<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tere Liye Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/tere-liye/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/tere-liye/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Aug 2024 16:08:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Tere Liye Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/tere-liye/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Aug 2024 16:06:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7716</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sudah cukup lama sejak Penulis terakhir kali membaca novel karya Tere Liye. Setelah meninggalkan seri Bumi karena sudah tidak sanggup mengikuti semestanya yang seolah meluas tanpa batas, buku terakhir yang Penulis baca adalah Bedebah di Ujung Tanduk. Setelah di novel Janji Penulis sudah sedikit memuji Tere Liye, Penulis kembali ngomel-ngomel setelah membaca Bedebah di Ujung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/">[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sudah cukup lama sejak Penulis terakhir kali membaca novel karya <strong>Tere Liye</strong>. Setelah meninggalkan seri Bumi karena sudah tidak sanggup mengikuti semestanya yang seolah meluas tanpa batas, buku terakhir yang Penulis baca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/">Bedebah di Ujung Tanduk</a></em>.</p>



<p>Setelah di novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Janji</a> </em>Penulis sudah sedikit memuji Tere Liye, Penulis kembali ngomel-ngomel setelah membaca <em>Bedebah di Ujung Tanduk</em> karena beberapa hal. Alhasil, Penulis (sekali lagi) memutuskan untuk berhenti membaca novel karya Tere Liye. </p>



<p>Namun, keputusan tersebut goyah ketika Penulis membaca twit dari Ernest Prakasa pada bulan Februari lalu. Ia mengatakan kalau novel berjudul <em><strong>Teruslah Bodoh Jangan Pintar </strong></em>ini &#8220;terlalu berani&#8221; sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi Penulis. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa-banner.jpg 1280w " alt="Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/belajar-menulis-fiksi-pada-di-balik-tirai-aroma-karsa/">Belajar Menulis Fiksi Pada Di Balik Tirai Aroma Karsa</a></div></div></div><p></p>


<p>Novel bertema politik ini rilis berdekatan dengan <a href="https://whathefan.com/politik-negara/mengamati-pilpres-2024-bagian-1-antara-perubahan-dan-keberlanjutan/">pemilihan presiden</a>, sehingga banyak yang mengaitkan novel ini dengan kejadian di dunia nyata. Apakah itu benar? Hanya Tere Liye yang bisa menjawabnya. </p>



<p>Yang jelas, setelah membaca buku ini, mata kita seolah dibuka untuk minimal mengetahui realita yang selama ini tidak tersorot.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Teruslah Bodoh Jangan Pintar</em></li>



<li>Penulis: Tere Liye</li>



<li>Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara</li>



<li>Cetakan: Kedua</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2024</li>



<li>Tebal: 371 halaman</li>



<li>ISBN: 9786238882205</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<p><em>Saat hukum dan kekuasaan dipegang oleh serigala-serigala buas berbulu domba.<br>Saat seluruh negeri dikangkangi orang-orang jualan sok sederhana tapi sejatinya serakah.<br>Apakah kalian akan tutup mata, tutup mulut, tidak peduli dengan apa yang terjadi?<br>Atau kalian akan mengepalkan tangan ke udara, LAWAN!</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<p>Kebanyakan sinopsis buku-buku Tere Liye tidak terlalu menjelaskan apa isi bukunya, seolah ingin menyimpan suatu rahasia yang baru terungkap setelah kita membaca bukunya. Buku ini salah satunya, yang bisa dilihat pada satu paragraf di atas.</p>



<p>Setelah dibuka, ternyata novel ini bercerita tentang persidangan tertutup yang dilakukan oleh para aktivis melawan korporat milik Tuan Liem (PT Semesta Minerals &amp; Minings) yang dituduh melakukan berbagai hal ilegal dan pencemaran lingkungan. Ini merupakan <em>scene </em>yang tak asing, bukan?</p>



<p>Alur ceritanya sendiri maju-mundur, di mana ketika saksi memberikan kesaksian, maka kita akan dibawa <em>flashback </em>ke masa lalu. Format ini selalu berulang di setiap saksi agar memberi kita gambaran mengenai kasus atau masalah yang sedang disidangkan.</p>



<p>Ada banyak sekali saksi yang dihadirkan oleh kedua belah pihak, di mana biasanya pihak tergugat seolah bisa membaca strategi pihak penuntut. Akibatnya, pihak penutut lebih sering kalah daripada menang, karena tim pembela tergugat dipimpin oleh pengacara paling top.</p>



<p>Pada akhirnya, sesuai dugaan, pihak tergugat berhasil memenangkan pengadilan dan berhak untuk melanjutkan proyek yang sedang dikerjakan. Sengaja Penulis menulis bagian akhirnya karena di realita, hal tersebut terlalu sering terjadi, sehingga rasanya tak layak menjadi <em>spoiler</em>. Namun, itu bukan akhir dari cerita di novel ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</h2>



<p>Tidak ada kisah manusia biasa dengan kemampuan super. Tidak ada adegan aksi yang menegangkan. Novel ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Menurut Penulis, Tere Liye berhasil menjahit beberapa kejadian nyata seolah menjadi sebuah fiksi pada novel ini, bukan sebaliknya. </p>



<p>Dengan mudah kita akan mengaitkan nama toko di buku ini dengan tokoh di dunia nyata. Penulis yakin, ada nama yang langsung terbesit di pikiran Pembaca begitu mengetahui karakter seperti Bacok dan Hotma Cornelius. Penulis tidak akan menyebutkan nama mereka di sini.</p>



<p>Dalam realita, uang dan kekuasaan selalu menjadi poin penting untuk bisa menjadi pemenang. Hal ini terlihat dari kemenangan PT Semesta yang dilakukan dengan menyogok para juri, selain mengumpulkan berbagai dokumen untuk membantah semua tuduhan yang diarahkan ke mereka.</p>



<p>Bagi yang kerap mengikuti berita-berita seputar konflik agraria, hilirisasi, atau kerusakan lingkungan, mungkin hal yang disajikan bukan hal baru. Namun, novel ini bisa membuka mata bagi mereka yang selama ini belum terlalu mengikutinya.</p>



<p>Konflik-konflik yang dihadirkan sebenarnya cukup berat, tapi Tere Liye mampu menghadirkannya dengan bahasa mudah sehingga kita yang awam dan tidak <em>related </em>mampu memahami situasinya. Di setiap kasus, kita akan dibuat geram dengan kejadian yang ada.</p>



<p>Penulis sempat mengkritik Tere Liye di novel <em>Bedebah di Ujung Tanduk </em>karena risetnya terlalu dangkal. Namun, di novel ini bisa dibilang ia melakukan riset yang cukup detail. Penulis akan percaya jika ia telah mewawancarai korban-korban konflik agraria dan lingkungan yang dalam 10 tahun terakhir kerap terjadi.</p>



<p>Bagi Penulis sendiri, konflik agraria dan kerusakan memang menjadi topik yang Penulis perhatikan. Walau tak ada kontribusi yang bisa Penulis lakukan untuk membantu para korban, setidaknya Penulis merasa perlu untuk tahu dan menyebarkan <em>awareness </em>kepada masyarakat yang lebih luas.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merasa kalau novel ini mampu membuka mata kita mengenai konflik-konflik yang sedang dihadapi oleh saudara-saudara kita yang ada jauh di sana. Masalah yang mereka hadapi sama sekali tidak ringan, mereka tertindas di tempat tinggal mereka sendiri.</p>



<p>Sayangnya, novel ini bak anime <em>shounen </em>yang hitam-putih karakternya terlalu jelas. Pihak yang baik selalu benar dan pihak yang jahat selalu salah. Hal ini mengurangi elemen realistis yang disajikan pada novel ini. </p>



<p>Selain itu, Penulis juga kurang menikmati bagian <em>ending </em>yang terasa terburu-buru dan kurang realistis. Penulis tidak akan membocorkannya di sini, tapi Penulis merasa bagian akhirnya yang agak menggantung kurang memuaskan.</p>



<p>Namun, secara umum, setidaknya novel ini tidak membuat Penulis ngomel-ngomel. Sejak dulu, Penulis memang lebih suka cerita-cerita Tere Liye yang terasa dekat. Novel <em>Teruslah Bodoh Jangan Pintar </em>justru terasa terlalu dekat, hingga terasa menyeramkan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 19 Agustus 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Teruslah Bodoh Jangan Pintar</em> karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/">[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2022 16:00:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5770</guid>

					<description><![CDATA[<p>Novel Tere Liye pertama yang Penulis baca adalah Pulang. Penulis membelinya sewaktu zaman kuliah dan ceritanya pun terasa seru-seru saja. Apalagi, novel ini yang membuat Penulis jadi membeli novel-novel Tere Liye lainnya. Hanya saja, ketika sudah beranjak dewasa seperti sekarang, rasanya ceritanya sudah minta ampun membosankannya. Beberapa kali Penulis membuat ulasan tentang novel Tere Liye [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/">Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Novel Tere Liye pertama yang Penulis baca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/">Pulang</a></em>. Penulis membelinya sewaktu zaman kuliah dan ceritanya pun terasa seru-seru saja. Apalagi, novel ini yang membuat Penulis jadi membeli novel-novel Tere Liye lainnya.</p>



<p>Hanya saja, ketika sudah beranjak dewasa seperti sekarang, rasanya ceritanya sudah minta ampun membosankannya. Beberapa kali Penulis membuat ulasan tentang novel Tere Liye di blog ini, dan kebanyakan isinya adalah keluhan dan keluhan.</p>



<p>Nah, novel Tere Liye terbaru yang telah Penulis selesaikan adalah <em><strong>Bedebah di Ujung Tanduk</strong></em><strong> </strong>yang menggabungkan <em>universe </em>dari seri <em>Pulang </em>dan <em>Negeri Para Bedebah. </em>Kedua karakter utama dari seri tersebut, <strong>Bujang</strong> dan <strong>Thomas</strong>, muncul di novel ini.</p>



<p>Apakah Penulis kembali menelan pil kekecewaan pada novel kali ini? Sayangnya, iya. Akan ada banyak sekali keluhan yang akan Penulis tuangkan di sini, mungkin dengan sedikit emosi. <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em><font _mstmutation="1" _msthash="1047852"></p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: Bedebah di Ujung Tanduk</li><li>Penulis: Tere Liye</li><li>Penerbit: Sabakgrip</li><li>Cetakan: &#8211;</li><li>Tanggal Terbit: &#8211;</li><li>Tebal: 415 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Penulis tidak akan bercerita terlalu detail tentang novel ini, hanya poin-poin pentingnya saja. Inti dari konflik yang ada di novel ini adalah Thomas yang membantu jual beli gunung yang ternyata milik kelompok <strong>Teratai Emas</strong> pimpinan <strong>Roh Drukpa XX</strong>.</p>



<p>Karakter langganan dari seri <em>Pulang </em>pun kembali muncul, seperti <strong>Salonga</strong>, <strong>Junior</strong>, <strong>White</strong>, <strong>Yuki dan Kiko</strong>, dan tentu saja Bujang yang lebih dominan di cerita ini daripada Thomas. Sebagai tambahan, <strong>Ayako</strong> juga bergabung dengan &#8220;kelompok sirkus&#8221; ini.</p>



<p>Singkat cerita, mereka semua diburu oleh kelompok Teratai Emas karena menolak untuk menyerahkan Thomas. Alhasil, mereka semua pun tertangkap dan dibawa ke markas Teratai Emas.</p>



<p>Lantas, apakah mereka semua pada akhirnya mati karena tidak ada kesempatan untuk kabur? Tentu saja tidak. Ayako, yang kehadirannya memang diperlukan untuk keperluan plot, mengajukan semacam tantangan ke Roh Drukpa XX.</p>



<p>Intinya, ada tiga tantangan yang akan diajukan oleh masing-masing pihak Jika Bujang dkk berhasil menang, maka mereka akan dibebaskan. Jika tidak, hukuman mati pun akan dilaksanakan.</p>



<p>Menjelang akhir cerita, tiba-tiba kakak Bujang yaitu <strong>Diego</strong> tiba-tiba muncul (seperti biasa) dan membuat kekacauan hingga membuat Roh Drukpa XX mati. Selain itu, Ayako juga mengorbankan diri agar rombongan lain bisa selamat.</p>



<p>Ada juga sisipan kisah romansa antara Bujang dan Maria, yang hampir saja menikah di novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/">Pulang-Pergi</a></em>. Di novel ini, kita mengetahui kalau Bujang telah memiliki sosok spesial di dalam hatinya, yang belum kita ketahui hingga sekarang.</p>



<p>Sudah, kurang lebih seperti itu plot ceritanya. Seperti biasa, novel ini pun akan kembali memiliki kelanjutannya dengan judul <em><strong>Tanah Para Bandit</strong></em>. Entah sampai kapan Tere Liye akan terus melakukan <em>milking </em>terhadap karya-karyanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</h2>



<p>Penulis pernah membuat ulasan tentang film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-fast-furious-9/">Fast &amp; Furious 9</a></em>, di mana para karakternya yang manusia biasa terasa memiliki kekuatan super. Seri ini juga memiliki tendensi untuk mengarah ke arah yang sama.</p>



<p>Dibandingkan genre <em>action</em>, <strong>seri ini sudah lebih mengarah ke genre fantasi</strong>. Bayangkan saja, Thomas digambarkan memiliki pemberat ala Rock Lee dan mampu meningkatkan kekuatannya hingga berkali-kali lipat. Sangat tidak terasa orisinal.</p>



<p>Apalagi, tidak ada karakter utama atau bahkan pendamping yang dibunuh oleh <em>author</em>. Kematian Ayako sudah Penulis prediksi sejak awal kemunculannya, karena memang biasanya karakter baru muncul untuk sekadar ditumbalkan.</p>



<p>Selain itu, <strong>karakter Thomas juga terlihat berubah </strong>di novel ini. Sebelumnya, ia terlihat sebagai pribadi yang cerdas, berwibawa, dan mengandalkan logika. Di sini, ia terkesan kekanakan dan hanya mengandalkan kemampuan fisik saja.</p>



<p>Yang paling klise tentu saja <strong>kemunculan Diego yang (lagi-lagi) muncul di saat-saat krusial</strong>. Ia seolah dihadirkan untuk menjadi nemesis dari Bujang, sehingga tidak akan dimatikan dalam waktu dekat.</p>



<p>Tere Liye berusaha menyisipkan sedikit sejarah di novel ini, apalagi latar tempatnya yang berlokasi di Nepal dan Bhutan. Hanya saja, sisipan tersebut terasa dangkal dan kurang mendalam, seolah hanya <em>searching </em>di Google saja.</p>



<p>Beberapa hal lain yang menurut Penulis cukup mengecewakan dari novel ini adalah dialog pasukan yang monoton, efek suara yang aneh serta terlalu banyak, penempatan humor yang memaksa, penggambaran pertarungan yang terlalu panjang, dan lainnya.</p>



<p>Jika ditarik kesimpulan, lagi-lagi novel Tere Liye mengecewakan Penulis dan kesulitan untuk mencari sisi positifnya. Akibatnya, hingga saat ini Penulis memutuskan untuk belum membeli novel terbaru dari <a href="https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">serial <em>Bumi</em></a><em> </em>karena takut dikecewakan lagi.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 29 Agustus 2022, terinspirasi setelah membaca novel <em>Bedebah di Ujung Tanduk </em>karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/">Setelah Membaca Bedebah di Ujung Tanduk</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-bedebah-di-ujung-tanduk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Janji</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2022 12:42:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5474</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah berkali-kali kecewa setelah membaca karya Tere Liye (Lumpu, Si Putih, Pulang-Pergi, Si Anak Cahaya, Si Anak Badai), akhirnya ada satu novel baru dari beliau yang membuat Penulis sedikit merasa puas setelah selesai membacanya. Berjudul Janji, novel ini bisa dibilang mengulang formula dari novel-novel sebelumnya yang menurut Penulis cukup baik: Tentang Kamu. Penulis akan jelaskan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Setelah Membaca Janji</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah berkali-kali kecewa setelah membaca karya Tere Liye (<em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lumpu/">Lumpu</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-putih/">Si Putih</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/">Pulang-Pergi</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-anak-cahaya/">Si Anak Cahaya</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/anak-anak-muara-pada-si-anak-badai/">Si Anak Badai</a></em>), akhirnya ada satu novel baru dari beliau yang membuat Penulis sedikit merasa puas setelah selesai membacanya.</p>



<p>Berjudul <em>Janji</em>, novel ini bisa dibilang mengulang formula dari novel-novel sebelumnya yang menurut Penulis cukup baik: <em>Tentang Kamu</em>. Penulis akan jelaskan nanti mengapa novel ini memiliki formula yang sama dengan novel tersebut. </p>



<p>Sebelum itu, Penulis akan bahas terlebih dahulu mengenai alur cerita dari novel ini. <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em></p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Novel ini diawali dari kisah tiga anak bernama <strong>Hasan</strong>, <strong>Baso</strong>, dan <strong>Kahar</strong>, yang menempuh ilmu di sebuah sekolah agama. Mereka bertiga terkenal karena kebandelan dan keisengan yang sering mereka lakukan.</p>



<p>Lantas, mereka diberikan hukuman oleh pemilik sekolah agama tersebut (disebut <strong>Buya</strong>) untuk mencari seseorang bernama <strong>Bahar Safar </strong>yang pernah bersekolah di sana puluhan tahun yang lalu.</p>



<p>Buya memerintahkan mereka mencari Bahar karena ayahnya pernah bermimpi kalau orang tersebut membantu ayahnya di akhirat nanti. Padahal, Bahar dulu diusir dari sekolah karena melakukan kesalahan yang sangat fatal: Membakar sekolah hingga seorang tewas.</p>



<p>Selain itu, ketiga anak tersebut dipilih karena sama-sama memiliki jiwa pemberontak yang kuat karena berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Bahkan, mereka merasa dibuang oleh keluarganya sendiri ke sekolah agama tersebut.</p>



<p>Akhirnya, dimulailah perjalanan tiga sekawan tersebut mencari Bahar. Mereka berusaha mengumpulkan informasi mengenai keberadaan Bahar dengan cara mereka sendiri yang mungkin tak akan terpikirkan oleh Buya sekalipun.</p>



<p>Dari sana, seperti kepingan <em>puzzle</em>, perlahan kita akan menelusuri kisah hidup Bahar setelah diusir oleh Buya. Mulai dari pertemuan dengan <strong>Bos Acong</strong>, <strong>Pak Asep</strong>, <strong>Pak Mansyur</strong>, <strong>Muhib</strong>, <strong>saudagar kaya</strong>, <strong>Pak Budi</strong> dan <strong>Bu Surti</strong>, hingga <strong>Pak Sueb</strong>.</p>



<p>Selepas pergi dari sekolah agama, ternyata Bahar pergi ke banyak tempat, mulai dari ibu kota provinsi, penjara, pertokoan di pertigaan kota lain, pertambangan liar, hingga akhirnya  di ibu kota.</p>



<p>Detail perjalanan yang dilalui ketiga sekawan tidak akan Penulis ceritakan di sini, karena sebaiknya Pembaca membacanya sendiri. Yang pasti, inilah <em>the old Tere Liye </em>yang penulis sukai.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Janji</em></h2>



<p>Formula yang digunakan novel ini sama dengan novel <em>Tentang Kamu</em>, yakni menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan karakter utamanya. Selain itu, alur cerita yang dimiliki juga sama, yakni penelusuran mencari jejak seseorang dari masa lampau.</p>



<p>Novel ini juga memiliki <em>vibe </em>yang mirip dengan novel-novel Tere Liye yang Penulis anggap bagus dan mampu memikat pembacanya, seperti <em>Rindu </em>dan <em>Rembulan Tenggelam di Wajahmu</em>. </p>



<p>Di akhir cerita, ternyata Bahar diberikan lima pusaka sebelum meninggalkan sekolah agama, yang seolah menjawab mengenai perilaku Bahar sepanjang cerita. Kelima pusaka tersebut adalah:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Selalu hormati dan bantu tetangga</li><li>Selalu lindungi yang lemah dan teraniaya</li><li>Senantiasa jujur dan tidak pernah mencuri</li><li>Bersabarlah atas apa pun ujianmu</li><li>Bersedekah, bersedekah, bersedekahlah</li></ol>



<p>Bisa dilihat meskipun &#8220;bermasalah&#8221;, Bahar dengan taat melaksanakan kelima pusaka tersebut. Penulis merasa terkejut ketika menyadari kalau kelima poin tersebut dilakukan secara berurutan di cerita ini.</p>



<p>Konflik cerita yang bisa dianggap cukup <em>dark </em>bisa diimbangi dengan kocaknya tiga sekawan tersebut, sehingga sepanjang membaca novel ini kita tidak melulu dibuat tegang (meskipun <em>joke </em>yang ada klise khas Tere Liye).</p>



<p>Dari naik-turunnya kehidupan Bahar di novel ini, ada banyak nilai-nilai kehidupan yang kita dapatkan. Salah satu bagian yang Penulis suka adalah tentang kehidupan penjara yang terasa nyata dan cukup detail.</p>



<p>Jika harus menyebutkan apa kekurangan novel ini, mungkin Penulis akan menyebutkan betapa mulusnya tiga sekawan menemukan informan yang mengetahui tentang Bahar. Walaupun begitu, alurnya masih terasa natural dan tidak memaksa.</p>



<p>Penulis berharap Tere Liye akan lebih banyak menerbitkan novel-novel seperti ini. Meskipun menggunakan formula yang sama, setidaknya ada sesuatu yang bisa didapatkan oleh pembacanya.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 27 Januari 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Janji</em> karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/">Setelah Membaca Janji</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-janji/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Lumpu</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lumpu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lumpu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2021 12:59:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[Lumpu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[serial Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5022</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sama seperti tahun kemarin, tahun ini Tere Liye kembali merilis dua buku serial Bumi. Bedanya, tahun kemarin Selena dan Nebula memiliki kesinambungan. Kali ini, Si Putih dan Lumpu sama sekali tidak berkaitan. Setidaknya, belum. Berbeda dengan Si Putih yang merupakan spin-off, di novel Lumpu kita akan kembali bertemu dengan trio kesayangan kita, Raib, Seli, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lumpu/">Setelah Membaca Lumpu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sama seperti tahun kemarin, tahun ini Tere Liye kembali merilis dua buku serial Bumi. Bedanya, tahun kemarin <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selena-dan-nebula/"><em>Selena </em>dan <em>Nebula</em></a> memiliki kesinambungan. Kali ini, <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-putih/">Si Putih</a></em> dan <em><strong>Lumpu </strong></em>sama sekali tidak berkaitan. Setidaknya, belum.</p>



<p>Berbeda dengan <em>Si Putih </em>yang merupakan <em>spin-off</em>, di novel <em>Lumpu </em>kita akan kembali bertemu dengan trio kesayangan kita, Raib, Seli, dan Ali. Ini merupakan kisah pertama mereka setelah tiga buku terakhir berfokus pada sosok lain.</p>



<p>Novel ini menjadi buku ke-11 dari serial Bumi. Jujur, Penulis tidak menyangka kalau <a href="https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">serial Bumi</a> akan menjadi sepanjang ini. Penulis kira, <em><a href="https://whathefan.com/buku/teknik-marketing-pada-komet-minor/">Komet Minor</a></em> adalah seri terakhir.</p>



<p>Setelah mengungkapkan kekecewaan pada novel <em>Si Putih</em>, bagaimana dengan novel ini?</p>



<p><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Setelah mendapatkan kabar Miss Selena ditangkap, Raib, Seli, dan Ali memutuskan untuk menyelamatkannya dan memulai petualangan baru. Dengan berbagai persiapan, mereka kembali ke Klan Bulan.</p>



<p>Tempat pertama yang mereka tuju adalah Akademi Bayangan Tingkat Tinggi (ABTT) untuk bertemu dengan Master Ox. Mereka butuh bertemu dengannya untuk menemukan di mana musuh lama mereka, Tamus, berada.</p>



<p>Ali adalah orang yang memiliki ide gila tersebut. Mengapa? Karena Lumpu mengincar orang-orang yang memiliki kekuatan. Apalagi, Tamus juga termasuk orang yang menerobos ke Klan Nebula untuk mencuri Cawan Keabadian.</p>



<p>Berkat petunjuk dari Master Ox, mereka bertiga menemukan lokasi Tamus. Tentu mereka tidak disambut dengan ramah. Pertarungan pun terjadi dengan sengit sampai Lumpu tiba-tiba muncul.</p>



<p>Singkat cerita Ali memutuskan untuk menyelamatkan Tamus dan pergi dari tempat tersebut. Mereka ingin Tamus memberi tahu mereka di mana kapal peninggalan Klan Aldebaran. Tamus pun menunjukkan tempatnya, lantas ia berkhianat dengan mencuri ILY, kapal buatan Ali.</p>



<p>Raib, Seli, dan Ali pun berusaha menemukan Tamus sekaligus ILY. Kita pun akan dibawa berkeliling ke tempat-tempat di Klan Bulan yang belum pernah kita kunjungi. Mereka harus bersiap jika Lumpu hadir di hadapan mereka untuk mengambil semua kekuatan mereka.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku <em>Lumpu</em></h2>



<p>Membosankan. Lagi-lagi membosankan. Itulah yang muncul di benak Penulis ketika membaca novel ini. Ketika sudah selesai pun, Penulis hanya berpikir, &#8220;<a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/udah-gitu-aja/">udah, gitu aja?</a>&#8221; Petualangan yang dialami Raib, Seli, dan Ali, walaupun selalu ada rintangan menghadang, akhirnya selalu muluuus begitu saja.</p>



<p>Pertama, petualangan yang dilakukan begitu-begitu saja. Bahkan, formula &#8220;bertemu orang tua yang menyebalkan tapi berguna&#8221; di novel <em>Si Putih </em>kembali terulang di sini. Kasarnya kalau tidak ada sosok tua ini, petualangan akan mengalami jalan buntu.</p>



<p>Selain itu, LAGI-LAGI bantuan datang di saat terdesak muncul lagi. Ketika pertarungan klimaks melawan Lumpu, tiba-tiba datang Lambat dan Kosong yang sempat muncul di novel <em>Nebula</em>. Padahal, katanya penduduk Klan Nebula telah habis (maksudnya <em>plot twist </em>mungkin?).</p>



<p>LAGI-LAGI kekuatan ajaib muncul di saat terdesak. Raib dengan sarung tangan Klan Bulannya ternyata pusaka yang mampu mematahkan kemampuan Lumpu untuk menghilangkan kekuatan orang lain. Raib menggunakannya untuk membuat Lumpu kehilangan kemampuannya sendiri.</p>



<p>Ada beberapa nama yang kehilangan kemampuannya di novel ini dan itu menjadi poin yang cukup positif dari novel ini. Tapi tetap saja, formula yang digunakan selalu sama dan tidak ada perubahan. Pertarungan klimaks? Monoton, rasanya begitu-begitu saja.</p>



<p>Bagian yang cukup menegangkan terjadi di bagian Epilog. Namun, bagian itu pun ada agar kita tertarik untuk membeli lanjutan dari novel ini, yakni <strong><em>SaragaS</em> </strong>yang berpusat pada orangtua Ali. Semoga formulanya berubah, tidak repetitif lagi.</p>



<p>Seolah ingin memastikan pembacanya membaca semua novelnya, entah ada berapa <em>callback </em>yang merujuk ke novel-novel sebelumnya. Untungnya, ada penjelasan singkat sehingga Penulis tidak perlu membuka novel-novel yang lama.</p>



<p>Tidak cukup di situ, Tere Liye kembali marah-marah soal pembajakan buku. Tidak cukup satu buku di <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/">Selamat Tinggal</a></em>, ia menulis amarahnya beberapa halaman di bagian epilog ketika Seli memarahi temannya yang membeli buku bajakan (terkesan dipaksakan untuk diselipkan). </p>



<p>Penulis paham ia merasa kesal dan hampir putus asa karyanya selalu dibajak, tapi Penulis yang selalu membeli buku orisinal jadi merasa tidak dihargai sebagai pembaca. Simpati Penulis kepadanya pun jadi berkurang.</p>



<p>Sungguh, seandainya bukan karena <em>cover </em>buku yang menarik, Penulis akan berhenti membeli serial Bumi. Setidaknya, masih ada 7 buku lagi, termasuk novel <em>Aldebaran </em>yang menjadi puncaknya. Semua buku yang sudah rilis masih masuk <em>phase 1 </em>ala <a href="https://whathefan.com/intermeso/ketika-dc-comics-mengejar-marvel/">Marvel Cinematic Universe</a>. Iya, MASIH <em>PHASE 1.</em></p>



<p>Novel ini jadi penutup untuk <em>Nebula arc</em>, tapi menjadi pembuka untuk novel-novel selanjutnya. Sayang, serial Bumi sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Jarang ada Penulis Indonesia yang bisa membuat cerita fantasi seluas ini. </p>



<p>Penulis sebenarnya juga tidak ingin memberikan <em>feedback </em>yang negatif seperti ini. Tapi apa daya, kenyataannya memang seperti itu. Semoga Tere Liye bisa memberikan formula yang baru dan berani keluar dari zona nyamannya di buku-buku berikutnya. </p>



<figure class="wp-block-pullquote"><blockquote><p>Nilainya: <strong>3.5/5.0</strong></p></blockquote></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 2 Juni 2021, terinspirasi setelah membaca <em>Lumpu </em>karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lumpu/">Setelah Membaca Lumpu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lumpu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Si Putih</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-putih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-putih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2021 13:56:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[serial Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Si Putih]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5017</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tere Liye kembali melanjutkan serial Bumi yang kini sudah mencapai jilid ke-10 dan ke-11. Kali ini, Penulis akan membahas tentang buku ke-10, Si Putih, yang berpusat pada kucing milik Raib. Sebagai cerita spin-off, novel ini akan memiliki latar belakang yang jelas berbeda dengan serial Bumi lainnya. Kita akan dibawa ke klan baru bernama Polaris yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-putih/">Setelah Membaca Si Putih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tere Liye kembali melanjutkan serial Bumi yang kini sudah mencapai jilid ke-10 dan ke-11. Kali ini, Penulis akan membahas tentang buku ke-10, <strong><em>Si Putih</em>,</strong> yang berpusat pada kucing milik Raib.</p>



<p>Sebagai cerita <em>spin-off</em>, novel ini akan memiliki latar belakang yang jelas berbeda dengan serial Bumi lainnya. Kita akan dibawa ke klan baru bernama Polaris yang belum pernah dikunjungi oleh Raib, Seli, dan Ali.</p>



<p>Ketika membeli novel ini, Penulis berharap akan mengetahui bagaimana <em>Si Putih </em>bisa sampai berada di depan rumah Raib dan akhirnya dipelihara. Sayangnya, novel ini akan memiliki sekuel sehingga tidak menjawab pertanyaan tersebut.</p>



<p><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Kali ini, kita akan dibawa berpetualang ke <strong>Klan Polaris</strong>, sebuah klan unik yang berada di konstelasi Ursa. Cerita berpusat pada tokoh bernama <strong>N-ou</strong> yang tinggal di kota E-um. </p>



<p>Tempat yang terbagi menjadi dua wilayah, di mana satu wilayah dibiarkan tanpa manusia agar ketika terjadi pandemi atau bencana lainnya, mereka bisa mengungsi ke bagian klan yang lebih aman.</p>



<p>Ketika N-ou berusia 12 tahun, pandemi mematikan tersebut muncul. Ia dan orangtuanya pun bergegas melewati dinding pembatas untuk mengungsi. Sayangnya di detik-detik terakhir, N-ou terpapar virus sehingga harus ditinggalkan di kota E-um.</p>



<p>N-ou yang sekarat tiba-tiba ditolong oleh seekor kucing berwarna putih yang kita kenal dengan nama Si Putih. Keajaiban pun menghampiri N-ou, ia berhasil selamat dari pandemi tersebut dan bertahan hidup. Setelah kondisinya pulih, ia mulai menelusuri tembok pembatas tersebut, berharap bisa menembusnya. </p>



<p>Sayang, lima tahun berlalu ia tidak menemukan celah sekecil apapun. Keinginannya untuk bertemu dengan orangtuanya pupus sudah. Ia pun membulatkan tekad untuk menyusuri area Timur, area yang selama ini terkesan misterius.</p>



<p>Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Pak Tua yang akan menjadi teman perjalanannya. Keberadaan orang tersebut membantu N-ou memahami dunia yang belum pernah ia dengar. Ia tidak sadar, perjalanannya kali ini akan membuatnya menyadari kekuatan terpendam yang ia miliki.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku <em>Si Putih</em></h2>



<p>Gimana ya, memang sih novel ini menghadirkan tokoh dan klan baru. Akan tetapi, formula petualangan yang digunakan tetap begitu-begitu saja. Tidak ada sesuatu yang bisa membuat pembaca merasa berdebar. Alurnya pun mudah ditebak dan tidak ada <em>suprise </em>sama sekali.</p>



<p>Kondisi pandemi yang menjadi konflik awal di novel ini nampaknya terinspirasi dari <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">pandemi Corona </a>yang terjadi di dunia nyata. Penulis berusaha untuk tidak <em>spoiler </em>terlalu banyak, tapi petualangan yang dihadapi N-ou bisa dibilang tidak ada yang baru. </p>



<p>Mungkin, hal yang baru di novel ini adalah adanya klan yang bisa mengendalikan hewan. Area Timur Klan Polaris ternyata dikuasai oleh Pengendali Hewan. </p>



<p>N-ou dan kucingnya ternyata bisa bersinergi dan menjadi petarung yang handal. Mereka berusaha untuk menggulingkan kekuasaan raja yang merupakan pengendali naga.</p>



<p>Karena ini bukunya Tere Liye, tanpa Penulis beritahu pun Pembaca mungkin sudah menebak kalau pada akhirnya N-ou berhasil mengalahkan sang raja. &#8220;Anak kemarin&#8221; bisa mengalahkan raja yang sudah berkuasa selama bertahun-tahun.</p>



<p>Bagaimana caranya? Tentu saja &#8220;bantuan dan kekuatan yang tiba-tiba muncul ketika keadaan terdesak&#8221;. Formula <em>ending</em>-nya sedikit mirip dengan <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/">novel <em>Pulang-Pergi</em></a><em> </em>yang sudah Penulis ulas beberapa waktu lalu. </p>



<p>Ada beberapa bagian yang cukup membosankan di novel ini. Adegan Si Putih minta makan terlalu banyak diulang-ulang hingga rasanya sedikit memuakkan. </p>



<p><em>Character development</em>-nya? Rasanya juga begitu-begitu saja. N-ou berhasil menjadi remaja yang dewasa karena keadaan. Pak Tua tipe orang <em>tsundere </em>yang rasanya beberapa kali muncul di novel-novel Tere Liye.</p>



<p>Petualangan yang disajikan juga tidak bisa dibilang seru, hingga Penulis berpikir apakah karena faktor usia sehingga Penulis tidak bisa menikmati keseruan fantasi remaja ini?</p>



<p>Selain itu, akhir dari novel ini memiliki <em>ending </em>yang sangat menggantung. <em>Ending </em>tersebut seolah memaksa kita untuk membeli lanjutan dari novel ini yang berjudul <em>Bibi Gil</em>. Oh iya, Bibi Gil yang menjadi guru Miss Selena muncul di novel ini.</p>



<p>Sejujurnya, serial Bumi mulai membosankan. Penulis sempat memuji <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selena-dan-nebula/">novel Selena dan Nebula</a> yang memiliki alur cerita menarik serta penuh dengan intrik dan sedikit <em>plot twist</em>. Sayangnya, hal tersebut tidak Penulis temukan di sini.</p>



<p>Penulis akan tetap membeli <a href="https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">serial Bumi</a>. Bukan karena penasaran atau ceritanya menarik, melainkan karena <em>cover </em>dari buku-bukunya sangat <em>collectible</em> dan bagus untuk dipajang di rak buku.</p>



<figure class="wp-block-pullquote"><blockquote><p>Nilainya: <strong>3.5/5.0</strong></p></blockquote></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 1 Juni 2021, terinspirasi setelah membaca novel <em>Si Putih </em>karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-putih/">Setelah Membaca Si Putih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-putih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Pulang-Pergi</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2021 03:32:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pergi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang-Pergi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4875</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan Antara Pulang dan Pergi, Penulis pernah mengungkapkan kekecewaannya terhadap novel karya Tere Liye tersebut. Pasalnya, banyak adegan action yang khayal dan terlalu memaksakan. Selain itu, keberuntungan yang dimiliki oleh tokoh utama dan teman-temannya seolah begitu besar. Bantuan selalu datang ketika menit-menit terakhir, apalagi bisa datang di tempat yang bersamaan. Walaupun begitu, Penulis tetap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/">Setelah Membaca Pulang-Pergi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tulisan <a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/">Antara Pulang dan Pergi</a>, Penulis pernah mengungkapkan kekecewaannya terhadap novel karya Tere Liye tersebut. Pasalnya, banyak adegan <em>action </em>yang khayal dan terlalu memaksakan.</p>



<p>Selain itu, keberuntungan yang dimiliki oleh tokoh utama dan teman-temannya seolah begitu besar. Bantuan selalu datang ketika menit-menit terakhir, apalagi bisa datang di tempat yang bersamaan.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis tetap saja membeli lanjutan novelnya, <strong>Pulang-Pergi</strong>. Salah satu alasan kuatnya adalah adanya <em>crossover </em>di mana karakter Thomas dari novel Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk akan banyak muncul di sini.</p>



<p>Karakter ini memang sempat muncul di novel Pergi, namun hanya sekilas. Di novel ini, ia muncul hampir dari awal novel hingga akhir.</p>



<p>Lantas, apakah novel ini menjadi lebih baik jika dibandingkan novel Pergi? Hmmm&#8230;</p>



<p><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Novel ini melanjutkan petualangan Bujang setelah pertarungan di akhir novel Pulang. Ia tengah menghadapi dilema karena mendapatkan paksaan untuk menikahi seorang putri penguasa <em>shadow economy </em>Rusia, Otets. Anaknya yang hendak dinikahkan dengan Bujang bernama <strong>Maria</strong>.</p>



<p>Bujang sebenarnya merasa keberatan dengan pernikahan ini, walaupun Maria adalah seorang wanita yang cantik, pintar, dan kuat. Hanya saja, ancaman yang diberikan oleh ayah Maria tidak main-main. Bujang pun memutuskan untuk tetap berangkat ke Rusia.</p>



<p>Di tengah perjalanan, ia menjemput gurunya di Filipina yang bernama Salonga. Ia bersama muridnya, Junior, ikut berangkat ke Rusia. Salonga dimintai tolong untuk melakukan negosiasi agar pernikahan diundur. Nahas, pernikahan justru dipercepat.</p>



<p>Acara pun berlangsung di sebuah kastil milik Otets. Di sana, Bujang bertemu dengan Thomas yang hadir sebagai tamu undangan. Bujang yang terus mencari celah untuk keluar dari situasi ini menemui jalan buntu.</p>



<p>Saat pesta perpisahan berlangsung, ada pengkhianatan yang dilakukan oleh kaki tangan Otets, Natascha dan pasukan Black Widow (<em>pfft</em>&#8230;). Pesta pun bubar dan Otets mati di tangan orang kepercayaannya.</p>



<p>Bagaimana dengan Bujang? Tentu saja ia berhasil kabur bersama Maria, Thomas, Salonga, dan Junior. Mereka pun menyusuri benua Eropa untuk menghindari Natascha dan para pembunuh bayaran yang mengincar kepala mereka, sembari memikirkan bagaimana cara membalas dendam.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Pulang-Pergi</h2>



<p>Napas panjang langsung Penulis keluarkan setelah selesai membaca novel ini. Memang novel ini jauh lebih baik dibandingkan dengan novel Pergi yang <em>ending-</em>nya sangat memaksakan, tapi tetap saja kurang memuaskan.</p>



<p>Perjalanan yang dilakukan Bujang dan kawan-kawan ketika kabur dari kejaran orang-orang memang cukup seru. Bagaimana Natascha bisa selalu melacak posisi mereka membuat ketegangan cerita terjaga hingga mendekati klimaks. <em>Pace</em>-nya juga lumayan cepat.</p>



<p>Hanya saja, bantuan datang di menit terakhir tetap saja ada. Kawan-kawannya di novel-novel sebelumnya seperti White dan si kembar Yuki-Kiko datang menyusul dan memberikan bantuan kepada Bujang.</p>



<p>Selain itu, pertarungan terakhir melawan Diego (kakak tiri Bujang, otak di balik pemberontakan Natascha) juga rasanya anti-klimaks. Sebagai <em>final boss</em>, pertarungannya terasa singkat dan mati begitu saja. Matinya pun gara-gara Bujang tiba-tiba mendapatkan kekuatan super dari aroma alkohol.</p>



<p>Salah satu yang paling menggelikan dari novel ini adalah pemilihan nama Natascha dan Black Widow, yang rasanya sangat Marvel. Setidaknya, jangan gunakan nama pemimpinnya mirip seperti nama Natasha Romanoff. Banyak nama wanita Rusia lain yang bisa digunakan.</p>



<p>Serial novel <em>action </em>dari Tere Liye rasanya kurang nendang gitu. Karakter-karakternya digambarkan seolah memiliki kekuatan super, entah dari segi kepintaran, kemampuan menembak, dan lain sebagainya. Alhasil, ceritanya pun terasa jauh dan khayal.</p>



<p>Penulis sejak awal memang tidak berharap kalau novel ini akan memiliki alur cerita yang tidak terduga dan penuh <em>plot twist</em>, sehingga tidak terlalu merasa kecewa.</p>



<p>Novel ini memiliki lanjutan dengan judul Bedebah di Ujung Tanduk, yang mungkin lebih berfokus pada Thomas. Apakah Penulis akan membelinya? Sepertinya iya.</p>



