Connect with us

Pengembangan Diri

Apakah Sukses Harus Keluar dari Zona Nyaman?

Published

on

Pagi ke pagi, ku terjebak di dalam ambisi
Seperti orang-orang berdasi yang gila materi

Rasa bosan, membukakan jalan mencari peran
Keluarlah dari zona nyaman

– Zona Nyaman by Fourtwnty –

Sekitar empat bulan lalu, sewaktu sedang iseng mengecek akun LinkedIn Penulis, tiba-tiba di beranda muncul sebuah posting yang dibuat oleh kawan karib Penulis. Ia menyinggung masalah “keluar dari zona nyaman” yang bisa dilihat selengkapnya di bawah ini:

Penulis pun tergelitik untuk memberikan komentar yang cukup panjang di posting tersebut dan ingin membahasnya lebih dalam melalui tulisan di blog. Hanya saja karena beberapa alasan (baca: malas), niat tersebut baru terlaksana sekarang.

Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas mengenai opini populer mengenai apakah untuk bisa menjadi sukses harus keluar dari zona nyaman yang telah dimiliki. Agar lebih related, Penulis juga akan berbagi sedikit pengalamannya yang pernah keluar dari zona nyaman.

Memahami Apa Itu Zona Nyaman

Pertanyaan utama dari kawan Penulis adalah “kalau sudah nyaman sama pekerjaan kita, ngapain keluar?“. Untuk itu, Penulis akan mencoba membedah mengenai apakah yang dimaksud dari zona nyaman itu sendiri.

Zona nyaman belakangan ini memang menjadi term yang cukup populer, apalagi setelah dijadikan lagu oleh Fourtwnty. Dilansir dari positivepshychology.com, pencetus istilah zona nyaman adalah Judith Bardwick pada tahun 1991, yang mengatakan:

“Zona nyaman adalah keadaan perilaku di mana seseorang beroperasi dalam kondisi kecemasan-netral, menggunakan serangkaian perilaku terbatas untuk memberikan tingkat kinerja yang stabil, biasanya tanpa rasa risiko.”

Jika mengambil definisi tersebut, dapat disimpulkan kalau zona nyaman adalah kondisi di mana kita merasa aman dan tanpa risiko, tetapi hampir tidak ada ruang untuk berkembang secara signifikan.

Penulis menemukan sebuah diagram mengenai zona nyaman yang bisa dilihat di bawah ini:

Diagram Zona Nyaman (Positive Psychology)

Dalam diagram ini, Penulis menganggap bahwa zona nyaman yang dimaksud di sini adalah ketika kita merasa tidak bisa mengembangkan diri, tetapi hidup kita relatif terjamin, entah karena gaji bulanan yang lancar atau karena masih mendapatkan “jatah” orang tua.

Di dalam dunia kerja, zona nyaman kerap dikaitkan dengan pekerjaan yang cenderung stagnan, monoton, dan tidak bisa mengembangkan diri baik secara skill, relasi, dan lainnya. Hanya saja, pekerjaan tersebut mampu memberikan rasa aman dan menghidupi kita.

Artinya, ketika kita merasa nyaman dengan pekerjaan kita dan masih menemukan banyak ruang untuk bekembang, menurut Penulis itu bukan zona nyaman yang dimaksud.

Selain itu, zona nyaman juga memiliki makna yang lebih luas lagi. Mencoba hal baru yang berbeda, belajar skill baru, mulai rutin berolahraga, melakukan diet baru, itu pun hal-hal yang mengeluarkan kita dari zona nyaman berupa kemalasan.

Penulis merasa nyaman setiap malam nonton YouTube berjam-jam atau bermain game. Hanya saja, di satu titik Penulis merasa aktivitas tersebut tidak membantu Penulis berkembang dan terlalu membuang-buang waktu.

Akhirnya, Penulis mencoba menggantinya dengan kembali rutin menulis blog, belajar tentang SEO, atau sekadar membaca buku. Memang lebih capek, apalagi setelah seharian bekerja. Namun, Penulis jadi merasa bisa memanfaatkan waktunya menjadi lebih baik.

Pengalaman Keluar dari Zona Nyaman

Sejujrunya Penulis merasa kesulitan dalam mendefinisikan zona nyaman ini. Untuk itu, Penulis ingin sharing sedikit tentang pengalamannya yang menurut Penulis merupakan contoh dari keluar dari zona nyaman. Sekali lagi, ini hanya opini pribadi Penulis dan Penulis terbuka untuk definisi lainnya.

Ketika baru lulus dari bangku kuliah, Penulis sempat melakukan banyak hal, mulai dari bekerja di kantor ayah hingga mengambil kursus di Kampung Inggris. Hanya saja, Penulis merasa benar-benar berada di zona nyaman sehingga kesulitan untuk mengembangkan dirinya.

Untuk itu, Penulis pun membulatkan tekat untuk keluar dari zona nyaman dengan pindah ke Jakarta. Awalnya memang karena menjadi volunteer di Asian Games, tetapi selepas acara Penulis memutuskan untuk menetap dan mencari pekerjaan di sana.

Alhamdulillah, Penulis akhirnya mendapatkan pekerjaan pertama di Jakarta dan tinggal di sana selama kurang lebih dua tahun. Jika Penulis bertahan di zona nyamannya dan tidak berani ke Jakarta, mungkin Penulis tidak akan berada di posisinya sekarang (tentu semua ini kehendak Tuhan).

Ketika di sana, Penulis bekerja sebagai content writer. Pekerjaan itu benar-benar zona nyaman karena Penulis memang hobi menulis. Untuk itu, Penulis memutuskan untuk kembali keluar dari zona nyaman dengan belajar social media di kantor. Kebetulan, Penulis punya mentor di sana.

Di tempat kerja yang sekarang, Penulis memiliki jabatan sebagai editor. Apakah Penulis kembali keluar dari zona nyamannya? Jawabannya iya. Penulis tidak hanya melakukan editing artikel di sini, Penulis juga mendalami skill SEO (Search Engine Optimization) dan data analyst kecil-kecilan.

Penulis memang terkesan sangat budak korporat karena seolah selalu memberikan lebih dari yang diminta. Hanya saja, selama itu menambah value untuk diri Penulis, mengapa tidak? Penulis yang “murtad” dari jurusan kuliahnya merasa harus banyak belajar untuk bisa survive di dunia ini.

Dengan kata lain, Penulis berusaha memperluas zona nyamannya sendiri dengan belajar berbagai hal baru. Ketika mengenal dunia media sosial dan SEO, jujur saja rasanya sedikit menakutkan karena terlihat kompleks. Namun, perlahan-lahan Penulis berusaha memahaminya agar dirinya bisa lebih berkembang.

Penutup

Lantas, apa jawaban dari “apakah sukses harus keluar dari zona nyaman?” Menurut Penulis, tidak. Mungkin keluar dari zona nyaman berhasil untuk Penulis, tetapi belum tentu akan berhasil juga untuk orang lain. Bisa saja ada yang bisa sukses dengan tetap bertahan di zona nyamannya sendiri.

Kalau kita merasa nyaman dengan pekerjaan yang sekarang (apalagi gajinya tinggi), mempertahankannya bukan hal yang salah. Mungkin saja kita tidak sadar bahwa setiap hari ada saja hal baru yang didapatkan. Ini semua tidak hanya terkait tentang skill, tapi juga pengalaman hidup.

Tentu ada kondisi-kondisi yang membuat kita merasa tidak bisa keluar dari zona nyaman. Misal, sudah punya tanggunan keluarga, ada hutang, sandwich generation, dan lain sebagainya.

Untuk itu, Penulis tidak setuju jika keluar dari zona nyaman menjadi satu-satunya cara agar orang bisa sukses. Sama seperti jalan ke Roma, ada ribuan cara untuk bisa menjadi sukses. Keluar dari zona nyaman hanya salah satunya.


Lawang, 27 Oktober 2022, terinspirasi setelah membahas posting LinkedIn seorang kawan yang membahas tentang zona nyaman

Foto: Psychology Spot

Sumber Artikel:

Pengembangan Diri

The Hardest Part of Ending is Starting Again

Published

on

By

Judul dari artikel ini Penulis ambil dari salah satu lagu Linkin Park berjudul “Waiting for the End” dari album A Thousand Suns (2010), yang juga merupakan salah satu lagu favorit Penulis. Kebetulan, kalimat tersebut juga menjadi salah satu topik utama dari film Linkin Park: Unshatter.

Entah mengapa sejak menonton film tersebut dan mendengarkan lagunya berkali-kali, muncul keinginan untuk menulis sebuah tulisan dengan judul The Hardest Part of Ending is Starting Again. Menariknya, sampai di paragraf ini, Penulis masih belum tahu akan menulis apa.

Walau begitu, Penulis merasa bahwa dirinya perlu memulai saja dulu. Penulis membiarkan jari-jarinya “menari di atas keyboard” untuk menuangkan apa yang ada di kepalanya, selama masih berkaitan dengan lirik tersebut.

Mengapa Mengakhiri Sesuatu Terasa Berat

Entah kebetulan atau bukan, pagi ini, sebelum melanjutkan menulis artikel ini, Penulis menemukan satu quote menarik dari buku Slow Steps karya Olphi Disya Arinda, M. Psi. Di halaman 178, tertulis:

Agar mampu bergerak maju, kita perlu belajar meninggalkan.

Kata “meninggalkan” identik dengan suatu akhir atau ending. Entah itu dalam sebuah hubungan, karier, apa pun itu. Terkadang, atau bahkan sering, mengakhiri sesuatu itu bukan hal yang mudah, apalagi jika kita telah menjalaninya dalam waktu yang cukup lama.

Dalam tulisan Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Tidak Dipilih, Penulis telah membahas sedikit tentang sunk cost bias. Intinya, kita sulit mengakhiri sebuah hubungan karena besarnya “investasi” yang telah dikeluarkan.

Penulis bisa merasa paham mengapa sulit untuk meninggalkan hubungan yang seperti itu. Rasanya semua upaya kita selama ini jadi terbuang sia-sia. Padahal, jika hubungan seperti itu tetap dilanjutkan, bisa jadi akan lebih banyak buruknya untuk kita.

Begitu juga tentang karier. Saat kita telah stay cukup di tempat lama, pasti rasanya cukup berat untuk meninggalkannya. Bisa jadi karena ada kecemasan apakah bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, takut keluar dari zona nyaman, atau alasan lainnya.

Namun, di antara semua contoh di atas, alasan lain (dan bisa jadi terberat) dari mengakhiri sesuatu adalah bayangan di kepala kita untuk memulai lagi semuanya dari awal.

Mengapa Memulai Sesuatu Terasa Berat

Bayangan untuk memulai lagi memang kerap terasa mengerikan, apalagi kalau kita baru saja meninggalkan sesuatu yang telah berlangsung lama dari hidup kita. Sedikit banyak, mungkin ada hal-hal yang telah menimbulkan trauma.

Dalam menjalin hubungan baru misalnya, kita membayangkan harus berkenalan dengan orang baru, harus beradaptasi lagi, harus belajar memahami lagi, dan lain sebagainya. Itu juga kalau kita menemukan orang yang cocok, yang jarang terjadi di percobaan pertama.

Ketika kita terpikir untuk resign, bisa jadi kita belum tahu ingin melanjutkan karier ke mana. Tak hanya itu, kita juga membayangkan menjalani semua prosesnya dari awal lagi, mulai dari apply lamaran, wawancara, hingga harus adaptasi lagi dengan lingkungan dan jobdesk baru.

Memulai lagi memang terasa mengerikan, karena kita tidak tahu apa yang akan dihadapi nantinya. Memulai lagi memang terasa tidak menenangkan, karena ketidakpastian seolah mengintai dengan begitu dekat.

Semua kekhawatiran dan ketakutan tersebut valid dan wajar. Namun, belakangan ini Penulis belajar bahwa terkadang apa yang kita butuhkan adalah, just do it. Mulai aja dulu. Pelan-pelan tidak masalah, yang penting kita tetap bergerak.

Bagaimana Agar Memulai Sesuatu Tidak Terasa Berat

Merasa khawatir dan takut itu tidak apa-apa. Merasa berat untuk memulai itu tidak apa-apa. Yang penting adalah jangan sampai hal-hal tersebut menahan kita terlalu lama. Mulailah dari langkah-langkah terkecil, yang bahkan terasa remeh sekalipun tidak masalah.

Penulis sedang berusaha menerapkan hal ini. Ketika ingin menyelesaikan sebuah proyek atau task, Penulis akan melakukan breakdown dan membaginya menjadi task-task kecil yang terasa realistis dan relatif mudah untuk dilakukan.

Seperti dalam membuat artikel ini misalnya, Penulis tidak lagi berambisi untuk menulis artikel dan membuat konten medsos semua selesai dalam satu hari. Penulis membaginya menjadi pencatatan ide, pembuatan draft, penulisan artikel, hingga pembuatan konten untuk medsos.

Contoh lain, dalam membuat portofolio. Ini adalah salah satu task yang dari dulu tidak Penulis mulai-mulai karena berbagai alasan. Oleh karena itu, Penulis memulai dari hal terkecil seperti berikut:

  • Breakdown isi portofolio
  • Brainstorm dengan AI terkait isi portofolio
  • Mencari referensi desain portofolio di Canva
  • Membuat draft kosongan 5 halaman
  • Dan seterusnya

Penulis yang perfeksionis ini kerap menunggu “waktu ideal” untuk memulai sesuatu. Padahal, hal tersebut tidak ada, sehingga pekerjaan pun terus tertunda. Dengan membaginya menjadi task-task yang lebih kecil, Penulis akhirnya bisa memulai proyek-proyek yang telah lama ditunda.

Bagi Penulis, ini adalah salah satu cara untuk memulai sesuatu yang baru agar tidak terlihat terlalu mengerikan dan tidak terasa berat. Kalau kita hanya berdiam diri saja, kita tidak akan memiliki keberanian untuk berhenti dan memiliki awal yang baru.

Penutup

Seperti yang sudah disinggung di awal, motivasi awal Penulis menulis artikel ini adalah karena film Linkin Park dan lagu “Waiting for the End”. Penulis tidak tahu harus menulis apa sebenarnya, tapi Penulis memutuskan untuk memulai saja.

Dalam perjalanannya, Penulis menemukan quote buku yang cocok dengan topik di tulisan ini. Dari sana, Penulis akhirnya seperti menemukan arah mau dibawa ke mana tulisan ini hingga sampai ke bagian Penutup.

Analogi ini cocok untuk topik yang sedang Penulis bahas. Terkadang, memulai sesuatu yang baru itu terasa berat karena kita belum memulainya. Terlalu banyak hal yang kita pikirkan di dalam kepala kita hingga akhirnya justru tidak mulai-mulai.

Oleh karena itu, mulai dari yang kecil-kecil bisa menjadi salah satu tips untuk mengatasi hal tersebut. Just keep moving, just keep pushing. Jangan diam, bergeraklah, berbuat sesuatu dari yang terkecil. Jangan lupa juga untuk merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang berhasil kita dapatkan.


Lawang, 10 Oktober 2026, terinspirasi (lagi-lagi) setelah menonton Linkin Park: Unshatter

Continue Reading

Produktivitas

Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca

Published

on

By

Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan.

Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. Penulis baru ingat kalau isinya benar-benar berkesan.

Oleh karena itu, ditambah dengan semakin bertambahnya usia, Penulis mencoba untuk mencatat apa yang sedang dibaca. Jadi, ketika sedang membaca buku (terutama nonfiksi), Penulis akan menyiapkan sebuah catatan kecil beserta bolpoin.

Bagaimana Penulis Mencatat Apa yang Sedang Dibaca

Penulis memulai mencatat apa yang sedang dibaca pada tanggal 29 April 2026. Judul pertama yang Penulis catat adalah Merawat Luka Batin yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Penulis tidak menulis sejak halaman pertama, tapi melanjutkan saja dari yang terakhir dibaca.

Apa yang Penulis catat adalah apa yang menurut Penulis penting atau menarik. Jadi, ketika membaca sesuatu Penulis sampai bergumam “ooooh”, biasanya akan Penulis catat. Bentuk kalimatnya pun sesuai yang ada di kepala, bukan ditulis ulang (kecuali ada quote yang menarik).

Contoh di buku Merawat Luka Batin, di halaman 186 Penulis mencatat: Hindari “seharusnya” jika sesuatu terjadi di luar keinginan kita. Bagi Penulis, kalimat itu cukup menggugah hati, bahkan Penulis sudah membuat draft artikel yang terinspirasi dari kalimat tersebut.

Penulis berusaha untuk membuat catatan buku ini sesederhana mungkin agar tidak memberatkan, seperti yang diungkap buku Atomic Habits maupun Effortless. Cukup ada keterangan judul, tanggal buku dibaca, dan halaman yang sedang disorot, lalu baru menulis poin-poin yang ingin dicatat.

Selain agar bisa mengingat poin-poin penting dari buku yang sedang dibaca, salah satu tujuan mencatat ini adalah untuk memudahkan proses pembuatan artikel review di blog ini. Seringnya karena selesainya sudah agak lama, jadi ada poin-poin yang terlewat untuk dibahas.

Alasan lain mengapa Penulis membutuhkan catatan ini adalah Penulis hobi berpindah-pindah bacaan, tergantung dirinya sedang ingin membaca genre atau topik apa. Bisa saja satu buku baru dibaca lagi satu bulan kemudian atau bahkan lebih.

Dengan adanya catatan ini, Penulis setidaknya bisa me-review secara singkat apa saja yang terakhir Penulis baca dari buku ini. Dengan begitu, Penulis bisa lebih nyambung dengan bab selanjutnya yang akan dibaca.

Lantas, mengapa harus capek-capek mencatat di sebuah buku? Karena Penulis tidak akan tega mencoret-coret buku atau sekadar menempelkan notes. Mungkin tidak akan selengkap yang dilakukan oleh “joki buku” yang sedang viral saat ini.

Pemilihan notes kecil berukuran A5 pun ada alasannya, yaitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun punya kamar yang bisa dibilang nyaman untuk membaca, Penulis kerap berpindah lokasi ketika membaca untuk berganti suasana.

Memindahkan Catatan Fisik ke Digital

Karena ditulis sesuai dengan urutan buku yang sedang dibaca, maka posisi catatan buku pun tersebar-sebar. Contoh buku Merawat Luka Batin yang tadi, catatan pertama bertanggal 29 April 2026. Penulis baru membaca buku itu lagi pada tanggal 11 Mei 2026.

Di sela-sela itu, Penulis membaca banyak buku nonfiksi lain yang juga dicatat, mulai dari Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan, Mengapa Negara Gagal, hingga Start with Why. Seperti yang sudah disinggung, Penulis memang hobi berpindah-pindah bacaan sesuai mood.

Oleh karena itu, Penulis butuh platform lain untuk merapikan catatan buku ini. Notion menjadi jawaban dari permasalahan ini. Penulis bisa menyalin catatan fisiknya dalam format digital, tapi kali ini diurutkan berdasarkan bukunya. Jadi, tak masalah meskipun ada jeda panjang ketika membaca bukunya.

Dengan kombinasi fisik dan digital ini, Penulis bisa memperkecil kemungkinan untuk melupakan apa yang pernah dibaca. Misal sedang membutuhkan inspirasi atau informasi, Penulis juga tinggal membaca ulang catatannya ini.

Penulis tidak setiap hari menyalin catatan fisiknya ke digital. Bisa dibilang, Penulis melakukannya hanya ketika ingin saja. Bahkan, catatan di Notion ini baru sampai bulan Juni, padahal sekarang sudah bulan Oktober. Ada cukup banyak yang belum Penulis salin ke Notion.

Penutup

Sejauh ini, Penulis hanya mencatat buku-buku nonfiksi karena ingin menjadikan fiksi sebagai murni hiburan. Apalagi, jika sebuah cerita fiksi bagus atau berkesan, Penulis pasti akan lebih mudah mengingatnya. Ini berbeda dengan nonfiksi yang memiliki banyak sekali poin penting yang bisa sulit untuk terus diingat.

Selain itu, Penulis rasanya juga perlu mengutarakan kekurangan metode ini. Adanya “beban” untuk mencatat buku terkadang justru menghentikan Penulis membaca buku. Jika seperti itu, maka Penulis memutuskan untuk membaca saja tanpa mencatat, nanti kalau sudah mood baru direkap.

Semoga tulisan ini bisa sedikit “menginspirasi” Pembaca yang kerap mengalami keresahan yang sama dengan Penulis, alias suka lupa dengan apa yang sedang dibaca. Buat yang baru ingin mulai rutin membaca, metode pencatatan ini rasanya tidak terlalu direkomendasikan.


Lawang, 6 Oktober 2026, terinspirasi setelah telah mencatat apa yang sedang dibaca dalam sebuah catatan kecil

Continue Reading

Pengembangan Diri

Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung

Published

on

By

Jika membicarakan tentang IVE, tentu kita tidak bisa lepas dari nama Jang Wonyoung. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi leader IVE.

Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap pick me dan dianggap sebagai anak emas agensinya. Hal ini bisa benar, bisa tidak, mong Penulis enggak kenal.

Memang, berdasarkan hasil riset kawan Penulis yang merupakan pengamat dunia K-Pop, pemasukan yang dihasilkan Wonyoung seorang diri lebih besar dari keseluruhan IVE, sehingga terkesan “wajar” kalau ia diistimewakan oleh agensinya.

Namun, di tulisan kali ini, Penulis tidak akan membahas hal tersebut. Penulis justru akan membahas tentang hal yang agak nyeleneh, yakni tentang kebiasaan duduk Wonyoung yang ingin Penulis tiru.

Postur Duduk Jang Wonyoung

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari postur duduk Wonyoung. Ia hanya membiasakan diri untuk duduk tegak dan menjaga postur tubuhnya tetap “sempurna”, bahkan ketika duduk yang tidak memiliki sandaran sekalipun.

Penulis mengetahui hal ini pertama kali ketika menonton acara reality show 1,2,3 IVE 5 Ep. 1, ketika semua member sedang bersauna. Ketika sedang duduk lesehan, terlihat kalau postur Wonyoung paling tegak di antara member yang lain.

Lihat Postur Duduk Wonyoung di Sebelah Paling Kiri (YouTube)

Hal ini juga terlihat di ajang-ajang penghargaan K-Pop, yang biasanya lewat di YouTube Shorts Penulis. Memang idol yang lain juga berusaha menjaga image dengan postur duduk yang baik, tapi Wonyoung memang yang paling terlihat.

Terbaru, ketika IVE menjadi bintang tamu di acara milik musisi Epic High, hal ini juga kembali dibahas (yang menjadi inspirasi tulisan ini). Bahkan, host-nya pun menanyakan apakah nyaman duduk dengan postur seperti itu.

Wonyoung (dan Rei yang ketika itu juga duduk dengan tegak) pun dengan enteng menjawab bahwa duduk dengan postur tersebut justru posisi yang paling nyaman. Jawaban tersebut membuat Liz yang duduk senden langsung membetulkan postur duduknya.

IVE di Channel YouTube Epic High (YouTube)

Sebagai orang yang kerjanya bisa 8 jam di depan layar monitor, posisi duduk menjadi krusial. Waktu awal-awal work from home (WFH) sekitar lima tahun lalu, Penulis kerap mengalami sakit punggung dan tangan.

Beberapa tahun ini, hal tersebut sudah berkurang drastis karena Penulis membeli beberapa aksesoris untuk meminimalisir timbulnya rasa sakit. Apalagi, Penulis sekarang menggunakan kursi ergonomis yang dibeli di IKEA.

Walau sudah menggunakan kursi yang ergonomis, posisi duduk Penulis masih kerap kurang ergonomis. Seringnya, Penulis justru duduk terlalu maju dan tidak menempatkan punggungnya di sandaran punggung yang sebenarnya sudah sangat ideal untuk menopang punggung Penulis.

Nah, entah mengapa ketika berada dalam posisi seperti ini, Penulis langsung teringat postur duduk Wonyoung dan akhirnya memperbaiki posisi duduknya. Ketika mendengarkan khotbah Jumatan pun Penulis sering teringat hal tersebut dan membetulkan posisi duduknya.

Dengan membiasakan diri duduk tegak seperti Wonyoung, Penulis berharap bisa mengurangi risiko untuk menjadi bungkuk dan memiliki postur tubuh yang buruk. Memang awalnya tidak nyaman dan terasa melelahkan, tapi harus dibiasakan.

Mindset ala Lucky Vicky

Lucky Vicky (Crast FM)

Selain postur duduk, satu hal lain yang ingin Penulis tiru dari Wonyoung adalah mindset Lucky Vicky yang dimilikinya. Sebenarnya, konsepnya sama dengan idiom every cloud has a sliver lining, di mana di setiap kejadian buruk, pasti ada hal baiknya.

Lucky Vicky menjadi identik dengan Wonyoung karena hal tersebut memang kerap diucapkannya. Ia jadi dikenal sebagai pribadi yang punya pikiran positif terhadap apa pun yang dihadapinya, mungkin juga ketika menghadapi para haters-nya.

Memang ia bukan membawa konsep baru, hanya melakukan rebranding yang sudah ada menjadi versinya sendiri. Alhasil, jadi banyak orang yang berusaha untuk mengikuti mindset positifnya tersebut.

Penutup

Sebetulnya, dua hal dari Wonyoung yang Penulis sebut di atas tersebut adalah contoh bagaimana kita sebenarnya memiliki pilihan ketika melihat sesuatu, mau melihat baiknya atau fokus ke buruknya.

Kalau kita fokus dengan hal buruknya, maka kita akan terus membenci Wonyoung yang dianggap pick me, dianakemaskan, obsesi untuk menjadi center, dan lain sebagainya. Padahal, ada hal-hal baik yang bisa kita jadikan inspirasi, yang terlupakan karena terlalu fokus dengan sisi buruknya (mindset Lucky Vicky).

Penulis bukan penggemar Wonyoung secara khusus, toh di IVE bias Penulis adalah Rei. Walau begitu, Penulis tidak menutup mata jika ada hal-hal baik yang bisa Penulis panutan di kehidupan sehari-hari.


Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat postur duduk Jang Wonyoung yang tegak

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018