<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rock Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/rock/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/rock/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Nov 2024 08:37:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>rock Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/rock/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tier List Lagu-Lagu di Album &#8220;From Zero&#8221; Versi Saya</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-album-from-zero-versi-saya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-album-from-zero-versi-saya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Nov 2024 08:36:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[From Zero]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<category><![CDATA[tier list]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8066</guid>

					<description><![CDATA[<p>Awalnya, Penulis ingin menggabungkan tier list lagu-lagu di album From Zero di artikel &#8220;Mari Kita Bicarakan Album Baru Linkin Park, From Zero&#8221;. Akan tetapi, ternyata banyak yang ingin Penulis dari album tersebut, sehingga rasanya akan menjadi terlalu panjang jika disatukan. Dalam tulisan ini, Penulis akan mengulas setiap lagu yang ada di From Zero yang total [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-album-from-zero-versi-saya/">Tier List Lagu-Lagu di Album &#8220;From Zero&#8221; Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Awalnya, Penulis ingin menggabungkan <em>tier list </em>lagu-lagu di album <em>From Zero </em>di artikel &#8220;Mari Kita Bicarakan Album Baru Linkin Park, From Zero&#8221;. Akan tetapi, ternyata banyak yang ingin Penulis dari album tersebut, sehingga rasanya akan menjadi terlalu panjang jika disatukan.</p>



<p>Dalam tulisan ini, Penulis akan mengulas setiap lagu yang ada di <em>From Zero</em> yang total memiliki 11 lagu. Karena sempat mengatakan bahwa lagu-lagu di album ini bisa masuk ke album lama Linkin Park, Penulis juga akan memberi opininya lagu ini layak masuk ke album mana.</p>



<p>Setelah mengulas semua lagunya, Penulis akan membuat <em>tier list </em>dari album ini lalu membandingkannya dengan album lain yang pernah Penulis bahas di artikel &#8220;Tier List Lagu Linkin Park Versi Saya&#8221;.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar.jpg 1280w " alt="Keganasan Netizen Barbar" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/">Keganasan Netizen Barbar</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Mari Kita Bahas Setiap Lagu di Album From Zero</h2>



<p><strong>1. From Zero (Intro) </strong>&#8211; Ini menjadi pembuka album yang berdurasi singkat, seperti lagu &#8220;Foreword&#8221; di album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/">Meteora</a></em> dan &#8220;Wake&#8221; di album<em> Minutes to Midnight</em>. Detail kecil ini sangat menarik bagi Penulis karena mengembalikan lagi &#8220;tradisi&#8221;lama yang hilang.</p>



<p>Ada semacam <em>choir </em>yang disambung dialog yang sepertinya terjadi antara Mike dan Emily. Inti dari percakapan tersebut adalah Emily yang menanyakan makna dari judul album ini, yang diakhiri dengan “<em>oh, wait, your fir—</em>”</p>



<p>Pemotongan ini menjadi semacam <em>easter egg </em>yang menarik, karena dipotong begitu saja dan langsung berlanjut ke lagu selanjutnya. Jika bisa menebak, kemungkinan Emily akan berkata&#8221;<em>oh, wait, your first band name is Xero, right?</em>&#8220;</p>



<p>Oleh karena itu, menurut Penulis intro ini sangat cocok untuk masuk ke album <em>Meteora</em>.</p>



<p><strong>2. The Emptiness Machine</strong> &#8211; Ini adalah single pertama yang dirilis Linkin Park untuk memperkenalkan Emily. Ketika pertama kali mendengarkan, Penulis langsung merasa kalau lagu ini &#8220;Linkin Park banget&#8221; sebelum era album <em>One More Light</em>.</p>



<p>Penulis sudah pernah membahas lagu ini cukup panjang pada artikel <a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/">&#8220;Menatap Era Baru Linkin Park Bersama Emily Armstrong&#8221;</a>, sehingga Penulis tidak akan banyak membahas lagu ini di sini.</p>



<p>Sebelumnya, Penulis pernah mengatakan kalau lagu ini cocok untuk masuk ke album <em>The Hunting Party</em>. Namun, setelah didengarkan berkali-kali, rasanya &#8220;The Emptiness Machine&#8221; lebih cocok untuk masuk ke album <em>Living Things.</em></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="The Emptiness Machine (Official Music Video) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/SRXH9AbT280?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><strong>3. Cut the Bridge</strong> &#8211; Begitu mendengar lagu ini, entah mengapa bagian intronya membuat Penulis teringat akan lagu &#8220;Arjuna&#8221; dari <a href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Dewa 19</a>. Namun, sebenarnya ada beberapa <em>beat </em>di bagian intro yang membuat lagu ini terdengar seperti &#8220;Bleed It Out&#8221;.</p>



<p>Walaupun begitu, lagu ini bisa dibilang menjadi salah satu yang kurang cocok dengan selera Penulis dan gagal masuk ke dalam &#8220;Liked Music&#8221; di YouTube Music. Jika disuruh memilih, lagu &#8220;Cut the Bridge&#8221; sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam album <em>Minutes to Midnight</em>.</p>



<p><strong>4. Heavy is the Crown</strong> &#8211; Setelah mendengarkan keseluruhan album, Penulis tetap menganggap kalau lagu &#8220;Heavy is the Crown&#8221; adalah lagu terbaik dari album <em>From Zero</em>. Apalagi setelah menonton penampilan lagu ini di pembukaan Worlds 2024, <em>beuh</em>, mantap betul.</p>



<p>Lagu ini punya paket komplit dan memiliki nuansa seperti lagu &#8220;Faint&#8221;, mulai dari <em>rap </em>Mike seperti era awal-awal Linkin Park, bagian <em>reff </em>yang <em>catchy</em>, musik <em>rock</em> yang kental, scream belasan detik dari Emily yang membuat Penulis teringat lagu <em>Given Up</em> dari <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/">Minutes to Midnight</a></em>.</p>



<p>Penulis merasa kalau lagu ini agak sulit untuk dimasukkan ke dalam album Linkin Park mana pun karena walaupun memiliki formula klasik Linkin Park, lagu ini punya warnanya sendiri. Jika harus memilih, <em>Meteora</em> adalah album yang paling cocok untuk album ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Linkin Park - Heavy Is The Crown | Worlds 2024 Finals Opening Ceremony Presented by Mastercard" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/R8OqqaBwcl8?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><strong>5. Over Each Other</strong> &#8211; Ini adalah lagu pertama dan satu-satunya yang hanya menampilkan vokal Emily. Selain itu, lagu ini juga terasa paling pop dibandingkan dengan lagu lainnya yang ada di album ini.</p>



<p>Awal mendengarkan, Penulis merasa agak aneh dengan lagu ini. Mungkin karena memang belum terbiasa saja dengan vokal Emily. Namun, lama kelamaan Penulis bisa menikmati lagu ini walaupun tak sampai memasukkannya ke dalam &#8220;Liked Music&#8221; untuk saat ini.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merasa kalau lagu ini sangat cocok dengan tema dari album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">One More Light</a> </em>yang menjadi album paling pop dari Linkin Park.</p>



<p><strong>6. Casualty</strong> &#8211; Begitu mendengarkan lagu ini, Penulis langsung merasa kalau album ini harus masuk ke dalam album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">The Hunting Party</a></em> karena terdengar sangat rusuh. Penulis langsung teringat lagu &#8220;Keys to the Kingdom&#8221; ditambah &#8220;QWERTY&#8221;.</p>



<p>Satu hal yang menarik dari lagu ini adalah vokal Mike, yang biasanya terdengar kalem dan menenangkan, berubah menjadi garang dan keras seolah Mike sedang marah-marah. Namun, hal itu cocok dengan lagunya yang terdengar seperti lagu <em>punk rock old school</em>.</p>



<p>&#8220;Casualty&#8221; menjadi satu lagu yang nempel di telinga Penulis karena &#8220;rusuhnya&#8221; dan membuat ingin Penulis terus melakukan <em>headbang</em>. Lagu-lagu rusuh seperti inilah yang sering Penulis rindukan dari Linkin Park, dan hal tersebut akhirnya bisa Penulis dapatkan sekarang.</p>



<p><strong>7. Overflow</strong> &#8211; Selain &#8220;Cut the Bridge&#8221;, lagu &#8220;Overflow&#8221; adalah salah satu lagu lainnya yang kurang nyantol di telinga Penulis. Dibandingkan lagu-lagu lain, lagu ini terasa paling eksperimental dan punya kesan <em>hip-hop</em> yang cukup kental.</p>



<p>Di bagian awal lagu, ada bagian yang membuat Penulis teringat lagu &#8220;PPR:KUT&#8221; alias &#8220;Papercut&#8221; versi album Reanimation. Dengan berbagai ulasan tersebut, Penulis menganggap kalau lagu ini cocok untuk dimasukkan ke dalam album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">A Thousand Suns</a></em>.</p>



<p><strong>8. Two Faced</strong> &#8211; Lagu ini merupakan <em>single</em> keempat yang dirilis Linkin Park jelang rilis album penuhnya. Saat mendengarkan pertama kali, lagu ini terdengar seperti lagu-lagu <em>pre-demo </em>Linkin Park sebelum debut.</p>



<p>Selain itu, <em>scream </em>yang dilakukan oleh Emily juga terkesan ngawur dan agak urak-urakan. Namun, setelah didengarkan berkali-kali, Penulis akhirnya bisa menikmati lagu ini. Apalagi, banyak yang berpendapat kalau lagu ini merupakan &#8220;One Step Closer 2.0&#8221;.</p>



<p>Apa yang Penulis suka dari lagu ini adalah adanya <em>guitar riff </em>yang berat, seperti yang bisa kita dengarkan dari lagu-lagu seperti &#8220;QWERTY&#8221; dan &#8220;Don&#8217;t Stay&#8221;. Elemen ini adalah salah satu hal yang Penulis sukai dari Linkin Park, dan rasanya sudah lama absen.</p>



<p>Tak hanya itu, salah satu elemen lain yang membuat Penulis menyukai lagu ini adalah kembalinya teknis <em>scratch </em>alias <em>ceket-ceket </em>solo dari Mr. Hahn. Terakhir kali Penulis mendengarkan ini adalah di album <em>A Thousand Suns </em>melalui lagu &#8220;Wretches and Kings&#8221;. </p>



<p>Oleh karena itu, lagu ini bisa disebut terdengar seperti lagu-lagu klasik Linkin Park, genre yang membuat Linkin Park menjadi begitu populer. Lagu &#8220;Two Faced&#8221; sangat cocok untuk masuk ke dalam album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Hybrid Theory</a></em>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Two Faced (Official Music Video) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kivUsDGWojU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><strong>9. Stained </strong>&#8211; Biasanya, Penulis kurang menyukai lagu Linkin Park yang terlalu <em>slow</em>. Namun, &#8220;Stained&#8221; bisa menjadi pengecualian karena Penulis menyukainya. Penulis merasa kalau lagu ini cocok untuk masuk ke dalam album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Living Things</a></em> atau <em>One More Light</em>.</p>



<p>Selain itu, Penulis entah mengapa merasa kalau lagu ini terasa seperti lagu-lagu dari Avril Lavigne, terutama dari album <em>Avril Lavigne</em> yang rilis tahun 2013 silam. Karena itu juga lagu ini terdengar seperti lagu lama, bukan lagu yang dirilis di tahun 2024. </p>



<p><strong>10. IGYEIH</strong> &#8211; Sejak daftar lagu <em>From Zero </em>muncul di internet, Penulis sudah penasaran dengan lagu <em>IGYEIH</em>. Penulis sampai harus mencari apa arti dari judul tersebut di Reddit. Ternyata, setelah rilis, judul tersebut merupakan akronim dari <em>I Give You Everything I Have</em>. </p>



<p>Lagu ini juga langsung terdengar asyik ketika pertama kali mendengarkannya. Terkesan rusuh seperti &#8220;Casualty&#8221; dengan lirik yang <em>related </em>dengan Penulis. Ini juga menjadi lagu keras terakhir di album ini setelah &#8220;Heavy is the Crown&#8221;, &#8220;Casualty&#8221;, dan &#8220;Two Faced&#8221;.</p>



<p>Karena kerusuhannya tersebut, Penulis merasa kalau album ini cocok untuk menemani lagu &#8220;Casualty&#8221; di album <em>The Hunting Party</em>.</p>



<p><strong>11. Good Things Go</strong> &#8211; Sebagai lagu penutup album, &#8220;Good Things Go&#8221; terasa pas sebagai penutup. Apalagi, lagu ini juga nyambung dengan lagu pertama di album ini, sehingga efek <em>looping</em>-nya terasa.</p>



<p>Banyak yang menanggap kalau lagu ini menjadi lagu &#8220;terindah&#8221; dari album ini, baik dari komposisi musiknya maupun liriknya.  Penulis merasa kalau lagu ini akan sangat cocok untuk masuk ke album <em>One More Light</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tier List Album From Zero</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8076" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Berdasarkan ulasan di atas dan pengalaman mendengar Penulis selama ini, inilah<em> tier list </em>kesebelas lagu yang ada di album <em>From Zero </em>versi Penulis:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>S: &#8211;</li>



<li>A: The Emptiness Machine, Heavy is the Crown</li>



<li>B: Casualty, Two-Faced, Stained, IGYHEIH, Good Things Go</li>



<li>C: Cut the Bridge, Over Each Other, Overflow</li>



<li>D: From Zero (Intro)</li>



<li>E: &#8211;</li>
</ul>



<p>Dari <em>tier list </em>tersebut, mari kita hitung berapa skor dari album <em>From Zero</em> dengan hitungan yang sama dengan sebelumnya (Tier S = 5, Tier A = 4, &#8230;, Tier E=0). Dengan susunan di atas, maka kita akan mendapatkan skor <strong>30</strong> dengan rata-rata <strong>2,73</strong>.</p>



<p>Inilah posisi<em> From Zero j</em>ika dibandingkan dengan album Linkin Park lainnya:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Meteora&nbsp;</strong>– Bobot Akhir: 42 (Rata-Rata: 3,23)</li>



<li><strong>From Zero</strong> &#8211; Bobot Akhir: 30 (Rata-Rata: 2,73)</li>



<li><strong>Hybrid Theory</strong>&nbsp;– Bobot Akhir: 30 (Rata-Rata: 2,5)</li>



<li><strong>Living Things&nbsp;</strong>– Bobot Akhir: 29 (Rata-Rata:2,42)</li>



<li><strong>One More Light</strong>&nbsp;– Bobot Akhir: 22 (Rata-Rata: 2,2)</li>



<li><strong>Minutes to Midnight</strong>&nbsp;– Bobot Akhir: 26 (Rata-Rata: 2,17)</li>



<li><strong>The Hunting Party</strong>&nbsp;– Bobot Akhir: 23 (Rata-Rata: 1,92)</li>



<li><strong>A Thousand Suns</strong>&nbsp;– Bobot Akhir: 27 (Rata-Rata: 1,8)</li>
</ol>



<p>Ya, Penulis sendiri terkejut album ini bisa berada di ata <em>Hybrid Theory </em>dan hanya kalah dari Meteora yang memang menjadi album favorit Penulis sepanjang masa. Namun, memang Penulis bisa menikmati semua lagu yang ada di album ini, sehingga rasanya wajar bisa mendapatkan skor setinggi itu.</p>



<p>Untuk beberapa waktu ke depan, Penulis akan terus mengulang album <em>From Zero</em>, terutama ketika sedang lari pagi dan bekerja. K-Pop, untuk sementara waktu rasanya harus minggir dulu meskipun <a href="https://whathefan.com/musik/i-am-ive/">IVE</a> baru merilis <em>single</em> baru yang sangat <em>catchy</em> hasil kolaborasi dengan David Guetta.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 16 November 2024, terinspirasi setelah mendengarkan semua lagu di album <em>From Zero </em>berkali-kali</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://music.apple.com/id/album/from-zero/1766137049?l=id">Apple Music</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-album-from-zero-versi-saya/">Tier List Lagu-Lagu di Album &#8220;From Zero&#8221; Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-album-from-zero-versi-saya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mari Kita Bicarakan Album Baru Linkin Park, From Zero</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-album-baru-linkin-park-from-zero/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-album-baru-linkin-park-from-zero/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Nov 2024 16:09:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[From Zero]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8061</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi fans Linkin Park. Bagaimana tidak, setelah tujuh tahun, akhirnya Linkin Park merilis album baru berjudul From Zero. Ini adalah album perdana bersama anggota baru, yakni Emily Armstrong dan Colin Brittain. Sebelum merilis album ini, Linkin Park sudah merilis empat single dalam waktu yang cukup berdekatan, yakni &#8220;The Emptiness [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-album-baru-linkin-park-from-zero/">Mari Kita Bicarakan Album Baru Linkin Park, From Zero</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi <em>fans </em>Linkin Park. Bagaimana tidak, setelah tujuh tahun, akhirnya Linkin Park merilis album baru berjudul <em><strong>From Zero</strong></em>. Ini adalah <a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/">album perdana bersama anggota baru</a>, yakni Emily Armstrong dan Colin Brittain.</p>



<p>Sebelum merilis album ini, Linkin Park sudah merilis empat <em>single </em>dalam waktu yang cukup berdekatan, yakni &#8220;The Emptiness Machine&#8221;, &#8220;Heavy is the Crown&#8221;, &#8220;Over Each Other&#8221;, dan &#8220;Two Faced&#8221;.</p>



<p>Secara keseluruhan, Penulis bisa menikmati keempat <em>single </em>tersebut, terutama dua judul pertama. Oleh karena itu, Penulis tak sabar untuk mendengarkan tujuh lagu lainnya yang ada di dalam lagu <em>From Zero</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/sebuah-rindu-yang-hanya-milikmu-seorang-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/sebuah-rindu-yang-hanya-milikmu-seorang-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/sebuah-rindu-yang-hanya-milikmu-seorang-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/sebuah-rindu-yang-hanya-milikmu-seorang-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/sebuah-rindu-yang-hanya-milikmu-seorang-banner.jpg 1280w " alt="Ketika Rindu Hanya Milikmu Seorang" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sajak/ketika-rindu-hanya-milikmu-seorang/">Ketika Rindu Hanya Milikmu Seorang</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">First Impression Saya Mendengarkan From Zero</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8070" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/review-album-from-zero.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Cover Album From Zero (<a href="https://music.apple.com/id/album/from-zero/1766137049?l=id">Apple Music</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak pagi, Penulis sudah dihubungi oleh temannya yang sesama penggemar Linkin Park untuk mendiskusikan album ini. Namun, Penulis baru mulai mendengarkannya siang setelah Sholat Jumat dan terus mengulangnya hingga menulis artikel ini. Berikut adalah daftar lagu di album <em>From Zero</em>:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>From Zero (Intro)</li>



<li>The Emptiness Machine</li>



<li>Cut the Bridge</li>



<li>Heavy is the Crown</li>



<li>Over Each Other</li>



<li>Casualty</li>



<li>Overflow</li>



<li>Two Faced</li>



<li>Stained</li>



<li>IGYEIH</li>



<li>Good Things Go</li>
</ol>



<p>Saat mendengarkannya pertama kali, Penulis merasa kalau album ini terasa &#8220;kompilasi&#8221; dari ketujuh album Linkin Park sebelumnya bersama Chester. Jika disebar, semua lagu yang ada di album ini bisa dengan mudah masuk ke dalam album-album lama Linkin Park.</p>



<p>Menurut Penulis, album ini merupakan<strong> kombinasi antara &#8220;The Old LP&#8221; dan &#8220;The New LP&#8221;.</strong> Mereka berusaha mempertahankan identitas mereka, tapi tetap menyesuaikan diri dengan zaman. Apalagi, mereka hadir dengan vokalis baru dengan jenis vokal yang berbeda.</p>



<p>Hal kecil lain yang menarik dari album ini adalah <strong>kembalinya efek &#8220;bersambung&#8221; </strong>dari tiap lagunya. Efek ini sempat hilang di album<em> <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">One More Light</a></em>, sehingga Penulis merasa senang ketika mendengar ada beberapa lagu yang saling bersambung, apalagi tiga lagu terakhirnya.</p>



<p>Sebagai tambahan, menurut teman Penulis album ini terasa &#8220;<em>not depressing</em>&#8220;, berbeda dengan beberapa tema lagu lama Linkin Park. Album ini seolah menjadi katarsis Mike setelah merilis album <em>Post Traumatic</em> beberapa tahun lalu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pamer Kemampuan Vokal Emily</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/emily-armstrong-vokal-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8069" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/emily-armstrong-vokal-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/emily-armstrong-vokal-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/emily-armstrong-vokal-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/emily-armstrong-vokal.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Emily Armstrong (<a href="https://www.standard.co.uk/culture/music/emily-armstrong-linkin-park-singer-b1180471.html">Evening Standard</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak rilisnya lagu &#8220;The Emptiness Machine&#8221;, kita secara bertahap diperkenalkan dengan vokal Emily. Jika lagu tersebut adalah perkenalan, maka &#8220;Heavy is the Crown&#8221; adalah pertunjukkan kalau Emily adalah seorang <em>rockstar</em> yang mampu melakukan <em>scream</em> panjang.</p>



<p>Selanjutnya di &#8220;Over Each Other&#8221;, kita diperdengarkan vokal Emily menyanyi lagu <em>pop-rock </em>yang lebih <em>slow</em> . Di &#8220;Two Faced&#8221;, kita kembali mendengar bagaimana Emily <em>bengak-bengok</em> dengan keras dan <em>aur-auran</em>.</p>



<p>Nah, berbagai perbedaan itu semakin terasa di album <em>From Zero</em>. <strong>Linkin Park seolah ingin <a href="https://whathefan.com/musik/cara-linkin-park-membiasakan-vokal-emily-kepada-penggemarnya/">pamer kemampuan vokal Emily</a></strong> yang bisa bernyanyi di berbagai genre. Mau nyanyi <em>slow</em>, gas. Mau nyanyi agak pop, boleh. Mau teriak-teriak, hajar.</p>



<p>Kalau mau di-<em>oversimplified</em>, lagu-lagu di album ini bisa dibagi tiga kategori: Soft (S), Neutral (N), dan Hard (H). Seperti inilah pembagiannya versi Penulis (dengan mengecualikan <em>track </em>pertama), yang menariknya ternyata cukup seimbang:</p>



<p>S: Over Each Other, Stained, Good Things Go</p>



<p>N: The Emptiness Machine, Cut the Bridge, Overflow</p>



<p>H: Heavy is the Crown, Casualty, Two Faced, IGYEIH</p>



<p>Penulis sejujurnya sudah semakin terbiasa dengan vokal Emily dan menyukainya. Keputusan Mike dan Linkin Park untuk menunjukkan terbukti merupakan keputusan yang benar sekaligus membuktikan para <em>hater </em>Emily salah.</p>



<p>Apalagi setelah melihat penampilan Emily di pembukaan turnamen Worlds 2024, rasanya ia terus berusaha untuk <em>improve</em> dan membuktikan bahwa ia penerus yang layak dari mendiang Chester.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Versi Baru dari Lagu-Lagu Lama Linkin Park</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Two Faced (Official Music Video) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kivUsDGWojU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ketika membaca kolom komentar di kanal YouTube Linkin Park, banyak penggemar yang mengaku menangis ketika mendengarkan album ini. Perasaan sentimental tersebut juga hinggap di diri Penulis, karena bagaimanapun ini adalah penantian yang cukup panjang.</p>



<p>Selain itu, ada banyak penggemar yang merasa kalau <strong>lagu-lagu di album ini menjadi versi 2.0 dari lagu lama Linkin Park</strong>. Yang paling sering disebut adalah lagu &#8220;Two Faced&#8221; yang dianggap versi baru dari &#8220;One Step Closer&#8221; dari album <em>Hybrid Theory</em>.</p>



<p>Ada banyak hal yang mengejutkan dari album ini bagi Penulis. Contohnya, di lagu <em>Casualty</em>, kita bisa <strong>mendengarkan <em>rap </em>dari Mike dengan cara yang berbeda</strong>. Selain itu, di beberapa lagu ia juga bisa melakukan <em>rap </em>yang lebih cepat dari biasanya, padahal ia sudah berusia 47 tahun.</p>



<p>Menurut teman Penulis, album ini membuktikan bahwa Mike adalah seorang <em>rapper </em>yang <em>decent</em>, apalagi jika dibandingkan <em>rapper-rapper </em>baru yang menurutnya &#8220;alay&#8221; dengan hit-hit baru yang mungkin tidak cocok untuk telinga milenial.</p>



<p>Contoh lainnya, siapa yang menyangka bisa <strong>mendengar <em>scratch </em>alias <em>ceket-ceket </em>ala Mr. Hahn di tahun 2024</strong>? Padahal, teknik tersebut sudah dianggap <em>jadul</em> sejak bertahun-tahun lalu. Namun, bagi Penulis yang selalu menyukai permainan Mr. Hahn, hal ini menjadi semacam nostalgia sekaligus obat kangen.</p>



<p>Terakhir, Penulis terkejut karena ternyata <strong>hanya &#8220;Over Each Other&#8221; yang menjadi lagu <em>full</em> Emily di album ini</strong>. Selain itu, selalu ada vokal dari Mike, baik nge-<em>rap</em> maupun tidak. Mungkin Linkin Park belum terlalu percaya diri mengeluarkan <em>single</em> full Emily lebih banyak?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Secara keseluruhan, Penulis menganggap kalau <strong><em>From Zero </em>merupakan album <em>comeback</em> yang memuaskan</strong>.  Bisa tetap merasakan Linkin Park yang Penulis kenal sembari mendapatkan sesuatu yang <em>fresh</em> merupakan ha menyenangkan.</p>



<p>Namun, album ini seolah membantah pernyataan Mike dalam satu wawancara kalau mereka <em>start from scratch</em>. Tidak, mereka tidak benar-benar memulai dari nol. Mereka memasukkan apa yang mereka kerjakan selama ini dan memberikan sentuhan baru.</p>



<p>Setelah membahas album ini secara keseluruhan, selanjutnya Penulis akan membahas tiap lagu di dalam album ini satu per satu, lalu membuat tier list-nya. Setelah itu, kira-kira akan ada di posisi mana album<em> From Zero</em> jika dibandingkan album Linkin Park yang lain? </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 15 November 2024, terinspirasi setelah mendengarkan album <em>From Zero</em> yang baru rilis hari ini</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://music.apple.com/id/album/from-zero/1766137049?l=id">Apple Music</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-album-baru-linkin-park-from-zero/">Mari Kita Bicarakan Album Baru Linkin Park, From Zero</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-album-baru-linkin-park-from-zero/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Linkin Park Membiasakan Vokal Emily kepada Penggemarnya</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/cara-linkin-park-membiasakan-vokal-emily-kepada-penggemarnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/cara-linkin-park-membiasakan-vokal-emily-kepada-penggemarnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Sep 2024 22:56:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Emily Armstrong]]></category>
		<category><![CDATA[From Zero]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[rap]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7925</guid>

					<description><![CDATA[<p>Linkin Park baru saja merilis single terbaru mereka yang berjudul &#8220;Heavy is the Crown.&#8221; Lagu ini akan menjadi anthem untuk ajang League of Legends World Championship 2024, salah satu turnamen esports terbesar di dunia. Ini adalah lagu kedua yang dirilis oleh Linkin Park setelah mengumumkan comeback dengan personel baru, Sebelumnya, mereka telah merilis lagu &#8220;The [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/cara-linkin-park-membiasakan-vokal-emily-kepada-penggemarnya/">Cara Linkin Park Membiasakan Vokal Emily kepada Penggemarnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Linkin Park baru saja merilis <em>single </em>terbaru mereka yang berjudul &#8220;<strong>Heavy is the Crown</strong>.&#8221; Lagu ini akan menjadi <em>anthem</em> untuk ajang League of Legends World Championship 2024, salah satu turnamen <em>esports</em> terbesar di dunia.</p>



<p>Ini adalah lagu kedua yang dirilis oleh Linkin Park setelah <a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/">mengumumkan <em>comeback</em> dengan personel baru</a>, Sebelumnya, mereka telah merilis lagu &#8220;The Emptiness Machine.&#8221; Sejujurnya, Penulis sama sekali tidak berekspetasi kalau mereka akan merilis lagu secepat ini.</p>



<p>Ketika mendengarkan kedua lagu ini secara berulang-ulang, Penulis jadi menyadari satu hal. Ini bisa jadi merupakan cara Linkin Park untuk membiasakan vokal Emily Armstorng kepada para pendengar setianya,</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1.jpg 2048w " alt="Chapter 37 Cerita yang Susah untuk Dipercaya" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-37-cerita-yang-susah-untuk-dipercaya/">Chapter 37 Cerita yang Susah untuk Dipercaya</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Memulai Semua dari Nol</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Mike Shinoda Talks Linkin Park&#039;s Return and His On-Stage Microphone Mishap (Extended)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/siyzPSEnUTo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ketika menjadi bintang tamu di acara <em>The Tonight Show</em> <em>Starring Jimmy Fallon</em>, Mike Shinoda bercerita mengenai alasan penamaan album <em><strong>From Zero</strong></em>, yang akan menjadi album pertama Linkin Park dengan personel baru. </p>



<p>Menurutnya, ada dua alasan dari penamaan tersebut. Pertama, karena <strong>nama <em>band</em>-nya sebelum menjadi Linkin Park adalah Xero</strong>, yang jika diucapkan akan terdengar seperti kata <em>zero</em> dengan huruf x di depannya.</p>



<p>Alasan kedua, adalah karena nama tersebut menggambarkan <strong>posisi Linkin Park saat ini yang ingin memulai semuanya dari nol</strong>, memulai semunya dari kanvas kosong. Ucapannya ini mungkin bisa tidak diterima, mengingat sejatinya Linkin Park tidak benar-benar memulai lagi dari nol karena telah memiliki nama besar di industri musik.</p>



<p>Namun, di sisi lain, melakukan <em>comeback</em> dengan vokalis baru jelas bukan hal yang mudah untuk sebuah <em>band</em>, apalagi jika vokalis lamanya sudah terlalu melekat. Seperti yang kita tahu, masih <a href="http://Musik2 minggu agoVokal Chester Bennington Ternyata Memang Seistimewa ItuTelah satu minggu berlalu sejak Linkin Park mengumumkan vokalis baru yang menjadi penerus dari Chester Bennington. Sejak itu, penggemar terbagi menjadi dua kubu, antara yang menerima...">banyak penggemar yang belum terima posisi Chester digantikan oleh Emily</a>.</p>



<p>Oleh karena itu, bisa dipahami juga kalau Mike mengatakan hal tersebut dan sah-sah saja. Apalagi, seperti yang sudah pernah Penulis bahas sebelumnya, Chester dan Emily memiliki tipe vokal yang berbeda, sehingga musik-musik Linkin Park ke depannya pun rasanya akan menyesuaikan dengan tipe vokal Emily.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Suara Emily Mulai Terbiasa di Telinga </h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Heavy Is The Crown ft. Linkin Park (Official Music Video) | League of Legends Worlds 2024 Anthem" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5FrhtahQiRc?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Sejak debut, Linkin Park dikenal dengan konsep uniknya yang menggabungkan unsur hip-hop, <em>rock</em>, dan elektronik. Mike kerap ikut bernyanyi untuk mengisi lirik <em>rap </em>dan Chester akan bernyanyi di bagian <em>reff</em>. Namun, tak jarang lagu-lagu Linkin Park hanya memperdengarkan suara Chester.</p>



<p>Pada <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/">dua <em>single </em>pertama mereka</a> dari album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Hybrid Theory</a></em>, &#8220;One Step Closer&#8221; dan &#8220;Crawling,&#8221; <em>part </em>Mike sangat sedikit sekali dan sangat menonjolkan vokal Chester. Baru di lagu &#8220;Papercut&#8221; dan &#8220;In the End&#8221; kita bisa mendengar Mike nge-<em>rap</em> dengan cukup panjang. </p>



<p>Nah, cara tersebut dibalik ketika Linkin Park merilis dua <em>single </em>terbaru mereka dari album <em>From Zero</em>, &#8220;The Emptiness Machine&#8221; dan &#8220;Heavy is the Crown.&#8221; Alih-alih langsung merilis lagu yang dominan suara Emily, mereka memutuskan untuk <strong>merilis lagu yang dominan suara Mike</strong>.</p>



<p>Hal ini, menurut Penulis, merupakan langkah cerdik mereka untuk <strong>membiasakan pendengarnya dengan suara Emily </strong>secara setahap demi setahap. Jika langsung merilis lagu yang menonjolkan suara Emily, bisa-bisa pendengar ogah mendengarkannya.</p>



<p>Di lagu &#8220;The Emptiness Machine,&#8221; Mike bahkan bernyanyi hampir 3/4 lagu, di mana <em>reff </em>pertama ia nyanyikan sendiri. Di konser perdana setelah mereka <em>comeback</em> kemarin, kita bisa melihat kalau Emily baru muncul di atas panggung ketika lagu telah berjalan setengah.</p>



<p>Nah, di lagu terbaru mereka, &#8220;Heavy is the Crown,&#8221; mereka menggunakan &#8220;formula klasik&#8221; yang mirip dengan awal-awal Linkin Park di awal tahun 2000-an. Mike nge-<em>rap</em>, lalu Emily mengisi bagian <em>reff</em> dan <em>bridging</em> menuju <em>reff</em> terakhir.</p>



<p>Selain itu, lagu tersebut juga menarik karena Emily melakukan <em>screaming</em> cukup panjang, yang tentu saja akan mengingatkan <em>screaming </em>yang dilakukan oleh Chester pada lagu &#8220;Given Up&#8221; dari album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/">Minutes to Midnight</a></em>.</p>



<p>Dari sisi musikalitas, <strong>Linkin Park tidak melakukan eksperimen yang aneh-aneh</strong> seperti yang mereka lakukan pada album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">One More Light</a></em>. Seandainya mereka mengeluarkan lagu pop seperti album tersebut, bisa-bisa penggemar tak akan tertarik untuk mendengarkan mereka lagi.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merasa senang ketika Linkin Park kembali ke jati diri mereka sebagai <em>rock band</em>. Walau di atas mengatakan kalau mereka menggunakan formula klasik, menurut Penulis lagu-lagu baru mereka setipe dengan lagu-lagu di album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">The Hunting Party</a></em>.</p>



<p>Mungkin, keputusan ini juga diambil agar sejalan dengan tema <em>From Zero</em>, yang juga bisa dimaknai kembali ke akar. Linkin Park bersama Emily ingin kembali ke akar mereka sebagai salah satu <em>rock band </em>terbesar di dunia.</p>



<p>Sebagai penutup, Penulis mendapatkan bocoran daftar lagu yang akan ada di album From Zero dari platform Apple Music. Penulis yakin, akan ada lagu yang hanya memperdengarkan vokal Emily saja tanpa ada suara Mike. Berikut daftar lagunya:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>From Zero (Intro)</li>



<li>The Emptiness Machine</li>



<li>Cut the Bridge</li>



<li>Over Each Other</li>



<li>Casualty</li>



<li>Overflow</li>



<li>Two Faced</li>



<li>Stained</li>



<li>IGYEIH</li>



<li>Good Things Go</li>
</ol>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 26 September 2024, terinspirasi setelah mendengarkan single terbaru dari Linkin Park, &#8220;Heavy is the Crown&#8221;</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://loudwire.com/linkin-park-new-singer-emily-armstrong-facts/">Loudwire</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/cara-linkin-park-membiasakan-vokal-emily-kepada-penggemarnya/">Cara Linkin Park Membiasakan Vokal Emily kepada Penggemarnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/cara-linkin-park-membiasakan-vokal-emily-kepada-penggemarnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menatap Era Baru Linkin Park Bersama Emily Armstrong</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Sep 2024 14:56:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Chester Bennington]]></category>
		<category><![CDATA[Emily Armstrong]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7790</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, Linkin Park dan beberapa anggota band mengunggah sebuah pos misterius. Penggemar, termasuk Penulis, tentu bertanya-tanya proyek apa yang akan diumumkan kali ini. Penulis sendiri berusaha untuk tidak berharap apa-apa, takutnya kecewa kalau ternyata pengumumannya nggeletek. Oleh karena itu, Penulis benar-benar terkejut ketika mengetahui kalau ternyata pengumumannya adalah Linkin Park akan segera comeback! [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/">Menatap Era Baru Linkin Park Bersama Emily Armstrong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu lalu, <strong><a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/">Linkin Park</a></strong> dan beberapa anggota <em>band </em>mengunggah sebuah pos misterius. Penggemar, termasuk Penulis, tentu bertanya-tanya proyek apa yang akan diumumkan kali ini. </p>



<p>Penulis sendiri berusaha untuk tidak berharap apa-apa, takutnya kecewa kalau ternyata pengumumannya <em>nggeletek</em>. Oleh karena itu, Penulis benar-benar terkejut ketika mengetahui kalau ternyata pengumumannya adalah Linkin Park akan segera <em>comeback</em>!</p>



<p>Linkin Park juga akan memiliki vokalis baru<strong> Emily Armstrong </strong>dan <em>drummer </em>baru <strong>Colin Brittain</strong>. Mereka juga merilis <em>single </em>baru berjudul &#8220;<strong>The Emptiness Machine</strong>&#8221; dan akan merilis album baru berjudul <em><strong>From Zero</strong> </em>pada tanggal 15 November 2024. BOOM!!!</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/pexels-photo-167964-300x150.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/pexels-photo-167964-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/pexels-photo-167964-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/pexels-photo-167964-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/pexels-photo-167964.jpeg 1280w " alt="Menolong Orang Secara Berlebihan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">Menolong Orang Secara Berlebihan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Linkin Park&#8217;s Surprising Comeback</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/era-baru-linkin-park-0-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7793" style="width:740px;height:auto" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/era-baru-linkin-park-0-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/era-baru-linkin-park-0-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/era-baru-linkin-park-0-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/era-baru-linkin-park-0.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Linkin Park dengan Formasi Baru (<a href="https://www.billboard.com/music/rock/linkin-park-singer-tour-album-cover-story-interview-1235766805/">Billboard</a>)</figcaption></figure>



<p><a href="https://whathefan.com/musik/saya-dan-linkin-park-tentang-kematian-chester-dan-perjumpaan-pertama/">Sudah lebih dari tujuh tahun sejak kepergian Chester Bennington</a>. Penulis sejatinya sudah berusaha berhenti berharap kalau Linkin Park akan kembali dengan personel baru. Apalagi, Mike Shinoda juga sibuk dengan proyek solonya.</p>



<p>Oleh karena itu, kembalinya <a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">Linkin Park</a> dengan personel baru merupakan hal yang benar-benar mengejutkan bagi Penulis. Tentu ini menjadi kejutan yang menyenangkan sekaligus menyentuh, karena mau tidak mau Penulis jadi teringat akan sosok Chester.</p>



<p>Dalam <em>livestreaming </em>yang dilakukan tadi pagi, Linkin Park langsung membawakan lagu barunya yang berjudul &#8220;The Emptiness Machine.&#8221; Lagu ini rupanya menjadi lagu pertama Linkin Park dengan vokalis baru, <strong>Emily Armstrong</strong>.</p>



<p>Penulis sendiri baru mendengar namanya kali ini. Namun, berdasarkan berbagai sumber, ia adalah vokalis dari sebuah <em>band </em>bernama Dead Sara. Suaranya memang nge-<em>rock</em>, mungkin analoginya sedikit mirip dengan tipe vokal Tantri dari Kotak.</p>



<p>Di lagu baru Linkin Park, bisa dibilang kualitas suara Emily cukup gokil dengan <em>scream-scream </em>yang ia lakukan. Sayangnya, ketika menyanyikan lagu-lagu lama Linkin Park, ia tampak kewalahan dan beberapa kali kehilangan suara. Vokal Chester memang seistimewa itu.</p>



<p>Selain Emily, ada produser One Ok Rock, <strong>Colin Brittain</strong>, yang akan menggantikan Rob Bourdon sebagai <em>drummer</em>. Penulis benar-benar terkejut ketika mengetahui Rob memutuskan untuk keluar dari <em>band</em>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Rob pernah berkata kepada kami pada suatu saat, saya kira beberapa tahun yang lalu, bahwa dia ingin memberi jarak antara dirinya dan band. Dan kami memahami hal itu &#8211; hal itu sudah terlihat jelas. Dia mulai jarang muncul, jarang berhubungan, dan saya tahu para penggemar juga menyadarinya,&#8221; ungkap Mike dalam satu wawancara.</p>
</blockquote>



<p>Banyak spekulasi yang beredar di antara penggemar mengenai alasan sebenarnya mengapa Rob memutuskan untuk meninggalkan <em>band </em>sebesar Linkin Park. Alasan paling populer adalah ia tak ingin bermain sebagai Linkin Park tanpa sosok Chester.</p>



<p>Terlepas dari bergabungnya dua anggota baru, anggota lama lainnya tetap sama. Mike Shinoda sebagai gitaris/vokalis/pianis, Brad Delson sebagai gitaris, Dave &#8220;Phoenix&#8221; Farrel sebagai <em>bassist</em>, dan Joe Hahn sebagai <em>turntablist</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menatap Era Baru Linkin Park Bersama Emily Armstrong</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="The Emptiness Machine (Official Music Video) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/SRXH9AbT280?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Mungkin ini bias karena Penulis merupakan penggemar berat Linkin Park. Namun, bagi Penulis Linkin Park adalah salah satu band <em>rock </em>terbesar di dunia. Kembali mengorbitnya <em>band </em>ini di dunia musik tentu menjadi hal yang telah lama diidam-idamkan oleh penggemarnya.</p>



<p>Namun, Penulis dan para penggemar tentu harus menyadari bahwa kehadiran <strong>Emily bukan sebagai pengganti Chester</strong>, <strong>melainkan sebagai penerusnya</strong>. Posisi Chester jelas tak tergantikan, sehingga yang bisa Linkin Park lakukan adalah meneruskan legasinya.</p>



<p>Kalau mau dianalogikan, mungkin mirip dengan kasus <a href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Dewa</a> yang sempat berganti vokalis dari Ari Lasso ke Once. Secara vokal, keduanya memiliki nuansa yang berbeda, di mana suara Once lebih nge-<em>rock </em>dibandingkan Ari Lasso. Namun, Dewa tetap bisa sukses siapapun vokalisnya, dan rasanya Linkin Park juga bisa seperti itu.</p>



<p>Jujur, Penulis tidak terlalu terkejut apabila Emily tak mampu bernyanyi seperti Chester. Akan tetapi, Penulis tak mengira kalau ia sampai kehilangan suaranya di beberapa lagu karena suaranya tidak sampai. Entah berapa kali ia arahkan <em>mic</em>-nya ke penonton karena hal ini.</p>



<p>Sebenarnya ini sudah sempat terlihat di konser peringatan kematian Chester beberapa tahun lalu. Konser tersebut mengundang banyak vokalis <em>band rock</em> untuk mengisi posisi Chester, mulai dari M. Shadow (Avenged Sevenfold), Taka (<a href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/">One Ok Rock</a>), hingga Deryck Whibley (Sum 41). </p>



<p>Namun, mau sehebat apa pun kualitas orang lain, benar-benar tidak ada yang bisa bernyanyi untuk Linkin Park sehebat Chester. Bisa jadi, keputusan Linkin Park menggandeng vokalis perempuan adalah karena ingin menghindari perbandingan-perbandingan seperti ini. </p>



<p>Dengan menggandeng vokalis perempuan, yang sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh Penulis, Linkin Park seolah ingin menegaskan kalau mereka akan memasuki era baru. Sekali lagi, <strong>Emily bukanlah pengganti Chester, melainkan penerusnya</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mau Dibawa ke Mana Linkin Park?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/era-baru-linkin-park-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7792" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/era-baru-linkin-park-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/era-baru-linkin-park-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/era-baru-linkin-park-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/era-baru-linkin-park.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Album From Zero dari Linkin Park (<a href="https://en.wikipedia.org/wiki/From_Zero_%28album%29">Wikipedia</a>)</figcaption></figure>



<p>Mendengarkan lagu &#8220;The Emptiness Machine,&#8221; tampaknya Linkin Park akan mengambil jalur <em>rock </em>seperti di album-album sebelum <em><a href="http://Mendengarkan lagu &quot;The Emptiness Machine,&quot; tampaknya Linkin Park akan mengambil jalur rock seperti di album-album sebelum https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/. Bagi Penulis, lagu tersebut akan cocok jika dimasukan ke dalam album The Hunting Party.">One More Light</a></em>. Bagi Penulis, lagu tersebut akan cocok jika dimasukan ke dalam album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-the-hunting-party/">The Hunting Party</a></em>. </p>



<p>Ini tentu kabar gembira untuk Penulis, yang memang menyukai Linkin Park karena lagu-lagu <em>rock </em>yang dipenuhi dengan <em>scream</em>. Emily rasanya mampu menghadirkan hal tersebut dengan kemampuan <em>scream</em>-nya yang cukup oke.</p>



<p>Penulis tidak akan protes apabila musikalitas Linkin Park sedikit bergeser untuk menyesuaikan vokal Emily. Seperti kata Mike pada acara React di YouTube, musik Linkin Park selalu berevolusi dan mereka tak takut untuk melakukan eksperimen.</p>



<p>Meskipun &#8220;The Emptiness Machine&#8221; tak terdengar sebagai sebuah eksperimen baru, bagi Penulis hal itu wajar mengingat mereka sudah lama vakum. Sebagai langkah pertama, mungkin mereka ingin mencoba formula-formula lama, tapi dengan vokal yang benar-benar baru.</p>



<p>Selain itu, dari <em>single </em>tersebut, Penulis bisa sedikit merasa tenang karena Linkin Park masih berada di &#8220;jalurnya&#8221; sebagai <em><a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">band rock</a></em>. Penulis sempat khawatir mereka akan beralih genre seperti yang terjadi pada 30 Seconds to Mars atau bahkan berubah menjadi seperti <a href="https://whathefan.com/musik/fort-minor-the-rising-tied-dan-kenji/">Fort Minor</a>.</p>



<p>Tentu kita tidak bisa menilai arah era baru Linkin Park hanya dari satu lagu yang baru dirilis. Oleh karena itu, Penulis tak sabar untuk mendengarkan album <em>From Zero </em>yang akan rilis pada tanggal 15 November 2024 mendatang, yang menjadi penanda bahwa <strong>era baru Linkin Park telah dimulai</strong>.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 6 September 2024, teinspirasi setelah mengetahui Linkin Park telah memilih penerus Chester Bennington</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.latimes.com/entertainment-arts/music/story/2024-09-05/linkin-park-reunited-new-singer-emily-armstrong-new-album-from-zero">Los Angeles Times</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.latimes.com/entertainment-arts/music/story/2024-09-05/linkin-park-reunited-new-singer-emily-armstrong-new-album-from-zero">Linkin Park has a new singer and a new album on the way &#8211; Los Angeles Times (latimes.com)</a></li>



<li><a href="https://www.theprp.com/2024/09/05/news/mike-shinoda-explains-why-drummer-rob-bourdon-is-no-longer-in-linkin-park/">Mike Shinoda Explains Why Drummer Rob Bourdon Is No Longer In Linkin Park &#8211; Theprp.com</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/">Menatap Era Baru Linkin Park Bersama Emily Armstrong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maskulinitas pada Musik Dewa</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 May 2023 13:11:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa 19]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[maskulin]]></category>
		<category><![CDATA[Noah]]></category>
		<category><![CDATA[Peterpan]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6519</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak muda, Penulis cenderung menyukai musik dari band-band luar seperti Linkin Park, My Chemical Romance, Dragonforce, Good Charlotte, Simple Plan, dan lain-lain. Pada dasarnya, Penulis menyukai band yang bergenre rock. Untuk band Indonesia sendiri, tidak banyak yang Penulis sukai karena merasa tidak cocok dengan selera Penulis. Jika ada, mungkin hanya Peterpan atau yang sekarang telah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak muda, Penulis cenderung menyukai musik dari <em>band-band </em>luar seperti <a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">Linkin Park</a>, <a href="https://whathefan.com/musik/asleep-or-dead-my-chemical-romance/">My Chemical Romance</a>, <a href="https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/">Dragonforce</a>, Good Charlotte, Simple Plan, dan lain-lain. Pada dasarnya, Penulis menyukai <em>band </em>yang bergenre <em>rock.</em></p>



<p>Untuk <em>band </em>Indonesia sendiri, tidak banyak yang Penulis sukai karena merasa tidak cocok dengan selera Penulis. Jika ada, mungkin hanya <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Peterpan</a> atau yang sekarang telah berubah menjadi Noah.</p>



<p>Nah, ketika berusaha mengingat-ingat<em> </em>apakah ada <em>band </em>Indonesia lain yang disukai, Penulis pun teringat akan salah satu <em>band </em>legendaris: <strong>Dewa 19</strong> atau <strong>Dewa</strong>. Bahkan, bersama Noah, musik-musik Dewa masih ada di <em>playlist </em>Penulis hingga sekarang.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Siapa yang Tidak Mendengarkan Lagu-Lagu Dewa?</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Dewa - Pupus | Official Music Video" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/VQ-qjEV1m6M?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Harus diakui kalau Dewa memiliki banyak sekali lagu-lagu ikonik yang masih terdengar enak hingga sekarang. Meskipun sempat berganti vokalis dari Ari Lasso ke Once Mekel, <em>band </em>ini tetap bisa mempertahankan eksistensi mereka, bahkan setelah 30 tahun.</p>



<p>Kalau Penulis sendiri, dirinya lebih menyukai Dewa era Once karena nuansa <em>rock</em>-nya lebih terasa. Lagu-lagu Dewa favorit Penulis pun semuanya dari era Once, mulai dari &#8220;Pupus&#8221;, &#8220;Roman Picisan&#8221;, &#8220;Risalah Hati&#8221;, &#8220;Satu&#8221;, hingga &#8220;Pangeran Cinta&#8221;.</p>



<p>Tentu masih banyak lagu-lagu Dewa yang tidak kalah terkenal, seperti &#8220;Arjuna&#8221;, &#8220;Separuh Nafas&#8221;, &#8220;Kangen&#8221;, &#8220;Mistikus Cinta&#8221;, &#8220;Dewi&#8221;, &#8220;Aku Milikmu&#8221;, &#8220;Kirana&#8221;, &#8220;Kamulah Satu-satunya&#8221;, dan masih banyak lagi. Tak akan habis rasanya jika harus menyebutkan semua lagu top Dewa.</p>



<p>Tidak hanya karena musiknya saja yang membuat Dewa menjadi legenda, karena lirik yang dimiliki oleh Dewa pun terdengar mewah. Pemilihan kata-katanya sederhana, tapi kerap memiliki makna tersirat yang cukup dalam.</p>



<p>Dalam acara Mata Najwa, Najwa Shihab berkata ke Ahmad Dhani bahwa lirik-lirik yang dimiliki oleh Dewa sangat terasa maskulin. Contohnya adalah lirik &#8220;Mistikus Cinta&#8221;, yakni <em>&#8220;Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta, kepadaku&#8221;.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Maskulinitas Lirik ala Dewa </h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Dewa - Risalah Hati | Official Video" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/J6i53rCB0y8?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Setelah mendengar perkataan tersebut, Penulis jadi lebih mengamati lagu-lagu Dewa. Setelah diperhatikan secara saksama, ternyata memang benar kalau lirik-lirik Dewa terasa maskulin, bahkan untuk lagu-lagu yang bertemakan tentang patah hati.</p>



<p>Ketika ada lirik-lirik seperti &#8220;<em>kau hancurkan hatiku, bila kau tinggalkan aku</em>&#8221; pada &#8220;Separuh Nafas&#8221; dan &#8220;<em>kau buat remuk, seluruh hatiku</em>&#8221; pada &#8220;Pupus&#8221;, sama sekali tidak terkesan lemah. Justru, lirik-lirik ini seolah menggambarkan amarah dan perenungan.</p>



<p>Ada juga lagu-lagu dengan lirik berupa yang terkesan begitu percaya diri. Selain &#8220;Mistikus Cinta&#8221; di atas, ada juga lirik &#8220;<em>Semua ini, pasti akan musnah, tetapi tidak cintaku padamu</em>&#8221; pada &#8220;Pangeran Cinta&#8221; atau &#8220;<em>Akulah Arjuna, yang mencari cinta</em>&#8221; pada &#8220;Arjuna&#8221;.</p>



<p>Selain itu, ada juga lagu yang memiliki lirik dengan kesan <em>demanding</em> bahkan &#8220;mengancam&#8221;, seperti lagu &#8220;Cinta Gila&#8221; dengan lirik &#8220;<em>Aku kan berbuat apa saja, untuk mendapatkan kamu lagi</em>&#8220;.</p>



<p>Penulis pun membandingkan lirik-lirik Dewa dengan Noah, yang bagi Penulis lebih terasa melankolis. Noah memiliki banyak lagu-lagu bertema patah hati, tapi dibalut dengan lirik-lirik puitis yang membuatnya terasa lebih &#8220;tenang&#8221;.</p>



<p>Selain itu, lirik dari lagu-lagu Dewa juga terdengar lebih lugas dan jelas, dibandingkan dengan Noah yang penuh metafora. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa lagu-lagu Dewa lebih maskulin dan tidak terkesan cengeng.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika melihat sosok Ahmad Dhani yang menjadi motor dari <em>band </em>Dewa, rasanya wajar saja Dewa terasa maskulin. Sosoknya yang begitu percaya diri sekaligus jenius membuatnya bisa menciptakan lirik-lirik yang terasa gagah dan megah.</p>



<p>Bisa jadi, justru maskulinitas yang dimiliki oleh Dewa menjadi salah satu alasan mengapa Dewa bisa bertahan setelah 30 tahun. Tidak banyak <em>band </em>Indonesia yang mampu meraih <em>milestone</em> tersebut, apalagi setelah mengganti vokalis utamanya beberapa kali.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 20 Mei 2023, terinspirasi setelah menyetujui pendapat Najwa Shihab tentang lirik-lirik lagu Dewa yang terdengar Maskulin</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://wallpaperaccess.com/dewa-19">Wallpaper Access</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>K-On! ala Bocchi the Rock!</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/k-on-ala-bocchi-the-rock/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/k-on-ala-bocchi-the-rock/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Apr 2023 15:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Bocchi the Rock!]]></category>
		<category><![CDATA[K-On]]></category>
		<category><![CDATA[komedi]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6339</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika baru mulai menonton anime, salah satu anime awal yang Penulis tonton adalah K-On! karena genre komedi yang diusungnya. Ternyata benar saja, anime tersebut lumayan mengocok perut Penulis berkat aksi-aksi &#8220;ajaib&#8221; para punggawanya. K-On! memiliki konsep tentang band SMA yang diisi oleh lima gadis. Keseharian mereka dalam bermusik ternyata bisa menjadi cukup menarik untuk diikuti. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/k-on-ala-bocchi-the-rock/">K-On! ala Bocchi the Rock!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika baru mulai menonton anime, salah satu anime awal yang Penulis tonton adalah <em>K-On!</em> karena genre komedi yang diusungnya. Ternyata benar saja, anime tersebut lumayan mengocok perut Penulis berkat aksi-aksi &#8220;ajaib&#8221; para punggawanya.</p>



<p><em>K-On! </em>memiliki konsep tentang <em>band </em>SMA yang diisi oleh lima gadis. Keseharian mereka dalam bermusik ternyata bisa menjadi cukup menarik untuk diikuti. Untuk itu, ketika mengetahui ada anime yang memiliki konsep serupa, Penulis menjadi tertarik.</p>



<p>Anime tersebut adalah <em><strong>Bocchi the Rock! </strong></em>yang mendapatkan respons cukup positif dari para penontonnya. Bahkan di situs MyAnimeList, anime ini mampu mendapatkan rating yang sangat tinggi, 8,89. Apakah memang sebagus itu?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Ketika &#8220;Komi-san&#8221; Gabung Band</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Salah Satu Efek <em>Nyeleneh </em>dari<em> </em>Bocchi (<a href="https://dafunda.com/otaku/alasan-bocchi-the-rock-jadi-anime-komedi-terbaik/">Dafunda</a>)</figcaption></figure>



<p>Anime ini berpusat pada karakter <strong>Hitori Gotō</strong>, sosok <em>introvert </em>yang memiliki masalah kecemasan sosial. Ketidakmampuannya dalam bersosialisasi membuatnya bertekad untuk belajar main gitar, karena ia percaya hal tersebut mampu membantunya memiliki teman.</p>



<p>Hitori, atau disapa Bocchi di anime ini, memang berhasil menjadi pemain gitar yang handal, bahkan ia terkenal di internet dengan alias<strong> guitarhero</strong> dan memiliki banyak penggemar. Hanya saja, tujuan utamanya untuk bisa memiliki teman tetap gagal total.</p>



<p>Semua itu berubah ketika tanpa sengaja ia bertemu dengan <strong>Nijika Ijichi</strong>, sosok periang yang juga pemimpin sebuah <em>band </em>bernama <strong>Kessoku Band</strong>. Ia sedang membutuhkan seorang gitaris karena gitaris sebelumnya kabur ketika akan tampil.</p>



<p>Bocchi yang susah berkomunikasi (walau tak separah <a href="https://whathefan.com/animekomik/kecemasan-sosial-ala-komi-cant-communicate/">Komi-san dari anime <em>Komi Can&#8217;t Communicate</em></a>) pun akhirnya &#8220;terseret&#8221; dan ikut pergi ke tempat konser bernama STARRY. Di sana, ia bertemu dengan personel <em>band </em>lainnya bernama <strong>Ryō Yamada</strong>.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dari Kiri: Nijika, Bocchi, Ikuyo, Ryo (<a href="https://www.nme.com/en_asia/news/music/bocchi-the-rock-anime-outsell-stray-kids-nct-dream-japan-charts-3379406">NME</a>)</figcaption></figure>



<p>Kessoku Band pun tampil bertiga, di mana Nijika menjadi <em>drumer</em>, Ryō menjadi <em>bassis</em>, dan Bocchi menjadi gitaris. Meskipun debut mereka bisa dibilang tidak cukup baik, mereka masih mendapatkan kesempatan untuk terus bermain di STARRY.</p>



<p>Nah, omong-omong soal gitaris yang kabur, ternyata sosok tersebut adalah teman sekolah Bocchi bernama <strong>Ikuyo Kita</strong>. Ia ternyata mau bergabung dengan <em>band </em>tersebut karena menyukai Ryō (ya, anime ini ada unsur <em>yuri</em>), padahal tidak bisa bermain gitar.</p>



<p>Namun, setelah ada Bocchi, Ikuyo pun berusaha untuk bisa bermain gitar sekaligus menjadi vokalis utama. Semenjak itulah Kessoku Band menghabiskan waktu bersama sebagai sebuah <em>band</em>, lengkap dengan segala kelucuan yang ada.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Komedi dan Slice of Life-nya Masih Kalah dari K-On!</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6403" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Overated Menurut Penulis (<a href="https://gamerant.com/bocchi-the-rock-every-main-characters-age-height-birthday/">Game Rant</a>)</figcaption></figure>



<p>Seperti yang sudah disebutkan di awal, motivasi utama Penulis menonton <em>Bocchi the Rock! </em>adalah karena berharap anime ini mampu menghadirkan genre komedi dan <em>slice of life </em>yang sebagus <em>K-On!</em>. Apalagi, rating anime ini jauh di atas <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">K-On!</a></em>.</p>



<p>Sayangnya, ekspektasi Penulis harus terjun bebas karena bagi Penulis <em>K-On! </em>masih jauh lebih bagus. Komedi yang dimiliki kurang menggelitik, <em>slice of life </em>yang cukup membosankan, dan drama yang diselipkan pun kurang menghanyutkan.</p>



<p>Selain Bocchi, penokohannya pun terasa kurang kuat. Nijika digambarkan sebagai sosok pemimpin yang selalu positif, Ryō yang <em>cool </em>dan selalu punya masalah keuangan, dan Ikuyo yang <em>extrovert </em>dan selalu riang. Hanya saja, semua itu terasa dangkal saja.</p>



<p>Hal ini berbeda dengan <em>K-On! </em>yang penokohan para personelnya cukup kuat dan membekas di ingatan Penulis. Masing-masing memiliki kepribadian yang unik, tetapi saling melengkapi sebagai anggota <em>band</em>. Penulis kurang mendapatkan itu di <em>Bocchi the Rock!</em>.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6401" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/04/k-on-ala-bocchi-the-rock-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>K-On! </em>Masih Jauh Lebih Baik (<a href="https://www.wallpaperflare.com/search?wallpaper=anime+k+on+hirasawa+yui">Wallpaper Flare</a>)</figcaption></figure>



<p>Apalagi, ada unsur <em>yuri </em>di dalamnya juga membuat Penulis sedikit merasa <em>ilfeel</em>, walaupun sebenarnya hal tersebut tidak terlalu banyak. <em>K-On! </em>yang berlatar belakang di sekolah khusus putri pun tidak pernah secara eksplisit menunjukkan hal ini.</p>



<p>Bocchi yang menjadi sosok sentral memang berhasil menimbulkan simpati bagi penonton, bagaimana bagi kaum <em>introvert </em>harus berlelah-lelah ketika harus bersosialisasi dengan manusia lainnya. Ini menjadi nilai plus dari anime ini.</p>



<p>Namun, selain itu bagi Penulis tidak ada yang terlalu istimewa dari anime ini. Sama sekali tidak ada kesan yang tertinggal setelah selesai menonton semua episodenya. Bagi Penulis, <em>K-On! </em>ada jauh di atas anime ini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 25 Januari 2023, terinspirasi setelah menonton anime <em>Bocchi the Rock!</em></p>



<p>Foto: <a href="https://sucodemanga.com.br/bocchi-the-rock-primeiro-gole/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Suco de Mangá</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/k-on-ala-bocchi-the-rock/">K-On! ala Bocchi the Rock!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/k-on-ala-bocchi-the-rock/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2023 14:58:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Luxury Disease]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[One OK Rock]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6205</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam tulisan Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?, Penulis telah menyinggung sedikit tentang album terbaru dari ONE OK ROCK yang berjudul Luxury Disease. Album ini rilis pada tanggal 9 September 2022 silam. Pada tulisan tersebut, Penulis juga sempat mengungkapkan sedikit kekecewaannya karena lagi-lagi album ini kurang terasa nuansa rock-nya, sama seperti dua album sebelumnya (Ambition [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/">Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</a></em>, Penulis telah menyinggung sedikit tentang album terbaru dari ONE OK ROCK yang berjudul <em><strong>Luxury Disease</strong></em>. Album ini rilis pada tanggal 9 September 2022 silam.</p>



<p>Pada tulisan tersebut, Penulis juga sempat mengungkapkan sedikit kekecewaannya karena lagi-lagi album ini kurang terasa nuansa <em>rock</em>-nya, sama seperti dua album sebelumnya (<em>Ambition </em>dan <em>Eye of the Storm</em>) </p>



<p>Namun, setelah beberapa kali mendengarkannya, Penulis jadi berubah pikiran tentang album ini. Ternyata ada beberapa lagu, yang walaupun tidak <em>rock-rock </em>banget, lumayan cocok di telinga Penulis.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Tracklist dari Luxury Disease</h2>



<p>Sama seperti beberapa album sebelumnya, <em>Luxury Disease </em>memiliki dua versi, yakni versi Jepang dan Internasional. Penulis selalu lebih menyukai versi Jepangnya karena sang vokalis, Taka, memang terdengar lebih fasih dalam melafalkan lirik-liriknya.</p>



<p>Di album versi Jepang ini ada total lima belas lagu di dalamnya, yang daftarnya adalah sebagai berikut:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Save Yourself</li><li>Neon</li><li>Vandalize</li><li>When They Turn the Light On</li><li>Let Me Let You Go</li><li>So Far Gone</li><li>Prove</li><li>Mad World</li><li>Free Them (feat. Teddy Swims)</li><li>Renegades</li><li>Outta Sight</li><li>Your Tears are Mine</li><li>Wonder</li><li>Broken Heart of Gold</li><li>Gravity (feat. Satoshi Fujihara)</li></ol>



<p>Sebelum album ini rilis secara utuh, ada beberapa <em>single </em>yang dilepas terlebih dahulu. Pertama adalah <em><strong>Renegades </strong></em>yang juga menjadi <em>soundtrack </em>dari film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-rurouni-kenshin-the-final/">Rurouni Kenshin: The Final</a></em>. Lagu ini  jelas terasa <em>rock-</em>nya, meskipun temponya tidak terlalu cepat.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="ONE OK ROCK: Renegades [OFFICIAL VIDEO]" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/4n5bpeh5NNg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single </em>berikutnya yang rilis adalah <em><strong>Heart of the Gold</strong></em> (jadi <em>soundtrack </em>film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-rurouni-kenshin-the-beginning/">Rurouni Kenshin: The Beginning</a></em>)<em> </em>yang bagi Penulis terlalu <em>mellow</em>, walaupun ada teman Penulis yang menganggapnya mirip dengan <a href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/"><em>Heartache </em>dari album <em>35xxxv</em></a>. </p>



<p>Lagu <em><strong>Wonder</strong> </em>dan <em><strong>Save Yourself</strong> </em>menjadi <em>single </em>ketiga dan keempat. Sayangnya, hingga lagu keempat ini masih belum ada lagu baru dari album ini yang berhasil membuat Penulis merasa benar-benar menyukainya.</p>



<p>Walaupun setelah itu masih ada dua <em>single </em>lagi (<em>Let Me Let You Go </em>dan <em>Vandalize</em>), Penulis memutuskan untuk menunggu albumnya keluar sekalian saja. Untungnya, setelah mendengarkan berkali-kali, ada beberapa lagu yang Penulis sukai.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lagu Rekomendasi dari Album Luxury Disease</h2>



<p>Lagu pertama yang langsung menarik perhatian telinga Penulis adalah <em><strong>Let Me Let You Go</strong></em> yang sejatinya menjadi <em>single </em>kelima dari album ini. Perlu mendengarkan beberapa kali hingga akhirnya Penulis memutuskan untuk menyukai lagu ini.</p>



<p>Meskipun bagian <em>reff</em>-nya seolah <em>cooldown </em>karena hanya diiringi musik akustik, lagu ini terdengar <em>catchy </em>dengan pemilihan lirik yang mantap. Lagu ini mungkin memang tidak terlalu <em>rock</em>. Namun, setidaknya hentakan musiknya masih terasa.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="ONE OK ROCK - Let Me Let You Go [Live Documentary Video]" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/uA832zpafis?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu lain yang Penulis rekomendasikan adalah <em><strong>So Far Gone</strong> </em>yang, sekali lagi, terdengar <em>mellow</em>. Namun, setidaknya lagu ini memamerkan tingginya nada yang bisa dicapai Taka di bagian <em>reff</em>.</p>



<p>Apalagi, teriakannya diiringi oleh suara akustik gitar yang bisa memberikan kesan pilu bagi yang menyanyikan. Penulis menangkap lagu ini memang berkisah tentang seseorang yang benar-benar kita cintai tidak akan pernah meninggalkan hati kita.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="So Far Gone" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/FGPu3sg_BUM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em><strong>Mad World</strong> </em>dan <em><strong>Outta Sight</strong> </em>adalah dua lagu lain yang Penulis rekomendasikan untuk didengarkan. Meskipun unsur <em>rock-</em>nya kurang, musiknya masih enak didengarkan dan rasanya cocok-cock saja bagi penikmat musik <em>rock </em>seperti Penulis.</p>



<p>Khusus lagu <em>Mad World</em>, Penulis sangat merekomendasikan untuk mendengarkan versi Jepangnya saja. Apa ya, rasanya lagu ini memang lebih cocok menggunakan bahasa tersebut karena versi bahasa Inggrisnya agak terasa aneh.</p>



<p>Untuk lagu-lagu lainnya, sayangnya tidak ada yang benar-benar cocok dengan selera Penulis. Masih menyenangkan untuk didengarkan, tapi tidak sampai masuk ke <em>playlist </em>Penulis. Cukup empat lagu (+<em>Renegades</em>) di atas yang masuk.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Dengan tidak banyaknya <em>band rock </em>yang tersisa di dunia (setidaknya yang cocok dengan selera Penulis), Penulis akan terus menantikan karya-karya terbaru dari ONE OK ROCK sembari berharap mereka akan kembali ke akarnya, yaitu <em>rock</em>.</p>



<p>Apalagi, Taka juga pernah berucap bahwa genre <em>rock </em>mulai bisa kembali diterima di Amerika Serikat, pasar utama yang diincar oleh ONE OK ROCK. Jadi, rasanya tidak berlebihan jika album seperti <em>35xxxv </em>akan ada lagi di masa depan.</p>



<p>Untuk sekarang, rasanya Penulis sudah cukup merasa puas dengan album <em>Luxury Disease </em>yang <em>easy listening </em>ini. Untung saja album ini bisa mengubah pemikiran Penulis setelah didengarkan beberapa kali.</p>



<div class="wp-block-buttons is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button is-style-fill"><a class="wp-block-button__link">Download Album Luxury Disease</a></div>
</div>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 5 Januari 2023, terinspirasi setelah mendengarkan ulang album <em>Luxury Disease </em>dari ONE OK ROCK</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/">Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2022 16:22:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Castle of Glass]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Numb]]></category>
		<category><![CDATA[Papercut]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6253</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, Penulis kembali sering mendengarkan lagu-lagu dari Linkin Park. Ini menjadi semacam siklus di kehidupan Penulis, di mana setelah mendengarkan lagu-lagu dari band atau penyanyi lain, Penulis akan selalu kembali mendengarkan Linkin Park. Penulis sendiri tidak pernah menyangka akan menjadi sesuka ini dengan musik-musik yang dibuat oleh Linkin Park. Berawal dari &#8220;pertemuan&#8221; di SMP, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, Penulis kembali sering mendengarkan lagu-lagu dari Linkin Park. Ini menjadi semacam siklus di kehidupan Penulis, di mana setelah mendengarkan lagu-lagu dari <em>band </em>atau penyanyi lain, Penulis akan selalu kembali mendengarkan Linkin Park.</p>



<p>Penulis sendiri tidak pernah menyangka akan menjadi sesuka ini dengan musik-musik yang dibuat oleh Linkin Park. Berawal dari &#8220;pertemuan&#8221; di SMP, kurang lebih sudah 15 tahun Penulis mendengarkan lagu-lagu mereka dan jarang sekali merasa bosan.</p>



<p>Untuk itu, Penulis jadi ingin membuat daftar lagu terbaik Linkin Park versi Penulis. Awalnya Penulis ingin membuat daftar dari semua lagunya, tetapi pada akhirnya Penulis memutuskan untuk memilih 20 lagu saja.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Lagu Linkin Park Terbaik Versi Penulis</h2>



<p>Dalam menentukan lima besar dalam daftar ini adalah perkara yang mudah, daftarnya di setiap tahun rasanya tidak pernah berubah. Yang menjadi PR adalah lima belas lagu berikutnya, cukup sulit untuk memilih.</p>



<p>Untuk lagu yang di luar 20 besar, jangan ditanya. Penulis benar-benar kesulitan untuk memilih mana yang akan dimasukkan ke mana. Pada akhirnya, Penulis menyerah dalam membuat daftar versi panjangnya.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga tidak memasukkan lagu-lagu yang rilis di luar tujuh album utama, seperti <em>A Light That Never Comes</em>, lagu-lagu dari album <em>remix</em>, dan album kolaborasi seperti yang pernah mereka lakukan bersama Jay-Z. </p>



<p>Tanpa perlu berlama-lama lagi, berikut adalah daftar lagu Linkin Park terbaik versi Penulis:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Numb [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kXYiU_JCYtU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>1. Numb (Meteora)</p>



<p>2. Papercut (Hybrid Theory)</p>



<p>3. Castle of Glass (Living Things)</p>



<p>4. Waiting for the End (A Thousand Suns)</p>



<p>5. Final Masquerade (The Hunting Party)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Heavy [Official Music Video] - Linkin Park (feat. Kiiara)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5dmQ3QWpy1Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>6. Heavy (One More Light)</p>



<p>7. Rebellion (The Hunting Party)</p>



<p>8. Somewhere I Belong (Meteora)</p>



<p>9. Easier to Run (Meteora)</p>



<p>10. Leave Out All the Rest (Minutes to Midnight)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Lying From You [Live In Texas] - Linkin Park" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/5cNdDuNKrx0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>11. Lying from You (Meteora)</p>



<p>12. From the Inside (Meteora)</p>



<p>13. Breaking the Habit (Meteora)</p>



<p>14. Lies Greed Misery (Living Things)</p>



<p>15. Powerless (Living Things)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Linkin Park - Roads Untraveled (Live Hollywood Bowl 2017)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/yMcwZT0D7fw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>16. Roads Untraveled (Living Things)</p>



<p>17. In My Remains (Living Things)</p>



<p>18. Don&#8217;t Stay (Meteora)</p>



<p>19. Pushing Me Away (Hybrid Theory)</p>



<p>20. Shadow of the Day (Minutes to Midnight)</p>



<p>Bisa dilihat dari daftar di atas, lagu dari album <em>Meteora </em>cukup mendominasi dengan tujuh lagu. Bahkan, <em>Numb </em>yang jadi lagu nomor satu seumur hidup Penulis berasal dari album tersebut. Ini membuktikan kalau <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/"><em>Meteora </em>menjadi album favorit Penulis</a>.</p>



<p>Album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-living-things/">Living Things</a> </em>juga menyumbangkan cukup banyak lagu dengan lima judul. Bisa dibilang, album ini adalah album favorit kedua Penulis setelah <em>Meteora </em>karena lagunya memang enak-enak.</p>



<p>Sebaliknya, hanya ada satu lagi dari album terbaru Linkin Park, <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">One More Light</a></em>, yang diwakili oleh lagu <em>Heavy</em>. Ini tidak menandakan kalau Penulis paling tidak menyukai album ini, hanya saja menurut Penulis lagu-lagu di album ini medioker saja.</p>



<p>Jika diperhatikan, ada beberapa judul lagu populer seperti<em> In the End</em>, <em>What I&#8217;ve Done</em>, dan <em>Burn It Down</em>. Bagi Penulis, judul-judul tersebut memang kurang <em>nyantol </em>di telinga sehingga Penulis memilih lagu lain untuk masuk ke dalam daftar.</p>



<p>Dari 20 lagu di atas, hanya tujuh lagu yang <em>full </em>dinyanyikan oleh Chester Bennington. Sisanya, Mike Shinoda selalu memiliki bagian. Penulis memang lebih menyukai lagu yang memiliki unsur suara Mike dibandingkan yang tidak ada sama sekali.</p>



<p>Menariknya, Penulis hanya memasukkan empat lagu yang mengandung <em>screaming </em>dari Chester. Padahal, Linkin Park terkenal karena &#8220;kekerasannya&#8221;. Ternyata, Penulis baru menyadari kalau dirinya lebih suka lagu Linkin Park tanpa unsur <em>screaming</em>.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Rasanya mau sampai kapanpun, Linkin Park akan selalu menjadi <em>band </em>favorit Penulis. Lagu-lagunya yang sudah Penulis putar ribuan kali jarang membuat bosan, bahkan menimbulkan pesan rindu ketika lama tidak mendengarkannya.</p>



<p>Salah satu impian Penulis adalah menonton konser Linkin Park, yang sayangnya, tidak akan pernah tercapai karena sang vokalis <a href="https://whathefan.com/musik/saya-dan-linkin-park-tentang-kematian-chester-dan-perjumpaan-pertama/">Chester Bennington telah meninggal dunia</a>. Sebagai pelipur lara, Penulis akan terus mendengarkan lagu-lagu terbaik Linkin Park.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 21 Desember 2022, terinspirasi setelah akhir-akhir ini sering mendengarkan (kembali)  lagu-lagu Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://twitter.com/linkinpark/status/976146559996903424?t=Fv1pIAMa_DGXnss1HGuD0A&amp;s=19">Twitter</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/">20 Lagu Terbaik Linkin Park Versi Saya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/20-lagu-terbaik-linkin-park-versi-saya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DragonForce, Guitar Hero, dan Legasi yang Ditinggalkan</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2022 13:54:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[DragonForce]]></category>
		<category><![CDATA[Guitar Hero]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6008</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai penggemar musik rock, mungkin tidak mengejutkan jika Penulis menyebutkan DragonForce adalah salah satu band favoritnya. Bukan penggemar keras yang menyukai semua lagunya, tetapi cukup tahu beberapa lagu dari album-albumnya. Jika dibandingkan dengan band favorit Penulis lainnya, bisa dibilang &#8220;pertemuan&#8221; Penulis dengan DragonForce adalah yang paling beda. Alasannya, Penulis mengetahui band ini melalui sebuah video [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/">DragonForce, Guitar Hero, dan Legasi yang Ditinggalkan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebagai penggemar <a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">musik <em>rock</em></a>, mungkin tidak mengejutkan jika Penulis menyebutkan <strong>DragonForce </strong>adalah salah satu <em>band </em>favoritnya. Bukan penggemar keras yang menyukai semua lagunya, tetapi cukup tahu beberapa lagu dari album-albumnya.</p>



<p>Jika dibandingkan dengan <em>band </em>favorit Penulis lainnya, bisa dibilang &#8220;pertemuan&#8221; Penulis dengan DragonForce adalah yang paling beda. Alasannya, Penulis mengetahui <em>band </em>ini melalui sebuah<em> video game</em>!</p>



<p>Karena kebetulan Penulis tanpa sengaja mendengarkan lagu DragonForce lagi ketika bekerja, Penulis pun jadi berkeinginan untuk menulis tentang <em>band </em>yang terkenal karena selalu menyelipkan permainan gitar yang cepat hampir di setiap lagunya ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Perkenalan Awal Melalui Guitar Hero</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="DragonForce - Through the Fire and Flames (Official Video)" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/0jgrCKhxE1s?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Sebagai anak PlayStation (PS), salah satu <em>video game </em>yang Penulis gemari adalah <em><strong>Guitar Hero</strong></em>.  Itu pun tanpa sengaja karena ada teman sekolah yang menyarankan untuk memainkannya. Siapa sangka, Penulis jadi ketagihan bermain <em>game </em>bergenre ritme tersebut.</p>



<p>Oleh karena itu, ada banyak versi <em>Guitar Hero </em>yang Penulis mainkan. Salah satunya adalah <em><strong>Guitar Hero Xtreme Vol. 2</strong></em>. Ini merupakan versi <em>mod </em>dari <em>Guitar Hero 2</em>, sehingga beberapa judul lagu tidak sesuai dengan lagu yang ada di dalamnya.</p>



<p>Nah, <em>opening </em>dari <em>game </em>tersebut merupakan video klip dari DragonForce yang berjudul <em><strong>Through the Fire and the Flames</strong></em>. Di dalam <em>game</em>, lagu ini ada dengan judul <em>Freya</em>. Entah bagaimana dulu Penulis bisa menemukannya.</p>



<p>Melihat video klipnya, Penulis benar-benar kagum dengan duo gitarisnya,<strong> Herman Li</strong> dan <strong>Sam Totman</strong>, yang mampu bermain gitar dengan sangat cepat. Selain itu, sang vokalis <strong>ZP Theart</strong> memiliki suara tinggi yang unik.</p>



<p>Mungkin Pembaca bisa membayangkan seberapa tinggi kesulitan yang dimiliki oleh lagu ini jika dijadikan sebagai lagu untuk <em>Guitar Hero</em>. Sulit parah dan hampir tidak masuk akal. Persentase keberhasilan Penulis dalam memencet tombol hanya di kisaran 50% saja. </p>



<p>Jari yang rasanya keriting setelah memainkan lagu ini di dalam <em>game </em>ternyata justru membuat Penulis jatuh cinta dengan lagunya. Sebagai penggemar musik <em>rock</em>, rasanya lagu ini benar-benar berhasil membuat Penulis <em>mencak-mencak </em>dan menggelorakan jiwa <em>rock</em>-nya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menemukan Lagu Favorit Lainnya&#8230; Lewat Guitar Hero Juga</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="amv one piece dragonforce fury of the &quot;king of pirates&quot;" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/TiKpLjCbImI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis adalah tipe orang yang jika sudah menemukan lagu sebuah <em>band </em>terdengar enak, Penulis akan berusaha untuk mencari lagu-lagu lain dari <em>band </em>tersebut. Itu juga yang terjadi pada Dragon Force.</p>



<p>Setelah coba mencari-cari di situs resmi DragonForce, Penulis menemukan 2 lagu lainnya, yaitu <em><strong>My Spirit Will Go On</strong> </em>yang rasanya seperti lagu Power Rangers dan <em><strong>Valley of the Damned </strong></em>yang lagunya terpotong karena <em>download-</em>nya kurang sempurna.</p>



<p>Kedua lagu tersebut oke, tapi tidak sampai jadi lagu favorit Penulis. Justru, lagu favorit dari DragonForce lainnya kembali Penulis temukan di <em>Guitar Hero </em>lagi. Kali ini, dari judul <em><strong>Guitar Hero Xtreme Vol. 4</strong> </em>yang <em>cheat</em>-nya hanya perlu menekan bundar berkali-kali.</p>



<p>Lagu tersebut adalah <em><strong>Fury of the Storm</strong></em>, yang sewaktu mencari video klipnya di YouTube malah dipakai sebagai AMV anime <em>One Piece</em>. Berbeda dengan lagu <em>Through the Fire and the Flames</em>, lagu ini masih cukup &#8220;manusiawi&#8221; untuk dimainkan di dalam <em>game</em>.</p>



<p>Ketika memainkan lagu ini, skor ratusan ribu dengan persentase keberhasilan menekan tombol di atas 90% berhasil Penulis dapatkan. <em>Fury of the Storm </em>menjadi lagu <em>Guitar Hero </em>favorit Penulis hingga saat ini dan sesekali masih memainkannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menjelajahi Album-Album Dragon Force</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="DragonForce - The Last Journey Home (Official Video)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/CM0JXnKVwPI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Setelah tahu cara <em>download </em>lagu, Penulis lantas mulai mencari album-album DragonForce. Waktu itu, <em>band </em>ini sudah punya 4 album, yakni <em><strong>Valley of the Damned</strong></em> (2003), <em><strong>Sonic Firestorm</strong></em> (2004), <em><strong>Inhuman Rampage</strong></em> (2005), <em><strong>Ultra Beatdown</strong></em> (2008).</p>



<p>Pada album pertama, tidak ada lagu yang Penulis favoritkan. Di album kedua, setidaknya masih ada lagu <em><strong>My Spirit Will Go On </strong></em>dan <em><strong>Fury of the Storm </strong></em>yang sudah Penulis ketahui dulu sebelum mengenal albumnya.</p>



<p>Album ketiga sangat terkenal dengan lagu <em><strong>Through the Fire and the Flame</strong> </em>yang bisa dibilang melegenda. Selain itu, Penulis juga menyukai lagu <strong><em>Operation Ground and Pound</em> </strong>dan <strong><em>Trail of Broken Hearts</em></strong>.</p>



<p>Pada album keempatnya, lagu <em>Heroes of our Times </em>jadi <em>single </em>utama, tapi Penulis tidak terlalu menyukainya. Justru, Penulis sangat menyukai lagu <em><strong>The Last of Journey Home</strong>,</em> yang sayangnya, kualitas videonya benar-benar buruk dan kacau!</p>



<p>Ada beberapa kesamaan dari lagu-lagu yang dibuat oleh DragonForce. Selain menonjolkan permainan gitar yang cepat, semuanya memiliki durasi yang cukup panjang (rata-rata) di atas 6 menit. Bahkan, beberapa lagu bisa berdurasi lebih dari 8 menit.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berhenti Mengikuti DragonForce</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6010" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>DragonForce dengan Vokalis Baru (<a href="https://www.textbookleague.org/dragonforce-personil-saat-ini-serta-berkembangnya-karir/">Text Book League</a>)</figcaption></figure>



<p>Saat Penulis sedang suka-sukanya mengikuti DragonForce, tiba-tiba sang vokalis <strong>ZP Theart memutuskan keluar dari <em>band</em></strong> dengan alasan &#8220;perbedaan pendapat musik yang tidak dapat diatasi&#8221;.</p>



<p>DragonForce pun langsung mencari vokalis pengganti dan menemukan sosok <strong>Marc Hudson</strong>. Sayangnya, bagi Penulis suara Theart sudah terlalu melekat dengan DragonForce, sehingga Penulis sama sekali tidak bisa menikmat DragonForce lagi dengan vokalis barunya.</p>



<p>Dengan begitu, <em>Ultra Beatdown </em>menjadi album DragonForce terakhir yang Penulis dengarkan. Penulis pernah mencoba memberi &#8220;kesempatan&#8221; dengan mendengarkan suara dari vokalis baru, tetapi Penulis tidak pernah bisa mendengarkannya hingga selesai.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa kalau DragonForce, terutama Herman Li dan Sam Totman, akan meninggalkan legasi bagi industri musik berkat permainan mereka yang ikonik. Mereka telah menjadi legenda hidup yang akan terus diingat oleh pecinta musik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ketika pertama kali mengenal DragonForce, Penulis mengira kalau <em>band </em>ini adalah <em>band </em>jadul karena rambut personelnya yang gondrong-gondrong. Ternyata, <em>band </em>ini dibentuk pada tahun 1999, dan lagu <em>Through the Fire and the Flame </em>rilis pada tahun 2006.</p>



<p>Meskipun sudah tidak mengikuti lagu-lagu terbaru mereka lagi, Penulis masih setia mendengarkan lagu-lagu lama mereka yang telah disebutkan di atas. Kadang Penulis mencari video <em>cover </em>lagu-lagu mereka, seperti yang dilakukan oleh Cole Rolland dengan sangat keren.</p>



<p>Yang jelas, <em>band </em>bergenre metal ini akan selalu memiliki tempat khusus di telinga Penulis. Mungkin sesekali merasa bosan karena durasi lagunya yang panjang-panjang, tapi Penulis akan tetap memasukkan DragonForce ke dalam <em>playlist </em>Penulis.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 13 Oktober 2022, terinspirasi setelah mendengarkan lagi lagu-lagu dari Dragon Force</p>



<p>Foto: <a href="https://www.loudersound.com/news/dragonforce-say-songs-are-faster-heavier-than-ever">Louder Sound</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/">DragonForce, Guitar Hero, dan Legasi yang Ditinggalkan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Sep 2022 05:01:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Luxury Disease]]></category>
		<category><![CDATA[One OK Rock]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5935</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah menanti cukup lama, akhirnya ONE OK ROCK merilis album terbarunya yang diberi judul Luxury Disease pada tanggal 9 September 2022. Menariknya, nama tersebut merupakan terjemahan secara harfiah dari album pertama yang rilis 15 tahun lalu, Zeitakubyō. Ini merupakan jarak produksi album terjauh dari ONE OK ROCK, di mana sebelumnya band ini hanya memiliki jarak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah menanti cukup lama, akhirnya <strong>ONE OK ROCK</strong> merilis album terbarunya yang diberi judul <em><strong>Luxury Disease</strong></em> pada tanggal 9 September 2022. Menariknya, nama tersebut merupakan terjemahan secara harfiah dari album pertama yang rilis 15 tahun lalu, <em>Zeitakubyō</em>.</p>



<p>Ini merupakan jarak produksi album terjauh dari <a href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/">ONE OK ROCK</a>, di mana sebelumnya <em>band </em>ini hanya memiliki jarak dua tahun antaralbumnya. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat album ini dibuat di masa-masa pandemi yang mencekam.</p>



<p>Dari awal, Penulis sudah cukup skeptis dengan album baru mereka mengingat album <em>Eye of the Storm </em>yang terlalu pop. Meskipun <em>single </em>pertamanya yang berjudul <em>Renegades </em>cukup <em>rock</em>, sisa lagu di album ini bisa dibilang masih kurang <em>rock</em>.</p>





<p>Lantas, Penulis membaca sebuah artikel wawancara eksklusif ONE OK ROCK dengan Billboard. Dari sana, Penulis pun menjad paham mengapa <em>band </em>yang menggunakan embel-embel <em>rock </em>di namanya ini telah bertransformasi ke arah pop.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Musisi Mengikuti Kemauan Pasar</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5937" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption> Taka dari ONE OK ROCK (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.jame-world.com%2Fen%2Farticle%2F140820-one-ok-rock-at-the-warfield-san-francisco.html&amp;psig=AOvVaw0kCp8rRv64tZrnVyvQj0Cw&amp;ust=1664080885691000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CA0QjhxqFwoTCMielMTOrPoCFQAAAAAdAAAAABAm">JaME World</a>)</figcaption></figure>



<p>ONE OK ROCK jelas sudah sangat terkenal di Jepang, di mana Taka mengaku tiket konser mereka selalu terjual habis. Mungkin karena itulah mereka ingin melebarkan sayap mereka ke pasar Amerika yang menjadi banyak kiblat musisi dunia.</p>



<p>Pada satu kesempatan, Taka selaku vokalis dari ONE OK ROCK pernah berkata kalau <strong>musik <em>rock </em>telah mati di Amerika</strong>. Itulah yang menjadi alasan utama mengapa di album sebelumnya <em>band </em>ini hampir menghilangkan unsur <em>rock </em>sama sekali.</p>



<p>Agar bisa diterima oleh pendengar Amerika, tentu <em>band </em>ini harus menciptakan lagu yang bisa masuk dan dinikmati oleh pendengar Amerika. Untuk itu, Taka dkk. pun melakukan banyak riset untuk mengetahui apa yang disukai oleh pendengar Amerika.</p>



<p>Hasilnya pun bisa terdengar di album <em>Ambition </em>(2017) dan <em>Eye of the Storm</em> (2019). Selain karena memiliki dua versi internasional, lagu-lagu yang dimiliki lebih <em>easy listening </em>dibandingkan album-album lainnya seperti <em>35XXXV </em>(2015) yang sangat keras.</p>



<p>Saat menyiapkan album terbarunya ini, mereka merasa kalau tren saat ini telah berubah dan genre <em>rock</em>, <em>pop-punk</em>, hingga <em>emo </em>mulai bangkit lagi. Selain itu, mungkin mereka sudah cukup percaya diri dengan tingkat popularitas mereka di pasar Amerika.</p>



<p>Oleh karena itu, mereka pun kembali memasukkan unsur <em>rock </em>di albumnya yang sejatinya merupakan jati diri mereka sendiri. Ketika mendengarkan album <em>Luxury Disease</em>, memang beberapa lagu menyisipkan unsur <em>rock </em>dan suara tinggi khas Taka.</p>



<p>Hanya saja, bagi Penulis unsur <em>rock-</em>nya masih kurang, sehingga Penulis merasa kalau eksistensi genre ini patut dipertanyakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Musik Rock Benar-Benar Sudah Mati?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5938" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Siapa yang Suka Musik Rock? (<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/rock-concert">Freepik</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika mengamati teman-teman dan keluarga di sekitar Penulis, harus diakui bahwa orang yang menyukai genre <em>rock </em>sangat sedikit, bisa dihitung dengan hitungan jari. Mungkin karena tidak semua suka musik yang keras.</p>



<p>Genre yang merajai para pendengar saat ini, setidaknya menurut pengamatan Penulis, adalah lagu yang memiliki unsur EDM,  K-pop, <em>hip-hop</em>, dan pop. Entah ada berapa banyak penyanyi, grup musik, atau DJ yang berada di pasar ini.</p>



<p>Akibatnya, <strong>musik <em>rock </em>pun seolah terdesak ke pinggir</strong> dan hanya didengarkan oleh beberapa penggemar yang setia. Ini berbeda dengan era 70-an, di mana musik <em>rock </em>bisa bertahan meskipun genre disko juga sedang <em>hype </em>waktu itu.</p>



<p>Tidak percaya? Coba cek daftar tangga lagu di Billboard Top 100. Cari apakah ada <em>rock band </em>di sana. Fenomena ini telah berlangsung lama, kurang lebih sejak masuk ke tahun 2010-an atau masuk ke era musik modern.</p>



<p>Sebagai perbandingan, di tahun 2005 ada 8 <em>rock band</em> yang masuk ke daftar, di tahun 1995 ada 11 <em>rock band</em>,  dan di tahun 1985 ada 19 <em>rock band</em> (belum termasuk musisi solo). Dari sini, bisa dilihat adanya penurunan yang sangat signifikan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5939" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Siapa Gun &#8216;N Roses di Era Modern? (<a href="https://www.nme.com/en_asia/news/music/guns-n-roses-singapore-concert-november-2022-tickets-3272617">NME</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa yang menyebabkan hal ini? Satu jawaban yang jelas adalah begitulah mekanisme industri musik bekerja. Untuk bisa menghasilkan uang, tentu harus <strong>memproduksi lagu yang akan disukai oleh mayoritas pasar</strong>, bukan minoritas yang jumlahnya tidak seberapa.</p>



<p>Sama seperti industri televisi dan film, akan lebih banyak orang yang memproduksi apa yang diinginkan oleh pasar, bukan sebuah karya <em>masterpiece </em>yang susah dimengerti dan hanya disukai oleh segelintir orang.</p>



<p>Jadi, apakah musik <em>rock </em>benar-benar sudah mati? Mungkin belum, tapi bisa jadi akan makin meredup jika pasarnya benar-benar menghilang. Akan ada segelintir musisi yang akan tetap berkarya di jalur <em>rock</em>, tapi jumlahnya tidak akan banyak.</p>



<p>Selain itu, tidak ada yang salah dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyelamatkan-selera-musik/">selera musik masyarakat</a>. Setiap individu berhak untuk memilih musik mana yang akan mereka sukai, sehingga Penulis pun tidak menyalahkan siapapun atas meredupnya musik <em>rock </em>di era modern.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Strategi yang dilakukan oleh ONE OKE ROCK sebenarnya cukup lumrah dilakukan, di mana musisi harus mengikuti arah pasar demi memperluas pendengar atau sekadar mempertahan eksistensi mereka di industri musik yang terkenal cukup keras.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/musik/deeper-deeper-one-ok-rock/">Evolusi musik menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan</a>, seperti yang pernah terjadi pada <em>band </em>besar seperti <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">Linkin Park</a> dan 30 Second to Mars. Jika bersikukuh dengan idealisme yang dimiliki, maka siap-siap saja untuk tersingkir dari kompetisi.</p>



<p>Namun, dampak yang dihasilkan dari evolusi ini adalah terpinggirkannya genre musik yang sudah tidak sesuai dengan pasar. Penulis sendiri merasa cukup kesulitan untuk menemukan pengganti dari <em>band-band rock </em>favoritnya.</p>



<p>Bisa jadi sebenarnya Penulis saja yang kurang banyak mencoba mendengarkan lagu-lagu dari <em>band </em>lain dan terlalu nyaman dengan lagu-lagu lama yang sudah didengar ribuan kali. Apakah mungkin sekarang saat yang tepat untuk mencari <em>band </em>baru? Bring Me The Horizon mungkin?</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 24 September 2022, terinspirasi setelah mendengarkan album <em>Luxury Disease </em>dari ONE OK ROCK</p>



<p>Foto: <a href="https://pingpoint.co.id/berita/resmi-ditunda-penonton-konser-one-ok-rock-bisa-ajukan-refund/">PingPoint</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.billboard.com/music/music-news/one-ok-rock-taka-interview-luxury-disease-1235142505/">ONE OK ROCK’s Taka Talks New Album ‘Luxury Disease’ &amp; Kicking Off Their Second Chapter &#8211; Billboard</a></li><li><a href="https://spinditty.com/genres/How-One-Guitarist-Can-Save-Rock-Music">Why Rock Music Is Dead and What You Can Do About It &#8211; Spinditty</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
