<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buku Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/category/buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/category/buku/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Apr 2026 13:54:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Buku Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/category/buku/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 13:54:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Mel Robbins]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8598</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan. Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.</p>



<p>Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul <em>The Let Them Theory </em>karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.</p>



<p>Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.</p>



<p><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.</mark></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner.jpg 1280w " alt="Untuk Apa Main Game?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">Untuk Apa Main Game?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Let Them Theory</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>The Let Them Theory</em></li>



<li>Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-3</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2026</li>



<li>Tebal: 328 halaman</li>



<li>ISBN: 625221049</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku The Let Them Theory</h2>



<p>Inti dari buku <em>The Let Them Theory</em> sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; kepada diri sendiri.</p>



<p>Selama ini, jangan-jangan kita menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.</p>



<p>Meskipun judulnya <strong>&#8220;Let Them&#8221;</strong> atau<strong> &#8220;Biarkan Mereka&#8221;</strong>, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni <strong>&#8220;Let Me&#8221;</strong> atau <strong>&#8220;Biarkan Aku&#8221;</strong>.</p>



<p>Jadi, selain &#8220;Biarkan Mereka&#8221; yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang &#8220;Biarkan Aku&#8221; yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni <strong>Teori Biarkan Saja</strong>, <strong>Kau dan Teori Biarkan Saja</strong>, dan <strong>Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja</strong>. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.</p>



<p>Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.</p>



<p>Ada empat bab utama di bagian ini, yakni <strong>Mengelola Stres</strong>,<strong> Takut akan Pendapat Orang Lain</strong>, <strong>Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain</strong>, dan <strong>Mengatasi Perbandingan Kronis</strong>.</p>



<p>Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.</p>



<p>Bagian ini juga ada empat bab, yakni <strong>Memahami Pertemanan Orang Dewasa</strong>, <strong>Memotivasi Orang Lain untuk Berubah</strong>, <strong>Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan</strong>, dan<strong> Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Let Them Theory</h2>



<p><em>The Let Them Theory </em>adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya &#8220;varian&#8221; dari konsep <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Dikotomi Kendali dari stoikisme.</a></p>



<p>Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan <strong>buku yang tepat di waktu yang tepat</strong>. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa <em>related</em> dengan dirinya.</p>



<p>Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, &#8220;Iya, ya?&#8221; ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Menolong Orang Lain</h3>



<p>Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah <strong>&#8220;Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan&#8221;</strong>. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung <em>extra effort</em> untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.</p>



<p>Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.</p>



<p>Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering <em>overthinking </em>bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).</p>



<p>Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, <strong>biarkan saja mereka melewati masalahnya</strong>. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.</p>



<p>Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Fokus ke Diri Sendiri</h3>



<p>Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana <strong>Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri</strong>, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain</p>



<p>Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-punya-logo-baru-di-tahun-2026-ini/">Perubahan logo whatheFAN</a> pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Perbandingan Kronis</h3>



<p>Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian <strong>&#8220;Mengatasi Perbandingan Kronis&#8221;</strong>. Penulis yang pada dasarnya punya <em>low esteem</em> kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.</p>



<p>Penulis sering merasa kalau &#8220;kemenangan&#8221; orang lain berarti &#8220;kekalahan&#8221; kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena &#8220;kemenangan&#8221; orang lain ya &#8220;kemenangan&#8221; mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita &#8220;kalah&#8221;.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kekurangan Buku Ini</h3>



<p>Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku <em>self-help </em>yang merasa punya satu teori hebat, <strong>buku ini juga cenderung repetitif</strong>. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya &#8220;ini lagi ini lagi&#8221;.</p>



<p>Selain itu,<strong> isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar</strong>. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.</p>



<p>Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.</p>



<p>Walau mengandung kata &#8220;teori&#8221; di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah <strong>memperumit &#8220;teori&#8221; sederhana yang ingin dijelaskan</strong>.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagi Penulis, <em>The Let Them Theory </em>adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan &#8220;pencerahan&#8221; ketika membaca isinya.</p>



<p>Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas <em>mood </em>kita sendiri, dan lain sebagainya.</p>



<p>Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.</p>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor:<strong> 8/10</strong></mark></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca <em>The Let Them Theory</em> karya Mel Robbins</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2026 12:57:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8591</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari <strong>Keigo Higashino</strong>, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. </p>



<p>Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/"><em>The Devotion of Suspect X</em></a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/"><em>A Midsummer’s Equation</em></a>, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. </p>



<p>Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.</p>



<p>Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul <em><strong>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</strong></em>. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner.jpg 1200w " alt="Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/musim-baru-pemain-baru-mu-nya-masih-sama/">Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Malice</em> <em>&#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020639321</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p>Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama <strong>Hidaka Kunihiko</strong> ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya. </p>



<p>Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama <strong>Nonoguchi Osamu</strong>, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. <strong>Detektif Kaga Kyoichiro</strong> sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.</p>



<p>Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.</p>



<p>Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.</p>



<p>Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah <strong><em>angle</em>-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis</strong>. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.</p>



<p>Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul <em>The Murder of Roger Ackroyd</em>. Di novel tersebut, tokoh &#8220;aku&#8221; yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p>Berbeda dengan <em>The Devotion of Suspect X </em>yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau <em>A Midsummer’s Equation</em> yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula <em>The Devotion of Suspect X </em>).</p>



<p>Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.</p>



<p>Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa <strong>melihat ada banyak <em>reverse psychology </em>di sini</strong>, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.</p>



<p>Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.</p>



<p>Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!</p>



<p>Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana <strong>ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber</strong>. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa <em>overwhelming</em>.</p>



<p>Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.</p>



<p>Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: <em><strong>stop bullying</strong></em>. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.</p>



<p>Kesimpulannya, <em>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em> mengulang formula D<em>evotion of Mr. X </em>yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang <strong>mengapa melakukannya</strong>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>SKOR: <strong>8/10</strong></p>
</blockquote>



<p>Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah <em><strong>Salvation of a Saint &#8211; Dosa Malaikat</strong>.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Malice</em> karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 15:34:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8497</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar Abigail Limuria dan Cania Citta, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif. Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul Makanya, Mikir!, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara launching buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum! Ekspektasi Penulis ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/">[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar <strong>Abigail Limuria</strong> dan <strong>Cania Citta</strong>, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif.</p>



<p>Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul <em><strong>Makanya, Mikir!</strong></em>, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara <em>launching</em> buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum!</p>



<p>Ekspektasi Penulis ketika membeli buku ini adalah Penulis jadi mengetahui bagaimana kerangka berpikir yang benar. Jangan-jangan, ada yang salah dari cara Penulis berpikir selama ini.</p>



<p>Apakah ekspektasi ini tercapai? Sayangnya tidak.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner.jpg 1280w " alt="Akhirnya Buka Puasa (Gelar)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/akhirnya-buka-puasa-gelar/">Akhirnya Buka Puasa (Gelar)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Makanya, Mikir!</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Makanya, Mikir!</em></li>



<li>Penulis: Abigail Limuria dan Cania Citta</li>



<li>Penerbit: </li>



<li>Cetakan: Ke-7</li>



<li>Tanggal Terbit: September 2025</li>



<li>Tebal: 290 halaman</li>



<li>ISBN: 9786238944026</li>



<li>Harga: Rp138.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Makanya, Mikir!</h2>



<p>Berdasarkan sinopsis yang terletak di bagian belakang, buku ini berusaha untuk memberikan berbagai kerangka berpikir (<em>mental models</em>) beserta studi kasusnya. Ini selaras dengan judulnya, yang mengajak kita untuk berpikir.</p>



<p>Sebenarnya bukan berarti kedua penulis buku ini menuduh kita tidak pernah berpikir. Bisa saja selama ini kita berpikir, tapi tidak berpikir dengan benar. Nah, buku ini berusaha memberi <em>insight </em>mengenai bagaimana berpikir yang benar.</p>



<p>Ada total delapan bab di buku ini, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Peta Realitas dan Cara Menentukan Tujuan Hidup</li>



<li>Kerangka Berpikir Dua Ranah: Pentingnya Membedakan Realitas dan Preferensi</li>



<li>Pola Pikir Ilmiah: Yang Pede dan Ngotot Belum Tentu yang Pintar</li>



<li>Bagaimana Menentukan Cost dan Benefit: Kenalan dengan Objective-Oriented Principle</li>



<li>Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan</li>



<li>Menentukan Prioritas: Sumber Daya Terbatas, Mana yang Harus Diutamakan?</li>



<li>Kecerdasan Sosial: Buat Apa Pintar Kalau Nyebelin</li>
</ol>



<p>Di bab-bab tersebut, ada banyak sekali teori berpikir yang akan kita pelajari, walau memang bisa dibilang hanya di permukaan saja. Semuanya dipaparkan dengan bahasa sederhana yang tidak membuat kita kebingungan.</p>



<p>Beberapa hal yang dijabarkan di buku ini adalah bagaimana menentukan tujuan hidup, perbedaan ranah realitas dan preferensi (yang kerap menjadi sumber utama polarisasi), konsep Cost-Benefit Analysis (CBA) yang membantu kita membuat keputusan dan prioritas, bias berpikir, dan lain sebagainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Makanya, Mikir!</h2>



<p>Dua nama yang menulis buku ini adalah orang-orang yang Penulis anggap cerdas, sehingga ada ekspektasi tinggi ketika membaca buku ini. Jika membaca buku <em>self-improvement </em>dari Barat, biasanya Penulis tidak mengenal siapa penulisnya.</p>



<p>Nah, Penulis membutuhkan waktu yang relatif cukup singkat untuk menyelesaikan buku ini. Apakah itu tanda kalau buku ini begitu menarik? Sayangnya bukan, karena <strong>memang isinya yang bagi Penulis relatif sedikit</strong>.</p>



<p>Dengan harga yang relatif cukup mahal (hampir Rp140 ribu), sayang isi buku ini bisa dibilang <strong>terasa hanya permukaan saja</strong>. Sebenarnya wajar, karena buku ini <em>full color </em>dan memiliki banyak sekali gambar, yang terkadang memakan hampir dua halaman penuh.</p>



<p>Memang, dalam <em>podcast </em>bersama Raditya Dika, Abigail Limuria mengatakan bahwa buku ini memang berusaha tidak mengintimidasi pembacanya dengan buku yang <em>full </em>dengan tulisan. (FYI, Radit yang pernah punya percetakan juga terlihat kaget dengan harganya yang cukup mahal).</p>



<p>Jika memang target pasarnya adalah pembaca baru atau yang baru ingin membangun kebiasaan pembaca, maka keputusan tersebut tepat. Hanya saja, bagi Penulis yang memang dari dulu hobinya membaca, Penulis merasa sedikit rugi telah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk isi yang &#8220;hanya&#8221; segini.</p>



<p>Penulis adalah tipe <em>reviewer </em>buku yang menilai buku berdasarkan dampak yang diberikan oleh buku tersebut dan membandingkan dengan &#8220;investasi&#8221; yang Penulis keluarkan untuk membeli buku tersebut. Jujur saja, ini adalah <strong>&#8220;investasi&#8221; yang kurang <em>worth i</em></strong><em>t</em>.</p>



<p>Tentu ada banyak <em>insight-insight </em>menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama bagian CBT yang pernah Penulis praktekkan. Hanya saya, ya kembali lagi, rasanya kurang sepadan dengan uang yang sudah dikeluarkan.</p>



<p>Gaya penulisannya yang <strong>seperti mendengarkan teman <em>yapping </em></strong>juga menjadi salah satu kelebihan buku ini, terutama untuk pembaca pemula. Setiap poin yang ingin dibahas berusaha dijabarkan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.</p>



<p>Seperti yang sudah disebutkan di atas, buku ini juga selalu memberikan studi kasus agar kita lebih paham lagi. Hanya saja, terkadang Penulis merasa <strong>studi kasus yang diberikan terlalu banyak dan berulang-ulang</strong>.</p>



<p>Buku ini mungkin cocok bagi banyak orang, apalagi di Indonesia yang tingkat literasinya cukup rendah. Namun, bagi orang yang memang sudah lama hobi membaca seperti Penulis, buku ini akan terasa kurang &#8220;daging&#8221;.</p>



<p>Skor: <strong>6/10</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 26 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Makanya, Mikir!</em> karya Abigail Limuria dan Cania Citta</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/">[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2026 14:26:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8493</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel &#8220;teka-teki&#8221;. Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebenarnya sudah sejak lama novel <em><strong>Teka-Teki Rumah Aneh</strong></em> karya <strong>Uketsu</strong> mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel &#8220;teka-teki&#8221;.</p>



<p>Nah, membaca <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">novel-novel detektif Keigo Higashino</a> yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.</p>



<p>Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?</p>



<p><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner.jpg 1200w " alt="Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kado-manis-untuk-kroos-kado-pahit-untuk-reus/">Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Teka-Teki Rumah Aneh</em></li>



<li>Penulis: Uketsu</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020669960</li>



<li>Harga: Rp79.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?</h2>



<p>Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama<strong> seorang penulis</strong> (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis <em>occult </em>alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.</p>



<p>Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep &#8220;rumah aneh&#8221; langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.</p>



<p>Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama <strong>Kurihara-san</strong>, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.</p>



<p>Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga  membuat <em>pace </em>novel ini terasa cepat.</p>



<p>Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.</p>



<p>Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.</p>



<p>Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau <strong>denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu</strong>.</p>



<p>Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.</p>



<p>Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak <em>spoiler</em> yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi,<strong> <em>spoiler alert</em>!</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</h2>



<p>Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">novel-novel Keigo</a>, Penulis sudah membaca semua novel <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Agatha Christie</a> dan Sherlock Holmes. </p>



<p>Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh</h3>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, &#8220;rumah anehnya&#8221; bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau<strong> ini adalah sebuah pola tertentu</strong>, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.</p>



<p>Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.</p>



<p>Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah <strong>bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya</strong>. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.</p>



<p>Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa <em>pace </em>cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.</p>



<p>Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan &#8220;horor&#8221; hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh</h3>



<p>Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang <strong>memiliki hubungan dengan okultisme</strong>. Keluarga pembunuh yang terjebak &#8220;ritual&#8221; memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata &#8220;orang pintar&#8221;.</p>



<p>Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.</p>



<p>Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena <strong>misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang</strong>, bukan karena disusun secara cerdik.</p>



<p>Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih <strong>memberikan <em>open ending </em>kepada Pembaca </strong>terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.</p>



<p>Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!</p>



<p>SKOR: <strong>7/10</strong></p>



<p>Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada &#8220;sekuel&#8221; novel ini dengan judul <em><strong>Teka-Teki Gambar Aneh</strong></em>. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>karya Uketsu</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2025 14:59:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8434</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre self-improvement. Bukan karena merasa self-nya sudah improve, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik. Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku self-improvement seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre <em>self-improvement</em>. Bukan karena merasa <em>self</em>-nya sudah <em>improve</em>, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik.</p>



<p>Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku <em>self-improvement </em>seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah dengan membaca judulnya saja, Penulis sudah bisa membayangkan isinya.</p>



<p>Nah, beda cerita ketika Penulis menemukan buku berjudul <em>Effortless </em>dari Greg McKeown ini. Ketika membaca sinopsis yang cukup panjang di bagian belakang buku, Penulis merasa ini adalah buku yang dibutuhkan saat ini. Untunglah, hal tersebut benar adanya. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner.jpg 1280w " alt="Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-berlibur-ke-jakarta-selama-5-hari-bagian-1/">Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Effortless</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Effortless: Karena Tak Semua Harus Sesulit Itu</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-6</li>



<li>Tanggal Terbit: Juli 2025</li>



<li>Tebal: 320 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020658780</li>



<li>Harga: Rp98.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Effortless</h2>



<p><em>Apakah Anda pernah merasa seperti:</em></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><em>Berada tepat di tepi jurang lelah fisik dan mental?</em></li>



<li><em>Ingin berkontribusi lebih besar, tetapi kehabisan energi?</em></li>



<li><em>Sudah berlari lebih kencang tetapi tidak maju lebih dekat ke sasaran?</em></li>



