Tentang Rasa
Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi
Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna.
Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. Perasaan ditinggalkan pun menyeruak dari dalam diri dengan begitu menyakitkan.
People come and go. Tak perlu heran ataupun sedih berlebihan jika itu sampai terjadi. Kita cuma perlu menyadari satu hal, kalau satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan dalam situasi ini adalah respon kita.
Apa yang Menyebabkan Dia Berhenti Peduli?
Secara naluriah, respon pertama kita ketika melihat ada yang berubah dari orang lain adalah menanyakan apa penyebabnya. Termasuk jika dia berhenti peduli, apa yang menyebabkan ketidakpeduliannya tersebut?
Jawabannya mungkin akan bermacam-macam. Ada yang karena jengah melihat kesalahan kita, ada yang karena punya teman atau pasangan baru, ada yang punya prioritas lain, ada yang karena tiba-tiba berubah saja tanpa alasan yang pasti, dan lain sebagainya.
Jika beruntung, kita akan mendapatkan penjelasan. Kita bisa memilih untuk menerima atau berusaha untuk meng-counter penjelasan tersebut. Biasanya, orang yang masih ingin dipedulikan oleh orang tersebut akan melakukan cara yang kedua.
Hanya saja, perlu diingat kalau orang lain memang tidak memiliki kewajiban untuk peduli dan perhatian ke kita. Kalau mereka melakukannya, itu hak mereka, tapi tidak akan pernah menjadi kewajiban.
Terkadang karena tidak menyadari hal inilah kita menjadi kecewa terhadap ekspektasi kita sendiri akan kepedulian dan perhatian orang lain. Artinya, ada yang harus kita ubah dari diri kita sendiri.
Mengelola Respon Terhadap Dia yang Berhenti Peduli
Berkali-kali Penulis mengingatkan dirinya sendiri kalau manusia tidak akan bisa mengendalikan apa yang ada di luar kita. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri sendiri, atau respon kita terhadap sebuah kejadian apapun bentuknya.
Jika ada orang yang dulu begitu peduli dan perhatian kepada kita, lantas berhenti melakukannya, fokus pada respon yang akan kita berikan terhadap perubahan tersebut. Tak perlu capek-capek berusaha mengubahnya untuk kembali peduli kepada kita.
Bertanya mengapa ia berubah masih dalam koridor yang bisa kita kendalikan, tapi jawaban yang akan ia berikan tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah respon terhadap jawaban tersebut.
Seandainya sikapnya sudah sangat batu dan tak bisa diubah, ya sudah, kita dituntut untuk menerima kondisi tersebut tanpa syarat. Kita harus bisa menerima keputusannya tersebut dengan ikhlas dan legawa.
Terkait apakah kita harus ikut berhenti peduli kepadanya, Penulis serahkan ke Pembaca. Menurut Penulis, tidak ada yang salah. Mau tetap peduli walau makan hati terus silakan, mau ikut berhenti peduli juga silakan. Bebas.
Penutup
Berhenti dipedulikan dan diperhatikan oleh keluarga, teman, kekasih, memang terasa pedih dan menyakitkan. Bagi orang yang memiliki inferior complex, pasti akan cenderung menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.
Hanya saja, menyalahkan diri sendiri juga tidak akan membuat dia kembali peduli ke kita. Tidak ada gunanya. Lebih baik, curahkan energi kita untuk memberi respon terhadap kondisi tersebut sebaik dan sepositif mungkin.
Pilih respon yang sekiranya membuat diri kita bisa merasa lebih baik lagi. Kalau nyamannya berhenti berhubungan secara total, silakan saja, walau dalam keyakinan Penulis sebenarnya tidak diperbolehkan memutus tali silaturahmi dengan siapapun.
Jika alasan berhentinya kepeduliannya karena hubungan yang memburuk, coba cari cara bersama-sama untuk memperbaiki kesalahan masing-masing. Tak perlu berharap dia akan kembali peduli, cukupkan untuk kembali memiliki hubungan yang baik.
Yang paling penting, kita perlu ingat kalau respon yang kita berikan adalah satu-satunya hal yang bisa kendalikan atas dia yang berhenti peduli. Kita tidak akan pernah bisa memaksa orang lain untuk peduli ke kita. Tidak akan pernah.
Lawang, 7 Februari 2021, terinspirasi dari…
Foto: Vladislav Muslakov
You must be logged in to post a comment Login