<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/indonesia/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Dec 2025 17:19:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Indonesia Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/indonesia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bahkan Sekadar Empati pun Pejabat Kita Tidak Punya</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/bahkan-sekadar-empati-pun-pejabat-kita-tidak-punya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/bahkan-sekadar-empati-pun-pejabat-kita-tidak-punya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2025 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kontroversi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8453</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelum memulai tulisan ini, Penulis ingin mengungkapkan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada korban bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera. Hingga tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 800 korban jiwa dan jutaan orang terdampak. Jelas, skala bencana menjelang pergantian tahun ini sangat masif. Anehnya (atau justru sudah menjadi &#8220;normalnya&#8221;?), sampai saat ini pemerintah belum juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/bahkan-sekadar-empati-pun-pejabat-kita-tidak-punya/">Bahkan Sekadar Empati pun Pejabat Kita Tidak Punya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebelum memulai tulisan ini, Penulis ingin mengungkapkan duka cita yang sedalam-dalamnya  kepada korban bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera. Hingga tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 800 korban jiwa dan jutaan orang terdampak.</p>



<p>Jelas, skala bencana menjelang pergantian tahun ini sangat masif. Anehnya (atau justru sudah menjadi &#8220;normalnya&#8221;?), sampai saat ini pemerintah belum juga menetapkan hal tersebut sebagai darurat bencana nasional dengan berbagai argumen.</p>



<p>Lebih parahnya lagi, banyak sekali tindakan maupun ucapan dari pejabat publik, terutama presiden, yang justru menyakiti banyak perasaan masyarakat, seolah mereka tidak memiliki empati untuk para korban. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/pembubaran-panitia-agustusan-banner-1-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/pembubaran-panitia-agustusan-banner-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/pembubaran-panitia-agustusan-banner-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/pembubaran-panitia-agustusan-banner-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/pembubaran-panitia-agustusan-banner-1.jpg 1280w " alt="Pembubaran Panitia Agustusan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/pembubaran-panitia-agustusan/">Pembubaran Panitia Agustusan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Daftar Ucapan Kontroversial Pejabat Terkait Bencana di Sumatera</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-a-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8457" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-a-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-a-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-a-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-a.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Presiden Prabowo Ketika Pidato Karunia Kelapa Sawit (via <a href="https://www.tribunnews.com/nasional/7763814/prabowo-sebut-kelapa-sawit-karunia-tuhan-usai-banjir-sumatra-jatam-demi-selamatkan-bisnisnya">Tribun</a>)</figcaption></figure>



<p><strong>&#8220;Memang kemarin kelihatannya mencekam, ya, karena berseliweran di media sosial.&#8221; <br></strong>Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, ketika banyak <em>footage </em>yang menggambarkan betapa mencekamnya situasi di lapangan.</p>



<p><strong>&#8220;Gelondongan kayu yang ikut tersapu banjir adalah kayu lapuk.&#8221;</strong><br>Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto, seolah ingin menutupi aktivitas penebangan hutan yang menjadi salah satu alasan bencana bisa terjadi.</p>



<p><strong>&#8220;Kalau bisa Pak Prabowo [Subianto] jadi presiden seumur hidup.&#8221;</strong><br>Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry, yang seolah justru menjadikan bencana ini sebagai ajang untuk menjilat.</p>



<p><strong>“Daripada dibawa lagi ke pangkalan udara, lebih baik di-<em>drop</em> dan dapat dimanfaatkan masyarakat.”</strong><br>Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, ketika muncul kritik mengenai proses pembagian bantuan kepada korban bencana yang dilempar dari atas helikopter dan membuat banyak makanan jadi terbuang secara sia-sia</p>



<p><strong>&#8220;Kami juga mengucapkan terima kasih atas kepeduliannya, tapi kami yakin kami masih bisa mengatasinya.”</strong><br>Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, yang bersikukuh menolak bantuan dari luar negeri.</p>



<p><strong>&#8220;Saya kira situasi membaik. Saya kira kondisi yang sekarang (darurat provinsi) sudah cukup.”</strong><br>Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, setelah mengunjungi salah satu daerah yang terdampak bencana.</p>



<p><strong>&#8220;Tapi kita diberi karunia oleh Yang Maha kuasa kita punya kelapa sawit.&#8221;</strong><br>Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto (lagi), dalam sebuah acara yang justru menglorifikasi kelapa sawit ketika itu menjadi salah satu sumber bencana di Sumatera.</p>



<p>Belum lagi berbagai aktivitas &#8220;pencitraan&#8221; yang dilakukan oleh banyak pihak, mulai pelepasan bantuan oleh anggota DPR lengkap dengan spanduk, Zulkifli Hasan yang membawa karung beras, hingga Verrel Bramasta yang menggunakan <em>vest </em>ala <em>PUBG</em>.</p>



<p>Namun, Penulis justru teringat ucapan <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menatap-masa-depan-ikn-di-bawah-kepemimpinan-prabowo/">Presiden Prabowo</a> akhir tahun 2024 lalu, ketika ia mengatakan kalau pohon kelapa sawit juga &#8220;pohon&#8221;, sebuah ucapan yang membuat Penulis sangat geram ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya.</p>



<p><strong>&#8220;Saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit. Enggak usah takut. Apa itu katanya membahayakan, <em>deforestation</em>. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan? Benar enggak, kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Dia menyerap karbondioksida, dari mana kok kita dituduh yang boten-boten saja itu orang-orang itu.&#8221;</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Sesulit Itu untuk Berempati?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-b-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8458" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-b-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-b-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-b-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-b.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Contoh Korban Bencana Banjir Sumatera (via <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/12/01/20322621/data-bnpb-korban-jiwa-bencana-banjir-sumatera-bertambah-jadi-604-orang">Kompas</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak bencana ini terjadi pada akhir bulan November, sebenarnya Penulis sudah menahan diri untuk tidak berkomentar terlalu banyak atas ke-<em>asbun</em>-an para pejabat. Toh, memang kualitas pejabat kita ya memang cuma sebatas itu.</p>



<p>Namun, makin ke sini, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pemerintah-selalu-benar-yang-salah-selalu-rakyat/">Penulis merasa kok nirempatinya makin ke sini makin parah</a>. Jumlah korban seolah cuma menjadi statistik semata, karena mereka nyatanya lebih memedulikan kepentingannya masing-masing.</p>



<p>Salah satu hal yang paling kontroversial dan banyak dituntut oleh masyarakat adalah penetapan status darurat bencana nasional, yang hingga kini masih belum dilakukan Presiden Prabowo selaku yang berwenang berdasarkan UU 24/2007 Pasal 51. </p>



<p>Karena hal tersebut juga tawaran bantuan dari negara lain juga ditolak, seperti yang sudah dijelaskan oleh Kemenlu. Padahal, banyak yang melaporkan kalau masih ada daerah yang terisolasi dan belum mendapatkan bantuan, hingga ada korban kelaparan.</p>



<p>Tentu jadi wajar jika masyarakat menjadi curiga, apakah jangan-jangan tidak ditetapkannya status darurat bencana nasional dikarenakan <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menyorot-kebijakan-prabowo-gibran-dari-makan-siang-gratis-hingga-300-fakultas-kedokteran/">Presiden Prabowo</a> punya bisnis kelapa sawit di Sumatera, yang menjadi salah satu penyebab bencana?</p>



<p>Hal ini menjadi masuk akal karena Presiden Prabowo juga berkali-kali membahas kelapa sawit dalam berbagai kesempatan, bahkan melakukan glorifikasi yang menurut Penulis sudah berlebihan, tanpa mempertimbangkan dampak lingkungannya.</p>



<p>Para pejabat, kalau belum bisa kerja dengan benar, minimal belajar empati dulu, deh. Belajar gimana membuat pernyataan yang tidak menimbulkan amarah publik. Belajar gimana cara agar apa yang keluar dari mulut tidak menyakiti banyak pihak. Itu udah rendah banget <em>bare minimum</em>-nya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bencana alam yang terjadi di Sumatera, bagi Penulis, merupakan akibat dari keserakahan manusia yang terus menghabisi hutan demi kepentingan bisnis kelompok tertentu. Hutan yang salah satu fungsinya adalah menahan air justru dibabat habis-habisan.</p>



<p>Para korban tidak sedikipun kecipratan keuntungan dari bisnis-bisnis yang memakan hutan Sumatera, tapi merekalah yang justru menjadi pihak yang membayar. Para konglomerat yang kaya dari bisnis-bisnis tersebut masih bisa makan malam enak di rumah mewah mereka.</p>



<p>Semoga para korban keserakahan di Sumatera diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi bencana ini. Semoga orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi penyebab bencana ini akan mendapatkan balasan yang setimpal, baik di dunia maupun akhirat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Desember 2025, terinspirasi setelah emosi membaca berbagai komentar pejabat publik yang nirempati</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/12/05/17460191/update-bnpb-korban-tewas-banjir-sumatera-capai-867-orang">Kompas</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/cy9500835y1o">Lima pernyataan dan tindakan para pejabat yang dinilai &#8216;tidak empati&#8217; kepada korban banjir Sumatra – &#8216;Perlu empati yang lebih baik&#8217; &#8211; BBC</a></li>



<li><a href="https://magdalene.co/story/kontroversi-pernyataan-pejabat-banjir-sumatera/">6 Pernyataan Asbun dari Pejabat Publik Saat Banjir &#8211; Magdalene</a></li>



<li><a href="https://jambi.tribunnews.com/news/1183429/kontroversi-pernyataan-lama-prabowo-soal-kelapa-sawit-dan-pohon-korban-bencana-di-aceh-dan-sumatera">Kontroversi Pernyataan Lama Prabowo Soal Kelapa Sawit dan Pohon-Korban Bencana di Aceh dan Sumatera &#8211; Tribun</a></li>



<li><a href="https://www.hukumonline.com/berita/a/ini-ketentuan-status-bencana-nasional--otoritas-penetapan-dan-indikatornya-lt692fa9e6a59b6/?page=2">Ini Ketentuan Status Bencana Nasional, Otoritas Penetapan dan Indikatornya</a></li>



<li><a href="https://www.kompas.id/artikel/situasi-pascabencana-dinilai-membaik-presiden-belum-tingkatkan-status-bencana-di-sumatera">Situasi Pascabencana Dinilai Membaik, Presiden Belum Tingkatkan Status Bencana di Sumatera &#8211; Kompas</a></li>



<li><a href="https://www.tribunnews.com/nasional/7763814/prabowo-sebut-kelapa-sawit-karunia-tuhan-usai-banjir-sumatra-jatam-demi-selamatkan-bisnisnya">Prabowo Sebut Kelapa Sawit Karunia Tuhan usai Banjir Sumatra, JATAM: Demi Selamatkan Bisnisnya &#8211; Tribun</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/bahkan-sekadar-empati-pun-pejabat-kita-tidak-punya/">Bahkan Sekadar Empati pun Pejabat Kita Tidak Punya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/bahkan-sekadar-empati-pun-pejabat-kita-tidak-punya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2025 16:47:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[demo]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8315</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya beberapa minggu terakhir ini, Indonesia menjadi sedikit tidak nyaman sebagai rumah kita tinggal. Pasalnya, muncul sekali banyak berita yang membuat kita merasa resah, kecewa, marah, sedih, campur aduk pokoknya. Puncaknya mungkin ketika meninggalnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online (ojol) yang tewas terlindas mobil Brimob pada tanggal 28 Agustus 2025. Sejak itu, situasi mengalami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/">Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Rasanya beberapa minggu terakhir ini, Indonesia menjadi sedikit tidak nyaman sebagai rumah kita tinggal. Pasalnya, muncul sekali banyak berita yang membuat kita merasa resah, kecewa, marah, sedih, campur aduk pokoknya.</p>



<p>Puncaknya mungkin ketika meninggalnya Affan Kurniawan, seorang <em>driver </em>ojek <em>online </em>(ojol) yang tewas terlindas mobil Brimob pada tanggal 28 Agustus 2025. Sejak itu, situasi mengalami eskalasi yang begitu cepat hingga terjadi kerusuhan di mana-mana.</p>



<p>Namun, menurut Penulis, rasanya apa yang terjadi beberapa minggu ini merupakan akumulasi dari kekecewaan demi kekecewaan yang kita alami selama beberapa bulan terakhir, atau bahkan sudah bertahun-tahun menggumpal di dalam diri kita.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/buku-panduan-matematika-terapan-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/buku-panduan-matematika-terapan-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/buku-panduan-matematika-terapan-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/buku-panduan-matematika-terapan-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/buku-panduan-matematika-terapan-banner.jpg 1280w " alt="Filsafat Matematika Pada Buku Panduan Matematika Terapan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/filsafat-matematika-pada-buku-panduan-matematika-terapan/">Filsafat Matematika Pada Buku Panduan Matematika Terapan</a></div></div></div><p></p>


<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Kepada-Tuan-dan-Puan-yang-Terhormat-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8318" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Kepada-Tuan-dan-Puan-yang-Terhormat-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Kepada-Tuan-dan-Puan-yang-Terhormat-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Kepada-Tuan-dan-Puan-yang-Terhormat-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Kepada-Tuan-dan-Puan-yang-Terhormat.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Penulis tidak akan membahas secara detail apa yang sebenarnya telah terjadi belakangan ini, rasanya sudah cukup banyak yang membahas hal tersebut (dan juga sudah cukup basi karena situasi yang sudah mulai kondusif). </p>



<p>Di sini, Penulis ingin berandai-andai seandainya saja bisa menuliskan surat terbuka untuk para tuan dan puan terhormat yang mengurus bangsa ini. Walau tidak menyelesaikan masalah (tentu saja), setidaknya Penulis bisa mengeluarkan unek-uneknya yang mungkin juga akan mewakili para Pembaca sekalian.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Kami sebagai rakyat hanya ingin keadilan<br>Bagaimana bisa kalian menari-nari ketika kami sedang kesulitan<br>Sedangkan seharusnya kamu menjadi tanggung jawab kalian<br>Rakyat mana yang sebenarnya kalian wakili?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Mengapa belakangan banyak perkataan kontroversial keluar dari mulut tuan dan puan<br>Perkataan yang seolah tak memiliki hati dan kepekaan sosial<br>Seolah kalian hidup di dalam gelembung kalian sendiri<br>Hingga rasanya begitu <em>tone deaf </em>dan tak peduli dengan rakyat yang kalian wakili?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Mengapa peraturan yang pro rakyat justru selalu dipersulit dan tak pernah kelar<br>Tapi peraturan yang menguntungkan kelompok tertentu bisa selesai secara kilat<br>Apakah betul kalau tuan dan puan memang pilih kasih<br>Hanya akan membantu siapa yang memberi untung?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Kita ini sama-sama manusia yang hidup di negara indah ini<br>Tapi mengapa tuan dan puan menganggap kami ini berbeda derajat<br>Padahal tuan dan puan selalu mengemis suara di masa pemilu<br>Tapi mengapa di saat seperti ini justru tutup telinga?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Kami sebagai rakyat terus tercekik dengan pajak yang bermacam-macam itu<br>Hampir semua aspek kehidupan kami ini dipajaki<br>Bagaimana bisa negara yang katanya kaya raya ini<br>Justru pemasukan terbesarnya dari keringat rakyat?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Hutang adalah menjadi momok yang mengerikan bagi kami<br>Bukan semata-mata takut dikejar penagih hutang, takut dengan neraka juga<br>Tapi kenapa hutang negara bisa begitu tingginya<br>Sampai terasa mustahil untuk bisa melunasi semuanya?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Banyak efisiensi terjadi di mana-mana, yang merupakan bahasa halus pemecatan<br>Hampir semua sektor mengeluh dan terpaksa melakukan efisiensi<br>Kami bukan pemalas, kami juga mampu bekerja dengan baik<br>Kami justru heran, mana 19 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan itu?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Di tengah sulitnya kami mencari pekerjaan yang layak<br>Mengapa ada banyak orang-orang yang bisa rangkap jabatan di pemerintahan<br>Apakah Indonesia kekurangan orang kompeten<br>Sehingga satu orang bisa mengisi dua-tiga posisi sekaligus?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Kenapa banyak sekali orang-orang mendapatkan gelar kehormatan<br>Di tengah kondisi rakyat yang masih bingung besok bisa makan atau tidak<br>Mengapa kita selalu disibukkan dengan seremoni-seremoni<br>Sehingga melupakan hal yang substansial?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Penjarahan yang rakyat lakukan memang tidak bisa dibenarkan<br>Tapi jangan lupa, selama ini tuan dan puan juga melakukan penjarahan besar-besaran<br>Hutan digundul, laut dikeruk, peradaban diusir<br>Bukankah itu semua demi kepentingan pemilik usaha yang ingin menguras Indonesia?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Kami sudah hidup dengan banyak kesulitan masing-masing<br>Kenapa tuan dan puan seolah ingin menambah kesulitan kami<br>Dengan merilis kebijakan-kebijakan yang merugikan kami<br>Padahal kami hanya ingin hidup dengan tenang?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Kami hanya ingin bersuara dan mengeluarkan semua aspirasi<br>Walau tak tentu didengar, tapi setidaknya kami berusaha<br>Tapi kenapa kamu justru dilibas sana-sini<br>Bahkan hingga dilindas sampai mati?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Kenapa tuan dan puan terkadang terasa paranoid dengan rakyatnya sendiri<br>Padahal tuan dan puan dibayar untuk mengurus kami<br>Hingga membuat sabotase di berbagai lini komunikasi<br>Seolah ingin memonopoli informasi yang sampai ke publik?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Kami ingin transparansi senyata mungkin dari tuan dan puan<br>Karena uang kami yang dipakai untuk menggaji tuan dan puan<br>Apakah tuan dan puan takut ada hal-hal tabu terungkap<br>Yang membuat kami sebagai pemberi gaji menjadi murka?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>UMR kami sangat rendah jika dibandingkan gaji serta tunjangan tuan dan puan<br>Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun harus hemat setengah mati<br>Tapi tuan dan puan banyak yang aslinya sudah kaya raya<br>Lantas mengapa masih mendambakan gaji serta tunjangan tinggi?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Di saat banyak sekali harga barang pokok meroket<br>Banyak sekali keistimewaan yang didapatkan oleh tuan dan puan sekalian<br>Kami rakyat harus banting tulang untuk bisa membelinya<br>Sedangkan tuan dan puan bisa mendapatkannya begitu saja?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Kami berusaha hidup dengan jujur dan baik<br>Tapi mengapa tuan dan puan banyak yang tersandung korupsi<br>Padahal kehidupan sudah lebih dari layak dibanding mayoritas masyarakat<br>Mengapa justru memilih untuk menjadi serakah dan tak pernah puas?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Sungguh, kami tak masalah tuan dan puan diberi gaji dan tunjangan tinggi<br>Karena mengurus suatu negara sebesar Indonesia bukanlah hal yang mudah<br>Namun, jika kinerjanya kami anggap kurang<br>Masih pantaskan kalian menerima gaji dan tunjangan sebesar itu?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Kami ini rakyatmu, kita ini sama-sama orang Indonesia<br>Kami ini bukan musuhmu, kami ingin sama-sama membuat Indonesia menjadi besar<br>Tapi mengapa terkadang kesenjangan sosial antara kita begitu lebar<br>Seolah penjajah tak pernah benar-benar hengkang dari negeri ini?</p>



<p><em>Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,</em></p>



<p>Rasanya surat terbuka untuk tuan dan puan ini tak akan sampai<br>Siapalah hamba hingga didengar oleh tuan dan puan yang terhormat<br>Tapi setidaknya melalui tulisan ini, hamba bisa bersuara<br>Sambil berharap yang terbaik untuk negeri ini.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 September 2025, terinspirasi dengan &#8220;ricuhnya&#8221; Indonesia beberapa minggu terakhir</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://nasional.kompas.com/read/2024/10/04/10381901/icw-60-persen-anggota-dpr-ri-terafiliasi-bisnis">Kompas</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/">Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-carmen-dan-hearts2hearts/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-carmen-dan-hearts2hearts/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2025 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Carmen]]></category>
		<category><![CDATA[Hearts2Hearts]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8303</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis mengenal K-Pop sejak Gen 2 ketika SMA. Waktu itu, rata-rata member dari sebuah girlband atau boyband lebih tua dari Penulis. Sebagai contoh, Girls&#8217; Generation atau SNSD memiliki member yang lahir antara tahun 1989 hingga 1991. Penulis hiatus cukup lama dari dunia K-Pop, kalau tidak salah mulai tahun 2013-2014. Penulis baru menyentuhnya lagi ketika kerja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-carmen-dan-hearts2hearts/">Mari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis mengenal K-Pop sejak Gen 2 ketika SMA. Waktu itu, rata-rata <em>member</em> dari sebuah girlband atau boyband lebih tua dari Penulis. Sebagai contoh, Girls&#8217; Generation atau SNSD memiliki <em>member </em>yang lahir antara tahun 1989 hingga 1991.</p>



<p>Penulis hiatus cukup lama dari dunia K-Pop, kalau tidak salah mulai tahun 2013-2014. Penulis baru menyentuhnya lagi ketika kerja karena teman sekantor Penulis merupakan penggemar berat <a href="https://whathefan.com/musik/forever-young-blackpink/">Blackpink</a>, yang termasuk ke Gen 3. Namun, baru di tahun 2022-2023 Penulis baru kembali intens mendengarkan K-Pop melalui <a href="https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/">Twice</a>.</p>



<p>Nah, Gen 3 ini bisa dibilang seumuran dengan Penulis atau setidaknya usianya tidak beda jauh dari Penulis. Contoh <em>idol </em>yang seumuran dengan Penulis adalah Wendy dan Seulgi dari <a href="https://whathefan.com/musik/feel-my-rhythm-red-velvet/">Red Velvet</a>. Kami sama-sama kelahiran 1994.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/bagi-bagi-kursi-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/bagi-bagi-kursi-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/bagi-bagi-kursi-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/bagi-bagi-kursi-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/bagi-bagi-kursi-banner.jpg 1200w " alt="Bagi-Bagi Kursi sebagai Balas Budi: Wajar atau Kurang Ajar?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/bagi-bagi-kursi-sebagai-balas-budi-wajar-atau-kurang-ajar/">Bagi-Bagi Kursi sebagai Balas Budi: Wajar atau Kurang Ajar?</a></div></div></div><p></p>


<p>Penulis bisa dibilang &#8220;telat&#8221; mengikuti Gen 3 ini, karena mereka sudah mulai mendekati penghujung karier ketika mendengarkan mereka. Bahkan, bisa dibilang sudah mulai peralihan ke Gen 4 seperti <a href="https://whathefan.com/musik/live-my-life-aespa/">aespa</a> dan <a href="https://whathefan.com/musik/i-am-ive/">IVE</a>, yang kira-kira seumuran dengan adik bungsu Penulis.</p>



<p>Penulis menyadari bahwa ada kesan <em>cringe </em>jika Penulis melihat sosok &#8220;adik-adik&#8221; yang bernyanyi dan nge-<em>dance</em>. Oleh karena itu, Penulis cenderung menghindari menonton video <em>performance </em>mereka. Penulis hanya menikmati musik mereka, sambil sesekali menonton <em>variety show</em> mereka.</p>



<p>Nah, kalau Gen 4 saja sudah ada perasaan takut dianggap <em>cringe</em>, lantas bagaimana dengan Gen 5 yang usianya lebih mudah lagi? Beda umur mereka dengan Penulis bisa mencapai belasan tahun!</p>



<p>Oleh karena itu, ketika Babymonster dari YG Entertainment debut dan langsung <em>hype</em>, Penulis berusaha untuk tidak terlalu mendengarkan lagu mereka (walau belakangan sedang sering mendengar lagu &#8220;Drip&#8221;).</p>



<p>Namun, hal tersebut runtuh begitu saja ketika Penulis mengetahui ada orang Indonesia yang berhasil tembus SM Entertainment, salah satu dari Big 3 agensi di Korea Selatan. Orang tersebut adalah <strong>Nyoman Ayu Carmenita </strong>atau <strong>Carmen</strong>, yang bergabung dengan Hearts2Hearts.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Carmen Bisa Debut di SM Entertainment</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8307" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">SM Entertainment (<a href="https://www.afloimages.com/imagedetails/127368480_extIntAflo/127368480-AFLO-Images-SM-Entertainment-June-12-2020-The-headquarters-of-.html">Afloimages</a>)</figcaption></figure>



<p>Carmen memang bukan orang Indonesia pertama yang berhasil menembus industri K-Pop. Sebelumnya, pernah ada nama seperti Dita Karang yang debut bersama Secret Number, walau kini grupnya tersebut sudah resmi bubar.</p>



<p>Namun, Carmen adalah orang Indonesia pertama yang berhasil debut di Big 3 agensi di Korea Selatan, yang terdiri dari SM Entertainment, JYP Entertainment, dan YG Entertainment. Carmen berada di agensi yang sama dengan SNSD, Red Velvet, dan aespa.</p>



<p>Mungkin sudah banyak yang tahu bagaimana Carmen bisa lolos SM. Awalnya ia mengikuti SM Global Audition melalui Zoom pada tahun 2020, saat zaman Covid. Waktu itu, berarti ia berumur sekitar 13-14 tahun.</p>



<p>Dari pendaftaran tersebut, ternyata ia lolos ke tahap selanjutnya dan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti proses seleksi lebih lanjut. Ia diantar oleh kakaknya, karena ia masih merahasiakan hal ini ke orang tuanya.</p>



<p>Siapa sangka ternyata ia berhasil lolos dan resmi menjadi <em>trainee</em> SM Entertainment. Awalnya ia dilarang oleh kedua orang tuanya (bayangkan saja melepas anak gadisnya sendirian ke negara orang yang terkenal rasis), tapi kakaknya berhasil membantu meyakinkan orang tuanya.</p>



<p>Carmen pun resmi menjadi <em>trainee </em>di tahun 2022, ketika ia berumur 15-16 tahun. Setelah dua tahun, ia akhirnya resmi debut bersama Hearts2Hearts pada tanggal 24 Februari 2025. Ia, yang lahir pada tanggal 28 Maret 2006, menjadi anggota tertua di grup tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Coba Kita Bayangkan Menjadi Seorang Carmen</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8308" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Nyoman Ayu Carmenita (<a href="https://voi.id/en/lifestyle/463698">VOI</a>)</figcaption></figure>



<p>Bayangkan ketika kita berumur 15-16 tahun. Mungkin kita baru lulus SMP dan baru akan merasakan masa-masa indah SMA. Namun, kita mendapatkan sebuah surat yang menyatakan kita diterima sebagai <em>trainee</em> di salah satu agensi terbesar di Korea Selatan.</p>



<p>Ketika berangkat, kita memang punya modal menyanyi dan menari yang cukup oke, karena kebetulan kita punya <em>privilege </em>di keluarga yang cukup <em>nyeni</em>. Akan tetapi, kita dalam posisi tidak bisa sama sekali berbahasa Korea. Apalagi, banyak orang Korea yang tidak bisa berbahas Inggris.</p>



<p>Sebelum berangkat, muncul kekhawatiran di kepala kita. Korea Selatan terkenal sebagai negara yang cukup rasis dan ultranasionalis. Bisakah kita bertahan di sana sendirian? Apakah kita bisa berteman dengan orang asli sana? Apakah kita bisa menyelesaikan masa <em>trainee</em> dan debut sebagai <em>idol</em>?</p>



<p>Terlepas dari semua kekhawatiran itu, kita berusaha menepis semua pikiran negatif tersebut dan yakin dengan diri sendiri. Kita menyemangati diri kita sendiri dan yakin kalau kita bisa melewati semua tantangan yang ada.</p>



<p>Kita pun menjalani masa <em>trainee</em> sembari mengambil kelas bahasa Korea. Masa <em>trainee </em>adalah masa yang terkenal berat, di mana kita menjalani pelatihan yang insentif dari berbagai bidang. Semua harus kita jalani demi bisa debut.</p>



<p>Di awal-awal masa <em>trainee</em>, kita pasti merasa tertekan dan mengalami <em>culture shock</em>. Tidak ada teman untuk bercerita karena ada <em>languange barrier </em>yang cukup lebar. Mungkin kita bisa menelepon orang tua kita, tapi kehadiran fisik seseorang yang bisa menjadi tempat mengeluh masih dibutuhkan.</p>



<p>Beberapa bulan kemudian, kita sudah mulai bisa berbicara dalam bahasa Korea dasar. Kita mulai mencoba mengobrol dengan sesama <em>trainee</em>. Mungkin ada yang rasis, tapi yang baik ke kita juga tidak sedikit. Kita pun mulai menemukan teman yang bisa diandalkan.</p>



<p>Setelah dua tahun, setelah semua jerih payah, rasa sepi, dan tangis, kita akhirnya mendapatkan pemberitahuan akan segera debut bersama teman-teman <em>trainee </em>lainnya. Kita akan menjadi orang pertama dari Indonesia yang debut di bawah bendera SM Entertainment.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Kurang lebih seperti itulah yang ada di benak Penulis ketika membayangkan berada di posisi Carmen. Sebagai seorang INFJ yang terkenal punya empati tinggi, entah mengapa Penulis bisa merasakan perjuangan yang telah ia lewati sejauh ini.</p>



<p>Meskipun ia terkenal selalu ceria dan memiliki <em>positive vibes</em>, Penulis yakin ia telah melewati banyak masa-masa berat selama ini, bahkan mungkin hingga sekarang. Itulah yang membuat Penulis mengagumi sosok Carmen, terlepas dirinya 12 tahun lebih muda dari Penulis.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sekarang, Mari Kita Bicarakan Hearts2Hearts</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8309" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/06/Mari-Kita-Bayangkan-Diri-Kita-Menjadi-Carmen-H2H-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Atas: Ye-On (Paling Kiri), A-na, Jiwoo, Carmen | Bawah: Juun (Paling Kiri), Ian, Yuha, Stella (<a href="https://www.popline.id/k-pop/751070547/hearts2hearts-siap-rilis-reality-show-perdana-chat-hearts2hearts-catat-jadwalnya">Popline</a>)</figcaption></figure>



<p>Carmen menjalani debut di Hearts2Hearts (H2H) bersama &#8220;adik-adiknya&#8221;, mulai dari Jiwoo (<em>leader</em>), Yuha, Stella, Juun, A-na, Ian, hingga Ye-On. Mereka debut dengan lagu berjudul <strong>&#8220;The Chase&#8221;</strong>, yang sejujurnya kurang cocok dengan selera musik Penulis.</p>



<p>Namun, lagu mereka yang berjudul <strong>&#8220;Butterflies&#8221;</strong> benar-benar Penulis nikmati. Lagu ini bernuansa <em>ballad</em> yang <em>heartwarming</em>, bukan tipe <em>ballad </em>yang cocok jadi teman galau. Bersama &#8220;Drip&#8221; dari Babymonster yang Penulis sebut di awal tulisan, dua lagu ini belakangan sering Penulis dengarkan (walau terkesan bertolak belakang).</p>



<p>Ada beberapa pihak yang <em>nyinyir </em>dan menganggap kalau Carmen hanya dimanfaatkan SM sebagai alat <em>marketing </em>untuk meraup pasar Indonesia, yang terkenal suka <em>overproud</em>. Apapun itu, bagi Penulis Carmen sudah berhasil membawa nama Indonesia ke kancah internasional.</p>



<p>Seperti yang sudah disinggung di atas, Penulis suka menonton <em>variety show </em>para <em>idol </em>Korea ini ketika sedang bersantai. H2H ini belakangan sering Penulis tonton. Ternyata, walau mereka cantik-cantik, kelakukan mereka juga lumayan <em>random</em>, terutama Carmen, A-na, dan Ian.</p>



<p>Nah, dalam beberapa kesempatan, Carmen terlihat mengajari beberapa kata dalam bahasa Indonesia kepada <em>member-</em>nya. Sejauh ini, ada dua <em>member </em>yang cukup hafal dan fasih dalam berbahasa Indonesia: Ian dan Ye-on. </p>



<p>Mungkin Penulis termasuk ke dalam masyarakat Indonesia yang <em>overproud </em>dengan debutnya Carmen bersama H2H. Biarlah, Penulis benar-benar merasa bangga ke Carmen, apalagi setelah membayangkan betapa keras perjuangannya untuk bisa berada di titik sekarang.</p>



<p>H2H memang baru berusia 3 bulan dan memiliki dua lagu. Mereka baru akan <em>comeback </em>pada 18 Juni mendatang dengan lagu (yang katanya) berjudul &#8220;Style&#8221;. Penulis pribadi ingin melihat sejauh apa Carmen akan mengharumkan nama Indonesia melalui H2H.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 10 Juni 2025, terinspirasi setelah melihat banyak video seputar Carmen dan Hearts2Hearts</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.suara.com/bisnis/2025/02/25/101548/debut-idol-kpop-carmen-hearts2hearts-bakal-punya-gaji-di-atas-umr-indonesia">Suara</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-carmen-dan-hearts2hearts/">Mari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-carmen-dan-hearts2hearts/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Oppenheimer (Secara Tidak Langsung) Membantu Indonesia Merdeka</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/bagaimana-oppenheimer-secara-tidak-langsung-membantu-indonesia-merdeka/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/bagaimana-oppenheimer-secara-tidak-langsung-membantu-indonesia-merdeka/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jul 2023 16:33:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[bom atom]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[Oppenheimer]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6716</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oppenheimer benar-benar membekas bagi Penulis. Melalui film yang digarap oleh Christopher Nolan tersebut, Penulis jadi bisa mengetahui sosok J. Robert Oppenheimer secara lebih mendalam lagi. Selama ini, Penulis hanya tahu secara sekilas saja. Kisah hidupnya memang menarik dan penuh gejolak, sehingga sah-sah saja jika ia menjadi biopik pertama yang dibuat oleh Nolan. Oppenheimer bukan manusia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bagaimana-oppenheimer-secara-tidak-langsung-membantu-indonesia-merdeka/">Bagaimana Oppenheimer (Secara Tidak Langsung) Membantu Indonesia Merdeka</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em><strong>Oppenheimer</strong> </em>benar-benar membekas bagi Penulis. Melalui film yang digarap oleh Christopher Nolan tersebut, Penulis jadi bisa mengetahui sosok J. Robert Oppenheimer secara lebih mendalam lagi. Selama ini, Penulis hanya tahu secara sekilas saja.</p>



<p>Kisah hidupnya memang menarik dan penuh gejolak, sehingga sah-sah saja jika ia menjadi biopik pertama yang dibuat oleh Nolan. Oppenheimer bukan manusia sempurna yang layak jadi teladan, tapi harus diakui kalau drama kehidupannya layak untuk disimak.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/tak-berkategori/review-setelah-menonton-oppenheimer/">Setelah menonton <em>Oppenheimer</em></a>, ada banyak hal yang Penulis renungkan, mulai dari bagaimana <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">Linkin Park telah menggunakan pidatonya di tahun 2010</a> hingga bagaimana bahaya perang nuklir selalu mengintai kita.</p>





<p>Namun, ada satu hal yang cukup menggelitik Penulis hingga membuat Penulis ingin membuat artikel khusus tentangnya, yaitu tentang bagaimana Oppenheimer, secara tidak langsung, membantu Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Hegemoni Jepang di Kawasan Asia Pasifik</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6719" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kekuasaan Jepang di Era Perang Dunia 2 (<a href="https://www.ww2classroom.org/node/148">Classroom</a>)</figcaption></figure>



<p>Indonesia mulai dijajah oleh Jepang sejak tahun 1942. Dalam waktu yang relatif singkat, banyak yang menyebutkan kalau penderitaan yang diakibatkan oleh mereka jauh lebih parah dibandingkan dengan waktu penjajahan Belanda.</p>



<p>Para pahlawan tentu berusaha mengusir Jepang dengan berbagai cara, baik dengan cara diplomasi maupun kekerasan melalui perang. Namun, Jepang ketika Perang Dunia 2 menjadi yang tertangguh di kawasan Asia Pasifik.</p>



<p>Bukan hanya Indonesia, wilayah jajahan Jepang sangat luas karena mencakup Korea, China (wilayah Manchuria), pulau-pulau kecil di Samudera Pasifik, Vietnam, dan tentu saja Indonesia. Mereka butuh sumber daya sebanyak-banyaknya untuk memperkuat supremasinya.</p>



<p>Berhubung Eropa sedang fokus menghadapi Jerman (dan Italia) yang membabi buta, waktu itu seolah tidak ada yang bisa menghentikan Jepang. Negara yang paling dekat saat itu adalah Amerika Serikat, yang di masa awal Perang Dunia 2 mengambil sikap netral.</p>



<p>Namun, semuanya berubah ketika pasukan Jepang menyerang Pearl Harbour pada 7 Desember 1941. Amerika Serikat pun memutuskan masuk ke medan perang di kawasan Pasifik, berupaya dengan pasukan yang tersisa untuk memukul mundur pasukan Jepang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Oppenheimer dan Proyek Manhattan yang Dipimpinnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6720" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Trinity Test (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=_7fKlk441dQ">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Di tengah masa perang, tersiar kabar kalau Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler dan NAZI sedang mengembangkan sebuah bom nuklir yang memiliki daya hancur luar biasa. Tentu ini menimbulkan ketakutan yang luar biasa bagi dunia.</p>



<p>Hal ini akhirnya mendorong Oppenheimer, yang terkenal apatis dengan politik dan ekonomi, mau menerima tawaran untuk menjadi pemimpin <strong>Manhattan Project</strong>. Secara sederhana, ini adalah sebuah proyek pembuatan bom atom untuk menyaingi bom milik Jerman</p>



<p>Oppenheimer pun memilih lokasi di tengah gurun, tepatnya di Los Alamos, New Mexico. Dengan bantuan dari berbagai ilmuwan di Amerika Serikat, proyek tersebut akhirnya rampung dalam waktu kurang lebih tiga tahun.</p>



<p>Namun, sebelum bom atom itu selesai, Jerman sudah lebih dulu menyerah setelah Hitler bunuh diri pada bulan April 1945. Walaupun begitu, proyek tersebut tetap berjalan, hingga akhirnya tes pertama yang dinamai <strong>Trinity</strong> <strong>Test</strong> dilaksanakan pada bulan Juli 1945.</p>



<p>Pada akhirnya, bom atom yang diberi nama Fat Man dan Little Boy tersebut dijatuhkan masing-masing di kota Hiroshima (6 Agustus) dan Nagasaki (8 Agustus). Beberapa hari kemudian, pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang resmi menyerah.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Jepang Menyerah, Indonesia Gercep</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6721" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/Bagaimana-Oppenheimer-Secara-Tidak-Langsung-Membantu-Indonesia-Merdeka-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Merdeka karena Gercep (<a href="https://voi.id/memori/76538/peristiwa-di-balik-pembacaan-naskah-proklamasi-kemerdekaan-indonesia-dalam-sejarah-hari-ini-17-agustus-1945">VOI</a>)</figcaption></figure>



<p>Kerusakan yang diakibatkan oleh bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki sangat masif. Menurut pembelaan pihak Amerika Serikat, tindakan tersebut harus diambil untuk menghindari lebih banyak nyawa yang harus hilang jika perang terus berlangsung tanpa berkesudahan.</p>



<p>Memang, banyak yang menganggap itu adalah keputusan yang tepat dan terbukti karena Jepang akhirnya menyerah. Kehilangan ratusan ribu penduduk dalam sekejap jelas sebuah pengingat yang sangat keras, dan Jepang tidak ingin bom atom dijatuhkan lagi ke wilayahnya.</p>



<p>Siapa yang mendapatkan &#8220;berkah&#8221; dari peristiwa ini? Salah satunya adalah Indonesia, yang langsung <em>gercep </em>memproklamirkan kemerdekaannya. Mengapa <em>gercep</em>, karena negara-negara lain baru beberapa tahun kemudian bisa merdeka. Korea saja baru merdeka tahun 1947.</p>



<p>Awalnya, para pemuda Indonesia mendesak para tokoh senior untuk melakukannya pada tanggal 16 Agustus, sehari setelah tersiar kabar Jepang telah menyerah. Namun, para tokoh senior sempat menolaknya karena ingin berunding dulu dengan Jepang.</p>



<p>Hal ini sebenarnya dapat dimaklumi, mengingat Jepang sudah berulang kali berjanji akan menghadiahkan kemerdekaan untuk Indonesia. Namun, tampaknya para pemuda tidak ingin kemerdekaan Indonesia menjadi pemberian bangsa lain, harus dari upaya sendiri.</p>



<p>Pada akhirnya, disepakati kalau pembacaan naskah proklamasi akan dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Sukarno. Selanjutnya, seperti yang sudah banyak di buku teks sejarah, Indonesia terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya secara heroik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Peran Oppenheimer dalam Membantu Indonesia Merdeka</h2>



<p>Meskipun Jerman telah kalah, Jepang belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur dan mengibarkan bendera putih. Apa yang membuat Jepang akhirnya menyerah di Perang Dunia 2 adalah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. </p>



<p>Dengan begitu, harus diakui kalau Oppenheimer (dan AS) memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia. Jika Manhattan Project yang dipimpin oleh Oppenheimer tidak berhasil, mungkin Jepang tidak akan menyerah dan Indonesia tidak akan merdeka pada tahun 1945. </p>



<p>Walaupun begitu, tentu bukan berarti kemerdekaan kita hanya sekadar &#8220;pemberian&#8221; dari bangsa lain. Ingat, sudah banyak perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan, baik ketika merebut kemerdekaan hingga mempertahankannya mati-matian.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Juli 2023, terinspirasi setelah menonton <em>Oppenheimer</em></p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.vanityfair.com/hollywood/2023/07/oppenheimer-poison-apple-true-story">Vanity Fair</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bagaimana-oppenheimer-secara-tidak-langsung-membantu-indonesia-merdeka/">Bagaimana Oppenheimer (Secara Tidak Langsung) Membantu Indonesia Merdeka</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/bagaimana-oppenheimer-secara-tidak-langsung-membantu-indonesia-merdeka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Nyawa untuk Sepak Bola Itu Terlalu Banyak</title>
		<link>https://whathefan.com/olahraga/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/olahraga/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2022 12:30:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Arema]]></category>
		<category><![CDATA[fanatisme]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kerusuhan]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[sepak bola]]></category>
		<category><![CDATA[suporter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5943</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kejadian tragis kembali menimpa sepak bola Indonesia, ketika ratusan suporter Arema meninggal dunia setelah timnya dikalahkan oleh Persebaya dengan skor 2-3. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi kejadian ini, yang akan Penulis bahas di bawah nanti. Berita ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk media luar negeri. Hal tersebut wajar, mengingat jumlah korban tewas mencapai ratusan dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak/">Satu Nyawa untuk Sepak Bola Itu Terlalu Banyak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kejadian tragis kembali menimpa sepak bola Indonesia, ketika ratusan suporter Arema meninggal dunia setelah timnya dikalahkan oleh Persebaya dengan skor 2-3. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi kejadian ini, yang akan Penulis bahas di bawah nanti.</p>



<p>Berita ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk media luar negeri. Hal tersebut wajar, mengingat jumlah korban tewas mencapai ratusan dan masih ada banyak korban luka-luka yang masih mendapatkan perawatan. </p>



<p>Bahkan, jumlah korban pada kejadian menjadi yang terbanyak nomor dua di dunia setelah peristiwa di Estadio Nacional, Lima, Peru, yang terjadi pada tanggal 24 Mei 1964 dengan total korban meninggal dunia 328 orang. </p>





<p>Sepak bola harusnya menyebarkan kebahagiaan dan suka cita bagi penontonnya, bukan merenggut nyawa seperti ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kronologi Kejadian Kematian Ratusan Suporter Arema</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5946" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kerusuhan Suporter di Dalam Stadion Kanjuruhan (<a href="https://nasional.okezone.com/read/2022/10/02/337/2678956/127-orang-tewas-dalam-kericuhan-arema-vs-persebaya-mayoritas-karena-sesak-nafas-dan-terinjak">Okezone</a>)</figcaption></figure>



<p>Semua berawal dari kekalahan Arema atas Persebaya di Stadion Kanjuruhan dengan skor 2-3. Ini menambah rentetan hasil buruk klub kebanggaan arek Malang tersebut, di mana pada lima pertandingan terakhir hanya bisa meraih satu kemenangan dan menelan tiga kekalahan.</p>



<p>Hasil buruk inilah yang memicu turunnya suporter Arema ke lapangan setelah pertandingan usai. Mereka mengungkapkan kekesalan dan frustasi mereka, bahkan katanya mereka ingin bertanya kepada pemain kenapa bisa sampai kalah.</p>



<p>Melihat hal ini, polisi pun langsung bergerak dan melakukan antisipasi. Awalnya lewat cara persuasif, tetapi gagal karena oknum suporter makin rusuh dan mulai melakukan perusakan, baik ke properti stadion maupun mobil polisi. Bentrok antara suporter dan polisi pun tak terhindarkan.</p>



<p>Kerusuhan inilah yang memicu pihak kepolisian akhirnya menembakkan gas air mata. Naasnya, gas air mata tersebut juga sampai ke tribun dan menimbulkan kepanikan. Penonton di tribun pun mulai berdesak-desakkan untuk keluar stadion.</p>



<p>Alhasil, timbullah penumpukan di pintu keluar dan membuat banyak orang merasa sesak dan pingsan. Banyak yang terinjak-injak. Ratusan nyawa melayang. Indonesia dan dunia sepak bola berduka cita untuk sebuah tragedi yang benar-benar menyayat hati.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa yang Salah?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5945" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Salah Satu Dampak Kerusuhan (<a href="https://news.okezone.com/read/2022/10/01/519/2678918/breaking-news-kericuhan-di-kanjuruhan-sebabkan-2-supporter-arema-fc-meninggal-dunia">Okezone</a>)</figcaption></figure>



<p>Setelah peristiwa ini terjadi, tentu muncul satu pertanyaan besar: Siapa yang salah? Setelah ditelusuri, ternyata ada banyak faktor yang menyebabkan melayangnya nyawa ratusan Aremania, sebutan untuk suporter Arema.</p>



<p>Pertama, <strong>suporter yang rusuh dengan turun ke lapangan</strong>. Jumlah mereka sekitar tiga ribu orang menurut pernyataan kepolisian, dari total 40 ribuan penonton. Aksi mereka yang mengarah ke anarki membuat kepolisian harus melakukan tindakan.</p>



<p>Sayangnya, tindakan yang dipilih adalah menembakkan gas air mata. Padahal, FIFA Stadium Safety and Security Regulations Pasal 19 b berbunyi: <strong>&#8216;No firearms or &#8220;crowd control gas&#8221; shall be carried or used&#8217;</strong>.</p>



<p>Artinya, penggunaan senjata api ataupun gas untuk mengendalikan masa tidak boleh digunakan. Namun, polisi berdalih terpaksa melakukan hal tersebut karena suporter Arema sudah menyerang petugas dan merusak mobil di lapangan.</p>



<p>Pihak klub juga disorot. Menurut pernyataan Mahfud MD, Stadion Kanjuruhan hanya berkapasitas 38 ribu orang, tetapi <strong>tiket yang dijual mencapai 42 ribu orang</strong>. Dengan begitu, bisa dibayangkan betapa padatnya di sana ketika para penonton pada berhamburan keluar.</p>



<p>PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) juga dikecam karena menolak usulan kepolisian agar memajukan jam pertandingan ke sore hari. Padahal, hal tersebut adalah bentuk antisipasi kerusuhan, tetapi <strong>PT LIB terkesan lebih mementingkan rating</strong>.</p>



<p>Jadi jika ditanya yang salah, peristiwa menyedihkan ini adalah konsekuensi dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh banyak pihak. Nyawa sudah melayang, lebih baik kita jadikan peristiwa hari ini sebagai bahan interopeksi masing-masing.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Fanatisme yang Berlebihan Tidak Pernah Baik</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5947" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Aksi Walk-Out Fans MU Sebagai Bentuk Protes (<a href="https://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-7949481/Manchester-United-fans-set-walk-Old-Trafford-68th-minute-clash-Wolves.html">Daily Mail</a>)</figcaption></figure>



<p>Peristiwa yang terjadi pada suporter Arema ini seolah mengingatkan kita bahwa <strong><a href="https://whathefan.com/politik-negara/akar-fanatisme-membabi-buta/">fanatisme yang berlebihan</a> terhadap apapun itu tidak pernah berakhir dengan baik</strong>. Kita harus mengetahui batasan-batasan agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.</p>



<p>Suporter yang merasa kecewa dan frustasi dengan permainan buruk yang ditampilkan oleh klub kesayangannya adalah hal yang lumrah. Penulis entah berapa kali mengungkapkan <a href="https://whathefan.com/olahraga/gatau-harus-ngomong-apalagi/">kekecewaannya ketika Manchester United (MU)</a> bermain dengan sangat buruk.</p>



<p>Namun, cara penyampaian kekecewaan dan perasaan frustasi tersebut tentu harus dengan cara-cara yang baik dan benar, bukan dengan kekerasan atau cara-cara kotor lain yang bisa menimbulkan efek domino. </p>



<p>Ironinya, kerusuhan yang ditimbulkan oleh beberapa oknum suporter (dan mungkin terselip provokator-provokator) berdampak sangat parah kepada suporter lain yang mungkin sebenarnya tidak terlibat dalam kerusuhan tersebut. </p>



<p>Mereka hanya panik dengan kejadian di lapangan, sehingga ingin keluar dari stadion secepat mungkin. Kekacauan demi kekacauan membuat situasi benar-benar tidak kondusif. Entah berapa orang yang menangis karena ditinggal oleh anggota keluarganya untuk selamanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Dengan adanya kejadian ini, akhirnya Liga 1 akan dihentikan selama satu minggu. Semua pertandingan akan ditunda untuk waktu yang belum ditentukan. Itu merupakan keputusan yang tepat, bahkan kalau perlu ditunda lebih lama hingga situasi lebih kondusif.</p>



<p>Pihak manajemen Arema juga sudah membuat pernyataan kalau mereka akan bertanggung jawab atas kejadian ini, baik kepada korban yang telah meninggal ataupun sedang dirawat. Mereka juga akan membuka <em>crisis center </em>agar masyarakat bisa mendapatkan informasi.</p>



<p>Penulis mengucapkan ucapan duka cita dari hati yang paling dalam untuk korban-korban yang meninggal dunia akibat peristiwa ini. Penulis juga berdoa agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menerima musibah ini.</p>



<p>Semoga saja tragadi sepak bola ini mampu menjadi tamparan keras untuk kita agar berbenah dan bisa menciptakan iklim sepak bola yang lebih sehat.<strong> Satu nyawa untuk sepak bola itu terlalu banyak</strong>.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 2 Oktober 2022, terinspirasi setelah membaca berita tentang banyaknya suporter Arema yang meninggal</p>



<p>Foto: <a href="https://aremafc.com/news/sampaikan-duka-cita-manajemen-arema-fc-siap-beri-santunan-dan-buka-crisis-center">Arema FC</a></p>



<p>Sumber Artikel: </p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.republika.co.id/berita/rj3jv3484/127-orang-tewas-tragedi-di-stadion-kanjuruhan-nomor-dua-paling-mengerikan-di-dunia">127 Orang Tewas, Tragedi di Stadion Kanjuruhan Nomor Dua Paling Mengerikan di Dunia | Republika Online</a></li><li><a href="https://bola.okezone.com/read/2022/10/02/49/2678965/kronologi-penyebab-127-orang-meninggal-dunia-dalam-kerusuhan-laga-arema-fc-vs-persebaya-surabaya">Kronologi Penyebab 127 Orang Meninggal Dunia dalam Kerusuhan Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya : Okezone Bola</a></li><li><a href="https://news.detik.com/berita/d-6323894/larangan-fifa-dan-alasan-polisi-gunakan-gas-air-mata-di-kanjuruhan">Larangan FIFA dan Alasan Polisi Gunakan Gas Air Mata di Kanjuruhan (detik.com)</a></li><li><a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20221002075124-20-855208/mahfud-soal-tragedi-kanjuruhan-kapasitas-38-ribu-cetak-tiket-42-ribu">Mahfud soal Tragedi Kanjuruhan: Kapasitas 38 Ribu, Cetak Tiket 42 Ribu (cnnindonesia.com)</a></li><li><a href="https://news.detik.com/berita/d-6323976/ini-bukti-polisi-minta-percepat-arema-vs-persebaya-ditolak-pt-lib">Ini Bukti Polisi Minta Percepat Arema Vs Persebaya, Ditolak PT LIB (detik.com)</a></li><li><a href="https://sport.detik.com/sepakbola/liga-indonesia/d-6323821/pernyataan-arema-fc-terkait-tragedi-kanjuruhan">Pernyataan Arema FC Terkait Tragedi Kanjuruhan (detik.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak/">Satu Nyawa untuk Sepak Bola Itu Terlalu Banyak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/olahraga/satu-nyawa-untuk-sepak-bola-itu-terlalu-banyak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2022 13:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[isyana]]></category>
		<category><![CDATA[Isyana Sarasvati]]></category>
		<category><![CDATA[klasik]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[opera]]></category>
		<category><![CDATA[penyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5613</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis mengakui kalau dirinya tidak begitu sering mendengarkan lagu Indonesia di masa remajanya. Lagu-lagu rock dari barat terdengar lebih menggoda dan cocok dengan selera musik Penulis. Walaupun begitu, Penulis masih memiliki beberapa penyanyi atau band lokal favorit seperti Peterpan (sebelum menjadi Noah). Untuk penyanyi, Penulis sempat mengidolakan Gita Gutawa. Bahkan, ada teman SMA Penulis yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/">Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis mengakui kalau dirinya tidak begitu sering mendengarkan lagu Indonesia di masa remajanya. Lagu-lagu <em>rock </em>dari barat terdengar lebih menggoda dan cocok dengan selera musik Penulis.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis masih memiliki beberapa penyanyi atau <em>band </em>lokal favorit seperti <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Peterpan</a> (sebelum menjadi Noah). Untuk penyanyi, Penulis sempat mengidolakan Gita Gutawa. Bahkan, ada teman SMA Penulis yang sampai memberikan poster bergambar dirinya.</p>



<p>Bertahun-tahun kemudian, Penulis baru menemukan lagi sesosok penyanyi perempuan yang diidolakan. Ia adalah <strong>Isyana Sarasvati</strong>, orang yang sering dianggap sebagai komedian berkedok penyanyi.</p>



<p>Melalui tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi sedikit mengenai bagaimana Penulis bisa mengidolakan Isyana Sarasvati dan pendapatnya tentang musik-musik yang ia ciptakan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Pertemuan dengan Isyana Sarasvati</h2>



<p><em>Fun fact</em>, Isyana Sarasvati adalah satu-satunya idola yang berhasil Penulis ajak untuk foto bareng. Menariknya, kejadian tersebutlah yang membuat Penulis menjadikannya sebagai sesosok idola. Artikel lengkapnya bisa dibaca di sini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="84RnN8OyH0"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/">Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/embed/#?secret=84RnN8OyH0" data-secret="84RnN8OyH0" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Kesempatan untuk bisa mendengarkan konsernya secara langsung, berfoto dan bersalaman dengannya (walaupun hanya pucuk tangannya), hingga mendapatkan CD-nya secara gratis membuat Penulis ingin mendalami musikalitas Isyana.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga banyak menonton video-videonya di YouTube, terutama video yang berkaitan dengan &#8220;kekocakan&#8221; yang dimilikinya. Perpaduan antara musik yang ia ciptakan dengan karakter yang dimilikinya jelas meninggalkan kesan tersendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perkenalan Isyana di Industri Musik Indonesia</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5732" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Explore!</em> (<a href="https://www.liputan6.com/showbiz/read/2375951/album-explore-wakili-jiwa-isyana-sarasvati">Liputan6</a>)</figcaption></figure>



<p>Sama seperti kebanyakan pendengar Isyana, Penulis mengenal lagu Isyana dari <em>single-single </em>awalnya seperti <em><strong>Keep Being You</strong> </em>dan <em><strong>Tetap Dalam Jiwa</strong> </em>yang masuk ke dalam album pertamanya, <em><strong>Explore!</strong></em> (2015).</p>



<p>Sebagai album perkenalan Isyana, album ini menurut Penulis masih mengikuti pasar Indonesia dan bisa didengarkan oleh banyak orang karena <em>easy listening</em>. Penulis sendiri bukan penggemar genre tersebut, tetapi masih bisa menikmatinya.</p>



<p>Selain dua lagu yang menjadi <em>single </em>utama dari album tersebut, Penulis juga menyukai lagu <strong><em>Kau Adalah</em> </strong>yang merupakan hasil kolaborasinya dengan personil Ran, Rayi Putra. Hingga kini, Penulis masih mendengarkan lagu-lagu tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5733" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Paradox </em>(<a href="https://youtu.be/BaSCPxAEdN8">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Selang dua tahun (2017), Isyana kembali menelurkan album baru yang berjudul <em><strong>Paradox</strong></em>. Penulis berhasil mendapatkan album aslinya ketika beli makan di KFC. Dibandingkan dengan album sebelumnya, lagu-lagu yang terdapat di album ini terasa lebih berwarna.</p>



<p>Jika membaca dari beberapa sumber, album ini banyak mengangkat kisah pribadi Isyana, berbanding terbalik dengan album sebelumnya yang kerap bercerita tentang kisah temannya atau sepenuhnya fiktif.</p>



<p>Salah satu lagu yang menjadi <em>hits </em>di album ini tentu saja lagu <em><strong>Anganku Anganmu </strong></em>yang ia nyanyikan bersama Raisa. Kedua penyanyi ini sama- sama cantik dan bersuara emas. Apalagi, banyak orang yang kerap membandingkan keduanya.</p>



<p>Di antara semua lagu yang ada di album ini, Penulis paling menyukai lagu <em><strong>Lembaran Buku </strong></em>yang walaupun terkesan <em>gloomy</em>, entah mengapa liriknya terasa begitu dalam. Lagu lain yang Penulis sukai di album ini adalah <em><strong>Nada Cinta </strong></em>yang kesannya ceria dan bahagia. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Jujur kepada Diri Sendiri</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5734" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Lexicon </em>(<a href="https://m.fimela.com/entertainment/read/4123653/lexicon-luapan-energi-terpendam-isyana-sarasvati">Fimela</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin isi lagu dari album <em>Paradox </em>memang lebih menggambarkan seorang Isyana. Namun, secara musikalitas sebenarnya Isyana masih &#8220;bermain aman&#8221; dan mengikuti pasar Indonesia. Di album ketiganya, <em><strong>Lexicon</strong></em> (2019), barulah Isyana benar-benar berani <a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">keluar dari zona nyaman</a>.</p>



<p>Jika dua albumnya lebih bergenre <em>pop </em>dan <em>R&amp;B</em>, maka di album ini terasa bergenre klasik dan <em>rock </em>progresif. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Isyana memang memiliki <em>background </em>pendidikan di genre-genre tersebut. </p>



<p>Ini tentu cukup menimbulkan kekagetan di antara penggemar dan menimbulkan polarisasi. Ada yang menganggap Isyana telah keluar jalur, ada yang menyebut kalau inilah diri Isyana yang sebenarnya. Tak heran, ada beberapa anggapan yang menyebutkan banyak pendengar Isyana berpaling darinya.</p>



<p>Penulis sendiri sebagai penikmat musik <em>rock </em>sebenarnya terima-terima saja dengan keputusan Isyana dan tidak mempermasalahkannya. Jujur kepada diri sendiri merupakan hal penting, termasuk dalam pemilihan musikalitas sang penyanyi.</p>



<p>Di antara semua lagu yang ada di album ini, Penulis memiliki satu judul favorit, yakni <em><strong>Untuk Hati yang Terluka</strong></em>. Untuk lagu-lagu lainnya, Penulis kurang bisa menikmatinya karena tidak sesuai dengan selera saja. Namun, album ini memang benar-benar berbeda.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa yang Menyangka Isyana akan Merilis Lagu Metal?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5735" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana di Video Klip <em>Il Sogno </em>(<a href="https://www.nme.com/en_asia/news/music/isyana-sarasvati-and-deadsquad-share-music-video-for-il-sogno-3146709">NME</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak perilisan album ketiganya, Penulis tidak terlalu mengikuti lagu-lagu terbaru Isyana. Bahkan, Penulis hampir tidak pernah mendengarkan album mininya yang berkolaborasi dengan Afgan dan Rendy Pandugo.</p>



<p>Namun, Penulis kembali mendengarkan lagu Isyana berkat <em>single</em> <strong><em>Il Sogno </em></strong>(2021) yang juga menjadi <em>soundtrack </em>dari film <em>Teka-Teki Tika</em>. Gila, siapa yang menyangka Isyana akan menciptakan lagu sekeras ini. Perpaduan antara <em>rock</em>, classic, dan suara opera Isyana benar-benar cocok di telinga Penulis.</p>



<p>Bahkan, versi kolaborasinya dengan Deadsquad (rilis 2022) membuat lagu ini semakin enak (dan tentunya makin keras!) saja didengar dan membuat Penulis melakukan <em>headbang </em>ketika sedang mendengarkannya. Lagu ini benar-benar keren!</p>



<p><em>Il Sogno </em>jugalah yang membuat Penulis akhirnya kembali mendengarkan lagu-lagu Isyana dan menemukan beberapa lagu yang ternyata cukup enak. Salah satunya adalah <em><strong>Unlock the Key</strong> </em>(2020)<em> </em>yang juga bergenre <em>rock</em>. Semoga saja Isyana makin sering membuat lagu bergenre <em>rock </em>progresif!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis sebenarnya bukan tipe orang yang menyukai seorang penyanyi karena lebih menyukai <em>band</em>. Penulis bisa menyebutkan banyak nama <em>band </em>favoritnya, tetapi akan kebingungan jika ditanya siapa penyanyi favoritnya.</p>



<p>Kehadiran Isyana di ranah musik Indonesia membuat Penulis tak ragu menjadikannya penyanyi favorit. Mengikuti evolusi musikalitasnya dari debut hingga sekarang benar-benar menarik dan menurut Penulis cukup unik. Tak banyak penyanyi yang berani keluar dari zona nyamannya.</p>



<p>Oleh karena itu, Isyana Sarasvati akan tetap ada di dalam jiwa Penulis sampai kapan pun. Apalagi, Penulis memiliki kenangan indah ketika bisa berjumpa dengannya dan berfoto bareng.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 21 Februari 2022, terinspirasi setelah mendengarkan lagu-lagu Isyana Sarasvati</p>



<p>Foto: <a href="https://www.ussfeed.com/lagu-il-sogno-isyana-sarasvati-cerita-tentang-mimpi/">USS Feed</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/">Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yakin Kita Sudah Merdeka?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2021 15:45:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedaulatan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5225</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19. Bulan yang biasanya diisi oleh lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda. Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/">Yakin Kita Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19.</p>



<p>Bulan yang biasanya diisi oleh <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan </a>harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda.</p>



<p>Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul satu pertanyaan di benak Penulis: <strong>yakin kita sudah merdeka?</strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Definisi Kemerdekaan</h2>



<p>Di dalam <em>KBBI</em>, merdeka memiliki tiga arti, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri</li><li>tidak terkena atau lepas dari tuntutan</li><li>tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa</li></ol>



<p>Mari kita coba urai satu per satu, apakah kemerdekaan yang sudah kita rasakan sekarang benar-benar kemerdekaan yang sesungguhnya. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Pertama</h3>



<p>Makna pertama, bebas dari penjajahan. Secara fisik, kita memang sudah tidak dijajah oleh Belanda atau Jepang. Kita memiliki kedaulatan dan diakui oleh negara lain.</p>



<p>Akan tetapi, apakah kita telah merdeka dari penjajahan dalam bentuk lain? Penjajahan sumber daya, penjajahan budaya, penjajahan ideologi, rasa-rasanya masih terjadi hingga sekarang bahkan lebih berbahaya dan mengerikan.</p>



<p>Tidak percaya? Dulu, penjajahan wilayah terlihat bentuk fisiknya. Nah, penjajahan mode baru yang disebutkan di atas kan tidak kelihatan secara fisik. Karena tidak kelihatan, kita pun tidak merasa sedang dijajah oleh bangsa lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Kedua</h3>



<p>Makna kedua, lepas dari tuntutan. Makna yang satu ini memang lebih pas jika diidentikkan dengan pengadilan hukum. Apakah sebuah negara bisa dituntut oleh pihak lain? Bisa saja.</p>



<p>Meskipun sudah berdaulat, ada banyak negara lain yang memiliki kepentingan di negara kita. Efek sampingnya, akan muncul banyak tuntutan untuk kepentingannya sendiri.</p>



<p>Misal, menuntut kita untuk menandatangani kontrak tambang dengan dibayang-bayangi ancaman berskala global. Contoh lain, menuntut kita untuk menerima tenaga kerja asing dari negaranya. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Ketiga</h3>



<p>Makna ketiga, tidak bergantung ke pihak tertentu. Rasanya kita semua telah menyadari bahwa negara kita masih begitu bergantung kepada negara lain hingga rasanya begitu mengkhawatirkan.</p>



<p>Tengok saja kepada banyaknya produk impor yang harus kita datangkan demi memenuhi kebutuhan. Sesuatu seperti produk pertanian yang bisa kita hasilkan sendiri pun harus meminta pasokan dari negara lain.</p>



<p>Jelas masih ada sektor-sektor lain yang menunjukkan kalau kita masih terlalu bergantung kepada pihak lain. Istilah <em>berdikari </em>seolah tinggal slogan semata tanpa bisa dieksekusi oleh kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Kita Sudah Merdeka?</h2>



<p>Jika mau melihat dari diri sendiri, sebenarnya kita memang bisa merasakan kemerdekaan. Penulis bisa sekolah dan bekerja tanpa harus takut akan ada bom yang jatuh dari langit. Penulis juga, syukurnya, tidak pernah merasa kelaparan hingga tidak bisa makan.</p>



<p>Hanya saja, kemerdekaan yang Penulis rasakan tersebut hanya dalam skala kecil. Jika melihat gambaran besarnya, ada banyak sisi yang menunjukkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka.</p>



<p>Saat para pahlawan kita meneriakkan kata merdeka, mereka ingin kita memiliki sebuah negara yang utuh dan berdaulat. Mereka ingin kita menjadi raja di tanahnya sendiri. Kenyataannya sekarang?</p>



<p>Sumber daya kita masih banyak yang dikuasai asing, ketergantungan terhadap produk impor, lilitan hutang ribuan triliun, menjadi beberapa contoh menakutkan yang membuat kita meragukan apakah kita sudah benar-benar merdeka.</p>



<p>Semoga saja di ulang tahun yang ke-76 ini, Indonesia mampu segera bangkit dan sembuh dari berbagai penyakitnya. Semoga bangsa Indonesia bisa benar-benar merasakan kemerdekaan yang sejati, bukan kemerdekaan yang semu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 17 Agustus 2021, terinspirasi setelah <em>chatting </em>dengan salah satu teman</p>



<p>Foto: <a href="https://publicholidays.co.id/independence-day/">Public Holidays</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/">Yakin Kita Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karut-Marut Negeriku&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/karut-marut-negeriku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/karut-marut-negeriku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2020 01:21:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karut-marut]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[riuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4182</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjelang akhir tahun, entah mengapa kondisi Indonesia seolah makin karut-marut seolah semua masalah dari berbagai aspek tumpah ruah menjadi satu. Dua orang menteri tertangkap tangan KPK, di mana yang satu secara keji dan tidak bermoral mengkorupsi dana bantuan sosial (bansos) untuk pandemi Covid-19. Pengumuman pengadaan vaksin yang akan diimpor dari berbagai negara, namun mayoritas masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/karut-marut-negeriku/">Karut-Marut Negeriku&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang akhir tahun, entah mengapa kondisi Indonesia seolah makin karut-marut seolah semua masalah dari berbagai aspek tumpah ruah menjadi satu.</p>
<p><strong>Dua orang menteri tertangkap tangan KPK</strong>, di mana yang satu secara keji dan tidak bermoral mengkorupsi dana bantuan sosial (bansos) untuk pandemi Covid-19.</p>
<p>Pengumuman <strong>pengadaan vaksin</strong> yang akan diimpor dari berbagai negara, namun mayoritas masyarakat harus mengeluarkan dana pribadi untuk bisa mendapatkannya.</p>
<p>Berbagai &#8220;drama&#8221; yang silih berganti terkait <strong>Habib Rizieq Shihab</strong>, mulai dari kepulangan beliau, acara Maulid Nabi yang dianggap melanggar protokol kesehatan, tes swab, hingga yang terbaru kasus penembakan di Tol Cikampek.</p>
<p>Mencuatnya kembali <strong>Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila</strong> (RUU HIP) yang &#8220;kabarnya&#8221; ingin memeras Pancasila menjadi Ekasila yang berisi Gotong Royong.</p>
<p>Penulis pun jadi berpikir, sebenarnya <em><strong>ada apa dengan negeri ini?</strong></em></p>
<p><em>Apa ada sesuatu yang lebih besar di balik semua kejadian ini?</em></p>
<p><em>Kenapa banyak pihak seolah-olah merasa <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">dirinya lah yang paling benar</a>, sedangkan yang kontra pasti salah?</em></p>
<p><em>Mau sampai kapan keriuhan-keriuhan seperti ini akan terus terjadi?</em></p>
<p><em><strong>Mau sampai kapan?</strong></em></p>
<h3 style="text-align: center;">***</h3>
<p>Muncul teori konspirasi di kepala Penulis. Bagaimana jika situasi seperti ini sengaja diciptakan agar <strong>generasi mudanya menjadi apatis dan tidak peduli dengan kondisi negaranya</strong>?</p>
<p>Hal ini diperparah dengan banyaknya candu yang bisa menjangkiti para generasi muda. Sosial media, game, anime, K-Pop, banyak sekali sarana hiburan yang membuai kita menjadi acuh terhadap kondisi negaranya sendiri.</p>
<p>Kalo generasi muda tidak peduli dengan negaranya sendiri, maka orang-orang yang &#8220;berkepentingan&#8221; akan terus mengendalikan negara ini. Kalau becus sih tidak masalah, kalau inkompeten?</p>
<p>Iya, Penulis sadar dirinya juga termasuk yang <strong><em>tidak bisa berbuat banyak</em></strong> melihat kondisi negara sekarang. Tapi setidaknya, kita perlu tahu apa saja yang sedang terjadi di negara ini sehingga tidak mudah dikendalikan oleh &#8220;tangan-tangan yang tidak terlihat&#8221;.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis jadi berpikir lagi, apakah keriuhan ini terjadi karena kita sekarang bisa <strong>terkoneksi ke internet selama 24 jam</strong>? Apakah keriuhan terjadi karena adanya media sosial?</p>
<p>Sewaktu kecil, ketika koneksi internet belum selancar sekarang dan media sosial belum ada, rasanya jarang sekali terjadi keriuhan semacam ini.</p>
<p>Ingin tahu berita ya hanya dari berita di televisi, radio, atau koran. Sekarang, semua bisa menjadi wartawan dan ahli dalam bidang apapun berkat media sosial.</p>
<p>Memang kebebasan pers menjadi hadiah yang berharga dari reformasi. Tapi rasanya kok<strong> sekarang jadi kebablasan</strong>, belum lagi media-media yang dimiliki oleh orang berkepentingan&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis adalah tipe orang yang cenderung realistis. Melihat semua hal yang sedang terjadi di negeri ini, Penulis sadar dirinya tidak bisa berbuat banyak.</p>
<p>Penulis juga menyadari bahwa dirinya hanyalah sekadar <strong>penonton </strong>yang sedang melihat &#8220;panggung sandiwara&#8221; yang dilakukan oleh orang-orang.</p>
<p>Entah sampai kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung. Hingga tahun 2024 ketika presiden telah berganti? Penulis tidak yakin sama sekali.</p>
<p>Selama masih ada orang-orang yang <strong>memprioritaskan kepentingan dirinya sendiri ataupun kelompoknya</strong>, negara kita tercinta akan masih menyuguhkan banyak sekali drama yang karut-marut tak karuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 8 Desember 2020, terinspirasi dari karut-marutnya suasana negara Indonesia kita tercinta akhir-akhir ini</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@mufidpwt">Mufid Majnun</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/karut-marut-negeriku/">Karut-Marut Negeriku&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/karut-marut-negeriku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Pergulatan Demokrasi Liberal</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pergulatan-demokrasi-liberal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Feb 2020 08:02:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[liberal]]></category>
		<category><![CDATA[parlementer]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3376</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar sejarah, baik lokal maupun internasional. Jika menemukan buku sejarah yang menarik, biasanya Penulis tidak perlu berpikir dua kali untuk membelinya. Salah satu seri buku sejarah favorit Penulis adalah buku-buku keluaran Tempo. Penulis hampir memiliki semua buku-bukunya, baik yang berukuran besar maupun yang kecil. Yang paling baru adalah Pergulatan Demokrasi Liberal 1950-1959: Zaman Emas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pergulatan-demokrasi-liberal/">Setelah Membaca Pergulatan Demokrasi Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar sejarah, baik lokal maupun internasional. Jika menemukan buku sejarah yang menarik, biasanya Penulis tidak perlu berpikir dua kali untuk membelinya.</p>
<p>Salah satu seri buku sejarah favorit Penulis adalah buku-buku keluaran Tempo. Penulis hampir memiliki semua buku-bukunya, baik yang berukuran besar maupun yang kecil.</p>
<p>Yang paling baru adalah <em><strong>Pergulatan Demokrasi Liberal 1950-1959: Zaman Emas atau Hitam?</strong> </em>Ada banyak hal menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama yang berkaitan dengan era parlementer negara Indonesia.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sama seperti Seri Buku Tempo Lainnya, buku ini merupakan semacam kumpulan dari tulisan-tulisan Tempo yang berkaitan dengan topik tertentu. Dalam buku ini, banyak penggalan fakta sejarah yang terjadi di era 50-an.</p>
<p>Buku ini dibagi menjadi empat bagian utama, yakni:</p>
<ul>
<li><strong>Jatuh Bangun Sebuah Eksperimen</strong> sebagai pembuka</li>
<li><strong>Lahirnya Sebuah Optimisme</strong> yang menjelaskan bagaimana kita, di tengah-tengah agresi militer Belanda, berusaha membangun negeri ini dengan sistem parlementer</li>
<li><strong>Menguji Kemandirian Mahkamah</strong>, menjelaskan betapa tangguhnya kekuatan hukum di negeri ini sebelum takhluk di tangan tentara dan kekuatan politik</li>
<li><strong>Demokrasi di Ujung Senapan</strong>, bagaimana upaya militer berusaha membubarkan parlemen yang terwujud dengan munculnya dekrit presiden</li>
</ul>
<p>Selain itu, ada juga bab yang berisikan kartu sebagai salah satu sarana kritik pada masa itu dan kolom yang berisikan pendapat beberapa pakar. Buku ini ditutup dengan beberapa halaman Epilog.</p>
<p>Beberapa hal menarik yang ada di dalam buku ini adalah bagaimana kita begitu dinamisnya pada masa-masa ini. Perdana Menteri selaku motor utama dari sistem parlementer saling silih berganti dengan cepatnya.</p>
<p>Dalam kurun waktu sekitar 9 tahun, ada enam orang berbeda yang menjadi Perdana Menteri. Diawali oleh Muhammad Natsir, diakhiri oleh Djuanda Kartawidjaja.</p>
<p>Di dalam bab Menguji Kemandirian Mahkamah, Penulis menemukan betapa idealisnya orang-orang hukum (terutama Jaksa Agung) pada masa itu.</p>
<p>Sayang, ketegasan mereka memberantas berbagai permasalahan hukum membuat gerah banyak pihak, sehingga perlahan taji mereka pun menumpul. Efeknya terasa sampai hari ini.</p>
<p>Selain itu, ada satu bagian kecil yang menceritakan bagaimana orang-orang keturunan Tionghoa mendapatkan perlakuan rasis. Di sini Penulis sadar, bahwa permasalahan diskriminasi ras telah ada sejak republik ini berdiri.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Pergulatan Demokrasi Liberal 1950-1959</em></h3>
<p>Demokrasi Liberal berakhir ketika Sukarno mengeluarkan dekrit presiden yang terkenal. Semenjak itu, Indonesia mengusung konsep demokrasi terpimpin yang menyerempet ke arah otoriter.</p>
<p>Sempat mendapatkan angin segar ketika Orde Lama runtuh, <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto dengan rezim Order Barunya</a> mendominasi Indonesia. Pemilu yang bergulir seolah hanya menjadi formalitas semata. Hal ini bertahan hingga reformasi pecah pada tahun 1998.</p>
<p>Apa yang membuat Penulis menyukai Seri Buku Tempo adalah tata bahasanya yang terkesan berkelas, namun tetap mudah dipahami. Pemilihan diksi yang kaya membuat Penulis kerap menemukan kosa kata yang baru.</p>
<p>Penulis hanya menyayangkan bagian Kolom mendapatkan tempat yang cukup banyak. Bukannya tidak suka membaca pendapat para ahli, tapi Penulis lebih menikmati hasil reportase wartawan Tempo.</p>
<p>Ada banyak fakta menarik, yang anehnya, masih relevan dengan kita di hari ini. Paling mudah adalah melihat adanya diskriminasi berdasarkan SARA. Lemahnya penegakan hukum? Masih terjadi hingga hari ini.</p>
<p>Buku ini membuktikan bahwa kejadian di masa lampau bisa dipakai sebagai pembelajaran agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali, walaupun pada kenyataannya masih banyak kesalahan sama yang kita lakukan.</p>
<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk semua kalangan, terutama yang tertarik dengan perjalanan sejarah bangsa ini dan ingin belajar dari masa lalu.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 22 Februari 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Pergulatan Demokrasi Liberal 1950-1959</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pergulatan-demokrasi-liberal/">Setelah Membaca Pergulatan Demokrasi Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polemik Mengucapkan Selamat Natal</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Dec 2019 12:17:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3207</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin sekitar jam 7 malam, salah seorang teman dari Karang Taruna bertanya kepada penulis secara sopan. Seperti yang sudah bisa ditebak, pertanyaannya adalah benarkah Islam melarang umatnya mengucapkan selamat natal. Penulis pun berusaha menjawabnya sesuai dengan kemampuannya dan ia pun bisa menerimanya dengan baik. Diskusi lintas agama pun terjadi dengan hangat setelah itu. Kejadian kecil [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">Polemik Mengucapkan Selamat Natal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin sekitar jam 7 malam, salah seorang teman dari Karang Taruna bertanya kepada penulis secara sopan. Seperti yang sudah bisa ditebak, pertanyaannya adalah benarkah Islam melarang umatnya mengucapkan selamat natal.</p>
<p>Penulis pun berusaha menjawabnya sesuai dengan kemampuannya dan ia pun bisa menerimanya dengan baik. Diskusi lintas agama pun terjadi dengan hangat setelah itu.</p>
<p>Kejadian kecil tersebut memantik rasa penasaran penulis. Mengapa setiap tahun polemik mengucapkan selamat natal selalu menjadi biang keributan di masyarakat kita?</p>
<h3>Hukum Mengucapkan Selamat Natal</h3>
<p>Penulis tidak pernah belajar agama secara mendalam di sebuah pesantren ataupun mengikuti pengajian secara rutin. Paling banter jadi jamaah di YouTube.</p>
<p>Ketika ada sebuah pertanyaan yang membuat penulis penasaran, biasanya penulis akan mencari jawabannya melaui video-video di YouTube ataupun bertanya kepada teman yang ilmunya lebih tinggi dari penulis.</p>
<p>Salah satunya termasuk hukum mengucapkan selamat natal. Menulis mencoba untuk mendengarkan beberapa pendapat dari ustaz yang berbeda-beda.</p>
<p>Hasilnya? Secara garis besar pendapat memang terbagi dua, yang melarang dan membolehkan. Masing-masing memberikan dalil dari Alquran ataupun Hadis.</p>
<p>Bagi yang melarang, dalilnya adalah ketika kita mengucapkan selamat natal artinya umat Islam mengakui bahwa Yesus (atau Isa di Islam) lahir pada tanggal tersebut. Ini sudah masuk ke ranah <em>aqidah </em>sehingga tidak boleh diucapkan.</p>
<p>Bagi yang membolehkan, dalilnya adalah kewajiban kita untuk berbuat baik kepada seluruh manusia termasuk yang berbeda keyakinan. Kalau mau pakai logika, tidak mungkin kita mengucapkan selamat natal lantas kita menjadi kafir.</p>
<p>Dengan adanya dua pendapat yang berbeda, masyarakat harusnya diperkenankan untuk memilih mana yang paling mereka yakini benar. Hal ini juga sering terjadi misalnya pada penentuan hari raya Idul Fitri ataupun <em>qunut </em>saat sholat Shubuh.</p>
<p>Masalahnya, polemik ini seolah terus diulang di masyarakat tiap tahunnya tanpa bisa memetik pelajaran.</p>
<h3>Polemik Mengucapkan Selamat Natal</h3>
<p>Dalam menentukan sebuah hukum, para ustaz maupun ulama pasti memiliki dasar hukum yang berasal dari Alquran, Hadis, ataupun sumber-sumber lainnya.</p>
<p>Beliau-beliau ini tidak asal-asalan menentukan hukum, bukan juga karena sensi dengan agama lain. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menghormati mereka meskipun kita tidak sepakat dengan pendapatnya.</p>
<p>Sayangnya, yang penulis lihat justru sebaliknya. Contoh, ketika menonton video-video yang menjelaskan dasar hukum mengucapkan selamat natal, isi komentarnya justru menghujat yang sampai menyinggung ranah pribadi.</p>
<p>Mereka membalas argumen tersebut dengan menggunakan logika atau dasar kemanusiaan. Penulis ini ilmu agamanya masih rendah, tapi paham kalau yang namanya agama juga harus berdasarkan dalil, bukan logika manusia semata.</p>
<p>Sebaliknya pun seperti itu, sama saja. Tokoh-tokoh agama yang membolehkan pengucapan selamat natal ramai-ramai didoakan agar segera tobat. Emang, yang menyuruh tobat ini udah sesuci apa, sih?</p>
<p>Inilah yang penulis anggap menjadi penyebab mengapa polemik mengucapkan selamat natal selalu berulang setiap tahun: tidak adanya rasa saling menghargai satu sama lain.</p>
<h3>Perang Status di Dunia Maya</h3>
<p>Di dalam Islam, kita memang dianjurkan untuk menyiarkan Islam walaupun hanya satu ayat. Mungkin ini yang menjadi motivasi orang-orang gemar membuat status dengan ayat Alquran yang menjadi dasar pelarangan pengucapan selamat natal.</p>
<p>Hanya saja, menurut penulis hal tersebut kurang elok jika dilakukan di media sosial. Kalau di dalam internal Islam mungkin masih bisa diterima, tapi kan pengguna media sosial terdiri dari berbagai macam orang.</p>
<p>Bisa jadi, ada teman-teman kita yang Nasrani atau Katolik merasa tersinggung dengan status tersebut dan akibatnya terjadi perselisihan yang kurang mengenakan.</p>
<p>Kalau semacam MUI ataupun tokoh agama, tugas mereka memang meyiarkan ajaran agama Islam sehingga wajar jika mereka memberi tahu apa dasar hukum untuk suatu masalah tertentu.</p>
<p>Toh, kita nanti akan dimintai pertangungjawaban masing-masing mengenai pilihan yang kita yakini benar.</p>
<h3>Intoleran?</h3>
<p>Bagi yang meyakini boleh hukumnya mengucapkan selamat natal, juga jangan nge-<em>judge </em>orang Islam yang tidak berkenan mengucapkannya dengan sebutan tidak toleran. Mereka juga punya landasan hukum sendiri untuk tidak melakukannya.</p>
<p>Islam sendiri sangat toleran mengenai ibadah umat agama lain. Kita dilarang untuk mengganggu proses ibadah mereka. Kita diharamkan menghalang-halangi mereka untuk menjalankan keyakinannya.</p>
<p>Kita diwajibkan untuk menghargai mereka menjalani kegiatan-kegiatan keagamaan mereka. Kita juga dilarang memaksa kaum minoritas untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh kaum mayoritas. Ini adalah toleransi.</p>
<p>Memang pada kenyataannya, di Indonesia masih banyak kejadian intoleran di mana umat agama lain dihalang-halangi untuk melakukan ibadahnya. Ini menjadi PR untuk kita semua.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis sendiri sampai saat ini belum pernah mengucapkan selamat natal. Bukan karena tidak punya teman non-muslim, tapi memang lebih meyakini pendapat yang melarang.</p>
<p>Walaupun begitu, penulis menghargai mereka yang mengucapkan selamat natal. Penulis tidak akan mengafirkan orang lain seenak udelnya sendiri. Teman-teman penulis pun bisa memahami hal ini.</p>
<p>Intinya, yang merasa berat ya enggak usah mengucapkan. Yang merasa boleh-boleh saja ya silakan. Kalau kita bisa saling menghargai satu sama lain, niscaya negeri ini akan damai&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Video ceramah para ustaz bisa ditonton melalui link yang ada di bawah ini</p>
<p>Melarang: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=bppyjYFep98">Buya Yahya</a>, <a href="https://youtu.be/8VUxdXMjiHc">Khalid Basalamah</a>, <a href="https://www.youtube.com/watch?v=Pc6_NBi-Zz0">Syafiq Riza Basalamah</a>, <a href="https://youtu.be/51vrz_juupg">Adi Hidayat</a>, <a href="https://youtu.be/fqlt6VOwEgA">Felix Siauw</a>, <a href="https://youtu.be/Z5m3yxm1XUg">Abdul Somad</a></p>
<p>Membolehkan: <a href="https://youtu.be/MT8tG6PEZX4">Habib Ali Al-Jufri</a>, <a href="https://youtu.be/Z46TX9EOBAo">Quraish Shihab</a>, <a href="https://youtu.be/_IF9EwhBOQw">Gus Miftah</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Desember 2019, terinspirasi setelah salah seorang teman di Karang Taruna bertanya kepada penulis tentang hukum mengucapkan selamat Natal di Islam.</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@crisdinoto?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Cris DiNoto</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">Polemik Mengucapkan Selamat Natal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
