<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>remaja Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/remaja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/remaja/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:32:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>remaja Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/remaja/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>SWI Mengajar 2.0</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2020 12:00:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[proker]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[SWI Mengajar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4148</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tulisan, Penulis menyebutkan salah satu passion-nya adalah mengajar. Karena itulah Penulis pernah berburu beasiswa S2 ke luar negeri agar bisa menjadi seorang dosen. Selain itu ketika masih menjadi ketua Karang Taruna, Penulis memiliki program kerja (proker) bernama SWI Mengajar yang namanya memang terinspirasi dari Indonesia Mengajar. Di bawah kepengurusan yang baru, proker ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/">SWI Mengajar 2.0</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tulisan, Penulis menyebutkan salah satu <em>passion-</em>nya adalah mengajar. Karena itulah Penulis pernah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">berburu beasiswa</a> S2 ke luar negeri agar bisa menjadi seorang dosen.</p>



<p>Selain itu ketika masih menjadi ketua Karang Taruna, Penulis memiliki program kerja (proker) bernama <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/"><strong>SWI Mengajar</strong></a> yang namanya memang terinspirasi dari Indonesia Mengajar.</p>



<p>Di bawah kepengurusan yang baru, proker ini sempat terhenti karena beberapa alasan. Nah, mumpung sedang berada di Malang untuk jangka waktu yang belum ditentukan, Penulis mengusulkan <strong>SWI Mengajar 2.0</strong>. Apa itu?</p>



<h3>Konsep SWI Mengajar 2.0</h3>
<div id="attachment_4155" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4155" class="size-large wp-image-4155" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4155" class="wp-caption-text">SWI Mengajar 1.0</p></div>



<p>Pada SWI Mengajar edisi lama, anggota akan berkumpul di satu tempat untuk <strong>mengerjakan tugasnya masing-masing</strong>. Nanti akan ada anggota yang saling membantu.</p>



<p>Untuk yang tidak memiliki tugas, biasanya Penulis akan <strong>mengajar</strong> <strong>Bahasa Inggris</strong>. Walaupun tidak punya sertifikasi, setidaknya Penulis pernah belajar di Kampung Inggris.</p>



<p>Nah, di SWI Mengajar 2.0 ini konsepnya sedikit berbeda. Anggota tidak lagi membawa tugas sekolahnya, melainkan <strong>mempelajari sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah</strong>.</p>



<p>Di sini, anggota divisi internal Karang Taruna akan mengusulkan ide-ide materi. Nanti usulan-usulan ini akan diberikan kepada Penulis (dan satu rekannya) sebagai &#8220;tutor&#8221; agar dipilih untuk menjadi topik minggu ini.</p>



<p>Pelaksanaannya sendiri setiap hari Rabu, dua minggu sekali. Kenapa tidak setiap minggu? Takutnya anggota akan menjadi cepat bosan dan ujung-ujungnya pesertanya menjadi sedikit.</p>



<h3>Materi-Materi yang Sudah Diajarkan</h3>



<p>Sampai saat ini, sudah ada 3 pertemuan SWI Mengajar 2.0, yakni <strong>Public Speaking</strong>, <strong>Microsoft Word dan Penggunaan Font</strong>, serta<strong> Microsoft Excel</strong>.</p>



<p>Jumlah anggota yang ikut pun lumayan banyak, termasuk anggota <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/karang-taruna-junior/">Karang Taruna Junior</a> yang sedang dipersiapkan menjadi anggota penerus kakak-kakaknya.</p>



<p>Selain itu, ada hari spesial di mana Penulis membuat semacam kuis edukasi. Untuk edisi pertama, Penulis mengangkat tema geografi.</p>
<h3>Game Edukasi</h3>
<div id="attachment_4157" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4157" class="size-large wp-image-4157" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-1024x538.png" alt="" width="800" height="420" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-1024x538.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-300x158.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-768x403.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2-390x205.png 390w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-2.png 1200w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4157" class="wp-caption-text">Jimmy Kimmel Live! (via <a href="https://www.boredpanda.com/americans-answer-can-you-name-country-jimmy-kimmel/">Bored Panda</a>)</p></div>



<p>Pemilihan topik ini terinspirasi dari acara talkshownya Jimmy Kimmel, di mana warga Amerika Serikat dipilih secara acak untuk ditunjukkan sebuah peta buta dunia. Mereka harus bisa menunjuk suatu negara secara bebas.</p>



<p>Hasilnya? Banyak di antara mereka yang <strong>gagal menunjukkan satu negara pun!</strong> Tidak ingin ini terjadi kepada adik-adiknya, Penulis pun ingin memberikan edukasi umum terhadap topik ini.</p>



<p>Game dimainkan secara tim dan dibagi menjadi <strong>dua babak</strong>. Tim yang mengumpulkan poin tertinggi akan keluar menjadi pemenang.</p>



<p>Babak pertama adalah <strong>pertanyaan-pertanyaan seputar Geografi</strong> yang dibagi menjadi 3 level, yakni <em>easy</em>, <em>medium</em>, dan <em>hard</em>. Semakin susah, semakin besar nilai yang akan didapatkan.</p>
<div id="attachment_4156" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4156" class="size-large wp-image-4156" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-1024x577.jpg" alt="" width="800" height="451" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-1024x577.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3-768x433.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-3.jpg 1429w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4156" class="wp-caption-text">Tampilan Game Babak Kedua</p></div>



<p>Babak kedua, di layar proyektor akan muncul <strong>25 kotak yang dibagi menjadi 5 kolom</strong>. Setiap kolom mewakili benua yang ada di dunia. Masing-masing kolom juga menunjukkan angka 10, 20, 30, 40, 50.</p>



<p>Di balik kotak tersebut terdapat negara dalam bentuk peta buta beserta pilihan jawabannya. Angka yang ada di kotak menunjukkan tingkat kesulitan. Semakin tinggi, semakin susah.</p>



<p>Tim dengan poin tertinggi di babak pertama berhak memilih duluan secara bebas. Jika bisa menebak dengan benar, tim akan mendapatkan angka yang tertera di kotak. Jika salah, poin tim akan dikurangi 10.</p>
<div id="attachment_4158" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4158" class="size-full wp-image-4158" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4.png" alt="" width="900" height="700" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4.png 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4-300x233.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-4-768x597.png 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-4158" class="wp-caption-text">Contoh Bentuk Negara yang Harus Ditebak</p></div>



<p>Karena tim berjumlah 3, maka pertanyaan terakhir (ke-25) menjadi rebutan. Siapapun boleh mempertaruhkan poin yang sudah dikumpulkan. Tim yang mempertaruhkan nilai paling tinggilah yang akan mendapatkan kesempatan untuk menjawab.</p>



<p>Jika benar, poin yang dipertaruhkan akan ditambahkan, sedangkan jika salah poin akan dikurangi. Karena sistem ini, tim yang awalnya berada di peringkat terakhir berhasil memenangkan kuis ini karena keberaniannya mempertaruhkan semua poinnya.</p>
<p>Setelah game, ada semacam selebrasi kecil-kecilan dan masing-masing tim mendapatkan hadiah yang nilainya tidak seberapa. </p>



<h3>Penutup</h3>



<p>Salah satu amal jariyah dalam Islam adalah <strong>ilmu yang bermanfaat</strong>. Karena itulah Penulis sangat senang jika bisa berbagi ilmunya kepada siapapun.</p>



<p>SWI Mengajar 2.0 ini adalah wadah untuk Penulis berbagi ilmunya. Pengemasannya harus menarik agar tidak membosankan. Topik yang dihadirkan pun harus bervariasi.</p>
<p>Selama Penulis di Malang, semoga proker ini bisa terus terlaksana secara rutin dan bisa bermanfaat untuk adik-adik Karang Tarunanya.</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>Lawang, 26 November 2020, terinspirasi dari proker SWI Mengajar 2.0 yang tengah dijalankan</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/">SWI Mengajar 2.0</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kok Mainnya Sama Anak Kecil?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kok-mainnya-sama-anak-kecil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Aug 2019 14:15:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[penngalaman]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2627</guid>

					<description><![CDATA[<p>FANANDI MAINNYA SAMA ANAK KECIL! Tidak jarang penulis mendengarkan kalimat seperti itu. Tentu, anak kecil yang dimaksudkan adalah kawan-kawan di Karang Taruna yang memang rentang usianya cukup jauh di bawah penulis, sekitar 5 hingga 10 tahun. Mau dianggap seperti itu sebenarnya juga tidak masalah. Toh, penulis juga tidak mungkin menjelaskan mengapa penulis bisa dekat dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">Kok Mainnya Sama Anak Kecil?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>FANANDI MAINNYA SAMA ANAK KECIL!</strong></p>
<p>Tidak jarang penulis mendengarkan kalimat seperti itu. Tentu, anak kecil yang dimaksudkan adalah kawan-kawan di Karang Taruna yang memang rentang usianya cukup jauh di bawah penulis, sekitar 5 hingga 10 tahun.</p>
<p>Mau dianggap seperti itu sebenarnya juga tidak masalah. Toh, penulis juga tidak mungkin menjelaskan mengapa penulis bisa dekat dengan mereka semua semenjak <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Karang Taruna berdiri</a> di lingkungan RW.</p>
<h3><strong><em>Jadi, kenapa penulis sering bermain bersama mereka?</em></strong></h3>
<p>Ya, karena sering kumpul sama mereka aja. Semenjak <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">rangkaian acara kemerdekaan Indonesia</a> pada tahun 2016, kami semua sering bekerja sama dalam menyukseskan acara.</p>
<p>Mulanya pada rapat pendahuluan, penulis dan teman yang seumuran sempat gusar karena oleh salah satu pihak dari pengurus RW. Alasannya, semua konsep yang sudah kami siapkan ditolak mentah-mentah.</p>
<p>Beliau justru mengajukan <strong>Ekky</strong>, teman baik adik penulis yang waktu itu masih kelas 2 SMK. Yang membuat terkejut, banyak sekali anak-anak remaja (SMP dan SMA) yang sebelumnya tidak terlalu penulis kenal ketika rapat perdana tersebut.</p>
<p>Singkat cerita, penulis pun berusaha membantu mereka dari belakang dan membuat kami sering berinteraksi. Eh, berawal dari kegusaran, kami jadi dekat satu sama lain hingga sekarang.</p>
<p>Selang beberapa hari setelah pembubaran panitia, Karang Taruna pun resmi dibentuk pada tanggal <strong>3 September 2016</strong>. Kami pun jadi semakin dekat satu sama lain, lengkap dengan sekelumit permasalahannya.</p>
<p>Waktu itu, penulis yang terpilih sebagai ketua pertama paham apa tugas terberatnya: <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/membangun-fondasi-organisasi/">membangun fondasi organisasi</a>. Salah satu caranya adalah dengan membuat banyak program kerja seperti <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a>, <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kalau hanya mengerjakan program kerja tentu akan menjenuhkan. Maka dari itu, biasanya setiap malam minggu kami berkumpul untuk meningkatkan <em>chemistry </em>antar anggota (bahkan ada yang menumbuhkan perasaan suka antar anggota).</p>
<p>Bahkan, dengan alasan agar ketika kumpul tidak sibuk dengan HP-nya sendiri-sendiri, penulis berinisiatif untuk membuat berbagai permainan, mulai dari <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">Werewolf dengan penambahan karakter</a>, <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/permainan-perekat-kebersamaan-tebak-satu-kata-dan-hexagon-war/">tebak satu kata</a>, hingga merancang <em>board game <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/stars-and-rabbits-sebuah-permainan/">Stars &amp; Rabbits</a>.</em></p>
<h3><strong><em>Dengan demikian, sudah jelas bukan kenapa penulis begitu dekat dan sayang ke mereka? </em></strong></h3>
<p>Penulis berusaha memosisikan diri sebagai kakak sekaligus teman bagi mereka semua. Jika ada yang membutuhkan saran atau sekadar ingin bercerita, penulis berusaha untuk menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar yang baik</a>.</p>
<p>Penulis mengakui mungkin sedikit lebih dekat dengan anggota-anggota perempuan yang ada di Karang Taruna. Obsesi ingin memiliki adik perempuan bisa menjadi salah satu alasannya. Belum punya pacar menjadi alasan lainnya.</p>
<p>Kedekatan dengan orang lain seperti ini baru penulis rasakan ketika sudah berkepala dua. Seperti yang sudah penulis curhatkan panjang lebar di tulisan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/"><em>Rasa Takut Akan Sendirian</em></a>, penulis tidak punya banyak teman sewaktu sekolah.</p>
<p>Kehadiran mereka di kehidupan penulis membuat penulis merasa menemukan kepingan <em>puzzle </em>yang hilang. Berkumpul dengan mereka mungkin membuat penulis menjadi <em>childish</em>, tapi semoga penulis bisa mengubahnya dengan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">keluar dari zona nyaman</a>.</p>
<p>Yang jelas, penulis menyayangi mereka semua. Maka dari itu, penulis rela menghabiskan jatah cutinya demi pulang dan berkumpul dengan mereka pada acara peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-74.</p>
<p><em>Dan itu sangat menyenangkan, walaupun ketika kembali ke Jakarta harus menambah beban rindu yang berat.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Agustus 2019, terinspirasi setelah pulang ke Lawang selama 9 hari</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">Kok Mainnya Sama Anak Kecil?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2019 17:39:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[katar]]></category>
		<category><![CDATA[ketua]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[organigasi]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2132</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika sudah pernah membaca artikel Dulu Kerja di Mana?, mungkin para pembaca sekalian sudah paham bahwa penulis telah mengalokasikan sebagian (besar) waktunya setelah lulus untuk Karang Taruna. Pertanyaannya, mengapa? Karang Taruna yang pernah penulis pimpin berdiri sejak tahun 2016 setelah rangkaian acara peringatan kemerdekaan Indonesia berakhir. Penulis melihat adanya potensi yang dimiliki oleh remaja-remaja di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/">Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika sudah pernah membaca artikel <a href="http://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja di Mana?</a>, mungkin para pembaca sekalian sudah paham bahwa penulis telah mengalokasikan sebagian (besar) waktunya setelah lulus untuk Karang Taruna. Pertanyaannya, mengapa?</p>
<p>Karang Taruna yang pernah penulis pimpin berdiri sejak tahun 2016 setelah <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">rangkaian acara peringatan kemerdekaan Indonesia</a> berakhir. Penulis melihat adanya potensi yang dimiliki oleh remaja-remaja di tempat penulis tinggal (untuk cerita lengkapnya, bisa dibaca di artikel <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Kelahiran Gen X SWI</a>).</p>
<p>Semenjak kelahirannya, Karang Taruna memiliki begitu banyak program kerja seperti <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a>, <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-english-day/">SWI English Day</a>, hingga <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a>. Ada juga acara spesial seperti <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/next-gen-development-project/">Next Gen Development Project</a> dan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/gen-x-swi-awards/">Gen X SWI Awards</a>.</p>
<p>Semua proker tersebut tentu bukan tanpa kendala. Mengatur anggota yang rata-rata masih berada di usia sekolah bukan perkara mudah. Salah satu yang sering memicu emosi penulis adalah kurang aktifnya anggota ketika sedang rapat.</p>
<p>Beberapa anggota cenderung pasif ketika rapat dan menerima apapun keputusan yang diambil. Padahal, diadakannya rapat internal bertujuan untuk meningkatkan sikap kritis anggota. Jika di forum kecil saja tak bersuara, bagaimana di tempat yang lebih besar?</p>
<p>Selain itu, banyaknya anggota yang enggan untuk ikut serta ketika ada kegiatan Karang Taruna juga cukup membuat penulis stres. Memang itu hak mereka untuk tidak berpartisipasi, tapi bukankah salah satu tujuan dibentuknya Karang Taruna adalah sebagai tempat berkumpulnya para remaja?</p>
<p>Contoh dua masalah tersebut tidak membuat penulis patah semangat. Sebaliknya, penulis jadi semakin ingin membantu mereka untuk berkembang menjadi generasi yang lebih aktif (walaupun yang bersangkutan belum tentu ingin dibantu).</p>
<p>Jadi, mungkin jawaban pertanyaan &#8220;kenapa menghabiskan waktu untuk Karang Taruna?&#8221; adalah penulis ingin menyalurkan kepedulian penulis terhadap perkembangan generasi muda Indonesia mulai dari lingkup terkecil, yakni lingkungan penulis sendiri.</p>
<p>Untuk pribadi penulis sendiri, dengan aktif di Karang Taruna (apalagi sebagai ketua), penulis bisa berkontribusi untuk lingkungan penulis. Penulis tidak ingin hanya hidup sekadar &#8220;menumpang tidur&#8221;. Penulis ingin meninggalkan jejak, jejak yang kini sedang dilanjutkan oleh <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/tim-transisi-gen-x-swi/">ketua baru</a>.</p>
<p>Jawaban terakhir dari pertanyaan tersebut adalah penulis memiliki misi pribadi sebagai seorang ketua untuk <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/membangun-fondasi-organisasi/">membangun fondasi organisasi</a> yang kuat. Demi kuatnya fondasi tersebut, penulis harus mengalokasikan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.</p>
<p>Karang Taruna dengan kepengurusan yang baru sudah berjalan sekitar enam bulan. Tentu mereka akan mengalami kendala, apalagi penulis cukup dominan ketika memimpin, dan itu merupakan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/">satu kesalahan penulis sebagai ketua</a>.</p>
<p>Penulis sekarang hanya bisa <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/memantau-dari-jauh/">memantau mereka dari jauh</a>, mengamati bagaimana mereka mengelola organisasi yang telah kami bangun bersama-sama. Tentu penulis mengharapkan mereka bisa lebih sukses, karena dengan demikian, penulis tidak perlu menyesal telah mengorbankan waktu demi mereka.</p>
<p>Ah, seharusnya penulis tak perlu merasa menyesal apapun yang terjadi. Bukankah yang namanya cinta <a href="http://whathefan.com/renungan/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/">sejatinya tidak perlu merasa berkorban</a>?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Februari 2019, terinspirasi setelah mengamati perkembangan Karang Taruna setelah 6 bulan penulis tinggal</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/">Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghayati Kemerdekaan Melalui Karang Taruna</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2018 09:56:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[jalan sehat]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>
		<category><![CDATA[malam tasyakuran]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1179</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gara-gara sibuk dengan berbagai tugas sebagai sukarelawan dalam hajatan Asian Games, tulisan ini harus mundur sampai hari ini, empat hari setelah hari kemerdekaan kita. Tak apalah, bukankah ada yang mengatakan terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali? Karang Taruna Sumber Wuni Indah (bernama Gen X SWI) yang pernah penulis pimpin terbentuk setelah adanya rangkaian kegiatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">Menghayati Kemerdekaan Melalui Karang Taruna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gara-gara sibuk dengan berbagai tugas sebagai sukarelawan dalam hajatan Asian Games, tulisan ini harus mundur sampai hari ini, empat hari setelah hari kemerdekaan kita. Tak apalah, bukankah ada yang mengatakan terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali?</p>
<p>Karang Taruna Sumber Wuni Indah (bernama Gen X SWI) yang pernah penulis pimpin terbentuk setelah adanya rangkaian kegiatan dalam memperingati kemerdekaan republik kita tercinta pada tahun 2016. Di tempat penulis, secara garis besar terdiri dari tiga bagian besar: Lomba, Jalan Sehat, Malam Tasyakuran.</p>
<p><strong>Lomba Anti Mainstream</strong></p>
<p>Penulis pernah menjadi ketua panitia pada tahun 2014, setelah bertahun-tahun vakum karena bersamaan dengan bulan puasa Ramadhan. Pada tahun tersebut, penulis mengusulkan ide untuk menggabungkan lomba-lomba tradisional menjadi satu perlombaan marathon, seperti makan kerupuk, memasukkan pensil ke dalam botol hingga balap karung.</p>
<p>Tidak berpartisipasi pada tahun 2015 karena sedang magang di Tangerang, penulis mengusulkan ide lomba pindah kelereng yang anti <em>mainstream </em>pada tahun 2016. Terinspirasi dari acara Runningman, peserta akan memilih angka secara acak peralatan yang akan digunakan untuk memindahkan kelereng.</p>
<p>Mulai dari sumpit sampai sendok sup, hampir semua jenis peralatan dapur kami gunakan. Lomba ini dipersulit dengan peserta yang harus berpasangan dan saling membelakangi sambil mengapit sebuah balon.</p>
<p><div id="attachment_1180" style="width: 778px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1180" class="size-large wp-image-1180" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_1633-768x1024.jpg" alt="" width="768" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_1633-768x1024.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_1633-225x300.jpg 225w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_1633-191x255.jpg 191w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_1633.jpg 960w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><p id="caption-attachment-1180" class="wp-caption-text">Lomba Anti Mainstream</p></div></p>
<p>Di tahun berikutnya (2017), tidak terlalu banyak lomba yang anti <em>mainstream</em>. Mungkin hanya sandal <em>couple </em>(di mana peserta harus menemukan pasangan sandal) dan pindah pulau (di mana peserta yang terdiri dari tiga orang harus berpindah menggunakan potongan kardus) yang sedikit unik.</p>
<p>Pada tahun ini, penulis harus berada di Jakarta karena adanya tugas negara yang harus diselesaikan. Yang penulis dengar, ada lomba balap karung menggunakan helm yang terinspirasi dari Youtube.</p>
<p><strong>Jalan Sehat dan Bazaar</strong></p>
<p>Pertama kali diadakan pada tahun 2017, setelah bertahun-tahun tak pernah diadakan lagi karena berbagai alasan. Rutenya tidak terlalu jauh, mengingat banyak warga yang telah berusia sepuh.</p>
<p>Acara jalan sehat dilengkapi dengan bazaar dan pembagian <em>doorprize</em>. Tak lupa beberapa lomba untuk bapak dan ibu, yang tentunya tidak aneh-aneh.</p>
<p>Tahun ini, lagi-lagi dari yang penulis dengar, acara jalan sehat dan <em>bazaar</em> tetap berlangsung dan berjalan dengan lancar.</p>
<p><strong>Malam Tasyakuran</strong></p>
<p>Inilah puncak acara dari berbagai rangkaian kegiatan selama bulan Agustus. Para remaja selalu berusaha menyuguhkan sesuatu yang berbeda-beda, sesuai dengan tema yang diangkat.</p>
<p>Pada tahun 2014 ketika penulis menjadi ketua pelaksana, kami melakukan pembacaan puisi secara bergantian. Intinya, mengajak seluruh penonton untuk merefleksikan kemerdekaan.</p>
<p>Di tahun 2015, dari yang penulis dengar, remaja menampilkan semacam drama. Begitu pula pada tahun 2016, yang diketuai oleh Ekky, di mana para remaja tampil dengan adegan penjajahan tentara Jepang kepada bangsa Indonesia. Drama ini menggunakan rekaman anak teater SMP Negeri 1 Singosari.</p>
<p><div id="attachment_1181" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1181" class="size-large wp-image-1181" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1181" class="wp-caption-text">Penampilan Drama</p></div></p>
<p>Pada tahun 2017 ketika kepanitian dipimpin oleh Shanti, para remaja menampilkan drama anak-anak dan refleksi mengenai perbedaan generasi Indonesia melawan generasi kekinian. Inti dari penampilan remaja tersebut adalah mengajak para remaja untuk menjadi generasi yang mencintai budaya bangsa sendiri.</p>
<p>Tahun ini, ketika adik saya menjadi ketua panitia, drama yang ditampilkan adalah petualangan seorang kakak-adik yang menjelajah keliling Indonesia untuk mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Sayang, penulis tidak bisa menyaksikan penampilan tersebut.</p>