<li><em>Segalanya terasa jauh lebih sulit daripada biasanya?</em></li>
</ul>



<p><em>Kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa jalan menuju sukses adalah jalan dengan kerja yang terus-menerus. Bahwa kalau ingin pencapaian tinggi, kita harus memaksa diri, terus memutar otak, dan berusaha sampai lewat batas. Jadi, kalau kita belum terkapar kelelahan, artinya usaha kita belum memadai.</em></p>



<p><em>Namun belakangan ini, kerja keras lebih menguras tenaga daripada sebelumnya. Dan makin berkurang energi kita, makin sulit kita meraih kemajuan. Terjebak di sebuah lingkaran setan “Zoom, eat, sleep, repeat,” kita sering bekerja dua kali lebih keras tetapi meraih hasil paling banyak setengah dari biasanya.</em></p>



<p><em>Untuk berada paling depan kita tidak harus mengerjakan sesuatu yang sulit. Apa pun tantangan atau rintangan yang kita hadapi, ada sebuah jalan yang lebih baik: alih-alih memaksa diri lebih keras, kita dapat menemukan jalan yang lebih mudah.</em></p>



<p><em>Effortless menawarkan saran yang dapat diterapkan untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan esensial dengan cara-cara paling mudah, agar anda bisa meraih hasil-hasil yang diinginkan, tanpa mengalami lelah fisik dan mental.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Effortless</h2>



<p>Dari sinopsis yang cukup detail di atas (bahkan aslinya lebih panjang dari itu), kita sudah mendapatkan gambaran apa yang akan dibahas oleh buku ini. Singkatnya, buku ini mengajarkan beberapa cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih efektif.</p>



<p>Sebenarnya buku ini seperti sekuel untuk buku McKeown yang lain, <em>Essential</em>, yang sayangnya belum Penulis baca. Apalagi, di buku ini beberapa kali menyinggung buku tersebut. Walau begitu, kita tidak perlu membaca buku tersebut untuk bisa memahami buku ini.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian, di mana masing-masing akan di-<em>breakdown </em>menjadi lima subbab. Berikut adalah daftarnya:</p>



<p><strong>Bagian I: Keadaan Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat  berfokus lebih mudah</em>?)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dibalik: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Mudah?</li>



<li>Dinikmati: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Menyenangkan?</li>



<li>Dibebaskan: Dahsyatnmya Kesediaan Membebaskan</li>



<li>Diistirahatkan: Seni dalam Tidak Berbuat Apa pun</li>



<li>Diperhatikan: Bagaimana Melihat dengan Jelas</li>
</ol>



<p>Apa yang dimaksud Keadaan Tanpa Kesulitan adalah mengenai kondisi diri kita sendiri sebelum melakukan sesuatu. Ini adalah awal yang baik agar kita bisa lebih fokus dalam mengerjakan berbagai hal. </p>



<p><strong>Bagian II: Aksi Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat pekerjaan esensial lebih mudah?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Didefinisikan: Seperti Apa yang Disebut &#8220;Selesai&#8221;?</li>



<li>Dimulai: Aksi Nyata Pertama</li>



<li>Disederhanakan: Dimulai dari Nol</li>



<li>Kemajuan: Berani Tampil Buruk Rupa</li>



<li>Irama: Lambat Itu Mulus, Mulus Itu Cepat</li>
</ol>



<p>Setelah keadaan kita berada di kondisi yang lebih baik, maka selanjutnya adalah memahami Aksi Tanpa Kesulitan. Bagian II bisa dibilang adalah inti dari buku ini, di mana kita diberi beberapa langkah praktis agar sesuatu bisa selesai secara efektif. </p>



<p><strong>Bagian 3: Hasil Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimnana kita mendapat hasil tertinggi dengan usaha paling sedikit?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dipelajari: Memanfaatkan Hal Terbaik yang Sudah Diketahui Orang Lain</li>



<li>Ditingkatkan: Memanfaatkan Kekuatan Sepuluh Orang</li>



<li>Diotomatiskan: Mengerjakan Satu Kali Saja dan Selanjutnya Otomatis</li>



<li>Dipercaya: Tim dengan Mesin Berefek Tuas Tinggi</li>



<li>Dicegah: Memecahkan Masalah sebelum Muncul</li>
</ol>



<p>Setelah memperbaiki diri sendiri dan mengoptimalkan tindakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, selanjutnya adalah Hasil Tanpa Kesulitan. Bab ini menjelaskan cara untuk meningkatkan hasil yang diinginkan dengan upaya seminim mungkin.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Effortless</h2>



<p>Buku bergenre self-improvement akan Penulis anggap bagus apabila ada banyak hal praktis yang bisa dilakukan saat ini juga. Itulah mengapa Penulis memberi nilai yang cukup tinggi ke buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a></em>. Nah, <em>Effortless </em>ini juga mendapatkan apresiasi yang sama.</p>



<p>Di bagian pertama, kita akan diajak untuk mengelola kembali isi pikiran dan menyingkirkan hal-hal yang tidak esensial, mengelola emosi, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, bagian ini lebih terasa sebagai buku <em>self-love</em>. Semua berawal dari diri kita sendiri.</p>



<p>Hal paling praktis bisa ditemukan di bagian kedua, di mana ada banyak sekali hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk bisa membuat suatu aktivitas atau pekerjan terasa lebih mudah. Mungkin tidak banyak hal baru, tapi tetap saja tips yang diberikan sangat mudah dipraktekkan.</p>



<p>Selanjutnya di bab terakhir akan membahas mengenai beberapa tips untuk meningkatkan hasil setelah melakukan apa yang sudah dijelaskan di dua bab sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah membuat sistem, otomatisasi, hingga delegasi.</p>



<p>Jika dirangkum, buku ini memang konsisten dengan judulnya, di mana setiap aktivitas yang kita lakukan (terutama yang esensial) bisa dikerjakan dengan <em>effortless</em>. Bukan cuma kerja keras, tapi juga kerja cerdas. </p>



<p>Selain itu, gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan tidak menggurui, sehingga kita yang membacanya pun jadi merasa <em>effortless </em>untuk memahami isi buku. Kita tidak perlu memeras otak untuk bisa memahami langkah-langkah yang ditawarkan oleh buku ini. Apalagi, ada banyak <em>study case </em>yang membuat kita lebih memahami isi buku.</p>



<p>Apa yang paling Penulis suka dari buku ini adalah adanya ringkasan di setiap akhir subbab, di mana makin ke belakang ringkasan ini makin lengkap. Ini sangat membantu kita untuk tetap mengingat apa saja yang sudah kita pelajari dari buku ini. </p>



<p>Sentuhan kecil yang juga menarik dari buku ini adalah beberapa <em>quote </em>paling penting akan di-<em>highlight</em> dengan dibesarkan dan ditebalkan. Selain itu, ada juga beberapa ilustrasi yang membantu kita lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya.</p>



<p>Buku ini Penulis rekomendasikan bagi siapapun yang kerap merasa <em>burnout </em>dengan pekerjaannya, sering merasa lelah secara mental, merasa pola hidupnya berantakan, dan berbagai permasalahan internal lainnya. Tentu, mempraktekkan isi bukunya menjadi hal paling penting.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 3 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca <em>Effortless </em>karya Greg McKeown</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2025 15:38:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hwang Bo-reum]]></category>
		<category><![CDATA[korea]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[slice-of-life]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8431</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang &#8220;toko buku&#8221; (atau kadang hanya &#8220;buku&#8221; saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada Welcome to the Hyunam-Dong [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/">[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang &#8220;toko buku&#8221; (atau kadang hanya &#8220;buku&#8221; saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada <em><strong>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</strong></em> karya <strong>Hwang Bo-reum</strong>. Yups, lagi-lagi penulis Asia, bedanya kali ini dari Korea Selatan.</p>



<p>Ketika dan setelah membaca novel ini, Penulis berpikir, &#8220;oh, ternyata jadinya begini jika genre <em>slice of life </em>menjadi sebuah cerita.&#8221; Jadi, jangan harap akan menemukan konflik yang menegangkan atau plot twist yang mengejutkan di sini!</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>[SPOILER ALERT!!!]</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner.jpg 1280w " alt="Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-2/">Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> <em>(Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)</em></li>



<li>Penulis: Hwang Bo-reum</li>



<li>Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia</li>



<li>Cetakan: Ke-5</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 408 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020530444</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p><em>&#8220;Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.”</em></p>



