<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bahagia Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bahagia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bahagia/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Sep 2025 15:22:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>bahagia Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bahagia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2025 15:22:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8409</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapa yang tidak ingin bahagia? Penulis rasa sudah fitrahnya manusia untuk merasa bahagia selama dia hidup. Walaupun definisi bahagia orang bisa berbeda-beda, sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan. Jika disuruh mendeskripsikan apa itu bahagia, jujur Penulis sedikit kebingungan mendefinisikan versi Penulis. Mungkin karena tidak memahami apa makna dari kebahagiaan inilah Penulis jadi jarang merasa bahagia. Karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/">Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Siapa yang tidak ingin bahagia? Penulis rasa sudah fitrahnya manusia untuk merasa bahagia selama dia hidup. Walaupun definisi bahagia orang bisa berbeda-beda, sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan.</p>



<p>Jika disuruh mendeskripsikan apa itu bahagia, jujur Penulis sedikit kebingungan mendefinisikan versi Penulis. Mungkin karena tidak memahami apa makna dari kebahagiaan inilah Penulis jadi <a href="https://whathefan.com/olahraga/kunci-bahagia-jangan-jadi-fans-manchester-united/">jarang merasa bahagia</a>.</p>



<p>Karena merasa kesulitan mendefinisikan kebahagiaan, Penulis mencoba untuk berpikir sebaliknya. Bagaimana jika kita mencari apa yang membuat kita tidak bahagia, karena lebih mudah untuk diidentifikasi? </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3/">Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Memahami Apa Penyebab Ketidakbahagiaan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8412" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kita Lebih Mudah Tidak Bahagia daripada Bahagia (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-leaning-at-the-table-3209117/">Engin Akyurt</a>)</figcaption></figure>



<p>Tentu banyak hal yang bisa membuat kita tidak bahagia. Namun, jika dirumuskan dalam satu kalimat, Penulis meyakini kalau ketidakbahagiaan muncul ketika <strong>gambaran ideal yang ada di kepala tidak menjadi kenyataan</strong>.</p>



<p>Misalnya begini. Bagi Penulis, secara ideal Penulis harus bisa bangun pagi yang dilanjutkan dengan lari pagi. Setelah itu, mandi pagi, menulis artikel blog, baru mulai bekerja. Jika semua rangkaian tersebut tidak terlaksana, Penulis merasa gagal, dan akhirnya tidak bahagia</p>



<p>Contoh lain, bagi Penulis penghasilan yang ideal adalah 20 juta rupiah per bulan. Namun, hingga saat ini Penulis belum bisa mencapai nominal tersebut. Karena tidak sesuai dengan gambaran idealnya, Penulis pun jadi merasa tidak bahagia.</p>



<p>Sekarang Penulis mengambil contoh gambaran ideal ke orang lain. Misal kita punya gambaran ideal tentang pasangan di kepala: perhatian, peka, pendengar yang baik, loyal. Nah, ketika mendapatkan pasangan yang tidak sesuai dengan gambaran ideal tersebut, kita tidak bahagia.</p>



<p>Dengan kata lain, kita harus <strong>pandai-pandai mengelola ekspektasi yang ada di kepala kita</strong>, entah itu ekspektasi ke diri sendiri maupun ke orang lain. Tentu bukan berarti kita jadi punya target yang rendah dalam hidup, tapi lebih bisa menerima jika target tersebut belum bisa dicapai.</p>



<p>Sejujurnya karena tulisan ini lama ditunda, Penulis lupa di mana menemukan konsep di atas. Kemungkinan besar dari buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">Filsafat Kebahagiaan</a></em>, tapi Penulis tak bisa memastikan. Jadi, anggap saja benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bersyukur Setiap Kali Mengeluh</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8414" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Selalu Cari Apa yang Bisa Disyukuri (<a href="https://www.pexels.com/photo/crop-faceless-sportswoman-showing-namaste-gesture-4498156/">Kaboompics.com</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam buku <em>Effortless </em>karya Greg McKeown yang sedang dibaca, Penulis menemukan satu konsep yang menarik. Dalam salah satu babnya, kita diajak<strong> membiasakan diri untuk mensyukuri sesuatu setiap kali kita mengeluh</strong>.</p>



<p>Kalau Penulis tarik, ini bisa Penulis kaitkan dengan bahasan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan di tulisan ini. Keluhan identik dengan ketidakbahagiaan, sedangkan rasa syukur identik dengan kebahagiaan.</p>



<p>Misal begini, kita mengeluhkan betapa banyaknya kerjaan yang terasa tidak masuk akal untuk kita kerjakan sendiri. Alhasil kita jadi merasa tidak bahagia, karena menurut gambaran ideal kita, seharusnya kita tidak mengerjakan tugas sebanyak itu.</p>



<p>Nah, begitu terbesit keluhan tersebut, coba kita cari satu hal saja yang bisa disyukuri tentang pekerjaan tersebut. Setidaknya, kita masih punya pekerjaan di tengah badai PHK di banyak tempat dan kondisi ekonomi seperti ini. </p>



<p>Contoh lain, kita merasa sebal karena pasangan kita kurang pengertian dan kurang peka. Dari keluhan tersebut, coba cari hal yang bisa disyukuri darinya. Oh, walau dia gitu, tapi dia setia banget dan selalu mau membantu di kala kita kesusahan.</p>



<p>Kalau mengingat hal-hal yang bisa disyukuri, gambaran ideal di kepala pun akan menyesuaikan diri. Dengan demikian, kita akan mencocokkan realita dengan bayangan ideal kita, sehingga kita bisa merasa bahagia.</p>



<p>Jadi, jika disimpulkan, maka kebahagiaan adalah ketika <strong>kita bisa mengelola gambaran ideal yang ada di kepala kita</strong>. Kebahagiaan adalah ketika <strong>kita bisa mengelola ekspektasi kita dengan baik</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan lupa bahagia</a>!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 17 September 2025, terinspirasi karena merasa dirinya perlu mendefinisikan ulang mengenai apa itu kebahagiaan</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-woman-wearing-white-shirt-2701660/">Jorge Fakhouri Filho</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/">Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Dec 2024 16:31:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8149</guid>

					<description><![CDATA[<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara sederhana. Penulis sudah pernah <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">membaca satu bukunya</a>, sehingga ketika tahu ada buku baru, Penulis membelinya.</p>



<p>Berjudul <em><strong>Filsafat Kebahagiaan</strong></em>, buku ini langsung mencuri perhatian Penulis karena konsepnya yang terfokus pada satu topik: <strong>kebahagiaan</strong>. Ini adalah topik menarik untuk didalami, karena kita sebagai manusia kerap bingung mendefinisikan apa itu kebahagiaan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/spider-man-spider-verse-animated-film-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/spider-man-spider-verse-animated-film-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/spider-man-spider-verse-animated-film-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/spider-man-spider-verse-animated-film-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/spider-man-spider-verse-animated-film-banner-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/spider-man-spider-verse-animated-film-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton Spider-Man: Into the Spider-Verse" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-spider-man-into-the-spider-verse/">Setelah Menonton Spider-Man: Into the Spider-Verse</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Filsafat Kebahagiaan</em></li>



<li>Penulis: Fahruddin Faiz</li>



<li>Penerbit: Mizan Pustaka</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2024</li>



<li>Tebal: 288 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024413323</li>



<li>Harga: Rp89.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p><em>Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya, makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu, boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka, layak sekali kalau orang bertanya: apa, sih, bahagia itu sebenarnya? </em></p>



<p><em>Empat orang bijak—Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram—menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat, dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya. </em></p>



<p><em>Buku ini bakal memberi pencerahan bagi Anda yang mencari kebahagiaan sejati. </em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini akan mengulas filsafat kebahagiaan dari sudut pandang empat tokoh: <strong>Plato</strong>, <strong>al-Farabi</strong>,<strong> al-Ghazali</strong>, dan <strong>Ki Ageng Suryomentaram</strong>. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda untuk mendefiniskan kebahagiaan.</p>



<p>Plato sebagai salah satu filsuf dari Yunani kuno tentu meletakkan fondasi untuk memahami kebahagiaan. Lalu, pemikiran tersebut dijabarkan lagi melalui pendekatan Islam melalui al-Farabi dan al-Ghazali yang lebih sufi. </p>



<p>Penulis secara pribadi tertarik dengan keputusan Faiz untuk memasukkan Ki Ageng Suryomentaram, yang tentu saja menyelipkan filsafat-filsafat Jawa. Dengan demikian, buku ini berisi filsafat Barat, Islam, dan Jawa.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Plato</h3>



<p>Kalau menurut Plato, hakikat manusia adalah jiwanya, badan hanya manifestasi dari jiwa. Secara singkat, menurut Plato jiwa itu mengandung tiga unsur (di mana ketiga unsur ini dipengaruhi ole Eros atau cinta), yaitu: </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Epithumia</strong>: Lambang nafsu manusia yang rendah, seperti makan, minum, seks</li>



<li><strong>Thumos</strong>: Lambang hasrat, ambisi, atau harga diri, seperti afektivitas, rasa semangat, agresivitas</li>



<li><strong>Logistikon</strong>: Lambang akal, rasio, </li>
</ul>



<p>Ketiga unsur inilah yang akan memengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang menurut Plato. Apabila kita bisa mengendalikan ketiganya dan mampu menetapkan batasan, maka kita akan bisa menemukan kebahagiaan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Farabi</h3>



<p>Nah, konsep kebahagiaan yang diungkap oleh Plato bersifat indidualis. Menurut al-Farabi, kebahagiaan itu juga butuh hubungan sosial. Selain itu, kenikmatan yang punya nilai ibadah akan punya kualitas kebahagiaan yang lebih awet.</p>



<p>Ada satu <em>quote </em>yang cukup menohok di bagian al-Farabi,&#8221;Tuhan menciptakan kita untuk bahagia. Kalau mudah galau, Anda melecehkan Tuhan.&#8221; Tentu ini akan membuat kita jadi termenung dan berusaha bersyukur atas apapun yang sudah kita dapatkan hingga saat ini.</p>



<p>Bahagia menurut al-Farabi akan tercapai ketika jiwa terimplementasikan secara optimal. Caranya adalah dengan mengoptimalkan daya gerak, daya mengetahi, dan daya berpikir yang sudah menjadi fitrah manusia. </p>



<p>Jangan lupa, kebahagiaan juga harus didapatkan dari kebahagiaan sosial. Bukan hanya dari lingkup keluarga atau pertemanan, tapi juga dari negara. Bayangkan saja jika kita memiliki kehidupan yang baik, tiba-tiba negara merusaknya, maka kebahagiaan itu bisa hilang.</p>



<p>Oleh karena itu, menurut al-Farabi kunci kebahagiaan itu dipegang oleh filsuf, ulama, dan pemimpin negara. Kalau dari sendiri, kita harus bisa menakhlukkan jiwa untuk tercapai jiwa yang tenang dan terus melakukan perilaku utama atau kebajikan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Ghazali</h3>



<p>Kalau menurut al-Ghazali, kunci kebahagiaan itu adalah dengan mengenali diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, kita juga akan bisa menemukan citra Tuhan dan mengenal Tuhan lebih dekat lagi.</p>



<p>Mirip dengan Plato, al-Ghazali menyebut manusia memiliki tiga unsur, yakni unsur hewan, setan, dan malaikat. Untuk bisa bahagia, manusia harus bisa mewaspadai syahwat dan amarah, serta terus mencari ilmu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Ki Ageng Suryomentaram</h3>



<p>Beda lagi dengan pendapatnya Ki Ageng Suryomentaram. Menurut beliau, rumus kebahagiaan itu bisa disingkat sebagai 6S yang intinya mengajak kita untuk hidup sederhana, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Sakbutuhe (sekadar kebutuhan)</li>



<li>Sakperlune (sekadar keperluan)</li>



<li>Sakcukupe (sekadar kecukupan)</li>



<li>Sakbenere (sekadar kebenaran)</li>



<li>Sakmesthine (sekadar kepantasan/keharusan)</li>



<li>Sakpenake (sekadar kenyamanan/kenikmatan)</li>
</ol>



<p>Mirip dengan al-Ghazali, syarat bahagia versi Ki Ageng adalah mengerti diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Untuk bisa melakukannya, kita harus bisa hidup saat ini (<em>saiki</em>), di sini (<em>ing kene</em>), dan seperti ini (<em>ngene</em>).</p>



<p>Ki Ageng juga menekankan kalau kebahagiaan itu harus tergantung oleh kondisi internal tanpa tergantung dengan kondisi eksternal. Kita juga harus bisa mengendalikan keinginan diri, entah kesenangan fisik, reputasi, maupun status sosial.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Selama hampir tujuh tahun menulis artikel ulasan buku di blog ini, rasanya baru kali ini bagian &#8220;Isi Buku&#8221; sepanjang sekarang. Salah satu alasannya adalah agar Penulis bisa mengingat apa saja isi dari buku ini, yang menurut Penulis sangat penting untuk kehidupannya.</p>



<p>Walau sudah menulis sepanjang itu, percayalah bahwa masih ada banyak bagian yang tidak Penulis banyak. Buku ini memang tergolong tipis, tapi isinya sangat padat dan daging semua. Karena begitu menarik, Penulis bisa menyelesaikan buku ini dengan cukup cepat.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di awal, buku ini benar-benar menggambarkan ciri khas Fahruddin Faiz yang bisa menyampaikan hal berat menjadi ringan sehingga bisa dipahami oleh semua orang, bahkan yang asing dengan dunia filsafat sekalipun.</p>



<p>Kata filsafat yang selama ini terkesan mengerikan berhasil diubah menjadi menyenangkan dan terkesan santai untuk dipelajari. Sama sekali tidak ada penjelasan yang <em>njelimet </em>yang membuat kita harus membaca ulang lagi.</p>



<p>Lantas, apakah buku ini akan membuat kita langsung paham apa itu kebahagiaan? Tentu tidak semudah itu. Pada akhirnya, kebahagiaan itu tanggung jawab kita sendiri. Buku ini hanya hadir untuk membantu kita menemukan kebahagiaan itu.</p>



<p>Bahagia adalah bagian dari diri manusia, dan sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan dengan cara-cara yang benar. Manusia sudah sewajarnya merasa bahagia, karena itu adalah fitrah kita sebagai manusia.</p>



<p>Semoga saja makin banyak topik-topik filsafat lain yang akan diulas oleh Fahruddin Faiz, dengan mempertahankan gaya bahasanya yang mudah dicerna. Saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Filsafat Moral</em>, yang juga akan tandas dalam waktu dekat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Desember 2024, terinspirasi setelah membaca <em>Filosofi Kebahagiaan</em> karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Jun 2024 12:01:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Seneca]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[Yunani Kuno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7305</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau sering membaca ulasan buku di blog ini, mungkin Pembaca menyadari kalau Penulis cukup menggemari buku-buku stoik. Beberapa buku yang pernah dibaca adalah Stoik: Apa dan Bagaimana dan Filosofi Teras. Walaupun sudah mengetahui konsep dasarnya, Penulis merasa tetap perlu untuk membaca referensi lagi untuk semakin mendalami salah satu cabang filsafat ini. Seperti kata pepatah, semakin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/">[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kalau sering membaca ulasan buku di blog ini, mungkin Pembaca menyadari kalau Penulis cukup menggemari buku-buku stoik. Beberapa buku yang pernah dibaca adalah <em><a href="Stoik: Apa dan Bagaimana">Stoik: Apa dan Bagaimana</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em>.</p>



<p>Walaupun sudah mengetahui konsep dasarnya, Penulis merasa tetap perlu untuk membaca referensi lagi untuk semakin mendalami salah satu cabang filsafat ini. Seperti kata pepatah, semakin kita tahu, semakin sadar kalau yang tidak kita diketahui selalu lebih banyak.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan </em>yang merupakan karya Seneca, salah satu toko Stoik yang dari Yunani. Berikut adalah ulasan Penulis setelah menyelesaikan buku yang satu ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/Mau-Sampai-Kapan-Kita-Dibuat-Pusing-oleh-Negara-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/Mau-Sampai-Kapan-Kita-Dibuat-Pusing-oleh-Negara-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/Mau-Sampai-Kapan-Kita-Dibuat-Pusing-oleh-Negara-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/Mau-Sampai-Kapan-Kita-Dibuat-Pusing-oleh-Negara-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/Mau-Sampai-Kapan-Kita-Dibuat-Pusing-oleh-Negara-banner.jpg 1200w " alt="Mau Sampai Kapan Kita Dibuat Pusing oleh Negara?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/mau-sampai-kapan-kita-dibuat-pusing-oleh-negara/">Mau Sampai Kapan Kita Dibuat Pusing oleh Negara?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan</em></li>



<li>Penulis: Seneca</li>



<li>Penerbit: Noura Books</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 308 halaman</li>



<li>ISBN: 9786232423831</li>



<li>Harga: Rp84.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p><em>Kebahagiaan—paling sering dibicarakan, sekaligus paling sukar dipahami. Dalam keadaan buta dan tergesa-gesa, semua orang mengejar kebahagiaan tanpa arah, yang akhirnya hanya mendapatkan lelah. </em></p>



<p><em>A Happy Life, yang dirangkum dari kumpulan catatan dan surat-surat Lucius Annaeus Seneca, mengajak kita merenungi “apa tujuan kita”, kemudian “mana jalan terbaik untuk mencapainya”. Salah satu pemikir Romawi yang disebut sebagai paling cerdas di antara semua filsuf Stoa ini, mencoba menjawab dua pertanyaan tentang apa itu bahagia dan apa saja yang mendasarinya.</em></p>



<p><em>Pembaca era modern saat ini akan merasakan, betapa buah pikir Seneca tak pernah usang dan tetap relevan meski sudah dua milenium berselang sejak dituliskan.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p>Sebagai salah satu tokoh stoik yang paling terkenal, Seneca membagikan pemikirannya melalui tulisan-tulisan, yang lantas terangkum dalam buku ini. Sesuai dengan judulnya, tema yang diusung adalah mengenai &#8220;kebahagiaan.&#8221;</p>



<p>Bagi manusia, tema kebahagiaan adalah salah satu topik yang paling sering didiskusikan. Apa itu bahagia? Mengapa kita sulit untuk bahagia? Mengapa manusia mengejar kebahagiaan? Mengapa rasa bahagia hanya bertahan sebentar? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.</p>



<p>Buku ini tidak berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara gamblang. Sesuai dengan sub-judulnya, buku ini mengajak pembacanya untuk merenungkan sendiri tentang kebahagiaan, lantas menemukan jawabannya sendiri.</p>



<p>Dalam membahas mengenai kebahagiaan, buku ini dibagi dengan beberapa bab yang cukup pendek, hanya sekitar 10 halaman saja. Oleh karena itu, buku ini sangat cocok menjadi teman perjalanan atau mengisi waktu luang yang sedikit.</p>



<p>Total ada 25 bab pada buku ini, mulai dari &#8220;Tentang Hidup Bahagia dan Apakah Kebahagiaan Itu&#8221; hingga &#8220;Kemiskinan adalah Keberkahan dan Bukan Kemalangan.&#8221; Dalam penyusunannya, buku ini dibuat sesuai dengan sub-topiknya.</p>



<p>Misalnya, bab I hingga VIII berusaha menjelaskan mengenai definisi kebahagiaan dan apa yang bisa menimbulkan kebahagiaan. Bab IX hingga XIV menjelaskan tentang penyebab ketidakbahagiaan. Bab sisanya lebih ke praktik untuk bagaimana cara agar kita bisa bahagia.</p>



<p>Ketika membaca buku ini, tidak perlu tergesa-gesa untuk menyelesaikannya. Baca saja setiap babnya secara perlahan, lalu renungkan isinya. Dengan begitu, isi buku ini pun bisa lebih masuk ke dalam diri kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</h2>



<p>Penulis memiliki &#8220;ketakutan&#8221; akan karya-karya klasik karena merasa tidak percaya diri bisa memahami tata bahasanya, yang kadang bisa terasa sangat sulit untuk dicerna. Untungnya, buku <em>A Happy Life: Sebuah Perenungan </em>ini tidak seperti itu.</p>



<p>Entah karena skrip aslinya memang menggunakan bahasa yang mudah atau kemampuan penerjemahnya, buku ini sama sekali tidak terasa sebagai literatur klasik yang dibuat di awal-awal tahun masehi. Isinya sederhana, tapi bermakna.</p>



<p>Dalam menulis, di sini Seneca menggunakan gaya bahasa seolah sedang berdialog dengan kita pembacanya. Jangan heran kalau Pembaca akan menemukan banyak kata &#8220;Aku&#8221; dalam buku ini, karena memang gaya penulisannya seperti itu.</p>



<p>Jadi, ketika kita membaca buku ini, rasanya kita sedang mengikuti kuliah di zaman Yunani kuno. Tentu ini pengalaman membaca yang menyenangkan bagi sebagian orang yang memiliki obsesi terhadap kebudayaan Yunani kuno.</p>



<p>Selain itu, Seneca juga menyelipkan beberapa tokoh Yunani kuno di dalam tulisannya agar kita sebagai Pembaca bisa lebih membayangkan apa yang ia sampaikan. Jadi, meskipun ini buku filsafat/pengembangan diri, kita bisa sedikit-sedikit belajar sejarah Yunani kuno juga.</p>



<p>Namun, beberapa bagian mungkin akan terasa cukup membingungkan dan agak terlalu bertele-tele. Meskipun di awal Penulis bilang buku ini relatif mudah dipahami, tetap saja ada bagian yang &#8220;khas&#8221; karya klasik.</p>



<p>Penulis akan menyarankan buku ini untuk Pembaca yang tertarik dengan filsafat stoik, tapi sudah pernah membaca buku-buku lain sebelumnya. Bisa dibilang, buku ini lebih bersifat komplementer untuk yang tertarik dengan stoik, bukannya elementer.</p>



<p>Namun, jika memutuskan untuk membaca buku ini sebagai perkenalan stoik, ya sebenarnya sah-sah saja. Bahasanya tidak terlalu <em>njelimet </em>sehingga bisa dipahami dengan mudah. Akan ada banyak bagian yang akan membuat kita merenungkan tentang kebahagiaan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Rating: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 1 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca <em>A Happy Life:</em> <em>Sebuah Perenungan </em>karya Seneca</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/">[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengorbankan Kebahagiaan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2021 13:19:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5086</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar!!!” Sujiwo Tejo Penulis hampir membaca semua buku karya Sujiwo Tejo. Bisa dibilang, quote yang berasal dari buku Talijiwo di atas merupakan favorit Penulis. Ketika kita cinta atau sayang seseorang, secara umum kita akan berharap kalau yang dicintai bisa selalu bahagia. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/">Mengorbankan Kebahagiaan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-pullquote"><blockquote><p><em>“Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar!!!”</em></p><cite>Sujiwo Tejo</cite></blockquote></figure>



<p>Penulis hampir membaca semua buku karya Sujiwo Tejo. Bisa dibilang, <em>quote </em>yang berasal dari buku <em>Talijiwo </em>di atas merupakan favorit Penulis.</p>



<p>Ketika kita cinta atau sayang seseorang, secara umum kita akan berharap kalau yang dicintai bisa selalu bahagia. Kalau bisa, kita yang menjadi sumber kebahagiaannya.</p>



<p>Kalau kita sudah menyayangi seseorang, seolah kita mau dan bersedia untuk melakukan apa yang ia minta. Tak jarang kita membelikan sesuatu untuk menyenangkan hatinya.</p>



<p>Pertanyaannya, jika ia meminta <strong>kita mengorbankan kebahagiaan kita sendiri demi kebahagiaannya</strong>, apakah kita rela untuk melakukannya?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Ketika Kita Diminta Mengorbankan Kebahagiaan Sendiri</h2>



<p>Logikanya, jika orang tersebut benar-benar menyayangi kita, apakah mereka akan meminta kita mengorbankan kebahagiaan kita sendiri demi kebagiannya sendiri? Jawabannya mungkin tidak.</p>



<p>Hanya saja, terkadang ada situasi yang membuat ia &#8220;terpaksa&#8221; meminta hal tersebut demi berbagai alasan. Salah satunya adalah demi kebaikan bersama.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Contoh 1: Berpisah karena Sering Bertengkar</h3>



<p>Anggap saja ada situasi seperti ini. Kita baru saja bertengkar hebat dengan pasangan karena permasalahan yang sebenarnya sudah sering terjadi, tapi terus berulang. </p>



<p>Menurutnya, perpisahan adalah pilihan terbaik karena seringnya pertengkaran yang terjadi menunjukkan kalau kita tidak cocok untuk menjalin hubungan.</p>



<p>Mau kita berargumentasi seperti apapun, ia tetap bersikukuh dengan keputusannya. Mau tidak mau, kita pun mengorbankan perasaan kita yang sebenarnya masih memiliki rasa kepadanya.</p>



<p>Dalam kondisi seperti ini, kemungkinannya adalah masing-masing harus saling mengorbankan kebahagiannya. Sebenarnya masih ingin bersama, tetapi rasanya perpisahan menjadi jalan keluar satu-satunya demi kebaikan masing-masing.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Contoh 2: Dia Sudah Tidak Kuat dengan Keburukan Kita</h3>



<p>Contoh lain, pasangan kita merasa sudah capek dengan sikap buruk kita. Mau kita berjanji seperti apapun, ia tidak memberikan kesempatan kedua untuk membuktikkan kalau kita bisa berubah.</p>



<p>Bisa juga ia sudah memberikan beberapa kesempatan agar kita mengubah sikap. Sayangnya, kita tetap saja melakukan kesalahan yang sama hingga membuat ia muak dan risih.</p>



<p>Padahal, kita merasa bahagia karena memiliki hubungan dengannya. Sayangnya, ia merasa tidak bahagia jika kita ada di dekatnya. Ia baru bisa merasa bahagia jika kita menjauh darinya karena menurutnya kita memiliki sifat-sifat yang buruk. </p>



<p>Dalam kasus seperti ini, kita jauh lebih dituntut untuk mengorbankan kebahagiaan kita sendiri dibandingkan contoh kasus yang pertama.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Contoh 3: Pasangan <em>Toxic </em>yang Semaunya Sendiri</h3>



<p>Ada lagi yang lebih buruk. Misal kita sudah begitu <em>bucin </em>kepada seseorang yang begitu <em>demanding</em>, bisa dipastikan kita akan selalu diminta untuk mengorbankan banyak hal.</p>



<p>Ia sering meminta dibelikan sesuatu, melarang kita kumpul bersama teman, menuntut kita menjadi ini itu. Ia ingin diperlakukan sebagai orang yang paling istimewa dalam hidup kita.</p>



<p>Kalau sudah demikian, itu sudah bukan hubungan yang sehat, melainkan <em>toxic </em>sehingga sebaiknya diakhiri saja. Pengorbanan kita tidak sebanding dengan yang kita dapatkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Masih ada banyak contoh lain tentang pengorbanan kebahagiaan kita demi kebahagiaan orang yang kita sayang. Hanya saja, tiga contoh di atas rasanya sudah cukup.</p>



<p>Idealnya jika ada dua orang saling menyayangi, mereka tidak akan meminta orang yang disayangi untuk mengorbankan kebahagiannya. Pasti kita ingin saling membahagiakan.</p>



<p>Sayangnya, terkadang ada keadaan atau kondisi yang membuat hal tersebut harus terjadi. Konflik yang terjadi mungkin sudah terlalu pelik sehingga harus ada yang berkorban atau pedihnya saling berkorban demi kebaikan bersama.</p>



<p>Bisakah kita berkorban tanpa perlu merasa berkorban? Mungkin bisa, tapi rasanya begitu berat untuk bisa seperti itu. Manusia pada dasarnya memiliki ego yang cukup besar, sehingga perasaan berkorban pasti ada jika dipaksa melakukan sesuatu.</p>



<p>Cinta memang tidak membutuhkan perasaan berkorban. Jika datang masanya ketika kita mulai merasa berkorban, mungkin perasaan cinta tersebut sudah mulai pudar seperti kata Sujiwo Tejo.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 20 Juli 2021, terinspirasi dari kamu</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jeremybishop">Jeremy Bishop</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/">Mengorbankan Kebahagiaan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Hidup Apa Adanya</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-apa-adanya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2020 12:00:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Kim Suhyun]]></category>
		<category><![CDATA[Korea Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3611</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika membeli sebuah buku, Penulis biasanya akan mencari yang padat akan tulisan. Penulis sama sekali tidak tertarik dengan buku yang didominasi oleh gambar dan tulisan-tulisan fancy. Cerita berubah ketika Penulis menemukan buku Hidup Apa Adanya yang ditulis oleh Kim Suhyun, walau bukunya memang lebih berisi dibandingkan, katakanlah, buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.  Buku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-apa-adanya/">Setelah Membaca Hidup Apa Adanya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika membeli sebuah buku, Penulis biasanya akan mencari yang padat akan tulisan. Penulis sama sekali tidak tertarik dengan buku yang didominasi oleh gambar dan tulisan-tulisan <em>fancy</em>.</p>
<p>Cerita berubah ketika Penulis menemukan buku <strong><em>Hidup Apa Adanya </em></strong>yang ditulis oleh <strong>Kim Suhyun</strong>, walau bukunya memang lebih berisi dibandingkan, katakanlah, buku <em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1/">Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini</a>. </em></p>
<p>Buku ini menganggap dirinya sebagai sebuah kumpulan <em>to-do-list </em> yang harus kita lakukan dalam menghadapi dunia yang makin keras ini. Dengan tema <em>self-care </em>yang diangkat, ternyata buku ini sangat <em>related </em>dengan kehidupan kita.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Meskipun terlihat sedikit tebal, kita bisa menghabiskan buku ini secara cepat karena isinya yang tidak terlalu padat. Buku ini dibagi menjadi enam bagian utama. yakni:</p>
<ul>
<li>Agar bisa hidup dengan menghormati diri sendiri</li>
<li>Agar bisa hidup sebagai diriku sendiri</li>
<li>Agar tidak tenggelam dalam rasa cemas</li>
<li>Agar bisa hidup bersama dengan yang lainnya</li>
<li>Untuk dunia yang lebih baik</li>
<li>Untuk kehidupan yang lebih berarti dan juga lebih baik</li>
</ul>
<p>Bisa dilihat dari judul-judul bagiannya, buku ini berusaha membahas berbagai permasalahan yang kerap melanda generasi milenial. Setiap bagian terdiri dari beberapa subbagian yang terkadang hanya terdiri dari dua halaman.</p>
<p>Bagian pertama mengajak kita untuk lebih <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a> tanpa perlu memedulikan perkataan orang lain. Di zaman dengan <em>social pressure </em>yang begitu tinggi seperti sekarang, kita sering melupakan hal-hal fundamental.</p>
<p>Ada beberapa tips yang diberikan oleh Kim, seperti menghapus berbagai angka dalam kehidupan dan tidak terpengaruh perkataan orang lain.</p>
<p>Bagian kedua mengajak kita untuk menjadi diri sendiri tanpa terpengaruh orang lain. Kita jangan sampai tunduk begitu saja pada anggapan umum atau standar masyarakat pada umumnya.</p>
<p>Bagian ketiga membahas mengenai rasa <em>insecure </em>yang kerap melanda kita yang masih muda ini. Dengan tingginya intesitas kita bermain media sosial, secara tidak langsung kita akan membandingkan diri kita dengan orang lain.</p>
<p>Padahal, kebanyakan orang hanya akan memposting sisi bahagia mereka atau justru hanya sekadar pencitraan semata. Kita tidak benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain.</p>
<p>Bagian empat membahas bagaimana kita hidup bersosial dengan lebih baik di masyarakat. Bagian lima membahas bagaimana kita harus menghadapi dunia ini dan bagian enam memberi beberapa tips agar kehidupan yang kita jalani menjadi lebih baik.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Hidup Apa Adanya</em></h3>
<p>Isi dari buku ini merupakan hasil pemikiran dari Kim Suhyun atas kehidupannya sendiri. Ia sering berpikir buruk tentang dirinya sendiri, sesuatu yang mungkin juga sering kita lakukan.</p>
<p>Ia pun berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan hasilnya adalah buku ini. Penulis menganggap buku ini sebagai buku motivasi dengan gaya yang berbeda.</p>
<p>Buku ini mengajak kita untuk menikmati hidup ini apa adanya agar kita bisa bahagia dengan mudah. Bagi orang-orang yang kerap merasa <em>insecure</em>, buku ini hadir sebagai pelipur lara.</p>
<p>Sang penulis buku ini hanyalah seorang biasa yang menjalani rutinitas hidupnya seperti manusia kebanyakan (setidaknya itu yang terlihat dari buku ini).</p>
<p>Oleh karena itu, buku ini terasa amat dekat dan <em>related </em>dengan kehidupan kita yang biasa-biasa ini. Apalagi, bahasa yang digunakan juga bahasa sehari-hari yang ringan dan mudah dicerna.</p>
<p>Salah satu poin yang kerap dibahas di buku ini adalah tidak memedulikan pendapat atau penilaian <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">orang lain yang <em>judgemental</em></a>. Kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang, jadi jangan terlalu terpengaruh dengan kata orang lain.</p>
<p>Pikiran Penulis menjadi menjadi lebih terbuka tentang bagaimana menikmati hidup, menjadi diri sendiri, hingga menerima keadaan yang sedang dijalani.</p>
<p>Direkomendasikan untuk semua orang yang kerap merasa <em>insecure </em>terhadap dunia yang makin kejam.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.4/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Maret 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Hidup Apa Adanya</em> karya Kim Suhyun</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-apa-adanya/">Setelah Membaca Hidup Apa Adanya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peduli dengan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2020 10:59:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3644</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu, Penulis sering dianggap sebagai pribadi yang cuek. Entah bagaimana definisinya bagi orang pada waktu itu, bisa jadi karena Penulis terlihat sering tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Ketika beranjak dewasa, Penulis menyadari bahwa sikap ini harus sedikit diperbaiki. Penulis harus mampu menumbuhkan sikap peduli terhadap sekitarnya. Secara perlahan, Penulis mampu sedikit berubah. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">Peduli dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, Penulis sering dianggap sebagai pribadi yang cuek. Entah bagaimana definisinya bagi orang pada waktu itu, bisa jadi karena Penulis terlihat sering tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, Penulis menyadari bahwa sikap ini harus sedikit diperbaiki. Penulis harus mampu menumbuhkan sikap peduli terhadap sekitarnya.</p>
<p>Secara perlahan, Penulis mampu sedikit berubah. Contoh paling mudah adalah aktif di berbagai kegiatan di lingkungan tempat tinggal, mulai dari berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti hingga <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">merintis Karang Taruna</a>.</p>
<p>Memberikan perhatian kepada orang lain juga merupakan bentuk kepedulian. Menanyakan bagaimana kabar, memberi semangat ketika orang lain <em>down</em>, merupakan contoh kecil lainnya.</p>
<p>Hanya saja, jangan sampai kita terlalu peduli dengan orang lain hingga mengabaikan diri sendiri.</p>
<h3>Peduli dengan Diri Sendiri</h3>
<p>Bagi sebagian besar orang, yang paling mampu peduli kepada dirinya adalah dirinya sendiri. Kita tidak bisa bergantung kepada kepedulian orang-orang yang ada di sekitar kita.</p>
<p>Artinya, jika kita tidak peduli dengan diri sendiri, siapa yang akan peduli? Berharap orang lain akan peduli? Mungkin ada yang mendapatkan <em>privilege </em>seperti itu, tapi tidak semua orang bisa mendapatkannya.</p>
<p>Penulis sudah merasakan sendiri bagaimana muncul rasa kecewa karena berharap kepada manusia. Berharap orang lain akan peduli menjadi salah satunya.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis sedang belajar untuk memedulikan diri sendiri terlebih dahulu sebelum memedulikan orang lain. Bagaimana caranya?</p>
<h3>Cara Peduli dengan Diri Sendiri</h3>
<p>Ada banyak cara untuk bisa peduli kepada diri sendiri. Hidup sehat, makan-makanan bergizi, pola tidur teratur, olahraga rutin, menjadi contoh-contoh mudahnya walaupun Penulis sendiri belum bisa melakukannya.</p>
<p>Cara yang lebih detail adalah <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a>. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, kita wajib mencintai diri kita sendiri. Hal ini mungkin susah untuk orang yang sering merasa <em>insecure</em>, tapi bisa dilakukan.</p>
<p>Selain itu, buat kita bahagia sesering mungkin. Kalau kata Chelsea Islan, <a href="https://whathefan.com/karakter/jangan-lupa-bahagia/">jangan lupa bahagia</a>. Memang ada kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan kita untuk bahagia, tapi jangan sampai lupa kalau kita butuh kebahagiaan.</p>
<p>Bahagia juga sebaiknya harus bergantung kepada diri sendiri, bukan dari orang lain. Kita terkadang butuh faktor eksternal untuk bisa merasa bahagia (membeli barang, bertemu orang tersayang, dll), tapi sebaiknya kebahagiaan itu berawal dari diri sendiri.</p>
<p>Memanfaatkan waktu sebaik mungkin juga harus dilakukan. Jangan sampai waktu kita banyak dihabiskan dengan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/"><em>scrolling </em>media sosial</a> atau <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">main game</a> hingga lupa waktu.</p>
<p>Untuk menumbuhkan kepedulian kepada diri sendiri, akhir-akhir ini Penulis sering membaca buku dengan tema <em>self-care </em>ataupun buku-buku bertemakan kebahagiaan.</p>
<p>Seorang teman secara bercanda mengatakan bahwa Penulis melakukan itu karena tidak ada yang perhatian, sehingga harus diri sendiri yang melakukannya.</p>
<p>Intinya, ada banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepada diri sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Peduli dengan orang lain itu sama sekali tidak ada salahnya. Kalau bisa malah <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">peduli dengan ikhlas</a>, peduli tanpa mengharapkan timbal balik apapun. Memang berat, tapi bisa dilatih agar terbiasa.</p>
<p>Walaupun begitu, jangan sampai kita terlalu memedulikan orang lain hingga mengabaikan diri sendiri. Jiwa dan raga kita membutuhkan perhatian dari tuannya karena kalau bukan dari diri kita sendiri, dari siapa lagi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 14 Maret 2020, terinspirasi dari apa hayo?</p>
<p>Foto: <a href="https://analytichealer.com/your-needs-matter/">Analytic Healer</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">Peduli dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mencintai Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/mencintai-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Oct 2019 16:48:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[benci]]></category>
		<category><![CDATA[cara]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[membenci]]></category>
		<category><![CDATA[mencintai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2841</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau boleh jujur, penulis bukan tipe orang yang mencintai dirinya sendiri. Bahkan, bisa dibilang sebagai pembenci diri sendiri. Ada banyak alasannya, tapi akan penulis bahas di tulisan yang lain. Setidaknya, sekarang penulis menyadari bahwa tidak mencintai diri sendiri bisa jadi menjadi salah satu sumber ketidakbahagiaan (dan mungkin juga sumber depresi). Masalah yang Timbul Akibat Tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/mencintai-diri-sendiri/">Mencintai Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau boleh jujur, penulis bukan tipe orang yang mencintai dirinya sendiri. Bahkan, bisa dibilang sebagai pembenci diri sendiri. Ada banyak alasannya, tapi akan penulis bahas di tulisan yang lain.</p>
<p>Setidaknya, sekarang penulis menyadari bahwa tidak mencintai diri sendiri bisa jadi menjadi <a href="https://whathefan.com/karakter/jangan-lupa-bahagia/">salah satu sumber ketidakbahagiaan</a> (dan mungkin juga sumber depresi).</p>
<h3>Masalah yang Timbul Akibat Tidak Mencintai Diri Sendiri</h3>
<p><div id="attachment_2846" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2846" class="size-large wp-image-2846" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2846" class="wp-caption-text">Membenci Diri Sendiri (<a href="https://unsplash.com/@rezahasannia">Reza Hasannia</a>)</p></div></p>
<p>Memang apa salahnya dengan membenci diri sendiri? Toh, tidak ada orang lain yang tersakiti. Penulis sempat memiliki pemikiran tersebut. Namun, setelah dipikir ulang, ternyata banyak masalah yang bisa ditimbulkan.</p>
<p>Pertama, kita akan menjadi pribadi yang kurang percaya diri. Karenanya, kita akan kesulitan untuk bergaul dengan lingkungan sekitar dan susah beradaptasi di tempat baru.</p>
<p>Kita juga jadi sering merasa kurang berharga, tidak dibutuhkan, dan lain sebagainya. Efek lanjutannya adalah jadi memiliki <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">ketergantungan dengan orang lain</a> dan butuh pengakuan.</p>
<p>Percayalah, penulis mengalami itu semua. Penulis menyadari bahwa dirinya terpuruk karena kurang bisa menghargai dirinya sendiri. Bisa dibilang, ini adalah bentuk <em>self-harm </em>kepada mental.</p>
<p>Pengaruh masa kecil mungkin memiliki andil dalam hal ini. Apalagi, penulis adalah tipe orang yang sangat mudah terpengaruh dengan perkataan orang.</p>
<p>Namun, merutuki masa lalu dan menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apapun. Kita semua punya kesempatan untuk mengubah diri kita sendiri menjadi lebih baik.</p>
<h3>Alasan Harus Mencintai Diri Sendiri</h3>
<p><div id="attachment_2845" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2845" class="size-large wp-image-2845" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-2.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2845" class="wp-caption-text">Perenungan untuk Menemukan Alasan (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@jareddrice">Jared Rice</a>)</p></div></p>
<p>Terkadang mencintai diri sendiri jauh lebih susah dibandingkan mencintai orang lain. Kita bisa punya seribu alasan untuk mencintai orang lain, namun sulit menemukan alasan untuk mencintai diri sendiri.</p>
<p>Penulis mengalami hal tersebut, mungkin pembaca juga ada yang demikian. Tapi ketika kembali direnungkan, penulis paham bahwa tidak bisa selamanya seperti ini.</p>
<p>Oleh karena itu, yang pertama kali penulis lakukan adalah menemukan alasan untuk mencintai diri sendiri. Yang paling mudah adalah sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan karena telah menganugerahkan kehidupan yang singkat ini.</p>
<p>Penulis harus bisa merasa bersyukur karena telah diberikan fisik tanpa kekurangan berarti. Kalau kurang tampan itu relatif, kurang putih itu faktor gen, kurang tinggi dan gemuk itu karena faktor gaya hidup.</p>
<p>Selain itu, harus disadari bahwa untuk mencintai orang lain, kita butuh mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Rumusannya sama dengan kebahagiaan. Secara teori, orang akan lebih mudah mencintai kita jika kita telah memulainya terlebih dahulu.</p>
<p>Alasan selanjutnya, diri kita memang berhak mendapatkannya. Kita bergumul dengan diri kita selama 24 jam sehari. Jika memusuhi diri kita sendiri, bagaimana bisa hidup tenang?</p>
<h3>Cara Mencintai Diri Sendiri</h3>
<p><div id="attachment_2847" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2847" class="size-large wp-image-2847" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2847" class="wp-caption-text">Cara Mencintai DIri Sendiri (<a class="js-photo-page-mini-profile-link photo-page__mini-profile" href="https://www.pexels.com/@i-love-simple-beyond-388899" data-track-action="medium-mini-profile" data-track-label="user-profile">i love simple beyond</a>)</p></div></p>
<p>Karena penulis termasuk jarang mencintai diri sendiri, tentu kesulitan untuk mengetahui bagaimana cara mencintai diri sendiri. Oleh karena itu, penulis sudah membaca beberapa sumber tentang bagaimana cara mencintai diri sendiri.</p>
<h4>Membuang Pikiran Negatif Tentang Diri Sendiri</h4>
<p>Salah satu hal yang membuat penulis susah mencintai diri sendiri adalah banyak pikiran-pikiran negatif yang berada di dalam kepala penulis untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, penulis harus bisa membuang pikiran-pikiran tersebut jauh-jauh.</p>
<p>Penulis termasuk orang yang sering berbicara kepada dirinya sendiri. Nah, biasanya ketika pikiran negatif mulai datang, penulis akan mengusirnya dengan berbicara sendiri.</p>
<p>Cara lain yang bisa membantu adalah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">berhenti sejenak dari media sosial</a>. Penulis kerap membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain sehingga munculah pikiran-pikiran negatif tersebut.</p>
<h4>Berhenti Menuntut Kesempurnaan</h4>
<p>Sebagai orang yang perfeksionis, penulis sering menuntut kesempurnaan pada dirinya. Akibatnya, penulis sering keras kepada dirinya sendiri.</p>
<p>Hal tersebut memang membawa hal positif, seperti sering melakukan aktivitas produktif. Tetapi, di sisi lain juga merusak diri penulis. Contoh, ketika gagal mencapai target tertentu, penulis bisa stres yang berujung kepada penyesalan.</p>
<p>Penulis harus menyadari bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang memiliki batasan. Ada kalanya penulis membutuhkan jeda sebentar dari kehidupan dan menikmati hidup yang tenang.</p>
<p>Melampaui batas diri memang diperlukan agar kita bisa makin berkembang, tapi terlalu melampaui batas juga tidak baik. Penulis selalu percaya bahwa tidak ada yang baik dengan yang namanya berlebihan.</p>
<h4>Jangan Sia-Siakan Waktu</h4>
<p>Terkadang, penulis juga bisa menjadi pribadi yang <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saya-ini-pemalas/">luar biasa pemalas</a>. Jika dalam kondisi seperti ini, cara mencintai diri sendiri yang tepat adalah dengan tidak menjadi malas,</p>
<p>Mengapa? Karena rasa malas yang berlebihan akan merugikan diri sendiri. Merugikan diri sendiri sama dengan tidak mencintai diri sendiri.</p>
<p>Mungkin sedikit kontradiktif dengan poin sebelumnya, tapi penulis tuliskan hal ini sebagai pengingat bahwa dalam hidup keseimbangan itu penting. Jangan sampai kita berat ke satu sisi.</p>
<h4>Lakukan Aktivitas yang Menyenangkan</h4>
<p>Salah satu hal termudah untuk menyayangi diri sendiri adalah dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan. Bagi penulis, aktivitas tersebut bisa berupa menulis, membaca buku, ataupun bermain game. Tapi ingat, jangan berlebihan.</p>
<p>Kegiatan menulis selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk penulis. Selain itu, menulis juga bisa menjadi terapi yang bagus untuk kesehatan mental penulis.</p>
<p>Jangan lupa juga untuk memenuhi kebutuhan diri kita, baik fisik, mental, maupun rohani. Mampu melakukannya adalah salah satu bentuk mencintai diri sendiri.</p>
<p>Menjaga kesehatan, melakukan ibadah, mempelajari hal baru juga termasuk bentuk mencintai diri sendiri.</p>
<h4>Tak Perlu Dengar Kata Mereka</h4>
<p>Mau sepositif apapun diri kita, pasti ada saat-saat di mana kita berada di lingkungan yang negatif. Tak perlu dengar kata mereka, teruslah berjalan. Hidup kita adalah milik kita, bukan orang lain.</p>
<h4>Percaya Pada Diri Sendiri</h4>
<p>Tidak mencintai diri sendiri bisa menimbulkan efek timbulnya sifat tidak percaya diri. Untuk melawannya, kita harus percaya dengan diri sendiri. Kita mampu melakukan sesuatu yang harus kita kerjakan.</p>
<p>Mengenal diri sendiri adalah salah satu jalan yang bisa kita lakukan. Kita harus tahu apa yang mampu kita lakukan dan apa yang tidak. Penulis juga masih berada dalam tahap mengenali diri sendiri.</p>
<h4>Berdamai dengan Masa Lalu</h4>
<p>Bisa dibilang, ini adalah cara yang paling berat bagi penulis. Seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya, banyak hal yang sering penulis sesali dalam hidup ini.</p>
<p>Akan tetapi, agar bisa bahagia, kita memang harus berdamai dengan masa lalu. Toh, tak ada yang manusia sempurna kecuali sosok Nabi. Lantas, untuk apa merutuki diri sendiri tanpa akhir?</p>
<p>Rasanya, ingin sekali penulis pergi ke masa lalu untuk menemui dirinya dulu yang bodoh lalu memeluknya sembari berkata, &#8220;<em>tidak apa-apa, semua manusia membuat kesalahan, kok.&#8221;</em></p>
<h3>Penutup</h3>
<p><div id="attachment_2844" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2844" class="size-large wp-image-2844" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-4-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-4-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-4-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-4-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-4.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2844" class="wp-caption-text">Jangan Lupa Bahagia! (<a class="js-photo-page-mini-profile-link photo-page__mini-profile" href="https://www.pexels.com/@daria" data-track-action="medium-mini-profile" data-track-label="user-profile">Daria Shevtsova</a>)</p></div></p>
<p>Jika dilakukan berlebihan, tentu mencintai diri sendiri akan berujung kepada narsisme yang negatif. Orang pun akan merasa <em>ilfeel </em>jika kita sampai seperti itu.</p>
<p>Cintailah dirimu selayaknya yang kita dapatkan. Kita sudah berusaha, mengalami berbagai peristiwa, menerima kekalahan, dan lain sebagainya. Kita berhak dan layak untuk dicintai oleh diri kita sendiri.</p>
<p>Penulis hingga kini masih mengalami kesulitan untuk mencintai diri sendiri. Alasannya, masih ada tembok penghalang bernama <em>seribu alasan membenci diri sendiri</em>. Tapi secara bertahap, penulis akan menghancurkan tembok tersebut dengan berbagai cara.</p>
<p>Ketika waktunya telah tiba, penulis akan merasakan betapa indahnya dicintai oleh diri sendiri, bagaikan seorang bayi yang tersenyum ketika melihat pantulan dirinya di sebuah cermin.</p>
<p>NB1: Ketika menulis artikel ini, banyak hal yang membuat penulis tercenung karena baru menyadarinya. Penulis jadi sadar betapa pentingnya mencintai diri sendiri. Semoga pembaca merasakan sensasi yang sama.</p>
<p>NB2: Setelah menulis artikel ini, penulis membaca buku <em>Hidup Sederhana </em>karya Desi Anwar. Penulis langsung menemukan kalimat <em>cara terbaik untuk memenikmati hidup adalah dengan menjalaninya, bukan mengkhawatirkannya.</em></p>
<p>Kebayoran Lama, 10 Oktober 2019, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kerap membenci dirinya sendiri.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@shotbyireland">Shot By Ireland</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://id.wikihow.com/Mencintai-Diri-Sendiri">Wikihow</a>, <a href="https://www.idntimes.com/life/inspiration/emma-kaes/8-cara-sederhana-mencintai-diri-sendiri-c1c2/full">IDN Times</a>, <a href="https://www.hipwee.com/motivasi/mencintai-diri-sendiri-tanpa-syarat-adalah-cara-terbaik-untuk-bahagia/">Hipwee</a>, <a href="https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/24/062000720/5-langkah-sederhana-belajar-mencintai-diri-sendiri?page=all">Kompas </a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/mencintai-diri-sendiri/">Mencintai Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Lupa Bahagia</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Oct 2019 14:10:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[INFJ]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[MBTI]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2833</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis kerap mengatakan kalimat jangan lupa bahagia kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream. Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni Chelsea Islan dan Anji. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu Happy Birthday. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, selalu bahagia. Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan Lupa Bahagia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis kerap mengatakan kalimat <strong>jangan lupa bahagia </strong>kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream.</p>
<p>Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni <strong>Chelsea Islan </strong>dan <strong>Anji</strong>. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu <em>Happy Birthday</em>. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, <em>selalu bahagia</em>.</p>
<p>Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya selalu menutup video dengan kalimat <em>jangan lupa senyum hari ini</em>. Dari sanalah penulis melakukan <em>fusion </em>dan menjadi jangan lupa bahagia.</p>
<p>Akan tetapi setelah direnungkan kembali, penulis menggunakan kalimat ini ke orang lain dan tak pernah mengucapkannya untuk diri sendiri!</p>
<h3>Terlalu Fokus dengan Kebahagiaan Orang Lain</h3>
<p>Boleh percaya atau tidak, penulis adalah tipe orang yang bahagia jika melihat orang lain bahagia. Oleh karena itu, penulis akan melakukan sesuatu semampunya agar bisa membuat orang lain bahagia.</p>
<p>Hal itu bisa diwujudkan dengan memberikan perhatian, membelikan hadiah, menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar yang baik</a>, dan lain sebagainya. Apapun yang bisa penulis berikan, akan penulis berikan.</p>
<p><em>Masalahnya, penulis terlalu memfokuskan diri untuk membahagiakan orang lain hingga lupa dan mengabaikan kebahagiaan dirinya sendiri. </em></p>
<p>Ketika mengambil tes MBTI beberapa waktu lalu, penulis mendapatkan hasil <strong>INFJ</strong> (<i>Introversion</i>, <i>Intuition</i>, <i>Feeling</i>, <i>Judgement</i>) atau <strong>Advokat</strong>. Padahal, dulu ketika melakukan tes yang sama, penulis merupakan tipe <strong>ENFJ</strong> atau <strong>Protagonis</strong>.</p>
<p>Orang-orang dengan kepribadian ini biasanya sangat peduli dengan orang lain, namun jarang memedulikan diri sendiri. Mereka juga terkadang tidak bisa memahami diri mereka sendiri.</p>
<p>Lebih lanjut seperti yang penulis lansir dari <a href="https://www.16personalities.com/id/kepribadian-infj"><em>16personalities.com</em></a><em>, </em>orang INFJ cenderung menganggap membantu orang lain adalah tujuan hidupnya. Bahkan, terkadang memberikan pertolongan tanpa diminta atau melebihi dari yang diminta.</p>
<p>Mereka juga peduli dengan perasaan orang lain dan menyimpan harapan orang lain juga akan berlaku sama kepada dirinya. Mungkin karena karakteristik inilah, penulis sering mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.</p>
<h3>Sering Merasa Tidak Bahagia?</h3>
<p>Waktu sekolah dulu, penulis sering memasang wajah muram dan serius, seolah tidak pernah bahagia. Hal ini berdampak kepada pemborosan muka melebihi usianya. Ketika kuliah, penulis sudah mengurang kemuraman tersebut.</p>
<p>Jika dipikir-pikir kembali, penulis memang jarang memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Mungkin, lebih tepatnya adalah penulis sering merasa tidak bahagia.</p>
<p>Selalu ada saja celah yang bisa penulis manfaatkan untuk merasa tidak bahagia. Ada saja bagian-bagian kecil dari kehidupan yang penulis jadikan sebagai alasan ketidakbahagiaan.</p>
<p>Saat merenung, penulis sadar bahwa sebenarnya kunci kebahagiaan itu hanya satu: <strong>bersyukur</strong>.</p>
<p>Harusnya, penulis merasa bahagia karena memiliki keluarga yang relatif harmoni, bahagia memiliki banyak teman-teman yang peduli, bahagia karena memiliki pekerjaan enak dengan gaji lumayan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Jika saja penulis lebih sering berfokus kepada hal-hal yang telah dimiliki, niscaya penulis bisa merasa lebih bahagia lagi. Bagaimana penulis bisa membahagiakan orang lain jika dirinya sendiri tidak bahagia?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Yang masih harus penulis asah adalah bagaimana cara membahagiakan orang lain secara tulus. Selama ini, penulis masih menyimpan pamrih karena berharap orang yang dibahagiakan akan memberikan timbal balik sebanding.</p>
<p>Karena itulah, terkadang penulis <a href="https://whathefan.com/karakter/mengukur-keikhlasan/">mengalami kekecewaan</a> ketika yang diharapkan tidak terjadi. <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">Berbuat sesuatu secara ikhlas</a> memang susah luar biasa.</p>
<p>Apalagi, terkadang niat baik kita untuk membahagiakan atau menolong orang lain juga tidak ditangkap dengan baik. Akibatnya, terjadi salah paham yang membuat hubungan jadi memburuk.</p>
<p><a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">Kontemplasi</a> yang sering penulis lakukan akhir-akhir ini menjelang tidur membukakan mata penulis untuk lebih peduli dengan kebahagiaannya sendiri. Caranya, perbanyak syukur dengan apa yang telah dimiliki.</p>
<p>Dengan demikian, penulis juga bisa lebih membahagiakan orang-orang di sekitar penulis sesuai dengan batasan kemampuannya. Yang pasti, penulis akan makin sering berkata jangan lupa bahagia, baik untuk dirinya sendiri maupu orang lain.</p>
<p>Sekali lagi, <strong>JANGAN LUPA BAHAGIA!!!</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Oktober 2019, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya jarang merasa bahagia.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.kincir.com/tag/merry-riana-mimpi-sejuta-dolar">Kincir</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan Lupa Bahagia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
