<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kenji Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kenji/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kenji/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Oct 2022 03:23:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Kenji Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kenji/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Fort Minor, The Rising Tied, dan Kenji</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2021 05:33:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[hip-hop]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[Mike Shinoda]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5014</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya semua penggemar Linkin Park pasti pernah mendengar Fort Minor, side-project dari Mike Shinoda. Band beraliran hip-hop ini didirikan pada tahun 2004 dan memiliki satu album berjudul The Rising Tied yang rilis pada 22 November 2005. Antara tahun 2003 dan 2007, Linkin Park memang tidak mengeluarkan album sama sekali selain album kolaborasi bersama Jay-Z, Collision [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/">Fort Minor, The Rising Tied, dan Kenji</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Rasanya semua penggemar Linkin Park pasti pernah mendengar <strong>Fort Minor</strong>, <em>side-project </em>dari Mike Shinoda. Band beraliran hip-hop ini didirikan pada tahun 2004 dan memiliki satu album berjudul <em>The Rising Tied </em>yang rilis pada 22 November 2005.</p>



<p>Antara tahun 2003 dan 2007, Linkin Park memang tidak mengeluarkan album sama sekali selain album kolaborasi bersama Jay-Z, <em><em>Collision Course</em></em>. Mungkin, salah satu alasannya karena Mike ingin memiliki band yang beraliran hip-hop.</p>



<p>Meskipun band, sebenarnya Fort Minor hanya memiliki Mike Shinoda sebagai personilnya, mirip dengan <a href="https://whathefan.com/intermeso/one-band-one-man-panic-disco/">Panic! At the Disco</a> yang kini hanya menyisakan Brandon Urie. </p>



<p>Oleh karena itu, Penulis sedikit merasa bingung kenapa Mike memutuskan untuk menggunakan namanya sendiri ketika bersolo karir selepas kematian Chester Bennington. Kenapa tidak menggunakan nama Fort Minor saja?</p>



<p>Terlepas dari apa alasannya, di tulisan kali ini Penulis ingin berbagi sedikit tentang Fort Minor!</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>The Rising Tied</em></h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Where&#039;d You Go - Fort Minor (feat. Holly Brook &amp; Jonah Matranga) (Official Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/zQdglLeGQXM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Seperti yang sudah disinggung di atas, Fort Minor hanya memiliki satu album berjudul <em><strong>The Rising Tied</strong></em>. Sebelum album ini rilis, Mike Shinoda sempat merilis album &#8220;palsu&#8221; berjudul <em>Fort Minor: We Major</em>. </p>



<p>Hal ini biasanya dilakukan untuk menghindari pembajakan dan Linkin Park pun melakukan hal yang sama pada album <em><a href="https://whathefan.com/intermeso/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/">Minutes to Midnight</a>.</em> </p>



<p>Album beraliran <em>alternative hip hop</em>/<em>rap rock</em> ini memiliki total 16 <em>track</em>:</p>



<ol class="wp-block-list"><li><em>Introduction</em></li><li><em>Remember the Name</em> (featuring Styles of Beyond)</li><li><em>Right Now </em>(featuring Black Thought of The Roots and Styles of Beyond)</li><li><em>Petrified</em></li><li><em>Feel Like Home </em>(featuring Styles of Beyond)</li><li><em>Where&#8217;d You Go</em> (featuring Holly Brook and Jonah Matranga)</li><li><em>In Stereo </em></li><li><em>Back Home</em> (featuring Common and Styles of Beyond) </li><li><em>Cigarettes</em></li><li><em>Believe Me</em> (featuring Eric Bobo and Styles of Beyond) </li><li><em>Get Me Gone</em></li><li><em>High Road</em> (featuring John Legend) </li><li><em>Kenji </em></li><li><em>Red to Black</em> (featuring Kenna, Jonah Matranga and Styles of Beyond) </li><li><em>The Battle</em> (featuring Celph Titled)</li><li><em>Slip Out the Back</em> (featuring Mr. Hahn)</li></ol>



<p>Mungkin yang paling terkenal adalah <em>Remember the Name, Where&#8217;d You Go, </em>atau <em>Believe Me</em>. Mungkin orang juga pernah mendengar <em>High Road </em>yang menggandeng penyanyi terkenal, John Legend.</p>



<p>Selain lagu di atas, judul yang menurut Penulis enak untuk didengarkan adalah <em>Right Now</em>, <em>Feel Like Home</em>, dan <em>Red to Black</em>. Tapi bagi Penulis, lagu terenak dari album ini adalah <em>Kenji</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>Kenji</em></h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Kenji - Fort Minor" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/pUBKcOZjX6g?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Bukti Penulis menyukai lagu ini adalah menjadikannya sebagai salah satu nama tokoh utama di novelnya, <em><a href="https://whathefan.com/category/leonkenji/">Leon dan Kenji</a></em>. Penulis harus sampai membuat latar belakang karakter tersebut keturunan Jepang agar namanya bisa digunakan secara natural.</p>



<p>Lagu ini berdurasi hampir 4 menit. Berbeda dengan kebanyakan lagu di album <em>The Rising Tied</em>, lagu <em>Kenji </em>hanya dinanyikan oleh Mike seorang. Alasannya mudah, lagu ini penuh dengan pesan emosional dari dirinya dan keluarganya.</p>



<p>Penulis ingat pernah membaca majalah sewaktu SD (kalau tidak salah majalah XY Kids), Mike terinspirasi membuat lagu ini ketika mengunjungi museum yang bertema Perang Dunia II. Ia teringat keluarganya yang harus &#8220;diamankan&#8221; ketika PD II karena orang Jepang.</p>



<p>Padahal, menurut Mike, keluarganya tidak salah apa-apa. Mereka hanya orang Jepang yang tinggal di Ameriak Serikat dan tidak memiliki keterkaitan dengan penyerangan Pearl Harbour yang menjadi pemicu perang antara kedua negara.</p>



<p>Yang unik dari lagu ini adalah adanya rekaman suara dari ayah dan bibi dari Mike. Mereka menceritakan secara langsung bagaimana pengalaman mereka ketika PD II di mana mereka (dan semua orang Jepang) harus diasingkan di tempat bernama Manzanar.</p>



<p>Menurut Penulis, lagu ini memiliki keunikan dari sejarah yang dikemas. Rasanya jarang ada lagu yang berisikan cerita nyata dari kejadian sejarah, walaupun diambil dari sudut pandang si penulis lagu. Ketika mendengarkan lagu ini, entah mengapa emosi dari Mike seolah tersampaikan.</p>



<p>Untuk lirik lengkap lagu <em>Kenji</em>, Pembaca bisa melihatnya melalui <a href="https://www.azlyrics.com/lyrics/fortminor/kenji.html">AZLyrics</a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Fort Minor sempat hiatus lama sekali setelah tahun 2006. Nama ini baru kembali muncul pada tahun 2015, ketika Mike Shinoda merilis <em>single </em>baru berjudul <em>Welcome</em>. Setelah itu, Fort Minor pun kembali hiatus hingga sekarang.</p>



<p>Sewaktu <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/">Chester mengakhiri hidupnya sendiri</a>, Penulis mengira Mike akan fokus dengan Fort Minor. Ternyata, ia memutuskan untuk bersolo karir di bawah namanya sendiri dan telah merilis albumnya sendiri. Ia juga kerap melakukan <em>world tour</em> dengan namanya sendiri.</p>



