<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Album Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/album/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/album/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Nov 2024 08:37:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Album Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/album/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tier List Lagu-Lagu di Album &#8220;From Zero&#8221; Versi Saya</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-album-from-zero-versi-saya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-album-from-zero-versi-saya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Nov 2024 08:36:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[From Zero]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<category><![CDATA[tier list]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8066</guid>

					<description><![CDATA[<p>Awalnya, Penulis ingin menggabungkan tier list lagu-lagu di album From Zero di artikel &#8220;Mari Kita Bicarakan Album Baru Linkin Park, From Zero&#8221;. Akan tetapi, ternyata banyak yang ingin Penulis dari album tersebut, sehingga rasanya akan menjadi terlalu panjang jika disatukan. Dalam tulisan ini, Penulis akan mengulas setiap lagu yang ada di From Zero yang total [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-album-from-zero-versi-saya/">Tier List Lagu-Lagu di Album &#8220;From Zero&#8221; Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Awalnya, Penulis ingin menggabungkan <em>tier list </em>lagu-lagu di album <em>From Zero </em>di artikel &#8220;Mari Kita Bicarakan Album Baru Linkin Park, From Zero&#8221;. Akan tetapi, ternyata banyak yang ingin Penulis dari album tersebut, sehingga rasanya akan menjadi terlalu panjang jika disatukan.</p>



<p>Dalam tulisan ini, Penulis akan mengulas setiap lagu yang ada di <em>From Zero</em> yang total memiliki 11 lagu. Karena sempat mengatakan bahwa lagu-lagu di album ini bisa masuk ke album lama Linkin Park, Penulis juga akan memberi opininya lagu ini layak masuk ke album mana.</p>



<p>Setelah mengulas semua lagunya, Penulis akan membuat <em>tier list </em>dari album ini lalu membandingkannya dengan album lain yang pernah Penulis bahas di artikel &#8220;Tier List Lagu Linkin Park Versi Saya&#8221;.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca The Art of the Good Life" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Mari Kita Bahas Setiap Lagu di Album From Zero</h2>



<p><strong>1. From Zero (Intro) </strong>&#8211; Ini menjadi pembuka album yang berdurasi singkat, seperti lagu &#8220;Foreword&#8221; di album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/">Meteora</a></em> dan &#8220;Wake&#8221; di album<em> Minutes to Midnight</em>. Detail kecil ini sangat menarik bagi Penulis karena mengembalikan lagi &#8220;tradisi&#8221;lama yang hilang.</p>



<p>Ada semacam <em>choir </em>yang disambung dialog yang sepertinya terjadi antara Mike dan Emily. Inti dari percakapan tersebut adalah Emily yang menanyakan makna dari judul album ini, yang diakhiri dengan “<em>oh, wait, your fir—</em>”</p>



<p>Pemotongan ini menjadi semacam <em>easter egg </em>yang menarik, karena dipotong begitu saja dan langsung berlanjut ke lagu selanjutnya. Jika bisa menebak, kemungkinan Emily akan berkata&#8221;<em>oh, wait, your first band name is Xero, right?</em>&#8220;</p>



<p>Oleh karena itu, menurut Penulis intro ini sangat cocok untuk masuk ke album <em>Meteora</em>.</p>



<p><strong>2. The Emptiness Machine</strong> &#8211; Ini adalah single pertama yang dirilis Linkin Park untuk memperkenalkan Emily. Ketika pertama kali mendengarkan, Penulis langsung merasa kalau lagu ini &#8220;Linkin Park banget&#8221; sebelum era album <em>One More Light</em>.</p>



<p>Penulis sudah pernah membahas lagu ini cukup panjang pada artikel <a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/">&#8220;Menatap Era Baru Linkin Park Bersama Emily Armstrong&#8221;</a>, sehingga Penulis tidak akan banyak membahas lagu ini di sini.</p>



<p>Sebelumnya, Penulis pernah mengatakan kalau lagu ini cocok untuk masuk ke album <em>The Hunting Party</em>. Namun, setelah didengarkan berkali-kali, rasanya &#8220;The Emptiness Machine&#8221; lebih cocok untuk masuk ke album <em>Living Things.</em></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="The Emptiness Machine (Official Music Video) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/SRXH9AbT280?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><strong>3. Cut the Bridge</strong> &#8211; Begitu mendengar lagu ini, entah mengapa bagian intronya membuat Penulis teringat akan lagu &#8220;Arjuna&#8221; dari <a href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Dewa 19</a>. Namun, sebenarnya ada beberapa <em>beat </em>di bagian intro yang membuat lagu ini terdengar seperti &#8220;Bleed It Out&#8221;.</p>



<p>Walaupun begitu, lagu ini bisa dibilang menjadi salah satu yang kurang cocok dengan selera Penulis dan gagal masuk ke dalam &#8220;Liked Music&#8221; di YouTube Music. Jika disuruh memilih, lagu &#8220;Cut the Bridge&#8221; sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam album <em>Minutes to Midnight</em>.</p>



<p><strong>4. Heavy is the Crown</strong> &#8211; Setelah mendengarkan keseluruhan album, Penulis tetap menganggap kalau lagu &#8220;Heavy is the Crown&#8221; adalah lagu terbaik dari album <em>From Zero</em>. Apalagi setelah menonton penampilan lagu ini di pembukaan Worlds 2024, <em>beuh</em>, mantap betul.</p>



<p>Lagu ini punya paket komplit dan memiliki nuansa seperti lagu &#8220;Faint&#8221;, mulai dari <em>rap </em>Mike seperti era awal-awal Linkin Park, bagian <em>reff </em>yang <em>catchy</em>, musik <em>rock</em> yang kental, scream belasan detik dari Emily yang membuat Penulis teringat lagu <em>Given Up</em> dari <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/">Minutes to Midnight</a></em>.</p>



<p>Penulis merasa kalau lagu ini agak sulit untuk dimasukkan ke dalam album Linkin Park mana pun karena walaupun memiliki formula klasik Linkin Park, lagu ini punya warnanya sendiri. Jika harus memilih, <em>Meteora</em> adalah album yang paling cocok untuk album ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Linkin Park - Heavy Is The Crown | Worlds 2024 Finals Opening Ceremony Presented by Mastercard" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/R8OqqaBwcl8?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><strong>5. Over Each Other</strong> &#8211; Ini adalah lagu pertama dan satu-satunya yang hanya menampilkan vokal Emily. Selain itu, lagu ini juga terasa paling pop dibandingkan dengan lagu lainnya yang ada di album ini.</p>



<p>Awal mendengarkan, Penulis merasa agak aneh dengan lagu ini. Mungkin karena memang belum terbiasa saja dengan vokal Emily. Namun, lama kelamaan Penulis bisa menikmati lagu ini walaupun tak sampai memasukkannya ke dalam &#8220;Liked Music&#8221; untuk saat ini.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merasa kalau lagu ini sangat cocok dengan tema dari album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">One More Light</a> </em>yang menjadi album paling pop dari Linkin Park.</p>



<p><strong>6. Casualty</strong> &#8211; Begitu mendengarkan lagu ini, Penulis langsung merasa kalau album ini harus masuk ke dalam album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">The Hunting Party</a></em> karena terdengar sangat rusuh. Penulis langsung teringat lagu &#8220;Keys to the Kingdom&#8221; ditambah &#8220;QWERTY&#8221;.</p>



<p>Satu hal yang menarik dari lagu ini adalah vokal Mike, yang biasanya terdengar kalem dan menenangkan, berubah menjadi garang dan keras seolah Mike sedang marah-marah. Namun, hal itu cocok dengan lagunya yang terdengar seperti lagu <em>punk rock old school</em>.</p>



<p>&#8220;Casualty&#8221; menjadi satu lagu yang nempel di telinga Penulis karena &#8220;rusuhnya&#8221; dan membuat ingin Penulis terus melakukan <em>headbang</em>. Lagu-lagu rusuh seperti inilah yang sering Penulis rindukan dari Linkin Park, dan hal tersebut akhirnya bisa Penulis dapatkan sekarang.</p>



<p><strong>7. Overflow</strong> &#8211; Selain &#8220;Cut the Bridge&#8221;, lagu &#8220;Overflow&#8221; adalah salah satu lagu lainnya yang kurang nyantol di telinga Penulis. Dibandingkan lagu-lagu lain, lagu ini terasa paling eksperimental dan punya kesan <em>hip-hop</em> yang cukup kental.</p>



<p>Di bagian awal lagu, ada bagian yang membuat Penulis teringat lagu &#8220;PPR:KUT&#8221; alias &#8220;Papercut&#8221; versi album Reanimation. Dengan berbagai ulasan tersebut, Penulis menganggap kalau lagu ini cocok untuk dimasukkan ke dalam album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">A Thousand Suns</a></em>.</p>



<p><strong>8. Two Faced</strong> &#8211; Lagu ini merupakan <em>single</em> keempat yang dirilis Linkin Park jelang rilis album penuhnya. Saat mendengarkan pertama kali, lagu ini terdengar seperti lagu-lagu <em>pre-demo </em>Linkin Park sebelum debut.</p>



<p>Selain itu, <em>scream </em>yang dilakukan oleh Emily juga terkesan ngawur dan agak urak-urakan. Namun, setelah didengarkan berkali-kali, Penulis akhirnya bisa menikmati lagu ini. Apalagi, banyak yang berpendapat kalau lagu ini merupakan &#8220;One Step Closer 2.0&#8221;.</p>



<p>Apa yang Penulis suka dari lagu ini adalah adanya <em>guitar riff </em>yang berat, seperti yang bisa kita dengarkan dari lagu-lagu seperti &#8220;QWERTY&#8221; dan &#8220;Don&#8217;t Stay&#8221;. Elemen ini adalah salah satu hal yang Penulis sukai dari Linkin Park, dan rasanya sudah lama absen.</p>



<p>Tak hanya itu, salah satu elemen lain yang membuat Penulis menyukai lagu ini adalah kembalinya teknis <em>scratch </em>alias <em>ceket-ceket </em>solo dari Mr. Hahn. Terakhir kali Penulis mendengarkan ini adalah di album <em>A Thousand Suns </em>melalui lagu &#8220;Wretches and Kings&#8221;. </p>



<p>Oleh karena itu, lagu ini bisa disebut terdengar seperti lagu-lagu klasik Linkin Park, genre yang membuat Linkin Park menjadi begitu populer. Lagu &#8220;Two Faced&#8221; sangat cocok untuk masuk ke dalam album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Hybrid Theory</a></em>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Two Faced (Official Music Video) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kivUsDGWojU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><strong>9. Stained </strong>&#8211; Biasanya, Penulis kurang menyukai lagu Linkin Park yang terlalu <em>slow</em>. Namun, &#8220;Stained&#8221; bisa menjadi pengecualian karena Penulis menyukainya. Penulis merasa kalau lagu ini cocok untuk masuk ke dalam album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Living Things</a></em> atau <em>One More Light</em>.</p>



<p>Selain itu, Penulis entah mengapa merasa kalau lagu ini terasa seperti lagu-lagu dari Avril Lavigne, terutama dari album <em>Avril Lavigne</em> yang rilis tahun 2013 silam. Karena itu juga lagu ini terdengar seperti lagu lama, bukan lagu yang dirilis di tahun 2024. </p>



<p><strong>10. IGYEIH</strong> &#8211; Sejak daftar lagu <em>From Zero </em>muncul di internet, Penulis sudah penasaran dengan lagu <em>IGYEIH</em>. Penulis sampai harus mencari apa arti dari judul tersebut di Reddit. Ternyata, setelah rilis, judul tersebut merupakan akronim dari <em>I Give You Everything I Have</em>. </p>



<p>Lagu ini juga langsung terdengar asyik ketika pertama kali mendengarkannya. Terkesan rusuh seperti &#8220;Casualty&#8221; dengan lirik yang <em>related </em>dengan Penulis. Ini juga menjadi lagu keras terakhir di album ini setelah &#8220;Heavy is the Crown&#8221;, &#8220;Casualty&#8221;, dan &#8220;Two Faced&#8221;.</p>



<p>Karena kerusuhannya tersebut, Penulis merasa kalau album ini cocok untuk menemani lagu &#8220;Casualty&#8221; di album <em>The Hunting Party</em>.</p>



<p><strong>11. Good Things Go</strong> &#8211; Sebagai lagu penutup album, &#8220;Good Things Go&#8221; terasa pas sebagai penutup. Apalagi, lagu ini juga nyambung dengan lagu pertama di album ini, sehingga efek <em>looping</em>-nya terasa.</p>



<p>Banyak yang menanggap kalau lagu ini menjadi lagu &#8220;terindah&#8221; dari album ini, baik dari komposisi musiknya maupun liriknya.  Penulis merasa kalau lagu ini akan sangat cocok untuk masuk ke album <em>One More Light</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tier List Album From Zero</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8076" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Berdasarkan ulasan di atas dan pengalaman mendengar Penulis selama ini, inilah<em> tier list </em>kesebelas lagu yang ada di album <em>From Zero </em>versi Penulis:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>S: &#8211;</li>



<li>A: The Emptiness Machine, Heavy is the Crown</li>



<li>B: Casualty, Two-Faced, Stained, IGYHEIH, Good Things Go</li>



<li>C: Cut the Bridge, Over Each Other, Overflow</li>



<li>D: From Zero (Intro)</li>



<li>E: &#8211;</li>
</ul>



<p>Dari <em>tier list </em>tersebut, mari kita hitung berapa skor dari album <em>From Zero</em> dengan hitungan yang sama dengan sebelumnya (Tier S = 5, Tier A = 4, &#8230;, Tier E=0). Dengan susunan di atas, maka kita akan mendapatkan skor <strong>30</strong> dengan rata-rata <strong>2,73</strong>.</p>



<p>Inilah posisi<em> From Zero j</em>ika dibandingkan dengan album Linkin Park lainnya:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Meteora&nbsp;</strong>– Bobot Akhir: 42 (Rata-Rata: 3,23)</li>



<li><strong>From Zero</strong> &#8211; Bobot Akhir: 30 (Rata-Rata: 2,73)</li>



<li><strong>Hybrid Theory</strong>&nbsp;– Bobot Akhir: 30 (Rata-Rata: 2,5)</li>



<li><strong>Living Things&nbsp;</strong>– Bobot Akhir: 29 (Rata-Rata:2,42)</li>



<li><strong>One More Light</strong>&nbsp;– Bobot Akhir: 22 (Rata-Rata: 2,2)</li>



<li><strong>Minutes to Midnight</strong>&nbsp;– Bobot Akhir: 26 (Rata-Rata: 2,17)</li>



<li><strong>The Hunting Party</strong>&nbsp;– Bobot Akhir: 23 (Rata-Rata: 1,92)</li>



<li><strong>A Thousand Suns</strong>&nbsp;– Bobot Akhir: 27 (Rata-Rata: 1,8)</li>
</ol>



<p>Ya, Penulis sendiri terkejut album ini bisa berada di ata <em>Hybrid Theory </em>dan hanya kalah dari Meteora yang memang menjadi album favorit Penulis sepanjang masa. Namun, memang Penulis bisa menikmati semua lagu yang ada di album ini, sehingga rasanya wajar bisa mendapatkan skor setinggi itu.</p>



<p>Untuk beberapa waktu ke depan, Penulis akan terus mengulang album <em>From Zero</em>, terutama ketika sedang lari pagi dan bekerja. K-Pop, untuk sementara waktu rasanya harus minggir dulu meskipun <a href="https://whathefan.com/musik/i-am-ive/">IVE</a> baru merilis <em>single</em> baru yang sangat <em>catchy</em> hasil kolaborasi dengan David Guetta.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 16 November 2024, terinspirasi setelah mendengarkan semua lagu di album <em>From Zero </em>berkali-kali</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://music.apple.com/id/album/from-zero/1766137049?l=id">Apple Music</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-album-from-zero-versi-saya/">Tier List Lagu-Lagu di Album &#8220;From Zero&#8221; Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-album-from-zero-versi-saya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mari Kita Bicarakan Album Baru Linkin Park, From Zero</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-album-baru-linkin-park-from-zero/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-album-baru-linkin-park-from-zero/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Nov 2024 16:09:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[From Zero]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8061</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi fans Linkin Park. Bagaimana tidak, setelah tujuh tahun, akhirnya Linkin Park merilis album baru berjudul From Zero. Ini adalah album perdana bersama anggota baru, yakni Emily Armstrong dan Colin Brittain. Sebelum merilis album ini, Linkin Park sudah merilis empat single dalam waktu yang cukup berdekatan, yakni &#8220;The Emptiness [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-album-baru-linkin-park-from-zero/">Mari Kita Bicarakan Album Baru Linkin Park, From Zero</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi <em>fans </em>Linkin Park. Bagaimana tidak, setelah tujuh tahun, akhirnya Linkin Park merilis album baru berjudul <em><strong>From Zero</strong></em>. Ini adalah <a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/">album perdana bersama anggota baru</a>, yakni Emily Armstrong dan Colin Brittain.</p>



<p>Sebelum merilis album ini, Linkin Park sudah merilis empat <em>single </em>dalam waktu yang cukup berdekatan, yakni &#8220;The Emptiness Machine&#8221;, &#8220;Heavy is the Crown&#8221;, &#8220;Over Each Other&#8221;, dan &#8220;Two Faced&#8221;.</p>



<p>Secara keseluruhan, Penulis bisa menikmati keempat <em>single </em>tersebut, terutama dua judul pertama. Oleh karena itu, Penulis tak sabar untuk mendengarkan tujuh lagu lainnya yang ada di dalam lagu <em>From Zero</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terbesar-untuk-produktivitas-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terbesar-untuk-produktivitas-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terbesar-untuk-produktivitas-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terbesar-untuk-produktivitas-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terbesar-untuk-produktivitas-banner.jpg 1280w " alt="Smartphone adalah Distraksi Terberat untuk Produktivitas" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">Smartphone adalah Distraksi Terberat untuk Produktivitas</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">First Impression Saya Mendengarkan From Zero</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8070" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Cover Album From Zero (<a href="https://music.apple.com/id/album/from-zero/1766137049?l=id">Apple Music</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak pagi, Penulis sudah dihubungi oleh temannya yang sesama penggemar Linkin Park untuk mendiskusikan album ini. Namun, Penulis baru mulai mendengarkannya siang setelah Sholat Jumat dan terus mengulangnya hingga menulis artikel ini. Berikut adalah daftar lagu di album <em>From Zero</em>:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>From Zero (Intro)</li>



<li>The Emptiness Machine</li>



<li>Cut the Bridge</li>



<li>Heavy is the Crown</li>



<li>Over Each Other</li>



<li>Casualty</li>



<li>Overflow</li>



<li>Two Faced</li>



<li>Stained</li>



<li>IGYEIH</li>



<li>Good Things Go</li>
</ol>



<p>Saat mendengarkannya pertama kali, Penulis merasa kalau album ini terasa &#8220;kompilasi&#8221; dari ketujuh album Linkin Park sebelumnya bersama Chester. Jika disebar, semua lagu yang ada di album ini bisa dengan mudah masuk ke dalam album-album lama Linkin Park.</p>



<p>Menurut Penulis, album ini merupakan<strong> kombinasi antara &#8220;The Old LP&#8221; dan &#8220;The New LP&#8221;.</strong> Mereka berusaha mempertahankan identitas mereka, tapi tetap menyesuaikan diri dengan zaman. Apalagi, mereka hadir dengan vokalis baru dengan jenis vokal yang berbeda.</p>



<p>Hal kecil lain yang menarik dari album ini adalah <strong>kembalinya efek &#8220;bersambung&#8221; </strong>dari tiap lagunya. Efek ini sempat hilang di album<em> <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">One More Light</a></em>, sehingga Penulis merasa senang ketika mendengar ada beberapa lagu yang saling bersambung, apalagi tiga lagu terakhirnya.</p>



<p>Sebagai tambahan, menurut teman Penulis album ini terasa &#8220;<em>not depressing</em>&#8220;, berbeda dengan beberapa tema lagu lama Linkin Park. Album ini seolah menjadi katarsis Mike setelah merilis album <em>Post Traumatic</em> beberapa tahun lalu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pamer Kemampuan Vokal Emily</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/emily-armstrong-vokal-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8069" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/emily-armstrong-vokal-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/emily-armstrong-vokal-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/emily-armstrong-vokal-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/emily-armstrong-vokal.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Emily Armstrong (<a href="https://www.standard.co.uk/culture/music/emily-armstrong-linkin-park-singer-b1180471.html">Evening Standard</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak rilisnya lagu &#8220;The Emptiness Machine&#8221;, kita secara bertahap diperkenalkan dengan vokal Emily. Jika lagu tersebut adalah perkenalan, maka &#8220;Heavy is the Crown&#8221; adalah pertunjukkan kalau Emily adalah seorang <em>rockstar</em> yang mampu melakukan <em>scream</em> panjang.</p>



<p>Selanjutnya di &#8220;Over Each Other&#8221;, kita diperdengarkan vokal Emily menyanyi lagu <em>pop-rock </em>yang lebih <em>slow</em> . Di &#8220;Two Faced&#8221;, kita kembali mendengar bagaimana Emily <em>bengak-bengok</em> dengan keras dan <em>aur-auran</em>.</p>



<p>Nah, berbagai perbedaan itu semakin terasa di album <em>From Zero</em>. <strong>Linkin Park seolah ingin <a href="https://whathefan.com/musik/cara-linkin-park-membiasakan-vokal-emily-kepada-penggemarnya/">pamer kemampuan vokal Emily</a></strong> yang bisa bernyanyi di berbagai genre. Mau nyanyi <em>slow</em>, gas. Mau nyanyi agak pop, boleh. Mau teriak-teriak, hajar.</p>



<p>Kalau mau di-<em>oversimplified</em>, lagu-lagu di album ini bisa dibagi tiga kategori: Soft (S), Neutral (N), dan Hard (H). Seperti inilah pembagiannya versi Penulis (dengan mengecualikan <em>track </em>pertama), yang menariknya ternyata cukup seimbang:</p>



<p>S: Over Each Other, Stained, Good Things Go</p>



<p>N: The Emptiness Machine, Cut the Bridge, Overflow</p>



<p>H: Heavy is the Crown, Casualty, Two Faced, IGYEIH</p>



<p>Penulis sejujurnya sudah semakin terbiasa dengan vokal Emily dan menyukainya. Keputusan Mike dan Linkin Park untuk menunjukkan terbukti merupakan keputusan yang benar sekaligus membuktikan para <em>hater </em>Emily salah.</p>



<p>Apalagi setelah melihat penampilan Emily di pembukaan turnamen Worlds 2024, rasanya ia terus berusaha untuk <em>improve</em> dan membuktikan bahwa ia penerus yang layak dari mendiang Chester.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Versi Baru dari Lagu-Lagu Lama Linkin Park</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Two Faced (Official Music Video) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kivUsDGWojU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ketika membaca kolom komentar di kanal YouTube Linkin Park, banyak penggemar yang mengaku menangis ketika mendengarkan album ini. Perasaan sentimental tersebut juga hinggap di diri Penulis, karena bagaimanapun ini adalah penantian yang cukup panjang.</p>



<p>Selain itu, ada banyak penggemar yang merasa kalau <strong>lagu-lagu di album ini menjadi versi 2.0 dari lagu lama Linkin Park</strong>. Yang paling sering disebut adalah lagu &#8220;Two Faced&#8221; yang dianggap versi baru dari &#8220;One Step Closer&#8221; dari album <em>Hybrid Theory</em>.</p>



<p>Ada banyak hal yang mengejutkan dari album ini bagi Penulis. Contohnya, di lagu <em>Casualty</em>, kita bisa <strong>mendengarkan <em>rap </em>dari Mike dengan cara yang berbeda</strong>. Selain itu, di beberapa lagu ia juga bisa melakukan <em>rap </em>yang lebih cepat dari biasanya, padahal ia sudah berusia 47 tahun.</p>



<p>Menurut teman Penulis, album ini membuktikan bahwa Mike adalah seorang <em>rapper </em>yang <em>decent</em>, apalagi jika dibandingkan <em>rapper-rapper </em>baru yang menurutnya &#8220;alay&#8221; dengan hit-hit baru yang mungkin tidak cocok untuk telinga milenial.</p>



<p>Contoh lainnya, siapa yang menyangka bisa <strong>mendengar <em>scratch </em>alias <em>ceket-ceket </em>ala Mr. Hahn di tahun 2024</strong>? Padahal, teknik tersebut sudah dianggap <em>jadul</em> sejak bertahun-tahun lalu. Namun, bagi Penulis yang selalu menyukai permainan Mr. Hahn, hal ini menjadi semacam nostalgia sekaligus obat kangen.</p>



<p>Terakhir, Penulis terkejut karena ternyata <strong>hanya &#8220;Over Each Other&#8221; yang menjadi lagu <em>full</em> Emily di album ini</strong>. Selain itu, selalu ada vokal dari Mike, baik nge-<em>rap</em> maupun tidak. Mungkin Linkin Park belum terlalu percaya diri mengeluarkan <em>single</em> full Emily lebih banyak?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Secara keseluruhan, Penulis menganggap kalau <strong><em>From Zero </em>merupakan album <em>comeback</em> yang memuaskan</strong>.  Bisa tetap merasakan Linkin Park yang Penulis kenal sembari mendapatkan sesuatu yang <em>fresh</em> merupakan ha menyenangkan.</p>



<p>Namun, album ini seolah membantah pernyataan Mike dalam satu wawancara kalau mereka <em>start from scratch</em>. Tidak, mereka tidak benar-benar memulai dari nol. Mereka memasukkan apa yang mereka kerjakan selama ini dan memberikan sentuhan baru.</p>



<p>Setelah membahas album ini secara keseluruhan, selanjutnya Penulis akan membahas tiap lagu di dalam album ini satu per satu, lalu membuat tier list-nya. Setelah itu, kira-kira akan ada di posisi mana album<em> From Zero</em> jika dibandingkan album Linkin Park yang lain? </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 15 November 2024, terinspirasi setelah mendengarkan album <em>From Zero</em> yang baru rilis hari ini</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://music.apple.com/id/album/from-zero/1766137049?l=id">Apple Music</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-album-baru-linkin-park-from-zero/">Mari Kita Bicarakan Album Baru Linkin Park, From Zero</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-album-baru-linkin-park-from-zero/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2023 14:58:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Luxury Disease]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[One OK Rock]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6205</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam tulisan Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?, Penulis telah menyinggung sedikit tentang album terbaru dari ONE OK ROCK yang berjudul Luxury Disease. Album ini rilis pada tanggal 9 September 2022 silam. Pada tulisan tersebut, Penulis juga sempat mengungkapkan sedikit kekecewaannya karena lagi-lagi album ini kurang terasa nuansa rock-nya, sama seperti dua album sebelumnya (Ambition [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/">Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</a></em>, Penulis telah menyinggung sedikit tentang album terbaru dari ONE OK ROCK yang berjudul <em><strong>Luxury Disease</strong></em>. Album ini rilis pada tanggal 9 September 2022 silam.</p>



<p>Pada tulisan tersebut, Penulis juga sempat mengungkapkan sedikit kekecewaannya karena lagi-lagi album ini kurang terasa nuansa <em>rock</em>-nya, sama seperti dua album sebelumnya (<em>Ambition </em>dan <em>Eye of the Storm</em>) </p>



<p>Namun, setelah beberapa kali mendengarkannya, Penulis jadi berubah pikiran tentang album ini. Ternyata ada beberapa lagu, yang walaupun tidak <em>rock-rock </em>banget, lumayan cocok di telinga Penulis.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Tracklist dari Luxury Disease</h2>



<p>Sama seperti beberapa album sebelumnya, <em>Luxury Disease </em>memiliki dua versi, yakni versi Jepang dan Internasional. Penulis selalu lebih menyukai versi Jepangnya karena sang vokalis, Taka, memang terdengar lebih fasih dalam melafalkan lirik-liriknya.</p>



<p>Di album versi Jepang ini ada total lima belas lagu di dalamnya, yang daftarnya adalah sebagai berikut:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Save Yourself</li><li>Neon</li><li>Vandalize</li><li>When They Turn the Light On</li><li>Let Me Let You Go</li><li>So Far Gone</li><li>Prove</li><li>Mad World</li><li>Free Them (feat. Teddy Swims)</li><li>Renegades</li><li>Outta Sight</li><li>Your Tears are Mine</li><li>Wonder</li><li>Broken Heart of Gold</li><li>Gravity (feat. Satoshi Fujihara)</li></ol>



<p>Sebelum album ini rilis secara utuh, ada beberapa <em>single </em>yang dilepas terlebih dahulu. Pertama adalah <em><strong>Renegades </strong></em>yang juga menjadi <em>soundtrack </em>dari film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-rurouni-kenshin-the-final/">Rurouni Kenshin: The Final</a></em>. Lagu ini  jelas terasa <em>rock-</em>nya, meskipun temponya tidak terlalu cepat.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="ONE OK ROCK: Renegades [OFFICIAL VIDEO]" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/4n5bpeh5NNg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single </em>berikutnya yang rilis adalah <em><strong>Heart of the Gold</strong></em> (jadi <em>soundtrack </em>film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-rurouni-kenshin-the-beginning/">Rurouni Kenshin: The Beginning</a></em>)<em> </em>yang bagi Penulis terlalu <em>mellow</em>, walaupun ada teman Penulis yang menganggapnya mirip dengan <a href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/"><em>Heartache </em>dari album <em>35xxxv</em></a>. </p>



<p>Lagu <em><strong>Wonder</strong> </em>dan <em><strong>Save Yourself</strong> </em>menjadi <em>single </em>ketiga dan keempat. Sayangnya, hingga lagu keempat ini masih belum ada lagu baru dari album ini yang berhasil membuat Penulis merasa benar-benar menyukainya.</p>



<p>Walaupun setelah itu masih ada dua <em>single </em>lagi (<em>Let Me Let You Go </em>dan <em>Vandalize</em>), Penulis memutuskan untuk menunggu albumnya keluar sekalian saja. Untungnya, setelah mendengarkan berkali-kali, ada beberapa lagu yang Penulis sukai.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lagu Rekomendasi dari Album Luxury Disease</h2>



<p>Lagu pertama yang langsung menarik perhatian telinga Penulis adalah <em><strong>Let Me Let You Go</strong></em> yang sejatinya menjadi <em>single </em>kelima dari album ini. Perlu mendengarkan beberapa kali hingga akhirnya Penulis memutuskan untuk menyukai lagu ini.</p>



<p>Meskipun bagian <em>reff</em>-nya seolah <em>cooldown </em>karena hanya diiringi musik akustik, lagu ini terdengar <em>catchy </em>dengan pemilihan lirik yang mantap. Lagu ini mungkin memang tidak terlalu <em>rock</em>. Namun, setidaknya hentakan musiknya masih terasa.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="ONE OK ROCK - Let Me Let You Go [Live Documentary Video]" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/uA832zpafis?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu lain yang Penulis rekomendasikan adalah <em><strong>So Far Gone</strong> </em>yang, sekali lagi, terdengar <em>mellow</em>. Namun, setidaknya lagu ini memamerkan tingginya nada yang bisa dicapai Taka di bagian <em>reff</em>.</p>



<p>Apalagi, teriakannya diiringi oleh suara akustik gitar yang bisa memberikan kesan pilu bagi yang menyanyikan. Penulis menangkap lagu ini memang berkisah tentang seseorang yang benar-benar kita cintai tidak akan pernah meninggalkan hati kita.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="So Far Gone" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/FGPu3sg_BUM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em><strong>Mad World</strong> </em>dan <em><strong>Outta Sight</strong> </em>adalah dua lagu lain yang Penulis rekomendasikan untuk didengarkan. Meskipun unsur <em>rock-</em>nya kurang, musiknya masih enak didengarkan dan rasanya cocok-cock saja bagi penikmat musik <em>rock </em>seperti Penulis.</p>



<p>Khusus lagu <em>Mad World</em>, Penulis sangat merekomendasikan untuk mendengarkan versi Jepangnya saja. Apa ya, rasanya lagu ini memang lebih cocok menggunakan bahasa tersebut karena versi bahasa Inggrisnya agak terasa aneh.</p>



<p>Untuk lagu-lagu lainnya, sayangnya tidak ada yang benar-benar cocok dengan selera Penulis. Masih menyenangkan untuk didengarkan, tapi tidak sampai masuk ke <em>playlist </em>Penulis. Cukup empat lagu (+<em>Renegades</em>) di atas yang masuk.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Dengan tidak banyaknya <em>band rock </em>yang tersisa di dunia (setidaknya yang cocok dengan selera Penulis), Penulis akan terus menantikan karya-karya terbaru dari ONE OK ROCK sembari berharap mereka akan kembali ke akarnya, yaitu <em>rock</em>.</p>



<p>Apalagi, Taka juga pernah berucap bahwa genre <em>rock </em>mulai bisa kembali diterima di Amerika Serikat, pasar utama yang diincar oleh ONE OK ROCK. Jadi, rasanya tidak berlebihan jika album seperti <em>35xxxv </em>akan ada lagi di masa depan.</p>



<p>Untuk sekarang, rasanya Penulis sudah cukup merasa puas dengan album <em>Luxury Disease </em>yang <em>easy listening </em>ini. Untung saja album ini bisa mengubah pemikiran Penulis setelah didengarkan beberapa kali.</p>



<div class="wp-block-buttons is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button is-style-fill"><a class="wp-block-button__link">Download Album Luxury Disease</a></div>
</div>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 5 Januari 2023, terinspirasi setelah mendengarkan ulang album <em>Luxury Disease </em>dari ONE OK ROCK</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/">Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan One More Light</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 00:29:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Chester Bennington]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[One More Light]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3823</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada akhirnya Penulis sampai di album Linkin Park yang terakhir,&#160;One More Light. Album ini rilis pada tahun 2017, tak lama setelah Penulis wisuda dari kampusnya. Penulis telah menantikan album ini sejak 2016. Setelah penantian yang panjang, akhirnya album ini rilis tanggal 19 Mei. Ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya, yang muncul di benak Penulis adalah &#8220;kok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">Linkin Park dan One More Light</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada akhirnya Penulis sampai di album Linkin Park yang terakhir,&nbsp;<em>One More Light</em>. Album ini rilis pada tahun 2017, tak lama setelah Penulis wisuda dari kampusnya.</p>



<p>Penulis telah menantikan album ini sejak 2016. Setelah penantian yang panjang, akhirnya album ini rilis tanggal 19 Mei. Ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya, yang muncul di benak Penulis adalah &#8220;kok gini?&#8221;.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Album Pop Linkin Park?</h1>



<p>Pikiran tersebut muncul sejak Penulis mendengar <em>single&nbsp;</em>pertamanya yang berjudul&nbsp;<em>Heavy</em>. Selain karena genrenya yang cenderung pop, untuk pertama kalinya Linkin Park menggandeng penyanyi perempuan sebagai teman duet, <strong>Kiiara</strong>.</p>



<figure class="wp-block-image alignnone size-large wp-image-3826"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="607" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-1024x607.jpg" alt="" class="wp-image-3826" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/linkin-park-dan-one-more-light-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Chester dan Kiiara (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.justjared.com%2F2017%2F02%2F17%2Flinkin-park-kiiara-premiere-heavy-stream-download-lyrics-listen-now%2F&amp;psig=AOvVaw2VC73YOCVLFRr7rv9ReLBV&amp;ust=1589156923165000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCIjQooGFqOkCFQAAAAAdAAAAABAN" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCIjQooGFqOkCFQAAAAAdAAAAABAN" aria-label="Visit Just Jared"><span class="pM4Snf">Just Jared</span></a>)</figcaption></figure>



<p>Bukannya tidak enak. Penulis bisa menikmati lagunya, apalagi makna liriknya yang cukup dalam. Hanya saja, rasanya ini bukan seperti lagu-lagu Linkin Park seperti biasanya, apalagi setelah tiga tahun lalu mereka merilis album&nbsp;<a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-the-hunting-party/"><em>The Hunting Party</em></a>.</p>



<p>Setelah albumnya yang berisi sepuluh lagu rilis, Penulis mendengarkan baik-baik lagu demi lagunya. Album ini benar-benar berbeda, sama sekali tidak terasa nuansa&nbsp;<em>rock</em>-nya! Bahkan Chester sama sekali tidak mengeluarkan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>andalannya.</p>



<p>Awalnya Penulis menganggap hal tersebut terjadi karena usianya yang sudah mulai menua, sehingga tidak disarankan untuk berteriak. Tetapi ketika menonton video konsernya, ia tetap melakukan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>seperti biasa.</p>



<p>Artinya, sekali lagi Linkin Park berusaha melakukan eksperimen ekstrem seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja, Penulis pribadi merasa eksperimen kali ini sudah terlalu jauh. Mereka meninggalkan genre <em>alternative/rap/electric rock </em>dan memilih untuk membuat album pop.</p>



<p>Selain itu, untuk pertama kalinya Linkin Park menggunakan salah satu judul lagu sebagai judul album&nbsp;dan tidak ada kesinambungan antar lagunya seperti biasanya.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu&nbsp;<em>One More Light</em></h1>



<p>Album dibuka dengan lagu <em><strong>Nobody Can Save Me</strong>. </em>Bisa dibilang, peletakkan lagu ini di awal album menjadi penanda seperti apa album ini akan terdengar. Enak sih, cuma sedikit membosankan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Good Goodbye [Official Music Video] - Linkin Park (feat. Pusha T and Stormzy)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/phVQZrb2AdA?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selanjutnya adalah satu-satunya lagu di mana Mike Shinoda melakukan&nbsp;<em>rap, <strong>Good Goodbye</strong></em>. Pada lagu ini, Linkin Park menggandeng&nbsp;<em>rapper&nbsp;</em>Pusha T dan Stormzy. Mike hanya mengisi&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>di bagian pertama lagu.</p>



<p>Bisa dibilang, <strong><em>Talking to Myself</em></strong> menjadi lagu terkeras di album ini. Tidak ada teriakan, namun vokal Chester terasa kuat. Perilisan video klipnya bersamaan dengan ditemukannya Chester bunuh diri, di mana isinya merupakan berbagai aktivitas Linkin Park.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Talking To Myself [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/lvs68OKOquM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Album berlanjut dengan lagu&nbsp;<strong><em>Battle Symphony</em></strong> yang kalau tidak salah menjadi&nbsp;<em>single&nbsp;</em>kedua lagu ini. Penulis ingat ketika konser untuk memperingati kematian Chester, Mr. Han melakukan kesalahan hingga ditegur oleh Mike.</p>



<p>Lagu&nbsp;<em><strong>Invisible</strong>&nbsp;</em>secara penuh dinyanyikan oleh Mike, mirip dengan lagu&nbsp;<em>In Between&nbsp;</em>di album&nbsp;<a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/"><em>Minutes to Midnight</em></a>. Hanya saja, lagu ini lebih cocok untuk berada di album Fort Minor atau Mike Shinoda sendiri.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Heavy [Official Music Video] - Linkin Park (feat. Kiiara)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5dmQ3QWpy1Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single&nbsp;</em>pertama dari album ini,&nbsp;<strong><em>Heavy</em></strong>, menjadi trek keenam. Dibandingkan lagu lainnya, lagu ini masih bisa Penulis nikmati karena dentuman drum yang ada di bagian 1/4 lagu terakhir.</p>



<p><em><strong>Sorry for Now</strong>&nbsp;</em>mungkin terdengar aneh karena Mike menjadi vokalis utama, sedangkan Chester hanya mengisi bagian&nbsp;<em>bridge </em>dan <em>backing voval-</em>nya.&nbsp;<strong><em>Halfway Right </em></strong>juga terdengar seperti lagu-lagu pop Linkin Park lainnya, bahkan dianggap sedikit cengeng.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="One More Light [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/Tm8LGxTLtQk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Judul utama album ini diambil dari lagu kesembilan,&nbsp;<strong><em>One More Light</em></strong>. Lagunya sangat terasa sendu dan menyedihkan. Pada akhirnya, lagu ini sering dihubungkan dengan kepergian Chester yang tragis. Album ditutup dengan lagu akustik berjudul <em><strong>Sharp Edges</strong>.</em></p>



<p>Pembaca bisa lihat, Penulis tidak bisa banyak berkomentar mengenai lagu-lagu yang ada di dalamnya. Hal ini menunjukkan kalau Penulis tidak bisa terlalu memahami album ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Tidak ada teriakan, tidak ada suara gitar yang berat,&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>yang sangat sedikit, tak ada lagi gesekan <em>turntables</em>. Banyak hal yang awalnya membuat Penulis merasa tidak terlalu suka dengan album ini.</p>



<p>Penulis tidak sendirian. Banyak fans yang merasakan hal yang sama. Bahkan, banyak kritikus musik yang habis-habisan memberi respon negatif ke album ini hingga membuat Chester marah.</p>



<p>Siapa yang menyangka kalau ternyata album ini menjadi album terakhir dari Linkin Park. Sang vokalis, <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/">Chester Bennington</a>, memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri dengan menggantung lehernya, menyisakan duka mendalam bagi para penggemarnya termasuk Penulis.</p>



<p>Penulis tidak akan lagi membaca berita Linkin Park akan mengeluarkan album baru. Kalaupun pada akhirnya band merekrut vokalis baru, Penulis tidak bisa menerimanya sebagai Linkin Park.</p>



<p>Meskipun begitu, sampai kapanpun Linkin Park akan tetap menjadi band nomor satu di hati Penulis. Sampai kapanpun.</p>



<p><em>Seri artikel album Linkin Park, selesai.</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 10 Mei 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/More-Light-Vinyl-Linkin-Park/dp/B06WD3G4ZY">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">Linkin Park dan One More Light</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan The Hunting Party</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2020 13:39:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<category><![CDATA[The Hunting Party]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak ingin mengulangi kesalahan ketika album&#160;Living Things&#160;rilis, Penulis benar-benar memantau kabar terbaru dari Linkin Park. Siapa tahu, mereka akan merilis album baru dua tahun kemudian. Benar saja, pada tahun 2014 Linkin Park mengeluarkan album keenam mereka yang diberi judul&#160;The Hunting Party.&#160;Jujur, Penulis sangat menyukai&#160;art cover&#160;dari album ini. Rasanya sangat artistik. Selain itu, isi lagu di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">Linkin Park dan The Hunting Party</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tidak ingin mengulangi kesalahan ketika album&nbsp;<em>Living Things&nbsp;</em>rilis, Penulis benar-benar memantau kabar terbaru dari Linkin Park. Siapa tahu, mereka akan merilis album baru dua tahun kemudian.</p>



<p>Benar saja, pada tahun 2014 Linkin Park mengeluarkan album keenam mereka yang diberi judul&nbsp;<em><strong>The Hunting Party</strong>.&nbsp;</em>Jujur, Penulis sangat menyukai&nbsp;<em>art cover&nbsp;</em>dari album ini. Rasanya sangat artistik.</p>



<p>Selain itu, isi lagu di album ini juga berbeda dari album-album sebelumnya. Singkatnya, album ini terdengar sangat rusuh!</p>



<h1 class="wp-block-heading">Rock Murni</h1>



<p>Satu poin yang membuat album ini sangat berbeda dibandingkan dengan dua album sebelumnya adalah minimnya sentuhan elektronik pada lagu-lagunya. Benar-benar terdengar seperti lagu <em>rock&nbsp;</em>murni.</p>



<p>Penulis sampai berpikir apa peran sang DJ, Mr. Han, di album ini. Lagu-lagunya benar-benar menonjolkan instrumen musik&nbsp;<em>rock </em>yang sangat berat, keras, dan kental<em>.</em></p>



<p>Banyak yang menganggap Linkin Park sedang melawan arus, mengingat band lain mencoba menyesuaikan diri dengan zaman. Semua eksperimen yang telah dilakukan ditinggalkan demi instrumen musik&nbsp;<em>rock&nbsp;</em>tradisional.</p>



<p>Selain itu, untuk pertama kalinya Linkin Park menggandeng musisi lain di dalam albumnya. Mereka adalah <strong>Page Hamilton</strong> (Helmet), <strong>Daron Malakian</strong> (System of a Down), <strong>Tom Morello</strong> (Race Against the Machine), dan <strong>Rakim</strong>.</p>



<p>Itulah beberapa alasan yang membuat Penulis merasa kalau album yang satu ini sangat rusuh!</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu <em>The Hunting Party</em></h1>



<p>Album ini berisikan 12 lagu, di mana 2 lagu hanya berperan sebagai&nbsp;<em>interlude</em>. Lagu pembuka dari lagu ini adalah&nbsp;<em><strong>Keys to the Kingdom</strong>. </em>Penulis setuju lagu ini dijadikan sebagai&nbsp;<em>track&nbsp;</em>nomor satu karena mampu merepresntasikan kerusuhan album ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Keys To The Kingdom - Linkin Park (The Hunting Party)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/ZPlUjhroNd4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Diawali dengan suara teriakan Chester, kita akan mendengar&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>Mike yang diiringi dengan dentuman musik yang makin menjelang akhir makin keras. Penulis cukup menyukai lagu ini.</p>



<p>Album berlanjut dengan lagu&nbsp;<strong><em>All for Nothing</em></strong>, di mana Linkin Park menggandeng Page Hamilton yang merupakan gitaris dan vokalis band Helmet.</p>



<p>Dengan aliran&nbsp;<em>hip-hop&nbsp;</em>di bagian awal, lagu ini terdengar seperti lagu&nbsp;<em>punk</em>. Permainan gitar Brad Delson benar-benar sangat menonjol di sini, tentu dengan bantuan dari Page.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Guilty All The Same (Official Lyric Video) - Linkin Park (feat. Rakim)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/cEaEdLQbAFM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single&nbsp;</em>pertama yang rilis dari album ini adalah&nbsp;<strong><em>Guilty All the Same</em></strong>. Untuk pertama kalinya, Linkin Park menggandeng seorang&nbsp;<em>rapper&nbsp;</em>lain untuk mengisi pos yang biasanya diisi oleh Mike.&nbsp;<em>Rapper </em>yang dipilih adalah Rakim.</p>



<p>Intro lagu ini cukup panjang, lebih dari satu menit. Durasi lagunya sendiri hampir menyentuh angka enam. Didominasi oleh suara gitar dan drum yang agresif, mendengarkan lagu ini seolah memancing kita untuk berbuat kerusuhan.</p>



<p>Setelah itu, ada lagu&nbsp;<em><strong>The Summoning</strong>&nbsp;</em>yang berperan sebagai&nbsp;<em>interlude&nbsp;</em>dari lagu&nbsp;<em><strong>War</strong>.&nbsp;</em>Lagu ini mirip dengan lagu&nbsp;<em>Victimized&nbsp;</em>dari album sebelumnya. Durasinya pendek, namun vokal Chester sangat kuat. Bedanya, lagu ini tidak memiliki bagian&nbsp;<em>rap</em>.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>Wasteland</strong>&nbsp;</em>yang awalnya tidak Penulis sukai karena terdengar berantakan. Setelah didengar ulang dan menonton video konsernya, Penulis jadi menyukai lagu ini. Lagu ini menjadi lagu ketiga di mana Mike melakukan&nbsp;<em>rap</em>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Until It&#039;s Gone [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/oM-XJD4J36U?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Outro</em> dari <em>Wasteland</em> juga menjadi pembuka untuk lagu selanjutnya, <strong><em>Until It&#8217;s Gone</em></strong>. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang masih memiliki efek elektronik yang tidak terlalu menonjol. Walaupun begitu, Penulis kurang menyukai lagu ini.</p>



<p>Sama seperti sebelumnya,&nbsp;<em>outro&nbsp;</em>dari lagu ini juga terhubung dengan lagu selanjutnya,&nbsp;<strong><em>Rebellion</em></strong>. Nah, kalau lagu ini sangat Penulis sukai. Selain karena permainan gitar yang ditunjukkan oleh Daron Malkian, Penulis juga menyukai liriknya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Rebellion (Official Lyric Video) - Linkin Park (feat. Daron Malakian)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/OCy5461BtTg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu ini menggunakan&nbsp;<em>riff </em>gitar yang cepat dan hentakan drum yang dinamis, membuat kita akan bersemangat ketika mendengarkannya. Mike menyanyi di lagu ini walaupun bukan bagian&nbsp;<em>rap</em>. Ada juga bagian Chester melakukan&nbsp;<em>screaming</em>.</p>



<p><em><strong>Mark the Graves</strong>&nbsp;</em>yang menjadi lagu selanjutnya benar-benar tidak Penulis sukai. Sangat terdengar berantakan seolah yang menyanyikan bukan Linkin Park. Penulis tidak ragu untuk memberikan lagu ini bintang dua di iTunes.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu instrumen berjudul&nbsp;<em><strong>Drawbar</strong>,&nbsp;</em>di mana Tom Morello dari Race Against the Machine ikut mengambil bagian. Berbeda dengan lagu&nbsp;<em>Cure for the Itch&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Session</em>, tidak terdengar suara elektronik di lagu ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Final Masquerade [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/i8q8fFs3kTM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Di antara semua lagu,&nbsp;<em><strong>Final Masquerade</strong>&nbsp;</em>adalah lagu favorit Penulis di album ini. Lagu ini dideskripsikan sebagai genre&nbsp;<em>rock&nbsp;</em>alternatif atau&nbsp;<em>hard rock</em>. Nuansanya mirip dengan lagu&nbsp;<em>What I&#8217;ve Done</em>.</p>



<p>Tempo lagunya tidak terlalu cepat, namun sangat enak didengarkan. Chester tidak perlu melakukan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>untuk menunjukkan kemampuan vokalnya yang luar biasa.</p>



<p>Album ditutup dengan lagu&nbsp;<em><strong>A Line in the Sand</strong>&nbsp;</em>yang juga tidak Penulis sukai sama sekali. Alasannya sama dengan lagu&nbsp;<em>Mark the Graves</em>, begitupun dengan ratingnya di iTunes Penulis.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Bagi penggemar lagu-lagu&nbsp;<em>rock,&nbsp;</em>album ini akan disukai setelah sebelumnya Linkin Park gemar melakukan eksperimen. Nyaris tidak ada sentuhan elektronik sekali, sehingga bagi beberapa fans album ini terdengar aneh.</p>



<p>Penulis pun sejujurnya kurang menyukai album ini, walaupun menyukai beberapa lagu di dalamnya seperti&nbsp;<em>Wasteland</em>,&nbsp;<em>Rebellion,&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Final Masquerade.</em></p>



<p>Bagi Penulis, yang namanya Linkin Park harus mampu menggabungkan musik&nbsp;<em>rock, electronic, </em>hingga&nbsp;<em>hip-hop</em>. Lagu yang memiliki video klip juga hanya dua, <em>Until It&#8217;s Gone </em>dan <em>Final Masquerade. </em>Tapi yang namanya fans, Penulis tetap mendengarkan album ini.</p>



<p>Setelah mendengarkan album ini, Penulis berharap di album selanjutnya Linkin Park akan kembali seperti dulu lagi. Harapan tersebut tidak terkabul, karena Linkin Park semakin berubah drastis!</p>



<p>Album selanjutnya,&nbsp;<em><strong>One More Light</strong>. Stay Tuned!</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 19 April 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/Hunting-Party-Linkin-Park/dp/B00K03VZ1K">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">Linkin Park dan The Hunting Party</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan Living Things</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2020 12:30:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[Living Things]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3735</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat kelas 11-12 SMA, selera musik Penulis mulai merambah ke dunia lain yang waktu itu sedang&#160;booming: K-Pop. Ada alasannya, namun rasanya tidak akan Penulis ceritakan di sini. Karena genre musik tersebut benar-benar baru, maka Penulis banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan lagu-lagunya terutama dari SNSD dan Super Junior. Akibatnya, Penulis sampai tidak menyadari kalau Linkin Park [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Linkin Park dan Living Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat kelas 11-12 SMA, selera musik Penulis mulai merambah ke dunia lain yang waktu itu sedang&nbsp;<em>booming</em>: <strong>K-Pop</strong>. Ada alasannya, namun rasanya tidak akan Penulis ceritakan di sini.</p>



<p>Karena genre musik tersebut benar-benar baru, maka Penulis banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan lagu-lagunya terutama dari SNSD dan Super Junior.</p>



<p>Akibatnya, Penulis sampai tidak menyadari kalau Linkin Park mengeluarkan album baru!</p>



<h1 class="wp-block-heading">Album dengan Jarak Terpendek</h1>



<p>Penulis pertama kali mengetahui kalau Linkin Park mengeluarkan album baru adalah dari tetangga. Katanya, Linkin Park punya&nbsp;<em>single&nbsp;</em>baru yang berjudul&nbsp;<em>Burn It Down</em>.</p>



<p>Waktu itu Penulis tidak percaya dan mengatakan kalau itu merupakan lagu dari Avenged Sevefold. Ketika dicek, ternyata memang benar kalau Linkin Park baru merilis album baru berjudul <strong><em>Living Things</em></strong>.</p>



<p>Hal ini memang sangat mengejutkan Penulis karena jarak album ini dengan album sebelumnya,&nbsp;<em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">A Thousand Suns</a>, </em>hanya 2 tahun. Bisa dibilang, ini merupakan rekor tercepat.</p>



<p>Sebagai perbandingan, jarak antara&nbsp;<em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Hybrid Theory</a>&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Meteora&nbsp;</em>adalah 3 tahun. Jarak <em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-meteora/">Meteora</a>&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Minutes to Midnight&nbsp;</em>adalah 4 tahun.&nbsp;<a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/"><em>Minutes to&nbsp;Midnight</em></a> ke&nbsp;<em>A Thousand Suns&nbsp;</em>juga 3 tahun.</p>



<p>Oleh karena itu, di tahun 2012 Penulis sama sekali tidak menyangka kalau band ini akan merilis album baru mereka. Meskipun sedang menggandrungi K-Pop, album baru Linkin Park adalah sesuatu yang wajib didengarkan.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu <em>Living Things</em></h1>



<p><i>Living Things </i>berisikan 12 lagu dan terdengar &#8220;normal&#8221; jika dibandingkan dengan album sebelumnya, <em>A Thousand Suns</em>. Linkin Park mengatakan kalau album ini menggabungkan unsur-unsur yang ada di empat album sebelumnya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="LOST IN THE ECHO [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/co4YpHTqmfQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Album dibuka dengan lagu&nbsp;<em><strong>Lost in the Echo</strong>&nbsp;</em>yang menggabungkan&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>Mike Shinoda dan vokal Chester di bagian&nbsp;<em>reff.&nbsp;</em>Bisa dibilang, inilah formula standar untuk lagu-lagu Linkin Park.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>In My Remains</strong>&nbsp;</em>yang cukup Penulis sukai. Musiknya enak, suara Chester terdengar sangat merdu dan&nbsp;<em>powerful</em>, suara Mike di&nbsp;<em>bridging&nbsp;</em>berhasil membuat Penulis merinding ketika mendengarkannya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="BURN IT DOWN [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/dxytyRy-O1k?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single&nbsp;</em>pertama dari album ini adalah&nbsp;<em><strong>Burn It Down</strong>&nbsp;</em>yang video klipnya terlihat seperti dari film Transformers dan banyak adegan <em>slow-motion</em>. Sayangnya, Penulis kurang menyukai lagu ini.</p>



<p>Lagu berikutnya,&nbsp;<em><strong>Lies Greed Misery</strong>,&nbsp;</em>baru Penulis sangat sukai. Meskipun terdengar sangat elektronik dan hip-hop, lagu ini terasa sangat enak dan keras untuk didengarkan.</p>



<p>Dua pertiga lagu didominasi oleh&nbsp;<em>rap </em>dari Mike, sedangkan sepertiganya lagi kita akan mendengarkan teriakan Chester yang sangat kuat sampai akhir lagu.</p>



<p>Penulis kurang menyukai lagu&nbsp;<em><strong>I&#8217;ll Be Gone</strong>&nbsp;</em>dan hanya memberikannya bintang dua di iTunes. Penulis sangat jarang memberikan lagu Linkin Park dengan bintang serendah itu.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="CASTLE OF GLASS [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/ScNNfyq3d_w?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Sebaliknya, lagu&nbsp;<em><strong>Castle of Glass</strong>&nbsp;</em>menjadi lagu favorit Penulis di album ini. Gimana ya, sangat susah untuk mendeskripsikan lagu yang satu ini.</p>



<p>Diawali dengan suara&nbsp;<em>sample&nbsp;</em>yang sangat&nbsp;<em>catchy,&nbsp;</em>kita akan mendengarkan suara Mike yang disambung dengan suara Chester di bagian&nbsp;<em>reff</em>. Meskipun terdengar lembut, lagu ini mampu menyayat hati.</p>



<p>Konsep dari video klipnya sendiri sangat Penulis sukai, di mana ada cuplikan game <em>Medal of Honor: Warfighter. </em>Lagu ini memang menjadi soundtrack dari game tersebut.</p>



<p>Tidak hanya lagu Lies Greed Mesery, lagu Victimized juga sangat keras. Durasi lagunya di bawah 3 menit, membuat lagu ini terdengar sangat intens dan padat. <em><strong>Skin to Bone</strong>&nbsp;</em>terdengar aneh, sehingga Penulis kurang menyukainya.</p>



<p>Kalau lagu&nbsp;<em><strong>Until It Breaks</strong>&nbsp;</em>yang bernuansa hip-hop cukup Penulis sukai. Lagunya terasa seperti lagu&nbsp;<em>When They Come for Me&nbsp;</em>di album&nbsp;<em>A Thousand Suns</em>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="ABRAHAM LINCOLN: VAMPIRE HUNTER feat. POWERLESS (Trailer) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/VPTdlrN4AFI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selanjutnya adalah <em><strong>Tinfoil</strong>&nbsp;</em>yang merupakan <em>interlude </em>dari lagu terakhir,&nbsp;<strong><em>Powerless</em></strong>. Lagu ini menjadi salah satu&nbsp;<em>soundtrack&nbsp;</em>film&nbsp;<em>Abraham Lincoln: Vampire Hunter.</em></p>



<p>Lirik lagu ini terasa dalam dan memilukan karena menunjukkan ketidakberdayaan kita.&nbsp; Oleh karena itu, lagu ini menjadi favorit Penulis lainnya dari album ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Setelah melakukan dua eksperimen di album&nbsp;<em>Minutes to Midnight&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>A Thousand Suns</em>, Linkin Park merasa menemukan zona nyaman baru mereka sehingga terciptalah album ini.</p>



<p>Album ini memang terdengar segar, namun tidak meninggalkan identitas Linkin Park yang selama ini dikenal oleh publik. Sayangnya, suara gesekan <em>turntables </em>sudah tidak terdengar lagi, mungkin sudah dianggap ketinggalan zaman<em>.</em></p>



<p>Jika disimpulkan, album ini masih mengusung genre <em>alternative rock</em>, <em>electronic rock</em>, dan <em>rap rock.&nbsp;</em>Genre-genre tersebut sudah lama identik dengan Linkin Park sehingga Penulis lumayan menyukai lagu-lagu yang ada di album ini.</p>



<p>Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Penulis akhirnya memasang mata agar tidak ketinggalan album barunya. Benar saja, dua tahun kemudian, Linkin Park kembali merilis albumnya yang paling rusuh!</p>



<p>Album selanjutnya,&nbsp;<em><strong>The Hunting Party</strong>. Stay Tuned!</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 12 April 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto:&nbsp;<a href="https://www.amazon.com/Living-Things-Linkin-Park/dp/B007UQ5Z1G">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Linkin Park dan Living Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan A Thousand Suns</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2020 14:35:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[A Thousand Suns]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[nuklir]]></category>
		<category><![CDATA[pidato]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3695</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika SMA, Penulis sudah menjadi fans berat Linkin Park dan hafal semua lagunya. Penulis pun menantikan kapan band ini akan merilis album terbarunya. Harapan Penulis terwujud ketika mereka merilis album&#160;A Thousand Suns&#160;pada tahun 2010. Di hari perilisan album ini, Penulis langsung mendownload albumnya. Sebelum albumnya rilis, Penulis sudah melihat&#160;single&#160;pertamanya yang berjudul&#160;The Catalyst&#160;yang ditayangkan di salah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">Linkin Park dan A Thousand Suns</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika SMA, Penulis sudah menjadi fans berat Linkin Park dan hafal semua lagunya. Penulis pun menantikan kapan band ini akan merilis album terbarunya.</p>



<p>Harapan Penulis terwujud ketika mereka merilis album&nbsp;<strong><em>A Thousand Suns&nbsp;</em></strong>pada tahun 2010. Di hari perilisan album ini, Penulis langsung mendownload albumnya.</p>



<p>Sebelum albumnya rilis, Penulis sudah melihat&nbsp;<em>single&nbsp;</em>pertamanya yang berjudul&nbsp;<em>The Catalyst&nbsp;</em>yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.</p>



<p>Secara konsep, Penulis sangat menyukai album ini!</p>



<h1 class="wp-block-heading">Mengambil Pidato Tokoh Terkenal</h1>



<p>Apa yang membuat unik dari album ini adalah banyaknya pidato tokoh terkenal yang dikombinasikan dengan berbagai instrumen modern.</p>



<p>Ada tiga tokoh yang pidatonya digunakan, yakni <strong>Robert Oppenheimer</strong> (<em>The Radiance</em>), <strong>Mario Savio</strong> (<em>Wretches and Kings</em>), dan <strong>Martin Luther King Jr.</strong> (<em>Wisdom, Justice, and Love</em>).</p>



<figure class="wp-block-image alignnone size-large wp-image-3697"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="607" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/linkin-park-dan-a-thousand-suns-1-1024x607.jpg" alt="" class="wp-image-3697" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/linkin-park-dan-a-thousand-suns-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/linkin-park-dan-a-thousand-suns-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/linkin-park-dan-a-thousand-suns-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/linkin-park-dan-a-thousand-suns-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dari Kiri: Oppenheimer, Savio, King</figcaption></figure>



<p>Judul albumnya diambil dari kutipan Oppenheimer yang bersumber dari sastra Hindu<i>.&nbsp;</i>Ia mengatakan bahwa bom atom terlihat sangat terang seperti seribu matahari.</p>



<p>Oppenheimer sendiri merupakan tokoh proyek Manhattan selama Perang Dunia 2 yang bertanggung jawab dalam produksi bom atom pertama. Ketakutan manusia terhadap perang nuklir menjadi konsep album ini.</p>



<p>Tidak hanya itu, album ini juga memiliki beberapa lagu yang berfungsi sebagai&nbsp;<em>bridging&nbsp;</em>atau transisi dari satu lagu ke lagu lainnya. Jika dihitung, hanya ada sembilan lagu utuh (dari 15 lagu) di dalam album ini.</p>



<p>Selain itu, untuk pertama kalinya mereka tidak mencantumkan nama band ataupun judul album pada covernya. Hal ini dipertahankan pada album <em>The Hunting Party</em> dan <em>One More Light</em>.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu <em>A Thousand Suns</em></h1>



<p>Lagu ini dibuka dengan intro yang berjudul&nbsp;<strong><em>The Requiem</em></strong>. Liriknya sendiri diambil dari lirik lagu&nbsp;<em>The Catalyst</em> dengan suara vokal Mike yang diubah menggunakan <em>vocoder</em>.</p>



<p>Ketika membaca sumber lain, ternyata lagu ini juga menggabungkan beberapa komponen dari lagu lain. Untuk pertama kali, Penulis menyukai intro album Linkin Park.</p>



<p>Lagu ini terdengar menyatu dengan lagu&nbsp;<em><strong>The Radiance</strong>&nbsp;</em>yang berisikan pidato dari Robert Oppenheimer diriingi dengan <em>electronic beat </em>sederhana.</p>



<p>Ketika iTunes Festival di London pada tahun 2011, Mr. Han memainkan pidato ini dengan <em>epic, </em>walaupun bagi kebanyakan fans mungkin akan terdengar aneh.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Burning In The Skies (Official International Video) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kh_YCSW5lPc?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Baru di lagu ketiga lah,&nbsp;<em><strong>Burning in the Skies</strong>,&nbsp;</em>kita bisa mendengarkan sebuah lagu utuh. Di sini, Chester hanya bernyanyi di bagian&nbsp;<em>reff</em> di mana Mike menyanyikan sisanya.</p>



<p>Di dalam video klipnya, kita bisa melihat beberapa aktivitas random yang sedang dalam kondisi&nbsp;<em>slow motion&nbsp;</em>sebelum terkena efek ledakan bom nuklir. Genrenya sendiri menurut Penulis masuk ke dalam&nbsp;<em>pop-rock</em>.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>Empty Space</strong> </em>di mana kita bisa mendengarkan suara jangkrik dan semacam suara pertempuran. Lagu ini&nbsp;berfungsi sebagai <em>interlude&nbsp;</em>untuk lagu selanjutnya,&nbsp;<strong><em>When They Come for Me</em></strong>.</p>



<p>Lagu tersebut diawali dengan <em>distorted synth stabs </em>yang unik. Mike mendominasi lagu ini dengan <em>rap-</em>nya sehingga lagu ini terkesan bergenre&nbsp;<em>hip-hop</em>.</p>



<p>Semua personel menjadi <em>backing vocal</em>, sementara Chester hanya memiliki sedikit bagian di bagian akhir lagu. Ada juga suara yang dihasilkan toa, yang kalau di dalam konser berasal dari suara Brad.</p>



<p><em>Beat </em>drum juga terdengar sepanjang lagu. Ketika konser, Chester dan Brad menjadi penabuhnya. Yang jelas, lagu ini benar-benar terdengar seperti hasil eksperimen yang ekstrem.</p>



<p><em>Track&nbsp;</em>nomor enam adalah <em><strong>Robot Boy</strong>&nbsp;</em>yang kurang Penulis sukai. Lagu ini diawali dengan dentingan piano dan vokal Chester yang lembut. Ketika lagu berakhir, terdengar sedikit intro dari lagu selanjutnya, <strong><em>Jornada Del Muerto</em></strong>.</p>



<p>Lagu ini menggunakan Bahasa Spanyol sebagai judul, namun liriknya menggunakan Bahasa Jepang. Hal tersebut membuat lagu ini menjadi satu-satunya lagu Linkin Park yang menggunakan judul dan lirik bahasa asing selain Bahasa Inggris.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Waiting For The End [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5qF_qbaWt3Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Jornada Del Muerto&nbsp;</em>merupakan lagu transisi untuk lagu selanjutnya,&nbsp;<em><strong>Waiting for the End</strong>,&nbsp;</em>yang menjadi lagu favorit Penulis dari album ini.</p>



<p>Apa yang membuat Penulis suka dari lagu ini adalah banyaknya permainan&nbsp;<em>synth,&nbsp;</em><em>rap&nbsp;</em>dari Mike, serta vokal tinggi Chester di bagian akhir lagu. Klimaksnya sangat terasa.</p>



<p>Bagi Penulis, lagu ini terdengar seperti versi modern lagu <em>Papercut</em>. Selain itu, Penulis juga sangat menyukai konsep video klipnya yang sangat keren.</p>



<p>Lagu&nbsp;<em><strong>Blackout</strong></em> menjadi satu-satunya lagu di dalam album ini di mana Chester melakukan&nbsp;<em>screaming</em>. Bisa dibilang, ini merupakan salah satu lagu terunik selain lagu&nbsp;<em>When They Come for Me.</em></p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>Wretches and Kings</strong>&nbsp;</em>yang diawali dengan pidato dari Mario Savio mengenai betapa menjijikkannya perkembangan teknologi.</p>



<p>Lagu ini juga memiliki banyak efek yang unik. Mike juga melakukan&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>di lagu ini. Yang menyenangkan dari lagu ini, Penulis bisa mendengar gesekan&nbsp;<em>turntables&nbsp;</em>Mr. Han sekali lagi.</p>



<p>Kita juga akan mendengarkan pidato dari Martin Luther King Jr. pada lagu <em><strong>Wisdom, Justice, and Love</strong>,</em> di mana suara Martin makin lama makin terdengar seperti suara robot menjelang akhir lagu.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Iridescent [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/xLYiIBCN9ec?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Pesan tersirat dari efek tersebut masyarakat kita yang semakin lama semakin kehilangan empatinya seperti robot.&nbsp;Lagu ini merupakan transisi untuk lagu selanjutnya,&nbsp;<em><strong>Iridescent</strong>.</em></p>



<p>Lagu ini merupakan&nbsp;<em>soundtrack&nbsp;</em>dari film&nbsp;<em>Transformers: Dark of the Moon.&nbsp;</em>Lagu ini terdengar sangat&nbsp;<em>ballad&nbsp;</em>jika dibandingkan dengan lagu Linkin Park yang lain. Selain itu, liriknya juga masih terkait dengan ancaman bom nuklir.</p>



<p>Kemudian ada lagu <strong><em>The Fallout</em></strong> yang liriknya diambil dari lirik lagu&nbsp;<em>Burning in the Skies</em>. Sekali lagi, Mike menyanyikannya dengan menggunakan&nbsp;<em>vocoder&nbsp;</em>sehingga suaranya berubah.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="The Catalyst [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/51iquRYKPbs?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu tersebut merupakan transisi untuk lagu selanjutnya,&nbsp;<strong><em>The Catalyst</em></strong>. Lagu ini diawali dengan gesekan&nbsp;<em>turntable&nbsp;</em>yang sangat asyik untuk didengarkan, lantas disambung dengan suara vokal Mike dan Chester.</p>



<p>Sebagai&nbsp;<em>single&nbsp;</em>pertama dari album, lagu ini dianggap sebagai representasi sempurna untuk menggambarkan perubahan band. Durasinya cukup panjang, lima setengah menit.</p>



<p>Album ditutup dengan album&nbsp;<em><strong>The Messenger</strong>&nbsp;</em>yang menjadi satu-satunya lagu akustik di semua album Linkin Park. Penulis kurang menyukai lagu ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Jika didengarkan, mungkin album ini terasa aneh karena banyaknya perbedaan yang dimiliki dengan album-album sebelumnya. Sekali lagi Linkin Park memutuskan untuk keluar dari zona nyaman.</p>



<p>Lebih banyak eksperimen musik yang dilakukan para personelnya di dalam album ini. Banyak instrumental yang terdengar, membuat album ini tidak bisa disamakan dengan album lain.</p>



<p>Selain itu, album ini memiliki transisi terbanyak dari lagu ke lagu, membuat album ini seolah-olah tersambung dari lagu pertama hingga lagu terakhir. Itu menjadi poin plus lainnya untuk album ini.</p>



<p>Setelah album ini, Penulis mulai mendengarkan musik-musik Korea hingga tak sadar kalau Linkin mengeluarkan album baru lagi dua tahun kemudian.</p>



<p>Album selanjutnya, <em><strong>Living Things</strong>.&nbsp;Stay tuned!</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 22 Maret 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/Thousand-Suns-2LP-Linkin-Park/dp/B003V9J6R0">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">Linkin Park dan A Thousand Suns</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan Minutes to Midnight</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2020 16:32:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Hybrid Theory]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[Minutes to Midnight]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3657</guid>

					<description><![CDATA[<p>Empat tahun semenjak rilisnya album&#160;Meteora, barulah Linkin Park merilis album ketiga mereka,&#160;Minutes to Midnight. Untuk sebuah band, jangka waktu tersebut cukup lah panjang. Dalam periode tersebut Linkin Park memiliki beberapa proyek lain seperti album kolaborasi dengan Jay Z berjudul&#160;Collision Course yang rilis pada tahun 2006.&#160;Mike Shinoda juga memiliki band sampingan bernama&#160;Fort Minor. Walaupun begitu, fans [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/">Linkin Park dan Minutes to Midnight</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Empat tahun semenjak rilisnya album&nbsp;<em>Meteora</em>, barulah Linkin Park merilis album ketiga mereka,&nbsp;<strong><em>Minutes to Midnight</em></strong>. Untuk sebuah band, jangka waktu tersebut cukup lah panjang.</p>



<p>Dalam periode tersebut Linkin Park memiliki beberapa proyek lain seperti album kolaborasi dengan Jay Z berjudul&nbsp;<em>Collision Course </em>yang rilis pada tahun 2006<em>.&nbsp;</em>Mike Shinoda juga memiliki band sampingan bernama&nbsp;Fort Minor.</p>



<p>Walaupun begitu, fans menginginkan sebuah album baru dari band ini dan Linkin Park menjawabnya dengan album ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Awal Mula Perubahan</h1>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung pada tulisan sebelumnya, album memiliki perbedaan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan dua album sebelumnya.</p>



<p>Sudah tidak ada lagi lagu-lagu sejenis <em>Papercut&nbsp;</em>ataupun&nbsp;<em>Somewhere I Belong</em>. Sebagai gantinya, album ini mengusung genre&nbsp;<em>alternative rock&nbsp;</em>dan <em>alternative metal</em>.</p>



<p>Hal ini terlihat dari tidak adanya lagu &#8220;paket lengkap&#8221; seperti di album-album sebelumnya. Mike hanya melakukan&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>di dua lagu, yakni&nbsp;<em>Bleed It Out&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Hands Held High</em>.</p>



<p>Selain itu, permainan DJ dari Mr. Han juga jauh berkurang. Tidak terdengar lagi gesekan&nbsp;<em>turntable&nbsp;</em>yang sangat Penulis sukai dari lagu-lagu Linkin Park yang lama (ada sedikit di lagu <em>What I&#8217;ve Done</em>).</p>



<p>Oleh karena itu, sebenarnya album ini merupakan album yang kurang Penulis sukai.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu&nbsp;<em>Minutes to Midnight</em></h1>



<p>Meskipun kurang suka, Penulis tetap mendengarkan lagu-lagu yang ada di dalamnya. Lagu pertama yang ada di dalam album ini adalah&nbsp;<em><strong>Wake</strong>&nbsp;</em>yang berperan sebagai intro.</p>



<p>Berbeda dengan lagu <em>Foreword </em>yang tidak terdengar seperti lagu, lagu ini memiliki instrumen rock yang lumayan&nbsp;<em>catchy&nbsp;</em>di telinga. Album langsung disambung dengan lagu&nbsp;<strong><em>Given Up</em></strong>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Given Up [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/0xyxtzD54rM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Bisa dibilang, lagu ini terdengar sangat keras. Apalagi, Chester melakukan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>yang cukup panjang sebelum <em>reff</em> terakhir. Tidak ada lagu semacam ini di album-album sebelumnya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Leave Out All The Rest [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/yZIummTz9mM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>Leave Out All the Rest</strong>&nbsp;</em>yang video klipnya cukup keren, di mana para personelnya digambarkan sedang melakukan perjalanan ke matahari. Liriknya juga begitu kuat dan penuh makna.</p>



<p>Berbeda dengan lagu sebelumnya, lagu ini terdengar lebih lembut. Vokal Chester yang biasanya berteriak sama sekali tidak muncul. Di lagu-lagu selanjutnya, Chester akan lebih banyak bernyanyi seperti ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Bleed It Out [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/OnuuYcqhzCE?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu&nbsp;<em><strong>Bleed It Out</strong>&nbsp;</em>merupakan satu-satunya lagu dari album ini yang masih bertahan di&nbsp;<em>top playlist&nbsp;</em>Penulis. Selain karena ada&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>dari Mike, Chester juga melakukan&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>lagi. Lagunya juga tergolong pendek, di bawah tiga menit.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Shadow Of The Day [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/n1PCW0C1aiM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Album berlanjut dengan lagu&nbsp;<em><strong>Shadow of the Day</strong>&nbsp;</em>yang sarat akan makna perdamaian. Sama seperti lagu&nbsp;<em>From the Inside&nbsp;</em>dari album&nbsp;<em>Meteora</em>, lagu ini juga memiliki video klip dengan tema pertikaian antara sipil dan militer/kepolisian.</p>



<p>Penulis pernah membaca, lagu ini memiliki makna bahwa peperangan yang terjadi di segala penjuru dunia membuat kita bisa tidak melihat lagi hari esok. Ancaman bom nuklir yang bisa meledak pada tengah malam benar-benar nyata.</p>



<p>Pemilihan nama untuk album ini kalau tidak salah juga memiliki alasan yang sama.&nbsp;Lagu ini menjadi salah satu favorit Penulis dari album ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="What I&#039;ve Done [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/8sgycukafqQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Di antara semua&nbsp;<em>track&nbsp;</em>yang ada di dalam album ini, yang paling terkenal tentu saja&nbsp;<strong><em>What I&#8217;ve Done</em></strong>. Bagaimana tidak, lagu ini menjadi&nbsp;<em>soundtrack&nbsp;</em>film&nbsp;<em>Transformers.</em></p>



<p>Video klip ini menampilkan cuplikan-cuplikan permasalahan global yang, anehnya, masih terjadi hingga hari ini. Bahkan, bisa lebih buruk dibandingkan ketika lagu ini rilis.</p>



<p>Meskipun termasuk lagu Linkin Park pertama yang didengarkan, Penulis tidak terlalu menyukai lagu ini. Kurang cocok dengan selera musik Penulis.</p>



<p>Perdamaian juga menjadi tema utama dari lagu&nbsp;<em><strong>Hands Held High</strong>. </em>Melalui lagu ini, Linkin Park mengkritik invasi Amerika Serikat ke negara lain. Hal ini bisa dilihat dari liriknya.</p>



<p>Lagu&nbsp;<em><strong>No More Sorrow</strong>&nbsp;</em>merupakan lagu keras lainnya di album ini selain&nbsp;<em>Given Up&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Bleed It Out.&nbsp;</em>Lagu ini juga termasuk lagu yang sering dimainkan ketika band ini melakukan konser.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<strong><em>Valentine&#8217;s Day</em></strong> yang terdengar cukup pop. Lalu ada&nbsp;<em><strong>In Between</strong>&nbsp;</em>yang menjadi debut pertama Mike menjadi vokalis utama untuk band ini (bukan sebagai <em>rapper</em>).</p>



<p>Banyak fans yang kurang menyukai lagu ini, walaupun Penulis lumayan menyukainya. Mungkin karena itu, Mike tidak pernah menjadi vokalis utama lagi hingga album&nbsp;<em>One More Light&nbsp;</em>rilis.</p>



<p>Dua lagu terakhir di album ini adalah&nbsp;<strong><em>In Pieces</em></strong> dan <em><strong>The Little Things Give You Away</strong>&nbsp;</em>yang menjadi salah satu lagu terpanjang Linkin Park dengan durasi lebih dari enam menit.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p><em>FYI</em>, album&nbsp;<em>Minutes to Midnight</em>&nbsp;menjadi album pertama Linkin Park yang menggunakan kata-kata kotor. Album ini juga menjadi satu-satunya album yang menggunakan foto personel sebagai <em>cover&nbsp;</em>album.</p>



<p>Banyak eksperimen musik yang dilakukan oleh Linkin Park pada album ini. Oleh karena itu, banyak elemen baru yang dapat ditemukan pada album ini.</p>



<p>Album ini merupakan hasil evolusi Linkin Park yang tidak ingin terjebak di zona nyaman. Banyak sekali ciri khas mereka di dua album sebelumnya yang hilang, sehingga fans pun ada yang mengajukan protes.</p>



<p>Evolusi ini terus dilakukan hingga kita bisa melihat perbedaan dari album ke album. Apalagi, evolusi dari album ini ke album selanjutnya bisa dibilang mengalami perubahan yang cukup drastis.</p>



<p>Album Selanjutnya,&nbsp;<em><strong>A Thousand Suns</strong>. Stay tuned!</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 14 Maret 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/Minutes-Midnight-Linkin-Park/dp/B000OCXMAE">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/">Linkin Park dan Minutes to Midnight</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan Meteora</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2020 16:47:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[Meteora]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3628</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di antara semua album Linkin Park, yang menjadi favorit adalah Meteora. Dirilis pada tahun 2003, banyak lagu-lagu favorit Penulis yang berasal dari album ini. Selain itu, dua dari tiga lagu Linkin Park pertama yang Penulis dengarkan berasal dari album ini:&#160;Somewhere I Belong dan Faint. Walaupun begitu, pada akhirnya Penulis memutuskan untuk menomorsatukan lagu lain dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/">Linkin Park dan Meteora</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di antara semua album Linkin Park, yang menjadi favorit adalah <strong><em>Meteora</em></strong>. Dirilis pada tahun 2003, banyak lagu-lagu favorit Penulis yang berasal dari album ini.</p>



<p>Selain itu, dua dari tiga lagu Linkin Park pertama yang Penulis dengarkan berasal dari album ini:&nbsp;<em>Somewhere I Belong </em>dan <em>Faint</em>. Walaupun begitu, pada akhirnya Penulis memutuskan untuk menomorsatukan lagu lain dari album ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Kenapa Namanya&nbsp;<em>Meteora</em>?</h1>



<p>Mendengar nama albumnya, mungkin kita akan merasa penasaran dengan artinya. Apakah ada hubungannya dengan meteor? Ternyata bukan.</p>



<figure class="wp-block-image alignnone size-large wp-image-3631"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="607" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/meteora-1-1024x607.jpg" alt="" class="wp-image-3631" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/meteora-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/meteora-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/meteora-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/meteora-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Meteora, Yunani (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.klook.com/id/activity/6049-day-tour-meteora-train-athens/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCKjano-qi-gCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Kunjungi Klook"><span class="pM4Snf">Klook</span></a>)</figcaption></figure>



<p>Dari beberapa sumber yang pernah Penulis baca, <em>Meteora&nbsp;</em>diambil dari sebuah tempat suci (semacam biara) di Yunani. Penulis tidak mengetahui alasan pemilihan tempat tersebut.</p>



<p>Album ini terdengar sama seperti pendahulunya,&nbsp;<a href="https://whathefan.com/musikfilm/linkin-park-dan-hybrid-theory/"><em>Hybrid Theory</em></a>, di mana ketika mendengarkan lagunya kita tahu kalau lagu tersebut merupakan lagu Linkin Park.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu <em>Meteora</em></h1>



<p>Album ini berisikan 13 lagu, meskipun&nbsp;<em>track</em> nomor satu, <em>Foreword,&nbsp;</em>hanya terdengar seperti suara dentingan besi. Durasinya pun super singkat, hanya beberapa detik. Mungkin lagu ini dimaksudkan sebagai intro album.</p>



<p>Lagu langsung disambung dengan&nbsp;<em>Don&#8217;t Stay</em>. Pada lagu ini, kita hanya akan mendengarkan vokal Chester yang kuat. Yang membuat Penulis lumayan menyukai lagu ini apalagi kalau bukan gesekan&nbsp;<em>turntables&nbsp;</em>dari Mr. Han.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Somewhere I Belong [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/zsCD5XCu6CM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em>Somewhere I Belong&nbsp;</em>yang sangat terkenal. Penulis masih sangat menyukai lagu ini karena memiliki paket lengkap:&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>Mike, vokal kuat dari Chester, gesekan DJ, dan iringan musik yang keras.</p>



<p>Selain lagunya, Penulis juga menyukai konsep video klipnya yang pada bagian awal menunjukkan kamar minimalis ala Jepang dan ada Gundamnya. Keinginan <a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">Penulis memiliki Gundam</a> mungkin berawal dari video klip ini.</p>



<p><em>Lying from You&nbsp;</em>merupakan paket lengkap lainnya yang mendapatkan bintang 5 dari Penulis. Lagu ini terdengar lebih keras karena Chester berteriak pada lagu ini. Sayang, lagu ini tidak memiliki video klip.</p>



<p>Lagu kelima dari album ini adalah&nbsp;<em>Hit the Floor</em> yang terdengar sangat keras. Lagu ini termasuk yang paling jarang dinyanyikan Linkin Park ketika konser.</p>



<p>Lagu selanjutnya,&nbsp;<em>Easier to Run</em>, juga termasuk jarang dinyanyikan. Padahal, Penulis sangat menyukainya,terutama karena liriknya yang terkesan suram dan depresif. Penulis sempat membuat <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/lebih-mudah-untuk-lari/">artikel yang terinspirasi dari judul lagu</a> ini.</p>



<p>Justru lagu selanjutnya,&nbsp;<em>Faint</em>, yang termasuk sering ada di konser. Maklum, lagu ini menjadi salah satu lagu Linkin Park yang paling terkenal walau Penulis hanya menyukai sekadarnya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
 <iframe loading="lazy" title="Breaking The Habit [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/v2H4l9RpkwM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis tidak terlalu menyukai lagu&nbsp;<em>Figure&nbsp;</em>walau masih bisa menikmatinya. Beda cerita dengan lagu selanjutnya,&nbsp;<em>Breaking the Habit</em>, lagu terkenal Linkin Park lainnya.</p>



<p>Dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya, lagu ini terdengar lebih &#8220;lembut&#8221;. Bahkan sepanjang lagu kita tidak akan mendengarkan&nbsp;<em>genjrengan&nbsp;</em>gitar keras seperti biasanya.</p>



<p>Vokal tinggi Chester dipamerkan di bagian <em>bridge </em>lagu. Biasanya kalau konser, Chester akan menyanyikan <em>reff</em>-nya tanpa diiringi musik yang akan memukau penonton. Sebagai tambahan, video klip dengan gaya animasi yang dimiliki juga sangat keren.</p>



<p>Setelah&nbsp;<em>Breaking the Habit</em>. ada lagu&nbsp;<em>From the Inside&nbsp;</em>yang juga menjadi salah satu favorit Penulis. Lagu ini termasuk paket lengkap plus&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>dari Chester.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="From The Inside [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/YLHpvjrFpe0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Video klipnya juga meninggalkan kesan untuk Penulis, di mana kita akan melihat anak kecil yang seolah terjebak dalam situasi rusuh di kotanya. Lagu ini benar-benar&nbsp;<em>badass</em>.</p>



<p>Album berlanjut dengan lagu&nbsp;<em>Nobody Listening&nbsp;</em>yang kesannya Jepang banget. Penulis memaklumi hal ini karena Mike Shinoda merupakan keturunan Jepang.</p>



<p>Jika di album&nbsp;<em>Hybrid Theory&nbsp;</em>ada lagu&nbsp;<em>Cure for the Itch&nbsp;</em>sebagai lagu instrumental, maka&nbsp;<em>Meteora&nbsp;</em>memiliki lagu&nbsp;<em>Session</em>. Di sini, kemampuan Mr. Han sebagai DJ benar-benar terdengar.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Numb [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kXYiU_JCYtU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Nah, lagu penutup dari album ini merupakan lagu nomor satu Penulis dari Linkin Park. Sampai kapanpun, posisinya tidak akan tergantikan oleh lagu lain.&nbsp;<em>Numb&nbsp;</em>menjadi lagu terakhir dari album&nbsp;<em>Meteora</em>.</p>



<p>Mungkin lagu ini tidak termasuk paket lengkap seperti&nbsp;<em>Somewhere I Belong&nbsp;</em>atau&nbsp;<em>Lying from You</em> karena tidak ada&nbsp;<em>rap.&nbsp;</em>Hanya ada suara Mike sebagai&nbsp;<em>backing vocal&nbsp;</em>di bagian&nbsp;<em>bridge.</em></p>



<p>Pada tulisan sebelumnya, Penulis mengatakan bahwa dirinya merupakan tipe yang mendengarkan musik tanpa terlalu memedulikan lirik. Beda kasus dengan lagu ini yang liriknya benar-benar Penulis perhatikan.</p>



<p>Penulis menangkap kalau lagu ini berusaha menggambarkan seseorang yang telah lelah menjadi orang lain hingga kehilangan jati dirinya sendiri. Hal ini diperkuat oleh video klipnya.</p>



<p>Bisa dibilang lagu ini merupakan lagu yang paling sering membuat Penulis menangis. Padahal Penulis tidak merasa terlalu&nbsp;<em>related&nbsp;</em>dengan lagu ini, mungkin karena merasa terbawa oleh lagunya saja.</p>



<p>Ketika konser memperingati kematian Chester, Linkin Park memainkan lagu ini tanpa suara vokal. Suara penonton yang menjadi penggantinya. Saat melihatnya, air mata Penulis jatuh begitu saja.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p><em>Meteora </em>merupakan album favorit Penulis dari Linkin Park, atau bahkan album favorit dari semua grup musik. Komposisi daftar lagu yang ada di dalamnya benar-benar cocok dengan selera Penulis.</p>



<p>Apalagi, setelah album ini Linkin Park seperti mengalami perubahan genre musik. Mike Shinoda pada satu kesempatan menyebutnya sebagai proses evolusi band.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis tetap mendengarkan semua lagu yang dikeluarkan oleh Linkin Park sembari tetap mendengarkan lagu-lagu yang telah melambungkan nama mereka.</p>



<p>Album selanjutnya,&nbsp;<em>Minutes to Midnight. Stay tuned!</em></p>



<p><em><strong>NB:</strong></em><strong>&nbsp;</strong>Ketika menulis artikel ini, Penulis menonton ulang video klip yang berasal dari album ini. Ketika sampai di lagu Numb, Penulis kembali menangis.</p>



<p>Kebayoran Lama, 8 Maret 2020, terinspirasi karena ingin menulis sesuatu tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/Meteora-Linkin-Park/dp/B00008H2LB">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/">Linkin Park dan Meteora</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Linkin Park dan Hybrid Theory</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-hybrid-theory/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2020 04:03:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Hybrid Theory]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3576</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa kesempatan, Penulis sering menyebutkan bahwa band favoritnya adalah Linkin Park dan tidak akan tergantikan. Meskipun kini lebih sering mendengarkan One Ok Rock, Linkin Park akan selalu memiliki tempat di hati. Oleh karena itu mulai dari tulisan ini, Penulis akan memberikan semacam ulasan dan pendapat mengenai album-album yang dikeluarkan oleh Linkin Park, mulai dari&#160;Hybrid [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Linkin Park dan Hybrid Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa kesempatan, Penulis sering menyebutkan bahwa band favoritnya adalah Linkin Park dan tidak akan tergantikan. Meskipun kini lebih sering mendengarkan One Ok Rock, Linkin Park akan selalu memiliki tempat di hati.</p>



<p>Oleh karena itu mulai dari tulisan ini, Penulis akan memberikan semacam ulasan dan pendapat mengenai album-album yang dikeluarkan oleh Linkin Park, mulai dari&nbsp;<em>Hybrid Theory&nbsp;</em>hingga <em>One More Light</em>.</p>



<p>Sebagai tulisan pembuka, maka kali ini Penulis akan membahas mengenai album pertama mereka,&nbsp;<strong><em>Hybrid Theory</em></strong>.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Awal Pertemuan</h1>



<p>Meskipun berstatus sebagai album pertama, lagu-lagu yang ada di album&nbsp;<em>Hybrid Theory&nbsp;</em>bukanlah lagu Linkin Park pertama yang Penulis dengarkan.</p>



<p>Kalau tidak salah, empat lagu pertama yang Penulis dengarkan adalah&nbsp;<em>Somewhere I Belong, Faint</em> (dua-duanya dari album <em>Meteora</em><em>), What I&#8217;ve Done (Minutes to Midnight),&nbsp;</em>dan <em>Numb-Encore</em> yang merupakan hasil kolaborasi dengan&nbsp;<em>rapper&nbsp;</em>Jay-Z.</p>



<p>Penulis juga ingat sewaktu SMP meminjam CD dari teman yang menunjukkan konser Linkin Park bertajuk&nbsp;<em>Live in Texas</em>. Saat menontonnya waktu itu, masih banyak lagu Linkin Park yang tidak Penulis ketahui.</p>



<p>Penulis semakin mengenali lagu-lagu Linkin Park setelah mendapatkan lagu-lagunya yang lain dari kakak sepupu yang juga merupakan penggemar Linkin Park. Nah, dari sinilah Penulis mulai mendengarkan lagu-lagu dari album ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu&nbsp;<em>Hybrid Theory</em></h1>



<p>Dirilis pada tahun 2000, album ini memiliki 12 lagu di dalamnya. Beberapa lagu akan terdengar <em>nyambung </em>jika dimainkan secara berurutan. Sampai album&nbsp;<em>A Hunting Party&nbsp;</em>yang rilis tahun 2014, ciri khas ini dipertahankan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Papercut [Official HD Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/vjVkXlxsO8Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu pembuka dari album ini adalah&nbsp;<strong><em>Papercut</em></strong> yang juga menjadi lagu favorit Penulis dari album ini. Di sini, kemampuan&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>Mike lebih menonjol ketimbang vokal Chester.</p>



<p>Penulis sangat suka lirik di bagian terakhir, yang bagi Penulis sangat puitis: <em>The sun goes down; I feel the light betray me.</em></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="One Step Closer [Official HD Music Video] - Linkin Park" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/4qlCC1GOwFw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em><strong>One Step Closer</strong>&nbsp;</em>mungkin lebih terkenal dari lagu sebelumnya, di mana video klipnya juga terlihat lebih metal dibandingkan dengan&nbsp;<em>single&nbsp;</em>lain di album ini. Unsur&nbsp;<em>screaming&nbsp;</em>juga ada di lagu ini, sehingga cocok untuk dinyanyikan ketika sedang ada masalah.</p>



<p>Lagu&nbsp;<em><strong>With You</strong>&nbsp;</em>menjadi menarik karena banyak sekali gesekan&nbsp;<em>turntable&nbsp;</em>dari Mr. Han. Penulis menyukai musik-musik yang memiliki unsur DJ ala 2000-an seperti ini. Ketika konser di Texas, Penulis bisa melihat aksi Mr. Han ketika mereka memainkan lagu ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Crawling [Official HD Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/Gd9OhYroLN0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Kalau lagu&nbsp;<strong><em>Crawling</em></strong>, pasti banyak yang pernah mendengar. Di sini, kekuatan vokal Chester benar-benar terdengar. Kabarnya, lagu ini terinspirasi dari pengalaman Chester yang kecanduan obat-obatan dan alkohol.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>Points of Authority</strong>, <strong>Runaway</strong>,&nbsp;</em>dan&nbsp;<em><strong>By Myself</strong>&nbsp;</em>yang termasuk ke dalam kategori biasa saja bagi Penulis. Tetap didengarkan, namun tidak ada kesan istimewa.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="In The End [Official HD Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/eVTXPUF4Oz4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Di antara semua lagu yang ada di album ini, mungkin yang paling terkenal adalah&nbsp;<strong><em>In the End</em></strong>. Ketika mendengarkan lagu ini, orang-orang akan segera sadar kalau lagu inilah yang membuat Linkin Park dikenal sebagai Linkin Park.</p>



<p>Diawali dengan dentingan suara <em>piano riff&nbsp;</em>yang khas, kita akan melihat rap Mike lumayan mendominasi walaupun tidak sebanyak di lagu&nbsp;<em>Papercut</em>. Vokal Chester akan kita dengarkan di bagian&nbsp;<em>reff.</em></p>



<p>Lalu ada lagu&nbsp;<em><strong>A Place for My Head</strong>&nbsp;</em>yang bagi Penulis menjadi lagu paling keras di antara lagu-lagu lain di album ini. Chester berteriak cukup panjang di lagu ini.</p>



<p>Pada awalnya, Penulis tidak menyukai lagi&nbsp;<em><strong>Forgotten</strong>&nbsp;</em>sama sekali. Setelah didengarkan secara saksama, ternyata lagu ini cukup enak dan unik. Lagu ini dilanjutkan <em><strong>Cure for the Itch</strong>&nbsp;</em>yang memamerkan kemampuan Mr. Han sebagai seorang DJ.</p>



<p>Album ini ditutup dengan lagu&nbsp;<em><strong>Pushing Me Away</strong>&nbsp;</em>yang enak didengar. Ketika konser di Texas, Linkin Park memainkan lagu ini dengan versi album&nbsp;<em>Reanimation,&nbsp;</em>namun itu cerita untuk lain kali.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Penutup</h3>



<p>Satu fakta menarik, nama&nbsp;<em>Hybrid Theory&nbsp;</em>sendiri sebenarnya hampir menjadi nama band sebelum akhirnya menjadi Linkin Park. Pada akhirnya nama tersebut menjadi nama album pertama dari Linkin Park.</p>



<p>Sebagai album pertama,&nbsp;<em>Hybrid Theory&nbsp;</em>kerap menjadi patokan bagaimana musikalitas Linkin Park sebagai band. Ada yang menganggap album ini bergenre <em>nu metal</em>, <em>rap metal</em>, <em>alternative metal</em>, <em>rap rock</em>, hingga <em>alternative rock</em>.</p>



<p>Oleh karena itu, banyak fans yang mempertanyakan jati diri Linkin Park semenjak album&nbsp;<em>A Thousand Suns&nbsp;</em>rilis di tahun 2010. Padahal, mereka hanya ingin berevolusi. Penulis akan membahas ini lebih dalam di tulisan selanjutnya.</p>



<p>Yang jelas, album ini di tahun 2000-an menjadi semacam penanda kemunculan band Linkin Park yang dengan cepat mendapatkan popularitasnya dan loyalitas penggemar, termasuk dari Penulis.</p>



<p>Minggu depan, Penulis akan membahas album <em>Meteora </em>yang rilis pada tahun 2003<em>.&nbsp;Stay tuned!</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 1 Maret 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: Amazon</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Linkin Park dan Hybrid Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
