Connect with us

Buku

Setelah Membaca Lumpu

Published

on

Sama seperti tahun kemarin, tahun ini Tere Liye kembali merilis dua buku serial Bumi. Bedanya, tahun kemarin Selena dan Nebula memiliki kesinambungan. Kali ini, Si Putih dan Lumpu sama sekali tidak berkaitan. Setidaknya, belum.

Berbeda dengan Si Putih yang merupakan spin-off, di novel Lumpu kita akan kembali bertemu dengan trio kesayangan kita, Raib, Seli, dan Ali. Ini merupakan kisah pertama mereka setelah tiga buku terakhir berfokus pada sosok lain.

Novel ini menjadi buku ke-11 dari serial Bumi. Jujur, Penulis tidak menyangka kalau serial Bumi akan menjadi sepanjang ini. Penulis kira, Komet Minor adalah seri terakhir.

Setelah mengungkapkan kekecewaan pada novel Si Putih, bagaimana dengan novel ini?

SPOILER ALERT!!!

Apa Isi Buku Ini?

Setelah mendapatkan kabar Miss Selena ditangkap, Raib, Seli, dan Ali memutuskan untuk menyelamatkannya dan memulai petualangan baru. Dengan berbagai persiapan, mereka kembali ke Klan Bulan.

Tempat pertama yang mereka tuju adalah Akademi Bayangan Tingkat Tinggi (ABTT) untuk bertemu dengan Master Ox. Mereka butuh bertemu dengannya untuk menemukan di mana musuh lama mereka, Tamus, berada.

Ali adalah orang yang memiliki ide gila tersebut. Mengapa? Karena Lumpu mengincar orang-orang yang memiliki kekuatan. Apalagi, Tamus juga termasuk orang yang menerobos ke Klan Nebula untuk mencuri Cawan Keabadian.

Berkat petunjuk dari Master Ox, mereka bertiga menemukan lokasi Tamus. Tentu mereka tidak disambut dengan ramah. Pertarungan pun terjadi dengan sengit sampai Lumpu tiba-tiba muncul.

Singkat cerita Ali memutuskan untuk menyelamatkan Tamus dan pergi dari tempat tersebut. Mereka ingin Tamus memberi tahu mereka di mana kapal peninggalan Klan Aldebaran. Tamus pun menunjukkan tempatnya, lantas ia berkhianat dengan mencuri ILY, kapal buatan Ali.

Raib, Seli, dan Ali pun berusaha menemukan Tamus sekaligus ILY. Kita pun akan dibawa berkeliling ke tempat-tempat di Klan Bulan yang belum pernah kita kunjungi. Mereka harus bersiap jika Lumpu hadir di hadapan mereka untuk mengambil semua kekuatan mereka.

Setelah Membaca Buku Lumpu

Membosankan. Lagi-lagi membosankan. Itulah yang muncul di benak Penulis ketika membaca novel ini. Ketika sudah selesai pun, Penulis hanya berpikir, “udah, gitu aja?” Petualangan yang dialami Raib, Seli, dan Ali, walaupun selalu ada rintangan menghadang, akhirnya selalu muluuus begitu saja.

Pertama, petualangan yang dilakukan begitu-begitu saja. Bahkan, formula “bertemu orang tua yang menyebalkan tapi berguna” di novel Si Putih kembali terulang di sini. Kasarnya kalau tidak ada sosok tua ini, petualangan akan mengalami jalan buntu.

Selain itu, LAGI-LAGI bantuan datang di saat terdesak muncul lagi. Ketika pertarungan klimaks melawan Lumpu, tiba-tiba datang Lambat dan Kosong yang sempat muncul di novel Nebula. Padahal, katanya penduduk Klan Nebula telah habis (maksudnya plot twist mungkin?).

LAGI-LAGI kekuatan ajaib muncul di saat terdesak. Raib dengan sarung tangan Klan Bulannya ternyata pusaka yang mampu mematahkan kemampuan Lumpu untuk menghilangkan kekuatan orang lain. Raib menggunakannya untuk membuat Lumpu kehilangan kemampuannya sendiri.

Ada beberapa nama yang kehilangan kemampuannya di novel ini dan itu menjadi poin yang cukup positif dari novel ini. Tapi tetap saja, formula yang digunakan selalu sama dan tidak ada perubahan. Pertarungan klimaks? Monoton, rasanya begitu-begitu saja.

Bagian yang cukup menegangkan terjadi di bagian Epilog. Namun, bagian itu pun ada agar kita tertarik untuk membeli lanjutan dari novel ini, yakni SaragaS yang berpusat pada orangtua Ali. Semoga formulanya berubah, tidak repetitif lagi.

Seolah ingin memastikan pembacanya membaca semua novelnya, entah ada berapa callback yang merujuk ke novel-novel sebelumnya. Untungnya, ada penjelasan singkat sehingga Penulis tidak perlu membuka novel-novel yang lama.

Tidak cukup di situ, Tere Liye kembali marah-marah soal pembajakan buku. Tidak cukup satu buku di Selamat Tinggal, ia menulis amarahnya beberapa halaman di bagian epilog ketika Seli memarahi temannya yang membeli buku bajakan (terkesan dipaksakan untuk diselipkan).

Penulis paham ia merasa kesal dan hampir putus asa karyanya selalu dibajak, tapi Penulis yang selalu membeli buku orisinal jadi merasa tidak dihargai sebagai pembaca. Simpati Penulis kepadanya pun jadi berkurang.

Sungguh, seandainya bukan karena cover buku yang menarik, Penulis akan berhenti membeli serial Bumi. Setidaknya, masih ada 7 buku lagi, termasuk novel Aldebaran yang menjadi puncaknya. Semua buku yang sudah rilis masih masuk phase 1 ala Marvel Cinematic Universe. Iya, MASIH PHASE 1.

Novel ini jadi penutup untuk Nebula arc, tapi menjadi pembuka untuk novel-novel selanjutnya. Sayang, serial Bumi sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Jarang ada Penulis Indonesia yang bisa membuat cerita fantasi seluas ini.

Penulis sebenarnya juga tidak ingin memberikan feedback yang negatif seperti ini. Tapi apa daya, kenyataannya memang seperti itu. Semoga Tere Liye bisa memberikan formula yang baru dan berani keluar dari zona nyamannya di buku-buku berikutnya.

Nilainya: 3.5/5.0


Lawang, 2 Juni 2021, terinspirasi setelah membaca Lumpu karya Tere Liye

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Buku

Setelah Membaca Mindset

Published

on

By

Banyak motivator yang kerap berkata mengenai pentingnya mindset atau pola pikir kita dalam menjalani hidup. Apa yang terjadi dalam hidup kita kerap dipengaruhi oleh bagaimana otak kita memikirkan hal tersebut.

Terlepas dari beberapa faktor eksternal yang jelas ikut memengaruhi, Penulis menyetujui hal ini karena terkadang dirinya sendiri mengalami kesulitan dalam membentuk mindset yang baik dan positif.

Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli sebuah buku self-improvement berjudul Mindset yang ditulis oleh Carol S. Dweck. Lantas, apakah Penulis terbantu membentuk mindset-nya setelah membaca buku ini?

Detail Buku

  • Judul: Mindset – Mengubah Pola Berbikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda
  • Penulis: Carol S. Dweck
  • Penerbit: BACA
  • Cetakan: Cetakan VII Edisi Revisi
  • Tanggal Terbit: Maret 2021
  • Tebal: 400 halaman

Apa Isi Buku Ini?

Mindset memiliki 8 bab, di mana tiga bab awal berusaha menjelaskan tentang apa itu mindset, tiga bab selanjutnya memberikan beberapa contoh penerapan growth mindset dalam berbagai bidang, satu bab yang menelusuri darimana datangnya mindset, dan satu bab ekstra yang sejujurnya tidak terlalu Penulis pahami.

Bab 1 membahas mengenai jenis-jenis mindset, di mana di sinilah kita pertama kali akan diperkenalkan mengenai perbedaan mendasar antara fixed mindset dan growth mindset. Penulis akan memberikan “bocorannya” di bawah.

Kita akan lebih mendalami tentang pemahaman mindset pada bab 2 dan 3. Kita juga akan diajak untuk mengubah definisi kegagalan dan usaha dengan menggunakan mindset ini. Kita juga akan mendefinisikan ulang mengenai kemampuan dan pencapaian dalam hidup.

Untuk bab 4 – 6 yang memberikan contoh penerapan growth mindset dalam berbagai bidang, di buku ini ada dari bidang olahraga, bisnis, dan cinta. Pada bab 7, kita akan diajak untuk menelusuri bagaimana mindset kita terbentuk.

Di bawah ini adalah rangkuman judul bab yang terdapat pada buku ini:

  1. Jenis-Jenis Mindset
  2. Memahami Mindset
  3. Kebenaran tentang Kemampuan dan Pencapaian
  4. Olahraga: Mindset Seorang Juara
  5. Bisnis: Mindset dan Kepemimpinan
  6. Hubungan: Mindset dalam Cinta (Atau Bukan)
  7. Orangtua, Guru, dan Pelatih: Dari Mana Datangnya Mindset
  8. Mengubah Mindset: Sebuah Lokakarya

Banyak contoh di kehidupan yang dimasukkan ke dalam buku ini untuk membuktikan bahwa orang-orang dengan growth mindset lebih sukses dibandingkan orang-orang dengan fixed mindset.

Di bagian belakang buku, kita bisa membaca sedikit contoh penerapan growth mindset. Alih-alih mengatakan “aku payah dalam hal ini”, lebih baik mengatakan “apa yang aku lewatkan?”. Contoh-contoh seperti ini akan lebih banyak ditemukan di dalam buku.

Setelah Membaca Mindset

Fokus dari buku Mindset adalah menjelaskan tentang adanya dua jenis mindset, yakni fixed mindset dan growth mindset. Seperti namanya, fixed mindset adalah pola pikir tetap yang tidak mau berubah, sedangkan growth mindset adalah pola pikir yang terus berkembang.

Penulis akan ambil contoh dari horoskop. Misal Penulis yang berzodiak Taurus digambarkan sebagai orang yang sensitif. Jika ada orang yang mengingatkan kalau Penulis terlalu sensitif, Penulis akan membela diri dengan mengatakan “emang orang Taurus, mau gimana lagi”.

Ini adalah contoh kecil dari fixed mindset, di mana kita percaya begitu saja dengan pikiran (buruk) kita tanpa ada upaya untuk mengubahnya. Padahal, sebenarnya sifat-sifat buruk yang kita miliki bisa saja kita ubah jika kita berusaha untuk mengubahnya.

Penyajian tentang mindset yang dilaukan oleh Carol sebenarnya cukup mendalam dan dijelaskan dengan mudah. Hanya saja, Penulis merasa beberapa bagian dari buku ini cukup bertele-tele dan cukup membosankan.

Salah satu alasannya adalah inti dari buku ini sebenarnya hanya menjelaskan tentang fixed mindset dan growth mindset. Dengan tebal yang mencapai , rasanya buku ini terlampau tebal untuk sebuah topik.

Walaupun begitu, buku ini sangat cocok dengan Penulis yang berusaha untuk menerapkan filosofi stoic yang menekankan kalau satu-satunya hal yang bisa kendalikan adalah diri sendiri. Mindset jelas termasuk di dalamnya.

Contoh paling nyata bagaimana vitalnya mengendalikan mindset untuk kehidupan yang lebih baik telah Penulis saksikan sendiri pada ayah Penulis. Meskipun sedang dalam kondisi apapun, ayah Penulis hampir selalu mampu mengendalikan growth mindset-nya.

Di sisi lain, Penulis merasa bahwa selama ini sering stuck dengan fixed mindset-nya. Tidak bisa ini, tidak bisa itu, karena memang begitu. Padahal kalau jujur ke diri sendiri, upaya Penulis saja yang memang belum maksimal.

Oleh karena itu, Penulis merekomendasikan buku ini untuk Pembaca yang merasa dirinya sering terjebak dengan fixed mindset dan ingin belajar tentang growth mindset. Buku ini cukup mencerahkan, kok!

Peringkat: 4 dari 5.

Lawang, 15 Juni 2022, terinspirasi setelah membaca buku Mindset karya Carol S. Dweck

Continue Reading

Buku

Setelah Membaca Janji

Published

on

By

Setelah berkali-kali kecewa setelah membaca karya Tere Liye (Lumpu, Si Putih, Pulang-Pergi, Si Anak Cahaya, Si Anak Badai), akhirnya ada satu novel baru dari beliau yang membuat Penulis sedikit merasa puas setelah selesai membacanya.

Berjudul Janji, novel ini bisa dibilang mengulang formula dari novel-novel sebelumnya yang menurut Penulis cukup baik: Tentang Kamu. Penulis akan jelaskan nanti mengapa novel ini memiliki formula yang sama dengan novel tersebut.

Sebelum itu, Penulis akan bahas terlebih dahulu mengenai alur cerita dari novel ini. SPOILER ALERT!!!

Apa Isi Buku Ini?

Novel ini diawali dari kisah tiga anak bernama Hasan, Baso, dan Kahar, yang menempuh ilmu di sebuah sekolah agama. Mereka bertiga terkenal karena kebandelan dan keisengan yang sering mereka lakukan.

Lantas, mereka diberikan hukuman oleh pemilik sekolah agama tersebut (disebut Buya) untuk mencari seseorang bernama Bahar Safar yang pernah bersekolah di sana puluhan tahun yang lalu.

Buya memerintahkan mereka mencari Bahar karena ayahnya pernah bermimpi kalau orang tersebut membantu ayahnya di akhirat nanti. Padahal, Bahar dulu diusir dari sekolah karena melakukan kesalahan yang sangat fatal: Membakar sekolah hingga seorang tewas.

Selain itu, ketiga anak tersebut dipilih karena sama-sama memiliki jiwa pemberontak yang kuat karena berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Bahkan, mereka merasa dibuang oleh keluarganya sendiri ke sekolah agama tersebut.

Akhirnya, dimulailah perjalanan tiga sekawan tersebut mencari Bahar. Mereka berusaha mengumpulkan informasi mengenai keberadaan Bahar dengan cara mereka sendiri yang mungkin tak akan terpikirkan oleh Buya sekalipun.

Dari sana, seperti kepingan puzzle, perlahan kita akan menelusuri kisah hidup Bahar setelah diusir oleh Buya. Mulai dari pertemuan dengan Bos Acong, Pak Asep, Pak Mansyur, Muhib, saudagar kaya, Pak Budi dan Bu Surti, hingga Pak Sueb.

Selepas pergi dari sekolah agama, ternyata Bahar pergi ke banyak tempat, mulai dari ibu kota provinsi, penjara, pertokoan di pertigaan kota lain, pertambangan liar, hingga akhirnya di ibu kota.

Detail perjalanan yang dilalui ketiga sekawan tidak akan Penulis ceritakan di sini, karena sebaiknya Pembaca membacanya sendiri. Yang pasti, inilah the old Tere Liye yang penulis sukai.

Setelah Membaca Janji

Formula yang digunakan novel ini sama dengan novel Tentang Kamu, yakni menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan karakter utamanya. Selain itu, alur cerita yang dimiliki juga sama, yakni penelusuran mencari jejak seseorang dari masa lampau.

Novel ini juga memiliki vibe yang mirip dengan novel-novel Tere Liye yang Penulis anggap bagus dan mampu memikat pembacanya, seperti Rindu dan Rembulan Tenggelam di Wajahmu.

Di akhir cerita, ternyata Bahar diberikan lima pusaka sebelum meninggalkan sekolah agama, yang seolah menjawab mengenai perilaku Bahar sepanjang cerita. Kelima pusaka tersebut adalah:

  1. Selalu hormati dan bantu tetangga
  2. Selalu lindungi yang lemah dan teraniaya
  3. Senantiasa jujur dan tidak pernah mencuri
  4. Bersabarlah atas apa pun ujianmu
  5. Bersedekah, bersedekah, bersedekahlah

Bisa dilihat meskipun “bermasalah”, Bahar dengan taat melaksanakan kelima pusaka tersebut. Penulis merasa terkejut ketika menyadari kalau kelima poin tersebut dilakukan secara berurutan di cerita ini.

Konflik cerita yang bisa dianggap cukup dark bisa diimbangi dengan kocaknya tiga sekawan tersebut, sehingga sepanjang membaca novel ini kita tidak melulu dibuat tegang (meskipun joke yang ada klise khas Tere Liye).

Dari naik-turunnya kehidupan Bahar di novel ini, ada banyak nilai-nilai kehidupan yang kita dapatkan. Salah satu bagian yang Penulis suka adalah tentang kehidupan penjara yang terasa nyata dan cukup detail.

Jika harus menyebutkan apa kekurangan novel ini, mungkin Penulis akan menyebutkan betapa mulusnya tiga sekawan menemukan informan yang mengetahui tentang Bahar. Walaupun begitu, alurnya masih terasa natural dan tidak memaksa.

Penulis berharap Tere Liye akan lebih banyak menerbitkan novel-novel seperti ini. Meskipun menggunakan formula yang sama, setidaknya ada sesuatu yang bisa didapatkan oleh pembacanya.

Peringkat: 4 dari 5.

Lawang, 27 Januari 2022, terinspirasi setelah membaca buku Janji karya Tere Liye

Continue Reading

Buku

Setelah Membaca Hello, Habits

Published

on

By

Saat ini, Penulis berusaha untuk terus membangun kebiasaan baik dalam hidupnya. Kebiasaan tersebut ada yang dilakukan pagi maupun malam hari. Tujuannya jelas, Penulis ingin memiliki hidup yang lebih baik lagi.

Akan tetapi, yang namanya membangun kebiasaan baik pasti sangat sulit. Ada saja halangan yang akan dijumpai, termasuk rasa malas yang kerap sekali datang. Akibatnya, kebiasaan yang dibentuk pun buyar di tengah jalan.

Oleh karena itu, Penulis banyak membaca buku tentang membangun kebiasaan. Salah satunya adalah Hello, Habits karangan Fumio Sasaki yang juga menulis buku Goodbye, Things. Seperti apa ulasan Penulis terhadap buku ini?

Apa Isi Buku Ini?

Jika dibandingkan dengan buku Atomic Habits yang menjelaskan langkah demi langkap, bisa dibilang Hello, Habits ini lebih ke arah buku yang berisi serangkaian tips untuk bisa membangun kebiasaan.

Mengingat yang menulis buku ini adalah Fumio Sasaki yang terkenal karena gaya hidup minimalisnya, tips-tips membangun kebiasaan di buku ini pun banyak terkait dengan gaya hidup minimalis yang ia terapkan.

Buku ini dibagi menjadi empat bab utama, yakni:

  1. Keteguhan Hati
  2. Apakah yang Dimaksud dengan Kebiasaan?
  3. 50 Langkah Untuk Membentuk Kebiasaan
  4. Kita Dibentuk oleh Kebiasaan

Inti dari buku ini adalah Bab 3, di mana Sasaki menuliskan 50 tips yang bisa kita coba untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dua bab utama bisa dibilang sebagai pembukaan sebelum masuk ke dalam intinya.

Bab pertama menjelaskan mengenai korelasi antara membangun kebiasaan baik dengan keteguhan hati yang kita miliki. Sasaki menjelaskan kalau jika kita gagal melakukan kebiasaan baik, itu bukan karena semata-mata karena keteguhan hati kita kurang.

Salah satu faktor utama kita gagal merutinkan kebiasaan adalah karena kita cenderung memilih “imbalan” yang ada di depan mata dibandingkan dengan yang ada di masa depan. “Imbalan” kebiasaan baik biasanya membutuhkan waktu yang lama.

Lalu Sasaki melanjutkan dengan menyebutkan kalau kebiasaan adalah “tindakan yang kita lakukan tanpa berpikir panjang”. Contoh mudahnya adalah urutan yang kita lakukan ketika kita mandi, apa yang kita lakukan ketika bangun tidur, dan lain sebagainya.

Membuat hal baik bisa kita lakukan untuk bisa menjadi sebuah tindakan yang tak butuh dipikirkan jelas membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. Oleh karena itu, Sasaki memberikan 50 tips untuk membangun kebiasaan di buku ini.

Tiap tips yang ada di dalam buku ini cukup pendek, hanya terdiri dari beberapa lembar saja. Tips yang dicantumkan bervariasi, kadang memiliki keterkaitan dengan tips sebelumnya, kadang berdiri sendiri.

Setelah Membaca Hello, Habits

Kalau menikmati buku Goodbye, Things, kemungkinan buku ini pun akan Pembaca nikmati. Dengan gaya bahasa motivasi yang tidak judgemental, buku ini terasa dekat dan aplikatif di kehidupan kita sehari-hari.

Salah satu poin penting dari buku ini adalah Sasaki banyak menggunakan percobaan yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk menjelaskan bagaimana kerja otak kita ketika membangun dan melakukan kebiasaan.

Satu percobaan yang kerap dibahas oleh Sasaki adalah uji marshmallow untuk membuktikan kalau manusia cenderung akan mengambil “imbalan” yang ada di depan mata dan mudah dilakukan.

Hanya saja, 50 tips yang dibuat berurutan tanpa ada subbab cukup membingungkan. Rasanya mustahil kita bisa mengingat semuanya. Jika ada subbab, setidaknya kita bisa mengingat poin-poin penting yang ada di dalam buku ini.

Selain itu, isinya juga terasa kurang padat. Mungkin karena Penulis sudah membaca buku tentang kebiasaan yang lebih detail seperti Atomic Habits. Walaupun begitu, tetap ada beberapa hal baru yang bisa Penulis petik dari buku ini.

Untuk yang ingin mendalami seputar kebiasaan, buku ini Penulis rekomendasikan sebagai awal. Jika ingin buku tentang kebiasaan yang lebih dalam, Pembaca bisa membaca Atomic Habits atau The Power of Habit karya Charles Duhigg.

Peringkat: 4 dari 5.

Lawang, 21 November 2021, terinspirasi setelah membaca Hello, Habits karya Fumio Sasaki

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan