya udah sih&#8230; </em></strong>ketika mulai<em> overthinking.</em></p>
<h3>Mengendalikan Kehidupan</h3>
<p>Di dunia ini, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sikap orang ke kita, perasaan orang lain, hanya menjadi beberapa contohnya.</p>
<p>Daripada memusingkan hal tersebut, <em>mengapa tidak kita fokuskan untuk mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan?</em></p>
<p>Apa itu? Diri kita sendiri, perasaan sendiri, emosi sendiri. Dengan demikian, kita bisa menikmati hidup hari ini tanpa perlu merasa takut akan masa depan ataupun menyesali masa lalu.</p>
<p>Penulis mempelajari hal ini dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><em>Filosofi Teras</em></a>. Istilahnya adalah <em>dikotomi kendali</em>. <strong>Dunia terbagi menjadi apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak</strong>.</p>
<p>Mantra <strong><em>Ya udah sih&#8230; </em></strong>biasa Penulis lontarkan di dalam hati untuk menyadarkan dirinya kalau tidak semua bisa kita kendalikan.</p>
<p>Pekerjaan kantor bisa kita kendalikan, namun sikap atasan ke kita tidak bisa dikendalikan. Sikap orang yang tiba-tiba berubah tidak bisa kita kendalikan, namun bagaimana kita menyikapi hal tersebut dapat dikendalikan.</p>
<p>Seharusnya jika Penulis bisa secara bertahap menerapkan hal ini dalam kehidupannya, niscaya sifat mudah <em>overthinking </em>yang dimiliki bisa dikurangi.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Selain berusaha mendisiplinkan diri menggunakan mantra tersebut, Penulis juga sedang belajar meditasi agar bisa hidup yang lebih <em>santuy. </em>Percayalah, capek jadi orang yang apa-apa dipikir!</p>
<p>Penulis memang seorang pemikir, bahkan kadang merasa bangga karenanya. Namun apapun yang berlebihan tidak pernah baik.</p>
<p>Semoga saja dengan mantra sederhana ini, Penulis bisa mengurangi sifat <em>overthinking</em>-nya yang kerap membuat orang lain risih ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Juni 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang memang kerap <em>overthinking</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@katlovessteve">Kat Jayne on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/">Ya Udah Sih&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Sih Harus Judgemental?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Feb 2020 04:55:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[judgemental]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3469</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah nge-judge atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri. Adjective dari kata nge-judge adalah Judgemental. Di dalam kamus Oxford, kata Judgemental memiliki makna judging people and criticizing them too quickly. Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah <strong>nge-</strong><em><strong>judge</strong> </em>atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri.</p>
<p><em>Adjective </em>dari kata nge-<em>judge </em>adalah <strong><em>Judgemental. </em></strong>Di dalam kamus Oxford, kata <em>Judgemental </em>memiliki makna <strong><em>judging people and criticizing them too quickly</em></strong><em>.</em></p>
<p>Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena mengetahui beberapa aspek. Seringnya, penilaian tersebut cenderung bernada negatif yang akan menyakiti orang yang di-<em>judge</em>.</p>
<p>Permasalahannya, banyak orang yang tidak menyadari kalau perkataan atau teks yang ia ketik di chat bersifat menghakimi. Bagi mereka, hal tersebut adalah sesuatu yang biasa dan lumrah. Ini berbahaya, sangat berbahaya.</p>
<h3>Kenapa Sih Harus Judgemental?</h3>
<p>Penulis merasa bahwa dirinya dulu (atau bahkan sampai sekarang) sangat <em>judgemental</em>. Penulis bisa dengan mudahnya menilai orang hanya karena melihat seseorang secara sekilas.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Banyak alasannya, seperti sempitnya pikiran alias kurang <em>open-minded</em>, lingkungan yang kurang bervariasi, mainnya kurang jauh, kurangnya empati yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.</p>
<p><div id="attachment_3472" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3472" class="size-large wp-image-3472" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3472" class="wp-caption-text">Padahal Bukan Hakim (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://thediwire.com/judge-issues-injunction-dol-fiduciary-rule/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj1kt_S2tLnAhU5zDgGHZ4PDHkQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The DI Wire</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis sampai menanyakan ke teman kantor, apa penyebab kebanyakan manusia bersifat <em>judgemental </em>dari segi filsafat. Ternyata jawabannya sederhana, <strong>manusia kurang bisa menerima perbedaan</strong>.</p>
<p>Hanya karena melihat orang bertato, kita menghakimi bahwa dia adalah orang nakal dengan kehidupan suram. Hanya karena melihat rambut teman disemir, kita menilai dia ingin meniru idol-idol Korea.</p>
<p>Masyarakat kita lebih banyak yang tidak bertato dan berambut hitam, sehingga orang-orang yang terlihat berbeda bisa dinilai dengan cepatnya tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi.</p>
<p>Bisa saja yang bertato telah tobat dan sedang mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Mereka yang mewarnai rambutnya bisa saja sedang mengalihkan perhatian dari masalahnya dengan cara yang tidak merugikan orang lain.</p>
<p>Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain, jadi jangan <em>sotoy </em>dengan menghakimi mereka seenak <em>udel</em>.</p>
<h3>Bagaimana Cara Agar Tidak Judgemental?</h3>
<p>Karena menyadari dirinya cukup <em>judgemental</em>, Penulis berusaha mencari cara bagaimana untuk mengurangi bahkan menghilangkan sifat buruk tersebut.</p>
<p><div id="attachment_3473" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3473" class="size-large wp-image-3473" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3473" class="wp-caption-text">Menyakiti Orang Lain (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://hpigrp.com/resources/blog/avoid-gossip/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwidsfmG29LnAhUkxDgGHUyFAoYQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Highpoint Insurance Group</span></a>)</p></div></p>
<p>Pertama, <strong>menyadari bahwa kita tidak tahu bagaimana kehidupan orang lain yang sebenarnya</strong>. Apa yang kita lihat hanyalah sampulnya saja, kita tidak tahu bagaimana dengan isinya.</p>
<p>Siapa yang tahu di balik sosok ceria terdapat jiwa yang kerap menangis di dalam sunyi. Untuk itu, kita harus berusaha memahami orang lain dengan baik, bukan hanya sekilas-sekilas.</p>
<p>Kedua, <strong>menerima kenyataan kalau manusia itu berbeda-beda</strong>. Manusia memiliki bentuk fisik, SARA (suku, agama, ras, budaya), kebiasaan, keluarga yang membesarkan, lingkaran pertemanan, yang banyak macamnya.</p>
<p>Jika kita terbiasa hanya berkomunikasi dengan orang-orang dengan latar belakang SARA yang sama, bisa jadi kita akan sulit menerima perbedaan yang dimiliki oleh orang lain. Di sinilah pentingnya memperluas sudut pandang kita sebagai manusia.</p>
<p>Ketiga, <strong>berusaha mengenal dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a></strong>. Bisa jadi, bentuk <em>judgemental </em>yang kita keluarkan untuk orang lain dikarenakan kita belum melakukan kedua hal penting tersebut.</p>
<p>Bagi sebagaian orang, ada perasaan takut kalah dengan manusia lainnya. Serangan menghakimi menjadi salah satu senjata untuk menjatuhkan orang lain sehingga mereka bisa merasa lebih aman.</p>
<p>Keempat, <strong>menumbuhkan sikap empati</strong>. Sebelum menghakimi orang lain dengan perkataan pedas, bayangkan jika kita menerima perkataan tersebut. Jika membuatmu tersakiti, berarti hentikan dan jangan katakan.</p>
<p>Kita harus memikirkan perasaan orang lain. Bisa jadi kalimat yang kita anggap sepele mampu melukai perasaan orang lain karena kita tidak benar-benar tahu apa yang ia rasakan.</p>
<p>Terakhir, <strong>diam jika tidak bisa berkata baik</strong>. Daripada kita mengomentari kehidupan orang lain dengan <em>nyinyiran </em>yang menyakiti, jauh lebih baik untuk diam.</p>
<p>Semua cara yang Penulis sebutkan di atas sedang Penulis usahakan untuk diterapkan ke diri sendiri. Memang sulit, tapi bisa dilakukan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Lantas, bagaimana cara menyadarkan orang yang tidak sadar kalau dirinya sedang bersikap <em>judgemental</em>? Coba katakan kalau perkataannya itu menyakiti kita dan jelaskan duduk perkaranya.</p>
<p>Memang tidak akan selalu berhasil, bahkan kita akan disebut baperan. Tidak apa-apa, kita yang sabar. Mungkin akan datang waktunya ketika ia sadar apa yang ia lakukan salah.</p>
<p>Tidak ada yang suka dihakimi dengan pernyataan yang menyakitkan. Jika pun kita menemukan seseorang yang melakukan kesalahan, tegurlah dengan santun tanpa bernada menyudutkan.</p>
<p>Apalagi, <em>judgemental </em>biasanya hanya bermodalkan satu lirikan tanpa ada niatan untuk mengetahui fakta sebenarnya. Pantas jika penilaian kita lebih sering salah.</p>
<p>Percaya deh, hidup tanpa memikirkan orang lain secara negatif dan berlebihan akan membuat hidup kita lebih nyaman dan tenang, kok!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi dari cerita seorang teman yang menerima perlakuan <em>judgemental</em></p>
<p>Foto: <a href="https://voicesinthedark.world/the-modern-stoic-30-killing-gossip-with-authenticity/">Voice in the Dark</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.kompasiana.com/rismayw/5640c4a3d092737507ac05d4/judgemental?page=all">Kompasiana</a>, <a href="https://komunita.id/2016/12/07/4-tips-untuk-menghindari-sikap-judgemental/">Komunita</a>, <a href="https://journal.sociolla.com/lifestyle/tips-mengurangi-pribadi-yang-judgemental">Sociolla</a>, <a href="https://mojok.co/auk/ulasan/pojokan/kenapa-sih-kita-mudah-nge-judge-hidup-orang/">Mojok</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Lupa Bahagia</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Oct 2019 14:10:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[INFJ]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[MBTI]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2833</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis kerap mengatakan kalimat jangan lupa bahagia kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream. Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni Chelsea Islan dan Anji. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu Happy Birthday. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, selalu bahagia. Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan Lupa Bahagia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis kerap mengatakan kalimat <strong>jangan lupa bahagia </strong>kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream.</p>
<p>Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni <strong>Chelsea Islan </strong>dan <strong>Anji</strong>. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu <em>Happy Birthday</em>. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, <em>selalu bahagia</em>.</p>
<p>Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya selalu menutup video dengan kalimat <em>jangan lupa senyum hari ini</em>. Dari sanalah penulis melakukan <em>fusion </em>dan menjadi jangan lupa bahagia.</p>
<p>Akan tetapi setelah direnungkan kembali, penulis menggunakan kalimat ini ke orang lain dan tak pernah mengucapkannya untuk diri sendiri!</p>
<h3>Terlalu Fokus dengan Kebahagiaan Orang Lain</h3>
<p>Boleh percaya atau tidak, penulis adalah tipe orang yang bahagia jika melihat orang lain bahagia. Oleh karena itu, penulis akan melakukan sesuatu semampunya agar bisa membuat orang lain bahagia.</p>
<p>Hal itu bisa diwujudkan dengan memberikan perhatian, membelikan hadiah, menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar yang baik</a>, dan lain sebagainya. Apapun yang bisa penulis berikan, akan penulis berikan.</p>
<p><em>Masalahnya, penulis terlalu memfokuskan diri untuk membahagiakan orang lain hingga lupa dan mengabaikan kebahagiaan dirinya sendiri. </em></p>
<p>Ketika mengambil tes MBTI beberapa waktu lalu, penulis mendapatkan hasil <strong>INFJ</strong> (<i>Introversion</i>, <i>Intuition</i>, <i>Feeling</i>, <i>Judgement</i>) atau <strong>Advokat</strong>. Padahal, dulu ketika melakukan tes yang sama, penulis merupakan tipe <strong>ENFJ</strong> atau <strong>Protagonis</strong>.</p>
<p>Orang-orang dengan kepribadian ini biasanya sangat peduli dengan orang lain, namun jarang memedulikan diri sendiri. Mereka juga terkadang tidak bisa memahami diri mereka sendiri.</p>
<p>Lebih lanjut seperti yang penulis lansir dari <a href="https://www.16personalities.com/id/kepribadian-infj"><em>16personalities.com</em></a><em>, </em>orang INFJ cenderung menganggap membantu orang lain adalah tujuan hidupnya. Bahkan, terkadang memberikan pertolongan tanpa diminta atau melebihi dari yang diminta.</p>
<p>Mereka juga peduli dengan perasaan orang lain dan menyimpan harapan orang lain juga akan berlaku sama kepada dirinya. Mungkin karena karakteristik inilah, penulis sering mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.</p>
<h3>Sering Merasa Tidak Bahagia?</h3>
<p>Waktu sekolah dulu, penulis sering memasang wajah muram dan serius, seolah tidak pernah bahagia. Hal ini berdampak kepada pemborosan muka melebihi usianya. Ketika kuliah, penulis sudah mengurang kemuraman tersebut.</p>
<p>Jika dipikir-pikir kembali, penulis memang jarang memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Mungkin, lebih tepatnya adalah penulis sering merasa tidak bahagia.</p>
<p>Selalu ada saja celah yang bisa penulis manfaatkan untuk merasa tidak bahagia. Ada saja bagian-bagian kecil dari kehidupan yang penulis jadikan sebagai alasan ketidakbahagiaan.</p>
<p>Saat merenung, penulis sadar bahwa sebenarnya kunci kebahagiaan itu hanya satu: <strong>bersyukur</strong>.</p>
<p>Harusnya, penulis merasa bahagia karena memiliki keluarga yang relatif harmoni, bahagia memiliki banyak teman-teman yang peduli, bahagia karena memiliki pekerjaan enak dengan gaji lumayan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Jika saja penulis lebih sering berfokus kepada hal-hal yang telah dimiliki, niscaya penulis bisa merasa lebih bahagia lagi. Bagaimana penulis bisa membahagiakan orang lain jika dirinya sendiri tidak bahagia?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Yang masih harus penulis asah adalah bagaimana cara membahagiakan orang lain secara tulus. Selama ini, penulis masih menyimpan pamrih karena berharap orang yang dibahagiakan akan memberikan timbal balik sebanding.</p>
<p>Karena itulah, terkadang penulis <a href="https://whathefan.com/karakter/mengukur-keikhlasan/">mengalami kekecewaan</a> ketika yang diharapkan tidak terjadi. <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">Berbuat sesuatu secara ikhlas</a> memang susah luar biasa.</p>
<p>Apalagi, terkadang niat baik kita untuk membahagiakan atau menolong orang lain juga tidak ditangkap dengan baik. Akibatnya, terjadi salah paham yang membuat hubungan jadi memburuk.</p>
<p><a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">Kontemplasi</a> yang sering penulis lakukan akhir-akhir ini menjelang tidur membukakan mata penulis untuk lebih peduli dengan kebahagiaannya sendiri. Caranya, perbanyak syukur dengan apa yang telah dimiliki.</p>
<p>Dengan demikian, penulis juga bisa lebih membahagiakan orang-orang di sekitar penulis sesuai dengan batasan kemampuannya. Yang pasti, penulis akan makin sering berkata jangan lupa bahagia, baik untuk dirinya sendiri maupu orang lain.</p>
<p>Sekali lagi, <strong>JANGAN LUPA BAHAGIA!!!</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Oktober 2019, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya jarang merasa bahagia.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.kincir.com/tag/merry-riana-mimpi-sejuta-dolar">Kincir</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan Lupa Bahagia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilarang Baper di Jakarta</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Oct 2019 16:37:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[sensitif]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[tersinggung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2801</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, pada dasarnya penulis adalah orang yang sensitif alias mudah baper. Mendengar perkataan yang sedikit nyelekit saja bisa dimasukkan di dalam hati. Penulis menyadari kekurangan ini dan berusaha untuk, setidaknya, menguranginya. Apalagi, sekarang penulis hidup di Jakarta, sebuah kota yang memiliki banyak perbedaan dengan tempat tinggal penulis. Karakteristik (Sebagian) Orang Jakarta Penulis memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/">Dilarang Baper di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, pada dasarnya penulis adalah orang yang sensitif alias <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">mudah <em>baper</em></a>. Mendengar perkataan yang sedikit <em>nyelekit </em>saja bisa dimasukkan di dalam hati.</p>
<p>Penulis menyadari kekurangan ini dan berusaha untuk, setidaknya, menguranginya. Apalagi, sekarang penulis hidup di Jakarta, sebuah kota yang memiliki banyak perbedaan dengan tempat tinggal penulis.</p>
<h3>Karakteristik (Sebagian) Orang Jakarta</h3>
<p><div id="attachment_2804" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2804" class="size-large wp-image-2804" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-1024x512.jpeg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2804" class="wp-caption-text">Orang Jakarta (<a href="https://www.infocarfreeday.net/2018/07/19/agenda-acara-cfd-jakarta-22-juli-2018/">Info Car Free Day</a>)</p></div></p>
<p>Penulis memiliki saudara yang lama tinggal di Jakarta. Biasanya, kami hanya bertemu pada lebaran atau acara keluarga yang lain. Pada pertemuan singkat tersebut, penulis sedikit mengetahui bagaimana karakteristik orang Jakarta.</p>
<p>Yang paling penulis catat di dalam hati adalah bagaimana mereka berbicara. Saudara penulis cenderung berbicara apa adanya dengan intonasi yang cukup tinggi. Mungkin, istilahnya adalah <em>asal nyeblak</em>.</p>
<p>Ini berbanding terbalik dengan orang Jawa yang cenderung halus dan jarang mengungkapkan isi hati. Stereotip orang Jawa memang terkenal lebih suka memendam sesuatu.</p>
<p>Ketika penulis magang di Tangerang, lingkungan kantor semakin memperkuat hal tersebut. Mereka cenderung berbicara tanpa rem dan terkadang terselip kata-kata yang <em>nyelekit</em>.</p>
<p>Penulis pun membuat asumsi, kita tidak akan betah tinggal di Jakarta jika masih <em>baperan</em>. Kita harus menguatkan mental agar tidak mudah stres ketika mendengar perkataan orang.</p>
<p>Memang tidak semua orang Jakarta seperti ini, sehingga tidak ada maksud untuk melakukan generalisir. Contoh di atas hanya menunjukkan bagaimana penulis menyiapkan mental ketika memutuskan untuk merantau ke Jakarta.</p>
<h3>Setelah di Jakarta</h3>
<p>Pada akhirnya, takdir memutuskan untuk membawa penulis ke Jakarta. Berawal dari ajang <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/">Asian Games</a>, penulis akhirnya mendapatkan pekerjaan di Jakarta sehingga harus menentap di sini.</p>
<p>Berbekal pengalaman interaksi dengan orang Jakarta, penulis meyakinkan diri untuk tidak mudah <em>baper</em>. Penulis beranggapan bahwa hidup di sini sama dengan memperkuat mental kita.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis merasa sudah tidak se<em>-baper</em> ketika dulu masih sekolah ataupun kuliah. Jikapun ada perkataan yang menyakitkan, penulis tidak akan terlalu ambil pusing. Toh, penulis yakin mereka tidak bermaksud buruk. Hanya bercanda. Mungkin.</p>
<h3>Ketika Medok Diledek</h3>
<p><div id="attachment_2803" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2803" class="size-large wp-image-2803" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-1024x512.jpeg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2803" class="wp-caption-text">Desy JKT48 (<a href="https://ultimagz.com/uncategorized/pentas-orang-orang-berduit-jadi-pelajaran-berharga-bagi-desy-jkt48/">Ultimagz</a>)</p></div></p>
<p>Salah satu bahan yang sering dijadikan bahan bercanda dari penulis adalah aksen Jawanya yang cukup kental. Maklum, seumur hidup penulis tinggal di Jawa.</p>
<p>Penulis baru menyadari bahwa dirinya medok ketika Asian Games. Teman perempuan satu tim dengan blak-blakan mengatakan cara bicara penulis medok. Dialah yang pertama kali memberi tahu hal ini.</p>
<p>Mungkin ketika awal-awal berada di Jakarta, penulis masih merasa risih ketika logat penulis ditertawakan. Akan tetapi, sekarang penulis merasa baik-baik saja. Bahkan, terkadang justru dimedok-medokkan lebih parah lagi.</p>
<p>Penulis terinspirasi oleh <strong>Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan</strong> alias <strong>Desy JKT48</strong>. Ia memiliki paras yang cantik dan senyum menawan. Yang istimewa, ia sama sekali tidak malu ketika berbicara menggunakan bahasa <em>ngapak</em>.</p>
<p>Desy berasal dari Cilacap, sehingga aksen bicaranya seperti itu. Katanya, <em>ora ngapak ora kepenak </em>atau dalam bahasa Indonesia berarti tidak ngapak tidak enak.</p>
<p>Ketika membaca kolom komentar di kanal YouTube-nya, penulis merasa sedih. Ada yang berkomentar <em>padahal cantik, tapi ngomongnya bikin ilfeel</em>.</p>
<p>Hanya karena berbeda dengan kita, lantas apakah kita harus merendahkan orang lain seperti itu? Seharusnya, kita bisa <a href="https://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">menghargai perbedaan mulai dari yang terkecil</a> seperti ini.</p>
<p>Enggak, penulis enggak lagi curhat kok. Teman-teman penulis di Jakarta baik-baik dan sama sekali tidak berniat buruk ketika bercanda tentang logat penulis. Mungkin.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Selama satu tahun lebih hidup di Jakarta, penulis telah belajar banyak sekali hal yang mungkin tak akan pernah penulis dapatkan jika tetap tinggal di Malang.</p>
<p>Salah satunya adalah bagaimana cara mengendalikan sifat mudah <em>baper </em>yang penulis miliki. Penulis merasa mental penulis makin terasah selama di sini.</p>
<p>Karena sudah tidak mudah <em>baper</em>, maka penulis tidak boleh mudah tersinggung jika ada teman yang sedang mengajak bercanda. Mau dibilang hitam sekalipun tidak boleh dimasukkan di dalam hati.</p>
<p>Dengan begitu, penulis pun bisa hidup lebih <em>woles </em>dan tidak gampang stres.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 Oktober 2019, terinspirasi dari pengalaman pribadi, judul terinspirasi dari buku karya Seno Gumira Ajidarma berjudul <em>Dilarang Nyanyi di Kamar Mandi</em></p>
<p>Photo by <strong><a href="https://www.pexels.com/@zun1412?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Zun Zun </a></strong>from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/woman-wearing-brown-plaid-dress-sitting-on-chair-1187810/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/">Dilarang Baper di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
