Connect with us

Olahraga

Satu Nyawa untuk Sepak Bola Itu Terlalu Banyak

Published

on

Kejadian tragis kembali menimpa sepak bola Indonesia, ketika ratusan suporter Arema meninggal dunia setelah timnya dikalahkan oleh Persebaya dengan skor 2-3. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi kejadian ini, yang akan Penulis bahas di bawah nanti.

Berita ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk media luar negeri. Hal tersebut wajar, mengingat jumlah korban tewas mencapai ratusan dan masih ada banyak korban luka-luka yang masih mendapatkan perawatan.

Bahkan, jumlah korban pada kejadian menjadi yang terbanyak nomor dua di dunia setelah peristiwa di Estadio Nacional, Lima, Peru, yang terjadi pada tanggal 24 Mei 1964 dengan total korban meninggal dunia 328 orang.

Sepak bola harusnya menyebarkan kebahagiaan dan suka cita bagi penontonnya, bukan merenggut nyawa seperti ini.

Kronologi Kejadian Kematian Ratusan Suporter Arema

Kerusuhan Suporter di Dalam Stadion Kanjuruhan (Okezone)

Semua berawal dari kekalahan Arema atas Persebaya di Stadion Kanjuruhan dengan skor 2-3. Ini menambah rentetan hasil buruk klub kebanggaan arek Malang tersebut, di mana pada lima pertandingan terakhir hanya bisa meraih satu kemenangan dan menelan tiga kekalahan.

Hasil buruk inilah yang memicu turunnya suporter Arema ke lapangan setelah pertandingan usai. Mereka mengungkapkan kekesalan dan frustasi mereka, bahkan katanya mereka ingin bertanya kepada pemain kenapa bisa sampai kalah.

Melihat hal ini, polisi pun langsung bergerak dan melakukan antisipasi. Awalnya lewat cara persuasif, tetapi gagal karena oknum suporter makin rusuh dan mulai melakukan perusakan, baik ke properti stadion maupun mobil polisi. Bentrok antara suporter dan polisi pun tak terhindarkan.

Kerusuhan inilah yang memicu pihak kepolisian akhirnya menembakkan gas air mata. Naasnya, gas air mata tersebut juga sampai ke tribun dan menimbulkan kepanikan. Penonton di tribun pun mulai berdesak-desakkan untuk keluar stadion.

Alhasil, timbullah penumpukan di pintu keluar dan membuat banyak orang merasa sesak dan pingsan. Banyak yang terinjak-injak. Ratusan nyawa melayang. Indonesia dan dunia sepak bola berduka cita untuk sebuah tragedi yang benar-benar menyayat hati.

Siapa yang Salah?

Salah Satu Dampak Kerusuhan (Okezone)

Setelah peristiwa ini terjadi, tentu muncul satu pertanyaan besar: Siapa yang salah? Setelah ditelusuri, ternyata ada banyak faktor yang menyebabkan melayangnya nyawa ratusan Aremania, sebutan untuk suporter Arema.

Pertama, suporter yang rusuh dengan turun ke lapangan. Jumlah mereka sekitar tiga ribu orang menurut pernyataan kepolisian, dari total 40 ribuan penonton. Aksi mereka yang mengarah ke anarki membuat kepolisian harus melakukan tindakan.

Sayangnya, tindakan yang dipilih adalah menembakkan gas air mata. Padahal, FIFA Stadium Safety and Security Regulations Pasal 19 b berbunyi: ‘No firearms or “crowd control gas” shall be carried or used’.

Artinya, penggunaan senjata api ataupun gas untuk mengendalikan masa tidak boleh digunakan. Namun, polisi berdalih terpaksa melakukan hal tersebut karena suporter Arema sudah menyerang petugas dan merusak mobil di lapangan.

Pihak klub juga disorot. Menurut pernyataan Mahfud MD, Stadion Kanjuruhan hanya berkapasitas 38 ribu orang, tetapi tiket yang dijual mencapai 42 ribu orang. Dengan begitu, bisa dibayangkan betapa padatnya di sana ketika para penonton pada berhamburan keluar.

PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) juga dikecam karena menolak usulan kepolisian agar memajukan jam pertandingan ke sore hari. Padahal, hal tersebut adalah bentuk antisipasi kerusuhan, tetapi PT LIB terkesan lebih mementingkan rating.

Jadi jika ditanya yang salah, peristiwa menyedihkan ini adalah konsekuensi dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh banyak pihak. Nyawa sudah melayang, lebih baik kita jadikan peristiwa hari ini sebagai bahan interopeksi masing-masing.

Fanatisme yang Berlebihan Tidak Pernah Baik

Aksi Walk-Out Fans MU Sebagai Bentuk Protes (Daily Mail)

Peristiwa yang terjadi pada suporter Arema ini seolah mengingatkan kita bahwa fanatisme yang berlebihan terhadap apapun itu tidak pernah berakhir dengan baik. Kita harus mengetahui batasan-batasan agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.

Suporter yang merasa kecewa dan frustasi dengan permainan buruk yang ditampilkan oleh klub kesayangannya adalah hal yang lumrah. Penulis entah berapa kali mengungkapkan kekecewaannya ketika Manchester United (MU) bermain dengan sangat buruk.

Namun, cara penyampaian kekecewaan dan perasaan frustasi tersebut tentu harus dengan cara-cara yang baik dan benar, bukan dengan kekerasan atau cara-cara kotor lain yang bisa menimbulkan efek domino.

Ironinya, kerusuhan yang ditimbulkan oleh beberapa oknum suporter (dan mungkin terselip provokator-provokator) berdampak sangat parah kepada suporter lain yang mungkin sebenarnya tidak terlibat dalam kerusuhan tersebut.

Mereka hanya panik dengan kejadian di lapangan, sehingga ingin keluar dari stadion secepat mungkin. Kekacauan demi kekacauan membuat situasi benar-benar tidak kondusif. Entah berapa orang yang menangis karena ditinggal oleh anggota keluarganya untuk selamanya.

Penutup

Dengan adanya kejadian ini, akhirnya Liga 1 akan dihentikan selama satu minggu. Semua pertandingan akan ditunda untuk waktu yang belum ditentukan. Itu merupakan keputusan yang tepat, bahkan kalau perlu ditunda lebih lama hingga situasi lebih kondusif.

Pihak manajemen Arema juga sudah membuat pernyataan kalau mereka akan bertanggung jawab atas kejadian ini, baik kepada korban yang telah meninggal ataupun sedang dirawat. Mereka juga akan membuka crisis center agar masyarakat bisa mendapatkan informasi.

Penulis mengucapkan ucapan duka cita dari hati yang paling dalam untuk korban-korban yang meninggal dunia akibat peristiwa ini. Penulis juga berdoa agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menerima musibah ini.

Semoga saja tragadi sepak bola ini mampu menjadi tamparan keras untuk kita agar berbenah dan bisa menciptakan iklim sepak bola yang lebih sehat. Satu nyawa untuk sepak bola itu terlalu banyak.


Lawang, 2 Oktober 2022, terinspirasi setelah membaca berita tentang banyaknya suporter Arema yang meninggal

Foto: Arema FC

Sumber Artikel:

Olahraga

Mental Baja Ala Harry Maguire

Published

on

By

Manchester United (MU) sampai saat ini masih belum menunjukkan performa yang konsisten. Dalam dua pertandingan terakhir setelah jeda internasional, MU kesulitan ketika meraih kemenangan tipis atas lawan-lawannya yang di atas kertas kemampuannya jauh di bawah.

Namun, on the bright side, kita bisa melihat bagaimana pemain bergelar “Lord” yang kerap di-bully gara-gara blundernya, Harry Maguire, bermain dengan gemilang dalam mengisi pos pertahanan.

Selain menjadi Man of the Match pada pertandingan melawan Sheffield United, ia juga mencetak satu-satunya gol yang mengunci kemenangan atas F.C Copenhagen. Apakah ini tanda-tanda kalau Maguire akan comeback stronger?

Bagaimana Peran Maguire Direduksi di Dalam Tim

Dicadangkan dan Dicopot Sebagai Kapten (TEAMtalk)

Sektor pertahanan MU memang yang paling sering disorot selama beberapa musim terakhir karena terkesan begitu mudah ditembus oleh pemain lawan. Belum lagi masalah blunder yang kerap dibuat, baik oleh kiper maupun bek.

Harry Maguire yang dibeli dari Leicester City dengan harga fantastis diharapkan mampu menjadi benteng tangguh. Sayangnya, kenyataan berbicara lain. Ia justru lebih sering menampilkan permainan lawak yang memberikan dampak negatif ke klub.

Alhasil, MU pun mendatangkan Raphael Varane di tahun 2021 dan Lisandro Martinez di tahun 2022. Mereka berdua pun menjadi starter utama yang terlihat solid, meskipun sempat dibantai 0-7 saat berhadapan dengan Liverpool.

Sebagai pelapis, pelatih Erik Ten Hag kerap lebih memilih Victor Lindelof sebagai pilihan ketiga. Bahkan jika terpaksa, Ten Hag akan menggunakan Luke Shaw yang posisi aslinya adalah seorang bek kiri.

Sudah dibangkucadangkan, status kapten MU yang ia sandang sejak bergabung pun dicabut dan diserahkan kepada Bruno Fernandez. Masa depan Maguire di MU benar-benar gelap, apalagi banyak fans yang meminta klub untuk menjualnya.

Harapan tersebut sempat terlihat ketika West Ham menunjukkan ketertarikannya. MU sudah sepakat, hanya saja Maguire menolak untuk pindah karena tidak ingin nominal gajinya turun dan menyatakan ingin berjuang untuk mendapatkan tempat utama di MU.

“Kami tidak mencapai kesepakatan. Manchester United senang saya bertahan dan saya senang memperjuangkan tempat saya.”

kata maguire kepada Express.

Tampaknya itu bukan bualan semata jika melihat bagaimana penampilannya di dua match terakhir. Hal ini seolah menunjukkan walaupun ia dihujat sana-sini, harus diakui kalau Maguire memiliki mental baja.

Mental Baja Harry Maguire

Mentalnya Harus Diacungi Jempol (Goal)

Jika mau membandingkan (walaupun agak kurang etis), kita bisa membandingkan mental Maguire dengan Jadon Sancho yang sedang bermasalah dengan klub. Ia yang sedang berperforma buruk justru membuat keributan di internal tim.

Bahkan ia berseteru dengan Erik ten Hag karena merasa “dikambinghitamkan” karena performanya yang buruk, dan menolak untuk meminta maaf hingga saat ini. Alhasil, kemungkinan besar ia akan dilepas pada bursa transfer Januari mendatang.

Maguire jelas pernah berada di posisi yang sama, di mana ia dinilai bermain buruk. Buktinya, ia lebih sering dicadangkan. Namun, ia sama sekali tidak membuat statement kontroversial dan tetap profesional.

Menurut Penulis, harus diakui kalau Maguire ini cukup “badak”. Bagaimana tidak, walaupun kerap mendapat caci maki dari penggemar sendiri, ia tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik ketika dipercaya untuk menjadi starter ataupun masuk sebagai pemain pengganti.

“Dia (Ten Hag) menjelaskan alasannya kepada saya dan sementara saya secara pribadi sangat kecewa, saya akan terus memberikan yang terbaik setiap kali saya mengenakan seragam ini”

Ungkap maguire ketika ban kaptennya dicopot

Meskipun kerap dicadangkan bahkan dicopot sebagai kapten, Maguire terlihat legowo dan menerima semua keputusan tersebut dengan lapang dada. Memang ia mengungkapkan kekecewaannya, tapi itu hal yang wajar.

Memang masih terlalu dini untuk menilai apakah Maguire benar-benar bisa melakukan redemption dari segala performa buruknya di masa lalu, mengingat ia baru bermain bagus pada dua match terakhir. Namun, jelas ia memberikan asa kepada para penggemar MU.

Tentu sebagai penggemar MU, Penulis akan merasa senang jika ada pemain di dalam tim yang bisa memberikan performa terbaiknya. Tinggal ditunggu saja, apakah Maguire mampu secara konsisten bermain dengan baik atau justru akan kembali melawak.


Lawang, 26 Oktober 2023, terinspirasi setelah melihat permainan Harry Maguire yang baik di dua match terakhir

Foto Featured Image: Sky Sports

Continue Reading

Olahraga

Manchester United Tidak Sedang Baik-Baik Saja

Published

on

By

Minggu kemarin jelas bukan minggu yang menyenangkan bagi penggemar klub sepak bola Manchester United (MU). Pasalnya, ada begitu banyak masalah yang datang bertubi-tubi di awal musim 2023/2024 ini.

Selain banyak pemain inti yang cedera, MU juga dipusingkan dengan perseteruan yang terjadi antara pelatih Erik ten Hag dan Jadon Sancho. Tidak hanya itu, Anthony pun terlibat kasus kekerasan terhadap perempuan yang mirip dengan kasus Mason Greenwood.

Puncaknya adalah MU harus mengalami kekalahan yang memalukan atas Brighton & Hove Albion dengan skor 1-3 di kandang pada hari Sabtu (16/9). Ini menjadi kekalahan ketiga secara berturut-turut MU di Liga Inggris dalam lima pertandingan.

BACA JUGA: Ketika Messi Memporak-porandakan Amerika Serikat

Tidak Ada Lagi Kambing Hitam di Skuad

David De Gea (Kiri) dan Harry Maguire di Musim Kemarin (FourFourTwo)

Dulu ketika MU menderita hasil yang kurang baik, publik (terutama penggemar) akan dengan mudah mengambinghitamkan dua nama pemain, yakni Harry Maguire dan David De Gea. Alasannya sederhana, keduanya kerap melakukan blunder yang fatal.

Namun, musim ini berbeda karena De Gea tidak mendapatkan perpanjangan kontrak, sedangkan Maguire sudah resmi menjadi penghangat bangku cadangan. Alhasil, kini yang menjadi sasaran, berdasarkan media sosial, adalah sang pelatih Erik ten Hag.

Musim yang lalu, ten Hag dianggap sebagai sosok yang tepat untuk menukangi MU. Filosofi bermain sepak bolanya banyak dipuji, apalagi jika dibandingkan dengan era Ole Gunnar Solkjaer yang dianggap tidak punya filosofi.

Bahkan, banyak fans yang mendukung keputusannya yang membuang Cristiano Ronaldo karena dianggap tidak cocok dengan gaya bermainnya. Sang mega bintang pun ngambek dan akhirnya memutuskan untuk cabut ke Liga Arab Saudi.

Namun, hal yang berbeda terlihat di musim ini, di mana publik justru berbalik menghujat ten Hag. Ketidakmampuannya menangani Sancho dianggap sebagai bukti kalau ia memiliki people management yang buruk. Padahal, MU sedang krisis pemain terutama di lini depan.

Dengan keterbatasan pilihan pemain yang dapat dimainkan, ten Hag juga terlihat kurang solutif. Apalagi, penyakit lama para pemain yakni mental juga terlihat kambuh. Dalam beberapa pertandingan, Penulis sama sekali tidak melihat daya juang dari para pemainnya.

Pemain Baru Justru Menjadi Masalah?

Andre Onana (Daily Mail)

Padahal, MU lumayan aktif di bursa transfer kemarin. Sayangnya, tampaknya belum semua nyetel dengan pola permainan MU. Andre Onana, kiper baru MU yang jago build up serangan, nyatanya sudah kebobolan 10 gol dari 5 pertandingan.

Penulis menemukan komentar yang menyebutkan bahwa baru sekarang lah terlihat betapa vital peran De Gea di bawah mistar gawang. Meskipun tidak mampu melakukan build up dan kadang melakukan blunder, harus diakui kemampuannya menghalau bola memang luar biasa.

Rasmus Højlund yang diharapkan menjadi ujung tombak baru juga belum terlihat tajinya, meskipun memang ia baru satu kali dimainkan secara penuh saat berhadapan dengan Brighton. Ia sempat membuat gol, walau akhirnya dianulir.

Namun, untuk kasus Højlund banyak yang justru menyalahkan Marcus Rashford yang dianggap terlalu egois. Dalam beberapa pertandingan, terlihat ia terlalu bernafsu untuk mencatatkan namanya di papan skor, sehingga Højlund tidak mendapatkan suplai bola.

Pemain baru MU lainnya justru harus menepi karena cedera, seperti Mason Mount dan Sofyan Amrabat. Untuk Sergio Reguilón sendiri, menurut Penulis setidaknya ia mampu mem-back up posisi bek kiri yang ditinggal Luke Shaw dan Tyrell Malacia.

Oleh karena itu, tak heran jika ten Hag mau tidak mau jadi harus mengandalkan para pemain muda seperti Alejandro Garnacho, Facundo Pellistri, hingga Hanibal Mejbri yang baru mencatatkan gol perdananya untuk MU pada pertandingan melawan Brighton kemarin.

Penutup

Melihat tren permainan MU dalam beberapa match terakhir, jujur Penulis benar-benar merasa pesimis ata perjalanan klub setan merah ini di musim ini. Permainan mereka benar-benar tidak enak dipandang dan memang layak untuk menderita kekalahan.

Banyaknya pemain yang cedera memang berpengaruh besar, tetapi seharusnya klub sebesar MU mampu memiliki solusi untuk mengatasinya. Mau dilihat dari kacamata mana pun, skuad yang dimiliki oleh MU jelas lebih bagus dari klub sekelas Brighton.

Erik ten Hag sebagai pelatih pun patut dievaluasi atas rentetan buruk yang terjadi baik di dalam maupun luar lapangan. Apalagi, ten Hag beberapa kali terekam justru menyalahkan ini itu, bukannya interopeksi diri mengapa klub yang ia latih bisa seberantakan ini.

Jika permasalahan MU adalah mental dan ego dari pemainnya, maka sudah menjadi tugas ten Hag untuk mencari solusinya. Sebagai pelatih klub yang memiliki nama besar, ia harus bisa melakukannya dalam waktu yang singkat.

Tampaknya, Penulis sebagai fans MU harus menerima kenyataan kalau dirinya akan (kembali) menjadi bulan-bulanan karena klub yang didukung sedang ambyar. Entah sampai kapan MU yang sedang tidak baik-baik saja ini akan berubah menjadi lebih baik.


Sumber Featured Image: The People Person

Continue Reading

Olahraga

(Bapak) Lu Punya Tim F1, Lu Punya Kuasa

Published

on

By

Musim Formula 1 (F1) di musim 2023 memang terkesan membosankan karena dominasi Max Verstappen dan Red Bull yang luar biasa. Mau tidak mau publik pun teringat era Lewis Hamilton bersama Mercedes maupun Michael Schumacher dengan Ferrari.

Selain Verstappen yang baru meraih rekor fantastis dengan mencatatkan 10 kemenangan beruntun, Red Bull pun masih menyapu bersih semua kemenangan di musim ini sebelum akhirnya terputus di GP Singapura, di mana Verstappen hanya berhasil finish di posisi 5.

Oleh karena itu, tak heran jika penggemar F1 lebih memilih untuk mengalihkan fokusnya kepada siapa yang juara ketiga di klasemen pembalap (karena tampaknya Sergio Perez sudah pasti akan juara dua) dan tim mana yang akan juara dua di klasemen konstruktor.

BACA JUGA: Siapa Bisa Hentikan Verstappen dan Red Bull? – Whathefan!

Klasemen Sementara Pembalap dan Konstruktor F1

Alonso Masih di Papan Atas (F1)

Untuk klasemen pembalap, saat ini posisi ketiga sedang dipegang oleh Lewis Hamilton dengan 180 poin. Ia menyalip Fernando Alonso (170 poin) dari Aston Martin yang mengalami nasib kurang beruntung pada GP Singapura dengan finish di posisi terakhir.

Carlos Sainz Jr. dari Ferrari pun semakin mendekati posisi Alonso setelah berhasil memenangkan GP Singapura dengan penampilannya yang luar biasa. Pembalap asal Spanyol tersebut telah mengumpulkan 142 poin. 

Untuk klasemen konstruktor, di bawah Red Bull ada Mercedes (289 poin), Ferrari (265 poin), dan Aston Martin (217 poin). Menariknya, Aston Martin baru saja lengser dari peringkat tiga karena duo Ferrari berhasil mengumpulkan poin lebih banyak di GP Italia kemarin.

Selain itu, Aston Martin juga tampil buruk di GP Singapura setelah Alonso dan rekan setimnya, Lance Stroll, gagal mendulang satu poin pun. Bahkan, Stroll tidak ikut balapan setelah mengalami kecelakaan yang lumayan hebat saat kualifikasi.

Padahal, di awal musim Aston Martin bisa tampil begitu trengginas berkat performa epic Alonso yang berkali-kali berhasil meraih podium. Sayangnya, memasuki pertengahan musim mobil Aston Martin mengalami penurunan yang cukup terlihat.

Performa Pembalap Aston Martin yang Cukup Jomplang

Lance Stroll (Kiri) dan Alonso (Sky Sports)

Mobil Aston Martin memang terlihat garang di awal musim, di mana Alonso kerap meraih podium di belakang mobil Red Bull. Namun, performa tersebut seolah memudar. Untuk sekadar bersaing di papan tengah pun Aston Martin tampak kesulitan.

Oleh karena itu, tak heran jika Aston Martin yang sempat berada di posisi kedua klasemen konstruktor harus turun hingga ke peringkat 4. Namun, sebenarnya permasalahan utama Aston Martin adalah jomplang-nya performa Alonso dengan pembalap satunya, Lance Stroll.

Bagaimana tidak, sampai di GP Singapura kemarin, Stroll baru mengumpulkan 47 poin atau selisih 123 poin dari Alonso. Jumlah tersebut adalah yang jarak poin rekan satu tim terlebar setelah Red Bull, yang bisa dimaklumi karena Verstappen terus meraih kemenangan.

Stroll di awal musim sebenarnya tampil cukup baik, mengingat dirinya mengalami cedera di beberapa balapan. Namun, justru setelah cederanya sembuh, penampilannya terjun bebas dan sangat kebanting dengan performa Alonso.

Jika ada pembalap yang penampilannya buruk, biasanya akan diganti dengan pembalap lain yang lebih menjanjikan. Contoh paling dengan adalah Nick De Vries dari tim Alpha Tauri yang digantikan oleh Daniel Ricciardo di tengah musim.

Masalahnya, tampaknya hal tersebut akan sulit terjadi di Aston Martin, mengingat pemilik tim tersebut, Lawrence Stroll, merupakan ayah kandung dari Lance Stroll. Apakah seorang ayah akan tega menendang anaknya sendiri demi kebaikan tim?

Akankah Lance Stroll akan Terus Aman?

Lawrence Stroll (PlanetF1)

Aston Martin memiliki sejarah yang sebenarnya belum terlalu panjang di F1. Selain pernah berkompetisi sebentar di akhir tahun 50-an, mereka juga pernah menjadi sponsor untuk tim Red Bull di tahun 2016 hingga 2020 sebelum akhirnya menjadi tim sendiri.

Semenjak dimiliki oleh Lawrence Stroll, Aston Martin memang terlihat begitu ambisius untuk bisa menjadi tim F1 yang top. Gelontoran dana yang dikeluarkan selama ini mulai menampakkan hasilnya dengan banyaknya raihan podium musim ini.

Pada musim 2026 yang akan datang, Aston Martin telah menandatangani kontrak dengan Honda, mesin di balik kesuksesan Red Bull menjadi begitu tangguh selama beberapa tahun terakhir. Tentu kita jadi menaruh asa yang besar terhadap tim yang satu ini.

Untuk membantu pengembangan tim, Aston Martin juga merekrut pembalap-pembalap veteran yang mampu memberikan masukan. Setelah merekrut Sebastian Vettel di tahun 2020, tim ini pun merekrut Alonso setelah Vettel memutuskan untuk pensiun dari F1.

Dengan ambisinya yang begitu besar, banyak penggemar yang berharap kalau Lawrence Stroll bisa bersikap tegas dengan menendang Lance Stroll yang kurang perform. Bahkan, ada yang berharap kalau Vettel mau comeback untuk menggantikan Stroll.

Lance Stroll memang bukan pembalap yang buruk. Ia telah meraih podium dan dalam beberapa kali kesempatan mampu menunjukkan skill balapannya yang luar biasa. Stroll juga kerap memberikan masukan yang tidak kalah berbobot dari pembalap senior.

Namun, memang harus diakui kalau musim ini bukan musim yang baik untuknya. Kecelakaan yang ia alami di GP Singapura hingga membuatnya absen seolah menjadi penegas hal tersebut. Entah kapan Stroll bisa bangkit dan bisa menyumbang poin lebih banyak untuk tim.

Untuk informasi, durasi kontrak yang dimiliki Stroll tidak diketahui, sehingga bisa saja ia mendapatkan kontrak seumur hidup. Selama bapaknya masih menjadi pemilik tim, tampaknya Stroll akan masih punya “kuasa” untuk tetap bertahan di F1.


Sumber Featured Image: Wide World of Sports – Nine

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan