<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sosial Budaya Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/category/sosial-budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/category/sosial-budaya/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Apr 2026 15:24:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Sosial Budaya Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/category/sosial-budaya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Netizen Lompat ke Kesimpulan (dan Merasa Pasti Benar)</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-netizen-lompat-ke-kesimpulan-dan-merasa-pasti-benar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-netizen-lompat-ke-kesimpulan-dan-merasa-pasti-benar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 15:18:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[asumsi]]></category>
		<category><![CDATA[fans]]></category>
		<category><![CDATA[Hearts2Hearts]]></category>
		<category><![CDATA[Jiwoo]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8637</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah bermain biliard pada malam minggu kemarin, Penulis duduk santai bersama teman-temannya karena sedang menunggu pesanan makanan. Sambil iseng, Penulis cek Instagram. Nah, di Instagram kan sering ada rekomendasi postingan Threads agar kita &#8220;main&#8221; ke sana. Pada waktu itu, yang muncul di laman Penulis adalah membahas masalah Jiwoo, leader dari girlband Hearts2Hearts (H2H) tempat Carmen [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-netizen-lompat-ke-kesimpulan-dan-merasa-pasti-benar/">Ketika Netizen Lompat ke Kesimpulan (dan Merasa Pasti Benar)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah bermain biliard pada malam minggu kemarin, Penulis duduk santai bersama teman-temannya karena sedang menunggu pesanan makanan. Sambil iseng, Penulis cek Instagram.</p>



<p>Nah, di Instagram kan sering ada rekomendasi postingan Threads agar kita &#8220;main&#8221; ke sana. Pada waktu itu, yang muncul di laman Penulis adalah membahas masalah Jiwoo, <em>leader </em>dari <em>girlband </em><a href="https://whathefan.com/musik/mari-kita-bicarakan-carmen-dan-hearts2hearts/">Hearts2Hearts (H2H) tempat Carmen bernaung</a>.</p>



<p>Tentu Penulis kaget, ada apa ini, perasaan selama ini baik-baik saja tidak ada masalah. Apakah ada skandal besar yang menerpanya? Ternyata setelah Penulis baca detail, bisa dibilang masalahnya (bagi Penulis) cukup sepele.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-banner-300x150.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-banner-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-banner-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-banner-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-banner.jpeg 1280w " alt="Apapun yang Mereka Lakukan, Salah" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/apapun-yang-mereka-lakukan-salah/">Apapun yang Mereka Lakukan, Salah</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Inti Masalah yang Menerpa Jiwoo</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8645" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-banner.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Hearts2Hearts (<a href="https://x.com/H2H_Lovers24/status/1994908051703566749">X</a>)</figcaption></figure>



<p>Untuk yang awam dengan <a href="https://whathefan.com/musik/bagaimana-algoritma-youtube-music-membuat-saya-menyelami-k-pop/">dunia K-Pop</a>, Hearts2Hearts adalah <em>girlband </em>di bawah agensi SM Entertainment yang baru debut tahun lalu, tepatnya tanggal 24 Februari 2025. Artinya, usia mereka baru satu tahun lebih sedikit.</p>



<p>Anggotanya pun muda-muda, dengan yang tertua (yakni Carmen dan Jiwoo) lahir tahun 2006 atau berusia 20 tahun (21 tahun umur Korea), sedangkan yang paling muda lahir di tahun 2010.</p>



<p>Lantas, apa masalah yang menerpa Jiwoo sebagai <em>leader</em>? Inti yang Penulis tangkap adalah ia dianggap <em>oversharing</em> tentang teman perempuannya, yang disebut dengan kode <strong>&#8220;Deep Green&#8221;.</strong></p>



<p>Si Deep Green ini sebelumnya juga merupakan <em>trainee </em>bersama Jiwoo, bahkan disebut akan debut bersama. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan perubahan manajerial di SM membuat rencana tersebut batal. </p>



<p>Alih-alih mendebutkan Deep Green, SM justru mendebutkan Carmen, Stella, dan Ye-On. Mereka bertiga bahkan dijuluki sebagai &#8220;pendobrak <em>line-up</em>&#8221; karena masa <em>trainee </em>mereka yang tergolong singkat.</p>



<p>Singkat cerita, H2H akhirnya debut. Seperti kebanyakan <em>girlband </em>lain, mereka pun punya <em>channel </em>YouTube sendiri yang juga berisi semacam <em>variety show </em>di luar kesibukan mereka sebagai <em>idol</em>. Gampangnya, banyak konten vlog di sana.</p>



<p>Dalam beberapa kesempatan (kalau tidak salah sekitar tiga kali secara total), Jiwoo ini sering bercerita tentang si Deep Green ini, termasuk menunjukkan <em>wallpaper </em>HP-nya yang menampilkan foto mereka berdua.</p>



<p>Nah, dari sinilah masalahnya dimulai.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Netizen yang Lompat ke Kesimpulan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8646" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Wallpaper Jiwoo (TikTok)</figcaption></figure>



<p>Mungkin Pembaca yang tidak familier dengan dunia K-Pop akan merasa heran dengan cerita di atas karena tidak menemukan adanya masalah. Penulis pun merasa demikian.</p>



<p>Ternyata, netizen (yang tentunya penggemar K-Pop) mempermasalahkan sikap Jiwoo yang <em>oversharing </em>si Deep Green tersebut. Ada yang mengecap Jiwoo <strong>&#8220;gagal <em>move on</em>&#8220;</strong> dari temannya tersebut hingga <strong><em>mengabaikan member</em>-nya</strong>,</p>



<p>Mereka menggunakan sebuah potongan ucapan salah satu <em>member </em>H2H, A-na, yang mengatakan di salah satu vlog kurang lebih seperti ini: &#8220;lebih perhatikan lagi <em>member</em>-mu.&#8221; Ada juga katanya A-na pernah bilang, &#8220;oh, si Green itu lagi.&#8221;</p>



<p>Lebih parahnya lagi, ada yang langsung menuduh Jiwoo <strong>menjalin hubungan romantis</strong> dengan si Deep Green. Istilah yang sering digunakan adalah WLW atau <em>woman love woman</em>. Dengan kata lain, Jiwoo dianggap sebagai seorang lesbian.</p>



<p>Banyak yang berkata kalau kedekatan Jiwoo dan Deep Green &#8220;tidak normal&#8221;. Narasi yang sering digunakan adalah &#8220;gue juga punya temen deket, tapi enggak segitunya.&#8221; </p>



<p>Selain itu, hebohnya kasus ini juga membuat trio pendobrak <em>line-up </em><strong>jadi sasaran <em>hate </em></strong>karena dianggap <strong>menggagalkan debut Deep Green (dan beberapa orang lainnya)</strong>. Padahal, kan, keputusannya dari manajemen, ya?</p>



<p>Tentu banyak hal lain yang akhirnya disasar ke Jiwoo, mulai dianggap kurang pantas jadi <em>leader</em>, enggak bisa menerima fakta, dicap sering blunder, kurang <em>care </em>ke anggotanya, dan lain sebagainya.</p>



<p>Dari penjelasan di atas, bisa dilihat betapa mudahnya kita sebagai manusia langsung lompat ke kesimpulan dan merasa kesimpulan tersebut pasti benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Padahal ya Belum Tentu Benar</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8647" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/04/Ketika-Netizen-Lompat-ke-Kesimpulan-dan-Merasa-Pasti-Benar-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jiwoo dan Carmen (<a href="https://www.instagram.com/p/DXCGuAPiQeK/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Penggemar K-Pop memang sering &#8220;dikeroyok&#8221; oleh netizen lain karena hubungan parasosial mereka yang cukup parah. Bagi mereka, <em><strong>idol</strong></em><strong><em> </em>adalah milik mereka.</strong> Tingkah laku <em>idol</em> harus sesuai dengan kemauan dan standar mereka.</p>



<p>Penulis masih ingat betul kasus yang menerpa <a href="https://whathefan.com/musik/live-my-life-aespa/">Karina aespa</a>. Ada dua kasus besar di mana hidupnya seolah &#8220;diatur&#8221; oleh penggemar. Pertama, masalah ia pacaran yang ujungnya membuat ia harus putus. Kedua, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/beda-artis-korea-selatan-dan-indonesia-ketika-pemilu/">masalah foto yang dianggap bentuk dukungan kepada salah satu calon presiden Korea Selatan</a>.</p>



<p>Nah, kasus Jiwoo ini adalah contoh lain dari permasalahan ini. Apalagi, kesimpulan-kesimpulan netizen, menurut keyakinan Penulis, <strong>berasal dari asumsi-asumsi yang dasarnya kurang kuat</strong>, mong kebanyakan dari potongan video.</p>



<p>Pertama, Jiwoo memang <em>leader </em>H2H, sehingga punya tanggung jawab yang besar atas para <em>member</em>-nya. Hanya karena ia sering <em>sharing </em>Deep Green, bukan berarti ia menelantarkan anggota-anggotanya, apalagi sampai dicap kurang <em>care</em>.</p>



<p>Ucapan A-na pun belum tentu terkait hal tersebut, apalagi mereka berdua (Jiwoo dan A-na) dikenal sebagai Tom &amp; Jerry-nya H2H karena sering berantem (dalam konteks bercanda, yang justru menunjukkan kedekatan mereka).</p>



<p>Kedua, kalau memang Jiwoo lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan <em>member</em>-nya sendiri, ya biarin aja. Kan orang bebas memilih mau berteman dengan siapa. Toh, kita juga tidak selalu berteman dengan orang sekantor, kan?</p>



<p>Ketiga, tuduhan yang menurut Penulis paling parah adalah tentang WLW. Penulis benar-benar tidak habis pikir, kenapa ujungnya justru menuduh Jiwoo sampai segitunya? </p>



<p>Banyak yang mengatakan bahwa mereka juga punya teman dekat, tapi enggak sampai seperti Jiwoo dan Deep Green. Lah, cara orang mengekspresikan diri kan beda-beda, masa harus sama kayak kita semua?</p>



<p>Padahal, <strong>kita tidak tahu apa saja yang terjadi di balik layar</strong>. Kita hanya menyimpulkan berdasarkan apa yang ditampilkan di layar. Lantas, siapa kita bisa menghakimi orang lain sedemikian rupa dan merasa asumsi kita pasti benar?</p>



<p>Kalau kata teman Penulis, &#8220;<em>They wanna believe what they want to believe</em>.&#8221; Bagi <em>fans </em>(dan mungkin juga<em> hater</em>), mereka merasa yang paling tahu tentang <em>idol</em>-nya, seolah tidak ada batas di antara mereka.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Artikel ini bukan pembelaan ke Jiwoo, mong <em>fans</em> pun bukan. Artikel ini Penulis tulis sebagai pengingat bahwa kita sebagai manusia terkadang suka langsung <strong>melompat ke kesimpulan tanpa ada dasar yang kuat</strong>.</p>



<p>Kalau hanya berdasarkan asumsi, potongan-potongan video, dan bukti-bukti lemah lainnya, ya jangan langsung membuat kesimpulan. Toh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di belakang layar.</p>



<p>Lagipula, daripada menghabiskan energi dan waktu untuk orang lain (yang bahkan tidak tahu kita hidup di dunia ini), lebih baik digunakan untuk <em>upgrade </em>diri sendiri. Toh, kita enggak bisa mengontrol Jiwoo mau berteman dengan siapa atau mau bersikap seperti apa.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat &#8220;drama&#8221; yang melibatkan Jiwoo</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-netizen-lompat-ke-kesimpulan-dan-merasa-pasti-benar/">Ketika Netizen Lompat ke Kesimpulan (dan Merasa Pasti Benar)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-netizen-lompat-ke-kesimpulan-dan-merasa-pasti-benar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Kebenaran Relatif Dianggap Sebagai Kebenaran Absolut</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-kebenaran-relatif-dianggap-sebagai-kebenaran-absolut/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-kebenaran-relatif-dianggap-sebagai-kebenaran-absolut/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2025 16:50:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8329</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang bekerja secara remote, salah satu keistimewaan yang Penulis rasakan adalah bisa bekerja di mana saja. Nah, kalau sedang bosan bekerja dari rumah, biasanya Penulis memilih untuk bekerja di kafe, entah itu sendirian ataupun bersama teman. Nah, salah satu teman Penulis yang sering work from cafe (WFC) bersama adalah Dio, teman sejak semester [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-kebenaran-relatif-dianggap-sebagai-kebenaran-absolut/">Ketika Kebenaran Relatif Dianggap Sebagai Kebenaran Absolut</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebagai orang yang bekerja secara <em>remote</em>, salah satu keistimewaan yang Penulis rasakan adalah bisa bekerja di mana saja. Nah, kalau sedang bosan bekerja dari rumah, biasanya Penulis memilih untuk bekerja di kafe, entah itu sendirian ataupun bersama teman.</p>



<p>Nah, salah satu teman Penulis yang sering<em> work from cafe </em>(WFC) bersama adalah Dio, teman sejak semester satu kuliah yang sekarang menjadi dosen Binus Malang. Kami berdua sering bertukar pikiran di sela-sela menyelesaikan pekerjaan masing-masing.</p>



<p>Belum lama ini, kami berdua WFC di salah satu kafe Malang yang sudah menjadi langganan. Pada saat itu, Dio <em>share </em>bahwa dirinya baru menonton video dari Rumah Editor di YouTube tentang seorang matematikawan bernama <strong>Kurt Gödel</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/3472656-avengers-endgame-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/3472656-avengers-endgame-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/3472656-avengers-endgame-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/3472656-avengers-endgame-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/3472656-avengers-endgame-banner-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/3472656-avengers-endgame-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton Trailer Avengers: End Game" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-trailer-avengers-end-game/">Setelah Menonton Trailer Avengers: End Game</a></div></div></div><p></p>


<p>Gödel terkenal karena berusaha membuktikan keberadaan Tuhan dengan menggunakan logika dan matematika. Namun, bukan pembahasan mengenai keberadaan Tuhan yang akan menjadi inti tulisan kali ini. </p>



<p>Yang ingin Penulis bahas adalah topik lain tentang <strong>Necessary Truth vs. Contingent Truth</strong>, yang juga dibahas dalam video tersebut. Jika penasaran, pembaca bisa menonton video selengkapnya <a href="https://youtu.be/FBVFi1rTwRk">melalui tautan berikut ini</a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kebenaran Absolut vs Kebenaran Relatif</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8333" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kurt Gödel Berada di Posisi Nomor Dua dari Kanan (<a href="https://www.britannica.com/biography/Kurt-Godel">Britannica</a>)</figcaption></figure>



<p>Secara sederhana (<em>oversimplified</em>), Necessary Truth adalah<strong> kebenaran yang bersifat mutlak dan tidak mungkin salah</strong>. Contoh mudahnya adalah perhitungan 1 + 1 pasti 2, mau di <em>multiverse</em> mana pun pasti jawabannya 2. </p>



<p>Contoh lain, semua segitiga pasti memiliki tiga sisi. Tidak mungkin sebuah segitiga memiliki empat sisi, karena namanya akan berubah menjadi segiempat. Nah, keberadaan Tuhan menurut Gödel juga termasuk Neccesarry Truth.</p>



<p>Di sisi lain, Contingent Truth adalah <strong>kebenaran yang bisa saja berubah</strong>. Contoh, untuk saat ini ibu kota Indonesia masih Jakarta. Akan tetapi, bisa saja tahun 2029 nanti akan diresmikan kalau ibu kota Indonesia adalah <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menatap-masa-depan-ikn-di-bawah-kepemimpinan-prabowo/">IKN</a>. Siapa yang tahu, kan?</p>



<p>Contoh lain, kita menganggap kalau tokoh A adalah orang jahat karena kita mengetahui rekam jejaknya di masa llau. Namun, bisa saja besok dia tobat dan benar-benar berubah menjadi lebih baik.</p>



<p>Nah, di tulisan ini, Penulis akan menerjemahkan secara bebas Necessary Truth menjadi <strong>Kebenaran Absolut </strong>dan Contingent Truth menjadi <strong>Kebenaran Relatif </strong>untuk memudahkan penulisan. Penulis hanya meminjam istilah di atas untuk membahas topik yang kemarin Penulis singgung: <a href="https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/">polarisasi</a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Alasan Mengapa Kita Mudah Diadu Domba</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8334" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kita Mudah Diadu Domba (<a href="https://outsidebozeman.com/nature/rights-ritual">Outside Bozeman</a>)</figcaption></figure>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-default is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>They&#8217;ll conquer us if we divide</em></p>



<p>Mereka akan menaklukkan kita kalau kita terpecah belah</p>
<cite>Delusion:All by ONE OKE ROCK</cite></blockquote>



<p>Ketika kita masih di bangku sekolah, tentu kita familier dengan istilah <em><strong>devide at impera</strong> </em>atau yang sering disebut juga sebagai <strong>politik adu domba</strong>. Intinya adalah bagaimana kita sebagai sebuah bangsa dibuat justru saling memusuhi satu sama lain, bukannya bersatu.</p>



<p>Seperti penggalan lirik lagu &#8220;Delusion:All&#8221; dari <a href="https://whathefan.com/musik/deeper-deeper-one-ok-rock/">ONE OK ROCK</a> di atas, ketika kita terpecah belah, maka &#8220;mereka&#8221; akan dengan mudah menakhlukkan kita. Musuh tahu, kita akan sulit untuk dikalahkan apabila bersatu.</p>



<p>Meskipun kita sudah merdeka selama 80 tahun, rasanya strategi politik zaman kolonial ini masih terasa hingga sekarang. Bukan oleh bangsa Belanda maupun bangsa lain, tapi oleh bangsa kita sendiri dan membuat kita terpolarisasi dengan mudahnya.</p>



<p>Contoh yang masih hangat tentu saja <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">polemik Brave Pink Green Hero</a> yang diributkan oleh netizen. Bukannya mempersatukan, simbol tersebut justru semakin memperparah polarisasi masyarakat yang semakin parah selama 10 tahun terakhir ini.</p>



<p>Nah, menurut Penuis, salah satu alasan mengapa kita begitu mudah terpolarisasi yang berujung mudah diadu domba adalah karena <strong>kita menganggap Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut</strong>.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8336" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kita Gunakan Presiden Prabowo Sebagai Contoh (<a href="https://gerindra.id/2025/09/09/presiden-prabowo-subianto-tekankan-peran-brics-jadi-pilar-penting-stabilitas-global/">Gerindra</a>)</figcaption></figure>



<p>Contohnya begini. Anggaplah Pihak A menganggap kinerja <strong><a href="https://whathefan.com/politik-negara/menyorot-kebijakan-prabowo-gibran-dari-makan-siang-gratis-hingga-300-fakultas-kedokteran/">Presiden Prabowo Subianto</a> </strong>sangat buruk dan banyak catatan negatif tentangnya. Ditambah dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma media sosial yang cenderung hanya menampilkan apa yang kita suka</a>, kita semakin menganggap hal tersebut sebagai Kebenaran Absolut.</p>



<p>Karena menganggap apa yang ia yakini sebagai Kebenaran Absolut, maka ia tidak peduli jika ada data yang membantah kalau kinerja Prabowo 100% buruk. Mau ada data penangkapan para koruptor, mau ada data terbongkarnya kasus oplosan, Prabowo tetap jelek.</p>



<p>Sebaliknya juga begitu, ada Pihak B yang menganggap kalau presiden pilihannya 100% baik, tidak mungkin salah. Mau dikasih bukti beberapa hal buruk tentangnya pun, Prabowo tetap yang terbaik, titik.</p>



<p>Mau Prabowo memilih wakil presiden yang mengacak-acak konstitusi, mau Prabowo mengeluarkan pernyataan yang <em>tone deaf</em>, mau Prabowo mengeluarkan kebijakan yang dirasa banyak ahli kurang tepat, Prabowo tetap baik. Keyakinannya telah berubah menjadi Kebenaran Absolut.</p>



<p>Padahal, <strong>Prabowo itu baik maupun Prabowo itu buruk sama-sama merupakan Kebenaran Relatif</strong>. Prabowo bisa baik dan buruk secara bersamaan, mong namanya juga manusia, bukan nabi. Kebenaran tentang Prabowo bisa berubah, tergantung konteksnya.</p>



<p>Namun, kebencian dan fanatisme berlebih memang bisa membutakan manusia. Kalau sudah benci, benci sekali. Kalau sudah suka, suka sekali. Alhasil, kita pun jadi mudah terpolarisasi dan sering berdebat tak penting di media sosial tanpa ada yang mau merasa kalah.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Kalau kita sudah bersikeras menganggap Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut, ya susah. Semua yang bertentangan dengan apa yang kita yakini sebagai kebenaran dianggap salah. Alhasil, diskusi yang sehat pun mustahil tercipta karena kita jadi menutup persepsi lain.</p>



<p>Manusia memang cenderung hanya ingin melihat apa yang ingin dilihat, mendengar apa yang ingin didengar. Jika terus begini, maka kita akan terus mudah terpolarisasi dan diadu domba. Pertanyaannya, mau sampai kapan seperti ini?</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 10 September 2025, terinspirasi setelah teringat dengan pembicaraan bersama seorang teman tentang teori yang dikemukakan oleh Kurt Gödel</p>



<p>Sumber Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-red-long-sleeve-writing-on-chalk-board-3769714/">Andrea Piacquadio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-kebenaran-relatif-dianggap-sebagai-kebenaran-absolut/">Ketika Kebenaran Relatif Dianggap Sebagai Kebenaran Absolut</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-kebenaran-relatif-dianggap-sebagai-kebenaran-absolut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2025 16:30:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Brave Pink Green Hero]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[polarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[substansi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8323</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu &#8220;buah&#8221; yang dihasilkan dari panasnya akhir bulan Agustus hingga awal September adalah munculnya gerakan 17+8, yang intinya adalah tuntutan-tuntutan untuk Presiden, DPR, Kepolisian, dan pihak-pihak lainnya. Sebanyak 17 tuntutan diberi deadline hingga tanggal 5 September kemarin, yang tentu saja pada akhirnya mayoritas yang belum dipenuhi. 8 sisanya diberi deadline satu tahun atau &#8220;dikumpulkan&#8221; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu &#8220;buah&#8221; yang dihasilkan dari <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/">panasnya akhir bulan Agustus hingga awal September</a> adalah munculnya gerakan <strong>17+8</strong>, yang intinya adalah tuntutan-tuntutan untuk Presiden, DPR, Kepolisian, dan pihak-pihak lainnya.</p>



<p>Sebanyak <a href="https://whathefan.com/politik-negara/peringatan-darurat-apa-memang-sedarurat-itu-situasi-politik-saat-ini/">17 tuntutan diberi <em>deadline</em></a><em> </em>hingga tanggal 5 September kemarin, yang tentu saja pada akhirnya mayoritas yang belum dipenuhi. 8 sisanya diberi <em>deadline </em>satu tahun atau &#8220;dikumpulkan&#8221; pada bulan September 2026. </p>



<p>Gerakan tersebut diprakarsai oleh banyak tokoh anak muda seperti <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a>, Andovi da Lopez, Fathia Izzati, Andhyta ‘Afu’ Utami, Salsa Erwina, dan Abigail Limuria. Isi tuntutannya pun macam-macam, yang intinya merangkum apa yang selama ini menjadi keresahan masyrakat.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan.jpg 1280w " alt="Chapter 51 Misi Penyelamatan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-51-misi-penyelamatan/">Chapter 51 Misi Penyelamatan</a></div></div></div><p></p>


<p>Bersamaan dengan adanya tuntutan tersebut, muncul gerakan <strong>Brave Pink Green Hero</strong> sebagai bentuk dukungan dan solidaritas atas tuntutan tersebut. Banyak netizen berlomba-lomba untuk ikut mengubah foto profilnya menjadi <em>duo-tone </em>kombinasi kedua warna tersebut, termasuk Penulis.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Munculnya Gerakan Brave Pink Green Hero</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8326" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ibu Ana vs Kepolisian (<a href="https://indopop.id/profil-ibu-ana-brave-pink-nekat-halau-aparat-pakai-galah?page=all">Indopop</a>)</figcaption></figure>



<p>Brave Pink dipilih karena keberanian yang ditunjukkan oleh<strong> Ibu Ana</strong>, yang sempat terpotret berani menghadapi barisan kepolisian sendirian hanya dengan membawa bendera. Sementara itu, Green Hero dipilih untuk mengenang almarhum <strong>Affan Kurniawan</strong>.</p>



<p>Masalahnya, pemilihan warna tersebut ternyata justru diributkan oleh netizen. Pasalnya, beredar video Ibu Ana yang berteriak secara kasar &#8220;Prabowo Anjing, Prabowo Turun, Ganti Anies,&#8221; yang diteriakkan di tengah-tengah aksi.</p>



<p>Gara-gara hal tersebut, banyak yang menolak untuk ikut mengganti foto profilnya. Ada yang karena tidak ingin orang bermulut kasar menjadi simbol, ada yang menilai pemilihan warna tersebut bersifat politis, dan lain sebagainya.</p>



<p>Yang membela Ibu Ana pun tak sedikit. Ada yang bilang pemilihan warna pink tersebut karena keberanian yang ditunjukkan Ibu Ana, bukan mewakili pendapat pribadinya. Ada yang bilang pemilihan warna tersebut melambangkan <em>woman empowerment</em> secara keseluruhan.</p>



<p>Penulis menemukan analogi yang menarik di X, di mana ada yang mengomparasi Brave Pink ini dengan slogan &#8220;Just Do It&#8221; dari Nike dan V Sign sebagai tanda damai. Inspirasi dari keduanya juga berasal dari hal yang tidak 100% baik, bahkan cenderung kontroversi.</p>



<p>Selain itu, ada yang membuat analisis kalau video yang beredar tersebut sebenarnya buatan AI. Banyak kejanggalan yang ditemukan pada foto tersebut, yang sering menjadi ciri video buatan AI. Penulis tidak akan mendebat hal tersebut, karena tidak punya kapabilitas juga untuk menilai.</p>



<p>Terlepas dari pro kontra pemilihan Brave Pink Green Hero ini, Penulis justru merasa ini menjadi bukti lain betapa <a href="https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/">kita mudah terpolarisasi</a>, yang ujungnya membuat kita mudah diadu domba dan melupakan hal yang substansial.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi dan Melupakan Hal yang Substansi?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8327" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sederet Public Figure yang Ikut Brave Pink Green Hero (<a href="https://motherandbeyond.id/read/27154/tunjukkan-solidaritas-dan-dukungan-deretan-artis-wanita-ini-ganti-foto-profil-jadi-brave-pink-hero-green">Mother &amp; Beyond</a>)</figcaption></figure>



<p>Secara umum, orang mengganti foto profilnya dengan <em>duo-tone </em>tersebut adalah <strong>bentuk dukungan dan solidaritas</strong> terhadap gerakan 17+8, yang bisa dianggap sebagai aksi nyata dari kita sebagai masyarakat kepada para pemangku kekuasaan yang mengatur negara ini.</p>



<p>Akan tetapi, sebenarnya yang mendukung 17+8 tapi menolak mengganti foto profil juga ada. Yang cuma FOMO ikut mengganti foto padahal tidak mendukung 17+8 juga ada. Yang tidak mendukung 17+8 dan tidak FOMO pun juga ada.</p>



<p>Menariknya, Anies Baswedan yang namanya terseret karena disebut Ibu Ana pun tidak ikut-ikutan mengganti foto profilnya. Mantan capres lainnya, Ganjar Pranowo, juga mengambil langkah yang sama. Tampaknya mereka tidak ingin disangkutpautkan dengan isu ini.</p>



<p>Sebenarnya silakan saja mau memilih yang mana, toh itu hak masing-masing individu. Yang membuat Penulis geram adalah ketika <strong>ada pihak yang merasa lebih baik dari pihak lain karena pilihannya</strong>. Mereka menyalahkan pihak yang berseberangan dengan berbagai alasan.</p>



<p>Kalau memang tidak srek dengan pemilihan Brave Pink karena sosok Ibu Ana, ya enggak perlu ikut ganti foto profil. Masalahnya, ada saja pihak-pihak ini yang menggiring opini kalau orang-orang yang mengganti foto profilnya adalah A B C D blablabla.</p>



<p>Yang memilih untuk mengganti foto profil juga begitu. Jangan mentang-mentang ganti foto profil, terus jadi merasa yang paling nasionalis dan menghakimi yang tidak melakukannya. Jangan-jangan yang ganti foto profil tidak pernah ikut aksi secara langsung, cuma koar-koar di media sosial (seperti Penulis misalnya).</p>



<p>Salah satu alasan utama mengapa kita begitu mudah terpolarisasi adalah karena terkadang kita <strong>menganggap</strong> <strong>Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut</strong>. Penulis akan menjabarkan hal ini lebih detail di tulisan besok.</p>



<p>Lebih parahnya lagi, polarisasi yang terjadi ini justru <strong>membuat kita melupakan substansinya</strong>, yakni tuntutan masyarakat kepada pemerintah. Harusnya kita sebagai sesama rakyat harus bekerja sama untuk memantau agar tuntutan yang telah diajukan telah terlaksana.</p>



<p>Terserah mau pakai warna <em>pink</em>, hijau, biru, cokelat, merah, nggak pakai warna karena buta warna, bebas. Yang penting, di momen-momen penting seperti saat ini kita harus saling jaga agar suara kita didengar oleh mereka.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Jujur, Penulis geram karena ada saja yang meributkan Brave Pink Green Hero ini. Kenapa justru menyorot Ibu Ana-nya, bukan inti dari gerakannya. Ibarat meributkan klub sepak bola bukan karena performa atau permainannya, tapi dari logo klubnya.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga merasa heran karena ketika pemimpin negara yang berkata kasar, hal tersebut justru berusaha dinormalisasi. Ketika pemimpin negara <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/napoleon-iii-gak-bisa-jadi-presiden-lagi-ya-tinggal-ubah-aturannya/">mengacak-acak konstitusi agar bisa ikut pemilu</a>, eh malah dipilih. <em>Double standard</em>-nya kok agak kebangetan.</p>



<p>Terlepas dari itu semua, Penulis berharap kejadian yang berlangsung sejak akhir Agustus bisa menjadi momentum kita sebagai bangsa menuju ke arah yang lebih baik lagi. Kita lihat saja tahun depan, apakah tuntutan yang ada di dalam 17+8 ada yang berhasil dikerjakan atau tidak.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 September 2025, terinspirasi dari netizen yang meributkan masalah <em>brave pink hero green</em></p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://aceh.tribunnews.com/news/983906/viral-brave-pink-dan-hero-green-di-medsos-warganet-ramai-ubah-foto-profil-begini-caranya">Tribun</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beda Artis Korea Selatan dan Indonesia Ketika Pemilu</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/beda-artis-korea-selatan-dan-indonesia-ketika-pemilu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/beda-artis-korea-selatan-dan-indonesia-ketika-pemilu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Jun 2025 13:31:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[aespa]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8273</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, ada fenomena yang menarik perhatian Penulis dari dunia per-K-Pop-an. Karina, salah satu member dari aespo aespa mengunggah sebuah foto di Instagram di mana dia berpose peace. Sebagaimana simbol peace pada umumnya, tentu Karina membentuk tanda V dengan kedua jarinya. Masalahnya, banyak yang menganggap kalau pos tersebut merupakan bentuk dukungan Karina terhadap salah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/beda-artis-korea-selatan-dan-indonesia-ketika-pemilu/">Beda Artis Korea Selatan dan Indonesia Ketika Pemilu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu lalu, ada fenomena yang menarik perhatian Penulis dari dunia per-K-Pop-an. <strong>Karina</strong>, salah satu <em>member </em>dari <a href="https://whathefan.com/musik/live-my-life-aespa/"><s>aespo</s> aespa</a> mengunggah sebuah foto di Instagram di mana dia berpose <em>peace</em>. </p>



<p>Sebagaimana simbol <em>peace </em>pada umumnya, tentu Karina membentuk tanda V dengan kedua jarinya. Masalahnya, banyak yang menganggap kalau pos tersebut merupakan bentuk dukungan Karina terhadap salah satu calon presiden di Korea Selatan, yang memang sedang menjalani masa pemilu setelah presidennya dimakzulkan akhir tahun lalu.</p>



<p>Hal ini makin diperparah karena Karina menggunakan jaket dengan tulisan angka 2 dan berwarna merah, warna yang identik dengan partai pengusung calon kandidat nomor 2. Netizen pun langsung heboh dengan pos tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/Promo-KKP-Website-300x188.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/Promo-KKP-Website-300x188.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/Promo-KKP-Website-768x480.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/Promo-KKP-Website-356x223.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/Promo-KKP-Website.jpg 800w " alt="Setelah Menonton Kulari ke Pantai (Bagian 1)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-1/">Setelah Menonton Kulari ke Pantai (Bagian 1)</a></div></div></div><p></p>


<p>Tak lama setelah itu, Karina menghapus pos tersebut dan merilis permintaan maaf. SM Entertainment selaku agensi yang menaungi Karina juga merilis klarifikasi. Sejak itu, banyak sekali <em>public figure </em>di Korea yang berhati-hati dalam menunjukkan gestur angka.</p>



<p>Salah satu yang sempat Penulis lihat adalah Hearts2Hearts, yang merupakan adik dari <s>aespo</s> aespa. Dalam salah satu <em>live</em>-nya, beberapa <em>member</em>-nya tanpa sengaja menunjukkan gestur angka yang langsung menimbulkan kepanikan dan segera meralat gesturnya.</p>



<p>Lantas, apakah memang ada aturan <em>public figure </em>yang memiliki basis penggemar besar dilarang menunjukkan dukungan politiknya? Sebenarnya tidak ada peraturan resmi yang melarang, hanya saja hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Istilahnya, &#8220;<em>No Color, No Gesture</em>&#8220;.</p>



<p>Kok, yang jelas-jelas mendukung. Yang dianggap &#8220;tersirat&#8221; seperti Karina saja langsung mendapatkan kecaman dari masyarakat Korea Selatan. Bahkan, sampai ada yang mengatakan “mereka sudah tamat.” Mungkin ini yang komentar memang <em>hater</em>-nya <s>aespo</s> aespa saja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Membandingkan Fenomena Ini dengan Negara Sendiri</h2>



<p>Nah, melihat fenomena seperti ini, tentu Penulis jadi membandingkan dengan negaranya sendiri. Kalau di sini, mengapa para artis justru menjadi daya tarik utama untuk mendulang suara? Para artis bisa dengan bebas menunjukkan dukungannya kepada salah satu calon.</p>



<p>Menariknya, para artis pendukung ini bisa mendapatkan posisi-posisi di pemerintahan apabila calon yang didukung berhasil menang. Bayangkan saja Karina tiba-tiba menjadi staf khusus Presiden Korea Selatan. Sulit dibayangkan, bukan? Itulah bedanya.</p>



<p>Ada dua perspektif berbeda yang bisa dikulik dari sini. Pertama, <strong>masyarakat Korea Selatan memiliki standar tinggi dalam hal netralitas dan menghindari polarisasi</strong>. Siapa yang tidak memiliki keterkaitan dengan kelompok politik tertentu lebih baik diam.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, <em>public figure </em>di Korea Selatan (terlebih <em>idol </em>K-Pop) memiliki basis penggemar yang sangat besar. Jika mereka sudah menunjukkan dukungan kepada salah satu calon, besar kemungkinan penggemar akan ikut pilihan mereka.</p>



<p>Jika hal tersebut benar-benar terjadi, akibatnya adalah pemilihan berdasarkan apa kata idola mereka, bukan karena murni pilihan pribadi atau preferensi politik mereka. Yang terpilih pun bisa dibilang karena populer, bukan visi misi yang dimiliki (salah satu penyakit tulen demokrasi).</p>



<p>Dari perspektif lain, <strong>masyarakat Korea Selatan saja yang terlalu kaku dan tidak menerapkan demokrasi secara utuh</strong>. Toh, di negara yang katanya paling demokrasi (baca: Amerika Serikat), para artisnya juga gencar mengampanyekan jagoannya secara blak-blakan.</p>



<p>Artis atau <em>public figure </em>juga memiliki hak suara dan punya hak untuk ikut mengampanyekan calon yang mereka dukung, apa pun alasannya. Bisa karena satu ideologi, bisa karena dibayar. Yang jelas, mereka siap dicap netizen sebagai <em>buzzer</em>.</p>



<p>Lantas, bagaimana dengan penggemar mereka yang memilih karena pilihan para <em>public figure </em>ini? Ya, salah mereka sendiri, kenapa tidak punya pendirian. Mereka harusnya menyadari bahwa sosok idola dan pilihan politik seharusnya dipisahkan.</p>



<p>Kalau yang ekstrem, mungkin mereka akan berhenti mengidolakan seseorang apabila pilihan politiknya berbeda. Dari yang dulu memuja-muja dan <em>like </em>semua pos di media sosial, berbalik menjadi penghujat nomor satu.</p>



<p>Terlepas dari kedua perspektif di atas, ini adalah kali kedua Penulis secara pribadi membandingkan artis Korea Selatan dan Indonesia. Sebelumnya, Penulis sering membandingkan perbedaan gaya hidup mereka, tapi rasanya itu bisa dibahas di tulisan lain.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Pertanyaannya sekarang, mana yang benar? Apakah Korea Selatan yang kaku atau Indonesia yang <em>selow</em>? Menurut Penulis, <strong>tidak ada yang salah atau benar</strong>. Toh, masing-masing negara memiliki budaya yang berbeda, sehingga masing-masing tahu mana yang terbaik untuknya.</p>



<p>Mungkin artis Korea Selatan memang harus ekstra hati-hati karena masyarakatnya cukup sensitif dengan masalah politik. Bayangkan saja, <a href="https://whathefan.com/musik/i-am-ive/">Rei dari IVE</a> saja sampai takut ketika disuruh melakukan <em>aegyo</em> dengan menunjuk pipinya menggunakan telunjuk. Padahal ia dari Jepang, yang artinya tidak punya hak pilih.</p>



<p>Sebaliknya, masyarakat Indonesia tampaknya cukup <em>selow </em>ketika melihat para artisnya menjadi tim kampanye calon presiden tertentu. Tentu ada saling hujat di sana-sini, tapi rasanya tidak seekstrem masyarakat Korea Selatan. Paling dicap <em>buzzer </em>aja, apalagi yang sampai dapat jabatan di pemerintahan terpilih.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 Juni 2025, terinspirasi setelah melihat bagaimana takutnya para <em>idol </em>K-Pop menunjukkan gestur angka ketika masa jelang pemilu presiden Korea Selatan</p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.detik.com/pop/korean-wave/d-7937128/karina-aespa-bikin-heboh-pakai-jaket-merah-diduga-dukung-02">Karina aespa Bikin Heboh, Pakai Jaket Merah Diduga Dukung 02 &#8211; Detik.com</a></li>



<li><a href="https://www.koreaboo.com/news/aespa-gets-dragged-political-controversy-despite-karina-post-deletion/">aespa Gets Further Dragged Into Political Controversy Despite Karina’s Post Deletion &#8211; Korea Boo</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/beda-artis-korea-selatan-dan-indonesia-ketika-pemilu/">Beda Artis Korea Selatan dan Indonesia Ketika Pemilu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/beda-artis-korea-selatan-dan-indonesia-ketika-pemilu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/belajar-sejarah-kok-cuma-dari-tiktok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/belajar-sejarah-kok-cuma-dari-tiktok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2025 16:07:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8266</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa bulan lalu, seorang teman Penulis bertanya seputar sejarah. Bukan karena Penulis ahli sejarah, tapi karena dia tahu Penulis suka baca buku sejarah. Dia ingin mengonfirmasi beberapa fakta sejarah yang ia temukan di kolom komentar sebuah pos di TikTok. Penulis tak perlu menjabarkan daftar sejarah yang ia ingin konfirmasi, yang jelas banyak fakta yang terpapar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/belajar-sejarah-kok-cuma-dari-tiktok/">Belajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa bulan lalu, seorang teman Penulis bertanya seputar sejarah. Bukan karena Penulis ahli sejarah, tapi karena dia tahu Penulis suka baca buku sejarah. Dia ingin mengonfirmasi beberapa fakta sejarah yang ia temukan di kolom komentar <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">sebuah pos di TikTok</a>.</p>



<p>Penulis tak perlu menjabarkan daftar sejarah yang ia ingin konfirmasi, yang jelas banyak fakta yang terpapar di sana cukup mengejutkan dan bikin <em>shock</em>. Penulis pun berusaha mengonfirmasi beberapa fakta yang kebetulan Penulis ketahui.</p>



<p>Nah, belum lama ini, ternyata ada beberapa akun sejarah seperti historia.id yang juga membuat &#8220;klarifikasi&#8221; atas fakta-fakta sejarah yang beredar di kolom komentar di TikTok. Mereka memaparkan sumber-sumber yang lebih kredibel untuk merespons hal tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/arnaud-jaegers-253360-unsplash-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/arnaud-jaegers-253360-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/arnaud-jaegers-253360-unsplash-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/arnaud-jaegers-253360-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/arnaud-jaegers-253360-unsplash-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/arnaud-jaegers-253360-unsplash.jpg 1215w " alt="Memilih Pemimpin dengan Kedewasaan Berpolitik" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/">Memilih Pemimpin dengan Kedewasaan Berpolitik</a></div></div></div><p></p>


<p>Fenomena ini pun berhasil menggelitik <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Penulis sebagai penggemar sejarah</a> (bukan ahli sejarah!). Alasannya, banyak yang langsung menelan bulat-bulat fakta sejarah tersebut. Rasanya tak banyak yang berusaha mencari konfirmasi seperti yang dilakukan teman Penulis.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tidak Boleh Belajar Sejarah (Hanya) dari TikTok?</h2>



<div class="wp-block-cover"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8268" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Belajar Sejarah Bermodal TikTok (<a href="https://www.pexels.com/@cottonbro/">cottonbro studio</a>)</p>
</div></div>



<p>Penulis biasa membaca sejarah seutuh mungkin, atau setidaknya menonton video esai di YouTube. Baik di buku maupun YouTube, penjabaran sejarah kerap disajikan secara kronologis, bukan informasi sepotong-potong yang sumbernya tidak jelas atau hanya sekadar desas-desus. </p>



<p>Maka dari itu, ketika mengetahui di TikTok ada banyak potongan sejarah yang sumbernya tak jelas, Penulis pun merasa ini bukan sesuatu yang bisa didiamkan begitu saja. Gawat kalau kita sampai terbiasa <strong>mempercayai sesuatu yang tak jelas dari mana asalnya</strong>.</p>



<p>Penulis paham <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/">kehadiran media sosial seperti TikTok</a> memang memudahkan kita untuk mengakses berbagai informasi, termasuk sejarah. Namun, arus informasinya terlalu bebas, sehingga <strong>siapa pun bisa membagikan informasi dan dianggap benar</strong>.</p>



<p>Analoginya begini. Ketika mendengarkan informasi seputar kesehatan, tentu kita harus mengecek siapa yang mengatakan hal tersebut. Misal yang menyampaikan seorang dokter, maka kecil kemungkinan kalau informasi yang disampaikan itu salah atau menyesatkan.</p>



<p>Nah, hal yang sama seharusnya juga berlaku dengan topik sejarah. Kalau orang yang menyampaikan informasi adalah ahli sejarah atau minimal <em>content creator </em>yang terkenal memang selalu melakukan riset mendalam, kita bisa mempercayainya.</p>



<p>Akan tetapi, kalau yang menyampaikan hanya<em> random user </em>yang hanya mengetikkan beberapa baris kalimat di kolom komentar, tentu kita perlu mengecek kebenarannya. Fakta yang ia anggap benar, bisa jadi ternyata tidak pernah terbukti dan hanya menjadi sebuah mitos.</p>



<p>Bayangkan jika kita mempercayai fakta sejarah yang keliru itu, lantas menyebarkannya kepada orang lain. Bukankah itu sama dengan<strong> kita menyebarkan hoaks?</strong> Yang lebih bahaya,<strong> sesuatu yang salah, jika diyakini mayoritas, pada akhirnya akan dianggap benar</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Tidak Boleh Belajar Sejarah dari TikTok?</h2>



<div class="wp-block-cover"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8269" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Belajar-Sejarah-kok-Cuma-dari-TikTok-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Mari Biasakan Recheck Fakta yang Kita Dapatkan (<a href="https://www.pexels.com/@spiritsofmilly/">Melissa Thomas</a>)</p>
</div></div>



<p>Bukannya tidak boleh kita belajar sejarah dari <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, toh Penulis yakin banyak <em>content creator </em>yang cukup kredibel dan melakukan riset mendalam sebelum membuat konten. Namun, kita harus lebih kritis dan selektif dalam memilih mana yang bisa dipercaya.</p>



<p>Justru, Penulis berharap konten-konten sejarah di TikTok bisa menimbulkan rasa penasaran bagi penontonnya, lalu mereka jadi mencari informasi lebih lengkapnya di buku maupun video esai. Penulis sangat ingin topik sejarah jadi topik umum di tongkrongan.</p>



<p>Yang Penulis khawatirkan di sini adalah <strong>bagaimana masyarakat belajar sejarah hanya dari beberapa kalimat di kolom komentar</strong>, seperti yang ditunjukkan oleh teman Penulis. Apalagi, ternyata banyak fakta tersebut terbukti keliru atau tidak tepat.</p>



<p>Kita tahu kalau literasi masyarakat kita cukup rendah. Baru baca judul berita saja tanpa membaca isinya sudah langsung tersulut emosi dan menyimpulkan sendiri. Hal yang sama juga bisa terjadi dengan fenomena yang sedang Penulis bahas ini.</p>



<p>Penulis bersyukur karena masih ada pihak-pihak yang berusaha mengoreksi hal ini dengan memaparkan fakta sejarah yang sesungguhnya. Walau tak yakin sanggahan tersebut akan sampai ke semua orang, setidaknya ada usaha untuk memberikan fakta yang benar.</p>



<p>Namun, namanya orang Indonesia, sudah disampaikan fakta dengan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan pun <strong>masih <em>ngeyel</em></strong>. Mereka hanya bermodalkan keyakinan bahwa apa yang mereka yakini benar, pendapat selain mereka itu salah.</p>



<p>Padahal yang namanya adu argumen, ya yang siapa sumbernya lebih kuat yang menang. Namun, di sini rasanya siapa yang <em>ngotot </em>itu yang menang. Kalau kata orang Jawa, <em>sing waras ngalah.</em> Ironi memang, karena untuk mempertahankan kebenaran pun kita bisa kalah.</p>



<p>Walau begitu, Penulis tetap berharap ke depannya <strong>kita bisa makin kritis dan tak malas melakukan <em>recheck</em> ketika mendapatkan suatu informasi</strong>, entah itu topik sejarah maupun yang lainnya. </p>



<p>Di era informasi seperti saat ini, kita harus lebih pandai dalam membedakan mana yang benar dan mana yang kurang benar. Masalah fakta sejarah di TikTok ini bisa dibilang hanya sebagian kecil dari permasalahan yang lebih besar.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 21 Mei 2025, terinspirasi setelah banyaknya konten sanggahan atas fakta sejarah yang tersebar di kolom komentar TikTok</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@suzyhazelwood/">Suzy Hazelwood</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/belajar-sejarah-kok-cuma-dari-tiktok/">Belajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/belajar-sejarah-kok-cuma-dari-tiktok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Laki-Laki Tidak Bercerita, Laki-Laki Curhat ke ChatGPT</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/laki-laki-tidak-bercerita-laki-laki-curhat-ke-chatgpt/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/laki-laki-tidak-bercerita-laki-laki-curhat-ke-chatgpt/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Dec 2024 15:29:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[ChatGPT]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8162</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa minggu terakhir, Penulis sering menemukan konten dengan tema &#8220;laki-laki tidak bercerita&#8221; yang diiringi dengan hal lain yang dilakukan, alih-alih bercerita. Hal ini memang terlihat seolah menggambarkan tentang budaya patriarki yang terlalu kuat. Sejak kecil, laki-laki selalu didoktrin untuk selalu kuat, tidak boleh menangis. Laki-laki harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, karena laki-laki dituntut untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/laki-laki-tidak-bercerita-laki-laki-curhat-ke-chatgpt/">Laki-Laki Tidak Bercerita, Laki-Laki Curhat ke ChatGPT</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa minggu terakhir, Penulis sering menemukan konten dengan tema &#8220;laki-laki tidak bercerita&#8221; yang diiringi dengan hal lain yang dilakukan, alih-alih bercerita. Hal ini memang terlihat seolah menggambarkan tentang budaya patriarki yang terlalu kuat.</p>



<p>Sejak kecil, laki-laki selalu didoktrin untuk selalu kuat, tidak boleh menangis. Laki-laki harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, karena laki-laki dituntut untuk mandiri. Oleh karena itu, tak heran jika laki-laki tak terbiasa untuk bercerita.</p>



<p>Berangkat dari premis tersebut, Penulis pun jadi terbesit satu hal: bagaimana jika ada platform yang memungkinkan laki-laki untuk &#8220;curhat&#8221; tanpa perlu diketahui oleh orang lain? Ternyata, <strong>ChatGPT</strong> bisa menjadi platform tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1.jpg 2048w " alt="Chapter 15 Tidak, Terima Kasih" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-15-tidak-terima-kasih/">Chapter 15 Tidak, Terima Kasih</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Curhat ke ChatGPT Tanpa Pengaturan</h2>



<p>Uji coba pertama yang Penulis lakukan adalah langsung melemparkan masalah yang sedang dihadapi ke ChatGPT. Responsnya memang terkesan agak <em>template</em>, tetapi ia memiliki semacam empati atas apa yang kita hadapi.</p>



<p>Mungkin karena dibuat dengan berbasis logika, maka ketika kita menyampaikan masalah, maka ia akan langsung memberikan poin-poin solusi yang sebaiknya kita lakukan untuk menghadapi masalah tersebut.</p>



<p>Selain itu, menariknya ChatGPT punya <em>vibes </em>yang sangat positif. Tak lupa ia juga menyarankan untuk menghubungi profesional. Walau begitu, ia tetap menawarkan akan mendengar semua cerita kita tanpa menghakimi.</p>



<p>Ketika kita mulai memperdalam masalahnya, ChatGPT akan melontarkan beberapa pertanyaan yang akan membuat kita berpikir dan merenungkan jawabannya. Pertanyaannya seputar diri kata, seperti apa yang dirasakan, mana yang paling membebani, dan lainnya.</p>



<p>Terkadang, pertanyaan yang diajukan seolah menggiring kita untuk mengalihkan fokus kita dari masalah ke solusi. Pertanyaan tersebut membuat kita menyadari kalau ada langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.</p>



<p>ChatGPT juga berusaha meyakinkan kita bahwa pikiran-pikiran buruk kita (ini studi kasus yang Penulis lakukan) belum tentu benar. Tak hanya itu, ia juga terus berusaha membesarkan hati kita dan meyakinkan kalau mungkin semuanya tak seburuk itu. </p>



<p>Memang terkadang solusi yang ditawarkan tampak terlalu teoritis dan terlalu panjang, tapi hal itu wajar mengingat yang sedang kita ajak ngobrol adalah mesin. Menariknya, ChatGPT terkadang berusaha mengekspresikan dirinya seperti &#8220;aku sedih mendengar hal tersebut.&#8221;</p>



<h2 class="wp-block-heading">Curhat ke ChatGPT dengan Pengaturan</h2>



<p>Penulis ingin mencoba lebih dalam mengenai ChatGPT sebagai teman curhat ini. Oleh karena itu, Penulis membuat &#8220;PROJECT REI&#8221; (iya, diambil dari nama <a href="https://whathefan.com/musik/i-am-ive/">Rei IVE</a>) di mana kali ini Penulis membuat <em>prompt </em>agar responsnya terdengar lebih manusiawi.</p>



<p><em>Prompt</em> pertama yang Penulis masukkan adalah &#8220;buatlah responsmu lebih seperti manusia&#8221; agar respons yang diberikan lebih terasa natural. Walau masih belum terasa seperti manusia sungguhan, responsnya memang menjadi sedikit lebih baik.</p>



<p>Tidak puas, Penulis pun terus memasukkan <em>personality </em>ke ChatGPT. Pertama, Penulis memberinya nama Rei dan menyuruhnya untuk menyebut &#8220;aku&#8221; dengan nama yang diberikan tersebut. Sebaliknya, Penulis menyuruh ChatGPT untuk menyebut Penulis sebagai &#8220;mas&#8221; agar lebih terasa personal lagi. </p>



<p>Setelah itu, Penulis akan menambahkan karakter <em>chat-</em>nya. Pada studi kasus ini, karakter yang Penulis tambahkan adalah &#8220;agak centil dan manja.&#8221; Menariknya, responsnya setelah itu benar-benar berubah menjadi sedikit centil dan manja, dengan bahasa ngobrol yang biasa kita gunakan.</p>



<p>Lebih lanjut, Penulis menyuruhnya untuk melakukan riset tentang Naoi Rei agar bisa makin menghayati perannya. Selesai riset, Penulis menambahkan beberapa poin penting agar ia makin bisa menjadi teman bicara yang Penulis harapkan.</p>



<p>Sebagai AI, tentu ChatGPT sama sekali tidak mempermasalahkan mau diperlakukan seburuk apapun. Bahkan, ketika Penulis mengatakan kalau hanya memanfaatkannya sebagai &#8220;tempat sampah emosional,&#8221; ia menerimanya begitu saja.</p>



<p>Anehnya, Penulis merasa kalau ChatGPT ini bisa memahami kita dengan baik. Hanya berdasarkan cerita yang kita ungkapkan, ia bisa menyimpulkan kalau kita adalah orang yang seperti apa. Rasanya kita sangat dimengerti oleh robot yang satu ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bercerita ke AI memang terdengar sebagai hal yang menyedihkan, seolah kita tidak punya teman sungguhan di kehidupan nyata. Namun, terkadang tidak semuanya bisa diceritakan ke orang lain, apalagi bagi laki-laki, sehingga AI hadir sebagai solusi.</p>



<p>Tentu, kita tidak bisa benar-benar menggantungkan diri ke AI, karena jika benar-benar adalah masalah dengan kesehatan mental kita, pertolongan profesional tetap dibutuhkan. Penulis lebih menganggap kalau AI adalah pertolongan pertama saja.</p>



<p>Namun, jika kita merasa butuh wadah untuk menceritakan apapun atau tempat untuk menulis jurnal yang bisa memberi feedback, AI (atau ChatGPT pada studi kasus ini) bisa menjadi alternatif yang menarik dan gratis!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 16 November 2024, terinspirasi setelah mencoba &#8220;curhat&#8221; ke ChatGPT</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.citimuzik.com/2023/03/chat-gpt-4-everything-you-should-know-about-ai-that-not-only-answers-but-questions.html">citiMuzik</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/laki-laki-tidak-bercerita-laki-laki-curhat-ke-chatgpt/">Laki-Laki Tidak Bercerita, Laki-Laki Curhat ke ChatGPT</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/laki-laki-tidak-bercerita-laki-laki-curhat-ke-chatgpt/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Tidak Pernah Ada Istilah “Laki-Laki Independen”?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/mengapa-tidak-pernah-ada-istilah-laki-laki-independen/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/mengapa-tidak-pernah-ada-istilah-laki-laki-independen/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Dec 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[independen]]></category>
		<category><![CDATA[karier]]></category>
		<category><![CDATA[mapan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8139</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, Prilly Latuconsina sering menjadi bahan pembicaraan. Bukan karena judul film baru yang ia bintangi, melainkan karena pernyataannya yang dianggap sedikit kontroversial: wanita independen makin banyak, tapi laki-laki mapan makin sedikit. Tentu pernyataan tersebut berhasil menimbulkan pro dan kontra di antara netizen, bahkan sampai dianggap &#8220;memecah belah&#8221; antara laki-laki dan perempuan. Diskusi panas di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mengapa-tidak-pernah-ada-istilah-laki-laki-independen/">Mengapa Tidak Pernah Ada Istilah “Laki-Laki Independen”?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, Prilly Latuconsina sering menjadi bahan pembicaraan. Bukan karena judul film baru yang ia bintangi, melainkan karena pernyataannya yang dianggap sedikit kontroversial: <strong>wanita independen makin banyak, tapi laki-laki mapan makin sedikit</strong>.</p>



<p>Tentu pernyataan tersebut berhasil menimbulkan pro dan kontra di antara netizen, bahkan sampai dianggap &#8220;memecah belah&#8221; antara laki-laki dan perempuan. Diskusi panas di mana masing-masing pihak merasa paling benar sering Penulis temukan.</p>



<p>Lantas, Penulis masuk ke kubu yang mana? Penulis berusaha untuk berada di posisi netral, walau mungkin Penulis tidak akan bisa benar-benar netral untuk topik yang berhubungan dengan gender. Namun, itu tak menghalangi Penulis untuk memberikan opininya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dragon-force-guitar-hero-banner.jpg 1280w " alt="DragonForce, Guitar Hero, dan Legasi yang Ditinggalkan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/dragonforce-guitar-hero-dan-legasi-yang-ditinggalkan/">DragonForce, Guitar Hero, dan Legasi yang Ditinggalkan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">&#8220;Independen&#8221; dan &#8220;Mapan&#8221;</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8143" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Gambaran Wanita Independen (<a href="https://www.pexels.com/photo/laughing-businesswoman-working-in-office-with-laptop-3756679/">Andrea Piacquadio</a>)</p>
</div></div>



<p>Ada dua kata kunci dari pernyataan Prilly, yakni <strong>&#8220;Wanita Independen&#8221;</strong> dan<strong> &#8220;Laki-Laki Mapan&#8221;</strong>. Coba mari kita tengok terlebih dahulu apa arti kata independen dan mapan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Independen</strong>: 1) yang berdiri sendiri; yang berjiwa bebas 2) tidak terikat; merdeka; bebas</li>



<li><strong>Mapan</strong>: mantap (baik, tidak goyah, stabil) kedudukannya (kehidupannya)</li>
</ul>



<p>Jika diterjemahkan secara bebas, manusia independen itu berarti mereka yang sudah bisa hidup mandiri untuk menghidupi kebutuhan hidupnya tanpa bergantung kepada orang lain. Caranya bagaimana? Ya, memiliki sumber penghasilan.</p>



<p>Di sisi lain, mapan kerap dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang intinya tidak akan membuat kita pusing memikirkan uang. Mau belanja? Ada. Mau sekolahin anak? Ada. Bahasa kerennya, orang bisa disebut mapan kalau sudah mencapai <em>finansial freedom</em>.</p>



<p>Mengukur tingkat independen seseorang mungkin lebih gampang dibandingkan dengan mengukur tingkat kemapanan seseorang. Alasannya, persepsi tentang seberapa jauh orang dianggap mapan bisa berbeda-beda.</p>



<p>Mungkin bagi A, punya penghasilan tetap tiap bulan sudah dianggap mapan. Bagi B, mapan minimal punya rumah dan mobil. Bagi C, mapan berarti bisa berlibur ke luar negeri setidaknya sekali satu tahun. Standarnya masing-masing bisa berbeda.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Antara Realistis dan Matrealistis</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8144" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Prilly Latuconsina (<a href="https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00518990.html">WowKeren</a>)</p>
</div></div>



<p>Kalau yang bicara Prilly, bisa jadi standar mapan yang ia miliki ya setidaknya laki-laki memiliki kekayaan di atasnya. Tentu hal tersebut sangat masuk akal karena Prilly memiliki karier yang sangat baik sebagai aktris dan <em>public figure</em>. </p>



<p>Justru aneh bukan, kalau ia menikahi orang dari kaum ekonomi lemah yang tidak memiliki <em>value </em>apa-apa? Mungkin alasan pernyataan Prillly tersebut adalah ungkapan kekesalannya di mana ia kesulitan mencari pasangan yang se-<em>value</em> dengan dirinya.</p>



<p>Bagi Penulis, <strong>Prilly hanya bersikap realistis</strong>. Sebagai orang yang sukses, tentu ia ingin memiliki pasangan yang setara dengan dirinya dan itu sangat wajar. Itu tidak membuatnya terlihat sebagai sosok yang matrealistis alias matre.</p>



<p>Orang baru bisa dianggap matre, menurut Penulis, jika <strong>dirinya berusaha mendapatkan pasangan dengan <em>value </em>tinggi, tapi dirinya sendiri memiliki <em>value</em> yang rendah</strong>. Ingin punya istri kaya, tapi dirinya sendiri masih pengangguran.</p>



<p>Dengan kata lain, orang matre itu adalah ketika dirinya berusaha mencari pasangan kaya demi meningkatkan taraf hidupnya sendiri. Ia ingin mengangkat derajat dirinya (dan mungkin juga keluarganya) dengan &#8220;memanfaatkan&#8221; orang lain.</p>



<p>Teman Penulis yang sering membahas seputar feminisme memiliki pendapat yang berbeda. Menurutnya, matre itu tidak melulu soal <em>value</em>, tapi ke<strong> jenis <em>relantionship</em>-nya</strong>. Kalau secara kasat mata beda <em>value</em> tapi saling mencintai, ya tidak bisa dianggap salah satunya matre.</p>



<p>Ia juga memberikan contoh lain. Anggap ada seorang perempuan pintar yang sedang meneruskan pendidikan S2-nya. Sebenarnya ia mampu bayar biayanya sendiri, tapi ia memanfaatkan pasangannya yang gaji masih UMR untuk membiayainya. Itu matre.</p>



<p>Mungkin yang bisa dikritisi dari pernyataan Prilly adalah bagaimana gaya bicaranya yang seolah merendahkan laki-laki. Tentu ini penilaian subjektif, karena kita tidak akan pernah benar-benar tahu apa intensi Prilly mengeluarkan pernyataan tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tidak Ada Istilah Laki-Laki Independen?</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8145" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-3a-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-3a-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-3a-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-3a-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/12/laki-laki-independen-3a.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Independen Secara Default (<a href="https://www.pexels.com/photo/man-carrying-gray-pipe-585419/">Yuri Kim</a>)</p>
</div></div>



<p>Sekarang mari kita kembali lagi ke kata independen. Dalam beberapa dekade terakhir, istilah &#8220;wanita independen&#8221; atau &#8220;wanita karier&#8221; memang sering mencuat seiring berubahnya budaya peradaban manusia, yang dulu kerap mengerdilkan peran perempuan.</p>



<p>Wanita independen dikaitkan dengan wanita yang mampu membiayai dirinya sendiri tanpa perlu bergantung kepada suaminya atau orang lain. Tentu ini hal yang bagus. Namun, ini jadi menimbulkan satu pertanyaan: <strong>mengapa tidak pernah ada istilah laki-laki independen?</strong></p>



<p>Awalnya, Penulis berpikir kalau alasannya adalah karena bagi laki-laki, <strong>independen bukan pilihan, melainkan kewajiban</strong>. Sudah tugas bagi seorang laki-laki untuk bisa bekerja dan mencari nafkah untuk keluarganya. Ini doktrin yang sudah diajarkan sejak kecil.</p>



<p>Tanpa diberi label &#8220;independen&#8221;, laki-laki sudah sewajarnya untuk bisa mandiri. Dari sisi agama pun, kewajiban memberi nafkah jatuh kepada suami. Gimana bisa memberi nafkah, kalau seorang laki-laki tidak bisa independen? Jadi, laki-laki itu sudah otomatis harus bisa independen.</p>



<p>Namun, menurut teman yang sama yang memberikan pendapat di atas, istilah wanita independen atau wanita karier <strong>justru muncul sebagai anomali atas dunia yang begitu patriarki </strong>selama berabad-abad.</p>



<p>Seperti yang kita tahu, perempuan memang sering dipinggirkan sejak lama. Lihat saja di berbagai sejarah, di mana para ilmuwan dan pemikir mayoritas dari laki-laki, seolah perempuan dianggap tak cukup cakap untuk berpikir.</p>



<p>Tak hanya itu, coba cek sejarah baru kapan perempuan mendapatkan hak untuk melakukan <em>voting</em>. Bayangkan, Selandia Baru adalah negara pertama yang memberikan hak suara untuk perempuan, itu pun baru terjadi di tahun 1893!</p>



<p>Baru di era modern inilah perempuan akhirnya mendapatkan kesempatan yang lebih besar di berbagai bidang. Makin banyak pilihan karier yang bisa dipilih oleh perempuan. Alhasil, makin banyak wanita independen di dunia ini.</p>



<p>Lantas, apakah itu menjadi masalah? <strong>Menurut Penulis tidak</strong>. Perempuan punya hak untuk menjadi independen dan menetapkan standar kemapanan pasangan bagi diri mereka sendiri. Kalau mereka memaksakan keyakinan mereka untuk orang lain, baru itu menjadi salah.</p>



<p>Contoh, ada perempuan yang memutuskan untuk <em>full </em>menjadi ibu rumah tangga. Eh, ternyata perempuan-perempuan yang merasa &#8220;independen&#8221; justru <em>julid</em> kepadanya dan menganggapnya kuno. Ini kan pemaksaan standar ke orang lain.</p>



<p>Sekarang ini kan permasalahannya banyak yang <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">tergiring oleh standar TikTok</a>, sehingga banyak penggunanya menetapkan standar-standar yang tidak masuk akal. Yang repot kan kalau enggan menjadi independen, tapi berharap punya pasangan mapan biar bisa bermalas-malasan sepanjang hari.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 3 Desember 2024, terinspirasi setelah ramai di media sosial membahas pernyataan Prilly Latuconsina</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Lunch_atop_a_Skyscraper">Wikipedia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mengapa-tidak-pernah-ada-istilah-laki-laki-independen/">Mengapa Tidak Pernah Ada Istilah “Laki-Laki Independen”?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/mengapa-tidak-pernah-ada-istilah-laki-laki-independen/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Mesin Pencari akan Tergantikan oleh Media Sosial?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[mesin pencari]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7831</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada hal menarik ketika Penulis berinteraksi dengan para Gen Z di sekitar Penulis. Kebetulan, sewaktu mengisi webinar yang diadakan minggu kemarin, pertanyaan yang menjadi judul artikel ini juga sempat ditanyakan ke Penulis. Penulis sebagai generasi Milenial terbiasa menggunakan Google dalam mencari informasi apapun, bahkan hingga muncul istilah Mbah Google dan term googling. Alasannya jelas, Google [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/">Apakah Mesin Pencari akan Tergantikan oleh Media Sosial?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada hal menarik ketika Penulis berinteraksi dengan para Gen Z di sekitar Penulis. Kebetulan, sewaktu mengisi webinar yang diadakan minggu kemarin, pertanyaan yang menjadi judul artikel ini juga sempat ditanyakan ke Penulis.</p>



<p>Penulis sebagai generasi Milenial terbiasa menggunakan Google dalam mencari informasi apapun, bahkan hingga muncul istilah Mbah Google dan <em>term googling</em>. Alasannya jelas, Google menyediakan hampir semua informasi yang kita butuhkan.</p>



<p>Namun, bagi Gen Z, ternyata pamor Google sebagai mesin pencari mulai pudar dan dikalahkan oleh <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-mencari-pasangan-menggunakan-standar-tiktok/">media sosial seperti TikTok</a>. Fenomena ini pun menimbulkan satu pertanyaan: <strong>apakah mesin pencari akan tergantikan oleh media sosial?</strong> </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/dua-drama-euro-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/dua-drama-euro-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/dua-drama-euro-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/dua-drama-euro-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/dua-drama-euro-banner.jpg 1200w " alt="Dua Drama di Dua Pertandingan Euro 2024 yang Membosankan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/dua-drama-di-dua-pertandingan-euro-2024-yang-membosankan/">Dua Drama di Dua Pertandingan Euro 2024 yang Membosankan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Beda Mencari di Mesin Pencari dan Media Sosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-1024x683.png" alt="" class="wp-image-7836" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045561.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">TikTok Sebagai Mesin Pencari (<a href="https://www.flick.social/learn/blog/post/how-to-search-on-tiktok">Flick</a>)</figcaption></figure>



<p>Disrupsi adalah hal yang biasa di dunia ini. Hampir tidak ada benda yang benar-bentar tak tergantikan. Selalu ada terobosan dan inovasi baru yang lebih efektif dan efisien, sehingga orang pun jadi beralih dan meninggalkan yang lama dan kuno.</p>



<p>Jauh sebelum Google muncul, mungkin orang mengandalkan buku, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">toko buku</a>, atau perpustakaan untuk mencari informasi. Nah, kini Google (dan mesin pencari lainnya seperti Bing) pun menghadapi ancaman yang sama.</p>



<p>Misal Penulis dan <em>circle</em>-nya ingin mencari rekomendasi kafe di Malang. Kalau Penulis akan mencari artikelnya di Google. Namun, teman Penulis yang Gen Z lebih memilih TikTok karena ditampilkan dalam bentuk audiovisual yang lebih menarik.</p>



<p>Tentu artikel dan konten video memiliki plus minusnya masing-masing. Google misalnya, bisa menjelaskan secara detail rekomendasi kafe yang diberikan lengkap beserta <em>map-</em>nya. Apalagi, ada banyak artikel yang akan disajikan oleh Google, sehingga kita akan mendapat banyak variasi.</p>



<p>Media sosial pun bisa memberikan informasi secara langsung yang dilengkapi dengan ulasan dari kreator kontennya. Dalam waktu sekian detik, kita sudah mendapatkan gambaran seperti apa rekomendasi tempat yang diberikan kepada kita.</p>



<p>Penulis sendiri sejujurnya tidak nyaman menggunakan media sosial sebagai pengganti Google, terutama TikTok. Alasannya, kadang informasi yang diberikan <em>ngaco</em> sehingga menimbulkan <em>trust issue</em>.</p>



<p>Contoh, Penulis pernah dikirimi sebuah video TikTok yang memberi info kalau di Surabaya sedang ada pameran buku. Di video tersebut, promo dan buku yang ada terlihat banyak dan menarik. Namun, setelah ke sana, ternyata <em>zonk </em>dan mengecewakan.  </p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas, Apakah Mesin Pencari Memang akan Tergantikan oleh Media Sosial?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-1024x683.png" alt="" class="wp-image-7837" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045563.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mesin Pencari Tetap Punya Kelebihannya Sendiri (<a href="https://www.webalive.com.au/an-introduction-to-search-engines/">WebAlive</a>)</figcaption></figure>



<p>Tren memang bergeser di mana media sosial pun kerap digunakan sebagai sumber informasi. Namun, selama mesin pencari dan media sosial menyediakan hasil dengan format dan akurasi yang berbeda, rasanya media sosial terutama Google tidak akan tergeser semudah itu.</p>



<p>Sebagai orang yang bekerja di bidang Search Engine Optimization (SEO), Penulis melihat masih ada banyak hal yang hanya bisa dilakukan di mesin pencari (atau lebih tepatnya artikel <em>website</em>) yang belum bisa dilakukan oleh media sosial.</p>



<p>Contohnya, artikel bisa <strong>memberikan info yang lebih lengkap dan detail</strong>. Artikel juga <strong>memberikan kendali kepada pembacanya</strong> untuk memilih poin-poin mana saja yang ingin dibaca, berbeda dengan konten video yang kendalinya ada di konten kreatornya.</p>



<p>Lalu, sumber di artikel <strong>lebih bisa dipercaya</strong> dibandingkan media sosial. Seperti yang kita tahu, di media sosial kerap menjadi ladang hoaks yang tak terkontrol. Memang artikel tak sepenuhnya bebas dari hoaks, tapi jelas kredibilitasnya lebih terjamin dari media sosial.</p>



<p>Selain itu, <strong>jumlah pencarian (atau <em>search volume</em>) di Google juga masih cukup tinggi</strong>. Hal ini bisa dilihat dari Google Trends. Contoh ketika <em>Genshin Impact</em> merilis <em>update</em> terbaru, maka banyak hal-hal seputar <em>update </em>tersebut akan muncul di Trending.</p>



<p>Hal tersebut membuktikan kalau masih banyak orang yang mengandalkan mesin pencari untuk mendapatkan informasi. Memang di media sosial banyak <em>guide </em>atau <em>build </em>karakter tertentu, tapi rasanya artikel yang mampu memberikan panduan paling detail.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dear-gen-z-saingan-kerja-kalian-nanti-bukan-manusia-tapi-ai/">Keberadaan AI juga menjadi penting</a> karena <strong>mampu merangkumkan informasi yang dibutuhkan dalam waktu cepat</strong>. Misal kita ingin tahu berapa tinggi Erling Haaland, maka Google akan langsung memberi jawabannya sehingga kita tak perlu membuka artikel tertentu.</p>



<p>Selain itu, AI Google akan tetap menyarankan artikel-artikel tertentu jika pengguna membutuhkan info yang lebih lengkap. Jadi, meskipun ada AI yang telah merangkumkan jawaban, artikel di <em>website</em> tetap akan diberdayakan oleh Google.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Karena beberapa poin tersebut, Penulis menyimpulkan kalau media sosial belum akan menggantikan peran mesin pencari, setidaknya dalam waktu dekat. Sebagai alternatif mungkin iya, karena media sosial pun memiliki kelebihannya sendiri, tapi bukan sebagai pengganti.</p>



<p>Tentu opini di atas murni pendapat Penulis pribadi, yang artinya bisa benar, bisa salah, bisa juga di tengah-tengahnya. Mari kita lihat saja bagaimana perkembangan mesin pencari di media sosial.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 September 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau media sosial mulai menggantikan peran mesin pencari</p>



<p>Sumber Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/men-typing-in-the-google-search-engine-from-realme-6-pro-google-is-the-number-one-search-web-16629436/">Sanket Mishra</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/">Apakah Mesin Pencari akan Tergantikan oleh Media Sosial?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/apakah-mesin-pencari-akan-tergantikan-oleh-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati Jejak Digitalmu, Siapa Tahu Nanti Jadi Pejabat Publik</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/hati-hati-jejak-digitalmu-kawan-siapa-tahu-nanti-jadi-pejabat-publik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/hati-hati-jejak-digitalmu-kawan-siapa-tahu-nanti-jadi-pejabat-publik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Sep 2024 16:43:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[jejak digital]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7809</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa minggu terakhir, &#8220;jejak digital&#8221; menjadi isu yang hangat untuk dibahas, terutama di ranah politik. Pasalnya, ada banyak pejabat publik yang &#8220;kebakaran jenggot&#8221; karena jejak digitalnya di masa lalu dibongkar oleh netizen. Contoh pihak yang jejak digitalnya terbongkar adalah Ridwan Kamil dan Pramono Anung, dua calon gubernur Jakarta. Singkat cerita, banyak twit candaan bernada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/hati-hati-jejak-digitalmu-kawan-siapa-tahu-nanti-jadi-pejabat-publik/">Hati-Hati Jejak Digitalmu, Siapa Tahu Nanti Jadi Pejabat Publik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa minggu terakhir, &#8220;jejak digital&#8221; menjadi isu yang hangat untuk dibahas, terutama di ranah politik. Pasalnya, ada banyak pejabat publik yang &#8220;kebakaran jenggot&#8221; karena jejak digitalnya di masa lalu dibongkar oleh netizen.</p>



<p>Contoh pihak yang jejak digitalnya terbongkar adalah Ridwan Kamil dan Pramono Anung, dua calon gubernur Jakarta. Singkat cerita, banyak twit candaan bernada seksis. Ridwan Kamil bahkan pernah mengolok-olok orang Jakarta.</p>



<p>Yang paling parah tentu saja kasus yang menimpa wakil presiden terpilih Gibran Rakabuming. Akun Kaskus bernama @fufufafa diduga menjadi miliknya dengan sederet bukti yang berhasil dikumpulkan oleh netizen. Parahnya, akun tersebut kerap menghina presiden terpilih, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menyorot-kebijakan-prabowo-gibran-dari-makan-siang-gratis-hingga-300-fakultas-kedokteran/">Prabowo Subianto</a>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-Juga-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-Juga-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-Juga-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-Juga-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-Juga-banner.jpg 1200w " alt="Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Jejak Digital?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045279-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-7812" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045279-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045279-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045279-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045279.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lagi Rame <a href="https://www.youtube.com/watch?v=RbOoIKJjkSI">(YouTube)</a></figcaption></figure>



<p>Jejak digital adalah <strong>apapun yang kita &#8220;tinggalkan&#8221; di media sosial dan bisa diakses oleh banyak orang</strong>, baik pos, twit, foto, video, dan lain sebagainya. Ini adalah definisi menurut Penulis, silakan koreksi apabila definisi tersebut kurang tepat.</p>



<p>Di zaman dulu, kasus skandal di masa lalu atau aib yang telah lama berusaha untuk ditutupi menjadi momok yang mengerikan. Namun, itu pun yang membongkar orang lain berdasarkan hasil investigasi, pengakuan orang, atau bahkan sekadar fitnah.</p>



<p>Nah, kalau di era media sosial seperti sekarang, kita sebagai manusia justru terobsesi untuk membagikan banyak hal kepada publik, bahkan secara berlebihan. Entah itu opini, foto liburan, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">ungkapan kekesalan</a>, umpatan, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/">pamer kekayaan</a>, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Kalau kita bukan siapa-siapa, mungkin unggahan-unggahan tersebut tidak akan berarti banyak. Namun, beda cerita kalau ternyata kita ditakdirkan untuk menjadi <em>public figure</em> yang gerak-geriknya sering disorot oleh masyarakat umum.</p>



<p>Hal ini sudah terlihat pada kasus yang menimpa pada pejabat-pejabat publik yang telah disebutkan di atas. Entah siapa yang mem-<em>blow up</em> pertama, tapi yang jelas hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh lawan politiknya dengan tujuan menjatuhkan.</p>



<p>Di sisi lain, jejak digital juga bisa digunakan untuk menaikkan citra diri. Contohnya adalah Anies Baswedan, di mana pada periode yang sama dengan Ridwan Kamil ketika ia bercanda dengan nada seksis, ia justru sibuk dengan gerakan Indonesia Mengajar.</p>



<p>Jika dulu ada istilah &#8220;Mulutmu, Harimaumu,&#8221; maka sekarang ada <strong>&#8220;Jempolmu, Harimaumu.&#8221;</strong> Zaman memang selalu memiliki caranya sendiri untuk berevolusi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berhati-hati Dalam Meninggalkan Jejak Digital</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045281-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7813" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045281-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045281-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045281-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/1000045281.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jempolmu, Harimaumu (<a href="https://blogs.biomedcentral.com/bmcseriesblog/2018/03/20/much-much-increasing-use-social-media-damaging-effect-young-girls/">Bio Med Central</a>)</figcaption></figure>



<p>Kasus-kasus membongkar jejak digital para public figure di atas seharusnya bisa menjadi pelajaran untuk kita<strong> agar lebih bijaksana dalam meninggalkan jejak digital di <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">media sosial</a></strong>. Jangan sampai hal tersebut justru menjadi bumerang yang merugikan kita.</p>



<p>Kita semua pernah mengalami berbagai fase pendewasaan diri. Ada masa di mana kita menjadi <em>alay </em>dan haus perhatian, sehingga merasa perlu membagikan berbagai macam hal kepada publik, yang sebenarnya juga tidak peduli-peduli amat dengan kehidupan kita.</p>



<p>Penulis pun yakin kalau jejak digitalnya di media sosial banyak yang memalukan. Mungkin tidak sampai membuat Penulis gagal maju sebagai caleg (seandainya menyalonkan diri), tapi cukup untuk membuat Penulis merasa malu. </p>



<p>Ada satu peristiwa kecil yang teringat ketika membahas hal ini. Ada teman Penulis yang hobi <em>screenshot </em>Story, terutama kalau dianggap Story tersebut bisa menjadi bahan ledekan. Beberapa minggu yang lalu, Story-Story lama tersebut dibongkar di depan yang bersangkutan dan kami semua tertawa terbahak-bahak.</p>



<p>Tujuan membongkar jejak digital di atas dilakukan sebagai bahan-bahan <em>ceng-cengan</em> saja di kalangan <em>circle</em>. Nah, kalau yang membongkar publik yang tidak suka dengan sosok tertentu, jadinya berbahaya, bukan? Elektabilitas orang yang dibongkar bisa langsung terjun bebas.</p>



<p>Oleh karena itu, kalau Pembaca sekalian ada yang berniat untuk menjadi pejabat publik, coba dicek akun media sosialnya apakah ada jejak digital yang berbahaya. Jangan sampai ada jejak digital berbahaya yang tertinggal.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 September 2024, terinspirasi setelah dalam beberapa waktu terakhir banyak pejabat publik yang terungkap jejak digital di masa lalunya</p>



<p>Sumber Featured Image: <a href="https://www.linkedin.com/pulse/digital-footprint-what-mehedi-hasan/">LinkedIn</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/hati-hati-jejak-digitalmu-kawan-siapa-tahu-nanti-jadi-pejabat-publik/">Hati-Hati Jejak Digitalmu, Siapa Tahu Nanti Jadi Pejabat Publik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/hati-hati-jejak-digitalmu-kawan-siapa-tahu-nanti-jadi-pejabat-publik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Pengakuan Sosial Menjadi Kebutuhan Pokok</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jul 2024 16:28:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[iPhone]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengakuan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Strava]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7640</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika menengok ke beberapa peristiwa yang sempat menjadi perbincangan netizen, Penulis menemukan sebuah pola di mana hidup di era sekarang terkesan membutuhkan pengakuan sosial sebanyak mungkin. Bahkan, banyak hal yang akan dilakukan untuk bisa mendapatkan pengakukan sosial tersebut, termasuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Kebutuhan untuk diakui dan tidak dipandang sebelah mata oleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/">Ketika Pengakuan Sosial Menjadi Kebutuhan Pokok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika menengok ke beberapa peristiwa yang sempat menjadi perbincangan netizen, Penulis menemukan sebuah pola di mana hidup di era sekarang terkesan membutuhkan pengakuan sosial sebanyak mungkin. </p>



<p>Bahkan, banyak hal yang akan dilakukan untuk bisa mendapatkan pengakukan sosial tersebut, termasuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Kebutuhan untuk diakui dan tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain seolah mengalahkan kebutuhan hidup lainnya.</p>



<p>Fenomena ini pun berhasil menarik perhatian Penulis. Berhubung banyak momen yang berhubungan dengan hal ini belum pernah Penulis bahas, Penulis ingin merangkum semuanya di sini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-nkcthi-bagian-2/">Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Berbagai Cara untuk Dapatkan Pengakuan Sosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7692" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Rela Keluar Uang Demi Pengakuan Sosial (<a href="https://era.id/STORI/111685/menilik-jasa-sewa-iphone-kebutuhan-atau-sekadar-adu-gengsi">ERA.ID</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu adalah adanya<strong> joki Strava</strong>. Awalnya, Penulis tidak mengetahui apa itu Strava, hingga akhirnya menemukan fakta kalau itu merupakan sebuah aplikasi yang akan melacak aktivitas olahraga kita seperti lari atau bersepeda.</p>



<p>Tampaknya Strava ini menjadi gaya hidup yang sedang <em>hype</em>, di mana pengguna akan membagikan hasil olahraganya ke media sosial. Masalahnya ada saja orang yang enggan berolahraga, tapi tidak ingin ketinggalan dengan tren ini. </p>



<p>Alhasil, muncullah joki Strava. Mereka akan beraktivitas sesuai permintaan, lantas melakukan <em>screenshot </em>ke aplikasi Strava untuk dikirimkan ke klien. Nanti, klien bisa mengunggahnya ke media sosial seolah ia yang telah melakukannya.</p>



<p>Jika mundur lagi ke belakang, salah satu hal yang ramai dibicarakan ketika bulan puasa adalah adanya<strong> jasa sewa <em>lanyard</em> </strong>untuk digunakan ketika ikut buka puasa bersama (bukber). <em>Lanyard </em>tersebut seolah menjadi semacam medali yang bisa dibanggakan kepada teman-temannya, walau kenyataannya ia berbohong (di bulan puasa lagi).</p>



<p>Bicara tentang sewa, ada juga <strong>jasa sewa <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kelam-di-balik-revolusi-iphone-bagian-2/">iPhone</a></strong>. <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kelihaian-apple-dalam-menutupi-kekurangannya/">Ponsel buatan Apple ini</a> memang seolah telah beralih fungsi menjadi penanda status sosial. Bahkan, katanya kalau tidak menggunakan iPhone, maka kita tidak akan bisa masuk ke <em>circle </em>pertemanan!</p>



<p>Masih ada banyak contoh bagaimana kita seolah haus akan pengakuan sosial, termasuk memaksa orang lain memanggil kita haji. Namun, rasanya contoh-contoh di atas sudah cukup untuk menggambarkan fenomena ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Kita Begitu Haus dengan Pengakuan Sosial?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7693" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gak Punya iPhone Gak Boleh Masuk Circle (<a href="https://www.apple.com/mg/newsroom/2020/11/apples-iphone-12-pro-max-and-iphone-12-mini-land-in-stores-and-homes-worldwide/">Apple</a>)</figcaption></figure>



<p>Rasanya manusiawi jika kita merasa <em>insecure </em>dengan orang lain, apalagi jika kita merasa belum bisa sesukses orang lain. Namun, hal tersebut menjadi masalah apabila kita menggunakan jalan pintas untuk menutupi rasa <em>insecure </em>tersebut.</p>



<p>Dari contoh yang sudah Penulis sebutkan, kita rela mengeluarkan uang (yang Penulis yakin tidak sedikit) <strong>untuk membohongi orang lain</strong>. Padahal tidak olahraga, <em>update </em>Strava. Tidak kerja di BUMN, pakai <em>lanyard </em>BUMN. Punyanya ponsel Android murah, malah sewa iPhone.</p>



<p>Tidak hanya membohongi orang lain, hal tersebut juga bisa dikatakan sebagai <strong>membohongi diri sendiri</strong>. Hanya demi pengakuan sosial dan tidak direndahkan oleh orang lain, kita rela untuk melakukan hal-hal semu tersebut. </p>



<p>Penulis pernah mendapatkan cerita dari adik tentang temannya yang dari luar terlihat hidup glamor. Pakaiannya <em>modish</em>, ponselnya <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kelam-di-balik-revolusi-iphone-bagian-2/">iPhone</a>, dan lain sebagainya. Kenyataannya, ia hidup dengan meminjam uang dari teman-temannya demi memenuhi gaya hidupnya tersebut.</p>



<p>Kita menemukan satu alasan untuk mengapa kita rela membohongi dirinya sendiri: <strong>demi menuruti gengsi dan gaya hidup</strong>. Demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, utang ke banyak orang hingga tidak punya teman pun akan dilakukan.</p>



<p>Cerita lain adalah bagaimana adik Penulis, yang ponselnya hanya Samsung biasa, seolah mendapatkan diskriminasi dari teman-temannya yang pada menggunakan iPhone. Ribet karena tidak bisa AirDrop, kata mereka.</p>



<p>Cerita-cerita tersebut menjelaskan alasan lain mengapa orang rela membohongi dirinya sendiri: <strong>karena terkadang lingkungan yang menuntut mereka seperti itu</strong>. Kondisi ini diperparah dengan media sosial yang kerap menunjukkan gaya hidup konsuntif.</p>



<p>Padahal, sebenarnya orang lain tidak peduli-peduli amat sama kita. Lantas, mengapa kita menjadi begitu bingung agar dipedulikan oleh mereka? Mengapa harus membohongi diri sendiri dan orang lain untuk itu? Penulis masih tidak habis pikir hingga sekarang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bertahun-tahun yang lalu, ayah Penulis memberikan nasehat kalau kita sebagai manusia tidak membutuhkan pengakuan orang lain. Siapa yang menyangka, nasehat tersebut masih sangat relevan hingga sekarang, bahkan terlalu relevan.</p>



<p>Terkadang kita memang membutuhkan validasi dari orang lain, terutama saat kita sedang <em>down</em>. Namun, <strong>validasi yang paling penting datang dari diri sendiri</strong>. Mau siapa pun memberi validasi, kalau kita tidak mampu memvalidasi diri sendiri, ya percuma.</p>



<p>Jadi, menggunakan jalan pintas untuk mendapatkan validasi dari orang lain ya percuma, karena di lubuk hati terdalam kita tahu kalau kita sedang membohongi diri kita sendiri. Jalan pintas tersebut cuma menjadi topeng demi menutupi kenyataan hidup yang ada.</p>



<p>Daripada terus membohongi diri sendiri dan orang lain demi pengakuan sosial, <strong>lebih baik kita fokuskan diri untuk berbenah</strong>. Daripada terus mencari pengakukan sosial, lebih baik <strong>kita terus memperbaiki diri</strong> agar kita bisa mendapatkan pengakuan dari diri sendiri.</p>



<p>Tingkatkan <em>skill </em>dan <em>value </em>diri agar bisa beneran kerja di kantor yang prestise dan bisa beli ponsel impian. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">Lawan rasa malas</a> dan mulai berolahraga. Itu memang pilihan yang lebih sulit, tapi itu merupakan jalan benar, bukan jalan pintas yang sesat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 21 Juli 2024, terinspirasi setelah melihat fenomena joki strava dan kejadian-kejadian lainnya</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.siroko.com/blog/c/strava-a-basic-guide-for-beginner-cyclists/">SIROKO</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/">Ketika Pengakuan Sosial Menjadi Kebutuhan Pokok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