<p>Yang sama dari semua acara tersebut adalah ketika di akhir acara, warga secara bergantian dan bersama-sama bersenandung dengan riang gembira. Semua larut dalam kebahagiaan, sesuatu yang diharapkan oleh pendiri bangsa ini.</p>
<p><strong>Menghayati Kemerdekaan Melalui Karang Taruna</strong></p>
<p>Di sinilah pentingnya ikut Karang Taruna di lingkungan masing-masing. Kita bisa belajar untuk saling bahu-membahu dalam mempersiapkan acara, mulai dari yang paling remeh hingga yang membuat pusing kepala.</p>
<p>Kita hanya mempersiapkan acara, tidak perlu ikut serta berperang dan menumpahkan darah melawan penjajah. Kita hanya mengeluarkan peluh, tidak perlu mengorbankan nyawa.</p>
<p>Menyambut bulan kemerdekaan dengan suka cita, penulis yakini diharapkan oleh para pendiri bangsa ini. Mereka ingin masyarakat Indonesia merdeka dan bahagia dengan kemerdekaan tersebut.</p>
<p>Membuat peringatan dengan berbagai acara hanyalah satu tindakan kecil untuk menghargai jasa para pahlawan kita.</p>
<p>Karang Taruna, sebagai wadah berkumpulnya para remaja, penulis yakini sebagai tempat yang tepat untuk menghayati kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropolitan Mal, Bekasi, 21 Agustus 2018, terinspirasi dari pengalaman penulis mengadakan acara peringatan kemerdekaan setiap tahunnya.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">Menghayati Kemerdekaan Melalui Karang Taruna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2018 08:25:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[copas]]></category>
		<category><![CDATA[etos kerja]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lemah]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1117</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menurut pembaca, bagaimana etos kerja yang dimiliki oleh generasi sekarang? Cenderung lebih kuat dari generasi sebelumnya atau justru semakin melemah? Menurut penulis, jika melihat fenomena yang terjadi di sekeliling, penulis cenderung meyakini opsi yang kedua. Definisi Generasi Milenial Bagi Penulis Sebelumya, istilah generasi milenial sendiri memiliki beberapa tafsir pengertian. Ada yang menganggapnya generasi yang lahir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut pembaca, bagaimana etos kerja yang dimiliki oleh generasi sekarang? Cenderung lebih kuat dari generasi sebelumnya atau justru semakin melemah? Menurut penulis, jika melihat fenomena yang terjadi di sekeliling, penulis cenderung meyakini opsi yang kedua.</p>
<p><strong>Definisi Generasi Milenial Bagi Penulis</strong></p>
<p>Sebelumya, istilah generasi milenial sendiri memiliki beberapa tafsir pengertian. Ada yang menganggapnya generasi yang lahir di atas tahun 90an, ada yang mengatakan generasi ini lahir setelah pergantian abad, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis memilih definisi yang kedua, generasi milenial adalah generasi yang lahir di atas 2000an, karena terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara mereka dengan generasi yang sepantaran dengan penulis.</p>
<p>Pada tulisan-tulisan berikutnya, penulis akan tetap menggunakan definisi tersebut.</p>
<p><strong>Tukang Ngeluh</strong></p>
<p>Dalam etos kerja, ada dua hal yang menjadi pertimbangan penulis mengganggap generasi milenial kurang memiliki etos kerja. Yang pertama adalah mudah mengeluh, yang kedua adalah kebiasaan <em>copas </em>dalam menyelesaikan pekerjaan.</p>
<p>Pada tulisan kali ini, penulis hanya mengambil contoh bagaimana generasi milenial menghadapi tugas-tugas mereka di sekolah.</p>
<p><div id="attachment_1127" style="width: 660px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1127" class="wp-image-1127 size-full" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger.jpg" alt="" width="650" height="473" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger.jpg 650w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger-300x218.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger-350x255.jpg 350w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" /><p id="caption-attachment-1127" class="wp-caption-text">Hobi Mengeluh (https://www.mid-day.com/articles/what-makes-teenagers-so-angry-and-aggressive/15600172)</p></div></p>
<p>Darimana penulis tahu mereka suka mengeluh? Ya dari postingan mereka sendiri. Ada pekerjaan rumah banyak, bikin status, curhat. Besok ulangan, bikin status lagi. Setiap ada pekerjaan yang dirasa berat, mereka akan membagi apa yang mereka rasakan di media sosial.</p>
<p>Padahal yang mereka hadapi baru <em>pekerjaan sekolah</em>, belum <em>ujian hidup</em>. Semoga saja dengan semakin bertambahnya kedewasaan mereka, mereka akan menyadari bahwa tugas-tugas yang mereka kerjakan itu bukanlah sesuatu yang patut untuk dikeluhkan.</p>
<p><strong>Asal Copas</strong></p>
<p>Parameter yang kedua adalah kemudahan mengakses informasi yang disalahgunakan. Ini penulis ketahui dari narasumbernya langsung, yang mengeluh karena temannya dalam kerja kelompok hanya asal <em>copas </em>dalam mengerjakan bagian tugasnya.</p>
<p>Ketika penulis masih sekolah, bertahun-tahun yang lalu, internet sudah ada, meskipun untuk mengaksesnya kita harus ke warnet terdekat. Penulis juga mengumpulkan data-data untuk tugas dari sana.</p>
<p>Bedanya, penulis membaca data tersebut, memahami, lalu membuat ringkasannya. Bukannya mau menyombongkan diri, tapi penulis merasa bahwa itu seharusnya menjadi hal yang biasa dilakukan oleh para pelajar di Indonesia.</p>
<p><div id="attachment_1126" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1126" class="size-large wp-image-1126" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-1024x727.jpeg" alt="" width="1024" height="727" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-1024x727.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-300x213.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-768x545.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-356x253.jpeg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg.jpeg 2000w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1126" class="wp-caption-text">Copas (https://medium.com/digital-identity/copy-paste-inc-d9a99f4a4b6a)</p></div></p>
<p>Jika hanya asal <em>copas</em>, lantas ilmu apa yang akan kita peroleh? Jangankan memahami, membaca saja tidak. Hanya mencari kata kunci yang pas, dibaca judul dan beberapa paragraf awal, lantas di-<em>copas </em>jika dirasa sesuai dengan pertanyaan.</p>
<p>Itulah yang terjadi jika sistem pendidikan lebih mementingkan nilai daripada ilmu pengetahuan.</p>
<p><strong>Kenapa Bisa Begitu?</strong></p>
<p>Menurut analisa sederhana penulis sebagai pengamat generasi milenial, banyak sekali faktor yang mempengaruhi fenomena ini. Kemajuan teknologi sudah tidak perlu dibahas secara rinci karena sudah terlalu sering dibahas.</p>
<p>Kalau menurut penulis, salah satu yang vital namun jarang disadari adalah, kita terbuai oleh media sosial, apapun bentuknya, mulai YouTube, Instagram, hingga Tik Tok. Kita tanpa sadar diperbudak oleh aplikasi-aplikasi tersebut hingga betah berada di depan layer ponsel berjam-jam.</p>
<p><div id="attachment_1129" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1129" class="size-full wp-image-1129" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600.png" alt="" width="800" height="429" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600.png 800w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600-300x161.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600-768x412.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600-356x191.png 356w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-1129" class="wp-caption-text">Membuai Kita (https://www.adlibbing.org/2018/02/12/4-lessons-from-top-social-media-publishers/)</p></div></p>
<p>Di mana korelasinya dengan lemahnya etos kerja? Coba bayangkan, berapa banyak jam dalam satu hari yang kita habiskan untuk berselancar melihat berbagai macam hal yang mungkin kurang penting.</p>
<p>Karena menikmati berbagai fasilitas tersebut, akhirnya kita jadi menunda-nunda dalam mengerjakan tugas. Tugas yang menumpuk inilah yang pada akhirnya membuat kita menjadi mengeluh dan asal <em>copas</em>. Siklus ini terjadi berulang-ulang sehingga secara tidak sadar menjadi sebuah kebiasaan.</p>
<p>Faktor keluarga dan sistem pendidikan juga bisa menjadi faktor yang berpengaruh, namun pada tulisan kali ini penulis tidak akan membahasnya lebih dalam. Ada juga faktor membudayanya <em>mager</em> yang telah penulis bahas pada tulisan lainnya (Baca Juga: <a href="http://whathefan.com/2018/07/06/bahaya-mager-dan-apatis/">Bahaya Mager dan Apatis</a>).</p>
<p><strong>Lantas, Apa Solusinya?</strong></p>
<p>Mau bagaimana pun, semua tidak akan berhasil jika tidak diawali dari diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa kita harus memiliki etos kerja yang tinggi agar dapat <em>survive </em>dari persaingan hidup yang nantinya akan semakin keras ini.</p>
<p>Jika semenjak usia sekolah kita menjadi generasi yang mudah mengeluh dan asal-asalan dalam mengerjakan tugas, bagaimana kita akan selamat dari ketatnya dunia kerja?</p>
<p>Ahmad Rifa’i Rifan pernah menulis buku “Jangan Mau Jadi Orang Rata-Rata”. Penulis belum pernah membaca buku tersebut, akan tetapi dari buku lainnya penulis bisa sedikit banyak memahami pesan apa yang ingin disampaikan.</p>
<p>Intinya, jangan sampai kita menjadi orang-orang pada umumnya, kita harus bisa menjadi orang yang special dengan caranya masing-masing. Jangan sampai keberadaan kita di dunia tidak ada artinya.</p>
<p><div id="attachment_1130" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1130" class="size-large wp-image-1130" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash.jpg 1440w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1130" class="wp-caption-text">Lakukan Lebih (https://unsplash.com/photos/KE0nC8-58MQ)</p></div></p>
<p>Sebagai contoh, jika etos kerja orang rata-rata, katakanlah, di <em>grade</em> 6, maka minimal kita harus memiliki etos kerja di <em>grade </em>7, lebih bagus kalau bisa lebih tinggi. Jika orang rata-rata hanya mengerjakan apa yang diperintahkan, kita harus bisa berinisiatif melakukan apalagi yang bisa dilakukan.</p>
<p>Mungkin jika dilihat dari sudut material, apa yang kita kerjakan sama dengan apa yang orang rata-rata kerjakan. Tapi percayalah, masih banyak sudut-sudut yang lebih berharga dari itu. Minimal, Tuhan melihat kita berusaha lebih keras dari orang rata-rata.</p>
<p>Penulis percaya tidak semua generasi milenial seperti itu. Bukan hobi penulis untuk melakukan generalisasi. Bagi generasi milenial yang tidak melakukan dua hal yang penulis katakan di atas, kalian luar biasa!</p>
<p>Oleh karena itu, pesan penulis untuk generasi milenial dan generasi-generasi yang lebih tua terutama diri penulis sendiri, tingkatkanlah etos kerja yang kita miliki. Milikilah semangat juang yang tinggi dalam mengarungi lautan kehidupan, jangan pantang menyerah menghadapi badai cobaan yang menghadang. Semoga tulisan ini membawa kebaikan untuk kita semua, dan jangan lupa bahagia hari ini 😊!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Bersambung ke tulisan berikutnya, Pengaruh Karakter dalam Etos Kerja Generasi Milenial)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kayuringin, Bekasi, 11 Agustus 2018, terinspirasi oleh berbagai status dan keluhan generasi milenial.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.teenlife.com/blogs/how-to-encourage-a-lazy-teen">https://www.teenlife.com/blogs/how-to-encourage-a-lazy-teen</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gen X SWI Awards</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/gen-x-swi-awards/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/gen-x-swi-awards/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jul 2018 14:08:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[Gen X SWI Awards]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kekeluargaan]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[survei]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=984</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari ide iseng untuk mengadakan survei kecil-kecilan tentang anggota Karang Taruna, jadilah sebuah ajang penghargaan bernama Gen X SWI Awards. Mungkin hanya Karang Taruna yang pernah saya pimpin yang pernah memiliki acara seheboh itu (dasar sombong!). Survei apakah yang dilakukan oleh kami? Sederhana saja, kami memilih anggota-anggota yang paling di antara yang lain. Secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/gen-x-swi-awards/">Gen X SWI Awards</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari ide iseng untuk mengadakan survei kecil-kecilan tentang anggota Karang Taruna, jadilah sebuah ajang penghargaan bernama Gen X SWI Awards. Mungkin hanya Karang Taruna yang pernah saya pimpin yang pernah memiliki acara seheboh itu (dasar sombong!).</p>
<p>Survei apakah yang dilakukan oleh kami? Sederhana saja, kami memilih anggota-anggota yang <em><strong>paling</strong></em> di antara yang lain. Secara keseluruhan, terdapat 25+1 kategori yang diperebutkan. Masing-masing kategori memiliki empat nominator yang dipilih berdasarkan suara terbanyak.</p>
<p>Kategori beserta pemenang dari survei tersebut adalah:</p>
<table style="height: 986px;" width="748">
<tbody>
<tr>
<td width="514">1. Siapa anggota Karang Taruna yang paling diidolakan?</td>
<td width="86">Fanandi</td>
</tr>
<tr>
<td>2. Siapa anggota Karang Taruna yang paling tampan?</td>
<td>Azka</td>
</tr>
<tr>
<td>3. Siapa anggota Karang Taruna yang paling cantik?</td>
<td>Ayu</td>
</tr>
<tr>
<td>4. Siapa anggota Karang Taruna yang paling pemarah/sensitif?</td>
<td>Ekky</td>
</tr>
<tr>
<td>5. Siapa anggota Karang Taruna yang paling sabar?</td>
<td>Akbar</td>
</tr>
<tr>
<td>6. Siapa anggota Karang Taruna yang paling nyebelin/suka bikin kesel?</td>
<td>Hansen</td>
</tr>
<tr>
<td>7. Siapa anggota Karang Taruna yang paling cerewet/bawel?</td>
<td>Enjel</td>
</tr>
<tr>
<td>8. Siapa anggota Karang Taruna yang paling pendiam?</td>
<td>Ecca</td>
</tr>
<tr>
<td>9. Siapa anggota Karang Taruna yang paling rajin/hobi datang duluan?</td>
<td>Rael</td>
</tr>
<tr>
<td>10. Siapa anggota Karang Taruna yang paling hobi telat?</td>
<td>Daffa</td>
</tr>
<tr>
<td>11. Siapa anggota Karang Taruna yang paling supel/bersahabat?</td>
<td>Ekky</td>
</tr>
<tr>
<td>12. Siapa anggota Karang Taruna yang paling sombong?</td>
<td>Ekky</td>
</tr>
<tr>
<td>13. Siapa anggota Karang Taruna yang paling dikangenin kalo enggak ada?</td>
<td>Fanandi</td>
</tr>
<tr>
<td>14. Siapa anggota Karang Taruna yang paling perhatian?</td>
<td>Fanandi</td>
</tr>
<tr>
<td>15. Siapa anggota Karang Taruna yang paling lucu/humoris?</td>
<td>Daffa</td>
</tr>
<tr>
<td>16. Siapa anggota Karang Taruna yang paling sering dibully?</td>
<td>Ekky</td>
</tr>
<tr>
<td>17. Siapa anggota Karang Taruna yang paling sering membully?</td>
<td>Hansen</td>
</tr>
<tr>
<td>18. Siapa anggota Karang Taruna yang paling suka makan/perut karet?</td>
<td>Daffa</td>
</tr>
<tr>
<td>19. Siapa anggota Karang Taruna yang paling sering PHP/labil?</td>
<td>Nia</td>
</tr>
<tr>
<td>20. Siapa anggota Karang Taruna yang paling suka nraktir?</td>
<td>Irham</td>
</tr>
<tr>
<td>21. Siapa anggota Karang Taruna yang paling sering gak jelas/geje?</td>
<td>Daffa</td>
</tr>
<tr>
<td>22. Siapa anggota Karang Taruna yang paling kakakable/cocok jadi kakakmu?</td>
<td>Hersandi</td>
</tr>
<tr>
<td>23. Siapa anggota Karang Taruna yang paling adikable/cocok jadi adikmu?</td>
<td>Nabilla</td>
</tr>
<tr>
<td>24. Siapa pasangan kakak-adik di Karang Taruna yang paling akur?</td>
<td>Paskah-Rael</td>
</tr>
<tr>
<td>25. Siapa pasangan kakak-adik di Karang Taruna yang paling sering berantem?</td>
<td>Daffa-Nabilla</td>
</tr>
<tr>
<td>Terakhir, siapa anggota Karang Taruna yang paling pantas menjadi ketua selanjutnya?</td>
<td>Ekky</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jauh berbeda bukan dengan ajang penghargaan lain? Terdapat 26 responden yang telah menggunakan hak suaranya dalam memilih siapa-siapa yang paling cocok dengan kategori tersebut.</p>
<p>Agar lebih terlihat nuansa <em>awards</em>-nya, maka penulis juga membuatkan semacam video nominasi, mirip dengan acara penghargaan yang ada di televisi. Hitung-hitung melakukan hobi <em>editing</em> video. Acara juga dimeriahkan dengan acara bakar-bakar dan permainan.</p>
<p>Lantas, apa esensi dari acara ini? Pertama, ajang ini bisa dijadikan sebagai ajang pembuktian seberapa jauh anggota saling mengenal satu sama lain. Anggota yang jarang ikut kumpul biasanya bingung memilih.</p>
<p>Kedua, sebagai acara <em>having fun </em>saja. Tentu menyenangkan melihat orang-orang yang terpilih maju ke depan sembari memberikan pidato singkat atas kemenangan yang telah mereka raih.</p>
<p>Harapan dari diadakannya acara ini tentu meningkatkan rasa kekeluargaan antar anggota. Sayangnya, di akhir acara, terdapat sedikit insiden yang menodai acara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 11 Juli 2018, terinspirasi dari kegiatan Gen X SWI Awards yang diadakan pada tanggal 28 April 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/gen-x-swi-awards/">Gen X SWI Awards</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/gen-x-swi-awards/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lelatu</title>
		<link>https://whathefan.com/cerpen/lelatu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/cerpen/lelatu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Jun 2018 12:16:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[api]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebakaran]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=902</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kobaran api menjalar ke udara di tengah pekatnya malam. Langit cerah tak berawan, memperkecil kemungkinan hujan turun untuk memadamkan kebakaran di rumah tetanggaku yang sedang dilalap api ini. Entah apa yang menjadi pemicunya. Aku bersama beberapa warga lain bahu membahu ikut membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya. Ember, bak mandi, selang, hingga kaleng cat kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/lelatu/">Lelatu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kobaran api menjalar ke udara di tengah pekatnya malam. Langit cerah tak berawan, memperkecil kemungkinan hujan turun untuk memadamkan kebakaran di rumah tetanggaku yang sedang dilalap api ini. Entah apa yang menjadi pemicunya.</p>
<p>Aku bersama beberapa warga lain bahu membahu ikut membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya. Ember, bak mandi, selang, hingga kaleng cat kami manfaatkan untuk menimba air. Lokasi kampung kami yang cukup jauh dari pusat kota membuat mobil pemadam kebakaran tidak bisa datang lebih cepat.</p>
<p>Pasangan pemilik rumah hanya bisa menangis histeris, beberapa meter dari lokasi. Bukan karena rumah mereka yang terbakar, melainkan karena satu-satunya anak mereka masih terjebak di dalam rumah. Mereka tidak ada di lokasi ketika kebakaran terjadi. Api sudah terlampau besar untuk bisa diterjang warga demi menyelamatkan sang anak tersebut, yang baru duduk di bangku SMA.</p>
<p>Selain kedua orangtua anak tersebut, kekasih yang sekaligus tetangga anak tersebut juga sedang menangis tersedu, membayangkan tubuh pacarnya dimakan api tanpa ampun. Gadis tersebut baru duduk di bangku SMP, dan sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Sambil estafet menggiringkan ember demi ember, aku mencuri pandang kepadanya, memastikan kondisinya baik-baik saja.</p>
<p style="text-align: center;" align="center">***</p>
<p>Beberapa bulan sebelumnya, warga baru tersebut datang ke kampung kami. Mereka merupakan pasangan dari luar pulau, yang pindah ke mari karena tugas dinas sang suami. Sang anak yang baru saja lulus dari SMP turut serta diajak serta, mungkin karena mereka tidak ingin jauh-jauh dari satu-satunya buah hati mereka.</p>
<p>Meskipun datang dari belahan daerah yang jauh dari kami, nyatanya anak tersebut mudah sekali beradaptasi dengan kami. Ia tidak pernah merasa canggung ketika berkomunikasi dengan kami, tak segan menawarkan bantuan jika ada yang membutuhkan, terkadang melemparkan candaaan yang membuat teman-teman lain tertawa.</p>
<p>Ia menjadi yang tertinggi di antara remaja lainnya, mungkin hobi basketnya yang memiliki andil dalam pertumbuhannya tersebut. Selain itu, ia juga pandai memainkan gitar. Jari-jarinya tampak lihai berpindah-pindah dari satu senar ke senar lainnya. Vokal yang dihasilkan dari pita suaranya juga lumayan merdu untuk dinikmati.</p>
<p>Pendek kata, ia berhasil berbaur dengan sempurna dengan lingkungannya. Di antara pembauran tersebut, terselip cinta.</p>
<p style="text-align: center;" align="center">***</p>
<p>Orang yang beruntung mendapatkan cinta dari anak pindahan tersebut adalah gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Pada mulanya, mereka seringkali bertikai kecil-kecilan, saling mengumpat dengan bercanda. Karena interaksi macam itulah teman-teman yang lain sering menjodohkan mereka berdua.</p>
<p>Siapa yang menyangka, berawal dari itulah benih-benih cinta tumbuh. Tanpa disadari oleh yang lain, mereka sering bertukar kabar melalui WA, kadang sekadar mengucapkan selamat malam. Semua mereka lakukan diam-diam, seolah ingin menyembunyikan fakta bahwa mereka saling mencintai.</p>
<p>Karena telah lama dekat, seringkali adikku tersebut bercerita kepadaku. Itu pun setelah kupaksa untuk berkata sejujurnya, karena meskipun bukan kakak karena kesamaan DNA, aku merasa berhak untuk mengetahui apa-apa tentang dia. Akhirnya sedikit demi sedikit ia mau membuka diri, bercerita tentang hubungan mereka.</p>
<p>Sebagai orang yang jauh lebih tua, aku sering memberikan nasihat-nasihat kepada gadis yang sudah kuanggap adikku sendiri tersebut. Aku tak pernah secara gamblang menyatakan setuju atau tidak setuju dengan hubungannya, aku hanya selalu mendoakan yang terbaik untuknya.</p>
<p>Dari cerita ke cerita, aku menyadari bahwa mereka benar-benar saling mencintai, mungkin lebih besar dari rasa sayangku kepada adikku tersebut. Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan hubungan yang mereka sembunyikan tersebut.</p>
<p style="text-align: center;" align="center">***</p>
<p>Setelah upaya selama enam jam, akhirnya kebakaran berhasil dipadamkan. Sang ayah langsung menerjang masuk untuk mengecek keadaan, meskipun sempat ditahan oleh beberapa pihak kepolisian yang baru saja tiba. Selang beberapa menit, sang ayah kembali dengan tangan hampa, ekspresinya kosong.</p>
<p>Mungkin ia telah menemukan mayat anaknya yang pasti sudah tidak dapat diidentifikasi. Sekarang tugas pihak yang berwajib untuk mencari tahu penyebab kebakaran, yang turut membakar dua rumah di kanan-kirinya meskipun tidak sampai memakan korban jiwa.</p>
<p>Aku menghampiri gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri untuk memberikan semangat. Kerengkuh pundaknya, seolah ingin memberikan energiku kepadanya.</p>
<p>&#8220;Sabar ya dek, ini ujian, semoga kekasihmu diterima di sisi-Nya.&#8221;</p>
<p>Ia hanya mengangguk pelan, sambil bergumam terima kasih. Aku memandang kosong bekas bangunan yang habis terbakar tersebut, sambil berharap polisi tidak menemukan kejanggalan dari aksiku semalam, ketika aku mendatangi rumah ini, membuat anak dari pemilik rumah tidak sadarkan diri, lantas membakar rumah itu dengan segala trik yang sudah kupelajari berbulan-bulan yang lalu.</p>
<p>Pemicu kebakaran ini sebenarnya sudah jelas, lelatu alias percikan api. Api kecemburuan. Percikan itulah yang menjadi penyebab kebakaran besar ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 18 Juni 2018, terinspirasi sama apa hayo 🙂</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/lelatu/">Lelatu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/cerpen/lelatu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beradaptasi dengan Lingkungan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Jun 2018 03:23:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[adaptasi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=859</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Ah, kayaknya aku gak bakal deh diterima sama mereka.&#8221; &#8220;Ah, kalo aku gabung ke situ paling aku cuma diem.&#8221; &#8220;Ah, mereka kayaknya enggak suka sama aku.&#8221; &#8220;Ah, aku enggak butuh mereka, aku lebih suka sendiri.&#8221; Dan masih banyak lagi pikiran-pikiran yang menggantung di dalam hati kita ketika kita merasa ragu untuk bergabung dalam pembicaraan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/">Beradaptasi dengan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ah, kayaknya aku gak bakal deh diterima sama mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, kalo aku gabung ke situ paling aku cuma diem.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, mereka kayaknya enggak suka sama aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, aku enggak butuh mereka, aku lebih suka sendiri.&#8221;</p>
<p>Dan masih banyak lagi pikiran-pikiran yang menggantung di dalam hati kita ketika kita merasa ragu untuk bergabung dalam pembicaraan yang telah dimulai oleh sekelompok orang. Penulis bisa berkata demikian karena penulis alami sendiri :).</p>
<p>Kita terlalu rumit dengan pikiran kita sendiri hingga menjustifikasi orang lain seenak kita. Padahal, belum tentu praduga-praduga tersebut terbukti. Bukankah membuat kesimpulan tanpa data adalah kesalahan besar?</p>
<p>Bisa berbaur dengan lingkungan baru merupakan salah satu teknik adaptasi yang dibutuhkan dalam kehidupan bersosial. Syarat pertama agar bisa melakukan hal tersebut, ya membuang segala prasangka-prasangka tersebut.</p>
<p>Coba bayangkan situasi sebagai berikut:</p>
<p><em>Budi baru saja pindah ke Sumber Wuni. Di hari pertamanya, ia mencoba untuk bermain ke lapangan untuk mengenal teman-teman sekampungnya. Ketika sampai di lapangan, ia melihat sekumpulan remaja sedang bercengkerama di pinggir lapangan. Apa yang harus dilakukan Budi?</em></p>
<p>Jika yang ada di benak Budi adalah pikiran-pikiran yang ada di awal tulisan, tentu ia akan memutuskan untuk balik badan. Atau minimal, duduk agak jauh dari tempat mereka berkumpul, menunggu diajak bergabung oleh mereka.</p>
<p>Akan tetapi, karena Budi adalah anak yang berpikir positif, maka ia berusaha untuk langsung bergabung dengan mereka dan memperkenalkan diri. Dan ternyata, remaja-remaja tersebut sangat <em>welcome </em>terhadap Budi.</p>
<p>Ketika awal-awal, mungkin kita akan lebih banyak diam mendengarkan pembicaraan mereka, dan ini sangat normal. Sebagai orang baru, tentu kita harus mengetahui dulu bagaimana kebiasaan, sifat, gaya bahasa teman-teman baru kita. Jangan sampai kita sok membaur dengan gaya kita sendiri karena hal tersebut dapat membuat risih orang lain.</p>
<p>Misalkan saja, orang Jakarta pindah ke Malang, tentu ia tidak dapat menggunakan bahasa <em>gue lo </em>dalam tempo cepat terhadap orang Jawa yang menggunakan <em>aku awakmu </em>yang bertempo lambat. Anak baru tersebut kemungkinan besar akan dicap &#8220;mentang-mentang dari Jakarta jadi sombong&#8221;.</p>
<p>Beradaptasi tentu memerlukan waktu untuk penyesuaian. Manfaatkanlah waktu-waktu di awal perkenalan sebagai momen untuk mengobservasi orang-orang di lingkungan baru. Ketika merasa sudah bisa menyesuaikan diri, cobalah untuk bergabung lebih dalam lagi dengan mereka.</p>
<p>Idealnya, kita yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kita, bukan sebaliknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 10 Juni 2018, terinspirasi ketika malam setelah pemilihan ketua Karang Taruna periode 2018-2021</p>
<p>Sumber foto: <a href="http://www.tv3.ie/xpose/article/lifestyle/258356/Signs-your-childs-lonely-and-10-tips-on-how-to-help-them">http://www.tv3.ie/xpose/article/lifestyle/258356/Signs-your-childs-lonely-and-10-tips-on-how-to-help-them</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/">Beradaptasi dengan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Next Gen Development Project</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/next-gen-development-project/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/next-gen-development-project/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 May 2018 14:27:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>
		<category><![CDATA[Next Gen Development Project]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Wuni Indah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=694</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari kekhawatiran bahwa penulis sebagai ketua Karang Taruna belum cukup memberi ilmu kepada generasi penerus, tercetuslah ide untuk membuat rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh anggota. Gagasan ini muncul ketika penulis berada di Pare dalam rangka persiapan tes IELTS. Konsep awalnya, anggota akan diberikan beberapa tugas, di mana masing-masing tugas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/next-gen-development-project/">Next Gen Development Project</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari kekhawatiran bahwa penulis sebagai ketua Karang Taruna belum cukup memberi ilmu kepada generasi penerus, tercetuslah ide untuk membuat rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh anggota.</p>
<p>Gagasan ini muncul ketika penulis berada di Pare dalam rangka persiapan tes IELTS. Konsep awalnya, anggota akan diberikan beberapa tugas, di mana masing-masing tugas memiliki esensinya sendiri.</p>
<p>Sebagai contoh, mereka harus menulis catatan tentang kegiatan sehari-hari mereka melalui aplikasi Google Kalender (yang penulis gunakan setiap hari). Tujuannya, agar mereka tahu seberapa banyak waktu yang tidak mereka gunakan sehari-hari. Padahal, kita harus memanfaatkan waktu yang kita miliki seefektif mungkin, mumpung masih muda.</p>
<p>Penulis serahkan konsep ini kepada teman-teman Karang Taruna yang seumuran dengan penulis. Salah satunya, sang bendahara bernama Pentol, memberi usul (setelah dipancing sedikit agar mengeluarkan idenya):</p>
<p>&#8220;<em>Kalau konsepnya seperti itu, pasti membosankan buat mereka. Lebih baik dibuat game yang edukatif agar pesertanya banyak.</em>&#8221;</p>
<p>Setelah ditimbang matang-matang, penulis setuju dengan pendapatnya. Konsep yang sudah berlembar-lembar dibuat penulis akhirnya tidak terpakai. Bersama-sama, kami menyusun konsep yang benar-benar baru, sesuai dengan usulan Pentol.</p>
<p>Akhirnya, disepakati bahwa pelaksanaan acara ini akan dilakukan pada akhir Desember, sewaktu anggota libur semester. Penulis memberi nama <strong>Next Gen Development Project, </strong>yang berarti sebuah proyek yang bertujuan untuk mengembangkan generasi penerus. Entah disadari atau tidak, namanya memang mirip dengan <em>recruitment </em>yang dilakukan oleh NET TV (Media Development Program).</p>
<p>Tujuan acarapun disederhanakan. Mengumpulkan semua anggota agar terlibat dalam acara ini. Yang penting mau kumpul dulu, yang lain bisa menyusul.</p>
<p><strong>Isi Acara Next Gen Development Project</strong></p>
<p>Pada awalnya, seluruh anggota dibagi menjadi tiga tim, yang ditentukan berdasarkan undian. Masing-masing tim berisi 6 anggota. Dalam waktu satu minggu, mereka harus bisa mengumpulan poin tertinggi yang bisa didapatkan dari berbagai permainan yang ada maupun dari menjawab pertanyaan seputar Karang Taruna.</p>
<p>Tiga tim yang mengikuti even adalah tim 1 yang dipimpin Hansen, tim 2 yang dipimpin Nia, dan tim 3 yang dipimpin Ekky. Next Gen diawali dengan wawancara dengan anggota seputar dirinya sendiri dan Karang Taruna. Tentu, yang telah melakukan mendapatkan poin tambahan.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>26 Desember 2017 (Tim 1 29; Tim 2 33; Tim 3 38)</strong></p>
<p>Permainan pertama yang dilombakan adalah basket pada tanggal 27 Desember 2017, di mana tim 3 berhasil meraih total poin tertinggi dengan skor 77.5. Kapten tim 3 menjadi bintang lapangan karena berhasil mencetak skor sebanyak 17 poin.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>27 Desember 2017 (Tim 1 67; Tim 2 68.5; Tim 3 77.5)</strong></p>
<p>Permainan selanjutnya diadakan keesokan harinya, yakni Tebak dengan Satu Kata. Untuk teknisnya akan dibahas pada tulisan lain. Kali ini tim 2 bermain dengan gemilang berkat <em>chemistry </em>yang dimiliki antara Abil dan Daffa. Pada hari kedua ini, mereka berhasil mengumpulkan skor 208.5.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>28 Desember 2017 (Tim 1 148; Tim 2 208.5; Tim 3 198.5)</strong></p>
<p>Tim 1 yang awalnya sama sekali tidak diunggulkan karena banyaknya anggota yang berhalangan hadir berhasil membuat kejutan pada permainan Hexagon Wars. Sang kapten, Hansen, berhasil memenangkan semua permainan, membuat timnya berhasil menyalip tim 2. Sayangnya, tim 3 pun tak kalah bermain dengan gemilang sehingga mereka berhasil mengamankan puncak klasemen.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>29 Desember 2017 (Tim 1 223; Tim 2 211.5; Tim 3 241.5)</strong></p>
<p>UNO yang disiplin menjadi lomba terakhir sebelum pelaksanaan malam puncak. Tim 2 berhasil membayar kegagalan mereka di lomba sebelumnya sehingga berhasil menyalip dominasi tim 3.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>30 Desember 2017 (Tim 1 252; Tim 2 265; Tim 3 261.5)</strong></p>
<p>Puncak acara Next Gen Development Project dimeriahkan dengan acara bakar-bakar. Pada malam ini, beberapa lomba dimainkan ulang untuk menambah poin peserta. Setelah pertarungan yang sengit, akhirnya tim 3 pimpinan Ekky berhasil menjuarai Next Gen Development Project dengan total nilai 336.5. Sedangkan <em>Most Valuable Player</em> (MVP) berhasil diraih oleh Hansen berkat pembacaan puisinya yang sangat menjiwai.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>31 Desember 2017 (Tim 1 300; Tim 2 302; Tim 3 336.5)</strong></p>
<p><div id="attachment_696" style="width: 586px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-696" class="size-large wp-image-696" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG_0869-576x1024.jpg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG_0869-576x1024.jpg 576w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG_0869-169x300.jpg 169w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG_0869-143x255.jpg 143w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG_0869.jpg 720w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /><p id="caption-attachment-696" class="wp-caption-text">MVP</p></div></p>
<p>Demikian acara Next Gen Development berlangsung selama kurang lebih satu minggu. Harapan kami mungkin tidak sepenuhnya tercapai, karena banyak anggota yang tetap tidak datang ketika acara. Setidaknya, rangkaian acara ini berhasil membuat anggota senang, setidaknya dengan hadiahnya (yang dialokasikan sebesar 850 ribu, dari uang kas dan donasi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 11 Mei 2018, setelah mengikuti training pertama Asian Games</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/next-gen-development-project/">Next Gen Development Project</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/next-gen-development-project/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Bisnis Sejak Dini</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/belajar-bisnis-sejak-dini/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/belajar-bisnis-sejak-dini/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Feb 2018 13:14:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Wiraswasta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=323</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika melakukan wawancara dengan beberapa anggota Karang Taruna, beberapa mereka mengatakan bahwa cita-cita mereka adalah menjadi pengusaha. Bahkan salah satunya secara jujur bercerita bahwa ia terinspirasi oleh Chairul Tanjung. Berbisnis memang pekerjaan yang menjanjikan, walaupun jalan yang harus dilalui sangatlah terjal. Oleh karena itu, ilmu-ilmunya harus dipelajari sejak usia remaja. Bagaimana caranya? Mulai saja dulu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/belajar-bisnis-sejak-dini/">Belajar Bisnis Sejak Dini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika melakukan wawancara dengan beberapa anggota Karang Taruna, beberapa mereka mengatakan bahwa cita-cita mereka adalah menjadi pengusaha. Bahkan salah satunya secara jujur bercerita bahwa ia terinspirasi oleh Chairul Tanjung.</p>
<p>Berbisnis memang pekerjaan yang menjanjikan, walaupun jalan yang harus dilalui sangatlah terjal. Oleh karena itu, ilmu-ilmunya harus dipelajari sejak usia remaja. Bagaimana caranya? Mulai saja dulu bisnis yang sekiranya bisa dilakukan. Sebagai contoh, saya akan menceritakan pengalaman wirausaha saya ketika masih SD dan SMP.</p>
<p><strong>Penyewaan CD</strong></p>
<p>Waktu SD, saya ingat betul ketika membuka usaha persewaan CD (bukan DVD, belum populer ketika itu) sendirian. Bermodalkan seri hampir lengkap Power Ranger Turbo dan beberapa CD lainnya seperti Teletubbies, saya beri nama <strong>Persewaan CD Iraq. </strong></p>
<p>Kenapa Iraq? Bukan sebagai dukungan terhadap Irak yang sedang diinvasi oleh AS, melainkan Iraq pakai Q memiliki kepanjangan odI heRAl aQsa. Iya, maksa memang, namanya juga anak kecil, belum sunat pula.</p>
<p>Apakah ada pelanggannya? Ada, teman satu kelas. Malah pada akhirnya jadi mitra. Sayangnya, karena yang nyewa juga cuma satu orang itu, akhirnya mau tidak mau bisnis pertama saya harus saya tutup.</p>
<p><strong>Penyewaan Komik</strong></p>
<p>Gagal di tahap pertama tidak menyurutkan semangat saya untuk menghasilkan uang sendiri. Bersama teman yang sama, ketika SMP kami berdua mendirikan <strong>Penyewaan Komik Konohagakure</strong>. Bahkan, kami sudah membuat stempel perusahaan.</p>
<p>Iya, Konoha, tempat Naruto lahir dan menjadi Hokage. Kami berdua kebetulan sama-sama penggemar komik Naruto, hingga drama kelas pun menggunakan cerita Naruto (kalau tidak salah, episode Sasuke bertemu Itachi pertama kali).</p>
<p>Bermodalkan katalog sederhana, di hari pertama kami berhasil menyewakan komik banyak sekali, sekitar satu kantong kresek besar. Bahkan kami berhasil menggandeng mitra ketiga dan keempat untuk menambah koleksi kami.</p>
<p>Sayang, karena saya orangnya <em>sungkanan</em>, banyak komik yang tidak kembali ke saya. Rasanya tidak enak mau menagih. Demi menghentikan hilangnya komik saya (karena saya penyumbang komik terbanyak), maka penyewaan ini pun kami tutup.</p>
<p><strong>Manfaat Berbisnis Sejak Muda</strong></p>
<p>Apapun bentuknya, mencoba berbagai jenis bisnis sangat bagus terutama untuk remaja. Asal jangan bisnis yang haram saja, seperti menipu atau jasa pukul. Yang paling sering dilakukan adalah jualan pulsa atau buka <em>online shop. </em>Jika orangtua wiraswasta, mungkin bisa kita bantu supaya mengerti bagaimana prosesnya.</p>
<p>Setidaknya, ada tiga manfaat menjadi <em>entrepreneur </em>muda. Yang pertama, kita bisa memahami susahnya mencari uang. Keuntungan yang didapat mungkin tidak seberapa, tapi seperti kata Enjel, salab satu anggota Karang Taruna:</p>
<p><em>&#8220;Mending untung sedikit tapi jujur, daripada untung banyak dari hasil menipu.&#8221;</em></p>
<p>Yang kedua, karena merasakan susahnya meraup rupiah, kita bisa menjadi lebih menghargai kerja keras orangtua kita dalam mencari nafkah. Dengan merasakannya sendiri, tentu akan tumbuh empati terhadap setiap tetes keringat orangtua kita yang mereka keluarkan demi kebahagiaan kita.</p>
<p>Yang terakhir, jelas kita akan mendapatkan pengalaman untuk seumur hidup. Pengalaman ini tak akan tergantikan karena waktu terus bergulir, seperti salah satu judul sajak saya. Semakin muda kita memulai usaha semakin banyak pula ilmu yang aka kita raih sebagai modal untuk berbisnis di kala usia kita sudah menginjak dewasa.</p>
<p>Jadi, tunggu apalagi? Segera temukan <em>passion</em>-mu dan jangan tunda-tunda lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tukangkayu, Banyuwangi, 3 Februari 2018, setelah melihat video konser Panic! At the Disco di Youtube (mumpung ada wifi)</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://ymcairedell.org/index.php/money-tips-for-kids/">http://ymcairedell.org/index.php/money-tips-for-kids/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/belajar-bisnis-sejak-dini/">Belajar Bisnis Sejak Dini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/belajar-bisnis-sejak-dini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
