<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bumi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bumi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bumi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Oct 2024 16:20:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>bumi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bumi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Jika Air Bersih di Bumi Habis?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Oct 2024 16:08:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7971</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa hari terakhir, di daerah Penulis terjadi &#8220;krisis air&#8221; yang cukup menyusahkan, walau belum sampai tahap berbahaya. Penulis tidak mengetahui apa penyebabnya, tapi yang jelas tandon Penulis yang terletak di atas hampir tidak pernah terisi. Untungnya, keran depan masih bisa mengalirkan air dengan lancar, sehingga setidaknya Penulis sekeluarga tinggal memasang selang hingga ke kamar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/">Bagaimana Jika Air Bersih di Bumi Habis?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa hari terakhir, di daerah Penulis terjadi &#8220;krisis air&#8221; yang cukup menyusahkan, walau belum sampai tahap berbahaya. Penulis tidak mengetahui apa penyebabnya, tapi yang jelas tandon Penulis yang terletak di atas hampir tidak pernah terisi.</p>



<p>Untungnya, keran depan masih bisa mengalirkan air dengan lancar, sehingga setidaknya Penulis sekeluarga tinggal memasang selang hingga ke kamar mandi. Walau sedikit merepotkan, setidaknya &#8220;krisis air&#8221; ini masih bisa teratasi dengan baik.</p>



<p>Mengalami hal seperti ini membuat Penulis kembali merenungkan satu hal yang sebelumnya sudah sering direnungkan: <strong>bagaimana jika air bersih di bumi sampai habis?</strong> Mumpung momennya pas, Penulis ingin membahas tentang hal ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Krisis Air Paling Parah</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7975" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Ilustrasi Krisis Air (<a href="https://uk.allianzgi.com/en-gb/insights/outlook-and-commentary/liquid-capital-water-crisis">AllianzGI</a>)</p>
</div></div>



<p>Krisis air yang Penulis alami saat ini bukanlah yang paling parah yang pernah Penulis hadapi. Sewaktu magang di Tangerang, rumah teman Penulis sempat mengalami mati air sama sekali hingga kami harus pergi ke rumah saudaranya untuk meminta air.</p>



<p>Waktu itu, kami harus memasukkan air ke dalam tangki berwarna biru, lalu harus mengangkatnya ke mobil dan menurunkannya di rumah. Karena waktu itu magang, tentu tidak mungkin Penulis tidak mandi sebelum berangkat ke kantor.</p>



<p>Untuk menghemat, Penulis harus pandai-pandai mengelola air ketika mandi. Penulis ingat pernah memanfaatkan tidak sampai sepuluh guyuran gayung lengkap untuk sikat gigi, keramas, dan menyabuni badan. Segitunya untuk menghemat air yang berhenti mengalir.</p>



<p>Tentu saja pengalaman krisis tersebut tidak ada apa-apanya dengan orang lain, katakanlah di Afrika. Penulis ingat di salah satu video pesulap David Blaine, ada orang Afrika yang melatih kemampuan menyimpan air bersih di perutnya karena di negaranya, air bersih sangat sulit untuk didapatkan.</p>



<p>Jika mengingat hal-hal seperti ini, Penulis sering termenung ketika air bersih sedang melimpah. Misal ketika berwudhu, Penulis menyadari ada banyak sekali air bersih yang terbuang ketika transisi dari satu gerakan ke gerakan lain.</p>



<p>Saat krisis air seperti yang terjadi seperti sekarang, Penulis jadi harus benar-benar berhemat ketika berwudhu dengan tetap memastikan kalau semua bagian tubuh yang diwajibkan harus terkena air. Kira-kira butuh sekitar 10 gayung.</p>



<p>Dengan keterbatasan air seperti sekarang, Penulis jadi merasa bersyukur selama ini masih bisa menikmati air bersih yang sangat melimpah. Pertanyaan besarnya, sampai kapankah kita bisa menikmati air bersih seperti saat ini?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kerusakan Alam yang Makin Parah</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-7974" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/10/krisis-air-bersih-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Pencemaran Air karena Hilirisasi (<a href="https://walhisulsel.or.id/4253-aliansi-sulawesi-respon-pernyataan-gibran-di-debat-perdana-cawapres-hilirisasi-nikel-hancurkan-masa-depan-sulawesi-merusak-bentang-alam-dan-kehidupan-masyarakat-khususnya-perempuan/">WALHI Sulsel</a>)</p>
</div></div>



<p>Ada banyak sekali alasan mengapa Penulis berpendapat bahwa air bersih di bumi bisa saja akan sulit untuk diakses oleh manusia, bahkan yang tinggal di peradaban paling modern sekalipun. Satu alasan paling kuat adalah <strong>perusakan alam yang makin menggila</strong>.</p>



<p>Contoh yang paling dekat adalah bagaimana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang memengaruhi air bersih yang bisa dinikmati oleh warga sekitar. Dalam video dokumentasi yang dibuat oleh tim Narasi, bisa dilihat bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkan air bersih, termasuk harus mengeluarkan uang yang cukup besar.</p>



<p>Selain itu, proyek hilirisasi yang terjadi di berbagai tempat juga bisa mengakibatkan buruknya kualitas air penduduk sekitar. <a href="https://whathefan.com/politik-negara/memahami-apa-itu-hilirisasi-secara-sederhana-melalui-tropico-6/">Hilirisasi yang ugal-ugalan</a> membuat sumber air mereka menjadi tercemar dan tidak bisa dimanfaatkan seperti dulu lagi.</p>



<p>Belum lagi kebiasaan buruk kita untuk membuang sampah ke sungai. Kualitas air pun menjadi sangat tercemar seperti yang terjadi di banyak perkotaan, di mana kualitas airnya kalah jauh dari kualitas air di pedesaan.</p>



<p>Selain itu, jangan lupa kalau dalam peperangan, terkadang ada cara-cara jahat dengan <strong>meracuni sumber air</strong>. Tentu ini strategi yang tidak manusiawi dan dampaknya pun bisa mengakibatkan <em>butterfly effect</em> yang tidak sepele.</p>



<p>Tentu banyak manusia yang menyadari potensi hilangnya air bersih dari permukaan bumi. Para ilmuwan ataupun akademisi banyak yang berupaya untuk membuat teknologi untuk mengelola air-air yang awalnya tidak bisa digunakan menjadi bisa digunakan.</p>



<p>Namun, <strong>seberapa banyak orang yang dapat merasakan manfaat tersebut? </strong>Teknologi-teknologi semaju itu biasanya membutuhkan biaya yang tinggi. Jika teknologi tersebut memang bisa digunakan secara murah dan massal, tentu krisis air di dunia sudah bisa teratasi.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Perlu diingat bahwa meskipun <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">planet bumi</a> didominasi oleh air, hanya sekitar <strong>2-3% air bersih</strong> yang bisa digunakan oleh manusia untuk berbagai kebutuhan. Sisanya merupakan air laut yang sangat sulit untuk dimanfaatkan karena tingginya kandungan garam yang dimiliki.</p>



<p>Jika air bersih di bumi sampai benar-benar habis, maka rasanya krisis akan terjadi di mana-mana. Perang untuk memperebutkan sumber air yang masih bersih sangat mungkin terjadi.  Manusia yang bisa bermutasi dengan meminum air kotor akan menjadi spesies yang bertahan.</p>



<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita lebih <strong>menghargai dan mensyukuri air bersih</strong> yang bisa kita nikmati dengan melimpah saat ini. Jangan membuang-buang air bersih untuk hal yang mubazir, gunakan dengan sebijak mungkin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Oktober 2024, terinspirasi setelah air di rumah mengalami pengurangan volume</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/girl-drinking-water-from-the-pipe-28101461/">illustrate Digital Ug</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/">Bagaimana Jika Air Bersih di Bumi Habis?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-air-bersih-di-bumi-habis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Belajar Geografi?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/untuk-apa-belajar-geografi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/untuk-apa-belajar-geografi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Oct 2021 16:25:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[geografi]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5383</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu mengisi materi SWI Mengajar 2.0 untuk Karang Taruna di lingkungan Penulis, materi yang diinginkan oleh peserta adalah pengetahuan umum seputar negara-negara. Untuk memudahkan penyebutan, anggap saja sebagai ilmu geografi. Kebetulan, Penulis sangat menyukai geografi sejak kecil. Oleh karena itu, Penulis sangat bersemangat untuk menyiapkan materinya. Penulis ingin para anggota Karang Taruna memiliki pengetahuan umum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/untuk-apa-belajar-geografi/">Untuk Apa Belajar Geografi?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sewaktu mengisi materi <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar-2-0/">SWI Mengajar 2.0</a> untuk Karang Taruna di lingkungan Penulis, materi yang diinginkan oleh peserta adalah pengetahuan umum seputar negara-negara. Untuk memudahkan penyebutan, anggap saja sebagai ilmu geografi.</p>



<p>Kebetulan, Penulis sangat menyukai geografi sejak kecil. Oleh karena itu, Penulis sangat bersemangat untuk menyiapkan materinya. Penulis ingin para anggota <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a> memiliki pengetahuan umum seputar geografi.</p>



<p>Lantas, terbesit satu pertanyaan yang menggelitik Penulis: Untuk apa kita belajar geografi?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Penulis dan Geografi</h2>



<p>Meskipun Penulis adalah anak IPA, entah mengapa Penulis tertarik dengan pelajaran-pelajaran IPS. Selain <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">sejarah</a>, Penulis juga menyukai geografi, lebih tepatnya mengetahui negara-negara yang ada di dunia.</p>



<p>Bahkan, sejak kecil Penulis sudah hobi membaca atlas dan menghafalkan di mana negara itu berada, apa ibu kotanya, hingga bentuk benderanya. Rasanya begitu menyenangkan dan mengasyikkan waktu itu.</p>



<p>Hingga kini pun Penulis masih menyukainya. Waktu ke <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-dan-big-bad-wolf-bagian-1/">Big Bad Wolf</a> terakhir, Penulis bahkan membeli dua atlas yang jelas jauh lebih rinci dibandingkan atlas yang Penulis miliki waktu kecil.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Alasan untuk Belajar Geografi</h2>



<p>Kesukaan Penulis dengan geografi terbantukan dengan adanya <em>channel </em>YouTube <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/its-time-to-learn-geography-now/">Geography Now.</a> <em>Channel </em>ini akan memberikan penjelasan semua negara yang diakui oleh PBB, urut mulai A hingga Z. Ketika artikel ini ditulis, <em>channel </em>tersebut sudah sampai negara Swiss.</p>



<p>Di video pertama <em>channel </em>ini, ada alasan mengapa kita perlu belajar geografi. Pembaca bisa menontonnya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Geography Now! Trailer" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/0kQQpBPuGj4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Intinya adalah <strong>bumi ini adalah rumah kita</strong>, tempat tinggal kita. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mempelajari &#8220;rumah&#8221; kita dan memahaminya. Bayangkan di rumah kita tidak tahu di mana letak kamar mandinya, kita pasti akan merasa kebingungan ketika ingin pipis.</p>



<p>Memiliki pengetahuan umum tentang negara-negara yang cukup rasanya perlu dimiliki oleh semua orang. Entah itu sebuah nama negara, apa ibu kotanya, apa <em>landmark </em>atau tempat wisata yang dimiliki, gunung apa yang tertinggi di dunia, dan lain sebagainya.</p>



<p>Kalau Penulis sendiri, mempelajari tentang negara-negara menjadi <strong>motivasi lebih untuk bisa punya impian pergi ke luar negeri</strong>. Dengan mengetahui bagaimana kultur dan budaya di sana, Penulis seolah sedang mempersiapkan diri jika suatu saat bisa pergi ke sana.</p>



<p>Bagi yang belum tahu, pergi ke luar negeri adalah salah satu impian Penulis yang belum tercapai. Setidaknya ada dua negara yang sangat ingin Penulis kunjungi, yakni Jepang dan Inggris. Bahkan, Penulis pernah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">melamar beasiswa Chevening</a> agar bisa kuliah dan tinggal di Inggris.</p>



<p>Mungkin masih banyak alasan mengapa kita perlu belajar geografi. Beberapa alasan yang Penulis kutip dari <em>Galamedia </em>adalah:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Mengetahui bagaimana bumi bekerja dan pengaruhnya terhadap kehidupan kita sehari-hari</li><li>Mengetahui tentang budaya dan gaya hidup masyarakat di belahan negara lain, serta bagaimana iklim dan tropis memengaruhi hal tersebut</li><li>Mengetahui alasan mengapa masyarakat memiliki lokasi tinggal di tempat tertentu</li><li>Lebih memahami bagaimana kita semakin saling tergantung secara global</li><li>Menghargai bumi sebagai tempat tinggal kita</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis akan terus menyukai geografi, sehingga setidaknya ketika sudah punya anak nanti, Penulis bisa menyalurkan ilmu tersebut kepadanya. Deretan buku seputar geografi yang Penulis miliki juga akan menjadi media pembelajaran untuknya.</p>



<p>Meskipun sampai saat ini Penulis belum bisa mewujudkan impiannya untuk pergi ke luar negeri, Penulis memiliki keyakinan kalau suatu saat akan bisa mencapainya. Aamiin.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 29 Oktober 2021, terinspirasi setelah memberikan materi SWI Mengajar 2.0 seputar geografi</p>



<p>Foto: <a href="https://wallpaperaccess.com/earth-map">WallpaperAccess</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://galamedia.pikiran-rakyat.com/citizen-journalism/pr-35762267/lima-alasan-pentingnya-mempelajari-geografi">Lima Alasan Pentingnya Mempelajari Geografi &#8211; Galamedia News (pikiran-rakyat.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/untuk-apa-belajar-geografi/">Untuk Apa Belajar Geografi?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/untuk-apa-belajar-geografi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bumi (Tanpa) Manusia</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2020 12:05:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi industri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3748</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apakah ada hal positif yang muncul akibat meruaknya virus Corona ke segala penjuru dunia? Tanpa mengurangi empati kepada korban dan keluarganya, Penulis merasa ada. Dengan adanya virus ini, kebanyakan orang harus mengurangi kegiatannya dan berdiam diri di rumah. Banyak tempat kerja menerapkan kebijakan Work from Home sehingga jalanan lebih lenggang. Akibatnya, tingkat polusi berkurang secara signifikan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/">Bumi (Tanpa) Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah ada hal positif yang muncul akibat meruaknya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">virus Corona</a> ke segala penjuru dunia? Tanpa mengurangi empati kepada korban dan keluarganya, Penulis merasa ada.</p>
<p>Dengan adanya virus ini, kebanyakan orang harus mengurangi kegiatannya dan berdiam diri di rumah. Banyak tempat kerja menerapkan kebijakan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>Work from Home</em></a> sehingga jalanan lebih lenggang.</p>
<p>Akibatnya, tingkat polusi berkurang secara signifikan, hewan-hewan yang dulu tidak bebas bergerak jadi berani untuk muncul, dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Penulis menjadi terpikir sesuatu, <strong>apakah Bumi memang lebih baik tanpa kehadiran manusia?</strong></p>
<h3>Zaman Dinosaurus dan Era Peperangan</h3>
<p>Jika mau percaya kepada para arkeolog, pernah ada suatu masa ketika reptil raksasa menguasai dunia. Alam bekerja secara baik hingga muncul bencana yang memusnahkan mereka.</p>
<p>Lantas, Bumi perlahan diambil oleh mamalia. Menurut penganut teori evolusi Charles Darwin, ada makhluk-makhluk yang akan menjadi cikal bakal manusia modern seperti sekarang.</p>
<p><div id="attachment_3751" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3751" class="wp-image-3751 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3751" class="wp-caption-text">Manusia dan Perang (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://en.wikipedia.org/wiki/Napoleonic_Wars" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj8huy59vHoAhXd4XMBHX1pCQcQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wikipedia</span></a>)</p></div></p>
<p>Kalau menurut keyakinan Penulis, Nabi Adam dan Hawa diturunkan dari surga karena melanggar perintah Tuhan. Mereka lah nenek moyang manusia, berawal dari dua orang hingga menjadi milyaran seperti sekarang.</p>
<p>Penulis banyak membaca buku sejarah, termasuk sejarah peradaban. Semenjak kemunculan manusia dan perlahan membangun peradaban, <strong>ada saja bentuk kerusakan yang ditimbulkan</strong>.</p>
<p>Tak terhitung berapa jumlah perang yang sudah dilakukan umat manusia. Ada yang demi memperluas kekuasaan, fasisme, menyebarkan ajaran agama, perebutan sumber daya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Siapa yang dirugikan? Selain rakyat sipil yang tidak bersalah, alam pun turut menjadi korban. Kerusakan yang dihasilkan oleh perang jelas tidak sedikit.</p>
<h3>Revolusi Industri</h3>
<p>Selain perang, kerusakan alam secara masif juga dipicu oleh <strong>Revolusi Industri</strong> yang terjadi di sekitar abad 18 yang bermula di Britania Raya dan menyebar ke seluruh dunia.</p>
<p><div id="attachment_3752" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3752" class="size-large wp-image-3752" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3752" class="wp-caption-text">Revolusi Industri (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.history.com/news/second-industrial-revolution-advances" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCOiPo8328egCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit History.com"><span class="pM4Snf">History.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Pertumbuhan penduduk meningkat pesat, roda ekonomi berputar lebih cepat, terjadinya perubahan besar-besaran di berbagai bidang, mulai dari pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, hingga teknologi.</p>
<p>Salah satu faktor yang mendorong hal tersebut adalah penemuan mesin uap oleh James Watt. Mesin tersebut membuat pekerjaan manusia bisa selesai lebih efisien dan cepat.</p>
<p>Efek sampingnya? Polusi yang gila-gilaan. Mesin uap membutuhkan batu bara sebagai bahan bakar, salah satu jenis bahan bakar fosil. Otomatis, dibutuhkan proses penambangan yang jelas merusak alam.</p>
<p>Kehidupan manusia memang menjadi lebih baik. Akan tetapi, ada tumbal yang harganya tidak murah.</p>
<h3>Bumi (Tanpa) Manusia</h3>
<p>Hanya dari dua contoh di atas (perang dan revolusi industri), kita bisa melihat betapa besar kerusakan alam yang dihasilkan oleh manusia untuk Bumi kita tercinta.</p>
<p><em>Apakah berarti Bumi akan lebih baik tanpa manusia?</em> Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.</p>
<p><div id="attachment_3753" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3753" class="size-large wp-image-3753" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3753" class="wp-caption-text">Beruang Kutub Mencari Makan (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.nytimes.com/2019/06/19/world/europe/polar-bear-norilsk-russia.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiq0t7U9vHoAhUX63MBHczcAKYQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The New York Times</span></a>)</p></div></p>
<p>Di dalam keyakinan Penulis, telah ditakdirkan bahwa manusia diturunkan ke Bumi untuk menjadi pemimpin di Bumi. Tidak ada makhluk lain yang secerdas dan sehebat manusia.</p>
<p>Hanya saja dalam prosesnya, banyak perbuatan kita yang menyimpang dan membuat alam kita rusak. Hutan semakin habis, laut semakin kotor, binatang banyak yang punah dan terancam punah, dan masih banyak contoh lainnya.</p>
<p>Untungnya di era modern seperti sekarang, kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan semakin meningkat. Orang-orang seperti <strong>Greta Thunberg</strong> bisa menginspirasi banyak orang dengan aksinya.</p>
<p>Jadi, Bumi memang bisa lebih baik tanpa ada manusia. Namun faktanya, manusia telah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin di Bumi dan sudah seharusnya kita menjalankan amanat tersebut dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 April 2020, terinspirasi dengan banyaknya makhluk hidup lain yang bisa bergerak bebas selama pandemik Corona ini</p>
<p>Foto: <a href="https://www.thehour.com/news/article/As-humans-stay-indoors-wild-animals-take-back-15201739.php?src=nwkhpcp">TheHour</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/">Bumi (Tanpa) Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jan 2020 15:44:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[galaksi]]></category>
		<category><![CDATA[laniakea]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[semesta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah sudah berapa tulisan yang menyebutkan bahwa Penulis adalah orang yang sangat suka sekali mengamati alam semesta. Mulai dari baca buku hingga menonton video dokumenter semua Penulis lakukan. Kemarin, Penulis menemukan serial 101 dari National Geographic yang membahas berbagai obyek di semesta. Video-video tersebut membuat Penulis merenungi tentang seberapa kecil kita sebenarnya. Di Mana Bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/">Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Entah sudah berapa tulisan yang menyebutkan bahwa Penulis adalah orang yang sangat suka sekali mengamati alam semesta. Mulai dari baca buku hingga menonton video dokumenter semua Penulis lakukan.</p>
<p>Kemarin, Penulis menemukan serial 101 dari National Geographic yang membahas berbagai obyek di semesta. Video-video tersebut membuat Penulis merenungi tentang seberapa kecil kita sebenarnya.</p>
<h3>Di Mana Bumi Berada?</h3>
<p><div id="attachment_3357" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3357" class="size-large wp-image-3357" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3357" class="wp-caption-text">Sistem Tata Surya (Wikipedia)</p></div></p>
<p>Dari tempat kita berpijak, <strong>Bumi</strong> ini terasa sangat luas. Apalagi jika kita sedang berdiri di sebuah gedung yang tinggi ataupun puncak gunung, hamparan Bumi seolah terbentang tanpa ujung.</p>
<p>Bumi kita memang luas, dengan diameternya yang kurang lebih 6.371 km. Walalupun begitu, Bumi hanyalah planet terbesar kelima di tata surya kita, setelah <strong>Jupiter</strong>, <strong>Saturnus</strong>, <strong>Uranus,</strong> dan <strong>Neptunus</strong>.</p>
<p>Yang membuat istimewa adalah Bumi merupakan planet terbesar yang bisa dipijak, karena keempat planet lainnya tidak memiliki permukaan yang solid. Jupiter dan Saturnus merupakan planet gas, sedangkan Uranus dan Neptunus merupakan es raksasa.</p>
<p>Tiga planet lainnya, <strong>Merkurius</strong>, <strong>Venus</strong>, dan <strong>Mars</strong>, memang memiliki permukaan yang berbatu seperti Bumi. Hanya saja, kondisi alamnya membuat kehidupan hampir tidak mungkin bisa berkembang.</p>
<p>Semua planet tersebut sama-sama mengelilingi <strong>Matahari</strong>, bintang di sistem tata surya kita yang menyokong kehidupan di Bumi. Dengan segala keteraturannya, ia menarik berbagai benda langit untuk mengelilingi dirinya.</p>
<p><div id="attachment_3358" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3358" class="size-large wp-image-3358" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3358" class="wp-caption-text">Milky Way (Tech Explorist)</p></div></p>
<p>Akan tetapi, sistem tata surya atau <em><strong>Solar System</strong> </em>kita pun hanya bagian kecil (bahkan sangat kecil) dari galaksi di mana kita tinggal: <em><strong>Milky Way</strong> </em>atau Bimasakti.</p>
<p>Galaksi kita berbentuk spiral dengan beberapa &#8220;lengan&#8221;. <em>Solar System</em> kita berada di <strong>Lengan Orion </strong>bersama sistem tata surya lainnya.</p>
<p>Mungkin ada milyaran bintang yang ada di dalam galaksi <em>Milky Way</em>. Semuanya mengelilingi pusat galaksi yang berjarak sekitar 27.700 tahun cahaya dari Matahari. Entah bagaimana cara mengukurnya dengan menggunakan meteran.</p>
<p><div id="attachment_3359" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3359" class="size-large wp-image-3359" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3359" class="wp-caption-text">Laniakea (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://wallpaperaccess.com/lanikea-universe" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiFiKS6xqHnAhWPT30KHaRjBB4QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">WallpaperAccess</span></a>)</p></div></p>
<p>Galaksi kita pun hanya bagian kecil dari keseluruhan alam semesta. Bersama ratusan ribu galaksi lainnya, kita berada di sebuah <em>supercluster </em>yang bernama <strong>Laniakea</strong>.</p>
<p>Jika ditarik lebih jauh lagi, Laniakea pun hanya terlihat seperti setitik debu jika dibandingkan dengan alam semesta yang sudah diketahui oleh manusia. Padahal, ada masih banyak sisi semesta yang belum dijamah oleh manusia.</p>
<p>Penulis akan meletakkan susunannya di bawah ini seperti yang dilansir dari Wikipedia:</p>
<blockquote><p><a class="mw-selflink selflink">Bumi → Solar System</a> → Local Interstellar Cloud → Local Bubble → Gould Belt → Orion Arm → Milky Way → Milky Way subgroup → Local Group → Local Sheet → Virgo Supercluster → Laniakea Supercluster → Observable universe → Universe</p></blockquote>
<p>Untuk definisinya masing-masing, Penulis akan meletakkan sumbernya di bawah tulisan ini. Intinya, kita ini sebenarnya bukan apa-apa jika dibandingkan luasnya alam semesta ini.</p>
<h3>Kita Bukan Apa-Apa</h3>
<p>Mungkin kita merasa sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna karena diberi berbagai kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Tak jarang kita pun dibuat sombong karenanya.</p>
<p>Walaupun begitu, kita tak akan berdaya jika alam sudah berbicara. Mau teknologi secanggih apapun, kita tak akan pernah benar-benar bisa mengalahkan alam.</p>
<p>Itu baru alam yang ada di Bumi saja, bagaimana dengan entitas lain di luar Bumi? Coba bayangkan Bumi kembali dihantam meteor yang sama dengan yang memusnahkan dinosaurus, hampir tidak ada yang bisa kita lakukan.</p>
<p>Kita memang dianugerahi berbagai keistimewaan di Bumi ini. Bahkan posisi Bumi yang sangat tepat agar kehidupan bisa berlangsung saja sudah merupakan hal yang sangat luar biasa.</p>
<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita menyukuri apa yang telah kita dapatkan di Bumi ini dan mampu menjaganya dengan baik. Jika merasa sombong, cobalah tengok langit agar sadar betapa kecilnya kita.</p>
<p>Tapi sayangnya, langit di perkotaan tertutup oleh polusi cahaya dan asap, sehingga susah untuk melihat alam semesta yang lebih luas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Januari 2020, terinspirasi setelah menonton berbagai video tentang alam semesta produksi National Geographic</p>
<p>Foto: <a href="https://www.americamagazine.org/content/dispatches/universe-unfinished-theologian-john-haught-faith-and-cosmos">America Magazine</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Solar_System">Wikipedia</a>, <a href="https://www.youtube.com/watch?v=2HoTK_Gqi2Q&amp;t=5s">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/">Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bumi Itu Datar</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Nov 2018 16:00:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[alam semesta]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[flat earth]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tata surya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1641</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sadarilah bahwa selama ini kita telah dibohongi oleh Amerika Serikat dengan NASA-nya. Teori Heliosentris yang dikembangkan oleh Copernicus dan Galileo adalah sebuah pembohongan. Bumi adalah pusat alam semesta. Dunia ini terbentang datar. Benda-benda langit mengelilingi Bumi. Hukum gravitasi yang dituliskan Newton tidaklah nyata. Negara-negara adidaya menyimpan rahasia besar di balik tembok es Antartika. Mereka tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">Bumi Itu Datar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sadarilah bahwa selama ini kita telah dibohongi oleh Amerika Serikat dengan NASA-nya. Teori Heliosentris yang dikembangkan oleh Copernicus dan Galileo adalah sebuah pembohongan. Bumi adalah pusat alam semesta.</p>
<p>Dunia ini terbentang datar. Benda-benda langit mengelilingi Bumi. Hukum gravitasi yang dituliskan Newton tidaklah nyata. Negara-negara adidaya menyimpan rahasia besar di balik tembok es Antartika. Mereka tidak ingin rahasia mereka terbongkar.</p>
<p><div id="attachment_1644" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1644" class="size-large wp-image-1644" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1644" class="wp-caption-text">via youtube.com</p></div></p>
<p>Hehehe, begitulah kira-kira secara umum teori-teori yang dilontarkan oleh kubu yang mempercayai teori bahwa planet tempat kita tinggal ini berbentuk datar, bukan bola seperti yang sudah diajarkan di sekolah sejak kita kecil.</p>
<p>Apakah teori-teori tersebut salah dan pantas ditertawakan? Tentu jangan. Bagaimanapun kita harus menghargai persepsi mereka. Jika bertemu mereka, bantahlah data mereka dengan data yang Anda miliki. Jangan hanya debat kusir yang tak berdasar.</p>
<p>Membuat analisa tanpa data adalah sebuah kesalahan besar, begitulah kira-kira ucapan Sherlock Holmes. Selama ini mayoritas dari kita mempercayai teori Heliosentris adalah sebuah kebenaran karena teori tersebut menyajikan data kepada kita.</p>
<p>Bagaimana dengan kubu <em>flat earth</em>? Tentu mereka juga memiliki data-data yang menyanggah data milik kubu lawan. Mereka mempertentangkan apa yang selama ini ditelan mentah-mentah oleh masyarakat dunia.</p>
<p><strong>Lalu, manakah yang penulis percaya?</strong></p>
<p>Untuk sementara, penulis masih yakin bahwa Bumi ini berbentuk bola. Tentu ada alasan-alasan yang mendasari keyakinan tersebut.</p>
<p>Pertama, penulis meyakini bahwa planet kita tentu memiliki bentuk yang sama dengan benda-benda yang kita amati setiap hari. Jika matahari dan bulan berbentuk bola, mengapa Bumi harus berbeda sendiri? Apa karena tempat tinggal manusia sehingga mendapatkan keistimewaan?</p>
<p>Kedua, hukum Fisika yang berhasil ditemukan oleh para ilmuwan sudah banyak terbukti dan teruji dari waktu ke waktu. Hukum Fisika membuat kita bisa memahami apa yang terjadi pada diri kita, pada planet kita.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/E9tL-lPsDZM?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe>Ketiga, teori yang diajukan oleh kaum bumi datar bisa didebat oleh kamu bumi bola dengan jawaban-jawaban yang ilmiah. Mungkin sudah banyak yang menonton saluran Youtube <strong>Flat Earth 101</strong>. Kebetulan, penulis menemukan <a href="https://www.kiblat.net/2016/07/13/bantahan-ilmiah-teori-konspirasi-flat-earth-fakta-atau-konspirasi-bag-1/">blog yang menangkis semua teori</a> yang ada pada video-video tersebut.</p>
<p>Terakhir, penulis mengikuti pendapat ulama. Setidaknya ada dua ustadz yang mengatakan bahwa Bumi berbentuk bulat, yakni Abdul Somad dan Zakir Naik. Sampai saat ini penulis belum menemukan ada seorang ustadz yang percaya bahwa Bumi itu datar,</p>
<p><strong>Hal Terpenting</strong></p>
<p>Dari semua tulisan tadi, terkadang manusia lupa hal terpentingnya. Yang lebih <em>urgent </em>untuk dipikirkan bersama adalah bagaimana kita berbuat baik untuk Bumi kita, untuk tempat tinggal kita tercinta ini.</p>
<p>Mau mendukung teori yang manapun, kalau kita masih saja acuh terhadap lingkungan, ya percuma. Kalau kita percaya bumi ini berbentuk bola lantas berbuat kerusakan di dunia, ya buat apa.</p>
<p><div id="attachment_1643" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1643" class="size-large wp-image-1643" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/sergei-akulich-457851-unsplash.jpg 1500w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1643" class="wp-caption-text">Photo by Sergei Akulich on Unsplash</p></div></p>
<p>Biarlah mereka yang memiliki data dan kemampuan otak saling adu argumen untuk menentukan teori siapa yang paling benar, karena menentukan planet merupakan pengujian ilmiah yang bisa dibuktikan. Berbeda dengan mengukur hati seseorang yang tak bisa dilihat.</p>
<p>Kita, yang tidak mempunyai data dan tidak memiliki kemampuan untuk meneliti alam semesta, bertugas untuk menjaga Bumi dengan apapun yang bisa kita lakukan. Hal-hal yang paling sepele seperti mengurangi penggunaan plastik pun memiliki dampak terhadap lingkungan.</p>
<p>Apapun keyakinan kita terhadap bentuk Bumi, yang harus kita pikirkan bersama adalah apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian planet ini. Mau bentuknya bulat, kotak, ataupun segitiga, tugas kita sebagai manusia adalah merawat planet ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 November 2018, terinspirasi setelah menonton saluran Youtube Flat Earth 101 yang kolom komentarnya dinonaktifkan</p>
<p>Photo: blenderartists.org<a href="http://blenderartists.org">http://blenderartists.org</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">Bumi Itu Datar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjelajah Dunia Paralel</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2018 00:32:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Ceros dan Batozar]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Komet]]></category>
		<category><![CDATA[Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[serial]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=908</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah novel Pergi, buku yang dijadwalkan untuk dirilis adalah Komet yang merupakan lanjutan serial Bumi. Namun siapa yang menyangka, ternyata Komet tidak sendirian. Kali ini Tere Liye menerbitkan dua novel sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Ceros dan Batozar merupakan spin-off dari petualangan Raib, Seli dan Ali menjelakah dunia Paralel. Bumi dan Bulan Ketika membeli novel Bumi dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">Menjelajah Dunia Paralel</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah novel Pergi, buku yang dijadwalkan untuk dirilis adalah <em>Komet</em> yang merupakan lanjutan serial <em>Bumi</em>. Namun siapa yang menyangka, ternyata <em>Komet</em> tidak sendirian. Kali ini Tere Liye menerbitkan dua novel sekaligus dalam waktu yang bersamaan. <em>Ceros dan Batozar </em>merupakan <em>spin-off </em>dari petualangan Raib, Seli dan Ali menjelakah dunia Paralel.</p>
<p><strong>Bumi dan Bulan</strong></p>
<p>Ketika membeli novel Bumi dan Bulan pada tanggal 4 Januari 2016, penulis belum bisa meraba apa tema dari novel ini. Di sinopsis hanya tertulis tokoh utama memiliki kemampuan untuk menghilang, yang artinya novel ini mengarah ke <i>genre </i>fantasi.</p>
<p>Setelah menghabiskan waktu sekitar lima jam per novelnya, penulis memahami bahwa serial ini bertemakan dunia lain, lebih tepatnya dunia paralel, tema yang kurang lebih sama dengan serial Supernova milik Dee.</p>
<p>Pada novel Bumi, trio Raib baru menyadari kehadiran dunia paralel dan menjelajah ke klan Bulan, klan di mana Raib sebenarnya berasal. Raib juga baru menyadari bahwa Seli, sahabat karibnya, ternyata merupakan keturunan klan Matahari dan bisa mengeluarkan petir. Ali sang manusia Bumi tulen (untuk saat ini) ternyata bisa berubah menjadi seekor beruang.</p>
<p>Pada novel Bulan, mereka menjelajah klan Matahari untuk mengikuti sebuah kompetisi yang mungkin mirip-mirip dengan <em>The Hunger Games</em>. Kesamaan dari kedua novel awal ini adalah kesamaan nasib musuh utamanya yang memasuki semacam portal untuk memenjarakan mereka.</p>
<p>Dari sini penulis menduga, bahwa kelak kedua musuh tersebut akan bergabung dengan musuh utama serial ini, Si Tanpa Mahkota, yang telah dikurung pada tempat yang sama.</p>
<p><strong>Matahari dan Bintang</strong></p>
<p>Kover dari novel Matahari berbeda dari pendahulunya, terlihat lebih terasa nuansa fantasinya. Sialnya, novel Bumi dan Bulan juga di cetak ulang dengan motif yang sama. Alhasil, terbesit di pikiran penulis untuk membeli ulang kedua novel tersebut, hal yang belum penulis realisasikan hingga sekarang.</p>
<p>Akhir dari novel kedua adalah adanya informasi mengenai klan keempat, klan Bintang. Ali, yang diceritakan sebagai anak yang super jenius hingga susah dibayangkan di kehidupan nyata, berhasil menemukan fakta bahwa klan tersebut tinggal di dalam perut Bumi. Lagi-lagi akhir novel ini merupakan petunjuk untuk novel berikutnya, Bintang.</p>
<p>Diceritakan bahwa ada sebuah proyek yang telah direncanakan beribu-ribu tahun untuk memusnahkan klan permukaan. Maka dari itu, Raib dan kawan-kawan pun kembali berpetualang untuk mencegah rencana tersebut. Siapa yang menyangka, mereka justru melepaskan musuh utama mereka yang telah lama terkurung, Si Tanpa Mahkota beserta dua musuh utama dari dua serial awal.</p>
<p>Tebakan penulis terbukti.</p>
<p><strong>Ceros &amp; Batozar</strong></p>
<p>Penulis belum pernah membaca sebuah novel <em>spin-off</em>, oleh karena itu penulis penasaran dengan novel <em>Ceros dan Batozar.</em> Ternyata, <em>spin-off </em>merupakan bagian cerita yang tidak terlalu mempengaruhi alur utama, namun menyimpan detail-detail kecil yang cukup berguna dalam memahami keseluruhan cerita.</p>
<p>Sebagai contoh, ternyata perubahan dan kejeniusan Ali besar kemungkinan dapat terjadi karena ia merupakan keturunan dari klan Aldebaran, klan kuno yang hanya menyisakan dua orang yang dapat berubah menjadi dua ekor monster badak.</p>
<p><strong>Komet</strong></p>
<p>Di antara enam novel serial Bumi, Komet merupakan novel yang paling sulit ditebak alurnya. Berbeda dari judul-judul sebelumnya, Komet bukanlah nama klan, melainkan sebuah tempat, lebih tepatnya sebuah kepulauan yang dinamai berdasarkan nama hari.</p>
<p>Perjalanan melintas dari pulau ke pulau membuat penulis terbayang serial <em>One Piece. </em>Walaupun demikian, tetap saja banyak hal yang dapat ditebak ketika membacanya. Akan lebih baik jika pembaca mengetahuinya sendiri :).</p>
<p>Sayangnya, harapan penulis yang berharap Komet merupakan seri terakhir tidak terkabul. Petualangan Raib, Seli dan Ali menjelajahi dunia paralel masih berlanjut.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Novel-novel fantasi seperti ini sangat sesuai jika dibaca pembaca pemula yang masih duduk di bangku sekolah. Tidak seperti Dee yang lihat bermain kata, Tere Liye menggunakan kata-kata yang sederhana untuk memudahkan pembaca dalam menangkap isi cerita.</p>
<p>Bagi penggemar serial fantasi yang berat seperti <em>A Game of Throne</em>, sepertinya tidak akan terlalu menikmati serial Bumi karena keringanan ceritanya tersebut. Mereka kemungkinan akan selalu membandingkan imajinasi penulis lokal dengan penulis Barat.</p>
<p><em>Overall</em>, serial ini cukup membuat dahaga pembaca akan novel fantasi lokal berkurang. Serial ini menjadi ajang pembuktian, bahwa penulis lokal pun bisa menelurkan karya-karya fantasi yang sebenarnya tidak kalah dari penulis luar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 22 Juni 2018, terinspirasi setelah menamatkan novel Ceros &amp; Batozar dan Komet</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">Menjelajah Dunia Paralel</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jan 2018 16:07:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[angkasa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[hawking]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jenius]]></category>
		<category><![CDATA[laniakea]]></category>
		<category><![CDATA[luar]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[sains. astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[semesta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=237</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar mempelajari alam semesta.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, saya bertemu dengan Stephen Hawking, seorang jenius yang menjadi profesor di Cambridge, melalui karya-karyanya. Ia terkenal karena menuliskan alam semesta dalam bentuk yang dapat dipahami oleh orang awam. Buku pertama yang saya beli adalah <em>My Brief History</em>, sebuah autobiografi dari seorang Hawking. Meskipun judulnya autobiografi, tetap saja di dalamnya berisi banyak rumus-rumus astronomi yang susah dipahami.</p>
<p>Meskipun di buku pertama mengalami kesulitan dalam memahami isinya, saya tidak kapok untuk kembali membeli buku Hawking yang lainnya. Buku kedua yang saya miliki adalah <em>George&#8217;s Secret Key to the Universe</em>, sebuah novel anak yang beliau tulis bersama anaknya, Lucy. Karena buku anak, tentu sangat mudah untuk memahami isi novel ini.</p>
<p>Karyanya yang paling fenomenal, <em>A Brief History of Time, </em>menjadi buku ketiga yang saya miliki. Buku ini pun juga membuat saya mengerutkan dahi karena bahasanya yang tinggi. Meskipun demikian, tetap saja saya tidak kapok membeli buku Hawking. Maka <em>The Grand Design </em>yang ditulis dengan bahasa filsafat pun telah berada di rak buku sebagai bagian dari koleksi.</p>
<p><div id="attachment_240" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-240" class="wp-image-240 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg" alt="" width="1024" height="494" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-300x145.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-768x370.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-356x172.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1.jpg 1263w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-240" class="wp-caption-text">Buku-Buku Hawking (via https://pics-about-space.com/stephen-hawking-black-holes-book?p=4)</p></div></p>
<p>Selain dari buku, saya pun melihat acara televisinya di <em>National Geographic</em> yang berjudul <em>Genius</em>. Penjelasan berbagai fenomena alam dengan menggunakan analogi yang mudah dipahami membuat saya terpukau dengan berbagai keajaiban alam.</p>
<p>Sebagai contoh, dalam membuktikan bahwa Bumi itu bulat, relawan dalam acara tersebut (satu episode diikuti oleh tiga orang relawan) menggunakan sinar laser dari pinggir pantai -sinar laser dipilih karena arah cahayanya yang lurus. Dalam jarak tertentu, mereka membandingkan tinggi sinar laser tersebut, hingga pada jarak terjauh mereka harus menggunakan helikopter. Selain bisa membuktikan bahwa teori bumi datar itu salah, dengan menggunakan hasil percobaan tersebut kita bisa membuat persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung keliling Bumi.</p>
<p>Akan tetapi, episode yang paling berkesan bagi saya adalah ketika episode yang menerangkan ukuran alam semesta. Di akhir acara, ditampilkan sebuah animasi yang berawal dari Bumi, lalu Bumi mengecil hingga tampak <em>solar system </em>kita, lalu mengecil lagi hingga nampak galaksi kita, <em>milky way, </em>mengecil lagi hingga ke <em>supercluster </em>kita, <em>Laniakea</em>. Animasi ini semakin menjauh dan mengecil hingga ke tingkat yang sangat susah dipercaya oleh nalar.</p>
<p>Alam semesta seringkali menjadi bahan perenungan saya. Saat menyadari bagaimana posisi Bumi di alam semesta, saya merasa kecil, merasa bukan apa-apa jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta, apalagi dengan Tuhan yang dengan segala kuasa-Nya dapat membuat alam semesta ini begitu teratur. Dengan mengetahui keteraturan alam semesta ini, niscaya semakin tebal pula keimanan kita kepada Tuhan. Oleh karena itu, saya akan tetap mendalami alam semesta kita, walaupun buku-buku yang menjelaskan tentangnya susah untuk dicerna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Januari 2018, setelah bermain game Age of Empires III</p>
<p>Sumber Foto:  <a href="http://www.howitworksdaily.com)">www.howitworksdaily.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
