Chapter 28 Pikiran yang Mengganggu

Sekitar Maghrib aku baru beranjak pulang. Aku yakin Kenji masih berada di rumahku untuk mengajari Gisel. Kami memutuskan bahwa belajar bersama bersama Yuri dan kawan-kawan lainnya baru akan dimulai awal bulan November nanti, sehingga kami bisa mengajar Gisel sepulang sekolah seperti biasa.

Benar saja, Kenji masih berada di rumahku ketika aku menginjakkan kaki di pintu rumahku. Semoga saja mereka tidak menyadari bahwa aku baru saja menangis. Aku belum siap untuk menceritakan apa yang terjadi di kelas sore ini.

“Kok baru pulang kak? Gisel kepikiran lo kak.” sambut adikku dengan polosnya.

“Tidak apa-apa.” kataku datar sembari berjalan terus menuju kamarku. Kejadian hari ini terlalu menguras emosi, dan emosi membutuhkan tenaga, sehingga aku merasa sangat lemas dan segera ingin beristirahat. Namun apa daya, banyak pikiran akan menghalangi keinginanku untuk tidur, sehingga aku hanya akan terdiam di kasur selama berjam-jam.

Terdengar suara ketukan pintu, yang kuyakin dilakukan oleh Kenji. Mungkin ia bisa membaca apa yang aku pikirkan, sehingga ia berusaha untuk menghiburku. Maaf Kenji, aku sedang ingin sendirian, tidak ingin diganggu oleh siapapun.

“Le, ada Rena, mau bicara samu katanya.”

Eh? Ada Rena? Bukankah ini kesempatan yang baik untuk meminta maaf, sehingga tidak perlu lagi mengulur-ngulur waktu yang tak pasti? Baiklah, kutegarkan diriku, kukontrol ekspresi wajah agar terlihat tenang, dan kumantapkan hati.

Aku melangkahkan kaki, membuka pintu, dan terlihatlah Kenji sedang menantiku. Kenji adalah kawan yang setia serta memiliki hati yang tulus. Beruntunglah aku bertemu dengannya di SMA ini.

“Di mana Rena?”

“Di rumahnya Le.”

“Maksudmu, kau membohongiku?”

“Iya dan tidak. Di sini ada Rena aku berbohong, tapi Rena ingin bicara denganmu adalah sebuah kejujuran.” katanya tetap tenang.

“Lalu apa maksudmu?”

“Pertama biar kamu keluar dari kamar dan meratapi diri, dan yang kedua aku ingin mengajakmu bertemu dengan Rena. Aku sudah janjian dengannya sore ini, setelah membuat perkiraan berapa lama kamu akan menyendiri di sekolah. Agak kelebihan sedikit dari prediksiku, namun sama sekali belum terlambat.” kata Kenji dengan riang.

Aku diam saja mendengar penuturannya, lalu mengikuti kemauannya. Mungkin memang ini yang harus aku lakukan agar segala macam pikiran yang mengganggu ini bisa hilang.

***

Kenji dan Rena sepakat pertemuan akan dilakukan di tempat nongkrong dekat sekolah. Aku tidak pernah ke sana sebelumnya karena memang aku tipe yang langsung pulang ke rumah sepulang sekolah. Mungkin didikan ayahku yang tak tahu diri itu yang membuatku menjadi seperti itu. Untung saja, setelah ia pergi entah ke mana, aku tidak mengubah kebiasaan tersebut.

Sepanjang perjalanan, aku dan Kenji hanya saling berdiam diri. Mungkin Kenji menahan diri melihat situasinya yang kurang mendukung untuk berdiskusi. Salah satu kelebihan lainnya dari Kenji adalah kebijaksanaannya dalam melihat suatu kondisi. Ia tahu harus berbuat apa ketika terjadi sesuatu. Belum lagi ketenangannya dalam melihat permasalahannya. Aku menjadi penasaran, sifat-sifatnya tersebut berasal dari didikan orang tuanya atau trauma yang pernah dihadapinya? Kusimpan pertanyaan ini untuk lain waktu.

Akhirnya setelah sekitar 15 menit kami berjalan, kami sampai di lokasi. Aku melihat Rena sudah duduk di sana seorang diri. Ketika melihat kami, terlihat getir di matanya, menandakan ketakutan terhadap kehadiranku. Sayangnya, aku tak bisa melempar senyum untuk mengurangi ketakutannya tersebut.

Setelah memesan minuman, Kenji memulai tugasnya sebagai mediator tanpa diminta.

“Jadi, kawan-kawanku, hari ini terdapat peristiwa yang aku yakin terjadi karena kesalahpahaman semata. Alangkah baiknya jika hari ini juga masalah tersebut selesai dan kalian bisa saling memaafkan.”

Melihat Rena yang terus gelisah sambil memainkan tangannya, aku mengambil inisiatif untuk mengatakannya duluan.

“Aku minta maaf.”

“Hahaha, sangat kamu sekali Le, singkat dan tegas. Harusnya kamu sedikit santai minta maafnya, dan disertai alasan mengapa kamu minta maaf.” Kenji menegur cara minta maafku yang, mungkin, agak sedikit kasar.

“Rena, aku minta maaf karena telah menyentakmu tadi di kelas. Aku hanya terbawa emosi sesaat.”

“Aku juga minta maaf Le, seharusnya aku tahu batas-batas mana yang boleh diceritakan, mana yang sekiranya tidak menyakiti perasaanmu. Terkadang, kenyataan yang pahit harus disembunyikan agar hati tak terluka.”

“Sayangnya aku tipe orang yang memilih untuk menelan pil pahit tersebut daripada harus menyembunyikannya di sudut kotak obat. Aku sudah mengalami berbagai macam peristiwa yang memilukan Ren, peristiwa yang belum tentu orang lain kuat menghadapinya. Aku bukan tipe orang yang hancur hanya karena menghadapi satu fakta yang menyakitkan.”

Aku yang biasanya sangat terbatas berbicara mendadak menjadi sangat cerewet, entah apa penyebabnya. Rena memperhatikan dengan seksama, juga terlhat sedikit terkejut mendengarkanku berbicara panjang setelah sekian lama.

“Jadi, seandainya aku meneruskan perkataanku tadi siang, kamu enggak akan marah?”

“Marah urusan lain, itu hanya salah satu ekspresi yang digunakan untuk menghadapi kenyataan tersebut. Namun yang pasti, aku tidak akan marah kepada kau, aku hanya akan marah kepada orang lain yang menganggapku anak yang tidak diinginkan oleh orangtuanya.”

“Apa Le?” kini Rena memandangku dengan heran.

“Itu bukan kelanjutan kalimatmu? Mereka menganggapku sebagai anak yang tidak diinginkan oleh orangtuanya?”

Rena memandang ke arah Kenji, seolah meminta penjelasan atas perkataanku barusan. Kenji melihatku sebentar, lalu mengatupkan kedua matanya seolah ingin berpikir.

“Tidak ada yang berkata seperti itu Le, mereka menganggapmu sebagai anak setan, bukan seperti yang kamu ucapkan.”

***

“Kamu bertemu Malik sepulang sekolah ya Le.” tanya Kenji ketika kami telah berada di rumahku, setelah aku dan Rena bersalaman. Ketika mendengar penjelasan Rena, aku menjadi heran sendiri, mengapa aku menyimpulkan sesuatu yang salah. Dibilang sebagai anak setan pun sebenarnya setengah benar, karena tingkah laku ayahku seperti setan, hanya wujudnya saja yang manusia. Maka ketika kecanggungan tersebut hadir di antara kami, Kenji langsung menutup acara dan kami bertiga saling bersalaman.

“Dari mana kau tahu?”

“Mengumpulkan data yang ada, lalu diolah di dalam otak, dan muncul suatu hipotesis yang baru saja kamu klarifikasi.”

“Bagaimana caranya? Data apa?”

