<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>budaya Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/budaya/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Jun 2024 15:26:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>budaya Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/budaya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Korea Selatan dan Reality Show: Sarana Promosi Negara ke Dunia</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/korea-selatan-dan-reality-show-sarana-promosi-negara-ke-dunia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/korea-selatan-dan-reality-show-sarana-promosi-negara-ke-dunia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jun 2024 15:26:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Korea Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[promosi]]></category>
		<category><![CDATA[variety show]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7335</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang pernah Penulis bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, belakangan ini Penulis kembali mengikuti dunia per-K-Pop-an sejak berkenalan dengan Twice. Bahkan, yang kali ini bisa dibilang lebih intens berkat algoritma yang dimiliki oleh YouTube Music. Meskipun menikmati musiknya, sebenarnya Penulis tidak terlalu suka menonton video performance atau konser mereka. Penulis justru lebih tertarik menonton berbagai acara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/korea-selatan-dan-reality-show-sarana-promosi-negara-ke-dunia/">Korea Selatan dan Reality Show: Sarana Promosi Negara ke Dunia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Seperti yang pernah Penulis bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, belakangan ini Penulis kembali mengikuti dunia per-K-Pop-an sejak berkenalan dengan Twice. Bahkan, yang kali ini bisa dibilang lebih intens berkat <a href="https://whathefan.com/musik/bagaimana-algoritma-youtube-music-membuat-saya-menyelami-k-pop/">algoritma yang dimiliki oleh YouTube Music</a>.</p>



<p>Meskipun menikmati musiknya, sebenarnya Penulis tidak terlalu suka menonton video <em>performance </em>atau konser mereka. Penulis justru lebih tertarik menonton berbagai acara <em>reality show </em>maupun <em>talkshow </em>yang melibatkan mereka.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis juga jadi sering menonton acara yang melibatkan para <em>idol girlband</em> yang musiknya Penulis dengarkan, terutama <em>Runningman </em>dan <em>Weekly Idol</em>. Apalagi, banyak dari mereka yang memiliki acaranya sendiri, seperti<em> <strong><a href="https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/">Time to Twice</a></strong></em><strong> </strong>dan <strong><em>1, 2, 3 IVE</em></strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<p>Saat menonton acara-acara tersebut, Penulis pun jadi sadar akan sesuatu. Hampir di semua episode <em>reality show </em>tersebut, terselip berbagai hal yang terkesan &#8220;mempromosikan&#8221; Korea Selatan kepada dunia. <em>Reality show </em>digunakan untuk mempromosikan negaranya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Reality Show Korea Selatan Menjadi Sarana Promosi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-7477" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Acara Runningman Memperkenalkan Banyak Wisata dan Makanan Korea Selatan (<a href="https://lifeadventuresofgenina.blogspot.com/2013/09/tuesday-running-man-episode-161-running.html">Life Adventure of Gegina</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebelum bersentuhan dengan dunia K-Pop, yang Penulis ketahui tentang Korea Selatan hanya mereka pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Selain itu, yang Penulis tahu lagi tentu Park Ji-sung, pemain sepak bola top yang pernah berseragam <a href="https://whathefan.com/olahraga/daftar-pemain-manchester-united-yang-ingin-saya-jual-musim-depan/">Manchester United</a>. </p>



<p>Setelah berkenalan dengan K-Pop, Penulis jadi mulai mengenal Korea Selatan lebih luas. Selain dari segi musik dan persaingan industri yang keras, Penulis juga jadi banyak mengenal banyak hal mulai dari bahasa, budaya, hingga makanan.</p>



<p>Salah satu yang &#8220;berjasa&#8221; untuk hal tersebut bagi Penulis adalah <em><strong>Runningman</strong></em>. Acara yang sudah berjalan ratusan episode tersebut kerap diadakan di berbagai tempat di Korea Selatan, yang secara tak langsung menjadi sarana promosi wisata untuk menarik wisatawan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="[RUNNINGMAN] The spicy and scary chili jjamppong which has capsaicin and chilis (ENGSUB)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/SkcP-I53Tyo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Meskipun acaranya &#8220;kejar-kejaran&#8221; (setidaknya di episode-episode awal), selalu ada saja<em> B-roll</em> yang memperlihatkan keindahan lokasi yang digunakan untuk syuting, entah itu di pusat kota Seoul hingga tempat yang jauh seperti Jeju Islands.</p>



<p>Tidak hanya tempat wisata yang ditonjolkan, banyak episode <em>Runningman </em>yang juga menonjolkan kuliner asli Korea Selatan. Selalu ada <em>shot </em>di mana para <em>member </em>dan bintang tamu terlihat sangat menikmati hidangan yang ada.</p>



<p>Pola ini juga Penulis temukan di <em>reality show </em>lainnya yang Penulis tonton seperti <em>Time to <strong>Twice</strong> </em>dan <em><strong>1, 2, 3 IVE</strong></em>. Bahkan salah satu <em>member </em>dari IVE, Rei, memiliki kanal YouTube sendiri bernama <strong>따라해볼레이 by섭씨쉽도 (Follow Rei)</strong> dan memiliki pola yang serupa. </p>



<p>Contoh di episode 27 ketika acara tersebut mengundang <em>member </em>IVE lainnya, Leeseo. Pada episode tersebut, Rei dan Leeseo melakukan piknik di pinggir sungai Han yang terkenal sembari menikmati berbagai makanan Korea Selatan. </p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="아이브 활동 중 레이 이서 업고 한강으로 튀어 | 따라해볼레이 EP.27" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/sOToBNXkYoM?list=PLvGP2JpRxVlCGFshQuu-avxGQcth2sMdB" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selain itu, bahasa yang digunakan sudah pasti menggunakan bahasa Korea. Sama seperti penonton anime, penonton <em>reality show </em>Korea Selatan pun jadi termotivasi untuk bisa memahami bahasa Korea Selatan agar tidak perlu menggunakan <em>subtitle </em>lagi untuk menonton.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Indonesia (Harusnya) Bisa Mengadopsi Strategi Reality Show Korea Selatan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7478" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Konsep Reality Show Korea Selatan Bisa Kita Adopsi (<a href="https://x.com/JYPETWICE/status/1522501423543590913">X</a>)</figcaption></figure>



<p>Tentu Korea Selatan tidak hanya memanfaatkan K-Pop dan <em>reality show </em>untuk menyebarkan berbagai budaya dan mempromosikan pariwisata serta makanannya. Drama dan film Korea Selatan pun sudah sangat mendunia.</p>



<p>Namun, menurut Penulis memanfaatkan <em><strong>reality </strong></em><strong><em>show </em>sebagai sarana promosi negara adalah ide yang cerdik</strong>.<em> </em>Berbeda dengan K-Pop dan drama yang mungkin cukup <em>segmented</em>, <em>reality show </em>cenderung bisa lebih dinikmati oleh orang banyak.</p>



<p>Contoh, Penulis biasanya mengajak ibunya untuk menonton acara-acara <em>reality show </em>Korea Selatan, tentu yang sekiranya bisa masuk dan dipahami oleh beliau. Walau kadang lebih banyak berkomentar mengenai &#8220;operasi plastik,&#8221; ibu Penulis ternyata bisa menikmati <em>reality show </em>tersebut.</p>



<p>Salah satu alasannya adalah<strong> <em>reality show </em>dikemas dalam bentuk hiburan</strong>, sehingga terkesan ringan dan mudah untuk dinikmati. Kita tidak perlu mengikuti alur cerita atau memiliki selera musik tertentu, karena <em>reality show </em>memang dibuat agar mudah dipahami.</p>



<p>Karena perannya untuk menghibur, tentu penonton akan sering tertawa ketika menontonnya. Oleh karena itu, penonton pun tak keberatan (dan mungkin tidak sadar) jika di dalam acara tersebut terselip promo-promo terselubung, entah dari segi pariwisata, budaya, maupun makanan.</p>



<p>Konsep inilah yang menurut Penulis perlu Indonesia tiru, <strong>bagaimana cara mempromosikan negara kita tercinta ini melalui acara <em>reality show </em>yang bisa diterima oleh banyak orang secara global</strong>. Menurut Penulis, peluang ini masih belum sering kita eksplorasi.</p>



<p>Mungkin permasalahan utamanya adalah <strong>belum terlalu mendunianya para <em>public figure </em>kita</strong> jika dibandingkan dengan <em>public figure </em>Korea Selatan. Penulis sendiri menonton <em>reality show </em><a href="https://whathefan.com/musik/feel-special-twice/">Twice</a> dan IVE karena itu acara mereka. Jika yang melakukan orang lain, mungkin Penulis tidak akan menontonnya, tak peduli mau semenarik apapun acaranya.</p>



<p>Memang sudah banyak sekali <em>public figure </em>kita yang mendunia, entah dari dunia musik, film, dan lainnya. Namun, Penulis cukup ragu kalau nama mereka sampai digila-gilai oleh orang dari negara lain seperti mereka menggilai <em>idol </em>K-Pop.</p>



<p>Kalaupun belum bisa mengglobal karena alasan tersebut, menyasar pasar lokal dulu pun tidak masalah. Kalau menargetkan masyarakat kita sendiri, tentu tujuannya adalah <strong>meningkatkan pariwisata domestik </strong>sekaligus <strong>memberikan edukasi</strong>.</p>



<p>Contoh yang baru saja Penulis temukan adalah seri <strong>Kisarasa </strong>di YouTube. Dipandu oleh Chef Renata dan Chef Juna, acara ini mampu membalut acara kuliner secara unik, di mana sinematografi dan narasinya berbeda dengan kebanyakan kanal kuliner lainnya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="KISARASA | S3 - Episode 5 - RAGAM HIDANGAN PETIS KHAS SURABAYA" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/O5f_x5iMLNo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Kisarasa seolah dibuat untuk melestarikan makanan-makanan khas nusantara, dengan menayangkannya kepada penonton. Dengan melihat episode-episodenya, pengetahuan kita akan kuliner menjadi meningkat, sekaligus menimbulkan keinginan untuk membeli makanan tersebut.</p>



<p>Namun, Kisarasa lebih cocok disebut sebagai dokumenter daripada <em>reality show</em> karena tidak memiliki unsur hiburan. Penulis merasa konten-konten berkualitas seperti acara ini kurang bisa diterima oleh mayoritas penonton Indonesia, apalagi jika melihat jumlah <em>view</em> video-videonya yang kebanyakan hanya berkisar di angka ratusan ribu hingga satu jutaan.</p>



<p>Penulis membayangkan ada sebuah konsep acara hiburan dengan kualitas seperti Kisarasa, tapi dibuat lebih ringan, penuh candaan, dan diselipi oleh berbagai promosi budaya, wisata, makanan, hingga bahasa daerah. Bahkan, kalau bisa acara tersebut dinikmati hingga penonton di luar Indonesia.</p>



<p>Semoga saja sebenarnya sudah ada, Penulis saja yang belum mengetahuinya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 19 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau Korea Selatan memanfaatkan <em>variety show </em>sebagai media promosi wisata, budaya, hingga makanannya</p>



<p>Foto Feature Image: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=sOToBNXkYoM&amp;list=PLvGP2JpRxVlCGFshQuu-avxGQcth2sMdB&amp;index=31">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/korea-selatan-dan-reality-show-sarana-promosi-negara-ke-dunia/">Korea Selatan dan Reality Show: Sarana Promosi Negara ke Dunia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/korea-selatan-dan-reality-show-sarana-promosi-negara-ke-dunia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Logika Sesat Bintang Satu</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2022 14:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bintang satu]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rating]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5796</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, ada satu fenomena di sekitar kita yang menarik sekaligus memprihatinkan bagi Penulis: Adanya &#8220;serangan&#8221; bintang satu di internet tanpa dilandasi penilaian yang objektif. Contoh terbaru adalah yang menimpa salah satu tempat bermain di sebuah mal. Salah satu YouTuber gaming terkenal Indonesia membuat sebuah konten di mana ia telah menghabiskan uang sekitar 1,3 juta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/">Logika Sesat Bintang Satu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, ada satu fenomena di sekitar kita yang menarik sekaligus memprihatinkan bagi Penulis: Adanya &#8220;serangan&#8221; bintang satu di internet tanpa dilandasi penilaian yang objektif.</p>



<p>Contoh terbaru adalah yang menimpa salah satu tempat bermain di sebuah mal. Salah satu YouTuber <em>gaming </em>terkenal Indonesia membuat sebuah konten di mana ia telah menghabiskan uang sekitar 1,3 juta untuk permainan capit yang bisa mendapatkan berbagai hadiah.</p>



<p>Di video tersebut, sang YouTuber memang terlihat kesal karena tidak pernah berhasil meskipun sudah mengeluarkan uang banyak. Alhasil, tempat bermain tersebut langsung diserbu penggemar sang YouTuber dan menghujaninya dengan bintang satu di Google.</p>





<p>Ketika Penulis mencoba untuk membaca <em>review-</em>nya di Google, terlihat jika mereka ikut melampiaskan emosi mereka walaupun mereka tidak mengalami kerugian apapun. Ada yang menulis tempat tersebut <em>scam</em>, ada yang cuma ikut-ikutan, dan lain sebagainya.</p>



<p>Melihat respons negatif yang sedemikian besar, sang YouTuber pun langsung memutuskan melakukan <em>takedown </em>video tersebut. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, banjir bintang satu sudah membuat rating dari tempat tersebut benar-benar anjlok.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bukan Pertama Kalinya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5799" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sungai Aare (<a href="https://www.bern.com/en/aare-river">Bern</a>)</figcaption></figure>



<p>Ini bukan pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi. Ketika almarhum Eril (anak dari Ridwan Kamil) meninggal di Sungai Aare, banyak netizen yang juga memberikan bintang satu kepada sungai tersebut.</p>



<p><em>Iya, sebuah sungai diberi bintang satu oleh netizen kita</em>.</p>



<p>Padahal, sungai tersebut tidak salah apa-apa. Kematian Eril merupakan takdir yang pasti akan terjadi. Memberi bintang satu hanya akan memalukan nama Indonesia di mata internasional karena aksi yang norak tersebut.</p>



<p>Pernah juga kejadian ada sebuah aplikasi di Polandia yang harus menerima <em>review </em>buruk hanya karena namanya sama dengan aplikasi/layanan di Indonesia. Ini seolah menjadi bukti kalau literasi kita masih sangat rendah.</p>



<p>Di dunia <em>esports </em>(tempat Penulis sering berkecimpung sekarang), mungkin tidak ada &#8220;fitur&#8221; untuk memberi bintang satu. Sebagai gantinya, jurus <em>report </em>akun lawan pun dilakukan jika tim kesayangannya kalah.</p>



<p>Contoh-contoh kasus di atas patut kita evaluasi bersama, bagaimana kita belum bisa dewasa dalam menggunakan internet secara global.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kedewasaan dalam Menggunakan Internet</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5800" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Internet Penuh dengan Orang Toxic (<a href="https://bdtechtalks.com/toxic-centralized-internet/">Tech Talks</a>)</figcaption></figure>



<p>Memang, kita boleh mengekspresikan diri di internet. Apa yang dilakukan oleh para netizen dengan memberikan bintang satu adalah wujud kekecewaan mereka. Kebetulan, bintang satu seolah bisa memberikan <em>impact </em>yang lebih besar daripada sekadar <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">marah-marah membuat status di media sosial</a>.</p>



<p>Namun, apa yang dilakukan tersebut jelas merugikan pihak lain. Tempat bermain yang baru saja dihujani bintang satu sebelumnya sering mendapatkan <em>review </em>yang positif dari pengunjung yang benar-benar pernah ke sana.</p>



<p>Opini <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">toxic</a></em> yang mereka berikan jelas sangat bersifat subyektif hanya demi &#8220;melindungi&#8221; atau &#8220;membela&#8221; idola mereka. Apalagi, mereka sendiri belum pernah ke lokasi tersebut sehingga rasanya memang benar-benar aneh.</p>



<p>Fitur memberi rating kepada suatu tempat di Google sebenarnya berfungsi untuk membantu pengguna lain yang belum pernah ke sana. Jika mereka ingin pergi ke tempat tersebut, beberapa ingin tahu bagaimana ulasan tentang tempat tersebut, apakah banyak yang puas atau justru banyak yang kecewa.</p>



<p>Dengan adanya serangan bintang satu tersebut, tentu rating dari tempat tersebut menjadi turun sehingga membuat orang lain merasa ragu-ragu ingin pergi ke sana. Logika sesat ini pada akhirnya akan merugikan tempat yang bersangkutan.</p>



<p>Untuk itu, kita perlu belajar untuk lebih dewasa lagi dalam menggunakan internet. Salah satu caranya adalah dengan memahami apa fungsi sebuah fitur dan menggunakannya secara tepat. Selain itu, kita harus menghindari melakukan hal-hal yang bisa merugikan pihak lain.</p>



<p>Entah sampai kapan logika sesat dengan memberikan bintang satu secara subyektif bahkan iseng ini bisa berakhir. Semoga saja pada akhirnya, kita semua bisa lebih dewasa dalam menggunakan dan memanfaatkan internet.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 7 Juli 2022, terinspirasi setelah adik bercerita tentang adanya sebuah tempat bermain yang diserbu dengan bintang satu setelah seorang YouTuber bermain di sana</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/s/photos/arcade">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/">Logika Sesat Bintang Satu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2021 12:58:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jerome Polin]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[menyontek]]></category>
		<category><![CDATA[Nihonggo Mantappu]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Youtube]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara Jerome Polin dan Maudy Ayunda. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia dan kalian pernah nyontek nggak. Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Maudy Ayunda</a>. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai <strong>apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia</strong> dan <strong>kalian pernah nyontek nggak</strong>.</p>



