Agar WFH Tetap Produktif

Penulis merasa bersyukur karena bisa mendapatkan privilege berupa kesempatan untuk Work From Home (WFH). Tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan seperti ini, terutama orang-orang yang bergantung pada pendapatan harian.

Hingga hari ini, sudah dua minggu ini Penulis bekerja dari kos. Selama dua minggu itu, Penulis ternyata mengalami kesulitan untuk menemukan ritme kerja yang tepat. Akibatnya, pola hidup Penulis jadi berantakan.

Bangun jadi siang, kerja sampai dini hari (terkadang sampai pagi), makan sering terlambat, banyak sekali yang mejadi kacau dalam keseharian Penulis.  Oleh karena itu, Penulis berusaha mencari solusi dari permasalahan ini.

Mencari Akar Permasalahan

Karena tidak ingin terus berlarut-larut dalam perasaan bersalah karena kacaunya pola hidup, Penulis mencoba mencari akar permasalahannya. Setelah direnungkan, ada dua penyebab utama:

  1. HP
  2. Tidur siang

Menjadi tiga jika niat dimasukkan, tapi Penulis putuskan untuk mengabaikan variabel tersebut. Penulis akan berfokus kepada dua penyebab permasalahan yang ada di atas.

Melalui aplikasi Quality Time, Penulis menyadari kalau penggunaan HP selama WFH benar-benar melonjak tinggi. Dalam sehari, Penulis bisa menghabiskan waktu lebih dari 10 jam.

Karena terlalu banyak bermain HP (entah main game ataupun scroll media sosial), pekerjaan pun menjadi tertunda. Pekerjaan tertunda menyebabkan Penulis kurang tidur yang pada akhirnya membuat Penulis tidur siang.

Sampai di titik ini, Penulis sadar bahwa musuh terbesarnya adalah HP-nya sendiri.

Aplikasi-Aplikasi Penyita Waktu

Sebenarnya, Penulis bisa memanfaatkan aplikasi seperti Forest yang akan membantu kita fokus tanpa melirik HP. Sayangnya, aplikasi tersebut belum cukup untuk menjaga konsentrasi Penulis.

Melalui aplikasi Quality Time yang sudah disinggung sebelumnya, Penulis menemukan ada aplikasi-aplikasi yang paling menguras waktu Penulis. Data minggu kemarin menunjukkan angka seperti berikut:

  1. WhatsApp (19 jam 44 menit)
  2. Chess Rush (8 jam 34 menit)
  3. Instagram (4 jam 47 menit)
  4. YouTube (4 jam 28 menit)
  5. Twitter (3 jam 57 menit)
  6. Zoom (2 jam 41 menit)
  7. Samsung Internet (2 jam 26 menit)
  8. Catan Universe (1 jam 49 menit)
  9. Skype (1 jam 42 menit)

Total waktu yang Penulis habiskan dalam satu minggu adalah 58 jam 57 menit atau setara dengan 9 jam/hari. Minggu ini, jumlahnya sudah menyentuh angka 61 jam 40 menit. Padahal, masih ada hari Minggu besok dan hari Sabtu ini belum berakhir.

Dari 60 jam tersebut, Penulis banyak menghabiskan waktu pada aplikasi:

  1. WhatsApp (16 jam 8 menit)
  2. YouTube (9 jam 14 menit)
  3. Instagram (4 jam 59 menit)
  4. Twitter (4 jam 46 menit)
  5. Chess Rush (4 jam 20 menit)
  6. Risk (4 jam 6 menit)
  7. Zoom (2 jam 36 menit)
  8. WormsZone.io (1 jam 52 menit)
  9. Samsung Internet (1 jam 45 menit)

Jumlahnya, bagi Penulis, sudah terlampau tinggi. Padahal, Penulis memberi target kepada dirinya sendiri agar penggunaan HP maksimal 5 jam setiap harinya. Untungnya, Penulis menemukan sebuah aplikasi bernama AppBlock.

Sang Penyelamat

Penulis menemukan aplikasi AppBlock ini tanpa sengaja pada hari Jumat. Waktu dicoba, ternyata aplikasi ini sangat berguna untuk membatasi penggunaan aplikasi-aplikasi tertentu dalam jangka waktu tertentu.

Pada hari pertama, Penulis mencoba untuk memblokir lima aplikasi: YouTube, Instagram, Twitter, Chess Rush, Risk. Penulis tidak bisa memblokir WhatsApp karena itu merupakan jalur komunikasi yang vital.

Rentang waktu yang Penulis pilih adalah pukul 09:00-18:00, sama seperti jam kantor. Hasilnya? Penggunaan HP memang berkurang walau Penulis masih membuka game dan aplikasi lain sebagai alternatif.

Masalahnya setelah jam blokir berakhir, Penulis kembali menghabiskan waktunya di depan layar. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk melakukan penambahan jam menjadi:

  • Jam Pertama: 09:00-19:00
  • Jam Kedua: 23:00-06:00

Penambahan jam kedua dilakukan agar Penulis tidak bermain HP menjelang tidur. Sudah sering terjadi kalau hendak tidur bermain HP terlebih dahulu, waktu tidur kita menjadi terus mundur.

Selain itu, Penulis juga memperketat penggunaan Instagram, Twitter, dan YouTube menjadi 30 menit tiap harinya. Bukan tiap aplikasinya, melainkan total dari ketiganya. Butuh langkah ekstrem seperti ini untuk mengubah kebiasaan buruk.

Jika Penulis bisa mengurangi penggunaan HP secara drastis, harapannya WFH minggu ketiga bisa menjadi lebih produktif dan pola hidup Penulis pun menjadi lebih baik.

Penutup

Dampak lain dari berantakannya WFH dua minggu pertama adalah terbengkalainya blog ini. Sudah hampir dua minggu Penulis tidak menulis di blog. Selain itu, aktivitas mencatat aktivitas dan uang harian juga tersendat.

Oleh karena itu, Penulis harus bisa memaksa diri untuk berubah. Selain memaksimalkan aplikasi yang sudah disebutkan di atas, Penulis juga harus lebih tegas dalam mendisiplinkan diri. Jujur, Penulis sering nyambi bekerja dengan bermain game seperti Risk dan Chess Rush.

Penulis juga akan membuat semacam daftar rutinitas harian untuk weekday dan benar-benar berkomitmen dengan daftar yang sudah dibuat. Kalau pola hidup Penulis menjadi lebih baik, yang memetik hasilnya juga diri Penulis sendiri.

Memang masih ada godaan lain seperti laptop yang membuat Penulis bisa mengakses semua yang sudah diblokir di HP. Untungnya, laptop tidak bisa diakses sambil rebahan sehingga risiko gangguannya lebih kecil.

Semoga saja dengan keras kepada diri sendiri seperti ini, Penulis bisa menjalani WFH secara lebih baik dan produktif. Kalau ada yang mau meniru metode ini, sangat boleh kok.

 

 

Kebayoran Lama, 4 April 2020, terinspirasi dari pengalaman diri sendiri yang sering kacau ketika WFH

Foto: Privy