Chapter 29 Kisah Seorang Manusia

Dengan tujuan melupakan kejadian kemarin, aku memutuskan untuk membaca cerita pendek tulisan Rika, yang ia minta agar aku memberikan feedback terhadap karyanya. Kenji telah selesai membacanya, sehingga kini giliranku untuk menyelesaikannya. Semoga saja dengan membaca cerita ini pikiranku dapat teralihkan, dapat membuatku masuk ke dalam dunia fantasi Rika.

“Kak?” Gisel memanggilku ketika aku baru selesai setengah membaca.

“Iya Gisel, ada apa?”

“Kakak kemarin kenapa? Gisel sampai takut kakak jadi kayak dulu lagi.”

Aku memandang adikku dengan lembut, berpikir bagaimana caranya mengeluarkan jawaban yang baik.

“Tuh kan, lihat Gisel aja sambil melotot begitu, Gisel jadi takut kak.” kata Gisel sambil mundur dua langkah.

“Benarkah? Padahal kakak kira ini adalah pandangan penuh kasih sayang.”

“Mana ada kak kayak gitu penuh kasih sayang, yang ada pandangan penuh dendam.”

Aku tertawa ringan mendengar penuturannya yang lugu. Kuusap rambutnya, lalu kugendong dia, suatu perbuatan yang mungkin pertama kali kulakukan terhadap Gisel. Meskipun usianya sudah hampir 10 tahun, badannya kecil dan terlihat ringkih, sehingga mudah bagiku untuk mengangkatnya. Penderitaan selama bertahun-tahun memiliki andil membentuk fisik adikku. Untunglah, jiwanya jauh lebih tangguh dari raganya.

“Kok tumben kak gendong Gisel?”

“Gapapa Gisel, rasanya kakak belum pernah menggendongmu sejak kita berdua ditinggal orangtua kita. Kakak merasa bersalah, bahkan hingga detik ini kakak masih merasa bersalah. Entah kakak harus berbuat apa untuk menembus dosa kakak kepadamu…”

Aku tidak kuat meneruskan kalimatku. Aku tidak ingin menangis di hadapan adikku, aku harus menjadi sosok kakak yang kuat. Aku hanya menimang-nimang Gisel dengan selembut mungkin, berharap ia dapat memahami situasi.

“Kakak, enggak perlu merasa begitu. Kakak jadi gitu juga ada penyebabnya. Gisel enggak pernah marah ke kakak kok. Kakak enggak usah merasa bersalah, kakak enggak usah merasa…”

Gisel tidak kuat menahan tangisnya, tersedu-sedu di dalam pelukanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha menenangkannya dengan membelai rambutnya. Cukup lama kami berada dalam situasi tersebut, hingga akhirnya ia tertidur. Kubawa ia kekamarnya, kuselimuti lalu kucium keningnya. Belajar memiliki empati, seperti yang telah diajarkan Kenji di awal sekolah, telah membuat aku bisa memahami perasaan orang lain, setidaknya adikku sendiri.

***

Aku tidak tidur semalaman, meskipun itu bukan hal yang istimewa dalam tidurku. Sudah terlalu sering aku terjaga semalaman, sehingga sama sekali tidak berpengaruh terhadap diriku. Aku menyelesaikan cerpen Rika, dan cukup mengejutkan bahwa ceritanya cukup menggugah hatiku. Kusampaikan pada Rika waktu istirahat, bagaimana pendapatku terhadap cerita yang terinspirasi dariku ini.

“Rika, aku sudah selesai membaca ceritamu.”

“Lama sekali Le, Kenji udah selesai lamaa banget. Situ sibuk banget ya? Hehehe.” tanya Rika riang seperti biasa.

“Tidak, hanya saja baru kemarin aku menyempatkan diri untuk membacanya.”

“Terus terus terus, gimana pendapatmu?”

“Bagus.”

“Hah, cuma gitu doang?”

“Memang mau bagaimana lagi?”

“Ya komentar alurnya, atau komentar penokohannya.”

“Maaf Rika, aku tidak pandai dalam hal cerita.”

“Hmm, iya sih kelihatan. Ya udahlah enggak apa-apa Le, makasi ya udah baca. Bagi seorang penulis, puncak kebahagiaannya adalah ketika tulisannya dibaca orang lain. Apakah orang tersebut senang atau tidak, hanya menjadi bonus semata.”

Aku memandang Rika dengan tersenyum tipis. Kupandang kedua matanya yang senantiasa memancarkan kebahagiaan. Namun, ketika lebih lama memandangnya, masuk ke matanya lebih dalam, aku melihat ada yang tersembunyi di balik keceriaannya tersebut. Bukankah ada yang pernah berkata bahwa orang yang periang biasanya menahan beban yang berat? Hanya saja, rasanya tidak pantas untuk bertanya masalah pribadi kepadanya. Lebih baik aku segera mengalihkan topik pembicaraan

“Kau suka menulis, apa kau juga suka membaca?”

“Tentu saja Le, rasanya akulah yang palng kutu buku di sini.”

“Buku apa yang jadi favoritmu?”

“Tentu novel fantasi seperti Harry Potter atau Percy Jackson. Itu membuat daya imajinasiku berkembang. Selain itu aku juga suka baca kumpulan puisi dan novel detektif.”

“Sherlock Holmes atau Hercule Poirot?”

“Ah, jadi kamu tahu ya Le? Tentu saja Poirot dengan sel abu-abunya.”

“Aku baru baca satu yang berjudul Murder on the Orient Express. Selain itu aku juga membaca And There We Were None yang menegangkan.”

“Wah, itu termasuk masterpiece-nya Agatha Christie Le, nanti aku kasih tahu yang lain. Kamu koleksi?”

“Sebenarnya warisan dari, dari ibuku.”

“Ah begitu ya.”

“Kau, apakah kau tahu cerita keluargaku?” tanyaku spontan, sekedar untuk mengonfirmasi perkataan Malik tempo hari.

“Hanya dari orang ketiga yang belum pernah aku tanyakan kepadamu terkait kebenarannya.” jawab Rika lugas tanpa takut sedikit pun aku marah. Apa adanya, inilah salah satu penyebab aku merasa nyaman ngobrol dengan Rika.

“Mengapa kau tidak bertanya kepadaku? Kita lumayan sering mengobrol seperti ini.”

“Karena bukan gayaku untuk menyampuri urusan orang lain. Toh aku mengetahuinya hanya sepintas dengar, bukan karena aku benar-benar ingin berbicara tentangmu di belakang.”

Aku tersenyum kepadanya, kagum dengan prinsip hidupnya. Rika anak yang baik, hanya saja karena imajinasinya ia sering dianggap aneh oleh teman-temannya. Ia jarang sekali keluar bersama teman-teman yang lain ketika istirahat, lebih memilih menghabiskan waktunya untuk menulis. Meskipun begitu, kekhawatiranku tentang beban yang ia panggul tetap mengganggu pikiranku.

“Rika, jika kau butuh bantuan, panggil saja aku.”

“Aye-aye kapten.” jawabnya sambil berpose hormat kepadaku.

Semoga saja hanya pikiranku yang berlebihan.

***

“Ah kamu sedang tidak menyindir aku kan Le? Aku kan juga selalu ceria, hahaha.” jawab Kenji sewaktu aku mengeluarkan pendapatku mengenai Rika.

“Eh, tidak Kenji, aku tidak ada maksud ke sana.”

“Jika pun dugaanmu benar, Rika berhasil menutupinya dengan baik. Aku rasa lebih bijak jika menganggap Rika tidak terlalu memikirkan bebannya karena ia selalu berpikir positif. Mungkin kamu saja yang terlalu jauh berpikirnya.”

“Ya, aku rasa kau benar.”

“Daripada itu, bagaimana perkembanganmu dengan Sica?”

Aku memandang bingung Kenji, tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya.

“Ayolah, kalian pasti sering bertukar pesan kan? Gisel sering cerita kalo kakaknya sekarang sering melihat layar handphonenya ketika sedang nganggur.”

Sebenarnya tidak ada perkembangan apa-apa. Aku tidak suka berbasa-basi, sehingga jika tidak ada urusan yang perlu dibicarakan aku tidak akan mengirim pesan kepadanya. Kalaupun Gisel sering melihatku memandang handphone, mungkin waktu aku membaca ulang pesan-pesan Sica. Entah mengapa, rasanya menyenangkan sehingga menjadi kebiasaan.

“Tidak ada perkembangan apa-apa Kenji, karena memang tidak ada yang perlu dikembangkan.”

“Ah, kamu Le, hehehe. Omong-omong, rekomendasiku yang dulu sudah kamu baca?”

And there we were none? Sudah Kenji, dan aku sepakat denganmu.”

“Lalu, apa kamu sudah baca yang lain? Nampaknya kamu susah tidur akhir-akhir ini, baca buku bisa menjadi solusi.”

***

Seperti malam-malam sebelumnya, aku merasa susah tidur karena beberapa hal yang aku sendiri tidak tahu apa. Bagaikan tidak mengetahui apa yang tidak diketahui. Maka kuputuskan untuk membaca lagi koleksi ibu di lemari. Aku mengambil sembarang judul lalu membawanya ke kamar.

Tiba-tiba aku teringat dengan nomer-nomer yang ibu tuliskan di halaman depan. Ketika aku cek, tidak ada angka yang tertera di sana. Apa artinya buku yang aku ambil ini bukan termasuk yang bagus? Ah, aku rasa yang ibu anggap bagus belum tentu cocok untukku. Bisa saja kami memiliki selera yang berbeda.

Sebelum kubaca, aku mencium aroma buku tersebut, aroma buku tua. Lalu aku teringat ibu yang sering membacakan buku dongeng ketika aku beranjak tidur, sehingga pengetahuanku tentang dunia dongeng masih terpatri di ingatanku. Tiga Babi Kecil, Anak Itik yang Buruk Rupa, dan berbagai dongeng kerajaan. Favoritku adalah cerita fabel, cerita yang tokoh utamanya hewan. Mungkin suatu saat aku akan mencari buku dongeng tersebut di rumah ini, aku yakin masih tersimpan dengan rapi.

Ah ibu, seandainya engkau masih hidup, apakah hidupku akan menjadi lebih baik? Mengapa engkau tega meninggalkan anak-anakmu ini? Mengapa engkau tega melakukannya setelah ayah menelantarkan kami karena nafsunya? Apa salah anak-anakmu ini sehingga menjadi yatim piatu di usia yang sangat muda?

Semua ada hikmahnya, begitu kata Kenji. Aku percaya itu, hanya saja hingga saat ini aku belum menemukan apa hikmah di balik ini semua. Membuat mentalku dan Gisel menjadi lebih tangguh? Bisa jadi, namun rasanya belum sebanding dengan penderitaan yang kami alami. Mungkin kami harus sabar beberapa waktu lagi sebelum bisa menemukannya, walaupun sudah hampir empat tahun kami berada di kondisi seperti ini.

Kuletakkan kembali buku yang telah kubawa, mencoba terlelap dengan merenungkan segala kisah yang telah tertulis dalam hidupku. Masing-masing manusia punya kisah sendiri, aku punya sendiri, Kenji punya sendiri, Sica punya sendiri, Rika punya sendiri, bahkan Sarah pun aku yakin memiliki kisahnya sendiri. Untuk sekarang, aku hanya ingin memikirkan kisah hidupku sendiri, kisah seorang manusia yang bertahan hidup sendiri tanpa orang tua.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.