<p>Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk disimak. Melihat dua orang pintar dan berprestasi (<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">terlepas bantuan <em>privilege </em>yang mereka miliki</a>) berdiskusi sangat menginspirasi dan memotivasi.</p>



<p>Begitu menariknya video tersebut membuat Penulis menuliskan artikel tentang jawaban dari dua pertanyaan tersebut. Untuk Pembaca yang belum menonton video lengkapnya, bisa nonton di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="PACAR HARUS PINTER!? FIRST IMPRESSION? - Q&amp;A SPESIAL JEROME &amp; MAUDY AYUNDA" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/4vIZVHzOCYE?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Kira-Kira Harus Dikoreksi dari Pendidikan di Indonesia?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Ada beberapa poin yang menjadi <em>concern </em>mereka, seperti <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">membentuk kebiasaan baik</a></strong>. Jerome memberikan contoh kalau siswa di Jepang begitu disiplin tentang masalah sampah. Kita mengetahui teori &#8220;buang sampah pada tempatnya&#8221;, tapi pada praktiknya masih kurang.</p>



<p>Maudy menambahkan kalau hal-hal baik seperti itu akan lebih berhasil jika ada <em>collective action</em>, di mana jika yang benar hanya kita sendiri sedangkan orang lain tidak, maka akan susah untuk dilakukan. Namun, tidak ada salahnya untuk berani memulai dari diri kita sendiri.</p>



<p>Setelah itu, Maudy menyayangkan bahwa kita kurang memiliki <strong>budaya cinta belajar</strong>. Kebanyakan siswa di negara maju, mereka memiliki &#8220;rasa lapar&#8221; untuk mendapatkan pengetahuan. </p>



<p>Mencari tahu informasi dan bertanya seolah sudah menjadi budaya mereka yang tentunya akan bagus jika dimiliki juga oleh kita. Menumbuhkan rasa suka belajar jelas tidak mudah karena harus dibentuk sejak dini dan didukung oleh lingkungan yang mendukung.</p>



<p><strong>Dari tidak tahu menjadi tahu itu menimbulkan kepuasan</strong>, kata Jerome yang diamini oleh Maudy. Penulis menyetujui pendapat ini karena telah merasakan kepuasaan itu sendiri dan menimbulkan &#8220;ketagihan&#8221; secara positif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kalian Pernah Nyontek Nggak?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5481" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Pertanyaan ini tentu menarik, mengingat Jerome dan Maudy dikenal sebagai orang yang pintar. Apakah orang pintar pernah menyontek? Ternyata jawaban mereka sama,<strong> kalau menyontek tidak pernah, tapi memberi contekan atau jawaban pernah</strong>.</p>



<p>Hal ini jelas berbeda dengan di Jepang. Jerome bercerita kalau di sana tidak ada siswa yang akan sekadar memanggil temannya ketika ujian berlangsung. Memang tidak bisa digeneralisir semua murid Jepang, hanya saja rasanya yang seperti itu menjadi mayoritas di sana.</p>



<p>Kalau di sini, <strong>menolak memberikan jawaban hampir pasti akan menjadi korban <em>bully</em></strong><em> </em>atau dipanggil pelit, pahit, dan sebagainya. Padahal, meminta jawaban ketika ujian saja sudah salah, tapi yang berpegang teguh dengan prinsipnya justru dimusuhin.</p>



<p>Sebenarnya integritas yang dimiliki murid Jepang juga <strong>didukung dengan guru dan orang tua yang disiplin</strong>. Kalau ada yang ketahuan menyontek, murid tersebut akan mendapatkan hukuman.</p>



<p>Nah, poin menarik disampaikan oleh Maudy. Ia menyebutkan kalau<strong> ilmu dan nilai itu adalah kepemilikan kita</strong>. Ujian adalah salah satu cara untuk mendapatkan evaluasi yang tepat mengenai pemahaman kita mengenai ilmu tersebut. </p>



<p>Jika kita dapat nilai bagus dengan menyontek, <em>what&#8217;s the point</em>? Di sekolah mungkin kita belum merasakan dampaknya. Akan tetapi, di kehidupan nyata nanti ilmu yang kita miliki barulah terasa manfaatnya.</p>



<p>(Mungkin akan ada yang menyanggah selama punya &#8220;bantuan orang dalam&#8221; atau &#8220;<em>privilege </em>dari orang tua&#8221; tidak akan ada masalah. Akan tetapi, mau sampai kapan kita akan terus mendapatkan bantuan dari orang lain dan tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri?)</p>



<p><strong>Lebih mementingkan nilai dibandingkan esensi ilmunya</strong> memang menjadi masalah utama di negara kita. Banyaknya persyaratan yang membutuhkan nilai ditambah tuntutan untuk mendapatkan nilai bagus dari lingkungan menjadi pemicu utama.</p>



<p>Menurut Maudy, salah satu solusi dari permasalahan ini adalah <strong>mengubah kurikulum</strong>, terutama dalam penilaian. Jangan hanya memberikan ujian dalam bentuk opsional yang mudah dicontek, tapi berikan juga ujian berupa presentasi atau esai yang tidak bisa dicontek.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Setelah menonton video tersebut, Penulis teringat satu hal yang sering dirisaukan tentang sistem pendidikan kita: <strong>Budaya menyontek yang masih dianggap wajar</strong>. </p>



<p>Memang, Penulis tidak bisa dibilang benar-benar bersih dari budaya ini, tapi menyadari kalau ini adalah budaya yang sangat buruk dan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini. Selain itu, sistem yang ada sekarang pun sangat &#8220;mendukung&#8221; budaya tersebut untuk tumbuh subur.</p>



<p>Di tulisan berikutnya, Penulis akan membahas mengenai fenomena sosial ini sekaligus opini pribadinya. <em>Stay tuned</em>!</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Desember 2021, terinspirasi setelah menonton video Nihonggo Mantappu di atas</p>



<p>Foto: <a href="https://www.instagram.com/p/CW43RJupMtf/">Instagram</a></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Kakak Agamanya Apa?&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kakak-agamanya-apa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/kakak-agamanya-apa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2020 12:58:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[bergunjing]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[ikut campur]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[privasi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4196</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika menelusuri linimasa TikTok, entah mengapa pertanyaan &#8220;kakak agamanya apa?&#8221; sedang menjadi topik yang sedang hangat dan paling sering diangkat oleh kreator. Ada yang merasa tersinggung sampai menyuruh si penanya bertanya ke guru agamanya apakah pertanyaan tersebut sopan, ada yang menanggapinya santai saja dan heran kenapa ada yang tersinggung dengan pertanyaan ini, ada yang hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kakak-agamanya-apa/">&#8220;Kakak Agamanya Apa?&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika menelusuri linimasa TikTok, entah mengapa pertanyaan <strong>&#8220;kakak agamanya apa?&#8221;</strong> sedang menjadi topik yang sedang hangat dan paling sering diangkat oleh kreator.</p>



<p>Ada yang merasa tersinggung sampai menyuruh si penanya bertanya ke guru agamanya apakah pertanyaan tersebut sopan, ada yang menanggapinya santai saja dan heran kenapa ada yang tersinggung dengan pertanyaan ini, ada yang hanya diam sambil geleng-geleng kepala, dan lain sebagainya.</p>



<p>Penulis pun menjadi penasaran, mengapa pertanyaan yang terkesan sepele ini menjadi sesuatu yang besar.</p>



<h3>Melanggar Privasi, Memicu Diskriminasi</h3>



<p>Di negara-negara Eropa yang mayoritas sekuler, menanyakan agama seseorang dianggap <strong>melanggar privasi</strong>. Agama di sana bukanlah sesuatu yang biasa diumbar-umbar, sehingga wajar mereka tersinggung jika ditanya oleh orang asing.</p>



<p>Indonesia sendiri bukan negara sekuler. Sila pertamanya saja berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Walaupun begitu, beberapa warganya merasa kalau agama yang mereka yakini tidak untuk dipublikasikan, apalagi kepada orang yang tidak mereka kenal.</p>



<p>Bagi yang merasa keberatan, mungkin karena merasa privasinya diganggu. Dari beberapa sumber dan kenalan Penulis, mereka yang minoritas juga kerap mendapatkan <strong>perlakuan diskriminasi</strong> ketika menyebutkan agamanya, terutama dari kelompok mayoritas.</p>



<p>Kenalan Penulis menceritakan pengalaman kurang menyenangkannya. Suatu hari, ia ditanya oleh seseorang mengenai agamanya. Setelah dijawab, ia dibilang kafir oleh orang tersebut. Siapapun akan terluka mendengar ucapan seperti itu.</p>



<p>Berdasarkan contoh tersebut, Penulis jadi bisa memaklumi kalau orang-orang minoritas merasa keberatan jika ditanya apa agamanya.</p>
<p>Walaupun begitu, terkadang ada perlunya untuk memberitahu apa agama kita. Misal kita ikut sebuah tur ke Jepang. Kalau kita tidak memberitahu kalau kita beragama Islam, bisa saja kita akan diajak minum sake atau makan olahan babi. </p>



<h3>Yang Mau Jawab Ya Jawab, Yang Enggak Juga Enggak Apa-Apa</h3>



<p>Menurut Penulis sendiri, polemik pertanyaan agama kita apa ini tidak perlu dibesar-besarkan. Mengharapkan orang berhenti menanyakan hal tersebut juga bisa dibilang sangat susah.</p>



<p>Seperti pola hidup stoisme, kita cukup berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan. Apa itu?<strong> Respon kita terhadap pertanyaan tersebut.</strong></p>



<p>Yang mau jawab pertanyaan itu dengan bangga ya silakan. Yang keberatan ya enggak usah dijawab, atau mengatakan kalau dirinya merasa keberatan dengan pertanyaan tersebut.</p>



<p>Jika semua polemik yang terjadi di tengah masyarakat bisa diselesaikan dengan damai, hidup pun akan menjadi lebih aman dan tenteram tanpa perlu ada drama kurang penting.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Menanyakan agama seseorang, termasuk yang tidak dikenal, menjadi bukti betapa kita begitu suka mengusik atau minimal <em>kepo </em>terhadap kehidupan pribadi seseorang.</p>
<p>Mulai dari <em>public figure </em>sampai anak tetangga, kita kerap merasa ingin tahu sisi lain kehidupan lain yang tak tampak mata. Tidak heran jika budaya bergunjing tumbuh subur di sekitar kita.</p>



<p>Kebiasaan yang kurang baik ini memang susah dihilangkan, tapi setidaknya kita bisa mulai dari diri sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>Lawang, 22 Desember 2020, terinspirasi setelah ramainya isu tentang pertanyaan tentang agama yang kita anut oleh orang asing</p>



<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@rifkyns">Rifky Nur Setyadi</a></p>




<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kakak-agamanya-apa/">&#8220;Kakak Agamanya Apa?&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/kakak-agamanya-apa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gue, Lu, dan Jakarta Sentris</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gue-lu-dan-jakarta-sentris/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2020 00:12:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[gue]]></category>
		<category><![CDATA[inferior]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Sentris]]></category>
		<category><![CDATA[lu]]></category>
		<category><![CDATA[superior]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3764</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak zaman masih bocah, Penulis sudah mengetahui kalau kosa kata gue lo itu identik dengan Jakarta. Maka di dalam mindset Penulis, kata tersebut hanya digunakan oleh orang-orang Jakarta. Kenyataannya tidak seperti itu lagi. Banyak orang daerah yang notabene bukan orang Jakarta atau tidak tinggal/sedang di Jakarta menggunakan kata tersebut. Fenomena ini menggelitik Penulis untuk mencari tahu apa penyebab dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gue-lu-dan-jakarta-sentris/">Gue, Lu, dan Jakarta Sentris</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak zaman masih bocah, Penulis sudah mengetahui kalau kosa kata <em>gue lo </em>itu identik dengan Jakarta. Maka di dalam <em>mindset </em>Penulis, kata tersebut hanya digunakan oleh orang-orang Jakarta.</p>
<p>Kenyataannya tidak seperti itu lagi. <strong>Banyak orang daerah yang notabene bukan orang Jakarta atau tidak tinggal/sedang di Jakarta menggunakan kata tersebut.</strong></p>
<p>Fenomena ini menggelitik Penulis untuk mencari tahu apa penyebab dan latar belakangnya. Apalagi, banyak orang-orang terdekat di sekitar Penulis yang menunjukkan hal tersebut.</p>
<h3>Jakarta Sentris dalam Bahasa</h3>
<p>Mengapa anak yang berada di Sulawesi bisa mengetahui seperti apa orang Jakarta berbicara? Kalau zaman dulu jawabannya mudah, melalui saluran televisi ataupun radio.</p>
<p>Sejak dulu, tayangan-tayangan yang ada di televisi terlihat sangat <strong>Jakarta Sentris</strong>. Istilah ini pertama kali Penulis ketahui dari Pakde Penulis melalui sebuah diskusi.</p>
<p><div id="attachment_3766" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3766" class="size-large wp-image-3766" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3766" class="wp-caption-text">Terpengaruh dari Tayangan TV (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.idntimes.com/hype/throwback/danti/7-momen-paling-dikenang-dari-sinetron-90-an-si-doel-anak-sekolahan" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCKjI2M2X8-gCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit IDN Times"><span class="pM4Snf">IDN Times</span></a>)</p></div></p>
<p>Mau sinetron, kuis, bahkan tayangan berita pun berpusat di Jakarta. Lihat saja kantor pusat stasiun televisi, semuanya berlokasi di Jakarta. Mereka hanya punya kantor cabang di daerah.</p>
<p>Akhirnya, logat-logat Jakarta yang mendominasi di televisi pun menjadi konsumsi seluruh orang di Indonesia. Tidak sedikit yang merasa ingin menirunya, entah apa motivasinya.</p>
<p>Bagaimana dengan sekarang? Lebih parah dengan kehadiran media sosial. Mau orang Jakarta ataupun Malang, kebanyakan akan mengirim <em>tweet </em>atau status dengan menggunakan kata <em>gue </em>atau<em> w</em>, bukan aku atau saya.</p>
<p>Ada banyak alasannya, mulai dari ingin terlihat gaul, tidak ingin merasa ketinggalan, meningkatkan kepercayaan diri, meniru idola, hingga agar tidak dinilai kampungan oleh netizen lainnya.</p>
<p>Proses ini terjadi secara alamiah. Kalau tidak salah slangnya adalah <em>Monkey See Monkey Do</em>. Manusia meniru tindakan manusia lain tanpa benar-benar memahami esensinya.</p>
<p>Apakah ini salah? Tentu tidak. Orang bebas mengekspresikan dirinya dengan bahasa yang ia nyaman gunakan. Hanya saja, ada sisi negatif yang membuat Penulis cukup merasa prihatin.</p>
<h3>Superioritas Bahasa</h3>
<p>Orang yang menggunakan logat Jakarta biasanya akan <strong>merasa lebih keren dan prestise</strong>. Akibatnya, bahasa daerah bahkan Bahasa Indonesia yang baku akan terlihat inferior.</p>
<p>Mayoritas manusia tidak ingin terlihat inferior, sehingga mereka memutuskan untuk ikut menggunakan bahasa yang dianggap superior agar tidak merasa kecil dan lebih percaya diri.</p>
<p><div id="attachment_3768" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3768" class="size-large wp-image-3768" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3768" class="wp-caption-text">Mengancam Bahasa Indonesia? (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.dream.co.id/news/kbbi-lakukan-pemutakhiran-kata-ada-julid-pansos-hingga-ukhti-191206v.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCNCz9tuX8-gCFQAAAAAdAAAAABAJ" aria-label="Visit Dream"><span class="pM4Snf">Dream</span></a>)</p></div></p>
<p>Apalagi, orang yang menggunakan bahasa daerah kerap mendapatkan label buruk seperti kampungan dan norak. Akibatnya jelas, orang akan merasa malu untuk menggunakannya.</p>
<p>Tidak heran kalau hegemoni logat-logat Jakarta (tidak hanya <em>gue lu</em>) tumbuh subur di tengah-tengah kita, terutama generasi milenial yang sangat dekat dengan media sosial.</p>
<p>Bahkan ada yang menganggap kalau bahasa gaul Jakarta ini <strong>berpotensi merusak Bahasa Indonesia</strong> sekaligus menggerus bahasa-bahasa daerah yang makin ditinggalkan.</p>
<p>Apa artinya orang daerah tidak boleh menggunakan logat Jakarta? Tentu saja boleh, apalagi yang sedang merantau atau sedang di Jakarta sebagai proses adaptasi. Kata teman Penulis, menyesuaikan diri dengan di mana kita berada.</p>
<p>Penulis terkadang merasa inferior ketika mengobrol dengan teman-temannya yang memang orang Jakarta. Demi adaptasi, Penulis mencoba meniru gaya mereka berbicara. Tapi, hasilnya lucu.</p>
<h3><em>Gue </em>dan<em> Lu </em>untuk Lidah Penulis</h3>
<p>Pada penerbangan Surabaya-Jakarta pada awal tahun 2020, Penulis tanpa sengaja bertemu dengan teman SMA yang sudah tidak bertemu semenjak kelulusan. Ia kuliah di Bandung dan merintis karir di Jakarta.</p>
<p>Iseng Penulis bercerita, kalau Penulis masih kesulitan untuk menggunakan kata <em>gue lo. </em>Ternyata, teman Penulis yang sudah 3 tahun di Jakarta ini juga masih menggunakan aku kamu.</p>
<p><div id="attachment_3769" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3769" class="size-large wp-image-3769" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-2-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-2-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-2-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-2-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-2-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3769" class="wp-caption-text">Saling Menghargai Saja (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.vecteezy.com/vector-art/223236-people-talking-illustration" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCKDJ1uWX8-gCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Vecteezy"><span class="pM4Snf">Vecteezy</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis sudah hampir 2 tahun di Jakarta. Selama itu pula, Penulis terus mengalami kesusahan untuk mengucapkan kata <em>gue</em>. Selain karena tidak terbiasa, lidah Jawa Penulis membuatnya terdengar aneh. <em>G-</em>terlalu tebal dan <em>ue</em>-nya terlalu mantul.</p>
<p>Daripada ditertawakan karena terlalu memaksa, Penulis pun lebih sering menggunakan kata aku kamu. Kalau menggunakan <em>lu</em>, Penulis masih bisa karena tingkat kemudahannya.</p>
<p>Tapi jadinya lucu, karena Penulis sering mengombinasikan aku dan <em>lu</em>. Agak enggak nyambung, sehingga seringkali Penulis mengganti <em>lu </em>dengan kata dirimu yang lebih netral. Untungnya, teman-teman di sini yang asli Jakarta mau memahami ini.</p>
<p>Tidak hanya itu, Penulis juga mengalami kesulitan menghafal istilah uang seperti <em>ceban, goceng, gocap</em>, dan lain sebagainya. Sangat sering Penulis tertukar-tukar, sehingga sering bertanya terlebih dahulu sebelum mengatakannya.</p>
<p>Karena merasa lidahnya tidak cocok dengan logat Jakarta, Penulis mencoba untuk lebih percaya diri menggunakan bahasa yang dikuasai. Bahkan, tak jarang Penulis menggunakan Bahasa Jawa ketika mengobrol dengan teman yang juga bisa berbahasa Jawa.</p>
<p>Mungkin tidak semua seperti Penulis. Pasti ada banyak orang daerah yang bisa langsung lancar berlogat Jakarta dan terdengar natural. Rasanya Penulis butuh latihan yang insentif agar lidahnya bisa lebih <em>luwes</em>.</p>
<p>Dengan demikian, Penulis bisa mengucapkan <em>gue lu </em>tanpa terdengar ganjil.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Menggunakan bahasa apapun pada dasarnya adalah hak manusia. Hanya saja jika alasannya karena merasa inferior, rasanya kurang baik, seolah kita memaksa diri untuk menjadi orang lain.</p>
<p>Kita mungkin bisa mencontoh bagaimana orang Osaka bangga akan aksennya dan tidak malu jika sedang berbicara dengan orang Tokyo yang notabene ibukota Jepang.</p>
<p>Hal ini Penulis ketahui dari komik <a href="https://whathefan.com/animekomik/conan-dan-kutukan-yang-menimpanya/"><em>Detective Conan</em></a>, sehingga mohon maaf jika kenyataannya seperti itu. Tapi mengingat orang Jepang bangga dengan bahasa mereka, Penulis yakin memang seperti itu.</p>
<p>Bisakah kita lebih percaya diri dengan bahasa kita sendiri dan tidak terpengaruh fenomena Jakarta Sentris dalam bahasa? Penulis serahkan jawabannya ke pembaca sekalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://kumparan.com/kumparannews/lu-gue-dan-fenomena-jakarta-sentris-dalam-berbahasa-indonesia-1qpTVPOEIvR">Kumparan</a>, <a href="https://tirto.id/media-nasional-tapi-rasa-jakarta-cEBS">Tirto</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jakartasentrisme">Wikipedia</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 19 April 2020, terinspirasi dari orang-orang di sekitar Penulis yang menggunakan <em>gue/lu </em>yang padahal bukan orang Jakarta dan tidak pernah tidak tinggal di Jakarta</p>
<p>Foto: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=p7-ETxxcSEM">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gue-lu-dan-jakarta-sentris/">Gue, Lu, dan Jakarta Sentris</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Jepang Pada Ushi &#038; Soto</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/mengenal-jepang-pada-ushi-soto/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 May 2019 10:23:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[referensi]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Ushi & Soto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2403</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah mengapa sejak sering dipanggil wibu di kantor, penulis makin suka dengan hal yang berbau Jepang. Padahal, dulu penulis tidak seperti ini. Bahkan, penulis lebih terobsesi dengan Inggris. Ketika berjalan-jalan di Gramedia Pondok Indah Mall, penulis menuliskan buku berjudul Ushi &#38; Soto. Subjudulnya sendiri berbunyi Budaya Jepang, dari Keluarga ke Korporasi. Tentu menarik untuk mengenal Jepang lebih dekat dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengenal-jepang-pada-ushi-soto/">Mengenal Jepang Pada Ushi &#038; Soto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Entah mengapa sejak sering dipanggil <strong>wibu </strong>di kantor, penulis makin suka dengan hal yang berbau Jepang. Padahal, dulu penulis tidak seperti ini. Bahkan, penulis lebih <a href="https://whathefan.com/pengalaman/terobsesi-oleh-inggris/">terobsesi dengan Inggris</a>.</p>
<p>Ketika berjalan-jalan di Gramedia Pondok Indah Mall, penulis menuliskan buku berjudul <strong>Ushi &amp; Soto</strong>. Subjudulnya sendiri berbunyi <em>Budaya Jepang, dari Keluarga ke Korporasi</em>.</p>
<p>Tentu menarik untuk mengenal Jepang lebih dekat dari kacamata orang Indonesia. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk membeli buku ini walaupun harganya terbilang cukup mahal jika dibandingkan dengan ketebalannya.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini benar-benar mengelupas tentang Jepang, terutama kebudayaan dan kultur yang dimiliki oleh masyarakatnya.</p>
<p>Buku ini terbagi menjadi beberapa bagian, yakni:</p>
<ul>
<li><strong>Tentang Jepang</strong>, berisi tentang perkenalan negara Jepang itu sendiri, mulai dari sejarah, musim, hingga nama masyarakatnya</li>
<li><strong>Perayaan</strong>, berisi tentang perayaan apa saja yang diperingati oleh masyarakat Jepang</li>
<li><strong>Prinsip Budaya Jepang</strong>, berisi tentang sikap-sikap yang melekat pada masyarakat Jepang</li>
<li><strong>Ekspresi Budaya Melalui Bahasa</strong>, berisi tentang wawasan singkat seputar bahasa Jepang, baik Hiragana, Katakana, maupun Kanji</li>
<li><strong>Budaya Kerja</strong>, berisi tentang bagaimana budaya masyarakat Jepang dalam bekerja</li>
<li><strong>Budaya Bisnis</strong>, berisi tentang bagaimana masyarakat Jepang berbisnis dan menjalin relasi dengan orang lain</li>
</ul>
<p>Lantas, apa maksud dari <strong>Ushi &amp; Soto </strong>yang dijadikan sebagai judul? Ternyata, itu merupakan sebuah konsep bagi orang Jepang untuk membagi antara orang dalam (Ushi) dan orang luar (Soto).</p>
<p>Mungkin kita sudah tahu bahwa masyarakat Jepang terkenal karena cenderung tertutup dengan orang asing. Ternyata, ini terpengaruh dari konsep tersebut.</p>
<p>Masyarakat Jepang terbiasa membagi orang seperti itu. Hal ini bisa bahkan bisa dilihat dari bahasa yang digunakan. Berbicara kepada Ushi bisa menggunakan bahasa yang berbeda dengan berbicara kepada Soto.</p>
<p>Setelah membaca buku ini, penulis menjadi maklum mengapa begitu susah untuk mendapatkan teman pena orang Jepang dengan menggunakan berbagai macam aplikasi.</p>
<h3><strong>Kesimpulan</strong></h3>
<p>Jika pembaca sedang mencari referensi singkat dan ringan seputar Jepang (terutama masyarakatnya), buku ini akan cocok untuk dijadikan sebagai pegangan.</p>
<p>Kita bisa belajar banyak mengapa negara bisa semaju sekarang. Budaya-budaya yang mereka terapkan sehari-hari seharusnya bisa kita teladani dan implementasikan dalam hidup kita.</p>
<p>Mungkin akan ada yang skeptis dengan berkata percuma jika kita yang berubah tapi orang lain tetap melakukan kebiasaan buruk. Biarlah, yang penting kita sudah memulai perubahan itu dari diri sendiri.</p>
<p>Atau mungkin pembaca sedang mencari klien bisnis dari Jepang? Buku ini akan memberikan tips bagaimana cara agar kita bisa diterima oleh mereka.</p>
<p>Buku ini ditulis dengan bahasa yang lumayan kaku dan terlihat akademis. Hampir tidak ada selipan humor dan candaan di tiap-tiap bagiannya. Bisa jadi, buku ini akan terasa membosankan bagi beberapa orang.</p>
<p>Walaupun begitu, buku ini mampu menyuguhkan informasi yang menarik. Terbukti, penulis bisa menghabiskan buku ini dalam waktu yang relatif singkat.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 19 Mei 2019, terinspirasi setelah menamatkan buku Ushi &amp; Soto karya Hasanudin Abdurakhman</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengenal-jepang-pada-ushi-soto/">Mengenal Jepang Pada Ushi &#038; Soto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Komentar Warga Negara Berkembang</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2019 12:29:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bersih-bersih]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[menolong]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2094</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, lini masa Twitter penulis penuh dengan postingan mengenai komentar netizen kita, yang sering dianggap sebagai masyarakat negara berkembang, terhadap ajakan salah satu restoran cepat saji untuk membuang sisa makanan kita. Kebiasaan seperti itu sebenarnya lumrah di negara lain, terutama yang sudah maju. Hanya saja, di negara kita tercinta ini, hal seperti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/">Komentar Warga Negara Berkembang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, lini masa Twitter penulis penuh dengan postingan mengenai komentar <em>netizen</em> kita, yang sering dianggap sebagai masyarakat negara berkembang, terhadap ajakan salah satu restoran cepat saji untuk membuang sisa makanan kita.</p>
<p>Kebiasaan seperti itu sebenarnya lumrah di negara lain, terutama yang sudah maju. Hanya saja, di negara kita tercinta ini, hal seperti itu bisa memicu pro kontra di kalangan <em>netizen</em> dan <a href="http://whathefan.com/karakter/untuk-apa-viral/">menjadi viral</a>.</p>
<h3>Kan Sudah Bayar!</h3>
<p>Tentu yang menarik adalah dari sisi kontranya. Penulis sudah membaca beberapa komentar tersebut, dan cukup membuat penulis tersenyum kecil dengan pola pikir mereka.</p>
<p><div id="attachment_2095" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2095" class="size-large wp-image-2095" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-1024x564.jpg" alt="" width="800" height="441" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-1024x564.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-300x165.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-768x423.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2095" class="wp-caption-text">Makan di Restoran (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@wadeaustinellis">Wade Austin Ellis</a>)</p></div></p>
<p>Secara garis besar, mereka menolak kampanye tersebut karena merasa dirinya sudah bayar mahal-mahal. Untuk apa mereka mengeluarkan uang jika mereka juga harus membereskan sisa makanan mereka sendiri?</p>
<p>Selain itu, ada juga berasumsi apabila seandainya mereka melakukan apa yang diminta, lantas apa kerja para pelayan? Jadi <em>gabut </em>dong? Ada pula yang langsung menuduh restoran tersebut hanya ingin mengeruk keuntungan lebih besar lagi alias meningkatkan omset.</p>
<p>Terlepas dari berbagai prasangka yang dilontarkan oleh <em>netizen </em>dan tujuan kampanye dari restoran tersebut, hal ini patut menjadi renungan kita bersama.</p>
<blockquote><p><em>Apakah karena sudah membayar, kita tidak boleh membantu orang lain dengan melakukan hal-hal kecil yang tidak membutuhkan waktu lama?</em></p></blockquote>
<h3>Membantu Orang Lain</h3>
<p>Bukannya ingin menyombongkan diri, tapi penulis berusaha membiasakan diri untuk membersihkan meja makan setelah makan. Di mana pun, mau di restoran ataupun warteg. Ayah penulis yang mengajarkan dan mencontohkan hal ini.</p>
<p><div id="attachment_2096" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2096" class="size-large wp-image-2096" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2096" class="wp-caption-text">Membantu Orang Lain (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@bimoluki02">Bimo Luki</a>)</p></div></p>
<p>Menumpuk piring dan gelas yang kosong, mengelap meja dengan tisu, hingga mengembalikan posisi kursi ke tempat semula. Meskipun tidak seberapa, penulis yakin hal tersebut sudah membantu pelayan tempat makan yang penulis singgahi.</p>
<p><em>Tapi kan kita udah bayar mahal-mahal!</em></p>
<p>Kalau pola pikiran kita terlalu duniawi dan berpusat pada uang, pemikiran seperti itu pasti muncul. Mungkin kita lupa ada yang namanya <strong>Pahala </strong>sebagai modal kita hidup di akhirat kelak. Bukankah telah tertulis bahwa setiap perbuatan baik akan diganjar oleh pahala?</p>
<p>Menolong orang lain adalah perbuatan baik bukan? Lagipula, hal tersebut bukanlah hal yang berat untuk dilakukan, lantas mengapa harus didebat? Jika tetap <em>kekeuh</em>, ya minimal enggak perlu <em>nyinyir </em>di media sosial.</p>
<p><em>Ini kan cuma akal-akalan restoran kapitalis buat menarik keuntungan lebih besar! Mereka mau PHK karyawannya besar-besaran!</em></p>
<p>Penulis akan bertanya balik. Keuntungan apa yang akan didapat oleh mereka? Memangnya pelayan restoran tersebut enggak punya <em>jobdesk </em>bersih-bersih yang lain? Ada bukti mereka akan melakukan PHK ke karyawannya?</p>
<p>Terkadang kita sering terjebak dengan <a href="http://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">teori konspirasi</a> yang belum tentu benar. Daripada terus menerus berprasangka buruk, lebih baik kita niatkan saja tindakan bersih-bersih tersebut untuk membantu orang lain, minimal meringankan kerja para pelayan restoran.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika tetap tidak ingin melaksanakan kampanye tersebut, ya udah, enggak perlu makan di restoran tersebut. Banyak kok restoran mewah yang tidak akan membiarkan pelanggannya membersihkan mejanya sendiri.</p>
<p>Bagi yang ingin melaksanakan budaya bersih-bersih ini, bagus, pertahankan. Tidak perlu merendahkan orang yang menolak melakukannya. Mengingatkan wajib, tapi sewajarnya saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Januari 2019, terinspirasi dari viralnya komentar <em>netizen </em>tentang kampanye budaya beres-beres salah satu restoran cepat saji.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@tigerrulezzz">Brian Chan</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/">Komentar Warga Negara Berkembang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rahasia Apple Pada Inside Apple</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/rahasia-apple-pada-inside-apple/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/rahasia-apple-pada-inside-apple/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Nov 2018 15:26:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Apple]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Inside Apple]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Steve Jobs]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1717</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya memang agak berlebihan bila diberi judul rahasia, akan tetapi penulis tidak bisa menemukan padanan kata lain yang lebih menarik dari itu. Setidaknya, buku ini akan memberi banyak pengetahuan baru bagi orang-orang yang penasaran dengan Apple, termasuk penulis. Sedikit Drama Tentang Buku Ini Penulis selalu menyukai buku-buku yang berbau Steve Jobs dan Apple semenjak menamatkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/rahasia-apple-pada-inside-apple/">Rahasia Apple Pada Inside Apple</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya memang agak berlebihan bila diberi judul rahasia, akan tetapi penulis tidak bisa menemukan padanan kata lain yang lebih menarik dari itu. Setidaknya, buku ini akan memberi banyak pengetahuan baru bagi orang-orang yang penasaran dengan Apple, termasuk penulis.</p>
<h3>Sedikit Drama Tentang Buku Ini</h3>
<p>Penulis selalu menyukai buku-buku yang berbau Steve Jobs dan Apple semenjak menamatkan <a href="http://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">buku biografi resminya</a> yang ditulis oleh Walter Isaacson. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa penulis ambil dengan mendalami sejarah perusahaan teknologi tersebut beserta para pendirinya.</p>
<p>Dulu, sewaktu menemukan buku berjudul <strong>Inside Apple </strong>ini di toko buku Togamas, penulis sempat merasa ragu untuk membelinya karena beberapa alasan. Sewaktu hati sudah mantap untuk membelinya, eh stoknya sudah habis hingga terbitlah rasa sesal di dalam hati.</p>
<p>Untunglah, penulis bisa menemukan ini di <strong>Togamas Affandi</strong>, Yogyakarta, pada 16 Desember 2017, seusai menjalani tes IELTS. Bagi pecinta buku, pasti sudah paham bagaimana rasanya menemukan buku yang telah lama di cari-cari.</p>
<p><div id="attachment_1718" style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1718" class="size-full wp-image-1718" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Togamas-Affandi-Jogja-1-www.facebook.com_.jpg" alt="" width="720" height="540" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Togamas-Affandi-Jogja-1-www.facebook.com_.jpg 720w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Togamas-Affandi-Jogja-1-www.facebook.com_-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Togamas-Affandi-Jogja-1-www.facebook.com_-340x255.jpg 340w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><p id="caption-attachment-1718" class="wp-caption-text">Togamas Affandi (yogyakarta.panduanwisata.id)</p></div></p>
<p>Buku ini terdiri dari 10 bab yang berbeda dengan topiknya masing-masing. Salah satu hal yang membuat penulis merasa yakin untuk membeli buku ini adalah karena adanya kisah Apple di bawah kepemimpinan <strong>Tim Cook</strong>.</p>
<p>Akan tetapi, sewaktu awal-awal membaca buku ini, entah mengapa terasa begitu membosankan, sehingga buku ini tersimpan rapi di rak buku penulis. Sekitar 9 bulan kemudian, barulah penulis memutuskan untuk membaca buku ini kembali.</p>
<p>Saat itulah penulis merasa aneh, bagaimana dulu bisa merasa bosan, sedangkan pemaparan isinya begitu menarik dan menjelaskan berbagai aspek dari Apple yang sebelumnya belum pernah penulis ketahui. Pada akhirnya, buku ini penulis tamatkan dengan cepat.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Seperti judulnya, buku ini menjelaskan tentang bagaimana perusahaan sebesar Apple bekerja menghasilkan produk-produk yang digemari oleh banyak orang. <strong>Adam Lashinsky </strong>selaku penulis bisa menceritakan banyak hal karena kedekatannya dengan staf-staf penting Apple.</p>
<p>Banyak orang yang mengira kematian Steve Jobs akan berdampak besar kepada perusahaan yang telah didirikannya bersama Steve Wozniak tersebut. Pada buku ini, dijelaskan bahwa hal tersebut ditangkis oleh Apple melalui para anggotanya.</p>
<p>Roh, ideologi, dan pemikiran Jobs telah merasuki para petinggi Apple yang sekarang memegang dampuk kekuasaan untuk memimpin perusahaan dengan logo apel tergigit tersebut. Kekhawatiran akan runtuhnya Apple tidak terbukti, setidaknya sampai sekarang.</p>
<p><div id="attachment_1719" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1719" class="size-large wp-image-1719" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-cook-2156-1120-1024x532.jpg" alt="" width="1024" height="532" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-cook-2156-1120-1024x532.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-cook-2156-1120-300x156.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-cook-2156-1120-768x399.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-cook-2156-1120-356x185.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-cook-2156-1120.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1719" class="wp-caption-text">Tim Cook (dancingastronaut.com)</p></div></p>
<p>Penulis sangat terbantu dengan banyak membaca buku tentang Apple sebelumnya, karena banyak sekali orang-orang penting yang disebut, seperti <strong>John Ive</strong> dan <strong>Scoot Forshall</strong>. Tentu penulis akan sedikit kesulitan memahami isi buku jika tidak memiliki pengetahuan tentang mereka.</p>
<p>Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang perbedaan Apple dari perusahaan-perusahaan lainnya, seperti ketatnya mereka dalam menjaga rahasia produk yang belum diluncurkan dan bagaimana Apple memperlakukan karyawannya.</p>
<p>Buku ini juga menjelaskan tentang berbagai strategi yang dilakukan Apple, baik ketika dipimpin oleh Jobs maupun oleh Cook, dalam menghadapi dinamika bisnis yang penuh gejolak, termasuk menghadapi lawan-lawan (yang kerap merangkap menjadi mitra) bisnisnya.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Buku ini penulis rekomendasikan bagi pembaca yang tertarik dengan sejarah perkembangan teknologi, khususnya Apple sebagai perusahaan. Budaya perusahaan diceritakan dengan baik oleh Lashinsky membuat kita bisa berimajinasi tengah berada di kantor Apple.</p>
<p>Kalau pembaca menginginkan buku yang menjelaskan tentang sosok Steve Jobs, maka buku ini kurang bisa memberikannya karena fokus dari buku ini adalah Apple-nya, bukan sang pendiri. Ada banyak buku yang bisa bercerita tentang itu.</p>
<p>Banyak bahasa teknis yang mungkin akan susah dipahami oleh orang awam, walaupun bahasa bercerita yang digunakan oleh Lashinsky tergolong mudah. Buku ini sangat cocok untuk dijadikan motivasi bagi para wirausahawan yang sedang berusaha mendirikan perusahaannya.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 November 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku <strong>Inside Apple</strong> karya <strong>Adam Lashinsky</strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/rahasia-apple-pada-inside-apple/">Rahasia Apple Pada Inside Apple</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/rahasia-apple-pada-inside-apple/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2018 09:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[santun]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1605</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua. Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah maaf, tolong, dan terima kasih. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/">Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua.</p>
<p>Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah <strong>maaf</strong>, <strong>tolong</strong>, dan <strong>terima kasih</strong>. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan dalam keseharian atau mereka akan tergerus oleh zaman.</p>
<p><strong>Maaf</strong></p>
<p>Tidak percaya bahwa ketika sikap tersebut bisa hilang? Kita ambil contoh kata <strong>maaf</strong>. Sering sekali penulis melihat banyak postingan yang menyebutkan banyak <em>semenjak ada kata baper, kata maaf seolah hilang</em>.</p>
<p>Jika kita (mungkin tanpa sengaja) menyinggung orang lain dan orang tersebut tersinggung, alih-alih mengatakan maaf kita justru menyuruhnya agar tidak <strong>baper</strong>.</p>
<p><div id="attachment_1616" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1616" class="size-large wp-image-1616" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash.jpg 1800w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1616" class="wp-caption-text">Photo by Tim Mossholder on Unsplash</p></div></p>
<p>Bukan itu poinnya. Poinnya adalah kita telah menyakiti perasaan orang lain dengan perkataan kita. Seharusnya, kita minta maaf bukan jika berbuat seperti itu, terlepas orang yang sedang kita hadapi memang mudah tersinggung atau tidak.</p>
<p>Selain itu, kata maaf juga bisa digunakan sebagai kata pendahulu sebelum minta tolong. Fungsinya hampir mirip dengan kata <strong>permisi</strong>, untuk meminta ijin agar orang lain berkenan membantu kita.</p>
<p>Akan tetapi, jangankan berkata seperti itu. Mengucapkan kata tolong saja kadang kita terlupa.</p>
<p><strong>Tolong</strong></p>
<p>Ini sering penulis alami sendiri ketika berhadapan dengan generasi-generasi muda yang (jauh) lebih muda dari penulis. Idealnya, sebelum menyuruh orang lain melakukan sesuatu untuk kita, kata <strong>tolong </strong>harus terucap.</p>
<p>Sayang, kata tersebut urung muncul, terutama ketika percakapan terjadi di <em>chat</em>. Contohnya, ada seseorang yang baru ganti nomer dan meminta kita untuk menyimpan nomernya.</p>
<p>Alih-alih berkata &#8220;mas, tolong save ya&#8221;, mereka justru hanya berkata &#8220;mas save&#8221;. Sebagai orang Jawa, tentu penulis sangat menghormati etika ketika berhadapan dengan yang lebih tua.</p>
<p><div id="attachment_1617" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1617" class="size-large wp-image-1617" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-1024x735.jpg" alt="" width="1024" height="735" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-1024x735.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-300x215.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-768x551.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-356x255.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash.jpg 1097w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1617" class="wp-caption-text">Photo by Dane Deaner on Unsplash</p></div></p>
<p>Berhubung pada kasus ini penulis berada di posisi sebagai orang yang lebih tua, tentu penulis merasa wajib untuk mengingatkan yang muda. Tak perlu dengan emosi karena merasa direndahkan, tegur dengan lembut agar yang menerima pun bisa menangkapnya dengan baik.</p>
<p>Ketika yang lebih tua meminta tolong kepada yang lebih muda, kata tolong juga mesti diucapkan. Jangan mentang-mentang lebih tua lantas bisa seenaknya yang menyuruh lebih muda tanpa sopan santun.</p>
<p>(Peribahasa Jawa <em>kebo nyusu gudhel </em>yang bermakna <strong>yang tua belajar kepada yang muda</strong> benar-benar kerap terjadi di era ini)</p>
<p>Toh dengan memberikan contoh yang baik, adik-adik kita juga akan meneladani sikap kita tersebut. Jangan lupa juga, ada satu kata yang wajib kita ucapkan setelah dibantu orang lain.</p>
<p><strong>Terima Kasih</strong></p>
<p>Kata yang terakhir ini relatif masih sering digunakan oleh semua orang. Di antara kata-kata yang lain, <strong>terima kasih </strong>bisa dibilang masih jauh dari kepunahan.</p>
<p><div id="attachment_1618" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1618" class="size-full wp-image-1618" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash.jpg" alt="" width="1000" height="684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-768x525.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-356x244.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1618" class="wp-caption-text">Photo by rawpixel on Unsplash</p></div></p>
<p>Akan tetapi, hal tersebut tidak boleh membuat kita lengah. Kita harus tetap melatih penggunaan kata ini ketika menerima uluran tangan orang lain yang sudah bersedia menolong kita.</p>
<p>Selain itu, yang tidak kalah penting adalah merespon ucapan terima kasih. Ada banyak cara untuk membalasnya, dan yang paling populer adalah <strong>sama-sama</strong>. Bisa juga dengan kata sederhana seperti <em>oyi, siap, yuhuu</em>, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Seharusnya kita merasa malu apabila kita telah tersadar bahwa hal-hal sederhana seperti yang telah disebutkan di atas tidak kita laksanakan. Kita harus waspada bahwa etika dapat tergerus oleh waktu.</p>
<p>Penulis membuat tulisan ini bukan karena merasa telah melakukan apa yang ditulis. Penulis hanya ingin mengingatkan diri sendiri dan orang lain yang membaca tulisan ini.</p>
<p>Semoga kita semua bisa menerapkan ketiga kata tersebut dalam keseharian kita. Negara ini akan menjadi bangsa yang lebih ramah dan santun apabila semua masyarakatnya menjunjung tinggi budayanya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 November 2018, terinspirasi dari sebuah <em>chat</em> dari seseorang yang meminta tolong tanpa mengucapkan tolong terlebih dahulu.</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/VZILDYoqn_U?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Caleb Woods</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/sorry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/">Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kita Harus Gemar Membaca?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2018 10:12:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1506</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis tak pernah mengingkari bahwa dirinya adalah seorang kutu buku yang betah membaca selama berjam-jam, terutama jika bertemu dengan buku yang cocok. Sejak kecil, penulis sudah gemar membaca buku-buku ilmu pengetahuan seperti seri Aku Ingin Tahu dan komik biografi tokoh-tokoh terkenal. Penulis juga suka membaca buku-buku tentang luar angkasa dan bumi, termasuk atlas dan menghafal ibukota negara. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">Mengapa Kita Harus Gemar Membaca?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis tak pernah mengingkari bahwa dirinya adalah seorang kutu buku yang betah membaca selama berjam-jam, terutama jika bertemu dengan buku yang cocok.</p>
<p>Sejak kecil, penulis sudah gemar membaca buku-buku ilmu pengetahuan seperti seri <strong>Aku Ingin Tahu</strong> dan komik biografi tokoh-tokoh terkenal. Penulis juga suka membaca buku-buku tentang <a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">luar angkasa</a> dan bumi, termasuk atlas dan menghafal ibukota negara.</p>
<p>Karena merasa mendapatkan banyak manfaat, penulis pun mendorong orang-orang di sekitar penulis untuk rajin membaca. Tak apa mulai dari yang ringan-ringan, asalkan mulai membiasakan diri untuk membaca.</p>
<p>Untuk lebih menyemangati para pembaca untuk membiasakan budaya membaca, penulis akan memberikan setidaknya lima manfaat yang didapat dengan membaca. Semua manfaat ini sudah penulis alami sendiri.</p>
<ol>
<li><strong>Memperluas Cakrawala Pengetahuan Kita</strong></li>
</ol>
<p>Apakah semua buku bisa menambah wawasan kita sebagai pembaca? Penulis rasa hampir semua genre buku memberikan manfaat dengan cara yang berbeda-beda.</p>
<p>Ambil contoh novel. Setidaknya, kita bisa mempelajari bagaimana penulisan cerita, pembuatan karakter tokoh dan menyusun alur cerita dari novel yang kita baca.</p>
<p><div id="attachment_1508" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1508" class="size-large wp-image-1508" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan-1024x694.jpeg" alt="" width="1024" height="694" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan-1024x694.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan-300x203.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan-768x521.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan-356x241.jpeg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Wawasan.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1508" class="wp-caption-text">via wearefuturegov.com</p></div></p>
<p>Penulis banyak mempelajari gaya penulisan penulis lain sebelum menulis novel karangan sendiri (<a href="http://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a> dan <a href="http://whathefan.com/category/distopia-bagi-kia/">Distopia Bagi Kia</a>). Inspirasi juga bisa datang dari novel-novel tersebut.</p>
<p>Bagaimana dengan buku non-fiksi? Jangan ditanya. Buku pengembangan diri, motivasi, hingga sejarah selalu memiliki poin-poin yang akan menambah pengetahuan kita.</p>
<p>Dengan luasnya wawasan, kita pun menjadi punya topik pembicaraan untuk didiskusikan dengan orang lain.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Pemanfaatan Waktu yang Lebih Baik</strong></li>
</ol>
<p>Daripada <em>scroll </em>media sosial (medsos) terus menerus padahal sudah merasa bosan, mengapa tidak mengalokasikannya untuk membaca buku?</p>
<p><div id="attachment_1512" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1512" class="wp-image-1512 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Waktu.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1512" class="wp-caption-text">via martinamcgowan.com</p></div></p>
<p>Sesekali memang perlu melihat apa yang sedang ramai dibicarakan, dan medsos menyedikan informasi tersebut. Akan tetapi, coba dibandingkan, lebih banyak mana yang kita lihat ketika sedang berselancar di dunia nyata? Informasi penting atau receh?</p>
<p>Membaca buku penulis anggap sebagai aktivitas produktif dengan alasan-alasan yang penulis bahas di sini. Kecuali kita memiliki aktivitas lain yang tak kalah produktif, penulis sangat menyarankan untuk banyak-banyak membaca di kala senggang.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Meningkatkan Kemampuan Menulis</strong></li>
</ol>
<p>Mayoritas penulis buku kemungkinan besar juga memiliki hobi membaca. Karya orang lain yang ia baca mendorongnya untuk melakukan hal yang sama.</p>
<p>Contoh kecilnya, ketika anggota <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Gen X SWI</a> membaca novel buatan penulis, mereka berkata jadi ingin ikut menulis cerita. Ya, walaupun nampaknya hal tersebut hanya menjadi wacana semata.</p>
<p><div id="attachment_1511" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1511" class="size-large wp-image-1511" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis-1024x692.jpg" alt="" width="1024" height="692" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis-1024x692.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis-300x203.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis-768x519.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis-356x241.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Tulis.jpg 1750w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1511" class="wp-caption-text">via thesaleslion.com</p></div></p>
<p>Kalau ingin melihat contoh dalam skala yang lebih besar, tengoklah para pendiri bangsa ini. Mulai Soekarno, Bung Hatta, hingga Tan Malaka merupakan kutu buku yang bisa menghasilkan banyak buku.</p>
<p>Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, membaca dapat merangsang otak kita untuk mempelajari bagaimana cara menulis yang baik dan dapat memikat pembaca.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Mengembangkan Daya Imajinasi</strong></li>
</ol>
<p>Apa perbedaan terbesar antara menonton film dan membaca buku? Orang yang menonton film akan menyaksikan imajinasi sang sutradara, sedangkan orang yang membaca buku akan menafsirkan apa yang ia baca sesuai dengan imajinasinya.</p>
<p><div id="attachment_1509" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1509" class="wp-image-1509 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Imajinasi.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1509" class="wp-caption-text">via trustmeilie.files.wordpress.com</p></div></p>
<p>Terbiasa berimajinasi tentu mengasah kemampuan kita melakukan hal yang sama. Lantas apa gunanya memiliki daya imajinasi yang luas?</p>
<p>Ia akan membuat kita menjadi insan yang kreatif. Menurut studi, imajinasi juga bisa meningkatkan kemampuan memori otak.</p>
<ol start="5">
<li><strong>Termotivasi</strong></li>
</ol>
<p>Ini yang paling sering penulis alami. Terkadang baru membaca judulnya saja sudah membuat penulis merasa bersemangat untuk segera melakukan hal-hal yang baik.</p>
<p><div id="attachment_1510" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1510" class="size-large wp-image-1510" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi-1024x681.jpg" alt="" width="1024" height="681" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi-1024x681.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi-768x511.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Motivasi.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1510" class="wp-caption-text">via rockmyrun.files.wordpress.com</p></div></p>
<p>Motivasi dalam diri itu seperti baterai pada <em>smartphone</em>, ia harus dicas agar kembali terisi penuh. Salah satu caranya adalah dengan membaca buku, terutama buku yang memberi banyak hal-hal bermanfaat seperti buku-buku pengembangan diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 20 Oktober 2018, terinspirasi setelah melihat manfaat dari membaca</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/k2Kcwkandwg?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Christin Hume</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/books?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">Mengapa Kita Harus Gemar Membaca?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
