<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>fiksi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/fiksi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Aug 2024 16:08:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>fiksi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/fiksi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Aug 2024 16:06:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7716</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sudah cukup lama sejak Penulis terakhir kali membaca novel karya Tere Liye. Setelah meninggalkan seri Bumi karena sudah tidak sanggup mengikuti semestanya yang seolah meluas tanpa batas, buku terakhir yang Penulis baca adalah Bedebah di Ujung Tanduk. Setelah di novel Janji Penulis sudah sedikit memuji Tere Liye, Penulis kembali ngomel-ngomel setelah membaca Bedebah di Ujung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/">[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sudah cukup lama sejak Penulis terakhir kali membaca novel karya <strong>Tere Liye</strong>. Setelah meninggalkan seri Bumi karena sudah tidak sanggup mengikuti semestanya yang seolah meluas tanpa batas, buku terakhir yang Penulis baca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/">Bedebah di Ujung Tanduk</a></em>.</p>



<p>Setelah di novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Janji</a> </em>Penulis sudah sedikit memuji Tere Liye, Penulis kembali ngomel-ngomel setelah membaca <em>Bedebah di Ujung Tanduk</em> karena beberapa hal. Alhasil, Penulis (sekali lagi) memutuskan untuk berhenti membaca novel karya Tere Liye. </p>



<p>Namun, keputusan tersebut goyah ketika Penulis membaca twit dari Ernest Prakasa pada bulan Februari lalu. Ia mengatakan kalau novel berjudul <em><strong>Teruslah Bodoh Jangan Pintar </strong></em>ini &#8220;terlalu berani&#8221; sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi Penulis. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<p>Novel bertema politik ini rilis berdekatan dengan <a href="https://whathefan.com/politik-negara/mengamati-pilpres-2024-bagian-1-antara-perubahan-dan-keberlanjutan/">pemilihan presiden</a>, sehingga banyak yang mengaitkan novel ini dengan kejadian di dunia nyata. Apakah itu benar? Hanya Tere Liye yang bisa menjawabnya. </p>



<p>Yang jelas, setelah membaca buku ini, mata kita seolah dibuka untuk minimal mengetahui realita yang selama ini tidak tersorot.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Teruslah Bodoh Jangan Pintar</em></li>



<li>Penulis: Tere Liye</li>



<li>Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara</li>



<li>Cetakan: Kedua</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2024</li>



<li>Tebal: 371 halaman</li>



<li>ISBN: 9786238882205</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<p><em>Saat hukum dan kekuasaan dipegang oleh serigala-serigala buas berbulu domba.<br>Saat seluruh negeri dikangkangi orang-orang jualan sok sederhana tapi sejatinya serakah.<br>Apakah kalian akan tutup mata, tutup mulut, tidak peduli dengan apa yang terjadi?<br>Atau kalian akan mengepalkan tangan ke udara, LAWAN!</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<p>Kebanyakan sinopsis buku-buku Tere Liye tidak terlalu menjelaskan apa isi bukunya, seolah ingin menyimpan suatu rahasia yang baru terungkap setelah kita membaca bukunya. Buku ini salah satunya, yang bisa dilihat pada satu paragraf di atas.</p>



<p>Setelah dibuka, ternyata novel ini bercerita tentang persidangan tertutup yang dilakukan oleh para aktivis melawan korporat milik Tuan Liem (PT Semesta Minerals &amp; Minings) yang dituduh melakukan berbagai hal ilegal dan pencemaran lingkungan. Ini merupakan <em>scene </em>yang tak asing, bukan?</p>



<p>Alur ceritanya sendiri maju-mundur, di mana ketika saksi memberikan kesaksian, maka kita akan dibawa <em>flashback </em>ke masa lalu. Format ini selalu berulang di setiap saksi agar memberi kita gambaran mengenai kasus atau masalah yang sedang disidangkan.</p>



<p>Ada banyak sekali saksi yang dihadirkan oleh kedua belah pihak, di mana biasanya pihak tergugat seolah bisa membaca strategi pihak penuntut. Akibatnya, pihak penutut lebih sering kalah daripada menang, karena tim pembela tergugat dipimpin oleh pengacara paling top.</p>



<p>Pada akhirnya, sesuai dugaan, pihak tergugat berhasil memenangkan pengadilan dan berhak untuk melanjutkan proyek yang sedang dikerjakan. Sengaja Penulis menulis bagian akhirnya karena di realita, hal tersebut terlalu sering terjadi, sehingga rasanya tak layak menjadi <em>spoiler</em>. Namun, itu bukan akhir dari cerita di novel ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<p>Tidak ada kisah manusia biasa dengan kemampuan super. Tidak ada adegan aksi yang menegangkan. Novel ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Menurut Penulis, Tere Liye berhasil menjahit beberapa kejadian nyata seolah menjadi sebuah fiksi pada novel ini, bukan sebaliknya. </p>



<p>Dengan mudah kita akan mengaitkan nama toko di buku ini dengan tokoh di dunia nyata. Penulis yakin, ada nama yang langsung terbesit di pikiran Pembaca begitu mengetahui karakter seperti Bacok dan Hotma Cornelius. Penulis tidak akan menyebutkan nama mereka di sini.</p>



<p>Dalam realita, uang dan kekuasaan selalu menjadi poin penting untuk bisa menjadi pemenang. Hal ini terlihat dari kemenangan PT Semesta yang dilakukan dengan menyogok para juri, selain mengumpulkan berbagai dokumen untuk membantah semua tuduhan yang diarahkan ke mereka.</p>



<p>Bagi yang kerap mengikuti berita-berita seputar konflik agraria, hilirisasi, atau kerusakan lingkungan, mungkin hal yang disajikan bukan hal baru. Namun, novel ini bisa membuka mata bagi mereka yang selama ini belum terlalu mengikutinya.</p>



<p>Konflik-konflik yang dihadirkan sebenarnya cukup berat, tapi Tere Liye mampu menghadirkannya dengan bahasa mudah sehingga kita yang awam dan tidak <em>related </em>mampu memahami situasinya. Di setiap kasus, kita akan dibuat geram dengan kejadian yang ada.</p>



<p>Penulis sempat mengkritik Tere Liye di novel <em>Bedebah di Ujung Tanduk </em>karena risetnya terlalu dangkal. Namun, di novel ini bisa dibilang ia melakukan riset yang cukup detail. Penulis akan percaya jika ia telah mewawancarai korban-korban konflik agraria dan lingkungan yang dalam 10 tahun terakhir kerap terjadi.</p>



<p>Bagi Penulis sendiri, konflik agraria dan kerusakan memang menjadi topik yang Penulis perhatikan. Walau tak ada kontribusi yang bisa Penulis lakukan untuk membantu para korban, setidaknya Penulis merasa perlu untuk tahu dan menyebarkan <em>awareness </em>kepada masyarakat yang lebih luas.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merasa kalau novel ini mampu membuka mata kita mengenai konflik-konflik yang sedang dihadapi oleh saudara-saudara kita yang ada jauh di sana. Masalah yang mereka hadapi sama sekali tidak ringan, mereka tertindas di tempat tinggal mereka sendiri.</p>



<p>Sayangnya, novel ini bak anime <em>shounen </em>yang hitam-putih karakternya terlalu jelas. Pihak yang baik selalu benar dan pihak yang jahat selalu salah. Hal ini mengurangi elemen realistis yang disajikan pada novel ini. </p>



<p>Selain itu, Penulis juga kurang menikmati bagian <em>ending </em>yang terasa terburu-buru dan kurang realistis. Penulis tidak akan membocorkannya di sini, tapi Penulis merasa bagian akhirnya yang agak menggantung kurang memuaskan.</p>



<p>Namun, secara umum, setidaknya novel ini tidak membuat Penulis ngomel-ngomel. Sejak dulu, Penulis memang lebih suka cerita-cerita Tere Liye yang terasa dekat. Novel <em>Teruslah Bodoh Jangan Pintar </em>justru terasa terlalu dekat, hingga terasa menyeramkan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 19 Agustus 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Teruslah Bodoh Jangan Pintar</em> karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/">[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2024 08:17:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Dona Dona]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7093</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah membaca dua buku Funiculi Funicula yang sudah pernah Penulis ulas sebelumnya, tak pernah terbesit di pikiran kalau buku ini akan memiliki buku ketiganya. Maka dari itu, ketika pertama kali melihat buku berjudul Dona Dona di rak toko buku, Penulis benar-benar terkejut. Awalnya, Penulis tak mengira kalau buku ini merupakan sekuel dari Funiculi Funicula karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/">[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah membaca dua buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Funiculi Funicula</a> </em>yang sudah pernah Penulis ulas sebelumnya, tak pernah terbesit di pikiran kalau buku ini akan memiliki buku ketiganya. Maka dari itu, ketika pertama kali melihat buku berjudul<strong> <em>Dona Dona </em></strong>di rak toko buku, Penulis benar-benar terkejut.</p>



<p>Awalnya, Penulis tak mengira kalau buku ini merupakan sekuel dari <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">Funiculi Funicula</a> </em>karena judulnya yang benar-benar berbeda. Yang membuat Penulis sadar kalau buku ini merupakan buku ketiga dari seri tersebut adalah desain <em>cover</em>-nya, yang masih &#8220;gaya&#8221; yang sama dengan dua buku sebelumnya.</p>



<p>Ternyata, siapa sangka, kalau kafe Funiculi Funicula di Tokyo memiliki cabang di Hokaido, dengan keluarga pemilik yang sama pula. Kafe ini pun sama ajaibnya, karena mampu membawa pengunjungnya untuk pergi ke masa lalu maupun masa depan, dengan segudang peraturan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner.jpg 1280w " alt="Siapa yang Akhirnya Menang?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/siapa-yang-akhirnya-menang/">Siapa yang Akhirnya Menang?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Dona Dona</em></li>



<li>Penulis: Toshikazu Kawaguchi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2023</li>



<li>Tebal: 264 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020671710</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Dona Dona</h2>



<p><em>Di sebuah lereng indah tak bernama di Hakodate, Hokkaido, berdiri Kafe Dona Dona yang menawarkan layanan istimewa kepada pengunjungnya: perjalananan melintasi waktu. Seperti di Funiculi Funicula yang ada di Tokyo, hal tersebut hanya dapat dilakukan jika berbagai peraturan yang merepotkan dipenuhi dan dengan secangkir kopi yang dituangkan oleh perempuan di keluarga Tokita. </em></p>



<p><em>Mereka yang ingin memutar waktu adalah seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian, seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya, seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya, dan seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya. </em></p>



<p><em>Mungkin perjalanan mereka hanya akan menyisakan kenangan. Namun, kehangatannya akan membekas dan barangkali, pada akhirnya, menumbuhkan tekad baru untuk menjalani hidup…</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Dona Dona</h2>



<p><strong>Nagare Tokita</strong>, pemilik kafe Funiculi Funicula, harus pergi ke Hakodate, Hokaido, untuk menjaga kafe Dona Dona yang selama ini dikelola oleh ibunya, <strong>Yukita</strong>. Alasannya, Yukita tiba-tiba pergi ke Amerika untuk menolong seseorang.</p>



<p>Untuk sementara waktu, Funiculi Funicula di-<em>handle </em>oleh anak Nagare, Miki, karena<strong> Kazu Tokita</strong> juga ikut ke Hokaido. Menariknya, kita akan berkenalan dengan <strong>Sachi</strong>, anak dari Kazu yang secara resmi menjadi penuang kopi yang akan membawa peminumnya pergi ke masa lalu atau masa depan.</p>



<p>Karakter Sachi bisa dibilang sebagai pencuri perhatian terbesar di buku ini. Kemampuannya membaca buku-buku berat (mulai karya Shakespears hingga fisika kuantum) di usianya yang baru 7 tahun menandakan kecerdasan ibunya menurun padanya. </p>



<p>Di antara banyaknya buku yang ia baca, <em><strong>Seratus Pertanyaan: Bagaimana Jika Hari Esok Kiamat</strong></em> menjadi fokus utama dari buku ini karena hampir selalu disebutkan di masing-masing bab, dan releven untuk masing-masing kisah yang diceritakan.</p>



<p>Tidak hanya Yukita (yang belum terlihat sosoknya) dan Sachi, ada beberapa karakter baru yang dihadirkan oleh novel ini, seperti <strong>Reiji </strong>(pekerja paruh waktu di Dona Dona), <strong>Nanako </strong>(teman masa kecil Reiji), hingga <strong>Saki </strong>(pengunjung tetap Dona Dona, seorang psikiater).</p>



<p>Sama seperti dua pendahulunya, buku ini juga memiliki empat cerita dengan keunikannya masing-masing. Keempat cerita tersebut adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Kisah Anak Perempuan yang Tidak Bisa Mengatakan &#8220;Dasar Menyebalkan&#8221;</strong>: Tentang seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian</li>



<li><strong>Kisah Komedian yang Tidak Bisa Bertanya &#8220;Apa Kau Bahagia?&#8221;</strong>: Tentang seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya</li>



<li><strong>Kisah Seorang Adik yang Tidak Bisa Mengatakan &#8220;Maaf&#8221;</strong>: Tentang seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya</li>



<li><strong>Kisah Pemuda yang Tidak Bisa Mengatakan &#8220;Aku Suka Padamu&#8221;</strong>: Tentang seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya</li>
</ol>



<p>Tidak hanya lokasi kafe yang berubah, sosok hantu yang menduduki kursi ajaib di kafe Dona Dona juga berbeda. Jika di Funiculi Funicula sosoknya adalah ibu Kazu, maka di Dona Dona ada sosok pria tua yang masih misterius.</p>



<p>Meskipun hanya sekilas, buku ini juga menjadi penjelas mengapa ketika Rei Nagare melakukan <em>time traveling </em>di buku pertama, Nagare dan Kazu justru berada di Hokaido. Untungnya, Miki masih ada di Tokyo dan akhirnya bisa bertemu dengan ibu kandungnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Dona Dona</h2>



<p>Secara formula, sebenarnya <em>Dona Dona </em>memiliki formula yang mirip-mirip dengan <em>Funiculi Funicula</em>, di mana pengunjung yang memiliki &#8220;masalah&#8221; di masa lalu (maupun masa depan) ingin melakukan perjalanan waktu.</p>



<p>Walaupun menggunakan formula yang sama, Penulis sama sekali tidak mempermasalahkannya karena menganggap hal tersebut sebagai konsistensi. Apalagi, cerita-cerita yang disajikan juga sangat <em>heartwarming </em>dan menyentuh hati.</p>



<p>Dengan lokasinya yang berpindah ke Hokaido juga berhasil memberikan efek penyegaran, yang ditambah dengan adanya beberapa karakter baru (yang tentu juga membutuhkan waktu untuk mengingatnya, mengingat betapa sulitnya nama-nama Jepang).</p>



<p>Jika dibandingkan dengan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/">dua buku sebelumnya</a>, <em>Dona Dona </em>lebih sering membahas tema tentang kematian dan perasaan kehilangan. Bahkan, ada cerita yang di mana tokohnya ingin <em>stay </em>di masa lalu (untuk mati), seperti yang pernah terjadi di buku pertama.</p>



<p>Menurut Penulis (dan rasanya akan ada banyak pembaca buku ini yang setuju), salah satu <em>quote </em>kunci dari buku ini adalah ucapan dari Yukita di akhir buku yang berbunyi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Menurutku, kematian tidak seharusnya menjadi alasan seseorang untuk tidak bahagia. Sebab, tak ada orang yang tak akan mati. Jika kematian adalah penyebab ketidakbahagiaan, berarti semua orang dilahirkan untuk tidak bahagia. Hal itu tidak benar. Setiap orang tentu dilahirkan demi kebahagiaan.&#8221;</p>
<cite>Hal. 263</cite></blockquote>



<p>Salah satu alasan unik yang membuat buku ini akan membuat penasaran para pembacanya adalah adanya halaman yang berwarna hitam pekat. Ternyata, alasan halaman tersebut dibuat berwarna hitam adalah karena mati lampu! Tentu alasan lainnya adalah menimbulkan efek dramatisir yang menarik.</p>



<p>Meskipun ada banyak karakter baru, Kazu tetap menjadi karakter favorit Penulis di sini berkat pembawaannya yang dewasa dan tenang. Kemampuan analisis dan kecerdikannya juga cukup terlihat di sini, walau mungkin ada yang berpendapat hal tersebut kalah jika dibandingkan buku keduanya.</p>



<p>Masih banyak misteri yang belum terungkap di buku ketiga ini, seperti sosok Yukita yang masih keluar negeri maupun cerita di balik sosok pria tua yang menjadi hantu penunggu kursi di Dona Dona.</p>



<p>Setelah melakukan riset kecil-kecilan, ternyata buku ini juga akan memiliki buku keempat dan kelimanya, sehingga tinggal menunggu waktu saja untuk membeli buku-buku tersebut ketika sudah dirilis di Indonesia untuk menjawab misteri yang tersisa.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 17 Maret 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Dona Dona</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/">[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Aug 2023 15:53:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Jostein Gaarder]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6818</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu novel yang Penulis baca di awal-awal mengoleksi buku adalah Dunia Sophie karya Jostein Gaarder. Novel ini, menurut Rocky Gerung, dianggap sebagai bacaan wajib anak SMA yang ingin masuk ke dunia filsafat karena Gaarder berhasil merangkumnya dalam satu buku. Karena sudah cukup lama membacanya, Penulis pun tidak seberapa ingat apa saja isi bukunya. Untungnya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/">[REVIEW] Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu novel yang Penulis baca di awal-awal mengoleksi buku adalah <em><strong>Dunia Sophie</strong> </em>karya Jostein Gaarder. Novel ini, menurut <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung</a>, dianggap sebagai bacaan wajib anak SMA yang ingin masuk ke dunia filsafat karena Gaarder berhasil merangkumnya dalam satu buku.</p>



<p>Karena sudah cukup lama membacanya, Penulis pun tidak seberapa ingat apa saja isi bukunya. Untungnya, melalui akun Instagram Penerbit Mizan, Penulis jadi mengetahui kalau novel tersebut akan dibukukan dalam bentuk novel grafis alias komik.</p>



<p>Setelah itu, Penulis pun menantikan buku tersebut rilis dan pada akhirnya Penulis langsung membelinya setelah mengetahui sudah ada di rak buku. Lantas, apakah buku ini berhasil mengingatkan Penulis apa isi buku <em>Dunia Sophie</em>?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</em></li>



<li>Penulis: Jostein Gaarder; Vincent Zabus</li>



<li>Art: Nicoby</li>



<li>Penerbit: Penerbit Mizan</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 264 halaman</li>



<li>ISBN: 978-602-441-310-1</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini adalah versi komik dari novel <em>Dunia Sophie </em>yang menceritakan petualangan &#8220;aneh&#8221; seorang remaja bernama <strong>Sophie Amundsend</strong> untuk mempelajari filsafat dari awal. </p>



<p>Untuk buku pertamanya ini, kita akan diajak membahas filsafat mulai dari zaman Socrates hingga Galileo Galilei. Untuk buku keduanya (sekaligus terakhir) nanti, yang akan dibahas adalah filsafat dari zaman Rene Descartes hingga Sigmund Freud.</p>



<p>Ada 11 bab yang dimiliki oleh buku ini, mulai dari bab pertama yang bertajuk &#8220;Siapa Aku?&#8221; hingga bab sebelas yang bertajuk &#8220;Zaman Barok&#8221;. Sophie mempelajari satu per satu ilmu filsafat tersebut dengan bimbingan seseorang, yang lantas akan diketahui bernama Albedo.</p>



<p>Ada bab yang berisi tentang filsafat dari beberapa tokoh sekaligus, tapi ada juga bab yang memang fokus hanya membahas satu tokoh. Ada tiga tokoh yang menjadi bab tersendiri, yakni Socrates, Plato, dan Aristoteles. </p>



<p>Dalam petualangannya, Sophie seolah-olah bisa bertemu langsung dengan tokoh-tokoh filsafat yang sedang diterangkan oleh Albedo. Sebagai seorang gadis remaja, pelajaran filsafat tersebut berhasil membuatnya merenungkan banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan.</p>



<p>Ada beberapa penyesuaian yang seingat Penulis tidak dibahas di novelnya, seperti <em>concern </em>Sophie terhadap isu lingkungan hingga kesalnya Sophie terhadap Aristoteles yang migonistik alias merendahkan kaum perempuan. Mohon koreksinya jika itu ternyata ada di novelnya.</p>



<p>Menjelang akhir buku, Sophie menyadari kalau dirinya hanyalah tokoh komik, atau bahasa filmnya adalah <em>breaking the 4th wall</em>. Bahkan Albedo yang menjadi &#8220;gurunya&#8221; pun tidak menyadari hal tersebut. Ini sangat akurat dengan versi novel.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</h2>



<p>Sesuai dengan tujuan awalnya membeli buku ini, Penulis berhasil teringat apa isi novel <em>Dunia Sophie </em>meskipun baru setengah awalnya saja. Mengingat novel <em>Dunia Sophie </em>cukup tebal, tentu isi buku grafis ini adalah versi pendeknya saja.</p>



<p>Sebagaimana <a href="https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/">novel-novel yang ditulis oleh Jostein Gaarder</a>, kesan dongeng dan fantasi pun cukup kental di novel <em>Dunia Sophie</em>. Nah, adanya versi komik seperti ini semakin membuat unsur dongen dan fantasinya semakin terasa.</p>



<p>Dengan ilustrasi yang enak untuk dipandang, Penulis begitu menikmati membaca buku ini hingga bisa tandas dalam waktu yang cepat. Mungkin itu juga karena Penulis terbiasa membaca komik Barat seperti <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/kenapa-suka-tintin/">Tintin</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/kenapa-suka-lucky-luke/">Lucky Luke</a></em>.</p>



<p>Adanya ilustrasi membuat Penulis bisa memahami dengan lebih mudah filsafat-filsafat yang sedang dijelaskan. Penulis juga jadi bisa membayangkan bagaimana rupa para filsuf lintas zaman, meksipun di novel aslinya juga ada ilustrasi filsuf yang sedang dibahas.</p>



<p>Karena sedang mendalami stoik, ada satu <em>quote </em>yang sangat Penulis sukai dari buku ini (Penulis lupa apakah <em>quote </em>tersebut ada di novel aslinya), yakni:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Berilah aku keberanian untuk mengubah yang bisa diubah, ketenangan untuk menerima yang tak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.&#8221;</p>
</blockquote>



<p>Sebagai komik, tentu ada unsur <em>joke </em>yang disisipkan sebagai bumbu cerita agar tidak monoton dan kaku. Yang jelas, komik filsafat ini lebih mudah dipahami dibandingkan set novel filsafat yang pernah Penulis dulu dan hingga sekarang tidak pernah ditamatkan.</p>



<p>Jika ada remaja yang tertarik untuk masuk ke dunia filsafat, rasanya <em>Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat </em>bisa menjadi pengantar yang lebih baik dibandingkan novel aslinya yang sangat tebal. Penjelasannya mudah dipahami dan diilustrasikan dengan menarik.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 29 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>Dunia</em> <em>Sophie: Novel Grafis Filsafat </em>karya Jostein Gaarder</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/">[REVIEW] Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dunia-sophie-novel-grafis-filsafat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 May 2023 13:34:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6539</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah dua tulisan membahas tentang Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold, saatnya melanjutkan ke novel berikutnya, yaitu Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap karya Toshikazu Kawaguchi. Meskipun efeknya tidak &#8220;sedahsyat&#8221; buku pertamanya, cerita-cerita yang terdapat di novel ini masih cukup menarik untuk diikuti sampai habis. Hal menarik yang didapatkan dari buku ini adalah terjawabnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah dua tulisan membahas tentang <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a></em>, saatnya melanjutkan ke novel berikutnya, yaitu <em><strong>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</strong></em> karya <strong>Toshikazu Kawaguchi</strong>.</p>



<p>Meskipun efeknya tidak &#8220;sedahsyat&#8221; buku pertamanya, cerita-cerita yang terdapat di novel ini masih cukup menarik untuk diikuti sampai habis. Hal menarik yang didapatkan dari buku ini adalah terjawabnya pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab di buku pertama.</p>



<p>Bisa jadi, itulah alasan mengapa judul yang dipih adalah &#8220;Kisah-Kisah yang Baru Terungkap&#8221;, karena memang baru di buku inilah hal tersebut terungkap. Lantas, siapa yang kini pergi ke masa lalu (atau masa depan) di kedai Funiculi Funicula? <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-banner.jpg 1280w " alt="Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/">Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</em></li>



<li>Penulis: Toshikazu Kawaguchi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keempat</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 200 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020663852</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Sama seperti buku pertama, <em>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap </em>juga terbagi menjadi empat bagian, yakni &#8220;Sahabat&#8221;, &#8220;Ibu dan Putra&#8221;, &#8220;<a href="https://whathefan.com/sajak/kerinduan-seorang-kekasih/">Kekasih</a>&#8220;, dan &#8220;Suami dan Istrinya&#8221;. Bisa dilihat jika konsep dan formulanya masih tetap sama.</p>



<p>Buku ini mengambil latar waktu beberapa tahun setelah Kei Tokita meninggal dunia ketika melahirkan <strong>Miki</strong>. Kehidupan kedai Funiculi Funicula pun berjalan seperti biasa, di mana Miki sudah mulai bisa membantu sedikit-sedikit di kedai.</p>



<p>Mungkin karena di sini banyak karakter baru yang muncul, maka si penulis buku ini membuat semacam diagram hubungan antara karakternya untuk memudahkan para pembacanya. Penulis jujur saja tidak bisa menghafal mereka semua.</p>



<p>Yang jelas, ada beberapa karakter lama yang kembali, seperti <strong>Kazu Tokita</strong> sang pembuat kopi, <strong>Nagare Tokita</strong> si pemiliki kedai, hingga <strong>Fumiko Kiyokawa</strong> yang pernah pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan kekasihnya.</p>



<p>Cerita-cerita yang diangkat di sini ada seorang pria yang pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan sahabatnya yang telah meninggal, di mana ia mengasuh putrinya selama bertahun-tahun tanpa pernah mengungkapkan hal sebenarnya kepadanya.</p>



<p>Lalu ada seorang anak yang ingin pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan ibunya yang telah meninggal, di mana ia tidak bisa datang ke pemakamannya karena terlilit masalah ekonomi demi mengejar ambisi sebagai pengrajin tembikar.</p>



<p>Cerita ketiga bercerita tentang seorang pria yang telah didiagnosis tidak berumur lama. Ia ingin pergi ke masa depan, tepatnya dua tahun kemudian, untuk mengetahui kalau kekasihnya yang ia tinggalkan bahagia</p>



<p>Penutup cerita ini adalah seorang detektif yang ingin pergi ke masa lalu untuk memberikan hadiah istrinya yang telah meninggal karena perampokan. Hadiah tersebut akan menjadi yang pertama sekaligus terakhir dalam pernikahan mereka yang singkat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</h2>



<p>Apa yang Penulis suka dari novel ini adalah terungkapnya banyak fakta seputar <strong>Kazu Tokita</strong>. Ternyata, wanita bergaun putih yang menjadi hantu di kedai tersebut adalah ibunya! Ia menjadi hantu karena telat (atau menolak untuk) kembali ke masa kini.</p>



<p>Selain itu, diketahui kalau Kazu di cerita ini merasa bahwa dirinya tidak berhak untuk bahagia, karena ia adalah orang yang membuatkan kopi agar ibunya bisa pergi ke masa lalu. Sejak hari naas tersebut, Kazu menjadi sosok yang terus dihinggapi rasa bersalah.</p>



<p>Ini menjawab misteri mengenai mengapa Kazu terlihat menjadi sosok yang dingin dan sangat pendiam. Untungnya, di akhir novel ini, pada akhirnya Kazu mau belajar untuk memaafkan dirinya sendiri.</p>



<p>Hal menari kalinnya seputar Kazu adalah ia telah mengandung seorang anak. Ternyata, hal ini membuatnya kehilangan kekuatan untuk membuat kopi &#8220;super&#8221; tersebut, karena kekuatannya langsung menurun ke anak dalam kandungan tersebut.</p>



<p>Untungnya, Miki Tokita sudah berusia tujuh tahun di buku ini, sehingga ia telah memiliki kemampuan tersebut dan kedai pun tetap dapat berjalan kembali. Sebagai tambahan, peran Miki sebagai &#8220;pengundang tawa&#8221; di novel ini cukup terasa kental.</p>



<p>Jika cerita-cerita di novel pertama terasa berkesinambungan, maka cerita-cerita di novel ini lebih terasa berdiri sendiri. Tokoh-tokoh yang muncul untuk pergi ke masa lalu/masa depan tidak terlalu berkaitan satu sama lain.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis sebutkan di atas, cerita-cerita yang ada di novel ini masih terasa menarik, tapi dampak emosionalnya kurang <em>nendang</em>. Dibandingkan kisah orang-orang yang melakukan perjalanan waktu, Penulis lebih tertarik dengan kisah yang dimiliki oleh Kazu.</p>



<p>Meskipun begitu, buku ini tetap menyenangkan untuk dibaca. Dengan segala aturan yang tetap sama, kita akan menyaksikan orang-orang pergi ke masa lalu, meskipun tahu apa yang mereka lakukan tidak akan mengubah masa kini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Mei 2023, terinspirasi setelah membaca <em>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</em> karya Toshikazu Kawaguchi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold (Spoiler Version)</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 May 2023 13:55:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6500</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelumnya, Penulis sudah membuat artikel review tentang novel Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold. Nah, Penulis merasa kalau artikel tersebut belum terlalu menggambarkan bagaimana pendapat Penulis karena takut memberikan spoiler. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya Penulis pun membuat review kedua dari novel tersebut, di mana Penulis bisa menuliskan semua yang dirasakan selama membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold (Spoiler Version)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebelumnya, Penulis sudah membuat artikel <em>review </em>tentang novel <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/"><em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</em></a>. Nah, Penulis merasa kalau artikel tersebut belum terlalu menggambarkan bagaimana pendapat Penulis karena takut memberikan <em>spoiler</em>.</p>



<p>Oleh karena itu, untuk pertama kalinya Penulis pun membuat <em>review </em>kedua dari novel tersebut, di mana Penulis bisa menuliskan semua yang dirasakan selama membaca cerita-cerita sederhana yang getir dalam novel ini.</p>



<p>Kalau Pembaca berniat untuk membaca novel ini, Penulis sarankan jangan melanjutkan membaca karena artikel ini akan <em>full spoiler</em>. Kalau tidak keberatan, <em>monggo </em>dibaca sampai habis.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Cerita-Cerita Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</h2>



<p>Total ada empat cerita di dalam novel ini, di mana judul-judulnya terdengar sederhana saja. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, terdapat cerita yang cukup menyayat hati. Penulis yang hampir tidak pernah merasa terharu ketika membaca novel pun jadi merasakannya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">1. Kekasih</h3>



<p>Cerita yang pertama berfungsi sebagai perkenalan kepada pembaca bagaimana konsep <em>time travel </em>dalam novel ini berjalan. Untuk itu, kasus yang dibawa pun tidak terlalu berat dan tergolong ringan saja.</p>



<p>Karakter utama di sini adalah <strong>Fumiko Kiyokawa</strong>, seorang wanita karir yang harus menerima kenyataan kalau kekasihnya harus pergi ke luar negeri untuk mengejar impiannya. Sosoknya yang <em>tsundere </em>membuatnya tak bisa mengatakan apa yang ia ingin dikatakan saat berpisah.</p>



<p>Karena menyesal, Fumiko pun datang ke kafe Funiculi Funicula dengan harapan bisa menemui kekasihnya dan mengatakan hal yang sebenarnya. Untungnya, mereka berdua memang berpisah di kafe kecil tersebut.</p>



<p>Ketika bertemu di masa lalu, Fumiko pun baru menyadari kalau kekasihnya sebenarnya merasa minder dan khawatir kalau Fumiko akan tertarik dengan pria lain. Fumiko pun jadi tahu kalau yang ia perlu lakukan hanyalah menanti kekasihnya tersebut pulang.</p>



<p>Dengan ceritanya yang ringan, detail-detail seperti persyaratan pergi ke masa lalu pun bisa disajikan dengan lengkap di sini. Oleh karena itu, meskipun ceritanya biasa saja, fungsinya sebagai perkenalan mampu berjalan dengan baik.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2. Suami-Istri</h3>



<p><strong>Kotaro Fusagi</strong> menjadi sosok berikutnya yang memutuskan untuk pergi ke masa lalu di kafe Funiculi Funicula. Ia merupakan seorang perawat yang suaminya terkena Alzeimer, sehingga ia lupa kalau punya Kotaro sebagai istrinya.</p>



<p>Meskipun suaminya melupakannya, Kotaro tetap dengan sabar mampu merawatnya. Namun, ia penasaran dengan sebuah surat yang pernah ditulis oleh suaminya, tetapi belum pernah diberikan kepadanya. Itulah alasannya untuk pergi ke masa lalu ketika suaminya belum sakit.</p>



<p>Ternyata, sang suami telah menyadari penyakitnya dan mengkhawatirkan hal tersebut. Untuk itu, ia membuat surat yang mengharukan kepada Kotaro, di mana ia mengungkapkan semua perasaan cintanya, bahkan mempersilakan Kotaro pergi jika penyakit lupanya makin parah.</p>



<p>Baru di cerita kedua, <em>damage</em>-nya sudah cukup terasa. Penulis benar-benar merasa terhanyut dalam ceritanya dan merasakan simpati kepada sosok suami-istri ini. Penulis begitu terharu bagaimana hebatnya kesetiaan Kotaro kepada suaminya tersebut.</p>



<p>Sebelumnya, Kotaro memilih untuk dipanggil dengan nama depannya untuk tidak membingungkan suaminya. Setelah kembali dari masa lalu, ia dengan mantap ingin dipanggil dengan Fusagi juga, agar suaminya yakin kalau mereka memang sepasang suami-istri.</p>



<h3 class="wp-block-heading">3. Kakak-Adik</h3>



<p>Satu hal yang menarik dari novel ini adalah adanya semacam <em>clue </em>siapa yang akan pergi ke masa lalu selanjutnya di judul berikutnya. <strong>Yaeko Hirai</strong>, pemilik bar di depak kafe ini, telah diperlihatkan sejak cerita kedua ketika ia menghindari adiknya, Kumi.</p>



<p>Alasan Yaeko menghindari adiknya sendiri adalah karena dirinya tidak ingin pulang ke kampung halamannya dan melanjutkan usaha keluarga. Ia ingin hidup bebas, sehingga usaha keluarga tersebut diurus oleh adiknya.</p>



<p>Namun, saat Kumi hendak pulang setelah gagal menemui kakaknya, ia mengalami kecelakaan dan membuatnya tewas. Yaeko, meskipun terkesan cuek, ternyata menyimpan perasaan bersalah yang mendalam sehingga ingin pergi ke masa lalu dan menemui adiknya tersebut.</p>



<p>Dalam pertemuan tersebut, ia menyadari betapa adiknya menyayanginya, bahkan sempat terbesit pikiran untuk tidak kembali ke masa kini. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan melanjutkan kerja adiknya selama ini dalam melanjutkan usaha keluarga.</p>



<p>Dibandingkan dua cerita sebelumnya, cerita ketiga cukup terasa kelam karena baru ini pelanggan kafe pergi ke masa lalu untuk menemui orang yang telah meninggal. Jika tidak diingatkan, mungkin Yaeko akan terjebak di masa lalu selamanya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">4. Ibu dan Anak</h3>



<p>Sudah ada tiga pengunjung yang pergi ke masa lalu, tapi bagaimana jika yang pergi adalah pemilik kafenya sendiri? Kafe Funiculi Funicula dimiliki oleh Nagare Tokita, yang memiliki istri bernama <strong>Kei Tokita</strong>. Nah, Kei menjadi tokoh utama di cerita keempat ini.</p>



<p>Kei yang periang dan ceria sedang mengandung anak dari pernikannya dengan Nagare. Namun, muncul kekhawatiran kalau Kei yang secara fisik memang lemah mampu melahirkan anak tersebut tanpa kehilangan nyawanya.</p>



<p>Merasa dirinya tidak akan pernah berkesempatan untuk bertemu dengan anak yang dikandungnya, ia pun memutuskan untuk pergi ke masa depan untuk melihat anaknya setidaknya satu kali seumur hidup. Iya, kafe ini bisa membawa kita ke masa depan juga.</p>



<p>Sayangnya, terdapat kesalahan dalam prosesnya, sehingga Kei datang bukan di waktu yang telah ditentukan. Untungnya, ia tetap bertemu dengan anak perempuannya yang bernama <strong>Miki</strong>, yang awalnya terlihat canggung ketika bertemu dengan ibunya yang telah meninggal.</p>



<p>Sebelumnya, sosok Miki telah di-<em>tease </em>di cerita ketiga, di mana ia datang dari masa depan untuk bisa bertemu dan berfoto dengan ibunya. Nah, di cerita keempat ini kita kembali melihat Miki yang telah berusia belasan tahun.</p>



<p>Bisa dibayangkan betapa menyedihkannya cerita seorang ibu yang tahu dirinya akan meninggal bertemu dengan anaknya yang sudah beranjak remaja. Miki pun harus menerima kenyataan kalau wanita yang di depannya adalah orang yang melahirkannya di dunia.</p>



<p>Sebagai penutup, cerita ini benar-benar mampu memberikan akhir yang sangat mengharukan. Perasaan Penulis terasa diaduk-aduk dan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh karakter-karakter yang ada di dalam novel ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika membaca ringkasan cerita di atas, memang kisah-kisahnya terkesan sederhana. Namun, penulis buku ini, Toshikazu Kawaguchi, mampu memberikan dialog-dialog yang <em>ngena </em>dan mampu menghadirkan suasana dramatis yang kuat.</p>



<p>Tidak hanya itu, isi pikiran orang-orang yang pergi ke masa lalu pun berhasil digambarkan dengan baik. Kita jadi bisa merasakan berbagai macam dilema yang muncul ketika mereka berada di situasi yang pelik.</p>



<p>Selain itu, karakter Kazu Tokita, pembuat kopi yang mampu membawa peminumnya pergi ke masa lalu atau masa depan, juga masih terkesan misterius di novel ini. Di buku keduanya, <em><strong>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</strong></em>, barulah kisah Kazu terungkap.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Maret 2023, terinspirasi karena ingin menulis lebih banyak lagi tentang novel <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold (Spoiler Version)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Apr 2023 13:26:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6438</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pepatah memang menyebutkan don&#8217;t judge a book by its cover alias jangan menilai buku hanya dari sampulnya. Namun, sejujurnya Penulis beberapa kali membeli buku karena terpikat dengan sampulnya. Contoh terbarunya adalah novel Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold karya Toshikazu Kawaguchi yang akan Penulis bahas pada tulisan kali ini. Begitu melihatnya, langsung ada perasaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pepatah memang menyebutkan <em>don&#8217;t judge a book by its cover</em> alias jangan menilai buku hanya dari sampulnya. Namun, sejujurnya Penulis beberapa kali membeli buku karena terpikat dengan sampulnya.</p>



<p>Contoh terbarunya adalah novel <em><strong>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</strong></em> karya <strong>Toshikazu Kawaguchi</strong> yang akan Penulis bahas pada tulisan kali ini. Begitu melihatnya, langsung ada perasaan kalau Penulis harus membelinya.</p>



<p>Apa yang membuat Penulis menyukai sampul ini adalah gaya anime realis yang dimilikinya, salah satu <em>artstyle </em>yang Penulis sukai. Bahkan tak hanya satu, Penulis langsung membeli buku keduanya juga yang akan Penulis bahas di tulisan selanjutnya.</p>





<p>Tentu Penulis menyempatkan diri untuk membaca sinopsis singkat yang ada di bagian belakang buku. Ternyata, ada unsur supernatural dalam buku ini karena menceritakan sebuah kafe yang mampu membawa pengunjungnya pergi ke masa lalu.</p>



<p>Biasanya, Penulis menghindari genre-genre fantasi seperti ini. Namun, entah mengapa Penulis tetap terpikat dengannya. Intuisi Penulis benar, ini adalah salah satu novel dengan cerita paling bagus sekaligus paling menyayat hati!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</em></li>



<li>Penulis: Toshikazu Kawaguchi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keenam Belas</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 223 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020651927</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung sedikit di atas, novel ini berkisah tentang sebuah kafe tua nan kecil bernama Funiculi Funicula yang terletak di sebuah gang kecil di Tokyo. Kita bisa melihat ilustrasi kafe ini pada bagian sampul buku.</p>



<p>Yang istimewa dari kafe ini bukan dari kopi ataupun sajiannya, melainkan karena mampu membawa pengunjungnya pergi ke masa lalu, bahkan masa depan. Hanya saja, ada banyak syarat yang harus mampu dipenuhi oleh pelanggan.</p>



<p>Beberapa di antaranya adalah kita hanya bisa bertemu dengan seseorang di masa lalu/depan jika orang tersebut pernah mengunjungi kafe tersebut. Lalu, kita harus duduk di kursi tertentu dan tidak boleh berpindah tempat sekalipun, atau kita akan langsung diseret ke masa kini.</p>



<p>Masalahnya, kursi spesial tersebut kerap diduduki oleh roh hantu perempuan yang membaca novel. Katanya, itu terjadi karena pernah ada seseorang yang pergi ke masa lalu dan melebihi batas waktu yang telah ditentukan.</p>



<p>Seberapa lama waktu yang bisa kita gunakan untuk menjelajahi waktu? Ternyata tergantung dari kopi yang akan mengirimkan kita ke masa lalu tersebut. Kita harus &#8220;pulang&#8221; sebelum kopinya menjadi dingin, seperti yang tertera di judul buku ini.</p>



<p>Selain itu, kita juga harus memahami bahwa apapun yang kita lakukan di masa lalu tidak akan mengubah kenyataan yang akan terjadi hari ini. Konsepnya mirip dengan konsep <em>time travel </em>di film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-1-adegan-favorit/">Avengers: Endgame</a></em>.</p>



<p>Ribet? Jelas, apalagi yang akan kita lakukan di masa lalu tidak akan mengubah apapun.. Setelah mengetahui ada begitu banyak peraturan yang ada, banyak yang mengurungkan niatnya untuk pergi ke masa lalu. </p>



<p>Namun, tetap saja ada segelintir orang yang tetap yakin ingin melakukannya. Ada seorang perempuan yang ingin berbaikan dengan kekasihnya, ada seorang perawat yang ingin membaca surat yang dibuat oleh suaminya yang sakit.</p>



<p>Ada seorang kakak yang menemui adiknya untuk terakhir kalinya, dan ada seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak yang mungkin tidak akan pernah dijumpainya seumur hidup. Penulis tidak akan membocorkan detail kisah perjalanan mereka di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</h2>



<p>Awalnya Penulis mengira kalau buku ini merupakan sebuah kumpulan cerpen di mana kisah dari masing-masing babnya tidak memiliki keterkaitan. Ternyata, walau terkesan tidak memiliki kesinambungan, ada benang merah yang menyambungkannya.</p>



<p>Itu adalah salah satu poin plus dari novel ini, sehingga menghadirkan sedikit <em>plot twist </em>yang walaupun tidak terlalu mengejutkan, tetap memberikan <em>damage</em>. Apalagi, kisah-kisah yang terkandung di dalamnya terasa nyata dan bisa saja terjadi pada kehidupan kita.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Konsep Time Travel yang Disederhanakan</h3>



<p>Ketika membaca cerita pertama tentang seorang perempuan yang ingin berbaikan dengan kekasihnya, Penulis masih merasa biasa saja. &#8220;Oh, begini konsep <em>time travel</em>-nya,&#8221; begitu pikir Penulis. </p>



<p>Namun, begitu masuk ke cerita kedua, emosi Penulis langsung dibuat naik turun tak karuan. Seumur hidup, rasanya baru kali ini Penulis berhasil dibuat terharu oleh sebuah novel. Masalahnya, cerita ketiga dan keempat <em>damage</em>-nya lebih besar lagi.</p>



<p>Meskipun memiliki konsep <em>time travel</em>, sama sekali tidak ada penjelasan ilmiah mengapa hal tersebut bisa terjadi. Tidak dijelaskan juga bagaimana kopi buatan kafe tersebut bisa mengirimkan orang pergi ke masa lalu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kisah-Kisah yang Sederhana, tapi Bermakna</h3>



<p>Menurut Penulis, menyederhanakan konsep <em>time travel</em> adalah upaya sang penulis buku ini untuk menyederhanakan cerita. Tanpa perlu tahu pun, kita masih bisa menikmati ceritanya. Memang tidak masuk akal, tapi bukan rasionalitas yang menjadi kekuatan utama buku ini.</p>



<p>Buku ini justru ingin memberi tahu kita tentang hal-hal sepele yang mungkin selama ini kita abaikan, dan baru merasa menyadari hal tersebut ternyata penting setelah kita kehilangannya. Tiga cerita di awal berpusat pada konsep tersebut.</p>



<p>Lalu, bagaimana dengan yang terakhir? Cerita terakhir bisa dibilang mengandung bawang yang paling banyak. Karena takut terlalu membocorkan kisahnya, Penulis hanya bisa bilang kalau cerita keempat menjadi satu-satunya yang pergi ke masa depan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Apakah Ada Kekurangannya? </h3>



<p>Jika disuruh mencari kekurangan dari buku ini, mungkin Penulis akan menyebutkan kalau nama-nama karakter yang ada di dalamnya membutuhkan waktu agar Penulis bisa menghafalnya. </p>



<p>Bahkan, ada beberapa karakter yang awalnya Penulis kira laki-laki, ternyata perempuan. Namun, itu hanya kekurangan minor yang terjadi karena ketidakmampuan Penulis dalam menghafal karakternya dengan cepat.</p>



<p>Jika disuruh memilih, Penulis paling menyukai karakter Kazu Tokita yang misterius dan senantiasa tidak menunjukkan emosinya. Sedikit <em>spoiler</em>, ia adalah pramusaji di kafe tersebut yang bertugas membuat kopi bagi pelanggan yang ingin pergi ke masa lalu.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Sejujurnya masih ada banyak hal yang ingin Penulis sampaikan terkait novel ini. Namun, Penulis khawatir jika akan memberikan <em>spoiler </em>terlalu banyak. Mungkin saja, Penulis akan memberikan versi <em>full spoiler </em>pada tulisan selanjutnya jika ingin menulisnya.</p>



<p>Untuk saat ini, rasanya sudah cukup ulasan yang Penulis berikan untuk novel ini. Sudah lama Penulis tidak menemukan kepuasan setelah menamatkan novel seperti ini. Jelas, <em>Funiculi Funicula </em>akan menjadi salah satu novel terbaik versi Penulis.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 12 April 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold </em>karya Toshikazu Kawaguchi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Rapijali 3: Kembali</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-3-kembali/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-3-kembali/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2022 14:09:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Dee Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Rapijali]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5771</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin untuk pertama kalinya, Penulis merasa kurang bersemangat membaca ketika mendapatkan novel terbaru dari Dee Lestari, Rapijali 3: Kembali. Padahal, Penulis ikut pre-order-nya, seperti seri Rapijali lainnya (dan seperti biasa, di Markas Buku). Bukan karena novel tersebut jelek, jelas tidak, melainkan karena sedang kurang bergairah saja untuk membaca novel. Mungkin Pembaca juga pernah mengalaminya, ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-3-kembali/">Setelah Membaca Rapijali 3: Kembali</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Mungkin untuk pertama kalinya, Penulis merasa kurang bersemangat membaca ketika mendapatkan novel terbaru dari Dee Lestari, <em><strong>Rapijali 3: Kembali</strong></em>. Padahal, Penulis ikut <em>pre-order</em>-nya, seperti seri <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-1-mencari/">Rapijali</a> </em>lainnya (dan seperti biasa, di <a href="https://shopee.co.id/markasbuku">Markas Buku</a>).</p>



<p>Bukan karena novel tersebut jelek, jelas tidak, melainkan karena sedang kurang bergairah saja untuk membaca novel. Mungkin Pembaca juga pernah mengalaminya, ketika kita sama sekali tidak ingin melakukan hobi yang biasanya menyenangkan.</p>



<p>Lantas suatu ketika, Penulis sedang ingin membaca novel dan memutuskan untuk memulai membaca novel ini. Alhasil, hanya dalam waktu dua hari (bahkan nyaris dalam semalam) saja, Penulis berhasil menandaskan novel yang cukup tebal ini.</p>



<p>Ada banyak hal yang ingin Penulis sampaikan setelah selesai membaca novel ini. Bisa dibilang, pendapat Penulis tentang novel ini cukup campur aduk, walau secara keseluruhan Penulis masih menikmati novel ini. <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em></p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>Rapijali 3: Kembali</em></li><li>Penulis: Dee Lestari</li><li>Penerbit: Bentang </li><li>Cetakan: Pertama</li><li>Tanggal Terbit: Desember 2021</li><li>Tebal: 776 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Awalnya, Penulis mengira kalau novel ini akan membahas masa-masa kuliah dari para anggota <em>band </em>Rapijali. Ternyata, kita akan langsung dibawa lompat 8 tahun setelah peristiwa terakhir yang terjadi di <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-2-menjadi/">Rapijali 2: Menjadi</a></em>.</p>



<p>Meskipun karakternya telah beranjak dewasa, <em>core </em>dari novel ini tetap berkutat tentang masalah musik dan percintaan. Tentu ada konflik lain seperti masalah keluarga dan berdamai dengan masa lalu.</p>



<p>Setelah 8 tahun berlalu, Ping telah menjadi seorang penyanyi terkenal. Namun, ia kerap beberapa kali terkena serangan panik ketika konser, yang ternyata memiliki keterkaitan dengan masalah dengan dirinya sendiri dan masa lalunya.</p>



<p><em>Band </em>Rapijali sendiri telah tercerai-berai, di mana para anggotanya telah memiliki kesibukan masing-masing. Namun, undangan untuk tampil bersama di acara Reuni Akbar Sekolah Pradipa Bangsa membuat mereka harus bertemu kembali di satu titik.</p>



<p>Karena antaranggotanya ada konflik masing-masing, tentu menarik bagaimana mereka semua, terutama Ping, bisa berdamai. Jangan lupakan Oding yang juga begitu dirindukan oleh Ping di dalam sanubari hatinya yang paling dalam.</p>



<p>Sesuai dengan sinopsis buku yang ada di bagian belakang buku ini, <em>Rapijali 3: Kembali </em>akan memberikan semua jawaban yang muncul dari dua judul sebelumnya. Mampukah para karakter yang ada di dalamnnya berdamai dengan berbagai luka di masa lalu?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Rapijali 3: Kembali</h2>



<p>Seperti biasa, kita selalu bisa mengharapkan cerita yang mengalir ala Dee Lestari. Dialog yang dimiliki oleh para karakternya pun terasa natural dan berhasil membawa pembacanya  Plot ceritanya sendiri ringan ringan berat, cocok untuk remaja.</p>



<p>Ada tiga poin utama yang ingin Penulis singgung dari novel ini, yakni:</p>



<h3 class="wp-block-heading">Berdamai dengan Diri Sendiri</h3>



<p>Fokus utama dari novel ini bagaimana para karakternya, terutama para anggota <em>band </em>Rapijali, berdamai dengan konflik-konflik masa lalu sekaligus berdamai dengan dirinya sendiri. Terlebih lagi ada banyak <em>quote </em>yang <em>related </em>dengan kehidupan kita.</p>



<p>(Mohon maaf karena Penulis sudah cukup lama menamatkan novel ini, Penulis lupa ada di halaman berapa <em>quote </em>yang Penulis sukai)</p>



<p>Hanya saja, konflik batin yang terjadi memiliki kesan agak terlalu berputar-putar. Mungkin, itu memang dilakukan oleh Dee untuk menegaskan betapa sulitnya karakter yang ada di ceritanya untuk berdamai dengan diri sendiri.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Novel yang Dinamis, namun Perubahan Karakter Kurang Terasa</h3>



<p>Karena masing-masing karakter sedang berada di tempat yang berbeda-beda, perubahan sudut pandang karakternya cukup dinamis sehingga dibutuhkan fokus yang cukup tinggi. Apalagi, ada lompatan waktu hingga 8 tahun,</p>



<p>Adanya lompatan waktu membuat kita sering dibawa ke masa lalu (<em>flashback</em>) untuk memahami apa yang membawa karakter-karakter tersebut berada di posisi saat ini. Jadi, apa yang terjadi sekarang selalu memiliki keterkaitan dengan masa lalu.</p>



<p>Untuk perkembangan karakternya sendiri, Penulis merasa perubahan kedewasaan yang dialami para karakternya tidak terlalu terasa. Ping dan kawan-kawan masih terasa sebagai remaja yang sering mengalami konflik terkait percintaan.</p>



<p>Mungkin perubahan yang paling mengejutkan adalah yang dialami oleh Ardi, saudara tiri dari Ping. Ia yang di dua novel terlihat sebagai anak manja dan egosentris bertransformasi menjadi orang yang bijaksana dan telah berdamai dengan diri.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Ending yang Terlalu Sempurna</h3>



<p>Jika disuruh menyebutkan kekurangannya, mungkin Penulis merasa <em>ending </em>yang dimiliki oleh novel ini terlalu sempurna. Konklusinya memang menyenangkan, tapi terlalu panjang, serta terkesan klise dan <em>too good to be true</em>.</p>



<p>Selain itu, banyak adegan atau drama percintaan yang bagi Penulis terasa berlebihan, terutama Rakai dan Jemi. Ping dan Oding sebenarnya juga, tapi masih bisa ditolerir. Bahkan, hubungan Rakai-Ines dan Oding-Dayu juga sedikit terasa berlebihan.</p>



<p>Dee berusaha menyelipkan humor melalui interaksi Buto dan Inggil. Mereka seolah dihadirkan sebagai oase dari peliknya masalah percintaan yang ada di novel ini. Hanya saja, terkadang <em>jokes </em>yang ada agak kurang masuk di Penulis.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dengan rilisnya novel ini, maka berakhirnya seri <em>Rapijali </em>yang disebut Dee sebagai karya yang telah tertidur selama bertahun-tahun. Novel ini akan Penulis rekomendasikan bagi Pembaca yang sedang mencari novel percintaan ringan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 4 September 2022, terinspirasi setelah membaca novel <em>Rapijali 3: Kembali </em>karya Dee Lestari</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-3-kembali/">Setelah Membaca Rapijali 3: Kembali</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-rapijali-3-kembali/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2022 16:00:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5770</guid>

					<description><![CDATA[<p>Novel Tere Liye pertama yang Penulis baca adalah Pulang. Penulis membelinya sewaktu zaman kuliah dan ceritanya pun terasa seru-seru saja. Apalagi, novel ini yang membuat Penulis jadi membeli novel-novel Tere Liye lainnya. Hanya saja, ketika sudah beranjak dewasa seperti sekarang, rasanya ceritanya sudah minta ampun membosankannya. Beberapa kali Penulis membuat ulasan tentang novel Tere Liye [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/">Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Novel Tere Liye pertama yang Penulis baca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/">Pulang</a></em>. Penulis membelinya sewaktu zaman kuliah dan ceritanya pun terasa seru-seru saja. Apalagi, novel ini yang membuat Penulis jadi membeli novel-novel Tere Liye lainnya.</p>



<p>Hanya saja, ketika sudah beranjak dewasa seperti sekarang, rasanya ceritanya sudah minta ampun membosankannya. Beberapa kali Penulis membuat ulasan tentang novel Tere Liye di blog ini, dan kebanyakan isinya adalah keluhan dan keluhan.</p>



<p>Nah, novel Tere Liye terbaru yang telah Penulis selesaikan adalah <em><strong>Bedebah di Ujung Tanduk</strong></em><strong> </strong>yang menggabungkan <em>universe </em>dari seri <em>Pulang </em>dan <em>Negeri Para Bedebah. </em>Kedua karakter utama dari seri tersebut, <strong>Bujang</strong> dan <strong>Thomas</strong>, muncul di novel ini.</p>



<p>Apakah Penulis kembali menelan pil kekecewaan pada novel kali ini? Sayangnya, iya. Akan ada banyak sekali keluhan yang akan Penulis tuangkan di sini, mungkin dengan sedikit emosi. <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em><font _mstmutation="1" _msthash="1047852"></p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: Bedebah di Ujung Tanduk</li><li>Penulis: Tere Liye</li><li>Penerbit: Sabakgrip</li><li>Cetakan: &#8211;</li><li>Tanggal Terbit: &#8211;</li><li>Tebal: 415 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Penulis tidak akan bercerita terlalu detail tentang novel ini, hanya poin-poin pentingnya saja. Inti dari konflik yang ada di novel ini adalah Thomas yang membantu jual beli gunung yang ternyata milik kelompok <strong>Teratai Emas</strong> pimpinan <strong>Roh Drukpa XX</strong>.</p>



<p>Karakter langganan dari seri <em>Pulang </em>pun kembali muncul, seperti <strong>Salonga</strong>, <strong>Junior</strong>, <strong>White</strong>, <strong>Yuki dan Kiko</strong>, dan tentu saja Bujang yang lebih dominan di cerita ini daripada Thomas. Sebagai tambahan, <strong>Ayako</strong> juga bergabung dengan &#8220;kelompok sirkus&#8221; ini.</p>



<p>Singkat cerita, mereka semua diburu oleh kelompok Teratai Emas karena menolak untuk menyerahkan Thomas. Alhasil, mereka semua pun tertangkap dan dibawa ke markas Teratai Emas.</p>



<p>Lantas, apakah mereka semua pada akhirnya mati karena tidak ada kesempatan untuk kabur? Tentu saja tidak. Ayako, yang kehadirannya memang diperlukan untuk keperluan plot, mengajukan semacam tantangan ke Roh Drukpa XX.</p>



<p>Intinya, ada tiga tantangan yang akan diajukan oleh masing-masing pihak Jika Bujang dkk berhasil menang, maka mereka akan dibebaskan. Jika tidak, hukuman mati pun akan dilaksanakan.</p>



<p>Menjelang akhir cerita, tiba-tiba kakak Bujang yaitu <strong>Diego</strong> tiba-tiba muncul (seperti biasa) dan membuat kekacauan hingga membuat Roh Drukpa XX mati. Selain itu, Ayako juga mengorbankan diri agar rombongan lain bisa selamat.</p>



<p>Ada juga sisipan kisah romansa antara Bujang dan Maria, yang hampir saja menikah di novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/">Pulang-Pergi</a></em>. Di novel ini, kita mengetahui kalau Bujang telah memiliki sosok spesial di dalam hatinya, yang belum kita ketahui hingga sekarang.</p>



<p>Sudah, kurang lebih seperti itu plot ceritanya. Seperti biasa, novel ini pun akan kembali memiliki kelanjutannya dengan judul <em><strong>Tanah Para Bandit</strong></em>. Entah sampai kapan Tere Liye akan terus melakukan <em>milking </em>terhadap karya-karyanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</h2>



<p>Penulis pernah membuat ulasan tentang film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-fast-furious-9/">Fast &amp; Furious 9</a></em>, di mana para karakternya yang manusia biasa terasa memiliki kekuatan super. Seri ini juga memiliki tendensi untuk mengarah ke arah yang sama.</p>



<p>Dibandingkan genre <em>action</em>, <strong>seri ini sudah lebih mengarah ke genre fantasi</strong>. Bayangkan saja, Thomas digambarkan memiliki pemberat ala Rock Lee dan mampu meningkatkan kekuatannya hingga berkali-kali lipat. Sangat tidak terasa orisinal.</p>



<p>Apalagi, tidak ada karakter utama atau bahkan pendamping yang dibunuh oleh <em>author</em>. Kematian Ayako sudah Penulis prediksi sejak awal kemunculannya, karena memang biasanya karakter baru muncul untuk sekadar ditumbalkan.</p>



<p>Selain itu, <strong>karakter Thomas juga terlihat berubah </strong>di novel ini. Sebelumnya, ia terlihat sebagai pribadi yang cerdas, berwibawa, dan mengandalkan logika. Di sini, ia terkesan kekanakan dan hanya mengandalkan kemampuan fisik saja.</p>



<p>Yang paling klise tentu saja <strong>kemunculan Diego yang (lagi-lagi) muncul di saat-saat krusial</strong>. Ia seolah dihadirkan untuk menjadi nemesis dari Bujang, sehingga tidak akan dimatikan dalam waktu dekat.</p>



<p>Tere Liye berusaha menyisipkan sedikit sejarah di novel ini, apalagi latar tempatnya yang berlokasi di Nepal dan Bhutan. Hanya saja, sisipan tersebut terasa dangkal dan kurang mendalam, seolah hanya <em>searching </em>di Google saja.</p>



<p>Beberapa hal lain yang menurut Penulis cukup mengecewakan dari novel ini adalah dialog pasukan yang monoton, efek suara yang aneh serta terlalu banyak, penempatan humor yang memaksa, penggambaran pertarungan yang terlalu panjang, dan lainnya.</p>



<p>Jika ditarik kesimpulan, lagi-lagi novel Tere Liye mengecewakan Penulis dan kesulitan untuk mencari sisi positifnya. Akibatnya, hingga saat ini Penulis memutuskan untuk belum membeli novel terbaru dari <a href="https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">serial <em>Bumi</em></a><em> </em>karena takut dikecewakan lagi.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 29 Agustus 2022, terinspirasi setelah membaca novel <em>Bedebah di Ujung Tanduk </em>karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/">Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Janji</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2022 12:42:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5474</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah berkali-kali kecewa setelah membaca karya Tere Liye (Lumpu, Si Putih, Pulang-Pergi, Si Anak Cahaya, Si Anak Badai), akhirnya ada satu novel baru dari beliau yang membuat Penulis sedikit merasa puas setelah selesai membacanya. Berjudul Janji, novel ini bisa dibilang mengulang formula dari novel-novel sebelumnya yang menurut Penulis cukup baik: Tentang Kamu. Penulis akan jelaskan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Setelah Membaca Janji</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah berkali-kali kecewa setelah membaca karya Tere Liye (<em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lumpu/">Lumpu</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-putih/">Si Putih</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/">Pulang-Pergi</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-anak-cahaya/">Si Anak Cahaya</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/anak-anak-muara-pada-si-anak-badai/">Si Anak Badai</a></em>), akhirnya ada satu novel baru dari beliau yang membuat Penulis sedikit merasa puas setelah selesai membacanya.</p>



<p>Berjudul <em>Janji</em>, novel ini bisa dibilang mengulang formula dari novel-novel sebelumnya yang menurut Penulis cukup baik: <em>Tentang Kamu</em>. Penulis akan jelaskan nanti mengapa novel ini memiliki formula yang sama dengan novel tersebut. </p>



<p>Sebelum itu, Penulis akan bahas terlebih dahulu mengenai alur cerita dari novel ini. <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em></p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Novel ini diawali dari kisah tiga anak bernama <strong>Hasan</strong>, <strong>Baso</strong>, dan <strong>Kahar</strong>, yang menempuh ilmu di sebuah sekolah agama. Mereka bertiga terkenal karena kebandelan dan keisengan yang sering mereka lakukan.</p>



<p>Lantas, mereka diberikan hukuman oleh pemilik sekolah agama tersebut (disebut <strong>Buya</strong>) untuk mencari seseorang bernama <strong>Bahar Safar </strong>yang pernah bersekolah di sana puluhan tahun yang lalu.</p>



<p>Buya memerintahkan mereka mencari Bahar karena ayahnya pernah bermimpi kalau orang tersebut membantu ayahnya di akhirat nanti. Padahal, Bahar dulu diusir dari sekolah karena melakukan kesalahan yang sangat fatal: Membakar sekolah hingga seorang tewas.</p>



<p>Selain itu, ketiga anak tersebut dipilih karena sama-sama memiliki jiwa pemberontak yang kuat karena berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Bahkan, mereka merasa dibuang oleh keluarganya sendiri ke sekolah agama tersebut.</p>



<p>Akhirnya, dimulailah perjalanan tiga sekawan tersebut mencari Bahar. Mereka berusaha mengumpulkan informasi mengenai keberadaan Bahar dengan cara mereka sendiri yang mungkin tak akan terpikirkan oleh Buya sekalipun.</p>



<p>Dari sana, seperti kepingan <em>puzzle</em>, perlahan kita akan menelusuri kisah hidup Bahar setelah diusir oleh Buya. Mulai dari pertemuan dengan <strong>Bos Acong</strong>, <strong>Pak Asep</strong>, <strong>Pak Mansyur</strong>, <strong>Muhib</strong>, <strong>saudagar kaya</strong>, <strong>Pak Budi</strong> dan <strong>Bu Surti</strong>, hingga <strong>Pak Sueb</strong>.</p>



<p>Selepas pergi dari sekolah agama, ternyata Bahar pergi ke banyak tempat, mulai dari ibu kota provinsi, penjara, pertokoan di pertigaan kota lain, pertambangan liar, hingga akhirnya  di ibu kota.</p>



<p>Detail perjalanan yang dilalui ketiga sekawan tidak akan Penulis ceritakan di sini, karena sebaiknya Pembaca membacanya sendiri. Yang pasti, inilah <em>the old Tere Liye </em>yang penulis sukai.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Janji</em></h2>



<p>Formula yang digunakan novel ini sama dengan novel <em>Tentang Kamu</em>, yakni menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan karakter utamanya. Selain itu, alur cerita yang dimiliki juga sama, yakni penelusuran mencari jejak seseorang dari masa lampau.</p>



<p>Novel ini juga memiliki <em>vibe </em>yang mirip dengan novel-novel Tere Liye yang Penulis anggap bagus dan mampu memikat pembacanya, seperti <em>Rindu </em>dan <em>Rembulan Tenggelam di Wajahmu</em>. </p>



<p>Di akhir cerita, ternyata Bahar diberikan lima pusaka sebelum meninggalkan sekolah agama, yang seolah menjawab mengenai perilaku Bahar sepanjang cerita. Kelima pusaka tersebut adalah:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Selalu hormati dan bantu tetangga</li><li>Selalu lindungi yang lemah dan teraniaya</li><li>Senantiasa jujur dan tidak pernah mencuri</li><li>Bersabarlah atas apa pun ujianmu</li><li>Bersedekah, bersedekah, bersedekahlah</li></ol>



<p>Bisa dilihat meskipun &#8220;bermasalah&#8221;, Bahar dengan taat melaksanakan kelima pusaka tersebut. Penulis merasa terkejut ketika menyadari kalau kelima poin tersebut dilakukan secara berurutan di cerita ini.</p>



<p>Konflik cerita yang bisa dianggap cukup <em>dark </em>bisa diimbangi dengan kocaknya tiga sekawan tersebut, sehingga sepanjang membaca novel ini kita tidak melulu dibuat tegang (meskipun <em>joke </em>yang ada klise khas Tere Liye).</p>



<p>Dari naik-turunnya kehidupan Bahar di novel ini, ada banyak nilai-nilai kehidupan yang kita dapatkan. Salah satu bagian yang Penulis suka adalah tentang kehidupan penjara yang terasa nyata dan cukup detail.</p>



<p>Jika harus menyebutkan apa kekurangan novel ini, mungkin Penulis akan menyebutkan betapa mulusnya tiga sekawan menemukan informan yang mengetahui tentang Bahar. Walaupun begitu, alurnya masih terasa natural dan tidak memaksa.</p>



<p>Penulis berharap Tere Liye akan lebih banyak menerbitkan novel-novel seperti ini. Meskipun menggunakan formula yang sama, setidaknya ada sesuatu yang bisa didapatkan oleh pembacanya.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 27 Januari 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Janji</em> karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Setelah Membaca Janji</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gadis yang Bermain Gitar di Balik Punggungnya</title>
		<link>https://whathefan.com/cerpen/gadis-yang-bermain-gitar-di-balik-punggungnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/cerpen/gadis-yang-bermain-gitar-di-balik-punggungnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2018 03:07:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[gadis]]></category>
		<category><![CDATA[gitar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=641</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dengan sebuah sandwich di tangan, aku berjalan menuju taman untuk melepaskan penat. Deadline kurang dua hari, sedangkan prototype yang harus diselesaikan masih 35%. Aku bersama tim menemukan beberapa kesalahan dalam perancangan kami, yang sayangnya cukup vital. Oleh karena itu, di jam makan siang yang singkat ini, aku keluar dari kantor untuk mencari inspirasi. Setelah menemukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/gadis-yang-bermain-gitar-di-balik-punggungnya/">Gadis yang Bermain Gitar di Balik Punggungnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan sebuah sandwich di tangan, aku berjalan menuju taman untuk melepaskan penat. <em>Deadline</em> kurang dua hari, sedangkan <em>prototype</em> yang harus diselesaikan masih 35%. Aku bersama tim menemukan beberapa kesalahan dalam perancangan kami, yang sayangnya cukup vital. Oleh karena itu, di jam makan siang yang singkat ini, aku keluar dari kantor untuk mencari inspirasi.</p>
<p>Setelah menemukan bangku kosong, aku duduk dengan menghela nafas panjang. Udara di ruang terbuka seperti ini cukup membuat otakku dapat berpikir jernih, dan semoga aku segera bisa menemukan solusi untuk permasalahanku.</p>
<p>Ketika sedang mengunyah sandwich secara perlahan, telingaku menangkap suara alunan gitar dari arah belakangku. Kutoleh, terlihat seorang gadis sedang bermain gitar. Rambutnya ia ikat, mungkin agar tidak mengganggu senar yang ia petik. Ia mengenakan baju berwarna biru gelap, membuat kulit putihnya makin mencolok.</p>
<p>Apakah dia anak jalanan? Aku rasa bukan. Ia terlalu “bersih” sebagai pengamen yang selalu melawan terik demi segenggam koin. Dilihat dari posturnya, kemungkinan ia masih berusia belasan tahun. Ia bukan sedang memainkan lagu, melainkan belajar beberapa kunci. Mengapa anak seusianya belajar gitar di taman?</p>
<p>Lalu muncul pertanyaan lain dalam benakku. Mengapa ia tidak sekolah? Bukankah sekarang <em>weekday</em>? Apakah karena ia tidak mampu lagi melanjutkan pendidikannya sehingga ia belajar untuk bermain gitar agar dapat mencari uang sendiri? Betapa kasihan jika memang begitu adanya.</p>
<p>Sandwichku baru termakan setengah, namun melihat ada seorang gadis sebagai obyek pengamatan membuatku kenyang. Masalah yang terbawa dari kantor pun tiba-tiba lenyap begitu saja. Daripada terus menerus dilanda penasaran, kuhampiri saja gadis itu. Semoga ia tidak menganggap aku menyimpan niatan buruk atau lebih parah menganggap diriku sebagai pedofil.</p>
<p>Benar dugaanku, ketika melihatnya dari depan, ia benar-benar masih berada di usia remaja, mungkin baru saja beranjak dewasa. Parasnya cantik, entah bagaimana ia akan bertambah cantik ketika dewasa nanti. Raut wajahnya serius, menunjukkan keinginan kuat untuk menguasai alat musik tersebut.</p>
<p>“Boleh saya duduk di sini?” tanyaku meminta ijin untuk duduk di sebelahnya.</p>
<p>“Iya, silahkan.” jawabnya dengan suara unik yang kecil, cocok dengan postur badannya yang mungil.</p>
<p>“Adik lagi belajar main gitar?”</p>
<p>“Iya om, buat ngisi liburan.”</p>
<p>Sialan, padahal usiaku belum mencapai kepala tiga, tapi sudah dipanggil om. Tapi ternyata dugaanku salah, ia sedang libur, bukan hendak bertransformasi menjadi anak jalanan. Mungkin sedang ada ujian nasional di sekolahnya, entahlah, aku tidak mengikuti perkembangan pendidikan di era sekarang.</p>
<p>“Lalu, kenapa kamu belajar di taman.”</p>
<p>“Ya enggak apa-apa om, emang ada larangan belajar main gitar di taman?”</p>
<p>“Enggak ada sih, cuma aneh aja kalau kamu sendirian di taman main gitar.”</p>
<p>“Enggak sendirian kok om, itu orangtuaku duduk di seberang.”</p>
<p>Aku memandang ke seberang, terlihat sepasang orangtua sedang melihat ke arahku dengan penuh curiga. Gawat, jangan-jangan aku dianggap sebagai penculik anak. Sebagai upaya menyelamatkan diri, aku tersenyum canggung kepada mereka, yang sayangnya tak berbalas.</p>
<p>Sang ibu mulai berbisik kepada sang ayah, mungkin bicara tentang perlu tidaknya menelepon polisi. Aku semakin terpaku duduk di sebelah gadis tersebut, mencari celah untuk keluar dari jebakan ini. Mau tetap mengobrol agar terlihat natural, nanti orangtuanya semakin curiga. Mau langsung pergi, juga pasti tetap curiga. Harus ada sesuatu yang tak teduga, yang membuat mereka menghapuskan segara prasangka buruk tentangku.</p>
<p>Tiba-tiba, alasan mengapa aku datang ke taman menghampiriku. Karena terlalu sibuk mengobservasi orang, aku lupa akan hal tersebut, padahal ini akan menjadi kunci penyelamatku. Ini pula yang menyebabkan aku tertarik dengan suara petikan gitar tadi.</p>
<p>Dengan gagah berani, aku melangkah maju ke orang tua gadis tersebut, seakan-akan ingin melamar anaknya.  Aku mengeluarkan dompet dari saku celana dan mengeluarkan sesuatu darinya.</p>
<p>“Anak Anda tampaknya kesulitan bermain gitar untuk ukuran dewasa. Kebetulan, saya bersama tim sedang mengembangkan produk gitar baru yang disesuaikan dengan ukuran postur tubuh anak. Lusa kami akan <em>launching </em>produk kami di aula hotel kota. Silahkan datang jika berkenan, dan ini kartu nama saya.”</p>
<p>Kedua orangtua tersebut saling berpandangan, mungkin merasa heran dengan kejadian yang tak teduga ini. Memanfaatkan momen, aku langung berpamitan kepada mereka dan menuju kantor. Tidak lupa juga aku mengucapkan selamat tinggal kepada gadis mungil tersebut. Berkat mereka, aku menemukan solusi untuk permasalahan yang telah membuatku bertemu dengan gadis yang bermain gitar di balik punggungnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 18 April 2018. terinspirasi dari sebuah potret yang diambil secara diam-diam, memperlihatkan seorang gadis sedang belajar bermain gitar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/gadis-yang-bermain-gitar-di-balik-punggungnya/">Gadis yang Bermain Gitar di Balik Punggungnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/cerpen/gadis-yang-bermain-gitar-di-balik-punggungnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
