Chapter 26 Dua Foto dengan Makna Tersirat

“Wahai pangeran kegelapan, aku ingin memberi laporan untuk Anda.”

Ketika waktu istirahat, entah kenapa si unik Rika datang ke bangkuku dan seperti biasa, seenaknya sendiri memasukkan diriku ke dalam alam khayalnya.

“Hei Rika, kenapa aku selalu kau panggil dengan pangeran kegelapan?” tanyaku kepadanya, mencoba keluar dari imajinasinya.

“Bukankah engkau sendiri yang membuat nama tersebut, lalu mengapa engkau bertanya kepadaku yang rakyat jelata ini?”

Aku seperti mengalami dejavu. Adegan ini sepertinya pernah kualami, walaupun kejadian sebelumnya aku lah yang menghampiri Rika. Aku yang sedang pusing dengan berbagai peristiwa yang terjadi kemarin memutuskan untuk segera mengakhiri permainan ini.

“Hentikan Rika, kau membuatku sebal.”

“Ih, Leon enggak asyik ah, enggak bisa diajak berfantasi.”

“Coba sebutkan, satu orang yang mau diajak berfantasi olehmu.”

“Ada kok, Kenji.”

Ya, aku tidak heran jika Kenji meladeni Rika karena sifatnya yang selalu menghargai orang lain. Mungkin bisa saja Kenji adalah satu-satunya manusia di muka bumi yang tahan menghadapi segala keanehan pada Rika, jika itu bisa disebut sebagai keanehan. Dengan menghela nafas, aku berusaha untuk sabar menghadapinya.

“Jadi, apa yang ingin kau laporkan?”

“Hehehe, dulu aku pernah cerita kan, kalau aku mendapatkan inspirasi cerita dari hubunganmu dengan Kenji.”

Aku lupa.

“Nah, ini kemarin sudah selesai setelah sempat berhenti karena UAS. Aku sih berharap kamu mau baca dan kasih tanggapan. Nanti baca berdua sama Kenji ya.”

Bukan tentang pangeran kegelapan kan? Tanyaku dalam hati, malu ingin bertanya secara langsung. Biarlah kubaca nanti, toh nanti aku akan tau sendiri setelah selesai membacanya. Maka dari itu, kuterima naskah dari Rika. Semoga saja segala hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini bisa teralihkan dengan tulisan karya anak yang selalu berimajinasi ini.

***

“Jadi, Rika meminta kita membaca novelnya? Tentu saja dengan senang hati akan kubaca.” kata Kenji di rumahku sepulang sekolah. Karena UAS baru saja berakhir, kami sedikit mengurangi intensitas belajar bersama di kelas, dan kembali mengajar Gisel seperti dulu lagi.

“Baiklah, silahkan baca duluan.” kataku sembari menyodorkan naskah yang diberikan kepada Rika tadi.

“Hmm, ‘Sepasang Kaus Kaki’? Judul yang menarik dan sedikit imut menurutku, cocok dengan Rika, hahaha.”

“Apa kau juga membaca novel?”

“Ah, aku membaca semua yang bisa dibaca Le, bahkan kandungan bahan yang terdapat di kotak kemasan pun aku baca, hahaha.”

“Ini kakak berdua ngobrol terus kapan ngajari Giselnya?” protes Gisel karena kami terus berbicara.

Dengan tertawa, Kenji mengalihkan fokusnya ke Gisel. Sebenarnya aku ingin menanyakan perihal foto yang kutemukan kemarin, tapi aku rasa lebih baik jika aku bertanya setelah Gisel selesai belajar.

***

Setelah Gisel merasa lelah dan kembali ke kamarnya untuk istirahat, aku memberikan foto tersebut kepada Kenji.

“Kenji, ini ibumu bukan?”

Kenji mengambil foto tersebut dan nampak terkejut. Ia sama sekali tidak bisa berbohong, sehingga aku tau bahwa ia benar-benar terkejut, bukan hanya sekedar reaksi yang dibuat-buat.

“Benar Le, ini ibuku, berarti ibu kita, saling kenal begitu?” tanya Kenji.

“Justru aku ingin menanyakan hal tersebut.”

“Hmmm, menarik sekali, aku tidak menemukan satupun foto ibumu di album keluargaku Le. Apakah ada foto lain?”

“Setelah menemukan foto tersebut, aku mencoba untuk mencari foto-foto lainnya, tapi hasilnya nihil.”

“Mungkin ada di tempat lain Le, nanti aku juga akan mencari lagi di rumahku.”

Aku melihat Kenji nampak bahagia melihat foto tersebut. Apa gerangan yang membuatnya seperti itu?

“Tentu saja aku senang Le, karena ternyata ibu kita bersahabat. Seandainya saja mereka berdua masih hidup, pasti…” Kenji tidak melanjutkan kalimatnya dan aku pun tidak tertarik untuk mengorek lebih dalam.

“Ada tujuh orang di sana, apakah kau kenal dengan yang lainnya?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Aku rasa tidak Le, aku merasa belum pernah bertemu mereka. Akan tetapi, entah mengapa rasanya aku familier dengan yang ini.” jawabnya sambil menunjuk seorang laki-laki yang berambut keriting.

“Di mana kira-kira?”

“Entahlah Le, aku tidak bisa memastikan. Omong-omong, kenapa nampaknya kamu sangat tertarik dengan foto ini?”

“Karena ada foto ibumu.”

“Bukan, aku merasa ada sesuatu yang lebih besar dari itu.”

“Aku tidak merasa begitu.”

“Kamu merasakan sesuatu kan Le setelah melihat foto ini.” kata Kenji, lebih ke pernyataan daripada pertanyaan.

Sebenarnya iya, aku memiliki firasat foto ini menyimpan sesuatu yang besar. Hanya saja, aku belum tahu hal apa itu. Bisa saja firasatku salah, meskipun selama ini firasatku seringkali benar. Mungkin karena tempaan hidup yang begitu berat, membuat instingku terasah.

“Apa kamu tau di mana ibumu kuliah?” tanya Kenji, setelah aku hanya diam selama beberapa menit.

“Entahlah, aku tidak pernah menanyakannya kepada ibuku.”

“Jika benar ini foto teman kuliah, kemungkinan ibumu juga berkuliah di tempat ibuku berkuliah Le.” kata Kenji ditambah dengan menyebutkan nama universitasnya.

Lalu, tiba-tiba aku teringat kejadian yang membuatku penasaran kemarin.

“Kenji, kemarin aku melihat dirimu terlihat terkejut ketika mengambil salah satu foto dari albummu. Foto apa itu?”

Kenji nampak terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaanku, mungkin tidak menyangka aku benar-benar memikirkan tentang ekspresinya kemarin. Ia menimbang-nimbang jawaban, mungkin tahu percuma saja jika ia ingin mengarang jawaban, aku akan segera mengetahuinya.

“Aku mengambil foto ibuku Le.” jawabnya tenang.

“Lalu mengapa kau tegang?”

“Kamu salah lihat sepertinya Le, bukan tegang melainkan terkejut. Beda lo, hehehe.”

“Itu tidak penting, yang penting mengapa kau seperti itu.”

Kenji terlihat menarik nafas dalam-dalam, seolah menjawab pertanyaanku adalah sesuatu yang menambah beban hidupnya. Ia menerawang ke langit-langit dengan tersenyum, entah itu untuk menutupi perasaannya atau bukan.

“Aku menemukan catatan kecil di balik foto tersebut. Silahkan dilihat sendiri, karena kebetulan aku sedang membawanya.”

Kenji membuka ranselnya dan mengambil satu lembar foto. Aku balik halamannya, dan terlihat tulisan tangan dengan warna tinta yang sudah memudar.

            “Kebenaran apa?” tanyaku sambil mengembalikan foto tersebut.

“Aku juga belum tahu Le, hanya saja, aku terkejut ibuku menulis sesuatu seperti ini.”

“Melawan rezim mungkin? Kau tau sejarah bangsa kita.”

“Bisa jadi, mungkin ini hanya pergerakan mahasiswa untuk menuntut presiden kala itu untuk mundur.”

“Aku masih belum menangkap bagian mana yang membuatmu terkejut.”

“Aku tidak pernah bertemu ibuku Le, dan selama ini aku menganggap ibuku adalah sosok yang lemah lembut. Tidak kusangka ibuku bisa menulis kata-kata penyemangat seperti ini.”

Aku membaca kembali tulisan yang tertulis di lembar foto tersebut. Ada tanggal yang tertera di sana.

“Apa kau lahir di tanggal ini?”

“Bukan Le, aku lahir tahun 1995. Aku juga bingung apa makna dari tanggal tersebut.”

“Mungkin kah, pesan ini disampaikan kepada orang-orang yang ada di foto ini pada tanggal tersebut?” tanyaku dengan menunjuk foto milikku yang berisi tujuh orang tersebut.

“Semua kemungkinan bisa saja terjadi Le, tapi tidak ada data yang mendukung hal tersebut. Menarik kesimpulan tanpa data adalah kesalahan besar, seperti kata Sherlock Holmes.”

“Baiklah, mungkin kita saja yang terlalu berlebihan memikirkan foto-foto ini.”

“Benar Le, hahaha. Padahal ada pilihan yang lebih sederhana daripada berasumsi ini itu.”

Aku kembali menatap kedua foto tersebut. Entah ada misteri apa di baliknya, namun aku berharap dua foto ini hanyalah foto biasa tanpa ada makna yang tersirat.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.