“Bukankah Sherlock pernah mengatakan ‘buanglah semua yang mustahil, apapun yang tersisa, semustahil apapun, pasti benar.’? Hanya itu dasar yang kugunakan Le, sehingga aku menulis daftar di pikiranku, apa yang mungkin menyebabkan kamu memiliki pemikiran seperti itu. Dari beberapa penyebab tersebut, aku mengeliminasi hal-hal yang tidak akan membuatmu berpikiran seperti itu. Lalu yang tersisa hanyalah Malik, yang sudah pernah mengobrak-abrik perasaanmu sebelumnya.”

“Aku tidak terlalu paham, tapi benar, memang Malik bertemu denganku sepulang sekolah, ketika aku mengurung diri di kelas.”

“Menurutmu, mengapa ia ke kelas?”

“Karena ia kangen dengan kelas lamanya.”

“Dan kamu percaya begitu saja?”

“Ada jawaban lain?”

“Informasi menyebar begitu cepat Le, apalagi jika kamu mengeluarkannya dengan suara keras. Pasti kamu akan jadi bahan pembicaraan teman sekelas, sehingga pada akhirnya informasi tersebut sampai di telinganya. Ia melihat hal tersebut sebagai kesempatan untuk menghancurkanmu!” kata Kenji dengan menggebu-gebu.

“Benarkah itu?”

“Tidak, aku tidak tahu, itu hanya analisa yang berlebihan, hehehe.” jawabnya dengan menghilangkan semangatnya secara tiba-tiba.

“Seandainya benar, sebenarnya apa motifnya? Mengapa selalu aku yang ia incar?”

“Aku juga kurang tahu Le, tak usahlah dipikirkan kataku, itu teori ngawur. Ah, seharusnya aku pandai menjaga mulutku.”

Kenji bukan tipe orang yang berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu. Meskipun ia berkata demikian, aku yakin sebenarnya Kenji memiliki makna tersirat dari ucapannya yang terakhir. Sayangnya, aku tidak memiliki keinginan untuk medebatnya lebih jauh, dan beralih ke topik lain.

“Malik bilang bahwa ia sudah bercerita tentang aib keluargaku kepada teman-teman sekelas.”

“Sebenarnya ya, terutama ketika kamu masih menjadi public enemy. Namun yang perlu kamu ketahui, mereka berusaha mengonfirmasi kabar tersebut kepadaku. Tentu aku tak punya hak untuk menjawab, sehingga aku meminta mereka untuk bertanya langsung kepadamu, yang aku yakin belum mereka lakukan hingga sekarang.”

Ya, aku berkata dalam hati, mereka cukup cerdas untuk tidak mempercayai begitu saja kabar angin.

“Yang bisa aku katakan sekarang,” lanjut Kenji, “mereka tidak pernah mempersoalkan masalah pribadimu yang menurutmu kelam tersebut. Yang mereka pedulikan hanya dirimu yang sekarang, bukan yang dulu. Kamu harus percaya diri bahwa teman-teman di kelas peduli denganmu, dan mereka benar-benar ingin menjadi temanmu. Jika kamu sadar, setelah kamu minta maaf di depan kelas, pernahkah ada satu orang yang membahas masalahmu di masa-masa MOS?”

Aku menggelengkan kepala.

“Bahkan Bejo yang kurang menyukaimu pun tidak pernah secara gamblang membicarakan hal tersebut di depanmu maupun di depan teman-teman yang lain. Aku tidak menghitung Sarah, karena memang ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi di kelas. Karena itu, berhentilah merutuk diri sendiri, alihkan pikiranmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk hari esok.”

Aku menganggukkan kepala. Ceramah dari Kenji membuka pikiranku yang sempit ini. Sudah terlalu lama aku dikuasai energi negatif, sudah sepatutnya aku harus mengusir jauh energi tersebut dan menggantinya dengan energi positif. Dalam hati aku berjanji kepada diriku sendiri, kejadian seperti hari ini tidak boleh terulang kembali. Tidak boleh lagi ada pikiran yang mengganggu untuk malam ini dan seterusnya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.