<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>belajar Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/belajar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/belajar/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 Oct 2021 16:28:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>belajar Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/belajar/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Untuk Apa Belajar Geografi?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/untuk-apa-belajar-geografi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/untuk-apa-belajar-geografi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Oct 2021 16:25:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[geografi]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5383</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu mengisi materi SWI Mengajar 2.0 untuk Karang Taruna di lingkungan Penulis, materi yang diinginkan oleh peserta adalah pengetahuan umum seputar negara-negara. Untuk memudahkan penyebutan, anggap saja sebagai ilmu geografi. Kebetulan, Penulis sangat menyukai geografi sejak kecil. Oleh karena itu, Penulis sangat bersemangat untuk menyiapkan materinya. Penulis ingin para anggota Karang Taruna memiliki pengetahuan umum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/untuk-apa-belajar-geografi/">Untuk Apa Belajar Geografi?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sewaktu mengisi materi <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar-2-0/">SWI Mengajar 2.0</a> untuk Karang Taruna di lingkungan Penulis, materi yang diinginkan oleh peserta adalah pengetahuan umum seputar negara-negara. Untuk memudahkan penyebutan, anggap saja sebagai ilmu geografi.</p>



<p>Kebetulan, Penulis sangat menyukai geografi sejak kecil. Oleh karena itu, Penulis sangat bersemangat untuk menyiapkan materinya. Penulis ingin para anggota <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a> memiliki pengetahuan umum seputar geografi.</p>



<p>Lantas, terbesit satu pertanyaan yang menggelitik Penulis: Untuk apa kita belajar geografi?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Penulis dan Geografi</h2>



<p>Meskipun Penulis adalah anak IPA, entah mengapa Penulis tertarik dengan pelajaran-pelajaran IPS. Selain <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">sejarah</a>, Penulis juga menyukai geografi, lebih tepatnya mengetahui negara-negara yang ada di dunia.</p>



<p>Bahkan, sejak kecil Penulis sudah hobi membaca atlas dan menghafalkan di mana negara itu berada, apa ibu kotanya, hingga bentuk benderanya. Rasanya begitu menyenangkan dan mengasyikkan waktu itu.</p>



<p>Hingga kini pun Penulis masih menyukainya. Waktu ke <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-dan-big-bad-wolf-bagian-1/">Big Bad Wolf</a> terakhir, Penulis bahkan membeli dua atlas yang jelas jauh lebih rinci dibandingkan atlas yang Penulis miliki waktu kecil.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Alasan untuk Belajar Geografi</h2>



<p>Kesukaan Penulis dengan geografi terbantukan dengan adanya <em>channel </em>YouTube <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/its-time-to-learn-geography-now/">Geography Now.</a> <em>Channel </em>ini akan memberikan penjelasan semua negara yang diakui oleh PBB, urut mulai A hingga Z. Ketika artikel ini ditulis, <em>channel </em>tersebut sudah sampai negara Swiss.</p>



<p>Di video pertama <em>channel </em>ini, ada alasan mengapa kita perlu belajar geografi. Pembaca bisa menontonnya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Geography Now! Trailer" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/0kQQpBPuGj4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Intinya adalah <strong>bumi ini adalah rumah kita</strong>, tempat tinggal kita. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mempelajari &#8220;rumah&#8221; kita dan memahaminya. Bayangkan di rumah kita tidak tahu di mana letak kamar mandinya, kita pasti akan merasa kebingungan ketika ingin pipis.</p>



<p>Memiliki pengetahuan umum tentang negara-negara yang cukup rasanya perlu dimiliki oleh semua orang. Entah itu sebuah nama negara, apa ibu kotanya, apa <em>landmark </em>atau tempat wisata yang dimiliki, gunung apa yang tertinggi di dunia, dan lain sebagainya.</p>



<p>Kalau Penulis sendiri, mempelajari tentang negara-negara menjadi <strong>motivasi lebih untuk bisa punya impian pergi ke luar negeri</strong>. Dengan mengetahui bagaimana kultur dan budaya di sana, Penulis seolah sedang mempersiapkan diri jika suatu saat bisa pergi ke sana.</p>



<p>Bagi yang belum tahu, pergi ke luar negeri adalah salah satu impian Penulis yang belum tercapai. Setidaknya ada dua negara yang sangat ingin Penulis kunjungi, yakni Jepang dan Inggris. Bahkan, Penulis pernah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">melamar beasiswa Chevening</a> agar bisa kuliah dan tinggal di Inggris.</p>



<p>Mungkin masih banyak alasan mengapa kita perlu belajar geografi. Beberapa alasan yang Penulis kutip dari <em>Galamedia </em>adalah:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Mengetahui bagaimana bumi bekerja dan pengaruhnya terhadap kehidupan kita sehari-hari</li><li>Mengetahui tentang budaya dan gaya hidup masyarakat di belahan negara lain, serta bagaimana iklim dan tropis memengaruhi hal tersebut</li><li>Mengetahui alasan mengapa masyarakat memiliki lokasi tinggal di tempat tertentu</li><li>Lebih memahami bagaimana kita semakin saling tergantung secara global</li><li>Menghargai bumi sebagai tempat tinggal kita</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis akan terus menyukai geografi, sehingga setidaknya ketika sudah punya anak nanti, Penulis bisa menyalurkan ilmu tersebut kepadanya. Deretan buku seputar geografi yang Penulis miliki juga akan menjadi media pembelajaran untuknya.</p>



<p>Meskipun sampai saat ini Penulis belum bisa mewujudkan impiannya untuk pergi ke luar negeri, Penulis memiliki keyakinan kalau suatu saat akan bisa mencapainya. Aamiin.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 29 Oktober 2021, terinspirasi setelah memberikan materi SWI Mengajar 2.0 seputar geografi</p>



<p>Foto: <a href="https://wallpaperaccess.com/earth-map">WallpaperAccess</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://galamedia.pikiran-rakyat.com/citizen-journalism/pr-35762267/lima-alasan-pentingnya-mempelajari-geografi">Lima Alasan Pentingnya Mempelajari Geografi &#8211; Galamedia News (pikiran-rakyat.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/untuk-apa-belajar-geografi/">Untuk Apa Belajar Geografi?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/untuk-apa-belajar-geografi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Belajar Sejarah?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2020 11:23:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4057</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari tweet milik Budiman Sujatmiko, Penulis mengetahui rencana pemerintah untuk membuat mata pelajaran Sejarah tidak wajib untuk anak sekolah. Wacana ini muncul sebagai bentuk penyederhanaan kurikulum untuk siswa. Hal ini tentu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Apalagi, isu ini muncul menjelang peringatan 30 September sehingga banyak yang mengkaitkannya dengan peristiwa naas tersebut. Nadiem Makarim selaku Mendikbud [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari <em>tweet </em>milik Budiman Sujatmiko, Penulis mengetahui rencana pemerintah untuk membuat <strong>mata pelajaran Sejarah tidak wajib</strong> untuk anak sekolah. Wacana ini muncul sebagai bentuk penyederhanaan kurikulum untuk siswa.</p>
<p>Hal ini tentu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Apalagi, isu ini muncul menjelang peringatan 30 September sehingga banyak yang mengkaitkannya dengan peristiwa naas tersebut.</p>
<p>Nadiem Makarim selaku Mendikbud sudah memberikan klarifikasi dengan menyatakan rencana ini sebenarnya merupakan materi yang hanya dibahas di dalam internal dan tanpa sengaja bocor ke publik.</p>
<p>Terlepas dari mana yang benar, Penulis secara pribadi tidak setuju jika mata pelajaran ini dihapuskan. Selain karena menyukainya, ada banyak alasan mengapa kita butuh belajar sejarah.</p>
<h3>Mengetahui Peristiwa-Peristiwa di Masa Lampau</h3>
<p>Apa jadinya jika kita tidak mengetahui kapan Indonesia merdeka? Apa jadinya jika kita tidak pernah tahu siapa <em>founding father </em>kita? Apa jadinya jika kita tidak pernah tahu berapa lama kita dijajah oleh bangsa asing secara kejam?</p>
<p><div id="attachment_4061" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4061" class="size-large wp-image-4061" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4061" class="wp-caption-text">Pengetahuan Dasar (<a href="https://proklamator.id/dua-bung-dwitunggal-abadi-sukarno-hatta/"><span class="pM4Snf">Proklamator</span></a>)</p></div></p>
<p>Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi jika kita tidak pernah mempelajari sejarah. Ada banyak peristiwa penting yang akan terlupakan begitu saja.</p>
<p>Dengan mempelajari sejarah, kita bisa <strong>mengetahui peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lampau</strong>. Ini alasan yang paling dasar, menambah pengetahuan kita.</p>
<p>Percayalah, akan ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari sejarah.</p>
<h3>Sebagai Refleksi</h3>
<p>Dari pengalaman Penulis, pelajaran sejarah memang kerap dianggap sebagai pelajaran yang membosankan karena harus menghafalkan banyak sekali materi. Apalagi yang berkaitan dengan angka seperti tanggal, minta ampun rasanya.</p>
<p><div id="attachment_4062" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4062" class="size-large wp-image-4062" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4062" class="wp-caption-text">Berkaca Pada Masa Lalu (<a href="https://tirto.id/dosa-dan-jasa-soeharto-untuk-indonesia-chKe">Tirto</a>)</p></div></p>
<p>Seharusnya, sejarah tidak dijadikan hanya sebagai hafalan semata. Kita harus bisa menjadikan berbagai peristiwa di masa lampau <strong>sebagai refleksi untuk masa sekarang</strong>.</p>
<p>Penulis pernah membaca kalau kejadian hari ini hanyalah sejarah yang berulang. Ada pola-pola yang kerap berulang di dalam kehidupan ini.</p>
<p>Dari <em>Zenius</em>, Penulis mengetahui kalau ada tiga pola yang kerap berulang di dalam sejarah:</p>
<ol>
<li>Penguasa terkuat selalu yang paling toleran</li>
<li>Tidak ada harga yang naik selamanya</li>
<li>Pemerintahan dengan kontrol ekstrim, berujung pada pelanggaran HAM</li>
</ol>
<p>Kalau kita mengalami salah satu dari tiga kondisi yang terpapar di atas, seharusnya kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan dengan mempelajari sejarah.</p>
<h3>Menumbuhkan Empati</h3>
<p>Memang pahit, tapi kebanyakan peristiwa sejarah yang kita pelajari merupakan peristiwa yang kelam, bahkan menakutkan. Perang, pembantaian, krisis, dan lain sebagainya.</p>
<p><div id="attachment_4063" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4063" class="size-large wp-image-4063" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4063" class="wp-caption-text">Menambah Rasa Syukur (<a href="https://eaworldview.com/2019/03/yemen-forgotten-war-will-britain-ever-care/">EA Worldview</a>)</p></div></p>
<p>Namun, mempelajari itu semua dapat <strong>menumbuhkan empati </strong>dari dalam diri. Tumbuh rasa syukur karena kita tidak perlu mengalami kejadian seperti yang dialami oleh korban di dalam sejarah.</p>
<p>Ada banyak sekali nilai moral yang bisa kita petik dari peristiwa-peristiwa sejarah dan ini tidak bisa kita dapatkan dengan mudah di era yang egosentris seperti sekarang.</p>
<p>Ketika melihat kenyataan bahwa kebanyakan generasi milenial sekarang cenderung apatis dan acuh terhadap sekitarnya, bisa jadi karena rendahnya minat mereka untuk mempelajari sejarah.</p>
<h3>Memunculkan Inspirasi Sekaligus Motivasi</h3>
<p>Karena Penulis lebih sering membaca daripada menonton, Penulis terbiasa untuk berimajinasi ketika membayangkan peristiwa-peristiwa sejarah yang sedang dibaca. Dari imajinasi tersebut, terkadang <strong>berubah menjadi inspirasi</strong>.</p>
<p><div id="attachment_4064" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4064" class="size-large wp-image-4064" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4064" class="wp-caption-text">Sejarah yang Menginspirasi (<a href="https://www.newsweek.com/garage-band-68117">Newsweek</a>)</p></div></p>
<p>Contoh ketika Penulis membaca sejarah berdirinya Apple, Penulis jadi bercita-cita untuk bisa punya perusahaan sendiri karena tahu Steve Jobs memulai perusahaannya dari garasi rumahnya.</p>
<p>Sejarah juga <strong>bisa menjadi motivasi</strong> yang baik. Jika mengalami kegagalan, biasanya Penulis teringat Thomas Alva Edison yang gagal ribuan kali sebelum berhasil menemukan lampu pijar. Gagal masuk perguruan tinggi? Albert Einstein pernah tidak lulus sekolah.</p>
<p>Mereka yang jenius saja bisa mengalami gagal, apalagi kita yang biasa-biasa ini. Kita memang harus terjatuh agar bisa belajar untuk bangkit.</p>
<h3>Meningkatkan Kemampuan Analisa dan Berpikir Kritis</h3>
<p>Menurut Budiman Sujatmiko, mempelajari sejarah juga mampu <strong>meningkatkan kemampuan analisa dan mengasah logika</strong>. Bagaimana caranya? Dengan membayangkan jika sebuah peristiwa terjadi secara berbeda dari kenyataannya.</p>
<p><div id="attachment_4065" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4065" class="size-large wp-image-4065" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4065" class="wp-caption-text">Mengasah Pikiran (<a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Dunkirk">Wikipedia</a>)</p></div></p>
<p>Misalkan ketika peristiwa <em>Dunkirk</em> yang terkenal hingga diangkat menjadi sebuah film. Bagaimana seandainya Hitler memutuskan untuk menghabisi Pasukan Inggris dan Prancis yang sudah terjepit?</p>
<p>Apakah Jerman akan menjadi pemenang mutlak dan fasisme akan menguasai tanah Eropa? Apakah Amerika Serikat akan jadi ragu untuk mengirimkan bala bantuan? Apakah umat Yahudi akan benar-benar habis di kamp konsentrasi?</p>
<p>Mempelajari sejarah juga akan mengajak kita untuk <strong>berpikir kritis</strong> sehingga tidak mudah terbawa arus. Belajar sejarah membuat kita terbiasa untuk mengolah informasi.</p>
<p>Orang yang mempelajari sejarah seharusnya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">tidak akan mudah terpengaruh hoaks</a> karena pola pikirnya sudah terlatih untuk melihat peristiwa dari berbagai sudut.</p>
<p>Selain itu, kemampuan-kemampuan ini akan sangat bermanfaat jika kita sudah terjun ke dunia kerja dan berada di tengah-tengah masyarakat.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Itulah beberapa alasan yang Penulis rasakan sendiri selama mempelajari sejarah. Jika sedang berbincang dengan orang lain (terutama anak-anak <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a>), Penulis berusaha menyisipkan ilmu-ilmu sejarah yang Penulis ketahui kepada mereka.</p>
<p>Dari koleksi buku Penulis, ada berbagai macam topik sejarah yang bisa ditemukan seperti sejarah Perang Eropa, era Napoleon, biografi tokoh-tokoh Indonesia, sejarah Islam, dan lain sebagainya. Ada banyak sekali hal yang Penulis pelajari dari sana. Banyak sekali.</p>
<p>Belajar sejarah itu penting. <em>Quote</em> dari George Santayana di bawah ini menjadi penutup yang pas untuk tulisan ini:</p>
<blockquote><p>Those who do not remember the past are condemned to repeat it.</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 22 September 2020, terinspirasi setelah membaca <em>tweet </em>dari Budiman Sujatmiko</p>
<p>Foto: <a href="https://id.pinterest.com/pin/316377942555858957/">Pinterest</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://twitter.com/budimandjatmiko/status/1306961192355639297">Twitter</a>, <a href="https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/20/173036965/klarifikasi-mendikbud-nadiem-soal-isu-penghapusan-pelajaran-sejarah?page=all">Kompas</a>, <a href="https://www.zenius.net/blog/14435/untuk-apa-belajar-sejarah">Zenius</a>, <a href="https://www.simulasikredit.com/alasan-mengapa-penting-belajar-sejarah/#:~:text=Terlepas%20suka%20atau%20tidak%2C%20belajar,sebab%20segala%20sesuatu%20memiliki%20sejarah.">SimulasiKredit</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Dec 2019 12:13:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Finlandia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Selandia Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3196</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menteri pendidikan kita yang baru, Nadiem Makarim, membuat gebrakan yang cukup membuat gempar masyarakat. Bagaimana tidak, ia memutuskan untuk menghapus Ujian Nasional yang selama ini menjadi momok bagi siswa. Sebagai gantinya, ia menerapkan Asesmen Kompetensi Minimum yang berfokus pada kemampuan nalar murid dalam bidang literasi dan numerik. Siswa yang duduk di kelas 4, 8, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menteri pendidikan kita yang baru, <strong>Nadiem Makarim</strong>, membuat gebrakan yang cukup membuat gempar masyarakat. Bagaimana tidak, ia memutuskan untuk menghapus <strong>Ujian Nasional</strong> yang selama ini menjadi momok bagi siswa.</p>
<p>Sebagai gantinya, ia menerapkan <strong>Asesmen Kompetensi Minimum</strong> yang berfokus pada kemampuan nalar murid dalam bidang literasi dan numerik. Siswa yang duduk di kelas 4, 8, dan 11 yang akan menghadapi ujian jenis ini.</p>
<p>Apakah ini merupakan langkah yang tepat? Bagaimana sistem pendidikan kita jika dibandingkan dengan negara lain? Apakah Indonesia memang tidak membutuhkan Ujian Nasional?</p>
<h3>Pendidikan di Negara Lain</h3>
<p><div id="attachment_3197" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3197" class="size-large wp-image-3197" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3197" class="wp-caption-text">Pendidikan di Finlandia (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.weforum.org/agenda/2019/02/how-does-finland-s-top-ranking-education-system-work" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi5wZfJl87mAhULSX0KHSJwAg8QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">World Economic Forum</span></a>)</p></div></p>
<p>Semenjak berkutat dengan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/">Karang Taruna</a>, pendidikan menjadi salah satu isu yang penulis perhatikan. Alasannya jelas, banyak anggota yang masih duduk di bangku sekolah sehingga penulis mengetahui gambaran kasar pendidikan sekarang.</p>
<p>Tidak hanya itu, penulis membaca beberapa buku yang membahas sedikit tentang pendidikan di negara lain. Buku yang sudah penulis baca adalah <strong><em>Strawberry Generation</em></strong> karya Rhenald Khasali dan <em><strong>Teach Like Finland</strong></em> karya Timothy Dale Walker.</p>
<p>Dari buku <em>Strawberry Generation, </em>penulis bisa mengintip bagaimana pendidikan di Selandia Baru<em>. </em>Penulis juga mengetahui sedikit bagaimana Finlandia bisa menjadi negara dengan edukasi nomor satu di dunia.</p>
<p>Setelah membaca kedua buku tersebut, penulis bisa menarik kesimpulan bahwa sistem pendidikan di negara maju sangat berbeda dengan negara berkembang seperti kita.</p>
<p>Menariknya, mata pelajaran yang diajarkan di kedua negara tersebut jauh lebih sedikit dari negara kita. Hanya ada beberapa pelajaran wajib yang harus diambil oleh siswa. Sisanya disesuaikan dengan kebutuhan.</p>
<p>Dengan sedikitnya pelajaran yang diambil, otomatis jam belajar di sekolah pun tidak sepanjang di Indonesia. Artinya, mereka punya banyak waktu untuk mengembangkan diri mereka di luar jalur akademik.</p>
<p>Murid juga dibiasakan untuk berkolaborasi, bukannya saling berkompetisi. Kompetisi tetap ada, tapi pihak sekolah berupaya untuk mendorong agar para muridnya bisa bekerja sama dengan baik.</p>
<p>Selain itu, mereka tidak hanya mengedepankan nilai di atas kertas semata. Kepribadian dan karakter siswa telah dipupuk sejak di bangku dasar. Kalau tidak salah, hal ini juga berlaku di Jepang dan beberapa negara lainnya.</p>
<p>(<em>Catatan Tambahan: Penulis gemar menonton anime yang berlatar belakang sekolah juga agar bisa mengintip bagaimana pendidikan di Jepang)</em></p>
<h3>Sementara Itu di Indonesia&#8230;</h3>
<p><div id="attachment_3198" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3198" class="size-large wp-image-3198" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/indonesia-tanpa-ujian-nasional-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3198" class="wp-caption-text">Pendidikan di Indonesia (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/debate/education-indonesia" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiHgpXdl87mAhWHWX0KHeJzBWMQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Lowy Institute</span></a>)</p></div></p>
<p>Satu masalah utama yang penulis lihat dari sistem pendidikan kita adalah banyaknya mata pelajaran yang harus kita pahami. Entah itu nanti akan berguna atau tidak setelah lulus, tidak masalah.</p>
<p>Zaman penulis masih sekolah dulu, Ujian Nasional mengharuskan kita mengerjakan enam mata pelajaran yang berbeda. Kalau sekarang, murid SMA hanya mengerjakan empat mata pelajaran.</p>
<p>Jam belajar di sekolah pun terlihat sangat padat. Mulai pagi hingga menjelang sore, pulang sekolah masih kursus (apakah cuma di Indonesia yang ada kursus pelajaran?), pulang kursus masih harus mengerjakan tugas dan belajar untuk ulangan.</p>
<p>Kalau seperti itu, murid pun tidak akan punya waktu untuk melakukan aktivitas lain. Mau ikut kegiatan ekskul juga susah cari waktunya, <em>quality time </em>dengan keluarga dan teman juga sulit.</p>
<p>Penulis bisa menulis seperti ini karena melihat sendiri bagaimana adik bungsu penulis harus pulang malam-malam. Memang dia juga menjabat sebagai ketua OSIS sehingga pulangnya pun lebih sering telat.</p>
<p>Selain itu, pemerataan hak pendidikan juga belum terlalu merata. Hal ini bisa dimaklumi mengingat negara kita sangat besar dan terdiri dari negara kepulauan.</p>
<p>Finlandia dan Selandia Baru relatif lebih kecil dari Indonesia, sehingga secara logika lebih mudah bagi pemerintahan sana untuk memeratakan pendidikannya.</p>
<p>Pemerataan identik dengan kompetensi guru dan tersedianya fasilitas di sekolah. Pemerintah berusaha mengatasinya dengan menerapkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/">sistem zonasi</a> yang cukup kontroversial. Akan tetapi, PR-nya masih jauh dari kata usai.</p>
<p>Masih banyak masalah lain, seperti rendahnya tingkat literasi, kesadaran yang rendah di masyarakat mengenai pentingnya pendidikan, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Bagaimana Jika Sistem Pendidikan Indonesia Seperti Negara Lain?</h3>
<p>Penulis sering berandai-andai, bagaimana seandainya Indonesia menerapkan sistem pendidikan seperti negara-negara maju. Apakah hasilnya akan lebih bagus atau malah lebih buruk?</p>
<p>Lantas, apakah dengan mengganti Ujian Nasional menjadi Asesmen Kompetensi Minimum merupakan pilihan yang tepat untuk mengejar ketertinggalan kita dengan negara lain?</p>
<p>Karena tulisan yang satu ini sudah cukup panjang, penulis akan membahasnya di bagian kedua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Desember 2019, terinspirasi setelah Menteri Pendidikan memutuskan untuk mengganti Ujian Nasional</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjx0YaGoc7mAhXDX30KHfJFCIIQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fmediaindonesia.com%2Fread%2Fdetail%2F277406-dpr-ke-nadiem-kebijakan-belum-matang-jangan-buru-buru-diumumkan.html&amp;psig=AOvVaw3XWIAFaod5BS6uvbT-y_on&amp;ust=1577273339024590"><span class="irc_ho" dir="ltr">Media Indonesia</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 04:24:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[hebat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada tulisan-tulisan sebelumnya, penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini. Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata. Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">tulisan-tulisan sebelumnya,</a> penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini.</p>
<p>Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata.</p>
<p>Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. Tapi, benarkah seperti itu?</p>
<h3>Menjalankan Perintah, Menjauhi Larangan</h3>
<p>Jika memang benar penulis tidak pernah merasa lebih hebat dari Tuhan, seharusnya penulis bisa menjalan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan baik sesuai yang tertuang di kitab suci ataupun sumber-sumber lain.</p>
<p>Kenyataannya, penulis masih sering melalaikan perintah-Nya dan melakukan apa yang telah dilarang-Nya. Padahal setiap perbuatan tersebut pasti ada ganjarannya, entah di dunia ataupun di akhirat nanti.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu? Ketika melakukan interopeksi, mungkin karena penulis kurang mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagai muslim, penulis termasuk jarang mendengarkan pengajian, baik secara langsung ataupun melalui YouTube.</p>
<p>Ibadah yang wajib pun terkadang masih ada yang tidak dilaksanakan. Dosa dan maksiat yang jelas-jelas dilarang pun masih sering dilakukan. Jika penulis benar-benar menjadi hamba-Nya yang taat, seharusnya hal tersebut tidak terjadi.</p>
<h3>Belajar Kepada yang Lebih Berilmu</h3>
<p>Jika mau sedikit lunak, sebenarnya apa yang penulis lakukan tersebut sangat manusiawi. Toh, manusia tidak bisa luput dari dosa. Yang bisa kita lakukan adalah belajar kepada yang lebih berilmu agar kita bisa semakin taat kepada-Nya.</p>
<p>Untuk urusan agama, yang lebih berilmu tentu saja ulama atau ustaz. Banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dari ceramah-ceramah mereka. Apalagi, dengan adanya YouTube dan media sosial membuat kita bisa mengaksesnya lebih mudah.</p>
<p>Ketika menyampaikan suatu hukum dan lain sebagainya, mereka tentu merujuk kepada Alquran, Hadis, hingga pendapat-pendapat imam yang telah disepakati.</p>
<p>Karena Islam ada berbagai mazhab, perbedaan pandangan itu adalah hal yang lumrah. Kita bisa memilih mana yang paling membuat kita merasa yakin.</p>
<p>Nah, yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang membantah perkataan ulama hanya dengan menggunakan logika ataupun dalil kemanusiaan. Bagi penulis, ini salah besar.</p>
<p>Mungkin ada ustaz-ustaz yang kurang cocok dengan kita. Akan tetapi, jangan sampai kita membuat hukum sendiri karena keterbatasan ilmu kita. Jika kurang merasa sreg, coba cari perbandingan dengan ustaz lain.</p>
<p>Kalau penulis amati akhir-akhir ini, banyak orang yang langsung menghujat ustaz karena ceramahnya dianggap kontroversi. Mereka terlihat benci kepada ustaz yang apa-apa diharamkan.</p>
<p>Padahal, beliau mengutip dari sumber yang jelas. Kita pun kemungkinan jarang mendengarkan ceramah-ceramahnya yang lain. Lantas, mengapa kita bisa menjadi sangat <em>judgemental</em>?</p>
<p>Jika sudah demikian, bukankah kita seperti menentang ayat Tuhan? Kita ini siapa kok berani-beraninya meragukan ayat Tuhan.</p>
<h3>Agama Sebagai Bahan Bercanda</h3>
<p>Satu hal lain yang sering membuat penulis mengelus dada adalah ketika agama dijadikan sebagai bahan bercanda. Fenomena ini sering penulis temukan di Twitter.</p>
<p>Penulis sama sekali tidak pernah tertawa ketika mendengar atau membaca sebuah candaan yang berkaitan dengan agama. Dalilnya di Alquran jelas.</p>
<blockquote><p><em>“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa </em>yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66]</p></blockquote>
<p>Tidak hanya agama yang penulis yakini, penulis juga sama sekali tidak senang ketika ada agama lain dijadikan bahan olok-olokan meskipun yang punya agama pun tertawa karenanya.</p>
<p>Penulis sendiri tidak habis pikir, mengapa fenomena ini seolah dianggap biasa saja. Apakah penulis yang terlalu kaku? Atau kita benar-benar telah merasa lebih hebat dari Tuhan?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Teman penulis pernah memberi teguran bahwa iman lebih diutamakan dibandingkan akal. Kita tidak bisa melihat atau mendengar Tuhan secara langsung, sehingga dibutuhkan keimanan untuk memercayai keberadaan-Nya.</p>
<p>Penulis bukannya mau sok suci atau merasa yang paling benar. Justru, penulis menulis ini sebagai pengingat diri agar tidak merasa lebih hebat dari Tuhan yang diyakini ada sejak kecil.</p>
<p>Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua, terutama untuk diri penulis sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi oleh banyak hal yang membuat penulis banyak merenung</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@mindaugasbravo">Mindaugas Vitkus</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Pengalaman Orang Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-dari-pengalaman-orang-lain/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Jul 2019 04:41:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[mendengar]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[pendengar]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2546</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang suka mendengarkan cerita orang lain. Beberapa kali penulis membaca buku ataupun artikel untuk mengetahui bagaimana cara menjadi pendengar yang baik. Tentu ada alasannya. Penulis selalu bisa belajar dari pengalaman orang lain, pengalaman yang mungkin tidak akan pernah penulis alami sendiri. Belajar dari Keberhasilan Orang Salah satu genre buku favorit penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-dari-pengalaman-orang-lain/">Belajar dari Pengalaman Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang suka mendengarkan cerita orang lain. Beberapa kali penulis membaca buku ataupun artikel untuk mengetahui bagaimana cara menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar yang baik</a>.</p>
<p>Tentu ada alasannya. Penulis selalu bisa belajar dari pengalaman orang lain, pengalaman yang mungkin tidak akan pernah penulis alami sendiri.</p>
<h3>Belajar dari Keberhasilan Orang</h3>
<p><div id="attachment_2548" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2548" class="size-large wp-image-2548" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2548" class="wp-caption-text">Kisah Sukses Orang Lain (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@alexread">Alex Read</a>)</p></div></p>
<p>Salah satu genre buku favorit penulis adalah biografi. Penulis yang pada dasarnya menyukai sejarah tentu tertarik dengan kisah hidup orang-orang sukses.</p>
<p>Penulis ingin mengetahui apa resep keberhasilan mereka, walaupun terkadang memang yang ditampilkan hanya yang baik-baik saja. Penulis tidak menutup mata terhadap fakta tersebut.</p>
<p>Nah, kisah tentang kesuksesan tidak melulu berasal dari buku biografi yang biasanya tebal-tebal. Kita juga bisa mendengarnya dari orang-orang yang ada di sekeliling kita.</p>
<p>Tentu definisi keberhasilannya pun bervariasi. Ada yang berhasil secara karir, ada yang berhasil membina keluarga, ada yang sukses berhijrah menjadi lebih baik, ada yang mampu berinvestasi sehingga mencapai <em>financial freedom</em>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Biasanya jika ingin mengulik kunci keberhasilan tersebut, penulis akan secara tiba-tiba melakukan &#8220;sesi wawancara&#8221; dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mulai spesifik.</p>
<p>Contohnya, ketika konsultan sekaligus <em>leader </em>di tempat kerja penulis habis kontrak, penulis menanyakan perjalanan karirnya hingga bisa di titik yang sekarang.</p>
<p>Dengan mengetahui perjalanan karirnya, penulis bisa memproyeksikan bagaimana perjalanan karir penulis ke depannya. Mungkin tidak langsung jadi, tapi setidaknya ada sedikit gambaran ke mana kaki harus melangkah.</p>
<p>Tidak melulu soal hidup, penulis pun terkadang belajar tentang hal-hal lain seperti cinta. Penulis yang tak terlalu pandai bermain cinta senang mendengarkan cerita-cerita dari orang lain, terutama yang sedang melakukan pendekatan.</p>
<p>Walaupun mungkin tidak diterapkan di dalam kehidupan nyata, setidaknya penulis akan mencatat kisah tersebut di benak penulis. Siapa tahu, bisa jadi sumber inspirasi novel di waktu yang akan datang.</p>
<h3>Belajar dari Hal yang (Mungkin) Negatif</h3>
<p><div id="attachment_2547" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2547" class="size-large wp-image-2547" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/belajar-dari-pengalaman-orang-lain-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2547" class="wp-caption-text">Mengalami Apa yang Belum Pernah Dialami (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@elevatebeer">Elevate</a>)</p></div></p>
<p>Yang namanya mempelajari kehidupan, tentu tidak akan pas jika kita hanya belajar sisi positifnya saja. Hal negatif (atau hal yang sering dianggap negatif oleh orang lain) juga bisa menjadi pelajaran tersendiri dalam hidup.</p>
<p>Penulis sering bilang, kalau hidup penulis itu cenderung lurus-lurus saja. Pendidikan di rumah dan sikap <em>introvert </em>membuat penulis jarang mencoba hal-hal yang penulis tahu itu kurang baik. Contohnya, merokok, minum-minuman keras, dan hubungan seks bebas.</p>
<p>Nah, meskipun belum pernah mengalaminya sendiri (dan semoga tidak akan pernah selamanya), penulis sedikit tahu pengalaman dengan mencoba hal tersebut dari orang lain yang dengan baik hati mau berbagi kisah hidupnya.</p>
<p>Penulis jadi tahu seperti apa orang yang mabuk itu, apa saja jenis minuman keras, tahu bagaimana rasa penyesalan yang muncul akibat telah melakukan seks bebas, dan lain sebagainya.</p>
<p>Tidak hanya itu, penulis juga pernah mendengar cerita tentang depresi, tentang kasus <em>bullying</em>, tentang bagaimana tidak harmonisnya rumah tangga, dan hal-hal menyedihkan lainnya.</p>
<p>Biasanya, orang-orang yang menceritakan ini ingin didengar oleh orang lain agar bisa merasa sedikit tenang. Jika sudah seperti ini, penulis biasanya memosisikan diri untuk pasif, walau kadang tak sengaja mengeluarkan kata-kata nasihat yang sebenarnya tak diminta.</p>
<p>Yang bisa penulis lakukan adalah berusaha menunjukkan sikap empati dan berusaha meyakinkan bahwa mereka tidak sendirian. Mungkin hanya itu bantuan yang bisa penulis berikan kepada mereka.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Manusia memiliki dua telinga dan satu mulut. Secara filosofi, penulis menganggap kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Penulis sendiri masih berusaha untuk seperti itu.</p>
<p>Apalagi, pada dasarnya penulis adalah orang yang pendiam dan cenderung memendam segala sesuatunya sendiri. Iya, itu tidak baik. Penulis juga sedang berusaha untuk lebih terbuka dengan orang lain.</p>
<p>Mendengarkan cerita tidak harus selalu dari yang lebih tua. Dari yang lebih muda pun terkadang kita akan mendapatkan sesuatu. Penulis sudah sering mendengar cerita-cerita yang bermacam-macam dari mereka yang lebih muda ini.</p>
<p>Dengan mendengarkan cerita dan pengalaman dari orang lain, kita akan mendapatkan pelajaran yang mungkin tidak akan pernah kita alami sendiri. Oleh karena itu, penulis sangat suka mendengarkan orang lain mengisahkan perjalanan hidupnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 20 Juli 2019, terinspirasi setelah mendengar banyak cerita dari orang lain</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@krewellah87">Andrea Tummons</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-dari-pengalaman-orang-lain/">Belajar dari Pengalaman Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seandainya Mendapatkan 80 Juta</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/?noamp=mobile#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2019 23:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[aksi]]></category>
		<category><![CDATA[andai]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2014</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membangun perpustakaan pribadi yang tak kalah lengkap dari koleksi bung Hatta yang jumlahnya mencapai 40 ribu buku itu. Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memilih untuk menginvestasikannya sebagai tabunganku di masa depan. Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memberangkatkan kedua orangtuaku umroh atau bahkan haji dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/">Seandainya Mendapatkan 80 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membangun perpustakaan pribadi yang tak kalah lengkap dari koleksi bung Hatta yang jumlahnya mencapai 40 ribu <a href="http://whathefan.com/category/buku/">buku</a> itu.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memilih untuk menginvestasikannya sebagai tabunganku di masa depan.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan memberangkatkan kedua orangtuaku umroh atau bahkan haji dengan travel yang paling nyaman dan terpercaya.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membelikan adik-adikku barang-barang yang mereka inginkan selama ini, entah sepatu bola basket mahal maupun <em>jersey</em> <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/hiperinflasi-pada-sepakbola/">sepakbola</a> asli tim favorit mereka.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan menyumbangkannya kepada orang-orang fakir yang lebih membutuhkan dan anak-anak yatim piatu yang mendambakan kasih sayang,</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membeli banyak aksesoris <a href="http://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">wayang</a> yang selama ini selalu kuinginkan untuk dipajang di  dalam kamar.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan pergi liburan ke Jepang atau <a href="http://whathefan.com/pengalaman/terobsesi-oleh-inggris/">Inggris</a>, mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya bisa kupandang melalui fotonya.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membeli <a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/filosofi-merakit-gundam/">Gundam</a>, <em>action figure</em>, monopoli, dan mainan-mainan lainnya yang telah lama ingin aku jadikan sebagai koleksi.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membangun sebuah bangunan sederhana sebagai tempat <a href="http://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a> berkumpul, entah untuk rapat ataupun sekadar bermain.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan membeli berbagai gawai yang selama ini telah kuidam-idamkan.</p>
<p>Seandainya aku mendapatkan 80 juta, aku akan menggunakannya sebagai modal usaha yang selama ini telah berada di dalam angan-anganku.</p>
<p><strong>Akan tetapi&#8230;</strong></p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai bekerja lebih cerdas, semua itu sangat mungkin digapai.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai belajar lebih giat, semua itu sangat bisa untuk diraih walaupun bukan sekarang.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai bertindak, semua itu bisa dikejar sebanding dengan usaha yang telah dikeluarkan.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai menetapkan target-target untuk beberapa waktu ke depan, kakiku tidak akan melangkah menuju ketidakpastian.</p>
<p>Seandainya aku berhenti berandai-andai dan mulai meyakini bahwa impian yang telah tertulis di atas harus berhasil dicapai, maka aku harus berhenti bermalas-malasan dan mulai berjuang lebih baik, lebih keras, lebih cerdas lagi dari sekarang.</p>
<p>Tidak ada lagi berandai-andai, <strong>karena impian akan menjadi percuma apabila tidak diiringi aksi yang nyata untuk mewujudkannya.</strong></p>
<p><em>Stop wishing, start acting.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Januari 2019, terinspirasi dari tarif salah satu artis yang tertangkap karena prostitusi online</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://batman.wikia.com/wiki/File:Joker_money.jpg" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiw6eyygdzfAhXNWysKHfu1DNkQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Batman Wiki &#8211; Fandom</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/">Seandainya Mendapatkan 80 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/seandainya-mendapatkan-80-juta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar: Proses Tiada Akhir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2018 02:50:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1874</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi beberapa orang, terutama pelajar dan mahasiswa, belajar adalah kegiatan yang sedikit membosankan. Apalagi jika melihat kurikulum pendidikan yang sekarang. Setelah seharian belajar di sekolah, pulangnya masih harus les dan mengerjakan tugas. Jika diambil sebuah sampel di lingkungan sekitar penulis, banyak yang mengeluhkan tumpukan pekerjaan rumah mereka di media sosial. Penulis sudah pernah menjelaskannya panjang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/">Belajar: Proses Tiada Akhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi beberapa orang, terutama pelajar dan mahasiswa, belajar adalah kegiatan yang sedikit membosankan. Apalagi jika melihat kurikulum pendidikan yang sekarang. Setelah seharian belajar di sekolah, pulangnya masih harus les dan mengerjakan tugas.</p>
<p>Jika diambil sebuah sampel di lingkungan sekitar penulis, banyak yang mengeluhkan tumpukan pekerjaan rumah mereka di media sosial. Penulis sudah pernah menjelaskannya panjang lebar pada tulisan <a href="http://whathefan.com/karakter/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a>.</p>
<h3>Definisi Belajar</h3>
<p>Sebenarnya, definisi belajar tidak sesempit itu. Ia memiliki makna yang lebih luas dari sekadar mengerjakan tugas. Bahkan di dalam KBBI, kata belajar setidaknya memiliki 3 definisi yang berbeda.</p>
<blockquote><p><b>1</b> berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu</p>
<p><b>2 </b>berlatih</p>
<p><b>3</b> berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman</p></blockquote>
<p>Proses belajar tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah maupun tempat les. <strong>Proses belajar bisa terjadi di mana saja</strong>. Penulis ambil contoh kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Karang Taruna</a> (Katar) di tempat tinggal penulis.</p>
<p>Program kerja yang dijalani Katar memberikan pelajaran hidup kepada anggota-anggotanya. Kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">barang bekas</a> melatih anggota untuk memanfaatkan barang bekas yang telah tak terpakai.</p>
<p>Kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/next-gen-development-project/">Next Gen Development Project</a> melatih anggota untuk bekerja dalam tim dalam memenangkan suatu kompetisi secara sehat. Bahkan kegiatan bermain <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">Werewolf</a> pun melatih kemampuan analisa anggota.</p>
<h3>Proses Tiada Akhir</h3>
<p>Bagaimana ketika kita berada di dunia kerja? Lebih banyak lagi pelajarannya, mungkin lebih banyak ketika kita berada di bangku kuliah. Yang jelas terlihat adalah kita belajar untuk mengerjakan tugas kita dengan baik.</p>
<p>Selanjutnya kita belajar beradaptasi di lingkungan yang baru, apalagi jika merantau ke kota orang seperti penulis. Dengan bekerja bersama orang-orang, kita juga belajar bagaimana berinteraksi dengan orang-orang dengan latar belakang yang beragam.</p>
<p>Selain itu, kita juga harus aktif dalam mencari ilmu guna <strong>meningkatkan kemampuan yang dimiliki</strong>. Kita bisa bertanya kepada orang yang lebih ahli atau mencari materi di internet.</p>
<p>Jangan pernah bilang bahwa kita tidak tahu apa yang harus dipelajari. Jika muncul pemikiran seperti itu, kemungkinan kita merasa sudah cukup belajar sehingga tidak perlu menambah ilmu baru. Dan itu, menurut penulis, salah.</p>
<p><div id="attachment_1875" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1875" class="wp-image-1875 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644.jpg 1050w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1875" class="wp-caption-text">Proses Tiada Akhir (Foto oleh Priscilla Du Preez)</p></div></p>
<p>Belajar adalah <strong>proses tiada akhir</strong>. Setiap aktivitas dan interaksi yang kita lakukan adalah proses belajar, terlepas sadar maupun tidak. Manusia tidak boleh berhenti belajar dan merasa sudah paling pandai.</p>
<p>Tanya saja pak Habibie, yang penulis yakin masih belajar di usianya yang sudah <em>sepuh</em>. Tanya siapa saja orang-orang sukses yang kalian kenal, setidaknya mereka akan mengisi waktu mereka dengan membaca buku yang bermanfaat atau mengikuti seminar.</p>
<p>Memiliki rasa haus ilmu seperti <a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/kekepoan-yang-hakiki-ala-thomas-alva-edison/">Edison</a> bisa menjadi modal yang bagus. Ilmu apapun (selama bermanfaat) tidak ada ruginya untuk dipelajari, entah ilmu negosiasi, komunikasi, marketing, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Dengan terus menerus tidak puas</strong> dengan pengetahuan yang dimiliki, kita tidak akan merasa bosan untuk belajar. Kita akan selalu merasa kurang dan hal tersebut menjadi motivasi agar kita tidak malas belajar.</p>
<p>Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, kita harus memiliki nilai tambah agar bisa bersaing dengan orang lain. Nilai tambah itu bisa kita dapatkan dengan belajar, apapun bentuknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Desember 2018, terinspirasi setelah sering mendapatkan &#8220;kelas tambahan&#8221; di kantor</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@craftedbygc">Green Chameleon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/">Belajar: Proses Tiada Akhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Waspada Dari Punahnya Burung Dodo</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2018 06:31:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Burung Dodo]]></category>
		<category><![CDATA[negative thinking]]></category>
		<category><![CDATA[positive thinking]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[waspada]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=633</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kita sering mendengar istilah positive thinking yang secara singkat berarti memelihara pikiran yang positif dalam diri kita. Pola pikir seperti ini memang harus dilakukan dalam keseharian agar kita bisa merasa tenang dan menjalani hidup dengan baik. Namun dalam penerapannya, kita tidak bisa serta merta berpikir positif terhadap setiap hal. Terlalu berpikir positif dapat membuat kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/">Belajar Waspada Dari Punahnya Burung Dodo</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kita sering mendengar istilah <em>positive thinking</em> yang secara singkat berarti memelihara pikiran yang positif dalam diri kita. Pola pikir seperti ini memang harus dilakukan dalam keseharian agar kita bisa merasa tenang dan menjalani hidup dengan baik.</p>
<p>Namun dalam penerapannya, kita tidak bisa serta merta berpikir positif terhadap setiap hal. Terlalu berpikir positif dapat membuat kita kehilangan kewaspadaan yang ujungnya akan membuat kita lengah.</p>
<p>Kepunahan burung Dodo pada tahun 1600an dapat menjadi pelajaran bahwa kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan terhadap segala sesuatu yang terjadi di hadapan kita.</p>
<p>Burung Dodo merupakan sejenis unggas yang hidup di pulau Mauritius. Karena burung ini jenis yang tidak bisa terbang, maka habitat burung ini pun hanya ada di pulau tersebut.</p>
<p>Mereka hidup bebas di alam hingga manusia mulai datang ke pulau tersebut. Karena belum pernah melihat spesies manusia sebelumnya, maka burung tersebut tenang-tenang saja mendekati manusia. Tidak ada rasa takut maupun was-was dengan kehadiran manusia.</p>
<p>Hasilnya? Hanya dalam beberapa tahun burung Dodo punah karena diburu oleh manusia untuk dijadikan sebagai bahan pangan. Tidak ada upaya dari manusia pendatang tersebut untuk mengembangbiakkan burung Dodo menjadi unggas ternak.</p>
<p><div id="attachment_637" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-637" class="size-full wp-image-637" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Pulau-Mauritius-Sekarang-via-www.bitacoras.ws_.jpg" alt="" width="900" height="675" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Pulau-Mauritius-Sekarang-via-www.bitacoras.ws_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Pulau-Mauritius-Sekarang-via-www.bitacoras.ws_-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Pulau-Mauritius-Sekarang-via-www.bitacoras.ws_-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Pulau-Mauritius-Sekarang-via-www.bitacoras.ws_-340x255.jpg 340w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-637" class="wp-caption-text">Pulau Mauritius Sekarang (www.bitacoras.ws)</p></div></p>
<p>Apakah bisa <em>positive thinking </em>dan kewaspadaan berdampingan? Jawabannya tentu saja bisa.</p>
<p>Bukankah bentuk waspada merupakan bentuk dari <em>negative thinking</em>?</p>
<p>Tentu saja bukan. Coba bandingkan kedua kalimat berikut ketika dua orang wanita akan pulang dari kerja larut malam:</p>
<p><strong>Wanita 1</strong>:<em> Aduh aku pulang malam, pasti di jalan kenapa-napa ini, nanti kalau diculik gimana</em></p>
<p><strong>Wanita 2</strong>:<em> Karena udah malam, berarti aku harus lewat jalan yang ramai biar aman</em></p>
<p>Bisa kan membedakan mana yang waspada mana yang bukan? Waspada dalam KBBI memiliki makna berhati-hati dan berjaga-jaga. Dengan kata lain, menyiapkan antisipasi sebelum kejadian yang tidak diinginkan terjadi.</p>
<p>Wanita pertama hanya sekedar takut dengan pikiran yang macam-macam, sedangkan wanita kedua menyiapkan rencana agar hal buruk tidak terjadi.</p>
<p>Itulah yang dinamakan dengan waspada, berjaga-jaga dengan menyiapkan rencana sembari berpikir positif bahwa semua akan baik-baik saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 13 April 2018, setelah sholat Jum&#8217;at di masjid Al-Ikhlas</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Dodo">https://id.wikipedia.org/wiki/Dodo</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/">Belajar Waspada Dari Punahnya Burung Dodo</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Menjadi Manusia: Berbuat Tanpa Merasa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:42:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Emha]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Rifan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=89</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran saya. Pemikiran ini saya dapatkan setelah membaca tulisan Ahmad Rifa&#8217;i Rifan dan Emha Ainun Najib, yang saya lupa judulnya. Kedua tulisan yang sebenarnya berbeda makna -yang satu membahas perlunya untuk tidak merasa, satunya membahas menjadi manusia dulu sebelum menjadi muslim- akan tetapi saya melihat ada korelasi diantara kedua tulisan ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/">Belajar Menjadi Manusia: Berbuat Tanpa Merasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran saya. Pemikiran ini saya dapatkan setelah membaca tulisan Ahmad Rifa&#8217;i Rifan dan Emha Ainun Najib, yang saya lupa judulnya.</p>
<p>Kedua tulisan yang sebenarnya berbeda makna -yang satu membahas perlunya untuk tidak merasa, satunya membahas menjadi manusia dulu sebelum menjadi muslim- akan tetapi saya melihat ada korelasi diantara kedua tulisan ini.</p>
<p>Manusia, otomatis termasuk saya, seringkali cepat merasa. Misalnya, belajar bahasa Inggris di Pare beberapa bulan membuat saya merasa lebih jago berbahasa Inggris.</p>
<p>Nyatanya, ketika ditelepon mahasiswa Manchester Metropolitan University, jawaban saya masih gelagapan enggak karuan (terbaca sombong, padahal sebenarnya mendapat telepon dari luar negeri itu ada caranya, dan tidak susah). Artinya, kita itu seringkali terlalu tinggi dalam menilai diri sendiri.</p>
<p>Seharusnya, semakin kita belajar, maka semakin kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Seperti kata Aristoteles, kebijakan sejati adalah mengetahui kalau kita tidak tahu apa-apa.</p>
<p>Dalam konteks berbuat baik, terutama kepada sesama, cukuplah kita berbuat baik saja, tanpa perlu merasa berbuat baik. Sekali kita merasa, maka hilanglah esensi berbuat baik itu. Darimana dasarnya? Setidaknya, keikhlasan sudah sirna dari perbuatan tersebut. Orang baik tidak akan merasa dirinya baik.</p>
<p>Contoh lain, misal dalam hal ibadah. Jika kita menganggap ibadah kita sudah bagus, lalu melihat ibadah orang lain yang belum sebagus kita, maka kita cenderung merasa lebih baik dan meremehkan orang tersebut.</p>
<p>Tuhan menilai kita tidak hanya dari ibadah yang kita lakukan untuk menyembah-Nya, perilaku kita pun bisa menjadi pemberat timbangan amalan kita.</p>
<p>Bukankah Nabi diturunkan untuk memperbaiki akhlak? Apa artinya belajar syariat kalau kita masih menyakiti orang lain, masih tidak menghargai orang lain.</p>
<p>Disinilah Cak Nun mengatakan bahwa kita harus menjadi manusia dulu, baru belajar menjadi muslim yang taat.</p>
<p>Kenapa? Karena menjadi muslim tanpa belajar menjadi manusia akan membuat kita menjadi angkuh, membuat kita merasa lebih baik dari orang-orang yang mungkin ibadahnya kurang.</p>
<p>Bukan berarti orang yang selalu memandang sederajat kepada sesama tapi tidak pernah sholat lebih baik daripada orang yang sholatnya rajin tapi tidak pernah memberi makan yatim piatu.</p>
<p>Dua-duanya salah. Jadilah keduanya, belajar menjadi keduanya, manusia dan muslim.</p>
<p>Oleh karena itu, dalam berbuat, terutama hal baik, tidak perlulah dibumbui dengan sikap merasa. Lakukan dengan tulus, niscaya akan membuat kita menjadi lebih manusia.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/">Belajar Menjadi Manusia: Berbuat Tanpa Merasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
