Connect with us

Pengalaman

Pengalaman Menjadi Tour Guide di Malang

Published

on

Pernah merantau ke Jakarta membuat Penulis memiliki banyak teman yang berasal dari sana. Tak sedikit dari mereka yang pernah mengutarakan keinginan mereka untuk berlibur ke Malang, yang tentu membuat Penulis merasa senang.

Pada akhirnya kesempatan untuk menjadi “tour guide” pun akhirnya kesampaian setelah mantan teman-teman sekantor membulatkan tekad untuk berlibur ke Malang, bukan hanya sekadar menjadi wacana.

Total ada empat orang yang akan berangkat dari Jakarta. Mereka adalah Naufal, Pandu, Dini, dan Tania. Pada tulisan kali ini, Penulis akan berbagi pengalamannya menjadi seorang “tour guide” untuk pertama kalinya.

Hari Kedatangan dan Hari Pertama

Kedatangan di Stasiun Malang

Rencana ini dimulai setelah lebaran, di mana Pandu dan Naufal sama-sama menghubungi Penulis dan mengatakan ingin main ke Malang. Lantas, mereka berdua saling menghubungi dan pada akhirnya akan ada 4 orang yang berangkat.

Setelah melewati berbagai diskusi, akhirnya diputuskan mereka akan liburan pada tanggal 13-17 Mei 2022. Mereka berempat akan berangkat dari Jakarta pada hari Jumat, 13 Mei 2022 malam, yang artinya akan sampai di Stasiun Malang pada Sabtu, 14 Mei 2022 pagi.

Penulis sempat salah melihat jam kedatangan mereka, di mana mengira kereta akan sampai pukul 8 pagi. Padahal, yang benar adalah jam 7 pagi. Untunglah Penulis sudah berangkat dari rumah lebih pagi, sehingga masih ada spare time dan bisa menjemput tepat waktu.

Setelah itu, kami berenam (beserta adik Penulis yang menyetir) berangkat ke rumah Penulis untuk istirahat sejenak sembari menunggu waktu check-in penginapan. Tentu di rumah ibu Penulis sudah menyiapkan sarapan untuk menjamu mereka.

Tragedi Masalah Penginapan

Penginapan yang Tidak Jadi

Selepas sarapan, istirahat, dan sedikit “ghibah”, kami pun segera berangkat ke penginapan yang berlokasi di Perumahan Ijen Nirwana. Berdasarkan foto dan deskripsi yang ada di aplikasi, penginapan tersebut berubah rumah yang memiliki tiga kamar.

(Yang menginap di penginapan ini hanya Naufal, Dini, dan Tania, sedangkan Pandu sudah memesan penginapan sendiri yang terletak di Jalan Semeru)

Hanya saja, setelah sampai di sana, ternyata tidak ada AC atau kipas angin di sana. Bagi (beberapa) teman-teman Penulis, tentu itu menjadi masalah yang besar. Apalagi, Malang sedang berada di suhu yang cukup panas.

Untuk itu, kami pun mulai mencari alternatif penginapan lain yang masih tersedia. Pencarian tersebut cukup sulit, mengingat saat itu memang sedang long weekend sehingga banyak yang berlibur. Untunglah, adik Penulis berhasil menemukan kamar kosong di Hotel Tychi yang dulunya bernama Hotel Kartika Graha.

Bakso Cak Man dan Lafayette

Di Lafayette

Sesampainya check-in dan bersih diri, kami pun langsung meluncur ke kuliner pertama yang harus dicoba ketika di Malang: Bakso. Pilihan kami jatuh di Bakso Cak Man yang terletak di dekat Rumah Sakit Lavalette.

Setelah itu, kami mampir ke Lafayette Coffee & Eatery. Respons mereka di kedua tempat tersebut kurang lebih sama: Murah dan Rasanya Enak. Jika dibandingkan dengan standar Jakarta, memang makanan di Malang masih relatif murah dan terjangkau.

Penulis dan adiknya tidak sampai malam mengantar mereka berkeliling karena kesehatan adik Penulis yang agak kurang fit. Akhirnya, pada sisa malam tersebut mereka berkeliling sendiri ke daerah Soekarno-Hatta dan menikmati street food yang ada di sana.

Hari Kedua

Berdasarkan agenda yang telah dibuat sebelumnya, hari kedua Penulis akan mengantar teman-temannya untuk pergi ke salah satu tempat wisata yang ada di Kota Batu. Di antara banyaknya pilihan, Jatim Park 3 menjadi tujuannya.

Berhubung adik Penulis sakit, maka perjalanan kali ini ditemani oleh adik Penulis yang pertama. Sekitar pukul 10 pagi, kami berdua menjemput teman-teman Penulis yang telah menanti di lobi hotel.

Masalah sudah muncul sejak awal karena dengan sembrononya Penulis lupa membawa STNK. Untungnya, tidak ada masalah yang terjadi gara-gara itu. Kami berenam pun masuk ke dalam Jatim Park 3 hanya beberapa menit setelah tempat itu buka.

Berhubung lagi musim liburan, jumlah pengunjung di sana pun cukup membeludak. Setelah berdiskusi, kami memilih untuk masuk ke The Legend Stars Park dan Dino Park. Dengan baik hati, tiket Penulis dan adiknya dibelikan oleh teman-teman.

The Legend Stars Park

Ceritanya di White House

Setelah beli susu Cimory, kami pun masuk ke The Legend Stars Park terlebih dahulu. Ternyata, tempat ini ala-ala Museum Madame Tussauds, di mana ada banyak figur penting yang dibuatkan patung lilinnya. Tentunya, kualitasnya tidak bisa dibandingkan.

Ada beberapa tema yang dimiliki oleh wahana ini, seperti Istana Presiden, kantor Presiden Amerika, beberapa tema negara seperti Korea dan Jepang, hingga tema yang general seperti olahraga dan film. Kesannya, tempat ini memang cukup campur aduk.

Ada beberapa memorabilia dari tokoh olahraga dan film terkenal, lengkap dengan tanda tangannya (entah asli atau tiruan). Ketika bertanya kepada salah satu staf di sana, ternyata beberapa barang yang ada di museum ini adalah koleksi pribadi dari pemilik Jatim Park 3.

Setelah puas berfoto di wahana ini (Naufal bahkan sampai menyewa kimono Jepang), kami melanjutkan wisata ke Dino Park. Sepengetahuan Penulis, ini adalah salah satu wahana yang kerap menjadi pembicaraan.

Dino Park

Wahana yang Sedikit Absurd

Sewaktu masuk ke dalam museum yang ada di dalam Dino Park, Penulis merasa masuk ke film Night at the Museum karena adanya fosil dinosaurus dengan skala 1:1. Tidak hanya satu, ada beberapa fosil dinosaurus yang cukup menarik untuk diamati.

Sayangnya, wahana Kereta 5 Zaman yang tampaknya menjadi salah satu ikon tempat tersebut sedang mengalami perbaikan, sehingga kami pun meneruskan perjalanan. Bisa dibilang, inti dari tempat ini adalah replika dinosaurus dengan beberapa tema, walau tidak terlalu banyak.

Ketika mencoba untuk memasuki wahana yang ramai antriannya seperti 3D Aquarium, ada perasaan menyesal karena pengalaman yang didapatkan tidak sebanding dengan lamanya waktu mengantre. Untuk itu, kami pun akhirnya menghindari wahana yang ramai lainnya.

Alhasil, kami pun hanya berjalan-jalan di sekitar taman dan mencoba beberapa wahana mainstream seperti yang ada di Jatim Park 1. Setelah merasa cukup lelah, kami pun keluar dari Dino Park dan beristirahat sejenak di luar.

Tragedi Bioskop 6D

Ada kejadian yang lucu ketika kami beristirahat di The Coffee Bean & Tea Leaf yang juga berlokasi di dalam Jatim Park 3. Waktu itu, Pandu ingin berkeliling sedikit dan mencoba beberapa mini wahana yang lain.

Rencanan awalnya, ia ingin mengunjungi Museum Musik. Namun, keinginan itu gagal terwujudkan karena tidak adanya penjaga walaupun ia sudah menunggu beberapa lama. Akhirnya, ia mengubah tujuan dengan mengunjungi Bioskop 6D.

Setelah selesai menonton di sana dan menghampiri kami, terlihat raut kusut di wajahnya. Ternyata, ia baru saja menyaksikan film paling buruk sepanjang hidupnya. Cerita dan animasi film di Bioskop 6D itu sungguh buruk. Kami pun hanya bisa tertawa mendengarnya.

Tragedi Mencari Tempat Makan

Niatnya Makan di Sini… (Suwatu)

Setelah seharian berkeliling Jatim Park 3, tentu perut kosong protes minta diisi. Destinasi utama kami adalah Kanvill Outdoor Grill & Coffee yang terletak di kecamatan Dau. Konsep grill di tempat outdoor jelas sangat menarik bagi teman-teman Penulis.

Sayangnya, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang disertai macet, ternyata tempatnya sudah penuh. Kalau mau menunggu, butuh waktu sekitar 2-3 jam. Berhubung sudah malam, kami pun memutuskan untuk pindah tempat.

Pilihan selanjutnya adalah Tahu Campur Pak Kumis yang terletak di Jalan Dinoyo. Ketika sampai di lokasi, parkirannya sudah penuh. Penulis pun mulai merasa panik, apalagi beberapa teman sudah diserang oleh asam lambung.

Tempat makan yang muncul di pikiran Penulis adalah Rawon Nguling yang cukup legendaris. Apesnya lagi, tempat tutup tersebut tutup. Siapa yang menyangka kalau tempat makan sebesar itu malah harus tutup di saat banyak turis datang ke Malang.

…Akhirnya Makan di Kamar Hotel

Saking frustasinya, akhirnya kami memilih McDonalds atau KFC Sarinah saja. Masalahnya, begitu mau masuk ke tempat parkirnya, lagi-lagi parkirannya penuh! Sepanjang Penulis tinggal di Malang, rasanya baru kali ini Penulis ditolak masuk ketika mau masuk ke Sarinah.

Bingung, Penulis terpikirkan untuk makan di Ayam Bakar Mbak Sri yang dekat Mal Olympic Garden. Naasnya, Gedung Kartini yang biasanya dibuka untuk parkir malah tutup. Mau cari tempat parkir yang kosong, lokasinya cukup jauh dari tempat makan.

Kami coba pindah ke Rumah Makan Meneer yang ada di Jalan Semeru. Apesnya lagi, ternyata tempat makan itu tutup dan diganti dengan angkringan yang pilihan menunya tinggal sedikit. Coba geser ke Ayam Goreng Pemuda, katanya sudah penuh.

Alhasil, kami pun memutuskan untuk makan McDonalds yang ada di pertigaan Kayutangan. Karena tempatnya yang ramai, kami memutuskan untuk takeaway dan makan di hotel. Bahkan masih saja ada kejadian buruk, di mana pesanan Pandu tidak dibuatkan.

Tragedi 47 Botol Air Mineral Vit

Ilustrasi Botol Vit (Twitter)

Sebelum menikmati McD di hotel, ada satu peristiwa unik lagi ketika sedang menanti pesanan. Penulis bersama Naufal, Tania, dan Dini pergi berbelanja di Avia untuk membeli beberapa makanan dan minuman.

Ketika di kasir, cicicici yang berjaga di kasir terlihat sedang asyik mengobrol dengan temannya. Naufal sedikit menguping pembicaraan tersebut, dan katanya tema yang sedang diobrolkan adalah masalah guna-guna.

Setelah selesai membayar, Naufal memanggil Penulis karena di kuintasi tertulis ada 47 botol air mineral Vit. Padahal, Naufal hanya membeli 4 botol. Penulis pun menghampiri cici-cici tadi dan mengonfir masih hal ini.

Sambil minta maaf, cici-cici tersebut meminta maaf kepada kami dan mengembalikan uang yang sudah dibayarkan secara tunai. Sepintas kami mendengar, kalau kejadian ini semakin mempertegas kekhawatiran guna-guna yang ditakuti oleh cici-cici tersebut.

Hari kedua liburan teman-teman Penulis di Jakarta ini memang penuh dengan tragedi dan kejadian-kejadian unik.

Hari Ketiga

Di Latar Ijen

Di hari ketiga, Pandu sudah perjalanan balik ke Jakarta karena dia tidak mengambil cuti di hari Selasanya. Lantas, sisanya kembali berwisata kuliner sendirian di siangnya karena Penulis baru bisa ke Malang sore hari. Untungnya, tidak ada tragedi lagi yang menimpa mereka.

Penulis menyusul mereka bertiga di Latar Ijen dan nongkrong sebentar di sana. Setelah itu, kami nyemil sebentar di Bakso Bakar Pahlawan Trip yang rasanya sudah jauh berkurang drastis dibandingkan terakhir kali Penulis ke sana.

Terakhir, Penulis mengantar mereka untuk membeli oleh-oleh di daerah Sanan. Makanan yang dibeli pun seputar keripik-keripik yang sudah menjadi ciri khas. Setelah itu, Penulis kembali mengantar mereka ke hotel sekaligus berpamitan karena besok Penulis tidak bisa mengantar mereka ke bandara.

Penutup

Bisa dibilang, perasaan Penulis cukup campur aduk dengan pengalamannya menjadi tour guide untuk pertama kalinya. Senang karena ada teman yang jauh-jauh datang berlibur dari Jakarta, sedih karena merasa belum bisa memberikan “service” yang optimal.

Pengalaman pertama ini jelas sangat berharga untuk Penulis agar bisa menjadi tour guide yang lebih baik jika nanti ada teman-temannya yang lain memilih Malang sebagai destinasi liburannya.

Semoga saja teman-teman Penulis tidak kapok ke Malang hanya karena kekurangan Penulis sebagai tour guide.


Lawang, 26 Juni 2022, terinspirasi setelah menjadi tour guide untuk pertama kalinya

Pengalaman

Saya Habis Kena Tipu, Waspadai Modus Ini

Published

on

By

Sejujurnya, Penulis merasa malu ketika menuliskan tulisan ini. Bagi Penulis, ini adalah pengalaman yang memalukan dan seharusnya bisa Penulis hindari. Apalagi, selama ini Penulis dengan angkuhnya merasa tidak mungkin kena penipuan.

Namun, setelah dipertimbangkan, ada baiknya Penulis membagikan hal ini agar yang lain tidak menjadi korban seperti Penulis (walau kerugiannya memang tidak seberapa). Ini juga sebagai pengingat bagi Penulis bahwa jangan merasa kita pasti tidak akan kena kasus penipuan.

Oleh karena itu, Penulis akan bercerita tentang kronologi kejadiannya selengkap mungkin, sekaligus memberi tanda-tanda mulai mana penipuan bisa dideteksi. Semoga kisah yang memalukan ini bisa menjadi pelajaran bersama.

Berawal dari Pembelian di Tokopedia

Kejadian penipuan yang Penulis alami terjadi pada hari Jumat, 12 Juni 2026, atau sekitar satu bulan yang lalu. Pada hari itu, sekitar siangnya, kebetulan Penulis membelikan casing untuk smartwatch Huawei milik ayah Penulis karena dimintai tolong melalui Tokopedia.

Nah, tiba-tiba malamnya sekitar jam 10, ketika Penulis masih bekerja, tiba-tiba ada pesan WhatsApp masuk. Pesan tersebut mengatasnamakan dari pihak ekspedisi. Kebetulan, waktu itu paket Penulis dikirim oleh JNE.

Inti dari pesan tersebut adalah ada kesalahan pengiriman, sehingga paket Penulis nyasar ke orang lain. Oleh karena itu, sang penipu mengatakan akan mengganti rugi barang yang salah kirim tersebut.

Penulis pun diberi semacam link yang jelas alamatnya tidak jelas. Mengingat nomornya tidak dikenal, harusnya Penulis sudah langsung curiga, bukan? Harusnya begitu, tapi entah mengapa Penulis lengah malam itu dan mengeklik link tersebut.

Mungkin, penulis lengah karena waktu itu sudah malam dan fokus Penulis sudah menurun. Namun, ada satu hal lagi yang membuat Penulis sempat percaya: pesan WhatsApp tersebut mencantumkan nomor resi paket Penulis beserta nama Penulis secara lengkap.

Kembali ke link. Jadi, setelah mengeklik link yang diberikan, Penulis melihat semacam halaman yang sangat mirip dengan halaman Tokopedia. Sebenarnya, beberapa kali link tersebut error dan memunculkan pesan Malware. Bodohnya, Penulis mengabaikan peringatan tersebut.

Penulis pun memasukkan nomor telepon dan PIN Tokopedia-nya di laman tersebut. Lalu, muncullah SMS masuk dari Tokopedia yang memberikan kode OTP (One-Time Password). Setelah sempat beberapa kali lamannya error, Penulis pun memasukkan kode OTP di laman tersebut.

Di sinilah kebodohan terbesar Penulis, bahkan ketika menuliskan paragraf di atas, rasa malu tiba-tiba muncul begitu hebatnya hingga dada terasa sesak.

Berlanjut ke Barcode BCA

Singkat cerita, intinya laman tersebut berkali-kali error, sehingga pihak penipu mengatakan akan melanjutkan proses melalui transfer via bank, bahkan sampai menelepon Penulis. Nah, di sini kecurigaan Penulis mulai muncul kalau ini benar-benar penipu dan secara sadar ingin mengerjai balik.

Sang penipu mengirimkan sebuah kode barcode yang katanya akan mengirimkan uang sejumlah nominal pembelian Penulis. Ketika ditanya Penulis menggunakan bank apa, Penulis menjawab BCA karena tahu kalau di rekening tersebut hampir tidak ada uangnya.

Percobaan pertama, barcode tersebut error, sehingga dikirimlah kode yang baru. Bedanya, kode yang baru ini jelas-jelas memperlihatkan nominal sekitar Rp9 juta, yang tentunya kita yang melakukan scan-lah yang melakukan pembayaran.

Menariknya, sang penipu mengatakan bahwa itu adalah jumlah saldo yang mereka miliki, dan Penulis diminta secara jujur untuk mentransfer hanya sejumlah pembelian Penulis. Tentu ironi, bagaimana seorang penipu berharap yang ditipu bisa jujur!

Walau begitu, Penulis pura-pura terjebak dalam permainannya. Penulis pura-pura tidak tahu kalau kita tidak bisa menerima uang dengan melakukan scan. Penulis pun melakukan scan barcode tersebut hingga memasukkan password di dalam aplikasi mBCA.

Lalu, apa yang terjadi? Tentu saja muncul notifikasi SALDO ANDA TIDAK CUKUP! Notifikasi tersebut Penulis bacakan kepada sang penipu, lalu ia mulai berkelit ini-itu yang intinya mau kirim barcode baru karena yang itu error. Penulis yang merasa cukup pun langsung mematikan telepon tersebut dan memblokir nomor sang penipu.

Kerugian yang Penulis Alami

Apakah sampai di situ? Ternyata tidak. Ingat kode OTP yang Penulis masukkan ke link di atas? Penulis baru sadar ketika menelepon bestie Penulis tentang kejadian tersebut, bahwa akun dan PIN Penulis digunakan untuk login di HP-nya dan memasukkan kode OTP yang Penulis masukkan di link tersebut.

Jadi, secara garis besar, link yang mereka kirimkan digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai nomor telepon dan PIN ke dalam database mereka, lalu mereka login menggunakan perangkat mereka sendiri menggunakan kode OTP yang Penulis masukkan.

Ketika Penulis mengecek emailnya (yang sebenarnya memang jarang dicek), ternyata memang ada notifikasi kalau ada perangkat Android yang mencoba masuk ke akun Tokopedia Penulis. Sayangnya, Penulis tidak memperhatikan waktu itu.

Untungnya, Penulis tidak menautkan segala jenis Paylater dan lain-lain, hanya ada GoPay. Lumayan, waktu itu tiba-tiba ada pembelian pulsa 50 ribu untuk nomor Axis sebanyak tiga kali, sehingga total kerugian yang Penulis derita adalah sekitar Rp150 ribu.

Selain itu, karena Penulis membuat laporan resmi ke pihak Tokopedia, akun Penulis di Tokopedia pun dinonaktifkan demi keamanan. Penulis sudah mengganti semua PIN (bahkan termasuk PIN aplikasi mBCA dan password email), tapi ternyata pembekuan akun tetap dibutuhkan.

Hingga kini, Penulis masih kehilangan akun Tokopedia-nya, karena proses pengembalian akun membutuhkan banyak dokumen penting. Mengingat Penulis baru saja ditipu, ada sedikit trauma sehingga memutuskan untuk membiarkan saja akun Tokopedia-nya tidak bisa digunakan.

Fakta menarik tambahannya, setelah kejadian tersebut, ada tiga nomor lain dengan menggunakan modus serupa yang mengirimi pesan WhatsApp ke Penulis. Karena sudah merasa cukup dengan pengalaman yang sudah dialami, Penulis pun langsung memblokir semuanya.

Penutup

Itulah kronologi kejadian bagaimana Penulis, yang selama ini merasa tidak bakal bisa kena tipu, ternyata bisa kena tipu. Dua hal yang meyakinkan Penulis, yakni nomor resi dan UI ala Tokopedia, ternyata bisa menurunkan kewaspadaan Penulis.

Penulis bahkan harusnya masih bisa bersyukur, karena kehilangan uang dalam nominal yang tidak terlalu besar plus akun Tokopedia-nya. Anggap saja akunnya hilang agar tidak impulsif belanja online.

Semoga tulisan di atas bisa menjadi pelajaran dan jangan sampai ada lagi yang tertipu seperti Penulis. Cukup Penulis saja yang mengalami penipuan dengan modus tersebut.


Lawang, 12 Juli 2026, terinspirasi karena ingin membagikan pengalamannya kena tipu

Continue Reading

Pengalaman

whatheFAN Punya Logo Baru di Tahun 2026 Ini

Published

on

By

Sama seperti tahun 2025 kemarin, tulisan pertama whatheFAN di tahun 2026 juga baru ditulis pada bulan Februari. Karena berbagai macam hal, menulis di blog ini belakangan justru menjadi beban bagi Penulis.

Penulis belum menghitung jumlah pasti berapa artikel yang ditulis sepanjang tahun 2025, tapi yang jelas tahun tersebut menjadi tahun terseret sejak blog ini dibuat pada tahun 2018.

Menyadari hal tersebut, tentu Penulis berusaha untuk mencari jalan keluar agar dirinya bisa kembali semangat menulis di blog. Jalan pertama yang Penulis ambil di awal tahun ini adalah memutuskan untuk mengganti logo whatheFAN.

Perubahan dari Whathefan! menjadi whatheFAN

Ketika pertama kali membuat blog ini, Penulis menuliskannya sebagai Whathefan!, dengan huruf kapital di huruf W dan tanda seru di akhir. Dulu, alasannya adalah karena nama tersebut seperti seruan terkejut dalam konotasi positif.

Kini, penulis memutuskan untuk melakukan sedikit rebranding. dengan mengubahnya menjadi huruf kecil semua di kata “whathe” dan kapital semua untuk kata “FAN”. Penulis juga menghilangkan tanda seru di akhir nama.

Makna dari perubahan ini adalah Penulis ingin kembali ke akar mengapa Penulis membuat blog ini, yakni sebagai wadahnya untuk menuangkan semua isi pikirannya sesuai dengan tagline yang diusung sejak awal.

Apa yang terpikir, apa yang tertuang

Salah satu alasan mengapa kegiatan menulis blog terasa menjadi beban adalah karena ekspektasi Penulis sendiri harus membuat tulisan sebagus dan sesempurna mungkin untuk Pembaca. Orientasinya jadi bergeser ke orang lain, bukan diri sendiri.

Oleh karena itu, penekanan kata “FAN” di logo adalah simbol untuk kembali berfokus kepada diri sendiri. Menulis di blog ini harus menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk Penulis, mong namanya juga hobi.

Makna Pergantian Logo whathefan

Penekanan kata “FAN” bukan hanya dari perbedaan jenis font, tapi juga pemilihan warna. Untuk kata “whathe”, Penulis menggunakan warna abu-abu (#d1d1d1) dan warna putih (#ffffff) untuk kata “FAN”.

Waktu membuat logo lama, Penulis hanya memilih satu font, yakni Stereofidelic dengan alasan terkesan seru dan asyik. Tak ada proses desain rumit, Penulis hanya menulis kata Whathefan! menggunakan font tersebut.

Nah, di logo baru ini Penulis menggunakan dua font yang berbeda, yakni Alice (Serif) untuk “whathe” dan Montserrat Bold (Sans Serif) untuk “FAN”. Dua jenis font ini cukup kontras dan Penulis anggap bisa melambangkan penekanan ke diri sendiri.

Awalnya, Penulis hendak menggunakan full Montserrat Bold dan italic untuk logo baru. Warna identitas hitam (#000000) juga berubah jadi merah (#9e0b0f) dan ada tambahan garis di bawah kata “FAN” sebagai penambahan penekanan.

Hanya saja, ketika dilihat-lihat, logo tersebut justru terlihat seperti logo Simpati atau Supreme versi KW. Ketika melakukan jajak pendapat singkat, logo tersebut juga dianggap jelek. Alhasil, Penulis pun mengubah desain logo tersebut menjadi seperti yang terlihat sekarang.

Logo Baru yang Batal Digunakan

Sebagai tambahan, bentuk font untuk isi artikel pun Penulis ubah ke Montserrat agar ada konsistensi. Semoga saja bentuk font ini bisa lebih nyaman untuk mata para Pembaca sekalian.

Logo Baru, Harapan Baru

Salah satu resolusi tahunan Penulis adalah semakin konsisten dalam menulis blog. Sayangnya resolusi tersebut sering berakhir gagal dan jumlah artikel tiap tahun justru mengalami penurunan yang menyedihkan.

Mengganti nama dan logo yang telah digunakan selama delapan tahun terakhir merupakan upaya Penulis untuk kembali membangkitkan semangat menulis blog seperti dulu lagi.

Anggap saja ini proses reset dan memulai lembaran baru, walau sebenarnya ya enggak baru-baru amat karena artikel-artikel lama juga masih ada. Mengingat Penulis sudah membuat 1.000 lebih artikel, ini adalah titik awal untuk 1.000 artikel selanjutnya.

Selain itu, Penulis juga ingin kembali membangkitkan akun Instagram blog ini yang sudah lama mati suri. Penulis ingin membuatnya sesederhana mungkin agar tidak menjadi beban baru. Tidak perlu CTA biar mampir ke blog ini, hanya versi yang lebih singkat saja.

Semoga saja harapan baru bersamaan dengan logo baru ini bisa membuat Penulis bisa kembali konsisten menulis di tahun 2026.


Lawang, 17 Februari 2026, terinspirasi setelah Penulis memutuskan untuk mengganti logo whathefan di tahun 2026 ini

Continue Reading

Pengalaman

Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban

Published

on

By

Melalui tulisan “Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan”, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.

Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.

Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.

Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban

Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (George Milton)

Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: sedang ada banyak masalah, rasa malas, hingga merasa jenuh. Mari kita berangkat dari sana.

Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.

Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.

Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.

Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki niche yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi angle yang digunakan jelas berbeda.

Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala overthinking.

Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.

Alasan pertama, Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis. Di Notion Penulis, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.

Idealnya, sesuai tagline blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. Mood untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.

Alasan kedua, Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.

Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.

Alasan ketiga, pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.

Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat caption. Penulis tidak membuat video ataupun long carousel. Mungkin memang pada dasarnya malas saja.

Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya

Mencoba Lebih Spontan (Andrea Piacquadio)

Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang refreshing dan menyenangkan.

Pertama, menghilangkan penjadwalan artikel. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (uhuy!) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu blank tidak tahu ingin menulis apa.

Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang streak yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.

Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel review buku dan board game yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.

Kedua, segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran. Penulis harus membuang konsep “First In First Out” di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.

Ketiga, menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.

Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.

Keempat, melakukan reset. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya “mau nulis apa hari ini?” setiap membuka laptopnya.

Kelima, memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.

Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan rutinitas pagi. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan menghilangkan insomnianya.

Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.

Keenam, membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan task tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.

Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani.

Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan…


Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban

Foto Featured Image: Ivan Samkov

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018