Chapter 18 Kompetisi untuk Harga Diri

Kelas akselerasi seringkali dianggap kelas yang dianggap minor dalam bidang olahraga karena kami hanyalah sekelompok kutu buku yang hanya menghabiskan waktu untuk belajar dan belajar. Stereotip macam ini yang ingin dihilangkan oleh ketua kelas kami, Bejo, dalam menghadapi lomba peringatan kemerdekaan Indonesia. Hal ini ia sampaikan setelah rapat antar ketua kelas.

“Meskipun kita anak akselerasi yang dianggap lemah dalam olahraga, dalam kesempatan ini kita harus berusaha dan menunjukkan bahwa kita juga bisa berprestasi di bidang non akademik.” kata Bejo dengan semangat membara.

Meskipun ia nampak selalu memusuhiku, dalam melaksanakan tugas sebagai ketua kelas bisa dibilang Bejo sangat bisa diandalkan. Tidak pernah terlambat memberi informasi, menjadi perantara antara guru dan murid, serta tidak pernah menyerah memberikan motivasi untuk menyemangati dalam hal apapun adalah buktinya, walapun bagiku –dan mungkin sebagian teman lainnya– ia terlalu berlebihan dalam menjalani tanggungjawabnya.

“Tahun ini akan ada dua lomba, pertama lomba futsal untuk putra dan lomba basket untuk putri. Lomba akan diadakan pada tanggal 15 dan 16 Agustus, sehingga kita memiliki waktu persiapan sekitar dua minggu.” tambahnya lagi.

“Tapi Jo, bukannya kita sedang banyak-banyaknya tugas ya?” Ve memotong pembicaraan.

“Memang iya, tapi itu bukan penghalang kita untuk berusaha semaksimal mungkin untuk mengukir prestasi di bidang olahraga. Even ini termasuk salah satunya, sebagai ajang pembuktian!” jawab Bejo tak mau kalah.

“Kalau yang cowok sih mungkin bisa futsal, tapi kalau yang cewek, siapa diantara kita yang bisa basket?” sekarang Sica yang bertanya.

“Dea bisa mengajar kalian, tenang saja. Betul kan De?”

“Aye aye kapten!” jawab salah satu dari si kembar tersebut. Nampaknya diantara para wanita, hanya Dea yang bersemangat mengikuti perlombaan.

“Nanti kalau kita kecapekan karena latihan, terus kapan belajarnya?” kini Rena yang mengutarakan ketidaksetujuannya.

“Untuk masalah itu, aku sudah berkonsultasi dengan Kenji, dan ia sudah menemukan jadwal yang sesuai dengan kita.”

Mendengar nama Kenji, berbagai suara ketidaksetujuan mulai sirna. Mungkin karena mereka paham Kenji hampir bisa menyelesaikan semua permasalahan yang ada, maka mereka segan ketika Bejo mengucapkan namanya. Bisa dibilang, itu merupakan strategi politis yang cerdik.

Kenji berdiri dari bangkunya, dan mulai membicarakan rencananya. Intinya, Kenji paham bahwa tidak mungkin kita latihan tiap sore karena kesibukan sekolah. Namun Kenji setuju, ajang perlombaan ini bisa membuktikan bahwa anak akselerasi bukan sekedar pelahap materi pelajaran. Ia menambahkan bahwa personil kelas tahun ini jauh lebih baik dari tahun kemarin, yang hanya memiliki tiga orang laki-laki di kelas. Ini merupakan kesempatan langkah untuk menunjukkan eksistensi anak akselerasi.

Lenyaplah sudah suara-suara keberatan yang tadi memenuhi langit-langit kelas.

***

Kelas kami terdiri dari enam laki-laki dan sembilan perempuan, dimana tiap lomba terdiri dari lima orang. Artinya, untuk futsal terdiri dari lima pemain inti dan hanya satu cadangan, sedangkan basket terdiri dari lima pemain inti dan empat pemain cadangan, atau bisa dianggap hanya tiga karena aku yakin Sarah tidak akan sudi untuk berpartisipasi. Tentu ini kondisi yang memberatkan, mengingat kelas lain terdiri dari sekitar 36 murid.

Jadwal yang dibuat Kenji menyesuaikan dengan jadwal kami, terutama anak-anak yang kursus sepulang sekolah. Setelah melakukan wawancara singkat, Kenji mengambil kesimpulan bahwa untuk perempuan akan dibagi menjadi dua kloter, kloter pertama latihan hari Senin dan Rabu dan kloter kedua hari Kamis dan Sabtu. Kloter pertama terdiri dari Rika, Gita, Sica dan Rena. Kloter kedua terdiri dari Yuri, Nita dan Ve. Dea sebagai kapten tim basket akan selalu datang latihan, karena ia hanya kursus di malam hari.

Untuk laki-laki lebih mudah untuk membuat jadwalnya. Kami latihan hampir setiap hari kecuali hari Senin, Rabu, dan Jum’at. Hari Minggu dipilih sebagai hari latihan bersama yang lebih bertujuan untuk meningkatkan stamina tubuh. Kami tidak harus terpatok dengan jadwal ini, sehingga kami bisa ikut latihan kapanpun. Aku merupakan salah satu anggota kelas yang memutuskan untuk ikut setiap latihan yang diselenggarakan.

Latihan dilakukan di lapangan dekat rumah Kenji. Untunglah Kenji sangat akrab dengan tetangganya, sehingga ijin penggunaan lapangan bisa dengan mudah didapat. Rumah Kenji sendiri dijadikan sebagai markas sementara kelas kami. Aku yang merasa memiliki kekuatan karena sering berkelahi memutuskan untuk berusaha semaksimal mungkin karena sepakat dengan visi yang dikejar oleh Bejo. Aku akan joging setiap pagi sebelum berangkat sekolah untuk menggenjot staminaku yang sebenarnya sudah sangat prima ini.

***

Awal bulan Agustus bertepatan dengan hari Minggu, sehingga kami bisa melakukan latihan bersama seperti yang direncanakan. Baru kali ini aku melihat teman-teman menggunakan pakaian bebas. Yang jelas, beberapa dari teman wanita terlihat lebih cantik dengan busana kasual, termasuk Sica.

Anak kelas kami bisa dibilang sangat menghargai waktu sehingga mereka sangat disiplin. Hal tersebut bisa dilihat hari ini, ketika sepakat latihan dimulai jam enam, maka mereka sudah datang setidaknya lima belas menit sebelumnya. Ada yang diantar, ada yang menggunakan kendaraan umum, ada yang membawa kendaraan sendiri. Kami berempat belas, karena Sarah terbukti tidak peduli dengan even ini, terlihat sangat bersemangat dalam mengikuti acara ini. Latihan kali ini dipimpin oleh Bejo sendiri.

Sekitar dua jam kami melakukan latihan-latihan fisik yang lumayan menguras bagi yang tidak pernah berolahraga. Kami semua beristirahat di lapangan karena matahari belum terlalu terik. Di saat kami beristirahat di lapangan inilah adikku, Gisel, datang menghampiri kami.

“Gisel, di sini.” justru Kenji yang menyapa adikku lebih dulu.

Gisel mendengar suara Kenji dan dengan tersenyum ia berlari ke arah kami. Semua mata memandang ke arahnya dan mungkin menganggap Gisel adalah adiknya Kenji.

“Kakak di mana kak?” tanya Gisel ketika sampai di hadapan Kenji.

“Itu, ada di sebelah kakak cantik disana.” jawab Kenji sambil menunjuk ke arahku.

Dengan reflek aku menoleh siapa yang ada di sebelahku karena tadi asal duduk saja. Ternyata Sica yang ada di sebelahku, tersenyum ketika aku menoleh ke arahnya.

“Itu adikmu Le?” tanya Sica seusai melepas senyumnya.

“Iya Sica, dia adikku.” jawabku datar, atau berusaha tetap datar.

“Kenalin dong ke kita.” pintanya.

“Kakak, Gisel bawain minum buat kakak.” kata Gisel setelah setengah berlari menuju ke arahku.

Terdengar gumamam yang menunjukkan kekaguman terhadap kebaikan Gisel terhadap kakaknya yang terkenal jahat ini. Aku pun tersipu malu dengan semua mata yang menatap kami berdua, namun aku tetap berusaha tersenyum ke Gisel sembari mengucapkan terima kasih. Lalu aku memintanya untuk memperkenalkan dirinya ke teman-teman.

“Halo kakak-kakak semua, namaku Gisella Margaret Spencer, usia sembilan tahun, cita-cita mau jadi guru.” Gisel memperkenalkan dirinya dengan kepolosannya yang khas.

“Gisel sekolah di mana?”

Pertanyaan itu diberikan oleh Gita, dan ia pun langsung terdiam, kebingungan bagaimana menjawabnya. Aku pun tidak tahu harus menjawab apa karena sibuk menahan emosi mendengar pertanyaan sensitif tersebut. Untunglah, Kenji dengan tanggap menjawab pertanyaan tersebut.

“Sebenarnya Gisel homescholling Git karena Gisel memiliki kecerdasan diatas teman-temannya.”

Teman-teman pun mengangguk-angguk, Gisel pun berhasil menghilangkan kebingungannya tadi. Jawaban yang sangat cerdas dari Kenji sekaligus jujur, karena memang Gisel belajar di rumah oleh dua guru privat, aku dan Kenji. Setelah itu, Gisel pun menjadi obyek teman-teman untuk bertanya ini dan itu. Aku hanya sibuk memperhatikan mereka, ketika Sica memulai percakapan denganku.

“Nampaknya kalian sangat akrab ya.”

“Begitukah? Syukurlah kalau begitu.”

“Senang ya punya saudara, aku anak tunggal sih, jadi kurang tahu rasanya punya saudara.”

“Kau boleh mengganggap Gisel sebagai adikmu, jika dirimu berkenan.”

“Ah, mana mau Gisel punya kakak jelek kayak aku, hahaha.”

Aku hanya tersenyum mendengar celetukan Sica. Rasanya tidak mungkin aku menjawabnya dengan “tidak Sica, kamu cantik, bahkan wanita tercantik yang pernah kutemui”. Kami berdua pun memutuskan untuk berdiam diri sembari melihat adikku menjadi pusat perhatian.

***

Latihan hari ini ditutup dengan pembahasan strategi yang nantinya akan digunakan ketika pertandingan. Rapat basket akan dipimpin oleh Dea, sedangkan untuk futsal dipimpin oleh Bejo. Karena matahari sudah semakin terik, kami bergeser ke rumah Kenji yang mungil. Disinilah untuk pertama kalinya teman-teman tahu latar belakang keluarga Kenji. Mengetahui kenyataan ini, aku akan berusaha agar teman-teman tidak pernah mampir ke rumahku agar mereka tidak bertanya tentang keluargaku.

“Kita hanya ada enam orang, sehingga kita tidak boleh terlalu menguras tenaga di awal pertandingan.” Bejo memulai pembicaraan strategi.

“Tapi Jo, model seperti aku ini mana bisa bermain dengan bagus.” Pierre yang bertubuh kurus mengajukan keberatan.

“Tidak masalah, kita akan menggunakan strategi counter attack yang cepat, dimana empat orang akan menjaga pertahanan dan satu orang menyiapkan serangan. Kita butuh orang tercepat, dan pilihan itu jatuh kepada Andra.”

“Aye aye kapten.” ujar Andra bersemangat.

“Dilihat dari hasil latihan pagi ini, mohon maaf, terlihat bahwa yang staminanya kurang adalah Pierre dan Kenji, jadi kemungkinan kalian akan bermain secara bergantian.”

“Santai saja Jo, aku sangat paham kok.” Kenji berusaha membuang rasa tidak enak yang dirasakan Bejo.

“Aku juga tidak masalah kok Jo, seandainya kita berjumlah lebih banyak, aku enggak bakalan deh ikut futsal-futsal gini.” Pierre menambahkan.

“Oke bagus, nanti dua pemain akan berperan sebagai center back, dan dua sisanya menjadi bek sayap. Aku rasa yang paling cocok dengan posisi tengah adalah aku dan Leon karena kami sama-sama bertubuh kuat. Sedangkan Juna, Kenji dan Pierre akan menjadi bek sayapnya yang bertugas membayang-bayangi lawan dan mempersempit ruang tembak lawan.”

Disini terlihat profesionalitas Bejo sebagai pemimpin. Meskipun secara personal ia kurang menyukaiku, ia sama sekali tidak memasukkan emosi tersebut dalam strateginya. Jika mengikuti emosi, tentu ia tidak akan mau berpasangan denganku menjaga gawang mini yang digunakan untuk lomba ini. Sifat ini membuatku sangat respek kepadanya. Semoga saja setelah kompetisi untuk harga diri ini berakhir, hubungan kami bisa membaik.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.