<p>Nilainya: <strong>3.8/5.0</strong></p>



<p></p>



<p></p>



<p>Lawang, 11 April 2021, terinspirasi setelah membaca Pulang-Pergi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/">Setelah Membaca Pulang-Pergi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Selamat Tinggal</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2021 10:49:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bajakan]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[Sutan Pane]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4255</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis berkali-kali mengungkapkan kekecewaan terhadap karya-karya terbaru Tere Liye, seperti novel Si Anak Badai, Si Anak Cahaya, Komet Minor, hingga Pergi. Harusnya jika berkali-kali dikecewakan, Penulis berhenti membeli novel-novelnya. Ternyata, Penulis tetap membeli novel-novel karyanya. Yang terbaru adalah Selamat Tinggal yang satu ini. Salah satu alasannya adalah buku ini merupakan novel yang berdiri sendiri, bukan serial. Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/">Setelah Membaca Selamat Tinggal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis berkali-kali mengungkapkan kekecewaan terhadap karya-karya terbaru <strong>Tere Liye</strong>, seperti novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/anak-anak-muara-pada-si-anak-badai/">Si Anak Badai</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-anak-cahaya/">Si Anak Cahaya</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/teknik-marketing-pada-komet-minor/">Komet Minor</a>,</em> hingga <a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/"><em>Pergi</em></a>.</p>
<p>Harusnya jika berkali-kali dikecewakan, Penulis berhenti membeli novel-novelnya. Ternyata, Penulis tetap membeli novel-novel karyanya.</p>
<p>Yang terbaru adalah <em><strong>Selamat Tinggal</strong> </em>yang satu ini. Salah satu alasannya adalah buku ini merupakan novel yang berdiri sendiri, bukan serial.</p>
<p>Penulis memilki pengalaman bagus dengan novel Tere Liye yang berdiri sendiri, seperti <em>Tentang Kamu, Rindu, Ayahku (Bukan) Pembohong, </em>dan lainnya.</p>
<p>Setelah menamatkan novel ini, Penulis merasakan amarah yang menggebu-gebu dari Tere Liye terkait pembajakan buku!</p>
<p><strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Menggunakan sudut pandang orang ketiga, tokoh utama dari buku ini adalah <strong>Sintong</strong>, seorang mahasiswa yang tak lulus-lulus sekaligus penjaga toko buku bajakan di dekat kampus negeri.</p>
<p>Sintong berasal dari Sumatera. Ia merantau jauh untuk kuliah di Jawa dan menumpang di rumah saudaranya. Karena kuliahnya dibiayai,</p>
<p>Terlihat berantakan dan tidak punya masa depan, sebenarnya Sintong merupakan salah satu penulis berbakat. Karyanya sudah banyak masuk ke media nasional.</p>
<p>Hidup Sintong mulai berubah sejak ia bertemu dengan <strong>Jess</strong>, salah satu adik tingkatnya yang berparas menarik. Kehadiran gadis tersebut membuat ia merasa semangat lagi.</p>
<p>Tidak hanya itu, Sintong juga menemukan sebuah <em>draft </em>berisikan tulisan <strong>Sutan Pane</strong>, seorang penulis besar yang keberadaannya tidak banyak yang tahu.</p>
<p>Sintong berniat untuk membuat skripsi yang membahas Sutan Pane, terutama mencari alasan mengapa Sutan Pane tiba-tiba berhenti menulis pada tahun 1965.</p>
<p>Inilah perjalanan Sintong menelusuri kehidupan penulis hebat di masa lalu, sembari memerangi dirinya sendiri yang sudah muak menjual buku bajakan.</p>
<h3>Sindiran untuk Barang Bajakan</h3>
<p>Begitu membaca novel ini, Penulis sadar kalau Tere Liye terinspirasi dari maraknya <strong>penyebaran file PDF buku-buku secara ilegal</strong> melalui WhatsApp dan media lainnya.</p>
<p>Sebagai salah satu penulis terpopuler di Indonesia, karya-karya Tere Liye tentu menjadi mangsa empuk bagi pembajak.</p>
<p>Penulis merasakan sedikit dampaknya karena artikel tentang novel <em>Pulang</em> dan <em>Pergi</em> mendapatkan lonjakan <em>traffic</em>. Padahal, padahal Penulis tidak mendapatkan <em>link </em>file PDF-nya.</p>
<p>Secara sarkas, Tere Liye mengatakan bahwa yang salah adalah penulis yang tidak ikhlas dalam menulis. Harusnya mereka senang-senang saja karya mereka dibagikan secara gratis dan dinikmati oleh banyak orang.</p>
<p><strong>Sindiran yang sangat keras, bahkan Penulis yang hanya sekali membeli buku bajakan karena tidak tahu merasa tertampol.</strong></p>
<p>Tidak hanya meluapkan emosinya tentang buku bajakan, semua hal yang sifatnya bajakan disenggol sama Tere Liye.</p>
<p>Mulai film, lagu, <em>streaming </em>sepakbola, aplikasi, semua kena. Siapapun yang membaca novel ini pasti akan merasa tersindir seandainya pernah membeli atau menggunakan barang bajakan.</p>
<p>Bahkan, <em>marketplace online </em>yang juga kerap menjadi tempat beredarnya buku bajakan kena semprot. Sebuah kekesalan bisa menjadi ide cerita, Tere Liye memang sesuatu.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Selamat Tinggal</em></h3>
<p>Jika Tere Liye ingin <strong>menyampaikan kekesalannya terhadap pembajakan buku</strong> sekaligus <strong>edukasi kepada masyarakat</strong>, novel ini bisa dibilang berhasil melakukan tugasnya.</p>
<p>Dengan nada sarkas yang hampir muncul di setiap bab, kita akan dibuat berpikir ulang jika ingin membeli atau menggunakan barang-barang bajakan.</p>
<p>Ada banyak penulis buku yang sangat dirugikan dengan pembajakan. Bukan tidak mungkin, di masa depan jumlah penulis akan berkurang karena merasa jerih payahnya tidak dihargai.</p>
<p>Tere Liye sendiri mengakui bahwa segala upaya sudah dilakukan untuk meminimalisir pembajakan, namun hasilnya nihil. Buku bajakan tetap beredar luas, bahkan lebih masif karena bisa dijual daring.</p>
<p>Tokoh Sintong sendiri dibuat <strong>memiliki konflik internal di dalam dirinya sendiri</strong>. Ia menentang buku bajakan karena tahu itu tidak menghargai upaya penulis, tapi secara munafik ia malah berjualan buku bajakan demi menyelesaikan pendidikannya.</p>
<p>Menurut Penulis, konflik internal seperti ini sangat cocok untuk tema yang diangkat karena akan membuat pembacanya mengalami dilema yang sama.</p>
<p>Alur ceritanya memang mengangkat perjalanan &#8220;detektif&#8221; Sintong menyelesaikan skripsinya dengan mencari tahu lebih dalam tentang tokoh Sutan Pane, tapi Penulis justru merasa itu <em>side-story</em>-nya. Alur utamanya ya tentang buku bajakan.</p>
<p>Bumbu-bumbu cerita lain seperti perjalanan cinta Sintong hanya muncul sebagai pemanis. Di novel ini juga tidak terlalu banyak bab tidak penting yang tidak berpengaruh pada keseluruhan alur.</p>
<p>Bahasanya juga mudah dicerna sebagaimana karya-karya Tere Liye pada umumnya. Ringan, tapi ada nilai-nilai yang bisa dipetik. Ada saja dialog yang mengundang tawa ringan.</p>
<p>Hanya saja, Penulis merasa novel ini <strong>terasa datar</strong>. Hampir tidak ada konflik yang membuat Penulis merasa berdebar ataupun dibuat penasaran dengan kelanjutan halamannya.</p>
<p>Tidak ada pertarungan yang berdarah-darah, hanya ada konflik antar tokohnya. Antara Sintong dan dirinya sendiri, antara Sintong dan Jess, antara Sintong dan saudaranya, antara Sintong dan teman masa lalunya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Lantas, mengapa novel ini diberi judul <em>Selamat Tinggal</em>? Karena mengandung <em>major spoiler</em>, Penulis tidak akan menjelaskannya di sini. Silakan baca novel yang satu ini, direkomendasikan untuk semua kalangan.</p>
<p><strong>Tapi ingat, beli yang asli, jangan yang bajakan, kasian penulisnya!</strong></p>
<p>Nilai: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 11 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan novel <strong><em>Selamat Tinggal </em></strong>karya <strong>Tere Liye</strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/">Setelah Membaca Selamat Tinggal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Si Anak Cahaya</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-anak-cahaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2020 03:44:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[Komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Si Anak Cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3688</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis membeli novel Si Anak Cahaya ini bersamaan dengan novel Si Anak Badai yang sudah ditamatkan terlebih dahulu. Keduanya merupakan bagian dari Serial Anak Tere Liye. Setelah mengalami kekecewaan di novel Si Anak Badai, Penulis tidak berharap banyak dari novel ini. Hasilnya? Penulis tetap kecewa dengan novel ini. Spoiler Alert! Apa Isi Buku Ini? Sama seperti serial anak-anak lainnya, novel ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-anak-cahaya/">Setelah Membaca Si Anak Cahaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis membeli novel <em><strong>Si Anak Cahaya</strong> </em>ini bersamaan dengan novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/anak-anak-muara-pada-si-anak-badai/">Si Anak Badai</a> </em>yang sudah ditamatkan terlebih dahulu. Keduanya merupakan bagian dari Serial Anak <strong>Tere Liye</strong>.</p>
<p>Setelah mengalami kekecewaan di novel <em>Si Anak Badai, </em>Penulis tidak berharap banyak dari novel ini. Hasilnya? Penulis tetap kecewa dengan novel ini.</p>
<p><strong><em>Spoiler Alert!</em></strong></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sama seperti serial anak-anak lainnya, novel ini juga berfokus kepada tokoh anak SD. Kali ini, tokoh utamanya bernama <strong>Nurmas</strong> yang kelak akan menjadi mamak dari Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia.</p>
<p>Oleh karena itu, novel ini mengambil latar belakang waktu tahun 50-an ketika Indonesia belum lama merdeka. Kita akan melihat seorang anak kampung menjalani kesehariannya.</p>
<p>Adegan dimulai dengan adanya seleksi tentara, lantas perjalanan Nurmas ke kota untuk bertemu dengan dokter demi menyembuhkan bapaknya yang sakit keras.</p>
<p>Mulanya, ada seorang dukun kampung bernama Datuk Sunyan yang dikenal karena kesaktiannya. Keluarga Nurmas menolak bantuannya karena ia dianggap syirik, menyekutukan Tuhan.</p>
<p>Ada pula adegan Nurmas dan kawan-kawannya yang menjaga ladang, lantas bertemu dengan Si Puyang alias harimau. Lalu adegan berlanjut dengan kelahiran adik Nurmas uang diberi nama Unus.</p>
<p>Terselip pula cerita masa lalu bapak yang kelam, di mana ia pernah bergabung dengan kelompok Komunis dan durhaka kepada orangtuanya. Inilah konflik utama dari novel ini.</p>
<p>Singkat cerita, kampung Nurmas mengalami paceklik panen yang lumayan panjang. Di saat itulah salah satu mantan rekan bapak di kelompok Komunis datang untuk memberikan bantuan dan menemukan bapak.</p>
<p>Ia sangat dendam karena menyalahkan bapak Nurmas atas kematian keluarganya di masa silam. Dengan penuh amarah, ia menyiksa bapak dan mamak Nurmas serta membakar desa.</p>
<p>Siapa yang jadi penyelamat? Siapa lagi kalau bukan Nurmas. Ia, yang masih SD, harus berjalan ke kota demi menemukan bantuan. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Datuk Sunyan yang dendam, tapi ditolong oleh Si Puyang.</p>
<p>Nurmas pun pada akhirnya sampai ke kota dan bertemu dengan tentara yang dulu ikut seleksi di kampungnya. Mereka menyerbu kampung dan langsung mengalahkan kelompok Komunis tersebut. Selesai.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Si Anak Cahaya</em></h3>
<p>Awalnya, Penulis mengira novel ini akan sedikit lebih baik dari <em>Si Anak Badai</em>. Ternyata tidak. Novel ini sama mengecewakannya. Ada beberapa hal yang menjadi alasannya.</p>
<p>Pertama, latar tempat dan waktunya kurang terlalu kuat. Selama membaca, sama sekali tidak terasa kesan tahun 50-annya kecuali ketika ada istilah-istilah jadul yang disisipkan dan adanya orang-orang Belanda yang bertahan di Indonesia.</p>
<p>Selain itu, suasana kampung yang terpencil juga sangat lemah. Masa anak-anak SD sudah mengenal Chairil Anwar dan tujuh keajaiban dunia? Diajari oleh gurunya yang cuma satu orang itu?</p>
<p>Omong-omong soal anak SD, entah mengapa anak SD di serial anak Tere Liye ini terlihat sangat intelek. Tata bahasanya sangat bagus, pengetahuan luas, pemilihan kosa katanya cukup luas.</p>
<p>Adanya bagian kurang penting (seperti <em>filler </em>di serial anime) juga kembali muncul. Jika bab-bab tersebut dihilangkan, niscaya sama sekali tidak berpengaruh ke alur cerita.</p>
<p>Bagian akhirnya? Konsepnya tetap sama, anak SD melakukan hal luar biasa hingga muncul keajaiban. Perjalanan melalui hutan di malam hari, lantas tanpa sengaja bertemu dengan kenalan yang masuk tentara, klise sekali.</p>
<p>Di sini, Tere Liye juga menggambarkan kebrutalan Komunisme. Penulis sama sekali tidak keberatan, mengingat Penulis juga membaca novel-novel yang memperlihatkan kebrutalan Orde Baru dalam memberantas Komunisme.</p>
<p>Hanya saja, Tere Liye menggambarkan mereka sebagai orang yang haus darah dan tidak berpikir panjang (baca: tolol). Padahal, kenyataannya mereka bisa bergerak secara sistematik dan halus sehingga mampu meraih popularitas tinggi.</p>
<p>Jujur, Penulis kesulitan untuk menemukan kelebihan novel ini. Mungkin sama seperti serial anak lainnya, ada banyak pesan moral (yang sedikit basi) dari novel ini.</p>
<p>Setelah membaca novel ini, Penulis mulai mempertimbangkan untuk berhenti membeli novel-novel karangan Tere Liye.</p>
<p>Nilainya: <strong>3.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Note</strong>: Kenyataannya, Penulis tetap membeli novel terbaru Tere Liye, yakni <em>Selena </em>dan <em>Nebula</em>. Untungnya, kedua novel tersebut memiliki alur cerita yang jauh lebih baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 22 Maret 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Si Anak Cahaya </em>karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-anak-cahaya/">Setelah Membaca Si Anak Cahaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak-Anak Muara Pada Si Anak Badai</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/anak-anak-muara-pada-si-anak-badai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2019 14:02:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[serial]]></category>
		<category><![CDATA[Si Anak Badai]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2896</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu author buku favorit penulis adalah Tere Liye. Novelnya (super) ringan, namun memiliki kandungan pesan-pesan moral yang lumayan menggigit. Sayangnya, entah mengapa novel-novel terbaru buatannya terasa ada yang kurang. Berbeda dengan novel-novelnya yang lama seperti Rindu. Novel tersebut berhasil membuat penulis tertegun dan takjub. Termasuk salah satu novel terbarunya yang penulis selesaikan beberapa waktu lalu, Si Anak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/anak-anak-muara-pada-si-anak-badai/">Anak-Anak Muara Pada Si Anak Badai</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu <em>author </em>buku favorit penulis adalah Tere Liye. Novelnya (super) ringan, namun memiliki kandungan pesan-pesan moral yang lumayan menggigit.</p>
<p>Sayangnya, entah mengapa novel-novel terbaru buatannya terasa ada yang kurang. Berbeda dengan novel-novelnya yang lama seperti <em>Rindu.</em> Novel tersebut berhasil membuat penulis tertegun dan takjub.</p>
<p>Termasuk salah satu novel terbarunya yang penulis selesaikan beberapa waktu lalu, <strong><em>Si Anak Badai</em></strong>.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Pada awalnya, penulis sama sekali tidak menyadari kehadiran novel terbaru dari Tere Liye ini. Alasannya, buku ini terbit bersamaan dengan serial Anak-Anak Mamak yang berubah judul.</p>
<p>Sewaktu menghitung, penulis merasa heran kenapa jumlahnya ada enam. Padahal, serial Anak-Anak Mamak hanya terdiri dari empat buku, yakni <em>Amelia, Burlian, Eliana, </em>dan <em>Pukat</em>.</p>
<p>Di sana lah penulis menyadari bahwa ada dua buku baru yang belum penulis baca. Setelah meneliti satu per satu, penulis membeli novel <em>Si Anak Badai </em>dan <em>Si Anak Cahaya</em>.</p>
<p>Novel ini berpusat pada kehidupan anak-anak yang tinggal di kampung Muara Manowa. Tokoh utamanya adalah <strong>Zaenal</strong> bersama tiga kawan karibnya, yakni <strong>Awam</strong>, <strong>Malim</strong>, dan <strong>Ode</strong>.</p>
<p>Mereka gemar bermain di pelabuhan demi menanti kedatangan kapal-kapal yang kerap melempari mereka uang koin. Para penumpang kapal pun sudah hafal dengan kebiasaan ini.</p>
<p>Zaenal tinggal bersama kedua orangtuanya dan kedua adiknya. Bapaknya merupakan seorang petugas kelurahan, sedangkanya mamaknya seorang penjahit.</p>
<p>Konflik mulai muncul pada kehidupan meraka yang damai ketika ada rencana pembuatan pelabuhan di muara tersebut. Masyarakat yang tinggal di sana akan digusur dan dipindahkan ke tempat lain.</p>
<p>Tentu saja mereka semua menolak karena merasa tanah tersebut adalah milik mereka secara turun-temurun. Mereka tidak akan mau dipindah dengan imbalan apapun.</p>
<p>Penolakan ini membuat pihak yang ingin membangun pelabuhan berang dan melakukan apapun yang bisa membungkam masyarakat Muara Manowa.</p>
<p>Seperti kisah superhero pada umumnya, Zaenal dan kawan-kawan (yang masih kelas 6 SD) berhasil menemukan cara agar pembangunan pelabuhan tersebut dapat dihentikan (<em>sigh</em>).</p>
<h3>Pendapat Penulis Tentang Buku Ini</h3>
<p>Biasanya, penulis menyukai novel-novel Tere Liye yang membahas permasalahan sosial. Bahkan, penulis pernah menyebutkan bahwa sebaiknya Tere Liye lebih banyak membuat novel dengan tema ini.</p>
<p>Sayangnya, penulis merasa kurang puas dengan novel ini. Penulis merasa novel ini bukan standar dari Tere Liye. Alurnya berjalan lambat dengan adanya adegan yang kurang penting seperti keinginan Malim untuk berhenti sekolah.</p>
<p>Meskipun berjalan lambat<em>, ending</em>-nya terasa terburu-buru, seperti keluhan penulis pada <a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/">novel Pergi</a>. Jika permasalahan gusur-menggusur bisa diselesaikan semudah di novel ini, rasanya aktivis HAM akan lebih banyak menganggur.</p>
<p>Bahasa yang digunakan ringan seperti biasa, sehingga bisa dibaca oleh semua kalangan. Pesan moralnya juga banyak yang bisa dipetik, terutama yang menyangkut tentang kekeluargaan dan persahabatan.</p>
<p>Yang menarik dari novel ini adalah penggambaran latar tempatnya yang lumayan kuat. Penulis bisa membayangkan seperti apa kampung Muara Manowa secara detail. Tapi secara umum, penulis kurang puas dengan novel ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>3.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 20 Oktober 2019, terinspirasi setelah menamatkan novel <em>Si Anak Badai </em>karya Tere Liye</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/anak-anak-muara-pada-si-anak-badai/">Anak-Anak Muara Pada Si Anak Badai</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teknik Marketing Pada Komet Minor</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/teknik-marketing-pada-komet-minor/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Apr 2019 16:32:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komet Minor]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[serial Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2257</guid>

					<description><![CDATA[<p>Wait, what? Kok judulnya gitu amat? Ini kan petualangan terakhir Raib, Seli, dan Ali, kenapa judulnya menjadi &#8220;Teknik Marketing&#8221;? Mabuk makan Kintan nih penulisnya! Hehehe, enggak kok. Penulis menulis dengan penuh kesadaran dan bertanggungjawab. Akan penulis jelaskan mengapa penulis memilih kata tersebut sebagai judul. SPOILER ALERT! Apa Isi Buku Ini? Penulis tahu buku Komet Minor ini rilis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/teknik-marketing-pada-komet-minor/">Teknik Marketing Pada Komet Minor</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Wait, what? </em>Kok judulnya gitu amat? Ini kan petualangan terakhir <strong>Raib</strong>, <strong>Seli</strong>, dan <strong>Ali</strong>, kenapa judulnya menjadi &#8220;Teknik Marketing&#8221;? Mabuk makan Kintan nih penulisnya!</p>
<p>Hehehe, enggak kok. Penulis menulis dengan penuh kesadaran dan bertanggungjawab. Akan penulis jelaskan mengapa penulis memilih kata tersebut sebagai judul. SPOILER ALERT!</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Penulis tahu buku <strong><em>Komet Minor</em> </strong>ini rilis pada Maret kemarin ketika diberitahu oleh Ayu. Kami berdua memang sama-sama mengikuti <a href="https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">serial <em>Bumi</em></a> karena dia sering pinjam buku penulis.</p>
<p>Penulis yang sebenarnya sedang menunggu buku terbaru Andrea Hirata <strong>Orang-Orang Biasa </strong>tentu kaget, sehingga langsung memutuskan untuk membeli kedua buku melalui <em>mizanstore.com</em>. Lumayan, ada potongan harga.</p>
<p>Seperti buku-buku Tere Liye lainnya, buku yang satu ini juga penulis habiskan dengan lumayan cepat. Lantas, seperti apa isi buku yang satu ini?</p>
<p>Pada akhir buku <em>Komet</em>, ternyata musuh utama <strong>si Tanpa Mahkota</strong> menyamar menjadi Max dan berhasil mengelabuhi Raib dan kawan-kawan.</p>
<p>Buku ini langsung melanjutkan adegan tersebut. Ternyata, portal menuju klan Komet Minor adalah melalui mulut seekor ikan raksasa yang melahap pulau di mana mereka berada.</p>
<p>Dalam kondisi terjepit, bagaimana mereka berhasil lolos dari cengkeraman si Tanpa Mahkota? Ternyata Ali membawa potongan kaca yang tersambung dengan Batozar (pembaca harus membaca novel <em>Ceros dan Batozar</em>).</p>
<p>Keajaiban datang (seperti biasa). Hebatnya, Batozar mampu mengimbangi kekuatan si Tanpa Mahkota, bahkan membuatnya lumpuh. Padahal, si Tanpa Mahkota adalah musuh terkuat yang telah hidup ribuan tahun lamanya.</p>
<p>Batozar membawa Raib, Seli, dan Ali pergi sebelum si Tanpa Mahkota kembali sadar. Mereka ingin mendahului si Tanpa Mahkota menemukan senjata terkuat yang akan membuatnya menjadi makhluk paling kuat.</p>
<p>Selama perjalanan, Batozar melatih trio tersebut agar menjadi lebih tangguh. Tentu mereka juga mengumpulkan informasi tentang senjata tersebut.</p>
<p>Ternyata, senjata tersebut dibagi menjadi tiga bagian dan dipegang oleh tiga penduduk klan Komet Minor. Mereka pun harus mencari ketiga orang tersebut di berbagai penjuru klan.</p>
<p>Pada akhirnya mereka berhasil menemukan potongan pertama, tapi berhasil direbut oleh si Tanpa Mahkota. Begitu pula potongan kedua. Tentu saja potongan terakhir juga.</p>
<p>Akan tetapi, tentu saja kejahatan tidak akan pernah menang, setidaknya di novel buatan Tere Liye. Potongan yang diambil oleh si Tanpa Mahkota ternyata palsu. Yang asli berhasil disembunyikan oleh Ali dan ia pun berhasil mengalahkan si Tanpa Mahkota.</p>
<p>Alih-alih membunuh si Tanpa Mahkota, mereka memutuskan untuk mengurungnya di tempat si Ceros, <strong>Nggalanggeran</strong> dan <strong>Nggalanggeran</strong>, berada, yakni di Bor-O-Bdur. Selesai? Tidak semudah itu, Ferguso!</p>
<h3>Teknik Marketing yang Berlebihan</h3>
<p>Kalau boleh jujur, banyak hal yang membuat penulis kesal dengan novel ini. Pertama, tidak ada <strong>satu pun </strong>tokoh yang mati pada petualangan ini. Padahal, penulis mengira setidaknya Seli akan tewas (hampir sih).</p>
<p>Kedua, walaupun akhirnya lumayan mengejutkan dan masuk akal (jika dibandingkan dengan <a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/">novel <em>Pergi</em></a>), tetap banyak &#8220;keajaiban datang di saat terakhir&#8221;, sesuatu yang sudah sangat biasa.</p>
<p>Dari semua itu, yang paling menyebalkan adalah bagian terakhir dari novel ini. Masih ada <strong>3 novel </strong>yang akan rilis setelah novel <em>Komet Minor.</em></p>
<p>Lah, bagus dong kalau begitu? Iya, masalahnya, Tere Liye berusaha menyisipkan cerita-cerita novel baru tersebut di novel ini untuk membuat pembacanya penasaran dan membeli novel barunya.</p>
<p>Contohnya tentang klan <em>Proxima Centauri </em>yang muncul sebentar, yang seandainya tidak dituliskan di sini pun tidak mempengaruhi jalan cerita (jika mempengaruhi jalan cerita, penulis bisa memakluminya).</p>
<p>Lantas, Ali sempat berbicara bahwa kucing milik Raib, <strong>si Putih</strong>, ternyata bukan kucing biasa. Kucing tersebut juga akan memiliki novelnya sendiri!</p>
<p>Terakhir, akan ada novel tentang orangtua Raib yang berjudul <strong>Nebula</strong>. Kalau yang satu ini, masih oke lah. Tentu banyak pembaca yang penasaran dengan sosok orangtua kandung Nebula.</p>
<p>Belum lagi munculnya Batozar dan Ceros yang membuat pembaca harus membaca novel sebelumnya agar benar-benar memahami cerita novel ini secara utuh.</p>
<p>Penulis belum pernah menemukan teknik marketing seperti novel ini. Menyisipkan cerita-cerita novel terbaru memang membuat pembaca penasaran, akan tetapi jika sampai berjumlah empat buku rasanya juga berlebihan.</p>
<p>Sebagai buku (yang seharusnya) menjadi pamungkas, sebenarnya penulis berharap lebih. Pertarungan yang seru, pengorbanan yang tak terelakkan, dilema yang harus dihadapi, seharusnya terjadi pada buku ini.</p>
<p>Akan tetapi, mungkin memang buku ini ditujukan untuk usia pembaca remaja yang belum bisa mencerna bacaan berat. Jika memang seperti itu, penulis memaklumi.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Sebenarnya, serial <em>Bumi</em> adalah novel yang akan mengajarkan makna persahabatan dengan demikian indah. Hubungan antara Raib, Seli, dan Ali sangatlah erat meskipun Raib dan Ali sangat sering bertengkar.</p>
<p>Buku <em>Komet Minor </em>ini hanya penulis rekomendasikan bagi pembaca yang sudah mengikuti serial <em>Bumi</em> sejak awal. Petualangan antar klan yang disajikan memang seru, hanya saja terasa monoton.</p>
<p>Menurut penulis, Tere Liye lebih cocok menuliskan novel-novel bertemakan kehidupan seperti novel <em>Rindu </em>ataupun serial <em>Anak-Anak Mamak</em>. Penulis sangat menyukai novel-novel Tere Liye yang seperti itu dibandingkan novel fantasinya.</p>
<p>Nilainya: <strong>3.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 April 2019, terinspirasi setelah menamatkan novel Komet Minor</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/teknik-marketing-pada-komet-minor/">Teknik Marketing Pada Komet Minor</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