<p><em>Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Young-joo, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan.</em> <em>Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p>Sesuai dengan sinopsis di bagian belakang bukunya, <em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> berpusat pada toko buku kecil yang berada di daerah Hyunam-Dong. Pemiliknya adalah <strong>Yeong-ju</strong>, seorang perempuan yang berusia 30 tahunan.</p>



<p>Ia tak sendirian di toko buku tersebut. Ada <strong>Min-joon</strong>, yang bekerja sebagai barista di sana. Lalu, ada <strong>Jimmy </strong>(ini karakter cewek!) yang menjadi <em>supplier </em>biji kopi untuk toko buku tersebut, yang juga menjadi teman dekat Yeong-ju.</p>



<p>Tentu ada banyak pengunjung setia toko buku kecil yang nyaman tersebut, seperti anak SMA yang benama <strong>Min-Cheol </strong>beserta <strong>ibunya</strong> (yang namanya baru terkuak jelang akhir buku),<strong> Jung-seo </strong>yang hobi merajut, <strong>Seong-cheol</strong>, dan lain sebagainya. </p>



<p>Meskipun berkesan &#8220;santai&#8221;, tentu masing-masing karakter memiliki masalahnya sendiri. Yeong-ju misalnya, mengalami <em>burnout </em>karena pekerjaan lamanya dan kegagalam rumah tangganya. Toko buku yang ia dirikan seolah menjadi sarana pelariannya.</p>



<p>Tema pernikahan yang tidak bahagia juga dialami oleh Jimmy, sedangkan sang barista berada di krisis eksistensial karena merasa dirinya gagal. Toko buku kecil tersebut seolah menjadi semacam &#8220;oasis&#8221; bagi mereka dan pengunjung.</p>



<p>Untuk menghidupkan suasana toko buku, Yeong-ju membuat semacam berbagai acara di sana, termasuk bedah buku dan diskusi antara sesama pembaca buku. Ia bahkan mengundang penulis seperti <strong>Seung-woo </strong>yang sepertinya memiliki ketertarikan dengannya.</p>



<p>Itu semua dibalut dengan aktivitas ringan yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana obrolan-obrolan ringan keluar ketika bertemu kenalan di suatu tempat, bagaimana kita curhat ke teman yang kita percaya, bagaimana proses penerimaan diri, dan lain sebagainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, genre novel ini adalah <em>slice-of-life</em>. Mungkin baru kali ini Penulis membaca buku dengan genre seperti ini. Apakah Penulis menyukainya? Jawabannya iya dan tidak secara bersamaan.</p>



<p>Sebagai novel santai yang tidak terus-menerus menimbulkan rasa penasaran, <em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> adalah teman yang menarik terutama ketika kepala kita sedang penuh dengan berbagai permasalahan. </p>



<p>Apalagi,<strong> gaya bahasanya juga terasa lembut dan <em>cozy</em></strong>, sehingga terkadang membuat Penulis merasa kalau novel ini seperti <em>lullaby </em>pengantar tidur. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, karena di satu sisi akan <strong>menimbulkan kesan membosankan</strong>.</p>



<p>Itulah yang Penulis rasakan selama membaca buku ini. Awal-awal membaca, Penulis merasa bersemangat untuk membaca tiap babnya secara perlahan dan menikmati aktivitas-aktivitas sederhana yang disajikan. </p>



<p>Namun, setelah lewat setengah buku, rasa bosan itu muncul sehingga proses menamatkan novel ini pun menjadi lebih lama. Apalagi, ceritanya lumayan <em>dragging</em>. Penulis bahkan sudah tidak seberapa ingat ada kisah apa saja yang sudah Penulis baca di novel ini.</p>



<p>Cerita antarbabnya tidak <em>nyambung</em>, terutama di bagian awal-awal, seolah ceritanya berdiri sendiri-sendiri. Namun, makin ke belakang, buku ini semakin terasa linier dan utuh sebagai novel, bukan kumpulan cerita pendek.</p>



<p>Oleh karena itu, bisa dibilang <strong>novel ini tidak memiliki konflik utama</strong>. Konfliknya ya ada di masing-masing karakter, di mana sepanjang novel mereka mulai mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu menjadi lebih baik dalam menghadapi masalahnya.</p>



<p>Bisa dibilang, konflik yang ada di novel ini lebih banyak ke <strong>pergulatan batin</strong> dibandingkan dengan konflik eksternal. Tidak ada cerita Yeong-ju pusing karena penjualan toko seret, yang ada bagaimana ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan dan terutama dirinya sendiri.</p>



<p>Buat yang sedang mengalami masalah internal, bisa jadi ada bagian-bagian di buku ini yang akan memberikan jawabannya. Mungkin bukan jawaban gamblang, tapi bisa menjadi inspirasi apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu.</p>



<p>Bagian yang paling menarik bagi Penulis tentu saja mengetahui <strong>bagaimana Yeong-ju mengelola toko bukunya</strong>. Setiap aktivitas yang dia lakukan, baik sekadar merapikan rak buku ataupun membuat komunitas, berhasil Penulis bayangkan dengan baik</p>



<p>Mungkin novel ini bisa memberikan rasanya nyaman untuk pembacanya yang merasa <em>related </em>dengan konflik di dalamnya. Sayangnya, Penulis tidak merasakan rasa nyaman itu, setidaknya setelah membaca cukup banyak halamannya.</p>



<p>Walau begitu, novel ini tetap Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang sedang mencari bacaan ringan. Walau latarnya di Korea Selatan, buku ini cukup terasa dekat, walau tidak sampai membuat kita merasa memiliki koneksi khusus dengan karakter-karakter di dalamnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></strong></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 2 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/">[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Sep 2025 11:24:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Yanis Varoufakis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8379</guid>

					<description><![CDATA[<p>Waktu kelas 10 SMA, Ekonomi adalah salah satu mata pelajaran yang kurang Penulis sukai karena menganggapnya mbulet. Namun, ketika dewasa, Penulis menyadari bahwa memahami ilmu ekonomi (setidaknya dasarnya) ternyata sangat penting. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membaca atau menonton topik-topik ekonomi dan keuangan. Beberapa buku yang sudah Penulis baca adalah Ngomongin Uang, Why the [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/">[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Waktu kelas 10 SMA, Ekonomi adalah salah satu mata pelajaran yang kurang Penulis sukai karena menganggapnya <em>mbulet</em>. Namun, ketika dewasa, Penulis menyadari bahwa memahami ilmu ekonomi (setidaknya dasarnya) ternyata sangat penting.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membaca atau menonton topik-topik ekonomi dan keuangan. Beberapa buku yang sudah Penulis baca adalah <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/"><em>Ngomongin Uang</em></a>, <a href="https://whathefan.com/buku/pendidikan-keuangan-pada-why-the-rich-are-getting-richer/"><em>Why the Rich are Getting Richer</em></a>, dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">The Pschology of Money</a></em>.</p>



<p>Nah, bisa dibilang judul-judul di atas lebih membicarakan tentang keuangan, bukan tentang ekonomi secara fundamental. Itulah alasan utama Penulis membeli buku <em><strong>Talking to My Daughter about the Economy </strong></em>karya <strong>Yanis Varoufakis</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones.jpg 1280w " alt="Terima Kasih (?) Phil Jones" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/terima-kasih-phil-jones/">Terima Kasih (?) Phil Jones</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Talking to My Daughter about the Economy</em></li>



<li>Penulis: Yanis Varoufakis</li>



<li>Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 144 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024818111</li>



<li>Harga: Rp80.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p><em>Kenapa ada begitu banyak ketimpangan? Dalam buku ringkas ini, Yanis Varoufakis menjawab pertanyaan anak perempuannya yang begitu sederhana tapi juga begitu menggusarkan itu. Dengan menggunakan analogi dari cerita-cerita klasik maupun populer—dari Oidipus, Frankenstein, hingga The Matrix, ia menjelaskan apa itu ekonomi dan kenapa ekonomi punya daya yang dahsyat dalam membentuk hidup kita. Ia juga mengajak kita untuk merebut kembali ekonomi dari tangan para ekonom yang menurutnya hampir selalu keliru. Sebab, ia yakin, semakin ilmiah model ekonomi kita, semakin lemah relasinya dengan ekonomi nyata.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p>Meskipun judulnya &#8220;<em>about the economy</em>&#8220;, sebenarnya buku ini berfokus pada memaparkan sejarah singkat kapitalisme. Jadi, kita tidak akan menemukan bentuk ideologi ekonomi lainnya, seperti sosialisme misalnya.</p>



<p>Buku ini sendiri memiliki 8 bab utama yang saling terkait, di mana setiap akhir bab biasanya akan memberi <em>tease </em>terkait apa yang akan dibahas di bab selanjutnya (mirip dengan formula di buku <em>The Psychology of Money</em>). Delapan bab yang ada dibuku ini adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Mengapa Begitu Banyak Ketimpangan</li>



<li>Lahirnya Masyarakat Pasar</li>



<li>Perkawinan antara Uang dan Laba</li>



<li>Ilmu Hitam Perbankan</li>



<li>Dua Pasar dengan Kompleks Oidipus</li>



<li>Hantu Mesin</li>



<li>Fantasi Berbahaya Uang Apolitis</li>



<li>Virus Bodoh?</li>
</ol>



<p>Kita akan diberi sejarah singkat bagaimana ekonomi dunia saat ini bisa seperti sekarang yang kita kenal, di mana kapitalisme bisa begitu dominan. Semua dijabarkan secara runtun, bahkan ditarik hingga masa Revolusi Pertanian sekitar 10 ribu tahun lalu.</p>



<p>Siapa yang menyangka kalau Revolusi Pertanian menciptakan sesuatu yang disebut sebagai &#8220;Pasar&#8221; alias konsumen karena menimbulkan surplus pangan. Ini berbeda ketika manusia masih berburu, di mana kita tidak menyimpan stok makanan karena daging cepat membusuk.                                  </p>



<p>Perubahan sistem ekonomi di sejarah peradaban manusia juga terjadi akibat adanya invasi yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Mengapa bangsa Eropa yang menjajah Australia atau wilayah lain, bukan sebaliknya? Hal tersebut juga dibahas di buku ini secara singkat.</p>



<p>Nah, invasi yang dilakukan bangsa Eropa juga terjadi karena mereka ingin menjual produk yang mereka hasilkan, apalagi setelah terjadi Revolusi Industri yang membuat produksi barang meningkat berkali-kali lipat. </p>



<p>Dalam Revolusi Industri, pengusaha tentu butuh modal. Nah, maka muncullah pemodal yang bisa meminjamkan uang, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal sistem perbankan. Setelah produksi, tentu pengusaha membutuhkan pembeli agar bisa balik modal dan bayar hutang ke bank.</p>



<p>Semakin cepat proses produksi gara-gara Revolusi Industri, maka barang yang dihasilkan semakin banyak. Namun, pasar atau konsumen di negara sendiri tentu terbatas. Itulah kenapa bangsa Eropa   berdagang dengan bangsa lain, terkadang dengan memaksa. </p>



<p>Nah, pembahasan sejarah kapitalisme di buku ini pun sampai ke era modern, bagaimana seiring berjalannya waktu sistem perekonomian yang kita miliki semakin rumit. Buku ini bahkan sempat menyinggung Bitcoin juga.</p>



<p>Dengan tebal tidak sampai 150 halaman, buku ini mampu memberikan sudut pandang yang menarik tentang ekonomi dan membuat kita sadar bahwa sistem yang kita gunakan saat ini ternyata berakar dari kemajuan kita sendiri, terkadang secara mengerikan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p>Memiliki tema ekonomi yang kerap terasa intimidatif dan mengerikan, buku ini justru memiliki gaya bahasa yang menarik. Pasalnya, penulis buku ini memosisikan diri sedang bercerita atau mengobrol dengan anak perempuannya, sehingga terasa dekat dan ringan.</p>



<p>Ekonomi terkenal karena memiliki banyak sekali istilah yang membingungkan orang awam. Nah, di buku ini, sangat jarang ditemukan istilah-istilah yang membuat kita berpikir keras. Benar-benar penjelasannya dibuat sesederhana mungkin.</p>



<p>Tak hanya itu, hal menarik lainnya tentang gaya penyampaian buku ini adalah bagaimana setiap bab selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau <em>pop culture </em>atau mitologi sebagai analogi, sehingga kita sebagai pembaca bisa lebih membayangkan apa yang sedang dibahas.</p>



<p>Selain itu, dengan pendekatan sejarah, tentu buku ini berhasil menarik minat Penulis yang kebetulan juga penggemar sejarah. Apalagi, banyak analogi di buku ini yang menggunakan peristiwa asli, seperti ketika menceritakan tentang pasar rokok di <em>camp </em>tawanan.</p>



<p>Ada juga kritik yang bisa ditemukan di buku ini, seperti bagaimana kemajuan teknologi justru bisa berujung <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">diperbudaknya manusia oleh ciptaannya sendiri</a>. Dalam konteks ekonomi, kita bisa melihat sendiri bagaimana banyak manusia yang kini diperbudak oleh uang.</p>



<p>Dengan demikian, buku ini bisa dikatakan berhasil &#8220;membumikan&#8221; penjelasan ekonomi sehingga mudah dipahami. Menurut Penulis, buku ini cocok untuk pembaca muda yang ingin memahami mengapa sistem ekonomi berjalan seperti yang kita ketahui.</p>



<p>Namun, kelebihan tersebut juga bisa menjadi faktor kekurangan dari buku ini, alias isi buku ini tidak terlalu dalam. Buat orang yang sudah memahami dunia ekonomi, buku ini mungkin akan terasa seperti &#8220;remah-remah&#8221; saja.</p>



<p>Buku ini memang lebih cocok untuk dijadikan sekadar pengantar ke dunia ekonomi, bukan sebagai referensi ekonomi. Hanya sedikit pembahasan yang menawarkan solusi konkrit untuk sebuah permasalahan, padahal ia pernah menjadi Menteri Keuangan Yunani walau sebentar.</p>



<p></p>



<p>Terlepas dari itu semua, buku ini berhasil menjelaskan ekonomi, setidaknya sejarah kapitalisme, dengan mudah dan menyenangkan. Bahkan, menurut Penulis menjadi bacaan wajib anak-anak SMA agar memahami bagaimana dunia yang mereka huni bekerja.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 13 September 2025, terinpsirasi setelah membaca buku <em>Talking to My Daughter about the Economy </em>karya Yanis Varoufakis</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/">[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Sep 2025 16:59:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Detektif Galileo]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8372</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis memiliki kebiasaan jika sudah menyukai sebuah karya seorang penulis, maka Penulis akan berusaha untuk membaca karya lainnya. Itulah yang terjadi pada Agatha Christie, Dee Lestari, Andrea Hirata, Leila S. Chudori, Seno Gumira Ajidarma, dan masih banyak lainnya. Nah, itu juga yang ada di pikiran Penulis setelah membaca Keajaiban Toko Kelontong Namiya dan The Devotion [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis memiliki kebiasaan jika sudah menyukai sebuah karya seorang penulis, maka Penulis akan berusaha untuk membaca karya lainnya. Itulah yang terjadi pada Agatha Christie, Dee Lestari, Andrea Hirata, Leila S. Chudori, Seno Gumira Ajidarma, dan masih banyak lainnya.</p>



<p>Nah, itu juga yang ada di pikiran Penulis setelah membaca <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">The Devotion of Mr. X</a> </em>karya <strong>Keigo Higashino</strong>, wajar jika Penulis membeli novelnya yang lain. Pilihan Penulis jatuh ke buku <em><strong>A Midsummer&#8217;s Equation </strong></em>atau <em><strong>Rumus Kebenaran Musim Panas</strong></em>.</p>



<p>Salah satu alasan Penulis membeli novel ini adalah karena masih termasuk ke dalam Seri Detektif Galileo. Selain itu, adanya tema kelestarian alam juga menjadi alasan lainnya. Sayangnya, Penulis tidak mendapatkan kepuasan seperti dua novel Keigo sebelumnya.</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>[SPOILER ALERT!!!]</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sajak/sajak-perhatian/">Sajak Perhatian</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku A Midsummer&#8217;s Equation</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>A Midsummer&#8217;s Equation (Rumus Kebenaran Musim Panas</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2023</li>



<li>Tebal: 440 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020674858</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku A Midsummer&#8217;s Equation</h2>



<p><em>Dalam kunjungannya ke Harigaura untuk menghadiri diskusi rencana proyek penggalian sumber daya bawah laut, Profesor Yukawa Manabu menyaksikan panasnya perdebatan di antara warga lokal. Sementara sebagian pihak mendukung rencana itu demi menghidupkan kembali perekonomian, pihak lain mati-matian menentang karena ingin menjaga kelestarian alam. </em></p>



<p><em>Namun, bukan hanya proyek tersebut yang meresahkan kota itu. Keesokan paginya, salah satu tamu penginapan yang ditempati Yukawa ditemukan tewas di pantai berbatu-batu. Saat diketahui sang korban merupakan mantan polisi Tokyo dan tewas keracunan karbon monoksida, timbul kecurigaan bahwa ia dibunuh. </em></p>



<p><em>Apa yang dilakukan mantan polisi itu di Harigaura? Apakah ada yang ingin membungkamnya? Kenapa? Sekali lagi, Yukawa mendapati dirinya berada di tengah misteri yang harus dipecahkan.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku A Midsummer&#8217;s Equation</h2>



<p>Kita kembali mengikuti perjalanan Profesor Yukawa Manabu, yang kali ini pergi ke Harigaura karena di sana sedang ada konflik yang dipicu oleh proyek penggalian sumber daya bawah laut. Mirip dengan situasi di negara kita sendiri, walau di cerita ini tidak ada kekerasan dari aparat (<em>oops</em>).</p>



<p>Namun, kita memulai kisah novel ini dari sudut pandang Esaki Kyohei, seorang anak kelas 5 SD yang sedang menuju Harigaura untuk menginap di penginapan milik om dan tantenya. Secara kebetulan, ia satu kereta dengan Yukawa.</p>



<p>Secara kebetulan lagi, Yukawa ternyata juga menginap di penginapan milik keluarga Kyohei. Penginapan tersebut terkesan mau bangkrut, karena pariwisata di Harigaura juga mengalami penurunan. </p>



<p>Hanya ada satu orang lain yang menginap di sana selain Yukawa, yakni Tsukahara Masatsugu, seorang mantan polisi. Naas, ia ditemukan tewas di pantai berbatu-batu. Namun, hasil otopsi mengatakan ia juga keracunan karbon monoksida, sehingga ada kemungkinan ia dibunuh.</p>



<p>Pihak kepolisian pun berusaha memecahkan kasus tersebut, sedangkan Yukawa justru menjalin hubungan yang unik dengan Kyohei sembari tetap mengumpulkan fakta-fakta yang ada. Belum lagi masalah penambangan yang jadi alasan Yukawa pergi ke Harigaura.</p>



<p>Lantas, siapa ternyata yang menjadi pelaku pembunuhan tersebut? Tentu tidak akan Penulis ungkap di sini karena di sanalah letak keseruan novel detektif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation<br></h2>



<p>Pada ulasan novel <em>The Devotion of Suspect X</em>, Penulis sudah mengeluhkan betapa bertele-telenya jalan cerita karena proses penyelidikan kepolisian yang kelewat lengkap dan panjang sekali. Rasanya seperti semua orang yang muncu di benak polisi harus dimintai keterangan.</p>



<p>Nah, <strong>&#8220;formula&#8221; tersebut diulang lagi di novel ini dengan lebih panjang lagi</strong>. Hal tersebut sempat membuat Penulis berhenti membaca novel ini cukup lama, padahal dua novel sebelumnya bisa Penulis tandaskan dengan cepat.</p>



<p>Penulis bahkan tak ingat siapa saja nama karakter yang ada di novel ini karena ada banyak banget, pakai nama Jepang pula.Dari pihak kepolisian saja (yang melibatkan banyak sekali instansi), mungkin ada sekitar 10 nama, belum nama-nama warga Harigaura. </p>



<p>Menariknya, banyaknya karakter yang ada di novel ini <em>somehow </em>pada akhirnya memiliki benang merahnya masing-masing. Jadi, karakter A ternyata memiliki hubungan dengan karakter B, karena itulah karakter A melakukan hal tersebut. Kurang lebih begitu.</p>



<p>Nah, salah satu momen yang menyenangkan untuk dibaca adalah <strong><em>bromance </em>antara Yukawa dan Kyohei</strong>. Yukawa merupakan seorang dosen berotak cerdas, dan ia sering mengajak Kyohei melakukan eksperimen-eksperimen kecil yang menarik.</p>



<p>Satu nama yang menonjol di sini adalah<strong> Kawahata Narumi</strong>, yang merupakan anak dari pemilik penginapan yang ditinggali oleh Yukawa. Jadi, Narumi masih terhitung saudara sepupu dari Kyohei. Perannya di novel ini cukup menonjol, jadi Penulis menyarankan untuk selalu memperhatikannya.</p>



<p>Tema eksploitasi alam yang dihadirkan sebagai premis cerita pun jadi terasa tidak memiliki dampak apa-apa. Awalnya, Penulis mengira kalau kasus pembunuhan yang terjadi memiliki keterkaitan dengan konflik tersebut. Ternyata, motifnya benar-benar jauh dari sana.</p>



<p>Selain itu, <em>plot twist </em>yang dihadirkan di akhir cerita pun bukan yang benar-benar membuat tercengang. Memang masih mengejutkan, tapi efeknya tidak sedahsyat <em>The Devotion of Suspect X</em>. Kayak cuma &#8220;oh gitu&#8221; setelah mengetahui pelakunya, walau motifnya sendiri cukup mengejutkan.</p>



<p><em>Ending</em> yang seolah &#8220;melindungi&#8221; pelaku karena alasan tertentu juga sedikit mengganjal bagi Penulis. Mungkin Yukawa melakukannya karena merasa memiliki ikatan khusus dengannya, berbeda dengan Hercule Poirot yang pernah secara tidak langsung menyuruh pembunuhnya membunuh dirinya sendiri.</p>



<p>Walau terbilang lambat (bahkan sangat lambat) di paruh pertama novel, tentu saja semakin ke belakang ceritanya semakin membuat penasaran sebagaimana novel misteri pada umumnya. Karena itulah Penulis pada akhirnya bisa menamatkan novel ini. </p>



<p>Apakah novel ini akan membuat Penulis kapok untuk membeli novel Keigo Higashino yang lain? Entahlah, yang jelas untuk sekarang Penulis memilih untuk membaca novel-novel yang telah dibeli, seperti <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>dari Uketsu misalnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 12 September 2025, terinspirasi setelah membaca buku <em>A Midsummer&#8217;s Equation </em>karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer&#8217;s Equation</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2025 16:32:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Paolo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8213</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada suatu saat, ada seorang teman yang bertanya apakah Penulis pernah membaca novel The Alchemist (atau Sang Alkemis dalam bahasa Indonesia) karya Paolo Coelho. Meskipun sering melihat buku tersebut di toko buku, Penulis tidak pernah kepikiran untuk membelinya. Nah, di awal bulan Februari kemarin ketika Penulis ke Jakarta, Penulis jalan-jalan ke Pondok Indah Mall (PIM) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/">[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada suatu saat, ada seorang teman yang bertanya apakah Penulis pernah membaca novel <em><strong>The Alchemist</strong> </em>(atau <em><strong>Sang Alkemis </strong></em>dalam bahasa Indonesia) karya<strong> Paolo Coelho</strong>. Meskipun sering melihat buku tersebut di toko buku, Penulis tidak pernah kepikiran untuk membelinya.</p>



<p>Nah, di awal bulan Februari kemarin ketika Penulis ke Jakarta, Penulis jalan-jalan ke Pondok Indah Mall (PIM) selepas kerja, karena tempat tersebut memang sering Penulis kunjungi untuk sekadar &#8220;cuci mata&#8221;. Tentu, salah satu destinasinya adalah Gramedia PIM.</p>



<p>Entah ada dorongan apa, Penulis akhirnya memutuskan untuk membeli novel <em>Sang Alkemis </em>saat itu bersama dengan komik <em>Spy X Family vol. 13</em>. Siapa sangka, novel tipis ini langsung menjadi salah satu favorit Penulis dan tandas dalam waktu singkat! </p>



<p>Sebelum lanjut, <strong><em>spoiler alert</em>!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-300x193.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-300x193.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-768x494.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-356x229.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor.jpg 770w " alt="Meresapi Patrikor" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/meresapi-patrikor/">Meresapi Patrikor</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Sang Alkemis</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Sang Alkemis (The Alchemist)</em></li>



<li>Penulis: Paolo Coelho</li>



<li>Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-48</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020656069</li>



<li>Harga: Rp69.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Sang Alkemis</h2>



<p><em>Setiap beberapa puluh tahun, muncul sebuah buku yang mengubah hidup para pembacanya selamanya. Novel Paulo Coelho yang memikat ini telah memberikan inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Kisah yang sangat sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan penuh makna, tentang anak gembala bernama Santiago yang berkelana dari rumahnya di Spanyol ke padang pasir Mesir untuk mencari harta karun terpendam di Piramida-Piramida. Di perjalanan dia bertemu seorang perempuan Gipsi, seorang lelaki yang mengaku dirinya Raja, dan seorang alkemis––semuanya menunjukkan jalan kepada Santiago untuk menuju harta karunnya. </em></p>



<p><em>Tak ada yang tahu isi harta karun itu, atau apakah Santiago akan berhasil mengatasi rintangan-rintangan sepanjang jalan. Namun perjalanan yang semula bertujuan untuk menemukan harta duniawi berubah menjadi penemuan harta di dalam diri. </em></p>



<p><em>Kaya, menggugah, dan sangat manusiawi, kisah Santiago menunjukkan kekuatan mimpi-mimpi dan pentingnya mendengarkan suara hati kita.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Sang Alkemis</h2>



<p>Sesuai dengan sinopsisnya, novel ini berfokus ke petualangan yang dialami oleh seorang gembala bernama Santiago, yang berasal dari Spanyol. Berdasarkan petunjuk dari seorang perempuan Gipsi, ia dituntun untuk mencari harta karun di Piramida Mesir.</p>



<p>Awalnya, ia tak menggubris omongan perempuan Gipsi tersebut. Namun, kemudian ia bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai &#8220;raja Salem&#8221;. Santiago pun akhirnya merasa yakin untuk mencoba berburu harta karun tersebut.</p>



<p>Santiago memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/">keluar dari zona nyamannya</a>, lantas menjual semua dombanya agar mendapatkan uang untuk modal berburu harta karun. Ia pun menyeberangi lautan yang memisahkan benua Eropa dan Afrika.</p>



<p>Naas, ia justru langsung ditipu dan harus kehilangan semua uangnya. Untuk bisa menyambung hidup, ia pun bekerja dengan penjual kristal dengan niat mengumpulkan uang agar bisa kembali ke Spanyol dan kembali menjadi seorang gembala.</p>



<p>Setelah beberapa bulan, uangnya mulai terkumpul. Apalagi, ia adalah anak muda yang memiliki banyak ide cemerlang. Pada satu titik, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari harta karunnya dan mengurungkan niat untuk kembali ke Spanyol.</p>



<p>Lantas, ia pun menjadi rombongan yang melintasi gurun pasir, di mana ia bertemu dengan seorang Inggris yang sedang mencari &#8220;Sang Alkemis&#8221; karena ingin memiliki ilmu mengubah apa pun menjadi emas. </p>



<p>Mereka singgah di sebuah oasis, berlindung dari perang antarsuku yang sedang terjadi.  Di oasis tersebut, hidup sekelompok orang yang hidup dengan damai. Menariknya, di sini Santiago bertemu dengan wanita yang menarik perhatiannya, Fatima.</p>



<p>Tanpa disangka, justru Santiago yang bertemu dengan Sang Alkemis, yang memandunya untuk menemukan harta karun tersebut. Ketika akhirnya berhasil mencapai Piramida, ia sadar bahwa apa yang ia cari selama ini berada di tempat ketika ia memulai semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Sang Alkemis</h2>



<p>Penulis membaca novel ini tanpa ekspektasi apa pun, toh novel ini juga tipis sehingga <em>fine-fine </em>saja untuk dibaca di kala senggang. Namun, pada akhirnya Penulis justru tertarik masuk ke dalam ceritanya seolah Penulis ikut bertualang bersama Santiago.</p>



<p>Secara cerita, premis yang ditawarkan oleh <em>Sang Alkemis </em>sederhana saja dengan gaya bahasa yang terkadang puitis, tapi masih mudah dicerna. Namun, <strong>kisahnya penuh dengan makna dan banyak sekali kalimat yang <em>quotable</em></strong>. Ada beberapa yang Penulis sukai, seperti:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Kalau kau menaruh perhatian pada saat sekarang, kau bisa memperbaikinya. Dan kalau kau memperbaiki saat sekarang ini, apa yang akan datang juga akan lebih baik.</li>



<li>Orang-orang takut mengejar impian-impian mereka yang paling berharga, sebab mereka merasa tidak layak mendapatkannya, atau tidak tidak akan pernah bisa mewujudkannya.</li>



<li>Bahwa pada saat-saat paling gelap di malam hari adalah saat-saat menjelang fajar.</li>



<li>Hanya ada satu hal yang membuat orang tak bisa meraih impiannya: takut gagal.</li>



<li>Itulah yang dilakukan oleh para alkemis. Mereka menunjukkan bahwa kalau kita berusaha menjadi lebih baik, segala sesuatu di sekitar kita akan ikut menjadi lebih baik.  </li>
</ul>



<p>Inti cerita dari novel ini adalah <strong>perjalanan sama penting dengan tujuan</strong>. Hal ini digambarkan dengan baik dengan <em>loop </em>yang harus dialami oleh Santiago, di mana apa yang ia kejar selama ini ternyata berada tepat di bawah kakinya.</p>



<p>Bahkan, menurut Penulis sebenarnya ini adalah buku pengembangan diri berkedok novel. Beberapa contoh di <em>quote </em>di atas bahkan seolah datang yang tepat di saat Penulis membutuhkannya, sehingga begitu <em>memorable </em>di kepala.</p>



<p>Memang, rasanya novel ini kurang <em>related </em>di keseharian kita karena Santiago sering sekali bertemu dengan keberuntungan, walau ada beberapa momen dia juga tertimpa sial. Setidaknya, <em>mindset </em>positif yang ia miliki untuk bertahan hidup bisa coba kita terapkan dalam hidup ini.</p>



<p>Terlepas dari itu, satu hal menarik lainnya adalah bagaimana <strong>Santiago bertemu dengan banyak umat muslim sepanjang perjalanannya</strong>. Sangat jarang Penulis menemukan ini di novel terjemahan, tapi masuk akal karena Santiago melakukan perjalanan ke Piramida di Mesir.</p>



<p>Tak hanya itu, ia juga menemukan tambatan hatinya di kampung muslim. Namun, ini sedikit menimbulkan pertanyaan karena di awal cerita, ia memiliki perasaan kepada anak pemilik toko roti. Ini menimulkan kesan kalau si anak pemilik toko roti sama sekali tak memiliki peran signifikan dalam cerita.</p>



<p>Buku ini memang memiliki unsur supernatural, yang biasanya tidak Penulis sukai kecuali di novel<em> <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a></em> dan seri <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Funiculi Funicula</a></em>. Namun, karena unsur tersebut hanya hadir sebagai bumbu pelengkap (seperti bahasa universal), Penulis tak terlalu mempermasalahkannya.</p>



<p>Secara keseluruhan, <em>Sang Alkemis </em>merupakan salah satu novel terbaik yang pernah Penulis baca. Gara-gara novel ini, Penulis jadi penasaran dengan novel Paolo Coelho yang lain. Apakah Pembaca ada rekomendasi?</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 April 2025, terinspirasi setelah membaca buku <em>Sang Alkemis</em> karya Paolo Coelho</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/">[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-sang-alkemis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Dec 2024 16:31:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8149</guid>

					<description><![CDATA[<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara sederhana. Penulis sudah pernah <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">membaca satu bukunya</a>, sehingga ketika tahu ada buku baru, Penulis membelinya.</p>



<p>Berjudul <em><strong>Filsafat Kebahagiaan</strong></em>, buku ini langsung mencuri perhatian Penulis karena konsepnya yang terfokus pada satu topik: <strong>kebahagiaan</strong>. Ini adalah topik menarik untuk didalami, karena kita sebagai manusia kerap bingung mendefinisikan apa itu kebahagiaan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton WandaVision Episode 6 (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2/">Setelah Menonton WandaVision Episode 6 (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Filsafat Kebahagiaan</em></li>



<li>Penulis: Fahruddin Faiz</li>



<li>Penerbit: Mizan Pustaka</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2024</li>



<li>Tebal: 288 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024413323</li>



<li>Harga: Rp89.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p><em>Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya, makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu, boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka, layak sekali kalau orang bertanya: apa, sih, bahagia itu sebenarnya? </em></p>



<p><em>Empat orang bijak—Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram—menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat, dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya. </em></p>



<p><em>Buku ini bakal memberi pencerahan bagi Anda yang mencari kebahagiaan sejati. </em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini akan mengulas filsafat kebahagiaan dari sudut pandang empat tokoh: <strong>Plato</strong>, <strong>al-Farabi</strong>,<strong> al-Ghazali</strong>, dan <strong>Ki Ageng Suryomentaram</strong>. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda untuk mendefiniskan kebahagiaan.</p>



<p>Plato sebagai salah satu filsuf dari Yunani kuno tentu meletakkan fondasi untuk memahami kebahagiaan. Lalu, pemikiran tersebut dijabarkan lagi melalui pendekatan Islam melalui al-Farabi dan al-Ghazali yang lebih sufi. </p>



<p>Penulis secara pribadi tertarik dengan keputusan Faiz untuk memasukkan Ki Ageng Suryomentaram, yang tentu saja menyelipkan filsafat-filsafat Jawa. Dengan demikian, buku ini berisi filsafat Barat, Islam, dan Jawa.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Plato</h3>



<p>Kalau menurut Plato, hakikat manusia adalah jiwanya, badan hanya manifestasi dari jiwa. Secara singkat, menurut Plato jiwa itu mengandung tiga unsur (di mana ketiga unsur ini dipengaruhi ole Eros atau cinta), yaitu: </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Epithumia</strong>: Lambang nafsu manusia yang rendah, seperti makan, minum, seks</li>



<li><strong>Thumos</strong>: Lambang hasrat, ambisi, atau harga diri, seperti afektivitas, rasa semangat, agresivitas</li>



<li><strong>Logistikon</strong>: Lambang akal, rasio, </li>
</ul>



<p>Ketiga unsur inilah yang akan memengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang menurut Plato. Apabila kita bisa mengendalikan ketiganya dan mampu menetapkan batasan, maka kita akan bisa menemukan kebahagiaan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Farabi</h3>



<p>Nah, konsep kebahagiaan yang diungkap oleh Plato bersifat indidualis. Menurut al-Farabi, kebahagiaan itu juga butuh hubungan sosial. Selain itu, kenikmatan yang punya nilai ibadah akan punya kualitas kebahagiaan yang lebih awet.</p>



<p>Ada satu <em>quote </em>yang cukup menohok di bagian al-Farabi,&#8221;Tuhan menciptakan kita untuk bahagia. Kalau mudah galau, Anda melecehkan Tuhan.&#8221; Tentu ini akan membuat kita jadi termenung dan berusaha bersyukur atas apapun yang sudah kita dapatkan hingga saat ini.</p>



<p>Bahagia menurut al-Farabi akan tercapai ketika jiwa terimplementasikan secara optimal. Caranya adalah dengan mengoptimalkan daya gerak, daya mengetahi, dan daya berpikir yang sudah menjadi fitrah manusia. </p>



<p>Jangan lupa, kebahagiaan juga harus didapatkan dari kebahagiaan sosial. Bukan hanya dari lingkup keluarga atau pertemanan, tapi juga dari negara. Bayangkan saja jika kita memiliki kehidupan yang baik, tiba-tiba negara merusaknya, maka kebahagiaan itu bisa hilang.</p>



<p>Oleh karena itu, menurut al-Farabi kunci kebahagiaan itu dipegang oleh filsuf, ulama, dan pemimpin negara. Kalau dari sendiri, kita harus bisa menakhlukkan jiwa untuk tercapai jiwa yang tenang dan terus melakukan perilaku utama atau kebajikan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Ghazali</h3>



<p>Kalau menurut al-Ghazali, kunci kebahagiaan itu adalah dengan mengenali diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, kita juga akan bisa menemukan citra Tuhan dan mengenal Tuhan lebih dekat lagi.</p>



<p>Mirip dengan Plato, al-Ghazali menyebut manusia memiliki tiga unsur, yakni unsur hewan, setan, dan malaikat. Untuk bisa bahagia, manusia harus bisa mewaspadai syahwat dan amarah, serta terus mencari ilmu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Ki Ageng Suryomentaram</h3>



<p>Beda lagi dengan pendapatnya Ki Ageng Suryomentaram. Menurut beliau, rumus kebahagiaan itu bisa disingkat sebagai 6S yang intinya mengajak kita untuk hidup sederhana, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Sakbutuhe (sekadar kebutuhan)</li>



<li>Sakperlune (sekadar keperluan)</li>



<li>Sakcukupe (sekadar kecukupan)</li>



<li>Sakbenere (sekadar kebenaran)</li>



<li>Sakmesthine (sekadar kepantasan/keharusan)</li>



<li>Sakpenake (sekadar kenyamanan/kenikmatan)</li>
</ol>



<p>Mirip dengan al-Ghazali, syarat bahagia versi Ki Ageng adalah mengerti diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Untuk bisa melakukannya, kita harus bisa hidup saat ini (<em>saiki</em>), di sini (<em>ing kene</em>), dan seperti ini (<em>ngene</em>).</p>



<p>Ki Ageng juga menekankan kalau kebahagiaan itu harus tergantung oleh kondisi internal tanpa tergantung dengan kondisi eksternal. Kita juga harus bisa mengendalikan keinginan diri, entah kesenangan fisik, reputasi, maupun status sosial.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Selama hampir tujuh tahun menulis artikel ulasan buku di blog ini, rasanya baru kali ini bagian &#8220;Isi Buku&#8221; sepanjang sekarang. Salah satu alasannya adalah agar Penulis bisa mengingat apa saja isi dari buku ini, yang menurut Penulis sangat penting untuk kehidupannya.</p>



<p>Walau sudah menulis sepanjang itu, percayalah bahwa masih ada banyak bagian yang tidak Penulis banyak. Buku ini memang tergolong tipis, tapi isinya sangat padat dan daging semua. Karena begitu menarik, Penulis bisa menyelesaikan buku ini dengan cukup cepat.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di awal, buku ini benar-benar menggambarkan ciri khas Fahruddin Faiz yang bisa menyampaikan hal berat menjadi ringan sehingga bisa dipahami oleh semua orang, bahkan yang asing dengan dunia filsafat sekalipun.</p>



<p>Kata filsafat yang selama ini terkesan mengerikan berhasil diubah menjadi menyenangkan dan terkesan santai untuk dipelajari. Sama sekali tidak ada penjelasan yang <em>njelimet </em>yang membuat kita harus membaca ulang lagi.</p>



<p>Lantas, apakah buku ini akan membuat kita langsung paham apa itu kebahagiaan? Tentu tidak semudah itu. Pada akhirnya, kebahagiaan itu tanggung jawab kita sendiri. Buku ini hanya hadir untuk membantu kita menemukan kebahagiaan itu.</p>



<p>Bahagia adalah bagian dari diri manusia, dan sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan dengan cara-cara yang benar. Manusia sudah sewajarnya merasa bahagia, karena itu adalah fitrah kita sebagai manusia.</p>



<p>Semoga saja makin banyak topik-topik filsafat lain yang akan diulas oleh Fahruddin Faiz, dengan mempertahankan gaya bahasanya yang mudah dicerna. Saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Filsafat Moral</em>, yang juga akan tandas dalam waktu dekat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Desember 2024, terinspirasi setelah membaca <em>Filosofi Kebahagiaan</em> karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
