Connect with us

Buku

Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk

Published

on

Novel Tere Liye pertama yang Penulis baca adalah Pulang. Penulis membelinya sewaktu zaman kuliah dan ceritanya pun terasa seru-seru saja. Apalagi, novel ini yang membuat Penulis jadi membeli novel-novel Tere Liye lainnya.

Hanya saja, ketika sudah beranjak dewasa seperti sekarang, rasanya ceritanya sudah minta ampun membosankannya. Beberapa kali Penulis membuat ulasan tentang novel Tere Liye di blog ini, dan kebanyakan isinya adalah keluhan dan keluhan.

Nah, novel Tere Liye terbaru yang telah Penulis selesaikan adalah Bedebah di Ujung Tanduk yang menggabungkan universe dari seri Pulang dan Negeri Para Bedebah. Kedua karakter utama dari seri tersebut, Bujang dan Thomas, muncul di novel ini.

Apakah Penulis kembali menelan pil kekecewaan pada novel kali ini? Sayangnya, iya. Akan ada banyak sekali keluhan yang akan Penulis tuangkan di sini, mungkin dengan sedikit emosi. SPOILER ALERT!!!

Detail Buku

  • Judul: Bedebah di Ujung Tanduk
  • Penulis: Tere Liye
  • Penerbit: Sabakgrip
  • Cetakan: –
  • Tanggal Terbit: –
  • Tebal: 415 halaman

Apa Isi Buku Ini?

Penulis tidak akan bercerita terlalu detail tentang novel ini, hanya poin-poin pentingnya saja. Inti dari konflik yang ada di novel ini adalah Thomas yang membantu jual beli gunung yang ternyata milik kelompok Teratai Emas pimpinan Roh Drukpa XX.

Karakter langganan dari seri Pulang pun kembali muncul, seperti Salonga, Junior, White, Yuki dan Kiko, dan tentu saja Bujang yang lebih dominan di cerita ini daripada Thomas. Sebagai tambahan, Ayako juga bergabung dengan “kelompok sirkus” ini.

Singkat cerita, mereka semua diburu oleh kelompok Teratai Emas karena menolak untuk menyerahkan Thomas. Alhasil, mereka semua pun tertangkap dan dibawa ke markas Teratai Emas.

Lantas, apakah mereka semua pada akhirnya mati karena tidak ada kesempatan untuk kabur? Tentu saja tidak. Ayako, yang kehadirannya memang diperlukan untuk keperluan plot, mengajukan semacam tantangan ke Roh Drukpa XX.

Intinya, ada tiga tantangan yang akan diajukan oleh masing-masing pihak Jika Bujang dkk berhasil menang, maka mereka akan dibebaskan. Jika tidak, hukuman mati pun akan dilaksanakan.

Menjelang akhir cerita, tiba-tiba kakak Bujang yaitu Diego tiba-tiba muncul (seperti biasa) dan membuat kekacauan hingga membuat Roh Drukpa XX mati. Selain itu, Ayako juga mengorbankan diri agar rombongan lain bisa selamat.

Ada juga sisipan kisah romansa antara Bujang dan Maria, yang hampir saja menikah di novel Pulang-Pergi. Di novel ini, kita mengetahui kalau Bujang telah memiliki sosok spesial di dalam hatinya, yang belum kita ketahui hingga sekarang.

Sudah, kurang lebih seperti itu plot ceritanya. Seperti biasa, novel ini pun akan kembali memiliki kelanjutannya dengan judul Tanah Para Bandit. Entah sampai kapan Tere Liye akan terus melakukan milking terhadap karya-karyanya.

Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk

Penulis pernah membuat ulasan tentang film Fast & Furious 9, di mana para karakternya yang manusia biasa terasa memiliki kekuatan super. Seri ini juga memiliki tendensi untuk mengarah ke arah yang sama.

Dibandingkan genre action, seri ini sudah lebih mengarah ke genre fantasi. Bayangkan saja, Thomas digambarkan memiliki pemberat ala Rock Lee dan mampu meningkatkan kekuatannya hingga berkali-kali lipat. Sangat tidak terasa orisinal.

Apalagi, tidak ada karakter utama atau bahkan pendamping yang dibunuh oleh author. Kematian Ayako sudah Penulis prediksi sejak awal kemunculannya, karena memang biasanya karakter baru muncul untuk sekadar ditumbalkan.

Selain itu, karakter Thomas juga terlihat berubah di novel ini. Sebelumnya, ia terlihat sebagai pribadi yang cerdas, berwibawa, dan mengandalkan logika. Di sini, ia terkesan kekanakan dan hanya mengandalkan kemampuan fisik saja.

Yang paling klise tentu saja kemunculan Diego yang (lagi-lagi) muncul di saat-saat krusial. Ia seolah dihadirkan untuk menjadi nemesis dari Bujang, sehingga tidak akan dimatikan dalam waktu dekat.

Tere Liye berusaha menyisipkan sedikit sejarah di novel ini, apalagi latar tempatnya yang berlokasi di Nepal dan Bhutan. Hanya saja, sisipan tersebut terasa dangkal dan kurang mendalam, seolah hanya searching di Google saja.

Beberapa hal lain yang menurut Penulis cukup mengecewakan dari novel ini adalah dialog pasukan yang monoton, efek suara yang aneh serta terlalu banyak, penempatan humor yang memaksa, penggambaran pertarungan yang terlalu panjang, dan lainnya.

Jika ditarik kesimpulan, lagi-lagi novel Tere Liye mengecewakan Penulis dan kesulitan untuk mencari sisi positifnya. Akibatnya, hingga saat ini Penulis memutuskan untuk belum membeli novel terbaru dari serial Bumi karena takut dikecewakan lagi.


Lawang, 29 Agustus 2022, terinspirasi setelah membaca novel Bedebah di Ujung Tanduk karya Tere Liye

Non-Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory

Published

on

By

Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah “The Let Them Theory” untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.

Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.

Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.

Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.

Detail Buku The Let Them Theory

  • Judul: The Let Them Theory
  • Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-3
  • Tanggal Terbit: Januari 2026
  • Tebal: 328 halaman
  • ISBN: 625221049
  • Harga: Rp119.000

Apa Isi Buku The Let Them Theory

Inti dari buku The Let Them Theory sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh “kekuasaan” kepada diri sendiri.

Selama ini, jangan-jangan kita menaruh “kekuasaan” tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.

Meskipun judulnya “Let Them” atau “Biarkan Mereka”, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni “Let Me” atau “Biarkan Aku”.

Jadi, selain “Biarkan Mereka” yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang “Biarkan Aku” yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni Teori Biarkan Saja, Kau dan Teori Biarkan Saja, dan Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.

Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.

Ada empat bab utama di bagian ini, yakni Mengelola Stres, Takut akan Pendapat Orang Lain, Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain, dan Mengatasi Perbandingan Kronis.

Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.

Bagian ini juga ada empat bab, yakni Memahami Pertemanan Orang Dewasa, Memotivasi Orang Lain untuk Berubah, Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan, dan Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan.

Setelah Membaca The Let Them Theory

The Let Them Theory adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap overthinking seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya “varian” dari konsep Dikotomi Kendali dari stoikisme.

Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan buku yang tepat di waktu yang tepat. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa related dengan dirinya.

Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, “Iya, ya?” ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.

Perkara Menolong Orang Lain

Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah “Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan”. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung extra effort untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.

Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.

Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering overthinking bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).

Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, biarkan saja mereka melewati masalahnya. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.

Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.

Fokus ke Diri Sendiri

Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain

Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.

Perubahan logo whatheFAN pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.

Perkara Perbandingan Kronis

Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian “Mengatasi Perbandingan Kronis”. Penulis yang pada dasarnya punya low esteem kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.

Penulis sering merasa kalau “kemenangan” orang lain berarti “kekalahan” kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena “kemenangan” orang lain ya “kemenangan” mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita “kalah”.

Kekurangan Buku Ini

Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku self-help yang merasa punya satu teori hebat, buku ini juga cenderung repetitif. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya “ini lagi ini lagi”.

Selain itu, isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.

Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.

Walau mengandung kata “teori” di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah memperumit “teori” sederhana yang ingin dijelaskan.

***

Bagi Penulis, The Let Them Theory adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan “pencerahan” ketika membaca isinya.

Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas mood kita sendiri, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.

Skor: 8/10


Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca The Let Them Theory karya Mel Robbins

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Published

on

By

Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif.

Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya.

Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.

Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

  • Judul: Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020639321
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama Hidaka Kunihiko ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya.

Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama Nonoguchi Osamu, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. Detektif Kaga Kyoichiro sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.

Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.

Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.

Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah angle-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.

Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd. Di novel tersebut, tokoh “aku” yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.

Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Berbeda dengan The Devotion of Suspect X yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau A Midsummer’s Equation yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula The Devotion of Suspect X ).

Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.

Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa melihat ada banyak reverse psychology di sini, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.

Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.

Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!

Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa overwhelming.

Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.

Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: stop bullying. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.

Kesimpulannya, Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis mengulang formula Devotion of Mr. X yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang mengapa melakukannya.

SKOR: 8/10

Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah Salvation of a Saint – Dosa Malaikat.


Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca Malice karya Keigo Higashino

Continue Reading

Non-Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!

Published

on

By

Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar Abigail Limuria dan Cania Citta, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif.

Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul Makanya, Mikir!, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara launching buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum!

Ekspektasi Penulis ketika membeli buku ini adalah Penulis jadi mengetahui bagaimana kerangka berpikir yang benar. Jangan-jangan, ada yang salah dari cara Penulis berpikir selama ini.

Apakah ekspektasi ini tercapai? Sayangnya tidak.

Detail Buku Makanya, Mikir!

  • Judul: Makanya, Mikir!
  • Penulis: Abigail Limuria dan Cania Citta
  • Penerbit:
  • Cetakan: Ke-7
  • Tanggal Terbit: September 2025
  • Tebal: 290 halaman
  • ISBN: 9786238944026
  • Harga: Rp138.000

Apa Isi Buku Makanya, Mikir!

Berdasarkan sinopsis yang terletak di bagian belakang, buku ini berusaha untuk memberikan berbagai kerangka berpikir (mental models) beserta studi kasusnya. Ini selaras dengan judulnya, yang mengajak kita untuk berpikir.

Sebenarnya bukan berarti kedua penulis buku ini menuduh kita tidak pernah berpikir. Bisa saja selama ini kita berpikir, tapi tidak berpikir dengan benar. Nah, buku ini berusaha memberi insight mengenai bagaimana berpikir yang benar.

Ada total delapan bab di buku ini, yakni:

  1. Peta Realitas dan Cara Menentukan Tujuan Hidup
  2. Kerangka Berpikir Dua Ranah: Pentingnya Membedakan Realitas dan Preferensi
  3. Pola Pikir Ilmiah: Yang Pede dan Ngotot Belum Tentu yang Pintar
  4. Bagaimana Menentukan Cost dan Benefit: Kenalan dengan Objective-Oriented Principle
  5. Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan
  6. Menentukan Prioritas: Sumber Daya Terbatas, Mana yang Harus Diutamakan?
  7. Kecerdasan Sosial: Buat Apa Pintar Kalau Nyebelin

Di bab-bab tersebut, ada banyak sekali teori berpikir yang akan kita pelajari, walau memang bisa dibilang hanya di permukaan saja. Semuanya dipaparkan dengan bahasa sederhana yang tidak membuat kita kebingungan.

Beberapa hal yang dijabarkan di buku ini adalah bagaimana menentukan tujuan hidup, perbedaan ranah realitas dan preferensi (yang kerap menjadi sumber utama polarisasi), konsep Cost-Benefit Analysis (CBA) yang membantu kita membuat keputusan dan prioritas, bias berpikir, dan lain sebagainya.

Setelah Membaca Makanya, Mikir!

Dua nama yang menulis buku ini adalah orang-orang yang Penulis anggap cerdas, sehingga ada ekspektasi tinggi ketika membaca buku ini. Jika membaca buku self-improvement dari Barat, biasanya Penulis tidak mengenal siapa penulisnya.

Nah, Penulis membutuhkan waktu yang relatif cukup singkat untuk menyelesaikan buku ini. Apakah itu tanda kalau buku ini begitu menarik? Sayangnya bukan, karena memang isinya yang bagi Penulis relatif sedikit.

Dengan harga yang relatif cukup mahal (hampir Rp140 ribu), sayang isi buku ini bisa dibilang terasa hanya permukaan saja. Sebenarnya wajar, karena buku ini full color dan memiliki banyak sekali gambar, yang terkadang memakan hampir dua halaman penuh.

Memang, dalam podcast bersama Raditya Dika, Abigail Limuria mengatakan bahwa buku ini memang berusaha tidak mengintimidasi pembacanya dengan buku yang full dengan tulisan. (FYI, Radit yang pernah punya percetakan juga terlihat kaget dengan harganya yang cukup mahal).

Jika memang target pasarnya adalah pembaca baru atau yang baru ingin membangun kebiasaan pembaca, maka keputusan tersebut tepat. Hanya saja, bagi Penulis yang memang dari dulu hobinya membaca, Penulis merasa sedikit rugi telah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk isi yang “hanya” segini.

Penulis adalah tipe reviewer buku yang menilai buku berdasarkan dampak yang diberikan oleh buku tersebut dan membandingkan dengan “investasi” yang Penulis keluarkan untuk membeli buku tersebut. Jujur saja, ini adalah “investasi” yang kurang worth it.

Tentu ada banyak insight-insight menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama bagian CBT yang pernah Penulis praktekkan. Hanya saya, ya kembali lagi, rasanya kurang sepadan dengan uang yang sudah dikeluarkan.

Gaya penulisannya yang seperti mendengarkan teman yapping juga menjadi salah satu kelebihan buku ini, terutama untuk pembaca pemula. Setiap poin yang ingin dibahas berusaha dijabarkan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, buku ini juga selalu memberikan studi kasus agar kita lebih paham lagi. Hanya saja, terkadang Penulis merasa studi kasus yang diberikan terlalu banyak dan berulang-ulang.

Buku ini mungkin cocok bagi banyak orang, apalagi di Indonesia yang tingkat literasinya cukup rendah. Namun, bagi orang yang memang sudah lama hobi membaca seperti Penulis, buku ini akan terasa kurang “daging”.

Skor: 6/10


Lawang, 26 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca Makanya, Mikir! karya Abigail Limuria dan Cania Citta

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018