Connect with us

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar

Published

on

Sudah cukup lama sejak Penulis terakhir kali membaca novel karya Tere Liye. Setelah meninggalkan seri Bumi karena sudah tidak sanggup mengikuti semestanya yang seolah meluas tanpa batas, buku terakhir yang Penulis baca adalah Bedebah di Ujung Tanduk.

Setelah di novel Janji Penulis sudah sedikit memuji Tere Liye, Penulis kembali ngomel-ngomel setelah membaca Bedebah di Ujung Tanduk karena beberapa hal. Alhasil, Penulis (sekali lagi) memutuskan untuk berhenti membaca novel karya Tere Liye.

Namun, keputusan tersebut goyah ketika Penulis membaca twit dari Ernest Prakasa pada bulan Februari lalu. Ia mengatakan kalau novel berjudul Teruslah Bodoh Jangan Pintar ini “terlalu berani” sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi Penulis.

Novel bertema politik ini rilis berdekatan dengan pemilihan presiden, sehingga banyak yang mengaitkan novel ini dengan kejadian di dunia nyata. Apakah itu benar? Hanya Tere Liye yang bisa menjawabnya.

Yang jelas, setelah membaca buku ini, mata kita seolah dibuka untuk minimal mengetahui realita yang selama ini tidak tersorot.

Detail Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar

  • Judul: Teruslah Bodoh Jangan Pintar
  • Penulis: Tere Liye
  • Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara
  • Cetakan: Kedua
  • Tanggal Terbit: Februari 2024
  • Tebal: 371 halaman
  • ISBN: 9786238882205
  • Harga: Rp99.000

Sinopsis Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar

Saat hukum dan kekuasaan dipegang oleh serigala-serigala buas berbulu domba.
Saat seluruh negeri dikangkangi orang-orang jualan sok sederhana tapi sejatinya serakah.
Apakah kalian akan tutup mata, tutup mulut, tidak peduli dengan apa yang terjadi?
Atau kalian akan mengepalkan tangan ke udara, LAWAN!

Isi Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar

Kebanyakan sinopsis buku-buku Tere Liye tidak terlalu menjelaskan apa isi bukunya, seolah ingin menyimpan suatu rahasia yang baru terungkap setelah kita membaca bukunya. Buku ini salah satunya, yang bisa dilihat pada satu paragraf di atas.

Setelah dibuka, ternyata novel ini bercerita tentang persidangan tertutup yang dilakukan oleh para aktivis melawan korporat milik Tuan Liem (PT Semesta Minerals & Minings) yang dituduh melakukan berbagai hal ilegal dan pencemaran lingkungan. Ini merupakan scene yang tak asing, bukan?

Alur ceritanya sendiri maju-mundur, di mana ketika saksi memberikan kesaksian, maka kita akan dibawa flashback ke masa lalu. Format ini selalu berulang di setiap saksi agar memberi kita gambaran mengenai kasus atau masalah yang sedang disidangkan.

Ada banyak sekali saksi yang dihadirkan oleh kedua belah pihak, di mana biasanya pihak tergugat seolah bisa membaca strategi pihak penuntut. Akibatnya, pihak penutut lebih sering kalah daripada menang, karena tim pembela tergugat dipimpin oleh pengacara paling top.

Pada akhirnya, sesuai dugaan, pihak tergugat berhasil memenangkan pengadilan dan berhak untuk melanjutkan proyek yang sedang dikerjakan. Sengaja Penulis menulis bagian akhirnya karena di realita, hal tersebut terlalu sering terjadi, sehingga rasanya tak layak menjadi spoiler. Namun, itu bukan akhir dari cerita di novel ini.

Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar

Tidak ada kisah manusia biasa dengan kemampuan super. Tidak ada adegan aksi yang menegangkan. Novel ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Menurut Penulis, Tere Liye berhasil menjahit beberapa kejadian nyata seolah menjadi sebuah fiksi pada novel ini, bukan sebaliknya.

Dengan mudah kita akan mengaitkan nama toko di buku ini dengan tokoh di dunia nyata. Penulis yakin, ada nama yang langsung terbesit di pikiran Pembaca begitu mengetahui karakter seperti Bacok dan Hotma Cornelius. Penulis tidak akan menyebutkan nama mereka di sini.

Dalam realita, uang dan kekuasaan selalu menjadi poin penting untuk bisa menjadi pemenang. Hal ini terlihat dari kemenangan PT Semesta yang dilakukan dengan menyogok para juri, selain mengumpulkan berbagai dokumen untuk membantah semua tuduhan yang diarahkan ke mereka.

Bagi yang kerap mengikuti berita-berita seputar konflik agraria, hilirisasi, atau kerusakan lingkungan, mungkin hal yang disajikan bukan hal baru. Namun, novel ini bisa membuka mata bagi mereka yang selama ini belum terlalu mengikutinya.

Konflik-konflik yang dihadirkan sebenarnya cukup berat, tapi Tere Liye mampu menghadirkannya dengan bahasa mudah sehingga kita yang awam dan tidak related mampu memahami situasinya. Di setiap kasus, kita akan dibuat geram dengan kejadian yang ada.

Penulis sempat mengkritik Tere Liye di novel Bedebah di Ujung Tanduk karena risetnya terlalu dangkal. Namun, di novel ini bisa dibilang ia melakukan riset yang cukup detail. Penulis akan percaya jika ia telah mewawancarai korban-korban konflik agraria dan lingkungan yang dalam 10 tahun terakhir kerap terjadi.

Bagi Penulis sendiri, konflik agraria dan kerusakan memang menjadi topik yang Penulis perhatikan. Walau tak ada kontribusi yang bisa Penulis lakukan untuk membantu para korban, setidaknya Penulis merasa perlu untuk tahu dan menyebarkan awareness kepada masyarakat yang lebih luas.

Oleh karena itu, Penulis merasa kalau novel ini mampu membuka mata kita mengenai konflik-konflik yang sedang dihadapi oleh saudara-saudara kita yang ada jauh di sana. Masalah yang mereka hadapi sama sekali tidak ringan, mereka tertindas di tempat tinggal mereka sendiri.

Sayangnya, novel ini bak anime shounen yang hitam-putih karakternya terlalu jelas. Pihak yang baik selalu benar dan pihak yang jahat selalu salah. Hal ini mengurangi elemen realistis yang disajikan pada novel ini.

Selain itu, Penulis juga kurang menikmati bagian ending yang terasa terburu-buru dan kurang realistis. Penulis tidak akan membocorkannya di sini, tapi Penulis merasa bagian akhirnya yang agak menggantung kurang memuaskan.

Namun, secara umum, setidaknya novel ini tidak membuat Penulis ngomel-ngomel. Sejak dulu, Penulis memang lebih suka cerita-cerita Tere Liye yang terasa dekat. Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar justru terasa terlalu dekat, hingga terasa menyeramkan.

Skor: 7/10


Lawang, 19 Agustus 2024, terinspirasi setelah membaca buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Published

on

By

Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif.

Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya.

Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.

Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

  • Judul: Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020639321
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama Hidaka Kunihiko ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya.

Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama Nonoguchi Osamu, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. Detektif Kaga Kyoichiro sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.

Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.

Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.

Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah angle-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.

Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd. Di novel tersebut, tokoh “aku” yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.

Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Berbeda dengan The Devotion of Suspect X yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau A Midsummer’s Equation yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula The Devotion of Suspect X ).

Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.

Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa melihat ada banyak reverse psychology di sini, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.

Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.

Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!

Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa overwhelming.

Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.

Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: stop bullying. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.

Kesimpulannya, Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis mengulang formula Devotion of Mr. X yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang mengapa melakukannya.

SKOR: 8/10

Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah Salvation of a Saint – Dosa Malaikat.


Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca Malice karya Keigo Higashino

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh

Published

on

By

Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel “teka-teki”.

Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.

Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh

  • Judul: Teka-Teki Rumah Aneh
  • Penulis: Uketsu
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020669960
  • Harga: Rp79.000

Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?

Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama seorang penulis (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis occult alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.

Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep “rumah aneh” langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.

Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama Kurihara-san, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.

Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga membuat pace novel ini terasa cepat.

Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.

Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.

Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu.

Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.

Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak spoiler yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi, spoiler alert!

Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh

Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan novel-novel Keigo, Penulis sudah membaca semua novel Agatha Christie dan Sherlock Holmes.

Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap Teka-Teki Rumah Aneh adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.

Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh

Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, “rumah anehnya” bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau ini adalah sebuah pola tertentu, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.

Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.

Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.

Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa pace cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.

Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan “horor” hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.

Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh

Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang memiliki hubungan dengan okultisme. Keluarga pembunuh yang terjebak “ritual” memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata “orang pintar”.

Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.

Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang, bukan karena disusun secara cerdik.

Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih memberikan open ending kepada Pembaca terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.

Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!

SKOR: 7/10

Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada “sekuel” novel ini dengan judul Teka-Teki Gambar Aneh. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.


Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Published

on

By

Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang “toko buku” (atau kadang hanya “buku” saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran.

Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum. Yups, lagi-lagi penulis Asia, bedanya kali ini dari Korea Selatan.

Ketika dan setelah membaca novel ini, Penulis berpikir, “oh, ternyata jadinya begini jika genre slice of life menjadi sebuah cerita.” Jadi, jangan harap akan menemukan konflik yang menegangkan atau plot twist yang mengejutkan di sini!

[SPOILER ALERT!!!]

Detail Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

  • Judul: Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop (Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)
  • Penulis: Hwang Bo-reum
  • Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
  • Cetakan: Ke-5
  • Tanggal Terbit: Januari 2025
  • Tebal: 408 halaman
  • ISBN: 9786020530444
  • Harga: Rp119.000

Sinopsis Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

“Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.”

Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Young-joo, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan. Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.

Isi Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Sesuai dengan sinopsis di bagian belakang bukunya, Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop berpusat pada toko buku kecil yang berada di daerah Hyunam-Dong. Pemiliknya adalah Yeong-ju, seorang perempuan yang berusia 30 tahunan.

Ia tak sendirian di toko buku tersebut. Ada Min-joon, yang bekerja sebagai barista di sana. Lalu, ada Jimmy (ini karakter cewek!) yang menjadi supplier biji kopi untuk toko buku tersebut, yang juga menjadi teman dekat Yeong-ju.

Tentu ada banyak pengunjung setia toko buku kecil yang nyaman tersebut, seperti anak SMA yang benama Min-Cheol beserta ibunya (yang namanya baru terkuak jelang akhir buku), Jung-seo yang hobi merajut, Seong-cheol, dan lain sebagainya.

Meskipun berkesan “santai”, tentu masing-masing karakter memiliki masalahnya sendiri. Yeong-ju misalnya, mengalami burnout karena pekerjaan lamanya dan kegagalam rumah tangganya. Toko buku yang ia dirikan seolah menjadi sarana pelariannya.

Tema pernikahan yang tidak bahagia juga dialami oleh Jimmy, sedangkan sang barista berada di krisis eksistensial karena merasa dirinya gagal. Toko buku kecil tersebut seolah menjadi semacam “oasis” bagi mereka dan pengunjung.

Untuk menghidupkan suasana toko buku, Yeong-ju membuat semacam berbagai acara di sana, termasuk bedah buku dan diskusi antara sesama pembaca buku. Ia bahkan mengundang penulis seperti Seung-woo yang sepertinya memiliki ketertarikan dengannya.

Itu semua dibalut dengan aktivitas ringan yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana obrolan-obrolan ringan keluar ketika bertemu kenalan di suatu tempat, bagaimana kita curhat ke teman yang kita percaya, bagaimana proses penerimaan diri, dan lain sebagainya.

Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, genre novel ini adalah slice-of-life. Mungkin baru kali ini Penulis membaca buku dengan genre seperti ini. Apakah Penulis menyukainya? Jawabannya iya dan tidak secara bersamaan.

Sebagai novel santai yang tidak terus-menerus menimbulkan rasa penasaran, Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop adalah teman yang menarik terutama ketika kepala kita sedang penuh dengan berbagai permasalahan.

Apalagi, gaya bahasanya juga terasa lembut dan cozy, sehingga terkadang membuat Penulis merasa kalau novel ini seperti lullaby pengantar tidur. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, karena di satu sisi akan menimbulkan kesan membosankan.

Itulah yang Penulis rasakan selama membaca buku ini. Awal-awal membaca, Penulis merasa bersemangat untuk membaca tiap babnya secara perlahan dan menikmati aktivitas-aktivitas sederhana yang disajikan.

Namun, setelah lewat setengah buku, rasa bosan itu muncul sehingga proses menamatkan novel ini pun menjadi lebih lama. Apalagi, ceritanya lumayan dragging. Penulis bahkan sudah tidak seberapa ingat ada kisah apa saja yang sudah Penulis baca di novel ini.

Cerita antarbabnya tidak nyambung, terutama di bagian awal-awal, seolah ceritanya berdiri sendiri-sendiri. Namun, makin ke belakang, buku ini semakin terasa linier dan utuh sebagai novel, bukan kumpulan cerita pendek.

Oleh karena itu, bisa dibilang novel ini tidak memiliki konflik utama. Konfliknya ya ada di masing-masing karakter, di mana sepanjang novel mereka mulai mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu menjadi lebih baik dalam menghadapi masalahnya.

Bisa dibilang, konflik yang ada di novel ini lebih banyak ke pergulatan batin dibandingkan dengan konflik eksternal. Tidak ada cerita Yeong-ju pusing karena penjualan toko seret, yang ada bagaimana ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan dan terutama dirinya sendiri.

Buat yang sedang mengalami masalah internal, bisa jadi ada bagian-bagian di buku ini yang akan memberikan jawabannya. Mungkin bukan jawaban gamblang, tapi bisa menjadi inspirasi apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu.

Bagian yang paling menarik bagi Penulis tentu saja mengetahui bagaimana Yeong-ju mengelola toko bukunya. Setiap aktivitas yang dia lakukan, baik sekadar merapikan rak buku ataupun membuat komunitas, berhasil Penulis bayangkan dengan baik

Mungkin novel ini bisa memberikan rasanya nyaman untuk pembacanya yang merasa related dengan konflik di dalamnya. Sayangnya, Penulis tidak merasakan rasa nyaman itu, setidaknya setelah membaca cukup banyak halamannya.

Walau begitu, novel ini tetap Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang sedang mencari bacaan ringan. Walau latarnya di Korea Selatan, buku ini cukup terasa dekat, walau tidak sampai membuat kita merasa memiliki koneksi khusus dengan karakter-karakter di dalamnya.

Skor: 6/10


Lawang, 2 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018