<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>non-fiksi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/non-fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/non-fiksi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2023 13:05:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>non-fiksi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/non-fiksi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca The Art of the Good Life</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2023 15:54:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Rolf Dobelli]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6194</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama Dibacain, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton. Nah, di seri Dibacain yang ke-14, buku yang ia ulas adalah The Art of the Good Life karya Robert Dobelli. Buku ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama <em>Dibacain</em>, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton.</p>



<p>Nah, di seri <em>Dibacain </em>yang ke-14, buku yang ia ulas adalah <em><strong>The Art of the Good Life</strong></em> karya <strong>Robert Dobelli</strong>. Buku ini banyak membahas mengenai bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa perlu memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.</p>



<p>Karena tertarik, Penulis pun jadi ingin membeli buku ini dan menyelami lebih dalam tentang apa yang sebenarnya butuh diraih dalam mencapai hidup tenteram, seperti yang dijabarkan oleh buku ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>The Art of the Good Life: Filosofi Hidup Klasik untuk Abad Ke-21</em></li><li>Penulis: Robert Dobelli</li><li>Penerbit: KPG</li><li>Cetakan: Keempat</li><li>Tanggal Terbit: Desember 2021</li><li>Tebal: 319 halaman</li><li>ISBN: 9781473667488</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam kehidupan yang makin kompleks dan penuh dengan hiruk pikuk, baik di dunia nyata maupun dunia maya, menjalani hidup dengan tenang dan tentram telah menjadi banyak tujuan manusia modern.</p>



<p>Berlandaskan hal tersebut, banyak orang yang kembali menoleh ke filosofi <em>stoicism </em>atau stoik dari Yunani Kuno. Sudah banyak buku yang membahas mengenai hal ini, seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em> dan buku <em>The Art of the Good Life </em>ini.</p>



<p>Buku ini memilki 52 bab yang masing-masing memiliki topiknya masing-masing, tetapi masih dalam lingkup &#8220;kunci hidup tenteram&#8221;. Setiap babnya pendek saja, sekitar lima halaman. Pembaca buku ini bisa memilih mau membacanya secara berurutan maupun lompat-lompat.</p>



<p>Sebagai buku yang menggunakan stoik sebagai landasannya, banyak bab di buku ini yang mengajak kita untuk berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan, atau istilahnya adalah dikotomi kendali.</p>



<p>Hal ini memang masuk akal, apalagi bagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">orang yang kerap <em>overthinking</em></a><em> </em>seperti Penulis. Dengan menyadari ada banyak hal yang tidak bisa kendalikan dalam hidup, niscaya kehidupan pun akan terasa lebih tenang.</p>



<p>Selain itu, setiap bab juga memiliki judul yang jika dibaca sekilas tidak terlihat dengan jelas topik atau argumen apa yang akan dibawakan. Untungnya, ada keterangan di bawah judul bab sehingga kita akan selalu memiliki gambaran tentang bab tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Art of the Good Life</h2>



<p>Sebagai orang yang menyukai buku bertema stoik, Penulis cukup menikmati buku <em>The Art of the Good Life </em>ini. Dengan panjang babnya yang cuma berkisar lima halaman, buku ini cocok dibaca sebagai selingan dari rutinitas hariannya.</p>



<p>Hanya saja, entah mengapa Penulis merasa tidak banyak isi buku ini yang <em>nyantol </em>di kepalanya. Karena sudah menamatkannya beberapa bulan lalu, Penulis sudah tidak terlalu ingat dengan isinya. Artinya, isinya memang tidak terlalu mengesankan.</p>



<p>Mungkin itu juga terjadi karena Penulis sudah membaca beberapa buku yang juga bermuara dari konsep stoik. Setidaknya, buku ini hadir sebagai pengingat atas ilmu-ilmu stoik yang mungkin sudah Penulis lupakan.</p>



<p>Sebenarnya bahasa yang digunakan oleh Rolf Dobelli tidak terlalu berat. Hanya saja, memang ada bagian-bagian yang tidak cukup untuk dibaca sekali agar benar-benar memahami pesan apa yang ingin disampaikan.</p>



<p>Penulis menyarankan kepada Pembaca untuk menonton video dari Fellexandro Ruby yang telah disinggu di awal untuk bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang buku ini. Jika setelah menonton video tersebut jadi yakin, Penulis merekomendasikan buku ini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 3 Januari 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The Art of the Good Life </em>karya Rolf Dobelli</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca How to Respect Myself</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-how-to-respect-myself/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-how-to-respect-myself/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2022 01:50:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[self-love]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5693</guid>

					<description><![CDATA[<p>Buku bergenre self-improvement masih menjadi salah satu genre favorit Penulis. Meskipun tahu kalau area ini sudah menjadi bisnis yang menguntungkan bagi sebagian orang, Penulis merasa masih ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari buku-buku semacam ini. Salah satu buku yang baru saja Penulis selesaikan adalah How to Respect Myself yang ditulis oleh Yoon Hong Gyun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-how-to-respect-myself/">Setelah Membaca How to Respect Myself</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Buku bergenre <em>self-improvement </em>masih menjadi salah satu genre favorit Penulis. Meskipun tahu kalau area ini sudah menjadi bisnis yang menguntungkan bagi sebagian orang, Penulis merasa masih ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari buku-buku semacam ini.</p>



<p>Salah satu buku yang baru saja Penulis selesaikan adalah <em><strong>How to Respect Myself</strong> </em>yang ditulis oleh <strong>Yoon Hong Gyun</strong>, seorang psikiater asal Korea Selatan. Di sampulnya, tertulis kalau buku ini <em>bestseller </em>nomor 1 di Korea Selatan (semua buku jadi <em>bestseller </em>nomor 1?).</p>



<p>Penulis membeli buku ini karena memiliki pengalaman yang menyenangkan dari buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-apa-adanya/">Hidup Apa Adanya</a></em>, sehingga memiliki ekspektasi akan merasakan sensasi yang sama. Lantas, seperti apa isi buku yang satu ini?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: How to Respect Myself &#8211; Seni Menghargai Diri Sendiri</li><li>Penulis: Yoon Hong Gyun</li><li>Penerbit: Transmedia</li><li>Cetakan: Cetakan ke-9</li><li>Tanggal Terbit: 2021</li><li>Tebal: 342 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Secara umum, buku ini sebenarnya lebih mengangkat tema tentang <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/">harga diri</a>. Ada tujuh bagian utama dari buku ini yang semuanya membahas tentang harga diri, yaitu:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Kenapa Harga Diri Itu Penting?</li><li>Harga Diri dalam Pola Percintaan</li><li>Harga Diri dalam Hubungan Manusia</li><li>Perasaan yang Menghambat Harga Diri</li><li>Kebiasaan yang Harus Dibuang untuk Memulihkan Harga Diri</li><li>Hal-hal yang Harus Ditaklukkan untuk Memulihkan Harga Diri</li><li>Lima Praktik untuk Mengungkit Harga Diri</li></ol>



<p>Setiap bagian akan memiliki beberapa subbagian lagi. Misalnya dalam bagian Kebiasaan yang Harus Dibuang, ada beberapa poin seperti Mudah Putus Asa, Tidak Bergairah, Rendah Diri, Menunda dan Menghindar, serta Sensitif.</p>



<p>Buku ini tidak harus dibaca secara berurutan dari awal. Misal kita merasa susah untuk menghargai diri sendiri karena mudah putus asa, kita bisa langsung lompat ke subbagian tersebut. Hanya saja, Penulis tetap menyarankan untuk membacanya dari awal.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca How to Respect Myself</h2>



<p>Salah satu alasan Penulis membeli buku ini adalah seringnya Penulis merasa inferior dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-sombong-tapi-minder/">kurang percaya diri</a>. Apalagi, buku ini menawarkan &#8220;metode pelatihan mandiri untuk harga diri ala dokter kejiwaan &#8216;dr. Yoon si Penjawab'&#8221;. </p>



<p>Lantas, apakah buku ini berhasil memberikan jawaban? Iya dan tidak.</p>



<p>Buku ini memiliki bagian yang cukup banyak. Hanya saja, isinya terasa cukup membosankan dan agak susah dicerna, entah karena dari sananya yang kurang enak dibaca atau terjemahannya yang kurang bagus. </p>



<p>Buku ini memang dibuat terasa dekat dan <em>related </em>dengan kehidupan kita sehari-hari, sama seperti buku <em>Hidup Apa Adanya</em>. Namun, Penulis merasa buku ini agak kurang, seolah tips yang ada di dalamnya cukup susah untuk diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari.</p>



<p>Mungkin buku ini akan cocok untuk Pembaca yang sedang berada di <em>life-quarter crisis </em>dan penuh dengan perasaan rendah diri karena merasa &#8220;kalah&#8221; dari teman atau orang-orang di sekelilingnya. </p>



<p>Buku ini mengajak kita untuk lebih menghargai diri sendiri dan percaya bahwa kita tidak seburuk yang kita pikirkan.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 26 Juli 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>How to Respect Myself </em>karya Yoon Hong Gyun</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-how-to-respect-myself/">Setelah Membaca How to Respect Myself</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-how-to-respect-myself/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2022 23:59:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[hamba]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5609</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube favorit dari ayah Penulis adalah Ngaji Filsafat yang diisi oleh Fahruddin Faiz. Penuturannya yang santai dan dikemas untuk mudah dicerna (mengingat topik pembahasannya yang berat) menjadi beberapa alasannya. Untuk itu, beberapa kali Penulis disarankan oleh ayah untuk ikut mendengarkannya. Namun karena beberapa alasan, Penulis tidak terlalu sering menonton video-videonya. Paling hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube favorit dari ayah Penulis adalah <strong>Ngaji Filsafat </strong>yang diisi oleh <strong>Fahruddin Faiz</strong>. Penuturannya yang santai dan dikemas untuk mudah dicerna (mengingat topik pembahasannya yang berat) menjadi beberapa alasannya.</p>



<p>Untuk itu, beberapa kali Penulis disarankan oleh ayah untuk ikut mendengarkannya. Namun karena beberapa alasan, Penulis tidak terlalu sering menonton video-videonya. Paling hanya sesekali ketika kebetulan ayah Penulis sedang menontonnya.</p>



<p>Untuk itu, sewaktu tahu Fahruddin Faiz menulis sebuah buku berjudul <em><strong>Menjadi Manusia Menjadi Hamba</strong></em>, Penulis langsung tertarik membacanya karena pada dasarnya Penulis lebih suka membaca daripada menonton.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: Menjadi Manusia Menjadi Hamba</li><li>Penulis: Fahruddi Faiz</li><li>Penerbit: Noura Books</li><li>Cetakan: Cetakan Kedua</li><li>Tanggal Terbit: Maret 2021</li><li>Tebal: 309 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Buku ini mengambil beberapa topik yang pernah dibahas di kanal YouTube Ngaji Filsafat, sehingga ketika membacanya Penulis bisa membayangkan suara Fahruddin Faiz yang tenang dan bertempo lambat di kepala.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bab, yakni <strong>Manusia</strong>, <strong>Waktu</strong>, dan <strong>Penghambaan</strong>. Di setiap babnya selalu membahas <a href="https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/">mengenai berbagai filsafat</a>, baik dari Yunani Kuno, Barat, hingga China.</p>



<p>Tidak hanya berhenti sampai di sana, Fahruddin Faiz juga mengombinasikannya dari sisi Islam, baik dari Alquran maupun Hadis. Dengan begitu, nilai-nilai filsafat yang ingin disampaikan masih sejalan dengan nilai-nilai Islam.</p>



<p>Pada bab Manusia, kita dijelaskan mengenai <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">fitrah kita sebagai manusia</a> yang seharusnya menghamba ke Tuhan, bukannya menghamba ke selain Tuhan seperti harta, jabatan, hingga manusia lainnya.</p>



<p>Bab ini terdiri dari lima subbab, yakni Fitrah, Humor, Pernikahan, Doa, Main-Main dalam Hidup, dan Nama Baik. Kita bisa memilih mau membaca yang mana duluan, tidak perlu membacanya secara berurutan.</p>



<p>Bab Waktu menjabarkan tentang filosofi waktu dalam kehidupan kita, tentang bagaimana kita harus bisa menggunakan dan memaknai waktu sebaik mungkin. Bab terakhir lebih menjelaskan mengenai ibadah kita sebagai makhluk Tuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Menjadi Manusia Menjadi Hamba</em></h2>



<p>Sama seperti video di YouTube-nya, di buku ini Fahruddin Faiz berusaha memberikan wejangan dengan cara yang bersahabat dan tidak menggurui. Tidak lupa selalu ada selipan humor agar topik yang serius ini tidak terlalu terasa serius.</p>



<p>Pembahasan d bab pertama (Manusia) sangat relevan dengan kondisi sekarang. Di era modern seperti sekarang, kita sering melihat fenomena bagaimana kita sering mengagungkan selain Tuhan.</p>



<p>Contohnya adalah kita yang hidup terlalu matrealistis, terlalu memuja seseorang/kelompok, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan, dan lain sebagainya. Bab ini hadir untuk mengingatkan fitrah kita tersebut.</p>



<p>Buku ini akan membawa kita banyak merenung mengenai kodrat kita sebagai manusia yang tinggal di bumi ini. Kandungan filsafat yang ada di dalamnya sama sekali tidak terasa berat karena berhasil dijelaskan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Akan ada banyak <em>quote-quote </em>yang <em>mak jleb </em>dan terasa begitu sesuai dengan yang kita. Apalagi seperti yang sudah Penulis singgung di atas, kita bisa memilih bagian mana yang ingin kita baca tanpa perlu urut dari halaman pertama. </p>



<p>Untuk itu, buku ini akan Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang ingin mencari semacam &#8220;pencerahan&#8221; dalam hidupnya dan yang ingin belajar tentang filsafat dengan penuturan yang mudah untuk dipahami. </p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang. 10 Juli 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Menjadi Manusia Menjadi Hampa </em>karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Mindset</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Jul 2022 01:54:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fixed mindset]]></category>
		<category><![CDATA[growth mindset]]></category>
		<category><![CDATA[mindset]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5607</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak motivator yang kerap berkata mengenai pentingnya mindset atau pola pikir kita dalam menjalani hidup. Apa yang terjadi dalam hidup kita kerap dipengaruhi oleh bagaimana otak kita memikirkan hal tersebut. Terlepas dari beberapa faktor eksternal yang jelas ikut memengaruhi, Penulis menyetujui hal ini karena terkadang dirinya sendiri mengalami kesulitan dalam membentuk mindset yang baik dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/">Setelah Membaca Mindset</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Banyak motivator yang kerap berkata mengenai pentingnya <em>mindset </em>atau pola pikir kita dalam menjalani hidup. Apa yang terjadi dalam hidup kita kerap dipengaruhi oleh bagaimana otak kita memikirkan hal tersebut.</p>



<p>Terlepas dari beberapa faktor eksternal yang jelas ikut memengaruhi, Penulis menyetujui hal ini karena terkadang dirinya sendiri mengalami kesulitan dalam membentuk <em>mindset </em>yang baik dan positif.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli sebuah buku <em>self-improvement </em>berjudul <em><strong>Mindset </strong></em>yang ditulis oleh Carol S. Dweck. Lantas, apakah Penulis terbantu membentuk <em>mindset</em>-nya setelah membaca buku ini?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: Mindset &#8211; Mengubah Pola Berbikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda</li><li>Penulis: Carol S. Dweck</li><li>Penerbit: BACA</li><li>Cetakan: Cetakan VII Edisi Revisi</li><li>Tanggal Terbit: Maret 2021</li><li>Tebal: 400 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p><em>Mindset </em>memiliki 8 bab, di mana tiga bab awal berusaha menjelaskan tentang apa itu <em>mindset</em>, tiga bab selanjutnya memberikan beberapa contoh penerapan <em>growth mindset</em> dalam berbagai bidang, satu bab yang menelusuri darimana datangnya <em>mindset</em>, dan satu bab ekstra yang sejujurnya tidak terlalu Penulis pahami.</p>



<p>Bab 1 membahas mengenai jenis-jenis <em>mindset</em>, di mana di sinilah kita pertama kali akan diperkenalkan mengenai perbedaan mendasar antara <em>fixed mindset </em>dan <em>growth mindset</em>. Penulis akan memberikan &#8220;bocorannya&#8221; di bawah.</p>



<p>Kita akan lebih mendalami tentang pemahaman <em>mindset </em>pada bab 2 dan 3. Kita juga akan diajak untuk mengubah definisi kegagalan dan usaha dengan menggunakan <em>mindset </em>ini. Kita juga akan mendefinisikan ulang mengenai kemampuan dan pencapaian dalam hidup.</p>



<p>Untuk bab 4 &#8211; 6 yang memberikan contoh penerapan <em>growth mindset</em> dalam berbagai bidang, di buku ini ada dari bidang olahraga, bisnis, dan cinta. Pada bab 7, kita akan diajak untuk menelusuri bagaimana <em>mindset </em>kita terbentuk.</p>



<p>Di bawah ini adalah rangkuman judul bab yang terdapat pada buku ini:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Jenis-Jenis Mindset</li><li>Memahami Mindset</li><li>Kebenaran tentang Kemampuan dan Pencapaian</li><li>Olahraga: Mindset Seorang Juara</li><li>Bisnis: Mindset dan Kepemimpinan</li><li>Hubungan: Mindset dalam Cinta (Atau Bukan)</li><li>Orangtua, Guru, dan Pelatih: Dari Mana Datangnya Mindset</li><li>Mengubah Mindset: Sebuah Lokakarya</li></ol>



<p>Banyak contoh di kehidupan yang dimasukkan ke dalam buku ini untuk membuktikan bahwa orang-orang dengan <em>growth mindset </em>lebih sukses dibandingkan orang-orang dengan <em>fixed mindset</em>. </p>



<p>Di bagian belakang buku, kita bisa membaca sedikit contoh penerapan <em>growth mindset</em>. Alih-alih mengatakan &#8220;aku payah dalam hal ini&#8221;, lebih baik mengatakan &#8220;apa yang aku lewatkan?&#8221;. Contoh-contoh seperti ini akan lebih banyak ditemukan di dalam buku.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Mindset</em></h2>



<p>Fokus dari buku <em>Mindset </em>adalah menjelaskan tentang adanya dua jenis <em>mindset</em>, yakni <em><strong>fixed</strong> <strong>mindset</strong></em> dan <em><strong>growth mindset</strong></em>. Seperti namanya, <em>fixed mindset </em>adalah pola pikir tetap yang tidak mau berubah, sedangkan <em>growth mindset </em>adalah pola pikir yang terus berkembang.</p>



<p>Penulis akan ambil contoh dari horoskop. Misal Penulis yang berzodiak Taurus digambarkan sebagai orang yang sensitif. Jika ada orang yang mengingatkan kalau Penulis terlalu sensitif, Penulis akan membela diri dengan mengatakan &#8220;emang orang Taurus, mau gimana lagi&#8221;.</p>



<p>Ini adalah contoh kecil dari <em>fixed mindset</em>, di mana kita percaya begitu saja dengan pikiran (buruk) kita tanpa ada upaya untuk mengubahnya. Padahal, sebenarnya sifat-sifat buruk yang kita miliki bisa saja kita ubah jika kita berusaha untuk mengubahnya.</p>



<p>Penyajian tentang <em>mindset </em>yang dilaukan oleh Carol sebenarnya cukup mendalam dan dijelaskan dengan mudah. Hanya saja, Penulis merasa beberapa bagian dari buku ini cukup bertele-tele dan cukup membosankan.</p>



<p>Salah satu alasannya adalah inti dari buku ini sebenarnya hanya menjelaskan tentang <em>fixed mindset </em>dan <em>growth mindset</em>. Dengan tebal yang mencapai , rasanya buku ini terlampau tebal untuk sebuah topik.</p>



<p>Walaupun begitu, buku ini sangat cocok dengan Penulis yang berusaha untuk menerapkan filosofi <em>stoic </em>yang menekankan kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">satu-satunya hal yang bisa kendalikan</a> adalah diri sendiri. <em>Mindset </em>jelas termasuk di dalamnya.</p>



<p>Contoh paling nyata bagaimana vitalnya mengendalikan <em>mindset </em>untuk kehidupan yang lebih baik telah Penulis saksikan sendiri pada ayah Penulis. Meskipun sedang dalam kondisi apapun, ayah Penulis hampir selalu mampu mengendalikan<em> growth mindset-</em>nya.</p>



<p>Di sisi lain, Penulis merasa bahwa selama ini sering <em>stuck </em>dengan <em>fixed mindset</em>-nya. Tidak bisa ini, tidak bisa itu, karena memang begitu. Padahal kalau jujur ke diri sendiri, upaya Penulis saja yang memang belum maksimal.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merekomendasikan buku ini untuk Pembaca yang merasa dirinya sering terjebak dengan <em>fixed mindset </em>dan ingin belajar tentang <em>growth mindset</em>. Buku ini cukup mencerahkan, kok!</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 15 Juni 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Mindset </em>karya Carol S. Dweck</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/">Setelah Membaca Mindset</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Hello, Habits</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hello-habits/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hello-habits/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Nov 2021 15:00:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Fumio Sasaki]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5426</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat ini, Penulis berusaha untuk terus membangun kebiasaan baik dalam hidupnya. Kebiasaan tersebut ada yang dilakukan pagi maupun malam hari. Tujuannya jelas, Penulis ingin memiliki hidup yang lebih baik lagi. Akan tetapi, yang namanya membangun kebiasaan baik pasti sangat sulit. Ada saja halangan yang akan dijumpai, termasuk rasa malas yang kerap sekali datang. Akibatnya, kebiasaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hello-habits/">Setelah Membaca Hello, Habits</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat ini, Penulis berusaha untuk terus membangun kebiasaan baik dalam hidupnya. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">Kebiasaan tersebut ada yang dilakukan pagi</a> maupun malam hari. Tujuannya jelas, Penulis ingin memiliki hidup yang lebih baik lagi.</p>



<p>Akan tetapi, yang namanya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">membangun kebiasaan baik pasti sangat sulit</a>. Ada saja halangan yang akan dijumpai, termasuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">rasa malas</a> yang kerap sekali datang. Akibatnya, kebiasaan yang dibentuk pun buyar di tengah jalan.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis banyak membaca buku tentang membangun kebiasaan. Salah satunya adalah <em><strong>Hello, Habits</strong> </em>karangan Fumio Sasaki yang juga menulis buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/filosofi-minimalisme-pada-goodbye-things/">Goodbye, Things</a></em>. Seperti apa ulasan Penulis terhadap buku ini?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Jika dibandingkan dengan buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a> </em>yang menjelaskan langkah demi langkap, bisa dibilang <em>Hello, Habits </em>ini lebih ke arah buku yang berisi serangkaian tips untuk bisa membangun kebiasaan.</p>



<p>Mengingat yang menulis buku ini adalah Fumio Sasaki yang terkenal karena gaya hidup minimalisnya, tips-tips membangun kebiasaan di buku ini pun banyak terkait dengan gaya hidup minimalis yang ia terapkan.</p>



<p>Buku ini dibagi menjadi empat bab utama, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Keteguhan Hati</li><li>Apakah yang Dimaksud dengan Kebiasaan?</li><li>50 Langkah Untuk Membentuk Kebiasaan</li><li>Kita Dibentuk oleh Kebiasaan</li></ol>



<p>Inti dari buku ini adalah Bab 3, di mana Sasaki menuliskan 50 tips yang bisa kita coba untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dua bab utama bisa dibilang sebagai pembukaan sebelum masuk ke dalam intinya.</p>



<p>Bab pertama menjelaskan mengenai korelasi antara membangun kebiasaan baik dengan keteguhan hati yang kita miliki. Sasaki menjelaskan kalau jika kita gagal melakukan kebiasaan baik, itu bukan karena semata-mata karena keteguhan hati kita kurang. </p>



<p>Salah satu faktor utama kita gagal merutinkan kebiasaan adalah karena kita cenderung memilih &#8220;imbalan&#8221; yang ada di depan mata dibandingkan dengan yang ada di masa depan. &#8220;Imbalan&#8221; kebiasaan baik biasanya membutuhkan waktu yang lama.</p>



<p>Lalu Sasaki melanjutkan dengan menyebutkan kalau kebiasaan adalah &#8220;tindakan yang kita lakukan tanpa berpikir panjang&#8221;. Contoh mudahnya adalah urutan yang kita lakukan ketika kita mandi, apa yang kita lakukan ketika bangun tidur, dan lain sebagainya.</p>



<p>Membuat hal baik bisa kita lakukan untuk bisa menjadi sebuah tindakan yang tak butuh dipikirkan jelas membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. Oleh karena itu, Sasaki memberikan 50 tips untuk membangun kebiasaan di buku ini.</p>



<p>Tiap tips yang ada di dalam buku ini cukup pendek, hanya terdiri dari beberapa lembar saja. Tips yang dicantumkan bervariasi, kadang memiliki keterkaitan dengan tips sebelumnya, kadang berdiri sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Hello, Habits</em></h2>



<p>Kalau menikmati buku <em>Goodbye, Things</em>, kemungkinan buku ini pun akan Pembaca nikmati. Dengan gaya bahasa motivasi yang <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">tidak <em>judgemental</em></a>, buku ini terasa dekat dan aplikatif di kehidupan kita sehari-hari.</p>



<p>Salah satu poin penting dari buku ini adalah Sasaki banyak menggunakan percobaan yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk menjelaskan bagaimana kerja otak kita ketika membangun dan melakukan kebiasaan.</p>



<p>Satu percobaan yang kerap dibahas oleh Sasaki adalah uji <em>marshmallow </em>untuk membuktikan kalau manusia cenderung akan mengambil &#8220;imbalan&#8221; yang ada di depan mata dan mudah dilakukan. </p>



<p>Hanya saja, 50 tips yang dibuat berurutan tanpa ada subbab cukup membingungkan. Rasanya mustahil kita bisa mengingat semuanya. Jika ada subbab, setidaknya kita bisa mengingat poin-poin penting yang ada di dalam buku ini.</p>



<p>Selain itu, isinya juga terasa kurang padat. Mungkin karena Penulis sudah membaca buku tentang kebiasaan yang lebih detail seperti <em>Atomic Habits</em>. Walaupun begitu, tetap ada beberapa hal baru yang bisa Penulis petik dari buku ini. </p>



<p>Untuk yang ingin mendalami seputar kebiasaan, buku ini Penulis rekomendasikan sebagai awal. Jika ingin buku tentang kebiasaan yang lebih dalam, Pembaca bisa membaca <em>Atomic Habits </em>atau <em>The Power of Habit </em>karya Charles Duhigg.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 21 November 2021, terinspirasi setelah membaca <em>Hello, Habits </em>karya Fumio Sasaki</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hello-habits/">Setelah Membaca Hello, Habits</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hello-habits/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Lagom</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lagom/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lagom/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2021 13:01:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Lagom]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Swedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5377</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sedang berusaha menerapkan kehidupan minimalisme, baik dari hal materiel hingga menyederhanakan apa yang ada di pikiran. Oleh karena itu, Penulis sedang banyak membaca buku yang terkait hal tersebut. Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, Penulis menemukan sebuah buku yang menarik berjudul Lagom karangan Lola A. Åkerström. Salah satu yang membuat Penulis tertarik adalah hard cover [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lagom/">Setelah Membaca Lagom</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis sedang berusaha menerapkan kehidupan minimalisme, baik dari hal materiel hingga menyederhanakan apa yang ada di pikiran. Oleh karena itu, Penulis sedang banyak membaca buku yang terkait hal tersebut.</p>



<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, Penulis menemukan sebuah buku yang menarik berjudul <em>Lagom</em> karangan Lola A. Åkerström. Salah satu yang membuat Penulis tertarik adalah <em>hard cover </em>yang dimiliki buku ini, sehingga terkesan mewah.</p>



<p>Buku ini memiliki <em>tagline </em>&#8220;Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia&#8221;. Selain itu, Lagom dalam bahasa Swedia memiliki makna <em>not too little not too much</em>. Secukupnya, sepasnya. Tentu hal ini bisa sangat fleksibel tergantung apa konteksnya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Selama ini, yang Penulis ketahui tentang Swedia adalah Zlatan Ibrahimovic. Penulis juga sempat terbesit pikiran untuk <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">mendaftar beasiswa</a> ke sana. Selain itu, tidak banyak yang Penulis ketahui tentang salah satu negara Skandinavia ini.</p>



<p>Buku ini berusaha menjelaskan kepada masyarakat dunia tentang konsep Lagom yang sudah mengakar di Swedia. Jumlah yang pas itulah yang terbaik. Kekurangan maupun kelebihan lebih baik dihindari saja dari hidup ini.</p>



<p>Di awal buku, kita akan mendapatkan semacam Peta Buku yang memudahkan kita untuk memahami apa itu Lagom. Setelah itu, ada sedikit catatan dari Lola dan beberapa halaman pendahuluan sebelum membedah Lagom dari berbagai aspek.</p>



<p>Lola mengajak dan memberikan contoh bagaimana menerapkan Lagom dalam berbagai hal, seperti:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Kultur + Emosi</li><li>Makanan + Perayaan</li><li>Kesehatan + Kesejahteraan</li><li>Kecantikan + Mode</li><li>Dekorasi + Desain</li><li>Kehidupan Sosial + Bermain</li><li>Pekerjaan + Bisnis</li><li>Uang + Keuangan</li><li>Alam + Kesinambungan</li></ul>



<p>Ada banyak contoh bagaimana masyarakat Swedia bisa maju dengan menerapkan Lagom di berbagai segi kehidupan ini. Melalui buku ini, kita bisa mengintip sedikit tentang kondisi sosial di sana.</p>



<p>Selain itu, buku ini juga menyisipkan beberapa foto dari berbagai sudut negara Swedia, yang sayangnya dalam hitam putih sehingga tidak terlalu jelas. Meskipun terlihat tebal, buku ini hanya memiliki sekitar 230-an halaman.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Lagom</em></h2>



<p>Topik yang hendak disampaikan oleh Lola sebenarnya sangat menarik. Konsep hidup dari sebuah negara yang sangat jauh dari Indonesia selalu menarik karena memiliki perbedaan <em>culture </em>yang sangat berbeda.</p>



<p>Sayangnya, Penulis kerap merasa gaya penyampaian di dalam buku ini terasa kurang nyaman untuk dibaca. Penulis tidak tahu apakah ini dikarenakan terjemahan yang kurang bagus atau memang dari sananya seperti ini.</p>



<p>Bahasanya terkadang terlalu bertele-tele sehingga kita kebingungan untuk mencari apa inti yang hendak disampaikan. Kadang ada beberapa bagian yang terasa repetitif. Untungnya, di setiap bab ada semacam rangkuman untuk memudahkan kita memahami apa yang baru saja kita baca.</p>



<p>Adanya berbagai contoh bagaimana gaya hidup masyarakat sana membantu kita untuk mendapatkan gambaran tentang Lagom. Sayangnya, terkadang Lola seolah menggambarkan masyarakat Swedia sebagai masyarakat yang sempurna atau nyaris sempurna karena menerapkan Lagom.</p>



<p>Hanya saja, buku ini terasa &#8220;dangkal&#8221; dan seolah tidak memberikan banyak hal untuk kita sebagai pembacanya. Walaupun tebalnya 200 halaman lebih, membaca buku ini akan terasa lebih cepat dari seharusnya karena banyaknya gambar dan halaman pembagi bab di buku ini. </p>



<p>Entahlah, Penulis merasa tidak terlalu merekomendasikan buku ini karena tidak terlalu menikmatinya, kecuali jika Pembaca tertarik dengan kehidupan masyarakat Swedia atau memiliki rencana untuk tinggal di sana.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Oktober 2021, terinspirasi setelah membaca <em>Lagom</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lagom/">Setelah Membaca Lagom</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lagom/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Stop Membaca Berita</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-stop-membaca-berita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-stop-membaca-berita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2021 01:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5324</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, Penulis menemukan sebuah buku yang judulnya membuat penasaran: Stop Membaca Berita. Alasannya, apakah mungkin di era keterbukaan informasi seperti sekarang bisa dilalui tanpa membaca berita? Ditulis oleh Rolf Dobelli yang merupakan praktisi media, buku ini mengatakan kalau berhenti membaca berita adalah, &#8220;Manifesto untuk hidup yang lebih bahagia, tenang dan bijaksana&#8221;. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-stop-membaca-berita/">Setelah Membaca Stop Membaca Berita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, Penulis menemukan sebuah buku yang judulnya membuat penasaran: <em><strong>Stop Membaca Berita</strong></em>. Alasannya, apakah mungkin di era keterbukaan informasi seperti sekarang bisa dilalui tanpa membaca berita?</p>



<p>Ditulis oleh Rolf Dobelli yang merupakan praktisi media, buku ini mengatakan kalau berhenti membaca berita adalah, &#8220;Manifesto untuk hidup yang lebih bahagia, tenang dan bijaksana&#8221;. Di belakang, buku ini tertulis sebagai genre Pengembangan Diri.</p>



<p>Lantas, apakah buku ini mampu meyakinkan kita untuk berhenti membaca berita? Simak dulu ulasan Penulis berikut ini!</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Buku ini berisikan 35 alasan mengapa kita harus berhenti membaca berita yang ditulis dalam bentuk esai singkat. Setiap babnya hanya terdiri dari sekitar tiga sampai halaman saja sehingga tidak ada yang terasa terlalu bertele-tele.</p>



<p>Rolf kerap menggunakan metafora untuk memudahkan kita membayangkan betapa berbahayanya berita. Contohnya, ia menyamakan berita sebagai gula untuk tubuh, di mana konsumsi gula yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit.</p>



<p>Ia juga menekankan kalau berita-berita yang kita baca sebenarnya kerap tidak relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Ada peristiwa penembakan di sekolah di Amerika Serikat atau bencana alam di suatu daerah yang jauh sama sekali tidak memengaruhi kehidupan kita.</p>



<p>Rolf juga membeberkan secara panjang lebar apa saja dampak negatif yang diakibatkan oleh berita, hingga seolah-olah berita sama sekali tidak memiliki dampak positif bagi pembacanya.</p>



<p>Beberapa hal negatif yang menurut Rolf diakibatkan oleh berita adalah:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Berita menghambat pemikiran</li><li>Berita merombak otak kita</li><li>Berita menghasilkan ketenaran palsu</li><li>Berita membuat kita pasif</li><li>Berita bersifat manipulatif</li><li>Berita mematikan kretivitas</li><li>Berita mendukung terorisme</li><li>Dan masih banyak lagi lainnya</li></ul>



<p>Berita yang dimaksudkan Rolf di buku ini adalah berita secara fisik maupun daring. Berita daring lebih bahaya, karena akan menampilkan rekomendasi berita yang sesuai dengan kesukaan kita secara terus-menerus. </p>



<p>Sebagai ganti berita, Rolf mengajak pembaca bukunya untuk lebih memilih media buku saja. Rolf adalah mantan pecandu berita, sehingga mungkin ia ingin orang lain tidak sampai mengalami apa yang pernah ia alami. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Stop Membaca Berita</em></h2>



<p>Buku <em>Stop Membaca Berita </em>termasuk tipis, tidak sampai 150 halaman. Selain itu, isi tiap babnya juga relatif pendek sehingga cocok untuk dibaca di saat ketika kita sedang menunggu sesuatu ataupun bacaan singkat sebelum tidur.</p>



<p>Bisa dibilang, buku ini terasa ekstrem seolah-olah kita bisa hidup tanpa membaca berita sama sekali. Argumen-argumen yang tergantung di dalamnya terasa subyektit, walau hal tersebut dapat dimaklumi mengingat penulis buku ini memang praktisi di bidang media.</p>



<p>Entah mengapa Penulis merasa buku ini sedikit sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Susah untuk membayangkan kita hidup di era keterbukaan tanpa mengetahui apa yang tengah terjadi.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis sependapat dengan beberapa pendapat yang diutarakan di buku ini. Contohnya adalah banyak kejadian yang kita lihat sama sekali tidak berpengaruh terhadap kehidupan kita.</p>



<p>Selain itu, kita juga kerap berdebat kusir tentang isu-isu yang ada tanpa pernah menemukan solusi sesungguhnya. Entah berapa lama waktu yang terbuang untuk menyikapi sebuah permasalahan yang tak ada hubungannya dengan kita.</p>



<p>Sayangnya, buku ini seolah mengajak kita untuk hidup apatis tanpa memedulikan apa yang tengah terjadi di sekitar kita. Meskipun Penulis berusaha menerapkan hidup minimalis, rasanya metode berhenti membaca berita secara total tidak sesuai dengan Penulis.</p>



<p>Mungkin ini hanya perasaan Penulis saja, tapi rasanya tulisan Rolf di buku ini kerap terasa berapi-api dengan nada marah. Hal tersebut, sayangnya, membuat Penulis merasa sedikit terintimidasi ketika membaca dan membuat tidak nyaman.</p>



<p>Sebagai orang yang bekerja di bidang media, Penulis menganggap berita memiliki berbagai manfaat. Selain sebagai penyampai informasi kepada orang yang membutuhkan, berita juga menjadi sarana hiburan yang cukup efektif.</p>



<p>Berita memang memiliki sisi negatif. Membacanya secara berlebihan akan memberikan dampak buruk kepada kita. Hanya saja, mengesampingkan sisi positifnya juga rasanya kurang bijaksana.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 16 Oktober 2021, terinspirasi setelah membaca buku <em>Stop Membaca Berita</em></p>



<p>Foto: <a href="https://ebooks.gramedia.com/id/buku/stop-membaca-berita">Gramedia Digital</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-stop-membaca-berita/">Setelah Membaca Stop Membaca Berita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-stop-membaca-berita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Aug 2019 15:43:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Aroma Karsa]]></category>
		<category><![CDATA[Dee]]></category>
		<category><![CDATA[Di Balik Tirai Aroma Karsa]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2612</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu novel yang menurut penulis sangat bagus adalah Aroma Karsa karya penulis terkenal Dee Lestari. Novel tersebut disusun dengan sangat rinci dan detail yang menakjubkan. Sebagai orang yang juga hobi menulis novel, tentu penulis penasaran bagaimana Dee bisa membuat karya seperti itu. Pertanyaan yang menggantung di benak tersebut langsung tunai terjawab ketika buku Di Balik Tirai Aroma Karsa rilis. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu novel yang menurut penulis sangat bagus adalah<em> </em><strong><a href="https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/"><em>Aroma Karsa</em></a> </strong>karya penulis terkenal <strong>Dee Lestari</strong>. Novel tersebut disusun dengan sangat rinci dan detail yang menakjubkan.</p>
<p>Sebagai orang yang juga hobi menulis novel, tentu penulis penasaran bagaimana Dee bisa membuat karya seperti itu. Pertanyaan yang menggantung di benak tersebut langsung tunai terjawab ketika buku <em><strong>Di Balik Tirai Aroma Karsa </strong></em>rilis.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sebagai informasi, buku ini merupakan buku non-fiksi pertama dari Dee. Sesuai dengan judul, buku ini berisikan tips sekaligus proses bagaimana Dee menyusun novel <em>Aroma Karsa</em>.</p>
<p>Dee menjelaskan prosesnya dengan gaya narasi yang menyenangkan, sehingga penulis bisa menghabiskannya dengan waktu yang cukup cepat, terutama di bab-bab awalnya.</p>
<p>Ketika membaca novel <em>Aroma Karsa</em>, penulis sangat mengagumi kedetailan yang dimiliki oleh novel tersebut, terutama yang berkaitan dengan parfum.</p>
<p>Ternyata, Dee melakukan riset secara serius hingga mengikuti kursus membuat parfum! Sampai sedalam itu riset yang dilakukan oleh penulis profesional hingga membuat penulis malu yang sering kali melakukan riset hanya berdasarkan hasil pencarian internet.</p>
<p>Tidak cukup di situ, Dee juga mengunjungi banyak tempat untuk mendapatkan gambaran yang jelas, bukan sekadar di awang-awang. <strong>TPU Bantar Gebang</strong> dan kaki <strong>Gunung Lawu</strong> adalah salah satu contoh kecilnya.</p>
<p>Selain mengamati melalui matanya sendiri, Dee juga mendengarkan kisah-kisah dari orang lain yang dijadikan sebagai narasumber. Ia bertanya kepada peracik parfum, ahli anggrek, penjaga gunung Lawu, dan lain-lainnya.</p>
<p>Itu semua dijelaskan baru di bab dua. Di bab-bab selanjutnya, masih ada ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang gemar menulis, seperti menyusun jalan cerita dan pembentukan karakter.</p>
<p>Dee tidak sekadar menuliskan proses yang baik-baik saja. Ia dengan apa adanya juga berbagi cerita tentang kesusahan-kesusahan yang ia alami selama pembuatan novel seperti tekanan yang membuat pusing kepala hingga tidak tercapainya <em>deadline</em>.</p>
<p>Di bab-bab terakhir buku ini, ada beberapa tulisan dari orang-orang yang membantu Dee menyelesaikan naskahnya. Menarik, karena kita bisa mengetahui proses pembuatan novel dari berbagai sudut pandang.</p>
<h3>Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?</h3>
<p>Jelas buku ini membawa banyak sekali inspirasi untuk penulis yang memang gemar menulis sejak kecil. Dengan gaya bahasanya khas, Dee seolah sedang memberikan kelas menulis secara langsung kepada penulis.</p>
<p>Selain sebagai buku yang memberikan tips-tips menulis, <em>Di Balik Tirai Aroma Karsa </em>terasa seperti buku di mana Dee berbagai suka dukanya ketika menulis sebuah novel. <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/belajar-dari-pengalaman-orang-lain/">Belajar dari pengalaman orang lain</a> memang salah satu kegiatan favorit penulis.</p>
<p>Beberapa bagian mungkin akan terasa menjemukan, terutama ketika membaca kisah orang-orang yang membantu Dee. Mungkin karena bahasanya yang berubah begitu saja.</p>
<p>Yang jelas, buku ini sangat cocok untuk para pembaca yang hobi atau sudah memiliki niatan untuk menulis novel. Akan tetapi, penulis sarankan untuk membaca novel <em>Aroma Karsa </em>terlebih dahulu sebelum membaca buku yang satu ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.3/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 17 Agustus 2019, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Di Balik Tirai Aroma Karsa </em>karya <em>Dee Lestari</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
