Connect with us

Sajak

Ketika Rindu Hanya Milikmu Seorang

Published

on

Pernahkah kau merasakan
Sebuah rindu yang hanya milikmu seorang?
Karena yang dirindu tak merasakan rindu yang sama
Atau bahkan tak merasakan rindu sedikitpun

Pernahkah kau merasakan
Sebuah rindu yang tak berbalas?
Karena yang dirindu tak ada rasa setitikpun
Seolah kita sedang memainkan hati sendiri

Pernahkah kau merasakan
Sebuah rindu yang terasa sebagai kesia-siaan?
Karena kau terus memikirkannya
Ketika ia sedang asyik dengan dunianya sendiri

Pernahkah kau merasakan
Sebuah rindu tak berujung yang menyiksa?
Karena yang dirindu tak memberikan asa
Ketiadaan dirimu tak membuatnya merasa kehilangan

Pernahkah kau merasakan
Sebuah rindu yang merundung tanpa ampun?
Karena kau terus berharap
Walau tahu harapan itu tak akan pernah terwujud

***

Kasih,
Pertemuan ternyata tak selalu mengobati rindu
Karena raga bertemu namun hati saling berpaling
Hanya membuat rindu semakin perih

Bagaimana caranya melepas rindu
Jika yang dirindu tak memberi kesempatan
Jika yang dirindu tak berbalas
Bagaiman caranya?

Benar kata Dilan
Rindu itu berat
Apalagi jika hanya milik seorang
Sedang yang dirindu tak merasakannya

 

 

Lawang, 9 November 2020, terinspirasi setelah membaca buku Tembang Talijiwo karya Sujiwo Tejo

Foto:

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Sajak

Rindu Tertinggi adalah Rindu yang Tak Terucap

Published

on

By

Kasih,
Percayalah
Rindu yang tertinggi adalah rindu yang tak terucap
Diam tanpa bersuara sedikitpun
Namun terdengar begitu nyaring di dalam hati

Kasih,
Bisakah kau rasakan kerinduanku ini?
Kerinduan yang benar-benar tak terucap
Karena bibir tak kuasa mengatakannya
Karena hati tak kuat mengutarakannya

Kasih,
Apakah rindu tak terucap ini hanya milikku?
Ataukah engkau juga merasakannya?
Saling bungkam tanpa kabar
Namun diam-diam saling mendoakan

Kasih,
Rindu yang diumbar belum tentu tulus
Rindu yang digaungkan bisa saja palsu
Rindu yang diteriakkan ternyata tidak dalam
Manakah yang akan engkau pilih?

Kasih,
Aku sedang memeluk bayang yang tak tampak
Membayangkan dirimu di dekapan
Walau jauh tak terkira
Hadirmu begitu terasa di sini

Kasih,
Kapankah kita akan ditakdirkan bertemu?
Setelah berpisah sekian lamanya
Aku ingin bertemu denganmu kasih
Rinduku sudah mencapai batasnya

Kasih,
Kerinduan ini harus aku pendam dalam-dalam
Bersabar hingga waktunya tiba
Tapi percayalah kasih
Rindu tak terucapku adalah sejatinya rindu

 

NB: Sajak ini bisa dibilang sebagai bagian kedua dari sajak Kerinduan Seorang Kekasih

 

 

Kebayoran Lama, 25 Juni 2020, terinspirasi dari celetukan adik yang keluar begitu saja

Foto: Andrew Neel on Pexels

Continue Reading

Sajak

Berpisah Pada Waktunya

Published

on

By

Ruang kosong di dalam sini
Sempat terisi
Sebelum akhirnya kosong lagi

Perjumpaan yang mengisi
Perpisahan yang meninggalkan
Hanya semu semata, kah?

***

Tawa itu, tangis itu
Semuanya berpadu dalam satu irama
Membentuk harmoni yang melekat

Kenangan
Mampukah ia mengisi kekosongan?
Atau ia malah menambah derita?

***

Semua yang di dunia ini fana
Tak ada yang abadi
Termasuk kebahagiaan dan kesedihan

Semua yang di dunia ini sementara
Tak ada yang selamanya
Termasuk pertemuan

***

Bila waktu berpisah telah tiba
Apakah kita akan rela melepas
Atau malah terbelenggu karenanya?

Mengapa ada pertemuan
Jika waktunya berpisah tiba
Hanya akan menggoreskan luka?

 

 

Kebayoran Lama, 7 Juni 2020, terinspirasi dari… ya begitulah

Foto: Pinterest

Continue Reading

Sajak

Menjaga Kewarasan

Published

on

By

Bisakah kita menjaga kewarasan?
Di saat masa-masa sulit seperti ini
Di saat kita tak bisa hidup dengan normal
Di saat semuanya kacau balau
Di saat pelan-pelan membusuk
Di saat tekanan datang dari segala arah

Bisakah kita menjaga kewarasan?
Di saat kita terpisah jauh dari orang-orang tercinta
Di saat merasa tak berdaya karena tak bisa berbuat apapun
Di saat harus terkungkung seorang diri jauh dari mana pun
Di saat hidup sendirian menjadi penderitaan paling menyiksa
Di saat tak ada lagi yang peduli dengan keberadaan kita

Bisakah kita menjaga kewarasan?
Di saat ketidakpastian mengintai di mana-mana
Di saat kepastian menjadi barang langka
Di saat kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam waktu dekat
Di saat semuanya serba kabur
Di saat semuanya tertutup oleh pekatnya kabut

Bisakah kita menjaga kewarasan?
Di saat langkah begitu terbatas
Di saat bergerak menjadi sebuah ketakutan
Di saat kita mencurigai semua orang
Di saat tak ada siapapun yang bisa dipercaya
Di saat angka kematian hanya sekadar statistik

Bisakah kita menjaga kewarasan?
Di saat depresi datang mengintai
Di saat kecemasan terus menghantui
Di saat frustasi terus hinggap di pikiran
Di saat tidur tak lagi bisa lelap
Di saat bangun menjadi hal yang menakutkan

Bisakah kita menjaga kewarasan?
Di saat tertawa menjadi sesuatu yang sulit
Di saat tangis tak lagi bisa mengalir
Di saat jantung berdebar tak kauran
Di saat teriak tak bisa didengar
Di saat telinga menutup dirinya rapat-rapat

Bisakah kita menjaga kewarasan?
Di saat sepi menjadi satu-satunya pendamping
Di saat bayangan paling setia pun pergi
Di saat ketakutan mulai menguasai diri
Di saat semua batas menjadi kabur
Di saat kita tak lagi mengenal diri sendiri

Bisakah?

 

 

Kebayoran Lama, 4 Mei 2020, terinspirasi dari musibah yang sedang menghampiri kita semua

Foto: Greenscene

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan