<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Non-Fiksi Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/category/buku/non-fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/category/buku/non-fiksi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Apr 2026 13:54:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Non-Fiksi Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/category/buku/non-fiksi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 13:54:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Mel Robbins]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8598</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan. Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.</p>



<p>Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul <em>The Let Them Theory </em>karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.</p>



<p>Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.</p>



<p><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.</mark></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner.jpg 1280w " alt="Untuk Apa Main Game?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">Untuk Apa Main Game?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Let Them Theory</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>The Let Them Theory</em></li>



<li>Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-3</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2026</li>



<li>Tebal: 328 halaman</li>



<li>ISBN: 625221049</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku The Let Them Theory</h2>



<p>Inti dari buku <em>The Let Them Theory</em> sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; kepada diri sendiri.</p>



<p>Selama ini, jangan-jangan kita menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.</p>



<p>Meskipun judulnya <strong>&#8220;Let Them&#8221;</strong> atau<strong> &#8220;Biarkan Mereka&#8221;</strong>, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni <strong>&#8220;Let Me&#8221;</strong> atau <strong>&#8220;Biarkan Aku&#8221;</strong>.</p>



<p>Jadi, selain &#8220;Biarkan Mereka&#8221; yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang &#8220;Biarkan Aku&#8221; yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni <strong>Teori Biarkan Saja</strong>, <strong>Kau dan Teori Biarkan Saja</strong>, dan <strong>Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja</strong>. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.</p>



<p>Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.</p>



<p>Ada empat bab utama di bagian ini, yakni <strong>Mengelola Stres</strong>,<strong> Takut akan Pendapat Orang Lain</strong>, <strong>Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain</strong>, dan <strong>Mengatasi Perbandingan Kronis</strong>.</p>



<p>Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.</p>



<p>Bagian ini juga ada empat bab, yakni <strong>Memahami Pertemanan Orang Dewasa</strong>, <strong>Memotivasi Orang Lain untuk Berubah</strong>, <strong>Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan</strong>, dan<strong> Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Let Them Theory</h2>



<p><em>The Let Them Theory </em>adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya &#8220;varian&#8221; dari konsep <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Dikotomi Kendali dari stoikisme.</a></p>



<p>Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan <strong>buku yang tepat di waktu yang tepat</strong>. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa <em>related</em> dengan dirinya.</p>



<p>Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, &#8220;Iya, ya?&#8221; ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Menolong Orang Lain</h3>



<p>Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah <strong>&#8220;Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan&#8221;</strong>. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung <em>extra effort</em> untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.</p>



<p>Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.</p>



<p>Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering <em>overthinking </em>bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).</p>



<p>Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, <strong>biarkan saja mereka melewati masalahnya</strong>. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.</p>



<p>Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Fokus ke Diri Sendiri</h3>



<p>Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana <strong>Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri</strong>, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain</p>



<p>Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-punya-logo-baru-di-tahun-2026-ini/">Perubahan logo whatheFAN</a> pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Perbandingan Kronis</h3>



<p>Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian <strong>&#8220;Mengatasi Perbandingan Kronis&#8221;</strong>. Penulis yang pada dasarnya punya <em>low esteem</em> kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.</p>



<p>Penulis sering merasa kalau &#8220;kemenangan&#8221; orang lain berarti &#8220;kekalahan&#8221; kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena &#8220;kemenangan&#8221; orang lain ya &#8220;kemenangan&#8221; mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita &#8220;kalah&#8221;.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kekurangan Buku Ini</h3>



<p>Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku <em>self-help </em>yang merasa punya satu teori hebat, <strong>buku ini juga cenderung repetitif</strong>. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya &#8220;ini lagi ini lagi&#8221;.</p>



<p>Selain itu,<strong> isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar</strong>. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.</p>



<p>Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.</p>



<p>Walau mengandung kata &#8220;teori&#8221; di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah <strong>memperumit &#8220;teori&#8221; sederhana yang ingin dijelaskan</strong>.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagi Penulis, <em>The Let Them Theory </em>adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan &#8220;pencerahan&#8221; ketika membaca isinya.</p>



<p>Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas <em>mood </em>kita sendiri, dan lain sebagainya.</p>



<p>Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.</p>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor:<strong> 8/10</strong></mark></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca <em>The Let Them Theory</em> karya Mel Robbins</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 15:34:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8497</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar Abigail Limuria dan Cania Citta, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif. Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul Makanya, Mikir!, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara launching buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum! Ekspektasi Penulis ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/">[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar <strong>Abigail Limuria</strong> dan <strong>Cania Citta</strong>, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif.</p>



<p>Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul <em><strong>Makanya, Mikir!</strong></em>, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara <em>launching</em> buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum!</p>



<p>Ekspektasi Penulis ketika membeli buku ini adalah Penulis jadi mengetahui bagaimana kerangka berpikir yang benar. Jangan-jangan, ada yang salah dari cara Penulis berpikir selama ini.</p>



<p>Apakah ekspektasi ini tercapai? Sayangnya tidak.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner.jpg 1200w " alt="Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/musim-baru-pemain-baru-mu-nya-masih-sama/">Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Makanya, Mikir!</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Makanya, Mikir!</em></li>



<li>Penulis: Abigail Limuria dan Cania Citta</li>



<li>Penerbit: </li>



<li>Cetakan: Ke-7</li>



<li>Tanggal Terbit: September 2025</li>



<li>Tebal: 290 halaman</li>



<li>ISBN: 9786238944026</li>



<li>Harga: Rp138.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Makanya, Mikir!</h2>



<p>Berdasarkan sinopsis yang terletak di bagian belakang, buku ini berusaha untuk memberikan berbagai kerangka berpikir (<em>mental models</em>) beserta studi kasusnya. Ini selaras dengan judulnya, yang mengajak kita untuk berpikir.</p>



<p>Sebenarnya bukan berarti kedua penulis buku ini menuduh kita tidak pernah berpikir. Bisa saja selama ini kita berpikir, tapi tidak berpikir dengan benar. Nah, buku ini berusaha memberi <em>insight </em>mengenai bagaimana berpikir yang benar.</p>



<p>Ada total delapan bab di buku ini, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Peta Realitas dan Cara Menentukan Tujuan Hidup</li>



<li>Kerangka Berpikir Dua Ranah: Pentingnya Membedakan Realitas dan Preferensi</li>



<li>Pola Pikir Ilmiah: Yang Pede dan Ngotot Belum Tentu yang Pintar</li>



<li>Bagaimana Menentukan Cost dan Benefit: Kenalan dengan Objective-Oriented Principle</li>



<li>Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan</li>



<li>Menentukan Prioritas: Sumber Daya Terbatas, Mana yang Harus Diutamakan?</li>



<li>Kecerdasan Sosial: Buat Apa Pintar Kalau Nyebelin</li>
</ol>



<p>Di bab-bab tersebut, ada banyak sekali teori berpikir yang akan kita pelajari, walau memang bisa dibilang hanya di permukaan saja. Semuanya dipaparkan dengan bahasa sederhana yang tidak membuat kita kebingungan.</p>



<p>Beberapa hal yang dijabarkan di buku ini adalah bagaimana menentukan tujuan hidup, perbedaan ranah realitas dan preferensi (yang kerap menjadi sumber utama polarisasi), konsep Cost-Benefit Analysis (CBA) yang membantu kita membuat keputusan dan prioritas, bias berpikir, dan lain sebagainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Makanya, Mikir!</h2>



<p>Dua nama yang menulis buku ini adalah orang-orang yang Penulis anggap cerdas, sehingga ada ekspektasi tinggi ketika membaca buku ini. Jika membaca buku <em>self-improvement </em>dari Barat, biasanya Penulis tidak mengenal siapa penulisnya.</p>



<p>Nah, Penulis membutuhkan waktu yang relatif cukup singkat untuk menyelesaikan buku ini. Apakah itu tanda kalau buku ini begitu menarik? Sayangnya bukan, karena <strong>memang isinya yang bagi Penulis relatif sedikit</strong>.</p>



<p>Dengan harga yang relatif cukup mahal (hampir Rp140 ribu), sayang isi buku ini bisa dibilang <strong>terasa hanya permukaan saja</strong>. Sebenarnya wajar, karena buku ini <em>full color </em>dan memiliki banyak sekali gambar, yang terkadang memakan hampir dua halaman penuh.</p>



<p>Memang, dalam <em>podcast </em>bersama Raditya Dika, Abigail Limuria mengatakan bahwa buku ini memang berusaha tidak mengintimidasi pembacanya dengan buku yang <em>full </em>dengan tulisan. (FYI, Radit yang pernah punya percetakan juga terlihat kaget dengan harganya yang cukup mahal).</p>



<p>Jika memang target pasarnya adalah pembaca baru atau yang baru ingin membangun kebiasaan pembaca, maka keputusan tersebut tepat. Hanya saja, bagi Penulis yang memang dari dulu hobinya membaca, Penulis merasa sedikit rugi telah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk isi yang &#8220;hanya&#8221; segini.</p>



<p>Penulis adalah tipe <em>reviewer </em>buku yang menilai buku berdasarkan dampak yang diberikan oleh buku tersebut dan membandingkan dengan &#8220;investasi&#8221; yang Penulis keluarkan untuk membeli buku tersebut. Jujur saja, ini adalah <strong>&#8220;investasi&#8221; yang kurang <em>worth i</em></strong><em>t</em>.</p>



<p>Tentu ada banyak <em>insight-insight </em>menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama bagian CBT yang pernah Penulis praktekkan. Hanya saya, ya kembali lagi, rasanya kurang sepadan dengan uang yang sudah dikeluarkan.</p>



<p>Gaya penulisannya yang <strong>seperti mendengarkan teman <em>yapping </em></strong>juga menjadi salah satu kelebihan buku ini, terutama untuk pembaca pemula. Setiap poin yang ingin dibahas berusaha dijabarkan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.</p>



<p>Seperti yang sudah disebutkan di atas, buku ini juga selalu memberikan studi kasus agar kita lebih paham lagi. Hanya saja, terkadang Penulis merasa <strong>studi kasus yang diberikan terlalu banyak dan berulang-ulang</strong>.</p>



<p>Buku ini mungkin cocok bagi banyak orang, apalagi di Indonesia yang tingkat literasinya cukup rendah. Namun, bagi orang yang memang sudah lama hobi membaca seperti Penulis, buku ini akan terasa kurang &#8220;daging&#8221;.</p>



<p>Skor: <strong>6/10</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 26 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Makanya, Mikir!</em> karya Abigail Limuria dan Cania Citta</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/">[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2025 14:59:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8434</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre self-improvement. Bukan karena merasa self-nya sudah improve, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik. Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku self-improvement seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre <em>self-improvement</em>. Bukan karena merasa <em>self</em>-nya sudah <em>improve</em>, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik.</p>



<p>Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku <em>self-improvement </em>seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah dengan membaca judulnya saja, Penulis sudah bisa membayangkan isinya.</p>



<p>Nah, beda cerita ketika Penulis menemukan buku berjudul <em>Effortless </em>dari Greg McKeown ini. Ketika membaca sinopsis yang cukup panjang di bagian belakang buku, Penulis merasa ini adalah buku yang dibutuhkan saat ini. Untunglah, hal tersebut benar adanya. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner.jpg 1280w " alt="Akhirnya Buka Puasa (Gelar)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/akhirnya-buka-puasa-gelar/">Akhirnya Buka Puasa (Gelar)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Effortless</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Effortless: Karena Tak Semua Harus Sesulit Itu</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-6</li>



<li>Tanggal Terbit: Juli 2025</li>



<li>Tebal: 320 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020658780</li>



<li>Harga: Rp98.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Effortless</h2>



<p><em>Apakah Anda pernah merasa seperti:</em></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><em>Berada tepat di tepi jurang lelah fisik dan mental?</em></li>



<li><em>Ingin berkontribusi lebih besar, tetapi kehabisan energi?</em></li>



<li><em>Sudah berlari lebih kencang tetapi tidak maju lebih dekat ke sasaran?</em></li>



<li><em>Segalanya terasa jauh lebih sulit daripada biasanya?</em></li>
</ul>



<p><em>Kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa jalan menuju sukses adalah jalan dengan kerja yang terus-menerus. Bahwa kalau ingin pencapaian tinggi, kita harus memaksa diri, terus memutar otak, dan berusaha sampai lewat batas. Jadi, kalau kita belum terkapar kelelahan, artinya usaha kita belum memadai.</em></p>



<p><em>Namun belakangan ini, kerja keras lebih menguras tenaga daripada sebelumnya. Dan makin berkurang energi kita, makin sulit kita meraih kemajuan. Terjebak di sebuah lingkaran setan “Zoom, eat, sleep, repeat,” kita sering bekerja dua kali lebih keras tetapi meraih hasil paling banyak setengah dari biasanya.</em></p>



<p><em>Untuk berada paling depan kita tidak harus mengerjakan sesuatu yang sulit. Apa pun tantangan atau rintangan yang kita hadapi, ada sebuah jalan yang lebih baik: alih-alih memaksa diri lebih keras, kita dapat menemukan jalan yang lebih mudah.</em></p>



<p><em>Effortless menawarkan saran yang dapat diterapkan untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan esensial dengan cara-cara paling mudah, agar anda bisa meraih hasil-hasil yang diinginkan, tanpa mengalami lelah fisik dan mental.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Effortless</h2>



<p>Dari sinopsis yang cukup detail di atas (bahkan aslinya lebih panjang dari itu), kita sudah mendapatkan gambaran apa yang akan dibahas oleh buku ini. Singkatnya, buku ini mengajarkan beberapa cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih efektif.</p>



<p>Sebenarnya buku ini seperti sekuel untuk buku McKeown yang lain, <em>Essential</em>, yang sayangnya belum Penulis baca. Apalagi, di buku ini beberapa kali menyinggung buku tersebut. Walau begitu, kita tidak perlu membaca buku tersebut untuk bisa memahami buku ini.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian, di mana masing-masing akan di-<em>breakdown </em>menjadi lima subbab. Berikut adalah daftarnya:</p>



<p><strong>Bagian I: Keadaan Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat  berfokus lebih mudah</em>?)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dibalik: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Mudah?</li>



<li>Dinikmati: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Menyenangkan?</li>



<li>Dibebaskan: Dahsyatnmya Kesediaan Membebaskan</li>



<li>Diistirahatkan: Seni dalam Tidak Berbuat Apa pun</li>



<li>Diperhatikan: Bagaimana Melihat dengan Jelas</li>
</ol>



<p>Apa yang dimaksud Keadaan Tanpa Kesulitan adalah mengenai kondisi diri kita sendiri sebelum melakukan sesuatu. Ini adalah awal yang baik agar kita bisa lebih fokus dalam mengerjakan berbagai hal. </p>



<p><strong>Bagian II: Aksi Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat pekerjaan esensial lebih mudah?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Didefinisikan: Seperti Apa yang Disebut &#8220;Selesai&#8221;?</li>



<li>Dimulai: Aksi Nyata Pertama</li>



<li>Disederhanakan: Dimulai dari Nol</li>



<li>Kemajuan: Berani Tampil Buruk Rupa</li>



<li>Irama: Lambat Itu Mulus, Mulus Itu Cepat</li>
</ol>



<p>Setelah keadaan kita berada di kondisi yang lebih baik, maka selanjutnya adalah memahami Aksi Tanpa Kesulitan. Bagian II bisa dibilang adalah inti dari buku ini, di mana kita diberi beberapa langkah praktis agar sesuatu bisa selesai secara efektif. </p>



<p><strong>Bagian 3: Hasil Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimnana kita mendapat hasil tertinggi dengan usaha paling sedikit?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dipelajari: Memanfaatkan Hal Terbaik yang Sudah Diketahui Orang Lain</li>



<li>Ditingkatkan: Memanfaatkan Kekuatan Sepuluh Orang</li>



<li>Diotomatiskan: Mengerjakan Satu Kali Saja dan Selanjutnya Otomatis</li>



<li>Dipercaya: Tim dengan Mesin Berefek Tuas Tinggi</li>



<li>Dicegah: Memecahkan Masalah sebelum Muncul</li>
</ol>



<p>Setelah memperbaiki diri sendiri dan mengoptimalkan tindakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, selanjutnya adalah Hasil Tanpa Kesulitan. Bab ini menjelaskan cara untuk meningkatkan hasil yang diinginkan dengan upaya seminim mungkin.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Effortless</h2>



<p>Buku bergenre self-improvement akan Penulis anggap bagus apabila ada banyak hal praktis yang bisa dilakukan saat ini juga. Itulah mengapa Penulis memberi nilai yang cukup tinggi ke buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a></em>. Nah, <em>Effortless </em>ini juga mendapatkan apresiasi yang sama.</p>



<p>Di bagian pertama, kita akan diajak untuk mengelola kembali isi pikiran dan menyingkirkan hal-hal yang tidak esensial, mengelola emosi, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, bagian ini lebih terasa sebagai buku <em>self-love</em>. Semua berawal dari diri kita sendiri.</p>



<p>Hal paling praktis bisa ditemukan di bagian kedua, di mana ada banyak sekali hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk bisa membuat suatu aktivitas atau pekerjan terasa lebih mudah. Mungkin tidak banyak hal baru, tapi tetap saja tips yang diberikan sangat mudah dipraktekkan.</p>



<p>Selanjutnya di bab terakhir akan membahas mengenai beberapa tips untuk meningkatkan hasil setelah melakukan apa yang sudah dijelaskan di dua bab sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah membuat sistem, otomatisasi, hingga delegasi.</p>



<p>Jika dirangkum, buku ini memang konsisten dengan judulnya, di mana setiap aktivitas yang kita lakukan (terutama yang esensial) bisa dikerjakan dengan <em>effortless</em>. Bukan cuma kerja keras, tapi juga kerja cerdas. </p>



<p>Selain itu, gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan tidak menggurui, sehingga kita yang membacanya pun jadi merasa <em>effortless </em>untuk memahami isi buku. Kita tidak perlu memeras otak untuk bisa memahami langkah-langkah yang ditawarkan oleh buku ini. Apalagi, ada banyak <em>study case </em>yang membuat kita lebih memahami isi buku.</p>



<p>Apa yang paling Penulis suka dari buku ini adalah adanya ringkasan di setiap akhir subbab, di mana makin ke belakang ringkasan ini makin lengkap. Ini sangat membantu kita untuk tetap mengingat apa saja yang sudah kita pelajari dari buku ini. </p>



<p>Sentuhan kecil yang juga menarik dari buku ini adalah beberapa <em>quote </em>paling penting akan di-<em>highlight</em> dengan dibesarkan dan ditebalkan. Selain itu, ada juga beberapa ilustrasi yang membantu kita lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya.</p>



<p>Buku ini Penulis rekomendasikan bagi siapapun yang kerap merasa <em>burnout </em>dengan pekerjaannya, sering merasa lelah secara mental, merasa pola hidupnya berantakan, dan berbagai permasalahan internal lainnya. Tentu, mempraktekkan isi bukunya menjadi hal paling penting.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 3 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca <em>Effortless </em>karya Greg McKeown</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Sep 2025 11:24:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Yanis Varoufakis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8379</guid>

					<description><![CDATA[<p>Waktu kelas 10 SMA, Ekonomi adalah salah satu mata pelajaran yang kurang Penulis sukai karena menganggapnya mbulet. Namun, ketika dewasa, Penulis menyadari bahwa memahami ilmu ekonomi (setidaknya dasarnya) ternyata sangat penting. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membaca atau menonton topik-topik ekonomi dan keuangan. Beberapa buku yang sudah Penulis baca adalah Ngomongin Uang, Why the [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/">[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Waktu kelas 10 SMA, Ekonomi adalah salah satu mata pelajaran yang kurang Penulis sukai karena menganggapnya <em>mbulet</em>. Namun, ketika dewasa, Penulis menyadari bahwa memahami ilmu ekonomi (setidaknya dasarnya) ternyata sangat penting.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membaca atau menonton topik-topik ekonomi dan keuangan. Beberapa buku yang sudah Penulis baca adalah <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/"><em>Ngomongin Uang</em></a>, <a href="https://whathefan.com/buku/pendidikan-keuangan-pada-why-the-rich-are-getting-richer/"><em>Why the Rich are Getting Richer</em></a>, dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">The Pschology of Money</a></em>.</p>



<p>Nah, bisa dibilang judul-judul di atas lebih membicarakan tentang keuangan, bukan tentang ekonomi secara fundamental. Itulah alasan utama Penulis membeli buku <em><strong>Talking to My Daughter about the Economy </strong></em>karya <strong>Yanis Varoufakis</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner.jpg 1200w " alt="Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kado-manis-untuk-kroos-kado-pahit-untuk-reus/">Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Talking to My Daughter about the Economy</em></li>



<li>Penulis: Yanis Varoufakis</li>



<li>Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 144 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024818111</li>



<li>Harga: Rp80.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p><em>Kenapa ada begitu banyak ketimpangan? Dalam buku ringkas ini, Yanis Varoufakis menjawab pertanyaan anak perempuannya yang begitu sederhana tapi juga begitu menggusarkan itu. Dengan menggunakan analogi dari cerita-cerita klasik maupun populer—dari Oidipus, Frankenstein, hingga The Matrix, ia menjelaskan apa itu ekonomi dan kenapa ekonomi punya daya yang dahsyat dalam membentuk hidup kita. Ia juga mengajak kita untuk merebut kembali ekonomi dari tangan para ekonom yang menurutnya hampir selalu keliru. Sebab, ia yakin, semakin ilmiah model ekonomi kita, semakin lemah relasinya dengan ekonomi nyata.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p>Meskipun judulnya &#8220;<em>about the economy</em>&#8220;, sebenarnya buku ini berfokus pada memaparkan sejarah singkat kapitalisme. Jadi, kita tidak akan menemukan bentuk ideologi ekonomi lainnya, seperti sosialisme misalnya.</p>



<p>Buku ini sendiri memiliki 8 bab utama yang saling terkait, di mana setiap akhir bab biasanya akan memberi <em>tease </em>terkait apa yang akan dibahas di bab selanjutnya (mirip dengan formula di buku <em>The Psychology of Money</em>). Delapan bab yang ada dibuku ini adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Mengapa Begitu Banyak Ketimpangan</li>



<li>Lahirnya Masyarakat Pasar</li>



<li>Perkawinan antara Uang dan Laba</li>



<li>Ilmu Hitam Perbankan</li>



<li>Dua Pasar dengan Kompleks Oidipus</li>



<li>Hantu Mesin</li>



<li>Fantasi Berbahaya Uang Apolitis</li>



<li>Virus Bodoh?</li>
</ol>



<p>Kita akan diberi sejarah singkat bagaimana ekonomi dunia saat ini bisa seperti sekarang yang kita kenal, di mana kapitalisme bisa begitu dominan. Semua dijabarkan secara runtun, bahkan ditarik hingga masa Revolusi Pertanian sekitar 10 ribu tahun lalu.</p>



<p>Siapa yang menyangka kalau Revolusi Pertanian menciptakan sesuatu yang disebut sebagai &#8220;Pasar&#8221; alias konsumen karena menimbulkan surplus pangan. Ini berbeda ketika manusia masih berburu, di mana kita tidak menyimpan stok makanan karena daging cepat membusuk.                                  </p>



<p>Perubahan sistem ekonomi di sejarah peradaban manusia juga terjadi akibat adanya invasi yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Mengapa bangsa Eropa yang menjajah Australia atau wilayah lain, bukan sebaliknya? Hal tersebut juga dibahas di buku ini secara singkat.</p>



<p>Nah, invasi yang dilakukan bangsa Eropa juga terjadi karena mereka ingin menjual produk yang mereka hasilkan, apalagi setelah terjadi Revolusi Industri yang membuat produksi barang meningkat berkali-kali lipat. </p>



<p>Dalam Revolusi Industri, pengusaha tentu butuh modal. Nah, maka muncullah pemodal yang bisa meminjamkan uang, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal sistem perbankan. Setelah produksi, tentu pengusaha membutuhkan pembeli agar bisa balik modal dan bayar hutang ke bank.</p>



<p>Semakin cepat proses produksi gara-gara Revolusi Industri, maka barang yang dihasilkan semakin banyak. Namun, pasar atau konsumen di negara sendiri tentu terbatas. Itulah kenapa bangsa Eropa   berdagang dengan bangsa lain, terkadang dengan memaksa. </p>



<p>Nah, pembahasan sejarah kapitalisme di buku ini pun sampai ke era modern, bagaimana seiring berjalannya waktu sistem perekonomian yang kita miliki semakin rumit. Buku ini bahkan sempat menyinggung Bitcoin juga.</p>



<p>Dengan tebal tidak sampai 150 halaman, buku ini mampu memberikan sudut pandang yang menarik tentang ekonomi dan membuat kita sadar bahwa sistem yang kita gunakan saat ini ternyata berakar dari kemajuan kita sendiri, terkadang secara mengerikan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p>Memiliki tema ekonomi yang kerap terasa intimidatif dan mengerikan, buku ini justru memiliki gaya bahasa yang menarik. Pasalnya, penulis buku ini memosisikan diri sedang bercerita atau mengobrol dengan anak perempuannya, sehingga terasa dekat dan ringan.</p>



<p>Ekonomi terkenal karena memiliki banyak sekali istilah yang membingungkan orang awam. Nah, di buku ini, sangat jarang ditemukan istilah-istilah yang membuat kita berpikir keras. Benar-benar penjelasannya dibuat sesederhana mungkin.</p>



<p>Tak hanya itu, hal menarik lainnya tentang gaya penyampaian buku ini adalah bagaimana setiap bab selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau <em>pop culture </em>atau mitologi sebagai analogi, sehingga kita sebagai pembaca bisa lebih membayangkan apa yang sedang dibahas.</p>



<p>Selain itu, dengan pendekatan sejarah, tentu buku ini berhasil menarik minat Penulis yang kebetulan juga penggemar sejarah. Apalagi, banyak analogi di buku ini yang menggunakan peristiwa asli, seperti ketika menceritakan tentang pasar rokok di <em>camp </em>tawanan.</p>



<p>Ada juga kritik yang bisa ditemukan di buku ini, seperti bagaimana kemajuan teknologi justru bisa berujung <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">diperbudaknya manusia oleh ciptaannya sendiri</a>. Dalam konteks ekonomi, kita bisa melihat sendiri bagaimana banyak manusia yang kini diperbudak oleh uang.</p>



<p>Dengan demikian, buku ini bisa dikatakan berhasil &#8220;membumikan&#8221; penjelasan ekonomi sehingga mudah dipahami. Menurut Penulis, buku ini cocok untuk pembaca muda yang ingin memahami mengapa sistem ekonomi berjalan seperti yang kita ketahui.</p>



<p>Namun, kelebihan tersebut juga bisa menjadi faktor kekurangan dari buku ini, alias isi buku ini tidak terlalu dalam. Buat orang yang sudah memahami dunia ekonomi, buku ini mungkin akan terasa seperti &#8220;remah-remah&#8221; saja.</p>



<p>Buku ini memang lebih cocok untuk dijadikan sekadar pengantar ke dunia ekonomi, bukan sebagai referensi ekonomi. Hanya sedikit pembahasan yang menawarkan solusi konkrit untuk sebuah permasalahan, padahal ia pernah menjadi Menteri Keuangan Yunani walau sebentar.</p>



<p></p>



<p>Terlepas dari itu semua, buku ini berhasil menjelaskan ekonomi, setidaknya sejarah kapitalisme, dengan mudah dan menyenangkan. Bahkan, menurut Penulis menjadi bacaan wajib anak-anak SMA agar memahami bagaimana dunia yang mereka huni bekerja.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 13 September 2025, terinpsirasi setelah membaca buku <em>Talking to My Daughter about the Economy </em>karya Yanis Varoufakis</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/">[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Dec 2024 16:31:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8149</guid>

					<description><![CDATA[<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara sederhana. Penulis sudah pernah <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">membaca satu bukunya</a>, sehingga ketika tahu ada buku baru, Penulis membelinya.</p>



<p>Berjudul <em><strong>Filsafat Kebahagiaan</strong></em>, buku ini langsung mencuri perhatian Penulis karena konsepnya yang terfokus pada satu topik: <strong>kebahagiaan</strong>. Ini adalah topik menarik untuk didalami, karena kita sebagai manusia kerap bingung mendefinisikan apa itu kebahagiaan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner.jpg 1280w " alt="Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-berlibur-ke-jakarta-selama-5-hari-bagian-1/">Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Filsafat Kebahagiaan</em></li>



<li>Penulis: Fahruddin Faiz</li>



<li>Penerbit: Mizan Pustaka</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2024</li>



<li>Tebal: 288 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024413323</li>



<li>Harga: Rp89.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p><em>Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya, makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu, boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka, layak sekali kalau orang bertanya: apa, sih, bahagia itu sebenarnya? </em></p>



<p><em>Empat orang bijak—Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram—menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat, dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya. </em></p>



<p><em>Buku ini bakal memberi pencerahan bagi Anda yang mencari kebahagiaan sejati. </em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini akan mengulas filsafat kebahagiaan dari sudut pandang empat tokoh: <strong>Plato</strong>, <strong>al-Farabi</strong>,<strong> al-Ghazali</strong>, dan <strong>Ki Ageng Suryomentaram</strong>. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda untuk mendefiniskan kebahagiaan.</p>



<p>Plato sebagai salah satu filsuf dari Yunani kuno tentu meletakkan fondasi untuk memahami kebahagiaan. Lalu, pemikiran tersebut dijabarkan lagi melalui pendekatan Islam melalui al-Farabi dan al-Ghazali yang lebih sufi. </p>



<p>Penulis secara pribadi tertarik dengan keputusan Faiz untuk memasukkan Ki Ageng Suryomentaram, yang tentu saja menyelipkan filsafat-filsafat Jawa. Dengan demikian, buku ini berisi filsafat Barat, Islam, dan Jawa.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Plato</h3>



<p>Kalau menurut Plato, hakikat manusia adalah jiwanya, badan hanya manifestasi dari jiwa. Secara singkat, menurut Plato jiwa itu mengandung tiga unsur (di mana ketiga unsur ini dipengaruhi ole Eros atau cinta), yaitu: </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Epithumia</strong>: Lambang nafsu manusia yang rendah, seperti makan, minum, seks</li>



<li><strong>Thumos</strong>: Lambang hasrat, ambisi, atau harga diri, seperti afektivitas, rasa semangat, agresivitas</li>



<li><strong>Logistikon</strong>: Lambang akal, rasio, </li>
</ul>



<p>Ketiga unsur inilah yang akan memengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang menurut Plato. Apabila kita bisa mengendalikan ketiganya dan mampu menetapkan batasan, maka kita akan bisa menemukan kebahagiaan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Farabi</h3>



<p>Nah, konsep kebahagiaan yang diungkap oleh Plato bersifat indidualis. Menurut al-Farabi, kebahagiaan itu juga butuh hubungan sosial. Selain itu, kenikmatan yang punya nilai ibadah akan punya kualitas kebahagiaan yang lebih awet.</p>



<p>Ada satu <em>quote </em>yang cukup menohok di bagian al-Farabi,&#8221;Tuhan menciptakan kita untuk bahagia. Kalau mudah galau, Anda melecehkan Tuhan.&#8221; Tentu ini akan membuat kita jadi termenung dan berusaha bersyukur atas apapun yang sudah kita dapatkan hingga saat ini.</p>



<p>Bahagia menurut al-Farabi akan tercapai ketika jiwa terimplementasikan secara optimal. Caranya adalah dengan mengoptimalkan daya gerak, daya mengetahi, dan daya berpikir yang sudah menjadi fitrah manusia. </p>



<p>Jangan lupa, kebahagiaan juga harus didapatkan dari kebahagiaan sosial. Bukan hanya dari lingkup keluarga atau pertemanan, tapi juga dari negara. Bayangkan saja jika kita memiliki kehidupan yang baik, tiba-tiba negara merusaknya, maka kebahagiaan itu bisa hilang.</p>



<p>Oleh karena itu, menurut al-Farabi kunci kebahagiaan itu dipegang oleh filsuf, ulama, dan pemimpin negara. Kalau dari sendiri, kita harus bisa menakhlukkan jiwa untuk tercapai jiwa yang tenang dan terus melakukan perilaku utama atau kebajikan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Ghazali</h3>



<p>Kalau menurut al-Ghazali, kunci kebahagiaan itu adalah dengan mengenali diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, kita juga akan bisa menemukan citra Tuhan dan mengenal Tuhan lebih dekat lagi.</p>



<p>Mirip dengan Plato, al-Ghazali menyebut manusia memiliki tiga unsur, yakni unsur hewan, setan, dan malaikat. Untuk bisa bahagia, manusia harus bisa mewaspadai syahwat dan amarah, serta terus mencari ilmu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Ki Ageng Suryomentaram</h3>



<p>Beda lagi dengan pendapatnya Ki Ageng Suryomentaram. Menurut beliau, rumus kebahagiaan itu bisa disingkat sebagai 6S yang intinya mengajak kita untuk hidup sederhana, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Sakbutuhe (sekadar kebutuhan)</li>



<li>Sakperlune (sekadar keperluan)</li>



<li>Sakcukupe (sekadar kecukupan)</li>



<li>Sakbenere (sekadar kebenaran)</li>



<li>Sakmesthine (sekadar kepantasan/keharusan)</li>



<li>Sakpenake (sekadar kenyamanan/kenikmatan)</li>
</ol>



<p>Mirip dengan al-Ghazali, syarat bahagia versi Ki Ageng adalah mengerti diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Untuk bisa melakukannya, kita harus bisa hidup saat ini (<em>saiki</em>), di sini (<em>ing kene</em>), dan seperti ini (<em>ngene</em>).</p>



<p>Ki Ageng juga menekankan kalau kebahagiaan itu harus tergantung oleh kondisi internal tanpa tergantung dengan kondisi eksternal. Kita juga harus bisa mengendalikan keinginan diri, entah kesenangan fisik, reputasi, maupun status sosial.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Selama hampir tujuh tahun menulis artikel ulasan buku di blog ini, rasanya baru kali ini bagian &#8220;Isi Buku&#8221; sepanjang sekarang. Salah satu alasannya adalah agar Penulis bisa mengingat apa saja isi dari buku ini, yang menurut Penulis sangat penting untuk kehidupannya.</p>



<p>Walau sudah menulis sepanjang itu, percayalah bahwa masih ada banyak bagian yang tidak Penulis banyak. Buku ini memang tergolong tipis, tapi isinya sangat padat dan daging semua. Karena begitu menarik, Penulis bisa menyelesaikan buku ini dengan cukup cepat.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di awal, buku ini benar-benar menggambarkan ciri khas Fahruddin Faiz yang bisa menyampaikan hal berat menjadi ringan sehingga bisa dipahami oleh semua orang, bahkan yang asing dengan dunia filsafat sekalipun.</p>



<p>Kata filsafat yang selama ini terkesan mengerikan berhasil diubah menjadi menyenangkan dan terkesan santai untuk dipelajari. Sama sekali tidak ada penjelasan yang <em>njelimet </em>yang membuat kita harus membaca ulang lagi.</p>



<p>Lantas, apakah buku ini akan membuat kita langsung paham apa itu kebahagiaan? Tentu tidak semudah itu. Pada akhirnya, kebahagiaan itu tanggung jawab kita sendiri. Buku ini hanya hadir untuk membantu kita menemukan kebahagiaan itu.</p>



<p>Bahagia adalah bagian dari diri manusia, dan sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan dengan cara-cara yang benar. Manusia sudah sewajarnya merasa bahagia, karena itu adalah fitrah kita sebagai manusia.</p>



<p>Semoga saja makin banyak topik-topik filsafat lain yang akan diulas oleh Fahruddin Faiz, dengan mempertahankan gaya bahasanya yang mudah dicerna. Saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Filsafat Moral</em>, yang juga akan tandas dalam waktu dekat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Desember 2024, terinspirasi setelah membaca <em>Filosofi Kebahagiaan</em> karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Book of Everyday Things</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Nov 2024 11:45:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8055</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah memiliki tiga buku tulisan Desi Anwar, yakni Hidup Sederhana, Going Offline, dan Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian. Penulis merasa cocok dengan gaya penulisannya, sederhana tapi bermakna. Oleh karena itu, tak heran jika Penulis sampai menambah satu buku lagi tulisan Desi Anwar. Kali ini, sudut pandang yang diambil cukup menarik, dengan judul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/">[REVIEW] Setelah Membaca The Book of Everyday Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis sudah memiliki tiga buku tulisan <strong>Desi Anwar</strong>, yakni <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/">Hidup Sederhana</a></em>, <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Going Offline</a></em>, dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a></em>. Penulis merasa cocok dengan gaya penulisannya, sederhana tapi bermakna.</p>



<p>Oleh karena itu, tak heran jika Penulis sampai menambah satu buku lagi tulisan Desi Anwar. Kali ini, sudut pandang yang diambil cukup menarik, dengan judul <em><strong>The Book of Everyday Things</strong></em>.</p>



<p>Saat membaca sekilas isinya, Penulis merasa sedikit terkejut karena buku ini membahas <em>literally </em>hal-hal remeh yang sering kita abaikan begitu saja karena telah menjadi bagian dari hidup kita sejak lama. Ternyata, ada banyak sudut menarik dari benda-benda tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner.jpg 1280w " alt="Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-2/">Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Book of Everyday Things</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Book of Everyday Things</em></li>



<li>Penulis: Desi Anwar</li>



<li>Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2024</li>



<li>Tebal: 300 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020675923</li>



<li>Harga: Rp149.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku The Book of Everyday Things</h2>



<p><em>Buku, bantal, sepatu, bolpoin, jam tangan, mainan, uang, dan sikat gigi… Ini adalah berbagai benda yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya begitu biasa sehingga kita menerimanya begitu saja, seolah-olah semua benda itu sudah menjadi bagian hidup kita.</em> <em>Pada kenyataannya, kemampuan untuk membuat benda mungkin adalah cara kita mendefinisikan spesies kita dan membuat kita berbeda dari makhluk hidup lainnya. </em></p>



<p><em>Coba tengok keadaan di sekitar kita perhatikan jumlah benda yang ada di sekeliling yang terus bertimbun sepanjang hidup kita. Seorang manusia mungkin mengawali hidupnya hanya dengan tarikan napas pertama, kemudian tidak membawa apa-apa ke dalam kuburnya selain yang dihiaskan orang lain pada jasadnya yang sudah tak bernyawa.</em> <em>Padahal, selama hidupnya, dia bergantung pada berbagai benda, bukan hanya untuk memungkinkannya berfungsi, melainkan juga agar memiliki identitas dan tujuan: Berbagai benda dan barang yang diciptakan dan diproduksi oleh sesama manusia yang dapat digunakan untuk mengendalikan serta memanipulasi lingkungannya dan menentukan takdirnya. Berbagai barang yang mengisi tidak hanya ruang yang ditempatinya, tetapi juga yang pada akhirnya mengacaukan dan menyesakkan seluruh Bumi, yang sekaligus menyisakan semakin sedikit ruang bagi makhluk hidup lainnya untuk berkembang.</em></p>



<p><em>The Book of Everyday Things adalah pengingat bahwa terlepas dari kemampuan spesies kita untuk menaklukkan alam dan menciptakan aneka benda menakjubkan untuk membuat hidup kita lebih nyaman, obsesi kita untuk memproduksi dan mengonsumsi beragam benda mungkin justru membuat kita makin tidak memahami tujuan sebenarnya keberadaan kita. Bahwa mungkin kebahagiaan sejati tidak hanya terletak pada berbagai benda buatan manusia, tetapi juga menghargai apa yang diberikan alam kepada kita.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku The Book of Everyday Things</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini dibagi menjadi beberapa bab dengan judul benda atau sesuatu yang menemani keseharian kita. Total, ada 30 bab yang awalnya bagi Penulis tak akan menarik untuk dibahas, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Buku</li>



<li>Bantal</li>



<li>Roti</li>



<li>Surat</li>



<li>Pernak-pernik</li>



<li>Teh</li>



<li>Uang</li>



<li>Kucing</li>



<li>Keluarga</li>



<li>Sepatu</li>



<li>Jam Tangan</li>



<li>Foto</li>



<li>Televisi</li>



<li>Sabun</li>



<li>Mainan</li>



<li>Alat Tulis</li>



<li>Mimpi</li>



<li>Sekolah</li>



<li>Ingatan</li>



<li>Seni</li>



<li>Bendera</li>



<li>Kematian</li>



<li>Topeng</li>



<li>Sikat Gigi</li>



<li>Rumah</li>



<li>Kekuatan Adikodrati</li>



<li>Gula</li>



<li>Cahaya</li>



<li>Informasi</li>



<li>Limbah</li>
</ol>



<p>Setiap babnya memiliki ketebalan yang bervariasi, tapi tidak ada yang terlalu memonopoli karena cukup seimbang. Dengan ketebalan hingga 300 halaman, setiap bab kurang lebih memiliki 10 halaman.</p>



<p>Mungkin banyak yang kebingungan, apa menariknya membahas bantal? Penulis juga sempat berpikir seperti itu. Namun, setelah membaca, ternyata ada banyak sekali hal menarik yang bisa dibahas dari sebuah bantal.</p>



<p>Di setiap babnya, Desi Anwar menggunakan dua pendekatan, yakni bagaimana pengalaman pribadinya terhadap benda tersebut dan menyisipkan sejarah penggunaan benda tersebut dalam peradaban manusia.</p>



<p>Mengingat Penulis merupakan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">penggemar sejarah</a>, tentu mengetahui bagaimana sebuah benda yang kerap diabaikan begitu saja memiliki sejarah yang panjang menjadi hal yang sangat menarik. </p>



<p>Kita kadang meremehkan benda-benda ini karena sudah terlalu biasa dengan keberadaannya tanpa pernah bertanya bagaimana benda ini bisa hadir di dunia dan memudahkan kehidupan kita. Ujungnya, hal ini akan membantu kita merasa bersyukur dengan keberadaannya.</p>



<p>Tiga puluh benda (atau hal) yang ada di dalam buku ini tidak terkait satu sama lain, sehingga Pembaca bisa membacanya lompat-lompat tergantung benda mana yang paling membuat penasaran.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Book of Everyday Things</h2>



<p><em>The Book of Everyday Things </em>menjadi bukti bahwa ide itu bisa datang dari mana saja. Siapa yang bisa menyangka kalau bantal bisa menjadi sepuluh halaman tulisan? Jelas buku ini menjadi inspirasi Penulis dalam mengisi blognya, terutama ketika sedang buntu ide.</p>



<p>Untuk gaya kepenulisan, rasanya tak perlu meragukan kemampuan Desi Anwar. Dijamin, walau benda yang dibahas terkesan remeh, pembahasan yang disajikan tetap menarik dan tidak membuat bosan. Buktinya, Penulis bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat.</p>



<p>Selain itu, buku ini juga dipenuhi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dengan nuansa oranye. Hal ini memang menambah daya tarik buku ini, tapi sekaligus membuat harganya menjadi lebih mahal, yakni Rp149.000.</p>



<p>Ada satu hal yang kurang sreg buat Penulis. Buku ini berjudul <em>The Book of Everyday Things</em>, di mana <em>things </em>diterjemahkan sebagai &#8220;benda.&#8221; Namun, beberapa bab di buku ini justru membahas hal yang tidak bisa dianggap sebagai benda.</p>



<p>Kucing dan keluarga jelas kurang cocok untuk dianggap sebagai benda, karena mereka makhluk hidup. Mimpi dan kematian lebih cocok dianggap sebagai peristiwa. Bahkan cahaya dan informasi pun bukan sesuatu yang <em>tangible</em>.</p>



<p>Mungkin Desi Anwar memiliki alasan dan penerjemahan sendiri mengapa memasukkan hal-hal tersebut ke dalam buku ini, sehingga Penulis juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Hanya saja, Penulis merasa masih ada benda-benda lain yang layak untuk dibahas olehnya.</p>



<p>Secara keseluruhan, Penulis merasa buku ini adalah bacaan santai yang membuat kita mendapatkan banyak <em>insight </em>menarik sekaligus mengajak kita merenungi keberadaan benda-benda yang ada di keseharian kita. </p>



<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang mudah merasa penasaran dengan hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan orang lain. Buku ini akan sangat cocok untuk menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 27 November 2024, terinspirasi setelah membaca <em>The Book of Everyday Things </em>karya Desi Anwar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/">[REVIEW] Setelah Membaca The Book of Everyday Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Ngomongin Uang</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Sep 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7919</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tahun terakhir, keuangan menjadi salah satu topik yang sedang banyak dipelajari mengingat usia Penulis sekarang sudah berkepala tiga. Meskipun bisa dibilang terlambat, rasanya tidak ada salahnya untuk tetap mempelajarinya. Sumber-sumber belajar keuangan pun tentu dari banyak medium, mulai dari YouTube, media sosial, hingga buku. Salah satu buku yang pernah Penulis baca adalah The [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/">[REVIEW] Setelah Membaca Ngomongin Uang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tahun terakhir, keuangan menjadi salah satu topik yang sedang banyak dipelajari mengingat usia Penulis sekarang sudah berkepala tiga. Meskipun bisa dibilang terlambat, rasanya tidak ada salahnya untuk tetap mempelajarinya.</p>



<p>Sumber-sumber belajar keuangan pun tentu dari banyak medium, mulai dari YouTube, media sosial, hingga buku. Salah satu buku yang pernah Penulis baca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">The Psychology of Money</a></em> karya Morgan Housel. Sayangnya, Penulis merasa buku ini kurang praktis untuk diterapkan dalam keseharian.</p>



<p>Nah, waktu tahu akun Instagram Ngomongin Uang akan menerbitkan sebuah buku tentang keuangan, Penulis langsung merasa tertarik karena telah mengikuti akun tersebut cukup lama dan senang dengan ulasan-ulasan yang mereka buat. </p>



<p>Hasilnya, timbul perasaan menyesal karena harusnya Penulis membaca buku seperti ini bertahun-tahun yang lalu.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones.jpg 1280w " alt="Terima Kasih (?) Phil Jones" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/terima-kasih-phil-jones/">Terima Kasih (?) Phil Jones</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Ngomongin Uang</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Ngomongin Uang: Menjadi &#8216;Kaya&#8221; Versi Kamu Sendiri</em></li>



<li>Penulis: Glenn Ardi</li>



<li>Penerbit: Penerbit Buku Kompas</li>



<li>Cetakan:</li>



<li>Tanggal Terbit:</li>



<li>Tebal: 244 halaman</li>



<li>ISBN: 9786231606204</li>



<li>Harga: Rp125.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Ngomongin Uang</h2>



<p><em>Kekayaan sering kali bukan hanya soal uang atau status sosial. Kekayaan yang sesungguhnya bersifat sangat personal, karena setiap orang mendefinisikan kesuksesan dan kebahagiaannya dengan cara yang berbeda. </em></p>



<p><em>Namun, apa pun definisi kekayaan bagi kamu, UANG adalah alat ukur dan kendaraan yang bisa membawamu mencapai tujuan. Karena itulah, memahami keuangan adalah hal yang fundamental dalam membangun kehidupan terbaik versi kamu. Buku ini hadir untuk kamu yang merasa keuangannya mandek, kamu yang overthinking dan terus membandingkan dirimu dengan kesuksesan orang lain, dan kamu yang merasa masa depan keuangan kamu suram—Yuk, kita Ngomongin Uang! </em></p>



<p><em>Karena ngomongin uang telah mengubah hidup saya! Membuat hidup saya lebih terencana, memberi rasa aman, kedamaian, kebebasan, sekaligus rasa kecukupan. Buku ini bukan soal motivasi sukses atau cara cepat kaya, tetapi buku ini akan membuat kamu menjadi ‘KAYA’ versi kamu sendiri. </em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Ngomongin Uang</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku <em>Ngomongin Uang </em>akan membahas tentang uang dari banyak sudut pandang. Buku ini membahas banyak hal yang sebenarnya cukup generik, mulai dari sejarah uang, cara-cara mendapatkan uang, penjelasan tentang investasi, dan lain sebagainya.</p>



<p>Buku ini terdiri dari 13 bab yang menarik dan dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi menarik yang digambar oleh Ariawan. Masing-masing bab memiliki kedalaman yang bervariasi, tergantung seberapa panjang topik yang dibahas. Ketigabelas bab tersebut adalah:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Bab 1: Cerita Terbentuknya Uang</li>



<li>Bab 2: Nilai Uang yang Selalu Berubah</li>



<li>Bab 3: Tahap Prioritas Keuangan</li>



<li>Bab 4: Ciri Khas Calon Orang Kaya</li>



<li>Bab 5: Perhatikan Pengeluaran Kamu</li>



<li>Bab 6: Jalan Menuju Kekayaan</li>



<li>Bab 7: Memaknai Arti Kekayaan</li>



<li>Bab 8: Kaya Menurut Versi Kamu Sendiri</li>



<li>Bab 9: Investasi Itu untuk Apa? </li>



<li>Bab 10: Gimana Caranya Beli Rumah?</li>



<li>Bab 11: Perlukah Membeli Mobil?</li>



<li>Bab 12: Fenomena Sandwich Generation</li>



<li>Bab 13: Hidup Tanpa Bekerja Lagi</li>



<li>Penutup: Apakah Saat Ini Saya Sudah Kaya?</li>
</ul>



<p>Secara singkat, dua bab pertama membantu kita memahami apa itu uang dan mengapa benda tersebut bisa menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan &#8220;dituhankan&#8221; oleh sebagian manusia. Sebagai <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">orang yang suka sejarah</a>, bab-bab awal ini sangat menarik.</p>



<p>Bab 3 hingga 9 membahas tentang kekayaan dan pengelolaan uang yang kita miliki. Kaya tidak selalu berarti punya harta yang melimpah dan tak akan habis. Masing-masing dari kita bisa memiliki definisi kayanya sendiri. </p>



<p>Bab 9 hingga 11 membahas mengenai topik investasi dan pertimbangan-pertimbangan apakah kita perlu membeli aset seperti rumah dan mobil. Seperti yang kita tahu, kondisi saat ini membuat banyak orang kesulitan untuk membeli aset-aset tersebut, sehingga investasi menjadi penting.</p>



<p>Dua bab terakhir merupakan tambahan <em>insight </em>menarik seputar dunia keuangan terutama pembahasan <em>sandwich generation</em>, sebuah fenomena yang kerap terjadi saat ini di mana seseorang harus menghidupi orang lain dan keluarganya sendiri. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Ngomongin Uang</h2>



<p>Begitu selesai menyelesaikan buku ini (dengan waktu yang relatif singkat), Penulis merasa termenung. Seharusnya, <strong>ilmu-ilmu keuangan yang ada di buku ini sudah dibahas di sekolah</strong>, agar ketika siswa beranjak dewasa, mereka telah memiliki bekal ilmu keuangan yang cukup.</p>



<p>Buku <em>Ngomongin Uang</em>, sejujurnya memang hanya<strong> mengajarkan hal-hal fundamental tentang keuangan</strong>. Namun, dasar-dasar tersebut tidak pernah diajarkan ke kita saat masih sekolah, bahkan ketika kuliah pun tidak ilmunya kecuali kita kuliah jurusan yang berhubungan dengan keuangan.</p>



<p>Apalagi, <strong>bahasa yang digunakan dalam buku ini benar-benar mudah dipahami</strong>. Itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa Penulis mampu menyelesaikan buku ini dengan cepat. Walau begitu, ilmu yang bisa kita dapatkan tidak main-main.</p>



<p>Buku ini tidak mengajak kita untuk mati-matian mengejar uang selama hidup di dunia ini. Sebaliknya, kita diajak untuk bisa bijaksana dalam menyikapi uang. <strong>Posisikan uang sebagai sebuah alat, bukan sebagai sebuah tujuan</strong>.</p>



<p>Topik-topik yang diangkat di buku ini juga <strong><em>related </em>dengan kehidupan sehari-hari kita</strong>, sehingga buku ini pun terasa dekat. Isu-isu seperti harga rumah yang makin mahal dan fenomena <em>sandwich generation </em>dibahas di sini dengan menarik.</p>



<p>Selain itu, ilustrasi-ilustrasi yang terdapat pada buku ini juga mempertahankan ciri khas yang dimiliki oleh akun Instagram Ngomongin Uang. Ilustrasi yang terdapat dalam buku ini tidak hanya menjadi pemanis, karena terkadang membantu kita memahami poin yang ingin disampaikan.</p>



<p>Penulis berharap kalau buku ini akan memiliki sekuel yang akan lebih detail dan membahas topik-topik keuangan yang lebih berat. Seandainya ada, Penulis tanpa ragu akan langsung membelinya untuk menambah ilmu keuangannya. Mungkin itu juga yang menjadi kekurangan buku ini: <strong>isinya kurang banyak</strong>.</p>



<p>Intinya, buku ini sangat Penulis rekomendasikan untuk siapa saja. Keuangan adalah topik yang jarang dibahas secara umum di ruang publik. Memahami ilmu-ilmu dasarnya bisa membantu kita untuk memiliki dan mengelola keuangan kita lebih baik lagi di masa depan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 28 September 2024, terinspirasi setelah membaca buku Ngomongin Uang karya Glenn Ardi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/">[REVIEW] Setelah Membaca Ngomongin Uang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Buku Seni Menyederhanakan Hidup</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-buku-seni-menyederhanakan-hidup/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-buku-seni-menyederhanakan-hidup/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Sep 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup tenang]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Zen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7857</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang mudah overthinking, wajar jika Penulis gemar membaca buku-buku yang bisa membantu dirinya mengatasi hal tersebut. Salah satu pola pikir adalah bagaimana dirinya bisa menyederhanakan pikirannya sendiri agar tidak menjadi terlalu rumit. Dengan alasan tersebut, ketika Penulis menemukan buku berjudul Seni Menyederhanakan Hidup karya Shunmyo Masuno, Penulis langsung tertarik membelinya. Padahal, waktu itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-buku-seni-menyederhanakan-hidup/">[REVIEW] Setelah Membaca Buku Seni Menyederhanakan Hidup</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebagai orang yang mudah <em>overthinking</em>, wajar jika Penulis gemar membaca buku-buku yang bisa membantu dirinya mengatasi hal tersebut. Salah satu pola pikir adalah bagaimana dirinya bisa menyederhanakan pikirannya sendiri agar tidak menjadi terlalu rumit.</p>



<p>Dengan alasan tersebut, ketika Penulis menemukan buku berjudul <em><strong>Seni Menyederhanakan Hidup</strong></em> karya <strong>Shunmyo Masuno</strong>, Penulis langsung tertarik membelinya. Padahal, waktu itu di toko buku tidak ada <em>sample</em> buku yang terbuka untuk mengetahui seperti apa isinya.</p>



<p>Walau begitu, Penulis pada akhirnya tetap memutuskan untuk membeli buku tersebut walau kesannya seperti membeli kucing dalam karung. Alasannya, buku ini cukup tipis dan murah sehingga rasanya <em>nothing to lose </em>saja. Sayang, ternyata Penulis salah.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sajak/sajak-perhatian/">Sajak Perhatian</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Seni Menyederhanakan Hidup</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Seni Menyederhanakan Hidup</em></li>



<li>Penulis: Shunmyo Masuno</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Cetakan Keempat</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2024</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020631950</li>



<li>Harga: Rp69.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsi Buku Seni Menyederhanakan Hidup</h2>



<p><em>DENGAN PELAJARAN YANG JELAS, PRAKTIS, DAN MUDAH DITERAPKAN, SHUNMYO MASUNO MEMANFAATKAN KEBIJAKAN YANG TELAH BERUSIA BERABAD-ABAD UNTUK MENGAJARI KITA MENYEDERHANAKAN HIDUP DAN MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DI TENGAH PUSARAN DUNIA MODERN. </em></p>



<p><em>Cari Tahu mengapa…. </em></p>



<p><em>Bangun lima belas menit lebih awal di pagi hari dapat membuat kita merasa tidak terlalu sibuk </em></p>



<p><em>Menjejerkan sepatu dengan rapi setelah melepasnya dapat menjadikan pikiran kita teratur </em></p>



<p><em>Mengatupkan kedua tangan dapat meredakan rasa tersakiti dan konflik </em></p>



<p><em>Meletakkan sendok garpu setelah menelan makanan dapat membantu kita merasa lebih bersyukur atas apa yang kita miliki </em></p>



<p><em>Menanam bunga dan menyaksikannya tumbuh dapat mengajari kita untuk menerima perubahan </em></p>



<p><em>Menyaksikan matahari terbenam bisa membuat setiap hari terasa seperti perayaan </em></p>



<p><em>Dengan melakukannya setiap hari, kita akan belajar menemukan kebahagiaan bukan dengan mencari pengalaman luar biasa, tetapi dengan membuat perubahan kecil dalam hidup serta membuka diri pada perasaan damai dan ketenangan batin yang baru</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Seni Menyederhanakan Hidup</h2>



<p>Setelah membuka buku ini, Penulis baru menyadari bahwa penulis buku ini, Shunmyo Masuno, adalah seorang pendeta Buddhis Zen, sehingga poin-poin kebiasaan yang disampaikan pun berkaitan dengan kepercayaan yang ia anut.</p>



<p>Secara total, buku ini memiliki 100 kebiasaan yang disarankan untuk kita terapkan dalam keseharian. 100 kebiasaan tersebut dibagi ke dalam empat bab utama, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Bagian Satu: 30 Cara untuk Membugarkan &#8220;Diri-Saat-Ini&#8221;</li>



<li>Bagian Dua: 30 Cara untuk Mengilhami Kepercayaan-Diri dan Keberanian untuk Hidup</li>



<li>Bagian Tiga: 20 Cara untuk Meredakan Kebingungan dan Kecemasan</li>



<li>Bagian Empat: 20 Cara untuk Menjadikan Setiap Hari adalah Hari yang Baik</li>
</ol>



<p>Di setiap poin kebiasaan, ada satu ilustrasi minimalis dan penjabaran poin yang sebenarnya sudah cukup jelas di bagian judul. Satu poin biasanya hanya berisi satu halaman paragraf, sehingga terlihat ada banyak bagian yang kosong.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Seni Menyederhanakan Hidup</h2>



<p>Ada sedikit kekecewaan ketika membaca buku ini. Pasalnya, tips-tips yang diberikan bisa dibilang tidak istimewa dan kerap kita temukan di media sosial. Apalagi, elaborasi setiap poinnya juga terasa kurang mendalam.</p>



<p>Penulis tidak mempermasalahkan ajaran Buddhis Zen yang ia gunakan, mengingat banyak ajaran-ajarannya yang sebenarnya juga diajarkan dalam Islam. Namun, isinya memang terlalu umum sehingga kurang membekas bagi Penulis</p>



<p>Tentu semua petuah-petuah yang dituangkan dalam buku ini bijaksana dan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang kerap bermasalah dengan diri dan pikirannya sendiri. Bahasanya pun ringan dan mudah dipahami.</p>



<p>Namun, rasanya buku ini terasa kurang padat dan akan mudah terlupakan begitu saja. Apalagi, ilustrasinya cukup memakan ruang pada halaman buku. Jika disuruh menyebutkan kembali isi poin buku tersebut, Penulis hanya akan mengingat poin-poin yang ada di bagian sinopsis saja.</p>



<p>Waktu membeli buku ini, ekspektasi Penulis adalah tips-tips mengenai aktivitas sederhana apa saja yang harus kita lakukan dalam keseharian. Pada bagian sinopsis, kita bisa melihat contohnya seperti bangun lebih awal dan menanam bunga.</p>



<p>Sayangnya, dalam buku ini mayoritas rekomendasi kebiasaan yang diberikan justru tentang pikiran atau hati kita. Bukan bermaksud mengecilkan, tapi yang seperti itu sudah sering Penulis baca di buku-buku self-improvement lainnya.</p>



<p>Mungkin ini bisa menjadi pelajaran untuk Penulis agar tidak membeli buku jika tidak mengetahui seperti apa isinya. Kalau seperti ini, memang jadinya seperti membeli kucing di dalam karung. Rasa kecewa pun muncul karena isinya tidak sesuai dengan ekspektasi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 5/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 14 September 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Seni Menyederhanakan Hidup</em> karya Shunmyo Masuno</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-buku-seni-menyederhanakan-hidup/">[REVIEW] Setelah Membaca Buku Seni Menyederhanakan Hidup</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-buku-seni-menyederhanakan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Buku Building a Second Brain</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-buku-building-a-second-brain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-buku-building-a-second-brain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Sep 2024 16:04:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[otak kedua]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Tiago Forte]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7797</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merasa dirinya cukup terobsesi dengan produktivitas karena merasa dirinya selama ini masih jauh dari kata tersebut. Salah satu alasan Penulis membuat rubrik Produktivitas di blog ini adalah untuk memotivasi dirinya sendiri. Tidak hanya itu, Penulis pun banyak membeli buku-buku seputar topik produktivitas. Salah satu yang baru saja Penulis selesaikan adalah Building a Second Brain [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-buku-building-a-second-brain/">[REVIEW] Setelah Membaca Buku Building a Second Brain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis merasa dirinya cukup terobsesi dengan produktivitas karena merasa dirinya selama ini masih jauh dari kata tersebut. Salah satu alasan Penulis membuat rubrik Produktivitas di blog ini adalah untuk memotivasi dirinya sendiri.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis pun banyak membeli buku-buku seputar topik produktivitas. Salah satu yang baru saja Penulis selesaikan adalah <em><strong>Building a Second Brain </strong></em>karya <strong>Tiago Forte</strong>. Buku ini langsung menarik perhatian Penulis begitu membaca sinopsisnya.</p>



<p>Apalagi, di atas sinopsisnya, ada testimoni dari seorang <em>content creator </em>terkenal, Kevin Anggara. Ia mengatakan kalau buku ini telah memberikan pelajaran untuknya yang bisa diaplikasikan dalam keseharian untuk hidup yang lebih produktif.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-300x193.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-300x193.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-768x494.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor-356x229.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/petrichor.jpg 770w " alt="Meresapi Patrikor" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/meresapi-patrikor/">Meresapi Patrikor</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Building a Second Brain</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Building a Second Brain</em></li>



<li>Penulis: Tiago Forte</li>



<li>Penerbit: Renebook</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2024</li>



<li>Tebal: 302 halaman</li>



<li>ISBN: 9786236083772</li>



<li>Harga: Rp115.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Building a Second Brain</h2>



<p><em>Sudah saatnya kita memaksimalkan kemampuan otak kedua. Setiap hari, kita menyerap berbagai informasi melalui media sosial, siniar, media massa, dan kanal video digital. Namun, jarang sekali kita mampu mengingat seluruh informasi itu. </em></p>



<p><em>Pada akhirnya, banyak hal yang telah kita dapatkan hilang begitu saja. Bahkan, sering kali kita kesulitan untuk menemukan kembali informasi tersebut saat dibutuhkan.</em></p>



<p><em>Oleh karena itu, melalui buku Building a Second Brain, Tiago Forte mengajak kita untuk membangun otak kedua. Sebuah kemampuan memanfaatkan perangkat digital yang terbukti ampuh untuk menyortir, mengelola, dan menyimpan semua ide kita. </em></p>



<p><em>Akhirnya, kita tidak akan lagi kesulitan dalam mengingat hal-hal yang diperlukan. Bersiaplah menjadi pribadi yang produktif dan kreatif ketika otak kedua telah aktif.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Building a Second Brain</h2>



<p>Buku ini menekankan mengenai betapa butuhnya kita sebuah &#8220;otak kedua&#8221; karena otak yang berada di dalam kepala kita tidak akan mampu menampung semua informasi dan data yang masuk. Sering kan merasa lupa akan suatu informasi ketika dibutuhkan?</p>



<p>Tiago Forte hadir untuk memberikan solusi atas permasalahan tersebut melalui buku ini. Pertama, kita tentu membutuhkan sebuah platform digital yang akan dipilih untuk menjadi otak kedua kita. </p>



<p>Platform tersebut tentu harus mudah diakses dan bisa digunakan kapan saja dan di mana saja, jadi harus tersedia di gawai yang kita gunakan sehari-hari. Ada banyak sekali aplikasi catatan yang bisa digunakan, tapi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Penulis pribadi memilih untuk menggunakan Notion</a>.</p>



<p>Dalam buku ini, ada banyak tips-tips yang bisa diaplikasikan ke dalam sehari-hari, tapi poin utama dari buku ini adalah sebuah metode bernama <strong>CODE</strong>, yakni <strong>Capture </strong>(Menangkap Ide), <strong>Organize </strong>(Mengorganisir), <strong>Distrill </strong>(Menemukan Inti Sari), <strong>Express </strong>(Mengekspresikan)</p>



<p>Dengan adanya metode ini, ide-ide yang muncul di benak kita pun akan tersimpan dengan lebih rapi. Peluang untuk terlupakan pun menjadi lebih kecil. Namun perlu diingat, ide yang disimpan pun akan menjadi percuma jika tidak ada realisasinya.</p>



<p>Tidak hanya CODE, Forte juga memberikan tips menyimpan informasi dengan sistem <strong>PARA</strong>, yakni <strong>Projects</strong>, <strong>Areas</strong>, <strong>Resources</strong>, <strong>Archives</strong>. Intinya, semua data dan informasi yang kita miliki dibagi menjadi ke dalam empat folder tersebut.</p>



<p>Projects berisi apapun seputar proyek yang sedang kita kerjakan dalam waktu dekat. Areas berisi apapun seputar proyak yang sifatnya jangka panjang. Resources berisi apapun yang menarik bagi kita dan tidak memiliki tenggat waktu. Archives berisi apapun yang tidak masuk ke dalam kategori di atas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Building a Second Brain</h2>



<p><em>Building a Second Brain</em> ditulis dengan tujuan membantu pembacanya untuk menciptakan sebuah otak kedua agar semua ide, informasi, data, dan sebagainya bisa terkumpul dalam satu platform yang mudah diakses. Tujuan tersebut menurut Penulis berhasil dicapai.</p>



<p>Meskipun belum menerapkan semua isi buku ini, Penulis sudah mulai &#8220;mencicil&#8221; untuk membuat otak kedua melalui Notion. Meskipun baru sebatas untuk kebutuhan blog, ke depannya Penulis akan mengembangkan otak keduanya tersebut untuk hal lain.</p>



<p>Dalam menjabarkan poin-poinnya, Forte memberikan contoh berdasarkan apa yang telah ia lakukan. Jadi, contoh-contoh yang ada benar-benar konkrit dan jelas karena sudah dilakukan oleh si penulis buku ini.</p>



<p>Sayangnya, bagi Penulis buku ini cukup teknis dan ribet. Forte seolah ingin mengatakan bahwa proses membuat otak kedua tidak mudah dan memiliki banyak tahapan, sehingga <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">orang-orang malas seperti Penulis</a> pun tak akan mengikuti semua tipsnya.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga merasa setiap bab yang membahas CODE terlampau panjang, sehingga esensi poinnya jadi kurang bisa tertangkap. Jika disuruh menjelaskan dengan detail apa itu CODE, jujur Penulis tidak sanggup.</p>



<p>Namun, secara garis besar, buku ini berhasil memberikan <em>insight </em>mengenai betapa butuhnya kita akan otak kedua di era yang keberlimpahan informasi seperti sekarang ini. Meskipun beberapa isinya terlalu teknis, tetap ada banyak hal-hal yang bisa kita terapkan dalam keseharian. </p>



<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk Pembaca yang merasa selama ini sering melupakan banyak hal karena otak utamanya tidak sanggup menyimpan semuanya. Membangun otak kedua secara efektif menjadi salah satu solusi terbaiknya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 September 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Building a Second Brain </em>karya Tiago Forte</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-buku-building-a-second-brain/">[REVIEW] Setelah Membaca Buku Building a Second Brain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-buku-building-a-second-brain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Orang Makan Orang</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-orang-makan-orang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-orang-makan-orang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jul 2024 15:28:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[esai]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>
		<category><![CDATA[sosbud]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7625</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika disuruh menyebutkan salah satu penulis favoritnya, maka Penulis akan menyebutkan nama Seno Gumira Ajidarma. Tidak hanya karya sastranya yang ada banyak, Penulis juga membaca beberapa kumpulan tulisan esainya. Beberapa buku non-fiksi dari Seno yang sudah Penulis baca adalah Jokowi, Sengkuni, Machiaveli, Obrolan Sukab, Tiada Ojek di Paris, dan Affair (yang sebenarnya belum selesai dibaca). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-orang-makan-orang/">[REVIEW] Setelah Membaca Orang Makan Orang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika disuruh menyebutkan salah satu penulis favoritnya, maka Penulis akan menyebutkan nama<strong> Seno Gumira Ajidarma</strong>. Tidak hanya karya sastranya yang ada banyak, Penulis juga membaca beberapa kumpulan tulisan esainya.</p>



<p>Beberapa buku non-fiksi dari Seno yang sudah Penulis baca adalah <em>Jokowi, Sengkuni, Machiaveli</em>, <em><a href="https://whathefan.com/buku/dialog-masyarakat-pada-obrolan-sukab/">Obrolan Sukab</a></em>, <em>Tiada Ojek di Paris</em>, dan <em>Affair </em>(yang sebenarnya belum selesai dibaca). Nah, buku terbaru dari Seno yang baru Penulis tamatkan adalah<strong> <em>Orang Makan Orang</em></strong>.</p>



<p>Sebagaimana yang tertulis di bagian Catatan Penulis, buku ini bersifat &#8220;sekuel&#8221; dari buku <em>Jokowi, Sengkuni, Machiavelii</em>. Oleh karena itu, buku ini menjadi kumpulan tulisannya dari berbagai media yang tayang dari tahun 2017 hingga 2023.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton WandaVision Episode 6 (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-6-bagian-2/">Setelah Menonton WandaVision Episode 6 (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Orang Makan Orang</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Orang Makan Orang</em></li>



<li>Penulis: Seno Gumira Ajidarma</li>



<li>Penerbit: Penerbit Mizan</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2024</li>



<li>Tebal: 277 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024413347</li>



<li>Harga: Rp89.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Orang Makan Orang</h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Tiada apa pun yang dengan sendirinya benar—perjuangan makna, dengan segala kibulnyalah, yang meng-ada-kannya.”</em></p>
</blockquote>



<p><em>Karena selalu dimaknai secara sempit sebagai pertarungan antarpartai politik demi memperebutkan kekuasaan, politik sering kali dianggap sebagai dunia kibul-kibul. Bahkan, dianggap sebagai tempat yang buruk untuk hidup.</em></p>



<p><em>Padahal, perebutan untuk menang dan berkuasa, dalam segala arti dan dengan segala cara, juga berlangsung di luar dunia politik. Dari sidang pengadilan sampai bencana pandemi, dari sinema sampai agama, dari wayang sampai sejarah, dari ekonomi sampai susastra, dari dunia militer sampai kriminal, dari humor sampai sepak bola, dari panggung politik itu sendiri sampai di dalam rumah tangga.</em></p>



<p><em>Dalam buku </em>Orang Makan Orang<em> ini, Seno Gumira Ajidarma mencoba menunjukkan siasat, konsep, dan ideologi dari berbagai manuver dalam kehidupan politik sehari-hari—sekadar agar manipulasi itu terbongkar. Manipulasi demi tujuan politik mana pun perlu diketahui, sebab manipulasi itu tentu tersembunyi—sehingga tiada kesetaraan antara yang tahu dan tidak tahu.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Orang Makan Orang</h2>



<p>Sebagai kumpulan esai, buku ini terdiri dari 57 tulisan yang tayang dalam rentang tahun 2017 hingga 2023. Sesuai dengan subjudulnya (Kibul-Kibul Budaya Politik), mayoritas isinya membahas tentang isu politik yang sedang hangat ketika esai tersebut dibuat.</p>



<p>Salah satu yang paling Penulis ingat (dan menjadi bahan tulisan <a href="https://whathefan.com/politik-negara/bagaimana-jokowi-mengalahkan-lawan-lawannya-tanpa-berperang/"><em>Bagaimana Jokowi Mengalahkan Lawan-Lawannya Tanpa Berperang</em></a>) adalah &#8220;<strong>Arogansi (Politik) Jawa</strong>&#8221; di halaman  yang dimuat pada Koran Tempo tahun 2019.</p>



<p>Dalam tulisan tersebu, Seno menyorot bagaimana Jokowi sebagai orang Jawa berusaha menerapkan filsafat Jawa yang ingin merangkul lawan-lawannya demi menjaga kekuasaannya. Hal tersebut bisa kita lihat pada peta politik Indonesia saat ini.</p>



<p>Namun, bisa dibilang kalau buku ini tak sepenuhnya membahas politik. Bahkan, bisa dibilang kalau 2/5 isinya justru menyorot sosial budaya dan tak memiliki keterkaitan dengan dunia politik. </p>



<p>Contohnya adalah beberapa kali Seno membahas mengenai karya-karya sastra klasik, yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Di bagian akhir, Seno bahkan membahas banyak tentang sebuah karya berjudul <em>Domba-Domba Revolusi</em>.</p>



<p>Salah satu topik sosial budaya yang menarik perhatian Penulis adalah &#8220;<strong>Wayang, Agama, dan Paimo</strong>.&#8221; Pada tulisan yang di <em>KumparanPlus</em> tahun 2022 tersebut, Seno menjelaskan kalau goresan yang terdapat pada wayang merupakan  yang kaligrafi Islam. </p>



<p>Hal ini masuk akal, mengingat wayang merupakan salah satu media yang digunakan para wali untuk menyebarkan agama Islam. Namun, Penulis tak menyangka kalau para wali sampai sedetail itu. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Orang Makan Orang</h2>



<p>Jika boleh jujur, sebenarnya tak semua penulisannya Seno bisa Penulis pahami. Terkadang, struktur bahasa atau kalimatnya sulit untuk dimengerti seolah menggunakan bahasa sastra. Anehnya, Penulis tetap menyukai tulisan-tulisannya.</p>



<p>Begitu juga dengan buku <em>Orang Makan Orang </em>yang satu ini. Tidak semua tulisan esainya Penulis paham, terutama yang membahas tentang karya sastra klasik. Sudah tidak mengerti buku apa yang dibahas, poin yang ingin disampaikan pun sulit Penulis cerna.</p>



<p>Namun, Penulis tidak menyalahkan Seno sebagai penulis buku ini. Penulis saja yang kemampuan memahaminya tidak cukup tinggi untuk mencapai levelnya Seno. Apalagi, pengetahuan Penulis tentang sastra klasik juga sangat cetek.</p>



<p>Dari 57 topik yang dibahas di buku ini, mungkin yang bisa Penulis pahami hanya setengahnya. Namun, tetap saja Penulis bisa menikmati buku ini yang dibuktikan dengan tamatnya buku ini dan rilisnya artikel ini.</p>



<p>Salah satu hal yang membuat tulisan Seno menarik adalah banyaknya fakta menarik yang ia sajikan dalam tulisannya. Jadi, meskipun tidak benar-benar memahami keseluruhan tulisannya, setidaknya ada <em>insight </em>menarik yang berhasil Penulis dapatkan.</p>



<p>Fakta yang disajikan bukan fakta sembarangan yang bisa ditemukan di Google. Kalau masalah riset, Seno memang tak perlu diragukan lagi. Penulis pernah membahas mengenai hal ini pada artikel ulasan novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/perpaduan-tragedi-dan-romansa-pada-jazz-parfum-dan-insiden/">Jazz, Parfum, dan Insiden</a></em> yang ditulis oleh Seno.</p>



<p>Namun, sebenarnya Penulis berharap isinya berisi tulisan politik semua, tanpa ada campuran tulisan sosial budaya. Apalagi, di subjudulnya tertulis &#8220;Kibul-Kibul Budaya Politik&#8221; yang membuat Penulis berpikir kalau buku ini benar-benar akan total membahs politik.</p>



<p>Terlepas dari hal tersebut, buku ini Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang gemar membaca tulisan-tulisan esai yang tayang di surat kabar. Buku ini akan terasa berat bagi Pembaca yang tidak terbiasa membaca buku.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 Juli 2024, terinspirasi setelah membaca <em>Orang Makan Orang </em>karya Seno Gumira Ajidarma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-orang-makan-orang/">[REVIEW] Setelah Membaca Orang Makan Orang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-orang-makan-orang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
