Connect with us

Olahraga

Dua Drama di Dua Pertandingan Euro 2024 yang Membosankan

Published

on

Entah mengapa Penulis tidak terlalu tertarik dengan pagelaran Euro 2024 yang sedang berlangsung saat ini. Bahkan, Penulis baru mulai menonton pertandingannya di babak 8 besar, itu pun karena ada dua big match: Jerman vs. Spanyol dan Portugal vs. Prancis.

Setelah menonton pertandingan Euro 2024, rasanya perasaan tak tertarik Penulis jadi memiliki alasan yang kuat karena pertandingannya benar-benar terasa membosankan. Bahkan, teman nonton Penulis malah memilih untuk bermain EA Sports FC 24 dibandingkan nonton pertandingannya.

Untungnya, kedua pertandingan menyajikan drama di akhir pertandingan, sehingga Penulis pun memiliki bahan untuk dijadikan tulisan. Tidak hanya karena drama pertandingannya, tapi juga karena beberapa legenda yang akan pensiun setelah Euro 2024.

Drama di Pertandingan Jerman vs. Spanyol dan Portugal vs. Prancis

Gol Cantik dari Merino (Asharq Al-Awsat)

Pertandingan pertama yang berlangsung kemarin (5/7) mempertemukan Jerman dan Spanyol, dua tim Eropa yang memiliki reputasi kuat di sepak bola. Anehnya, Penulis merasa asing dengan banyak nama pemain yang ada di lapangan, mungkin karena dirinya sudah tak terlalu mengikuti sepak bola.

Babak pertama, pertandingan terasa cukup monoton. Spanyol lebih banyak memberikan serangan ke gawang Jerman, tapi tetap tak ada gol yang tercipta. Baru di babak kedua Spanyol unggul di menit 51 melalui gol Dani Olmo.

Drama terjadi ketika Jerman berhasil menyamakan kedudukan menjelang akhir pertandingan lewat gol Florian Writz, tepatnya pada menit 89, yang memaksa pertandingan harus lanjut ke babak tambahan waktu.

Sempat berpikir kalau pertandingan akan berakhir dengan babak adu penalti, ternyata Mikel Merino malah membuat drama lagi dengan mencetak gol di menit 119 lewat sundulan yang sangat cantik.

Daniel Carvajal dari Spanyol “berulah” di menit 120 dengan melanggar pemain Jerman dan mendapatkan kartu kuning kedua. Namun, Penulis rasa itu di sengaja agar ia bisa bermain di babak final, seandainya Spanyol bisa lolos dari babak semifinal.

Joao Felix Gagal Penalti (The Mirror)

Siapa lawan Spanyol di semifinal? Jawabannya adalah Prancis, yang berhasil menang atas Portugal lewat babak adu penalti. Penulis tertidur ketika pertandingannya, dan untung saja tertidur karena skornya 0-0.

Penulis baru terbangun ketika babak adu penalti akan dimulai. Dari semua penendang, hanya Joao Felix yang gagal karena tendangannya mengenai tiang gawang. Alhasil, Portugal pun harus pulang lebih dulu.

Pemain Legendaris di Euro Terakhir

Jerman dan Portugal terkenal sebagai negara yang memiliki banyak legenda hidup sepak bola. Masalahnya, banyak dari legenda tersebut yang akan pensiun dari timnas, sehingga Euro 2024 adalah panggung terakhir mereka.

Toni Kross yang baru saja mengumumkan pensiun dari Real Madrid dipastikan juga akan pensiun dari timnas. Rekan setimnya sekaligus kapten, Manuel Neuer, tampaknya juga tidak akan berlaga di Euro selanjutnya mengingat umurnya sudah 38 tahun.

Kalau dari sisi Portugal, Cristiano Ronaldo tampaknya juga tidak akan berpartisipasi di Euro selanjutnya. Apalagi, di turnamen kali ini ia gagal mencetak satu pun gol, sama seperti Lionel Messi di Copa America. Ini adalah kali pertama terjadi pada Ronaldo.

Ronaldo bahkan dianggap sebagai “beban tim” karena strategi Portugal yang terlalu bertumpu pada pemain setua dirinya. Banyak yang berpendapat kalau timnas Portugal mampu bermain lebih baik jika tidak ada Ronaldo.

Rekan setim Ronaldo, Pepe, tampaknya juga tidak akan berlaga di Euro lagi mengingat umurnya saat ini sudah 41 tahun. Bisa menampilkan performa yang luar biasa di umurnya saja sudah merupakan pencapaian bagi bek yang terkenal “ganas” ini.

Penulis tumbuh besar dengan melihat mereka mulai dari rookie hingga layak dicap sebagai pemain legendaris. Tentu sedih jika mengingat dirinya tidak akan bisa melihat penampilan mereka lagi di lapangan.


Lawang, 6 Juli 2024, terinspirasi setelah menonton dua pertandingan perempat final Euro 2024

Sumber Artikel:

Olahraga

Lewis Hamilton Buktikan Bahwa Dirinya Belum Habis

Published

on

By

Ketika nonton Formula 1 (F1), salah satu tanda kalau balapannya membosankan bagi Penulis adalah ketika dirinya sering mengecek HP. Nah, di British GP yang baru saja usai malam ini (7/7), Penulis hampir tidak pernah mengecek HP sama sekali karena memang seru balapannya!

Dari awal balapan hingga finis, ada saja momen yang membuat kita merasa kalau hasil balapan akan berbeda. Bayangkan saja, total ada lima pembalap berbeda yang pernah memimpin jalannya balapan.

Pada akhirnya, Lewis Hamilton berhasil memutus puasa kemenangannya sejak yang terakhir ia raih pada tahun 2021 silam. Tidak hanya itu, Hamilton juga berhasil mencetak beberapa rekor baru yang rasanya akan sulit untuk dikejar oleh pembalap lain di masa depan.

Momen-Momen Seru di British GP

Banyak Momen yang Seru (Planet F1)

Masing-masing pembalap memiliki momen serunya sendiri di British GP, walau ada yang harus bernasib apes. Adanya hujan yang mampir sebentar menjadi salah satu faktornya, walau ada faktor lain seperti rusaknya mobil atau kesalahan strategi.

George Russel (Mercedes) contohnya, yang sejatinya berhasil meraih pole position dan start dari posisi terdepan. Namun, posisinya sempat tersalip oleh Hamilton dan Norris. Lebih apesnya lagi, mobilnya mengalami masalah pada water system sehingga harus DNF.

Lando Norris (McLaren) pun demikian. Sempat di atas angin dan memimpin balapan cukup lama, keputusannya untuk menggunakan ban Soft setelah hujan berakibat fatal. Bukan hanya tak mampu mengejar Hamilton di depan, ia justru berhasil disalip oleh Verstappen.

Omong-omong soal Max Verstappen (Red Bull), meneer Belanda ini memang edan. Sepanjang balapan, ia terlihat kesulitan dengan mobilnya hingga tercecer ke posisi 5, bahkan hampir saja disalip oleh Sainz.

Namun, namanya juga Verstappen, ia berhasil membalikkan keadaan setelah hujan. Memutuskan untuk menggunakan ban Hard, kecepatan Verstappen sangat gila. Selain berhasil menyalip Norris, Verstappen juga terus memotong jaraknya dengan Hamilton. Seandainya lap masih tersisa banyak, Verstappen akan keluar menjadi juaranya.

Verstappen bersaing ketat dengan Oscar Piastri (McLaren) untuk mencatakan fastest lap. Di lap-lap terakhir, mereka saling bergantian mencatatkan waktu fastets lap, walaupun plot twist-nya justru Carlos Sainz (Ferrari) yang berhasil meraihnya di lap terakhir.

Piastri sendiri cukup bernasib apes. Keputusan McLaren untuk tidak melakukan double stack (pit dua mobil sekaligus) seperti Mercedes membuatnya banyak kehilangan waktu karena menggunakan ban kering di sirkuit basah.

Namun, nasib Piastri tidak seburuk Sergio Perez (Red Bull) dan Charles Lelcrec (Ferrari) yang seolah menjadi “tumbal” timnya. Bagaimana tidak, mereka mendapatkan ban Intermediate lebih awal dan akibatnya balapan mereka menjadi tidak karuan.

Sejujurnya Penulis merasa heran dengan performa amburadul dari Perez. Bukannya membaik, perfomanya justru makin menurun setelah menandatangani kontrak baru dengan Red Bull. Jika terus seperti ini, bukan tidak mungkin kontraknya akan diputus.

Terakhir sebelum masuk ke menu utama tulisan ini, apresiasi juga perlu diberikan kepada Nico Hulkenberg (Haas) yang berhasil finis di posisi ke-6 secara dua kali beruntun. Ia berhasil menjaga duo Aston Martin di belakangnya dan membuat posisi Haas di klasemen semakin mendekat ke RB Honda RBPT.

Lewis Hamilton sang Legenda Hidup yang Belum Habis

Lewis Hamilton (RaceFans)

Sekarang kita masuk ke menu utamanya: Lewis Hamilton. Pembalap dengan gelar Sir ini mampu menjalani balapan yang rapi tanpa kesalahan. Kemenangan yang ia raih di British GP ini seolah membuktikan kalau ia, yang akan pindah ke Ferrari musim depan, masih belum habis.

Kemenangan ini juga terasa sangat emosional bagi Hamilton. Setelah melewati bendera finis, ia menangis bahkan setelah memarkirkan mobilnya di dekat paddock. Ia kembali menangis ketika dipeluk oleh ayahnya, yang selalu setia memberikan support untuk anaknya.

Hal tersebut wajar saja, karena Hamilton yang merupakan juara dunia tujuh kali telah cukup lama absen meraih podium tertinggi. Bayangkan, kemenangan terakhirnya ia dapatkan pada Saudi Arabia GP pada tahun 2021. Artinya, sudah 2,5 tahun ia tak memenangkan balapan.

Kemenangan ini terasa lebih manis karena setidaknya ada dua rekor baru yang tercipta. Pertama, Hamilton memperpanjang rekor total kemenangannya menjadi 104 kemenangan. Sebagai informasi, Verstappen saat ini telah meraih 61 kemenangan. Apakah sang meneer berhasil melewati rekor tersebut? Mari kita nantikan saja.

Rekor yang kedua adalah Hamilton berhasil menjadi pembalap dengan kemenangan terbanyak di satu sirkuit. Total, ia telah berhasil menang di sirkuit Silverstone sebanyak 9 kali. Rekor ini bisa bertambah di Hungarian GP yang akan datang, karena Hamilton sudah menang 8 kali di sana.

Penulis tidak pernah menjadi penggemar Hamilton. Namun, kemenangan yang emosional ini berhasil membuat Penulis ikut merasa senang untuk Hamilton. Tentu tak mudah bagi seorang yang terbiasa menang untuk terus melihat orang lain meraih kemenangan.

Meskipun rasanya sulit untuk melihat ada pembalap lain yang bisa menggusur Verstappen dari puncak klasemen pembalap, setidaknya balapan musim ini lebih seru dan menarik jika dibandingkan dengan musim 2023 kemarin yang terlalu didominasi oleh Red Bull.

Meskipun Verstappen telah menang 8 dari 12 balapan yang sudah digelar, hingga British GP sudah ada lima pembalap berbeda yang telah meraih kemenangan musim ini. Selain Verstappen, ada Lelcrec, Norris, Russel, dan terbaru Hamilton. Semoga saja setelah Hamilton, akan ada pembalap lain yang berhasil menjadi juara.


Lawang, 7 Juni 2024, terinspirasi setelah menonton British GP yang seru dan tidak membosankan

Foto Featured Image: The Mirror

Sumber Artikel:

Continue Reading

Olahraga

Rezeki Gak ke Mana Ala George Russel dan Mercedes

Published

on

By

Awalnya mengira kalau Max Verstappen akan sunmori lagi, ternyata GP Austria yang berlangsung hari ini (30/6) berlangsung dengan seru dan penuh drama. Pasalnya, pertarungan keras antara Verstappen dengan Lando Norris berakhir antiklimaks.

Verstappen masih bisa melanjutkan balapan dan finis di peringkat 5, sedangkan Norris lebih apes karena harus DNF dan gagal mendapatkan poin tambahan. Menariknya, Norris berhasil menjadi Driver of the Day meski gagal menyelesaikan balapan.

Lantas, siapa yang full senyum hari ini? Tentu saja George Russel dan Mercedes, yang seakan ketiban durian runtuh dengan insiden yang menimpa Verstappen dan Norris. Russel yang berhasil mempertahankan posisi ketiga akhirnya keluar sebagai pemenang.

Pertarungan Panas antara Vertappen dan Russel

Selama 2/3 balapan, GP Austria sebenarnya terasa cukup membosankan. Jika ada peristiwa yang menarik, paling Charles Lelcrec yang harus pit berkali-kali di awal balapan atau Pierre Gasly dan Esteban Ocon yang seperti biasa malah gelut sendiri meskipun satu tim.

Nah, pertarungan baru terlihat seru ketika Verstappen sedikit lambat ketika pit dan membuat jaraknya dengan Norris yang terus menempel di peringkat kedua jadi terpangkas. Apalagi, Verstappen terus ngedumel di radio karena merasa ada yang aneh dengan mobilnya.

Puncaknya pun terjadi pada lap ke-64 (7 lap sebelum finis). Norris yang berusaha menyalip bersenggolan karena Verstappen kurang memberikan ruang. Akibatnya, kedua mobil pun mengalami puncture walau masih sempat untuk masuk ke pit.

Akibat insiden tersebut, Verstappen juga diberi hukuman penalti 10 detik yang tidak berpengaruh ke hasil akhir karena jaraknya yang cukup jauh dengan Nico Hulkenberg di peringkat-6.

Saat sesi wawancara, Norris meluapkan kekecewaannya dan merasa kalau dirinya sama sekali tidak bersalah pada insiden tersebut, meskipun beberapa netizen menganggap kalau ia melakukan divebombing terlalu agresif.

Lantas, bagaimana dengan Verstappen? Ia tidak secara terang-terangan menyalahkan Norris, walau juga tidak sepenuhnya merasa bertanggung jawab atas insiden tersebut. Mungkin ia sadar diri kalau insiden tersebut lebih banyak karena salahnya.

Meskipun insiden tersebut membuat panas hubungan Verstappen dan Norris yang selama ini cukup baik, tapi bagi penggemar tentu persaingan yang sengit seperti ini sudah lama dinantikan. Akankah tensi tinggi seperti Verstappen vs Hamilton di musim 2021 akan terulang?

George Russel dan Mercedes Full Senyum

Toto Wolff Full Senyum (X)

Mercedes yang performanya naik turun sepanjang musim ini jelas menjadi pihak yang paling diuntungkan dengan insiden Verstappen-Norris. Russel yang sepanjang balapan berhasil mempertahankan posisinya tahu-tahu keluar sebagai juara.

Kejadian ini seolah membuktikan kalau sudah rezeki memang enggak akan ke mana. Untuk sekadar podium saja Mercedes sudah cukup ngos-ngosan musim ini, eh tiba-tiba dapat giveaway gara-gara insiden yang melibatkan dua pembalap terdepan.

Tentu kita tidak boleh meremehkan kemenangan yang berhasil diraih oleh Russel dan Mercedes. Bisa mempertahan posisi ke-3 tentu tidak bisa dilakukan oleh semua pembalap. Kita harus tetap memberikan apresiasi atas kemenangan tak terduga tersebut.

Di belakang Russel, ada Oscar Piastri yang mungkin bisa jadi pelipur lara untuk McLaren setelah DNF-nya Norris. Carlos Sainz juga berhasil naik ke podium di peringkat ketiga, yang tampaknya juga menjadi pelipur lara bagi Ferrari setelah Lelcrec tercecer di belakang.

Selain itu, Penulis juga perlu memberi kredit untuk Haas yang berhasil menempatkan dua pembalapnya meraih poin setelah Hulkenberg berhasil finis di peringkat 6 dengan menahan Sergio Perez dan Kevin Magnussen di peringkat 8. Semoga saja balapan selanjutnya di Inggris lebih seru dari ini!


Lawang, 30 Juni 2024, terinpsirasi setelah menonton GP Austria hari ini

Foto Featured Image: GB News

Continue Reading

Olahraga

Ketika Kondisi Pemain Tak Jadi Pertimbangan dalam Bisnis Sepak Bola

Published

on

By

Ada yang menarik dari dunia sepak bola. Carlo Ancelotti, pelatih Real Madrid yang baru membawa klubnya juara Liga Champions untuk ke-15 kalinya, mengungkapkan bahwa timnya tidak akan berpartisipasi pada Piala Dunia Antarklub.

“FIFA bisa melupakan hal itu. Para pesepak bola dan klub tidak akan berpartisipasi dalam turnamen itu. Satu pertandingan di Madrid bernilai €20 juta dan FIFA ingin memberikan angka itu untuk seluruh turnamen: negatif. Seperti kami, beberapa klub akan menolak undangan tersebut.”

Namun, tak lama kemudian pihak Real Madrid mengklarfikasi ucapan tersebut dan menyatakan bahwa mereka akan tetap menjadi peserta turnamen tersebut. Ancelotti sendiri akhirnya juga membuat klarifikasi, dengan mengatakan bahwa pernyataannya “tidak ditafsirkan seperti yang saya maksudkan.”

Terlepas dari kehebohan yang diakibatkan oleh Ancelotti, Penulis memang ingin menyorot tentang bisnis sepak bola yang semakin berorientasi kepada uang dibandingkan kondisi pemain. Hal ini bisa terlihat dari format-format baru turnamen populer sepak bola.

Format Baru Turnamen-Turnamen Sepak Bola

Liga Champion akan Memiliki Format Baru (UEFA)

Selama ini, kita sudah familiar dengan format Liga Champion yang mempertandingkan 32 tim dari seluruh penjuru Eropa yang dibagi menjadi ke dalam 8 grup. Juara dan runner-up dari masing-masing grup akan lolos ke babak Playoff, dari 16 besar hingga final. Sesederhana itu.

Piala Dunia Antarklub juga sederhana, di mana perwakilan masing-masing zona akan mengirimkan satu perwakilannya. Turnamen ini memang kerap dipandang sebelah mata, mengingat kebanyakan juaranya berasal dari perwakilan Eropa.

Nah, mulai musim depan, format dari turnamen-turnamen ini akan dirombak habis-habisan. Kita mulai dari Liga Champion, yang jumlah pesertanya akan bertambah dari 32 menjadi 36 tim. Selain itu, semua tim akan dijadikan satu grup besar, tidak lagi dibagi menjadi 8 grup.

Lalu, masing-masing klub akan berhadapan dengan 8 lawan yang berbeda, di mana 4 pertandingan dilakukan secara Home dan 4 pertandingan secara Away. Pemilihan tim akan dilakukan secara acak melalui sistem pot.

Peringkat 1-8 akan otomatis lolos ke babak 16 besar, sedangkan peringkat 9-24 akan menjalani Playoff dengan sistem dua leg untuk menentukan 8 tim sisanya. Selain itu, tidak akan ada lagi tim dari Liga Champion yang akan turun ke Europe League.

Dengan format ini, maka jumlah pertandingan di Liga Champion akan meningkat pesat dari 125 pertandingan satu musim menjadi 189 pertandingan. Menurut hitungan Penulis, satu tim bisa melakoni hingga 19 laga dalam satu musim.

Piala Dunia Antarklub pun berubah total dengan menggunakan format lama Liga Champion. Artinya, dalam satu piala dunia akan ada 32 tim yang akan bertanding. Eropa kebagian jatah paling banyak dengan 12 tim, disusul Amerika Selatan (6), Amerika Utara dan Tengah (5), Asia (4), Afrika (4), dan Oseania (1).

Jangan lupa, Piala Dunia edisi 2026 pun akan mengalami perubahan format dengan diikuti oleh 48 negara. Seluruh peserta akan dibagi ke dalam 12 grup berisi 4 tim. Juara, runner-up, serta 8 tim peringkat 3 terbaik akan lolos ke babak 32 besar hingga ke babak final.

Potensi Cedera Pemain yang Makin Besar

Pemain Jadi Makin Rawan Cedera (Bloomberg)

Mungkin bagi penonton sepak bola seperti Penulis, lebih banyak pertandingan sepak bola akan menyenangkan. Namun, Penulis jadi kepikiran mengenai nasib para pemain yang seorang dikuras habis-habisan tenaganya demi bisnis bernama sepak bola ini.

Dengan format yang sekarang saja, fenomena badai cedera seolah sudah menjadi hal yang lumrah. Lihat saja Manchester United yang mendapatkan lebih dari 60 kasus cedera musim ini. Real Madrid pun sempat kehilangan semua bek tengahnya.

Tentu dengan semakin banyaknya pertandingan yang harus dijalani pemain setiap musimnya, potensi cedera pun menjadi semakin tinggi karena tenaga pemain menjadi terlalu diforsir. Mau main rotasi pun susah jika banyak pemain yang tidak tersedia.

Sekali lagi, Manchester United menjadi contoh yang bagus di sini. Hampir di setiap pertandingan, mau di Liga Inggris, Liga Champion, atau FA Cup, komposisi pemain yang diturunkan Ten Hag mirip-mirip karena memang tidak ada pemain lain yang bisa diturunkan.

Apakah pihak klub jadi harus menganggarkan dana lebih agar memiliki roster pemain yang tebal di klubnya? Rasanya sulit, mengingat harga pemain makin ke sini inflasinya makin gila-gilaan. Dompet klub bisa jebol jika harus menambah jumlah pemain agar pelatih bisa melakukan rotasi dengan lancar.

Mungkin pihak UEFA atau FIFA bisa berkelit dengan mengatakan ini-itu, tapi para penggemar bola rasanya tahu kalau alasan utama dari perubahan-perubahan format ini ujung-ujungnya ya perkara duit.

Logika sederhana yang paling gampang terlihat, dengan lebih banyaknya pertandingan yang tersaji, maka nilai sponsor yang masuk otomatis akan menjadi lebih besar karena produk mereka akan lebih sering muncul.

Penulis tidak tahu bagaimana para pemain menanggapi bertambahnya jumlah pertandingan yang harus mereka lakoni dalam semusim. Mungkin mereka happy-happy saja, apalagi kalau yang makan gaji buta seperti Neymar di Al-Hilal.

Namun, bagi para penggemar sepak bola, kekhawatiran tentang lebih mudahnya pemain cedera menjadi concern utama. Penulis sendiri sudah merasakan bagaimana badai cedera menghantam tim favoritnya hingga performanya menjadi amburadul.

Semoga saja kekhawatiran tersebut tidak benar-benar terjadi. Mengingat musim depan adalah pertama kalinya format baru turnamen akan diterapkan, kita akan melihat apakah format tersebut akan membuat pemain jadi lebih mudah cedera atau tidak.


Lawang, 10 Juni 2024, terinspirasi setelah melihat kompetisi sepak bola yang semakin banyak sehingga berpotensi membuat pemain sering mengalami cedera

Foto Featured Image: University of Huddersfield

Sumber Artikel:

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan