Connect with us

Tentang Rasa

Ketika Perasaan dan Logika Saling Bertentangan

Published

on

Kata orang, laki-laki itu lebih mengandalkan logika. Sebaliknya, perempuan lebih mengandalkan perasaan.

Pada kenyataannya, menurut Penulis, tidak selalu seperti itu. Tak jarang laki-laki menggunakan perasaannya, tak jarang pula perempuan memilih percaya dengan logikanya.

Baik laki-laki maupun perempuan bisa menggunakan keduanya. Kadang bisa berimbang, lebih sering berat sebelah. Akibatnya, kita kerap berdebat dengan diri sendiri. Perasaan dan logika kita saling berebut kuasa atas diri kita.

***

Secara sederhana, logika adalah akal berpikir kita yang membuat penalaran dari sebuah peristiwa. Dalam masalah hati, logika kerap menghubungkan apa yang terjadi saat ini dengan apa yang akan terjadi di masa depan.

Contoh, jika kita memiliki pasangan yang malasnya minta ampun, logika kita akan membayangkan kalau ia akan jadi ibu yang buruk sekali. Ia akan lalai melakukan kewajibannya dan menghabiskan waktu untuk bersantai. Walau belum tentu benar, kurang lebih seperti itu logika bermain.

Sedangkan perasaan kerap dikaitkan dengan reaksi batin dari dalam diri. Cinta, gembira, sakit, kecewa, adalah contoh perasaan yang kerap kita rasakan sebagai manusia.

Nah, logika dan perasaan dalam diri ini seolah saling bertolak belakang. Akibatnya, tak jarang kita dibuat dilema mana yang harus kita pilih antara keduanya.

***

Dalam masalah percintaan, perasaan dan logika kerap saling bertentangan. Perasaan merasa nyaman dengannya, tetapi logika berkali-kali menolak keberadaannya.

Contoh, kita merasa sayang dengan seseorang karena memiliki banyak kesukaan yang sama. Logika kita menolak menjalin sebuah hubungan karena sifatnya yang bertentangan atau tidak cocok dengan kita.

Contoh lain, kita dekat dengan dua orang lawan jenis. Perasaan kita tertambat dengan si A tanpa tahu apa alasannya, namun logika mengatakan kalau si B jelas menjadi calon pasangan yang lebih baik untuk masa depan.

Contoh lain, kita merasa begitu cinta dengan seseorang karena ia adalah sosok ideal. Logika kita menyuruh untuk melupakan karena masalah beda agama, akan ada banyak sekali yang menentang hubungan tersebut.

Ada banyak contoh lainnya, tapi rasanya cukup itu saja. Penulis mengakui dirinya kurang berpengalaman dalam masalah percintaan.

***

Ketika perasaan dan logika sudah saling bertentangan, tak jarang kita akan dibuat stres dan uring-uringan. Karena sulit membuat keputusan, emosi kita jadi labil dan memengaruhi keseharian kita.

Jika sudah demikian, cobalah untuk menepi sejenak. Coba tenangkan diri hingga diri kita bisa berpikir dengan lebih jernih. Coba ganti suasana dengan cara apapun sesuai dengan kepribadian kita.

Selain itu, tidak ada salahnya untuk mencurahkan apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita ke orang yang kita percaya. Walaupun tidak 100% menghasilkan solusi, bercerita ke orang lain dapat meringankan beban kita.

Jika kebimbangan kita melibatkan orang lain, coba ajak orang tersebut untuk berbicara dari hati ke hati. Mungkin kita akan mendapatkan sudut pandang baru darinya. Jangan mengambil keputusan secara sepihak, jangan menuruti ego sesaat.

***

Tidak ada teori manapun yang mengatakan kalau salah satu dari perasaan atau logika adalah pilihan yang lebih baik. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung dari banyak faktor.

Mau manapun yang dipilih, semua memiliki konsekuensinya sendiri. Kita dituntut untuk bisa menerima konsekuensi tersebut.

Kalau Penulis sendiri, idealnya keduanya bisa seimbang. Logika yang berperasaan atau perasaan yang berlogika. Jangan terlalu condong ke satu sisi. Sulit? Jelas, makanya Penulis menyebutnya sebagai kondisi ideal.


Lawang, 22 Mei 2021, terinspirasi setelah menyadari perasaan dan logikanya kerap bertentangan

Foto: PxHere

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Tentang Rasa

Kalau Mau Stay ya Stay, Kalau Mau Leave ya Leave, Bebas

Published

on

By

People come and go atau people come, people go. Istilah ini sering kita dengar untuk menggambarkan bahwa orang-orang yang kita kenal dalam hidup akan datang dan pergi pada waktunya.

Kalau kita menengok ke belakang, ada banyak sekali orang-orang yang datang ke kehidupan kita. Keluarga, tetangga, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman les, teman kerja, teman pengajian, dan lain sebagainya.

Dari banyaknya orang yang kita kenal, mungkin hanya beberapa yang tetap keep in touch dengan kita hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, circle kita semakin mengecil dan mengerucut.

Ada beberapa yang memilih untuk stay dengan kita, entah karena kecocokan, merasa satu frekuensi, asyik diajak nongkrong, dan lainnya. Hanya saja, tak jarang ada yang memutuskan untuk leave dengan beragam alasan.

Memaksa Orang untuk Stay

Baik stay maupun leave, masing-masing memiliki alasannya masing-masing. Kadang kita bisa tahu alasannya, kadang kita dibuat penasaran setengah mati hingga jadi menebak-nebak alasannya.

Penulis sendiri tipikal orang yang berusaha menahan orang-orang yang penting baginya untuk stay selama mungkin di kehidupan Penulis. Kalau bisa terus disambung, kenapa harus diputus hubungannya?

Memang terkadang ada saja pertikaian atau perselisihan. Ada yang sepele, tapi tak jarang ada masalah besar hingga membuat hubungan renggang. Namun, hal tersebut bisa dibenahi bersama jika masing-masing punya kesadaran akan kesalahannya.

Akan tetapi, sekarang Penulis menyadari bahwa menahan orang untuk stay di saat yang bersangkutan tidak ingin hanya akan membuat kita merasa sakit hati.

Terlepas dari apapun alasannya hingga mereka ingin pergi dari kehidupan kita, kita sebenarnya tidak punya hak untuk memengaruhi pilihannya tersebut. Berusaha membujuk boleh saja, tapi jangan sampai berlebihan, apalagi sampai mengemis-ngemis.

Mulai sekarang, Penulis tidak akan memaksa orang lain untuk stay di kehidupan Penulis apapun alasannya. Kalau mau leave ya monggo saja, Penulis akan berusaha ikhlas menerima kenyataan tersebut. Kalaupun Penulis merasa sakit hati, ya sudah mau diapa juga.

Yang bisa Penulis lakukan hanyalah mendoakan yang terbaik untuknya. Semoga mereka yang leave dari kehidupan Penulis bisa menemukan kehidupan yang lebih baik lagi untuk mereka.

Menghargai Orang yang Stay

Daripada menghabiskan waktu dan tenaga demi menahan orang untuk stay, lebih baik kita mengalokasikannya kepada orang yang mau stay di kehidupan kita. Kita harus bisa lebih berusaha menghargai mereka.

Kita juga harus bersyukur kepada orang-orang yang sudah berkenan untuk stay di kehidupan kita. Apalagi Penulis merasa dirinya sebagai pribadi yang agak “sulit”, sehingga Penulis sangat menghargai orang-orang yang mau stay.

Daripada memusingkan dan menangisi orang-orang yang leave, lebih baik Penulis mencurahkan perhatian dan kepedulian kepada orang-orang yang stay.

Penulis merasa senang mereka mau stay, sehingga merasa kalau dirinya butuh melakukan sesuatu sebagai gantinya. Penulis akan berusaha untuk menjadi “orang yang baik” untuk mereka dan siap kapanpun dimintai bantuan.

Orang-orang yang mau stay di kehidupan Penulis sangat berarti untuk Penulis, sehingga Penulis akan berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan mereka. Potensi konflik sebisa mungkin diminimalisir.

Seandainya orang-orang yang stay tersebut akhirnya memutuskan untuk leave, Penulis akan berterima kasih kepada mereka karena pernah hadir di kehidupan Penulis. Sedih pasti, tapi yang namanya pertemuan memang pasti memiliki perpisahan.

Penutup

Saat ini, Penulis tengah berusaha menerapkan prinsip hidup, “Kalau mau stay ya stay, kalau mau leave ya leave, bebas.”

Penulis menyadari bahwa meskipun kita kerap berjalan beriringan dengan orang lain, akan datang masanya kita akan berpisah jalan. Seperti yang sudah disinggung di atas, penyebabnya ada bermacam-macam.

Kita tidak bisa mengendalikan apakah orang akan stay atau leave dari kehidupan kita. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah respon kita terhadap keputusan mereka tersebut.

Daripada sakit hati karena merasa ditinggalkan, lebih baik kita berusaha untuk menerima kenyataan tersebut dengan ikhlas. Daripada menyumpahi hal buruk kepada mereka, lebih baik kita bersyukur dan berterima kasih atas semua kenangan yang telah diberikan.

Pada akhirnya, people come and go. Kita tidak bisa menahan orang lain untuk tetap stay bersama kita selamanya, sekalipun kita sangat menginginkannya.


Lawang, 16 September 2021, terinspirasi dari pengalaman pribadi

Foto: Dương Nhân · Photography (pexels.com)

Continue Reading

Tentang Rasa

Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?

Published

on

By

Apa yang kau lakukan, di belakangku
Mengapa tak kau tunjukkan, di hadapanku

Untuk penggemar musik pop tahun 2000-an, lirik lagu di atas pasti tidak terasa asing. Lirik lagu tersebut Penulis ambil dari lagu Peterpan yang berjudul Di Belakangku dari album Bintang di Surga.

Karena liriknya cukup puitis, Penulis butuh beberapa waktu untuk bisa memahaminya. Tafsiran Penulis, lagu ini menceritakan tentang ketidakjujuran yang dilakukan kekasih kepada kita.

Untuk artikel Tentang Rasa kali ini, Penulis akan sedikit mengulik masalah ketidakjujuran dalam hubungan ini, sebuah sikap yang bisa merusak sebuah hubungan menjadi titik terendahnya.

Keterbukaan dalam Hubungan

Penulis pernah membaca bahwa salah dua kunci sebuah hubungan berhasil adalah saling terbuka dan komunikasi yang baik. Kunci yang pertama jelas membutuhkan sebuah kejujuran dari kedua belah pihak, bukan hanya satu pihak semata.

Dengan saling terbuka, kita bisa saling tahu kondisi satu sama lain tanpa perlu menerka-nerka. Dengan saling terbuka, meskipun terkadang bisa menyakitkan, seharusnya masalah-masalah kesalahpahaman bisa terhindarkan.

Yang jadi masalah adalah jika salah satu memutuskan untuk tertutup dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Kalau pihak satunya tidak peka, maka hubungan yang toxic bisa saja terjalin dari sana.

Sesuatu yang dipendam begitu lama, bisa saja tiba-tiba meletus selayaknya gumpalan magma di perut gunung berapi. BOOM. Hubungan yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata menyimpan segudang permasalahan hanya karena tidak adanya keterbukaan.

Ada hal lain yang lebih berbahaya dari bersikap tertutup. Sudah tertutup, ia menunjukkan sikap yang berbeda di depan dan di belakang kita.

Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?

Frasa yang digunakan pada header di atas bisa diidentikkan dengan banyak hal, seperti pengkhianatan yang dilakukan oleh teman atau perselingkuhan yang dilakukan oleh pacar.

Dalam tulisan ini, Penulis mengonotasikan sebagai perbedaan sikap yang dilakukan oleh seseorang kepada kita, apapun bentuk hubungannya. Di hadapan kita, ia terlihat begitu manis. Di belakang kita, ia menyemburkan kata-kata yang menyakitkan kita.

Di hadapan kita, ia berkata tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja. Di belakang kita, ia menceritakan semua kemarahan dan sumpah serapahnya tentang kita kepada orang lain.

Bisa saja ia beralasan melakukan hal tersebut karena (klisenya) tidak ingin menyakiti kita, tapi sudah tidak mampu untuk menahannya sendirian. Bisa saja ia beralasan kalau dirinya tidak terbiasa untuk terbuka ke orang lain.

Bersikap fake atau berpura-pura lekat dengan yang namanya kebohongan. Mau apapun alasannya, kebohongan jarang sekali menjadi pilihan yang benar. Apalagi dalam sebuah hubungan, kebohongan bisa menjadi duri yang menyakitkan.

Penulis selalu berprinsip sepahit-pahitnya kejujuran, lebih pahit lagi kebohongan. Alasannya, kita harus menerima dua hal buruk sekaligus: Pahitnya kebohongan dan pahitnya kenyataan yang ia sembunyikan.

Mengapa Tak Kau Tunjukkan di Hadapanku?

Memang, Penulis menyadari tidak semua orang bisa jujur apa adanya. Penulis menyadari bahwa terkadang ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dan lebih baik disimpan untuk diri sendiri.

Minta solusi atau pendapat ke pihak ketiga memang sah-sah saja, dan kadang memang dibutuhkan. Mungkin, masalah yang dihadapi memang terlalu pelik sehingga dibutuhkan seorang mediator.

Hanya saja, sikap yang seperti itu bisa mencederai hubungan tersebut, apalagi kalau sampai menceritakan masalah ke pihak ketiga tanpa pernah berusaha menyelesaikannya sendiri terlebih dahulu.

Mungkin, ada yang ragu untuk terbuka karena pihak satunya bukan tipe orang yang bisa berlapang dada mendengarkan keterbukaan kita. Ketika kita coba terbuka, dianya malah marah-marah dan tidak bisa mendengarkan omongan kita.

Namun, setidaknya berdasarkan pengalaman Penulis, kebohongan seperti itu sangat menyakitkan, seolah ada yang menusuk dari belakang. Sakitnya datang secara tiba-tiba tanpa pernah bisa kita antisipasi.

Yang jelas, ada banyak alasan mengapa yang disembunyikan di belakang tersebut tidak pernah ditunjukkan di hadapan kita. Seringnya, kita tidak akan pernah tahu alasan mana yang menjadi penyebabnya.

Bagaimana Merespon Ketidakterbukaan

Seperti yang banyak diajarkan pada aliran filsafat stoikisme, sifat orang tidak bisa kita kendalikan. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita merespon sikap ketidakterbukaan atau kebohongan orang lain tersebut.

Ada yang merasa kecewa, ada yang merasa dikhianati, ada yang merasa sedih, ada yang merasa marah. Ada yang langsung memutuskan hubungan, ada yang mengulik kesalahan-kesalahannya, ada yang ingin balas dendam atas sakit yang diterima.

Yang hebat jika bisa meresponnya dengan ikhlas dan tidak memperpanjang masalah tersebut. Yang hebat jika bisa memaklumi dan menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa jujur dan terbuka apa adanya, lalu menjadikannya sebagai bahan interopeksi diri.

Apa yang kau lakukan di belakangku? Entahlah, mungkin kita tidak akan pernah tahu. Mengapa tak kau tunjukkan di hadapanku? Ada berjuta alasan dan mungkin kita tidak perlu tahu.


Lawang, 5 September 2021, terinspirasi dari lagu Peterpan yang berjudul Di Belakangku

Foto: FunBlog

Continue Reading

Tentang Rasa

Sayang ya, Akhir Kisah Kita Kurang Baik…

Published

on

By

Hubungan antar manusia, apapun bentuknya, pasti memiliki akhirnya masing-masing. Mau hubungan keluarga, pertemanan, percintaan, semua akan berakhir dengan berbagai alasan.

Ada yang karena kematian, berbeda pandangan, ada yang pisah baik-baik karena merasa itu yang terbaik untuk kedua belah pihak, pertengkaran hebat, renggang tanpa sebab, macam-macam alasannya.

Karena perpisahan pasti akan terjadi, tentu kebanyakan manusia akan memilih untuk memiliki akhir yang baik. Sayangnya, kadang realita bisa menjadi sangat kejam.

***

Bayangkan kita memiliki seorang sahabat yang begitu dekat. Hampir setiap hari kita menghabiskan waktu bersama dengan mereka dengan menyenangkan.

Lantas, seiring dengan bertambahnya usia, kita mulai memiliki kesibukan masing-masing hingga intensitas pertemuan menjadi jauh berkurang. Kadang masih sering bertukar kabar, sekadar ingin tahu sedang apa sekarang.

Pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya, menikahi pujaan hati. Kita pun menjadi senang sekaligus sedih dalam waktu bersamaan. Senang karena mereka akan punya bahagia, sedih karena menyadari kalau mereka akan punya prioritas lain.

Walaupun begitu, perasaan senangnya pasti akan lebih mendominasi daripada perasaan sedihnya. Melihat orang yang kita sayangi bahagia, tentu akan membuat kita merasa bahagia juga.

Perpisahan atau akhir seperti itu, menurut Penulis adalah akhir yang baik. Kita hanya berpisah jalan karena telah menemukan jalan hidupnya masing-masing. Walau tak bisa lagi bersama seperti dulu, kita bisa merelakannya dengan senyum karena ikut bahagia.

***

Penulis pernah mendengar cerita dari seorang teman. Katanya, hubungannya dengan sahabat dekatnya harus merenggang karena ia memacari mantan pacar sahabatnya. Mereka mencintai, atau setidaknya pernah mencintai orang yang sama.

Ada juga cerita di mana sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun harus berpisah dengan berbagai alasan. Lamanya waktu kenal bukan menjadi alasan untuk bertahan.

Kisah yang tak kalah pahit adalah bagaimana hubungan harus tiba-tiba berakhir tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba semuanya berubah dan kita merasa tidak siap dengan hal tersebut.

Penulis yakin ada banyak contoh bagaimana sebuah hubungan manusia harus berakhir dengan kurang baik. Tiga contoh di atas hanya sebagian kecil. Masih banyak perpisahan yang lebih pahit dari cerita-cerita tersebut.

Penulis akan menyayangkan apabila harus mengalami akhir hubungan atau perpisahan dengan buruk. Rasanya benar-benar tidak enak, seolah tidak rela untuk memutuskan hubungan yang selama ini sudah terjalin dengan baik.

***

Biasanya, akhir yang kurang baik dialami oleh dua insan yang menjalin hubungan dengan status pacaran. Alasannya, jika berakhir dengan baik maka mereka akan melenggang ke pelaminan.

Pacaran kerap digunakan sebagai sarana perkenalan dan mengenal satu sama lain secara dekat. Ada yang butuh bertahun-tahun untuk merasa yakin, ada yang hanya hitungan bulan.

Penulis sendiri tidak terlalu berpengalaman dalam hal pacaran, sehingga kurang bisa memberikan contoh. Namun, dari cerita-cerita yang Penulis dengar, banyak sekali akhir hubungan yang berakhir dengan menyedihkan, jika tidak tragis.

Ada yang diselingkuhi, ada yang capek dengan sifat buruk pasangannya, ada yang tiba-tiba kehilangan keyakinan, ada yang dihalangi perbedaan keyakinan, macam-macam alasan untuk berpisah.

Walaupun begitu, bukan berarti akhir yang buruk tidak dialami oleh bentuk hubungan lain. Bahkan keluarga yang terikat darah pun bisa mengalami akhir yang kurang baik.

***

Bagaimana dengan perpisahan karena kematian? Hal tersebut memang menyedihkan karena kita akan berpisah dengan orang yang berharga bagi kita untuk selamanya. Terpisah secara jiwa dan raga pasti menyakitkan.

Hanya saja, bagi Penulis kematian adalah bentuk perpisahan yang tidak bisa dihindari karena sudah ditakdirkan. Mau melawan seperti apapun, kita tidak akan bisa mengubah kenyataan tersebut.

Bahkan, kita perlu menanamkan pikiran bahwa orang yang dipisahkan dari kita akan segera melanjutkan kehidupannya di alam lain. Yang bisa kita lakukan adalah menerimanya dan mendoakan agar segala amalnya diterima dan dosanya diampuni.

Selain itu, kematian juga bisa menjadi pengingat kita yang masih hidup di dunia. Ketika waktunya kita sudah tiba, sebisa mungkin kita ingin memberikan akhir yang seindah mungkin untuk yang akan kita tinggalkan.

Berbeda dengan perpisahan yang terjadi karena sebab-sebab yang buruk seperti pertengkaran, pengkhianatan, perselisihan, dan hal-hal buruk lainnya. Bisa jadi, luka yang ditinggalkan lebih mengiris daripada perpisahan karena kematian.

***

Perpisahan yang pahit pasti rasanya tidak menyenangkan. Perasaan kecewa, marah, sedih, merasa ditinggalkan, frustasi, menyalahkan diri sendiri, semua seolah bercampur aduk menjadi satu.

Oleh karena itu, sebisa mungkin Penulis menghindari bentuk perpisahan yang seperti itu. Penulis sadar setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Hanya saja, kalau bisa berpisahnya secara baik-baik atau terjadi secara alami karena waktu.

Jika harus mengalami akhir yang buruk, terkadang kita berharap untuk memiliki alternative ending yang lebih baik. Andai saja waktu bisa diputar kembali, pasti kita ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan kita agar memiliki akhir yang lebih baik.

Sayang, kenyataan memang kadang tak seindah angan-angan. Yang sudah terjadi, biasanya susah untuk diulang kembali dan kita dituntut untuk menerimanya (kalau bisa) secara ikhlas.

Waktu memang akan memisahkan kita. Pasti. Sampai waktu itu datang, Penulis ingin terus membuat kenangan-kenangan indah bersama orang-orang yang Penulis sayangi.


Lawang, 18 Agustus 2021, terinspirasi dari pengalamannya sendiri

Foto: Sunday Edit

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan