<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buku Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/category/buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/category/buku/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Aug 2026 15:33:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Buku Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/category/buku/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2026 16:17:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[esensialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8820</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless. Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/">[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">Setelah membaca buku <em>Effortless</em></a> yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku <strong>Greg McKeown </strong>lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni<strong> <em>Esensialisme</em></strong>. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku <em>Effortless</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku <em>Effortless.</em> Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">buku <em>Start with Why</em></a>. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/linkin-park-dan-living-things-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/linkin-park-dan-living-things-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/linkin-park-dan-living-things-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/linkin-park-dan-living-things-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/linkin-park-dan-living-things-banner.jpg 1280w " alt="Linkin Park dan Living Things" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Linkin Park dan Living Things</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Esensialisme</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Esensialisme</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-7</li>



<li>Tanggal Terbit: Desember 2025</li>



<li>Tebal: 354 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020656151</li>



<li>Harga: Rp108.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Esensialisme?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan <em>tagline </em>&#8220;Pentingkan yang Penting Saja&#8221;, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat orang yang suka <em>ruwet </em>dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian <em>cover </em>ini terdapat semacam ilustrasi garis <em>ruwet </em>dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan &#8220;ini&#8221; di tengah-tengahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan buku <em>Effortless</em>, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian I: Intisari</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Esensialis</strong></li>



<li><strong>MEMILIH</strong>: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih</li>



<li><strong>MELIHAT DAN MENCERMATI</strong>: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal</li>



<li><strong>TRADE-OFF</strong>: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, ini adalah bagian &#8220;pembukaan&#8221; untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian <em>trade-off</em> atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian II: Eksplorasi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>MEMBEBASKAN DIRI</strong>: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia</li>



<li><strong>MENCERMATI</strong>: Melihat Mana yang Sungguh Penting</li>



<li><strong>BERMAIN</strong>: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda</li>



<li><strong>TIDUR</strong>: Melindungi Aset</li>



<li><strong>MEMILIH</strong>: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni &#8220;bermain&#8221; dan &#8220;tidur&#8221;. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian III: Eliminasi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>KLARIFIKASI</strong>: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan</li>



<li><strong>BERANI</strong>: Kedahsyatan Jawaban &#8220;Tidak&#8221; yang Anggun</li>



<li><strong>MELEPAS KOMITMEN</strong>: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi</li>



<li><strong>MENYUNTING</strong>: Seni yang Tidak Kelihatan</li>



<li><strong>BATAS</strong>: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan </li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian IV: Eksekusi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>PENYANGGA</strong>: Keunggulan yang Tidak Wajar</li>



<li><strong>MENGURANGI</strong>: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan</li>



<li><strong>KEMAJUAN</strong>: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil</li>



<li><strong>ALIRAN (FLOW)</strong>: Hebatnya Sebuah Rutin</li>



<li><strong>FOKUS</strong>: Apa yang Penting Sekarang?</li>



<li><strong>JADILAH</strong>: Hidup Seorang Esensialis</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Esensialisme</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena buku <em>Effortless</em>, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup &#8220;umum&#8221; dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa <em>dragging </em>dan cukup repetitif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku <em>Start with Why</em>, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, ada satu <em>quote </em>dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni<strong> &#8220;No more yes, it&#8217;s either HELL YEAH or no!&#8221;</strong> yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah <em><strong>sink-cost bias</strong></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkatnya, <em>sink-cost bias </em>adalah kondisi di mana kita sudah merasa &#8220;berinvestasi&#8221; banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa <em>overwhelmed </em>dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Skor: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#930b0f" class="has-inline-color">6/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Esensialisme </em>karya Greg McKeown</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/">[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2026 14:42:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Brian Khrisna]]></category>
		<category><![CDATA[mie ayam]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8803</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena cover-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan &#8220;Edisi Spesial Cetakan ke-100&#8221;. Novel tersebut adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/">[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena <em>cover</em>-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan <strong>&#8220;Edisi Spesial Cetakan ke-100&#8221;</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel tersebut adalah <em><strong>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</strong></em> karya <strong>Brian Khrisna</strong>, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau penulis novel ini telah menerbitkan banyak buku, hanya saja Penulis memang belum pernah mencoba membaca karyanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena menemukan edisi spesial ini, Penulis pun jadi penasaran dan membelinya. Selain karena ingin tahu apa yang membuat buku ini bisa sampai dicetak sebanyak 100 kali, kata-kata yang terdapat di bagian belakang buku ini juga sedang <em>related </em>bagi Penulis:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&#8220;<em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima.</mark></em>&#8220;</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1280-1.jpg 1280w " alt="Tentang Leon, Kenji, dan Gisel" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/">Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:<em> Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Edisi Spesial Cetakan ke-100)</em></li>



<li>Penulis: Brian Khrisna</li>



<li>Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia</li>



<li>Cetakan: Ke-100</li>



<li>Tanggal Terbit: April 2026 </li>



<li>Tebal: 216 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020531328</li>



