<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sastra Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sastra/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Oct 2024 23:25:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sastra Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sastra/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Anak-Anak Semar</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2024 03:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Semar]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7993</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerita pewayangan selalu menarik bagi Penulis. Walau bukan tipe orang yang hafal semua lore dalam pewayangan, setidaknya kalau diajak ngobrol tentang topik ini bisa nyambung. Oleh karena itu, Penulis punya beberapa judul novel yang bertemakan pewayangan. Beberapa contoh novel pewayangan yang pernah Penulis ulas di blog ini adalah Kitab Omong Kosong dari Seno Gumira Ajidarma [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/">[REVIEW] Setelah Membaca Anak-Anak Semar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">Cerita pewayangan</a> selalu menarik bagi Penulis. Walau bukan tipe orang yang hafal semua <em>lore </em>dalam pewayangan, setidaknya kalau diajak ngobrol tentang topik ini bisa nyambung. Oleh karena itu, Penulis punya beberapa judul novel yang bertemakan pewayangan.</p>



<p>Beberapa contoh novel pewayangan yang pernah Penulis ulas di blog ini adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Kitab Omong Kosong</a> </em>dari Seno Gumira Ajidarma dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/">Anak Bajang Menggiring Angin</a> </em>dari Sindhunata. Dua-duanya menarik, sehingga jika salah satu merilis novel wayang baru, Penulis akan membelinya.</p>



<p>Nah, oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli novel berjudul <em><strong>Anak-Anak Semar </strong></em>yang ditulis oleh Sindhunata. Apalagi, mayoritas cerita wayang yang Penulis baca selama ini jarang mengulas tentang salah satu anggota Punakawan tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner.jpg 1280w " alt="Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Ngomongin Uang</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Anak-Anak Semar</em></li>



<li>Penulis: Sindhunata</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Juni 2022</li>



<li>Tebal: 204 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020662084</li>



<li>Harga: Rp128.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Ngomongin Uang</h2>



<p class="has-text-align-center"><em>Maka kau adalah samar, ya, Semar. Janganlah kau samar terhadap kegelapan, jangan pula kau samar terhadap terang. Hanya dengan hatimu yang samar, kau dapat melihat terang dalam kegelapan, kebaikan dalam kejahatan. Hanya dengan hatimu yang samar pula, kau dapat melihat kegelapan dan terang, kejahatan dalam kebaikan.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="has-text-align-center"><em>Anak-anak Semar karya Sindhunata berkisah tentang Semar sebagai pembawa harapan dan pengingat akan nilai-nilai serta akar budaya di tengah zaman yang bergerak begitu cepat. Dalam buku dengan ilustrasi lukisan karya Nasirun ini, wajah Semar kerap berubah-ubah. Kadang ia disebut Sang Pamomong, sosok yang selalu melindungi rakyat kecil dan tertindas. Lain waktu, ia juga seperti pohon rindang yang dengan samar bayangannya bisa memberikan keteduhan bagi siapa pun yang ada di dekatnya.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Anak-Anak Semar</h2>



<p>Tidak seperti judulnya, <em>Anak-Anak Semar </em>tidak bercerita tentang Bagong, Petruk, dan Gareng. Jujur, Penulis tidak benar-benar paham apa maksud dari judul tersebut karena novel ini justru bercerita tentang perjalanan dan perenungan Semar.</p>



<p>Yang Penulis tangkap, &#8220;anak-anak&#8221; di sini sebenarnya ditujukan kepada masyarakat yang ada di dalam novel ini sekaligus kita sebagai pembaca novel ini. Kita ini anak-anak yang masih membutuhkan keberadaan Semar, yang diceritakan sempat menghilang tanpa sebab.</p>



<p>Novel ini terdiri dari enam bab utama, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Semar Mencari Raga</li>



<li>Semar Hilang</li>



<li>Semar Mati</li>



<li>Semar Mbangun Khayangan</li>



<li>Semar Boyong</li>



<li>Semar Minggat</li>
</ol>



<p>Dari keenam judul tersebut, kita sudah mendapatkan gambaran kasar mengenai perjalanan yang akan dihadapi oleh Semar di novel ini: bagaimana ia &#8220;melepaskan&#8221; rohnya dari jasadnya, lalu bagaimana hilangnya Semar menimbulkan kegemparan, hingga anggapan bahwa Semar telah mati.</p>



<p>Setelah itu, setelah melalui perenungan dalam di alam khayangan (karena sejatinya Semar adalah dewa), ia berkeinginan untuk membuat &#8220;khayangannya&#8221; sendiri di dunia, lalu kembali ke bumi. Lantas, mengapa di akhir justru ia &#8220;minggat&#8221;? Temukan jawabannya di novel ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Anak-Anak Semar</h2>



<p>Sejujurnya, jika dibandingkan dengan novel <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em>, <em>Anak-Anak Semar </em>lebih berat untuk dicerna. Alasannya, novel ini lebih banyak berisikan <strong>kalimat-kalimat monolog untuk menggambarkan situasi yang terjadi</strong>, baik ketika ada Semar maupun tidak.</p>



<p>Dialog yang ada lebih sering digunakan untuk mendukung situasi yang sedang terjadi. Misal, kegemparan ketika Semar menghilang, banyak dialog dari masyarakat yang menunjukkan keresahan. Selain itu, dialog juga terjadi ketika dalang sedang menceritakan kisah wayang.</p>



<p>Oleh karena itu, meskipun novelnya tipis, Penulis <strong>cukup lama menamatkannya</strong>. Ada banyak sekali bagian yang membuat Penulis harus berpikir keras untuk bisa memahaminya. Terkadang, sudah pelan-pelan membacanya pun Penulis masih kesulitan.</p>



<p>Tipisnya novel ini (hanya sekitar 200 halaman) juga menjadi kekurangan buku ini, karena <strong>harganya cukup mahal</strong>! Penulis tidak memahami apa alasan novel ini dilabeli harga Rp128 ribu, ketika buku lain yang memiliki ketebalan mirip biasanya dilabeli sekitar 70-80 ribu.</p>



<p>Namun, masih banyak hal positif dari novel ini.<strong> Keindahan pemilihan kata oleh Sindhunata jelas tak perlu diragukan lagi</strong>. Meskipun memang tak mudah dipahami, setidaknya kita akan dibuai dengan keindahan bahasa yang beliau tuliskan.</p>



<p>Sama seperti novel <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em>, ada <strong>banyak filsafat jawa yang disisipkan </strong>dalam novel setipis ini. Salah satu yang paling sering dibahas adalah bagaimana pentingnya untuk merenungi diri sendiri, seperti yang sering Semar lakukan pada novel ini.</p>



<p>Selain itu, ada <strong>banyak ilustrasi menarik yang dibuat oleh Nasirun</strong>. Ilustrasi tersebut menggambarkan Semar dalam berbagai wujud. Cukup banyak ilustrasi yang terdapat di novel ini, setidaknya satu di setiap babnya.</p>



<p>Dengan berbagai penilaian tersebut, Penulis kurang merekomendasikan novel ini untuk orang yang masih awam dengan dunia perwayangan karena pasti akan terasa berat. Namun, jika memang sudah mengetahui banyak tentang dunia wayang, buku ini akan menjadi bacaan yang menarik.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 19 Juli 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Anak-Anak Semar </em>karya Sindhunata</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/">[REVIEW] Setelah Membaca Anak-Anak Semar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Anak Bajang Menggiring Angin</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2020 00:31:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sindhunata]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4172</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis menyukai cerita wayang meskipun tidak pernah menonton pertunjukannya secara langsung karena terkendala bahasa. Dari YouTube pun tidak pernah. Penulis lebih memilih untuk membaca buku-buku yang bertemakan wayang. Beberapa judul yang Penulis miliki adalah: Mahabharata karya C. Rajagopalachari Drupadi dan Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma Rahvayana Buku 1 dan 2 karya Sujiwo Tejo [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/">Setelah Membaca Anak Bajang Menggiring Angin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis menyukai <a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">cerita wayang</a> meskipun tidak pernah menonton pertunjukannya secara langsung karena terkendala bahasa. Dari YouTube pun tidak pernah.</p>
<p>Penulis lebih memilih untuk membaca buku-buku yang bertemakan wayang. Beberapa judul yang Penulis miliki adalah:</p>
<ul>
<li><em>Mahabharata</em> karya C. Rajagopalachari</li>
<li><em>Drupadi</em> dan <em>Kitab Omong Kosong</em> karya Seno Gumira Ajidarma</li>
<li><em>Rahvayana</em> <em>Buku 1 dan 2</em> karya <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Sujiwo Tejo</a></li>
<li><em>Togog Tejamantri</em> karya Gesta Bayuadhy</li>
<li><em>Punakawan Menggugat</em> karya Ardian Kresna (belum tamat)</li>
</ul>
<p>Ada cerita yang sedikit unik terkait buku wayang ini. Penulis telah memiliki <em><strong>Mahabharata</strong> </em>karya C. Rajagopalachari. Penulis juga menginginkan novel karya satunya lagi, <strong><em>Ramayana</em></strong>.</p>
<p>Penulis mendapatkan novel <em>Mahabharata </em>dengan harga diskon, Rp30 ribu. Penulis pun berharap ada novel <em>Ramayana </em>dengan harga yang sama, sehingga tidak membeli novelnya ketika harganya masih normal.</p>
<p>Akibatnya, Penulis tidak pernah menemukan novel ini dengan harga murah. Bahkan ketika Penulis memutuskan ingin membeli dengan harga normal, bukunya sudah tidak tersedia lagi di toko buku!</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis sempat tidak mengerti bagaimana alur cerita <em>Ramayana</em>. Penulis ingin membeli buku <em><strong>Kitab Omong Kosong</strong> </em>yang katanya juga ada kaitannya dengan <em>Ramayana</em>, namun buku ini juga tidak tersedia di toko buku.</p>
<p>Akhirnya Penulis membeli buku <em>Kitab Omong Kosong</em> secara online. Cerita lengkapnya ada di <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">tulisan Penulis yang lain</a>. Setelah dibaca, Penulis makin penasaran dengan alur cerita <em>Ramayana</em>.</p>
<p>Lantas ketika berada di Gramedia Gandaria City Mall, Penulis menemukan buku berjudul <strong><em>Anak Bajang Menggiring Angin </em></strong>karya Sindhunata. Ini bukan buku baru, Penulis pernah melihatnya ketika kuliah namun urung membelinya karena harganya yang mahal.</p>
<p>Selain itu, Penulis juga tidak mengetahui apa cerita dari novel ini. Ketika membacanya sekilas, ternyata novel ini bercerita tentang <em>Ramayana</em>! Penulis pun segera membawa buku ini ke kasir dan segera membacanya.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Karena cerita <em>Ramayana </em>sudah banyak diketahui oleh orang, Penulis tidak akan banyak bercerita tentang isi buku ini. Buku ini hanya menghadirkan versi penulisan lain yang indah menurut Penulis.</p>
<p>Mulai dari kelahiran Rahwana, kelahiran Hanoman, bertemunya Rama dan Sinta, diculiknya Sinta oleh Rahwana, peperangan hebat untuk menyelamatkan Sinta, ketidakpercayaan Rama terhadap Sinta, semua diceritakan di sini.</p>
<p>Total buku ini dibagi menjadi <strong>8 bab</strong>, di mana tiap bagiannya terbagi lagi menjadi beberapa bagian. Setiap bab biasanya memiliki alur cerita yang spesifik mengenai satu lakon tertentu.</p>
<p>Misal di bab pertama, cerita berfokus tentang bagaimana Rahwana bisa lahir ke muka bumi ini karena kesalahan manusia bernama Wisrawa dan Sukesi. Bab kedua tentang kelahiran Hanuman dan begitu seterusnya.</p>
<p>Selain itu, buku ini juga menyisipkan <strong>puisi-puisi yang indah</strong> dan <strong>gambar pewayangan yang menarik mata</strong>. Lumayan untuk selingan sehingga mata tidak terlalu lelah ketika membacanya.</p>
<p>Mungkin karena penulis buku ini adalah orang Jawa (lahir di Kota Batu, Jawa Timur), ada banyak <strong>filsafat Jawa</strong> yang kita temukan dari dialog antar tokohnya. Tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, dan juga cinta.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em></h3>
<p>Buku ini cukup tebal, hampir<strong> 500 halaman</strong>. Penulis menamatkannya di kereta api ketika <a href="https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/">perjalanan pulang dari Jakarta menuju Malang</a>.</p>
<p>Walaupun tebal, Penulis sangat menikmati kata demi katanya. Sindhunata cukup cermat dalam <strong>merangkai kalimat dengan indah</strong> sehingga membuat pembacanya akan terbuai dalam alam pewayangan.</p>
<p>Membaca buku ini membuat Penulis serasa sedang menikmati karya sastra yang penuh metafora namun mudah dicerna. Tidak ada alur cerita ataupun penulisan yang membuat Penulis kebingungan.</p>
<p>Melalui judulnya, novel ini mungkin<strong> lebih berfokus pada karakter Hanuman</strong>, meskipun kehadiran Rama, Sinta, dan Rahwana juga cukup dominan. Penggambaran karakter-karakternya juga kuat.</p>
<p>Kita akan diajak untuk merenungi kehidupan yang kita jalani berkat nasihat-nasihat yang terselip di dalamnya. Maka dari itu, Penulis menyarankan untuk pelan-pelan menikmati buku ini agar bisa meresapi isinya secara mendalam.</p>
<p>Mungkin kekurangan dari buku ini adalah bagian akhirnya yang dibuat menggantung. Penulis sudah mengetahui akhir dari cerita <em>Ramayana </em>dari buku lain, tapi tetap saja Penulis berharap bisa melihat akhir <em>Ramayana </em>yang tuntas pada buku ini.</p>
<p>Penulis tidak berani banyak memberi kritikan pada novel ini karena pengetahuannya akan dunia wayang sangat terbatas. Walaupun begitu, Penulis tidak ragu untuk merekomendasikan karya sastra ini kepada siapa saja yang ingin mengetahui kisah <em>Ramayana </em>yang legendaris.</p>
<p>Nilai: <strong>4.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Desember 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em> karya Sindhunata</p>
<p>Foto: <a href="https://press-officer.com/digital-composite-of-wooden-table-with-library-background/">Press Officer</a> &amp; <a href="https://www.tokopedia.com/astuti-shop/buku-anak-bajang-menggiring-angin-by-sindhunata">Tokopedia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/">Setelah Membaca Anak Bajang Menggiring Angin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rindu Tertinggi adalah Rindu yang Tak Terucap</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/rindu-tertinggi-adalah-rindu-yang-tak-terucap/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sajak/rindu-tertinggi-adalah-rindu-yang-tak-terucap/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 11:45:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3952</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kasih, Percayalah Rindu yang tertinggi adalah rindu yang tak terucap Diam tanpa bersuara sedikitpun Namun terdengar begitu nyaring di dalam hati Kasih, Bisakah kau rasakan kerinduanku ini? Kerinduan yang benar-benar tak terucap Karena bibir tak kuasa mengatakannya Karena hati tak kuat mengutarakannya Kasih, Apakah rindu tak terucap ini hanya milikku? Ataukah engkau juga merasakannya? Saling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/rindu-tertinggi-adalah-rindu-yang-tak-terucap/">Rindu Tertinggi adalah Rindu yang Tak Terucap</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kasih,<br />
Percayalah<br />
Rindu yang tertinggi adalah rindu yang tak terucap<br />
Diam tanpa bersuara sedikitpun<br />
Namun terdengar begitu nyaring di dalam hati</p>
<p>Kasih,<br />
Bisakah kau rasakan kerinduanku ini?<br />
Kerinduan yang benar-benar tak terucap<br />
Karena bibir tak kuasa mengatakannya<br />
Karena hati tak kuat mengutarakannya</p>
<p>Kasih,<br />
Apakah rindu tak terucap ini hanya milikku?<br />
Ataukah engkau juga merasakannya?<br />
Saling bungkam tanpa kabar<br />
Namun diam-diam saling mendoakan</p>
<p>Kasih,<br />
Rindu yang diumbar belum tentu tulus<br />
Rindu yang digaungkan bisa saja palsu<br />
Rindu yang diteriakkan ternyata tidak dalam<br />
Manakah yang akan engkau pilih?</p>
<p>Kasih,<br />
Aku sedang memeluk bayang yang tak tampak<br />
Membayangkan dirimu di dekapan<br />
Walau jauh tak terkira<br />
Hadirmu begitu terasa di sini</p>
<p>Kasih,<br />
Kapankah kita akan ditakdirkan bertemu?<br />
Setelah berpisah sekian lamanya<br />
Aku ingin bertemu denganmu kasih<br />
Rinduku sudah mencapai batasnya</p>
<p>Kasih,<br />
Kerinduan ini harus aku pendam dalam-dalam<br />
Bersabar hingga waktunya tiba<br />
Tapi percayalah kasih<br />
Rindu tak terucapku adalah sejatinya rindu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Sajak ini bisa dibilang sebagai bagian kedua dari sajak <a href="https://whathefan.com/sajak/kerinduan-seorang-kekasih/"><em>Kerinduan Seorang Kekasih</em></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Juni 2020, terinspirasi dari celetukan adik yang keluar begitu saja</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@andrew">Andrew Neel on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/rindu-tertinggi-adalah-rindu-yang-tak-terucap/">Rindu Tertinggi adalah Rindu yang Tak Terucap</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sajak/rindu-tertinggi-adalah-rindu-yang-tak-terucap/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Malam Terakhir</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-malam-terakhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2020 13:28:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Terakhir]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3718</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semenjak bertemu dengan Nadira, Penulis benar-benar jatuh cinta dengan gaya bercerita Leila S. Chudori. Maka dari itu, Penulis berusaha melengkapi koleksi buku-bukunya. Penulis bisa dengan mudah mendapatkan dua bukunya yang terkenal: Pulang dan Laut Bercerita. Hanya satu buku, Malam Terakhir, yang lumayan susah untuk ditemukan. Beruntunglah Penulis menemukannya ketika ajang Islamic Book Fair pada tanggal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-malam-terakhir/">Setelah Membaca Malam Terakhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Semenjak bertemu dengan <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-nadira/"><em>Nadira</em></a>, Penulis benar-benar jatuh cinta dengan gaya bercerita Leila S. Chudori. Maka dari itu, Penulis berusaha melengkapi koleksi buku-bukunya.</p>
<p>Penulis bisa dengan mudah mendapatkan dua bukunya yang terkenal: <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/"><em>Pulang</em></a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/"><em>Laut Bercerita</em></a>. Hanya satu buku, <strong><em>Malam Terakhir</em></strong>, yang lumayan susah untuk ditemukan.</p>
<p>Beruntunglah Penulis menemukannya ketika ajang <strong>Islamic Book Fair</strong> pada tanggal 1 Maret 2020 di JCC Senayan. Buku ini tergeletak begitu saja di antara buku-buku lainnya dan hanya tersisa satu eksemplar.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p><em>Malam Terakhir</em> merupakan kumpulan cerpen yang terdiri dari sembilan judul dan tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Konsepnya berbeda dengan buku <em>Nadira</em>.</p>
<p>Sebenarnya ini merupakan cerita-cerita lama yang ditulis pada akhir 80-an dan awal 90-an dengan beberapa penyesuaian. Anehnya, Penulis merasa kalau cerita-ceritanya masih relevan dengan kondisi saat ini.</p>
<p>Sembilan judul yang ada di dalam buku ini adalah:</p>
<ol>
<li>Paris, Juni 1988</li>
<li>Adila</li>
<li>Air Suci Sita</li>
<li>Sehelai Pakaian Hitam</li>
<li>Untuk Bapak</li>
<li>Keats</li>
<li>Ilona</li>
<li>Sepasang Mata Menatap Rain</li>
<li>Malam Terakhir</li>
</ol>
<p>Penulis paling menyukai cerita <em>Adila </em>dan <em>Air Suci Sita</em>. Yang pertama bercerita tentang seorang anak bernama Adila yang hidup bersama ibunya yang hanya memikirkan dirinya sendiri.</p>
<p>Adila kerap terbawa ke dalam fantasinya sendiri yang ia dapatkan dari buku-buku pemberian ayahnya, mempertanyakan kehidupan yang ia jalani sekarang.</p>
<p>Pada akhirnya Adila mengakhiri nyawanya sendiri dengan menenggak obat nyamuk. Di saat ibunya menemukannya, ia justru menangisi benda-benda mahal yang digunakan Adila sebelum tewas.</p>
<p>Cerita kedua adalah tentang kesetiaan seorang wanita yang harus menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Ia hampir saja khilaf dan mengencani orang lain, namun masih sanggup menahan diri.</p>
<p>Sayangnya, kesetiaan tersebut tidak dilakukan oleh pasangannya. Hal tersebut membuat munculnya analogi pada cerita Ramayana. Ketika Rama meragukan kesucian Sinta, mengapa Sinta tidak menanyakan hal yang senada kepada Rama?</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Malam Terakhir</h3>
<p>Membaca buku <em>Malam Terakhir </em>bisa dianggap sebagai pelepas dahaga akan karya sastra yang berkualitas karena Penulis tidak tahu kapan Leila akan menelurkan novel terbarunya.</p>
<p>Dengan teknik bercerita yang menarik, kita akan diajak untuk melihat berbagai problematika kehidupan. Di sini, Leila sering mengangkat tema seputar kesetaraan gender.</p>
<p>Perlu diingat kalau pada saat karya ini dibuat, gaung kesetaraan gender belum sekeras sekarang, sehingga tidak berlebihan jika cerita-cerita di dalam buku ini cukup revolusioner pada eranya.</p>
<p>Ada beberapa cerita yang tidak Penulis pahami, namun secara keseluruhan Penulis merasa puas setelah menyelesaikannya. Kumpulan cerpen ini Penulis rekomendasikan untuk siapapun yang ingin membaca cerita-cerita pendek yang berbobot.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 April 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Malam Terakhir </em>karya Leila S. Chudori</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-malam-terakhir/">Setelah Membaca Malam Terakhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aku Ingin Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/aku-ingin-pulang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2020 09:20:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3706</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku ingin pulang Secara terus terang Sayang harus terhalang Tanpa bisa membangkang Membuat jiwa terguncang Dan terasa melayang Aku ingin pulang Kuteriakkan dengan lantang Namun dilarang yang berwenang Dengan kata-kata yang usang Diucapkan secara berulang-ulang Tanpa bisa dipegang Aku ingin pulang Dari situasi yang tegang Ekonomi yang timpang Kondisi yang mengekang Jalanan terasa lengang Langit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/aku-ingin-pulang/">Aku Ingin Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku ingin pulang<br />
Secara terus terang<br />
Sayang harus terhalang<br />
Tanpa bisa membangkang<br />
Membuat jiwa terguncang<br />
Dan terasa melayang</p>
<p>Aku ingin pulang<br />
Kuteriakkan dengan lantang<br />
Namun dilarang yang berwenang<br />
Dengan kata-kata yang usang<br />
Diucapkan secara berulang-ulang<br />
Tanpa bisa dipegang</p>
<p>Aku ingin pulang<br />
Dari situasi yang tegang<br />
Ekonomi yang timpang<br />
Kondisi yang mengekang<br />
Jalanan terasa lengang<br />
Langit cerah dengan cemerlang</p>
<p>Aku ingin pulang<br />
Tak peduli walau harus menerjang<br />
Tak peduli walau harus menyerang<br />
Tak peduli walau harus tunggang-langgang<br />
Tak peduli walau harus telanjang<br />
Tak peduli walau harus jadi pecundang</p>
<p>Aku ingin pulang<br />
Tapi harus bertahan di kandang<br />
Harus kuat berjuang<br />
Harus tangguh bagaikan karang<br />
Walau tubuh tinggal belulang<br />
Karena tak ada yang menopang</p>
<p>Aku ingin pulang<br />
Ketika nanti saatnya menang<br />
Mulut berucap aku datang<br />
Saat tiba di depan gerbang<br />
Melihat wajah-wajah riang<br />
Menikmati hidup dengan tenang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 4 April 2020, terinspirasi dari keinginan diri yang ingin pulang ke kampung halaman</p>
<p>Foto: <strong><a href="https://www.pexels.com/@miriamespacio?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Miriam Espacio</a></strong> from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/person-standing-near-trees-3354135/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/aku-ingin-pulang/">Aku Ingin Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Nadira</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-nadira/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Nov 2019 10:38:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[Nadira]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2975</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis belum pernah membaca buku karya Leila S. Chudori sebelumnya. Ketika menemukan sebuah buku berjudul Nadira pada tanggal 4 Oktober 2018, penulis merasa penasaran setelah membaca sinopsisnya. Buku ini baru penulis baca akhir-akhir ini setelah tersusun di rak buku selama hampir satu tahun. Entah dorongan apa yang membuat penulis memutuskan untuk memulai membaca buku ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-nadira/">Setelah Membaca Nadira</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis belum pernah membaca buku karya <strong>Leila S. Chudori</strong> sebelumnya. Ketika menemukan sebuah buku berjudul <em><strong>Nadira</strong></em> pada tanggal 4 Oktober 2018, penulis merasa penasaran setelah membaca sinopsisnya.</p>
<p>Buku ini baru penulis baca akhir-akhir ini setelah tersusun di rak buku selama hampir satu tahun. Entah dorongan apa yang membuat penulis memutuskan untuk memulai membaca buku ini.</p>
<p>Siapa yang menyangka, penulis langsung jatuh cinta dengan buku ini! Hanya butuh beberapa hari (total sekitar 5 jam) untuk menamatkan kumpulan cerita pendek yang saling terkait ini.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Ketika membaca sinopsisnya, kita akan mengetahui bahwa buku ini akan berpusat pada karakter bernama Nadira Suwandi. Ada sebelas cerita di dalam buku ini yang sebenarnya saling terhubung satu sama lain.</p>
<p>Nadira merupakan anak terakhir dari pasangan Bramanto Suwandi dan Kemala Yunus. Ia memiliki dua orang kakak, yang perempuan bernama Nina dan yang laki-laki bernama Arya.</p>
<p>Ketika dewasa, Nadira memutuskan untuk bekerja sebagai seorang wartawan. Ia dianggap cemerlang dan sering menjadi andalan kantornya.</p>
<p>Cerita berawal ketika Nadira harus menemukan ibunya tewas gantung diri. Selanjutnya ada beberapa cerita tentang masa kecilnya, hubungannya dengan kakaknya, pekerjaannya sebagai wartawan, hingga kehidupan percintaannya.</p>
<p>Kita akan melihat bagaimana seorang Nadira menjalani hidupnya dengan berbagai drama dalam kehidupannya, bagaimana pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya, hingga pemikiran-pemikirannya yang bebas.</p>
<p>Tidak ada konflik yang terpusat di mana biasanya novel-novel lain membawanya mulai awal cerita. Semuanya mengalir begitu saja dan bisa jadi sangat <em>related </em>dengan kehidpan kita.</p>
<h3>Setelah Membaca Nadira</h3>
<p>Penulis langsung merasa jatuh cinta kepada buku yang dulu berjudul <em>9 dari Nadira</em> ini. Bedanya, buku yang penulis baca ini menambahkan dua cerita tambahan yang semakin memperkuat dunia batin Nadira.</p>
<p>Gaya penulisan Leila yang maju mundur belum pernah penulis temukan pada penulis lainnya. Ketika kita berada di tahun 90-an, tahu-tahu kita digiring ke Belanda pada tahun 60-an. Lantas maju lagi di tahun 80-an sebelum kembali maju ke akhir tahun 90-an.</p>
<p>Awalnya sempat membingungkan, akan tetapi lama-kelamaan penulis merasa terbiasa dengan gaya tersebut. Apalagi, selalu ada tanggal untuk menunjukkan kapan cerita tersebut terjadi.</p>
<p>Sudut pandang bercerita yang digunakan juga berganti-ganti dengan cepat dan tanpa pemberitahuan kita sedang membaca dari sudut pandang siapa.</p>
<p>Novel <em>Game of Thrones </em>juga menggunakan sudut pandang orang yang berbeda-beda. Bedanya, novel tersebut mencantumkan nama karakter yang digunakan sebagai sudut pandang di awal bab. Nadira tidak melakukannya.</p>
<p>Kita harus mampu mencerna sendiri dari sudut pandang siapakah kali ini, apakah dari Nadira, ibunya, Yu Nina, bahkan teman kantornya yang hanya menjadi karakter sekunder.</p>
<p>Leila juga berganti-ganti antara menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga. Ini seolah menjadi tantangan sendiri untuk pembacanya. Penulis sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini, bahkan menyukainya.</p>
<p>Tidak adanya konflik puncak justru menjadi kekuatan tersendiri. Setiap bab menghadirkan permasalahan yang tidak berlebihan dan bisa terjadi pada siapapun.</p>
<p>Hal tersebut membuat <em>Nadira</em> terasa sangat dekat dan realistis. Penulis seolah bisa melihat dunia lain yang sebelumnya belum pernah dijelajahi melalui buku ini.</p>
<p>Gaya bahasanya sama sekali tidak rumit meskipun Leila cukup mahir dalam memasukkan kata-kata sulit dan merangkainya menjadi sebuah kalimat. Penulis sangat menikmati buku ini hingga rela begadang demi menamatkannya.</p>
<p>Setelah membaca buku ini, penulis langsung memutuskan untuk membeli novel Leila yang lain, <em><strong>Pulang</strong> </em>dan <strong><em>Laut Bercerita</em></strong>. Salah satu teman penulis menjadi pendorong untuk melakukannya.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 November 2019, terinspirasi setelah membaca novel <em>Nadira </em>karya Leila S. Chudori</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-nadira/">Setelah Membaca Nadira</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sajak-Sajak Depresi</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/sajak-sajak-depresi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Oct 2019 00:15:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2877</guid>

					<description><![CDATA[<p>Datang ketika sunyi menghampiri Entah apa yang merasuki Pelan-pelan menggerogoti diri Rasanya pahit Emosi menjadi labil dibuatnya Seolah ingin berteriak keras di ruang kosong Isak tangis menyertainya &#160; *** &#160; Delusi muncul di benak pikiran Erangan semu bergaung terus-menerus Pilu rasanya merasakan Rintihan tak terucap dari bibir Ego menguasai diri Sakit tak terkira Iman pun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/sajak-sajak-depresi/">Sajak-Sajak Depresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Datang ketika sunyi menghampiri</p>
<p>Entah apa yang merasuki</p>
<p>Pelan-pelan menggerogoti diri</p>
<p>Rasanya pahit</p>
<p>Emosi menjadi labil dibuatnya</p>
<p>Seolah ingin berteriak keras di ruang kosong</p>
<p>Isak tangis menyertainya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Delusi muncul di benak pikiran</p>
<p>Erangan semu bergaung terus-menerus</p>
<p>Pilu rasanya merasakan</p>
<p>Rintihan tak terucap dari bibir</p>
<p>Ego menguasai diri</p>
<p>Sakit tak terkira</p>
<p>Iman pun tergerus</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diri tak bisa terus seperti ini</p>
<p>Enyah dari semua penyiksaan ini</p>
<p>Pergi dari ikatan yang membelenggu</p>
<p>Raib dari segala pikiran sendiri</p>
<p>Esok pasti lebih cerah</p>
<p>Sang langit menyapa dengan ramah</p>
<p>Ingin ku mendekapnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 14 Oktober 2019, lagi ingin aja buat sajak</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/@thuwbeoo?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Thư Anh</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/depression?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/sajak-sajak-depresi/">Sajak-Sajak Depresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Sep 2019 00:41:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[esai]]></category>
		<category><![CDATA[Obrolan Sukab]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>
		<category><![CDATA[Sukab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2614</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis memiliki beberapa penulis favorit, banyak malah. Salah satunya adalah Seno Gumira Ajidarma. Beliau adalah seorang penulis sastra yang buku-bukunya sudah banyak penulis baca. Yang menarik dari Seno adalah ia tidak sekadar menyusun karya fiksi. Terkadang, ia juga menuliskan sekumpulan esai yang berisikan tentang pandangannya terhadap masyarakat dan kasus-kasus yang tengah hangat. Bagaimana jika ia menggabungkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab/">Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis memiliki beberapa penulis favorit, banyak malah. Salah satunya adalah <strong>Seno Gumira Ajidarma</strong>. Beliau adalah seorang penulis sastra yang buku-bukunya sudah banyak penulis baca.</p>
<p>Yang menarik dari Seno adalah ia tidak sekadar menyusun karya fiksi. Terkadang, ia juga menuliskan sekumpulan esai yang berisikan tentang pandangannya terhadap masyarakat dan kasus-kasus yang tengah hangat.</p>
<p>Bagaimana jika ia menggabungkan antara fiksi dan esai? Setidaknya itulah yang penulis rasakan setelah membaca buku <strong><em>Obrolan</em></strong><em><strong> Sukab</strong>.</em></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Begitu menemukan buku ini di rak buku, tanpa berpikir panjang langsung mengambilnya. Alasannya, ada kata <strong>Sukab </strong>di sana. Di mana ada Sukab, di situ ada Seno Gumira Ajidarma.</p>
<p>Nama Sukabsudah tidak asing bagi penulis. Nama ini sering muncul-muncul di buku karya Seno. Uniknya, nama tersebut tidak terikat dengan satu karakter. Ia bisa disematkan ke siapa saja dan di mana saja.</p>
<p>Di buku yang satu ini, Sukab merupakan orang Betawi menengah ke bawah yang suka mengamati berbagai peristiwa. Ia bersama teman-temannya selalu berdiskusi di warung Mang Ayat.</p>
<p>Dibalut dengan bahasa Betawi, kita akan melihat berbagai permasalahan didisuksikan oleh masyarakat pinggiran yang kritis. Sambil melalap lauk pauk, mereka dengan semangat membahas berbagai peristiwa yang tengah menjadi isu hangat.</p>
<p>Ketika memperhatikan tanggalnya, tulisan ini dimulai pada tanggal 3 Januari 2016 hingga 1 November 2018. Artinya, isu-isu yang terjadi pada rentang tanggal tersebut dibahas oleh Seno, seperti kasus Ahok dan kasus pembunuhan dengan Sianida.</p>
<p>Ada beberapa karakter lain yang menjadi pendukung buku ini, di mana semua memiliki karakteristiknya masing-masing. Tak perlu susah payah menghafal karena Seno akan menjelaskan siapa mereka di setiap babnya.</p>
<h3>Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?</h3>
<p>Esai-esai yang ada di buku ini merupakan kumpulan tulisan Seno yang pernah dimuat di koran Kompas dan blognya. Karena penulis tidak pernah berlangganan Kompas, penulis belum pernah membaca satu pun esai-esai di buku ini.</p>
<p>Berbeda dengan <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">buku-buku Sujiwo Tejo</a> yang kadang maknanya begitu implisit, tiap bab yang dibahas oleh Seno sangat jelas mendiskusikan hal apa.</p>
<p>Seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya, buku ini ditulis dengan banyak menggunakan bahasa Betawi. Karena penulis orang Jawa, penulis mengalami sedikit kesulitan ketika membaca buku ini, walau di bagian belakang buku ada kamus mini.</p>
<p>Menurut penulis, Seno agak condong ke salah satu golongan tertentu. Hal ini terlihat dari tulisan-tulisan yang ada di bukunya ini. Sebagai orang yang (berusaha) berpikiran terbuka, penulis sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.</p>
<p>Buku ini penulis rekomendasikan bagi pembaca yang gemar membaca kumpulan esai dengan topik permasalahan sosial yang terjadi di sekitar kita.</p>
