Chapter 51 Misi Penyelamatan

Matahari belum terlalu lama terbit sewaktu kami berdua telah berada di depan pagar rumah Rudi. Udara segar di pagi hari masih terasa dengan sejuknya, menenangkan jiwa kami yang sebenarnya dipenuhi oleh pikiran-pikiran rumit. Ini adalah langkah pertama dari rencana kami, semoga saja bapaknya Rudi bersedia membantu kami.

Setelah mengetuk pagar tiga kali, Rudi muncul dan segera mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam rumahnya. Desain rumah Rudi bergaya mediterania yang cukup besar, dengan garasi yang cukup untuk dua mobil. Taman lengkap dengan kolamnya menjadi penghias beranda rumahnya yang sepertinya didesain agar sirkulasi udara bisa mengalir dengan baik. Tembok rumahnya bercat kuning terang, memberikan kesan selamat datang kepada semua tamunya.

Setelah menunggu sekitar lima menit di ruang tamu, datanglah bapaknya Rudi. Ketegasan nampak jelas dari wajahnya, apalagi dengan kumis tebalnya. Jalannya tegap dengan perut yang sudah mulai membuncit. Walaupun terlihat bengis, ternyata beliau orang yang sangat ramah. Ia menyebutkan namanya, yang ternyata sama dengan nama anaknya. Jadi ternyata Rudi yang selama ini kukenal adalah Rudi junior.

“Kemarin anak saya sudah cerita kalau teman-temannya ada keperluan sama saya. Jadi apa yang bisa dibantu?” kata pak Rudi senior memulai percakapan.

“Sebelumnya kami mohon maaf pak mengganggu pagi-pagi, terima kasih sudah menerima kami. Kami sebenarnya ingin meminta bantuan kepada bapak atas kecurigaan telah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga kepada teman kami yang bernama Rika. Begini pak detailnya.”

Maka Kenji pun mengulang cerita Rika tempo hari sebelum menghilangnya Rika. Sebenarnya aku merasa tidak enak karena harus menyebarkan aib orang lain, apalagi Rudi junior ikut menyimak dengan serius. Apa boleh buat, kami terpaksa melakukan ini demi kebaikan Rika sendiri.  Semoga dengan keterusterangan kami, Rudi senior berkenan untuk membantu kami.

“Jadi seperti itu pak kejadiannya, kami khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk kepada Rika. Apalagi, ia telah absen tiga hari berturut-turut tanpa keterangan.” tutup Kenji mengakhiri ceritanya.

“Wah, gawat juga ya dek, bisa-bisa nyawa anak itu sedang terancam. Rudi, tolong panggilkan ibu.”

Rudi pun dengan sigap melaksanakan perintah bapaknya. Tak lama berselang muncullah bu Rudi lengkap dengan kerudungnya. Ketegasan yang dimiliki oleh pak Rudi berhasil diimbangi dengan kelembutan yang dimiliki oleh bu Rudi. Itu kesan pertama ketika aku melihat beliau. Dengan tersenyum, ia menerima uluran tangan kami yang hendak salim.

“Bu, ini ada laporan dari teman-teman Rudi, kalau teman mereka yang bernama, siapa tadi?” Rudi senior mulai menjelaskan pokok kejadiannya.

“Rika pak namanya. Adriana Rika Kayana.” jawab Kenji.

“Nah itu pokoknya, mendapat perlakukan kasar dari om dan tantenya. Sudah tiga hari dia tidak masuk sekolah tanpa surat. Ibu punya kenalan orang KPAI kan? Coba telepon sekarang bu, suruh ke sini sekarang.”

Aku dan Kenji saling memandang dalam diam, terselip senyum tipis pada bibir kami. Siapa yang menyangka, ibu Rudi memiliki kenalan orang KPAI! Tentu ini semakin memudahkan kami untuk menolong Rika.

“Ah pak Basuki ya? Oke oke ibu hubungi dulu sebentar. Bentar ya dek, ditunggu sambil dinikmati jajannya.” kata ibu Rudi.

Kami hanya mengangguk-angguk tak sabaran. Bagaimana kami bisa menikmati camilan ketika kami mengetahui bahwa jalan kami semakin dimudahkan? Semoga saja kenalan bu Rudi bisa datang dan membantu kami hari ini juga.

“Ini yang satunya kok enggak pernah ngomong sama sekali? Takut ya sama saya? Hahaha.” ujar pak Rudi sambil menunjuk diriku. Wajar jika pak Rudi berpendapat seperti itu karena dari tadi aku hanya diam dan membiarkan Kenji yang berbicara. Aku merasa Kenji lebih tepat untuk menjelaskan situasinya kepada pak Rudi, dan aku bukan tipe orang yang akan bicara hanya untuk basa-basi. Ditunjuk langsung seperti itu pun aku hanya membalas dengan tersenyum tipis.

“Pak Basuki sedang perjalanan ke sini pak, kira-kira satu jam lagi sampai. Orang itu kalau dengar ada anak yang dianiaya, semangatnya bukan main buat membela. Hahaha.” kata bu Rudi setelah selesai menghubungi kenalannnya tersebut. Kami berdua bernafas lega, sampai sejauh ini semua masih lancar.

“Ya udah bapak tinggal ke dalam dulu. Rud, kamu temani mereka ya.” kata pak Rudi sembari bangkit dari kursinya.

Maka kami pun ditinggal bertiga di ruang tamu. Awalnya kami mengobrol dengan berbagai topik yang ringan seputar sekolah. Untunglah ada Kenji yang pandai mencari sesuatu untuk dibicarakan. Jika tidak, kemungkinan aku dan Rudi hanya akan saling diam karena sebenarnya kami tidak terlalu akrab.

“Kamu sebentar lagi ujian kenaikan kelas bukan Rud?” tanya Kenji.

“Iya, enggak kerasa sekolah di SMA udah satu tahun aja. Kalian yang udah duluan kelas sebelas, hahaha. Oh iya, aku turut berdukacita ya atas meninggalnya teman kelas kalian, Jessica bukan namanya?”

“Iya benar Rud.” jawabku dengan pendek dan datar. Akhirnya aku mengeluarkan suara untuk pertama kalinya semenjak kami masuk ke dalam rumah Rudi, mungkin untuk menunjukkan bahwa aku tidak ingin membahas masalah tersebut. Sayangnya, Rudi tidak peka terhadap reaksiku tersebut.

“Aku mendengar gosip bahwa ia meninggal karena dipaksa lari oleh teman sekelasnya, apa itu benar?” tanya Rudi lagi.

“Tidak.” aku menjawab dengan suara yang semakin diberi penekanan. Untunglah, seperti biasa, Kenji bisa mengendalikan situasi dengan sempurna.

“Itu memang hal yang menyedihkan bagi kami semua Rud, hingga hari ini kami pun masih merasa kehilangan. Jessica merupakan wanita yang baik. Omong-omong, Leon pernah bercerita tentang dirimu yang naksir dengan teman SD-nya. Siapa namanya Le? Sinta?”

“Benar.” jawabku pendek.

“Hahaha, sebenarnya kami sudah jadian.”

Jawaban Rudi jelas membuatku terkejut. Bagaimana bisa? Rasanya mereka baru kenalan beberapa bulan. Maka sambil menunggu kedatangan pak Basuki dari KPAI, kami mendengarkan kisah asmara Rudi. Pengalihan fokus seperti ini sangat berguna agar kami tidak terlalu tegang ketika menjalankan rencana kami nanti.

***

Kenji mengulangi ceritanya sekali lagi sewaktu pak Basuki datang ke rumah Rudi. Ia mengamati dengan seksama dan sesekali membuat catatan di notes kecilnya. Usianya sekitar 40an, namun dari matanya terpancar semangat anak muda yang membara. Perhatiannya terhadap kasus kekerasan pada anak jelas terlihat dari semangatnya tersebut.

“Baik, baik, berarti ini termasuk ke dalam kategori kekerasan fisik dan psikis terhadap korban. Kalian bersedia menjadi pihak pelapor?”

Kami berdua mengangguk sempurna menyanggupi permintaan tersebut.

“Baik sudah ada pelapornya, kita tinggal butuh saksi mata. Kesaksian kalian yang hanya mendengar cerita korban tentu kurang kuat untuk dijadikan alasan kita berkunjung ke rumah Rika. Ada orang yang kalian kenal?”

Kenji pun mengajukan usulnya kemarin, yakni pak RT dan tetangga-tetangganya. Pak Basuki mencatat hal tersebut dan segera mengusulkan agar kami segera berangkat. Maka dengan mengendarai mobil milik beliau, aku, Kenji, pak Rudi, dan pak Basuki sendiri berangkat menuju tempat tinggal Rika.

***

Sewaktu kami sampai di komplek perumahan di mana Rika tinggal, kami bertanya kepada petugas keamanan tentang alamat pak RT. Kesempatan itu juga digunakan Kenji untuk bertanya seputar keluarga Rika.

“Oh Rika anaknya pak Toro itu ya? Yang sering denger dari bisik-bisik tetangga sih emang sering banget berbuat kasar. Dia juga enggak pernah ikut kumpul kalau ada acara warga. Bener-bener tertutup pokoknya.”

Setelah mengucapkan terima kasih, kami menuju alamat yang diberitahukan oleh petugas keamanan tersebut. Rumah pak RT tidak terlalu jauh dari gapura, hanya sekitar 5 rumah. Maka kami berempat turun dari mobil dan segera mengetuk rumah pak RT.

Pada awalnya, pak RT sempat terlihat takut melihat ada serombongan orang tak dikenal masuk ke rumahnya. Setelah dijelaskan secara baik-baik, akhirnya pak RT menerima kami dengan terbuka dan mulai bercerita tentang keluarga Rika, yang ternyata rumahnya tepat berada di depan rumah pak RT. Sampai sejauh ini, rencana kami berdua berjalan dengan lancar.

“Saya sering pak mendengar teriakan pak Toro memaki-maki, entah siapa yang dimaki. Terkadang terdengar suara berbagai barang yang dilempar ke mana-mana. Istrinya enggak kalah jahat pak, sukanya menghasut warga sini supaya saling bermusuhan. Untunglah lama kelamaan warga sini udah hafal dengan kelakuan bu Toro, sehingga tidak ada lagi warga yang terhasut.”

“Bapak tahu Rika?” tanya Kenji.

“Anak perempuan yang selalu ceria itu kan? Bapak tahu dek, ia selalu menyapa bapak kalau ketemu ketika ia berangkat atau pulang sekolah. Dari yang bapak dengar, katanya Rika itu bukan anak kandung pak Toro.”

“Apakah bapak sering melihat Rika dianiaya oleh pak Toro?” sekarang pak Basuki yang mengajukan pertanyaan.

“Kalau sering sih enggak pak karena seringnya mungkin dilakukan di dalam rumah. Pernah beberapa kali dilakukan di berandanya, tapi jarang.”

“Apakah bapak bersedia menjadi saksi pada kasus ini?” tanya pak Basuki lagi.

“Kira-kira bakal membahayakan keluarga saya enggak pak? Soalnya semua warga di sini pada takut sama pak Toro.”

“Bapak Rudi yang duduk di samping ini merupakan Kapolsek Lawang. Jika ada perbuatan yang membahayakan segera laporkan ke beliau.” jawab pak Basuki dengan tenang.

“Baik pak kalau begitu, saya siap.”

“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang pak?” tanya Kenji kepada semua bapak-bapak yang ada di sini.

“Kita langsung ke rumahnya sekarang, beramai-ramai. Biar takut tuh orang.” jawab pak Basuki dengan sedikit emosi.

“Kalau saya boleh usul, biar saya dulu yang masuk ke dalam. Saya akan berpura-pura untuk mencari Rika. Jika terjadi sesuatu yang buruk, silahkan bapak-bapak masuk ke dalam.”

“Kamu yakin dek? Nanti kamu dipukul lo.” kata pak Rudi.

“Biar saya yang melindungi Kenji pak.” jawabku sambil berdiri sebagai tanda aku telah siap menghadapi apapun yang terjadi.

“Wah, ngomong juga akhirnya, hahaha.” pak Rudi tak bisa menahan tawanya mendengar aku untuk berbicara di hadapannya untuk pertama kali. Sayang, aku tidak bisa merespon tawanya sekarang. Pikiranku fokus kepada penyelamatan Rika.

Maka aku dan Kenji pun menyeberang jalan menuju rumah Rika. Para bapak-bapak tersebut menanti di teras rumah pak RT, memasang telinga dengan siaga. Rumah Rika jika dilihat dari luar memang seolah menolak segala bentuk tamu yang akan datang. Pagarnya tinggi, menutup apapun yang bisa terlihat. Warna pagarnya yang hitam pekat membuat jeri siapapun yang melirik ke arahnya, kecuali aku. Bahkan ia menggembok pagarnya di siang hari. Tak masalah, kami harus tetap maju. Misi penyelamatan ini harus tuntas sekarang.