<li>Harga: Rp93.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Novel <em>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati </em>berpusat pada karakter bernama <strong>Ale</strong>, seorang laki-laki pekerja kantoran yang hidupnya sepi. Ia merasa tidak punya siapa-siapa. Jangankan kekasih, keluarga pun seolah enggan dengannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ale juga merasa bahwa bentuk dirinya yang buruk rupa membuatnya tidak dicintai oleh siapa pun. Keberadaannya kerap dianggap tidak ada, termasuk di kantor. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasa tak ada artinya tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum mati, ia memiliki satu keinginan terakhir dalam hidupnya: makan mie ayam langganannya. Namun, ketika ia hendak melakukan niatnya tersebut, ternyata tempat mie ayam tersebut justru tutup, seolah semesta melarangnya untuk mati!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia pun menelusuri dan mencari info mengenai penjual mie ayam tersebut. Ternyata, bapak yang berjualan meninggal dunia. Siapa sangka, berawal dari peristiwa yang tampak sederhana itu, Ale akan menjalani kehidupan yang mengubah seluruh pemikirannya selama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ale harus mengalami rasanya dipenjara, bekerja untuk seorang kriminal, masuk ke tempat prostitusi, bertemu dengan OB dari kantornya, berjualan bolu kukus, hingga bertemu seorang buta yang bijaksana. Hidup yang ia ketahui selama ini pun menjadi terlihat berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, di edisi spesial ini, ada satu &#8220;perjalanan tambahan&#8221; yang menurut Penulis diposisikan untuk memberi akhir yang jelas untuk karakter Ale. Penulis tidak yakin karena tidak membaca versi aslinya, tapi kemungkinan akhir dari versi aslinya diserahkan kepada pembaca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Karena belakangan ini suka membaca <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/">novel-novel dari penulis Jepang</a>, sudah lama rasanya Penulis tidak membeli novel buatan penulis Indonesia. Oleh karena itu, Penulis merasa ini momen yang tepat untuk &#8220;berkenalan&#8221; dengan karya-karya Brian Khrisna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara topik, isu yang diangkat oleh Brian rasanya akan <em>related </em>dengan kebanyakan orang di masa modern ini. Segala problematika yang menghantui kita saat ini <strong>terkadang membuat kita merasa buntu</strong> dan<strong> tidak tahu bagaimana cara keluar dari rasa sakit tersebut</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhasil, &#8220;kematian&#8221; pun seolah menjadi satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit tersebut. Padahal, tidak sebanding rasanya jika <strong>masalah yang sementara harus diselesaikan dengan solusi yang permanen</strong>. Ini bukan kata Penulis, tapi kata <strong>Dr. Jiemi Ardian</strong> lewat bukunya yang berjudul <em>Merawat Luka Batin</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis memandang buku ini sebagai <strong>&#8220;pelukan hangat&#8221; </strong>dari Brian untuk pembacanya yang juga kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia berusaha memperlihatkan kalau masih ada harapan jika kita berani untuk melanjutkan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini juga berusaha mengingatkan kepada kita bahwa apa pun kondisi kita saat ini, <strong>kita memiliki peran masing-masing</strong>. Mungkin kehidupan yang tidak kita anggap berharga ini, bisa jadi berarti bagi orang lain yang bahkan tidak pernah kita pikirkan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena tema dari buku ini cukup gelap, wajar jika Penulis menemukan beberapa <em>quote </em>kehidupan yang bisa menjadi pengingat ketika kita sedang berada di masa-masa gelap. Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang menarik bagi Penulis:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&#8220;<em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa.</mark></em>&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagi Penulis. Pertama, <strong>beberapa dialog di novel ini terasa kurang natural</strong>. Alih-alih terasa sebagai percakapan antara dua orang, dialognya terasa seperti <em>textbook</em> yang jika dibacakan dengan lantang akan terasa aneh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan mantan teman sekolahnya di sebuah tempat makan, jujur bagi Penulis rasanya <em>cringe</em>. Mungkin memang ada orang yang lama tidak ketemu, begitu ketemu langsung <em>ngatain</em>, tapi di novel ini terasa sekali dramatisirnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, semua orang yang ditemui oleh Ale seolah-olah <strong>punya pekerja sampingan sebagai motivator</strong>. Mungkin, Brian ingin memperlihatkan kalau inspirasi dan motivasi itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari kaum marjinal, tapi dosisnya menurut Penulis terlalu berlebihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>&#8220;Petualangan Ale&#8221; dalam buku ini juga terasa terlalu mulus</strong>. Seperti kritik pada <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/">film <em>Project Hail Mary</em></a>, Penulis tidak menyukai cerita di mana karakter utamanya mulus-mulus saja dalam menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Apalagi, rentetan kejadiannya terasa kurang realistis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang paling mengganjal adalah betapa mudahnya Ale &#8220;lolos&#8221; setelah memutuskan kabur dari Murad dan kelompok kriminalnya. Memang, di edisi spesial ini ada cerita tambahan bagaimana Murad pada akhirnya berhasil menemukan Ale, walau tetap ujungnya terlalu <em>happy ending</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Murad mungkin merasa berhutang budi karena kebetulan adiknya bekerja di kantor yang sama dengan Ale, bahkan bisa masuk pun karena ada sedikit andil darinya. Di sini juga terjadi klise di mana seorang penjahat ternyata memiliki &#8220;kelemahan&#8221; berupa keluarga yang ia sayangi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari kekurangannya tersebut, Penulis tetap menikmati novel ini, bahkan menandaskannya secara langsung hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Tema yang dibawanya <em>universal </em>dan mungkin sedang kita rasakan juga saat ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menamatkannya, Penulis merasa kalau novel ini bisa sampai cetakan ke-100 adalah karena memang sangat mudah untuk dicerna, sehingga bisa menjangkau banyak orang. Sama sekali tidak ada bagian yang membuat otak berpikir keras, semua dijelaskan dengan gamblang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis merekomendasikan novel ini untuk siapa pun yang sedang merasa buntu dalam hidupnya dan melihat kalau kematian adalah solusi satu-satunya. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Skor: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">6/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 5 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati </em>karya Brian Khrisna</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/">[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2026 02:56:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Simon Sinek]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8728</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah buku-buku self-improvement, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif. Mengingat buku self-improvement ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah <a href="https://whathefan.com/?s=self-improvement">buku-buku <em>self-improvement</em></a>, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengingat buku <em>self-improvement </em>ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis rasa butuhkan, maka Penulis akan memilih yang populer dan banyak dibaca orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, ketika mengetahui buku <em><strong>Start with Why </strong></em>dari <strong>Simon Sinek </strong>merilis <strong>&#8220;Edisi 15 Tahun&#8221;</strong>, tentu Penulis jadi penasaran mengapa buku ini bertahan sekian lama di peredaran. Apakah isi bukunya memang sedahsyat itu?</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-banner.jpg 1280w " alt="Kekompakan Antara Pemerintah dan Rakyatnya" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/">Kekompakan Antara Pemerintah dan Rakyatnya</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Start with Why</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Start with Why (Dengan Materi yang Diperbarui)</em></li>



<li>Penulis: Simon Sinek</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-23</li>



<li>Tanggal Terbit: Oktober 2025</li>



<li>Tebal: 366 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020628837</li>



<li>Harga: Rp100.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Start with Why</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dari judulnya, sebenarnya kita bisa menerka kalau isi buku ini akan mengajak kita untuk mencari <strong>MENGAPA</strong> dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan memiliki MENGAPA yang jelas, kita akan lebih terdorong untuk melakukan sesuatu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi lima bagian utama sebagai berikut:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Bagian 1: Dunia yang Tidak Dimulai dengan Pertanyaan Mengapa</li>



<li>Bagian 2: Sudut Pandang Alternatif</li>



<li>Bagian 3: Pemimpin Butuh Pengikut</li>



<li>Bagian 4: Cara Menggalang Orang-Orang yang Percaya</li>



<li>Bagian 5: Tantangan Terbesar adalah Sukses</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti kebanyakan buku-buku <em>self-improvement </em>pada umumnya, buku ini juga <strong>diselipi oleh kisah inspiratif dari tokoh-tokoh hebat</strong>. Beberapa yang paling sering diulang adalah Steve Jobs dan Apple, Wright Bersaudara (penemu pesawat terbang), Southwest Airlines, hingga Martin Luther King Jr. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nama-nama tokoh yang disebutkan di dalam buku ini diceritakan<strong> selalu memiliki MENGAPA yang jelas</strong>, baik dalam membuat produk hingga mengajak dan menginspirasi orang. Yang melekat pada mereka adalah MENGAPA mereka melakukannya, bukan APA yang dilakukannya. Ini dibahas panjang lebar di Bagian 3 dan 4.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu bagian yang bagi Penulis menarik ada di Bagian 2, Bab<strong> &#8220;Lingkaran Emas&#8221;</strong>. Di dalam bab tersebut, ada tiga lingkaran yang terdiri dari <strong>APA</strong> (lingkaran terluar), <strong>BAGAIMANA</strong> (lingkaran tengah), baru <strong>MENGAPA</strong> (lingkaran terdalam).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebanyakan orang akan berhenti di APA YANG DILAKUKAN, atau paling mentok di BAGAIMANA MELAKUKANNYA. Namun, orang-orang hebat akan selalu memiliki MENGAPA MELAKUKANNYA. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagian lain yang bagi Penulis menarik adalah bagian <strong>Manipulasi vs Inspirasi</strong>. Sederhananya, APA dan BAGAIMANA itu masih bagian dari memanipulasi orang lain, sedangkan MENGAPA sudah masuk ke bagian yang menginspirasi orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Start with Why</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai pengagum <a href="https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Steve Jobs dan Apple</a>, selalu menyenangkan rasanya ketika mereka digunakan sebagai contoh di buku <em>self-improvement</em>. Namun, tidak di buku ini, karena <strong>penggunaan mereka sebagai contoh benar-benar terlalu banyak!</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hampir di setiap bab, mereka akan dijadikan contoh dalam setiap topik yang sedang dijelaskan. Dengan tebal buku yang mencapai 366 halaman, bisa dibilang contoh <em>public figure </em>atau perusahaan yang digunakan di buku ini kurang dari 10!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini tentu menjadi ironi, karena Sinek seolah menegaskan bahwa <strong>tak banyak kesuksesan karena benar-benar mengandalkan MENGAPA seperti katanya</strong>. Jika contohnya banyak, mengapa tidak dibuat contoh-contoh yang bervariasi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Penulis merasa kalau buku ini adalah contoh dari apa yang pernah Coach Justin pernah katakan tentang buku-buku Amerika: <strong>inti bukunya satu, dijelasinnya ribuan kali</strong>. Itulah yang Penulis rasakan ketika membaca buku ini, terutama mulai dari bagian pertengahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat awal-awal membaca, Penulis masih bisa menikmati karena diberi <em>insight </em>mengapa MENGAPA itu sangat penting dalam berbagai aktivitas, entah itu di kerjaan maupun keseharian. Penulis akui penting untuk menemukan MENGAPA sebelum melakukan sesuatu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, makin ke belakang, Penulis merasa kalau <strong>isi bukunya hanya berputar-putar di hal yang sama</strong>. Hal ini diperparah dengan contoh yang digunakan juga hanya berputar-putar pada tokoh dan perusahaan yang itu-itu aja, seperti yang sudah Penulis singgung di atas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, sepanjang buku ini Sinek juga seolah <strong>ingin menekankan kalau ingin berhasil, harus punya MENGAPA</strong>. Kalau tidak, pasti akan gagal dengan menyebutkan beberapa contoh, seperti Walmart yang kehilangan MENGAPA-nya sejak meninggalnya sang <em>founder</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis jadi menangkap kalau teori yang ia paparkan menjadi bersifat mutlak, padahal belum tentu juga. Sinek juga terasa terlalu <strong>menyederhanakan penggunaan MENGAPA dalam perusahaan-perusahaan yang sukses</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh, Sinek mengatakan kalau orang-orang memilih Apple karena MENGAPA yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Padahal, tidak sesederhana itu. Bisa saja orang membeli produk Apple karena APA yang mereka jual, untuk <em>flexing</em>, dan lain sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, ada banyak sekali <strong>peluang kita tidak menggunakan MENGAPA ketika membeli sebuah produk atau memilih sebuah layanan</strong>. Mungkin kita punya MENGAPA kita memilih mereka, tapi kita kemungkinan tidak terlalu peduli dengan MENGAPA mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika buku ini hanya berfokus pada inti yang ingin disampaikan, mungkin sebenarnya tidak akan butuh lebih dari 100 halaman, bukan lebih dari 300 halaman. Penulis bahkan sudah tidak ingat mayoritas bagian di akhir buku, karena memang sudah terasa membosankan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejujurnya, Penulis tidak terlalu berani merekomendasikan buku ini kepada Pembaca, mengingat jumlah halamannya yang cukup tebal. Nantinya, waktu yang dihabiskan untuk membaca buku ini tidak terasa <em>worth it </em>dengan apa yang didapatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: <strong>5/10</strong></mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Seandainya saja isinya lebih <em>to the point</em>, dengan contoh yang lebih bervariasi, dan isi halaman yang lebih sedikit (yang otomatis membuat harganya lebih terjangkau), mungkin Penulis akan memberikan skor yang lebih tinggi lagi.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 16 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca buku <em>Start with Why </em>karya Simon Sinek</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 15:07:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Uketsu]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8703</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru Uketsu. Kali ini, judulnya adalah Teka-Teki Gambar Aneh. Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">Teka-Teki Rumah Aneh</a></em>, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru <strong>Uketsu</strong>. Kali ini, judulnya adalah <em><strong>Teka-Teki Gambar Aneh</strong>.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan ruang untuk merasa kecewa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untungnya, setelah menamatkan novel ini dalam durasi yang relatif singkat, Penulis bisa mengatakan kalau <em>Teka-Teki Gambar Aneh </em>memang lebih gila dari <em>Teka-Teki Rumah Aneh</em>! Penulis akan jelaskan alasannya pada tulisan kali ini.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SPOILER ALERT!!!</mark></strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1.jpg 1280w " alt="Bagian 28 Seandainya Saja" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-28-seandainya-saja/">Bagian 28 Seandainya Saja</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teka-Teki Gambar Aneh</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Teka-Teki Gambar Aneh</em></li>



<li>Penulis: Uketsu</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2026 </li>



<li>Tebal: 312 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020687209</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Teka-Teki Gambar Aneh?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan disuguhi banyak gambar aneh yang jika dilihat sekilas tidak memiliki makna yang berarti. Memang, denah rumah bisa disebut sebagai &#8220;gambar&#8221; juga, tapi ini <em>literally </em>gambar berbagai macam hal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melansir dari sinopsis resminya, ada <strong>gambar yang dibuat seorang wanita hamil di internet</strong>, <strong>gambar yang dibuat seorang anak kecil sebagai hadiah Hari Ibu</strong>, dan<strong> gambar yang dibuat seorang korban pembunuhan di saat-saat terakhirnya</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita dibagi menjadi ke dalam empat bab, yang pada awalnya tidak terlihat seperti terhubung satu sama lain. Alurnya sendiri maju mundur, karena satu bab ke bab lainnya tidak linear dalam satu lini masa. Berikut adalah judul dari keempat bab di novel ini:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Gambar Wanita Berdiri Diterpa Angin</li>



<li>Gambar Kabut yang Menutupi Unit Mansion</li>



<li>Gambar Terakhir Guru Seni Rupa</li>



<li>Gambar Pohon Pelindung Burung Gelatik</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, setidaknya akan ada empat gambar berbeda yang akan menjadi pusat dari masing-masing cerita, karena masih ada gambar-gambar lainnya juga. Yang menggambar pun juga berbeda-beda, tapi tidak akan Penulis jelaskan di sini karena berpotensi <em>spoiler</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis telah sering mengatakan kalau format seperti ini adalah salah satu favoritnya, apalagi kalau keterhubungannya benar-benar tak terpikirkan. Nah, novel ini pun begitu, di mana tiap-tiap cerita memiliki karakter yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di cerita pertama misalnya, ceritanya berpusat pada karakter <strong>Sasaki</strong> dan <strong>Kurihara</strong> (orang yang sama di novel pertama), yang sama-sama merupakan anggota dari kelompok <em>occult</em>. Mereka berdua mendiskusikan sebuah blog yang terasa janggal bernama <strong>&#8220;Catatan Hati Nanashino Ren&#8221;</strong>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di blog tersebutlah mereka menemukan sekumpulan gambar aneh yang berusaha mereka pecahkan, apalagi jika membaca tulisan-tulisan pemilik blog. Total ada lima gambar yang terlihat tidak memiliki hubungan sama sekali di cerita pertama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Fun Fact: Blog tersebut benar-benar ada! Pembaca bisa mengaksesnya di <a href="https://nanashinoren.blog.jp/"><strong>https://nanashinoren.blog.jp/</strong></a></mark></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu di cerita kedua, <em>angle</em>-nya bergeser ke seorang anak bernama <strong>Yuta</strong> yang baru akan menginjak usia enam tahun. Di cerita ketiga, bergeser lagi ke kematian seorang guru seni rupa bernama <strong>Miura</strong>. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana cerita-cerita di buku ini seolah berdiri sendiri?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang bisa Penulis katakan adalah, gambar-gambar aneh di novel ini bukanlah sekadar gambar biasa. Gambar-gambar di sini adalah sebuah petunjuk, baik untuk mengetahui watak seseorang, pesan kematian, hingga petunjuk tentang adanya kasus pembunuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis cukup terperangah setelah menamatkan novel ini.<strong> <em>Plot twist </em>yang dimiliki benar-benar mengejutkan </strong>dan sama sekali tak terpikirkan. Bahkan, Penulis bisa bilang kalau setiap bab memiliki <em>twist-</em>nya sendiri. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterhubungan antara empat bab di novel ini sebenarnya <strong>berpusat pada satu karakter</strong>, yang tidak akan Penulis ungkap di sini. Namun, kita tidak akan menyadarinya hingga akhir bab kedua, atau bahkan ketika akhir bab tiga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitu semuanya terungkap, kita baru menyadari betapa besarnya skema kriminal yang terjadi sepanjang novel ini. Tulisan dan gambar-gambar aneh di blog yang ditemukan Sasaki dan Kurihara ternyata hanya <em>tip of the iceberg</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, motif tiap pembunuhan yang terjadi di novel ini pun bukan karena dendam, harta, atau hal-hal yang kerap kita jumpai pada cerita-cerita detektif pada umumnya. Ketika motifnya terkuak di bab empat, kita akan sulit memercayainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, keberadaan pihak polisi baru muncul menjelang akhir cerita. Artinya, kejahatan yang dilakukan oleh pelaku berhasil ia sembunyikan dengan baik selama bertahun-tahun, walau pada akhirnya ada seseorang yang berhasil membongkar semuanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Pace </em>cerita di sini pun cukup cepat</strong>, apalagi jika mengingat ada empat cerita yang berbeda. Itulah yang membuat Penulis hanya membutuhkan waktu singkat untuk menamatkannya, karena selalu ada hal yang menimbulkan rasa penasaran. Mungkin juga karena terjemahan buku ini mudah untuk dicerna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis bersyukur bahwa <strong>konklusi dari novel ini tidak memiliki keterkaitan dengan dunia okultisme</strong>, seperti yang Penulis temukan di <em>Teka-Teki Rumah Aneh</em>. Penulis merasa cukup puas dengan penjelasan akhirnya yang lebih ke sisi psikologis yang <em>mindblowing</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika disuruh membicarakan kekurangannya, jujur Penulis kesulitan menemukannya. Penulis tidak menemukan <em>plot hole </em>atau hal ganjil yang membuat Penulis tidak puas dengan novel ini. Penulisannya rapi dan tertata, sehingga semua hal telah mendapatkan penjelasan yang cukup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, justru <strong>motif pelaku di novel ini menjadi tanda tanya besar bagi Penulis</strong>. Benarkah ada orang yang tega melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan motif seperti itu? Apakah itu karena sang pelaku seorang psikopat yang sadis sekaligus <em>overprotective</em>?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesimpulannya, Penulis menikmati novel ini dan merekomendasikannya kepada Pembaca yang menyukai kisah detektif yang di permukaan terlihat sederhana, tapi memiliki kerumitan di dalamnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: <strong>9/10</strong></mark></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 6 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Teka-Teki Gambar Aneh </em>karya Uketsu</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 13:54:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Mel Robbins]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8598</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan. Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul <em>The Let Them Theory </em>karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.</mark></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/vegeta-character-development-banner-1-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/vegeta-character-development-banner-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/vegeta-character-development-banner-1-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/vegeta-character-development-banner-1-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/vegeta-character-development-banner-1.jpg 1200w " alt="Vegeta adalah Karakter Dragon Ball dengan Pengembangan Terbaik" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/vegeta-adalah-karakter-dragon-ball-dengan-pengembangan-terbaik/">Vegeta adalah Karakter Dragon Ball dengan Pengembangan Terbaik</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Let Them Theory</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>The Let Them Theory</em></li>



<li>Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-3</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2026</li>



<li>Tebal: 328 halaman</li>



<li>ISBN: 625221049</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku The Let Them Theory</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Inti dari buku <em>The Let Them Theory</em> sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; kepada diri sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama ini, jangan-jangan kita menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun judulnya <strong>&#8220;Let Them&#8221;</strong> atau<strong> &#8220;Biarkan Mereka&#8221;</strong>, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni <strong>&#8220;Let Me&#8221;</strong> atau <strong>&#8220;Biarkan Aku&#8221;</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, selain &#8220;Biarkan Mereka&#8221; yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang &#8220;Biarkan Aku&#8221; yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni <strong>Teori Biarkan Saja</strong>, <strong>Kau dan Teori Biarkan Saja</strong>, dan <strong>Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja</strong>. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada empat bab utama di bagian ini, yakni <strong>Mengelola Stres</strong>,<strong> Takut akan Pendapat Orang Lain</strong>, <strong>Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain</strong>, dan <strong>Mengatasi Perbandingan Kronis</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagian ini juga ada empat bab, yakni <strong>Memahami Pertemanan Orang Dewasa</strong>, <strong>Memotivasi Orang Lain untuk Berubah</strong>, <strong>Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan</strong>, dan<strong> Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Let Them Theory</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>The Let Them Theory </em>adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya &#8220;varian&#8221; dari konsep <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Dikotomi Kendali dari stoikisme.</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan <strong>buku yang tepat di waktu yang tepat</strong>. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa <em>related</em> dengan dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, &#8220;Iya, ya?&#8221; ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Menolong Orang Lain</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah <strong>&#8220;Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan&#8221;</strong>. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung <em>extra effort</em> untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering <em>overthinking </em>bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, <strong>biarkan saja mereka melewati masalahnya</strong>. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Fokus ke Diri Sendiri</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana <strong>Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri</strong>, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-punya-logo-baru-di-tahun-2026-ini/">Perubahan logo whatheFAN</a> pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Perbandingan Kronis</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian <strong>&#8220;Mengatasi Perbandingan Kronis&#8221;</strong>. Penulis yang pada dasarnya punya <em>low esteem</em> kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sering merasa kalau &#8220;kemenangan&#8221; orang lain berarti &#8220;kekalahan&#8221; kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena &#8220;kemenangan&#8221; orang lain ya &#8220;kemenangan&#8221; mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita &#8220;kalah&#8221;.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kekurangan Buku Ini</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku <em>self-help </em>yang merasa punya satu teori hebat, <strong>buku ini juga cenderung repetitif</strong>. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya &#8220;ini lagi ini lagi&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu,<strong> isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar</strong>. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau mengandung kata &#8220;teori&#8221; di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah <strong>memperumit &#8220;teori&#8221; sederhana yang ingin dijelaskan</strong>.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, <em>The Let Them Theory </em>adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan &#8220;pencerahan&#8221; ketika membaca isinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas <em>mood </em>kita sendiri, dan lain sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor:<strong> 8/10</strong></mark></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca <em>The Let Them Theory</em> karya Mel Robbins</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2026 12:57:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8591</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari <strong>Keigo Higashino</strong>, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/"><em>The Devotion of Suspect X</em></a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/"><em>A Midsummer’s Equation</em></a>, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul <em><strong>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</strong></em>. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1.jpg 1280w " alt="Bagian 11 Bakat Terpendam Milik Kia" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-11-bakat-terpendam-milik-kia/">Bagian 11 Bakat Terpendam Milik Kia</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Malice</em> <em>&#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em></li>



<li>Penulis: Keigo Higashino</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020639321</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama <strong>Hidaka Kunihiko</strong> ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama <strong>Nonoguchi Osamu</strong>, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. <strong>Detektif Kaga Kyoichiro</strong> sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah <strong><em>angle</em>-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis</strong>. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul <em>The Murder of Roger Ackroyd</em>. Di novel tersebut, tokoh &#8220;aku&#8221; yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan <em>The Devotion of Suspect X </em>yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau <em>A Midsummer’s Equation</em> yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula <em>The Devotion of Suspect X </em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa <strong>melihat ada banyak <em>reverse psychology </em>di sini</strong>, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana <strong>ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber</strong>. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa <em>overwhelming</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: <em><strong>stop bullying</strong></em>. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesimpulannya, <em>Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</em> mengulang formula D<em>evotion of Mr. X </em>yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang <strong>mengapa melakukannya</strong>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">SKOR: <strong>8/10</strong></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah <em><strong>Salvation of a Saint &#8211; Dosa Malaikat</strong>.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Malice</em> karya Keigo Higashino</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">[REVIEW] Setelah Membaca Malice &#8211; Catatan Pembunuhan Sang Novelis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 15:34:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8497</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar Abigail Limuria dan Cania Citta, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif. Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul Makanya, Mikir!, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara launching buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum! Ekspektasi Penulis ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/">[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar <strong>Abigail Limuria</strong> dan <strong>Cania Citta</strong>, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul <em><strong>Makanya, Mikir!</strong></em>, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara <em>launching</em> buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ekspektasi Penulis ketika membeli buku ini adalah Penulis jadi mengetahui bagaimana kerangka berpikir yang benar. Jangan-jangan, ada yang salah dari cara Penulis berpikir selama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah ekspektasi ini tercapai? Sayangnya tidak.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat-banner.jpg 1280w " alt="[REVIEW] Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/">[REVIEW] Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Makanya, Mikir!</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Makanya, Mikir!</em></li>



<li>Penulis: Abigail Limuria dan Cania Citta</li>



<li>Penerbit: </li>



<li>Cetakan: Ke-7</li>



<li>Tanggal Terbit: September 2025</li>



<li>Tebal: 290 halaman</li>



<li>ISBN: 9786238944026</li>



<li>Harga: Rp138.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Makanya, Mikir!</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan sinopsis yang terletak di bagian belakang, buku ini berusaha untuk memberikan berbagai kerangka berpikir (<em>mental models</em>) beserta studi kasusnya. Ini selaras dengan judulnya, yang mengajak kita untuk berpikir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya bukan berarti kedua penulis buku ini menuduh kita tidak pernah berpikir. Bisa saja selama ini kita berpikir, tapi tidak berpikir dengan benar. Nah, buku ini berusaha memberi <em>insight </em>mengenai bagaimana berpikir yang benar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada total delapan bab di buku ini, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Peta Realitas dan Cara Menentukan Tujuan Hidup</li>



<li>Kerangka Berpikir Dua Ranah: Pentingnya Membedakan Realitas dan Preferensi</li>



<li>Pola Pikir Ilmiah: Yang Pede dan Ngotot Belum Tentu yang Pintar</li>



<li>Bagaimana Menentukan Cost dan Benefit: Kenalan dengan Objective-Oriented Principle</li>



<li>Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan</li>



<li>Menentukan Prioritas: Sumber Daya Terbatas, Mana yang Harus Diutamakan?</li>



<li>Kecerdasan Sosial: Buat Apa Pintar Kalau Nyebelin</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Di bab-bab tersebut, ada banyak sekali teori berpikir yang akan kita pelajari, walau memang bisa dibilang hanya di permukaan saja. Semuanya dipaparkan dengan bahasa sederhana yang tidak membuat kita kebingungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa hal yang dijabarkan di buku ini adalah bagaimana menentukan tujuan hidup, perbedaan ranah realitas dan preferensi (yang kerap menjadi sumber utama polarisasi), konsep Cost-Benefit Analysis (CBA) yang membantu kita membuat keputusan dan prioritas, bias berpikir, dan lain sebagainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Makanya, Mikir!</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dua nama yang menulis buku ini adalah orang-orang yang Penulis anggap cerdas, sehingga ada ekspektasi tinggi ketika membaca buku ini. Jika membaca buku <em>self-improvement </em>dari Barat, biasanya Penulis tidak mengenal siapa penulisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, Penulis membutuhkan waktu yang relatif cukup singkat untuk menyelesaikan buku ini. Apakah itu tanda kalau buku ini begitu menarik? Sayangnya bukan, karena <strong>memang isinya yang bagi Penulis relatif sedikit</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan harga yang relatif cukup mahal (hampir Rp140 ribu), sayang isi buku ini bisa dibilang <strong>terasa hanya permukaan saja</strong>. Sebenarnya wajar, karena buku ini <em>full color </em>dan memiliki banyak sekali gambar, yang terkadang memakan hampir dua halaman penuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, dalam <em>podcast </em>bersama Raditya Dika, Abigail Limuria mengatakan bahwa buku ini memang berusaha tidak mengintimidasi pembacanya dengan buku yang <em>full </em>dengan tulisan. (FYI, Radit yang pernah punya percetakan juga terlihat kaget dengan harganya yang cukup mahal).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika memang target pasarnya adalah pembaca baru atau yang baru ingin membangun kebiasaan pembaca, maka keputusan tersebut tepat. Hanya saja, bagi Penulis yang memang dari dulu hobinya membaca, Penulis merasa sedikit rugi telah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk isi yang &#8220;hanya&#8221; segini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis adalah tipe <em>reviewer </em>buku yang menilai buku berdasarkan dampak yang diberikan oleh buku tersebut dan membandingkan dengan &#8220;investasi&#8221; yang Penulis keluarkan untuk membeli buku tersebut. Jujur saja, ini adalah <strong>&#8220;investasi&#8221; yang kurang <em>worth i</em></strong><em>t</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu ada banyak <em>insight-insight </em>menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama bagian CBT yang pernah Penulis praktekkan. Hanya saya, ya kembali lagi, rasanya kurang sepadan dengan uang yang sudah dikeluarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gaya penulisannya yang <strong>seperti mendengarkan teman <em>yapping </em></strong>juga menjadi salah satu kelebihan buku ini, terutama untuk pembaca pemula. Setiap poin yang ingin dibahas berusaha dijabarkan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah disebutkan di atas, buku ini juga selalu memberikan studi kasus agar kita lebih paham lagi. Hanya saja, terkadang Penulis merasa <strong>studi kasus yang diberikan terlalu banyak dan berulang-ulang</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini mungkin cocok bagi banyak orang, apalagi di Indonesia yang tingkat literasinya cukup rendah. Namun, bagi orang yang memang sudah lama hobi membaca seperti Penulis, buku ini akan terasa kurang &#8220;daging&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Skor: <strong>6/10</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 26 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Makanya, Mikir!</em> karya Abigail Limuria dan Cania Citta</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/">[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2026 14:26:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Uketsu]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8493</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel &#8220;teka-teki&#8221;. Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya sudah sejak lama novel <em><strong>Teka-Teki Rumah Aneh</strong></em> karya <strong>Uketsu</strong> mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel &#8220;teka-teki&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, membaca <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">novel-novel detektif Keigo Higashino</a> yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/jangan-jadi-bucin-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/jangan-jadi-bucin-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/jangan-jadi-bucin-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/jangan-jadi-bucin-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/jangan-jadi-bucin-banner.jpg 1280w " alt="Jangan Jadi Bucin" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-bucin/">Jangan Jadi Bucin</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Teka-Teki Rumah Aneh</em></li>



<li>Penulis: Uketsu</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-14</li>



<li>Tanggal Terbit: Mei 2025</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020669960</li>



<li>Harga: Rp79.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama<strong> seorang penulis</strong> (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis <em>occult </em>alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep &#8220;rumah aneh&#8221; langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama <strong>Kurihara-san</strong>, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga  membuat <em>pace </em>novel ini terasa cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau <strong>denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak <em>spoiler</em> yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi,<strong> <em>spoiler alert</em>!</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">novel-novel Keigo</a>, Penulis sudah membaca semua novel <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Agatha Christie</a> dan Sherlock Holmes. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, &#8220;rumah anehnya&#8221; bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau<strong> ini adalah sebuah pola tertentu</strong>, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah <strong>bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya</strong>. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa <em>pace </em>cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan &#8220;horor&#8221; hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang <strong>memiliki hubungan dengan okultisme</strong>. Keluarga pembunuh yang terjebak &#8220;ritual&#8221; memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata &#8220;orang pintar&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena <strong>misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang</strong>, bukan karena disusun secara cerdik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih <strong>memberikan <em>open ending </em>kepada Pembaca </strong>terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!</p>



<p class="wp-block-paragraph">SKOR: <strong>7/10</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada &#8220;sekuel&#8221; novel ini dengan judul <em><strong>Teka-Teki Gambar Aneh</strong></em>. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku <em>Teka-Teki Rumah Aneh </em>karya Uketsu</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/">[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-rumah-aneh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2025 14:59:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8434</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre self-improvement. Bukan karena merasa self-nya sudah improve, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik. Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku self-improvement seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre <em>self-improvement</em>. Bukan karena merasa <em>self</em>-nya sudah <em>improve</em>, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku <em>self-improvement </em>seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah dengan membaca judulnya saja, Penulis sudah bisa membayangkan isinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, beda cerita ketika Penulis menemukan buku berjudul <em>Effortless </em>dari Greg McKeown ini. Ketika membaca sinopsis yang cukup panjang di bagian belakang buku, Penulis merasa ini adalah buku yang dibutuhkan saat ini. Untunglah, hal tersebut benar adanya. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini-banner.jpg 1280w " alt="Kalau Srimulat Masih Tayang Hari Ini" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini/">Kalau Srimulat Masih Tayang Hari Ini</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Effortless</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Effortless: Karena Tak Semua Harus Sesulit Itu</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-6</li>



<li>Tanggal Terbit: Juli 2025</li>



<li>Tebal: 320 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020658780</li>



<li>Harga: Rp98.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Effortless</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Apakah Anda pernah merasa seperti:</em></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><em>Berada tepat di tepi jurang lelah fisik dan mental?</em></li>



<li><em>Ingin berkontribusi lebih besar, tetapi kehabisan energi?</em></li>



<li><em>Sudah berlari lebih kencang tetapi tidak maju lebih dekat ke sasaran?</em></li>



<li><em>Segalanya terasa jauh lebih sulit daripada biasanya?</em></li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa jalan menuju sukses adalah jalan dengan kerja yang terus-menerus. Bahwa kalau ingin pencapaian tinggi, kita harus memaksa diri, terus memutar otak, dan berusaha sampai lewat batas. Jadi, kalau kita belum terkapar kelelahan, artinya usaha kita belum memadai.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Namun belakangan ini, kerja keras lebih menguras tenaga daripada sebelumnya. Dan makin berkurang energi kita, makin sulit kita meraih kemajuan. Terjebak di sebuah lingkaran setan “Zoom, eat, sleep, repeat,” kita sering bekerja dua kali lebih keras tetapi meraih hasil paling banyak setengah dari biasanya.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Untuk berada paling depan kita tidak harus mengerjakan sesuatu yang sulit. Apa pun tantangan atau rintangan yang kita hadapi, ada sebuah jalan yang lebih baik: alih-alih memaksa diri lebih keras, kita dapat menemukan jalan yang lebih mudah.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Effortless menawarkan saran yang dapat diterapkan untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan esensial dengan cara-cara paling mudah, agar anda bisa meraih hasil-hasil yang diinginkan, tanpa mengalami lelah fisik dan mental.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Effortless</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sinopsis yang cukup detail di atas (bahkan aslinya lebih panjang dari itu), kita sudah mendapatkan gambaran apa yang akan dibahas oleh buku ini. Singkatnya, buku ini mengajarkan beberapa cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya buku ini seperti sekuel untuk buku McKeown yang lain, <em>Essential</em>, yang sayangnya belum Penulis baca. Apalagi, di buku ini beberapa kali menyinggung buku tersebut. Walau begitu, kita tidak perlu membaca buku tersebut untuk bisa memahami buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian, di mana masing-masing akan di-<em>breakdown </em>menjadi lima subbab. Berikut adalah daftarnya:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian I: Keadaan Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat  berfokus lebih mudah</em>?)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dibalik: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Mudah?</li>



<li>Dinikmati: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Menyenangkan?</li>



<li>Dibebaskan: Dahsyatnmya Kesediaan Membebaskan</li>



<li>Diistirahatkan: Seni dalam Tidak Berbuat Apa pun</li>



<li>Diperhatikan: Bagaimana Melihat dengan Jelas</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang dimaksud Keadaan Tanpa Kesulitan adalah mengenai kondisi diri kita sendiri sebelum melakukan sesuatu. Ini adalah awal yang baik agar kita bisa lebih fokus dalam mengerjakan berbagai hal. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian II: Aksi Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat pekerjaan esensial lebih mudah?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Didefinisikan: Seperti Apa yang Disebut &#8220;Selesai&#8221;?</li>



<li>Dimulai: Aksi Nyata Pertama</li>



<li>Disederhanakan: Dimulai dari Nol</li>



<li>Kemajuan: Berani Tampil Buruk Rupa</li>



<li>Irama: Lambat Itu Mulus, Mulus Itu Cepat</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah keadaan kita berada di kondisi yang lebih baik, maka selanjutnya adalah memahami Aksi Tanpa Kesulitan. Bagian II bisa dibilang adalah inti dari buku ini, di mana kita diberi beberapa langkah praktis agar sesuatu bisa selesai secara efektif. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian 3: Hasil Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimnana kita mendapat hasil tertinggi dengan usaha paling sedikit?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dipelajari: Memanfaatkan Hal Terbaik yang Sudah Diketahui Orang Lain</li>



<li>Ditingkatkan: Memanfaatkan Kekuatan Sepuluh Orang</li>



<li>Diotomatiskan: Mengerjakan Satu Kali Saja dan Selanjutnya Otomatis</li>



<li>Dipercaya: Tim dengan Mesin Berefek Tuas Tinggi</li>



<li>Dicegah: Memecahkan Masalah sebelum Muncul</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah memperbaiki diri sendiri dan mengoptimalkan tindakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, selanjutnya adalah Hasil Tanpa Kesulitan. Bab ini menjelaskan cara untuk meningkatkan hasil yang diinginkan dengan upaya seminim mungkin.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Effortless</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Buku bergenre self-improvement akan Penulis anggap bagus apabila ada banyak hal praktis yang bisa dilakukan saat ini juga. Itulah mengapa Penulis memberi nilai yang cukup tinggi ke buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a></em>. Nah, <em>Effortless </em>ini juga mendapatkan apresiasi yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bagian pertama, kita akan diajak untuk mengelola kembali isi pikiran dan menyingkirkan hal-hal yang tidak esensial, mengelola emosi, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, bagian ini lebih terasa sebagai buku <em>self-love</em>. Semua berawal dari diri kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal paling praktis bisa ditemukan di bagian kedua, di mana ada banyak sekali hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk bisa membuat suatu aktivitas atau pekerjan terasa lebih mudah. Mungkin tidak banyak hal baru, tapi tetap saja tips yang diberikan sangat mudah dipraktekkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya di bab terakhir akan membahas mengenai beberapa tips untuk meningkatkan hasil setelah melakukan apa yang sudah dijelaskan di dua bab sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah membuat sistem, otomatisasi, hingga delegasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dirangkum, buku ini memang konsisten dengan judulnya, di mana setiap aktivitas yang kita lakukan (terutama yang esensial) bisa dikerjakan dengan <em>effortless</em>. Bukan cuma kerja keras, tapi juga kerja cerdas. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan tidak menggurui, sehingga kita yang membacanya pun jadi merasa <em>effortless </em>untuk memahami isi buku. Kita tidak perlu memeras otak untuk bisa memahami langkah-langkah yang ditawarkan oleh buku ini. Apalagi, ada banyak <em>study case </em>yang membuat kita lebih memahami isi buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang paling Penulis suka dari buku ini adalah adanya ringkasan di setiap akhir subbab, di mana makin ke belakang ringkasan ini makin lengkap. Ini sangat membantu kita untuk tetap mengingat apa saja yang sudah kita pelajari dari buku ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sentuhan kecil yang juga menarik dari buku ini adalah beberapa <em>quote </em>paling penting akan di-<em>highlight</em> dengan dibesarkan dan ditebalkan. Selain itu, ada juga beberapa ilustrasi yang membantu kita lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini Penulis rekomendasikan bagi siapapun yang kerap merasa <em>burnout </em>dengan pekerjaannya, sering merasa lelah secara mental, merasa pola hidupnya berantakan, dan berbagai permasalahan internal lainnya. Tentu, mempraktekkan isi bukunya menjadi hal paling penting.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 3 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca <em>Effortless </em>karya Greg McKeown</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2025 15:38:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hwang Bo-reum]]></category>
		<category><![CDATA[korea]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[slice-of-life]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8431</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang &#8220;toko buku&#8221; (atau kadang hanya &#8220;buku&#8221; saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada Welcome to the Hyunam-Dong [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/">[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang &#8220;toko buku&#8221; (atau kadang hanya &#8220;buku&#8221; saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada <em><strong>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</strong></em> karya <strong>Hwang Bo-reum</strong>. Yups, lagi-lagi penulis Asia, bedanya kali ini dari Korea Selatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika dan setelah membaca novel ini, Penulis berpikir, &#8220;oh, ternyata jadinya begini jika genre <em>slice of life </em>menjadi sebuah cerita.&#8221; Jadi, jangan harap akan menemukan konflik yang menegangkan atau plot twist yang mengejutkan di sini!</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>[SPOILER ALERT!!!]</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik-banner.jpg 1280w " alt="Sayang ya, Akhir Kisah Kita Kurang Baik&#8230;" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/sayang-ya-akhir-kisah-kita-kurang-baik/">Sayang ya, Akhir Kisah Kita Kurang Baik&#8230;</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> <em>(Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)</em></li>



<li>Penulis: Hwang Bo-reum</li>



<li>Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia</li>



<li>Cetakan: Ke-5</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 408 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020530444</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Young-joo, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan.</em> <em>Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan sinopsis di bagian belakang bukunya, <em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> berpusat pada toko buku kecil yang berada di daerah Hyunam-Dong. Pemiliknya adalah <strong>Yeong-ju</strong>, seorang perempuan yang berusia 30 tahunan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia tak sendirian di toko buku tersebut. Ada <strong>Min-joon</strong>, yang bekerja sebagai barista di sana. Lalu, ada <strong>Jimmy </strong>(ini karakter cewek!) yang menjadi <em>supplier </em>biji kopi untuk toko buku tersebut, yang juga menjadi teman dekat Yeong-ju.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu ada banyak pengunjung setia toko buku kecil yang nyaman tersebut, seperti anak SMA yang benama <strong>Min-Cheol </strong>beserta <strong>ibunya</strong> (yang namanya baru terkuak jelang akhir buku),<strong> Jung-seo </strong>yang hobi merajut, <strong>Seong-cheol</strong>, dan lain sebagainya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun berkesan &#8220;santai&#8221;, tentu masing-masing karakter memiliki masalahnya sendiri. Yeong-ju misalnya, mengalami <em>burnout </em>karena pekerjaan lamanya dan kegagalam rumah tangganya. Toko buku yang ia dirikan seolah menjadi sarana pelariannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tema pernikahan yang tidak bahagia juga dialami oleh Jimmy, sedangkan sang barista berada di krisis eksistensial karena merasa dirinya gagal. Toko buku kecil tersebut seolah menjadi semacam &#8220;oasis&#8221; bagi mereka dan pengunjung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk menghidupkan suasana toko buku, Yeong-ju membuat semacam berbagai acara di sana, termasuk bedah buku dan diskusi antara sesama pembaca buku. Ia bahkan mengundang penulis seperti <strong>Seung-woo </strong>yang sepertinya memiliki ketertarikan dengannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu semua dibalut dengan aktivitas ringan yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana obrolan-obrolan ringan keluar ketika bertemu kenalan di suatu tempat, bagaimana kita curhat ke teman yang kita percaya, bagaimana proses penerimaan diri, dan lain sebagainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, genre novel ini adalah <em>slice-of-life</em>. Mungkin baru kali ini Penulis membaca buku dengan genre seperti ini. Apakah Penulis menyukainya? Jawabannya iya dan tidak secara bersamaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai novel santai yang tidak terus-menerus menimbulkan rasa penasaran, <em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> adalah teman yang menarik terutama ketika kepala kita sedang penuh dengan berbagai permasalahan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi,<strong> gaya bahasanya juga terasa lembut dan <em>cozy</em></strong>, sehingga terkadang membuat Penulis merasa kalau novel ini seperti <em>lullaby </em>pengantar tidur. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, karena di satu sisi akan <strong>menimbulkan kesan membosankan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah yang Penulis rasakan selama membaca buku ini. Awal-awal membaca, Penulis merasa bersemangat untuk membaca tiap babnya secara perlahan dan menikmati aktivitas-aktivitas sederhana yang disajikan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, setelah lewat setengah buku, rasa bosan itu muncul sehingga proses menamatkan novel ini pun menjadi lebih lama. Apalagi, ceritanya lumayan <em>dragging</em>. Penulis bahkan sudah tidak seberapa ingat ada kisah apa saja yang sudah Penulis baca di novel ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita antarbabnya tidak <em>nyambung</em>, terutama di bagian awal-awal, seolah ceritanya berdiri sendiri-sendiri. Namun, makin ke belakang, buku ini semakin terasa linier dan utuh sebagai novel, bukan kumpulan cerita pendek.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, bisa dibilang <strong>novel ini tidak memiliki konflik utama</strong>. Konfliknya ya ada di masing-masing karakter, di mana sepanjang novel mereka mulai mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu menjadi lebih baik dalam menghadapi masalahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, konflik yang ada di novel ini lebih banyak ke <strong>pergulatan batin</strong> dibandingkan dengan konflik eksternal. Tidak ada cerita Yeong-ju pusing karena penjualan toko seret, yang ada bagaimana ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan dan terutama dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat yang sedang mengalami masalah internal, bisa jadi ada bagian-bagian di buku ini yang akan memberikan jawabannya. Mungkin bukan jawaban gamblang, tapi bisa menjadi inspirasi apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagian yang paling menarik bagi Penulis tentu saja mengetahui <strong>bagaimana Yeong-ju mengelola toko bukunya</strong>. Setiap aktivitas yang dia lakukan, baik sekadar merapikan rak buku ataupun membuat komunitas, berhasil Penulis bayangkan dengan baik</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin novel ini bisa memberikan rasanya nyaman untuk pembacanya yang merasa <em>related </em>dengan konflik di dalamnya. Sayangnya, Penulis tidak merasakan rasa nyaman itu, setidaknya setelah membaca cukup banyak halamannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, novel ini tetap Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang sedang mencari bacaan ringan. Walau latarnya di Korea Selatan, buku ini cukup terasa dekat, walau tidak sampai membuat kita merasa memiliki koneksi khusus dengan karakter-karakter di dalamnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></strong></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 2 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/">[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
