<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>self-improvement Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/self-improvement/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/self-improvement/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Apr 2026 13:54:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>self-improvement Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/self-improvement/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 13:54:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Mel Robbins]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8598</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan. Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah &#8220;The Let Them Theory&#8221; untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.</p>



<p>Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul <em>The Let Them Theory </em>karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.</p>



<p>Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.</p>



<p><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.</mark></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/untuk-apa-main-game-banner.jpg 1280w " alt="Untuk Apa Main Game?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">Untuk Apa Main Game?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Let Them Theory</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>The Let Them Theory</em></li>



<li>Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-3</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2026</li>



<li>Tebal: 328 halaman</li>



<li>ISBN: 625221049</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku The Let Them Theory</h2>



<p>Inti dari buku <em>The Let Them Theory</em> sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; kepada diri sendiri.</p>



<p>Selama ini, jangan-jangan kita menaruh &#8220;kekuasaan&#8221; tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.</p>



<p>Meskipun judulnya <strong>&#8220;Let Them&#8221;</strong> atau<strong> &#8220;Biarkan Mereka&#8221;</strong>, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni <strong>&#8220;Let Me&#8221;</strong> atau <strong>&#8220;Biarkan Aku&#8221;</strong>.</p>



<p>Jadi, selain &#8220;Biarkan Mereka&#8221; yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang &#8220;Biarkan Aku&#8221; yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni <strong>Teori Biarkan Saja</strong>, <strong>Kau dan Teori Biarkan Saja</strong>, dan <strong>Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja</strong>. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.</p>



<p>Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.</p>



<p>Ada empat bab utama di bagian ini, yakni <strong>Mengelola Stres</strong>,<strong> Takut akan Pendapat Orang Lain</strong>, <strong>Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain</strong>, dan <strong>Mengatasi Perbandingan Kronis</strong>.</p>



<p>Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.</p>



<p>Bagian ini juga ada empat bab, yakni <strong>Memahami Pertemanan Orang Dewasa</strong>, <strong>Memotivasi Orang Lain untuk Berubah</strong>, <strong>Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan</strong>, dan<strong> Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Let Them Theory</h2>



<p><em>The Let Them Theory </em>adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya &#8220;varian&#8221; dari konsep <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Dikotomi Kendali dari stoikisme.</a></p>



<p>Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan <strong>buku yang tepat di waktu yang tepat</strong>. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa <em>related</em> dengan dirinya.</p>



<p>Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, &#8220;Iya, ya?&#8221; ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Menolong Orang Lain</h3>



<p>Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah <strong>&#8220;Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan&#8221;</strong>. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung <em>extra effort</em> untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.</p>



<p>Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.</p>



<p>Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering <em>overthinking </em>bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).</p>



<p>Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, <strong>biarkan saja mereka melewati masalahnya</strong>. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.</p>



<p>Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Fokus ke Diri Sendiri</h3>



<p>Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana <strong>Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri</strong>, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain</p>



<p>Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-punya-logo-baru-di-tahun-2026-ini/">Perubahan logo whatheFAN</a> pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perkara Perbandingan Kronis</h3>



<p>Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian <strong>&#8220;Mengatasi Perbandingan Kronis&#8221;</strong>. Penulis yang pada dasarnya punya <em>low esteem</em> kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.</p>



<p>Penulis sering merasa kalau &#8220;kemenangan&#8221; orang lain berarti &#8220;kekalahan&#8221; kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena &#8220;kemenangan&#8221; orang lain ya &#8220;kemenangan&#8221; mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita &#8220;kalah&#8221;.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kekurangan Buku Ini</h3>



<p>Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku <em>self-help </em>yang merasa punya satu teori hebat, <strong>buku ini juga cenderung repetitif</strong>. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya &#8220;ini lagi ini lagi&#8221;.</p>



<p>Selain itu,<strong> isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar</strong>. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.</p>



<p>Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.</p>



<p>Walau mengandung kata &#8220;teori&#8221; di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah <strong>memperumit &#8220;teori&#8221; sederhana yang ingin dijelaskan</strong>.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagi Penulis, <em>The Let Them Theory </em>adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan &#8220;pencerahan&#8221; ketika membaca isinya.</p>



<p>Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas <em>mood </em>kita sendiri, dan lain sebagainya.</p>



<p>Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.</p>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor:<strong> 8/10</strong></mark></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca <em>The Let Them Theory</em> karya Mel Robbins</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/">[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-let-them-theory/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 15:34:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8497</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar Abigail Limuria dan Cania Citta, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif. Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul Makanya, Mikir!, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara launching buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum! Ekspektasi Penulis ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/">[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar <strong>Abigail Limuria</strong> dan <strong>Cania Citta</strong>, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif.</p>



<p>Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul <em><strong>Makanya, Mikir!</strong></em>, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara <em>launching</em> buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum!</p>



<p>Ekspektasi Penulis ketika membeli buku ini adalah Penulis jadi mengetahui bagaimana kerangka berpikir yang benar. Jangan-jangan, ada yang salah dari cara Penulis berpikir selama ini.</p>



<p>Apakah ekspektasi ini tercapai? Sayangnya tidak.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/musim-baru-pemain-baru-mu-lama-banner.jpg 1200w " alt="Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/musim-baru-pemain-baru-mu-nya-masih-sama/">Musim Baru, Pemain Baru, MU-nya Masih Sama</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Makanya, Mikir!</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Makanya, Mikir!</em></li>



<li>Penulis: Abigail Limuria dan Cania Citta</li>



<li>Penerbit: </li>



<li>Cetakan: Ke-7</li>



<li>Tanggal Terbit: September 2025</li>



<li>Tebal: 290 halaman</li>



<li>ISBN: 9786238944026</li>



<li>Harga: Rp138.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Makanya, Mikir!</h2>



<p>Berdasarkan sinopsis yang terletak di bagian belakang, buku ini berusaha untuk memberikan berbagai kerangka berpikir (<em>mental models</em>) beserta studi kasusnya. Ini selaras dengan judulnya, yang mengajak kita untuk berpikir.</p>



<p>Sebenarnya bukan berarti kedua penulis buku ini menuduh kita tidak pernah berpikir. Bisa saja selama ini kita berpikir, tapi tidak berpikir dengan benar. Nah, buku ini berusaha memberi <em>insight </em>mengenai bagaimana berpikir yang benar.</p>



<p>Ada total delapan bab di buku ini, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Peta Realitas dan Cara Menentukan Tujuan Hidup</li>



<li>Kerangka Berpikir Dua Ranah: Pentingnya Membedakan Realitas dan Preferensi</li>



<li>Pola Pikir Ilmiah: Yang Pede dan Ngotot Belum Tentu yang Pintar</li>



<li>Bagaimana Menentukan Cost dan Benefit: Kenalan dengan Objective-Oriented Principle</li>



<li>Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan</li>



<li>Menentukan Prioritas: Sumber Daya Terbatas, Mana yang Harus Diutamakan?</li>



<li>Kecerdasan Sosial: Buat Apa Pintar Kalau Nyebelin</li>
</ol>



<p>Di bab-bab tersebut, ada banyak sekali teori berpikir yang akan kita pelajari, walau memang bisa dibilang hanya di permukaan saja. Semuanya dipaparkan dengan bahasa sederhana yang tidak membuat kita kebingungan.</p>



<p>Beberapa hal yang dijabarkan di buku ini adalah bagaimana menentukan tujuan hidup, perbedaan ranah realitas dan preferensi (yang kerap menjadi sumber utama polarisasi), konsep Cost-Benefit Analysis (CBA) yang membantu kita membuat keputusan dan prioritas, bias berpikir, dan lain sebagainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Makanya, Mikir!</h2>



<p>Dua nama yang menulis buku ini adalah orang-orang yang Penulis anggap cerdas, sehingga ada ekspektasi tinggi ketika membaca buku ini. Jika membaca buku <em>self-improvement </em>dari Barat, biasanya Penulis tidak mengenal siapa penulisnya.</p>



<p>Nah, Penulis membutuhkan waktu yang relatif cukup singkat untuk menyelesaikan buku ini. Apakah itu tanda kalau buku ini begitu menarik? Sayangnya bukan, karena <strong>memang isinya yang bagi Penulis relatif sedikit</strong>.</p>



<p>Dengan harga yang relatif cukup mahal (hampir Rp140 ribu), sayang isi buku ini bisa dibilang <strong>terasa hanya permukaan saja</strong>. Sebenarnya wajar, karena buku ini <em>full color </em>dan memiliki banyak sekali gambar, yang terkadang memakan hampir dua halaman penuh.</p>



<p>Memang, dalam <em>podcast </em>bersama Raditya Dika, Abigail Limuria mengatakan bahwa buku ini memang berusaha tidak mengintimidasi pembacanya dengan buku yang <em>full </em>dengan tulisan. (FYI, Radit yang pernah punya percetakan juga terlihat kaget dengan harganya yang cukup mahal).</p>



<p>Jika memang target pasarnya adalah pembaca baru atau yang baru ingin membangun kebiasaan pembaca, maka keputusan tersebut tepat. Hanya saja, bagi Penulis yang memang dari dulu hobinya membaca, Penulis merasa sedikit rugi telah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk isi yang &#8220;hanya&#8221; segini.</p>



<p>Penulis adalah tipe <em>reviewer </em>buku yang menilai buku berdasarkan dampak yang diberikan oleh buku tersebut dan membandingkan dengan &#8220;investasi&#8221; yang Penulis keluarkan untuk membeli buku tersebut. Jujur saja, ini adalah <strong>&#8220;investasi&#8221; yang kurang <em>worth i</em></strong><em>t</em>.</p>



<p>Tentu ada banyak <em>insight-insight </em>menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama bagian CBT yang pernah Penulis praktekkan. Hanya saya, ya kembali lagi, rasanya kurang sepadan dengan uang yang sudah dikeluarkan.</p>



<p>Gaya penulisannya yang <strong>seperti mendengarkan teman <em>yapping </em></strong>juga menjadi salah satu kelebihan buku ini, terutama untuk pembaca pemula. Setiap poin yang ingin dibahas berusaha dijabarkan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.</p>



<p>Seperti yang sudah disebutkan di atas, buku ini juga selalu memberikan studi kasus agar kita lebih paham lagi. Hanya saja, terkadang Penulis merasa <strong>studi kasus yang diberikan terlalu banyak dan berulang-ulang</strong>.</p>



<p>Buku ini mungkin cocok bagi banyak orang, apalagi di Indonesia yang tingkat literasinya cukup rendah. Namun, bagi orang yang memang sudah lama hobi membaca seperti Penulis, buku ini akan terasa kurang &#8220;daging&#8221;.</p>



<p>Skor: <strong>6/10</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 26 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Makanya, Mikir!</em> karya Abigail Limuria dan Cania Citta</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/">[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-makanya-mikir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2025 14:59:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8434</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre self-improvement. Bukan karena merasa self-nya sudah improve, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik. Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku self-improvement seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre <em>self-improvement</em>. Bukan karena merasa <em>self</em>-nya sudah <em>improve</em>, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik.</p>



<p>Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku <em>self-improvement </em>seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah dengan membaca judulnya saja, Penulis sudah bisa membayangkan isinya.</p>



<p>Nah, beda cerita ketika Penulis menemukan buku berjudul <em>Effortless </em>dari Greg McKeown ini. Ketika membaca sinopsis yang cukup panjang di bagian belakang buku, Penulis merasa ini adalah buku yang dibutuhkan saat ini. Untunglah, hal tersebut benar adanya. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/akhirnya-buka-puasa-gelar-banner.jpg 1280w " alt="Akhirnya Buka Puasa (Gelar)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/akhirnya-buka-puasa-gelar/">Akhirnya Buka Puasa (Gelar)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Effortless</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Effortless: Karena Tak Semua Harus Sesulit Itu</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-6</li>



<li>Tanggal Terbit: Juli 2025</li>



<li>Tebal: 320 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020658780</li>



<li>Harga: Rp98.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Effortless</h2>



<p><em>Apakah Anda pernah merasa seperti:</em></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><em>Berada tepat di tepi jurang lelah fisik dan mental?</em></li>



<li><em>Ingin berkontribusi lebih besar, tetapi kehabisan energi?</em></li>



<li><em>Sudah berlari lebih kencang tetapi tidak maju lebih dekat ke sasaran?</em></li>



<li><em>Segalanya terasa jauh lebih sulit daripada biasanya?</em></li>
</ul>



<p><em>Kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa jalan menuju sukses adalah jalan dengan kerja yang terus-menerus. Bahwa kalau ingin pencapaian tinggi, kita harus memaksa diri, terus memutar otak, dan berusaha sampai lewat batas. Jadi, kalau kita belum terkapar kelelahan, artinya usaha kita belum memadai.</em></p>



<p><em>Namun belakangan ini, kerja keras lebih menguras tenaga daripada sebelumnya. Dan makin berkurang energi kita, makin sulit kita meraih kemajuan. Terjebak di sebuah lingkaran setan “Zoom, eat, sleep, repeat,” kita sering bekerja dua kali lebih keras tetapi meraih hasil paling banyak setengah dari biasanya.</em></p>



<p><em>Untuk berada paling depan kita tidak harus mengerjakan sesuatu yang sulit. Apa pun tantangan atau rintangan yang kita hadapi, ada sebuah jalan yang lebih baik: alih-alih memaksa diri lebih keras, kita dapat menemukan jalan yang lebih mudah.</em></p>



<p><em>Effortless menawarkan saran yang dapat diterapkan untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan esensial dengan cara-cara paling mudah, agar anda bisa meraih hasil-hasil yang diinginkan, tanpa mengalami lelah fisik dan mental.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Effortless</h2>



<p>Dari sinopsis yang cukup detail di atas (bahkan aslinya lebih panjang dari itu), kita sudah mendapatkan gambaran apa yang akan dibahas oleh buku ini. Singkatnya, buku ini mengajarkan beberapa cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih efektif.</p>



<p>Sebenarnya buku ini seperti sekuel untuk buku McKeown yang lain, <em>Essential</em>, yang sayangnya belum Penulis baca. Apalagi, di buku ini beberapa kali menyinggung buku tersebut. Walau begitu, kita tidak perlu membaca buku tersebut untuk bisa memahami buku ini.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian, di mana masing-masing akan di-<em>breakdown </em>menjadi lima subbab. Berikut adalah daftarnya:</p>



<p><strong>Bagian I: Keadaan Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat  berfokus lebih mudah</em>?)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dibalik: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Mudah?</li>



<li>Dinikmati: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Menyenangkan?</li>



<li>Dibebaskan: Dahsyatnmya Kesediaan Membebaskan</li>



<li>Diistirahatkan: Seni dalam Tidak Berbuat Apa pun</li>



<li>Diperhatikan: Bagaimana Melihat dengan Jelas</li>
</ol>



<p>Apa yang dimaksud Keadaan Tanpa Kesulitan adalah mengenai kondisi diri kita sendiri sebelum melakukan sesuatu. Ini adalah awal yang baik agar kita bisa lebih fokus dalam mengerjakan berbagai hal. </p>



<p><strong>Bagian II: Aksi Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat pekerjaan esensial lebih mudah?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Didefinisikan: Seperti Apa yang Disebut &#8220;Selesai&#8221;?</li>



<li>Dimulai: Aksi Nyata Pertama</li>



<li>Disederhanakan: Dimulai dari Nol</li>



<li>Kemajuan: Berani Tampil Buruk Rupa</li>



<li>Irama: Lambat Itu Mulus, Mulus Itu Cepat</li>
</ol>



<p>Setelah keadaan kita berada di kondisi yang lebih baik, maka selanjutnya adalah memahami Aksi Tanpa Kesulitan. Bagian II bisa dibilang adalah inti dari buku ini, di mana kita diberi beberapa langkah praktis agar sesuatu bisa selesai secara efektif. </p>



<p><strong>Bagian 3: Hasil Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimnana kita mendapat hasil tertinggi dengan usaha paling sedikit?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dipelajari: Memanfaatkan Hal Terbaik yang Sudah Diketahui Orang Lain</li>



<li>Ditingkatkan: Memanfaatkan Kekuatan Sepuluh Orang</li>



<li>Diotomatiskan: Mengerjakan Satu Kali Saja dan Selanjutnya Otomatis</li>



<li>Dipercaya: Tim dengan Mesin Berefek Tuas Tinggi</li>



<li>Dicegah: Memecahkan Masalah sebelum Muncul</li>
</ol>



<p>Setelah memperbaiki diri sendiri dan mengoptimalkan tindakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, selanjutnya adalah Hasil Tanpa Kesulitan. Bab ini menjelaskan cara untuk meningkatkan hasil yang diinginkan dengan upaya seminim mungkin.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Effortless</h2>



<p>Buku bergenre self-improvement akan Penulis anggap bagus apabila ada banyak hal praktis yang bisa dilakukan saat ini juga. Itulah mengapa Penulis memberi nilai yang cukup tinggi ke buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a></em>. Nah, <em>Effortless </em>ini juga mendapatkan apresiasi yang sama.</p>



<p>Di bagian pertama, kita akan diajak untuk mengelola kembali isi pikiran dan menyingkirkan hal-hal yang tidak esensial, mengelola emosi, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, bagian ini lebih terasa sebagai buku <em>self-love</em>. Semua berawal dari diri kita sendiri.</p>



<p>Hal paling praktis bisa ditemukan di bagian kedua, di mana ada banyak sekali hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk bisa membuat suatu aktivitas atau pekerjan terasa lebih mudah. Mungkin tidak banyak hal baru, tapi tetap saja tips yang diberikan sangat mudah dipraktekkan.</p>



<p>Selanjutnya di bab terakhir akan membahas mengenai beberapa tips untuk meningkatkan hasil setelah melakukan apa yang sudah dijelaskan di dua bab sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah membuat sistem, otomatisasi, hingga delegasi.</p>



<p>Jika dirangkum, buku ini memang konsisten dengan judulnya, di mana setiap aktivitas yang kita lakukan (terutama yang esensial) bisa dikerjakan dengan <em>effortless</em>. Bukan cuma kerja keras, tapi juga kerja cerdas. </p>



<p>Selain itu, gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan tidak menggurui, sehingga kita yang membacanya pun jadi merasa <em>effortless </em>untuk memahami isi buku. Kita tidak perlu memeras otak untuk bisa memahami langkah-langkah yang ditawarkan oleh buku ini. Apalagi, ada banyak <em>study case </em>yang membuat kita lebih memahami isi buku.</p>



<p>Apa yang paling Penulis suka dari buku ini adalah adanya ringkasan di setiap akhir subbab, di mana makin ke belakang ringkasan ini makin lengkap. Ini sangat membantu kita untuk tetap mengingat apa saja yang sudah kita pelajari dari buku ini. </p>



<p>Sentuhan kecil yang juga menarik dari buku ini adalah beberapa <em>quote </em>paling penting akan di-<em>highlight</em> dengan dibesarkan dan ditebalkan. Selain itu, ada juga beberapa ilustrasi yang membantu kita lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya.</p>



<p>Buku ini Penulis rekomendasikan bagi siapapun yang kerap merasa <em>burnout </em>dengan pekerjaannya, sering merasa lelah secara mental, merasa pola hidupnya berantakan, dan berbagai permasalahan internal lainnya. Tentu, mempraktekkan isi bukunya menjadi hal paling penting.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 3 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca <em>Effortless </em>karya Greg McKeown</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Buku Seni Menyederhanakan Hidup</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-buku-seni-menyederhanakan-hidup/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-buku-seni-menyederhanakan-hidup/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Sep 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup tenang]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Zen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7857</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang mudah overthinking, wajar jika Penulis gemar membaca buku-buku yang bisa membantu dirinya mengatasi hal tersebut. Salah satu pola pikir adalah bagaimana dirinya bisa menyederhanakan pikirannya sendiri agar tidak menjadi terlalu rumit. Dengan alasan tersebut, ketika Penulis menemukan buku berjudul Seni Menyederhanakan Hidup karya Shunmyo Masuno, Penulis langsung tertarik membelinya. Padahal, waktu itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-buku-seni-menyederhanakan-hidup/">[REVIEW] Setelah Membaca Buku Seni Menyederhanakan Hidup</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebagai orang yang mudah <em>overthinking</em>, wajar jika Penulis gemar membaca buku-buku yang bisa membantu dirinya mengatasi hal tersebut. Salah satu pola pikir adalah bagaimana dirinya bisa menyederhanakan pikirannya sendiri agar tidak menjadi terlalu rumit.</p>



<p>Dengan alasan tersebut, ketika Penulis menemukan buku berjudul <em><strong>Seni Menyederhanakan Hidup</strong></em> karya <strong>Shunmyo Masuno</strong>, Penulis langsung tertarik membelinya. Padahal, waktu itu di toko buku tidak ada <em>sample</em> buku yang terbuka untuk mengetahui seperti apa isinya.</p>



<p>Walau begitu, Penulis pada akhirnya tetap memutuskan untuk membeli buku tersebut walau kesannya seperti membeli kucing dalam karung. Alasannya, buku ini cukup tipis dan murah sehingga rasanya <em>nothing to lose </em>saja. Sayang, ternyata Penulis salah.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner.jpg 1200w " alt="Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kado-manis-untuk-kroos-kado-pahit-untuk-reus/">Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Seni Menyederhanakan Hidup</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Seni Menyederhanakan Hidup</em></li>



<li>Penulis: Shunmyo Masuno</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Cetakan Keempat</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2024</li>



<li>Tebal: 224 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020631950</li>



<li>Harga: Rp69.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsi Buku Seni Menyederhanakan Hidup</h2>



<p><em>DENGAN PELAJARAN YANG JELAS, PRAKTIS, DAN MUDAH DITERAPKAN, SHUNMYO MASUNO MEMANFAATKAN KEBIJAKAN YANG TELAH BERUSIA BERABAD-ABAD UNTUK MENGAJARI KITA MENYEDERHANAKAN HIDUP DAN MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DI TENGAH PUSARAN DUNIA MODERN. </em></p>



<p><em>Cari Tahu mengapa…. </em></p>



<p><em>Bangun lima belas menit lebih awal di pagi hari dapat membuat kita merasa tidak terlalu sibuk </em></p>



<p><em>Menjejerkan sepatu dengan rapi setelah melepasnya dapat menjadikan pikiran kita teratur </em></p>



<p><em>Mengatupkan kedua tangan dapat meredakan rasa tersakiti dan konflik </em></p>



<p><em>Meletakkan sendok garpu setelah menelan makanan dapat membantu kita merasa lebih bersyukur atas apa yang kita miliki </em></p>



<p><em>Menanam bunga dan menyaksikannya tumbuh dapat mengajari kita untuk menerima perubahan </em></p>



<p><em>Menyaksikan matahari terbenam bisa membuat setiap hari terasa seperti perayaan </em></p>



<p><em>Dengan melakukannya setiap hari, kita akan belajar menemukan kebahagiaan bukan dengan mencari pengalaman luar biasa, tetapi dengan membuat perubahan kecil dalam hidup serta membuka diri pada perasaan damai dan ketenangan batin yang baru</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Seni Menyederhanakan Hidup</h2>



<p>Setelah membuka buku ini, Penulis baru menyadari bahwa penulis buku ini, Shunmyo Masuno, adalah seorang pendeta Buddhis Zen, sehingga poin-poin kebiasaan yang disampaikan pun berkaitan dengan kepercayaan yang ia anut.</p>



<p>Secara total, buku ini memiliki 100 kebiasaan yang disarankan untuk kita terapkan dalam keseharian. 100 kebiasaan tersebut dibagi ke dalam empat bab utama, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Bagian Satu: 30 Cara untuk Membugarkan &#8220;Diri-Saat-Ini&#8221;</li>



<li>Bagian Dua: 30 Cara untuk Mengilhami Kepercayaan-Diri dan Keberanian untuk Hidup</li>



<li>Bagian Tiga: 20 Cara untuk Meredakan Kebingungan dan Kecemasan</li>



<li>Bagian Empat: 20 Cara untuk Menjadikan Setiap Hari adalah Hari yang Baik</li>
</ol>



<p>Di setiap poin kebiasaan, ada satu ilustrasi minimalis dan penjabaran poin yang sebenarnya sudah cukup jelas di bagian judul. Satu poin biasanya hanya berisi satu halaman paragraf, sehingga terlihat ada banyak bagian yang kosong.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Seni Menyederhanakan Hidup</h2>



<p>Ada sedikit kekecewaan ketika membaca buku ini. Pasalnya, tips-tips yang diberikan bisa dibilang tidak istimewa dan kerap kita temukan di media sosial. Apalagi, elaborasi setiap poinnya juga terasa kurang mendalam.</p>



<p>Penulis tidak mempermasalahkan ajaran Buddhis Zen yang ia gunakan, mengingat banyak ajaran-ajarannya yang sebenarnya juga diajarkan dalam Islam. Namun, isinya memang terlalu umum sehingga kurang membekas bagi Penulis</p>



<p>Tentu semua petuah-petuah yang dituangkan dalam buku ini bijaksana dan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang kerap bermasalah dengan diri dan pikirannya sendiri. Bahasanya pun ringan dan mudah dipahami.</p>



<p>Namun, rasanya buku ini terasa kurang padat dan akan mudah terlupakan begitu saja. Apalagi, ilustrasinya cukup memakan ruang pada halaman buku. Jika disuruh menyebutkan kembali isi poin buku tersebut, Penulis hanya akan mengingat poin-poin yang ada di bagian sinopsis saja.</p>



<p>Waktu membeli buku ini, ekspektasi Penulis adalah tips-tips mengenai aktivitas sederhana apa saja yang harus kita lakukan dalam keseharian. Pada bagian sinopsis, kita bisa melihat contohnya seperti bangun lebih awal dan menanam bunga.</p>



<p>Sayangnya, dalam buku ini mayoritas rekomendasi kebiasaan yang diberikan justru tentang pikiran atau hati kita. Bukan bermaksud mengecilkan, tapi yang seperti itu sudah sering Penulis baca di buku-buku self-improvement lainnya.</p>



<p>Mungkin ini bisa menjadi pelajaran untuk Penulis agar tidak membeli buku jika tidak mengetahui seperti apa isinya. Kalau seperti ini, memang jadinya seperti membeli kucing di dalam karung. Rasa kecewa pun muncul karena isinya tidak sesuai dengan ekspektasi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 5/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 14 September 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Seni Menyederhanakan Hidup</em> karya Shunmyo Masuno</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-buku-seni-menyederhanakan-hidup/">[REVIEW] Setelah Membaca Buku Seni Menyederhanakan Hidup</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-buku-seni-menyederhanakan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Nov 2023 15:19:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Massimo Pigliucci]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoikisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6959</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun depan Penulis sudah akan menginjak kepala tiga. Namun, Penulis merasa ada bagian dirinya yang masih sangat perlu dibenahi. Salah satunya adalah memahami apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak. Stoikisme atau stoik adalah salah satu cabang filsafat dari Yunani Kuno yang Penulis anggap mampu menjadi antidote untuk mengatasi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/">Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tahun depan Penulis sudah akan menginjak kepala tiga. Namun, Penulis merasa ada bagian dirinya yang masih sangat perlu dibenahi. Salah satunya adalah memahami apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak.</p>



<p>Stoikisme atau stoik adalah salah satu cabang filsafat dari Yunani Kuno yang Penulis anggap mampu menjadi <em>antidote</em> untuk mengatasi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, Penulis jadi lebih banyak membaca buku-buku seputar filosofi tersebut.</p>



<p>Suatu hari ketika sedang jalan-jalan di toko buku, Penulis menemukan sebuah buku berjudul <em><strong>Stoik: Apa dan Bagaimana</strong></em> karya <strong>Massimo Pigliucci</strong>. Merasa buku ini akan menjabarkan stoik lebih dalam dari <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em>, Penulis pun memutuskan untuk membelinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/saya-berlibur-ke-jakarta-5-hari-banner.jpg 1280w " alt="Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-berlibur-ke-jakarta-selama-5-hari-bagian-1/">Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 1)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Stoik: Apa dan Bagaimana</em></li>



<li>Penulis: Massimo Pigiucci</li>



<li>Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: April 2023</li>



<li>Tebal: 277 halaman</li>



<li>ISBN: 978-602-06-5868-1</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<p><em>Bagaimana</em> <em>ajaran kuno Stoik bisa membantu kita bertumbuh pada masa modern?</em> </p>



<p><em>Setiap kali merasa khawatir tentang apa yang akan kita makan, bagaimana kita bisa mencintai seseorang, atau bagaimana cara mencapai kebahagiaan, sebenarnya kita sedang memikirkan cara menjalani hidup yang baik. </em></p>



<p><em>Stoikisme bisa jadi adalah jawabannya, karena membuat kita memusatkan perhatian pada apa yang mungkin dan memberikan perspektif tentang apa yang tidak penting. </em></p>



<p><em>Dengan memahami Stoikisme, kita bisa belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seperti: Perlukah kita tetap mempertahankan hubungan atau berpisah? Bagaimana sebaiknya kita mengelola uang di dunia yang nyaris hancur karena krisis keuangan? Bagaimana kita bisa bertahan setelah mengalami tragedi pribadi? </em></p>



<p><em>Stoikisme mengajari kita pentingnya karakter, integritas, dan belas kasih dalam diri seseorang. Buku ini, yang merupakan panduan penting untuk memahaminya, dilengkapi dengan tips praktis dan latihan serta meditasi dan kesadaran akan saat ini dan di sini, memberi gambaran tentang betapa relevannya Stoikisme dalam setiap segi kehidupan kita saat ini.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<p>Buku <em>Stoik: Apa dan Bagaimana </em>diawali dengan dua bagian pembukaan yang menjabarkan secara umum mengenai apa itu stoik. Setelah itu, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>&#8220;Disiplin dalam Hal Hasrat: Apa yang Patut Diinginkan atau Tidak Patut Diinginkan&#8221;</li>



<li>&#8220;Disiplin dalam Tindakan: Bagaimana Berperilaku di Dunia&#8221;</li>



<li>&#8220;Disiplin dalam Niat: Bagaimana Menanggapi Situasi&#8221;</li>
</ol>



<p>Sebagai informasi, ketiga bagian tersebut merupakan prinsip &#8220;Tiga Disiplin Stoa&#8221;, mengenai <em><strong>desire </strong></em>(<em>keinginan</em>), <em><strong>action </strong></em>(tindakan), dan <em><strong>assent </strong></em>(persetujuan). Masing-masing bagian tersebut akan dipecah lagi menjadi beberapa bab. </p>



<p>Buku ini juga mengeksplorasi &#8220;Empat Kebajikan Stoa&#8221;, yakni <strong><em>wisdom</em> </strong>(kebijaksanaan), <strong><em>courage</em> </strong>(keberanian),<em> <strong>justice </strong></em>(keadilan), <em><strong>temperance </strong></em>(toleransi). Di setiap pembahasannya, sang penulis buku ini menarasikannya dengan gaya dialog dengan salah satu toko stoik, Epictetus.</p>



<p>Sebagai buku yang mengangkat tema stoik, tentu saja banyak penjelasan yang menekankan tentang <strong>dikotomi kendali</strong>, alias mengetahui mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. </p>



<p>Seperti yang dijelaskan di buku stoik lain, pada akhirnya yang <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">benar-benar bisa kita kendalikan</a> adalah diri kita sendiri. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil</a> ataupun <a href="https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">perasaan orang lain itu ada di luar kendali kita</a>, yang bisa kita kendalikan adalah respons atas hal tersebut.</p>



<p>Di bagian akhir buku, penulis buku memberikan Latihan-Latihan Praktis Spiritual untuk membantu kita menerapkan filsafat stoik dalam kehidupan sehari-hari. Total ada 12 poin, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Memeriksa kesan yang dirasakan</li>



<li>Mengingatkan diri bahwa sesuatu tidak permanen</li>



<li>Klausul cadangan</li>



<li>Bagaimana saya dapat menggunakan kebajikan di sini dan saat ini?</li>



<li>Berhenti sejenak untuk menarik napas dalam</li>



<li>Membayangkan berada di posisi orang lain</li>



<li>Bicara sedikit tapi bagus</li>



<li>Memilih teman Anda dengan baik</li>



<li>Menanggapi penghinaan dengan humor</li>



<li>Jangan bicara terlalu banyak tentang diri sendiri</li>



<li>Bicara tanpa menghakimi</li>



<li>Merenungkan pengalaman Anda hari ini</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Stoik: Apa dan Bagaimana</h2>



<p>Meskipun dari luar terlihat berat untuk dicerna, sebenarnya buku <em>Stoik: Apa dan Bagaimana </em>relatif mudah untuk dicerna bahkan oleh orang yang belum pernah bersentuhan dengan filsafat stoik sekalipun.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini merupakan <em>a great overview </em>untuk Pembaca yang ingin belajar filsafat stoik. Memang tidak semua bagian yang bisa dipahami dengan sekali baca, tapi mayoritas isinya mudah dipahami.</p>



<p>Di sisi lain, buku ini juga tetap menarik bagi yang sudah pernah membaca buku stoik seperti <em>Filsafat Teras</em>. Tetap ada <em>insight-insight </em>baru yang akan menambah wawasan mengenai filsafat stoik.</p>



<p>Salah satu hal yang membuat buku ini mudah dipahami adalah karena Pigliucci sebagai penulis menyisipkan banyak kisah pribadinya atau pihak lain agar mudah kita bayangkan. Ini membuat apa yang ia tuturkan di dalam buku cukup aplikatif.</p>



<p>Sisi negatifnya, hal tersebut membuat buku ini agak terasa sebagai perjalanan Pigliucci sebelum dan sesudah mengenal filsafat stoik. Oleh karena itu, buku ini mungkin akan terasa dangkal dan kurang dalam untuk Pembaca yang sudah mengetahui tentang dunia filsafat. </p>



<p>Selain itu, kekurangan lain dari buku ini adalah narasi dialog dengan Epictetus yang terkadang terkesan kurang natural dan agak dipaksakan. Penulis bahkan sempat merasa bingung kenapa tiba-tiba ada adegan dialog dengan Epictetus.</p>



<p>Terlepas dari kekurangannya, buku ini layak untuk dibaca bagi yang sedang mencari kedamaian hidup. Stoik mungkin bukan cabang filsafat yang terbaik, tapi Penulis merasa kalau stoik sangat cocok untuk diterapkan ke kehidupan Penulis.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 November 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>Stoik: Apa dan Bagaimana</em> karya Massimo Pigliucci</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/">Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Aug 2023 15:28:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[Kosan 95]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Webtoon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari Kosan 95 yang sedang memasuki babak akhirnya. Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter Budi yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan Faisal dan Fani [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari <em>Kosan 95</em> yang sedang memasuki babak akhirnya.</p>



<p>Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter <strong>Budi</strong> yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan<strong> Faisal</strong> dan<strong> Fani</strong> (saudara kembar, anggota Kosan 95 juga), yang dijauhi teman-teman sebayanya karena dianggap anak haram.</p>



<p>Budi menjadi kawan pertama mereka yang benar-benar terlihat baik, peduli, dan tulus. Namun, tiba-tiba Budi menghilang begitu saja dari kehidupan Faisal dan Fani, yang pada akhirnya menimbulkan perasaan bersalah pada Budi untuk waktu yang sangat lama.</p>



<p class="has-text-align-center"><strong><em>SPOILER AHEAD!!!</em></strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Ringkasan Cerita hingga Budi Merasa Bersalah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6805" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dari Kiri: Faisal, Budi, Fani (<a href="https://twitter.com/linewebtoonid/status/1287947401827774464">Twitter</a>)</figcaption></figure>



<p>Alasan awal Budi berteman dengan Faisal dan Fani adalah untuk membantu ayahnya, yang bekerja untuk <strong>keluarga Jaya</strong>. Ayahnya memiliki misi untuk memata-matai Faisal dan Fani, di mana mereka adalah bagian dari <strong>keluarga Sundari</strong> yang merupakan saingan keluarga Jaya. </p>



<p>Setelah misi tersebut selesai, Budi pun meninggalkan Faisal dan Fani, meskipun ia sebenarnya sangat menyayangi mereka. Nasib pun mempertemukan mereka kembali, di mana Budi langsung kabur karena ada <strong>perasaan bersalah </strong>setelah apa yang ia lakukan di masa lalu.</p>



<p>Budi berpikir kalau dirinya tidak bisa bertemu dan berhubungan lagi dengan Faisal dan Fani karena ia telah menyakiti mereka. Meskipun ia kerap sedih karena perasaan bersalah tersebut, ia merasa takut ketika akhirnya dipertemukan dengan mereka berdua.</p>



<p>Namun, akhirnya Budi memutuskan untuk menerima tawaran keluarga Jaya untuk bergabung dengan Kosan 95, agar ia memiliki kesempatan untuk menebus dosanya kepada Faisal dan Fani. </p>



<p>Sayangnya, yang ada <strong>perasaan bersalah tersebut justru terus tumbuh</strong> karena ia belum menemukan jawaban mengenai bagaimana cara menebus kesalahannya. Apalagi, ternyata hubungan Faisal dan Fani pun memburuk karena suatu hal.</p>



<p>Saat bertemu dengan Fani pertama kali di Kosan 95, Fani langsung meminta tolong untuk membantunya berbaikan dengan Faisal. Hubungan buruk mereka langsung terbukti ketika Faisal langsung mengusir Fani begitu melihatnya.</p>



<p>Hal tersebut membuat Budi <strong>semakin merasa bersalah</strong>. Masa-masa awal Budi di Kosan 95 pun penuh dengan konflik batin. Ia menyesal karena di masa lalu dirinya lebih banyak diam, ketika ada banyak hal yang sebenarnya bisa ia lakukan untuk Faisal dan Fani.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Budi (dan Fani) Berusaha Menghilangkan Perasaan Bersalahnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6806" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dua Karakter yang Sama-sama Terjebak Rasa Bersalah (<a href="https://www.instagram.com/p/CtvwzXyyVg9/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Selama bertahun-tahun, perasaan bersalah itu terus menghinggapi Budi seolah tak bisa disingkirkan. Ia merasa tidak bisa menebus kesalahan tersebut dan layak untuk mendapatkan maaf.</p>



<p>Budi pun mendapatkan nasehat dari <strong>Pak Agus</strong>, penjaga Kosan 95, yang mengatakan kalau Budi harus bisa menjadi<strong> penengah antara Faisal dan Fani</strong> layaknya teman yang bersikap adil. Pak Agus juga mengatakan kalau konflik yang terjadi antara mereka bukan salah Budi.</p>



<p>Pak Agus juga mengingatkan kalau Budi harus <strong>merelakan apa yang telah terjadi di masa lalu </strong>dan <strong>jangan berlarut-larut di dalam penyesalan tanpa akhir</strong>. Daripada seperti itu, lebih baik<strong> fokus dengan melakukan apa yang bisa diperbaiki sekarang dan terus maju</strong>.</p>



<p>Akhirnya seiring berjalannya waktu, Budi merasa bahwa penebusan dosa yang mungkin bisa ia lakukan adalah <strong>membuat Faisal dan Fani berdamai </strong>seperti dulu lagi. Mereka bertiga pernah akrab dan saling berbagi tawa, dan ia ingin hal tersebut bisa terjadi lagi saat ini.</p>



<p>Sebenarnya bukan cuma Budi yang memiliki perasaan bersalah, karena Fani pun juga merasa bersalah ke Faisal. Alasan mereka menjadi renggang adalah karena Fani justru tidak percaya kepada Faisal di saat saudara kembarnya tersebut sedang membelanya.</p>



<p>Merasa dirinya begitu egois, Fani pun menyesal dan terus berusaha untuk <strong>memperbaiki hubungannya </strong>dengan Faisal. Berbagai hal ia <strong>berusaha lakukan dan berikan</strong> untuk menyenangkan Faisal, meskipun kerap mendapatkan respons yang kurang mengenakkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6808" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ini Budi (<a href="https://www.instagram.com/p/Cq1_TL_r17h/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari kisah hubungan antara Budi, Faisal, dan Fani di atas, kita bisa belajar beberapa hal mengenai cara melepas perasaan bersalah yang membelenggu kita. Penulis yakin, kebanyakan dari kita pernah mengalami perasaan yang dialami oleh karakter-karakter <em>Kosan 95</em>.</p>



<p>Sebagai manusia, tentu kita pernah berbuat salah, baik ke diri sendiri maupun orang lain. Bagi sebagian orang, berbuat salah ke orang lain bisa menimbulkan perasaan bersalah yang begitu dalam, seolah tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya.</p>



<p>Penulis sendiri pernah merasa seperti itu dan mencoba berbagai cara, mulai dari minta maaf, berusaha memperbaiki keadaan, <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">mengubah diri menjadi lebih baik</a>, dan lain sebagainya. Kurang lebih sama seperti yang sedang dilakukan oleh Budi dan Fani.</p>



<p>Namun, sama seperti yang dirasakan Budi, perasaan bersalah itu masih saja hinggap. Pada akhirnya Penulis menyadari kalau pada akhirnya kitalah yang harus bisa <strong>memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri </strong>atas kesalahan yang sudah diperbuat.</p>



<p>Seperti yang dikatakan oleh Pak Agus, pada akhirnya kita harus merelakan apa yang sudah terjadi dan fokus dengan hari ini. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu dengan perasaan bersalah</a> yang kita buat sendiri hanya akan menghambat kita untuk melangkah maju.</p>



<p>Jika kita sudah bisa melakukan hal tersebut, proses memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri pun akan lebih mudah kita lakukan. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Mari kita sama-sama belajar untuk melepaskan perasaan bersalah yang ada di dalam diri kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca Webtoon <em>Kosan 95</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Aug 2023 15:33:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Robin Sharma]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6757</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang membaca buku The 5 AM Club karya Robin Sharma, Penulis menemukan satu lagi bukunya saat sedang jalan-jalan di toko buku yang berjudul The Leader Who Had No Title. Meskipun kurang menyukai The 5 AM Club, ada tiga alasan mengapa Penulis memutuskan untuk tetap membelinya. Pertama, karena bukunya cukup tipis. Kedua, mengangkat tema kepemimpinan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/">[REVIEW] Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang membaca buku <em>The 5 AM Club </em>karya <strong>Robin Sharma</strong>, Penulis menemukan satu lagi bukunya saat sedang jalan-jalan di toko buku yang berjudul <em><strong>The Leader Who Had No Title</strong>.</em></p>



<p>Meskipun kurang menyukai <em>The 5 AM Club</em>, ada tiga alasan mengapa Penulis memutuskan untuk tetap membelinya. Pertama, karena bukunya cukup tipis. Kedua, mengangkat tema kepemimpinan. Ketiga, karena latar ceritanya tentang seorang penjaga toko buku.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membelinya, hitung-hitung sebagai &#8220;kesempatan kedua&#8221; bagi Robin Sharma. Sayangnya, buku ini pun kurang Penulis sukai karena beberapa alasan yang sama dengan<em> </em>buku sebelumnya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-banner.jpg 1280w " alt="Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/permainan/karakter-karakter-werewolf-ala-penulis-bagian-2/">Karakter-Karakter Werewolf Ala Penulis (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Leader Who Had No Title</em></li>



<li>Penulis: Robin Sharma</li>



<li>Penerbit: Penerbit Bentang</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2022</li>



<li>Tebal: 264 halaman</li>



<li>ISBN: 9786022919308</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Sama seperti <em>The 5 AM Club</em>, Robin Sharma berusaha menerangkan poin-poin yang ingin ia sampaikan melalui sebuah cerita. Kali ini, kita akan mengikuti kisah seorang mantan tentara yang kini menjadi penjaga toko buku bernama <strong>Blake Davis</strong>.</p>



<p>Blake merasa kalau hidupnya terasa hampa dan sama sekali tidak bermakna, apalagi setelah ia pulang dari medan pertempuran. Lantas, tiba-tiba ia bertemu dengan rekan kerja baru berusia 77 tahun yang bernama <strong>Tommy Flinn</strong>, yang ternyata merupakan teman ayahnya.</p>



<p>Singkat cerita, Tommy berjanji kepada Blake akan membuat hidupnya berubah total dengan seni memimpin tanpa jabatan. Untuk itu, Tommy pun membawa Blake ke guru-gurunya yang akan memberikan formula tersebut.</p>



<p>Lucunya, keempat orang tersebut sama-sama memiliki akronim untuk menyimpulkan apa inti ajaran mereka. Penulis akan menuliskan keempatnya agar Pembaca mendapatkan garis besar dari isi buku ini.</p>



<p><strong>1. Kita Tidak Butuh Jabatan untuk Memimpin &#8211; IMAGE</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>I</strong>nnovation (Inovasi)</li>



<li><strong>M</strong>astery (Menguasai)</li>



<li><strong>A</strong>utheticity (Autentisitas)</li>



<li><strong>G</strong>uts (Naluri)</li>



<li><strong>E</strong>thics (Etika)</li>
</ul>



<p><strong>2. Masa-Masa Bergejolak Membentuk Pemimpin Hebat &#8211; SPARK</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>S</strong>peak with Candor (Bicara Terus Terang)</li>



<li><strong>P</strong>rioritize (Tentukan Prioritas)</li>



<li><strong>A</strong>dversity Breeds Opportunity (Kesulitan Melahirkan Kesempatan)</li>



<li><strong>R</strong>espond Versus React (Respons Versus Reaksi)</li>



<li><strong>K</strong>udos to Everyone (Penghargaan untuk Setiap Orang)</li>
</ul>



<p><strong>3. Semakin Dalam Hubunganmu, Semakin Kuat Kepemimpinanmu &#8211; HUMAN</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>H</strong>elpfulness (Tolong-menolong)</li>



<li><strong>U</strong>nderstanding (Pengertian)</li>



<li><strong>M</strong>ingle (Membaur)</li>



<li><strong>A</strong>muse (Gembira)</li>



<li><strong>N</strong>urture (Merawat)</li>
</ul>



<p><strong>4. Untuk Menjadi Pemimpin Besar, Jadilah Orang Besar Terlebih Dulu &#8211; SHINE</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>S</strong>ee Clearly (Lihat dengan Saksama)</li>



<li><strong>H</strong>ealth is Wealth (Kesehatan Itu Bernilai)</li>



<li><strong>I</strong>nspiration Matters (Inspirasi Penting)</li>



<li><strong>N</strong>eglect Not Your Family (Jangan Abaikan Keluargamu)</li>



<li><strong>E</strong>levate Your Lifestyle (Tingkatkan Gaya Hidupmu)</li>
</ul>



<p>Setelah memperkenalkan Blake kepada empat guru yang mengajarkan ilmu kepemimpinan tersebut, Tommy meninggal dunia tak lama kemudian. Blake pun merasa hidupnya berubah, dan berusaha untuk menyebarkan apa yang diajarkan Tommy kepada orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</h2>



<p>Dari segi cerita, sebenarnya <em>The Leader Who Had</em> <em>No Title </em>lebih terasa masuk akal dibandingkan <em>The 5 AM Club</em> yang bagi Penulis terasa aneh dan dangkal. Hanya saja, rasanya tetap tidak terlalu realistis dan sangat terkesan utopis. </p>



<p>Hampir semua peristiwa yang terjadi di buku ini terjadi hanya dalam satu hari. Tommy berhasil membawa Blake bertemu dengan empat gurunya (yang lebih muda darinya) dalam satu hari yang sama, dan semuanya bisa ditemui serta punya waktu untuk berbagi ilmu.</p>



<p>Untuk segi isinya sendiri, jujur saja Penulis tidak merasa telah mendapatkan sesuatu yang &#8220;mencerahkan hidup&#8221; seperti yang dirasakan oleh Blake. Poin-poin yang disampaikan biasa saja seperti seminar kepemimpinan pada umumnya, tidak ada yang spesial.</p>



<p>Apalagi, buku ini menggunakan banyak sekali akronim yang tentu agak sulit dihafalkan oleh orang-orang yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertamanya. Penulis tidak bisa mengingat satu pun &#8220;formula&#8221; yang dibagikan buku ini.</p>



<p>Alhasil, buku ini pun selesai Penulis baca tanpa banyak meninggalkan kesan yang berarti. Ulasannya pun menjadi cukup pendek, karena tidak banyak hal menarik yang bisa dibahas. Oleh karena itu, Penulis tidak terlalu merekomendasikan buku ini.</p>



<p>Namun, setidaknya buku ini mengajak pembacanya untuk mengembangkan dirinya menjadi versi lebih baiknya, sehingga bisa menginspirasi orang lain. Itulah poin utama dari seni memimpin tanpa jabatan.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span><span style="color:#1767ef">★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca <em>The Leader Who Had No Title </em>karya Robin Sharma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/">[REVIEW] Setelah Membaca The Leader Who Had No Title</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-leader-who-had-no-title/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The 5 AM Club</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Jul 2023 14:03:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bangun pagi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Robin Sharma]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6702</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menyadari dirinya kesulitan untuk bisa bangun pagi secara konsisten, Penulis pun mencari motivasi untuk bisa melakukannya. Salah satunya adalah dengan membaca buku berjudul The 5 AM Club karya Robin Sharma. Salah satu alasan lain Penulis memutuskan untuk membeli buku ini adalah karena Maudy Ayunda merekomendasikannya di kanal YouTube-nya. Bahkan, Penulis tidak mengintip isinya ketika di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/">[REVIEW] Setelah Membaca The 5 AM Club</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menyadari dirinya kesulitan untuk bisa bangun pagi secara konsisten, Penulis pun mencari motivasi untuk bisa melakukannya. Salah satunya adalah dengan membaca buku berjudul <em><strong>The 5 AM Club </strong></em>karya <strong>Robin Sharma</strong>.</p>



<p>Salah satu alasan lain Penulis memutuskan untuk membeli buku ini adalah karena <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Maudy Ayunda</a> merekomendasikannya di kanal YouTube-nya. Bahkan, Penulis tidak mengintip isinya ketika di <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">toko buku</a> karena merasa percaya saja dengan rekomendasinya.</p>



<p>Alhasil, Penulis pun terkejut ketika membuka buku ini untuk pertama kalinya karena ternyata buku <em>self-improvement </em>ini dibalut dalam bentuk novel. Sempat tergeletak lama karena terasa membosankan, akhirnya Penulis berhasil menamatkan buku ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" style="border-color:#9e0b0f;"><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/terima-kasih-phil-jones.jpg 1280w " alt="Terima Kasih (?) Phil Jones" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" style="color:#9e0b0f;">Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  style="color:#9e0b0f;"  href="https://whathefan.com/olahraga/terima-kasih-phil-jones/">Terima Kasih (?) Phil Jones</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The 5 AM Club</em></li>



<li>Penulis: Robin Sharma</li>



<li>Penerbit: Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP)</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2019</li>



<li>Tebal: 450 halaman</li>



<li>ISBN: 9786232161368</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Secara garis besar, hanya ada empat karakter yang ada di buku ini, yaitu <strong>Sang Pemikat</strong>, <strong>Miliuner</strong>, <strong>Pengusaha</strong>, dan <strong>Seniman</strong>. Sepanjang novel, hanya sang Miliuner yang memiliki nama, yakni Mr. Riley.</p>



<p>Di awal buku, diceritakan kalau Sang Pemikat sedang mengadakan sebuah &#8220;seminar motivasi&#8221;, di mana Pengusaha dan Seniman menjadi salah satu pesertanya. Miliuner juga hadir, walaupun ia menyamar menjadi seorang gelandangan nyentrik.</p>



<p>Ketika sedang mengisi seminar tersebut, tiba-tiba Sang Pemikat jatuh sakit dan acara pun berhanti. Lantas, terjadi pembicaraan tiga arah antara Pengusaha, Seniman, dan Miliuner. Singkat cerita, Pengusaha dan Seniman pun diundang oleh Miliuner ke Mauritania.</p>



<p>Selama di pulau tersebut, Miliuner dan Sang Pemikat (yang ternyata merupakan guru dari Miliuner) pun membagikan ilmu-ilmu terkait bagaimana bangun pagi pukul 5 pagi sangat berpengaruh dalam hidup yang sukses. Beberapa di antaranya adalah:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Prinsip 20/20/20, di mana satu jam pertama setelah bangun jam 5 pagi adalah 20 menit aktivitas fisik seperti olahraga, 20 menit refleksi diri dan ibadah, dan 20 menit belajar</li>



<li>Prinsip 90/90/1, di mana selama 90 hari ke depan, fokuskan 90 menit untuk mengerjakan 1 hal yang paling penting</li>



<li>Prinsip 60/10, di mana setiap bekerja/belajar selama 60 menit, ambil istirahat selama 10 menit</li>
</ul>



<p>Di sela-sela penjabaran tersebut, terselip cerita dari para karakternya, termasuk kisah cinta antara Pengusaha dan Seniman, perjalanan keliling dunia mereka, bagaimana masalah perusahaan si Pengusaha akhirnya dibantu oleh Miliuner, dan lain sebagainya. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The 5 AM Club</h2>



<p>Penulis memiliki ekspektasi yang cukup tinggi terhadap buku ini, mengingat Maudy Ayunda merekomendasikannya. Kenyataannya, bisa dibilang buku ini cukup mengecewakan di berbagai aspeknya.</p>



<p>Pertama dari segi penceritaan, bisa dibilang jalan ceritanya cukup buruk dan sama sekali tidak realistis. Coba bayangkan, seberapa besar kemungkinan kita diajak oleh seorang Miliuner &#8220;berlibur&#8221; ke pulau eksotis sembari mendapatkan ilmunya? <em>Near zero</em>.</p>



<p>Selain itu, permasalahan kantor yang dialami oleh Pengusaha juga terasa cuma &#8220;tempelan&#8221;. <em>Ending </em>dari permasalahan tersebut juga klise, di mana si Miliuner membantu penyelesaian tersebut dengan sangat mudahnya.</p>



<p>Pengembangan karakter Pengusaha dan Seniman pun terasa tidak <em>smooth</em> dan berubah secara drastis hanya dengan mendengar beberapa nasihat dari orang yang baru dikenal. Kisah cinta mereka juga sama sekali tidak berkesan.</p>



<p>Untuk segi <em>self-improvement</em>-nya, bisa dibilang buku ini terlalu bertele-tele. Poin-poin yang ingin disampaikan sebenarnya tidak terlalu banyak, sehingga ada banyak bagian yang seolah hanya untuk mempertebal buku saja.</p>



<p>Bagian 20/20/20 bisa dibilang menjadi bagian yang paling &#8220;berguna&#8221;, meskipun tentu untuk penerapannya bisa berbeda-beda. Penulis sendiri biasanya memiliki <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi</a> yang dibagi menjadi 30 menit ibadah, 45 menit olahraga, dan 30 menit baca buku.</p>



<p>Oleh karena itu, rasanya Penulis susah untuk merekomendasikan buku ini. Apalagi, buku ini cukup tebal dengan isi yang tidak seberapa. Jika ingin bangun pagi, yang paling penting adalah NIAT.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 16 Juli 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The 5 AM Club </em>karya Robin Sharma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/">[REVIEW] Setelah Membaca The 5 AM Club</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/review-setelah-membaca-the-5-am-club/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Sukses Harus Keluar dari Zona Nyaman?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2022 14:39:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[zona nyaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6095</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pagi ke pagi, ku terjebak di dalam ambisiSeperti orang-orang berdasi yang gila materiRasa bosan, membukakan jalan mencari peranKeluarlah dari zona nyaman &#8211; Zona Nyaman by Fourtwnty &#8211; Sekitar empat bulan lalu, sewaktu sedang iseng mengecek akun LinkedIn Penulis, tiba-tiba di beranda muncul sebuah posting yang dibuat oleh kawan karib Penulis. Ia menyinggung masalah &#8220;keluar dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/">Apakah Sukses Harus Keluar dari Zona Nyaman?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>Pagi ke pagi, ku terjebak di dalam ambisi<br>Seperti orang-orang berdasi yang gila materi</em><br><em>Rasa bosan, membukakan jalan mencari peran<br>Keluarlah dari zona nyaman</em></p><p><span style="color:#9e0b0f" class="has-inline-color">&#8211; Zona Nyaman by Fourtwnty &#8211;</span></p></blockquote>



<p>Sekitar empat bulan lalu, sewaktu sedang iseng mengecek akun LinkedIn Penulis, tiba-tiba di beranda muncul sebuah posting yang dibuat oleh kawan karib Penulis. Ia menyinggung masalah &#8220;<strong>keluar dari zona nyaman</strong>&#8221; yang bisa dilihat selengkapnya di bawah ini:</p>



<div class="wp-block-image is-style-default"><figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="540" height="244" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/2022-10-27_202841.jpg" alt="" class="wp-image-6097" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/2022-10-27_202841.jpg 540w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/2022-10-27_202841-300x136.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 540px) 100vw, 540px" /></figure></div>



<p>Penulis pun tergelitik untuk memberikan komentar yang cukup panjang di posting tersebut dan ingin membahasnya lebih dalam melalui tulisan di blog. Hanya saja karena beberapa alasan (baca: malas), niat tersebut baru terlaksana sekarang.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas mengenai opini populer mengenai apakah untuk bisa menjadi sukses harus keluar dari zona nyaman yang telah dimiliki. Agar lebih <em>related</em>, Penulis juga akan berbagi sedikit pengalamannya yang pernah keluar dari zona nyaman.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Memahami Apa Itu Zona Nyaman</h2>



<p>Pertanyaan utama dari kawan Penulis adalah &#8220;<em>kalau sudah nyaman sama pekerjaan kita, ngapain keluar?</em>&#8220;. Untuk itu, Penulis akan mencoba membedah mengenai apakah yang dimaksud dari zona nyaman itu sendiri.</p>



<p>Zona nyaman belakangan ini memang menjadi <em>term </em>yang cukup populer, apalagi setelah dijadikan lagu oleh Fourtwnty. Dilansir dari <em>positivepshychology.com</em>, pencetus istilah zona nyaman adalah Judith Bardwick pada tahun 1991, yang mengatakan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Zona nyaman adalah keadaan perilaku di mana seseorang beroperasi dalam kondisi kecemasan-netral, menggunakan serangkaian perilaku terbatas untuk memberikan tingkat kinerja yang stabil, biasanya tanpa rasa risiko.&#8221;</p></blockquote>



<p>Jika mengambil definisi tersebut, dapat disimpulkan kalau zona nyaman adalah <strong>kondisi di mana kita merasa aman dan tanpa risiko, tetapi hampir tidak ada ruang untuk berkembang secara signifikan</strong>. </p>



<p>Penulis menemukan sebuah diagram mengenai<em> </em>zona nyaman yang bisa dilihat di bawah ini:</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-1024x980.webp" alt="" class="wp-image-6098" width="493" height="471" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-1024x980.webp 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-300x287.webp 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-768x735.webp 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1.webp 1200w" sizes="auto, (max-width: 493px) 100vw, 493px" /><figcaption>Diagram Zona Nyaman (<a href="https://positivepsychology.com/comfort-zone/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=comfort-zone#comfort-zone">Positive Psychology</a>)</figcaption></figure></div>



<p>Dalam diagram ini, Penulis menganggap bahwa zona nyaman yang dimaksud di sini adalah ketika kita merasa tidak bisa mengembangkan diri, tetapi hidup kita relatif terjamin, entah karena gaji bulanan yang lancar atau karena masih mendapatkan &#8220;jatah&#8221; orang tua. </p>



<p>Di dalam dunia kerja, zona nyaman kerap dikaitkan dengan pekerjaan yang cenderung <strong>stagnan</strong>, <strong>monoton</strong>, dan<strong> tidak bisa mengembangkan diri</strong> baik secara <em>skill</em>, relasi, dan lainnya. Hanya saja, pekerjaan tersebut mampu memberikan rasa aman dan menghidupi kita.</p>



<p>Artinya, ketika kita merasa nyaman dengan pekerjaan kita dan masih menemukan banyak ruang untuk bekembang, menurut Penulis itu<strong> bukan zona nyaman yang dimaksud</strong>. </p>



<p>Selain itu, zona nyaman juga memiliki makna yang lebih luas lagi. Mencoba hal baru yang berbeda, belajar <em>skill </em>baru, mulai rutin berolahraga, melakukan diet baru, itu pun hal-hal yang mengeluarkan kita dari zona nyaman berupa kemalasan.</p>



<p>Penulis merasa nyaman setiap malam nonton YouTube berjam-jam atau <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">bermain <em>game</em></a>. Hanya saja, di satu titik Penulis merasa aktivitas tersebut tidak membantu Penulis berkembang dan terlalu membuang-buang waktu. </p>



<p>Akhirnya, Penulis mencoba menggantinya dengan kembali rutin <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-blog/">menulis blog</a>, belajar tentang SEO, atau sekadar membaca buku. Memang lebih capek, apalagi setelah seharian bekerja. Namun, Penulis jadi merasa bisa memanfaatkan waktunya menjadi lebih baik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Keluar dari Zona Nyaman</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="CnTLwdjB9Y"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">Keluar dari Zona Nyaman</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Keluar dari Zona Nyaman&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/embed/#?secret=CnTLwdjB9Y" data-secret="CnTLwdjB9Y" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Sejujrunya Penulis merasa kesulitan dalam mendefinisikan zona nyaman ini. Untuk itu, Penulis ingin <em>sharing </em>sedikit tentang pengalamannya yang menurut Penulis merupakan contoh dari keluar dari zona nyaman. Sekali lagi, ini hanya opini pribadi Penulis dan Penulis terbuka untuk definisi lainnya.</p>



<p>Ketika <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">baru lulus dari bangku kuliah</a>, Penulis sempat melakukan banyak hal, mulai dari bekerja di kantor ayah hingga mengambil kursus di Kampung Inggris. Hanya saja, Penulis merasa benar-benar berada di zona nyaman sehingga kesulitan untuk mengembangkan dirinya.</p>



<p>Untuk itu, Penulis pun membulatkan tekat untuk keluar dari zona nyaman dengan pindah ke Jakarta. Awalnya memang karena menjadi <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/"><em>volunteer </em>di Asian Games</a>, tetapi selepas acara Penulis memutuskan untuk menetap dan mencari pekerjaan di sana.</p>



<p>Alhamdulillah, Penulis akhirnya mendapatkan pekerjaan pertama di Jakarta dan tinggal di sana selama kurang lebih dua tahun. Jika Penulis bertahan di zona nyamannya dan tidak berani ke Jakarta, mungkin Penulis tidak akan berada di posisinya sekarang (tentu semua ini kehendak Tuhan).</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="4v8zs1KTQ0"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Pengalaman Melamar Kerja di Mainspring Technology</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Pengalaman Melamar Kerja di Mainspring Technology&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/embed/#?secret=4v8zs1KTQ0" data-secret="4v8zs1KTQ0" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Ketika di sana, Penulis bekerja sebagai <em>content writer</em>. Pekerjaan itu benar-benar zona nyaman karena Penulis memang hobi menulis. Untuk itu, Penulis memutuskan untuk kembali keluar dari zona nyaman dengan belajar <em>social media </em>di kantor. Kebetulan, Penulis punya mentor di sana.</p>



<p>Di tempat kerja yang sekarang, Penulis memiliki jabatan sebagai editor. Apakah Penulis kembali keluar dari zona nyamannya? Jawabannya iya. Penulis tidak hanya melakukan <em>editing </em>artikel di sini, Penulis juga mendalami <em>skill </em>SEO (<em>Search Engine Optimization</em>) dan <em>data analyst </em>kecil-kecilan.</p>



<p>Penulis memang terkesan sangat budak korporat karena seolah selalu memberikan lebih dari yang diminta. Hanya saja, selama itu <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/">menambah <em>value </em>untuk diri Penulis</a>, mengapa tidak? Penulis yang &#8220;murtad&#8221; dari jurusan kuliahnya merasa harus banyak belajar untuk bisa <em>survive </em>di dunia ini.</p>



<p>Dengan kata lain, Penulis berusaha <strong>memperluas zona nyamannya </strong>sendiri dengan belajar berbagai hal baru. Ketika mengenal dunia media sosial dan SEO, jujur saja rasanya sedikit menakutkan karena terlihat kompleks. Namun, perlahan-lahan Penulis berusaha memahaminya agar dirinya bisa lebih berkembang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Lantas, apa jawaban dari &#8220;apakah sukses harus keluar dari zona nyaman?&#8221; Menurut Penulis, <strong>tidak</strong>. Mungkin keluar dari zona nyaman berhasil untuk Penulis, tetapi belum tentu akan berhasil juga untuk orang lain. Bisa saja ada yang bisa sukses dengan tetap bertahan di zona nyamannya sendiri.</p>