<p>Untuk penulis pribadi, penulis merasa mendapatkan banyak sudut pandang baru dari sebuah permasalahan yang telah terjadi, sehingga ketika kelak ada kasus-kasus baru, penulis akan berusaha untuk melihatnya dengan berbagai sudut pandang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 17 Agustus 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Obrolan Sukab </em>karya <em>Seno Gumira Ajidarma</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab/">Dialog Masyarakat Pada Obrolan Sukab</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Jul 2019 17:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tejo]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2605</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam melatih kemampuan merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan, penulis banyak belajar dengan membaca buku-buku karya penulis lain. Kadang fiksi, kadang kumpulan esai, kadang campuran antara keduanya. Salah satu penulis yang penulis kagumi cara penulisannya adalah buku-buku karya Sujiwo Tejo yang terkenal sebagai dalang edan, seniman, budayawan, atau apapun yang biasanya media sematkan padanya. Penulis hampir memiliki semua buku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam melatih kemampuan merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan, penulis banyak belajar dengan membaca buku-buku karya penulis lain. Kadang fiksi, kadang kumpulan esai, kadang campuran antara keduanya.</p>
<p>Salah satu penulis yang penulis kagumi cara penulisannya adalah buku-buku karya <strong>Sujiwo Tejo </strong>yang terkenal sebagai <em>dalang edan</em>, seniman, budayawan, atau apapun yang biasanya media sematkan padanya.</p>
<p>Penulis hampir memiliki semua buku yang pernah ia terbitkan, kecuali beberapa buku lama yang sudah jarang terlihat di rak toko buku. Ada juga buku yang memang kurang penulis minati seperti <em>Republik #Jancukers </em>dan <em>Serat Tripama.</em></p>
<h3>Koleksi Buku Sujiwo Tejo</h3>
<p>Buku karya Sujiwo Tejo pertama yang penulis miliki adalah <em>Lupa Endonesa</em>. Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisannya di koran Jawa Pos (atau Kompas? Penulis sedikit lupa) yang menyoroti berbagai kejadian yang tengah hangat di ruang publik.</p>
<p>Karena suka dengan buku ini, penulis pun membeli lanjutannya yang terbit beberapa tahun kemudian, yakni <em>Lupa Endonesa Deui </em>dan <em>Lupa 3ndonesa</em>. Isinya kurang lebih sama, hanya topik yang diangkat tentu lebih baru.</p>
<p>Buku lain yang penulis miliki adalah <em>Rahvayana</em>. Buku ini memiliki dua seri, yakni <em>Rahvayana: Aku Lala Padamu </em>dan <em>Rahvayana: Ada yang Tiada</em>. Sebagai penikmat cerita wayang, penulis tentu jatuh cinta dengan kedua buku ini.</p>
<p>Mengapa begitu? Karena buku ini berusaha menggambar kisah <em>Ramayana </em>dengan sudut pandang yang berbeda, yakni dari mata Rahwana yang begitu mencintai dan mengagumi Sinta. Tentu, gaya penulisannya pun khas Sujiwo Tejo yang terkesan <em>sakarepe dewe</em>.</p>
<p>Lantas ada buku <em>Balada Gathak Gathuk </em>dan <em>Sabdo Cinta Angon Kasih </em>yang mengambil tema berbeda, meskipun secara konsep sedikit mirip dengan seri <em>Lupa Endonesa</em>. Hanya saja, pada dua buku tersebut terdapat satu alur cerita yang saling berkesinambungan.</p>
<p>Buku <em>Talijiwo </em>dan <em>Senandung Talijiwo </em>merupakan rubrik terbaru milik Sujiwo Tejo yang dibukukan. Ada kesan romantis yang dihasilkan oleh kedua buku ini, berbeda dengan buku lain yang lebih menonjolkan sisi budaya dan politik di masyarakat.</p>
<p>Selain itu, penulis juga memiliki buku <em>Tuhan Masa Asyik </em>yang jujur sangat berat untuk penulis cerna dan <em>Kelakar Madura Buat Gus Dur </em>yang condong bergenre humor.</p>
<h3>Kenapa Suka Membaca Buku Sujiwo Tejo?</h3>
<p>Jujur, jika ditanya apakah penulis memahami buku-buku tersebut, penulis akan bereaksi dengan tertawa canggung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.</p>
<p>Sujiwo Tejo sering kali memasukkan pesan implisit di dalam tulisannya, dan penulis tidak selalu menangkap apa yang ia maksudkan. Terkadang, ketika membaca bab demi bab, ada saja bagian yang membuat penulis mengerutkan dahi.</p>
<p>Jika memang seperti itu, mengapa tetap membaca buku-buku karyanya? Seperti yang sudah penulis singgung di paragraf awal, penulis banyak belajar bagaimana cara menulis dari beliau.</p>
<p>Selain itu, penulis juga sangat menyukai metode Sujiwo Tejo dalam menggunakan tokoh-tokoh wayang untuk menjelaskan kejadian yang berlangsung hari ini.</p>
<p>Menurut ayah penulis, itu adalah hal yang sangat susah dilakukan dan hanya sedikit yang mampu melakukannya. Salah satu yang bisa (dan ahli), ya Sujiwo Tejo.</p>
<p>Bahasa yang digunakan pun sangat enak untuk dinikmati, tidak menggunakan bahasa berat yang di mana hanya akademisi yang bisa memahaminya. <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Nuansa sastra</a> sangat kental terasa di dalamnya.</p>
<p>Tapi ya kembali lagi, penulis tidak selalu berhasil menangkap pesan tersiratnya. Mungkin kapasitas otak penulis yang tidak <em>nyampai </em>ke sana.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Apakah penulis merupakan pengagum karya-karya Sujiwo Tejo? Tanpa ragu penulis akan menjawab iya. Penulis sangat menikmati buku-buku karya beliau. Beliau juga merupakan salah satu panutan penulis dalam menulis.</p>
<p>Ilmu yang penulis miliki jelas masih kalah jauh dari beliau, tapi hal tersebut justru menjadi pemacu agar terus belajar sehingga bisa berkarya dengan lebih baik lagi.</p>
<p>Yang jelas, penulis akan selalu menantikan buku-buku terbaru yang diterbitkan oleh beliau, meskipun tak selalu memahami apa yang Sujiwo Tejo maksudkan dengan tulisannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 31 Juli 2019, terinspirasi setelah menyadari betapa banyaknya kolekso buku Sujiwo Tejo yang dimiliki</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyiksaan Rezim Pada Saman</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2018 08:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Ayu Utami]]></category>
		<category><![CDATA[klasik]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Saman]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1335</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelumnya penulis mengingatkan bahwa pada tulisan kali ini banyak mengandung unsur konten-konten dewasa, sehingga yang masih di bawah umur sangat tidak dianjurkan untuk membaca tulisan ini. Bukan penulisnya yang ngeres, tapi memang isi dari novel ini tidak pantas untuk dibaca oleh anak-anak. Novel Saman merupakan salah satu novel klasik (terbit pertama kali tahun 1998) yang masih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/">Penyiksaan Rezim Pada Saman</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya penulis mengingatkan bahwa pada tulisan kali ini banyak mengandung unsur konten-konten dewasa, sehingga yang masih di bawah umur sangat tidak dianjurkan untuk membaca tulisan ini. Bukan penulisnya yang <em>ngeres</em>, tapi memang isi dari novel ini tidak pantas untuk dibaca oleh anak-anak.</p>
<p>Novel Saman merupakan salah satu novel klasik (terbit pertama kali tahun 1998) yang masih terus dicetak ulang. Ditulis oleh Ayu Utami, buku ini akhirnya penulis beli ketika diluncurkan edisi 20 tahunnya pada pertengahan tahun ini, tepatnya pada tanggal 6 Juni 2018. Sekuelnya yang berjudul Larung juga penulis beli sekalian.</p>
<p>Sewaktu membeli buku ini, penulis sengaja menunda untuk membacanya karena ingin menjadikan buku ini sebagai &#8220;bekal&#8221; sewaktu di Jakarta. Tujuannya, agar tidak membeli buku lagi sewaktu merantau di kota orang.</p>
<p>Pertama kali membaca novel ini, penulis merasa sangat berat untuk memahami kata tiap katanya. Jelas novel ini bukan tipe novel yang sehari habis karena diperlukan wawasan yang cukup untuk memahaminya. Penulis akhirnya menyerah pada halaman 19.</p>
<p>Cukup lama penulis meletakkan buku tersebut hingga pada bulan September, penulis mencoba membacanya kembali sewaktu melakukan perjalanan ke Bandung. Dan kali ini penulis bisa mulai menikmati alur cerita yang dipaparkan oleh Ayu Utami.</p>
<p><strong>Menceritakan Apakah Saman?</strong></p>
<p>Novel ini diambil dari sudut pandang ketiga dan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian tak berjudul. Bagian pertama berfokus pada tokoh Laila, yang nampaknya sedang jatuh cinta kepada laki-laki beristri bernama Sihar. Pertemuan mereka terjadi di sebuah rig, yang menurut wikipedia adalah <em>suatu instalasi peralatan untuk melakukan pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah untuk memperoleh air, minyak, atau gas bumi, atau deposit mineral bawah tanah</em>.</p>
<p>Terdapat kalimat yang sering diulang-ulang, yakni ketika Laila berkata dalam hati bahwa ia masih perawan. Pengulangan ini tentu membuat pembacanya menduga-duga, kapan status keperawanannya akan hilang. Bagian pertama ini ditutup dengan kekhawatiran Laila karena Sihar tidak datang sesuai dengan kesepakatan mereka.</p>
<p>Bagian kedua beralih ke tokoh bernama Wis, seorang pastor yang ditugaskan ke daerah bernama Prabumulih, Sumatera Selatan. Di sana ia bertemu dengan Upi, seorang perempuan yang menderita kelainan mental. Parahnya, kelainan mentalnya mengarah ke hasrat seksual yang tinggi.</p>
<p>Berawal dari keprihatinan Wis kepada Upi yang harus dikurung di dalam sebuah gubuk, ia membangunkan tempat yang lebih layak. Bahkan pada akhirnya ia membantu warga sekitar untuk memajukan daerahnya dengan mengembangkan kebun karet.</p>
<p>Bagian inilah yang paling penulis suka karena cukup menggambarkan kesewenang-wenangan Orde Baru apabila sudah memiliki keinginan. Ringkasnya, pemerintah ingin membeli daerah tersebut untuk membangun perkebunan kelapa sawit.</p>
<p>Penolakan ini menciptakan suasana yang <em>chaos</em>, bahkan pada akhirnya Wis ditangkap dan disiksa dengan demikian kejamnya oleh orang utusan gubernur tersebut. Wis pada akhirnya bisa melarikan diri setelah dibantu oleh warga setempat yang selama ini telah dibantunya. Lalu ia mengubah namanya menjadi Saman.</p>
<p>Lantas di mana relasi antara Laila dan Saman, mengapa seolah-olah mereka tidak berhubungan sama sekali? Jawaban itu bahkan belum terjawab pada bagian ketiga, di mana sudut pandang diambil dari tokoh perempuan bernama Shakuntala, teman sejak kecil dari Laila.</p>
<p>Pada bagian ini, Ayu Utami lebih menjelaskan tentang kisah bagaimana Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin bisa bersahabat sejak kecil. Ceritanya berjalan secara berurutan dan diakhiri dengan bersambungnya bagian ini dengan bagian pertama, ketika Laila menghampiri Shakuntala ketika Sihar tidak kunjung datang. Di sini juga disinggung sedikit tentang Laila yang pernah menyukai Saman sewaktu kecil.</p>
<p>Bagian keempat tersusun surat-surat yang dituliskan oleh Saman kepada bapaknya. Banyak istilah-istilah gereja yang tertera pada novel ini, membuat penulis sedikit kebingungan.</p>
<p>Akhirnya kita bisa menemukan benang merah antara hubungan Saman dengan empat sahabat tersebut pad bagian terakhir. Mereka membantu melarikan Saman ke Amerika Serikat agar aman. Bagian ini ditulis dengan model saling berbalas email antara Saman dan Yasmin.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Begitulah kurang lebih alur cerita dari novel Saman. Bisa dibilang, kita akan merasa berat untuk memulainya, namun apabila kita sudah menemukan keasyikannya, maka kita tidak akan bisa berhenti membalikkan halaman demi halaman.</p>
<p>Ayu Utami kaya dalam pemilihan kata, kurang lebih seperti Dee Lestari. Hanya saja, terdapat satu faktor yang membuat penulis kurang nyaman membaca novel ini. Banyak istilah-istilah seks yang bertebaran di halaman-halamannya. Penulis kira Eka Kurniawan sudah menulis cukup vulgar pada novel Manusia Harimau, ternyata masih ada yang lebih vulgar lagi.</p>
<p>Jika tidak percaya, coba saja baca halaman terakhirnya. Tapi penulis menyarankan untuk membaca secara utuh terlebih dahulu. Selain itu, pada sinopsisnya dituliskan pertanyaan akan memilih siapakah Saman, Yasmin atau Laila? Penulis tidak menemukan adanya kebimbangan Saman memilih siapa, sehingga menurut penulis sinopsis tersebut kurang relevan</p>
<p><em>Emang loe siapa berani-beraninya ngeritik novelis senior? </em>Hehehe, namanya juga opini.</p>
<p>Penulis merekomendasikan novel ini untuk dibaca pembaca <strong>dewasa </strong>yang tertarik dengan sejarah reformasi melalui kacamata sastra. Bagaimana rezim Orde Baru menggunakan kekuasaannya untuk melakukan penyiksaan kepada rakyatnya diilustrasikan dengan baik. Kita juga bisa banyak belajar penggunaan kata yang sangat kaya pada novel ini.</p>
<p>Nilainya <strong>3.8/5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 14 September 2018, terinspirasi setelah menamatkan novel Saman karya Ayu Utami</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/">Penyiksaan Rezim Pada Saman</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