<p>Walaupun bisa dianggap band ini sudah tidak ada lagi, Penulis tetap sering mendengarkan lagu-lagunya, terutama <em>Kenji</em>. </p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 1 Juni 2021, terinspirasi setelah mendengar lagu <em>Kenji</em></p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.wegow.com/en-se/artists/fort-minor">Wegow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/">Fort Minor, The Rising Tied, dan Kenji</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2018 23:00:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[Gisel]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[Leon]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1516</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan kali ini, penulis akan menjelaskan tentang karakter-karakter yang ada pada novel Leon dan Kenji. Untuk yang pertama, penulis akan menceritakan tiga karakter yang lumayan mendominasi keseluruhan cerita, yakni Leon, Kenji, dan Gisel. Alexander Napoleon Caesar Awalnya, penulis memberi nama tokoh utama ini dengan nama Blacksmith, yang terinspirasi dari anime Blackjack. Namun, karena dirasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/">Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tulisan kali ini, penulis akan menjelaskan tentang karakter-karakter yang ada pada novel Leon dan Kenji. Untuk yang pertama, penulis akan menceritakan tiga karakter yang lumayan mendominasi keseluruhan cerita, yakni <strong>Leon</strong>, <strong>Kenji</strong>, dan <strong>Gisel</strong>.</p>
<p><strong>Alexander Napoleon Caesar</strong></p>
<p>Awalnya, penulis memberi nama tokoh utama ini dengan nama Blacksmith, yang terinspirasi dari anime Blackjack. Namun, karena dirasa <em>lebay</em>, penulis memutuskan untuk mengganti namanya walaupun penulis senang dengan panggilannya, Black, seperti karakter di Harry Potter.</p>
<p>Alexander Napoleon Caesar (mungkin sebenarnya terdengar lebih <em>lebay</em>) terinspirasi dari tiga nama kaisar di dunia. <strong>Alexander the Great</strong>, <strong>Napoleon Bonaparte</strong>, dan <strong>Julius Caesar</strong>.</p>
<p>Dengan panggilan <strong>Leon</strong> (seperti nama penjual tahu telur di dekat rumah), penulis menanggap namanya lebih normal daripada Black, walaupun untuk memanggilnya harus menjadi &#8220;Le&#8221; yang sama dengan panggilan anak laki-laki orang Jawa.</p>
<p>Latar belakangnya yang ambisius untuk mendidik anaknya menjadi orang hebat membuat ayah Leon memasukkan ketiga nama penguasa dunia tersebut. Ia tak peduli bahwa ketiga orang tersebut telah membantai banyak manusia tak bersalah demi ekspansi kekuasaannya.</p>
<p><div id="attachment_1519" style="width: 760px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1519" class="size-full wp-image-1519" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1.jpg" alt="" width="750" height="422" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1.jpg 750w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><p id="caption-attachment-1519" class="wp-caption-text">Napoleon Bonaparte (caminteresse.fr)</p></div></p>
<p><strong>Leon</strong> menjadi anak yang keras karena masa lalunya yang berat. Ditinggal bunuh diri oleh ibunya, ditelantarkan oleh ayahnya, dan dirundung oleh teman-teman sekolahnya.</p>
<p>Ia memutuskan untuk melawan balik, sehingga ia senantiasa memasang tatapan permusuhan agar tidak ada yang berani menganggu dia. Pertemuannya dengan Kenji membuat ia berubah secara bertahap, menjadi manusia yang lebih hangat.</p>
<p>Ia berusaha untuk berubah dan mulai membuka hubungan dengan orang lain, terutama dengan teman-teman kelasnya. Satu per satu mereka mulai menerima <strong>Leon</strong> sehingga ia merasa seperti hidup kembali.</p>
<p><strong>Leon</strong> memiliki kecerdasan di atas rata-rata, selain karena tempaan ayahnya yang membuat ia terbiasa belajar dengan giat. Kemampuan otaknya yang luar biasa hanya bisa dikalahkan oleh Kenji.</p>
<p><strong>Muhammad Kenji Yasuda</strong></p>
<p>Nama<strong> Kenji</strong> penulis ambil dari nama tengah personil Linkin Park, <strong>Mike Shinoda</strong>. Bahkan, dulu penulis menggunakan nama Kenji Shinoda, sebelum menggantinya dengan Yasuda yang terdengar seperti <em>ya sudah</em>. Penulis bahkan tidak tahu apakah benar ada marga Yasuda di Jepang.</p>
<p>Seperti yang sudah dituliskan pada <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-novel-leon-dan-kenji-buku-1/">tulisan sebelumnya</a>, <strong>Kenji</strong> terinspirasi oleh karakter Gera pada anime Blackjack yang selalu ceria dan berpikiran positif walaupun penakut.</p>
<p>Perbedaan karakter antara Leon dan <strong>Kenji</strong> justru memperat hubungan mereka berdua sebagai kawan, walaupun latar belakang hidup tanpa orangtua juga berperan penting untuk memperkuat hal tersebut.</p>
<p><div id="attachment_1521" style="width: 964px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1521" class="size-full wp-image-1521" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson.jpg" alt="" width="954" height="537" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson.jpg 954w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 954px) 100vw, 954px" /><p id="caption-attachment-1521" class="wp-caption-text">Mike Kenji Shinoda (revolvermag.com)</p></div></p>
<p>Ia selalu berusaha menyebar kebaikan di lingkungan sekitarnya, terkadang tidak peduli dirinya menjadi babak belur seperti ketika ia berusaha menyadarkan Sarah dan Leon.</p>
<p><strong>Kenji</strong> seringkali menjadi juru bicara kelas karena kemampuan menata bahasanya yang luar biasa, yang terjadi akibat kegemarannya membaca buku. Nada suaranya selalu tenang dan tak pernah marah sekalipun.</p>
<p>Mengajar merupakan <em>passion </em>yang dimiliki <strong>Kenji</strong> karena ia merasa bisa menyebar ilmu yang bermanfaat kepada orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan inisiatifnya mengajar Gisel dan tambahan kelas sepulang sekolah.</p>
<p><strong>Kenji</strong> memiliki kemampuan analisa seperti Sherlock Holmes, karena penulis memang penggemar berat karakter fiksi buatan Sir Arthur Conan Doyle tersebut. Leon seringkali terperangah dan terlihat seperti Dr. Watson.</p>
<p><a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-9-gisella-margaret-spencer/"><strong>Gisella Margaret Spencer</strong></a></p>
<p>Tokoh <strong>Gisel</strong> penulis buat sebagai &#8220;pelampiasan&#8221; karena tidak memiliki adik perempuan. Ia penulis buat sebagai anak kecil berkulit putih, terlihat ringkih dan berambut panjang.</p>
<p>Penulis memilih nama <strong>Gisel</strong> hanya karena suka saja dengan nama tersebut. Untuk Margaret, penulis ambil dari mantan perdana menteri Inggris, <strong>Margaret Thatcher</strong>, sedangkan Spencer penulis ambil dari nama keluarga putri <strong>Diana</strong>.</p>
<p><div id="attachment_1520" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1520" class="size-large wp-image-1520" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1520" class="wp-caption-text">Margaret Thatcher (biography.com)</p></div></p>
<p>Leon menjadikan <strong>Gisel</strong> sebagai kambing hitam atas segala kesusahan yang ia alami. Walaupun tubuhnya kurus, mental <strong>Gisel</strong> sangat tangguh untuk anak seusianya.</p>
<p><strong>Gisel</strong> selalu sabar menerima berbagai perlakuan buruk dari kakaknya. Untunglah semenjak bertemu dengan Kenji, <strong>Gisel</strong> diperlakukan sebagaimana adik oleh Leon.</p>
<p>Terkait sekolahnya, penulis terinspirasi oleh <strong>Thomas Alva Edison</strong> yang dikeluarkan dari sekolah karena selalu bertanya di luar konteks pelajaran. Pada akhirnya Edison diajari oleh ibunya, sedangkan <strong>Gisel</strong> diajari oleh Kenji dan kakaknya sambil menunggu ajaran tahun berikutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 21 Oktober 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/">Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 32 Hasil Ulangan Matematika</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-32-hasil-ulangan-matematika/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-32-hasil-ulangan-matematika/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Aug 2018 17:46:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 32]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1104</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhirnya selesai juga ulangan matematika terakhir sebelum kenaikan kelas. Bu Ratna tidak main-main, soal yang diberikan benar-benar susah dan tidak biasa, sehingga aku tidak bisa mengerjakan satu soal. Sebenarnya sudah selesai setengah perhitungan, hanya saja aku kesulitan untuk melanjutkannya. Sayang sekali, aku tidak akan mendapatkan nilai sempurna. Nilai akan langsung dibagikan setelah selesai dikoreksi oleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-32-hasil-ulangan-matematika/">Chapter 32 Hasil Ulangan Matematika</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya selesai juga ulangan matematika terakhir sebelum kenaikan kelas. Bu Ratna tidak main-main, soal yang diberikan benar-benar susah dan tidak biasa, sehingga aku tidak bisa mengerjakan satu soal. Sebenarnya sudah selesai setengah perhitungan, hanya saja aku kesulitan untuk melanjutkannya. Sayang sekali, aku tidak akan mendapatkan nilai sempurna.</p>
<p>Nilai akan langsung dibagikan setelah selesai dikoreksi oleh beliau, bisa jadi nanti setelah jam tambahan sore hasil ulangan kami telah dibagikan. Aku tidak khawatir dengan nilaiku, aku lebih khawatir kepada nilai Sica. Semoga saja ia berhasil mendapatkan nilai, minimal, di atas Sarah. Aku tidak pernah memperhatikan kemampuan otak Sarah, sehingga tidak bisa memprediksi berapa nilainya. Dari kepercayaan dirinya menerima tantangan Sica, percayalah aku bahwa ia memiliki tingkat kepandaian yang di atas rata-rata.</p>
<p>Begitu bu Ratna keluar, aku melihat Sarah menyeringai kepada Sica, lalu keluar kelas. Tatapannya begitu arogan, apakah seperti itu ekspresi wajahku dulu? Jika iya, betapa menyeramkan diriku yang dulu. Sorot mata yang seolah-olah ingin memusnahkan nyawa orang lain hanya dengan memandangnya.</p>
<p>Beberapa teman mencoba untuk mengajak bicara Sica, mungkin untuk sekedar menyemangatinya. Belajar saja sudah cukup berat, apalagi jika ditambah beban sebagai pelindung harga diri kelas. Tapi aku yakin hasil tidak akan mengkhianati usaha, Sica pasti bisa mengalahkan iblis betina itu.</p>
<p>***</p>
<p>Jeda antara waktu pulang sekolah reguler dan jam tambahan sore aku gunakan untuk membahas soal yang tidak bisa aku kerjakan tadi dengan Kenji. Aku yakin dia bisa mengerjakan semua soal dengan baik. Ia hanya tertawa renyah sewaktu mendengarkan permintaanku, dan dengan senang hati menjelaskan cara menjawabnya.</p>
<p>“Heran deh sama anak pinter, satu soal gak bisa jawab bingungnya minta ampun.” kata seseorang dari arah belakang. Ternyata Ve.</p>
<p>“Bukan begitu Ve, aku hanya ingin membunuh rasa penasaranku.” jawabku dingin.</p>
<p>Ve tidak merespon dengan suaraku, melainkan dengan matanya yang membentuk isyarat untuk melihat ke sebelah kanannya. Waktu aku toleh, terlihat olehku Sica dengan tatapan kosongnya. Ah, aku paham sekarang, Ve tidak ingin aku membahas ulangan tadi di dekat Sica. Aku tidak terlalu mengenal Ve, bahkan jarang bercakap-cakap dengannya, tapi yang aku tahu dari Kenji, Ve adalah anak yang perhatian kepada temannya.</p>
<p>Kenji juga menangkap isyarat yang diberikan, sehingga ia meletakkan pensilnya. Dari ekspresinya ia seperti hendak mengatakan ‘nanti saja Le di rumahmu’. Aku pun menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan, lalu kembali melihat Sica di bangkunya. Mungkin lebih baik aku mengajaknya berbicara daripada ia terus melamun tak karuan.</p>
<p>“Sica, Sica, Sica?” butuh tiga kali panggilan agar ia dapat mendengarkan suaraku. Ia nampak sedikit bingung karena secara tiba-tiba ditarik kembali begitu saja ke dunia nyata. Setelah bisa mengusai dirinya, barulah ia bersuara.</p>
<p>“Eh Leon, ada apa?” tanyanya dengan mencoba tersenyum, yang aku tahu itu sedikit dipaksakan.</p>
<p>“Tidak apa-apa, hanya sekedar ingin mengajakmu bicara.”</p>
<p>“Ah, iya, hehehe.” Sica nampak bingung bagaimana harus membalas, yang artinya aku harus menjadi sedikit cerewet.</p>
<p>“Jangan terlalu memikirkan ulangan tadi Sica, aku yakin kau dapat nilai yang lebih bagus dari Sarah.”</p>
<p>“Iya Le, hanya saja tadi aku agak susah untuk konsentrasi. Kecapekan mungkin ya.”</p>
<p>“Iya, kau terlalu keras kepada dirimu sendiri Sica, sekarang tenangkan diriku dan buang jauh-jauh pikiran tentang ulangan tadi.”</p>
<p>Baru saja aku menutup mulut, Bejo masuk ke dalam kelas sembari membawa setumpuk kertas jawaban. Bejo membaginya dalam sunyi, sama sekali tidak bicara. Ia hanya memberikan hasil ulangan satu per satu kepada teman-teman atau meletakkannya di bangku jika yang bersangkutan tidak ada di tempat.</p>
<p>Aku mendapatkan nilai 97, sedangkan Kenji bulat 100 seperti yang sudah kuduga. Sica belum menerima kertasnya, mungkin ada di tumpukan bawah sendiri. Apakah Bejo sudah mengecek siapa pemenang antara Sica dan Sarah, sehingga ia meletakkan kertas mereka di bawah sendiri.</p>
<p>Pada akhirnya, Sica mendapatkan kertasnya. Ia mendapatkan nilai 90, nilai yang cukup bagus. Sarah tidak ada di kelas sehingga Bejo masih memegang miliknya. Aku segera menanyakannya kepada Bejo berapa nilai Sarah karena Sica nampak takut menanyakannya.</p>
<p>“92 Le, Sarah mendapatkan nilai 92.”</p>
<p>***</p>
<p>“<em>So</em>, cewek udik, lu siap kan lari keliling lapangan?” tanya Sarah dengan mulut yang menggariskan kekejaman bagaikan ibu tiri. Ia mengatakan ini ketika pulang sekolah. Sewaktu ia kembali ke kelas dan mengetahui bahwa ia menang, ia tertawa dengan begitu angkuhnya. Kedatangan guru lah yang membuat moncongnya terdiam.</p>
<p>Sica terdiam sebentar, menarik nafas dalam lalu membalas tatapan Sarah.</p>
<p>“Aku siap menerima hukuman itu, tapi aku minta hukuman dilaksanakan besok ketika jam olahraga. Aku tidak mau terjatuh karena lari menggunakan rok.”</p>
<p>“Huh, terserah lo aja, yang penting udah gue buktiin kalo gue lebih pinter dari lo.”</p>
<p>“Tapi kau kalah dengan Kenji perempuan. Bahkan kau kalah oleh Juna.”</p>
<p>Aku tidak tahan melihat temanku dihina seperti itu, memutuskan untuk berdiri untuk membelanya. Kusebutkan nama Juna untuk merendahkan Sarah yang selama ini sering menghina kelemotan Juna. Kutatap Sarah dengan sorot mata yang paling keji, sorot mata yang sudah menemaniku selama tiga tahun terakhir. Terbukti, Sarah terlihat getir melihatku, tanpa mengucap apapun ia pergi keluar kelas.</p>
<p>Hening. Kenji yang biasanya pandai mengendalikan situasi kelas pun lagi-lagi tampak bingung harus berbuat apa. Tidak ada yang meninggalkan kelas selain Sarah, mungkin karena semua sedang menahan geram melihat kelakuan Sarah. Tentu yang paling terlihat berada di dalam tekanan adalah Sica yang harus rela menerima hukuman. Aku berusaha menahan emosi, lalu duduk di tempat Sarah untuk berbicara dengan Sica.</p>
<p>“Kekalahan ini bukan apa-apa Sica. Kau hanya terlalu terbebani sehingga tidak bisa fokus belajar. Sarah sudah merasa percaya diri dari awal dan yakin bisa mengungguli dirimu, dan itu membuatnya lebih lepas dalam belajar.” kataku membuka percakapan.</p>
<p>Sica tetap terdiam, terlihat ingin menangis. Teman-teman yang lain pun bingung harus berbuat apa. Rena, yang duduk di belakang Sica persis, mengusap-usap punggung Sica seolah-olah ingin memberinya kekuatan. Akhirnya, tangis Sica pun pecah, dan kelas pun terasa mendung seketika.</p>
<p>***</p>
<p>“Aku jarang sekali kehabisan ide seperti itu Le. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.” kata Kenji ketika pulang sekolah dan aku bertanya padanya kenapa ia diam saja tidak seperti biasanya.</p>
<p>“Itu bukan salahmu Kenji, tidak perlu merasa bersalah.”</p>
<p>“Meskipun begitu aku merasa kasihan sekali kepada mereka berdua.”</p>
<p>“Berdua? Maksudmu Sarah?” tanyaku keheranan.</p>
<p>“Iya Le, Sica dan Sarah.”</p>
<p>“Untuk apa kau mengasihani anak seperti itu? Dia jelas-jelas membuat sekat yang membuat kita tidak bisa mendekat kepadanya.” tanyaku lagi dengan nada yang agak meninggi.</p>
<p>“Mungkin kalian semua sebal melihat kelakuan anak Jakarta itu, tapi aku bisa melihat lebih dalam lagi Leon. Aku tahu ada sesuatu yang membuatnya seperti itu. Dia berperilaku demikian karena ada faktor yang mempengaruhi, dan aku yakin faktor tersebut bersifat eksternal. Bukankah kamu biasanya jago menilai orang? Apa kamu tidak bisa melihat hal tersebut?”</p>
<p>Aku hanya terdiam mendengar penuturannya, atau lebih tepatnya tidak peduli. Bagaimana mungkin kita bisa mengasihani orang yang tak perlu dikasihani seperti Sarah? Selain itu, aku sama sekali tidak pernah melihat Sarah sebagai orang yang perlu diamati. Siapa yang tertarik mengamati hama? Tentu saja orang-orang yang merasa dirugikan dan ingin membasminya. Aku hanya ingin membasminya tanpa perlu mengamatinya.</p>
<p>***</p>
<p>Sekitar jam tujuh malam, aku memutuskan untuk menghubungi Sica. Aku ingin mengetahui apakah dirinya sudah merasa lebih baik. Akan tetapi, karena keterbatasan pulsa, aku hanya mengirimkan pesan singkat.</p>
<ul>
<li>Hei Sica, sudah merasa baikan?</li>
</ul>
<p>Aku menunggu sekitar 15 menit belum juga ada balasan. Tentu ini membuatku khawatir karena aku belum terlalu mengetahui sifat-sifat Sica. Bagaimana jika ternyata Sica adalah tipe orang yang mudah depresi lalu memutuskan untuk bunuh diri? Kemungkinan itu bisa terjadi, toh ibuku yang termasuk wanita kuat juga memutuskan untuk bunuh diri. Atau mungkin aku ke rumahnya saja? Bukannya rumahnya dekat dengan pasar? Dengan sedikit bertanya aku akan menemukan rumahnya.</p>
<p>Setelah mengumpulkan niat untuk mencari rumahnya, tiba-tiba saja dering handphoneku berbunyi. Telepon dari Sica.</p>
<p>“Halo?”</p>
<p>Hening disana, hanya terdengar samar-samar suara tangis. Aku tidak berusaha untuk mendesaknya berbicara, mungkin ia butuh waktu untuk mengumpulkan suaranya.</p>
<p>“Ma..maaf Le, aku meneleponmu malam-malam. Hanya saja, aku butuh teman.” katanya dengan sesekali berhenti untuk menarik ingusnya.</p>
<p>“Iya tidak apa Sica, kau jangan sedih ya. Kau pasti bisa menyelesaikan tantangannya besok.”</p>
<p>“Bukan itu permasalahannya Le.”</p>
<p>“Lalu?”</p>
<p>“Aku takut.”</p>
<p>“Takut apa?”</p>
<p>Lagi-lagi hening, dan lagi-lagi aku memutuskan untuk tidak mendesaknya berbicara.</p>
<p>“Entahlah Le, aku merasa akan ada sesuatu yang buruk setelah ini.”</p>
<p>“Tidak usah takut Sica, kami semua dibelakangmu. Istirahat saja sekarang, untuk menjaga stamina untuk besok.”</p>
<p>“Baiklah Le, terima kasih.” katanya langsung menutup telepon. Apakah Sica marah terhadapku? Akan tetapi apa alasannya? Bagiku yang belum begitu mengetahui dunia feminis, semua terasa gelap, tanpa ada cahaya sedikitpun sebagai petunjuk. Mungkin ia hanya merasa kesal terhadap dirinya sendiri, sehingga mudah terpancing emosi. Tidak apa-apa, aku bisa memaklumi hal tersebut.</p>
<p>Ketika aku beranjak tidur, aku tiba-tiba terpikirkan, mengapa Sica memutuskan untuk menelepon diriku? Apa karena aku mengirimnya SMS? Lalu jika kuingat-ingat lagi, Sica sangat jarang sekali berkumpul dengan sesama perempuan, meskipun aku juga tidak pernah melihat Sica cekcok dengan mereka, selain Sarah tentunya. Apakah Sica tipe wanita yang lebih nyaman menjalin persahabatan dengan teman laki-laki?</p>
<p>Berbagai teori mengiang di kepalaku hingga akhirnya aku tertidur, melupakan hasil ulangan matematika yang pahit hari ini. Semoga saja, besok Sica kuat untuk lari keliling lapangan sepuluh kali.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-32-hasil-ulangan-matematika/">Chapter 32 Hasil Ulangan Matematika</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-32-hasil-ulangan-matematika/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 31 Leon dan Sica, Babak Kedua</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-31-leon-dan-sica-babak-kedua/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-31-leon-dan-sica-babak-kedua/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2018 14:09:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 31]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1078</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kurang satu hari sebelum ulangan matematika tersebut. Aku yakin semuanya sedang giat-giatnya belajar untuk menghadapinya, apalagi Sica yang sedang memperjuangkan harga diri kelas. Bahkan waktu istirahat ia gunakan untuk mengerjakan beberapa latihan soal yang ada di buku. Aku merasa memiliki kewajiban untuk mendukungnya lewat kata-kata, sehingga aku menghampirinya ketika jeda antara waktu pulang sekolah normal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-31-leon-dan-sica-babak-kedua/">Chapter 31 Leon dan Sica, Babak Kedua</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kurang satu hari sebelum ulangan matematika tersebut. Aku yakin semuanya sedang giat-giatnya belajar untuk menghadapinya, apalagi Sica yang sedang memperjuangkan harga diri kelas. Bahkan waktu istirahat ia gunakan untuk mengerjakan beberapa latihan soal yang ada di buku. Aku merasa memiliki kewajiban untuk mendukungnya lewat kata-kata, sehingga aku menghampirinya ketika jeda antara waktu pulang sekolah normal dan kelas tambahan di sore hari.</p>
<p>“Sica, lagi sibuk?”</p>
<p>Aku duduk di bangku Rena, yang mungkin ditinggal penghuninya ke masjid. Sica membalikkan badanya dan tersenyum. Sekitar matanya menghitam, tanda ia kurang tidur akhir-akhir ini.</p>
<p>“Cuma baca-baca aja kok Le, kenapa emangnya?”</p>
<p>“Emm, mau memberi kau semangat.”</p>
<p>Aku tahu jika seharusnya aku bisa memberikan kata-kata motivasi seperti yang dilakukan Kenji seperti biasanya. Hanya saja, mana bisa model orang kaku sepertiku merangkai kata yang indah dan memberi energi yang luar biasa.</p>
<p>“Hahaha, terima kasih Le, meskipun kamu ucapkan dengan datar. Aku hargai itu.”</p>
<p>“Jangan terlalu keras belajar Sica, aku memperhatikanmu seminggu ini kamu hampir tidak pernah keluar kelas ketika istirahat. Kamu bisa sakit.”</p>
<p>“Perhatian banget kamu Le, hihihi. Aku enggak apa-apa kok, emang harus kayak gini. Aku kan enggak secerdas kamu ataupun Kenji.”</p>
<p>Aku tersipu malu mendengar kalimat terakhirnya, walaupun ekspresi di wajah masih bisa aku kuasai dengan baik. Aku tidak boleh mendahulukan perasaanku, yang bisa kulakukan adalah membantunya meraih nilai terbaik, minimal mengalahkan Sarah.</p>
<p>“Jika ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja kepadaku atau Kenji.”</p>
<p>“Tidak Le, aku ingin menang dengan kemampuanku sendiri, tanpa bantuan orang lain. Aku yakin Sarah pun begitu.”</p>
<p>“Sarah kan punya guru privat Sic.”</p>
<p>“Iya sih, tapi enggak apa-apa kok Le, aku pasti bisa mengalahkan dia.”</p>
<p>Kebetulan tidak ada Sarah di kelas, dan ia memang hampir tidak pernah ada di kelas kecuali ketika pelajaran sedang berlangsung. Entah ke mana wanita dengan mulutnya yang busuk itu pergi, tidak pernah ada yang tertarik untuk mengorek informasinya.</p>
<p>“Sica, aku mau tanya sesuatu.”</p>
<p>Aku mengalihkan perhatiannya sejenak dari belajar agar ia dapat beristirahat sejenak. Aku percaya, terlalu banyak belajar pun tidak baik bagi kita.</p>
<p>“Tanya apa Le?”</p>
<p>“Tempo hari, aku bicara dengan Malik. Katanya ia telah bercerita tentang keluargaku dengan anak-anak di kelas ini. Apakah kau termasuk yang tahu?”</p>
<p>“Hmm, janji enggak marah ya Le.”</p>
<p>“Aku janji kemarahanku kepada Rena kemarin tidak akan terulang.”</p>
<p>“Seperti yang kamu tahu, aku lumayan deket kan sama kakak tingkat. Dari mereka lah aku tahu tentang keluargamu. Tapi aku enggak berani tanya ke kamu langsung, bener atau enggak cerita itu, karena itukan wilayah privasimu.”</p>
<p>Aku mendengar jawaban Sica dengan seksama, jawaban yang mirip dengan jawaban Rika. Bedanya, aku ingin menceritakan kisahku kepadanya, kisah yang selama ini selalu aku tutupi dengan tirai gelap.</p>
<p>“Jika kau tidak keberatan, aku akan menceritakan secara singkat tentang keluargaku, sehingga kau bisa memilah sendiri mana yang benar mana yang fitnah.”</p>
<p>Maka, berceritalah aku kepadanya tentang ayahku yang keras dan suka main wanita, tentang ibuku yang gantung diri, tentang bagaimana itu semua mengubahku menjadi sosok yang kasar, dan bagaimana Gisel kuat menghadapi ujian tersebut. Sica sama sekali tidak menyela perkataanku, ia mendengarkan dengan khidmat hingga aku selesai berbicara.</p>
<p>“Begitulah Sica, secara singkat kisah keluargaku, berbeda bukan dengan yang lain?”</p>
<p>“Maaf Le, aku tidak menyangka kehidupanmu begitu berat.”</p>
<p>“Sekarang sudah tidak terlalu berat, aku punya Kenji, aku punya kamu, aku punya kalian semua yang ada di kelas ini. Kalian hadir untuk mengisi sesuatu yang kosong di dalam hati ini.”</p>
<p>“Bahasamu puitis sekali Le.”</p>
<p>“Mungkin pengaruh bergaul dengan Kenji.”</p>
<p>“Maaf ya Le kalau selama ini aku punya salah.”</p>
<p>“Ah, enggak kok Sica. Lantas, apakah ada bagian-bagian yang kamu dengar dari kakak kelas, yang belum aku ceritakan?”</p>
<p>“Rasanya enggak ada Le, malah kamu menceritakan lebih lengkap. Ceritamu membuatku bersyukur masih memiliki orang tua yang lengkap.”</p>
<p>“Baguslah kalau begitu. Mungkin ada saatnya aku akan menceritakan ini kepada teman-teman yang lain. Mereka berhak tahu kenyataan hidupku yang sebenarnya.”</p>
<p>“Jika hatimu sudah siap Le.”</p>
<p>“Tentu.”</p>
<p>Sica terlihat melipat-lipat tangannya, sedang mempertimbangkan sesuatu. Aku menantinya dengan sabar, penasaran apa yang hendak ia ucapkan.</p>
<p>“Setelah hasil ulangan telah keluar, aku boleh mampir rumahmu Le? Aku ingin bertemu dengan Gisel, aku kangen sama dia.”</p>
<p>Aku menganggukkan kepala.</p>
<p>***</p>
<p>“Kamu enggak sadar kalau tadi aku nguping pembicaraan kalian ya, hahaha.” kata Kenji sewaktu kami mengajar Gisel selepas Maghrib.</p>
<p>“Aku rasa nguping bukan kebiasaanmu Kenji.”</p>
<p>“Memang bukan, hanya saja aku duduk di dekat bangku kalian, dan kalian sama sekali tidak mengecilkan volume suara, jelas aku bisa mendengarnya, sejelas mendengarkan radio.”</p>
<p>“Emang kakak kenapa?” tanya Gisel yang ingin ikut dalam pembicaraan kami.</p>
<p>“Kakakmu tadi ngobrol sama kakak cantik lamaaa sekali, seolah di kelas tidak ada orang lain. Aku yakin tidak hanya aku yang memperhatikan kalian Le.”</p>
<p>“Aku tidak terlalu peduli dengan hal tersebut.”</p>
<p>“Lalu, apa kamu enggak belajar? Besok lo ulangannya.”</p>
<p>“Aku juga bisa menanyakan pertanyaan yang sama kepadamu.”</p>
<p>“Maka aku kira jawaban kita sama.” jawab Kenji dengan memamerkan deretan giginya yang rapi.</p>
<p>“Ya, kita bisa belajar setelah selesai mengajari Gisel.”</p>
<p>“Tapi ijinkan aku sedikit berkomentar Le atas tindakanmu. Menurutku itu tindakan yang tepat, mengeluarkan Sica sejenak dari angka-angka tersebut. Sica adalah anak yang bisa memusatkan fokusnya, sehingga aku yakin ia tidak akan berpikir tentang ceritamu malam ini. Ia akan kembali fokus belajar untuk ulangan besok.”</p>
<p>“Terima kasih untuk pujiannya.”</p>
<p>“Lalu, kapan kamu akan menyatakan perasaanmu kepadanya?”</p>
<p>Aku hanya melotot ke arahnya, berharap ia mengerti tidak sepatutnya membicarakan masalah ini di hadapan anak kecil. Gisel pun tampak kebingungan dengan percakapan kami, sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan mengerjakan soalnya.</p>
<p>***</p>
<p>Sebelum tidur, tidak lupa aku mengirimkan pesan singkat kepada Sica, pesan untuk menyemangatinya. Hingga pagi tiba, tidak ada pesan balasan yang masuk. Mungkin ia menonaktifkan handphone agar bisa fokus belajar. Aku memaklumi hal tersebut, dan segera mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Hari ini adalah ulangan matematika yang menentukan itu, dan aku berharap Sica dapat mengalahkan Sarah.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-31-leon-dan-sica-babak-kedua/">Chapter 31 Leon dan Sica, Babak Kedua</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-31-leon-dan-sica-babak-kedua/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 30 Kegaduhan Kelas</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-30-kegaduhan-kelas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-30-kegaduhan-kelas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2018 08:11:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 30]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1029</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari demi hari berlalu, tak terasa kenaikan kelas sebentar lagi. Tentu hanya kami yang naik kelas, sedangkan kelas reguler masih membutuhkan setengah tahun lagi. Ritme belajar kami makin lama makin tinggi, ditambah kelas tambahan yang kami gagas sendiri sepulang sekolah. Yuri yang menjadi inspirasi kegiatan ini mengalami kemajuan yang pesat. Daya tangkapnya tidak terlalu tinggi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-30-kegaduhan-kelas/">Chapter 30 Kegaduhan Kelas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hari demi hari berlalu, tak terasa kenaikan kelas sebentar lagi. Tentu hanya kami yang naik kelas, sedangkan kelas reguler masih membutuhkan setengah tahun lagi. Ritme belajar kami makin lama makin tinggi, ditambah kelas tambahan yang kami gagas sendiri sepulang sekolah.</p>
<p>Yuri yang menjadi inspirasi kegiatan ini mengalami kemajuan yang pesat. Daya tangkapnya tidak terlalu tinggi jika dibandingkan denganku, namun daya juangnya menutup kekurangan tersebut. Selama tidak ada pesanan makanan, ia akan selalu hadir dalam kegiatan yang tak bernama ini. Jika peserta hanya aku dan Kenji, maka kami memutuskan untuk pulang ke rumah dan mengajar Gisel lebih awal.</p>
<p>Mengapa aku dan Kenji terlihat begitu santai jika dibandingkan dengan teman-teman lain yang mengambil kursus sore sampai malam? Pertama, kami tipe orang yang lebih dapat menangkap pelajaran jika belajar sendiri. Kedua, kami merasa lebih enak berdiskusi dengan teman sebaya dibandingkan kepada guru yang lebih tua. Ketiga, belajar sendiri jauh lebih hemat.</p>
<p>Sudarwono bersaudara pernah meledek kami ‘kalau begitu ngapain kalian sekolah?’. Tentu kalimat tersebut diutarakan dengan konotasi bercanda, meskipun terselip kekesalan akan kepandaian kami. Tentu saja kami masih butuh sekolah, karena lingkungan sekolah tidak akan kami dapatkan di rumah. Selain itu, kami tidak bisa mencetak ijazah sendiri.</p>
<p>Dengan kepandaian seperti inilah, wajarlah jika aku menjadi sosok yang arogan akan kemampuan otakku. Arogansi yang akan semakin menjadi-jadi jika saja aku tidak bertemu dengan Kenji di kelas akselerasi ini. Ia bisa mengerem sifat buruk tersebut dengan cara menjadi lebih pandai dibandingkan denganku. Bedanya, ia tak pernah menyombongkan kepandaiannya. Selalu rendah hati dan tidak pernah merasa rugi membagi ilmu yang ia miliki. Ia memiliki bakat alami untuk menjadi seorang guru.</p>
<p>Tinggal beberapa pekan sebelum ujian kenaikan kelas. Seperti biasa, guru-guru akan memberikan ulangan harian sebagai pemanasan. Hampir semua pelajaran, termasuk matematika yang diumumkan oleh guru kami setelah materi terakhir selesai disampaikan.</p>
<p>“Ulangannya semua bab ya anak-anak, ibu kasih soal yang lebih susah dari biasanya, supaya kalian tidak kaget waktu mengerjakan soal ujian kenaikan.”</p>
<p>“Mungkin tidak kaget…”</p>
<p>“…tapi bikin kami kena serangan jantung!”</p>
<p>Sudarwono bersaudara bercoleteh demikian setelah bu Ratna keluar kelas. Yang lain pun tertawa gugup mendengar lelucon mereka. Selain aku dan Kenji, mereka berdua bisa dibilang paling santai. Sayangnya, santai mereka cenderung santainya pemalas. Mereka memiliki otak yang cerdas, yang terbukti dengan saling bertautnya kalimat mereka. Hanya saja, mereka belum bisa mengoptimalkan kecerdasan mereka.</p>
<p>Kenji tiba-tiba berdiri dari bangkunya dan berdiri di depan kelas. Nampaknya ia mempunyai suatu rencana untuk sesuatu yang belum aku ketahui.</p>
<p>“Teman-teman, kenaikan kelas sebentar lagi, artinya ada peluang beberapa di antara kita bisa turun ke kelas reguler.”</p>
<p>Begitu Kenji mengucapkan hal tersebut, beberapa teman langsung menundukkan kepala, seolah beban satu ton ditimpakan di atas kepala mereka. Mungkin saja, mereka merasa takut keluar dari kelas akselerasi ini. Padahal, menurutku, seandainya mereka turun pun bukan masalah, toh mereka masih bisa berprestasi di kelas reguler sana.</p>
<p>“Akan tetapi, sudah kewajiban kita bersama untuk saling membantu agar hal tersebut tidak terjadi. Sudah hampir delapan bulan kita bersama, kita telah menjadi keluarga. Aku yakin, dengan berjuang bersama-sama, kita akan bisa tetap bertahan di kelas akselerasi ini.”</p>
<p>Tepuk tangan bahagia langsung membanjiri kelas setelah Kenji menutup pidatonya. Sayang, kebahagiaan tersebut rusak ketika Sarah bangkit dari mejanya dengan sedikit gebrakan dan berdiri sambil mengacungkan jarinya.</p>
<p>“Hei cebol, gak usah sok jadi motivator! Gue bisa belajar sendiri, gak butuh bantuan kalian semua. Gue muak lama-lama, elu selalu ngomong hal-hal gak penting, tentang keluarga lah, tentang kebersamaan lah, cuih. Gue gak butuh itu dan gue minta loe tutup mulut!.”</p>
<p>Aku sudah bangkit dari bangkuku ketika sebuah tangan melayang, mendaratkan tamparan yang cukup untuk meninggalkan bekas. Sica bangkit dari bangkunya dengan air mata yang sudah menggenang, merasa tersakiti dengan ucapan Sarah barusan.</p>
<p>“Kamu boleh hina aku Sar, tapi kalau kamu hina temenku, aku enggak akan terima.”</p>
<p>“Emang loe sapanya dia heh? Sok sok belain. Loe nampar gue lagi, sini gue bales loe.”</p>
<p>Hampir saja terjadi perkelahian jika teman-teman yang lain tidak berusaha melerai mereka. Aku pun harus ditahan Juna dan Andra agar tidak mengamuk, ditambah Gita yang menutup mulutku agar suaraku tidak muncul dan memancing kecurigaan ke luar. Dengan kondisi seperti itu, aku masih bisa melihat Rena dan beberapa teman yang duduk di sisi kiri menahan Sica, sedangkan Sarah ditahan oleh Bejo dan Dea. Kenji hanya diam di depan kelas, nampak kebingungan mencari jalan keluar.</p>
<p>“Semuanya harap duduk ke kursinya masing-masing, aku belum selesai bicara.” kata Kenji sedikit lebih lantang dari biasanya. Senyum masih terukir di wajahnya, dan aku tau itu bukan senyum palsu. Setelah situasi mulai kondusif, termasuk Sica dan Sarah yang seolah tersihir dengan kata-katanya, Kenji mulai melanjutkan pidatonya.</p>
<p>“Ya, namanya juga keluarga, kadang ada perselisihan seperti tadi. Yang penting, pada akhirnya, kita akan saling memaafkan dan kembali menjadi satu keluarga lagi.”</p>
<p>“Lo budek ya, gue gak pernah nganggap kalian keluarga. Najis amat punya keluarga kere kayak kalian. Mau lo apa sih ceramah gak jelas kayak gini?” Sarah kembali melontarkan kalimat yang tak kalah menyayat hati.</p>
<p>“Sar! Kamu itu enggak punya hati ya, Kenji baik-baik ngomong kamu bales kayak gitu. Maumu apa Sar, diperhatiin temen satu kelas?”</p>
<p>Sarah sempat terdiam sejenak mendengar kalimat Sica yang terakhir, baru membalas kalimat Sarah.</p>
<p>“Diem loe cewek sok cantik, gak usah sok belain temen lo sekelas. Gue gak akan maafin loe seumur hidup gue karena udah nampar gue. Awas loe, gue bales lebih sakit dari ini.”</p>
<p>“Mau main fisik? Gimana kalau pakai otak, aku yakin kamu enggak akan berani Sar.” Sica balik meledek Sarah, aku yakin Sica mulai menyerah psikis Sarah.</p>
<p>“Ngehina loe ya, lihat aja ulangan matematika minggu depan, gue bakal dapet nilai lebih tinggi dari loe.”</p>
<p>“Oke, kalau kamu kalah, kamu harus minta maaf di depan kelas atas semua perbuatan dan perkataan yang kamu lakukan.”</p>
<p>“Dan kalau loe yang kalah, loe harus lari keliling lapangan sepuluh kali!”</p>
<p>Sica sempat terlihat <em>shock </em>sejenak waktu mendengarkan tantangan Sarah, namun ia segera menganggukkan kepala. Selama percakapan ini, tubuhku tetap di tahan Juna dan Andra. Mereka bagaikan penjaga yang harus menahan seekor monster agar tidak mengamuk dan menghancurkan kota.</p>
<p>“Tenanglah bung, aku tahu kamu sangat marah mendengar nenek lampir itu bicara. Tapi tenanglah, amarahmu enggak akan mengubah apapun, malah bikin masalah lebih runyam.” Andra berbisik kepadaku, berusaha meredakan amarahku. Dengan hembusan nafas dalam-dalam dan mengingat beberapa trik dari buku yang aku pinjam dari Kenji, aku bisa mengusai diriku kembali.</p>
<p>Lengang sejenak, hingga guru berikutnya tiba tanpa mengetahui apa yang barusan terjadi. Kenji yang masih berdiri di depan kelas, memberi salam dan kembali ke tempat duduknya. Kegaduhan kelas telah berakhir.</p>
<p>***</p>
<p>Sarah langsung pergi begitu saja ketika jam tambahan di sore hari telah selesai. Ia tak pernah dan tak akan tertarik untuk ikut belajar bersama kami, bersama teman-teman sekelasnya. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai teman, ia hanya kuanggap sebagai parasit yang hinggap untuk merusak induk semangnya.</p>
<p>“Jangan berpikir yang tidak-tidak Le.” kata Kenji ketika hanya tinggal kami bertiga di kelas, aku, Kenji dan Yuri. Yang lain sudah sibuk dengan jadwal lesnya masing-masing.</p>
<p>“Tidak seperti biasanya, kau nampak bingung harus berbuat apa waktu pertengkaran tadi. Apa yang kau pikirkan?”</p>
<p>“Sebenarnya aku sedang mempertimbangkan berbagai kemungkinan apa saja yang harus kulakukan untuk menghentikan pertengkaran. Aku juga sedang menimbang bagaimana hasil dari upayaku tersebut. Ketika waktunya tepat aku langsung bertindak sesuai dengan pertimbanganku.”</p>
<p>“Maksudmu beberapa patah kata tersebut?” tanyaku dengan nada yang masih ngotot.</p>
<p>“Ya, kata-kata yang keluar sudah melalui banyak pertimbangan dalam hitungan yang cepat di pikiranku. Itu adalah kalimat yang paling bijaksana dari semua kalimat yang mungkin muncul.”</p>
<p>“Dan hasilnya?”</p>
<p>“Hasilnya aku mengetahui bahwa penyebab Sarah menjadi demikian adalah kata keluarga, sama sepertimu dulu.”</p>
<p>“Itu membuat ia makin marah, di mana letak kebijaksanaannya?”</p>
<p>“Makna bijaksana bukan berarti harus menghanyutkan segala amarah. Bijaksana digunakan untuk beberapa langkah ke depan, bukan hanya sekedar langkah yang akan kita ayunkan sekarang. Kamu sudah cukup lama mengetahuiku pola pikirku Le, apa kamu masih bingung ke mana aku akan mengarah?”</p>
<p>Aku merenungkan perkataan Kenji. Jika dirunut dari belakang, mungkin ia akan memperlakukan Sarah seperti ia memperlakukan diriku dulu. Mencari tahu akar penyebabnya, barulah dipikirkan solusi terbaik untuk menyabut akar tersebut. Artinya, ia harus siap babak belur, meskpun aku tidak yakin Sarah dapat menghajar Kenji seperti aku dulu.</p>
<p>“Apa kalian sudah selesai diskusinya? Kapan kita akan mulai belajar? Aku tahu ini masalah kelas, namun fokus kita sekarang adalah berhasil di ujian dan naik kelas.” Yuri menyela pembicaraan kami, melakukan protes karena proses belajar menjadi terganggu. Dengan tertawa, Kenji memulai pelajaran tambahannya sore ini.</p>
<p>***</p>
<p>Selain Kenji, Sica juga telah banyak beradu mulut dengan Sarah tadi siang. Bahkan, Sica menawarkan diri menjadi tameng kelas untuk menjaga harga diri kelas. Nilai taruhannya tidak seimbang, Sarah hanya perlu minta maaf, tanpa perlu kami tahu maaf tersebut tulus atau tidak. Sedangkan Sica, harus lari keliling lapangan sepuluh kali, meskipun itu hal yang kecil untukku. Mental versus fisik, terlalu tidak adil.</p>
<p>Daripada gelisah sendirian, kuputuskan untuk mengirimkan pesan singkat kepadanya.</p>
<ul>
<li>Sica, kau yakin dengan tawaran tantangan yang kau berikan kepada Sarah?</li>
</ul>
<p>Setelah menunggu lima belas menit, barulah masuk pesan darinya.</p>
<ul>
<li>Yakin Le, tenang aja, aku pasti menang dari wanita sombong itu 😊</li>
<li>Tapi taruhannya tidak seimbang lo Sic, yang satu cuma minta maaf, sedangkan kamu harus lari</li>
<li>Ya, berarti aku hanya perlu menang kan? Kalau aku menang aku tidak perlu lari</li>
</ul>
<p>Aku membaca pesannya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi merasa khawatir, di sisi lain merasa bangga memiliki kawan sepemberani dan seoptimis Sica. Aku harap dapat meniru sikap optimis Sica.</p>
<p>Belum sempat membalas, Sica kembali mengirimiku pesan.</p>
<ul>
<li>Lagipula, meminta maaf bagi seorang yang angkuh itu sangat berat loh, kamu juga pasti merasa berat untuk minta maaf kan 😊 wkwkwk bercanda</li>
<li>Baiklah Sica, semangat!</li>
</ul>
<p>Ia membalasnya dengan icon <em>smiley</em> lagi. Sempat bimbang, akhirnya kuberanikan diri untuk menanyakan sesuatu kepada Sica. Pertanyaan yang selama ini sudah lama hingga di kepalaku, semenjak kami sering bertukar pesan singkat. Aku tidak ingin lagi dihantui oleh rasa penasaran tersebut, kuputuskan hari inilah akan kuketahui jawaban dari pertanyaan tersebut.</p>
<ul>
<li>Sica, wkwkwk itu apa?</li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-30-kegaduhan-kelas/">Chapter 30 Kegaduhan Kelas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-30-kegaduhan-kelas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 29 Kisah Seorang Manusia</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-29-kisah-seorang-manusia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-29-kisah-seorang-manusia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jul 2018 14:27:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 29]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1001</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dengan tujuan melupakan kejadian kemarin, aku memutuskan untuk membaca cerita pendek tulisan Rika, yang ia minta agar aku memberikan feedback terhadap karyanya. Kenji telah selesai membacanya, sehingga kini giliranku untuk menyelesaikannya. Semoga saja dengan membaca cerita ini pikiranku dapat teralihkan, dapat membuatku masuk ke dalam dunia fantasi Rika. “Kak?” Gisel memanggilku ketika aku baru selesai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-29-kisah-seorang-manusia/">Chapter 29 Kisah Seorang Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan tujuan melupakan kejadian kemarin, aku memutuskan untuk membaca cerita pendek tulisan Rika, yang ia minta agar aku memberikan <em>feedback </em>terhadap karyanya<em>. </em>Kenji telah selesai membacanya, sehingga kini giliranku untuk menyelesaikannya. Semoga saja dengan membaca cerita ini pikiranku dapat teralihkan, dapat membuatku masuk ke dalam dunia fantasi Rika.</p>
<p>“Kak?” Gisel memanggilku ketika aku baru selesai setengah membaca.</p>
<p>“Iya Gisel, ada apa?”</p>
<p>“Kakak kemarin kenapa? Gisel sampai takut kakak jadi kayak dulu lagi.”</p>
<p>Aku memandang adikku dengan lembut, berpikir bagaimana caranya mengeluarkan jawaban yang baik.</p>
<p>“Tuh kan, lihat Gisel aja sambil melotot begitu, Gisel jadi takut kak.” kata Gisel sambil mundur dua langkah.</p>
<p>“Benarkah? Padahal kakak kira ini adalah pandangan penuh kasih sayang.”</p>
<p>“Mana ada kak kayak gitu penuh kasih sayang, yang ada pandangan penuh dendam.”</p>
<p>Aku tertawa ringan mendengar penuturannya yang lugu. Kuusap rambutnya, lalu kugendong dia, suatu perbuatan yang mungkin pertama kali kulakukan terhadap Gisel. Meskipun usianya sudah hampir 10 tahun, badannya kecil dan terlihat ringkih, sehingga mudah bagiku untuk mengangkatnya. Penderitaan selama bertahun-tahun memiliki andil membentuk fisik adikku. Untunglah, jiwanya jauh lebih tangguh dari raganya.</p>
<p>“Kok tumben kak gendong Gisel?”</p>
<p>“Gapapa Gisel, rasanya kakak belum pernah menggendongmu sejak kita berdua ditinggal orangtua kita. Kakak merasa bersalah, bahkan hingga detik ini kakak masih merasa bersalah. Entah kakak harus berbuat apa untuk menembus dosa kakak kepadamu…”</p>
<p>Aku tidak kuat meneruskan kalimatku. Aku tidak ingin menangis di hadapan adikku, aku harus menjadi sosok kakak yang kuat. Aku hanya menimang-nimang Gisel dengan selembut mungkin, berharap ia dapat memahami situasi.</p>
<p>“Kakak, enggak perlu merasa begitu. Kakak jadi gitu juga ada penyebabnya. Gisel enggak pernah marah ke kakak kok. Kakak enggak usah merasa bersalah, kakak enggak usah merasa…”</p>
<p>Gisel tidak kuat menahan tangisnya, tersedu-sedu di dalam pelukanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha menenangkannya dengan membelai rambutnya. Cukup lama kami berada dalam situasi tersebut, hingga akhirnya ia tertidur. Kubawa ia kekamarnya, kuselimuti lalu kucium keningnya. Belajar memiliki empati, seperti yang telah diajarkan Kenji di awal sekolah, telah membuat aku bisa memahami perasaan orang lain, setidaknya adikku sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>Aku tidak tidur semalaman, meskipun itu bukan hal yang istimewa dalam tidurku. Sudah terlalu sering aku terjaga semalaman, sehingga sama sekali tidak berpengaruh terhadap diriku. Aku menyelesaikan cerpen Rika, dan cukup mengejutkan bahwa ceritanya cukup menggugah hatiku. Kusampaikan pada Rika waktu istirahat, bagaimana pendapatku terhadap cerita yang terinspirasi dariku ini.</p>
<p>“Rika, aku sudah selesai membaca ceritamu.”</p>
<p>“Lama sekali Le, Kenji udah selesai lamaa banget. Situ sibuk banget ya? Hehehe.” tanya Rika riang seperti biasa.</p>
<p>“Tidak, hanya saja baru kemarin aku menyempatkan diri untuk membacanya.”</p>
<p>“Terus terus terus, gimana pendapatmu?”</p>
<p>“Bagus.”</p>
<p>“Hah, cuma gitu doang?”</p>
<p>“Memang mau bagaimana lagi?”</p>
<p>“Ya komentar alurnya, atau komentar penokohannya.”</p>
<p>“Maaf Rika, aku tidak pandai dalam hal cerita.”</p>
<p>“Hmm, iya sih kelihatan. Ya udahlah enggak apa-apa Le, makasi ya udah baca. Bagi seorang penulis, puncak kebahagiaannya adalah ketika tulisannya dibaca orang lain. Apakah orang tersebut senang atau tidak, hanya menjadi bonus semata.”</p>
<p>Aku memandang Rika dengan tersenyum tipis. Kupandang kedua matanya yang senantiasa memancarkan kebahagiaan. Namun, ketika lebih lama memandangnya, masuk ke matanya lebih dalam, aku melihat ada yang tersembunyi di balik keceriaannya tersebut. Bukankah ada yang pernah berkata bahwa orang yang periang biasanya menahan beban yang berat? Hanya saja, rasanya tidak pantas untuk bertanya masalah pribadi kepadanya. Lebih baik aku segera mengalihkan topik pembicaraan</p>
<p>“Kau suka menulis, apa kau juga suka membaca?”</p>
<p>“Tentu saja Le, rasanya akulah yang palng kutu buku di sini.”</p>
<p>“Buku apa yang jadi favoritmu?”</p>
<p>“Tentu novel fantasi seperti Harry Potter atau Percy Jackson. Itu membuat daya imajinasiku berkembang. Selain itu aku juga suka baca kumpulan puisi dan novel detektif.”</p>
<p>“Sherlock Holmes atau Hercule Poirot?”</p>
<p>“Ah, jadi kamu tahu ya Le? Tentu saja Poirot dengan sel abu-abunya.”</p>
<p>“Aku baru baca satu yang berjudul <em>Murder on the Orient </em>Express. Selain itu aku juga membaca <em>And There We Were None </em>yang menegangkan.”</p>
<p>“Wah, itu termasuk <em>masterpiece</em>-nya Agatha Christie Le, nanti aku kasih tahu yang lain. Kamu koleksi?”</p>
<p>“Sebenarnya warisan dari, dari ibuku.”</p>
<p>“Ah begitu ya.”</p>
<p>“Kau, apakah kau tahu <em>cerita </em>keluargaku?” tanyaku spontan, sekedar untuk mengonfirmasi perkataan Malik tempo hari.</p>
<p>“Hanya dari orang ketiga yang belum pernah aku tanyakan kepadamu terkait kebenarannya.” jawab Rika lugas tanpa takut sedikit pun aku marah. Apa adanya, inilah salah satu penyebab aku merasa nyaman ngobrol dengan Rika.</p>
<p>“Mengapa kau tidak bertanya kepadaku? Kita lumayan sering mengobrol seperti ini.”</p>
<p>“Karena bukan gayaku untuk menyampuri urusan orang lain. Toh aku mengetahuinya hanya sepintas dengar, bukan karena aku benar-benar ingin berbicara tentangmu di belakang.”</p>
<p>Aku tersenyum kepadanya, kagum dengan prinsip hidupnya. Rika anak yang baik, hanya saja karena imajinasinya ia sering dianggap aneh oleh teman-temannya. Ia jarang sekali keluar bersama teman-teman yang lain ketika istirahat, lebih memilih menghabiskan waktunya untuk menulis. Meskipun begitu, kekhawatiranku tentang beban yang ia panggul tetap mengganggu pikiranku.</p>
<p>“Rika, jika kau butuh bantuan, panggil saja aku.”</p>
<p>“Aye-aye kapten.” jawabnya sambil berpose hormat kepadaku.</p>
<p>Semoga saja hanya pikiranku yang berlebihan.</p>
<p>***</p>
<p>“Ah kamu sedang tidak menyindir aku kan Le? Aku kan juga selalu ceria, hahaha.” jawab Kenji sewaktu aku mengeluarkan pendapatku mengenai Rika.</p>
<p>“Eh, tidak Kenji, aku tidak ada maksud ke sana.”</p>
<p>“Jika pun dugaanmu benar, Rika berhasil menutupinya dengan baik. Aku rasa lebih bijak jika menganggap Rika tidak terlalu memikirkan bebannya karena ia selalu berpikir positif. Mungkin kamu saja yang terlalu jauh berpikirnya.”</p>
<p>“Ya, aku rasa kau benar.”</p>
<p>“Daripada itu, bagaimana perkembanganmu dengan Sica?”</p>
<p>Aku memandang bingung Kenji, tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya.</p>
<p>“Ayolah, kalian pasti sering bertukar pesan kan? Gisel sering cerita kalo kakaknya sekarang sering melihat layar handphonenya ketika sedang nganggur.”</p>
<p>Sebenarnya tidak ada perkembangan apa-apa. Aku tidak suka berbasa-basi, sehingga jika tidak ada urusan yang perlu dibicarakan aku tidak akan mengirim pesan kepadanya. Kalaupun Gisel sering melihatku memandang handphone, mungkin waktu aku membaca ulang pesan-pesan Sica. Entah mengapa, rasanya menyenangkan sehingga menjadi kebiasaan.</p>
<p>“Tidak ada perkembangan apa-apa Kenji, karena memang tidak ada yang perlu dikembangkan.”</p>
<p>“Ah, kamu Le, hehehe. Omong-omong, rekomendasiku yang dulu sudah kamu baca?”</p>
<p>“<em>And there we were none</em>? Sudah Kenji, dan aku sepakat denganmu.”</p>
<p>“Lalu, apa kamu sudah baca yang lain? Nampaknya kamu susah tidur akhir-akhir ini, baca buku bisa menjadi solusi.”</p>
<p>***</p>
<p>Seperti malam-malam sebelumnya, aku merasa susah tidur karena beberapa hal yang aku sendiri tidak tahu apa. Bagaikan tidak mengetahui apa yang tidak diketahui. Maka kuputuskan untuk membaca lagi koleksi ibu di lemari. Aku mengambil sembarang judul lalu membawanya ke kamar.</p>
<p>Tiba-tiba aku teringat dengan nomer-nomer yang ibu tuliskan di halaman depan. Ketika aku cek, tidak ada angka yang tertera di sana. Apa artinya buku yang aku ambil ini bukan termasuk yang bagus? Ah, aku rasa yang ibu anggap bagus belum tentu cocok untukku. Bisa saja kami memiliki selera yang berbeda.</p>
<p>Sebelum kubaca, aku mencium aroma buku tersebut, aroma buku tua. Lalu aku teringat ibu yang sering membacakan buku dongeng ketika aku beranjak tidur, sehingga pengetahuanku tentang dunia dongeng masih terpatri di ingatanku. Tiga Babi Kecil, Anak Itik yang Buruk Rupa, dan berbagai dongeng kerajaan. Favoritku adalah cerita fabel, cerita yang tokoh utamanya hewan. Mungkin suatu saat aku akan mencari buku dongeng tersebut di rumah ini, aku yakin masih tersimpan dengan rapi.</p>
<p>Ah ibu, seandainya engkau masih hidup, apakah hidupku akan menjadi lebih baik? Mengapa engkau tega meninggalkan anak-anakmu ini? Mengapa engkau tega melakukannya setelah ayah menelantarkan kami karena nafsunya? Apa salah anak-anakmu ini sehingga menjadi yatim piatu di usia yang sangat muda?</p>
<p>Semua ada hikmahnya, begitu kata Kenji. Aku percaya itu, hanya saja hingga saat ini aku belum menemukan apa hikmah di balik ini semua. Membuat mentalku dan Gisel menjadi lebih tangguh? Bisa jadi, namun rasanya belum sebanding dengan penderitaan yang kami alami. Mungkin kami harus sabar beberapa waktu lagi sebelum bisa menemukannya, walaupun sudah hampir empat tahun kami berada di kondisi seperti ini.</p>
<p>Kuletakkan kembali buku yang telah kubawa, mencoba terlelap dengan merenungkan segala kisah yang telah tertulis dalam hidupku. Masing-masing manusia punya kisah sendiri, aku punya sendiri, Kenji punya sendiri, Sica punya sendiri, Rika punya sendiri, bahkan Sarah pun aku yakin memiliki kisahnya sendiri. Untuk sekarang, aku hanya ingin memikirkan kisah hidupku sendiri, kisah seorang manusia yang bertahan hidup sendiri tanpa orang tua.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-29-kisah-seorang-manusia/">Chapter 29 Kisah Seorang Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-29-kisah-seorang-manusia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 28 Pikiran yang Mengganggu</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-28-pikiran-yang-mengganggu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-28-pikiran-yang-mengganggu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2018 03:59:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 28]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=980</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sekitar Maghrib aku baru beranjak pulang. Aku yakin Kenji masih berada di rumahku untuk mengajari Gisel. Kami memutuskan bahwa belajar bersama bersama Yuri dan kawan-kawan lainnya baru akan dimulai awal bulan November nanti, sehingga kami bisa mengajar Gisel sepulang sekolah seperti biasa. Benar saja, Kenji masih berada di rumahku ketika aku menginjakkan kaki di pintu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-28-pikiran-yang-mengganggu/">Chapter 28 Pikiran yang Mengganggu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar Maghrib aku baru beranjak pulang. Aku yakin Kenji masih berada di rumahku untuk mengajari Gisel. Kami memutuskan bahwa belajar bersama bersama Yuri dan kawan-kawan lainnya baru akan dimulai awal bulan November nanti, sehingga kami bisa mengajar Gisel sepulang sekolah seperti biasa.</p>
<p>Benar saja, Kenji masih berada di rumahku ketika aku menginjakkan kaki di pintu rumahku. Semoga saja mereka tidak menyadari bahwa aku baru saja menangis. Aku belum siap untuk menceritakan apa yang terjadi di kelas sore ini.</p>
<p>“Kok baru pulang kak? Gisel kepikiran lo kak.” sambut adikku dengan polosnya.</p>
<p>“Tidak apa-apa.” kataku datar sembari berjalan terus menuju kamarku. Kejadian hari ini terlalu menguras emosi, dan emosi membutuhkan tenaga, sehingga aku merasa sangat lemas dan segera ingin beristirahat. Namun apa daya, banyak pikiran akan menghalangi keinginanku untuk tidur, sehingga aku hanya akan terdiam di kasur selama berjam-jam.</p>
<p>Terdengar suara ketukan pintu, yang kuyakin dilakukan oleh Kenji. Mungkin ia bisa membaca apa yang aku pikirkan, sehingga ia berusaha untuk menghiburku. Maaf Kenji, aku sedang ingin sendirian, tidak ingin diganggu oleh siapapun.</p>
<p>“Le, ada Rena, mau bicara samu katanya.”</p>
<p>Eh? Ada Rena? Bukankah ini kesempatan yang baik untuk meminta maaf, sehingga tidak perlu lagi mengulur-ngulur waktu yang tak pasti? Baiklah, kutegarkan diriku, kukontrol ekspresi wajah agar terlihat tenang, dan kumantapkan hati.</p>
<p>Aku melangkahkan kaki, membuka pintu, dan terlihatlah Kenji sedang menantiku. Kenji adalah kawan yang setia serta memiliki hati yang tulus. Beruntunglah aku bertemu dengannya di SMA ini.</p>
<p>“Di mana Rena?”</p>
<p>“Di rumahnya Le.”</p>
<p>“Maksudmu, kau membohongiku?”</p>
<p>“Iya dan tidak. Di sini ada Rena aku berbohong, tapi Rena ingin bicara denganmu adalah sebuah kejujuran.” katanya tetap tenang.</p>
<p>“Lalu apa maksudmu?”</p>
<p>“Pertama biar kamu keluar dari kamar dan meratapi diri, dan yang kedua aku ingin mengajakmu bertemu dengan Rena. Aku sudah janjian dengannya sore ini, setelah membuat perkiraan berapa lama kamu akan menyendiri di sekolah. Agak kelebihan sedikit dari prediksiku, namun sama sekali belum terlambat.” kata Kenji dengan riang.</p>
<p>Aku diam saja mendengar penuturannya, lalu mengikuti kemauannya. Mungkin memang ini yang harus aku lakukan agar segala macam pikiran yang mengganggu ini bisa hilang.</p>
<p>***</p>
<p>Kenji dan Rena sepakat pertemuan akan dilakukan di tempat nongkrong dekat sekolah. Aku tidak pernah ke sana sebelumnya karena memang aku tipe yang langsung pulang ke rumah sepulang sekolah. Mungkin didikan ayahku yang tak tahu diri itu yang membuatku menjadi seperti itu. Untung saja, setelah ia pergi entah ke mana, aku tidak mengubah kebiasaan tersebut.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, aku dan Kenji hanya saling berdiam diri. Mungkin Kenji menahan diri melihat situasinya yang kurang mendukung untuk berdiskusi. Salah satu kelebihan lainnya dari Kenji adalah kebijaksanaannya dalam melihat suatu kondisi. Ia tahu harus berbuat apa ketika terjadi sesuatu. Belum lagi ketenangannya dalam melihat permasalahannya. Aku menjadi penasaran, sifat-sifatnya tersebut berasal dari didikan orang tuanya atau trauma yang pernah dihadapinya? Kusimpan pertanyaan ini untuk lain waktu.</p>
<p>Akhirnya setelah sekitar 15 menit kami berjalan, kami sampai di lokasi. Aku melihat Rena sudah duduk di sana seorang diri. Ketika melihat kami, terlihat getir di matanya, menandakan ketakutan terhadap kehadiranku. Sayangnya, aku tak bisa melempar senyum untuk mengurangi ketakutannya tersebut.</p>
<p>Setelah memesan minuman, Kenji memulai tugasnya sebagai mediator tanpa diminta.</p>
<p>“Jadi, kawan-kawanku, hari ini terdapat peristiwa yang aku yakin terjadi karena kesalahpahaman semata. Alangkah baiknya jika hari ini juga masalah tersebut selesai dan kalian bisa saling memaafkan.”</p>
<p>Melihat Rena yang terus gelisah sambil memainkan tangannya, aku mengambil inisiatif untuk mengatakannya duluan.</p>
<p>“Aku minta maaf.”</p>
<p>“Hahaha, sangat kamu sekali Le, singkat dan tegas. Harusnya kamu sedikit santai minta maafnya, dan disertai alasan mengapa kamu minta maaf.” Kenji menegur cara minta maafku yang, mungkin, agak sedikit kasar.</p>
<p>“Rena, aku minta maaf karena telah menyentakmu tadi di kelas. Aku hanya terbawa emosi sesaat.”</p>
<p>“Aku juga minta maaf Le, seharusnya aku tahu batas-batas mana yang boleh diceritakan, mana yang sekiranya tidak menyakiti perasaanmu. Terkadang, kenyataan yang pahit harus disembunyikan agar hati tak terluka.”</p>
<p>“Sayangnya aku tipe orang yang memilih untuk menelan pil pahit tersebut daripada harus menyembunyikannya di sudut kotak obat. Aku sudah mengalami berbagai macam peristiwa yang memilukan Ren, peristiwa yang belum tentu orang lain kuat menghadapinya. Aku bukan tipe orang yang hancur hanya karena menghadapi satu fakta yang menyakitkan.”</p>
<p>Aku yang biasanya sangat terbatas berbicara mendadak menjadi sangat cerewet, entah apa penyebabnya. Rena memperhatikan dengan seksama, juga terlhat sedikit terkejut mendengarkanku berbicara panjang setelah sekian lama.</p>
<p>“Jadi, seandainya aku meneruskan perkataanku tadi siang, kamu enggak akan marah?”</p>
<p>“Marah urusan lain, itu hanya salah satu ekspresi yang digunakan untuk menghadapi kenyataan tersebut. Namun yang pasti, aku tidak akan marah kepada kau, aku hanya akan marah kepada orang lain yang menganggapku anak yang tidak diinginkan oleh orangtuanya.”</p>
<p>“Apa Le?” kini Rena memandangku dengan heran.</p>
<p>“Itu bukan kelanjutan kalimatmu? Mereka menganggapku sebagai anak yang tidak diinginkan oleh orangtuanya?”</p>
<p>Rena memandang ke arah Kenji, seolah meminta penjelasan atas perkataanku barusan. Kenji melihatku sebentar, lalu mengatupkan kedua matanya seolah ingin berpikir.</p>
<p>“Tidak ada yang berkata seperti itu Le, mereka menganggapmu sebagai <em>anak setan</em>, bukan seperti yang kamu ucapkan.”</p>
<p>***</p>
<p>“Kamu bertemu Malik sepulang sekolah ya Le.” tanya Kenji ketika kami telah berada di rumahku, setelah aku dan Rena bersalaman. Ketika mendengar penjelasan Rena, aku menjadi heran sendiri, mengapa aku menyimpulkan sesuatu yang salah. Dibilang sebagai <em>anak setan</em> pun sebenarnya setengah benar, karena tingkah laku ayahku seperti setan, hanya wujudnya saja yang manusia. Maka ketika kecanggungan tersebut hadir di antara kami, Kenji langsung menutup acara dan kami bertiga saling bersalaman.</p>
<p>“Dari mana kau tahu?”</p>
<p>“Mengumpulkan data yang ada, lalu diolah di dalam otak, dan muncul suatu hipotesis yang baru saja kamu klarifikasi.”</p>
<p>“Bagaimana caranya? Data apa?”</p>
<p>“Bukankah Sherlock pernah mengatakan ‘<em>buanglah semua yang mustahil, apapun yang tersisa, semustahil apapun, pasti benar.</em>’? Hanya itu dasar yang kugunakan Le, sehingga aku menulis daftar di pikiranku, apa yang mungkin menyebabkan kamu memiliki pemikiran seperti itu. Dari beberapa penyebab tersebut, aku mengeliminasi hal-hal yang tidak akan membuatmu berpikiran seperti itu. Lalu yang tersisa hanyalah Malik, yang sudah pernah mengobrak-abrik perasaanmu sebelumnya.”</p>
<p>“Aku tidak terlalu paham, tapi benar, memang Malik bertemu denganku sepulang sekolah, ketika aku mengurung diri di kelas.”</p>
<p>“Menurutmu, mengapa ia ke kelas?”</p>
<p>“Karena ia kangen dengan kelas lamanya.”</p>
<p>“Dan kamu percaya begitu saja?”</p>
<p>“Ada jawaban lain?”</p>
<p>“Informasi menyebar begitu cepat Le, apalagi jika kamu mengeluarkannya dengan suara keras. Pasti kamu akan jadi bahan pembicaraan teman sekelas, sehingga pada akhirnya informasi tersebut sampai di telinganya. Ia melihat hal tersebut sebagai kesempatan untuk menghancurkanmu!” kata Kenji dengan menggebu-gebu.</p>
<p>“Benarkah itu?”</p>
<p>“Tidak, aku tidak tahu, itu hanya analisa yang berlebihan, hehehe.” jawabnya dengan menghilangkan semangatnya secara tiba-tiba.</p>
<p>“Seandainya benar, sebenarnya apa motifnya? Mengapa selalu aku yang ia incar?”</p>
<p>“Aku juga kurang tahu Le, tak usahlah dipikirkan kataku, itu teori ngawur. Ah, seharusnya aku pandai menjaga mulutku.”</p>
<p>Kenji bukan tipe orang yang berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu. Meskipun ia berkata demikian, aku yakin sebenarnya Kenji memiliki makna tersirat dari ucapannya yang terakhir. Sayangnya, aku tidak memiliki keinginan untuk medebatnya lebih jauh, dan beralih ke topik lain.</p>
<p>“Malik bilang bahwa ia sudah bercerita tentang aib keluargaku kepada teman-teman sekelas.”</p>
<p>“Sebenarnya ya, terutama ketika kamu masih menjadi <em>public enemy</em>. Namun yang perlu kamu ketahui, mereka berusaha mengonfirmasi kabar tersebut kepadaku. Tentu aku tak punya hak untuk menjawab, sehingga aku meminta mereka untuk bertanya langsung kepadamu, yang aku yakin belum mereka lakukan hingga sekarang.”</p>
<p>Ya, aku berkata dalam hati, mereka cukup cerdas untuk tidak mempercayai begitu saja kabar angin.</p>
<p>“Yang bisa aku katakan sekarang,” lanjut Kenji, “mereka tidak pernah mempersoalkan masalah pribadimu yang menurutmu kelam tersebut. Yang mereka pedulikan hanya dirimu yang sekarang, bukan yang dulu. Kamu harus percaya diri bahwa teman-teman di kelas peduli denganmu, dan mereka benar-benar ingin menjadi temanmu. Jika kamu sadar, setelah kamu minta maaf di depan kelas, pernahkah ada satu orang yang membahas masalahmu di masa-masa MOS?”</p>
<p>Aku menggelengkan kepala.</p>
<p>“Bahkan Bejo yang kurang menyukaimu pun tidak pernah secara gamblang membicarakan hal tersebut di depanmu maupun di depan teman-teman yang lain. Aku tidak menghitung Sarah, karena memang ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi di kelas. Karena itu, berhentilah merutuk diri sendiri, alihkan pikiranmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk hari esok.”</p>
<p>Aku menganggukkan kepala. Ceramah dari Kenji membuka pikiranku yang sempit ini. Sudah terlalu lama aku dikuasai energi negatif, sudah sepatutnya aku harus mengusir jauh energi tersebut dan menggantinya dengan energi positif. Dalam hati aku berjanji kepada diriku sendiri, kejadian seperti hari ini tidak boleh terulang kembali. Tidak boleh lagi ada pikiran yang mengganggu untuk malam ini dan seterusnya.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-28-pikiran-yang-mengganggu/">Chapter 28 Pikiran yang Mengganggu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-28-pikiran-yang-mengganggu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 27 Anak yang Tidak Diinginkan Orangtuanya</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-27-anak-yang-tidak-diinginkan-orangtuanya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-27-anak-yang-tidak-diinginkan-orangtuanya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2018 13:38:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 27]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=946</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah UAS, tidak ada kejadian yang istimewa di kelas. Semua berjalan seperti biasa, tidak adalah lagi peristiwa yang membuat kami gempar. Tentu aku tidak memberitahukan perihal foto-foto yang aku dan Kenji temukan kepada teman-teman sekelas. Selain karena pada dasarnya aku tidak suka bercerita, aku tidak menemukan alasan mengapa teman-teman akan merasa tertarik dengan foto tersebut. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-27-anak-yang-tidak-diinginkan-orangtuanya/">Chapter 27 Anak yang Tidak Diinginkan Orangtuanya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah UAS, tidak ada kejadian yang istimewa di kelas. Semua berjalan seperti biasa, tidak adalah lagi peristiwa yang membuat kami gempar. Tentu aku tidak memberitahukan perihal foto-foto yang aku dan Kenji temukan kepada teman-teman sekelas. Selain karena pada dasarnya aku tidak suka bercerita, aku tidak menemukan alasan mengapa teman-teman akan merasa tertarik dengan foto tersebut.</p>
<p>Hari ini, ketika mata pelajaran agama, kami disuruh menghafalkan beberapa ayat Al-Quran beserta artinya sebagai persiapan ujian kenaikan kelas. Nanti oleh guru kami, pak Gatot, akan disuruh maju satu per satu untuk diuji tingkat kehafalan kami. Hafalan bukan masalah bagiku, namun aku tidak tahu bagaimana pelafalan yang benar. Oleh karena itu, aku memutuskan pindah ke bangku Sica yang ditinggal pemiliknya untuk belajar kepada Rena, anak yang dianggap paling alim di antara kami.</p>
<p>“Hai Ren, aku mau minta bantuan kau.”</p>
<p>“Wih tumben amat Le? Bukannya kamu jago hafalan ya?”</p>
<p>Aku memberitahukan alasanku datang kepadanya.</p>
<p>“Oh gitu, ya udah sini aku kasih tau.”</p>
<p>Ketika Rena mengajariku, satu per satu teman sekelas ikut bergabung dengan kami, mendengarkan pelajaran dari Rena. Pak Gatot merupakan tipe guru yang tidak betah di kelas, sehingga beliau sedang keluar ruangan sampai waktunya kami dipanggil satu per satu.</p>
<p>***</p>
<p>Kelas selesai setelah semua teman satu kelas berhasil menyelesaikan hafalan. Padahal, jam pelajaran belum berakhir, masih kurang 30 menit sebelum pelajaran selanjutnya. Mungkin guru agama kami tersebut memahami beban kami sebagai anak akselerasi, sehingga beliau memberikan waktu untuk kami beristirahat.</p>
<p>Aku masih duduk di tempat Sica. Sekali-kali aku ingin mencoba bagaimana rasanya duduk di depan, bukan di sudut ruangan. Ternyata, sama saja. Tidak ada yang berbeda, kecuali jarak pandang yang lebih dekat. Malah, menurutku, lebih nyaman duduk tersembunyi di belakang sana.</p>
<p>Tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh pundakku. Kutolehkan kepalaku, Rena lah pelakunya.</p>
<p>“Kayaknya betah nih duduk di tempat Sica.”</p>
<p>Untunglah, menguasai ekspresi menjadi salah satu keahlianku, sehingga aku tidak salah tingkah ketika Rena berkata seperti itu.</p>
<p>“Ini mau balik ke bangkuku.” jawabku datar.</p>
<p>“Yeee, gitu aja ngambek. Bercanda Le.”</p>
<p>“Aku memang mau balik Ren.”</p>
<p>“Sini dulu aja, ngobrol sama aku. Kita bahas masa-masa SMP.”</p>
<p>Masa SMP? Sepertinya menarik mengetahui bagaimana diriku di masa kegelapan tersebut dari kacamata orang lain.</p>
<p>“Aku sebenarnya ingin tahu, bagaimana orang lain melihatku ketika SMP.”</p>
<p>“Wah banyak Le sebenarnya, aku sering mendengar kamu dibahas sama teman-teman sekelasku. Kamu yakin enggak akan emosi waktu aku cerita?”</p>
<p>“Yakin.”</p>
<p>“Hmmm, coba aku ingat-ingat,” katanya sambil menengadah ke langit-langit kelas, “rata-rata semua anak membencimu karena arogansimu.”</p>
<p>“Aku sudah tahu.”</p>
<p>“Mereka juga pernah bilang kamu sangat mengerikan kalau sudah berkelahi.”</p>
<p>“Itu juga aku sudah tahu.”</p>
<p>“Mereka kesal banget ke kamu sampai bilang kamu itu…” Rena menutup mulutnya, tidak meneruskan kalimatnya.</p>
<p>“Aku apa?”</p>
<p>“Enggak Le, bukan apa-apa.”</p>
<p>“Aku apa?” kuulangi pertanyaanku dengan nada yang lebih tinggi.</p>
<p>“Enggak Le, beneran.” ia tidak berani memandang mataku.</p>
<p>Aku menggebrak meja Rena dan mengulangi lagi pertanyaanku.</p>
<p>“AKU APA?”</p>
<p>“Leon, tenanglah, kamu membuat Rena ketakutan.” sebuah tangan menyentuh pundakku, seolah memberi energi positif untuk menetralisir emosiku. Siapa lagi kalau bukan Kenji.</p>
<p>Tanpa merespon Kenji, aku bangkit dari meja Sica untuk kembali ke bangkuku, meninggalkan Rena yang sudah setengah menangis.</p>
<p>***</p>
<p>Kejadian tadi membuatku memutuskan untuk keluar kelas setelah kelas sepi, bahkan meminta Kenji untuk pulang terlebih dahulu. Aku ingin sendiri terlebih dahulu, menyesali perbuatan kasarku ke Rena. Mungkin hal yang akan dikatakan Rena hanya akan menyakiti perasaanku, sehingga ia menahan fakta yang ia ketahui. Ia hanya ingin menjaga perasaanku, namun aku justru membentaknya. Besok, aku harus minta maaf ke Rena.</p>
<p>Berangsur-angsur kelas mulai sepi ditinggal penghuninya. Semakin sunyi sekitarku, semakin ramai pikiranku. Keheningan inilah yang kubutuhkan untuk interopeksi diri. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika tidak ada Kenji yang menenangkan diriku. Bukan, Kenji hanya perantara Tuhan untuk mengontrol diriku.</p>
<p>Selang beberapa menit, aku melihat seseorang mengintip kelasku. Orang yang tidak kuharapkan muncul ketika suasana hatiku buruk.</p>
<p>“Lo, Leon, belum pulang?” tanya Malik dengan melangkah masuk menuju arahku.</p>
<p>“Ada urusan apa?” kujawab pertanyaannya dengan pertanyaan.</p>
<p>“Aku hanya kangen kelas lamaku kok, ternyata masih ada yang belum pulang.”</p>
<p>Aku tidak merespon perkataannya. Aku tidak akan lupa wajah asli yang tersembunyi dari topeng manisnya tersebut.</p>
<p>“Oh ya Le, kamu tau enggak sih kalau kita satu SMP?”</p>
<p>Aku sempat terkejut mendengar pertanyaan ini. Untunglah, seperti kataku tadi pagi, aku pandai menyembunyikan ekspresi.</p>
<p>“Tidak.”</p>
<p>“Wah aku tersinggung lo Le, padahal aku sering memperhatikan dirimu waktu SMP. Anak jenius yang sering dipuji oleh guru, walaupun kamu selalu menyendiri.”</p>
<p>Aku tetap diam tidak merespon dirinya.</p>
<p>“Mungkin jika aku mengalami kejadian seperti yang kamu alami, aku juga akan menjadi penyendiri seperti dirimu.”</p>
<p>Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan kekagetanku mendengar pernyataannya. Kutatap kedua matanya, yang tetap berada di balik topeng munafik tersebut.</p>
<p>“Apa maksudmu?”</p>
<p>“Mungkin tidak semua tahu Le tentang tragedi keluargamu tersebut, tapi aku tahu.”</p>
<p>“Aku tidak paham maksudmu.”</p>
<p>Sebenarnya aku tahu ke mana arah pembicaraannya, namun aku tidak percaya ada orang lain yang mengetahui kejadian tersebut.</p>
<p>“Aku ada di sana Le, ketika ambulan datang menuju rumahmu dan membawa tubuh ibumu. Kamu lupa, aku tinggal di depan rumahmu waktu itu sebelum pindah.”</p>
<p>Aku terdiam, sama sekali tidak bisa memberikan reaksi kepada Malik. Ia tetap memasang wajah penuh perhatian, walaupun aku merasa ada tawa di balik itu.</p>
<p>“Aku berusaha untuk menghiburmu Le, menjadi temanmu, namun kamu tidak pernah menghiraukanku.”</p>
<p>Perlahan aku ingat sedikit memori tentang Malik ketika aku kecil. Ya, wajahnya memang nampak familiar jika diperhatikan baik-baik.</p>
<p>“Kau kakak dari Ucup?”</p>
<p>“Nah itu kamu ingat, tapi mungkin kamu belum dengar kabarnya. Ucup meninggal satu tahun yang lalu, aku kehilangan adikku.”</p>
<p>Meskipun tidak pernah akrab dengan teman satu kampung, aku merasa sedih mengetahui fakta bahwa satu dari mereka telah tiada. Meskipun demikian, tidak ada ucapan belasungkawa pun yang keluar dari mulutku.</p>
<p>“Seandainya aku tidak pindah rumah, mungkin kamu sudah kuajak tinggal bersamaku Le.”</p>
<p>“Seandainya begitu, aku akan menolaknya.”</p>
<p>“Begitu ya, hahaha, kalau gitu aku balik dulu ya.”</p>
<p>Ia segera berbalik dan melangkah keluar kelas, mungkin topengnya hampir lepas menghadapiku. Segala kebaikan yang ia ucapkan kepadaku tak lebih dari sekadar omong kosong. Aku tak akan pernah menerima kebaikan yang palsu seperti itu.</p>
<p>“Oh iya, omong-omong,” Malik yang sudah di ambang pintu berbalik, “aku berusaha memberitahu teman-teman yang lain alasan mengapa kamu seperti itu. Harapanku, dengan mengetahui kondisimu, pikiran mereka akan berubah. Sayangnya, aku salah, itu tidak mengubah pikiran mereka tentangmu.”</p>
<p>Kali ini aku langsung berdiri menghampirinya dan menarik kerahnya.</p>
<p>“Maksudmu, kau menyebarkan aib keluargaku?”</p>
<p>“Aib? Itu bukan aib Le, itu kejadian nyata. Mereka berhak tau apa yang terjadi.”</p>
<p>“Kau tidak punya hak untuk menyebarkan kejadian itu, brengsek.”</p>
<p>“Lalu bagaimana? Itu sudah terjadi. Lagipula, itu tidak akan terjadi seandainya kamu tidak mengasingkan diri Le. Aku ulangi lagi, aku hanya berusaha untuk membantu.”</p>
<p>“Kau sama sekali tidak membantu.”</p>
<p>“Kalau gitu, aku minta maaf, okay, aku minta maaf.”</p>
<p>Aku melepas tarikanku dengan sedikit mendorongnya. Ia agak terbatuk setelah kulepaskan. Setelah diperlakukan seperti itu, topengnya tetap tidak mau terlepas di hadapanku.</p>
<p>“Kau juga cerita itu kepada teman sekelasku?”</p>
<p>“Hanya kepada yang membicarakanmu di belakang. Aku rasa tidak perlu menyebutkan siapa. Yang jelas, teman-teman sekelasmu tidak pernah membicarakanmu lagi semenjak perubahanmu.”</p>
<p>Aku meninggalkannya begitu saja, kembali masuk ke dalam kelas. Rahasia yang selama ini berusaha kusembunyikan ternyata disebar begitu saja oleh Malik. Percuma saja selama ini aku diam, ada mulut-mulut orang lain yang menyebarkan aibku. Berawal dari satu orang, menyebar perlahan ke orang lain seperti virus. Aku merasa tahu apa yang akan diucapkan oleh Rena tadi pagi.</p>
<p>“Mereka kesal banget ke kamu sampai bilang kamu itu <em>tidak diinginkan oleh orangtuamu</em>.”</p>
<p>Aku meletakkan kepala di mejaku, dan tanpa bisa kutahan, aku mulai terisak menangis meratapi nasibku sebagai anak yang tidak diinginkan oleh orangtuanya.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-27-anak-yang-tidak-diinginkan-orangtuanya/">Chapter 27 Anak yang Tidak Diinginkan Orangtuanya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-27-anak-yang-tidak-diinginkan-orangtuanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 26 Dua Foto dengan Makna Tersirat</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-26-dua-foto-dengan-makna-tersirat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-26-dua-foto-dengan-makna-tersirat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2018 03:57:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 26]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=919</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Wahai pangeran kegelapan, aku ingin memberi laporan untuk Anda.” Ketika waktu istirahat, entah kenapa si unik Rika datang ke bangkuku dan seperti biasa, seenaknya sendiri memasukkan diriku ke dalam alam khayalnya. “Hei Rika, kenapa aku selalu kau panggil dengan pangeran kegelapan?” tanyaku kepadanya, mencoba keluar dari imajinasinya. “Bukankah engkau sendiri yang membuat nama tersebut, lalu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-26-dua-foto-dengan-makna-tersirat/">Chapter 26 Dua Foto dengan Makna Tersirat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Wahai pangeran kegelapan, aku ingin memberi laporan untuk Anda.”</p>
<p>Ketika waktu istirahat, entah kenapa si unik Rika datang ke bangkuku dan seperti biasa, seenaknya sendiri memasukkan diriku ke dalam alam khayalnya.</p>
<p>“Hei Rika, kenapa aku selalu kau panggil dengan pangeran kegelapan?” tanyaku kepadanya, mencoba keluar dari imajinasinya.</p>
<p>“Bukankah engkau sendiri yang membuat nama tersebut, lalu mengapa engkau bertanya kepadaku yang rakyat jelata ini?”</p>
<p>Aku seperti mengalami <em>dejavu</em>. Adegan ini sepertinya pernah kualami, walaupun kejadian sebelumnya aku lah yang menghampiri Rika. Aku yang sedang pusing dengan berbagai peristiwa yang terjadi kemarin memutuskan untuk segera mengakhiri permainan ini.</p>
<p>“Hentikan Rika, kau membuatku sebal.”</p>
<p>“Ih, Leon enggak asyik ah, enggak bisa diajak berfantasi.”</p>
<p>“Coba sebutkan, satu orang yang mau diajak berfantasi olehmu.”</p>
<p>“Ada kok, Kenji.”</p>
<p>Ya, aku tidak heran jika Kenji meladeni Rika karena sifatnya yang selalu menghargai orang lain. Mungkin bisa saja Kenji adalah satu-satunya manusia di muka bumi yang tahan menghadapi segala keanehan pada Rika, jika itu bisa disebut sebagai keanehan. Dengan menghela nafas, aku berusaha untuk sabar menghadapinya.</p>
<p>“Jadi, apa yang ingin kau laporkan?”</p>
<p>“Hehehe, dulu aku pernah cerita kan, kalau aku mendapatkan inspirasi cerita dari hubunganmu dengan Kenji.”</p>
<p><em>Aku lupa</em>.</p>
<p>“Nah, ini kemarin sudah selesai setelah sempat berhenti karena UAS. Aku sih berharap kamu mau baca dan kasih tanggapan. Nanti baca berdua sama Kenji ya.”</p>
<p><em>Bukan tentang pangeran kegelapan kan? </em>Tanyaku dalam hati, malu ingin bertanya secara langsung. Biarlah kubaca nanti, toh nanti aku akan tau sendiri setelah selesai membacanya. Maka dari itu, kuterima naskah dari Rika. Semoga saja segala hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini bisa teralihkan dengan tulisan karya anak yang selalu berimajinasi ini.</p>
<p>***</p>
<p>“Jadi, Rika meminta kita membaca novelnya? Tentu saja dengan senang hati akan kubaca.” kata Kenji di rumahku sepulang sekolah. Karena UAS baru saja berakhir, kami sedikit mengurangi intensitas belajar bersama di kelas, dan kembali mengajar Gisel seperti dulu lagi.</p>
<p>“Baiklah, silahkan baca duluan.” kataku sembari menyodorkan naskah yang diberikan kepada Rika tadi.</p>
<p>“Hmm, ‘Sepasang Kaus Kaki’? Judul yang menarik dan sedikit imut menurutku, cocok dengan Rika, hahaha.”</p>
<p>“Apa kau juga membaca novel?”</p>
<p>“Ah, aku membaca semua yang bisa dibaca Le, bahkan kandungan bahan yang terdapat di kotak kemasan pun aku baca, hahaha.”</p>
<p>“Ini kakak berdua ngobrol terus kapan ngajari Giselnya?” protes Gisel karena kami terus berbicara.</p>
<p>Dengan tertawa, Kenji mengalihkan fokusnya ke Gisel. Sebenarnya aku ingin menanyakan perihal foto yang kutemukan kemarin, tapi aku rasa lebih baik jika aku bertanya setelah Gisel selesai belajar.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah Gisel merasa lelah dan kembali ke kamarnya untuk istirahat, aku memberikan foto tersebut kepada Kenji.</p>
<p>“Kenji, ini ibumu bukan?”</p>
<p>Kenji mengambil foto tersebut dan nampak terkejut. Ia sama sekali tidak bisa berbohong, sehingga aku tau bahwa ia benar-benar terkejut, bukan hanya sekedar reaksi yang dibuat-buat.</p>
<p>“Benar Le, ini ibuku, berarti ibu kita, saling kenal begitu?” tanya Kenji.</p>
<p>“Justru aku ingin menanyakan hal tersebut.”</p>
<p>“Hmmm, menarik sekali, aku tidak menemukan satupun foto ibumu di album keluargaku Le. Apakah ada foto lain?”</p>
<p>“Setelah menemukan foto tersebut, aku mencoba untuk mencari foto-foto lainnya, tapi hasilnya nihil.”</p>
<p>“Mungkin ada di tempat lain Le, nanti aku juga akan mencari lagi di rumahku.”</p>
<p>Aku melihat Kenji nampak bahagia melihat foto tersebut. Apa gerangan yang membuatnya seperti itu?</p>
<p>“Tentu saja aku senang Le, karena ternyata ibu kita bersahabat. Seandainya saja mereka berdua masih hidup, pasti…” Kenji tidak melanjutkan kalimatnya dan aku pun tidak tertarik untuk mengorek lebih dalam.</p>
<p>“Ada tujuh orang di sana, apakah kau kenal dengan yang lainnya?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.</p>
<p>“Aku rasa tidak Le, aku merasa belum pernah bertemu mereka. Akan tetapi, entah mengapa rasanya aku familier dengan yang ini.” jawabnya sambil menunjuk seorang laki-laki yang berambut keriting.</p>
<p>“Di mana kira-kira?”</p>
<p>“Entahlah Le, aku tidak bisa memastikan. Omong-omong, kenapa nampaknya kamu sangat tertarik dengan foto ini?”</p>
<p>“Karena ada foto ibumu.”</p>
<p>“Bukan, aku merasa ada sesuatu yang lebih besar dari itu.”</p>
<p>“Aku tidak merasa begitu.”</p>
<p>“Kamu merasakan sesuatu kan Le setelah melihat foto ini.” kata Kenji, lebih ke pernyataan daripada pertanyaan.</p>
<p>Sebenarnya iya, aku memiliki firasat foto ini menyimpan sesuatu yang besar. Hanya saja, aku belum tahu hal apa itu. Bisa saja firasatku salah, meskipun selama ini firasatku seringkali benar. Mungkin karena tempaan hidup yang begitu berat, membuat instingku terasah.</p>
<p>“Apa kamu tau di mana ibumu kuliah?” tanya Kenji, setelah aku hanya diam selama beberapa menit.</p>
<p>“Entahlah, aku tidak pernah menanyakannya kepada ibuku.”</p>
<p>“Jika benar ini foto teman kuliah, kemungkinan ibumu juga berkuliah di tempat ibuku berkuliah Le.” kata Kenji ditambah dengan menyebutkan nama universitasnya.</p>
<p>Lalu, tiba-tiba aku teringat kejadian yang membuatku penasaran kemarin.</p>
<p>“Kenji, kemarin aku melihat dirimu terlihat terkejut ketika mengambil salah satu foto dari albummu. Foto apa itu?”</p>
<p>Kenji nampak terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaanku, mungkin tidak menyangka aku benar-benar memikirkan tentang ekspresinya kemarin. Ia menimbang-nimbang jawaban, mungkin tahu percuma saja jika ia ingin mengarang jawaban, aku akan segera mengetahuinya.</p>
<p>“Aku mengambil foto ibuku Le.” jawabnya tenang.</p>
<p>“Lalu mengapa kau tegang?”</p>
<p>“Kamu salah lihat sepertinya Le, bukan tegang melainkan terkejut. Beda lo, hehehe.”</p>
<p>“Itu tidak penting, yang penting mengapa kau seperti itu.”</p>
<p>Kenji terlihat menarik nafas dalam-dalam, seolah menjawab pertanyaanku adalah sesuatu yang menambah beban hidupnya. Ia menerawang ke langit-langit dengan tersenyum, entah itu untuk menutupi perasaannya atau bukan.</p>
<p>“Aku menemukan catatan kecil di balik foto tersebut. Silahkan dilihat sendiri, karena kebetulan aku sedang membawanya.”</p>
<p>Kenji membuka ranselnya dan mengambil satu lembar foto. Aku balik halamannya, dan terlihat tulisan tangan dengan warna tinta yang sudah memudar.</p>
<p style="text-align: center;"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-920" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-23_105554.jpg" alt="" width="344" height="409" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-23_105554.jpg 537w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-23_105554-253x300.jpg 253w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-23_105554-215x255.jpg 215w" sizes="(max-width: 344px) 100vw, 344px" /></p>
<p>            “Kebenaran apa?” tanyaku sambil mengembalikan foto tersebut.</p>
<p>“Aku juga belum tahu Le, hanya saja, aku terkejut ibuku menulis sesuatu seperti ini.”</p>
<p>“Melawan rezim mungkin? Kau tau sejarah bangsa kita.”</p>
<p>“Bisa jadi, mungkin ini hanya pergerakan mahasiswa untuk menuntut presiden kala itu untuk mundur.”</p>
<p>“Aku masih belum menangkap bagian mana yang membuatmu terkejut.”</p>
<p>“Aku tidak pernah bertemu ibuku Le, dan selama ini aku menganggap ibuku adalah sosok yang lemah lembut. Tidak kusangka ibuku bisa menulis kata-kata penyemangat seperti ini.”</p>
<p>Aku membaca kembali tulisan yang tertulis di lembar foto tersebut. Ada tanggal yang tertera di sana.</p>
<p>“Apa kau lahir di tanggal ini?”</p>
<p>“Bukan Le, aku lahir tahun 1995. Aku juga bingung apa makna dari tanggal tersebut.”</p>
<p>“Mungkin kah, pesan ini disampaikan kepada orang-orang yang ada di foto ini pada tanggal tersebut?” tanyaku dengan menunjuk foto milikku yang berisi tujuh orang tersebut.</p>
<p>“Semua kemungkinan bisa saja terjadi Le, tapi tidak ada data yang mendukung hal tersebut. Menarik kesimpulan tanpa data adalah kesalahan besar, seperti kata Sherlock Holmes.”</p>
<p>“Baiklah, mungkin kita saja yang terlalu berlebihan memikirkan foto-foto ini.”</p>
<p>“Benar Le, hahaha. Padahal ada pilihan yang lebih sederhana daripada berasumsi ini itu.”</p>
<p>Aku kembali menatap kedua foto tersebut. Entah ada misteri apa di baliknya, namun aku berharap dua foto ini hanyalah foto biasa tanpa ada makna yang tersirat.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-26-dua-foto-dengan-makna-tersirat/">Chapter 26 Dua Foto dengan Makna Tersirat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-26-dua-foto-dengan-makna-tersirat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 25 Album Keluarga</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-25-album-keluarga/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-25-album-keluarga/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Jun 2018 07:34:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 25]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=900</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melihat album keluarga Kenji membuatku ingin membuka album keluargaku. Itupun kalau di rumah ada. Pertama, aku mencoba untuk mencari di ruang keluarga, hasilnya nihil. Di ruang tamu, nihil juga. Di kamarku dan kamar Gisel juga tidak ketemu. Karena itu, aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah lama tidak aku buka. Ruangan yang selama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-25-album-keluarga/">Chapter 25 Album Keluarga</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Melihat album keluarga Kenji membuatku ingin membuka album keluargaku. Itupun kalau di rumah ada. Pertama, aku mencoba untuk mencari di ruang keluarga, hasilnya nihil. Di ruang tamu, nihil juga. Di kamarku dan kamar Gisel juga tidak ketemu. Karena itu, aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah lama tidak aku buka. Ruangan yang selama ini aku tutup untuk membuang segala memori buruk. Aku akan membuka bekas kamar orangtuaku.</p>
<p>Bukan ruangan penuh debu yang aku temukan, melainkan ruangan yang begitu rapi. Mungkin ketika Gisel membersihkan rumah, ia juga membersihkan ruangan ini. Aku pun menjadi heran, bagaimana seorang anak kecil bisa menyapu dan mengepel? Terlalu banyak yang aku lewatkan selama tiga tahun. Tunggu, berarti Gisel sudah mulai memasak dan lainnya mulai usia 6 tahun? Selain itu, artinya sudah tiga tahun Gisel menerima perlakuan burukku? Banyaknya pertanyaan yang tak terjawab membuat aku mengurungkan niatku untuk mencari album keluargaku, karena aku ingin mendapatkan jawaban Gisel terlebih dahulu untuk pertanyaan-pertanyaanku.</p>
<p>“Gisel, kau masih bangun?” tanyaku ketika memasuki kamarnya.</p>
<p>“Masih kok kak, kenapa?” jawabnya di atas kasur.</p>
<p>“Kakak mau tau, selama tiga tahun terakhir ini, sejak kakak masuk SMP, siapa yang mengurus rumah?”</p>
<p>“Tentu saja mbok Sum, pembantu kita. Apa kakak lupa?”</p>
<p>“Iya, kakak ingat sedikit, jadi setelah…” aku berat untuk mengatakan setelah ibu meninggal, “setelah kejadian itu, bukankah pembantu tersebut keluar?”</p>
<p>“Setelah ibu enggak ada maksud kakak? Enggak keluar kok kak.”</p>
<p>“Tapi kakak sudah lama tidak lihat dia.”</p>
<p>“Jadi gini kak, mbok itu takut sama kakak, jadinya kalau ke rumah cuma waktu kakak sekolah aja. Gisel yang ngasih tahu kapannya.”</p>
<p>“Kan kakak lama enggak ngasih gaji, lalu siapa yang menggajinya?”</p>
<p>Gisel memandangku dalam diam untuk sesaat, lalu menghela nafasnya panjang.</p>
<p>“Sebenarnya, beliau rela tidak digaji untuk mengurus kita kak. Beliau sudah begitu sayangnya sama ibu, sehingga ia merasa kalau kita adalah tanggung jawabnya juga. Beliau yang mengajarkan Gisel bagaimana merawat rumah yang baik, bagaimana menggunakan peralatan bersih-bersih. Bahkan beliau sampai membuatkan peralatan yang sesuai dengan tinggi Gisel.”</p>
<p>“Lalu, bagaimana dengan uang belanja? Untuk bahan makanan kan butuh uang Gisel?”</p>
<p>“Beliau dapat uang dari keluarganya kak, kan sawah keluarganya mbok Sum dijual terus hasilnya dibagi-bagi. Sebagian uang itu disisihkan buat kita kak.”</p>
<p>Aku semakin terperangah mendengar penuturan Gisel karena tidak menyangka begitu banyak hal yang aku lewatkan. Kuputuskan untuk masuk ke dalam kamar Gisel, duduk di sudut tempat tidurnya dengan posisi menghadap dirinya.</p>
<p>“Lalu, apakah mbok Sum masih ke sini?” tanyaku kepada Gisel yang mukanya masih dihiasi dengan penasaran.</p>
<p>“Udah enggak sih kak, ya baru-baru ini aja, soalnya mbok Sum kembali ke desanya sana, di gunung katanya, Gisel enggak inget nama tempatnya. mbok Sum mau ngurus bapaknya yang sakit di sana.”</p>
<p>Gisel terdiam sesaat, raut wajahnya menjelaskan semua. Ia kangen dengan mbok Sum.</p>
<p>“Gisel mau cerita sesuatu ke kakak?”</p>
<p>Dengan menarik nafas panjang, Gisel memulai ceritanya.</p>
<p>“Setelah ibu enggak ada, Gisel emang belum terlalu ngerti kak apa makna dari mati. Gisel merasa kalau ibu cuma pergi sebentar aja, nanti bakalan balik. Mbok Sum kak yang selama ini menggantikan peran ibu, walaupun tidak bisa seharian penuh karena ia juga punya tanggung jawab ke keluarganya.</p>
<p>“Selama tiga tahun, mbok Sum mengajari Gisel berbagai hal karena katanya, suatu saat Gisel yang akan mengurus kakak. Mbok Sum bilang, kakak sedang berada di posisi yang sangat menyedihkan, dan karena mbok Sum hampir tidak punya waktu, mbok Sum pesan ke Gisel untuk merawat kakak. Makanya, Gisel berusaha bikin roti buat kakak tiap hari, terus masak dikit-dikit.”</p>
<p>“Gisel dapat uang darimana?” tanyaku semakin penasaran.</p>
<p>Gisel tidak langsung menjawab. Ia melipat-lipat tangannya dan terlihat sedikit gugup.</p>
<p>“Sebelumnya maaf kak, selain sering ambil buku kakak diam-diam, Gisel juga ambil uang kiriman paman di kamar kakak. Soalnya Gisel enggak punya ide lagi harus bagaimana bisa dapat uang, Gisel kan masih kecil kak enggak bisa kerja. Kalau bisa pasti Gisel sudah kerja buat kakak.”</p>
<p>Aku memandangi kedua mata Gisel, di sana tidak terlihat sedikit pun kebohongan. Ia jujur, dan dengan berjiwa besar berani mengakui bahwa ia telah melakukan pencurian karena keterpaksaan. Bukan, bukan pencurian, karena sejatinya uang tersebut adalah haknya juga. Aku saja yang egois menggunakan untuk diriku sendiri. Aku tersadar, betapa tidak pedulinya aku dengan sekelilingku selama ini, selama tiga tahun lebih.</p>
<p>“Kakak enggak marah kan?” tanya Gisel melihat reaksi diamku mendengar pengakuannya.</p>
<p>Aku menjawabnya dengan memeluk Gisel dengan erat, berusaha keras agar air mataku tidak tumpah. Betapa jahatnya diriku ini, tega membuat anak tak berdosa mengalami masa kecil yang menyakitkan. Tidak ada kata yang terucap dari bibirku, namun aku yakin perasaanku akan sampai kepada Gisel. Kami adalah saudara, ikatan batin kami terjalin dengan kuat, setidaknya setelah aku sadar akan keburukanku.</p>
<p>Selain itu, aku berjanji, suatu saat akan mengunjungi mbok Sum dan berterima kasih untuk segalanya.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah ngobrol beberapa saat, Gisel memutuskan untuk tidur karena sudah mengantuk. Sebelumnya, ia mengatakan bahwa senang dengan perubahanku. Perubahan? Aku rasa tidak. Ini bukan perubahan, melainkan kembali ke diriku yang semula. Aku merasa inilah diriku yang dulu sebelum kejadian itu. Atau tidak? Apakah sifat burukku terbentuk oleh perlakuan buruk dari ayah? Mana yang benar? Aku rasa membutuhkan waktu yang lama untuk memahami ini semua, memahami diriku sendiri.</p>
<p>Aku kembali ke kamar orang tuaku untuk mencari apa yang aku cari mulai tadi sore. Mataku langsung menangkap adanya album di atas lemari pakaian. Mudah sekali ternyata menemukannya. Dengan bantuan sebuah kursi aku mengambil album tersebut. Lumayan berdebu, namun hanya perlu sekali usapan untuk membersihkannya.</p>
<p>Kuletakkan album keluargaku –lebih tepatnya tiga buah album– di meja makan, lalu aku kembali ke kamar orang tuaku. Aku ingin melihat barang-barang yang ada di kamar ini. Dimulai dari lemari dimana album tadi berada. Kubuka pintu lemari, kedua-duanya, dan terlihat pakaian-pakaian almarhumah ibuku dan ayah. Isi lemari ini didominasi baju ibuku, dan ini jelas sekali karena ayah jarang di rumah. Aku ambil salah satu helai pakaiannya, kedekap dalam kepalaku, wanginya masih sama seperti itu, wangi ibu.</p>
<p>Aku teringat bagaimana baiknya ibu, bagaimana ia berjuang demi anak-anaknya dengan kelakuan suami yang sebiadab itu. Aku teringat bagaimana ia berusaha memberikan segalanya, bagaimana ia tersenyum dalam tangis. Aku teringat bagaimana ia kerap kali keluar rumah dengan membawa Gisel yang masih bayi keliling daerah rumahku. Aku teringat, meskipun ibu tidak bekerja, ia memiliki kesibukan yang jika aku bertanya, ia hanya menjawab ‘sekedar melakukan hobi’.</p>
<p>Semua ingatan itu membuatku berpikir ulang, apakah mungkin seorang ibu yang ada diingatanku akan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri karena perlakuan kejam suaminya? Apakah mungkin seorang ibu yang ada diingatanku akan menelantarkan anak-anaknya begitu saja? Ataukah ada penyebab lain, atau bahkan ada yang merekayasa kematian ibuku?</p>
<p>Kubuang jauh-jauh pikiran tidak realistis seperti itu. Ini bukan cerita misteri, ini kehidupan nyata. Lagipula, apa untungnya membunuh seorang ibu rumah tangga? Kecuali jika ibuku memiliki suatu rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya, dan ada seseorang yang tidak ingin mengetahui rahasia ini terbongkar. Tetapi sekali lagi, ini adalah kehidupan nyata, bukan kisah misteri.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah kubersihkan dengan kain kering, mulailah petualanganku dengan album keluargaku. Album pertama bersampul hitam, berisi tentang foto-foto masa muda ibu dan ayahku. Ibu dari kecil sudah terlihat kecantikannya –yang aku rasa tidak mirip siapa-siapa di antara aku dan Gisel– terlihat sangat enerjik waktu muda. Beberapa foto menunjukkan prestasi-prestasi selama duduk di bangku sekolah. Jelaslah mengapa aku dan Gisel menjadi secerdas ini, karena memang IQ menurun dari pihak ibu. Di lain sisi, foto masa kecil ayah biasa saja. Bahkan terlihat sosok licik dari matanya yang masih kecil itu. Tidak ada yang lagi yang spesial, aku menutup album pertama ini.</p>
<p>Album kedua, nampaknya bertemakan masa-masa ketika orangtuaku bertemu, pacaran lalu menikah. Nampak ada foto wisuda mereka berdua, foto ketika ke pantai bersama, dan tentunya foto ketika akad dan rersepsi. Wajah mereka berdua nampak begitu bahagia di album kedua ini, namun mengapa semuanya berubah?</p>
<p>Aku berharap akan menemukannya di album ketiga. Namun nyatannya, isinya hanya ada fotoku waktu bayi. Disini, entah mengapa ekspresi ibu mulai berubah dari album-album sebelumnya. Nampak sekilas di raut wajahnya ada rasa tertekan, meskipun ia berusaha untuk menyamarkannya dengan senyuman. Tidak butuh seorang ahli seperti Kenji untuk menyadari hal ini, orang awam pun pasti sadar dengan hal ini. Anehnya lagi, di album ini tidak ada foto Gisel sama sekali. Mungkin album ini dulu dirancang untuk menjadi semacam <em>timeline </em>kehidupan anak-anak dari ayah dan ibuku. Sayangnya di tengah jalan, semua menjadi macet, berhenti tanpa ada kelanjutan. Bahkan foto tertuaku adalah foto ketika aku masuk TK, tidak ada fotoku ketika SD.</p>
<p>Keganjilan demi keganjilan aku rasakan dalam album ketiga ini membuat aku merasa pusing. Ditambah lagi munculnya ide gila tentang konspirasi pembunuhan ibuku, membuatku benar-benar merasa lelah. Maka kuputuskan untuk menutup album keluargaku dan beranjak tidur untuk melepaskan penat hari ini.</p>
<p>Satu lembar foto terjatuh ketika aku hendak mengembalikan album-album ini. Kuletakkan kembali tumpukan album yang kubawa, lalu kupungut foto tersebut. Nampaknya ini adalah foto ibuku semasa kuliah, yang artinya kemungkinan besar foto orang-orang lain di sekeliling ibuku adalah teman-temannya.</p>
<p>Tunggu, aku merasa pernah melihat satu orang diantara mereka. Aku merasa pernah melihat sebelumnya, wajah ini tidak asing. Apakah karena kecantikannya? Atau karena dia termasuk salah satu keluargaku? Tetangga mungkin?</p>
<p>Lalu aku ingat, wajah tersebut baru saja aku lihat hari ini di rumah Kenji. Ia adalah ibunda Kenji.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-25-album-keluarga/">Chapter 25 Album Keluarga</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-25-album-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