<p>Kalau kita merasa nyaman dengan pekerjaan yang sekarang (apalagi gajinya tinggi), mempertahankannya bukan hal yang salah. Mungkin saja kita tidak sadar bahwa setiap hari ada saja hal baru yang didapatkan. Ini semua tidak hanya terkait tentang <em>skill</em>, tapi juga pengalaman hidup.</p>



<p>Tentu ada kondisi-kondisi yang membuat kita merasa tidak bisa keluar dari zona nyaman. Misal, sudah punya tanggunan keluarga, ada hutang, <em>sandwich generation</em>, dan lain sebagainya. </p>



<p>Untuk itu, Penulis tidak setuju jika keluar dari zona nyaman menjadi satu-satunya cara agar orang bisa sukses. Sama seperti jalan ke Roma, ada ribuan cara untuk bisa menjadi sukses. Keluar dari zona nyaman hanya salah satunya.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 27 Oktober 2022, terinspirasi setelah membahas posting LinkedIn seorang kawan yang membahas tentang zona nyaman</p>



<p>Foto: <a href="https://psychology-spot.com/comfort-zone/">Psychology Spot</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://positivepsychology.com/comfort-zone/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=comfort-zone#comfort-zone">How to Leave your Comfort Zone and Enter your ‘Growth Zone’ (positivepsychology.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/">Apakah Sukses Harus Keluar dari Zona Nyaman?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menikmati Kebosanan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2022 14:36:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bosan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[mindfulness]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6085</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang merasa bosan karena tidak ada aktivitas, apa yang akan Pembaca lakukan? Mungkin jawabannya akan berkisar antara mengecek gawai, berselancar di media sosial, bermain gim, dan aktivitas di depan ponsel lainnya. Di antara semua probabilitas tersebut, kemungkinan besar pelarian kita adalah media sosial, entah Instagram, Twitter, TikTok, dan lainnya. Apalagi, sekarang ada banyak konten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/">Menikmati Kebosanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang merasa bosan karena tidak ada aktivitas, apa yang akan Pembaca lakukan? Mungkin jawabannya akan berkisar antara mengecek gawai, berselancar di media sosial, bermain gim, dan aktivitas di depan ponsel lainnya.</p>



<p>Di antara semua probabilitas tersebut, kemungkinan besar pelarian kita adalah media sosial, entah Instagram, Twitter, TikTok, dan lainnya. Apalagi, sekarang ada banyak konten <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">infinity scroll</a> </em>yang kerap membuat kita lupa waktu.</p>



<p>Penulis bisa mengatakan hal tersebut karena dirinya sendiri pun juga seperti itu. Ketika memperhatikan orang-orang di sekitar Penulis, mereka juga seperti itu. Ketika sedang berada di transportasi umum, kebanyakan terpaku di depan layar ponselnya.</p>





<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin mengajak para Pembaca sekalian untuk mencoba <strong>menikmati ketika rasa bosan datang </strong>melanda. Tidak perlu melakukan apa-apa, rasakan saja kebosanan tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Setiap Merasa Bosan Langsung Otomatis Cek Ponsel?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6087" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Bosan Dikit Cek HP (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-black-shirt-leaning-on-brown-wooden-table-3811810/">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam keseharian, pasti ada saja kesibukan yang kita lakukan.<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/"> Yang kerja ya kerja</a>, yang sekolah ya belajar, dan lain sebagainya. Ketika sedang fokus melakukan aktivitas tersebut, pikiran kita tercurahkan di sana.</p>



<p>Namun, ketika pekerjaan atau tugas sekolah telah selesai, apa yang akan kita lakukan? Kemungkinan besar akan istirahat sambil cek media sosial, main gim, atau nonton YouTube. <em>Refreshing</em> untuk melepaskan penat.</p>



<p>Hal ini tentu sangat wajar dan mungkin memang dibutuhkan oleh diri selama dosisnya normal. Kalau <em>refreshing </em>dengan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/"><em>scroll </em>TikTok sampai tiga jam</a>, ya menurut Penulis sudah agak kebablasan.</p>



<p>Penulis sendiri adalah tipe yang sering &#8220;terbuai&#8221; dengan media sosial. Niatnya hanya lima menit, malah keterusan sampai satu jam. Ini sering Penulis lakukan ketika merasa bosan dan belum ada aktivitas lain yang harus diselesaikan (atau ada, tapi ditunda).</p>



<p>Menyadari kekurangan ini, Penulis pun berusaha untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/istirahat-dari-media-sosial/">membatasi penggunaan media sosial</a> dan ponselnya. Fitur pembatas waktu yang ada Penulis manfaatkan betul, bahkan sesekali menggunakan aplikasi yang akan memblokir total pemakaian.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Hidup Itu Butuh Jeda</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6088" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Merasa Bosan Itu Memang Tidak Enak (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-gray-turtleneck-sweater-sitting-on-brown-leather-couch-4114918/">cottonbro</a>)</figcaption></figure>



<p>Pertanyaannya, kenapa tubuh ini seolah otomatis mengecek ponsel ketika merasa <em>suwung</em>? Berdasarkan pengalaman pribadi, hal tersebut terjadi karena <strong>kita telah membiasakan &#8220;menggantungkan diri&#8221; ke ponsel ketika merasa bosan</strong>.</p>



<p>Ketergantungan pada ponsel ketika merasa bosan ini menurut Penulis agak bahaya. Kita seolah &#8220;diperbudak&#8221; dan tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Dari yang awalnya karena merasa bosan, kemungkinan kita akan lanjut berkutat di depan layar hingga berjam-jam.</p>



<p>Tubuh dan pikiran kita seolah <strong>tidak dibiarkan memiliki jeda untuk menikmati kebosanan </strong>yang sedang terjadi. Seolah ada tuntutan dari dalam diri kalau harus ada sesuatu yang dilihat, jangan sampai merasa bingung harus ngapain.</p>



<p>Padahal, merasakan dan menyadari kebosanan itu ada manfaatnya. Ketika dalam melakukan rutinitas seolah kita mampu bergerak secara otomatis, jeda sebentar ketika merasa bosan akan membantu kita <strong>menyadari hadirnya diri kita sendiri</strong>.</p>



<p>Abaikan saja saran dari otak atau tangan yang bergerak otomatis mengambil ponsel. Cukup duduk dan biarkan kebosanan tersebut datang. Nikmati kebosanan tersebut, karena mungkin ada saatnya kita begitu disibukkan oleh banyak hal hingga tak sempat merasa bosan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang akan Datang Ketika Menikmati Kebosanan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6089" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Menikmati-Kebosanan-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mungkin Bisa Sekalian Sambil Meditasi (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/calm-woman-in-lotus-pose-meditating-after-awakening-at-home-3791634/">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika berusaha menikmati kebosanan dan tidak membiarkan pikirannya diambil alih oleh ponsel, pikiran Penulis awaknya pasti akan <em>random </em>dan memikirkan apapun yang terlintas. Rasanya memang tidak nyaman, sehingga godaan untuk mengecek ponsel menjadi besar.</p>



<p>Namun, selang beberapa menit, kita sudah mulai bisa memusatkan pikiran kita. Dengan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-sejenak/">berhenti sejenak</a>, terkadang kita<strong> menemukan inspirasi</strong>, <strong>menyadari tentang <em>mindfulness</em></strong><em> </em>atau hadir untuk saat ini, dan lainnya.</p>



<p>Tak jarang kita jadi <strong>menyadari sesuatu yang kemungkinan besar selama ini terabaikan</strong> karena terlalu bergantung pada ponsel untuk mengusir kebosanan. Penulis kadang <strong>merenung </strong>tentang hidupnya, tentang kesalahannya, bahkan memikirkan apa yang perlu diperbaiki.</p>



<p>Ketika sedang ada di tempat umum, misal sedang menunggu pesawat lepas landas, Penulis kerap duduk dan mengamati sekitar. Ada saja hal unik dan menarik yang tidak akan Penulis sadari jika menggunakan waktu menunggu tersebut untuk bermain ponsel. </p>



<p>Cobalah sesekali ketika merasa bosan, jangan mengecek ponsel.<strong> Diam saja, nikmati kebosanan </strong>tersebut merasuki tubuh. Coba atur napas yang biasanya selalu bersikulasi secara otomatis tanpa perlu diatur. Coba sadari kalau kita hadir saat ini, di sini, tanpa perlu melakukan hal lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Tulisan ini tentunya bukan mengajak para Pembaca untuk sering-sering merasa bosan dan melamun. Inti dari tulisan ini adalah ajakan untuk <strong>menghilangkan ketergantungan terhadap ponsel saat merasa bosan</strong>.</p>



<p>Alih-alih mendistraksi pikiran dengan sesuatu yang belum tentu bermanfaat, ada baiknya kita menggunakannya untuk <em>me time</em>. Coba rasakan kehadiran kita saat ini, bahwa kita sebagai manusia tengah berada di suatu ruang tanpa ada sesuatu yang harus dikerjakan.</p>



<p>Menikmati kebosanan itu sesekali menyenangkan kok, bahkan mungkin memang dibutuhkan. Berikan pikiran dan tubuh kita jeda sejenak tanpa ada distraksi dari mana pun. Sekali lagi, nikmati saja rasa bosan itu.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 25 Oktober 2022, terinspirasi setelah menyadari bahwa menikmati kebosanan tidak ada salahnya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@rutzsepp">Sepp Rutz</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/">Menikmati Kebosanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
