Chapter 15 Tidak, Terima Kasih

“Kamu harus berterima kasih jika orang lain memiliki keinginan untuk membantu dirimu. Dan jika kamu memang benar-benar tidak menginginkan bantuan tersebut, ucapkan `tidak, terima kasih`. Kamu mengerti maksudku Le?”

“Ya.”

Ini adalah kali keenam Kenji mengajariku tentang berkehidupan sosial. Dan tetap saja aku menjawabnya dengan dingin dan terkesan ogah-ogahan. Walaupun pada awalnya aku sangat bersemangat karena akan membantuku untuk berubah, lama-lama aku menjadi bosan. Mungkin karena sudah menjadi watak yang susah untuk dilepas. Tapi karena yang mengajari adalah Kenji, maka aku tidak memiliki nyali untuk menolaknya.

“Ada yang ingin kamu tanyakan?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, apakah aku boleh bertanya?”

“Ya.”

“Mengapa pada hari pertama aku menjadi guru privatmu, kamu menangis sendiri di ruang tamu?”

“Bukan apa-apa, aku hanya mengantuk.”

“Tapi kamu tidak menguap Leon. Jika kamu menguap, barulah aku percaya akan perkataanmu itu.”

Aku diam. Aku terlalu malu untuk membagi apa yang kurasakan tempo hari. Aku memang menangis, sedih. Tapi aku tidak ingin membaginya dengan siapapun, termasuk Kenji maupun Gisel. Aku hanya ingin menyimpannya sendiri.

“Jujur Leon, rasanya aku sudah tahu jawabannya, tapi aku ingin mendengarnya secara langsung darimu.”

“Kalau sudah tahu tak perlulah kau bertanya.”

“Tapi aku hanya . .”

“Aku mohon Kenji, aku tidak menginginkan bantuanmu!”

Kenji sedikit tersentak dari tempat duduknya. Tanpa sengaja aku sedikit berteriak kepadanya. Merasa bersalah, aku menundukkan kepala seperti biasa. Aku lirik Kenji, dia sepertinya bisa mengendalikan emosinya.

“Oke Leon, akan kuturuti maumu, hehe. Omong-omong apakah Gisel belajar?”

“Ya.” jawabku lirih.

“Ajaklah Gisel keluar rumah, kasihan kalau Gisel di rumah terus.”

“Aku tak punya kendaraan.”

“Tak perlu jauh-jauh. Cukup sekitar sini saja Le.”

“Baiklah.”

Aku melangkahkan kaki dengan malas menuju kamar Gisel. Seperti dugaanku, dia sedang membenamkan dirinya kedalam buku pelajaran. Nampaknya dia sedang asyik belajar. Sebelum aku memutuskan untuk memutar balik, Gisel memanggilku.

“Ada apa kak, ada yang bisa Gisel bantu?”

“Tidak.”

Ternyata, aku tetap belum bisa mengatakan `tidak, terima kasih`.

***

Keesokan harinya, ketika waktu jam pelajaran bahasa Indonesia, guru kami bu Hilda memberikan kami tugas untuk membuat puisi. Mungkin bagi yang lain ini adalah tugas yang biasa, namun bagiku ini adalah tugas yang luar biasa susah. Aku yang tak berperasaan ini mana mungkin bisa menuliskan kata-kata yang indah, mengalun-alun, dan menyentuh hati. Kebingungan, aku mencoba berkonsultasi dengan Nita, teman sekelasku yang kata Kenji unggul dalam hal sastra.

“Eh, Nita, bisa minta bantuan?” kataku dengan agak ragu-ragu.

“Leon? Mau minta bantuan apa?” ia sedikit kaget, mungkin karena ini pertama kali aku memanggilnya.

“Minta tips membuat puisi. Kau tahu kalau aku tidak terlalu paham hal-hal seperti ini.”

“Hahaha, kenapa aku?” tanyanya keheranan. Aku heran mengapa begitu banyak orang yang heran terhadapku.

“Aku dengar kau sangat suka bahasa, bahkan kau mulai belajar bahasa Prancis, Jerman dan Jepang.” aku mengetahui fakta ini ketika mengobrol dengan Kenji pada “pelatihan sikap” yang ketiga.

“Perasaan sedih juga bisa dibuat puisi. Buatlah puisi yang sesuai dengan perasaanmu sekarang. Bila kamu marah, lampiaskan kemarahanmu dalam puisi. Bila kamu sedih, lampiaskan kesedihanmu, bila kamu bahagia, tulislah kebahagiaan itu. Intinya, tulislah apapun yang kamu rasa. Dan jika puisi tersebut benar-benar sesuai dengan kenyataan hidupmu, maka kamu akan lebih bisa menghayati puisi tersebut. Kamu mengerti?”

“Iya.”

Lagi-lagi aku tidak mengucapkan terima kasih. Bibir ini masih tetap senantiasa bertemu. Enggan berpisah agar suara `terima kasih` tidak keluar dari rongga tenggorokanku. Sebenarnya aku merasa bersalah karena seharusnya aku mengucapkan terima kasih, namun bukanlah Alexander Napoleon Caesar jika tidak keras kepala.

“Kalau kau, sudah punya ide?” tanyaku untuk mengusir perasaan bersalah.

“Aku tentang orangtua mungkin Le, atau tentang persahabatan. Aku enggak paham cinta-cintaan, hehehe.”

“Baiklah.”

“Coba cari-cari di perpustakaan Le, contoh-contoh puisi. Lalu, kamu bikin sendiri deh versimu. Minimal kamu baca-baca diksinya buat nambah kosa katamu.”

Dengan anggukan kepala, aku mengakhiri sesi tanya jawab ini.

***

“Omong-omong kamu sudah punya ide Le?” tanya Kenji sewaktu kami pulang sekolah bersama.

“Belum.”

Apakah aku akan membuat puisi tentang kemarahan terhadap orangtuaku? Bisa jadi, karena itu benar-benar terjadi akan mudah bagiku untuk membuatnya. Apakah tentang penderitaanku selama ini? Tidak-tidak, itu hanya akan membuatku terlihat cengeng. Tentang Gisel, tentang seorang adik yang menyayangi kakaknya? Sepertinya susah karena aku belum lama berubah. Tentang Kenji? Tentang kelas? Atau mungkin tentang Sica?

Ah, kenapa justru Sica yang muncul di benakku. Kami hanya mengobrol satu kali, itu pun karena panggilan tugas. Tidak-tidak, masih banyak yang lebih pantas untuk dijadikan bahan puisi. Baiklah kuakui Sica cantik, membuatnya pantas untuk dijadikan inspirasi puisi, akan tetapi aku belum benar-benar mengenalnya, belum mengetahui wataknya selain ia adalah wanita yang pemberani dan penuh semangat.

“Kamu terbayang-bayang Sica lagi ya Le.” entah untuk yang keberapa kali, Kenji memotong lamunanku dan dengan tepat menebak apa yang aku lamunkan. Padahal aku memulainya secara acak, bagaimana ia bisa menebak ujung lamunanku? Benar-benar berbahaya melamun di depannya. Aku memutuskan untuk diam dan berpura-pura tidak mendengarkannya.

“Kurasa kamu sekarang sedang merasakan yang namanya jatuh cinta Le.”

Jatuh cinta? Frase ini terasa asing bagiku.

“Apa itu jatuh cinta?”

“Artinya, kamu menyimpan perasaan suka atau sayang ke Sica.”

“Tidak.” jawabku tegas, atau setidaknya kubuat tegas.

“Ah baiklah, rasanya tak mungkin kamu berbohong.”

Tidak Kenji, kau ingat bahwa aku pernah berbohong ketika aku memukulmu. Aku bukan orang yang sejujur itu. Tapi rasanya tidak perlu kuutarakan apa yang ada di benakku ini.

“Bagaimana kalau kita ngobrol di dalam rumahmu? Rasanya kok enggak enak ngobrol di pinggir jalan seperti ini.”

“Sebenarnya, aku ingin tanya, apa kau punya buku puisi?

“Hmmm, sepertinya ada. Kalau tidak salah karangan Rendra. Kalau gitu, ayo ke rumah.”

Kami pun berjalan menuju rumah Kenji. Setelah menyusuri satu per satu, akhirnya kami menemukan buku tersebut. Aku membacanya sedikit-sedikit dan merasa bahwa buku ini akan sangat berguna untuk membantuku dalam mengerjakan tugas. Karena tidak ingin meninggalkan Gisel terlalu lama, aku berpamitan kepada Kenji.

“Mau aku bantu Le buat ngerjain tugasnya?”

“Tidak.”

Ketika berjalan menjauhi rumah Kenji, langkahku terasa berat. Ada yang belum kuucapkan. Dengan sekuat tenaga aku membalikkan badanku. Terlihat Kenji masih berdiri di tempatnya berdiri tadi. Tampaknya ia sudah mengetahui kalau aku akan mengatakan sesuatu. Terdiam sebentar, lalu kukeluarkan semua yang tertahan di tenggorokanku.

“Tidak, terima kasih.”

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.