<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cinta Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/cinta/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Jun 2024 16:08:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>cinta Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/cinta/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jun 2024 15:18:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7324</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah lama tidak membuka TikTok karena berbagai alasan. Namun, ada satu hal yang mendorong Penulis untuk melakukan riset ke TikTok karena ada satu komentar yang kerap muncul di berbagai media sosial lainnya: &#8220;cewek pakai standar TikTok.&#8221; Karena sudah lama tidak membukanya, tentu Penulis sedikit kebingungan apa maksudnya, walau ada asumsi-asumsi. Penulis pun memutuskan untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">Penulis sudah lama tidak membuka TikTok karena berbagai alasan</a>. Namun, ada satu hal yang mendorong Penulis untuk melakukan riset ke TikTok karena ada satu komentar yang kerap muncul di berbagai media sosial lainnya:<strong> &#8220;cewek pakai standar TikTok.&#8221;</strong></p>



<p>Karena sudah lama tidak membukanya, tentu Penulis sedikit kebingungan apa maksudnya, walau ada asumsi-asumsi. Penulis pun memutuskan untuk kembali membuka TikTok untuk melakukan riset dan melakukan wawancara dengan pengguna TikTok.</p>



<p>Ternyata, jika disimpulkan, di TikTok sering ada konten yang membahas mengenai standar-standar yang harus dipenuhi oleh pasangan. Semua konten yang Penulis temukan memiliki <em>point of view </em>(POV) dari sisi wanita yang menetapkan standar tertentu untuk lelakinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana TikTok Berubah Menjadi Standar Pasangan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7343" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jadi Patokan dalam Menentukan Standar Pasangan (<a href="https://www.searchenginejournal.com/why-is-tiktok-so-popular/424603/">Search Engine Journal</a>)</figcaption></figure>



<p>Berdasarkan hasil riset dan wawancara, Penulis menemukan fakta bahwa banyak standar yang dipasang oleh orang-orang TikTok kadang tidak masuk akal, bahkan terkesan mengada-ada. Bahayanya, standar-standar tersebut ditelan mentah-mentah oleh banyak pengguna.</p>



<p>Penulis menemukan satu contoh standar yang menurut Penulis sangat tidak masuk akal, yakni tentang <em>typing</em> atau mengetik di <em>chat</em>. Bayangkan, ada standar yang menyebutkan <strong>ciri-ciri <em>typing</em> ganteng</strong>. Masalah <em>typing</em> saja bisa dibilang ganteng atau tidak, bahkan bisa jadi <em>red flag</em> kalau tidak cocok!</p>



<p>Jika boleh berandai-andai, mungkin standar lain yang dianggap tidak masuk akal itu seperti berharap punya pasangan dengan sifat sesempurna mungkin, bisa memberikan uang bulanan dengan nominal fantastis, atau bahkan memiliki <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/idolaku-adalah-milikku-bukan-milikmu/">fisik seperit <em>idol </em>K-Po</a>p. Mungkin lho, ya.</p>



<p>Standar ini bisa digunakan baik ketika sedang mencari atau bahkan telah memiliki pasangan. Jika belum punya, mungkin standar ini membuat mereka kesulitan menemukan pasangan. Jika sudah punya, kemungkinan besar pasangan mereka akan dituntut menjadi seperti apa yang muncul di TikTok.</p>



<p>Memiliki standar tertentu untuk pasangan sebenarnya adalah hal yang normal-normal saja. Penulis pun tentu memiliki standarnya sendiri. Namun, hal tersebut menjadi kurang pas apabila kita menggunakan standar orang lain yang belum tentu cocok dengan kita.</p>



<p>Ketika memasang standar yang begitu tinggi dalam mencari pasangan, terkadang kita lupa untuk menengok ke diri sendiri:<strong> apakah aku sudah pantas mendapatkan pasangan yang seperti yang aku standarkan tersebut? </strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Terlalu Demanding sampai Lupa Sadar Diri</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7344" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-pasangan-tiktok-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Terlalu Banyak Menuntut Ini Itu (<a href="https://create.vista.com/unlimited/stock-photos/230188504/stock-photo-selective-focus-angry-girlfriend-screaming-boyfriend-while-man-putting-hands/">Vista Create</a>)</figcaption></figure>



<p>Terkadang kita ini terlalu <em>demanding </em>dalam menentukan standar pasangan, sampai lupa kalau diri <strong>kita sendiri juga butuh terus meningkatkan <em>value </em>diri</strong> agar layak mendapatkan pasangan yang baik. Kita terlalu fokus meminta, sampai lupa kalau ada yang harus diberikan.</p>



<p>Berharap dapat pasangan milyader, tapi dirinya sendiri cuma hobi rebahan, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan pekerja keras, tapi dirinya pemalas, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan baik hati, tapi dirinya sendiri sifatnya kayak setan, ya enggak layak.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berpendapat kalau selama orangnya memiliki paras rupawan, mau pemalas pun pasti bisa mendapatkan pasangan kaya. Namun, perlu diingat kalau orang kaya pasti memiliki standar yang tinggi juga. </p>



<p>Buat apa punya paras yang menarik, kalau <em>value </em>yang lain minus. Pasti ada banyak orang-orang cantik/tampan lain yang <em>value</em>-nya memenuhi standar. Persaingan untuk mendapatkan pasangan di dunia ini keras, jika kita tidak berusaha untuk terus meningkatkan <em>value </em>diri.</p>



<p>Jangan lupa kalau media sosial, termasuk TikTok, adalah platform yang penuh dengan &#8220;kosmetik.&#8221; Jangan langsung percaya apapun yang dilihat di sana, termasuk para kreator konten yang membuat konten tentang standar pasangan.</p>



<p>Jika kita menelan mentah semua apa kata orang TikTok tentang standar pasangan, alhasil standar kita pun akan menjadi tidak realistis. Ingin pasangan seperti ini itu, sampai lupa kalau setiap manusia itu memiliki plus dan minusnya masing-masing, Kok, enak mau plusnya doang?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Laki-Laki Jarang Mendapatkan Unconditional Love</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7342" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/standar-tiktok.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Karena semua konten yang Penulis temukan membahas tentang bagaimana wanita menggunakan standar TikTok untuk menentukan kriteria pasangan, Penulis jadi ingat <em>quote </em>terkenal dari Chris Rock:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Only women, children, and dogs are loved unconditionally. A man is only loved under the condition that he provide something.&#8221;</p>



<p>“Hanya wanita, anak-anak, dan anjing yang dicintai tanpa syarat. Seorang pria hanya dicintai dengan syarat dia memberikan sesuatu.”</p>
</blockquote>



<p>Berdasarkan pengalaman pribadi dan <em>sharing </em>yang dilakukan orang-orang di media sosial, seringnya memang seperti itu. Seorang pria bisa mencintai seorang wanita tanpa alasan, tapi sulit terjadi sebaliknya. Mungkin ada beberapa anomali, tapi seringnya memang seperti itu.</p>



<p>Contohnya seperti ini. Pria bisa mencintai seorang wanita yang miskin dan menganggur, tapi hal sebaliknya jarang sekali terjadi. Wanita miskin dan <em>nganggur </em>pun mungkin berharap dapat suami mapan untuk mengangkat derajat dirinya dan keluarganya.</p>



<p>Penulis paham kalau sebenarnya tidak bisa digeneralisir seperti itu. <a href="https://whathefan.com/animekomik/mokondo-ala-rent-a-girlfriend/">Pria <em>mokondo</em></a><em> </em>yang tanpa malu meminta uang ke pihak wanita pun banyak. Namun, di sini fokus Penulis adalah bagaimana &#8220;cewek pakai standar TikTok&#8221; memiliki begitu banyak persyaratan untuk pasangannya.</p>



<p>Dari dulu, pria memang seolah selalu dituntut untuk memberikan <em>effort </em>lebih untuk wanita. Hal tersebut tampaknya memang sudah menjadi standar sehingga diwajarkan. Penulis sendiri tidak merasa keberatan karena memang itu salah satu &#8220;risiko&#8221; menjadi seorang pria.</p>



<p>Namun, jika tuntutannya berlebihan, tentu hal tersebut akan memberatkan pihak prianya. Kalau sudah cinta, pria akan seolah rela melakukan apapun untuk wanitanya. Namun, kalau yang dituntut terlalu banyak, lama-lama sang pria pun akan merasa tak mampu untuk memenuhi semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Daripada terus memasang standar yang tidak masuk akal dan mudah memberi <em>red flag </em>untuk hal sepele, ada baiknya kita melakukan interopeksi diri. Daripada cuma menuntut, ada baiknya kita meningkatkan <em>value </em>diri agar sesuai dengan standar yang kita ciptakan sendiri.</p>



<p>Kalau jadi sekadar referensi bagaimana menentukan standar pasangan, TikTok oke, kok. Hanya saja, kalau sampai jadi patokan yang bersifat mutlak, kok, rasanya kurang bijak, ya. Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan sang pembuat standar, jadi lebih baik kita buat standar kita sendiri saja.</p>



<p>Kalaupun ada orang yang berlandaskan TikTok dalam menentukan kriteria pasangan, ya sudah biarkan saja. Penulis yakin ada lebih banyak orang yang tidak menggunakan TikTok semata untuk menentukan standarnya. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 5 Juni 2024, terinspirasi setelah menemukan banyak sekali komentar mengenai &#8220;cewek pakai standar TikTok&#8221;</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.wired.com/story/how-to-download-your-tiktok-videos/">WIRED</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gejolak Nafsu Kawula Muda</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2022 02:55:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kedok]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5833</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin tulisan ini akan menjadi salah satu tulisan yang paling keras dan kontroversial dari semua artikel yang ada di blog ini. Mungkin Penulis akan dicap sebagai hipokrit atau sok suci karena bisa jadi sebenarnya Penulis melakukan apa yang akan dikritiknya. Namun, Penulis merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyoroti hal ini. Apalagi, Penulis merasa ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">Gejolak Nafsu Kawula Muda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Mungkin tulisan ini akan menjadi salah satu tulisan yang paling keras dan kontroversial dari semua artikel yang ada di blog ini. Mungkin Penulis akan dicap sebagai hipokrit atau sok suci karena bisa jadi sebenarnya Penulis melakukan apa yang akan dikritiknya.</p>



<p>Namun, Penulis merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyoroti hal ini. Apalagi, Penulis merasa ada upaya-upaya untuk menormalisasinya, sesuatu yang menurut pendapat pribadi Penulis seharusnya tidak boleh dilakukan.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas mengenai <strong>gejolak nafsu kawula muda</strong> yang berbahaya jika tidak direm. Tentang bagaimana kita harus belajar mengendalikan diri agar tidak timbul rasa penyesalan di kemudian hari.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Disclaimer</h2>



<p>Dasar dari penulisan artikel ini adalah keresahan Penulis melihat pergaulan yang semakin bebas, terutama di kalangan generasi muda. Semakin banyak normalisasi dari perbuatan-perbuatan yang, menurut Penulis, tidak seharusnya dilakukan.</p>



<p>Dengan begitu, tulisan ini akan sangat personal dan subyektif dari sudut pandang pribadi Penulis. Tidak ada niatan untuk menyerang, <em>judgemental</em>, atau merendahkan pihak manapun yang melakukan hal-hal yang akan Penulis bahas di tulisan ini.</p>



<p>Kenapa Penulis cukup <em>concern </em>terhadap masalah ini? Alasan utamanya adalah karena Penulis memiliki dua adik kandung, ditambah beberapa <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">adik-adik Karang Taruna</a> yang telah beranjak dewasa. Semoga saja, tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi mereka untuk menjaga diri.</p>



<p>Jika sampai di baris ini Pembaca sudah merasa tidak nyaman dengan isi artikel ini, Penulis menyarankan untuk tidak meneruskan membaca artikel ini. Kalau tetap lanjut membaca, Penulis minta maaf jika nantinya ada kata-kata yang terlalu kasar dan menyinggung perasaan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Dua Inspirasi Tulisan Ini</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5836" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Inspirasi Tulisan Ini (<a href="https://cianjur.pikiran-rakyat.com/entertainment/pr-054703686/trending-ahmad-dhani-layak-sombong-tak-ada-satupun-musisi-dunia-yang-seperti-dirinya">Pikiran Rakyat</a>)</figcaption></figure>



<p>Tulisan ini terinspirasi dari dua hal. Pertama, video <strong>Vindes ketika mengundang Ahmad Dhani</strong>. Kedua, tentang sebuah video sekumpulan perempuan yang sempet viral karena membahas mengenai <strong><em>friend with benefit </em>(FWB)</strong> dengan dalih <em>sex education</em>.</p>



<p>Penulis akan jelaskan alasan yang pertama. Di video tersebut, Desta bertanya kepada Ahmad Dhani bagaimana seandainya anak perempuannya, yang masih kecil, mengajak teman laki-laki ke rumahnya. Ahmad Dhani mengatakan kalau itu urusan ibunya, bukan urusannya.</p>



<p>Lantas, Desta kembali bertanya apakah ia tidak khawatir kalau laki-laki tersebut akan macam-macam dengan anak perempuannya, karena ia tahu bagaimana isi otaknya yang condong ke perbuatan-perbuatan yang mengumbar nafsu (karena dia sendiri dulu juga begitu, sepertinya).</p>



<p>Di sini, Penulis pun jadi memikirkan hal yang sama. Seandainya nanti punya anak, terutama perempuan, apa yang akan Penulis lakukan jika berhadapan dengan hal tersebut? Ini akan Penulis bahas lebih detail pada poin selanjutnya.</p>



<p>Lalu untuk video kedua, Penulis sedikit merasa heran karena mereka dengan mudahnya mengumbar &#8220;aib&#8221; mereka ke publik dengan bangga. Mereka menganggap FWB adalah perbuatan yang normal-normal saja.</p>



<p>Penulis merasa hal-hal semacam ini tidak boleh dinormalisasi. Penulis yang beragama Islam dan berusaha menjunjung norma ketimuran, menganggap seharusnya hal tersebut tidak dilakukan oleh mereka yang belum sah untuk melakukannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Semua Manusia Punya Kebutuhan Biologis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5837" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kita Semua Punya Kebutuhan Biologis (<a href="https://www.nbcnews.com/better/health/how-often-do-happiest-couples-have-sex-it-s-less-ncna828491">NBC News</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis memahami bahwa semua manusia normal di dunia ini <strong>memiliki kebutuhan biologis yang harus dipenuhi</strong>, sama seperti kebutuhan-kebutuhan lainnya. Cara yang paling benar tentu saja dengan menikah dan melakukan hubungan intim dengan pasangan.</p>



<p>Cara yang menurut Penulis kurang tepat? Tentu <strong>melakukannya dengan orang yang belum sah menjadi suami/istri</strong>. Kok dengan FWB atau pekerja seks, dengan pacar saja salah. Melakukan masturbasi jika tidak punya partner sebenarnya juga salah.</p>



<p>Selain itu, ada juga fenomena di mana muda-mudi melakukan <em>staycation </em>berdua walaupun belum menikah. Alasannya ingin <em>quality time </em>dan <em>deep talk</em>, tapi ujung-ujungnya juga kemungkinan besar ke arah sana.</p>



<p>Berdasarkan pengakuan beberapa orang, ciuman dan berhubungan seks memang enak dan adiktif. Sekali kita pernah melakukannya, rasanya ingin lagi dan lagi. Kebutuhan biologis yang awalnya rendah, seolah-olah langsung meroket dan ingin terus dipenuhi.</p>



<p>Tak jarang mereka melakukan hal-hal tersebut dengan dalih cinta. Alasan khilaf pun sering jadi kambing hitam. Walaupun tidak ada niat, tiba-tiba ada saja naluri untuk melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.</p>



<p>Memang menjadi tugas yang berat untuk bisa menahan kebutuhan biologis ini, apalagi ketika ada partner dan adanya situasi yang mendukung. Bisa jadi, Penulis belum pernah melakukannya juga hanya karena tidak pernah berada di situasi yang mendukung.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kok Malah Bangga?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5838" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gejolak-nafsu-kawula-muda-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Lha Kok Bangga? (<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/proud-woman">Freepik</a>)</figcaption></figure>



<p>Sewaktu masih duduk di bangku SMA, Penulis pernah membaca sebuah artikel di koran yang menyebutkan kalau berapa persen mahasiswi sudah tidak perawan lagi. Anehnya, <strong>mereka justru merasa bangga</strong> dengan hal tersebut.</p>



<p>Ketika itu, Penulis tidak percaya dengan isi artikel tersebut. Sekarang, Penulis benar-benar percaya. Video viral perempuan-perempuan yang membahas masalah FWB seolah menjadi bukti nyatanya.</p>



<p>Tak jarang mereka justru mengompor-ngompori orang-orang yang belum pernah melakukannya untuk melakukannya. Biasanya, dengan cara mengiming-imingi orang tersebut dengan mengatakan betapa nikmatnya melakukan hal tersebut.</p>



<p>Menurut Penulis, seharusnya perbuatan-perbuatan tersebut dianggap sebagai aib. Jika memang sudah pernah melakukannya, ya sudah tutup untuk diri kita sendiri, tidak perlu diumbar ke orang lain. Tuhan sudah berbaik hati menutupi aib kita, malah kita buka sendiri.</p>



<p>Menurut analisis dangkal Penulis, kebanggaan ini dikarenakan <strong>adanya upaya menormalisasi</strong> perbuatan tersebut. Dengan begitu, makin banyak orang yang melakukannya dan tidak merasa salah karena, toh, banyak orang lain yang juga melakukannya.</p>



<p>Ini menjadi alasan utama mengapa Penulis mencemaskan adanya normalisasi dari perbuatan-perbuatan di atas. Sesuatu yang salah, jika dilakukan oleh banyak orang, maka akan dianggap sebagai hal yang normal atau bahkan dianggap kebenaran.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bayangkan Jika Orang Tua Mereka Tahu&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5841" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/mourning_couple2_copy_1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Betapa Hancurnya Perasaan Mereka (<a href="https://www.parenthub.com.au/news/parenting-news/silence-around-stillbirth-major-issue-bereaved-parents/attachment/husband-comforting-sad-crying-wife-man-consoling-sobbing-young-lady/">ParentHub</a>)</figcaption></figure>



<p>Desta memiliki dua anak perempuan. Dari wawancaranya dengan Ahmad Dhani, kita bisa mengetahui kalau dirinya sebagai seorang ayah khawatir jika anak-anaknya tersebut jatuh ke pelukan laki-laki yang tidak benar dan akhirnya melakukan hal-hal yang tidak baik.</p>



<p>Perspektif dari orang tua ini sebenarnya bisa kita gunakan <strong>untuk mengerem diri</strong> ketika hendak melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Kalau orang tua kita tahu kita berciuman atau melakukan seks dengan pacar/teman, apa mereka tidak marah dan kecewa?</p>



<p>Seandainya kita punya anak dan mereka berbuat hal tersebut, apa kita sebagai orang tua tidak sedih dan kecewa? Jika jawabannya iya, maka sudah seharusnya kita tidak melakukan hal tersebut.</p>



<p>Perbuatan yang dilarang memang kerap enak. Itu adalah ujian kita sebagai manusia, apakah kita bisa mengendalikan diri atau justru takhluk di hadapan hawa nafsu. Enaknya sesaat, tapi seringnya akan berujung dengan penyesalan hingga nanti.</p>



<p>Mau laki-laki ataupun perempuan, sudah seharusnya <strong>bisa menjaga dirinya dengan baik</strong>. Jangan mudah mengumbar bibir ataupun selangkangan ke orang lain yang belum tentu mau bertanggung jawab atas perbuatannya.</p>



<p>Jika kita sudah terlanjur melakukannya di masa lalu, tidak apa-apa. Semua manusia pernah berbuat salah dan khilaf. Yang lebih penting adalah berusaha untuk memperbaiki diri ke depannya dan tidak mengulangi kesalahan tersebut.</p>



<p>Jika ada rasa penyesalan hingga membuat diri ingin menangis, tidak apa-apa. Merasa bersalah artinya kita memiliki kesadaran bahwa kita pernah melakukan kesalahan. Hal itu jauh lebih baik daripada bangga dengan kesalahan yang telah diperbuat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis bukannya bersih dan paling suci. Penulis juga kadang melampiaskan gejolak hawa nafsunya dengan cara yang salah, meskipun sampai detik ini Penulis belum pernah berciuman ataupun melakukan seks dengan lawan jenis.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa was-was dengan kondisi pergaulan saat ini. Penulis, yang <em>insyaAllah </em>nanti akan punya anak, khawatir tidak bisa menjaganya dengan baik dan berujung ke perbuatan-perbuatan di atas.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merasa harus menulis artikel ini sebagai pengingat, terutama untuk dirinya sendiri. Semoga kita bisa mengendalikan hawa nafsu kita dengan cara yang benar dan anak-anak kita nanti selalu dilindungi dari godaan setan yang terkutuk.</p>



<p>Penulis sadar, setiap insan memiliki kesadarannya masing-masing untuk melakukan hal yang mereka inginkan. Kalau dasarnya sama-sama mau dan suka, apa Penulis bisa menghentikan mereka? Tentu tidak. Hanya saja, Penulis merasa berkewajiban untuk saling mengingatkan.</p>



<p>Mungkin Penulis terkesan kolot dan konservatif, tapi Penulis meyakini kalau ini adalah hal yang benar. Kita tidak bisa memasakan keyakinan kita ke orang lain, sehingga Penulis akan berusaha untuk menghargai jika ada yang berseberangan dengan Penulis.</p>



<p>Penulis sama sekali <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">tidak bermaksud menghakimi</a> kawula muda yang sudah pernah berciuman atau berhubungan intim. Penulis paham, gejolak nafsu memang sering susah ditahan. Hanya saja, kita harus sadar kalau hal-hal tersebut tidak sepatutnya dilakukan sebelum menikah.</p>



<p>Yang sudah terjadi, terjadilah. Mari kita sama-sama belajar mengendalikan hawa nafsu dengan lebih baik lagi, karena pada akhirnya kita sendiri yang akan menuai akibat dari perbuatan-perbuatan tersebut.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 2 Agustus 2022, terinspirasi setelah melihat semakin mengerikannya bagaimana para kawula muda melampiaskan gejolak nafsu mereka</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/man-and-woman-kissing-near-pendant-lamp-1321287/">Tan Danh</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">Gejolak Nafsu Kawula Muda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2021 05:10:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[keikhlasan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5149</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak yang mengatakan kalau rasa sayang itu tentang keikhlasan. Menurut Penulis, istilah ini begitu ambigu dan bisa disalahartikan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Contoh kasih sayang yang ikhlas itu mudah, seperti kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. Hanya memberi, tak harap kembali. Bahkan, ada peribahasanya khusus: &#8220;Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Banyak yang mengatakan kalau rasa sayang itu tentang keikhlasan. Menurut Penulis, istilah ini begitu ambigu dan bisa disalahartikan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.</p>



<p>Contoh kasih sayang yang ikhlas itu mudah, seperti kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. <em>Hanya memberi, tak harap kembali</em>. Bahkan, ada peribahasanya khusus:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak Sepanjang Galah&#8221;</p></blockquote>



<p>Nah, bagaimana dengan rasa sayang kepada pasangan. Apakah bisa sepenuhnya ikhlas?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Menyayangi dengan Ikhlas</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5154" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sayang dengan Ikhlas (<a href="https://unsplash.com/@ozgomz">Oziel Gómez</a>)</figcaption></figure>



<p>Menurut KBBI, kata ikhlas memiliki arti <em><strong>bersih hati</strong> </em>atau<em> <strong>tulus hati</strong></em>. Jika diartikan secara bebas, ikhlas memiliki keterkaitan yang erat dengan kerelaan kita melakukan sesuatu tanpa berharap apapun sebagai timbal baliknya.</p>



<p>Menyayangi seseorang dengan ikhlas artinya kita <strong>menyayangi tanpa berharap yang disayangi melakukan hal yang sama kepada kita</strong>. Kita hanya berusaha menunjukkan perasaan sayang kita tanpa menginginkan apapun.</p>



<p>Pertanyaannya, apakah benar kita bisa seperti itu? Benarkah kita bisa menyayangi pasangan atau siapapun dengan ikhlas?</p>



<p>Pada kenyataannya, sangat jarang ada manusia yang bisa menyayangi seseorang dengan ikhlas. Di dalam hati kita, pasti ada keinginan agar perasaan kita berbalas, sekecil apapun itu.</p>



<p>Ketika kita menyayangi teman-teman kita, pasti kita juga berharap kalau mereka akan menyayangi kita. Ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, kita akan berharap ia mau menerima perasaan kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tingkat Sayang Tertinggi Itu Keikhlasan, tapi&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5153" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tingkat Sayang Tertinggi? (<a href="https://unsplash.com/@estherann">Esther Ann</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau kita bisa menyayangi seseorang dengan ikhlas, berarti tingkat sayangnya sudah berada di level yang berbeda seperti yang sudah dilakukan oleh orangtua kita. Jika Pembaca ada yang seperti itu, Penulis berikan apresiasi yang setinggi-tingginya.</p>



<p>Ada juga yang bilang kalau <strong>tingkat sayang tertinggi itu ketika kita ikut bahagia dengan kebahagiaannya</strong>, walaupun hal tersebut harus <a href="https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/">mengorbankan kebahagiaan diri sendiri</a>.</p>



<p>Akan tetapi, tingkat sayang tertinggi itu akan membuat kita tidak akan merasa berkorban, seperti kata Sujiwo Tejo yang sering Penulis kutip di dalam blog ini.</p>



<p>Penulis setuju jika tingkat tertinggi dari perasaan sayang itu tentang keikhlasan, seperti yang sudah dibuktikan oleh orangtua Penulis. </p>



<p>Hanya saja, terkadang usaha kita untuk ikhlas ini justru menjadi bumerang bagi kita. Ada saja orang-orang yang memanfaatkan usaha kita untuk ikhlas menyayangi demi kepetingannya sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Keikhlasan Dituntut</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5152" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dituntut Membuktikan Keikhlasan (<a href="https://unsplash.com/@belart84">Artem Beliaikin</a>)</figcaption></figure>



<p>&#8220;<em>Kalau kamu enggak mau nuruti mauku, berarti kamu gak ikhlas sayang sama aku!</em>&#8220;</p>



<p>Pernah mendengarkan kalimat seperti di atas? Menurut Penulis, itulah contoh ketika keikhlasan rasa sayang kita diuji sekaligus dituntut oleh orang lain demi kepentingannya sendiri.</p>



<p>Terkadang, ada orang-orang yang<strong> menuntut kita untuk menunjukkan keikhlasan</strong> kita. Padahal, keikhlasan itu bukan sesuatu yang dapat ditunjukkan kepada orang lain. Yang bisa mengukur hanya diri sendiri dan Tuhan.</p>



<p>Menurut Penulis, orang yang menuntut kita seperti itu patut dipertanyakan karena artinya mereka tidak percaya kalau kita sayang mereka dengan ikhlas. Selain itu, kenapa hanya kita yang dituntut memberikan bukti?</p>



<p>Jika Pembaca pernah menghadapi situasi seperti, coba direnungkan kembali hubungan kalian. Bisa jadi, tanpa disadari selama ini kalian sedang menjalani <a href="https://whathefan.com/karakter/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a><em> </em>di mana satu pihak (atau dua-duanya) kerap menjadi seorang yang sangat penuntut. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Ikhlas Ketika Diperlakukan Buruk, Bisa, kah?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5151" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Bisa Tetap Ikhlas? (<a href="https://unsplash.com/@julienlphoto">Julien L</a>)</figcaption></figure>



<p>Keikhlasan juga bisa <strong>menjadi &#8220;senjata&#8221; ketika</strong> <strong>kita mendapatkan perlakuan buruk</strong> dari seseorang. Dijahati, dilukai, diselingkuhi, dihina, disakiti oleh orang yang kita sayangi, semua harus bisa kita hadapi dengan ikhlas.</p>



<p>Kalau memang beneran sayang, beneran ikhlas, seharusnya kita bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Petik saja hikmahnya, kan katanya <em>every cloud has a silver lining</em>. </p>



<p>Kalau levelnya sudah seperti nabi mungkin bisa menghadapi semuanya dengan senyuman. Lah, Penulis kan (dan mungkin para Pembaca juga) masih jadi manusia biasa yang penuh dengan kekurangan.</p>



<p>Mungkin bisa menerima semua perlakukan buruk itu dengan ikhlas, seringnya butuh waktu yang cukup lama. Pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut.</p>



<p>Hanya saja, jangan sampai dibodohi seperti itu. Jangan sampai rasa sayang kita kepada seseorang justru menyiksa kita. Ini bukan tentang keikhlasan, melainkan melindungi diri dari orang yang tidak bisa menghargai perasaan kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sayang itu katanya tentang keikhlasan. Memang ada benarnya, tapi jangan diterjemahkan secara mentah begitu saja. Kita juga punya perasaan yang harus kita jaga.</p>



<p>Menyayangi seseorang dengan ikhlas itu berat, setidaknya Penulis merasa begitu. Ada sisi manusiawi yang masih mengharapkan timbal balik, apalagi kalau kita merasa sudah memberikan begitu banyak.</p>



<p>Untuk sekarang, Penulis masih berada di tahap mencari cara menyayangi yang membuat Penulis dan orang yang disayang sama-sama merasa nyaman, tanpa perlu merasa terpaksa dan dipaksa, sehingga tidak ada yang menuntut untuk membuktikan keikhlasan rasa sayangnya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 1 Agustus 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@evertonvila">Everton Vila</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Perasaan dan Logika Saling Bertentangan</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/ketika-perasaan-dan-logika-saling-bertentangan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/ketika-perasaan-dan-logika-saling-bertentangan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 May 2021 11:13:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[logika]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4991</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kata orang, laki-laki itu lebih mengandalkan logika. Sebaliknya, perempuan lebih mengandalkan perasaan. Pada kenyataannya, menurut Penulis, tidak selalu seperti itu. Tak jarang laki-laki menggunakan perasaannya, tak jarang pula perempuan memilih percaya dengan logikanya. Baik laki-laki maupun perempuan bisa menggunakan keduanya. Kadang bisa berimbang, lebih sering berat sebelah. Akibatnya, kita kerap berdebat dengan diri sendiri. Perasaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-perasaan-dan-logika-saling-bertentangan/">Ketika Perasaan dan Logika Saling Bertentangan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kata orang, laki-laki itu lebih mengandalkan logika. Sebaliknya, perempuan lebih mengandalkan perasaan. </p>



<p>Pada kenyataannya, menurut Penulis, tidak selalu seperti itu. Tak jarang laki-laki menggunakan perasaannya, tak jarang pula perempuan memilih percaya dengan logikanya. </p>



<p>Baik laki-laki maupun perempuan bisa menggunakan keduanya. Kadang bisa berimbang, lebih sering berat sebelah. Akibatnya, kita kerap berdebat dengan diri sendiri. <strong>Perasaan </strong>dan <strong>logika </strong>kita saling berebut kuasa atas diri kita.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Secara sederhana, logika adalah <strong>akal berpikir kita yang membuat penalaran</strong> dari sebuah peristiwa. Dalam masalah hati, logika kerap menghubungkan apa yang terjadi saat ini dengan apa yang akan terjadi di masa depan.</p>



<p>Contoh, jika kita memiliki pasangan yang malasnya minta ampun, logika kita akan membayangkan kalau ia akan jadi ibu yang buruk sekali. Ia akan lalai melakukan kewajibannya dan menghabiskan waktu untuk bersantai. Walau belum tentu benar, kurang lebih seperti itu logika bermain.</p>



<p>Sedangkan perasaan kerap dikaitkan dengan <strong>reaksi batin dari dalam diri</strong>. Cinta, gembira, sakit, kecewa, adalah contoh perasaan yang kerap kita rasakan sebagai manusia. </p>



<p>Nah, logika dan perasaan dalam diri ini seolah saling bertolak belakang. Akibatnya, tak jarang kita dibuat dilema mana yang harus kita pilih antara keduanya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dalam masalah percintaan, <strong>perasaan dan logika kerap saling bertentangan</strong>. Perasaan merasa nyaman dengannya, tetapi logika berkali-kali menolak keberadaannya.</p>



<p>Contoh, kita merasa sayang dengan seseorang karena memiliki banyak kesukaan yang sama. Logika kita menolak menjalin sebuah hubungan karena sifatnya yang bertentangan atau tidak cocok dengan kita.</p>



<p>Contoh lain, kita dekat dengan dua orang lawan jenis. Perasaan kita tertambat dengan si A tanpa tahu apa alasannya, namun logika mengatakan kalau si B jelas menjadi calon pasangan yang lebih baik untuk masa depan. </p>



<p>Contoh lain, kita merasa begitu cinta dengan seseorang karena ia adalah sosok ideal. Logika kita menyuruh untuk melupakan karena masalah beda agama, akan ada banyak sekali yang menentang hubungan tersebut.</p>



<p>Ada banyak contoh lainnya, tapi rasanya cukup itu saja. Penulis mengakui dirinya kurang berpengalaman dalam masalah percintaan.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Ketika perasaan dan logika sudah saling bertentangan, tak jarang kita akan dibuat stres dan uring-uringan. Karena sulit membuat keputusan, emosi kita jadi labil dan memengaruhi keseharian kita.</p>



<p>Jika sudah demikian, cobalah untuk<strong> <a href="https://whathefan.com/rasa/menepi-sejenak/">menepi sejenak</a></strong>. Coba tenangkan diri hingga diri kita bisa berpikir dengan lebih jernih. Coba ganti suasana dengan cara apapun sesuai dengan kepribadian kita.</p>



<p>Selain itu, tidak ada salahnya untuk <strong>mencurahkan apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita ke orang yang kita percaya</strong>. Walaupun tidak 100% menghasilkan solusi, bercerita ke orang lain dapat meringankan beban kita.</p>



<p>Jika kebimbangan kita melibatkan orang lain, coba ajak orang tersebut untuk <strong>berbicara dari hati ke hati</strong>. Mungkin kita akan mendapatkan sudut pandang baru darinya. Jangan mengambil keputusan secara sepihak, jangan menuruti ego sesaat.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Tidak ada teori manapun yang mengatakan kalau salah satu dari perasaan atau logika adalah pilihan yang lebih baik. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung dari banyak faktor.</p>



<p>Mau manapun yang dipilih, semua memiliki konsekuensinya sendiri. Kita dituntut untuk bisa menerima konsekuensi tersebut.</p>



<p>Kalau Penulis sendiri, idealnya keduanya bisa seimbang. Logika yang berperasaan atau perasaan yang berlogika. Jangan terlalu condong ke satu sisi. Sulit? Jelas, makanya Penulis menyebutnya sebagai kondisi ideal.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 22 Mei 2021, terinspirasi setelah menyadari perasaan dan logikanya kerap bertentangan</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://pxhere.com/en/photo/1585031">PxHere</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-perasaan-dan-logika-saling-bertentangan/">Ketika Perasaan dan Logika Saling Bertentangan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/ketika-perasaan-dan-logika-saling-bertentangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Padahal Sudah Berjuang</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/padahal-sudah-berjuang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/padahal-sudah-berjuang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2021 14:43:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berjuang]]></category>
		<category><![CDATA[berkorban]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4401</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padahal aku sudah banyak berjuang demi dirimu. Tapi kenapa seolah kau tak bisa (atau tak mau?) menghargai perjuangan tersebut? Kau seolah menutup mata atas apa banyak hal yang sudah kupersembahkan untukmu. Kau seolah menutup telinga dari suara nuranimu sendiri. Kau seolah menutup mulut untuk menahan diri agar tidak mengumpat. Setiap pagi kukirim pesan penyemangat, semoga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/padahal-sudah-berjuang/">Padahal Sudah Berjuang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Padahal aku <strong>sudah banyak berjuang</strong> demi dirimu. Tapi kenapa seolah kau tak bisa (atau tak mau?) <strong>menghargai perjuangan</strong> tersebut?</p>



<p><p>Kau seolah <strong>menutup mata</strong> atas apa banyak hal yang sudah kupersembahkan untukmu.</p></p>



<p><p>Kau seolah <strong>menutup telinga</strong> dari suara nuranimu sendiri.</p></p>



<p><p>Kau seolah <strong>menutup mulut</strong> untuk menahan diri agar tidak mengumpat.</p></p>



<p><p>Setiap pagi kukirim pesan penyemangat, <strong>semoga harimu berjalan dengan baik</strong> dan menyenangkan.</p></p>



<p><p>Setiap malam <strong>kudoakan agar mimpimu indah </strong>karena tubuhmu berhak istirahat setelah berpeluh seharian.</p></p>



<p><p>Tapi, perjuanganku jauh <strong>lebih dari sekadar ucapan manis </strong>seperti itu. </p></p>



<p><p>Bagiku, itu hanya sekadar bumbu dengan harapan bisa membuatmu merasa lebih baik. Walau kutahu, kau tak pernah membutuhkannya.</p></p>



<p><p>Selalu kuulurkan tangan ketika <strong>kau membutuhkan bantuan</strong>. Namamu selalu ada di <strong>posisi teratas dalam daftar prioritasku</strong>.</p></p>



<p><p>Namun mengapa <strong>kau selalu hilang</strong> ketika aku membutuhkan hadirmu? Ke mana perginya kau saat aku sedang kesusahan?</p></p>



<p><p>Ribuan kilo rela kutempuh. Kudaki gunung, kuturuni lembang, kuseberangi sungai, kurenangi lautan.</p></p>



<p><p>Semua akan rela kulakukan <strong>hanya demi melihat senyum manis</strong> yang menghiasi wajahmu.</p></p>



<p><p>Namun mengapa kau justru <strong>memanglingkan wajahmu</strong> seolah sedang melihat wabah yang menular?</p></p>



<p><p>Mengapa kau <strong>enggan melihat wajahku</strong> seolah aku memiliki paras yang begitu buruknya hingga membuat perutmu mual?</p></p>



<p><p>Kutuliskan puisi terindah, kunyanyikan lagu termerdu, kulukiskan keindahanmu yang paripurna.</p></p>



<p><p>Apapun kulakukan demi membuatmu merasa <strong>kau lah yang paling sempurna</strong> di muka bumi ini.</p></p>



<p>Tapi apa balasannya? Kau <strong>injak-injak harga diriku</strong> sampai tak bersisa. Sambil mengumpat <strong>kau ludahi aku</strong> tepat di wajah. <strong>Sumpah serapah begitu bising</strong> di telingaku hingga rasanya tak tahan.</p>



<p><strong>Semua perhatian kucurahkan kepadamu</strong>. Bahkan ke orangtuaku sendiri tak pernah aku sepeduli itu. Tak ada satu detik pun terlewat tanpa berhenti memikirkanmu.</p>



<p><p>Sayangnya, kau sudah muak dengan <strong>banyaknya perhatian yang kau dapatkan</strong>, perhatian dari orang-orang yang sama sekali tak menarik minatmu.</p></p>



<p><p>Kau tidak pernah memintanya, sehingga <strong>tidak pernah merasa bersalah</strong> jika tidak membalasnya.</p></p>



<p><strong>Aku sudah banyak berjuang demi dirimu, namun kau sama sekali tidak peduli.</strong></p>



<p><h3 style="text-align: center;">***</h3></p>



<p><p>Beberapa kalimat di atas merupakan gambaran tentang perasaan seseorang yang sudah <strong>merasa banyak berjuang</strong> banyak demi orang yang ia cintai.</p></p>



<p><p>Jelas ada dramatisasi agar pesannya bisa lebih sampai, tapi kurang lebih seperti itulah perasaan orang yang merasa sudah berkorban.</p></p>



<p>Penulis selalu mengingat tulisan Sujiwo Tejo di bukunya yang berjudul Talijiwo:</p>



<p><blockquote><p><em>“Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar!!!”</em></p></blockquote></p>



<p><p>Perasaan cinta yang sejati <a href="https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/"><strong>tidak akan pernah merasa dirinya pernah berkorban</strong></a>, seperti cinta orangtua kepada anaknya.</p></p>



<p><span style="font-size: 1.1rem;">Pada umumnya, orangtua akan tulus memberikan yang terbaik untuk anaknya tanpa berharap imbalan apa-apa. Asal anaknya bahagia, itu sudah cukup.</span> <h3 style="text-align: center;">***</h3></p>



<p>Merasa berkorban banyak demi orang yang dicintai mungkin telah dianggap hal yang manusiawi. Hanya saja, menurut Penulis, hal tersebut kurang baik bagi kedua belah pihak.</p>



<p><p>Bagi yang merasa berkorban, hal ini menunjukkan bahwa tingkat cintanya masih, maaf, <strong>ecek-ecek</strong>.</p></p>



<p><p>Tingkat cintanya masih rendah karena <strong>berharap balasan dan merasa sudah melakukan banyak hal</strong>.</p><span style="font-size: 1.1rem;">Bahkan cintanya patut untuk dipertanyakan, jangan-jangan </span><strong style="font-size: 1.1rem;">hanya nafsu atau obsesi</strong><span style="font-size: 1.1rem;"> belaka.</span></p>



<p><p>Bagi yang pihak satunya, bisa saja <strong>menimbulkan perasaan tidak enak atau bersalah</strong>.</p></p>



<p><p>Kalau mereka bisa cuek sih enak, tak peduli dengan perasaan orang lain walau akan membuat mereka dilabeli sebagai orang yang tidak berperasaan.</p></p>



<p><p>Kalau yang enggak enakan? Pasti jadi beban pikiran.</p> <h3 style="text-align: center;">***</h3></p>



<p>Cinta t<strong>ak akan pernah bisa dipaksakan</strong>. Mau ada orang yang berjuang sambil salto dan kayang, kalau tidak ada perasaan dan keinginan untuk membalas perasaan itu, ya tidak bisa walau ada yang bilang cinta datang karena terbiasa.</p>



<p><p>Bagi Penulis, <a href="https://whathefan.com/rasa/apa-itu-cinta/">tingkat cinta yang paling tinggi</a> adalah ketika <strong>kita bisa mencintai tanpa berharap apa-apa</strong>.</p></p>



<p><p>Hanya memberi, tak harap kembali, karena cinta memang tidak harus memiliki (walaupun alhamdulillah kalau sampai bisa memiliki).</p></p>



<p><p>Melihat ia bahagia, kita ikut bahagia. Melihat ia tersenyum, kita ikut tersenyum. Meskipun ia begitu karena orang lain, tidak apa-apa, tidak masalah.</p></p>



<p><p>Kita bisa menguasai diri karena tingkat cinta kita sudah level dewa. Memang utopis dan nampaknya sudah dilakukan karena kita semua hanya manusia biasa.</p></p>



<p><p>Jika pun memang tidak bisa mencapai tingkat tersebut, setidaknya <strong>janganlah merasa diri ini yang sudah paling berkorban demi dirinya</strong>.</p></p>



<p><p>Merasa seperti itu hanya akan menambah luka di dalam hati. Cukup lakukan yang terbaik dan lupakan, tak perlu diungkit-ungkit lagi di masa depan.</p></p>



<p>Kalau memang sudah memutuskan untuk jatuh cinta, <strong>bersiaplah untuk jatuhnya saja</strong> jika cintanya tak berbalas. Seperti kata Cut Pat Kai:</p>



<p><blockquote><p>Begitulah cinta, deritanya tiada pernah berakhir&#8230;<span style="font-size: 17.6px;"> </span></p></blockquote></p>



<p>&nbsp;</p>



<p>NB: Sumpah ini bukan curhatan, cuma random saja kepikiran topik ini</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>Lawang, 15 Februari 2020, tidak terinspirasi apa-apa, karena ingin mengisi kategori ini saja</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@priscilladupreez">Priscilla Du Preez</a></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/padahal-sudah-berjuang/">Padahal Sudah Berjuang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/padahal-sudah-berjuang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Rasa</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2021 10:35:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[kategori]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[whathefan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4308</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe laki-laki yang melankolis. Sebuah kejadian sederhana saja bisa memicu imajinasi yang terkadang liar, termasuk dalam hal percintaan. Penulis bukan tipe laki-laki romantis yang dapat memikat wanita dengan kata manisnya. Walaupun begitu, bukan berarti Penulis tidak mampu mengungkapkan rasa dengan kalimat. Menyadari hal tersebut, Penulis memutuskan untuk membuat kategori baru di blog ini, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/">Tentang Rasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe laki-laki yang melankolis. Sebuah kejadian sederhana saja bisa memicu imajinasi yang terkadang liar, termasuk dalam hal percintaan.</p>
<p>Penulis bukan tipe laki-laki romantis yang dapat memikat wanita dengan kata manisnya. Walaupun begitu, bukan berarti Penulis tidak mampu mengungkapkan rasa dengan kalimat.</p>
<p>Menyadari hal tersebut, Penulis memutuskan untuk membuat kategori baru di blog ini, yakni <a href="https://whathefan.com/category/rasa/"><strong>Tentang Rasa</strong></a>.</p>
<p>Sebelumnya jika ada artikel yang membahas seputar masalah perasaan, Penulis akan memasukkannya ke dalam kategori <a href="https://whathefan.com/category/karakter/">Karakter</a> atau <a href="https://whathefan.com/category/sosial-budaya/">Sosial Budaya</a>.</p>
<p>Jika dipikir-pikir lagi, masalah rasa ini dialami oleh banyak orang sehingga bisa diperdalam lagi. Kalau misal Penulis sedang galau dan gundah gulana, tinggal mencurahkan saja di sini.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis sedang mendalami berbagai ilmu&nbsp;<em>microblogging (</em>yang belum&nbsp;<em>follow,&nbsp;</em>bisa di-<em>follow&nbsp;</em>ya <a href="https://www.instagram.com/whathefan_/">akun resmi Whathefan</a>) di Instagram. Salah satu yang sering Penulis baca adalah <strong><a href="https://www.instagram.com/yudhiver/">@yudhifer</a>.</strong></p>
<p>Akun tersebut kerap membahas topik-topik seputar <em>self-help, </em>yang entah mengapa sering&nbsp;<em>related&nbsp;</em>dengan kehidupan pribadi Penulis.</p>
<p>Merasa banyak mendapatkan manfaat dari akun Instagram tersebut, Penulis mencoba untuk membuat versinya sendiri dengan membuat kategori Tentang Rasa ini.</p>
<p>Inspirasinya bisa datang dari diri sendiri maupun orang-orang yang ada di sekitarnya. Tujuannya sama, membuat orang-orang yang merasa sedang depresi, sedih, hingga patah hati <strong>tidak merasa sendirian</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Rasa yang ada di dalam diri kita itu bukan sekadar perasaan <strong>cinta</strong> atau <strong>benci</strong>. Ada banyak jenis rasa yang kita miliki, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.</p>
<p>Bentuk rasa (yang sebenarnya Penulis perhalus dari kata emosi) lain yang kita miliki antara lain adalah <strong>marah</strong>, <strong>takut</strong>, <strong>malu</strong>, <strong>dengki</strong>, <strong>cemburu</strong>, <strong>gembira</strong>, <strong>terkejut</strong>, <strong>sedih</strong>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis, yang sejatinya sering mengalami konflik internal di dalam batinnya, berusaha mengeksplorasi dirinya sendiri lebih dalam agar lebih bisa mengenal dan menerima dirinya.</p>
<p>Dengan berbagi apa yang Penulis rasakan, harapannya bisa menjadi motivasi ataupun dorongan untuk para Pembaca yang mungkin kebetulan sedang mengalami apa yang Penulis tuliskan.</p>
<p>Semoga saja kategori terbaru dari Whathefan ini dapat diterima oleh Pembaca dan yang lebih penting, bisa bermanfaat setelah membacanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>NB</strong>: Beberapa artikel lama yang cocok dengan kategori ini Penulis pindahkan ke sini agar tidak terasa kosong.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 26 Januari 2021, terinspirasi karena Penulis menyukai akun <strong><a href="https://www.instagram.com/yudhiver/">@yudhifer</a></strong> dan kerap merasa terbantu dengannya</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@isai21">Isai Ramos</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://dosenpsikologi.com/jenis-emosi">10 Jenis Emosi Pada Manusia dalam Psikologi &#8211; DosenPsikologi.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/">Tentang Rasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Rindu Hanya Milikmu Seorang</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/ketika-rindu-hanya-milikmu-seorang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sajak/ketika-rindu-hanya-milikmu-seorang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2020 14:31:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sedih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4112</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah kau merasakan Sebuah rindu yang hanya milikmu seorang? Karena yang dirindu tak merasakan rindu yang sama Atau bahkan tak merasakan rindu sedikitpun Pernahkah kau merasakan Sebuah rindu yang tak berbalas? Karena yang dirindu tak ada rasa setitikpun Seolah kita sedang memainkan hati sendiri Pernahkah kau merasakan Sebuah rindu yang terasa sebagai kesia-siaan? Karena kau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/ketika-rindu-hanya-milikmu-seorang/">Ketika Rindu Hanya Milikmu Seorang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kau merasakan<br />
Sebuah rindu yang hanya milikmu seorang?<br />
Karena yang dirindu tak merasakan rindu yang sama<br />
Atau bahkan tak merasakan rindu sedikitpun</p>
<p>Pernahkah kau merasakan<br />
Sebuah rindu yang tak berbalas?<br />
Karena yang dirindu tak ada rasa setitikpun<br />
Seolah kita sedang memainkan hati sendiri</p>
<p>Pernahkah kau merasakan<br />
Sebuah rindu yang terasa sebagai kesia-siaan?<br />
Karena kau terus memikirkannya<br />
Ketika ia sedang asyik dengan dunianya sendiri</p>
<p>Pernahkah kau merasakan<br />
Sebuah rindu tak berujung yang menyiksa?<br />
Karena yang dirindu tak memberikan asa<br />
Ketiadaan dirimu tak membuatnya merasa kehilangan</p>
<p>Pernahkah kau merasakan<br />
Sebuah rindu yang merundung tanpa ampun?<br />
Karena kau terus berharap<br />
Walau tahu harapan itu tak akan pernah terwujud</p>
<p>***</p>
<p>Kasih,<br />
Pertemuan ternyata tak selalu mengobati rindu<br />
Karena raga bertemu namun hati saling berpaling<br />
Hanya membuat rindu semakin perih</p>
<p>Bagaimana caranya melepas rindu<br />
Jika yang dirindu tak memberi kesempatan<br />
Jika yang dirindu tak berbalas<br />
Bagaiman caranya?</p>
<p>Benar kata Dilan<br />
Rindu itu berat<br />
Apalagi jika hanya milik seorang<br />
Sedang yang dirindu tak merasakannya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 9 November 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Tembang Talijiwo </em>karya Sujiwo Tejo</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/ketika-rindu-hanya-milikmu-seorang/">Ketika Rindu Hanya Milikmu Seorang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sajak/ketika-rindu-hanya-milikmu-seorang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sebelum Mencintai Orang Lain&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/sebelum-mencintai-orang-lain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/sebelum-mencintai-orang-lain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2020 14:00:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4015</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelum mencintai orang lain&#8230; &#8230;sudahkah kita mencintai diri sendiri? Sebelum menyayangi orang lain&#8230; &#8230;sudahkah kita menyayangi diri sendiri? Sebelum kita memedulikan orang lain&#8230; &#8230;sudahkah kita peduli dengan diri sendiri? Sebelum kita memberi perhatian kepada orang lain&#8230; &#8230;sudahkan kita memberi perhatian diri sendiri? Sebelum menolong orang lain&#8230; &#8230;sudahkah kita menolong diri sendiri? Sebelum memeluk orang lain&#8230; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sebelum-mencintai-orang-lain/">Sebelum Mencintai Orang Lain&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum mencintai orang lain&#8230;</p>
<p><em>&#8230;sudahkah kita mencintai diri sendiri?</em></p>
<p>Sebelum menyayangi orang lain&#8230;</p>
<p>&#8230;<em>sudahkah kita menyayangi diri sendiri?</em></p>
<p>Sebelum kita memedulikan orang lain&#8230;</p>
<p><em>&#8230;sudahkah kita peduli dengan diri sendiri?</em></p>
<p>Sebelum kita memberi perhatian kepada orang lain&#8230;</p>
<p>&#8230;<em>sudahkan kita memberi perhatian diri sendiri?</em></p>
<p>Sebelum menolong orang lain&#8230;</p>
<p><em>&#8230;sudahkah kita menolong diri sendiri?</em></p>
<p>Sebelum memeluk orang lain&#8230;</p>
<p><em>&#8230;sudahkah kita memeluk diri sendiri?</em></p>
<p>Sebelum memberi semangat ke orang lain&#8230;</p>
<p>&#8230;<em>sudahkah kita menyemangati diri sendiri?</em></p>
<p>Sebelum memaaafkan orang lain&#8230;</p>
<p><em>&#8230;sudahkah kita memaafkan diri sendiri?</em></p>
<p>Sebelum menerima orang lain&#8230;</p>
<p><em>&#8230;sudahkah kita menerima diri sendiri?</em></p>
<p>Sebelum menghapus air mata orang lain&#8230;</p>
<p>&#8230;<em>sudahkah kita berdamai dengan diri sendiri?</em></p>
<p>Sebelum memberikan hati kita untuk orang lain&#8230;</p>
<p><em>&#8230;sudahkah ada ruang di dalam hati untuk diri sendiri?</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Renungan ini Penulis tulis sebagai pengingat dirinya yang terkadang masih abai kepada dirinya sendiri. Kata seseorang, Penulis terlalu fokus sama orang lain sampai dirinya sendiri kurang terurus.</p>
<p>Bisa mencintai seseorang itu sejatinya indah, akan tetapi sudah semestinya jika kita juga mencintai diri sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Juli 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang terkadang terlalu mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri</p>
<p>Foto: <strong><a href="https://www.pexels.com/@cottonbro?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">cottonbro</a></strong> from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/person-holding-white-printer-paper-3826670/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sebelum-mencintai-orang-lain/">Sebelum Mencintai Orang Lain&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/sebelum-mencintai-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Melepaskan</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2020 00:19:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[melepaskan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3937</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika mendengar kata melepaskan, apa yang akan muncul di benak kita? Tentu intepretasinya akan bermacam-macam, tergantung sudut pandang mana yang akan digunakan. Kata melepaskan kerap diidentikkan dengan perpisahan, baik terpisah secara fisik mampan batin. Perpisahan secara fisik bisa diatasi dengan pertemuan. Bagaimana dengan perpisahan batin? Nah, ini yang menjadi sedikit rumit. *** Orangtua kerap melepas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/">Belajar Melepaskan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p style="text-align: left;">Jika mendengar kata <strong>melepaskan</strong>, apa yang akan muncul di benak kita? Tentu intepretasinya akan bermacam-macam, tergantung sudut pandang mana yang akan digunakan.</p>
<p style="text-align: left;">Kata melepaskan kerap diidentikkan dengan <strong>perpisahan</strong>, baik terpisah secara fisik mampan batin.</p>
<p style="text-align: left;">Perpisahan secara fisik bisa diatasi dengan pertemuan. Bagaimana dengan perpisahan batin? Nah, ini yang menjadi sedikit rumit.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Orangtua kerap melepas anaknya ke tanah rantau, baik untuk studi ataupun mencari kesempatan lainnya. Di sini, orangtua harus belajar melepaskan anaknya dan mulai membiasakan diri untuk hidup jauh dari anaknya.</p>
<p style="text-align: left;">Awalnya, pasti orangtua akan merasa berat. Ada saja hal yang akan membuat mereka khawatir, mulai dari keteraturan makan, kesehatan, hingga faktor ekonomi.</p>
<p style="text-align: left;">Namun seiring berjalannya waktu, mereka akan menjadi tenang. Sang anak ternyata mampu hidup mandiri di kota orang.</p>
<p style="text-align: left;">Di dalam perjalanan tersebut, orangtua belajar melepaskan anaknya. Awalnya memang sangat berat, namun pada akhirnya mereka bisa mengatasi permasalahan tersebut.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Melepaskan menjadi sesuatu yang <strong>berat karena cinta</strong>. Mau bagaimanapun, disuruh berpisah dengan orang yang kita cintai itu berat.</p>



<p style="text-align: left;">Jika kita sudah menyayangi seseorang atau kelompok, kita pasti ingin bersama mereka terus. Kita ingin sebanyak-banyaknya membuat momen yang akan menjadi kenangan indah.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Hanya saja, terkadang takdir membuat kita harus berpisah dengan beragam alasan.</em></p>
<p style="text-align: left;">Misal ketika kita harus terpaksa berpisah dengan kekasih yang sangat disayangi. Ketika kita berada di titik tersebut, pasti melepaskan akan menjadi sesuatu yang sangat berat.</p>
<p style="text-align: left;">Kita akan terus <strong>merasa ketakutan bagaimana hidup ini jadinya</strong>. Tak pernah terbayangkan bagaimana dunia tanpa kehadiran dirinya.</p>
<p style="text-align: left;">Kenangan-kenangan yang pernah dibuat justru semakin menambah luka di hati. Kita ingin lebih banyak lagi membuat kenangan seperti itu.</p>
<p style="text-align: left;">Beragam cara dilakukan agar kita berhasil <em>move on</em>. Memblokir kontak, tidak kepo dengan aktivitasnya di media sosial, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: left;">Hasilnya? Ada yang berhasil, ada yang <em>gamon </em>alias gagal <em>move on</em>. Mau pakai cara apapun, sosoknya masih selalu terbayang-bayang di pikiran.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Di sinilah kita butuh belajar melepaskan.</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>People come and go</em>. <strong>Orang akan selalu datang dan pergi dalam kehidupan kita</strong>. Ada yang pergi karena kematian, ada yang tiba-tiba menghilang, ada yang karena konflik, macam-macam.</p>
<p>Semua yang ada di dunia ini sifatnya <strong>fana dan sementara</strong>. Tidak ada yang benar-benar abadi. Di sini lah pentingnya untuk belajar melepaskan, bahkan melepaskan orang yang sangat disayang sekalipun.</p>
<p>Dari pengalaman pribadi, Penulis merasa salah satu penghalang terbesar untuk melepaskan adalah <strong>perasaan sayang yang berlebihan</strong>. Perasaan tersebut justru menjadi benalu yang membelenggu diri sendiri.</p>
<p>Seperti yang sudah sering Penulis sebutkan di dalam blog ini, apapun yang berlebihan tidak pernah baik. Perasaan sayang menjadi salah satunya.</p>
<p>Dalam kasus ini, cara belajar melepaskan adalah <strong>mengurangi kadar sayang</strong> tersebut. Bukan berarti kita menjadi jahat. Sayangilah orang lain dalam kadar yang secukupnya. Memang sulit karena tidak ada takaran sayang yang pasti, tapi harus dilakukan.</p>
<p>Kita juga harus tahu kalau orang memiliki kehidupannya masing-masing. Bisa jadi, diri kita sudah tidak masuk di dalam rencana hidupnya. Bisa jadi, kita yang terlalu tinggi menilai diri sendiri.</p>
<p>Perlu dicatat, kita <strong>tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain</strong>. Yang bisa kita kendalikan adalah perasaan diri sendiri. Maka dari itu, kita harus fokus untuk mengendalikan perasaan sendiri.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Salah satu upaya yang bisa membantu kita untuk melepaskan adalah <strong>membuka diri ke orang baru</strong>. Orang <em>introvert </em>macam Penulis jelas akan kesulitan melakukannya.</p>
<p>Akan tetapi, hal ini penting untuk dilakukan. Melepaskan kerap menimbulkan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">perasaan takut kesepian</a> yang cukup parah. Dengan bertemu orang-orang baru dan berusaha berbaur dengan mereka, kita (seharusnya) tidak akan merasa kesepian.</p>
<p>Penulis merasa dirinya termasuk sulit untuk membuka diri. Di sisi lain, Penulis kerap merasa kesepian karena sendirian di tanah rantau.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis harus belajar secara bertahap agar lebih bisa membuka dirinya dan menjalin hubungan dengan orang-orang baru. </p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Melepaskan, apalagi dengan ikhlas, memang berat. Terkadang membutuhkan waktu yang singkat untuk bisa menerimanya, tapi rasanya lebih sering berdurasi panjang.</p>
<p>Perasaan sayang yang berlebihan tidak baik karena kita jadi sulit untuk melepaskan. Agar bisa belajar melepaskan, kita harus bisa mengendalikan perasaan diri sendiri.</p>
<p>Sulit, tapi bisa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Juni 2020, terinspirasi dari perenungan selama berhari-hari</p>
<p>Foto: <a href="https://blog.bridgebetween.com/6-small-changes-to-becoming-your-best-self/balloon-release-let-it-go/">Bridge Between</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/">Belajar Melepaskan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Perahu Kertas</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-perahu-kertas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-perahu-kertas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2020 03:00:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dee]]></category>
		<category><![CDATA[Dewi Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Perahu Kertas]]></category>
		<category><![CDATA[romantis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3898</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai penggemar Dee Lestari yang tergolong baru, Penulis berusaha mengumpulkan karya-karyanya sebagai koleksi. Yang lumayan susah adalah mencari buku yang telah lama terbit sehingga cukup sulit untuk menemukannya. Salah satunya adalah Perahu Kertas yang versi filmnya dimainkan oleh Maudy Ayunda. Buku ini akhirnya Penulis beli pada ajang Islamic Book Fair (IBF) 2020, walau kondisinya sedikit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-perahu-kertas/">Setelah Membaca Perahu Kertas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebagai penggemar Dee Lestari yang tergolong baru, Penulis berusaha mengumpulkan karya-karyanya sebagai koleksi. Yang lumayan susah adalah mencari buku yang telah lama terbit sehingga cukup sulit untuk menemukannya.<br /><br />Salah satunya adalah <em><strong>Perahu Kertas </strong></em>yang versi filmnya dimainkan oleh Maudy Ayunda. Buku ini akhirnya Penulis beli pada ajang <em>Islamic Book Fair</em> (IBF) 2020, walau kondisinya sedikit memprihatinkan. Setidaknya, potongan harganya lumayan.<br /><br />Setelah menamatkannya dalam waktu yang relatif singkat, Penulis pun merasakan penyesalan mengapa baru membacanya sekarang. <em><strong>Spoiler Alert!</strong></em></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>



<p>Rasanya Penulis tidak perlu bercerita panjang lebar mengenai cerita <em>Perahu Kertas </em>ini karena ceritanya yang memang terkenal. Belum lagi <em>soundtrack</em>-nya yang dinyanyikan oleh Maudy.<br /><br />Inti ceritanya adalah kisah cinta antara <strong>Kugy</strong> dan <strong>Kinan</strong>. Kugy merupakan seorang gadis mungil yang hobi berkhayal dan sedikit berantankan. Di sisi lain, Kinan adalah laki-laki cerdas yang di dalam nadinya mengalir darah seni.<br /><br />Kugy hobi membuat cerita dongeng untuk anak-anak, Kinan memiliki hasrat besar dalam melukis. Pertemuan mereka berdua menimbulkan getaran-getaran yang belum pernah dirasakan oleh keduanya.<br /><br />Namun jalan mereka tidak semulus itu. Ketika mereka bertemu untuk pertama kali, Kugy telah memiliki seorang pacar. Kinan juga dijodohkan oleh saudara sahabat Kugy. Meski saling memendam rasa, mereka belum ditakdirkan untuk bersama.<br /><br />Setelah berbagai konflik, Kinan pergi ke Bali untuk menenangkan diri. Kugy fokus menyelesaikan studinya di Bandung dan berhasil kerja di suatu tempat yang bergengsi.<br /><br />Di tempat kantornya, Kugy berkencan dengan bosnya sendiri. Di sisi lain, Kinan memacari anak dari kawan baik ibunya yang berbaik hati mau menampung dirinya.<br /><br />Takdir mempertemukan mereka kembali berkat kejadian-kejadian yang tak terduga. Pada akhirnya, mereka menyadari perasaan satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk hidup bersama. <em>Happy ending!</em></p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Perahu Kertas</em></h3>
<p>Ketika sedang menyusun novel <em><a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a>, </em>terbesit rasa khawatir karena banyaknya peristiwa kebetulan tak terduga yang terjadi di dalam alurnya. Penulis khawatir kalau peristiwa-peristiwa tersebut terasa terlalu dipaksakan.<br /><br />Setelah membaca novel ini, Penulis bisa bernapas sedikit lega karena ternyata Penulis sekaliber Dee pun juga menyisipkan banyak peristiwa tak terduga di dalam ceritanya.<br /><br />Contohnya adalah pembeli lukisan-lukisan Kinan di Bali ternyata merupakan atasan sekaligus kekasih Kugy. Ketika Kugy pergi ke Bali, ia tanpa sengaja bertemu dengan pacar Kinan. Masih banyak sekali kebetulan-kebetulan yang terjadi.<br /><br />Artinya, teknik seperti itu lumrah digunakan di dalam penulisan novel. Memang rasanya sulit terjadi di dunia nyata, tapi novel adalah dunia imajinasi penulisnya. Yang penting, jangan sampai kebetulan-kebetulan yang terjadi terlalu memaksa.<br /><br />Tidak ada hal lain yang perlu Penulis komentari dari novel ini. Gaya bahasanya khas Dee yang sangat mengalir dan membuat Penulis merasa sulit berhenti. Banyak adegan yang berhasil membuat Penulis merasa <em>gregetan </em>karena keputusan-keputusan yang diambil oleh tokoh utamanya.<br /><br />Novel <em>Perahu Kertas </em>membuat Penulis semakin merasa yakin untuk menyukai karya-karya Dee. Penulis tidak sabar, kapan Dee akan segera mengeluarkan karya terbarunya. Semoga saja bisa sespektakuler novel <a href="https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/"><em>Aroma Karsa</em></a>.<br /><br />Direkomendasikan untuk semua kalangan yang menyukai bacaan romantis yang ringan dan menghibur sekaligus bikin <em>gregetan</em>.<br /><br />Nilainya: <strong>4.3/5.0</strong><br /><br /><br /><br />Kebayoran Lama, 30 Mei 2020, terinspirasi setelah membaca novel <strong><em>Perahu Kertas </em></strong>karya Dee Lestari</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-perahu-kertas/">Setelah Membaca Perahu Kertas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-perahu-kertas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
