Connect with us

Buku

Setelah Membaca Si Putih

Published

on

Tere Liye kembali melanjutkan serial Bumi yang kini sudah mencapai jilid ke-10 dan ke-11. Kali ini, Penulis akan membahas tentang buku ke-10, Si Putih, yang berpusat pada kucing milik Raib.

Sebagai cerita spin-off, novel ini akan memiliki latar belakang yang jelas berbeda dengan serial Bumi lainnya. Kita akan dibawa ke klan baru bernama Polaris yang belum pernah dikunjungi oleh Raib, Seli, dan Ali.

Ketika membeli novel ini, Penulis berharap akan mengetahui bagaimana Si Putih bisa sampai berada di depan rumah Raib dan akhirnya dipelihara. Sayangnya, novel ini akan memiliki sekuel sehingga tidak menjawab pertanyaan tersebut.

SPOILER ALERT!!!

Apa Isi Buku Ini?

Kali ini, kita akan dibawa berpetualang ke Klan Polaris, sebuah klan unik yang berada di konstelasi Ursa. Cerita berpusat pada tokoh bernama N-ou yang tinggal di kota E-um.

Tempat yang terbagi menjadi dua wilayah, di mana satu wilayah dibiarkan tanpa manusia agar ketika terjadi pandemi atau bencana lainnya, mereka bisa mengungsi ke bagian klan yang lebih aman.

Ketika N-ou berusia 12 tahun, pandemi mematikan tersebut muncul. Ia dan orangtuanya pun bergegas melewati dinding pembatas untuk mengungsi. Sayangnya di detik-detik terakhir, N-ou terpapar virus sehingga harus ditinggalkan di kota E-um.

N-ou yang sekarat tiba-tiba ditolong oleh seekor kucing berwarna putih yang kita kenal dengan nama Si Putih. Keajaiban pun menghampiri N-ou, ia berhasil selamat dari pandemi tersebut dan bertahan hidup. Setelah kondisinya pulih, ia mulai menelusuri tembok pembatas tersebut, berharap bisa menembusnya.

Sayang, lima tahun berlalu ia tidak menemukan celah sekecil apapun. Keinginannya untuk bertemu dengan orangtuanya pupus sudah. Ia pun membulatkan tekad untuk menyusuri area Timur, area yang selama ini terkesan misterius.

Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Pak Tua yang akan menjadi teman perjalanannya. Keberadaan orang tersebut membantu N-ou memahami dunia yang belum pernah ia dengar. Ia tidak sadar, perjalanannya kali ini akan membuatnya menyadari kekuatan terpendam yang ia miliki.

Setelah Membaca Buku Si Putih

Gimana ya, memang sih novel ini menghadirkan tokoh dan klan baru. Akan tetapi, formula petualangan yang digunakan tetap begitu-begitu saja. Tidak ada sesuatu yang bisa membuat pembaca merasa berdebar. Alurnya pun mudah ditebak dan tidak ada suprise sama sekali.

Kondisi pandemi yang menjadi konflik awal di novel ini nampaknya terinspirasi dari pandemi Corona yang terjadi di dunia nyata. Penulis berusaha untuk tidak spoiler terlalu banyak, tapi petualangan yang dihadapi N-ou bisa dibilang tidak ada yang baru.

Mungkin, hal yang baru di novel ini adalah adanya klan yang bisa mengendalikan hewan. Area Timur Klan Polaris ternyata dikuasai oleh Pengendali Hewan.

N-ou dan kucingnya ternyata bisa bersinergi dan menjadi petarung yang handal. Mereka berusaha untuk menggulingkan kekuasaan raja yang merupakan pengendali naga.

Karena ini bukunya Tere Liye, tanpa Penulis beritahu pun Pembaca mungkin sudah menebak kalau pada akhirnya N-ou berhasil mengalahkan sang raja. “Anak kemarin” bisa mengalahkan raja yang sudah berkuasa selama bertahun-tahun.

Bagaimana caranya? Tentu saja “bantuan dan kekuatan yang tiba-tiba muncul ketika keadaan terdesak”. Formula ending-nya sedikit mirip dengan novel Pulang-Pergi yang sudah Penulis ulas beberapa waktu lalu.

Ada beberapa bagian yang cukup membosankan di novel ini. Adegan Si Putih minta makan terlalu banyak diulang-ulang hingga rasanya sedikit memuakkan.

Character development-nya? Rasanya juga begitu-begitu saja. N-ou berhasil menjadi remaja yang dewasa karena keadaan. Pak Tua tipe orang tsundere yang rasanya beberapa kali muncul di novel-novel Tere Liye.

Petualangan yang disajikan juga tidak bisa dibilang seru, hingga Penulis berpikir apakah karena faktor usia sehingga Penulis tidak bisa menikmati keseruan fantasi remaja ini?

Selain itu, akhir dari novel ini memiliki ending yang sangat menggantung. Ending tersebut seolah memaksa kita untuk membeli lanjutan dari novel ini yang berjudul Bibi Gil. Oh iya, Bibi Gil yang menjadi guru Miss Selena muncul di novel ini.

Sejujurnya, serial Bumi mulai membosankan. Penulis sempat memuji novel Selena dan Nebula yang memiliki alur cerita menarik serta penuh dengan intrik dan sedikit plot twist. Sayangnya, hal tersebut tidak Penulis temukan di sini.

Penulis akan tetap membeli serial Bumi. Bukan karena penasaran atau ceritanya menarik, melainkan karena cover dari buku-bukunya sangat collectible dan bagus untuk dipajang di rak buku.

Nilainya: 3.5/5.0


Lawang, 1 Juni 2021, terinspirasi setelah membaca novel Si Putih karya Tere Liye

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Buku

Setelah Membaca Mindset

Published

on

By

Banyak motivator yang kerap berkata mengenai pentingnya mindset atau pola pikir kita dalam menjalani hidup. Apa yang terjadi dalam hidup kita kerap dipengaruhi oleh bagaimana otak kita memikirkan hal tersebut.

Terlepas dari beberapa faktor eksternal yang jelas ikut memengaruhi, Penulis menyetujui hal ini karena terkadang dirinya sendiri mengalami kesulitan dalam membentuk mindset yang baik dan positif.

Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli sebuah buku self-improvement berjudul Mindset yang ditulis oleh Carol S. Dweck. Lantas, apakah Penulis terbantu membentuk mindset-nya setelah membaca buku ini?

Detail Buku

  • Judul: Mindset – Mengubah Pola Berbikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda
  • Penulis: Carol S. Dweck
  • Penerbit: BACA
  • Cetakan: Cetakan VII Edisi Revisi
  • Tanggal Terbit: Maret 2021
  • Tebal: 400 halaman

Apa Isi Buku Ini?

Mindset memiliki 8 bab, di mana tiga bab awal berusaha menjelaskan tentang apa itu mindset, tiga bab selanjutnya memberikan beberapa contoh penerapan growth mindset dalam berbagai bidang, satu bab yang menelusuri darimana datangnya mindset, dan satu bab ekstra yang sejujurnya tidak terlalu Penulis pahami.

Bab 1 membahas mengenai jenis-jenis mindset, di mana di sinilah kita pertama kali akan diperkenalkan mengenai perbedaan mendasar antara fixed mindset dan growth mindset. Penulis akan memberikan “bocorannya” di bawah.

Kita akan lebih mendalami tentang pemahaman mindset pada bab 2 dan 3. Kita juga akan diajak untuk mengubah definisi kegagalan dan usaha dengan menggunakan mindset ini. Kita juga akan mendefinisikan ulang mengenai kemampuan dan pencapaian dalam hidup.

Untuk bab 4 – 6 yang memberikan contoh penerapan growth mindset dalam berbagai bidang, di buku ini ada dari bidang olahraga, bisnis, dan cinta. Pada bab 7, kita akan diajak untuk menelusuri bagaimana mindset kita terbentuk.

Di bawah ini adalah rangkuman judul bab yang terdapat pada buku ini:

  1. Jenis-Jenis Mindset
  2. Memahami Mindset
  3. Kebenaran tentang Kemampuan dan Pencapaian
  4. Olahraga: Mindset Seorang Juara
  5. Bisnis: Mindset dan Kepemimpinan
  6. Hubungan: Mindset dalam Cinta (Atau Bukan)
  7. Orangtua, Guru, dan Pelatih: Dari Mana Datangnya Mindset
  8. Mengubah Mindset: Sebuah Lokakarya

Banyak contoh di kehidupan yang dimasukkan ke dalam buku ini untuk membuktikan bahwa orang-orang dengan growth mindset lebih sukses dibandingkan orang-orang dengan fixed mindset.

Di bagian belakang buku, kita bisa membaca sedikit contoh penerapan growth mindset. Alih-alih mengatakan “aku payah dalam hal ini”, lebih baik mengatakan “apa yang aku lewatkan?”. Contoh-contoh seperti ini akan lebih banyak ditemukan di dalam buku.

Setelah Membaca Mindset

Fokus dari buku Mindset adalah menjelaskan tentang adanya dua jenis mindset, yakni fixed mindset dan growth mindset. Seperti namanya, fixed mindset adalah pola pikir tetap yang tidak mau berubah, sedangkan growth mindset adalah pola pikir yang terus berkembang.

Penulis akan ambil contoh dari horoskop. Misal Penulis yang berzodiak Taurus digambarkan sebagai orang yang sensitif. Jika ada orang yang mengingatkan kalau Penulis terlalu sensitif, Penulis akan membela diri dengan mengatakan “emang orang Taurus, mau gimana lagi”.

Ini adalah contoh kecil dari fixed mindset, di mana kita percaya begitu saja dengan pikiran (buruk) kita tanpa ada upaya untuk mengubahnya. Padahal, sebenarnya sifat-sifat buruk yang kita miliki bisa saja kita ubah jika kita berusaha untuk mengubahnya.

Penyajian tentang mindset yang dilaukan oleh Carol sebenarnya cukup mendalam dan dijelaskan dengan mudah. Hanya saja, Penulis merasa beberapa bagian dari buku ini cukup bertele-tele dan cukup membosankan.

Salah satu alasannya adalah inti dari buku ini sebenarnya hanya menjelaskan tentang fixed mindset dan growth mindset. Dengan tebal yang mencapai , rasanya buku ini terlampau tebal untuk sebuah topik.

Walaupun begitu, buku ini sangat cocok dengan Penulis yang berusaha untuk menerapkan filosofi stoic yang menekankan kalau satu-satunya hal yang bisa kendalikan adalah diri sendiri. Mindset jelas termasuk di dalamnya.

Contoh paling nyata bagaimana vitalnya mengendalikan mindset untuk kehidupan yang lebih baik telah Penulis saksikan sendiri pada ayah Penulis. Meskipun sedang dalam kondisi apapun, ayah Penulis hampir selalu mampu mengendalikan growth mindset-nya.

Di sisi lain, Penulis merasa bahwa selama ini sering stuck dengan fixed mindset-nya. Tidak bisa ini, tidak bisa itu, karena memang begitu. Padahal kalau jujur ke diri sendiri, upaya Penulis saja yang memang belum maksimal.

Oleh karena itu, Penulis merekomendasikan buku ini untuk Pembaca yang merasa dirinya sering terjebak dengan fixed mindset dan ingin belajar tentang growth mindset. Buku ini cukup mencerahkan, kok!

Peringkat: 4 dari 5.

Lawang, 15 Juni 2022, terinspirasi setelah membaca buku Mindset karya Carol S. Dweck

Continue Reading

Buku

Setelah Membaca Janji

Published

on

By

Setelah berkali-kali kecewa setelah membaca karya Tere Liye (Lumpu, Si Putih, Pulang-Pergi, Si Anak Cahaya, Si Anak Badai), akhirnya ada satu novel baru dari beliau yang membuat Penulis sedikit merasa puas setelah selesai membacanya.

Berjudul Janji, novel ini bisa dibilang mengulang formula dari novel-novel sebelumnya yang menurut Penulis cukup baik: Tentang Kamu. Penulis akan jelaskan nanti mengapa novel ini memiliki formula yang sama dengan novel tersebut.

Sebelum itu, Penulis akan bahas terlebih dahulu mengenai alur cerita dari novel ini. SPOILER ALERT!!!

Apa Isi Buku Ini?

Novel ini diawali dari kisah tiga anak bernama Hasan, Baso, dan Kahar, yang menempuh ilmu di sebuah sekolah agama. Mereka bertiga terkenal karena kebandelan dan keisengan yang sering mereka lakukan.

Lantas, mereka diberikan hukuman oleh pemilik sekolah agama tersebut (disebut Buya) untuk mencari seseorang bernama Bahar Safar yang pernah bersekolah di sana puluhan tahun yang lalu.

Buya memerintahkan mereka mencari Bahar karena ayahnya pernah bermimpi kalau orang tersebut membantu ayahnya di akhirat nanti. Padahal, Bahar dulu diusir dari sekolah karena melakukan kesalahan yang sangat fatal: Membakar sekolah hingga seorang tewas.

Selain itu, ketiga anak tersebut dipilih karena sama-sama memiliki jiwa pemberontak yang kuat karena berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Bahkan, mereka merasa dibuang oleh keluarganya sendiri ke sekolah agama tersebut.

Akhirnya, dimulailah perjalanan tiga sekawan tersebut mencari Bahar. Mereka berusaha mengumpulkan informasi mengenai keberadaan Bahar dengan cara mereka sendiri yang mungkin tak akan terpikirkan oleh Buya sekalipun.

Dari sana, seperti kepingan puzzle, perlahan kita akan menelusuri kisah hidup Bahar setelah diusir oleh Buya. Mulai dari pertemuan dengan Bos Acong, Pak Asep, Pak Mansyur, Muhib, saudagar kaya, Pak Budi dan Bu Surti, hingga Pak Sueb.

Selepas pergi dari sekolah agama, ternyata Bahar pergi ke banyak tempat, mulai dari ibu kota provinsi, penjara, pertokoan di pertigaan kota lain, pertambangan liar, hingga akhirnya di ibu kota.

Detail perjalanan yang dilalui ketiga sekawan tidak akan Penulis ceritakan di sini, karena sebaiknya Pembaca membacanya sendiri. Yang pasti, inilah the old Tere Liye yang penulis sukai.

Setelah Membaca Janji

Formula yang digunakan novel ini sama dengan novel Tentang Kamu, yakni menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan karakter utamanya. Selain itu, alur cerita yang dimiliki juga sama, yakni penelusuran mencari jejak seseorang dari masa lampau.

Novel ini juga memiliki vibe yang mirip dengan novel-novel Tere Liye yang Penulis anggap bagus dan mampu memikat pembacanya, seperti Rindu dan Rembulan Tenggelam di Wajahmu.

Di akhir cerita, ternyata Bahar diberikan lima pusaka sebelum meninggalkan sekolah agama, yang seolah menjawab mengenai perilaku Bahar sepanjang cerita. Kelima pusaka tersebut adalah:

  1. Selalu hormati dan bantu tetangga
  2. Selalu lindungi yang lemah dan teraniaya
  3. Senantiasa jujur dan tidak pernah mencuri
  4. Bersabarlah atas apa pun ujianmu
  5. Bersedekah, bersedekah, bersedekahlah

Bisa dilihat meskipun “bermasalah”, Bahar dengan taat melaksanakan kelima pusaka tersebut. Penulis merasa terkejut ketika menyadari kalau kelima poin tersebut dilakukan secara berurutan di cerita ini.

Konflik cerita yang bisa dianggap cukup dark bisa diimbangi dengan kocaknya tiga sekawan tersebut, sehingga sepanjang membaca novel ini kita tidak melulu dibuat tegang (meskipun joke yang ada klise khas Tere Liye).

Dari naik-turunnya kehidupan Bahar di novel ini, ada banyak nilai-nilai kehidupan yang kita dapatkan. Salah satu bagian yang Penulis suka adalah tentang kehidupan penjara yang terasa nyata dan cukup detail.

Jika harus menyebutkan apa kekurangan novel ini, mungkin Penulis akan menyebutkan betapa mulusnya tiga sekawan menemukan informan yang mengetahui tentang Bahar. Walaupun begitu, alurnya masih terasa natural dan tidak memaksa.

Penulis berharap Tere Liye akan lebih banyak menerbitkan novel-novel seperti ini. Meskipun menggunakan formula yang sama, setidaknya ada sesuatu yang bisa didapatkan oleh pembacanya.

Peringkat: 4 dari 5.

Lawang, 27 Januari 2022, terinspirasi setelah membaca buku Janji karya Tere Liye

Continue Reading

Buku

Setelah Membaca Hello, Habits

Published

on

By

Saat ini, Penulis berusaha untuk terus membangun kebiasaan baik dalam hidupnya. Kebiasaan tersebut ada yang dilakukan pagi maupun malam hari. Tujuannya jelas, Penulis ingin memiliki hidup yang lebih baik lagi.

Akan tetapi, yang namanya membangun kebiasaan baik pasti sangat sulit. Ada saja halangan yang akan dijumpai, termasuk rasa malas yang kerap sekali datang. Akibatnya, kebiasaan yang dibentuk pun buyar di tengah jalan.

Oleh karena itu, Penulis banyak membaca buku tentang membangun kebiasaan. Salah satunya adalah Hello, Habits karangan Fumio Sasaki yang juga menulis buku Goodbye, Things. Seperti apa ulasan Penulis terhadap buku ini?

Apa Isi Buku Ini?

Jika dibandingkan dengan buku Atomic Habits yang menjelaskan langkah demi langkap, bisa dibilang Hello, Habits ini lebih ke arah buku yang berisi serangkaian tips untuk bisa membangun kebiasaan.

Mengingat yang menulis buku ini adalah Fumio Sasaki yang terkenal karena gaya hidup minimalisnya, tips-tips membangun kebiasaan di buku ini pun banyak terkait dengan gaya hidup minimalis yang ia terapkan.

Buku ini dibagi menjadi empat bab utama, yakni:

  1. Keteguhan Hati
  2. Apakah yang Dimaksud dengan Kebiasaan?
  3. 50 Langkah Untuk Membentuk Kebiasaan
  4. Kita Dibentuk oleh Kebiasaan

Inti dari buku ini adalah Bab 3, di mana Sasaki menuliskan 50 tips yang bisa kita coba untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dua bab utama bisa dibilang sebagai pembukaan sebelum masuk ke dalam intinya.

Bab pertama menjelaskan mengenai korelasi antara membangun kebiasaan baik dengan keteguhan hati yang kita miliki. Sasaki menjelaskan kalau jika kita gagal melakukan kebiasaan baik, itu bukan karena semata-mata karena keteguhan hati kita kurang.

Salah satu faktor utama kita gagal merutinkan kebiasaan adalah karena kita cenderung memilih “imbalan” yang ada di depan mata dibandingkan dengan yang ada di masa depan. “Imbalan” kebiasaan baik biasanya membutuhkan waktu yang lama.

Lalu Sasaki melanjutkan dengan menyebutkan kalau kebiasaan adalah “tindakan yang kita lakukan tanpa berpikir panjang”. Contoh mudahnya adalah urutan yang kita lakukan ketika kita mandi, apa yang kita lakukan ketika bangun tidur, dan lain sebagainya.

Membuat hal baik bisa kita lakukan untuk bisa menjadi sebuah tindakan yang tak butuh dipikirkan jelas membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. Oleh karena itu, Sasaki memberikan 50 tips untuk membangun kebiasaan di buku ini.

Tiap tips yang ada di dalam buku ini cukup pendek, hanya terdiri dari beberapa lembar saja. Tips yang dicantumkan bervariasi, kadang memiliki keterkaitan dengan tips sebelumnya, kadang berdiri sendiri.

Setelah Membaca Hello, Habits

Kalau menikmati buku Goodbye, Things, kemungkinan buku ini pun akan Pembaca nikmati. Dengan gaya bahasa motivasi yang tidak judgemental, buku ini terasa dekat dan aplikatif di kehidupan kita sehari-hari.

Salah satu poin penting dari buku ini adalah Sasaki banyak menggunakan percobaan yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk menjelaskan bagaimana kerja otak kita ketika membangun dan melakukan kebiasaan.

Satu percobaan yang kerap dibahas oleh Sasaki adalah uji marshmallow untuk membuktikan kalau manusia cenderung akan mengambil “imbalan” yang ada di depan mata dan mudah dilakukan.

Hanya saja, 50 tips yang dibuat berurutan tanpa ada subbab cukup membingungkan. Rasanya mustahil kita bisa mengingat semuanya. Jika ada subbab, setidaknya kita bisa mengingat poin-poin penting yang ada di dalam buku ini.

Selain itu, isinya juga terasa kurang padat. Mungkin karena Penulis sudah membaca buku tentang kebiasaan yang lebih detail seperti Atomic Habits. Walaupun begitu, tetap ada beberapa hal baru yang bisa Penulis petik dari buku ini.

Untuk yang ingin mendalami seputar kebiasaan, buku ini Penulis rekomendasikan sebagai awal. Jika ingin buku tentang kebiasaan yang lebih dalam, Pembaca bisa membaca Atomic Habits atau The Power of Habit karya Charles Duhigg.

Peringkat: 4 dari 5.

Lawang, 21 November 2021, terinspirasi setelah membaca Hello, Habits karya Fumio Sasaki

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan