<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>masyarakat Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/masyarakat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/masyarakat/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Sep 2025 16:31:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>masyarakat Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/masyarakat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2025 16:30:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Brave Pink Green Hero]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[polarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[substansi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8323</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu &#8220;buah&#8221; yang dihasilkan dari panasnya akhir bulan Agustus hingga awal September adalah munculnya gerakan 17+8, yang intinya adalah tuntutan-tuntutan untuk Presiden, DPR, Kepolisian, dan pihak-pihak lainnya. Sebanyak 17 tuntutan diberi deadline hingga tanggal 5 September kemarin, yang tentu saja pada akhirnya mayoritas yang belum dipenuhi. 8 sisanya diberi deadline satu tahun atau &#8220;dikumpulkan&#8221; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu &#8220;buah&#8221; yang dihasilkan dari <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/">panasnya akhir bulan Agustus hingga awal September</a> adalah munculnya gerakan <strong>17+8</strong>, yang intinya adalah tuntutan-tuntutan untuk Presiden, DPR, Kepolisian, dan pihak-pihak lainnya.</p>



<p>Sebanyak <a href="https://whathefan.com/politik-negara/peringatan-darurat-apa-memang-sedarurat-itu-situasi-politik-saat-ini/">17 tuntutan diberi <em>deadline</em></a><em> </em>hingga tanggal 5 September kemarin, yang tentu saja pada akhirnya mayoritas yang belum dipenuhi. 8 sisanya diberi <em>deadline </em>satu tahun atau &#8220;dikumpulkan&#8221; pada bulan September 2026. </p>



<p>Gerakan tersebut diprakarsai oleh banyak tokoh anak muda seperti <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a>, Andovi da Lopez, Fathia Izzati, Andhyta ‘Afu’ Utami, Salsa Erwina, dan Abigail Limuria. Isi tuntutannya pun macam-macam, yang intinya merangkum apa yang selama ini menjadi keresahan masyrakat.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/08/setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar-banner.jpg 1200w " alt="[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teruslah-bodoh-jangan-pintar/">[REVIEW] Setelah Membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar</a></div></div></div><p></p>


<p>Bersamaan dengan adanya tuntutan tersebut, muncul gerakan <strong>Brave Pink Green Hero</strong> sebagai bentuk dukungan dan solidaritas atas tuntutan tersebut. Banyak netizen berlomba-lomba untuk ikut mengubah foto profilnya menjadi <em>duo-tone </em>kombinasi kedua warna tersebut, termasuk Penulis.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Munculnya Gerakan Brave Pink Green Hero</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8326" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ibu Ana vs Kepolisian (<a href="https://indopop.id/profil-ibu-ana-brave-pink-nekat-halau-aparat-pakai-galah?page=all">Indopop</a>)</figcaption></figure>



<p>Brave Pink dipilih karena keberanian yang ditunjukkan oleh<strong> Ibu Ana</strong>, yang sempat terpotret berani menghadapi barisan kepolisian sendirian hanya dengan membawa bendera. Sementara itu, Green Hero dipilih untuk mengenang almarhum <strong>Affan Kurniawan</strong>.</p>



<p>Masalahnya, pemilihan warna tersebut ternyata justru diributkan oleh netizen. Pasalnya, beredar video Ibu Ana yang berteriak secara kasar &#8220;Prabowo Anjing, Prabowo Turun, Ganti Anies,&#8221; yang diteriakkan di tengah-tengah aksi.</p>



<p>Gara-gara hal tersebut, banyak yang menolak untuk ikut mengganti foto profilnya. Ada yang karena tidak ingin orang bermulut kasar menjadi simbol, ada yang menilai pemilihan warna tersebut bersifat politis, dan lain sebagainya.</p>



<p>Yang membela Ibu Ana pun tak sedikit. Ada yang bilang pemilihan warna pink tersebut karena keberanian yang ditunjukkan Ibu Ana, bukan mewakili pendapat pribadinya. Ada yang bilang pemilihan warna tersebut melambangkan <em>woman empowerment</em> secara keseluruhan.</p>



<p>Penulis menemukan analogi yang menarik di X, di mana ada yang mengomparasi Brave Pink ini dengan slogan &#8220;Just Do It&#8221; dari Nike dan V Sign sebagai tanda damai. Inspirasi dari keduanya juga berasal dari hal yang tidak 100% baik, bahkan cenderung kontroversi.</p>



<p>Selain itu, ada yang membuat analisis kalau video yang beredar tersebut sebenarnya buatan AI. Banyak kejanggalan yang ditemukan pada foto tersebut, yang sering menjadi ciri video buatan AI. Penulis tidak akan mendebat hal tersebut, karena tidak punya kapabilitas juga untuk menilai.</p>



<p>Terlepas dari pro kontra pemilihan Brave Pink Green Hero ini, Penulis justru merasa ini menjadi bukti lain betapa <a href="https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/">kita mudah terpolarisasi</a>, yang ujungnya membuat kita mudah diadu domba dan melupakan hal yang substansial.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi dan Melupakan Hal yang Substansi?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8327" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sederet Public Figure yang Ikut Brave Pink Green Hero (<a href="https://motherandbeyond.id/read/27154/tunjukkan-solidaritas-dan-dukungan-deretan-artis-wanita-ini-ganti-foto-profil-jadi-brave-pink-hero-green">Mother &amp; Beyond</a>)</figcaption></figure>



<p>Secara umum, orang mengganti foto profilnya dengan <em>duo-tone </em>tersebut adalah <strong>bentuk dukungan dan solidaritas</strong> terhadap gerakan 17+8, yang bisa dianggap sebagai aksi nyata dari kita sebagai masyarakat kepada para pemangku kekuasaan yang mengatur negara ini.</p>



<p>Akan tetapi, sebenarnya yang mendukung 17+8 tapi menolak mengganti foto profil juga ada. Yang cuma FOMO ikut mengganti foto padahal tidak mendukung 17+8 juga ada. Yang tidak mendukung 17+8 dan tidak FOMO pun juga ada.</p>



<p>Menariknya, Anies Baswedan yang namanya terseret karena disebut Ibu Ana pun tidak ikut-ikutan mengganti foto profilnya. Mantan capres lainnya, Ganjar Pranowo, juga mengambil langkah yang sama. Tampaknya mereka tidak ingin disangkutpautkan dengan isu ini.</p>



<p>Sebenarnya silakan saja mau memilih yang mana, toh itu hak masing-masing individu. Yang membuat Penulis geram adalah ketika <strong>ada pihak yang merasa lebih baik dari pihak lain karena pilihannya</strong>. Mereka menyalahkan pihak yang berseberangan dengan berbagai alasan.</p>



<p>Kalau memang tidak srek dengan pemilihan Brave Pink karena sosok Ibu Ana, ya enggak perlu ikut ganti foto profil. Masalahnya, ada saja pihak-pihak ini yang menggiring opini kalau orang-orang yang mengganti foto profilnya adalah A B C D blablabla.</p>



<p>Yang memilih untuk mengganti foto profil juga begitu. Jangan mentang-mentang ganti foto profil, terus jadi merasa yang paling nasionalis dan menghakimi yang tidak melakukannya. Jangan-jangan yang ganti foto profil tidak pernah ikut aksi secara langsung, cuma koar-koar di media sosial (seperti Penulis misalnya).</p>



<p>Salah satu alasan utama mengapa kita begitu mudah terpolarisasi adalah karena terkadang kita <strong>menganggap</strong> <strong>Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut</strong>. Penulis akan menjabarkan hal ini lebih detail di tulisan besok.</p>



<p>Lebih parahnya lagi, polarisasi yang terjadi ini justru <strong>membuat kita melupakan substansinya</strong>, yakni tuntutan masyarakat kepada pemerintah. Harusnya kita sebagai sesama rakyat harus bekerja sama untuk memantau agar tuntutan yang telah diajukan telah terlaksana.</p>



<p>Terserah mau pakai warna <em>pink</em>, hijau, biru, cokelat, merah, nggak pakai warna karena buta warna, bebas. Yang penting, di momen-momen penting seperti saat ini kita harus saling jaga agar suara kita didengar oleh mereka.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Jujur, Penulis geram karena ada saja yang meributkan Brave Pink Green Hero ini. Kenapa justru menyorot Ibu Ana-nya, bukan inti dari gerakannya. Ibarat meributkan klub sepak bola bukan karena performa atau permainannya, tapi dari logo klubnya.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga merasa heran karena ketika pemimpin negara yang berkata kasar, hal tersebut justru berusaha dinormalisasi. Ketika pemimpin negara <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/napoleon-iii-gak-bisa-jadi-presiden-lagi-ya-tinggal-ubah-aturannya/">mengacak-acak konstitusi agar bisa ikut pemilu</a>, eh malah dipilih. <em>Double standard</em>-nya kok agak kebangetan.</p>



<p>Terlepas dari itu semua, Penulis berharap kejadian yang berlangsung sejak akhir Agustus bisa menjadi momentum kita sebagai bangsa menuju ke arah yang lebih baik lagi. Kita lihat saja tahun depan, apakah tuntutan yang ada di dalam 17+8 ada yang berhasil dikerjakan atau tidak.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 September 2025, terinspirasi dari netizen yang meributkan masalah <em>brave pink hero green</em></p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://aceh.tribunnews.com/news/983906/viral-brave-pink-dan-hero-green-di-medsos-warganet-ramai-ubah-foto-profil-begini-caranya">Tribun</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Malangnya Jadi Masyarakat Kelas Menengah yang Terus Digencet</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/malangnya-jadi-masyarakat-menengah-yang-terus-digencet/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/malangnya-jadi-masyarakat-menengah-yang-terus-digencet/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Sep 2024 04:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[kelas menengah]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7885</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam pemilihan presiden (pilpres) yang telah berlangsung beberapa waktu lalu, ada salah satu tim dari pasangan calon (paslon) yang mengatakan ingin memperhatikan nasib kelas menengah, yang selama ini terkesan selalu berjuang sendirian. Penulis menyukai gagasan tersebut karena merasa dirinya termasuk ke dalam kelas tersebut, setidaknya menurut definisi Penulis sendiri. Versi Penulis, kelas menengah adalah kelompok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/malangnya-jadi-masyarakat-menengah-yang-terus-digencet/">Malangnya Jadi Masyarakat Kelas Menengah yang Terus Digencet</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam <a href="https://whathefan.com/politik-negara/mengamati-pilpres-2024-bagian-1-antara-perubahan-dan-keberlanjutan/">pemilihan presiden (pilpres)</a> yang telah berlangsung beberapa waktu lalu, ada salah satu tim dari pasangan calon (paslon) yang mengatakan ingin memperhatikan nasib kelas menengah, yang selama ini terkesan selalu berjuang sendirian.</p>



<p>Penulis menyukai gagasan tersebut karena merasa dirinya termasuk ke dalam kelas tersebut, setidaknya menurut definisi Penulis sendiri. Versi Penulis, kelas menengah adalah <strong>kelompok masyarakat yang tidak cukup miskin untuk dapat bantuan, tapi tidak cukup kaya hingga mendapatkan insentif</strong>.</p>



<p>Sayangnya, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/mengamati-pilpres-2024-bagian-3-setelah-hari-pencoblosan/">paslon tersebut tidak berhasil memenangkan pilpres</a> dan Penulis pun jadi merasa was-was dengan masa depannya sebagai kelas menengah. Apalagi, belakangan ini banyak peraturan-peraturan baru yang semakin menekan kelas menengah.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-banner.jpg 1280w " alt="Yang Salah dari Privilege" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">Yang Salah dari Privilege</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Memahami Kelas Menengah di Indonesia</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7890" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambaran Kelas Menengah di Indonesia (<a href="https://www.kompas.id/baca/english/2024/02/21/en-kelas-menengah-kaum-pas-pasan-banyak-masalah">Kompas</a>)</figcaption></figure>



<p>Tentu definisi yang Penulis gunakan di paragraf pembuka adalah versi dangkal yang sangat disederhanakan. Ada banyak definisi yang lebih bisa dipercaya, contohnya adalah versi Merriam-Webster berikut ini:</p>



<p><em>Kelas sosial yang menempati posisi antara kelas atas dan kelas bawah dan sebagian besar terdiri dari para pebisnis dan profesional, pejabat pemerintah, petani, dan pekerja terampil</em></p>



<p>Kalau di Indonesia, kelas menengah diklasifikasikan <strong>masyarakat yang memiliki upah antara Rp2,04 juta hingga Rp9,9 juta</strong> per bulannya. Bisa dilihat, <em>range</em> untuk masuk kelas ini cukup luas sehingga sebenarnya tak bisa disamaratakan. Dua juta ke 10 juta itu jaraknya 8 juta, loh.</p>



<p>Di tahun 2024 ini, ada sekitar <strong>43,85 juta</strong> masyarakat yang masuk ke dalam kategori kelas menengah. Jika jumlah penduduk Indonesia dibulatkan menjadi 250 juta jiwa, maka kelas menengah di Indonesia mencapai sekitar 17%. </p>



<p>Jumlah tersebut terjadi karena adanya penurunan kelas menengah yang cukup tinggi. Dalam lima tahun terakhir, setidaknya ada<strong> 9,5 juta kelas menengah yang harus turun kelas </strong>ke &#8220;calon kelas menengah&#8221; atau bahkan masuk &#8220;kelas rentan miskin.&#8221;</p>



<p>Sebagai perbandingan, jumlah masyarakat &#8220;calon kelas menengah&#8221; di Indonesia saat ini mencapai 137,5 juta atau lebih dari setengah penduduk Indonesia. Angka ini berpotensi akan bertambah karena ada prediksi bahwa sebanyak 2% masyarakat kelas menengah akan turun kelas pada tahun 2025 mendatang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Kelas Menengah di Indonesia Semakin Menurun?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7891" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Grafik Penurunan Kelas Menengah (<a href="https://ekonomi.bisnis.com/read/20240808/9/1789224/lpem-ui-85-juta-orang-kelas-menengah-turun-kasta">Bisnis.com</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu bukti penurunan jumlah kelas menengah ini bisa dilihat melalui penurunan transaksi menggunakan QRIS dalam periode Juni hingga Agustus 2024. Memang ini hanya satu parameter kecil saja, tapi cukup mencerminkan penurunan daya beli masyarakat pada umumnya, mengingat pengguna QRIS kebanyakan dari kelas menengah.</p>



<p><strong>Jumlah gaji yang cukup <em>ngepres </em>alias pas-pasan tidak sebanding dengan kenaikan kebutuhan hidup yang terus bertambah</strong>. Kita tidak sedang membicarakan gaya hidup masyarakat hedon, ini sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. </p>



<p>Mari kita gunakan data. Berdasarkan data dari BPS pada tahun 2022, rata-rata biaya standar rumah tangga di Jakarta mencapai Rp14,8 juta. Tahu berapa Upah Minimum Regional (UMR) di (calon mantan) ibukota? Rp4,6 juta saja. Jika suami-istri punya gaji UMR pun belum cukup untuk hidup ideal di Jakarta.</p>



<p>Dengan contoh tersebut, tak heran banyak masyarakat yang jadi menggantungkan hidupnya dengan pinjaman <em>online</em> maupun PayLater. Belum lagi diperparah adanya kegemaran untuk <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/layakkah-pemain-judi-online-dianggap-sebagai-korban/">mengundi nasib lewat judi <em>online</em></a>, dengan harapan bisa mendapatkan cuan tambahan.</p>



<p>Mungkin ada pembelaan karena dalam lima tahun terakhir kita bergulat dengan pandemi Covid-19. Namun, rasanya bukan itu saja penyebabnya. Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah juga memiliki andil atas makin terhimpitnya kelas menengah.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kebijakan Pemerintah yang Makin Menekan Kelas Menengah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7892" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kebijakan Pemerintah yang Menekan Perlu Mendapatkan Sorotan (<a href="https://www.bareksa.com/berita/berita-ekonomi-terkini/2020-03-23/hadapi-covid-19-ini-kebijakan-ekonomi-pemerintahan-jokowi">Bareksa</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu wacana paling konyol yang menekan kelas menengah adalah <strong>penerapan subsidi KRL berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK)</strong>. Artinya, masyarakat yang dianggap kurang miskin tidak akan boleh menikmati fasilitas subsidi ketika naik transportasi umum.</p>



<p>Di sisi lain, orang-orang kaya yang ingin membeli mobil listrik justru mendapatkan subsidi. Mana ada orang kelas menengah (apalagi masyarakat miskin) kepikiran untuk membeli mobil listrik? Padahal, terjangkaunya fasilitas transportasi umum menjadi kunci untuk mengurai kemacetan sekaligus mengurangi polusi udara.</p>



<p>Sudah transportasi umumnya mau dicabut subsidinya, mau naik kendaraan pribadi pun semakin dipersulit karena <strong>tidak boleh membeli Pertalite atau Solar</strong>. Agar lebih tepat sasaran, pemerintah, seolah kelas menengah dianggap selalu mampu membeli bahan bakar yang lebih mahal.</p>



<p>Gaji kelas menengah yang pas-pasan tadi semakin terasa sedikit karena adanya wacana <strong>iuran tambahan dana pensiun</strong>. Padahal, selama ini potongan gaji kita sudah diambil untuk Jaminan Hari Tua (JHT) msupun BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan.</p>



<p>Jangan lupakan kalau <strong>Pajak Pertambahan Negara (PPN) akan bertambah menjadi 12%</strong> mulai bulan Januari 2025 dengan alasan &#8220;masyarakat menyetujui keberlanjutan.&#8221; Padahal, PPN baru naik pada tahun 2022 lalu dari 10% menjadi 11% yang sudah cukup memberatkan.</p>



<p>Jangan lupa ada wacana <strong><a href="https://whathefan.com/politik-negara/menyorot-kebijakan-pemerintah-yang-makin-ke-sini-makin-ke-sana/">potongan untuk Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) sebesar 3%</a></strong> yang dikabarkan akan diberlakukan mulai tahun 2027. Ingat, tidak semua yang membayar iuran Tapera bisa menggunakan uangnya untuk membeli rumah!</p>



<p>Belum lagi harga sembako yang konsisten naik, harga rumah yang terus meroket, biaya pendidikan semakin mahal, membuat kehidupan kaum menengah menjadi semakin sulit dan seolah tidak menjadi perhatian pemerintah. Kita seolah disuruh terus berjuang sendirian.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Negara yang Seolah Tak Memedulikan Kelas Menengah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7893" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/09/kelas-menengah-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pembangunan IKN yang Megah di Tengah Susahnya Masyarakat (<a href="https://www.nowjakarta.co.id/from-fantasy-to-fact-the-making-of-the-new-capital-ikn/">NOW! Jakarta</a>)</figcaption></figure>



<p>Kesannya, <strong>negara sedang memalak rakyatnya sendiri </strong>karena butuh dana tambahan untuk mendanai proyek-proyek mercusuarnya seperti pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Belum lagi jika nanti program makan siang gratis benar-benar diberlakukan, yang pastinya akan memakan anggaran lebih besar lagi.</p>



<p>Mau berjuang untuk bertahan hidup pun tak mudah karena<strong> lapangan pekerjaan rasanya semakin sulit untuk diraih</strong>. Jumlah lowongan yang tersedia tak sebanding dengan jumlah calon pekerja yang membutuhkan pekerjaan. Entah ke mana 10 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan 10 tahun yang lalu.</p>



<p>Bukannya bertambah, <strong>beberapa sektor industri justru harus melakukan pengurangan jumlah karyawan</strong> dengan melakukan PHK. Penulis mengalami sendiri hal ini di tempatnya kerja, di mana ada pengurangan karyawan dengan tujuan efisiensi biaya.</p>



<p>Padahal di satu sisi, katanya negara sedang <a href="https://whathefan.com/politik-negara/memahami-apa-itu-hilirisasi-secara-sederhana-melalui-tropico-6/">menggalakkan hiliriasi sumber daya</a> kita untuk kemakmuran rakyatnya. Kita bisa melihat bagaimana program ini begitu dibangga-banggakan ketika debat calon presiden dan wakil presiden kemarin.</p>



<p>Namun, <strong>mengapa hingga hari ini kita belum merasakan dampaknya secara langsung? </strong>Apakah memang program tersebut hanya untuk kemakmuran rakyat tertentu saja? Jika disuruh bersabar karena masih proses, mau disuruh bersabar sampai kapan?</p>



<p>Pemberian bantuan sosial (bansos) hanya berlaku untuk masyarakat miskin. Namun, itu pun bukan solusi terbaik untuk mengentaskan kemiskinan. Apalagi, kelas menengah sama sekali dianggap tidak layak untuk mendapatkan bantuan walaupun sebenarnya kita masih membutuhkannya.</p>



<p>Seharusnya, pemerintah mampu memberikan solusi jangka panjang untuk mengatasi kemiskinan struktural seperti ini agar jumlah tidak bertambah setiap tahunnya. Memberi kail dan jala pada rakyatnya, bukan sekadar ikan yang langsung dimakan.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><strong>Kelas menengah adalah salah satu penggerak roda perekomian negara</strong>. Menurunnya jumlah masyarakat kelas menengah biasanya dibarengi dengan penurunan daya beli masyarakat, yang tentunya akan memacetkan roda perekonomian.</p>



<p>Gaji kita dipotong untuk ini itu setiap bulannya, walau memang harus diakui ada yang manfaatnya bisa langsung kita rasakan seperti BPJS Kesehatan. Hampir semua barang yang kita beli dikenai pajak, hingga muncul anekdot kalau suatu saat menghirup oksigen pun akan dikenai pajak.</p>



<p>Masyarakat menengah dianggap tidak berhak untuk mendapatkan subsidi, padahal kita butuh berhemat karena gaji yang pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masyarakat menengah dianggap mampu berdikari di tengah kebijakan pemerintah yang makin menekan.</p>



<p>Jika kelas menengah terus diperah bagaikan sapi seperti ini, bukan tidak mungkin kalau masalah perekonomian negara kita akan semakin berat dan kesenjangan antara si kaya dan si miskin pun semakin lebar di masa depan. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 17 September 2024, terinspirasi setelah dirinya merasa makin tergencet dengan berbagai keputusan dari pemerintah</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.thejakartapost.com/opinion/2024/03/28/the-struggling-middle-class.html">The Jakarta Post</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/c9dy1plgv80o">Kelas Menengah Kian Terimpit Beban Ekonomi &#8211; BBC</a></li>



<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/market/20240916164607-17-572164/kelas-menengah-ri-hidupnya-makin-susah-buktinya-ada-di-qris#:~:text=Berdasarkan%20catatan%20Badan%20Pusat%20Statistik,kelas%20menengah%20yang%20turun%20kelas.'">Kelas Menengah RI Hidupnya Makin Susah Buktinya Ada di QRIS &#8211; CNBC</a></li>



<li><a href="https://ekonomi.bisnis.com/read/20240917/9/1800165/masyarakat-kelas-menengah-turun-kasta-ketahanan-ekonomi-ri-jadi-taruhan">Masyarakat Kelas Menengah Turun Kasta, Ketahanan Ekonomi RI Jadi Taruhan &#8211; Bisnis.com</a></li>



<li><a href="https://nasional.kontan.co.id/news/jumlah-kelas-menengah-diprediksi-turun-2-pada-2025">Jumlah Kelas Menengah Diprediksi Turun 2% pada 2025 &#8211; Kontan</a></li>



<li><a href="https://malang.viva.co.id/ekonomi/7162-kelas-menengah-di-indonesia-tantangan-ekonomi-dan-upaya-pulihkan-potensinya">Kelas Menengah di Indonesia, Tantangan Ekonomi dan Upaya Pulihkan Potensinya &#8211; VIVA Malang</a></li>



<li><a href="https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7540379/pakar-unair-buka-bukaan-alasan-jumlah-kelas-menengah-indonesia-turun">Pakar Unair Buka-bukaan Alasan Jumlah Kelas Menengah Indonesia Turun</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/malangnya-jadi-masyarakat-menengah-yang-terus-digencet/">Malangnya Jadi Masyarakat Kelas Menengah yang Terus Digencet</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/malangnya-jadi-masyarakat-menengah-yang-terus-digencet/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 May 2022 13:45:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[fanatisme]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[parasosial]]></category>
		<category><![CDATA[penggemar]]></category>
		<category><![CDATA[Safa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5714</guid>

					<description><![CDATA[<p>Baru-baru ini, ada kejadian yang sedang ramai diperbincangkan di Twitter. Mungkin Pembaca juga sudah tahu mengenai kasus Safa yang &#8220;disidang&#8221; secara daring di Space Twitter akibat ulahnya yang melakukan hate speech kepada member boyband asal Korea, NCT. Kasus ini sempat membuatnya menjadi trending topic di internet. Bahkan, beberapa public figure sudah membuat semacam video reaction [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/">Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Baru-baru ini, ada kejadian yang sedang ramai diperbincangkan di Twitter. Mungkin Pembaca juga sudah tahu mengenai kasus Safa yang &#8220;disidang&#8221; secara daring di Space Twitter akibat ulahnya yang melakukan <em>hate speech </em>kepada <em>member boyband </em>asal Korea, NCT.</p>



<p>Kasus ini sempat membuatnya menjadi <em>trending topic </em>di internet. Bahkan, beberapa <em>public figure </em>sudah membuat semacam video <em>reaction </em>yang menyoroti betapa &#8220;uniknya&#8221; kasus ini di mata mereka dan menunjukkan betapa <em>gregetan-</em>nya<em> </em>mereka.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin mencoba menjabarkan akar permasalahan ini sekaligus mencoba untuk mencari hikmah apa yang bisa kita dapatkan dari perisitiwa yang bagi sebagian orang dianggap konyol dan norak ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Rangkuman Kasus Safa di Twitter</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5719" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Safa Space (via <a href="https://www.youtube.com/watch?v=t6axA96UujU">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Safa merupakan <em><strong>solostan</strong></em>, istilah untuk menyebutkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/">penggemar yang hanya mengidolakan salah satu <em>member </em>dari sebuah kelompok</a>. Nah, ia pun melancarkan <em>hate speech </em>ke <em>member </em>NCT lain yang tidak ia idolakan, bahkan menggunakan istilah-istilah yang sangat buruk.</p>



<p>Nah, para penggemar <em>member </em>yang dihina dan <em>fans </em>NCT secara umum merasa gerah dengan perbuatan Safa ini. Jika <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/cari-perhatian-di-media-sosial/">mengamati media sosial</a>, Safa sebenarnya sempat ditegur secara personal, tetapi tidak ada perubahan dan ia tetap mengeluarkan <em>hate speech</em>.</p>



<p>Alhasil, akhirnya dibentuklah Space tersebut dengan Safa sebagai &#8220;tertuduh&#8221; utama. Entah berapa orang yang ikut menyidang Safa pada momen tersebut. Sampai di titik ini, kita masih bisa melihat kewajaran mengapa Safa sampai terseret kasus ini.</p>



<p>Safa dituntut untuk membuat surat pernyataan minta maaf di atas materai dan ditandatangani orang tua, serta membuat semacam video klarifikasi. Hal ini ditolak Safa karena dianggap melanggar privasinya. Penolakan inilah yang menjadi <em>trigger</em> kemarahan orang-orang yang berada di dalam Space tersebut. </p>



<p>Bahkan, ada satu orang yang menggunakan semacam <em>power abuse </em>untuk mengintimidasi Safa dengan menyebutkan berbagai anggota keluarga dan kenalannya yang memiliki pengaruh, mulai kader Golkar sampai anggota tentara dan kepolisian.</p>



<p>Tidak hanya itu, ia juga memberikan ancaman kalau dirinya bisa membuat ayah Safa, yang juga merupakan polisi, untuk dimutasi atau diturunkan pangkatnya. Ia juga menyebutkan bahwa dirinya akan membawa kasus ini ke ranah hukum dengan dasar UU ITE.</p>



<p><strong>Iya, Safa diancam akan dibawa ke kepolisian &#8220;hanya&#8221; karena menghina <em>idol </em>Korea yang bahkan tidak tahu kalau mereka eksis di dunia ini.</strong></p>



<p>Ancaman memidanakan Safa tidak hanya dilakukan oleh mbak-mbak berusia 29 tahun dan aktivis HAM ini, melainkan dilakukan oleh anggota Space yang lain juga. Bahkan, ada yang mengaku sebagai &#8220;emaknya&#8221; atau perwakilan dari anggota NCT.</p>



<p>Menghadapi serangan dari berbagai arah, Safa terlihat mampu mengendalikan diri dan tidak kalah begitu saja. Ia mengakui perbuatan salahnya, tetapi ia menganggap memperkarakan ini hanya akan ditertawakan oleh pihak yang berwajib.</p>



<p>Penulis kurang tahu pasti bagaimana <em>ending </em>dari Space tersebut. Penulis sempat membaca kalau Space tersebut ditutup ketika Safa bertanya apa kesimpulan dari diskusi tersebut karena ia harus mengerjakan tugasnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Fanatisme Idola</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5721" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Begitu Fanatik kepada Idola (via <a href="https://www.thestar.com.my/tech/tech-news/2021/08/10/indonesia-country-with-most-k-pop-fans-and-most-tweets-about-it">The Star</a>)</figcaption></figure>



<p>Kebanyakan netizen pun berpendapat bahwa apa yang dilakukan orang-orang di dalam Space tersebut sangat berlebihan. Sebegitu hebatnya mereka membela <em>idol </em>mereka hingga rasanya bagi kita mereka begitu aneh dan norak.</p>



<p>Melihat kasus tersebut, tentu banyak orang (termasuk Penulis) yang menganggapnya sebagai sebuah fanatisme. Apalagi, ini menyangkut tentang penggemar K-Pop yang sudah kadung dicap publik sebagai kalangan penggemar yang paling &#8220;keras&#8221; dan tidak bisa disenggol.</p>



<p>Sebenarnya, fanatisme terhadap seorang idola tidak hanya terlihat dari penggemar K-Pop. Fanatisme seseorang juga bisa terjadi kepada sosok politik, klub bola, karakter anime, aktor film, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Bahkan, terkadang fanatisme terhadap hal-hal tersebut telah memberikan dampak yang lebih parah daripada menyidang Safa di Twitter. Contoh, suami-istri yang cerai karena beda pilihan calon presiden atau kematian akibat perkelahian antarklub sepak bola.</p>



<p>Penulis merasa penasaran dengan adanya fenomena fantisme yang berlebihan ini, sehingga memutuskan untuk bertanya kepada seorang kawan (sebut saja Naufal) yang Penulis anggap cukup &#8220;ahli&#8221; dalam memberikan pendapat dalam kasus-kasus seperti ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Hyperreality dan Hubungan Parasosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5720" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/05/safa-fanatisme-idol-dan-hubungan-parasosial-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Istilah Halus untuk Menggambarkan Halu? (via <a href="https://www.verywellmind.com/parasocial-relationships-covid-5218827">Verywell Mind</a>)</figcaption></figure>



<p>Menurutnya, kita sekarang tengah berada di tengah kondisi <em><strong>hyperreality</strong></em>, sebuah konsep yang diajukan oleh <strong>Jean Baudrillard</strong>, di mana <strong>manusia semakin kesulitan untuk membedakan mana realita mana yang bukan</strong>.</p>



<p>Di era <em>postmodern </em>seperti sekarang, kondisi ini semakin menjadi-jadi berkat &#8220;dukungan&#8221; dari media, teknologi, media sosial, dan lain-lain. Idola yang dulu rasanya jauh, kini terasa dekat seolah mereka benar-benar menjadi bagian dari kehidupan kita secara nyata.</p>



<p>Penggemar yang awalnya hanya mengagumi idola dan karyanya pun berevolusi: Mereka jadi ingin memiliki hubungan yang dekat dengan idola. Ini memunculkan sebuah fenomena lain yang disebut sebagai<strong> <em>parasocial relantionship</em></strong><em> </em>atau hubungan parasosial. </p>



<p>Tambah kawan Penulis, hubungan parasosial ini membuat para penggemar ingin di-<em>notice </em>oleh idolanya. Karena tahu akan sulit, mereka pun menggunakan berbagai cara, bahkan kadang dengan cara yang ekstrem seperti yang dilakukan oleh <em>sasaeng</em>.</p>



<p>Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Space Safa sebenarnya &#8220;lumrah&#8221; dilakukan di era <em>hyperreality </em>seperti sekarang. Mungkin, karena dilakukan di media sosial-lah yang membuatnya jadi banyak disorot oleh publik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Dari kasus Safa setidaknya kita bisa belajar dua hal: <strong>Jangan melakukan <em>hate speech</em></strong><em> </em>dan <strong>jangan menjadi penggemar yang fanatik</strong>. Apa yang dilakukan oleh Safa memang tidak bisa dibenarkan, tapi apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Space tersebut juga salah.</p>



<p>Di era di mana batas antara mana yang nyata dan tidak semakin tipis seperti sekarang, kita harus bisa menempatkan diri dengan baik. Jangan sampai kita kerap susah membedakan mana yang sungguh-sungguh terjadi mana yang tidak.</p>



<p>Peristiwa yang sebenarnya tak terlalu penting ini ternyata mampu memberi kita pelajaran yang begitu berarti, sekaligus menjadi sebuah peningkatan bahwa apapun yang berlebihan tak pernah berakhir dengan baik.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 29 Mei 2022, terinspirasi setelah membaca &#8220;drama&#8221; mengenai Safa di Twitter satu minggu yang lalu</p>



<p>Foto Banner: <a href="https://kpop.fandom.com/wiki/NCT">Kpop Wiki &#8211; Fandom</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Hyperreality#cite_note-12">Hyperreality &#8211; Wikipedia</a></li><li><a href="https://twitter.com/badutkenyal/status/1526984679504879616">Twitter: &#8220;Kumpulan space safa, karna perlu dikenang dalam sejarah: A thread🙏🏼&#8221; / Twitter</a></li><li><a href="https://www.instagram.com/p/Cdx3On0Bhkp/">Satu Persen &#8211; Indonesian Life School (@satupersenofficial) • Instagram photos and videos</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/">Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NFT oh NFT&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Jan 2022 04:02:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[blockchain]]></category>
		<category><![CDATA[cryptocurrency]]></category>
		<category><![CDATA[Ghazali Everyday]]></category>
		<category><![CDATA[latah]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[NFT]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5573</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seminggu terakhir, media ramai-ramai mengangkat mengenai fenomena miliarder dadakan yang dialami oleh seorang pemuda bernama Ghozali berkat foto selfie-nya yang menjadi sebuah NFT. Sontak, masyarakat kita pun berbondong-bondong mengikuti jejaknya dengan membuat NFT-nya sendiri. Parahnya, mereka menggunakan foto-foto yang tidak patut, seperti foto tidak senonoh, foto public figure, hingga foto KTP mereka. Hal ini seolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/">NFT oh NFT&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Seminggu terakhir, media ramai-ramai mengangkat mengenai fenomena miliarder dadakan yang dialami oleh seorang pemuda bernama Ghozali berkat foto <em>selfie</em>-nya yang menjadi sebuah NFT.</p>



<p>Sontak, masyarakat kita pun berbondong-bondong mengikuti jejaknya dengan membuat NFT-nya sendiri. Parahnya, mereka menggunakan foto-foto yang tidak patut, seperti foto tidak senonoh, foto <em>public figure</em>, hingga foto KTP mereka.</p>



<p>Hal ini seolah menegaskan penyakit lama yang sudah lama diidap oleh masyarakat kita: <strong>Latah</strong>.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu NFT?</h2>



<p>Kebetulan, di tempat kerja Penulis sudah pernah membuat artikel yang cukup mendalam mengenai apa itu NFT. Para pembaca bisa membacanya melalui tautan di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="l08j3BddtS"><a href="https://www.upstation.asia/semua-yang-perlu-kamu-ketahui-tentang-nft/">Semua yang Perlu Kamu Ketahui tentang NFT</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Semua yang Perlu Kamu Ketahui tentang NFT&#8221; &#8212; UP Station" src="https://www.upstation.asia/semua-yang-perlu-kamu-ketahui-tentang-nft/embed/#?secret=l08j3BddtS" data-secret="l08j3BddtS" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Singkatnya, NFT merupakan kependekan dari <em><strong>non-fungiable token</strong> </em>atau aset yang tak dapat dipertukarkan. Artinya, setiap NFT memiliki keunikan dan hanya bisa dimiliki oleh satu orang. Meskipun dapat disalin sebanyak mungkin, yang asli tetap hanya ada satu.</p>



<p>NFT disimpan di <em>blockchain</em>, sama seperti <em>cryptocurrency</em>. Semua informasi yang terkait dengan NFT tersimpan di <em>blockchain </em>tersebut, termasuk kepemilikan NFT. Hingga saat ini, NFT selalu berupa <em>file </em>digital, di mana mayoritas berupa gambar.</p>



<p>Ghozali bisa mendapatkan banyak uang karena foto <em>selfie</em>-nya yang diambil selama lima tahun dihargai mahal oleh orang-orang. <em>Unique value</em> NFT-nya terletak pada ketekunannya dalam mengambil foto <em>selfie</em>.</p>



<p>Dalam membeli sebuah NFT, orang-orang menggunakan <em>cryptocurrency</em>. Misalnya di platform OpenSea, kebanyakan akan melakukan transaksi menggunakan <em>cryptocurrency </em>bernama Ethereum, di mana satu Ethereum bisa bernilai puluhan juta.</p>



<p>Permasalahan kita sebagai orang Indonesia adalah, banyak yang asal latah mengikuti Ghazali tanpa merasa perlu belajar apa itu NFT dan apa itu <em>cryptocurrency</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penyakit Latah Masyarakat Indonesia</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5574" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Berebut Atensi dengan Trending (<a href="https://socialpubli.com/blog/how-to-be-trending-topic-on-twitter/">Social Publi Blog</a>)</figcaption></figure>



<p>Permasalahan latah ini sebenarnya telah lama menjangkiti kita. Apa yang sedang <em>trending</em>, diikuti begitu saja tanpa mencari tahu mengapa hal tersebut menjadi <em>trending </em>ataukah hal tersebut layak menjadi sesuatu yang <em>trending</em>. <strong>Semua seolah berebut atensi publik</strong>.</p>



<p>Dalam hal ini, kita tentu saja tergiur dengan fenomena yang dialami oleh Ghozali. Siapa yang tidak mau mendapatkan uang banyak dalam sekejap, apalagi dengan cara yang tidak melanggar hukum?</p>



<p>Hanya saja, langsung terjun tanpa mengetahui dengan jelas apa itu NFT, <em>blockchain</em>, dan <em>cryptocurrency </em>jelas salah. Buktinya sudah terlihat, di mana banyak orang yang asal menaruh sebuah foto dengan harapan ada orang &#8220;kelebihan uang&#8221; yang tertarik dengan foto tersebut.</p>



<p>Padahal, <em>file </em>yang sudah disimpan dalam teknologi <em>blockchain</em> tidak akan bisa dihapus, termasuk oleh pemiliknya sekalipun. Jika kita mengunggah foto di Instagram, lantas menuai kontroversi, kita bisa menghapusnya. Di <em>blockchain</em>, kita tidak bisa melakukannya.</p>



<p>Artinya, segala foto tidak senonoh maupun foto KTP yang sudah diunggah ke <em>blockchain </em>akan bertahan di sana selamanya, mungkin sampai kiamat. Bisa dibayangkan, bagaimana foto-foto tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sebenarnya tidak ada salahnya mengikuti jejak Ghazali, asal dengan cara yang baik dan benar. Ia bisa kaya &#8220;hanya&#8221; bermodal foto <em>selfie </em>karena dia autentik dan rasanya orang lain tidak akan bisa mengikuti jejaknya.</p>



<p>Kalai kita memiliki sebuah karya seni digital yang dirasa cukup bernilai, tidak ada salahnya untuk mencoba menjualnya di berbagai platform NFT. Siapa tahu, ada orang yang menganggap karya seni tersebut layak untuk dikoleksi.</p>



<p>Entah bagaimana cara mengobati penyakit latah yang sudah lama menjangkiti kita ini. Mungkin kita bisa mulai dari diri kita sendiri dulu untuk bisa belajar kritis dari setiap fenomena yang ada. Jangan hanya sekadar ikut-ikutan saja.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 23 Januari 2022, terinspirasi setelah adanya fenomena Ghazali Everyday</p>



<p>Foto: <a href="https://opensea.io/collection/ghozali-everyday">OpenSea</a></p>



<p> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/">NFT oh NFT&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbincang Sedikit tentang Close Friend</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2021 03:33:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cepu]]></category>
		<category><![CDATA[Close Friend]]></category>
		<category><![CDATA[Instagram]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[privasi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5142</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah agak lama tidak membuka Twitter. Entah mengapa rasanya ingin sedikit menjauh dari media sosial yang terkenal karena &#8220;drama&#8221;-nya itu. Sesekali Penulis mengecek ala kadarnya, mungkin hanya sekitar 5-10 saja. Twitter juga masih Penulis manfaatkan untuk share artikel blog yang terbaru. Nah, kok ya pas kemarin cek Twitter muncul berita trending tentang seorang public [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/">Berbincang Sedikit tentang Close Friend</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis sudah agak lama tidak membuka Twitter. Entah mengapa rasanya ingin sedikit menjauh dari media sosial yang terkenal karena &#8220;drama&#8221;-nya itu.</p>



<p>Sesekali Penulis mengecek ala kadarnya, mungkin hanya sekitar 5-10 saja. Twitter juga masih Penulis manfaatkan untuk <em>share </em>artikel blog yang terbaru.</p>



<p>Nah, kok ya pas kemarin cek Twitter muncul berita <em>trending</em> tentang seorang <em>public figure </em>yang ketahuan bertindak kurang pantas untuk kedua kalinya.</p>



<p>Penulis sebenarnya merasa <em>bodo amat </em>karena merasa kejadian tersebut bukan urusannya, walaupun timbul perasaan khawatir kalau perbuatan tersebut ditiru oleh anak-anak muda.</p>



<p>Hanya saja, ada satu hal lain yang menarik perhatian Penulis, yakni fitur <em><strong>Close Friend</strong></em> yang dimiliki oleh Instagram.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Fitur <em>Close Friend </em>dari Instagram</h2>



<p>Kalau tidak salah, fitur <em><strong>Close</strong> <strong>Friend </strong></em>dihadirkan oleh Instagram pada tahun 2018. Tujuannya adalah untuk melabeli orang-orang tertentu sebagai &#8220;teman dekat&#8221; kita di Instagram.</p>



<p>Ketika membuat <em>story</em>, kita bisa memilih untuk memublikasikannya kepada khalayak umum atau orang-orang yang berada di daftar <em>Close Friend </em>ini.</p>



<p>Semenjak menggunakan Instagram hingga sekarang, Penulis tidak pernah menggunakan fitur <em>Close Friend</em>. Bukan karena tidak punya teman dekat, melainkan karena merasa tidak perlu saja.</p>



<p>Mungkin fitur ini dibutuhkan oleh orang-orang yang <em>followers</em>-nya banyak. Kadang, ada beberapa momen yang hanya ingin dibagikan kepada orang-orang tertentu karena berbagai alasan.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis merasa tersanjung apabila ada temannya yang memasukkan Penulis sebagai <em>Close Friend-</em>nya. Artinya, teman tersebut percaya atau ingin berbagi momennya dengan Penulis.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>Close Friend </em>yang Tidak Benar-Benar <em>Close</em></h2>



<p>Satu hal yang membuat heboh kasus si <em>public figure </em>adalah karena <em>Story</em>-nya dibocorkan oleh salah satu (atau mungkin lebih) teman yang ia masukkan ke dalam <em>Close Friend</em>-nya.</p>



<p>Akibatnya, hal yang ia ingin bagi ke <em>circle </em>tertentu harus bocor ke masyarakat umum dan ia harus kembali menerima hujatan dari masyarakat. Ada sih yang memberi dukungan. Maklum, <em>good-looking privilege</em>.</p>



<p>Karena kejadian ini, banyak yang memelintir <em>Close Friend </em>menjadi <em><strong>Cepu Friend</strong></em>, termasuk <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a> melalui akun Twitter pribadinya. </p>



<p>Buat yang belum tahu, <em>cepu </em>adalah istilah untuk menyebut orang yang tidak bisa menjaga rahasia atau informasi yang dipercayakan kepadanya. <em>Cepu Friend </em>berarti teman yang tidak bisa menjaga rahasia.</p>



<p>Kejadian ini pun membuat kita berpikir, apakah fitur <em>Close Friend </em>benar-benar <em>close </em>dan bisa dipercaya? Mungkin kita saja yang harus memilihnya secara lebih cermat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memang Tidak Semuanya Harus Dibagi, Termasuk ke <em>Close Friend</em></h2>



<p>Di era keterbukaan seperti sekarang, membagikan momen-momen yang sedang dilalui memang sudah menjadi hal yang wajar. Hanya saja, tetap ada batasan-batasan yang sebaiknya tidak dilanggar.</p>



<p>Apalagi, kita bukan tinggal di negara bebas. Jika dianggap melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat, pasti ada <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">penghakiman</a> yang seringnya dalam bentuk <em>nyinyiran</em>.</p>



<p>Bisa berbagi momen bukan berarti semuanya harus dibagi. <a href="https://whathefan.com/rasa/ternyata-tidak-semua-yang-dirasa-harus-diungkapkan/">Tetap ada beberapa hal yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri</a>, apalagi sesuatu yang bisa menghebohkan, meresahkan, atau membuat risih orang lain.</p>



<p>Memang, makin banyak <em>public figure </em>yang mengumbar area privasi mereka demi popularitas. Biarkan saja, tidak usah pedulikan, masih banyak hal yang perlu kita lakukan selain berperan dalam melambungkan nama mereka.</p>



<p>Berbeda dengan cerita di novel <em>The Circle</em>, privasi bukanlah pelanggaran di dunia nyata. Kita semua tetap membutuhkan privasi dari pihak manapun, termasuk dari <em>Close Friend </em>sekalipun.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 31 Juli 2021, terinspirasi dari <em>trending</em>-nya seorang <em>public figure </em>karena skandalnya</p>



<p>Foto: <em><a href="https://www.theverge.com/2020/2/5/21124269/instagram-close-friends-how-to-add-threads-app-stories">The Verge</a></em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/">Berbincang Sedikit tentang Close Friend</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-sedikit-tentang-close-friend/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tumpang Tindih Regulasi Mudik</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 May 2021 08:55:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan]]></category>
		<category><![CDATA[regulasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4955</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lebaran tinggal menghitung hari lagi. Sama seperti tahun kemarin, pemerintah mengeluarkan regulasi yang intinya melarang mudik. Alasannya sama, untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19. Masyarakat tentu bergejolak dengan adanya aturan ini. Ada yang menerima, ada juga yang tetap bersikeras mudik demi bisa bertemu dengan sanak keluarga yang sudah lama tidak ditemui. Pemerintah tak kalah keras menghadapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/">Tumpang Tindih Regulasi Mudik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lebaran tinggal menghitung hari lagi. Sama seperti tahun kemarin, pemerintah mengeluarkan regulasi yang intinya melarang mudik. Alasannya sama, untuk mengurangi <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">penyebaran virus Covid-19</a>.</p>



<p>Masyarakat tentu bergejolak dengan adanya aturan ini. Ada yang menerima, ada juga yang tetap bersikeras mudik demi bisa bertemu dengan sanak keluarga yang sudah lama tidak ditemui.</p>



<p>Pemerintah tak kalah keras menghadapi perlawanan ini. Dikerahkan banyak petugas di berbagai titik, termasuk jalan tikus yang tidak diketahui banyak orang. Entah sudah berapa orang yang harus rela putar balik karena dicegat oleh petugas.</p>



<p>Masalahnya, di lapangan terjadi tumpang tindih regulasi yang membuat masyarakat bingung dan kesal.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Petugas pun Bingung</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4959" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Arief Wismansyah (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210507132228-20-639928/wali-kota-tangerang-bingung-larangan-mudik-berubah-ubah">CNN Indonesia</a>)</figcaption></figure>



<p>Regulasi mudik ini membingungkan masyarakat. Awalnya, mudik lokal dibolehkan. Tidak lama diumumkan, ternyata dilarang juga. Ada juga istilah mudik di wilayah aglomerasi yang entah apa maksudnya, tarik ulur juga. Diizinkan, terus dilarang.</p>



<p>Kok masyarakat, <em>mong </em>pelaksananya aja juga ikut bingung. Ambil contoh pernyataan dari Wali Kota Tangerang, <strong>Arief Wismansyah</strong>. Ia menyatakan dalam rapat bersama Menteri Dalam Negeri, mudik di wilayah aglomerasi diperbolehkan. Eh, ternyata sekarang dilarang. </p>



<p>Orang-orang yang di lapangan pun menjadi bingung untuk menegakkan aturan. Apalagi, orang-orang di wilayah Jabodetabek sudah biasa berseliweran antara wilayah, entah sekadar cari makan ataupun berangkat kerja.</p>



<p>Tentu petugas di lapangan akan kesulitan mana yang pemudik dan mana yang bukan pemudik. Dari barang bawaan? Bisa jadi, tapi bisa saja ada pemudik yang sengaja tidak membawa barang agar tidak disuruh putar balik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mudik No, Wisata Yes</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4958" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Gibran Rakabuming (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://regional.kompas.com/read/2021/05/06/195936778/gibran-larang-pemudik-masuk-solo-tetapi-izinkan-wisatawan-dari-jakarta?page=all">Kompas Regional</a>)</figcaption></figure>



<p>Yang membuat <em>gregetan</em>, tempat wisata dan belanja dibuka dengan alasan ekonomi. Padahal, tingkat kerumunan yang bisa ditimbulkan lebih besar jika dibandingkan kita yang pulang ke rumah orangtua.</p>



<p>Mungkin orang yang paling kena sorot masyarakat atas keputusan ini adalah walikota Solo, <strong>Gibran Rakabuming</strong>. Ia melarang orang-orang mudik ke Solo, tapi mengizinkan orang yang pergi dengan tujuan berwisata.</p>



<p>Memang ada berbagai persyaratan agar masyarakat bisa berwisata ke Solo. Tempat wisata juga cuma boleh menampung 50% kapasitas bla bla bla. Pembaca bisa membaca keterangan selengkapnya melalui tautan yang ada di bawah.</p>



<p>Lah, kalau begitu kenapa persyaratan yang sama tidak diberlakukan untuk masyarakat yang hendak mudik? Memangnya virus Corona alergi masuk ke tempat wisata sehingga yang pergi ke sana pasti tidak tertular dan menularkan?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Gelombang WNA di Bandara</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4957" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>WNA China (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-011325429/153-warga-china-tiba-di-tanah-air-saat-larangan-wna-masuk-indonesia-masih-berlaku-pihak-imigrasi-buka-suara">Pikiran Rakyat</a>)</figcaption></figure>



<p>Di tengah-tengah kesedihan masyarakat yang tidak bisa mudik, eh muncul berita tentang masuknya warga negara asing (WNA). Awalnya ada <strong>153 WNA India</strong> yang masuk ke Indonesia. Hal ini jelas menggemparkan karena India tengah diterjang gelombang Tsunami Corona yang parah.</p>



<p>Terlepas dari apapun alasan mereka bisa masuk, jelas pemerintah lengah dan kurang antisipatif. Terbukti, ada <strong>49 WNA India yang positif Corona</strong>. Bukan tidak mungkin virus yang mereka bawa merupakan varian virus yang baru.</p>



<p>Masih belum reda berita itu, ada lagi berita kalau <strong>WNA China</strong> masuk ke Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai <strong>157 orang</strong>. Pemerintah pun mengeluarkan klarifikasi kalau mereka semua telah memiliki izin dan kedatangan mereka untuk bekerja dan bla bla bla.</p>



<p>Mau apapun alasannya, kedatangan WNA di tengah-tengah keprihatinan masyarakat yang dilarang mudik jelas terasa tidak adil dan menyakitkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Terlepas dari <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">polarisasi masyarakat</a> yang percaya adanya Covid-19 atau tidak, pemerintah harusnya bisa lebih tegas dalam menangani masalah mudik tahun ini. Jika memang dilarang, terapkan aturan dengan tegas dan jangan <em>mencla-mencle</em>.</p>



<p>Kalau memang ada larangan orang masuk ke wilayah mereka, pukul rata untuk semua orang. Jangan yang mudik dilarang, tapi yang hendak berwisata dipersilakan. Jangan orang asing boleh masuk, tapi orang lokal dilarang.</p>



<p>Akibatnya, tumpang tindih regulasi mudik yang ada menyebabkan kebingungan tidak hanya bagi masyarakat, tapi juga bagi petugas di lapangan. Kalau sudah begini, yang susah kan jadi banyak pihak.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 9 Mei 2021, terinspirasi setelah melihat tumpang tindihnya aturan terkait mudik yang membuat masyarakat merasa bingung sekaligus jengkel</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://indonesia.go.id/kategori/kependudukan/1791/ketentuan-larangan-mudik-dan-pembatasan-transportasi">Portal Informasi Indonesia</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://megapolitan.kompas.com/read/2021/05/08/06593351/larangan-mudik-lokal-jabodetabek-warga-dan-pemerintah-daerah-sama-sama?page=all">Larangan Mudik Lokal Jabodetabek: Warga dan Pemerintah Daerah Sama-sama Bingung Halaman all &#8211; Kompas.com</a></li><li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20210506143553-4-243770/se-wali-kota-gibran-dilarang-mudik-ke-solo-liburan-boleh">SE Wali Kota Gibran: Dilarang Mudik ke Solo, Liburan Boleh (cnbcindonesia.com)</a></li><li><a href="https://metro.tempo.co/read/1455859/heboh-153-wna-india-masuk-indonesia-pangdam-jaya-12-positif-covid-19/full&amp;view=ok">Heboh 153 WNA India Masuk Indonesia, Pangdam Jaya: 12 Positif Covid-19 &#8211; Metro Tempo.co</a></li><li><a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5558671/bertambah-dari-ratusan-wn-india-yang-masuk-ri-49-di-antaranya-positif-corona">Bertambah! Dari Ratusan WN India yang Masuk RI, 49 di Antaranya Positif Corona (detik.com)</a></li><li><a href="https://nasional.kompas.com/read/2021/05/09/12292571/157-wna-china-masuk-indonesia-begini-kata-kemenkumham">157 WNA China Masuk Indonesia, Begini Kata Kemenkumham (kompas.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/">Tumpang Tindih Regulasi Mudik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2021 03:57:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[daring]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[kode etik]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4250</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelumnya Penulis ingin mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya terhadap korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ-182. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran atas musibah yang tengah melanda mereka. Setiap ada berita pesawat jatuh, suasana duka pasti langsung menyelimuti negeri ini. Tak terbayangkan betapa ngerinya suasana kabin pesawat sesaat sebelum jatuh. Membayangkan berada di posisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/">Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya Penulis ingin mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya terhadap korban jatuhnya pesawat <strong>Sriwijaya Air</strong> dengan kode penerbangan <strong>SJ-182</strong>. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran atas musibah yang tengah melanda mereka.</p>
<p>Setiap ada berita pesawat jatuh, suasana duka pasti langsung menyelimuti negeri ini. Tak terbayangkan betapa ngerinya suasana kabin pesawat sesaat sebelum jatuh.</p>
<p>Membayangkan berada di posisi keluarga korban, terasa begitu pedih rasanya kehilangan orang-orang tersayang secara tragis. Al Fatihah untuk para korban.</p>
<p>Sayangnya, ada saja hal-hal yang membuat kita mengelus dada. Salah satunya adalah judul-judul berita <em>click-bait </em>yang tidak berempati dan melanggar privasi.</p>
<h3>Memudarnya Etika Jurnalistik</h3>
<p><div id="attachment_4252" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4252" class="size-large wp-image-4252" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4252" class="wp-caption-text">Memudarnya Etik Jurnalistik (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@climatereality">The Climate Reality Project</a>)</p></div></p>
<p>Penulis tidak hafal dengan yang namanya <strong>kode etik jurnalistik</strong>. Penulis hanya pernah membaca rangkuman singkatnya.</p>
<p>Walaupun begitu, tanpa mengetahui pasal per pasal yang ada di dalam kode etik jurnalistik, Penulis bisa berpendapat kalau media-media sekarang kerap melakukan hal yang tidak etis dalam memberitakan suatu kejadian, termasuk tragedi sekali pun.</p>
<p>Penulis ambil contoh dari peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air ini. Sangat wajar dan memang dibutuhkan informasi terkait pesawat tersebut, terutama di mana lokasi pesawat jatuh dan bagaimana kondisi korban.</p>
<p>Yang membuat banyak geram, ada saja media yang membuat judul seperti:</p>
<p><em>&#8220;Ini firasat keluarga korban sebelum jatuhnya pesawat&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini gaji pilot pesawat yang menerbangkan pesawat&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini ramalan yang menyatakan tahun 2021 akan ada pesawat jatuh&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini tanggapan keluarga korban atas jatuhnya pesawat&#8221;</em></p>
<p>Belum lagi ada yang berusaha mencari <em>instastory </em>dari korban, seolah-olah itu adalah pesan terakhir dari mereka. Ada juga yang mengaitkan dengan peristiwa lain yang sebenarnya tidak ada kaitannya.</p>
<p>Cerita tentang bagaimana para pencari berita mewawancarai keluarga korban yang tengah bercucuran air mata, jelas bukan merupakan hal yang etis.</p>
<h3>Masyarakat yang Doyan Berita <em>Click-Bait</em></h3>
<p><div id="attachment_4253" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4253" class="size-large wp-image-4253" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4253" class="wp-caption-text">Masyarakat Doyan Click-Bait (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@danicanibano">Daniel Cañibano</a>)</p></div></p>
<p>Sebagai orang yang bekerja di media, Penulis paham kenapa media daring sekarang begitu sering membuat berita <em>click-bait </em>walaupun dihujat dari kanan dan kiri.</p>
<p><strong>Demi klik, demi jumlah <em>views</em>, demi meningkatnya <em>traffic</em>, dan ujung-ujungnya demi uang.</strong></p>
<p>Kenapa berita dengan judul <em>click-bait </em>bisa mendapatkan <em>traffic </em>yang tinggi? Karena ada pasarnya, karena ada pembacanya, <strong>karena masyarakat menyukai berita-berita semacam itu</strong>.</p>
<p>Artinya, sebenarnya kita punya kuasa untuk menghentikan judul-judul berita seperti contoh di atas <strong>dengan tidak membaca beritanya</strong>.</p>
<p>Jika tidak ada yang membaca berita seperti itu, lama kelamaan media juga akan menghentikan produksi artikel yang kurang berfaedah seperti itu.</p>
<p>Selama masyarakat masih gemar menyumbang <em>traffic </em>untuk berita-berita seperti itu, media pun tidak akan pernah menghentikannya.</p>
<p><strong><em>Lha mong </em></strong><strong>cuannya mengalir terus, ngapain berhenti.</strong></p>
<p>Belum lagi kebiasaan buruk masyarakat kita yang gemar menyebarkan foto ataupun video terkait tragedi yang terjadi. <em>Ngapain </em>sih mereka melakukan itu? Demi mendapatkan perhatian dan<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/"> jadi viral?</a></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis bukannya mau sok suci, toh Penulis juga berkecimpung di dunia tersebut meskipun beda lingkup wilayah. Hanya saja, hati nurani Penulis mengatakan kalau hal tersebut sangat tidak etis.</p>
<p>Kita butuh banyak informasi terkait kecelakaan pesawat yang terjadi, tapi kita tidak butuh tahu bagaimana perasaan korban yang ditinggalkan atau firasat yang dirasakan mereka.</p>
<p><b>Tanpa diberitakan pun, kita sudah tahu bagaimana perasaan keluarga korban. Mau firasat mau ramalan, kita tidak butuh bumbu-bumbu yang tidak penting.</b></p>
<p>Semoga saja iklim pemberitaan di Indonesia ke depannya bisa menjadi lebih baik. Tidak hanya mengutamakan cuan, tapi juga mengedepankan etika-etika yang berlaku di masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 10 Desember 2020, terinspirasi karena geramnya Penulis dengan beberapa judul berita terkait jatuhnya pesawat Sriwijaya Air</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@markuswinkler">Markus Winkler</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/">Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yang Salah Itu Pelaku, Bukan Korban</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-itu-pelaku-bukan-korban/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-itu-pelaku-bukan-korban/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2020 10:17:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pelecehan]]></category>
		<category><![CDATA[RUU PKS]]></category>
		<category><![CDATA[seksual]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3969</guid>

					<description><![CDATA[<p>Diundurnya pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) menimbulkan polemik di masyarakat. Apalagi, alasan yang dikeluarkan oleh DPR bisa dibilang non-sense. Banyak yang menganggap ditariknya RUU PKS dari Program Legislatif Nasional 2020 sebagai bukti kalau pemerintah tidak serius dalam melindungi warga negaranya sendiri. Hal itu membuat banyak orang menyuarakan pengalaman pelecehan seksual yang pernah mereka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-itu-pelaku-bukan-korban/">Yang Salah Itu Pelaku, Bukan Korban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Diundurnya pembahasan <strong>RUU Penghapusan Kekerasan Seksual</strong> (RUU PKS) menimbulkan polemik di masyarakat. Apalagi, alasan yang dikeluarkan oleh DPR bisa dibilang <em>non-sense</em>.</p>
<p>Banyak yang menganggap ditariknya RUU PKS dari Program Legislatif Nasional 2020 sebagai bukti kalau pemerintah tidak serius dalam melindungi warga negaranya sendiri.</p>
<p>Hal itu membuat banyak orang menyuarakan pengalaman pelecehan seksual yang pernah mereka alami. Mereka ingin menunjukkan bahwa permasalahan ini bukanlah hal yang sepele.</p>
<h3>Bukan Karena Baju Minim</h3>
<p><div id="attachment_3970" style="width: 587px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3970" class="size-large wp-image-3970" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/yang-ngeres-itu-otakmu-1-577x1024.jpg" alt="" width="577" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/yang-ngeres-itu-otakmu-1-577x1024.jpg 577w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/yang-ngeres-itu-otakmu-1-169x300.jpg 169w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/yang-ngeres-itu-otakmu-1-768x1364.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/yang-ngeres-itu-otakmu-1.jpg 860w" sizes="auto, (max-width: 577px) 100vw, 577px" /><p id="caption-attachment-3970" class="wp-caption-text">Infografis Pelecehan Seksual (<a href="https://tirto.id/pelecehan-bukan-akibat-pakaian-berbaju-longgar-berhijab-pun-kena-eeFQ">Tirto</a>)</p></div></p>
<p>Tirto membuat infografis mengenai kasus pelecehan seksual berdasarkan survei yang dilakukan pada tahun 2018. Data yang ditunjukkan membuat Penulis mengerenyitkan dahi.</p>
<p>Ternyata, kebanyakan <strong>korban tidak mengenakan pakaian yang minim</strong>. Bahkan, 17% korban mengenakan hijab yang notabene tertutup dari atas sampai bawah.</p>
<p>Hal ini diperkuat dengan cerita-cerita yang Penulis baca di Twitter. Ketika membacanya, Penulis baru menyadari betapa gentingnya permasalahan ini.</p>
<p>Seorang wanita dewasa bebas mengenakan apa saja yang mereka inginkan, entah cadar ataupun celana <em>hot pants</em>. Mereka sudah cukup umur untuk menentukan pilihan, termasuk dalam berpakaian.</p>
<p>Yang salah adalah pelaku pelecehan. Titik. Mau lihat wanita telanjang sekalipun, kalau pelaku bisa menahan dirinya, tidak akan terjadi pelecehan seksual.</p>
<p>Konklusi yang bisa diambil adalah pelaku pelecehan melakukan tindakannya <strong>bukan karena pakaian yang dikenakan</strong> oleh korban. Otak mereka saja yang memang <em>ngeres </em>dan cabul.</p>
<p>Jujur saja, Penulis jadi merasa sedikit takut apabila nanti memiliki anak perempuan. Penulis akan sering merasa cemas anaknya nanti akan mendapatkan pelecehan dari orang-orang tersebut.</p>
<h3>Sudah Korban, Disalahkan Pula</h3>
<p><div id="attachment_3971" style="width: 586px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3971" class="size-large wp-image-3971" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/yang-ngeres-itu-otakmu-2-576x1024.jpg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/yang-ngeres-itu-otakmu-2-576x1024.jpg 576w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/yang-ngeres-itu-otakmu-2-169x300.jpg 169w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/yang-ngeres-itu-otakmu-2-768x1365.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/yang-ngeres-itu-otakmu-2.jpg 859w" sizes="auto, (max-width: 576px) 100vw, 576px" /><p id="caption-attachment-3971" class="wp-caption-text">Victim Blamming (<a href="https://tirto.id/2018-jadi-tahun-yang-buruk-bagi-korban-kekerasan-seksual-dcKw">Tirto</a>)</p></div></p>
<p>Apa yang lebih parah? <strong>Para korban pelecehan kerap dituding bersalah</strong> oleh beberapa pihak. Bayangkan, sudah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, masih dihakimi orang lain seperti itu.</p>
<p>Contohnya, jika ada kasus pelecehan atau bahkan pemerkosaan, biasanya akan muncul komentar-komentar semacam ini:</p>
<ul>
<li><em>Salah sendiri keluar sendirian</em></li>
<li><em>Salah sendiri malam-malam keluar</em></li>
<li><em>Salah sendiri pakai pakaian yang seksi</em></li>
<li><em>Salah sendiri blablabla&#8230;</em></li>
</ul>
<p>Kita ini memang bisa dengan sangat mudah menghakimi orang lain tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi. Bisa saja mereka terpaksa pulang malam karena tuntutan pekerjaan atau pergi sendiri karena memang tidak ada yang bisa mengantar.</p>
<p>Jika Penulis membayangkan ada di posisi mereka, entah apa yang akan Penulis perbuat. Yang jelas, Penulis akan merasa <em>down </em>karena merasa tidak mendapatkan dukungan atas musibah yang menimpanya.</p>
<p>Ketidakadilan hukum bagi sang korban juga semakin menambah luka bagi mereka. Beberapa tahun terakhir, ada banyak sekali kasus pelecehan seksual yang memberatkan pihak korban, seolah tidak ada perlindungan sama sekali.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis tidak mau munafik karena dirinya sendiri belum bisa menjaga pandangan jika melihat seorang wanita cantik. Penulis sendiri masih belajar untuk menjaga dirinya agar tidak mudah terpancing oleh hawa nafsu seperti itu.</p>
<p>Kesadaran kita akan betapa bahayanya pelecehan seksual masih tergolong rendah. Hal ini diperparah dengan adanya <em>victim blaming </em>dari masyarakat.</p>
<p>Kasus-kasus pelecehan ini bahkan kerap terjadi di ruang publik dalam berbagai bentuk, mulai dari verbal hingga tindakan fisik yang kurang ajar.</p>
<p>Dengan ditariknya pembahasan RUU PKS, entah sampai kapan kasus pelecehan seksual, terutama terhadap wanita, akan disepelekan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Juli 2020, terinspirasi dari banyaknya cerita pelecehan seksual yang Penulis baca di Twitter</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@claudiasoraya">Claudia Soraya</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://tirto.id/2018-jadi-tahun-yang-buruk-bagi-korban-kekerasan-seksual-dcKw">Tirto 1</a>, <a href="https://tirto.id/pelecehan-bukan-akibat-pakaian-berbaju-longgar-berhijab-pun-kena-eeFQ">Tirto 2</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-itu-pelaku-bukan-korban/">Yang Salah Itu Pelaku, Bukan Korban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-itu-pelaku-bukan-korban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2020 15:28:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[hoax]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hoax mudah diproduksi pada era serba cepat seperti sekarang. Hanya bermodalkan imajinasi dan data-data kurang akurat, kita bisa mengirimkan berita bohong melalui grup-grup WhatsApp dan dalam sekejap tersebar ke segala penjuru mata angin. Apalagi jika ada momentum seperti pilpres ataupun kasus virus Corona seperti sekarang, jumlah hoaks bisa bertambah berkali-kali lipat. Biasanya, hoaks-hoaks seperti itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hoax</strong> mudah diproduksi pada era serba cepat seperti sekarang. Hanya bermodalkan imajinasi dan data-data kurang akurat, kita bisa mengirimkan berita bohong melalui grup-grup WhatsApp dan dalam sekejap tersebar ke segala penjuru mata angin.</p>
<p>Apalagi jika ada momentum seperti pilpres ataupun kasus virus Corona seperti sekarang, jumlah hoaks bisa bertambah berkali-kali lipat.</p>
<p>Biasanya, hoaks-hoaks seperti itu akan disebarkan oleh generasi <em>boomer</em>. Di sisi lain, generasi milenial akan berusaha membantah dengan memberikan data dan fakta yang sebenarnya. Terjadi sebaliknya pun harusnya ada.</p>
<p>Permasalahannya, mengapa ada orang suka membuat hoax alias berita palsu?</p>
<h3>Alasan Membuat Hoax</h3>
<p>Penulis mencoba membayangkan menjadi seorang pembuat hoax. Apa kira-kira yang menjadi motivasi terbesar Penulis untuk membuat sebuah hoax?</p>
<p><div id="attachment_3604" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3604" class="size-large wp-image-3604" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3604" class="wp-caption-text">Hoax untuk Adu Domba (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.reddit.com/r/NatureIsFuckingLit/comments/a1k7zf/two_badass_sheep_about_to_break_into_a_brawl_on_a/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCIDTrdDSg-gCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Kunjungi Reddit"><span class="pM4Snf">Reddit</span></a>)</p></div></p>
<p>Jika musim Pemilu alasannya jelas, <strong>untuk menjatuhkan dan menjelek-jelekkan lawan politik</strong>. Taktik kotor seperti ini sangat mudah ditemui. Fitnah dan adu domba saling diperlihatkan dengan kejamnya.</p>
<p>Mereka juga bisa membuat hoax karena <strong>memang dibayar untuk membuatnya</strong><em>. </em>Entah berapa tarifnya, tapi rasanya memang ada orang-orang yang hidup dari pekerjaan seperti itu.</p>
<p><em>Tapi bagaimana dengan kasus lain seperti hoax seputar virus Corona?</em></p>
<p>Bisa jadi karena ingin <strong>menimbulkan kepanikan di masyarakat</strong>. Kita mudah merasa panik hanya dengan membaca sekilas sebuah judul berita, sehingga ada orang-orang yang ingin memanfaatkan hal tersebut.</p>
<p>Untuk apa membuat orang lain panik? Ada alasan karena <strong>faktor ekonomi</strong>. Seperti yang kita ketahui, bagaimana meroketnya harga masker dan alat kebersihan lainnya. Ada pihak yang diuntungkan di sini.</p>
<p>Kenaikan harganya benar-benar kelewat batas dan ada orang-orang tak bermoral yang justru memanfaatkan situasi ini. Barang sembako habis diborong orang-orang kaya hingga berisiko menyusahkan yang lebih membutuhkan.</p>
<p>Membuat orang lain panik juga bisa jadi hanya <strong>menjadi sebuah kesenangan</strong> bagi seseorang. Sama seperti kata Alfred dalam film <em>The Dark Knight:</em></p>
<p>[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=efHCdKb5UWc[/embedyt]</p>
<p><em>Some man just want to watch the world burn</em>. Ada orang-orang yang memang hanya ingin terjadi kekacauan di muka bumi ini. Mungkin terlihat terlalu didramatisir, tapi Penulis meyakini hal tersebut benar adanya.</p>
<p>Ada beberapa alasan lain, seperti <strong>mencari sensasi dan perhatian</strong>,<strong> kurang kerjaan</strong>, <strong>bentuk propaganda</strong>, dan lain sebagainya. Intinya, ada banyak alasan untuk membuat hoax.</p>
<h3>Alasan Menyebar Hoax</h3>
<p>Pembuat hoax mungkin tipe orang yang berada di dalam sunyi dan membiarkan karyanya tersebar dengan sendirinya. Nah, kita yang ikut menyebar juga memiliki andil terhadap suburnya hoax.</p>
<p><div id="attachment_3603" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3603" class="size-large wp-image-3603" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3603" class="wp-caption-text">Sarang Hoax? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.indoindians.com/join-the-indoindians-whatsapp-group/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiJ642R0oPoAhXTxjgGHVRLBAAQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Indoindians.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Tingkat literasi kita sangat rendah. Artinya, kita terlalu malas untuk sekadar membaca dan <strong>memastikan apa yang kita baca benar atau salah</strong>.</p>
<p>Hal ini diperparah jika kita termasuk orang yang mudah percaya sebuah informasi begitu saja. Sekali terlihat ilmiah dan meyakinkan, kita langsung meyakini kalau hal tersebut benar.</p>
<p>Para penyebar hoax ini terkadang <strong>merasa bangga</strong> karena merasa sebagai orang pertama yang menyebarkan berita penting. Apalagi, kalau berita tersebut tidak tayang di media <em>mainstream </em>dengan alasan sengaja ditutup-tutupi.</p>
<p><strong>Sensasi yang didapatkan ketika menyebarkan berita menghebohkan</strong> juga menjadi alasan kuat lainnya. Secara tidak langsung kita akan terlihat sebagai orang penting dan mendapatkan perhatian berlebih.</p>
<p>Belum lagi jika hoax tersebut diawali dengan kalimat-kalimat positif dan merujuk ke sebuah kelompok tertentu. Misalnya seperti <em>seorang muslim wajib tahu </em>atau <em>sebarkan kalau kamu peduli dengan bangsa ini.</em></p>
<p>Hal ini disebut sebagai <em><strong>Efek Barnum</strong></em>, di mana suatu pesan terasa ditujukan kepada kita padahal bersifat umum. Karena kita merasa sebagai orang yang disebut dalam hoax tersebut, kita pun merasa bertanggung jawab untuk menyebarkannya kepada orang lain.</p>
<p>Tak heran hoax bisa berantai-rantai seperti sekarang.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Seandainya setiap mendapatkan berita kita akan melakukan verifikasi terlebih dahulu, hoax akan kesulitan untuk tumbuh. Perlahan, ia akan rontok dengan sendirinya.</p>
<p>Sayangnya, hal tersebut nampaknya masih belum akan terealiasi dalam waktu dekat. Jika kesadaran masyarakat terhadap hoax masih rendah seperti sekarang, hoax masih akan tersebar di grup-grup WhatsApp dan media-media lain dengan masifnya.</p>
<p>Bisakah kita menghentikan aksi para pembuat hoax? Bisa, dengan cara tidak mempercayainya dan selalu melakukan pengecekan fakta. Kita juga harus saling mengingatkan jika ada orang lain yang menyebarkan hoax.</p>
<p>Mungkin memang tidak bisa memberantas habis para pelaku hoax. Setidaknya, kita sudah berbuat sesuatu untuk melawan para pembohong tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Maret 2020, terinspirasi dari banyaknya berita hoax seputar virus Corona</p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://famous.brilio.net/video/discover/inilah-alasan-orang-gemar-menyebar-hoax-170706u.html">Brilio</a>, <a href="https://tirto.id/mengapa-kita-suka-hoax-bFhl">Tirto</a>, <a href="https://id.quora.com/Mengapa-orang-membuat-berita-hoax">Quora</a>, <a href="https://www.kompasiana.com/atsalis/5b1e3150bde5754a3e7da6a2/inilah-mengapa-masyarakat-indonesia-masih-sering-menyebarkan-hoax">Kompasiana</a>,</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teralihkan Isu Bombastis</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2020 09:37:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[bombastis]]></category>
		<category><![CDATA[isu]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda Empire]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3328</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, muncul banyak berita bombastis mengenai munculnya berbagai kerajaan di berbagai daerah. Muncul satu, lantas merambat ke berbagai daerah. Mungkin yang paling populer adalah Sunda Empire yang sampai dibahas di acara sebesar Indonesia Lawyers Club. Perwakilan dari kerajaan tersebut menyebutkan banyak sekali fakta mencengangkan yang susah dipercaya. Banyak yang menyebutkan orang tersebut terlihat sangat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/">Teralihkan Isu Bombastis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, muncul banyak berita bombastis mengenai munculnya berbagai kerajaan di berbagai daerah. Muncul satu, lantas merambat ke berbagai daerah.</p>
<p>Mungkin yang paling populer adalah <em>Sunda Empire</em> yang sampai dibahas di acara sebesar <em>Indonesia Lawyers Club</em>. Perwakilan dari kerajaan tersebut menyebutkan banyak sekali fakta mencengangkan yang susah dipercaya.</p>
<p>Banyak yang menyebutkan orang tersebut terlihat sangat <em>halu </em>karena banyak fakta dan sejarah <em>ngawur </em>yang akan membuat sebagian besar orang heran atau menertawakannya.</p>
<p>Pertanyaannya, perlukah hal-hal semacam ini diberi <em>spotlight </em>berlebih?</p>
<h3>Isu-Isu Besar yang Tenggelam</h3>
<p><div id="attachment_3330" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3330" class="size-large wp-image-3330" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3330" class="wp-caption-text">Isu Besar yang Tenggelam (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01326196/hampir-dilupakan-kasus-korupsi-di-jiwasraya-kembali-mencuat-usai-dpr-tuntut-pengusutan" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjJqe3t4JznAhVXeysKHV04Bw0QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Pikiran-Rakyat.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis ingat, di awal tahun 2020 ini banyak sekali kejadian yang membuat kita mengelus dada. Selain <a href="https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/">banyaknya bencana</a>, ada banyak kasus-kasus hukum yang sedang disorot.</p>
<p>Ada kasus Jiwasraya, <em>Omnibus Law</em>, klaim China atas Natuna, kasus yang menjerat petinggi partai pemerintah, KPK yang terlihat lemah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sayangnya sejak kerajaan-kerajaan ini naik ke permukaan, berita-berita tersebut seolah tenggelam begitu saja. Media memberitakannya dari berbagai sudut pandang.</p>
<p>Ada dua kemungkinan kenapa hal ini bisa terjadi. Pertama, media mengikuti kemauan pasar yang lebih tertarik dengan isu-isu bombastis yang sebenarnya tak terlalu penting.</p>
<p>Kedua, ada &#8220;konspirasi&#8221; yang disengaja agar isu-isu besar tertutup oleh munculnya kerajaan-kerajaan ini. Perhatian masyarakat yang mudah teralihkan pun mengikutinya dengan patuh.</p>
<p>Entah yang mana yang benar di antara kedua kemungkinan tersebut. Bisa saja Penulis yang salah.</p>
<h3>Memilih untuk Tidak Peduli</h3>
<p><div id="attachment_3331" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3331" class="size-large wp-image-3331" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/teralihkan-isu-bombastis-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3331" class="wp-caption-text">Perlukah Ditonton? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwjs9o3j4JznAhVFb30KHS7tB5oQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3D0ezJ1b5Pf-E&amp;psig=AOvVaw3CywDSwmTztwHqFPU9jj6u&amp;ust=1579973147370428" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjs9o3j4JznAhVFb30KHS7tB5oQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">YouTube</span></a>)</p></div></p>
<p>Jika muncul hal-hal yang berbau bombastis namun kurang penting, Penulis biasanya memilih untuk mengabaikannya. Hingga hari ini, Penulis juga kurang tertarik untuk menonton video sang petinggi <em>Sunda Empire</em> yang sedang menjadi <em>trending</em>.</p>
<p>(<em>Penulis sudah mencoba menontonnya sebelum menulis artikel ini, namun Penulis memutuskan untuk tidak melanjutkan karena banyaknya fakta aneh di awal video</em>)</p>
<p>Apa enggak takut ketinggalan berita? Tanpa menonton ataupun membaca berita seputar hal tersebut, Penulis sudah mendengarkannya dari orang-orang terdekat. Inti beritanya sudah dapat, sehingga rasanya tidak perlu didalami.</p>
<p>Mungkin ada yang menontonnya sebagai bentuk hiburan, karena setahu Penulis banyak yang tertawa ketika sang petinggi menuturkan fakta-fakta yang mencengangkan. Penulis tidak bisa terlalu terhibur dengan hal-hal seperti itu.</p>
<p>Selain itu, apa yang bisa kita lakukan ketika mendengarkan ada orang yang mengaku sebagai raja atau lain sebagainya? Paling hanya sebatas mengingatkan orang-orang terdekat agar tidak sampai terpengaruh.</p>
<p>Kita tidak punya hak untuk membubarkan kerajaan tersebut. Pemerintah dan aparat yang bisa melakukannya, seandainya memang ada pelanggaran hukum yang dilakukan oleh mereka.</p>
<p>Masih ada banyak sekali topik yang lebih layak dijadikan sebagai perhatian. Bahkan, banyak di antaranya yang telah berlangsung sejak lama namun tak mendekati penyelesaian sedikit pun.</p>
<p>Kecuali, jika pendirian kerajaan ini sampai menganggu stabilitas negara bahkan sampai melakukan serangan secara fisik. Jika hal tersebut sampai terjadi, barulah kita harus menaruh perhatian.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Memilih untuk tidak peduli terhadap berita bombastis yang kurang penting berusaha Penulis terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis ingin hidup sederhana tanpa perlu terbebani dengan hal-hal remeh.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis juga tak pernah tertarik dengan berita artis A yang membuat kontroversi agar namanya naik atau pertengaaran B dan C yang sama-sama ingin <em>pansos</em>. Hal-hal tersebut tidak akan memengaruhi kehidupan Penulis.</p>
<p>Begitupun dengan kasus munculnya kerajaan-kerajaan ini. Meskipun diberitakan secara masif, pasti ada saatnya mereka akan dilupakan seperti kebanyakan berita heboh yang terjadi sebelumnya.</p>
<p>Jika pun ingin mengambil hikmahnya, mungkin kita bisa melihatnya seperti Sujiwo Tejo. Ia melihat kemunculan kerajaan ini sebagai bentuk protes atas demokrasi kita yang sering terlihat konyol. Mungkin ada hikmah lain walaupun Penulis tidak bisa menemukannya.</p>
<p>Jangan sampai perhatian kita teralihkan oleh hal-hal bombastis seperti ini sehingga melupakan isu-isu besar yang jauh lebih penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Januari 2020, terinspirasi dari munculnya kerajaan-kerajaan baru di Indonesia</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwiOqoHi4JznAhXCZCsKHfrmC5YQjB16BAgBEAM&amp;url=http%3A%2F%2Fbisnisbandung.com%2F2020%2F01%2F22%2Fmenyoal-sunda-empire-kekaisaran-matahari%2F&amp;psig=AOvVaw3lGmqbnd2_igX77hgvBnyn&amp;ust=1579973144939312">Bisnis Bandung</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/teralihkan-isu-bombastis/">Teralihkan Isu Bombastis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
