<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>salah Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/salah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/salah/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Oct 2023 16:11:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>salah Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/salah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Aug 2023 15:28:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[Kosan 95]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Webtoon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari Kosan 95 yang sedang memasuki babak akhirnya. Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter Budi yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan Faisal dan Fani [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari <em>Kosan 95</em> yang sedang memasuki babak akhirnya.</p>



<p>Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter <strong>Budi</strong> yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan<strong> Faisal</strong> dan<strong> Fani</strong> (saudara kembar, anggota Kosan 95 juga), yang dijauhi teman-teman sebayanya karena dianggap anak haram.</p>



<p>Budi menjadi kawan pertama mereka yang benar-benar terlihat baik, peduli, dan tulus. Namun, tiba-tiba Budi menghilang begitu saja dari kehidupan Faisal dan Fani, yang pada akhirnya menimbulkan perasaan bersalah pada Budi untuk waktu yang sangat lama.</p>



<p class="has-text-align-center"><strong><em>SPOILER AHEAD!!!</em></strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Ringkasan Cerita hingga Budi Merasa Bersalah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6805" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dari Kiri: Faisal, Budi, Fani (<a href="https://twitter.com/linewebtoonid/status/1287947401827774464">Twitter</a>)</figcaption></figure>



<p>Alasan awal Budi berteman dengan Faisal dan Fani adalah untuk membantu ayahnya, yang bekerja untuk <strong>keluarga Jaya</strong>. Ayahnya memiliki misi untuk memata-matai Faisal dan Fani, di mana mereka adalah bagian dari <strong>keluarga Sundari</strong> yang merupakan saingan keluarga Jaya. </p>



<p>Setelah misi tersebut selesai, Budi pun meninggalkan Faisal dan Fani, meskipun ia sebenarnya sangat menyayangi mereka. Nasib pun mempertemukan mereka kembali, di mana Budi langsung kabur karena ada <strong>perasaan bersalah </strong>setelah apa yang ia lakukan di masa lalu.</p>



<p>Budi berpikir kalau dirinya tidak bisa bertemu dan berhubungan lagi dengan Faisal dan Fani karena ia telah menyakiti mereka. Meskipun ia kerap sedih karena perasaan bersalah tersebut, ia merasa takut ketika akhirnya dipertemukan dengan mereka berdua.</p>



<p>Namun, akhirnya Budi memutuskan untuk menerima tawaran keluarga Jaya untuk bergabung dengan Kosan 95, agar ia memiliki kesempatan untuk menebus dosanya kepada Faisal dan Fani. </p>



<p>Sayangnya, yang ada <strong>perasaan bersalah tersebut justru terus tumbuh</strong> karena ia belum menemukan jawaban mengenai bagaimana cara menebus kesalahannya. Apalagi, ternyata hubungan Faisal dan Fani pun memburuk karena suatu hal.</p>



<p>Saat bertemu dengan Fani pertama kali di Kosan 95, Fani langsung meminta tolong untuk membantunya berbaikan dengan Faisal. Hubungan buruk mereka langsung terbukti ketika Faisal langsung mengusir Fani begitu melihatnya.</p>



<p>Hal tersebut membuat Budi <strong>semakin merasa bersalah</strong>. Masa-masa awal Budi di Kosan 95 pun penuh dengan konflik batin. Ia menyesal karena di masa lalu dirinya lebih banyak diam, ketika ada banyak hal yang sebenarnya bisa ia lakukan untuk Faisal dan Fani.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Budi (dan Fani) Berusaha Menghilangkan Perasaan Bersalahnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6806" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dua Karakter yang Sama-sama Terjebak Rasa Bersalah (<a href="https://www.instagram.com/p/CtvwzXyyVg9/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Selama bertahun-tahun, perasaan bersalah itu terus menghinggapi Budi seolah tak bisa disingkirkan. Ia merasa tidak bisa menebus kesalahan tersebut dan layak untuk mendapatkan maaf.</p>



<p>Budi pun mendapatkan nasehat dari <strong>Pak Agus</strong>, penjaga Kosan 95, yang mengatakan kalau Budi harus bisa menjadi<strong> penengah antara Faisal dan Fani</strong> layaknya teman yang bersikap adil. Pak Agus juga mengatakan kalau konflik yang terjadi antara mereka bukan salah Budi.</p>



<p>Pak Agus juga mengingatkan kalau Budi harus <strong>merelakan apa yang telah terjadi di masa lalu </strong>dan <strong>jangan berlarut-larut di dalam penyesalan tanpa akhir</strong>. Daripada seperti itu, lebih baik<strong> fokus dengan melakukan apa yang bisa diperbaiki sekarang dan terus maju</strong>.</p>



<p>Akhirnya seiring berjalannya waktu, Budi merasa bahwa penebusan dosa yang mungkin bisa ia lakukan adalah <strong>membuat Faisal dan Fani berdamai </strong>seperti dulu lagi. Mereka bertiga pernah akrab dan saling berbagi tawa, dan ia ingin hal tersebut bisa terjadi lagi saat ini.</p>



<p>Sebenarnya bukan cuma Budi yang memiliki perasaan bersalah, karena Fani pun juga merasa bersalah ke Faisal. Alasan mereka menjadi renggang adalah karena Fani justru tidak percaya kepada Faisal di saat saudara kembarnya tersebut sedang membelanya.</p>



<p>Merasa dirinya begitu egois, Fani pun menyesal dan terus berusaha untuk <strong>memperbaiki hubungannya </strong>dengan Faisal. Berbagai hal ia <strong>berusaha lakukan dan berikan</strong> untuk menyenangkan Faisal, meskipun kerap mendapatkan respons yang kurang mengenakkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6808" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ini Budi (<a href="https://www.instagram.com/p/Cq1_TL_r17h/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari kisah hubungan antara Budi, Faisal, dan Fani di atas, kita bisa belajar beberapa hal mengenai cara melepas perasaan bersalah yang membelenggu kita. Penulis yakin, kebanyakan dari kita pernah mengalami perasaan yang dialami oleh karakter-karakter <em>Kosan 95</em>.</p>



<p>Sebagai manusia, tentu kita pernah berbuat salah, baik ke diri sendiri maupun orang lain. Bagi sebagian orang, berbuat salah ke orang lain bisa menimbulkan perasaan bersalah yang begitu dalam, seolah tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya.</p>



<p>Penulis sendiri pernah merasa seperti itu dan mencoba berbagai cara, mulai dari minta maaf, berusaha memperbaiki keadaan, <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">mengubah diri menjadi lebih baik</a>, dan lain sebagainya. Kurang lebih sama seperti yang sedang dilakukan oleh Budi dan Fani.</p>



<p>Namun, sama seperti yang dirasakan Budi, perasaan bersalah itu masih saja hinggap. Pada akhirnya Penulis menyadari kalau pada akhirnya kitalah yang harus bisa <strong>memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri </strong>atas kesalahan yang sudah diperbuat.</p>



<p>Seperti yang dikatakan oleh Pak Agus, pada akhirnya kita harus merelakan apa yang sudah terjadi dan fokus dengan hari ini. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu dengan perasaan bersalah</a> yang kita buat sendiri hanya akan menghambat kita untuk melangkah maju.</p>



<p>Jika kita sudah bisa melakukan hal tersebut, proses memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri pun akan lebih mudah kita lakukan. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Mari kita sama-sama belajar untuk melepaskan perasaan bersalah yang ada di dalam diri kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca Webtoon <em>Kosan 95</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Minta Maaf Itu Kewajiban Kita, Memaafkan Itu Hak Mereka</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/minta-maaf-itu-kewajiban-kita-memaafkan-itu-hak-mereka/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/minta-maaf-itu-kewajiban-kita-memaafkan-itu-hak-mereka/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2022 15:43:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hak]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[memaafkan]]></category>
		<category><![CDATA[minta maaf]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[perasan bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5786</guid>

					<description><![CDATA[<p>Manusia adalah tempatnya salah. Rasanya mustahil ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan satu kali pun seumur hidupnya. Bahkan jika pernah membaca kisah-kisah nabi, mereka pun dituliskan pernah berbuat salah hingga ditegur langsung oleh Tuhan. Kesalahan yang dilakukan oleh manusia juga bermacam-macam. Ada yang dilakukan ke diri sendiri, ada juga yang dilakukan ke orang lain. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/minta-maaf-itu-kewajiban-kita-memaafkan-itu-hak-mereka/">Minta Maaf Itu Kewajiban Kita, Memaafkan Itu Hak Mereka</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Manusia adalah tempatnya salah. Rasanya mustahil ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan satu kali pun seumur hidupnya. Bahkan jika pernah membaca kisah-kisah nabi, mereka pun dituliskan pernah berbuat salah hingga ditegur langsung oleh Tuhan.</p>



<p>Kesalahan yang dilakukan oleh manusia juga bermacam-macam. Ada yang dilakukan ke diri sendiri, ada juga yang dilakukan ke orang lain. Ketika sudah melakukan kesalahan, hal yang perlu kita lakukan adalah meminta maaf dan berusaha memperbaiki kesalahan tersebut.</p>



<p>Namun, tak jarang kita memiliki pikiran kalau kesalahan kita ke orang terlalu parah, sehingga muncul perasaan kalau kita tidak pantas untuk dimaafkan. Penulis juga pernah merasa seperti itu, sehingga ingin mengulas sedikit perihal ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Kewajiban untuk Meminta Maaf</h2>



<p>Sejak kecil, Penulis diajarkan oleh orang tuanya mengenai tiga kata sakti: <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/"><strong>Tolong</strong>, <strong>Terima Kasih</strong>, dan<strong> Maaf</strong></a>. Ketiga kata ini dianggap sebagai landasan utama ketika berinteraksi dengan orang lain.</p>



<p>Gunakan kata tolong jika membutuhkan bantuan orang lain, katakan terima kasih jika menerima kebaikan orang lain, dan ucapkan maaf jika kita berbuat salah. Penulis pun berusaha untuk menerapkan ini dalam kehidupannya sehari-hari.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis selalu menganggap<strong> meminta maaf setelah berbuat kesalahan adalah sebuah kewajiban</strong>. Penulis tidak merasa dirinya sebagai orang yang kesulitan atau merasa segan untuk mengeluarkan kata maaf dari mulutnya.</p>



<p>Apalagi, Penulis adalah tipe pemikir yang lebih sering <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">menyalahkan diri sendiri</a> daripada menyalahkan orang lain. Daripada berdebat siapa yang salah, Penulis memilih untuk melakukan interopeksi diri dan meminta maaf jika menyadari kesalahannya.</p>



<p>Tentu, permintaan maaf tersebut harus tulus dari hati, bukan hanya sekadar terucap. Maaf juga harus disertai adanya tindakan yang menunjukkan kalau kita akan berusaha untuk tidak mengulangi atau berusaha memperbaiki kesalahan tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memaafkan adalah Hak Mereka</h2>



<p>Dalam kasus yang ekstrem (misal sedang bertengkar dengan seseorang), Penulis merasa kalau kontrol emosinya masih buruk. Orang yang sedang dikuasai oleh emosi, biasanya akan terlontar kata-kata yang kurang terpuji dan menyakitkan.</p>



<p>Setelah emosinya mereda dan otak mulai bisa berpikir dari jernih, muncul perasaan bersalah karena sudah berbuat seperti itu. Jika mengaitkannya dengan poin sebelumnya, seharusnya Penulis harus langsung minta maaf karena telah menyadari kesalahannya.</p>



<p>Hanya saja, muncul perasaan kalau tindakan buruk yang sudah Penulis lakukan ke orang tersebut cukup parah dan keterlaluan. Alhasil, keinginan untuk minta maaf pun jadi meluntur karena merasa tidak layak untuk dimaafkan.</p>



<p>Padahal, <strong>memaafkan adalah hak mereka sepenuhnya</strong>. Mau dimaafkan atau tidak oleh mereka, kita tetap harus melaksanakan kewajiban untuk meminta maaf. Kita tidak sepatutnya merebut hak orang lain dengan menentukan apakah kita layak untuk dimaafkan atau tidak.</p>



<p>Jika memang kesalahan kita dianggap &#8220;tak termaafkan&#8221; oleh mereka, ya sudah itu hak mereka. Yang penting, kewajiban kita sudah selesai dilakukan. Berdoa saja agar Tuhan mau mengetuk hatinya agar mau memaafkan kesalahan kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis paham terkadang ada kondisi yang membuat kita merasa kesulitan untuk meminta maaf. Mengakui kesalahan dan meminta maaf membutuhkan keberanian yang luar biasa, tidak semua orang mampu melakukannya.</p>



<p>Untuk itu, coba untuk membiasakan mana yang menjadi kewajiban kita dan mana yang menjadi hak mereka. Sekali lagi, kewajiban kita adalah meminta maaf, sedangkan memaafkan adalah hak mereka. </p>



<p>Usahakan jangan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">menghakimi diri sendiri</a> apakah diri ini pantas untuk dimaafkan atau tidak. Selain bisa bersifat destruktif ke diri sendiri, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">rasa bersalah bisa terus menghantui dan membelenggu kita</a>.</p>



<p>Beberapa tips umum yang bisa diterapkan jika hendak minta maaf adalah mencari momen yang tepat, tunjukkan ketulusan dalam meminta maaf, serta berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.</p>



<p>Penulis percaya, berani meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat akan jauh melegakan hati daripada terus memendam kesalahan karena merasa tidak pantas untuk dimaafkan. </p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 29 Juni 2022, terinspirasi setelah menyadari terkadang dirinya merasa bersalah dan tidak pantas untuk dimaafkan</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/id-id/@alex-green/">Alex Green on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/minta-maaf-itu-kewajiban-kita-memaafkan-itu-hak-mereka/">Minta Maaf Itu Kewajiban Kita, Memaafkan Itu Hak Mereka</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/minta-maaf-itu-kewajiban-kita-memaafkan-itu-hak-mereka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2021 04:47:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5083</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang ada masalah atau sedang bertikai dengan orang lain, Pembaca tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain? Kalau Penulis sendiri adalah tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri. Penulis akan berkaca untuk mencari apa salahnya dan jarang berfokus pada kesalahan orang lain (walau bukan berarti tidak pernah melakukannya). Menyalahkan diri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang ada masalah atau sedang bertikai dengan orang lain, Pembaca tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain?</p>



<p>Kalau Penulis sendiri adalah tipe orang yang cenderung <strong>menyalahkan diri sendiri</strong><em>. </em>Penulis akan berkaca untuk mencari apa salahnya dan jarang berfokus pada kesalahan orang lain (walau bukan berarti tidak pernah melakukannya).</p>



<p>Menyalahkan diri sendiri mungkin terkesan baik karena artinya kita melakukan interopeksi diri sehingga bisa memperbaiki kesalahan tersebut. Hanya saja, jika terlalu menyalahkan diri sendiri bisa memberikan dampak yang buruk kepada kita.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Menyesali Perbuatan</h2>



<p>Ambil contoh seperti ini. Kita memiliki pasangan dan sedang bertengkar hebat. Terlepas dari apa masalahnya dan apa penyebabnya, orang yang suka menyalahkan diri sendiri akan lebih banyak menyesali perbuatannya.</p>



<p>&#8220;Ah, harusnya aku enggak gitu tadi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Coba aja waktu itu aku enggak gini.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kenapa sih aku harus melakukan kebodohan seperti itu?&#8221;</p>



<p>&#8220;Lagi-lagi aku mengulangi kesalahan yang sama.&#8221;</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis sebutkan sebelumnya, menyalahkan diri sendiri menjadi salah satu bukti kalau kita menyadari kesalahan diri sendiri.</p>



<p>Akan tetapi, hanya menyalahkan diri sendiri saja tidak menghasilkan apa-apa. Merutuk kebodohan dan menyesali perbuatan tidak akan membuat keadaan kembali menjadi lebih baik.</p>



<p>Penulis terkadang terjebak dalam situasi ini. Sebagai orang yang mudah <em>overthinking</em>, Penulis akan terus-menerus memikirkan kesalahan yang dirasa telah dilakukan, seolah-olah <a href="https://whathefan.com/karakter/terbelenggu-rasa-bersalah/">terbelenggu oleh perasaan bersalah</a> tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tidak Memberikan Manfaat</h2>



<p>Menyalahkan diri sendiri, terutama secara berlebihan, tidak akan memberikan manfaat apapun kepada diri kita. Yang sudah terjadi biarlah terjadi, yang penting kita bisa belajar dari kesalahan tersebut.</p>



<p>Daripada terus menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita fokus mencari kebaikan. Apa yang bisa dipelajari dari kesalahan ini? Apa hikmah yang bisa diambil? Bagaimana agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi?</p>



<p>Berat? Sangat. Susah? Pasti. Namun, langkah tersebut jauh lebih baik dibandingkan hanya menyalahkan diri sendiri yang bisa begitu merugikan sehingga patut untuk diupayakan.</p>



<p>Penulis percaya bahwa semua peristiwa yang terjadi dalam hidup ini memiliki sebab dan alasan untuk terjadi. Seringnya, kita tidak bisa langsung mengetahuinya dan butuh waktu yang tidak sebentar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Jangan Menyalahkan Pihak Lain Juga</h2>



<p>Perlu diingat, berhenti menyalahkan diri sendiri bukan berarti kita beralih dengan menyalahkan orang lain. Tidak semua hal, bahkan masalah sekalipun, membutuhkan pihak yang salah.</p>



<p>Daripada saling menyalahkan, baik ke diri sendiri maupun orang lain, bukankah lebih baik fokus ke solusi? Coba saling menurunkan ego dan belajar saling memahami satu sama lain agar bisa mencari jalan terbaik.</p>



<p>Jangan fokus terhadap masalah, tapi fokus ke penyelesaiannya. Cari jalan tengah yang tidak memberatkan atau menyakiti salah satu pihak. Pasti bisa jika kita sama-sama mau berusaha mengerti.</p>



<p>Percaya, memiliki rasa bersalah itu sama sekali tidak enak rasanya. Penulis sangat sering merasakannya. Menyalahkan diri sendiri bisa membuat diri ini merasa depresi yang berkepanjangan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Memiliki perasaan bersalah setelah melakukan kesalahan adalah hal yang manusiawi dan wajar. Bahkan, kita bisa belajar untuk memperbaiki diri dari perasaan tersebut.</p>



<p>Memiliki perasaan bersalah menjadi salah ketika kita hanya berfokus pada kesalahan yang telah kita buat tanpa berbuat sesuatu untuk &#8220;menebus&#8221; kesalahan tersebut.</p>



<p>Memiliki perasaan bersalah menjadi salah ketika kita menjadi tidak bisa memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang telah diperbuat dan merutuk diri sendiri secara tidak sehat.</p>



<p>Oleh karena itu, berhenti menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Fokus pada hal-hal baik yang bisa dipetik atau dilakukan. Hanya menyalahkan diri sendiri tidak akan memberi manfaat sedikitpun.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 20 Juli 2021, terinspirasi setelah mendengar nasihat dari seorang kawan</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@liza-summer">Liza Summer</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 May 2021 01:27:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[benar]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4995</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada satu kutipan dari Sam Wilson dalam serial The Falcon and the Winter Soldier yang sangat Penulis sukai. Kalimat tersebut adalah: &#8220;Maybe this is something that you or Steve will never understand. But can you accept that I did what I thought was right?&#8221; Sam Wilson Kalimat atau pertanyaan tersebut diutarakan oleh Sam ketika Bucky [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/">Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada satu kutipan dari Sam Wilson dalam serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-the-falcon-and-the-winter-soldier-bagian-1/">The Falcon and the Winter Soldier</a></em> yang sangat Penulis sukai. Kalimat tersebut adalah:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Maybe this is something that you or Steve will never understand. But can you accept that I did what I thought was right?&#8221;</p><cite>Sam Wilson</cite></blockquote>



<p>Kalimat atau pertanyaan tersebut diutarakan oleh Sam ketika Bucky kembali mempertanyakan keputusan Sam menyerahkan perisai warisan Steve Rogers kepada pemerintah. Sam merasa ia hanya melakukan apa yang ia pikir benar.</p>



<p>Kita semua mungkin pernah merasa seperti itu. Kita berbuat sesuatu, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain, karena merasa bahwa itulah yang terbaik. Sayangnya, terkadang hal tersebut berubah menjadi sebuah <strong>kesalahan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Belum Tentu Baik Juga untuk Orang Lain</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4998" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sam dan Bucky (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://screenrant.com/falcon-winter-soldier-sam-bucky-ship-sebastian-stan-response/">Screen Rant</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa yang kita pikir benar, ternyata<strong> belum tentu benar bagi orang lain</strong>. Bahkan, bisa saja hal tersebut justru menyusahkan atau mengganggu orang lain. Perbedaan persepsi dalam memandang suatu hal sering menjadi pemicu utamanya.</p>



<p>Jika orang dekat kita memiliki sebuah permasalahan, biasanya kita akan melakukan sesuatu untuk membantunya dengan cara kita. Sayangnya, ternyata cara yang kita anggap benar tersebut tidak cocok untuk orang tersebut.</p>



<p>Misal, ada teman kita yang sedang patah hati karena memergoki kekasihnya seleweng. Kita berusaha untuk menghiburnya dengan berbagai cara dan ia justru marah. Ternyata, yang ia butuhkan sekarang adalah waktu untuk sendiri dan merenung, bukan hiburan.</p>



<p>Contoh lain ketika kita punya seorang adik yang sedang kewalahan dengan tugasnya. Kita merasa ingin membantunya mengerjakan tugas tersebut. Ia justru marah karena ia ingin berhasil dengan kerja kerasnya sendiri, bukan dengan bantuan orang lain.</p>



<p>Kita hanya melakukan apa yang kita pikir benar dan ternyata salah bagi orang lain. Oleh karena itu, terkadang <strong>tidak berbuat apa-apa </strong>justru menjadi solusi dari sebuah permasalahan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tidak Berbuat Apa-Apa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4997" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tidak Berbuat Apa-Apa (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.goodvibeblog.com/before-you-do-nothing/">Good Vibe Blog</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis mengetahui teori <strong>&#8220;tidak berbuat apa-apa&#8221;</strong> ini ketika membaca buku berjudul <strong><em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-four-seconds/">Four Seconds</a></em> </strong>karya Peter Bregman. Intinya, terkadang dalam penyelesaian masalah, berbuat sesuatu justru akan memperparah keadaan. Tidak berbuat apa-apa justru menjadi kunci penyelesaiannya.</p>



<p>Penulis ambil dua contoh di atas, kawan yang sedang patah hati dan adik yang kewalahan dengan tugasnya. </p>



<p>Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si kawan pada akhirnya berhasil <em>move on </em>setelah menemukan teman kencan dengan bantuan aplikasi Tinder. Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si adik berhasil mempelajari sesuatu yang baru dari tugas-tugasnya.</p>



<p>Di dalam buku <em>Four Seconds</em>, ada kalimat seperti berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Terkadang, tidak mencoba memperbaiki sesuatu merupakan hal yang justru dibutuhkan untuk memperbaikinya.&#8221;</p><cite>Buku <em>four seconds </em>halaman 36</cite></blockquote>



<p>Hanya saja, teori ini tidak bisa diterapkan dalam semua kondisi. Jika ada pekerjaan kantor yang menumpuk dan kita memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal dipecat sama atasan. Jika ada tugas sekolah menumpuk kita tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal mendapat nilai buruk.</p>



<p>Intinya, teori tidak berbuat apa-apa ini hanya bisa dilakukan dalam situasi dan kondisi tertentu. Bagaimana cara mengetahui kapan kita harus tidak berbuat apa-apa? Harus berdasarkan pengalaman dan data pada masa lalu. Tidak ada teori pasti yang bisa digunakan.</p>



<p>Selain itu, jangan sampai teori ini membuat kita menjadi orang yang cuek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Itu juga salah. Tetaplah berusaha untuk menjadi orang baik dan tak segan mengulurkan tangan ketika orang lain butuh pertolongan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika Sam tidak berbuat apa-apa dan menyimpan perisai Captain America di rumahnya, mungkin tidak akan ada Captain America baru yang menjadi pemicu konflik di serialnya.</p>



<p>Walau ada kemungkinan pemerintah akan meminta Sam menyerahkan perisai tersebut, setidaknya bukan ia yang memberikan secara sukarela. Ia tidak akan bertanggung jawab atas terpilihnya John Walker sebagai Captain America baru dan tidak perlu berdebat dengan Bucky.</p>



<p>Sam hanya melakukan apa yang ia pikir benar. Menyerahkan perisai tersebut ia lakukan atas dasar karena ia merasa belum pantas menjadi pengganti Captain America. </p>



<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Hanya saja, terkadang apa yang kita pikir benar belum tentu benar bagi orang lain. Permasalahan yang hendak kita selesaikan justru menjadi semakin rumit.</p>



<p>Jika sudah demikian, mungkin memang saatnya kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk menyelesaikan suatu permasalahan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 24 Mei 2021, terinspirasi setelah teringat kalimat favorit yang diucapkan oleh Sam Wilson pada serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-the-falcon-and-the-winter-soldier-bagian-2/">The Falcon and the Winter Soldier</a></em></p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://cahobnemodo.ga/">cahobnemodo.ga</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/">Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Banjir Jakarta Salah Siapa?</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/banjir-jakarta-salah-siapa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Feb 2020 10:42:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[gubernur]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3567</guid>

					<description><![CDATA[<p>Indonesia tengah dikepung banjir di berbagai daerah. Walaupun yang sering disorot hanya Jakarta, sebenarnya ada banyak titik lain yang juga tidak kalah parah. Kita, seperti biasa, berlomba-lomba mencari kambing hitam yang harus bertanggung jawab atas bencana ini. Kita seolah-olah memiliki pendapat yang pasti benar, sama seperti era Pilpres kemarin. Di sini, Penulis hanya akan menyoroti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/banjir-jakarta-salah-siapa/">Banjir Jakarta Salah Siapa?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia tengah dikepung banjir di berbagai daerah. Walaupun yang sering disorot hanya Jakarta, sebenarnya ada banyak titik lain yang juga tidak kalah parah.</p>
<p>Kita, seperti biasa, berlomba-lomba mencari kambing hitam yang harus bertanggung jawab atas bencana ini. Kita seolah-olah memiliki pendapat yang pasti benar, sama seperti era Pilpres kemarin.</p>
<p>Di sini, Penulis hanya akan menyoroti banjir Jakarta sebagai contoh. Selain karena paling sering diberitakan oleh media, kita juga terlihat sering ribut membahasnya.</p>
<h3>Banjir Jakarta Salah Siapa?</h3>
<p>Siapa yang paling sering disorot karena dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas &#8220;tenggelamnya&#8221; Jakarta? Siapa lagi kalau bukan gubernurnya.</p>
<p><div id="attachment_3569" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3569" class="size-large wp-image-3569" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3569" class="wp-caption-text">Gubernur dan Banjir (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.rmoljakarta.com/read/2020/02/26/61920/1/Sindir-Jokowi,-Anies-Harus-Jadi-Presiden-Dulu-Agar-Banjir-Jakarta-Tuntas" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjlr4uRx_bnAhWaV30KHTK2Cs0QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">RMOL Jakarta</span></a>)</p></div></p>
<p>Banyak pihak, termasuk lawan politik, menudingnya tidak becus dan tidak serius dalam mengatasi masalah banjir. Hitung saja sudah berapa kali Jakarta banjir dalam tahun 2020.</p>
<p>Mereka pun membandingkannya kinerja gubernur yang sekarang dengan gubernur sebelumnya. Disebutkan beberapa kebijakan lama yang terlihat tidak diteruskan pada kepemimpinan yang sekarang.</p>
<p>Kebijakan-kebijakan yang diambil gubernur untuk mengatasi banjir dianggap tidak solutif. Toa banjir yang anggarannya mencapai milyaran rupiah kerap ditertawakan karena manfaatnya dirasa kurang.</p>
<p>Apalagi, jajaran Pemkot Jakarta juga ngotot untuk tetap menyelenggarakan ajang Formula E yang dijadwalkan pada pertengahan tahun. Gubernur dan jajarannya dianggap tidak peka atas penderitaan korban banjir, apalagi dengan tingginya anggaran yang dikeluarkan.</p>
<p><div id="attachment_3570" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3570" class="size-large wp-image-3570" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3570" class="wp-caption-text">Proses Evakuasi (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://dompetdhuafa.org/id/berita/detail/Banjir-Jakarta-Datang-Lagi-Respon-Cepat-DMC-Terjunkan-Tim-Rescue" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjg0rPGxvbnAhUPeysKHQMvAYgQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Dompet Dhuafa</span></a>)</p></div></p>
<p>Tentu saja pendukung sang gubernur juga memiliki argumen pembelaan. Mereka mengatakan bahwa curah hujan tahun ini memang sangat tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sehingga banjir menjadi tidak terhindarkan.</p>
<p>Mereka juga menilai gubernur dan Pemkot Jakarta telah berupaya semaksimal mungkin untuk meminimalisir dampak banjir. Evakuasi dan penyaluran bantuan kepada korban juga terus dilakukan dengan bantuan berbagai pihak.</p>
<p>Ada yang melakukan serangan balik dengan menunjuk presiden. Rupanya masih banyak yang ingat, di tahun 2014 beliau pernah berkata bahwa penanganan banjir di Jakarta akan lebih mudah jika menjadi presiden.</p>
<p><div id="attachment_3571" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3571" class="size-large wp-image-3571" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/banjir-jakarta-salah-siapa-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3571" class="wp-caption-text">Dituduh Jadi Penyebab Banjir (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://voi.id/artikel/baca/3148/pemicu-penggerudukan-aeon-mall-jgc-dan-penindakan-kriminal-kasus-perusakannya" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj7yrLqx_bnAhXZfH0KHbr4D34QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Voi.id</span></a>)</p></div></p>
<p>Yang netral mengatakan bahwa banjir terjadi karena ulah masyarakatnya sendiri. Sebagai daerah dataran rendah, banyak titik rawa di Jakarta yang berfungsi sebagai wadah penampungan air.</p>
<p>Masalahnya, titik-titik tersebut telah beralih fungsi yang kebanyakan menjadi bangunan properti. Bisa dibayangkan, air yang kehilangan wadah pun harus mencari tempat lain dan menyerang pemukiman warga.</p>
<p>Hal ini diperparah dengan kebiasaan buruk masyarakat kita yang masih kurang sadar betapa pentingnya kebersihan lingkungan. Para pengembang properti pun kerap mengabaikan hal ini.</p>
<h3>Jadi, Salahnya Siapa?</h3>
<p>Mungkin Gubernur dan para stafnya memang kurang maksimalkan dalam mencegah dan menangani banjir. Jika seperti itu, silakan dikritik sesuai dengan kapabilitas kita. Nanti ketika Pilgub, jangan pilih beliau lagi.</p>
<p>Lawan politik gubernur juga melihat adanya kesempatan untuk menyerang. Bahkan ada anggota partai baru yang mengaitkan hal ini dengan tidak pantasnya sang gubernur untuk menjadi calon presiden di Pemilu 2024 mendatang.</p>
<p>Pemerintah pusat juga terlihat tidak bisa berbuat banyak. Mungkin karena masih dipusingkan dengan berbagai hal lain, termasuk realisasi <a href="https://whathefan.com/politik/analogi-perpindahan-ibu-kota/">pemindahan ibu kota</a>.</p>
<p>Ada juga yang bertindak anarki dengan melakukan perusakan di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Alasannya, sebelum bangunan atau blok tersebut dibangun, daerah sekitarnya belum pernah banjir. Bentrokan yang diiringi teriakan rasis pun terjadi.</p>
<p>Bisa dilihat dari tulisan di atas, tidak akan ada habisnya jika kita mencari siapa yang salah dari masalah banjir yang melanda Jakarta dan beberapa daerah lainnya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Menurut Penulis, daripada mencari siapa yang salah, lebih baik kita sama-sama mencari solusi dari permasalahan ini. Lakukan apa yang bisa kita lakukan sesuai kemampuan masing-masing.</p>
<p>Mungkin ada yang merasa bisa mengatasi banjir sehingga berambisi untuk masuk ke dalam pemerintahan. Sekadar mengumpulkan donasi untuk korban bencana pun termasuk berbuat sesuatu.</p>
<p>Penulis sendiri tidak bisa berbuat banyak. Paling <em>banter </em>cuma bisa berdoa dan menjaga lingkungan sekitarnya, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik.</p>
<p>Yang jelas, banjir di Jakarta dan beberapa tempat lainnya adalah masalah kita bersama. Sudah seharusnya kita saling bergandeng tangan untuk mengatasi masalah ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 29 Februari 2020, terinspirasi dari masifnya berita banjir Jakarta</p>
<p>Foto: <a href="https://voi.id/artikel/baca/3065/anies-dan-ironi-banjir-jakarta">Voi.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/banjir-jakarta-salah-siapa/">Banjir Jakarta Salah Siapa?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Salah dengan Privilege?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Nov 2019 03:37:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[kesuksesan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[privilege]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3069</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika melihat kesuksesan orang lain, akan muncul komentar beragam. Ada yang menjadi terinspirasi, ada yang mengagumi perjuangannya, tak sedikit yang mencibirnya. Akan tetapi ketika ternyata kesuksesan tersebut dikarenakan karena yang bersangkutan memiliki privilege atau keistimewaan, kebanyakan komentar bernada sama: oalah pantes aja sukses, la dia gini gini gini. Salahkah memiliki privilege? Manusia dan Privilege yang Dimiliki Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Apa yang Salah dengan Privilege?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika melihat kesuksesan orang lain, akan muncul komentar beragam. Ada yang menjadi terinspirasi, ada yang mengagumi perjuangannya, tak sedikit yang mencibirnya.</p>
<p>Akan tetapi ketika ternyata kesuksesan tersebut dikarenakan karena yang bersangkutan memiliki <em>privilege </em>atau keistimewaan, kebanyakan komentar bernada sama: <em>oalah pantes aja sukses, la dia gini gini gini</em>.</p>
<p>Salahkah memiliki <em>privilege</em>?</p>
<h3>Manusia dan <em>Privilege</em> yang Dimiliki</h3>
<p><div id="attachment_3072" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3072" class="size-large wp-image-3072" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-1024x607.jpeg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-1024x607.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-300x178.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-768x455.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3072" class="wp-caption-text">Maudy Ayunda (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://indonesiainside.id/lifestyle1/2019/03/06/maudy-ayunda-inspirator-kaum-milenial" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiQlNDU4-3lAhUW3o8KHb-eCxEQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Indonesia Inside</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis menyadari bahwa tidak semua orang memiliki <em>privilege </em>seperti yang didapatkan oleh orang lain. Namun, hal tersebut tidak bisa menjadi dasar kita <em>julid </em>ke orang yang memiliki <em>privilege</em>.</p>
<p>Tidak usah mengambil contoh rektor termuda di kampus di mana ayahnya menjadi pemegang saham terbesar, penulis akan mengambil contoh Maudy Ayunda.</p>
<p>Ketika ia mengalami <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">dilema kelas tinggi</a>, ada saja yang berpendapat ia bisa seperti itu karena berbagai <em>privilege </em>yang dimiliki. Ia lahir dari keluarga kaya, punya orangtua yang mendukungnya, hingga punya jenjang karir di dunia hiburan yang terbilang mulus.</p>
<p>Maudy memang memiliki banyak <em>privilege</em>. Lantas, salahnya di mana? Karena ia memamerkan kesuksesannya sehingga menimbulkan kecemburuan bagi yang tidak memiliki <em>privilege</em>? Penulis rasa tidak.</p>
<h3>Apa yang Salah dengan <em>Privilege</em>?</h3>
<p>Kesuksesan para pemegang <em>privilege </em>ini menurut penulis menjadi bukti bahwa mereka bisa memanfaatkan keistimewaan yang mereka dapatkan.</p>
<p>Banyak yang memiliki <em>privilege</em>, namun justru terjerumus ke jalan yang salah dan terlena dengan kefanaan yang dimiliki. Ada banyak contohnya, penulis tidak perlu menyebutkannya secara detail.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan <em>privilege</em>. Mencemburuinya pun tidak akan berpengaruh terhadap kehidupan kita, apalagi kalau kita sampai mencaci-maki orang-orang yang memiliki <em>privilege</em>.</p>
<p>Yang penulis khawatirkan, orang-orang sering menggunakan <em>privilege </em>orang lain sebagai pembenaran dirinya. Mereka merasa tidak akan bisa sesukses mereka yang memiliki <em>privilege </em>dan menyalahkan keadaan.</p>
<p>Padahal ada banyak contoh kesuksesan yang bisa diraih tanpa <em>privilege </em>sekalipun. Lantas, mengapa hanya mengambil contoh dari mereka yang punya <em>privilege</em>?</p>
<p>Dari yang penulis amati, kalau ada kesuksesan yang diraih oleh orang tanpa banyak <em>privilege</em>, komentar tidak akan terlalu ramai. Tapi jika ada yang sukses karena bantuan <em>privilege</em>, <strong><em>everybody loses their mind!</em></strong></p>
<p>Lagipula, kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain yang hanya kita kenal melalui media. Lantas, mengapa kita jadi <em>sotil</em> dan memberikan justifikasi seenak <em>udel</em>?</p>
<p>Pasti ada pertolongan dari sana sini, tapi semuanya tergantung kepada diri kita sendiri. Banyak faktor eksternal yang akan mempengaruhi kehidupan kita, tapi semuanya akan kembali ke diri kita sendiri.</p>
<p>Kalau memang memiliki <em>privilege</em>, ya disyukuri. Buktikan kalau kita tidak sekadar menumpang <em>privilege </em>tersebut, tapi memang bisa memanfaatkan <em>privilege </em>tersebut sebaik mungkin.</p>
<p>Yang salah itu jika kita sudah memanfaatkan <em>privilege</em>, lantas mengklaim kesuksesan karena kerja keras kita semata. Kalau seperti itu tentu saja membuat orang yang melihatnya jengkel.</p>
<p>Apalagi, kalau mereka berusaha menjadi motivator dan menutupi <em>privilege </em>yang selama ini mereka dapatkan. Bertambahlah kejengkelan tersebut. Sutradara &#8220;yang tembus Hollywood&#8221; menjadi buktinya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis merasa dirinya sebagai orang yang diberi banyak <em>privilege</em>. Penulis lahir dengan fisik yang sempurna, dibesarkan oleh keluarga yang luar biasa, memiliki lingkungan pergaulan yang baik, sampai bisa mengambil ilmu di sekolah negeri hingga jenjang universitas.</p>
<p>Penulis juga lahir dalam kondisi ekonomi yang cukup, meskipun ketika SMP hanya mendapatkan uang saku bulanan Rp60 ribu dan naik menjadi Rp165 ribu ketika SMA. Itu sudah termasuk uang bensin dan pulsa.</p>
<p>Penulis berkempatan untuk belajar di Kampung Inggris, berkesempatan untuk menjadi <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/"><em>volunteer </em>Asian Games</a>, memiliki keluarga yang bersedia menampung di Jakarta hingga mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan.</p>
<p>Hal tersebut membuat penulis merasa bertanggung jawab atas segala <em>privilege </em>yang telah diberikan tersebut. Penulis merasa berkewajiban untuk bisa memanfaatkannya sebaik mungkin, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain.</p>
<p><em>Pantas aja nulis gini, mong dirinya sendiri dapat privilege!</em></p>
<p>Mungkin ada pembaca yang berpendapat seperti itu, tidak apa-apa. Toh, ketika lahir kita tidak bisa memilih akan dilahirkan sebagai anak orang kaya, memiliki orangtua yang lengkap, lahir dengan agama apa, dan lain sebagainya.</p>
<p>Daripada mencari-cari <em>privilege </em>kesuksesan orang sehingga kita bisa beralasan tidak bisa seperti mereka, kenapa tidak kita ambil saja yang bisa kita pelajari? Kalau misalnya tidak ada, ya sudah abaikan saja.</p>
<p>Seandainya bisa, kita akan memilih untuk memiliki <em>privilege </em>bukan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 November 2019, terinspirasi dari banyaknya orang yang mencibir <em>privilege </em>yang dimiliki oleh orang lain</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Apa yang Salah dengan Privilege?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Twitter dan Tuntutan Kesempurnaannya</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Nov 2019 06:04:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>
		<category><![CDATA[SJW]]></category>
		<category><![CDATA[Social Juctice Warrior]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3011</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sempat lama tak terpakai, penulis kembali gemar bermain Twitter dalam 2 tahun terakhir. Kalau tidak salah, gara-gara banyaknya tweet Rocky Gerung yang bernada sarkas dan sedikit nakal. Semenjak itu, penulis pun lebih sering menghabiskan waktunya di Twitter dibandingkan Instagram yang membuat penulis sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Akan tetapi, akhir-akhir ini penulis merasa risau ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">Twitter dan Tuntutan Kesempurnaannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sempat lama tak terpakai, penulis kembali gemar bermain Twitter dalam 2 tahun terakhir. Kalau tidak salah, gara-gara banyaknya <em>tweet </em><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung</a> yang bernada sarkas dan sedikit nakal.</p>
<p>Semenjak itu, penulis pun lebih sering menghabiskan waktunya di Twitter dibandingkan Instagram yang membuat penulis sering membandingkan dirinya dengan orang lain.</p>
<p>Akan tetapi, akhir-akhir ini penulis merasa risau ketika bermain Twitter. Entah mengapa banyak pengguna media sosial berlogo burung ini seolah menuntut kita untuk selalu sempurna, sehingga tak ada ruang sedikitpun untuk kesalahan.</p>
<h3><em>Social Justice Warrior</em></h3>
<p>Dulu, penulis mengira istilah <em>Social Justice Warrior </em>atau sering disingkat SJW adalah orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan berusaha mengingatkan ke sebanyak mungkin orang lain tentang pentingnya menjaga lingkungan.</p>
<p>Ternyata, SJW bukan itu. Sesuai namanya, keadilan sosial adalah sesuatu yang mereka perjuangkan dan bela mati-matian melalui media sosial maupun aksi-aksi nyata.</p>
<p>Dari yang penulis perhatikan, banyak &#8220;SJW&#8221; yang bermain Twitter meskipun mereka tak pernah mendeklarasikan diri. Penulis menyimpulkan sendiri berdasarkan <em>tweet-tweet </em>yang mereka ketik sendiri. Jadi, bisa saja salah.</p>
<p>Biasanya, ketika ada sebuah <em>tweet </em>yang dianggap menyerang atau menyinggung orang atau kelompok tertentu (biasanya minoritas), <em>tweet </em>tersebut akan langsung dikeroyok para &#8220;SJW&#8221; dengan berbagai argumen.</p>
<h3>Masalah Sosial vs Masalah Agama</h3>
<p>Ketika ada orang-orang (terutama para <em>selebtweet </em>dengan jumlah pengikut yang tinggi) membuat ciutan yang menyangkut masalah sosial, mereka benar-benar tidak boleh membuat kesalahan.</p>
<p>Walaupun seandainya niat mereka baik, akan ada orang-orang yang melihat celah kesalahan pada cuitan tersebut. Tak jarang tudingan-tudingan seperti &#8220;tak peka&#8221;, &#8220;omdo doang&#8221;, atau &#8220;kamu tak tahu rasanya&#8221; akan muncul di kolom komentar.</p>
<p>Maka dari itu, jangan sampai menjadikan permasalahan sosial sebagai bahan bercanda. Netizen akan siap menghujat siapapun yang menjadikan <em>mental illness</em>, anak <em>broken home, </em>emansipasi wanita, dan lain sebagainya sebagai bahan <em>tweet </em>secara keliru.</p>
<p>Anehnya, setidaknya bagi penulis, ketika banyak yang menjadikan agama (semua jenis agama) sebagai bahan candaan di Twitter, mereka terlihat kalem-kalem saja dan malah ikut menertawakannya.</p>
<p>Penulis pun jadi bingung, ini penulis yang gagal paham atau memang ada sesuatu yang salah dengan kita. Apakah karena kita terbiasa dengan yang namanya standar ganda?</p>
<p>Menurut penulis, baik permasalahan sosial maupun agama tidak bisa dijadikan sebagai bahan bercanda. Karena itu, penulis tidak pernah suka dengan yang namanya <em>dark jokes.</em></p>
<h3>Tuntutan Untuk Sempurna</h3>
<p>Kemunculan orang-orang yang terlihat seperti &#8220;SJW&#8221; tersebut membuat kita merasa dituntut untuk menjadi manusia yang sempurna. Beberapa baris kata yang kita ketik seolah menjadi bukti yang cukup untuk menghakimi kita.</p>
<p>Seorang pengguna Twitter bernama <a href="https://twitter.com/edwardsuhadi">Edward Suhadi</a> (kalau tidak salah, ia pernah menjadi cameo di film <em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-1/">Kulari ke Pantai</a></em>) membuat <em>thread </em>yang mewakili perasaan penulis.</p>
<p>Menurutnya, sekarang ini menulis apapun di Twitter seolah selalu ketemu aja salahnya. Jika apes, sang pembuat <em>tweet </em>bisa dimaki-maki habisan oleh netizen.</p>
<p>Mencoba memberikan motivasi dianggap sebagai <em>toxic positivity</em>. Padahal, bisa jadi sang pembuat <em>tweet </em>sedang terlintas untuk membagikan semangat begitu saja. Mungkin, penggunaan kata atau kalimatnya saja yang kurang tepat.</p>
<p>Yang berbahaya, kita seolah bisa tahu dengan tepat apa maksud dari pembuat <em>tweet</em>. Kita bukan dukun, kita tak akan pernah tahu apa yang ada di pikiran mereka. Jadi, kenapa harus <em>sotil</em>?</p>
<p>Jika balasan komentar mengandung argumen yang membantah sih masih oke. Bagaimana dengan balasan yang hanya bersifat menyerang dan dibumbui dengan caci maki? Inilah yang lebih <em>toxic</em>.</p>
<p>Entah kenapa masyarakat sangat mudah <em>ngegas</em> dan tidak bisa hidup dengan lebih <em>santuy </em>di Twitter seperti dulu. Oh bisa ding, kalau yang dijadikan bahan candaan masalah agama. Kalau ada yang marah, berarti <em>close-minded </em>dan radikal. Kita ini memang lucu, kok.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ada yang bilang, Twitter menjadi seperti ini karena banyak pengguna Instagram yang pindah. Mereka tak paham &#8220;kultur&#8221; Twitter dan masih membawa &#8220;kultur&#8221; Instagram. Benarkah demikian? Entahlah, tak ada data yang mendukung.</p>
<p>Karena mulai jengah dengan Twitter, penulis jadi mulai beralih ke Pinterest atau benar-benar berhenti <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">bermain media sosial</a> untuk sementara waktu.</p>
<p>Biarlah penulis ketinggalan informasi, toh kita terkenal karena mudah melupakan suatu isu atau permasalahan. Kalaupun ada <em>thread </em>atau drama yang terjadi, paling dua minggu kemudian sudah lenyap ditelan waktu.</p>
<p>Penulis paham, para &#8220;SJW&#8221; ini pun mungkin berniat baik. Mereka ingin menjaga perasaan orang, terutama minoritas. Mereka ingin keadilan sosial yang merata untuk semua kalangan.</p>
<p>Hanya saja, rasanya kok semakin ke sini para &#8220;SJW&#8221; ini semakin berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Penulis jadi berpikiran kalau mereka lebih sentimen kepada siapa yang mengucapkannya, bukan apa yang diucapkannya.</p>
<p>Jika masyarakat terus-menerus menjadi hakim sosial yang menuntut kita untuk menjadi sempurna setidaknya di dunia maya, tentu akan menghasilkan lingkungan yang tidak nyaman bagi banyak orang.</p>
<p>Bukan tidak mungkin, orang-orang akan jadi takut beropini karena takut dihakimi oleh para &#8220;SJW&#8221; ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 9 November 2019, terinspirasi dari kegelisahan penulis ketika melihat linimasa Twitter.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@freestocks">freestocks.org</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">Twitter dan Tuntutan Kesempurnaannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terbelenggu Rasa Bersalah</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Sep 2019 10:47:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[menyesal]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2684</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang mudah khawatir bahwa dirinya berbuat salah. Melihat respon orang yang sedikit berbeda dari biasanya saja sudah membuat pikiran lari ke mana-mana. Akibatnya, penulis jadi mudah terbelenggu karena perasaan bersalah yang dimunculkan pada diri sendiri. Ujung-ujungnya, rasa bersalah tersebut bisa bermuara ke perasaan depresi. Ketika Penulis Berbuat Salah&#8230; Manusia adalah tempatnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu Rasa Bersalah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe <a href="https://whathefan.com/karakter/berhenti-khawatir/">orang yang mudah khawatir</a> bahwa dirinya berbuat salah. Melihat respon orang yang sedikit berbeda dari biasanya saja sudah membuat pikiran lari ke mana-mana.</p>
<p>Akibatnya, penulis jadi mudah terbelenggu karena perasaan bersalah yang dimunculkan pada diri sendiri. Ujung-ujungnya, rasa bersalah tersebut bisa bermuara ke perasaan depresi.</p>
<h3>Ketika Penulis Berbuat Salah&#8230;</h3>
<p>Manusia adalah tempatnya salah, sehingga wajar jika manusia melakukan kesalahan. Walaupun penulis menyadari hal tersebut, kenyataannya tetap saja sering merutuki diri sendiri ketika melakukan kesalahan.</p>
<p>Contoh, ketika tanpa sengaja melukai perasaan orang lain dengan kata-kata yang menusuk. Yang akan penulis lakukan adalah terus menerus meminta maaf, kadang secara berlebihan, kepada yang bersangkutan.</p>
<p>Akibat berkali-kali meminta maaf, pada akhirnya orang yang bersangkutan pun akan menjadi jengkel ke kita. Perasaan marah yang sebelumnya tidak seberapa akhirnya jadi bertambah.</p>
<p>Tidak cukup hanya di situ. Meskipun sudah dimaafkan, penulis akan tetap terbebani karena merasa yang memberi maaf tidak sepenuhnya memberi maaf. Ada saja pikiran-pikiran tambahan yang datang dan menambah rasa bersalah.</p>
<p>Frustasi karena itu, penulis pun memaki diri sendiri karena sudah berbuat bodoh. Penulis melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mengubah keadaan, baik bagi penulis sendiri maupun orang yang telah disakiti.</p>
<p>Hal ini bisa terjadi karena munculnya perasaan menyesal yang begitu mendalam, penyesalan yang sebenarnya tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi.</p>
<h3>Yang Seharusnya Dilakukan</h3>
<p>Ketika kita sudah berbuat salah, tentu yang harus kita lakukan adalah meminta maaf. Perkara dimaafkan atau tidak, sebenarnya tidak perlu kita risaukan. Yang penting, kita sudah mengakui kesalahan dan berani meminta maaf.</p>
<p>Kita tidak perlu tersiksa karena perasaan bersalah tersebut. Lebih baik, kita melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk mengusir rasa bersalah tersebut.</p>
<p>Kalau memang hubungan kita dengan yang bersangkutan cukup dekat, mungkin kita bisa menjelaskan alasan mengapa kita sampai berbuat seperti itu.</p>
<p>Tak perlu merasa malu apabila kita harus mengucapkan kalimat seperti <em>maaf, aku seperti itu karena aku butuh kamu</em>. Asal tidak berlebihan, penulis rasa orang tersebut akan mau mendengarkan kita.</p>
<p>Selain itu, seharusnya penulis bisa menjadikan kesalahan tersebut sebagai momen untuk berubah menjadi lebih baik. Penulis juga akan mencari akar penyebabnya sehingga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.</p>
<p>Penulis selalu percaya, semua peristiwa pasti memiliki hikmahnya, termasuk ketika kita berbuat kesalahan. Jawabannya akan bisa kita temukan dengan melakukan perenungan atau <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">kontemplasi</a>.</p>
<h3>Memaafkan Diri Sendiri</h3>
<p>Terbelenggu oleh rasa bersalah yang dimiliki itu sangat tidak mengenakan. Kita seharusnya tidak perlu terlalu keras terhadap diri sendiri. Membuat kesalahan itu benar-benar hal yang wajar bagi manusia.</p>
<p>Salah satu hal yang membuat kita merasa berat ketika berbuat kesalahan kepada orang lain adalah karena kita susah untuk memaafkan diri sendiri. Entah mengapa, rasanya memaafkan orang lain jauh lebih mudah, setidaknya bagi penulis.</p>
<p>Padahal, dengan memaafkan diri sendiri, kita bisa lebih mudah melepaskan rasa bersalah yang sudah kita buat sendiri. Kita akan berdamai dengan diri kita sendiri tanpa perlu lagi merutuki kebodohan yang telah diperbuat.</p>
<p>Berlarut-larut dalam perasaan bersalah tidak akan memberikan dampak positif bagi siapapun. Maka dari itu, penulis berjanji kepada diri sendiri agar tidak mudah terbelenggu lagi oleh perasaan bersalah di masa depan. Semoga para pembaca pun seperti itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melawai, 15 September 2019, terinspirasi setelah melakukan kesalahan tolol yang sama berkali-kali</p>
<p>Foto: <a href="https://optimalpositivity.com/wp-content/uploads/2018/11/6-Behaviors-that-Push-People-Away-And-How-to-Reverse-Them-970x475.jpg">Optimal Positivity</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu Rasa Bersalah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apapun yang Mereka Lakukan, Salah</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/apapun-yang-mereka-lakukan-salah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jul 2019 16:13:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Basuki Tjahaja Purnama]]></category>
		<category><![CDATA[benci]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[obyektif]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2562</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun kadang merasa muak, penulis masih mengikuti perkembangan politik di tanah air. Penulis tidak ingin menjadi seorang apatis yang benar-benar tidak peduli dengan kondisi bangsanya. Yang sedang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini adalah gubernur Jakarta, Anies Baswedan. Berbagai tindak-tanduknya akhir-akhir ini benar-benar disorot oleh media. Karena berita seputar pilpres telah basi? Bisa jadi. Mulai dari dibongkarnya karya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/apapun-yang-mereka-lakukan-salah/">Apapun yang Mereka Lakukan, Salah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun kadang merasa muak, penulis masih mengikuti perkembangan politik di tanah air. Penulis tidak ingin <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">menjadi seorang apatis</a> yang benar-benar tidak peduli dengan kondisi bangsanya.</p>
<p>Yang sedang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini adalah gubernur Jakarta, <strong>Anies Baswedan</strong>. Berbagai tindak-tanduknya akhir-akhir ini benar-benar disorot oleh media. Karena berita seputar pilpres telah basi? Bisa jadi.</p>
<p>Mulai dari dibongkarnya karya seni bambu, seringnya kunjungan ke luar negeri, hingga pemberian lidah buaya untuk penanganan polusi benar-benar jadi sasaran empuk bagi orang-orang yang kurang menyukainya.</p>
<p>Penulis di sini tidak berada di posisi membela beliau, meskipun penulis sudah membaca hampir semua klarifikasinya dari berbagai sumber. Penulis ingin menekankan kepada sikap netizen yang <strong><em>apapun yang ia lakukan, salah</em></strong>.</p>
<h3>Selalu Salah</h3>
<p><div id="attachment_2566" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2566" class="size-large wp-image-2566" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2566" class="wp-caption-text">Anies dan Jokowi (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.medcom.id/nasional/metro/MkMMeeRk-anies-dapat-dukungan-jokowi-soal-bukit-duri" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwijzoi6tcvjAhXUdCsKHevdAOAQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Medcom.id</span></a>)</p></div></p>
<p>Hal yang sama juga pernah (dan masih) terjadi pada presiden terpilih untuk periode 2019-2024, <strong>Joko Widodo </strong>(Jokowi). Beliau juga mengalami hal yang sama, terutama ketika masa pemilihan presiden sedang panas-panasnya.</p>
<p>Bagi orang yang tidak mendukung kedua orang tersebut (secara otomatis, mendukung lawan politik mereka), kesalahan apapun yang dilakukan oleh mereka adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan.</p>
<p>Biasanya, ketika sedang mencaci di kolom komentar media sosial, mereka akan mengiringi komentar mereka dengan hinaan yang sama sekali tidak konstektual.</p>
<p>Misalnya, Anies disebut sebagai gubernur terpilih yang bisa menang dengan jualan ayat dan mayat. Jokowi terkadang bisa lebih parah lagi caci makinya, walaupun akhir-akhir ini tidak ada yang berani karena banyaknya orang yang telah tertangkap.</p>
<p>Sebaliknya, ketika yang bersangkutan mendapatkan penghargaan, para pembenci ini bungkam seolah-olah pura-pura tidak tahu. Mungkin mereka juga terlalu malas untuk mencari tahu, karena untuk apa mencari prestasi orang yang dibenci?</p>
<p>Yang paling gregetan adalah ketika muncul pertanyaan <em>emang si ono prestasinya apa selama ini</em>? Astaga, sekarang internet ada di mana-mana, hal seperti itu dapat dicari secara cepat! Kita saja yang terlalu <em>mager </em>untuk melakukannya.</p>
<p>Hal ini bisa terjadi karena terlalu kuatnya <a href="https://whathefan.com/politik/akar-fanatisme-membabi-buta/">fanatisme membabi buta</a> di masyarakat. Ini tidak sehat untuk iklim demokrasi kita. Sebagai rakyat, kita seharusnya bisa memandang <a href="https://whathefan.com/politik/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/">segala sesuatu dengan obyektif</a>. Penulis mengakui, hal tersebut susah luar biasa.</p>
<h3>Selalu Dibandingkan</h3>
<p><div id="attachment_2564" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2564" class="size-large wp-image-2564" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2564" class="wp-caption-text">Anies dan Ahok (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwjjz97ktcvjAhWNA3IKHakTBtIQjB16BAgBEAQ&amp;url=https%3A%2F%2Fberitagar.id%2Fartikel%2Fberita%2Fkacamata-media-internasional-lihat-kejayaan-anies-sandi&amp;psig=AOvVaw1dSi7yC8JLzrkvrZkaUJZo&amp;ust=1563984307258639" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjjz97ktcvjAhWNA3IKHakTBtIQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Beritagar</span></a>)</p></div></p>
<p>Hal lain yang tak kalah meresahkan adalah adanya pembandingan antara pemimpin yang sekarang dibandingkan dengan periode sebelumnya. Mungkin Jokowi tidak terlalu terlihat, namun penulis merasakan Anies menerimanya secara deras.</p>
<p>Sebenarnya hal ini wajar mengingat gubernur sebelum Anies, <strong>Basuki Tjahaja Purnama </strong>(BTP), merupakan salah satu <em>public darling </em>sebelum terkena kasus penistaan agama.</p>
<p>Meskipun umpatan kasar sering keluar dari mulutnya, BTP bagi sebagian orang dianggap mampu memimpin Jakarta dengan lebih baik. Hasilnya, apapaun yang dikerjakan oleh Anies akan selalu dibandingkan dengan kerja BTP.</p>
<p>Sebenarnya, kita pun akan merasa risih bukan jika terus dibanding-bandingkan dengan orang lain? Akan tetapi, itulah risiko menjadi seorang <em>public figure</em>, apalagi seorang pemimpin daerah.</p>
<p>Tentu Anies punya karakter, sikap, dan kebijaksanaan yang berbeda dari gubernur sebelumnya. Mungkin ada yang puas, ada juga yang merasa Jakarta sedang mengalami kemunduran. Mana yang benar, penulis serahkan ke pembaca sekalian.</p>
<h3>Tidak Ada yang Sempurna</h3>
<p>Penulis berkali-kali menuliskan tentang kegelisahan tentang bagaimana para pendukung ini menatap idolanya sebagai sesuatu yang sempurna. Padahal, tidak ada manusia yang sempurna.</p>
<p>Jokowi dan Anies tentu pernah melakukan kesalahan-kesalahan. Mereka bukan manusia suci yang bisa lolos dari kesalahan. Jadi, ketika mereka melakukan hal yang kita anggap salah, menghina secara berlebihan juga tidak berdampak apa-apa.</p>
<p>Sebaliknya, jika mereka memang berhasil membuat prestasi, jangan segan untuk memberikan pujian. Tentu, dengan tidak berlebihan juga. Kita menuntut media agar berimbang, kita pun harus melakukan hal yang sama.</p>
<p>Bicara tentang media, mereka punya peranan besar dalam masalah ini. Sebagai wadah informasi, media dituntut agar bisa menyampaikan berita secara berimbang. Jangan sampai berat sebelah hingga menyudutkan salah satu pihak.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Membuat masyarakat bisa menilai segala sesuatu dengan obyektif seperti harapan penulis adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Penulis tidak memiliki kemampuan yang bisa meyakinkan massa dengan jumlah masif.</p>
<p>Akan tetapi, tidak berarti penulis berputus asa. Walaupun tidak bisa mengendalikan opini publik, setidaknya penulis menuliskan ajakan untuk melakukan hal tersebut. Hanya ini yang penulis mampu lakukan sebagai warga negara.</p>
<p>Jika memang ada kebijakan yang dirasa kurang tepat bahkan menyengsarakan banyak orang, sampaikan dengan baik. Jika ingin menuntut, aspirasikan sesuai dengan ketentuan hukum. Jangan hanya marah-marah di kolom komentar, tidak menyelesaikan apapun.</p>
<p>Ke depannya, penulis berharap <a href="https://whathefan.com/politik/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/">kedewasaan berpolitik masyarakat Indonesia</a> bisa lebih berkembang dan lebih baik lagi. Jangan sampai kebencian membuat kita buta terhadap kebaikan seseorang, lebih-lebih kepada pemimpin yang terpilih secara konstitusional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 23 Juli 2019, terinspirasi setelah membaca beberapa berita politik yang sedang hangat</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.kompasiana.com/ajun/5ceb95c23ba7f74cd6268194/jokowi-sedang-menyindir-anies-baswedan" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjXw9_ercvjAhXLwI8KHSUQD54QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Kompasiana.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/apapun-yang-mereka-lakukan-salah/">Apapun yang Mereka Lakukan, Salah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
