<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kehidupan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kehidupan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kehidupan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Oct 2022 15:29:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kehidupan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kehidupan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2022 15:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantar Gebang]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[pemulung]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tempat sampah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5997</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin siang ketika selesai makan siang, tanpa sengaja Penulis mendengarkan sebuah video YouTube dari TV yang sedang ditonton oleh ibu. Hanya sepintas, tapi entah mengapa langsung tertangkap oleh telinga Penulis. Video tersebut merupakan sebuah video dari Asumsi yang sedang mewawancarai orang-orang di Bantar Gebang, sebuah tempat di Bekasi yang terkenal sebagai tempat pembuangan sampah akhir. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/">Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kemarin siang ketika selesai makan siang, tanpa sengaja Penulis mendengarkan sebuah video YouTube dari TV yang sedang ditonton oleh ibu. Hanya sepintas, tapi entah mengapa langsung tertangkap oleh telinga Penulis.</p>



<p>Video tersebut merupakan sebuah video dari Asumsi yang sedang mewawancarai orang-orang di <strong>Bantar Gebang</strong>, sebuah tempat di Bekasi yang terkenal sebagai tempat pembuangan sampah akhir. Istilah kerennya, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).</p>



<p>Salah satu narasumber di video tersebut mengatakan kalau ternyata penghasilan pemulung di sana lumayan mencukupi. Bahkan, ada yang berhasil membangun rumah hingga membeli mobil.</p>





<p>Karena merasa penasaran, malamnya Penulis pun memutuskan untuk menonton video lengkapnya. Dari sana, ternyata Penulis merasa mendapatkan banyak hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dalam hidup ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bantar Gebang, Tempat Sampah dengan Tumpukan Makna</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Distrik: Bantar Gebang dan Kemampuan Adaptasi Manusia" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/jgc8O10lhQw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis mengetahui nama Bantar Gebang pertama kali melalui novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/">Aroma Karsa</a> </em>karya Dee Lestari. Tokoh utama di novel tersebut digambarkan tinggal di sana dan dianugerahi dengan indra penciuman yang tajam.</p>



<p>Selain itu, Dee Lestari juga membahas mengenai tempat tersebut lebih detail melalui bukunya yang lain berjudul <em><a href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Di Balik Tirai Aroma Karsa</a></em>. Di buku ini, Dee menceritakan perjalanan risetnya ke Bantar Gebang untuk lebih mendalami penceritaannya.</p>



<p>Berbekal kedua buku tersebut, Penulis pun berasumsi kalau Bantar Gebang adalah tempat pembuangan sampah raksasa. Sudah, hanya sebatas itu. Tidak ada yang menarik dari sebuah tempat sampah.</p>



<p>Pendapat tersebut ternyata berubah setelah Penulis menonton video dari Asumsi yang melakukan dokumentasi ke sana. Ada beberapa poin yang Penulis catat sebagai pelajaran untuk dirinya sendiri, dan semoga juga bisa menginspirasi para Pembaca sekalian.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bagi Kita Sampah, Bagi Mereka Harta Karun</h3>



<p>Dalam salah satu komik <em>Doraemon</em>, ada alat yang membuat semacam lubang dimensi. Nobita dengan otak bisnisnya pun membuka jasa bagi orang-orang yang ingin membuang sampahnya. Apesnya, Doraemon tersedot masuk dan terbawa ke masa lampau.</p>



<p>Barang-barang yang dianggap sebagai sampah orang modern ternyata bermanfaat untuk orang zaman dulu, bahkan sampai menjadi &#8220;inspirasi&#8221; untuk cerita rakyat. Setelah berhasil kembali ke zaman sekarang, Doraemon pun menjadi selektif dalam membuang sampah.</p>



<p>Nah, itulah yang benar-benar terjadi bagi orang-orang yang tinggal di Bantar Gebang. Barang yang sudah kita anggap sebagai<strong> sampah ternyata bisa menjadi semacam harta karun</strong> untuk mereka. Bagi kita bukit sampah, bagi mereka bukit emas.</p>



<p>Para pemulung bisa menemukan barang-barang bagus yang bisa dijual ke penadah dan mendapatkan pemasukan dari sana. Tak jarang, mereka menemukan makanan dan minuman sisa yang sudah dibuang untuk dikonsumsi!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kemampuan Adaptasi Manusia yang Luar Biasa</h3>



<p>Orang gila yang makan dari sampah mungkin sudah biasa, tapi bagaimana dengan orang waras yang melakukan itu? Penulis baru menyadari kalau ternyata ada banyak yang melakukan hal tersebut. Pemulung di Bantar Gebang melakukan hal-hal tersebut.</p>



<p>Mungkin, itu adalah salah satu upaya <em>survive </em>mereka dari kerasnya kehidupan di sana. Meskipun katanya mereka bisa membangun rumah dengan memulung, mungkin mereka sudah terbiasa makan dari sampah demi mengirit pengeluaran.</p>



<p>Penulis merasa heran atas kemampuan adaptasi tubuh orang-orang di Bantar Gebang. Secara logika, makanan yang sudah menjadi sampah tentu penuh dengan kuman dan penyakit, tapi mengapa mereka terlihat sehat-sehat saja dan jarang sakit?</p>



<p>Tak salah lagi, keadaan telah memaksa tubuh mereka <strong>melakukan adaptasi yang luar biasa</strong>. Demi bisa bertahan hidup, tubuh pun harus menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai potensi bahaya yang masuk dari makanan-makanan sisa tersebut.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Terlihat Hina, Padahal Berkecukupan</h3>



<p>Penulis benar-benar kaget ketika mendengar pengakuan narasumber di video tersebut (seorang penadah) yang mengatakan kalau anak buahnya yang pemulung ternyata bisa membangun rumah di kampungnya, yang dianggapnya lebih bagus dari rumahnya sendiri. </p>



<p>Tidak cukup sampai di situ, ada banyak pemulung yang berhasil mencicil motor hingga mobil. Jujur, logika Penulis tidak sampai ke sana bagaimana mereka bisa mengelola uangnya dengan begitu baik.</p>



<p>Bagi orang di luar Bantar Gebang, mungkin pekerjaan sebagai pemulung adalah pekerjaan yang hina dan kotor. Namun, nyatanya <strong>mereka bisa hidup bahagia dan mampu memiliki berbagai aset</strong>. </p>



<p>Ini berkebalikan dengan beberapa orang di kota besar, di mana dari luar keliatan <em>borjuis </em>dan bergaya hidup mewah, padahal barangnya banyak yang kredit, bahkan ada yang hanya pinjaman. Semua demi menjaga gengsi semata. Pertanyaannya, mana yang lebih hina?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Mereka Belajar Finance dari Mana?</h3>



<p>Si penadah yang sudah Penulis sebutkan di atas ternyata menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk beternak kambing. Katanya, seandainya ada hal buruk terjadi seperti pandemi kemarin, setidaknya ia punya sesuatu untuk dijual demi menyambung hidup.</p>



<p>Selain itu, ada juga seorang penjaja warung di Bantar Gebang. Ia memiliki semacam lapak di atas tumpukan sampah. Menurut pengakuannya, ia bisa mendapatkan penghasilan dalam sehari antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam sehari.</p>



<p>Ia mengatakan kalau separuh dari pemasukan tersebut ia tabung. Hasilnya, ia pun sudah bisa punya rumah sendiri. Kenyataan ini benar-benar menampar Penulis: Mereka tidak pernah belajar tentang <em>finance</em>, tapi <strong>pengelolaan uangnya sangat baik</strong>!</p>



<p>Penulis merasa dirinya cukup banyak membaca posting atau menonton video seputar <em>finance</em>, tapi belum bisa di level mereka. Memang ada banyak faktor lain yang memengaruhi ini seperti gaya hidup, tapi Penulis ingin fokus dengan kehebatan mereka dalam mengelola uang.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Nikmat Mana Lagi yang Aku Dustakan?</h3>



<p>&#8220;Tidak ada orang yang susah, adanya orang yang malas,&#8221; tutur penjaja warung di video tersebut. Satu kalimat sederhana yang keluar dari orang biasa, tetapi mampu membuat Penulis merasa malu.</p>



<p>Dibandingkan mereka, Penulis tentu merasa memiliki banyak <em>privilege</em> dalam hidupnya. Penulis jadi <strong>merasa bertanggung jawab untuk bisa memanfaatkan <em>privilege</em></strong><em> </em>tersebut untuk bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dan bisa bermanfaat untuk orang banyak.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga sadar kalau selama ini dirinya selama ini <strong>terlalu banyak mengeluh</strong>. Iya memang kemampuan orang dalam menghadapi masalah beda-beda, tetapi Penulis tidak ingin menjadikan hal tersebut sebagai pembenaran untuk mengeluh.</p>



<p>Penulis jadi <strong>banyak-banyak bersyukur</strong> karena tidak perlu menjalani kehidupan berat seperti mereka yang setiap hari harus bekerja dengan risiko tinggi. Di TPST seperti itu, terlindas buldoser atau terpapar cairan kimia berbahaya bisa terjadi.</p>



<p>Penulis juga jadi lebih mensyukuri setiap makanan yang disantapnya, bersyukur bisa bekerja di tempat yang nyaman, dan lain sebagainya. Sesungguhnya Penulis jadi sadar, <strong>betapa banyak nikmat yang telah Penulis dustakan selama ini</strong>. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ketika membaca kolom komentar, mayoritas memuji Asumsi karena &#8220;berani&#8221; dan totalitas dalam menyusun video tersebut. Bagaimana tidak, sang <em>host </em>sampai nekat untuk memakan makanan bekas!</p>



<p>Bagi Penulis, melihat sisi kehidupan lain yang selama ini tak terpikirkan memang menarik. Penulis jadi mengetahui ada kehidupan seperti di Bantar Gebang yang begitu unik dan berwarna. <strong>Kondisi yang memaksa memunculkan celah untuk bertahan hidup</strong>.</p>



<p>Mungkin ke depannya Penulis akan lebih sering menonton video-video dokumenter seperti ini agar Penulis bisa mengerti bagaimana kehidupan di luar sana dan membantu Penulis untuk bisa menjadi manusia yang lebih bersyukur.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 11 Oktober 2022, terinspirasi setelah menonton video Asumsi mengenai Bantar Gebang di YouTube</p>



<p>Foto: <a href="https://news.detik.com/berita/d-5731837/kontrak-tpst-bantargebang-dengan-bekasi-berakhir-oktober-ini-kata-wagub-dki">Detik</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/">Apa yang Saya Pelajar dari Video Asumsi Mengenai Bantar Gebang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/apa-yang-saya-pelajar-dari-video-asumsi-mengenai-bantar-gebang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Repetisi Dalam Kehidupan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/repetisi-dalam-kehidupan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/repetisi-dalam-kehidupan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2021 14:08:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Leessang]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengulangan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[repetisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis mengakui kalau akhir-akhir ini dirinya kerap merasa sedang penuh pikirannya. Tak jarang Penulis akan melamun tak jelas ke mana arahnya. Sebagai orang yang pemikir, biasanya Penulis seperti ini ketika sedang ada sesuatu yang dipikirkan. Penulis tidak bisa membaginya di sini, tapi ada yang sedang membebani. Lantas tadi siang ketika kerja, tanpa sengaja Penulis mendengar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/repetisi-dalam-kehidupan/">Repetisi Dalam Kehidupan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis mengakui kalau akhir-akhir ini dirinya kerap merasa sedang penuh pikirannya. Tak jarang Penulis akan melamun tak jelas ke mana arahnya.</p>
<p>Sebagai orang yang pemikir, biasanya Penulis seperti ini ketika sedang ada sesuatu yang dipikirkan. Penulis tidak bisa membaginya di sini, tapi ada yang sedang membebani.</p>
<p>Lantas tadi siang ketika kerja, tanpa sengaja Penulis mendengar <a href="https://whathefan.com/musikfilm/%eb%a6%ac%ec%8c%8d-%ed%9e%99%ed%95%a9-%eb%93%80%ec%98%a4-%ec%bd%94%eb%a6%ac%ec%95%84/">lagu dari LeeSsang</a> yang berjudul <strong>회상</strong> atau <strong><em>Remembrance</em></strong>.</p>
<p>Lagu ini lagu lama dari album <em>AsuRa BalBalTa</em> yang rilis pada tahun 2011 alias 9 tahun yang lalu. Walaupun begitu, lagu ini selalu ada di <em>playlist </em>Penulis dan mendapat bintang 5.</p>
<p>Nah, entah mengapa Penulis merasa <strong>lagu ini <em>ngena </em>di hati Penulis</strong>. Padahal Penulis tidak tahu bagaimana atau arti liriknya, mong lagunya Bahasa Korea.</p>
<p>Karena penasaran, Penulis memutuskan untuk mencarinya di Google. Ketika membaca arti lirik di bagian <em>reff</em>, Penulis langsung tersenyum sendiri.</p>
<blockquote><p>오르락내리락 반복해<br />
기쁨과 슬픔이 반복돼<br />
사랑과 이별이 반복돼<br />
내 삶은 돌고 도네</p>
<p>Repetitions of ups and downs<br />
Repetitions of joy and sadness<br />
Repetitions of love and separation<br />
My life turns and turns</p></blockquote>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Jika dipikir-pikir lagi, kehidupan kita ini <strong>memang ada banyak sekali repetisi</strong>. Repetisi yang membuat kita merasa naik turun ketika berusaha menjalani kehidupan.</p>
<p>Kadang merasa begitu semangat dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/motivasi-itu-omong-kosong/">penuh motivasi</a>, kadang bisa merasa <em>down </em>sampai stres depresi. <em>Repeat</em>.</p>
<p>Kadang merasa menjadi orang paling bahagia sedunia, kadang merasa menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/hidupku-hancur-aku-adalah-orang-paling-menderita-di-dunia/">orang yang paling menderita sedunia</a>. <em>Repeat</em>.</p>
<p>Kadang kita <a href="https://whathefan.com/rasa/apa-itu-cinta/">merasakan indahnya cinta</a>, kadang kita merasakan pahitnya perpisahan. <em>Repeat</em>.</p>
<p>Semuanya berulang-ulang, seperti peribahasa terkenal: <em>hidup itu bagaikan roda, kadang di atas kadang di bawah</em>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Jika hidup ini hanya serangkaian repetisi, mengapa <strong>kita kerap melakukan kesalahan yang sama</strong> berkali-kali?</p>
<p>Artinya, <strong>kita tidak belajar dari pengalaman</strong>. Kita gagal memetik hikmah dari kejadian-kejadian yang sudah pernah kita lalui di masa lampau.</p>
<p>Penulis merasa dirinya seperti ini. Dalam beberapa aspek, dirinya gagal belajar dari pengalaman dan akhirnya mengulangi kesalahan yang sama.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu? Penulis sendiri belum menemukan jawabannya. Penulis hanya bisa menjadikannya sebagai bahan interopeksi diri.</p>
<p>Mungkin, kita hanya perlu <strong>mengalami repetisi lebih banyak</strong> dibandingkan yang lain agar bisa benar-benar belajar.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Rasanya, tidak ada kehidupan yang lurus begitu saja mulai lahir sampai mati. Pasti ada saja<strong> gejolak yang menjadi bumbu kehidupan.</strong></p>
<p>Jika memang demikian, kenapa masih merasa sedih, galau, putus asa, menyerah, kehilangan gairah hidup, dan lain sebagainya?</p>
<p>Merasa seperti itu sebenarnya sangat manusiawi. Hanya saja, kalau terlalu sering dan berlarut-larut juga kurang baik buat diri sendiri.</p>
<p>Penulis ingin berusaha mengingat hal ini ketika merasa dirinya sedang di bawah. Sekarang mungkin sedang di masa-masa susah, tapi pasti akan ada saatnya Penulis kembali berada di atas.</p>
<p>Percaya saja, <strong>semua yang terjadi pada kita pasti memiliki hikmahnya.</strong> <em>Every cloud has a silver lining</em>.</p>
<p>Lagipula, Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan yang melebihi kemampuan umat-Nya. <a href="https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/">Jalani saja hari ini</a> dengan sebaik mungkin.</p>
<p>Karena sejatinya,<strong> kehidupan ini hanyalah perulangan dari hal-hal yang sudah pernah terjadi sebelumnya</strong>, baik suka maupun duka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 25 Februari 2021, terinspirasi setelah mendengarkan lagu <em>Remembrance </em>dari Leessang ketika sedang bekerja</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@tvschaitanya?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Chaitanya Tvs</a></p>
<p>Sumber Lirik: <a href="https://colorcodedlyrics.com/2014/03/leessang-remembrance-feat-baek-ji-young">ColorCodedLyric</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/repetisi-dalam-kehidupan/">Repetisi Dalam Kehidupan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/repetisi-dalam-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manusia Dalam Tiga Babak</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2020 03:39:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[babak]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[lahir]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3909</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sekarang sedang membaca buku berjudul Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia karya Dr. P. A. Van der Weij. Belinya sudah lama, tapi beberapa bulan terletak begitu saja di rak. Meskipun tidak bisa memahami semua isinya, buku tersebut mendorong Penulis untuk lebih merenungi tentang kehidupan kita sebagai manusia. Salah satunya adalah tiga babak yang dialami oleh semua manusia: Lahir, Hidup, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/">Manusia Dalam Tiga Babak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis sekarang sedang membaca buku berjudul <em>Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia </em>karya Dr. P. A. Van der Weij. Belinya sudah lama, tapi beberapa bulan terletak begitu saja di rak.</p>
<p>Meskipun tidak bisa memahami semua isinya, buku tersebut mendorong Penulis untuk lebih merenungi tentang kehidupan kita sebagai manusia.</p>
<p>Salah satunya adalah tiga babak yang dialami oleh semua manusia: <strong>Lahir, Hidup, Mati</strong>.</p>
<h3>Babak 1: Lahir</h3>
<p><div id="attachment_3910" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3910" class="size-large wp-image-3910" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3910" class="wp-caption-text">Lahir (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.todaysparent.com/pregnancy/giving-birth/why-vaginal-seeding-wont-help-caesarean-born-babies/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCLC-pKHX3-kCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Today's Parent"><span class="pM4Snf">Today&#8217;s Parent</span></a>)</p></div></p>
<p>Kita tak pernah ingat ketika dilahirkan ke dunia. Tahu-tahu, kita sudah berada di suatu lingkungan keluarga atau lainnya. Itupun dibatasi oleh kemampuan daya ingat kita.</p>
<p>Kita dilahirkan ke dunia adalah suratan takdir yang tak bisa kita tolak. Kita berasal dari sesuatu yang hina (air mani), lantas ditiupkan roh ke dalam jasad kita.</p>
<p>Kita tak bisa memilih ingin dilahirkan dari rahim siapa. Ada yang terlahir dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">banjiran <em>privilege</em></a>, ada yang terlahir kurang sempurna, macam-macam.</p>
<p>Seandainya diberi pilihan antara dilahirkan atau tidak pernah dilahirkan sama sekali, mana yang akan kita pilih?</p>
<h3>Babak 2: Hidup</h3>
<p><div id="attachment_3911" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3911" class="size-large wp-image-3911" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3911" class="wp-caption-text">Hidup (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://thesayingquotes.com/quotes-about-life/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCIiky53X3-kCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit The Saying Quotes"><span class="pM4Snf">The Saying Quotes</span></a>)</p></div></p>
<p>Di antara tiga babak kehidupan manusia, hanya hidup yang bisa kita kendalikan. Itupun mendapat banyak pengaruh dari internal maupun eksternal.</p>
<p>Kehidupan yang dijalani oleh masing-masing manusia pasti berbeda. Ada yang hanya berusia beberapa menit, ada yang harus menjalani hidup panjang hingga ratusan tahun.</p>
<p>Terlepas dari itu, secara umum kehidupan manusia selalu berada di tahapan bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan akhirnya menjadi tua.</p>
<p>Ketika masih bayi, segala kebutuhan kita dipenuhi oleh orangtua atau orang yang merawat kita. Ketergantungan kita terhadap orang lain masih sangat besar.</p>
<p>Memasuki usia anak-anak, kita mulai belajar banyak hal dan mengenal orang lain di luar lingkungan kita tinggal. Masa remaja adalah masa peralihan sebelum menjajaki usia dewasa.</p>
<p>Setelah menjadi dewasa, kita mulai mengendalikan kehidupan kita sendiri, mengemudikan bahtera diri di gelombang laut kehidupan yang penuh gejolak, sembari menanti masa tua datang.</p>
<p>Masing-masing manusia akan menjalani kehidupan yang berbeda-beda dengan warnanya sendiri. Semua dijalani hingga ajal akhirnya menjemput.</p>
<h3>Babak 3: Mati</h3>
<p><div id="attachment_3912" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3912" class="size-large wp-image-3912" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/06/tiga-babak-manusia-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3912" class="wp-caption-text">Mati (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.ethos3.com/2013/11/dont-leave-your-ideas-in-the-graveyard/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCOCsj8TX3-kCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Ethos3"><span class="pM4Snf">Ethos3</span></a>)</p></div></p>
<p>Kematian kerap dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan dan menyedihkan. Perpisahan dengan orang tercinta tentu akan menggoreskan luka yang dalam.</p>
<p>Bagi sebagian orang, kematian hanyalah awal dari sebuah kehidupan lain yang telah menanti di akhirat. Yang lain berpendapat setelah mati ya mati, tidak ada kehidupan lain.</p>
<p>Berbeda dengan kelahiran yang hampir pasti berasal dari rahim seorang wanita, kematian bisa bervariasi bentuknya. Ada yang tenang, ada yang tragis, dan lain sebagainya.</p>
<p>Mati adalah bagian terakhir dari tiga babak manusia. Mati adalah pengingat, kalau hidup yang kita jalani pasti akan memiliki garis akhir yang telah menanti di ujung sana.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sebenarnya istilah tiga babak ini sudah Penulis ketahui sejak lama melalui video klip grup band 30 Second to Mars yang berjudul <em>Hurricane. </em>Di sana, tertulis kalau manusia memiliki tiga babak yang sudah Penulis bahas di atas.</p>
<p>Biasanya, Penulis merenungi hal semacam ini menjelang tidur. Oleh karena itu, jangan heran kalau Penulis sering menderita insomnia yang cukup parah.</p>
<p>Jika ditarik kesimpulan, kita hanya bisa mengendalikan babak kedua, yakni hidup. Itupun ada banyak faktor internal maupun eksternal yang akan memengaruhi.</p>
<p>Artinya, selama kita masih hidup, sebisa mungkin kita memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik. Jangan sampai waktu kita habis untuk hal yang kurang ada maknanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 Juni 2020, terinspirasi setelah membaca buku filsafat dan menonton video di YouTube</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@youngprodigy3">Mike Szczepanski</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/">Manusia Dalam Tiga Babak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 05:46:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[isolasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[normal]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3811</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kita semua tentu berharap kalau pandemi Corona ini akan segera berakhir secepatnya. Kita sudah merindukan kehidupan normal seperti dulu lagi. Yang memiliki usaha ingin bisnisnya berputar lagi. Yang terpisah dari keluarga bisa berkumpul kembali. Yang telah lama libur sekolah ingin beraktivitas normal seperti dulu. Tak ada yang tahu kapan Corona ini akan benar-benar lenyap dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/">Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kita semua tentu berharap kalau pandemi Corona ini akan segera berakhir secepatnya. Kita sudah merindukan kehidupan normal seperti dulu lagi.</p>
<p>Yang memiliki usaha ingin bisnisnya berputar lagi. Yang terpisah dari keluarga bisa berkumpul kembali. Yang telah lama libur sekolah ingin beraktivitas normal seperti dulu.</p>
<p>Tak ada yang tahu kapan Corona ini akan benar-benar lenyap dari muka bumi. Hanya Tuhan yang tahu. Para ahli hanya bisa membuat perkiraan-perkiraan berdasarkan bukti empiris.</p>
<p>Pertanyaannya, <strong><em>bagaimana seandainya semua ini tak akan berakhir?</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Apa yang mengerikan dari Corona ini adalah <strong>penyebarannya yang begitu mudah</strong>. Jika kita memiliki imunitas tubuh yang kuat, kemungkinan besar kita bisa sembuh sendiri.</p>
<p>Oleh karena itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh berbagai pemerintah dunia adalah <em><strong>lockdown</strong> </em>atau kalau di Indonesia disebut sebagai <strong>PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)</strong>.</p>
<p>Intinya, interaksi fiksi manusia harus benar-benar dibatasi. <strong><em>Social distancing</em></strong>. Kita harus jaga jarak satu sama lain untuk meminimalisir potensi menularkan dan ketularan virus.</p>
<p>Ketika angka Corona tiap hari makin bertambah secara signifikan, kesadaran untuk tinggal di rumah menjadi begitu tinggi. Setidaknya, itu yang terlihat di negara kita.</p>
<p>Hanya saja dari yang Penulis amati,<strong> makin ke sini angka-angka yang tiap sore diumumkan oleh pemerintah hanya tinggal statistik semata</strong>. Masyarakat sudah mulai berani beraktivitas seperti biasa, meskipun masih menggunakan masker dan lain sebagainya.</p>
<p>Fakta inilah yang membuat Penulis khawatir kalau Corona tidak akan berakhir, setidaknya dalam waktu dekat.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dari beberapa berita yang Penulis baca, <strong>kurva penderita mulai melandai</strong>. Jumlah yang terinfeksi tiap harinya, setidaknya di Jakarta, mulai berkurang secara bertahap.</p>
<p>Di satu sisi, ini merupakan berita baik. Strategi yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi terbukti efektif. Kita bisa menekan penularan dengam pembatasan ketat.</p>
<p>Di sisi lain, ini juga bisa menjadi berita buruk. Kita bisa saja jadi meremehkan penyebaran Corona dan mulai pergi ke tempat yang ramai.</p>
<p>Penulis khawatir,<strong> kurva yang sudah landai ini akan kembali memuncak</strong> jika kita tidak bisa sabar dan menahan diri. Usaha yang telah kita lakukan selama ini akan menjadi sia-sia.</p>
<p>Masalah ini semakin diperparah dengan<strong> berbagai kebijakan blunder dari pemerintah</strong> yang meresahkan masyarakat. Sudah tidak mendapatkan kepastian, dibuat bingung pula.</p>
<p>&#8220;Kekompakan&#8221; antara pemerintah dan masyarakatnya ini sangat berpotensi memperpanjang masa edar pandemi Corona di Indonesia.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Jika membandingkan diri sendiri dengan orang lain, Penulis <strong>merasa bersyukur dengan keadaan yang sekarang</strong> meskipun tidak bisa pulang dan tidak tahu kapan bisa pulang.</p>
<p>Setidaknya, Penulis masih memiliki pekerjaan dengan gaji tetap tanpa pemotongan. Penulis masih ditemani adik sehingga stres bisa tereduksi. Penulis masih memiliki berbagai sarana hiburan untuk membunuh waktu.</p>
<p>Merasa lelah dan tertekan itu pasti. Manusiawi. Penulis biasa mengusirnya dengan <strong>mengingat orang lain yang keadaannya lebih susah</strong>, entah ini etis atau tidak.</p>
<p>Contohnya adalah teman Penulis yang sama-sama tidak bisa pulang, namun hanya sendirian di kos. Penulis juga mengingat banyaknya perusahaan yang harus merumahkan karyawannya sehingga banyak yang kehilangan sumber pendapatan.</p>
<p>Banyak orang yang ujiannya jauh lebih berat dari yang Penulis terima. jauh jauh lebih berat. Penulis tidak boleh terlalu banyak mengeluh.</p>
<p><strong>Memperbanyak rasa syukur</strong> dan berusaha <strong>sebisa mungkin untuk tidak stres</strong> wajib Penulis lakukan di masa-masa seperti ini. Terus menjalani kontak dengan orang melalui smartphone menjadi cara lainnya.</p>
<p>Hanya saja, <strong><em>mau sampai kapan seperti ini?</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis sudah melakukan <em>refund </em>tiket pesawat mudik karena yakin tidak akan bisa pulang ketika lebaran nanti. Untuk pertama kali, Penulis merayakan Hari Raya Idul Fitri tanpa berkumpul dengan keluarga secara lengkap.</p>
<p>Penulis sejak beberapa minggu yang lalu sudah menyiapkan mental untuk menghadapi hal tersebut. Tidak apa-apa, pasti ada kesempatan lain untuk berkumpul kembali.</p>
<p><strong><em>Tapi kapan?</em></strong></p>
<p>Berdasarkan prediksi dan <em>feeling </em>Penulis, paling cepat bulan Agustus. Itupun kalau pemerintah dan masyarakat kita kompak mendisiplinkan diri agar Corona tidak semakin menyebar.</p>
<p>Jika tidak, bisa saja sampai akhir tahun Penulis harus bertahan di kos bersama adik. Belum dua bulan saja sudah begini rasanya, entah bagaimana jika harus hidup seperti ini hingga akhir tahun.</p>
<p>Kalau akhirnya Penulis bisa pulang, apakah Penulis bisa berkumpul dengan keluarga dan teman-teman seperti biasa? Ataukah Penulis harus melakukan isolasi mandiri terlebih dahulu?</p>
<p><strong>Banyak ketidakpastian yang akan dihadapi selama beberapa bulan mendatang</strong>, menjadikannya tantangan tersendiri untuk kita semua.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><strong>Bagaimana seandainya Corona tidak akan benar-benar lenyap untuk selamanya?</strong> Jelas tidak ada yang menginginkan hal tersebut. Kekacauan bisa terjadi di mana-mana.</p>
<p>Kehidupan tidak normal kita selama pandemi akan menjadi hal normal yang baru. Perputaran roda ekonomi akan mengalami pergeseran yang drastis dan masih banyak hal lain yang akan berubah.</p>
<p>Bisakah kita hidup berdampingan dengan Corona seperti kita hidup berdampingan dengan flu? Entahlah, Penulis bukan orang medis, tidak bisa berpendapat.</p>
<p>Penulis tidak bisa membayangkan lebih banyak lagi. Pertanyaan yang menjadi judul terlalu mengerikan untuk menjadi kenyataan.</p>
<p>Semoga saja, kita semua bisa melewati badai ujian yang teramat besar ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 9 Mei 2020, terinspirasi dari pemikiran Penulis seperti biasanya, <em>overthinking</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.theglobeandmail.com/life/article-how-to-survive-the-cocoon-of-self-isolation/">The Globe and Mail</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/">Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kalau Aku Mati Besok?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-aku-mati-besok/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2020 00:55:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3587</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kita tengah dilanda ketakutan karena virus Corona mampu menyebar dengan mudahnya. Hanya dengan sentuhan. Apalagi, penderita Corona terlihat seperti terkena flu biasa. Kepanikan tersebut membuat kita berbondong-bondong membeli berbagai kebutuhan sebagai tindakan preventif, mulai dari masker, hand sanitizer, hingga kebutuhan dapur untuk beberapa waktu ke depan. Bagi Penulis, itu merupakan tanda kalau kita sebenarnya masih takut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-aku-mati-besok/">Bagaimana Kalau Aku Mati Besok?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kita tengah dilanda ketakutan karena virus Corona mampu menyebar dengan mudahnya. Hanya dengan sentuhan. Apalagi, penderita Corona terlihat seperti terkena flu biasa.</p>
<p>Kepanikan tersebut membuat kita berbondong-bondong membeli berbagai kebutuhan sebagai tindakan preventif, mulai dari masker, <em>hand sanitizer</em>, hingga kebutuhan dapur untuk beberapa waktu ke depan.</p>
<p>Bagi Penulis, itu <strong>merupakan tanda kalau kita sebenarnya masih takut akan kematian</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Secara sederhana, kematian adalah terpisahnya roh dari jasad kita. Di dalam keyakinan yang Penulis anut, kita akan menghadapi penghakiman setelah meninggal dunia sesuai dengan apa yang telah dilakukan.</p>
<p>Kematian menjadi sesuatu yang mengerikan bagi sebagian besar manusia. Terpisah dari segala sesuatu yang dicintai (keluarga, pasangan, harta) merupakan hal yang sebisa mungkin dihindari untuk dipikirkan.</p>
<p>Bagi sebagian besar orang (terutama yang mencintai kehidupan dunia), <strong>kematian adalah sesuatu yang menakutkan</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kesedihan akan dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkan, terlebih jika yang meninggal merupakan orang baik. Kita bisa lihat bagaimana simpati diberikan kepada BCL setelah suami tercintanya meninggal secara mendadak.</p>
<p>Butuh beberapa waktu untuk membuat diri kita bisa kembali menjalani aktivitas dengan normal.  Tak jarang kematian orang yang dicintai mampu mengubah kehidupan seseorang.</p>
<p>Bagi orang yang ditinggalkan, <strong>kematian akan meninggalkan lubang di hati</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ada juga orang yang menghampiri kematian. Mereka sudah merasa muak dengan kehidupan, lelah dengan depresi yang diderita, merasa buntu karena tidak menemukan penyelesaian dari masalah yang hadir.</p>
<p><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/">Chester menjadi salah satunya</a>, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Begitupun dengan artis-artis Korea seperti Sulli dan Goo Hara yang kerap mendapatkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/">komentar jahat dari netizen</a>.</p>
<p>Bagi orang dengan banyak masalah kehidupan, <strong>kematian merupakan satu-satunya pilihan.</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kematian tidak selalu menjadi duka. Siapa yang bersedih ketika Hitler ditemukan bunuh diri di dalam bunkernya? Atau siapa yang berduka ketika Mussolini digantung ramai-ramai di alun-alun kota?</p>
<p>Sama seperti di film, kematian tokoh antagonis justru disambut gegap gempita. Mereka dianggap sebagai sumber penderitaan, sehingga kepergiannya akan membebaskan mereka.</p>
<p>Bagi orang-orang tertindas, <strong>kematian sang penindas merupakan sebuah berkah untuk mereka</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Adakah manusia yang telah mempersiapkan diri menghadapi kematian? Ada, mereka adalah orang-orang yang beriman, mereka yang meyakini bahwa dunia ini fana dan ada kehidupan abadi yang menanti di akhirat.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan di muka bumi, orang-orang yang taat menjalani perintah Tuhan dan menjauhi segala larangannya. Tak jarang kematian mereka begitu tenang dan terjadi begitu saja.</p>
<p>Bagi orang-orang beriman, <strong>kematian adalah sesuatu yang ditunggu</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Terkadang, kematian bisa menjadi sekadar angka yang lewat begitu saja. Ribuan orang tewas kelaparan di Afrika, <em>nobody cares</em>. Tapi satu Steve Jobs meninggal karena kanker, <em>everyone loses their minds</em>.</p>
<p>Penulis pernah menemukan sebuah kalimat yang berbunyi seperti ini: <em>kematian 1 orang merupakan tragedi, <a href="https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/">kematian 1.000 orang merupakan statistik</a></em>.</p>
<p>Bagi kita, <strong>kematian 1 orang terkenal lebih menyedihkan dibandingkan kematian 1.000 orang biasa</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Beberapa hari merenungkan tentang kematian membuat Penulis bertanya-tanya kepada diri sendiri, <em><strong>bagaimana kalau aku mati besok?</strong> </em></p>
<p>Kematian seperti apa yang akan Penulis rasakan? Bagaimana kehidupan setelah kematian? Apakah kematian Penulis akan ditangisi? Semua pertanyaan tersebut tiba-tiba lewat begitu saja.</p>
<p>Penulis pernah membayangkan jika kematian benar-benar datang menghampiri secara tiba-tiba, tapi rasanya Penulis tidak perlu membaginya.</p>
<p>Apakah Penulis takut kematian? Untuk saat ini mungkin iya, mengingat dirinya yang masih berlumuran dosa. Penulis tidak bisa membayangkan hukuman seperti apa yang akan Penulis terima nanti.</p>
<p>Di sini, Penulis hanya ingin sama-sama mengingat tentang kematian tersebut. Kematian bisa datang kapan saja tanpa permisi. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara.</p>
<p>Karena sifatnya yang temporer, maka sudah seharusnya kita mengisi kehidupan dengan sesuatu yang baik. Jangan sampai hidup ini berakhir tanpa makna.</p>
<p>Semoga kita makin bisa menghargai kehidupan dengan mengingat kematian yang senantiasa menanti di depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 Maret 2020, terinspirasi dari banyaknya renungan tentang kematian</p>
<p>Foto: <a href="https://www.theatlantic.com/magazine/archive/2015/04/the-science-of-near-death-experiences/386231/">The Atlantic</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-aku-mati-besok/">Bagaimana Kalau Aku Mati Besok?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengulang Masa Sekolah Ala ReLIFE</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/mengulang-masa-sekolah-ala-relife/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/mengulang-masa-sekolah-ala-relife/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Oct 2018 08:00:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Hichiro Chizuru]]></category>
		<category><![CDATA[Kaisaki Arata]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[ReLIFE]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1464</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah berpikir untuk memutar waktu dan kembali ke waktu-waktu tertentu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat? Atau untuk mengambil pilihan yang waktu itu tidak diambil? Atau sekedar ingin menikmati masa-masa dengan beban yang tidak seberat sekarang? Ya, memang hal tersebut tidak mungkin, setidaknya untuk sekarang. Belum ada teknologi yang membuat kita bisa melakukan itu. Akan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/mengulang-masa-sekolah-ala-relife/">Mengulang Masa Sekolah Ala ReLIFE</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah berpikir untuk memutar waktu dan kembali ke waktu-waktu tertentu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat? Atau untuk mengambil pilihan yang waktu itu tidak diambil? Atau sekedar ingin menikmati masa-masa dengan beban yang tidak seberat sekarang?</p>
<p>Ya, memang hal tersebut tidak mungkin, setidaknya untuk sekarang. Belum ada teknologi yang membuat kita bisa melakukan itu. Akan tetapi, alasan tersebut tentu tidak menghalangi kita untuk menonton drama atau anime dengan tema seperti itu.</p>
<p>Bukan, bukan Doraemon. Yang penulis sedang bicarakan adalah Detective Conan, yang dengan obat APTX 4869-nya membuat kita menjadi kecil lagi dan memulai ulang kehidupannya di bangku kelas satu sekolah dasar.</p>
<p>Iya, penulis bercanda. Gambar sampulnya jelas-jelas mempertontonkan anime ReLife, anime lama yang baru saja penulis habiskan (dengan sangat cepat). Penulis akan sedikit berbagi tentang pemikiran penulis setelah menamatkan anime tersebut.</p>
<p><strong>Tentang ReLife</strong></p>
<p>Anime yang dirilis pada tahun 2013 ini bercerita tentang kehidupan seseorang bernama <strong>Kaizaki Arata</strong>, seorang pengangguran berusia 27 tahun. ia ditawari oleh <b>Yoake Ryou </b>untuk menjadi subyek percobaan ReLIFE, sebuah program yang membuat Kaizaki akan menjadi lebih muda 10 tahun dengan sebutir obat.</p>
<p>Mulai dari sanalah kehidupan Kaizaki di SMA untuk kedua kalinya dimulai. Ia banyak bertemu dengan anak-anak SMA yang menjadi teman dekatnya. Kembali menjadi anak SMA ternyata membuat semangat hidup Kaizaki kembali, apalagi dengan sifatnya yang tidak bisa membiarkan orang lain kesusahan.</p>
<p><div id="attachment_1466" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1466" class="size-large wp-image-1466" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/b6fa1afff1671f2a927dfd65b8eb0582-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/b6fa1afff1671f2a927dfd65b8eb0582-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/b6fa1afff1671f2a927dfd65b8eb0582-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/b6fa1afff1671f2a927dfd65b8eb0582-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/b6fa1afff1671f2a927dfd65b8eb0582-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/b6fa1afff1671f2a927dfd65b8eb0582.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1466" class="wp-caption-text">Kaizaki dan Hishiro (https://id.pinterest.com/pin/825355069183517782/?lp=true)</p></div></p>
<p>Yoake, sebagai pendamping subyek, harus ikut bersekolah bersama Kaizaki dan dibantu oleh <strong>An Onoya</strong>. Karakter-karakter pendukung lainnya juga memiliki peran yang cukup vital untuk membantu subyek ReLIFE menemukan kembali semangat hidupnya, terutama <strong>Kariu Rena</strong> yang keras kepala dan <strong>Ooga Kazuomi</strong> yang cerdas.</p>
<p>Cerita-cerita yang terselip di setiap episodenya ditampilkan dengan baik dan selalu memiliki alasan mengapa adegan tersebut perlu ada. Tidak banyak (kalau bukan tidak ada) adegan kurang penting yang tidak memiliki pengaruh terhadap keberlangsungan anime secara keseluruhan.</p>
<p><div id="attachment_1468" style="width: 842px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1468" class="size-full wp-image-1468" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/medium-athah-anime-relife-rena-kariu-kazuomi-ooga-brown-hair-red-original-imaf9jzycppzzxyk.jpeg" alt="" width="832" height="468" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/medium-athah-anime-relife-rena-kariu-kazuomi-ooga-brown-hair-red-original-imaf9jzycppzzxyk.jpeg 832w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/medium-athah-anime-relife-rena-kariu-kazuomi-ooga-brown-hair-red-original-imaf9jzycppzzxyk-300x169.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/medium-athah-anime-relife-rena-kariu-kazuomi-ooga-brown-hair-red-original-imaf9jzycppzzxyk-768x432.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/medium-athah-anime-relife-rena-kariu-kazuomi-ooga-brown-hair-red-original-imaf9jzycppzzxyk-356x200.jpeg 356w" sizes="(max-width: 832px) 100vw, 832px" /><p id="caption-attachment-1468" class="wp-caption-text">Kariu dan Ooga (https://www.flipkart.com/athah-anime-relife-rena-kariu-kazuomi-ooga-brown-hair-red-13-19-inches-wall-poster-matte-finish-paper-print/p/itmf9jzyb4phfkhf)</p></div></p>
<p>Kontrak ReLIFE berjalan satu tahun. Setelah selesai, subyek akan kembali ke usianya semula dan ingatan orang-orang yang mengingat subyek akan dimodifikasi. Dengan keadaan seperti itu, tentu kita menduga akhirnya akan menjadi <em>sad ending </em>bukan? Sayang, ternyata tidak sesedih yang penulis bayangkan.</p>
<p>Anime ini bergenre drama komedi, dengan latar belakang kehidupan sekolah. Anime dengan tipe seperti ini merupakan favorit penulis, apalagi jika sedikit dibumbui bumbu romantis. Ingat, sedikit ya.</p>
<p>Apalagi, anime ini memiliki <em>plot twist </em>yang sebenarnya sudah penulis tebak, ketika teman sekelas Kaizaki yang bernama <b>Hishiro Chizuru </b>ternyata merupakan subyek ReLIFE juga. Ia sedang menjalani tahun keduanya karena pada tahun pertamanya ia tidak berkembang sama sekali.</p>
<p>Pada akhirnya, kekuatan cinta akan mengalahkan apapun, termasuk fungsi kerja obat yang seharusnya menghapus memori tersebut.</p>
<p><strong>Setelah Menamatkan ReLIFE</strong></p>
<p>Ciri anime yang bagus bagi penulis sama dengan ciri buku, yakni cepat habis. Penulis mulai menonton tanggal 2 Oktober, tamat pada tanggal 5 Oktober termasuk episode OVA dan Live Actionnya.</p>
<p>Bandingkan dengan anime Kaichou wa Maid-sama yang penulis tonton mulai tanggal 30 Juni dan baru tamat pada 30 September. Bukan karena animenya jelek, melainkan kurang membuat penasaran.</p>
<p>Penulis jelas merasa terpesona dengan jalan cerita ReLIFE yang hanya memiliki 13 episode ditambah 4 episode OVA ditambah satu versi <em>Live Action</em>-nya. Anime ini membuat penulis banyak berpikir dan berandai-andai apabila diberi kesempatan yang sama.</p>
<p><div id="attachment_1467" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1467" class="size-large wp-image-1467" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/HdPNfks-1024x639.jpg" alt="" width="1024" height="639" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/HdPNfks-1024x639.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/HdPNfks-300x187.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/HdPNfks-768x479.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/HdPNfks-356x222.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/HdPNfks.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1467" class="wp-caption-text">Versi Live Action (https://nipponclub.net/2017/11/05/review-live-action-relife-memperbaiki-kehidupan-dengan-kembali-ke-masa-sekolah/)</p></div></p>
<p>Jika ditawari untuk memulai kembali kehidupan SMA, kemungkinan besar penulis akan menolaknya. Pertama, penulis bukan tipe orang yang rindu dengan masa sekolah. Kedua, penulis yakin bahwa apa yang telah terjadi memiliki hikmahnya masing-masing. Ketiga, penulis terlalu malas untuk belajar lagi materi-materi SMA.</p>
<p>Penulis memilih untuk menjalani kehidupan yang seperti sekarang. Tentu, dengan berusaha menjadi lebih baik tiap harinya. Apa yang telah terjadi kita jadikan modal untuk melangkah maju. Simpan sesal, ganti dengan harapan menuju masa depan yang lebih cemerlang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 9 Oktober 2018, terinspirasi setelah menamatkan anime ReLIFE</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://myanimelist.net/anime/30015/ReLIFE">https://myanimelist.net/anime/30015/ReLIFE</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/mengulang-masa-sekolah-ala-relife/">Mengulang Masa Sekolah Ala ReLIFE</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/mengulang-masa-sekolah-ala-relife/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ironi Mencari Kehidupan di Planet Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/ironi-mencari-kehidupan-di-planet-lain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/ironi-mencari-kehidupan-di-planet-lain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2018 07:43:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[antariksa]]></category>
		<category><![CDATA[ironi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[ruang angkasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1142</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengamati semesta merupakan hobi penulis sejak kecil. Pada tulisan Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta, telah penulis ceritakan bagaimana penulis gemar membaca buku-buku yang berkaitan tentang ruang angkasa, meskipun banyak tidak pahamnya. Akan tetapi, terdapat sisi yang membuat penulis merasa miris dengan perkembangan teknologi dalam menjelajah ruang angkasa. Mungkin pembaca juga tahu bahwa para astronom [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/ironi-mencari-kehidupan-di-planet-lain/">Ironi Mencari Kehidupan di Planet Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mengamati semesta merupakan hobi penulis sejak kecil. Pada tulisan <a href="http://whathefan.com/2018/01/24/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a>, telah penulis ceritakan bagaimana penulis gemar membaca buku-buku yang berkaitan tentang ruang angkasa, meskipun banyak tidak pahamnya.</p>
<p>Akan tetapi, terdapat sisi yang membuat penulis merasa miris dengan perkembangan teknologi dalam menjelajah ruang angkasa. Mungkin pembaca juga tahu bahwa para astronom atau apapun namanya seolah berlomba-lomba mencari planet yang dapat ditinggali oleh manusia.</p>
<p>Orang yang bukan ilmuwan, seperti pemilik Amazon, Jeff Bezoz, juga menaruh minat hingga mendirikan perusahaan antariksa sendiri, <strong>Blue Origin</strong>. Bahkan beberapa tahun ke depan (mungkin benar-benar <em>tahun depan</em>), jalan-jalan ke luar angkasa akan menjadi tren yang akan dilakukan oleh segelintir orang yang berduit.</p>
<p><div id="attachment_1144" style="width: 640px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1144" class="size-full wp-image-1144" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/170405-blue-chat-630x461.jpg" alt="" width="630" height="461" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/170405-blue-chat-630x461.jpg 630w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/170405-blue-chat-630x461-300x220.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/170405-blue-chat-630x461-348x255.jpg 348w" sizes="(max-width: 630px) 100vw, 630px" /><p id="caption-attachment-1144" class="wp-caption-text">Jeff Bezoz (https://www.geekwire.com/2017/jeff-bezos-blue-origin-potty-puke-space/)</p></div></p>
<p>Tentu ini merupakan gagasan jangka panjang karena kekhawatiran mereka terhadap Bumi yang sudah mulai rusak. Di sinilah muncul keprihatinan penulis.</p>
<p>Penulis sering membayangkan, bagaimana seandainya alokasi dana untuk mencari kehidupan di planet lain dialih fungsikan untuk memperbaiki kehidupan di Bumi. Penulis sering berandai-andai, kira-kira berapa keluarga yang selamat dari kemiskinan dari biaya pembuatan satu pesawat ulang-alik.</p>
<p>Analoginya seperti ini. Rumah kita sudah rusak di sana-sini, bocor di mana-mana. Bukannya fokus merenovasi rumah, kita justru menggunakan dananya untuk mencari rumah di berbagai daerah, mulai Jakarta, Bali, Papua, hingga Taipei.</p>
<p>Kita melakukan perjalanan ke mana-mana hingga yang jauh karena kita tidak menemukan tempat yang ideal seperti rumah kita sendiri. Kita mencari rumah yang benar-benar persis dengan rumah lama kita yang butuh direnovasi.</p>
<p><em>Lah kenapa enggak beli tanah terus bangun sendiri?</em></p>
<p>Ya ini kan analogi, toh kita enggak mungkin membuat planet kan? Itu kekuasaan Tuhan yang Maha Besar. Intinya, mengapa kita berfokus mencari sesuatu yang baru daripada membenahi yang sudah ada?</p>
<p>Mungkin para ilmuwan yang bekerja di berbagai kantor antariksa memiliki pendapat lain, penulis tidak tahu. Penulis berharap ada kebaikan dari ekspolorasi yang telah dan akan dilakukan oleh para astronom. Minimal, menambah pengetahuan kita.</p>
<p>Yang bisa kita lakukan sebagai warga dunia yang baik adalah berusaha menjaga lingkungan, minimal yang ada di sekitar kita. Sekecil apapun konstribusi kita kepada planet ini, tentu ada maknanya dan seringkali lebih besar dari yang kita sangka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropolitan Mall Bekasi, 14 Maret 2018, terinspirasinya sudah lama, sehingga lupa apa yang menjadi inspirasi tulisan ini.</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/4dpAqfTbvKA?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Jeremy Thomas</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/galaxy?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/ironi-mencari-kehidupan-di-planet-lain/">Ironi Mencari Kehidupan di Planet Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/ironi-mencari-kehidupan-di-planet-lain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
